Anda di halaman 1dari 33

KONSEP DIRI

OLEH KELOMPOK 5:

PUTU INDAH JELITA LESTARI (173222826)


NI WAYAN KENDRANITI (173222822)
NI PUTU SUYATI NINGSIH (173222820)
NI WAYAN SUTARNI (173222824)
NI LUH WIDARSIH (173222811)
NI MADE WIDYANTHI (173222816)

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN WIRA MEDIKA PPNI BALI


PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN ALIH JENJANG
2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadapan Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkatNya-
lah penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul Konsep Diri tepat pada waktunya.
Makalah ini dapat diselesaikan bukanlah semata-mata usaha penulis sendiri, melainkan
berkat dorongan dan bantuan dari berbagai pihak. Dalam kesempatan ini saya selaku penulis
mengucapkan terimakasih kepada pihak-pihak yang sudah membantu baik bantuan secara fisik
maupun batin yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu
Semoga makalah ini dapat menambah wawasan dan menjadi sumbangan pemikiran
kepada pembaca khususnya para mahasiswa. Penulis mengharapkan kritik dan saran yang
membangun untuk kesempurnaan makalah ini ini. Akhir kata, semoga makalah ini bermanfaat
bagi kita semua.

Denpasar, 20 November 2017

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ..................................................................................................................... i

DAFTAR ISI................................................................................................................................... ii

BAB I .............................................................................................................................................. 1

PENDAHULUAN .......................................................................................................................... 1

A. Latar Belakang ................................................................................................................. 1

B. Rumusan Masalah ............................................................................................................ 1

C. Tujuan............................................................................................................................... 1

D. Manfaat............................................................................................................................. 2

BAB II............................................................................................................................................. 3

PEMBAHASAN ............................................................................................................................. 3

A. Konsep dasar konsep diri (Pengantar konsep diri) ........................................................... 3

1. Pengertian ..................................................................................................................... 3

2. Komponen konsep diri.................................................................................................. 3

B. Stres, Adaptasi dan Koping .............................................................................................. 5

C. Pengkajian keperawatan ................................................................................................. 12

D. Diagnosa Keperawatan ................................................................................................... 16

E. Rencana Keperawatan .................................................................................................... 22

BAB III ......................................................................................................................................... 28

PENUTUP..................................................................................................................................... 28

A. Simpulan......................................................................................................................... 28

B. Saran ............................................................................................................................... 29

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................................... 30

ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Setiap individu memiliki latar belakang yang berbeda dalam proses kehidupannya, mulai
dari lahir hingga mencapai titik kedewasaannya. Sehingga di dalam diri setiap individu
terdapat berbagai macam cara identifikasi serta perubahan melalui proses yang berbeda pula
dan diharapkan menuju arah yang lebih baik. Di dalamnya terdapat hubungan timbal balik
antara satu individu dengan individu lainnya dan dari identifikasi tersebut didapatkan pola
tingkah laku yang berbeda pada setiap individu dan disebut konsep diri
Konsep diri seseorang dinyatakan melalui sikap dirinya yang merupakan aktualisasi
orang tersebut. Manusia sebagai organisme yang memiliki dorongan untuk berkembang yang
pada akhirnya menyebabkan ia sadar akan keberadaan dirinya. Perkembangan yang
berlangsung tersebut kemudian membantu pembentukan konsep diri individu yang
bersangkutan. Perasaan individu bahwa ia tidak mempunyai kemampuan yang ia miliki.
Padahal segala keberhasilan banyak bergantung kepada cara individu memandang kualitas
kemampuan yang dimiliki. Pandangan dan sikap negatif terhadap kualitas kemampuan yang
dimiliki mengakibatkan individu memandang seluruh tugas sebagai suatu hal yang sulit
untuk diselesaikan, maka dari itu sangatlah penting untuk seorang perawat memahami
konsep diri.

B. Rumusan Masalah
1. Apa saja konsep dasar pada konsep diri?
2. Apa yang dimaksud dengan stress, adaptasi dan koping?
3. Apa saja fokus pengkajian pada konsep diri?
4. Apa saja diagnosa keperawatan pada konsep diri?
5. Apa saja rencana tindakan keperawatan pada konsep diri?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui konsep dasar pada konsep diri
2. Untuk mengetahui pengertian tentang stress,adaptasi dan koping

1
3. Untuk mengetahui pengkajian pada konsep diri
4. Untuk mengetahui diagnosa keperawatan pada konsep diri
5. Untuk mengetahui rencana tindakan keperawatan pada konsep diri

D. Manfaat
Dengan mempelajari konsep diri diharapkan mahasiswa mampu memahami dan mengerti
tentang teori konsep diri

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Konsep dasar konsep diri (Pengantar konsep diri)


1. Pengertian
Konsep diri merupakan bagian dari masalah kebutuhan psikososial yang tidak didapat
sejak lahir, akan tetapi dapat dipelajari sebagai hasil dari pengalaman seseorang terhadap
dirinya. Konsep diri ini berkembang secara bertahap sesuai dengan tahap perkembangan
psikososial seseorang. Secara umum konsep diri adalah semua tanda, keyakinan dan
pendirian yang merupakan suatu pengetahuan individu tentang dirinya yang dapat
memengaruhi hubungannya dengan orang lain, termasuk karakter, kemampuan, nilai, ide dan
tujuan (Hidayat, 2006:238). Sementara menurut Atwater (1987) menyebutkan bahwa konsep
diri adalah keseluruhan gambaran diri, yang meliputi persepsi seseorang tentang tentang diri,
perasaan, keyakinan, dan nilai-nilai yang berhubungan dengan dirinya.
Secara keseluruhan disimpulkan bahwa konsep diri adalah cara seseorang untuk melihat
dirinya secara utuh dengan semua ide, pikiran, kepercayaan, dan pendirian yang diketahui
individu dalam berhubungan dengan orang lain.

2. Komponen konsep diri


a. Ideal diri
Ideal diri merupakan persepsi seseorang mengenai bagaimana berperilaku berdasarkan
standar pribadi tertentu. Standar ini mungkin menggambarkan tipe seseorang yang
diinginkan atau aspirasi, tujuan, atau nilai-nilai yang ingin dicapai. Ideal diri menimbulkan
harapan diri berdasarkan norma-norma masyarakat, yang dicobanya untuk menyesuaikan diri
(Stuart,2016:214-215).
b. Citra tubuh (Body image)
Gambaran atau citra diri (body image) mencangkup sikap individu terhadap tubuhnya
sendiri, termasuk penampilan fisik, struktur, dan fungsinya. Perasaan mengenai citra diri
meliputi hal-hal yang terkait dengan seksualitas,femininitas dan maskualinitas, keremajaan,
kesehatan dan kekuatan. Citra mental tersebut tidak selalu konsisten dengan struktur atau
penampilan fisik yang sesunggunya. Beberapa kelainan citra diri memeliki akar psikolog

3
yang dalam, misalnya kelainan pola makan seperti anoreksia. Citra diri mempengaruhi oleh
pertumbuhan kognitif dan perkembangan fisik. Perubahan perkembangan yang normal
seperti pubertas dan penuaan terlihat lebih jelas terhadap citra diri dibandingkan dengan
aspek-aspek konsep diri lainnya. Selain citra diri juga dipengaruhi oleh nilai sosial budaya.
Budaya dan masyarakat menentukan norma-norma yang diterima luas mengenai citra diri
dan dapat memengaruhi sikap seseorang, misalnya berat tubuh yang ideal, warna kulit, tindik
tubuh serta tato, dan sebagainya
c. Identitas diri
Identitas diri merupakan kesadaran diri yang didasarkan pada observasi dan penilaian
diri. Hal ini tidak terkait dengan satu prestasi, aktivitas, karakteristik, atau peran. Identitas
berbeda dari konsep diri yaitu perasaan berbeda dari orang lain. Orang dengan rasa identitas
positif melihat dirinya sebagai individu yang unik dan berharga (Stuart,2016:216)
d. Penampilan peran
Peran adalah serangkaian perilau yang diharapkan oleh msyarakat yang sesuai dengan
fungsi yang ada dalam masyarakat atau suatu pola sikap, perilaku, nilai, dan tujuan yang
diharapkan dari seseorang berdasarkan posisinya dimasyarakat, misalnya sebagai orang tua,
atasan, teman dekat dan sebagainya. Setiap peran berhubungan dengan pemenuhan harapan-
harapan tertentu. Apabila harapan tersebut dapat dipenuhi, rasa percaya diri seseorang akan
meningkat. Sebaliknya, kegagalan untuk memenuhi harapann atas peran dapat menyebabkan
penurunan harga diri atau terganggunya konsep diri seseorang.
e. Harga diri
Harga diri merupakan penilaian harga diri pribadi seseorang, berdasarkan seberapa baik
perilakunya cocok dengan ideal diri. Seberapa sering seseorang mencapai tujuan secara
langsung mempengaruhi perasaan kompeten (harga diri tinggi) atau rendah diri (harga diri
rendah). Harga diri tinggi adalah perasaan penerimaan diri, tanpa syarat, meskipun salah,
kalah dan gagal, sebagai pembawaan yang berharga dan penting. Harga diri yang tinggi telah
dikaitkan dengan ansietas yang rendah, fungsi kelompok yang efektif, penerimaan, dan
toleransi dari yang lain (Stuart,2016:215-216).

4
B. Stres, Adaptasi dan Koping
1. Konsep dasar stress,adaptasi dan koping
a. Stres
1) Pengertian
Pengertian stress menurut para ahli :
Stress adalah reaksi atau respons tubuh terhadap stresor psikososial (tekanan mental atau
beban kehidupan) (Dadang Hawari, 2001)
Stress emosi dapat menimbulkan perasaan negatif atau destruktif terhadap diri sendiri dan
orang lain. Stress intelektual akan mengganggu persepsi dan kemampuan seseorang dalam
menyelesaikan masalah, stress sosial akan mengganggu hubungan individu terhadap
kehidupan (Hans Selye, 1956 ; Davis, at all. 1989 ; Barbara Kozier, et all, 1989).
2) Penyebab stress
Menurut Maramis (1999), ada empat sumber atau penyebab stres Psikologis, yaitu :
a) Frustasi
Timbul akibat kegagalan dalam mencapai tujuan karena ada rintangan, frustasi ada yang
bersifat intrinsik (cacat badan dan kegagalan usaha) dan ekstrinsik (kecelakaan, bencana
alam, kematian orang yang dicintai, kegoncangan ekonomi, pengangguran, perselingkuhan,
dan lain-lain).
b) Konflik
Timbul karena tidak bisa memilih antara dua atau lebih macam-macam keinginan,
kebutuhan, atau tujuan.
c) Tekanan
Timbul sebagai akibat tekanan hidup sehari-hari. Tekanan dapat berasal dari dalam diri
individu, misalnya cita-cita atau norma yang terlalu tinggi. Tekanan yang berasal dari luar
individu, misalnya orang tua menuntut anaknya agar disekolahkan selalu rangking satu atau
istri menuntut uang belanja yang berlebihan kepada suami.
d) Krisis
Krisis yaitu keadaan yang mendadak, yang menimbulkan stres pada individu, misalnya
kematian orang yang disayangi, kecelakaan dan penyakit yang harus segera operasi.
Namun keadaan stres yang dialami oleh individu dapat terjadi beberapa sebab sekaligus,
misalnya kombinasi antara frustasi, konflik dan tekanan.

5
b. Adaptasi
1) Pengertian Adaptasi
Adaptasi merupakan suatu proses perubahan yang menyertai individu dalam berespons
terhadap perubahan yang ada di lingkungan dan dapat mempengaruhi keutuhan tubuh baik
secara fisiologis maupun psikologis yang akan menghasilkan perilaku adaptif.
c. Koping
1) Pengertian
Koping merupakan upaya perilaku dan kognitif seseorang dalam menghadapi ancaman
fisik dan psikososial. (Stuart &Laraia, 2005)
Koping adalah suatu proses dimana individu mencoba untuk mengatur kesenjangan
persepsi antara tuntutan situasi yang menekan dengan kemampuan mereka dalam memenuhi
tuntutan tersebut (Lazarus & Folkman, 1985).
2) Mekanisme Koping
Mekanisme koping berdasarkan penggolongannya dibagi menjadi dua (Stuart dan Sundeen,
1995) yaitu :
a) Mekanisme Koping Adaptif.
Mekanisme, koping yang mendukung fungsi integrasi, pertumbuhan, belajar dan
mencapai tujuan. Kategorinya adalah berbicara dengan orang lain, memecahkan masalah
secara efektif, teknik relaksasi, latihan seimbang dan aktivitas konstruktif. Adaptif jika
memenuhi kriteria sebagai berikut :
Masih mengontrol emosi pada dirinya.
Memiliki kewaspadaan yang tinggi, lebih perhatian pada masalah.
Memiliki persepsi yang luas
Dapat menerima dukungan dari oang lain
b) Mekanisme Koping Maladaptif.
Mekanisme koping yang menghambat fungsi integrasi, memecah pertumbuhan,
menurunkan otonomi dan cendrung menguasai lingkungan. Kategorinya adalah makan
berlebihan atau tidak makan, bekerja berlebihan, menghindar. Maladaptif jika memenuhi
kriteria sebagai berikut :
Tidak mampu berfikir apa-apa atau disorientasi
Tidak mampu menyelesaikan masalah

6
Perilakunya cenderung merusak
3) Strategi Koping
Koping dapat dikaji melalui berbagai aspek yaitu fisilogis dan psikologis. Koping yang
efektif menghasilkan adaptasi sedangkan koping yang tidak efektif berakhir dengan
maladaptif (Kelliat,1999). Karakteristik mekanisme koping Menurut Stuart dan Sundeen
(1995) adalah :
Menurut Stuart dan Laraia (2005), koping dapat dikaji melalui berbagai aspek antara
lain, fisiologis dan psikososial.
a) Reaksi fisiologis
Tanda dan gejala fisiologis merupakan manifestasi tubuh terhadap stres dimana
pupil melebar, keringat meningkat untuk mengontrol peningkatan suhu tubuh, denyut
nadi meningkat, kulit dingin, tekanan darah meningkat, mulut kering, peristaltik
menurun, pengeluaran urin menurun, kewaspadaan mental meningkat terhadap
ancaman yang serius, ketegangan otot meningkat. Reaksi fisiologis merupakan
indikasi klien dalam keadaan stres. Manifestasi stress pada aspek fisik tergantung pada:
a. Persepsi/penerimaan individu pada stress
b. Keefektifan strategi koping
b) Reaksi psikososial:
a. Reaksi yang berorientasi pada ego (ego oriented reaction) yang sering disebut
sebagai mekanisme pertahanan mental. Reaksi ini berguna untuk melindungi diri yang
merupakan garis pertahanan jiwa pertama.
1) Denial (menyangkal), menghindarkan realitas ketidaksetujuan dengan
mengabaikan atau menolak untuk mengenalinya.
2) Projeksi, mekanisme perilaku dengan menempatkan sifat-sifat batin sendiri pada
objek di luar diri atau melemparkan kekurangan diri sendiri pada orang lain.
3) Regresi, menghindarkan stres terhadap karakteristik perilaku dari tahap
perkembangan yang lebih awal.
4) Displacement (mengisar), mengalihkan emosi yang seharusnya diarahkan pada
orang atau benda tertentu ke benda atau orang yang netral atau tidak
membahayakan.

7
5) Mencari dukungan sosial, keluarga mencari dukungan atau bantuan dari keluarga,
tetangga, teman atau keluarga jauh.
6) Reframing, mengkaji ulang kejadian stres agar lebih dapat menanganinya dan
menerimanya
7) Mencari dukungan spiritual, mencari dan berusaha secara spiritual, berdoa,
menemui pemuka agama atau aktif pada pertemuan ibadah.
8) Menggerakkan keluarga untuk dapat menerima bantuan, keluarga berusaha
mencari sumber-sumber komunitas dan menerima bantuan orang lain.
b. Reaksi berorientasi pada tugas (task oriented reaction)
Reaksi berorientasi pada tugas merupakan reaksi yang berorientasi terhadap
tindakan untuk memenuhi tuntutan dari situasi stres secara realistis, dapat berupa
konstruktif maupun destruktif, misalnya:
1) Perilaku menyerang (agresif), dimana reaksi yang ditampilkan oleh individu
dalam menghadapi masalah dapat konstruktif atau destruktif. Tindakan
konstruktif misalnya penyelesaian masalah dengan tekhnik asertif, yaitu tindakan
yang dilakukan secara terus-terang tentang ketidaksukaan terhadap perlakuan
yang tidak menyenangkan baginya, sedangkan tindakan destruktif yaitu
individu melakukan tindakan penyerangan terhadap stressor dapat juga
merugikan dirinya sendiri, orang lain atau lingkungannya.
2) Perilaku menarik diri, dimana reaksi yang ditampilkan dapat berupa reaksi
fisik maupun psikologis. Reaksi fisik yaitu individu pergi atau menghindari
stressor, sedangkan reaksi psikologis berupa perilaku apatis, isolasi diri, tidak
berminat, sering disertai rasa takut dan berlebihan.
3) Perilaku kompromi yaitu cara yang konstruktif yang digunakan oleh individu
dimana dalam menyelesaikan masalahnya individu tersebut melakukan
pendekatan negosiasi atau bermusyawarah.
2. Tahapan perkembangan Stres
Gangguan stress biasanya timbul secara lamban, tidak jelas kapan mulainya dan
sering kali kita tidak menyadarinya. Namun demikian dari pengalaman praktik psikiatri, para
ahli mencoba membagi stress tersebut dalam empat tahapan. Setiap tahap memperlihatkan

8
sejumlah gejala-gejala yang dirasakan oleh yang bersangkutan, Petunjuk-petunjuk tahapan
stress tersebut dikemukakan oleh Robert J. Van Amberg (Psikiater) sebagai berikut :
a. Stress tingkat I
Tahapan ini merupakan tingkat stress yang paling rendah, dan biasanya disertai dengan
perasaan-perasaan sebagai berikut :
1) Semangat besar
2) Penglihatan tajam tidak sebagaimana biasanya
3) Energi dan gugup berlebihan, kemampuan menyelesaikan pekerjaan lebih dari biasanya
Tahapan ini biasanya menyenangkan dan orang lalu bertambah semangat, tapi tanpa disadari
bahwa sebenarnya cadangan energinya sedang menipis.
b.Stress tingkat II
Dalam tahapan ini dampak stress yang menyenangkan mulai menghilang dan timbul
keluhan-keluhan dikarenakan cadangan energi tidak lagi cukup sepanjang hari. Keluhan-
keluhan yang sering dikemukakan sebagai berikut :
1) Merasa letih sewaktu bangun pagi
2) Merasa lelah sesudah makan siang
3) Merasa lelah menjelang sore hari
4) Terkadang gangguan dalam system pencernaan (gangguan usus, perut kembung),
kadang-kadang pula jantung berdebar-debar
5) Perasaan tegang pada otot-otot punggung dan tengkuk (belakang leher)
6) Perasaan tidak bisa santai
c. Sress tingkat III
Pada tahapan ini keluhan keletihan semakin nampak disertai dengan gejala-gejala:
1) Gangguan usus lebih terasa (sakt perut, mulas, sering ingin ke belakang)
2) Otot-otot terasa lebih tegang
3) Perasaan tegang yang semakin menngkat
4) Gangguan tidur (sukar tidur, sering terbangun malam dan sukar tidur kembali, atau
bangun terlalu pagi).
5) Badan terasa oyong, rasa-rasa mau pingsan (tidak sampai jatuh pngsan)

9
Pada tahapan ini penderita sudah harus beronsultasi pada dokter, kecuali kalau beban
stress atau tuntutan-tuntutan dikurangi, dan tubuh mendapat kesempatan utuk
beristirahat atau relaksasi, guna memulihkan suplai energi.
d.Stress tingkat IV
Tahapan ini sudah menunjukkan keadaan yang lebih buruk yang ditandai dengan ciri-ciri
berikut :
1) Untuk bisa bertahan sepanjang hariterasa sangat sulit
2) Kegiatan-kegiatan yang semula menyenangkan kini terasa sulit
3) Kehilangan kemampuan untuk menanggapi situasi, pergaulan social, dan kegiatan-
kegiatan lainnya terasa berat
4) Tidur semakin sukar, mimpi-mimpi menegangkan, dan sering kali terbangun dini hari
5) Kemampuan berkonsenrasi menurun tajam
6) Perasaan takut yang tidak dapat dijelaskan, tidak mengerti mengapa
e. Stress tingkat V
Keadaan ini merupakan keadaan yang lebih mendalam dari tahapan IV di atas, yaitu:
1) Keleihan yang mendalam (physical and psychological exhaustion)
2) Untuk pekerjaan-pekerjaan yang sederhana saja terasa kurang mampu
3) Gangguan sistem pencernaan (sakit magg dan usus) lebih sering, sukar buang air besar
atau sebaliknya feses cair dan sering ke belakang
4) Perasaan takut yang semakin menjadi, mirip panic
f. Stress tingkat VI
Tahapan ini merupakan tahapan puncak yang merupakan keadaan gawat darurat.Tidak
jarang penderita dalam tahap ini dbawa ke ICCU. Gejala-gejala pada tahapan ini yaitu
1) Debar jantung terasa sangat keras, hal ini disebabkan zat adrenalin yang dikeluarkan ,
karena stress tersebu cukup tinggi dalam peredaran darah.
2) Nafas sesak
3) Badan gemetar, tubuh dingin, keringat bercucuran
4) Tenaga untuk hal-hal yang ringan sekalpun tidak kuasa lagi, pusing atau collaps.
3. Sifat stres
Menurut Selye (dalam Rice, 1992), da dua macam sifat stress, yaitu stress yang bersifat
negatif disebut sebagai distress dan stress yang bersifat positif disebut eustress

10
a. Distress (stres negatif)
Selye menyebutkan distress merupakan stres yang merusak atau bersifat tidak
menyenangkan. Stres dirasakan sebagai suatu keadaan dimana individu mengalami rasa
cemas, ketakutan, khawatir atau gelisah. Sehingga individu mengalami keadaan psikologis
yang negatif, menyakitkan, dan timbul keinginan untuk menghindarinya.
b.Eustress (stres positif)
Selye menyebutkan bahwa eustress bersifat menyenangkan dan merupakan pengalaman
yang memuaskan. Hansaon (dalam Rice, 1992) mengemukakan frase joy of stress untuk
mengungkapkan hal-hal yang bersifat positif yang timbul dari adanya stres. Eustress dapat
mengakibatkan kesiagaan mental, kewaspadaan, kognisi, dan performansi individu. Eustress
juga dapat meningkatkan motivasi individu untuk menciptakan sesuatu, misalnya karya seni.
4. Dampak stress
Ada beberapa dampak stress yaitu dari segi :
a. Aspek fisik
Ada beberapa gejala fisik yang dirasakan ketika seseorang sedang mengalami stres,
diantaranya adalah sakit kepala yang berlebihan, tidur menjadi tidak nyenyak, gangguan
pencernaan, hilangnya nafsu makan, gangguan kulit, dan produksi keringat yang berlebihan
di seluruh tubuh (Sarafino, 2008).
b. Aspek psikologis
Ada 3 gejala psikologis yang dirasakan ketika seseorang sedang mengalami stres. Ketika
gejala tersebut adalah gejala kognisi, gejala emosi, dan gejala tingkah laku (Sarafino,
2008):
1) Gejala kognisi
Gangguan daya ingat (menurunnya daya ingat, mudah lupa dengan suatu hal), perhatian
dan konsentrasi yang berkurang sehingga seseorang tidak fokus dalam melakukan suatu
hal.
2) Gejala emosi
Mudah marah, kecemasan yang berlebihan terhadap segala sesuatu, merasa sedih dan
depresi merupakan gejala-gejala yang muncul pada aspek gejala emosi
3) Gejala tingkah laku

11
Tingkah laku negatif yang muncul ketika seseorang mengalami stres pada aspek gejala
tingkah laku adalah mudah menyalahkan orang lain dan mencari kesalahan orang lain,
suka melanggar norma karena dia tidak bisa mengontrol perbuatannya dan bersikap tak
acuh pada lingkungan, dan suka melakukan penundaan pekerjaan.
c. Aspek sosial
Stres dapat mengubah perilaku individu terhadap orang lain. Potensi respon seseorang
hamper tak terbatas, tergantung pada sifat dari peristiwa stress yang dialami. Aksi
konfrontatif terhadap stressor dan penarikan dari kejadian yang mengancam merupakan dua
kategori umum respon perilaku (Taylor, 2003)
d.Aspek spiritual
Stress yang berat dapat mengakibatkan kemarahan pada Tuhan, atau individu mungkin
memandang stressor sebagai hukuman.

C. Pengkajian keperawatan
1. Identitas pasien
2. Faktor predisposisi
a. Faktor yang mempengaruhi harga diri, termasuk penolakan orang tua, harapan orang
tua yang tidak realistik
b. Faktor yang mempengaruhi penampilan peran, yaitu peran yang sesuai dengan jenis
kelamin, peran dalam pekerjaan dan peran yang sesuai dengan kebudayaa
c. Faktor yang mempengaruhi identitas diri, yaitu orang tua yang tidak percaya pada
anak, tekanan teman sebaya dan kultur social yang berubah
3. Faktor Presipitasi
a. Faktor presipitasi dapat disebabkan oleh faktor dari dalam atau faktor dari luar
individu ( internal or eksternal sources ), yang dibagi 5 ( lima ) kategori :
1) Ketegangan peran, adalah stress yang berhubungan dengan frustasi yang dialami
individu dalam peran atau posisi yang diharapkan seperti konsep berikut ini :
2) Konflik peran : ketidaksesuaian peran antar yang dijalankan dengan yang diinginkan
3) Peran yang tidak jelas: kurangnya pengetahuan individu tentang peran yang
dilakukannya
4) Peran berlebihan : kurang sumber yang adekuat untuk menampilkan seperangkat peran
yang kompleks

12
5) Perkembangan transisi, yaitu perubahan norma yang berkaitan dengan nilai untuk
menyesuaikan diri
b. Situasi transisi peran, adalah bertambah atau berkurangnya orang penting dalam
kehidupan individu melalui kelahiran atau kematian orang yang berarti
c. Transisi peran sehat sakit, yaitu peran yang diakibatkan oleh keadaan sehat atau
keadaan sakit. Transisi ini dapat disebabkan :
1) Kehilangan bagian tubuh
2) Perubahan ukuran dan bentuk, penampilan atau fungsi tubuh
3) Perubahan fisik yang berkaitan dengan pertumbuhan dan perkembangan
4) Prosedur pengobatan dan perawata
d. Ancaman fisik seperti pemakaian oksigen, kelelahan, ketidakseimbangan bio kimia,
gangguan penggunaan obat, alkoholdan zat.
4. Perilaku
Data yang dikumpulkan oleh seorang perawat, hendaknya data perilaku yang obyektif dan
dapat diamati. Perilaku yang berhubungan dengan harga diri yang rendaha ( Stuart dan
Sundeen, 1995 ) yaitu identitas kacau dan depersonalisasi dapat dilihat pada tabel berikut.
Perilaku dengan harga diri yang rendah

a. Mengkritik diri sendiri atau orang j. Pandangan hidup yang pesimis


lain k. Keluhan keluhan fisik
b. Produktifitas menurun l. Pandangan hidup terpolarisasi
c. Destruktif pada orang lain m. Mengingkari kemampuan diri
d. Gangguan berhubungan sendiri
e. Merasa diri lebih penting n. Mengejek diri sendiri
f. Merasa tidak layak o. Mencederai diri sendiri
g. Rasa bersalah p. Isolasi social
h. Mudah marah dan tersinggung q. Penyalahgunaan zat
i. Perasaan negative terhadap diri r. Menarik diri dari realitas
sendiri s. Khawatir
t. Ketegangan peran

Perilaku dengan Identitas kacau

13
a. Tidak mengindahkan moral g. Tidak mampu berempati
b. Mengurangi hubungan interpersonal h. Kurang keyakinan diri
c. Perasaan kosong i. Mencintai diri sendiri
d. Perasaan yang berubah ubah j. Masalah hubungan intim
e. Kekacauan identitas seksual k. Ideal diri tidak realistik
f. Kecemasan yang tinggi

Perilaku dengan Depersonalisasi

Afek a. Identitas hilang


b. Asing dengan diri sendiri
c. Perasaan tidak aman, rendah diri, takut, malu
d. Perasaan tidak realistic
e. Merasa sangat terisolasi

Persepsi a. Halusinasi pendengaran dan penglihatan


b. Tidak yakin akan jenis kelaminnya
c. Sukar membedakan diri dengan orang lain

Kognitif a. Kacau
b. Disorientasi waktu
c. Penyimpangan pikiran
d. Daya ingat terganggu
e. Daya penilaian terganggu

Perilaku a. Afek tumpul


b. Pasif dan tidak ada respon emosi
c. Komunikasi tidak selaras
d. Tidak dapat mengontrol perasaan
e. Tidak ada inisiatif dan tidak mampu mengambil keputusan
f. Menarik diri dari lingkungan
g. Kurang bersemangat

14
5. Mekanisme Koping

Jangka Pendek Jangka Panjang

1. Kegiatan yang dilakukan untuk lari 1. Menutup Identitas :


sementara dari krisis : pemakaian obat Terlalu cepat mengadopsi identitas yang
obatan, kerja keras, nonton TV terus disenangi daro orang orang yang berarti,
menerus tanpa mengindahkan hasrat, aspirasi atau
potensi diri sendiri

2. Kegiatan mengganti identitas sementara : 2. Identitas Negatif :


(ikut kelompok social, keagamaan, politik ) Asumsi yang bertentangan dengan nilai dan
harapan masyarakat

3. Kegiatan yang memberi dukungan


sementara : ( kompetisi olah raga kontes
popularitas )

4. Kegiatan mencoba menghilangkan anti


identitas sementara : (penyalahgunaan obat
obat)

6. Pertahanan Ego.
Termasuk penggunaan fantasi, disosiasi, isolasi, proyeksi, pergeseran (displacement),
peretakan (splitting), berbalik marah terhadap diri sendiri, dan amuk.
a. Fantasi adalah kemampuan menggunakan tanggapan tanggapan yang sudah ada
(dimiliki) untuk menciptakan tanggapan baru.
b. Disosiasi adalah respon yang tidak sesuai dengan stimulus.
c. Isolasi adalah menghindarkan diri dari interaksi dengan lingkungan luar.
d. Proyeksi adalah kelemahan dan kekurangan dalam diri sendiri dilontarkan pada orang
lain.
e. Displacement adalah mengeluarkan perasaan perasaan yang tertekan pada orang yang
kurang mengancam dan kurang menimbulkan reaksi emosi.

15
D. Diagnosa Keperawatan
1. Gangguan Citra Tubuh
a. Definisi: konfusi dalam gambaran mental tentang diri-fisik individu
b. Batasan Karakteristik:
Perilaku mengenali tubuh individu
Perilaku menghindari tubuh individu
Perilaku memantau tubuh individu
Respon nonverbal terhadap perubahan actual pada tubuh (mis: penampilan, struktur,
fungsi)
Respon nonverbal terhadap persepsi perubahan pada tubuh (mis: penampilan, struktur,
fungsi)
Mengungkapkan perasaan yang mencerminkan perubahan pandangan tentang tubuh
individu (mis: perubahan, struktur, fungsi)\
Mengungkapkan persepsi yang mencerminkan perubahan individu dalam penampilan
Objektif
Perubahan actual pada fungsi
Perubahan actual pada struktur
Perilaku mengenali tubuh individu
Perilaku memantau tubuh individu
Perubahan dalam kemampuan memperkirakan hubungan special tubuh terhadap
lingkungan
Perubahan dalam keterlibatan social
Perluasan batasan tubuh untuk menggabungkan objek lingkungan
Secara sengaja menyembunyikan bagian tubuh
Secara sengaja menonjolkan bagian tubuh
Kehilangan bagian tubuh
Tidak melihat bagian tubuh
Tidak menyentuh bagian tubuh
Trauma pada bagian yang tidak berfungsi
Secara tidak sengaja menonjolkan bagian tubuh

16
Subjektif
Depersonalisasi kehilangan melalui kata ganti yang netral
Depersonalisasi bagian melalui kata ganti yang netral
Penekanan pada kekuatan yang tersisa
Ketakutan terhadap reaksi orang lain
Fokus pada penampilan masa lalu
Perasaan negative tentang sesuatu
Personalisasi kehilangan dengan menyebutkannya
Fokus pada perubahan
Fokus pada kehilangan
Menolak memverifikasi perubahan actual
Mengungkapkan perubahan gaya hidup
c. Faktor yang Berhubungan:
Biofisik, kognitif
Budaya, tahap perkembangan
Penyakit, cedera
Perceptual, psikososial, spiritual
Pembedahan, trauma
Terapi penyakit
2. Gangguan Identitas Personal
a. Definisi
Ketidakmampuan mempertahankan persepsi diri yang utuh dan terintegrasi.
b. Batasan Karakteristik
Sifat personal kontradiktif
Deskripsi waham tentang diri sendiri
Gangguan citra tubuh
Kebingungan gender
Ketidakefektifan koping
Gangguan hubungan
Ketidakefektifan performa peran

17
Merasa koping
Merasa aneh
Perasaan yang berfluktuasi tentang diri sendiri
Ketidakmampuan membedakan stimulus internal dan eksternal
Ketidakpastian tentang nilai budaya (misalnya : mempertanyakan kepercayaan, agama,
dan moral)
Ketidakpastian tentang tujuan
Ketidakpastian tentang nilai ideologis (misalnya : mepertanyakan kepercayaan, agama,
dan moral)
c. Faktor Yang Berhubungan
Harga diri rendah kronik
Indoktrinasi pemujaan
Diskontinuitas budaya
Diskriminasi
Disfungsi proses keluarga
Mengonsumsi zat kimia toksik
Inhalasi zat kimia toksik
Kondisi manik
Gangguan kepribadan ganda
Sindrom otak organik
Prasangka
Gangguan psikiatrik (misalnya : psikosis, depresi, gangguan disosiatif)
Krisis situasional
Harga diri rendah situasional
Perubahan peran sosial
Tahap perkembangan
Tahap pertumbuhan
Penggunaan obat psikoaktif
3. Risiko Gangguan Identitas Personal
a. Definisi

18
Risiko ketidakmampuan mempertahankan persepsi diri yang terintegrasi dan komplet
b. Faktor Risiko
Harga diri rendah kronik
Indoktrinasi pemujaan
Diskontinuitas budaya
Diskriminasi
Disfungsi proses keluarga
Mengonsumsi zat kimia toksik
Inhalasi zat kimia toksik
Kondisi manik
Gangguan kepribadian ganda
Sindrom otak organik
Prasangka
Gangguan psikiatrik (misalnya : psikosis, depresi, gangguan disosiatif)
Krisis situasional
Harga diri rendah situasional
Perubahan peran sosial
Tahap perkembangan
Tahap pertumbuhan
Penggunaan obat psikoaktif
4. Harga Diri Rendah Kronik
a. Definisi
Evaluasi diri/perasaan negative tentang diri sendiri atau kecakapan diri yang
berlangsung lama.
b. Batasan Karakteristik :
Bergantung pada pendapat orang lain
Evaluasi diri bahwa individu tidak mampu menghadapi peristiwa
Melebih-lebihkan umpan balik negative tentang diri sendiri
Secara berlebihan mencari penguatan
Sering kali kurang berhasil dalam peristiwa hidup

19
Enggan mencoba situasi baru
Enggan mencoba hal baru
Perilaku bimbang
Kontak mata kurang
Perilaku tidak asertif
Sering kali mencari penegasan
Pasif
Menolak umpan balik positif tentang diri sendiri
Ekspresi rasa bersalah
Ekspresi rasa malu
c. Faktor yang Berhubungan :
Ketidakefektifan adaptasi terhadap kehilangan
Kurang kasih saying
Kurang persetujuan
Kurang keanggotaan dalam kelompok
Persepsi ketidaksesuaian antara norma budaya dan diri
Persepsi ketidaksesuaian antara norma spiritual dan diri
Persepsi kurang rasa memiliki
Persepsi kurang dihargai oleh orang lain
Gaangguan psikiatrik
Kegagalan berulang
Penguatan negative berulang
Peristiwa traumatic
Situasi traumatic
5. Harga Diri Rendah Situasional
a. Definisi
Perkembangan persepsi negative tentang harga diri sebagai respons terhadap situasi saat
ini.
b. Batasan Karakteristik :
Evaluasi diri bahwa individu tidak mampu menghadapi peristiwa

20
Evaluasi diri bahwa individu tidak mampu menghadapi situasi
Perilaku bimbang
Perilaku tidak asertif
Secara verbal melaporkan tantangan situasional saat ini terhadap harga diri
Ekspresi ketidakberdayaan
Ekspresi ketifakbergunaan
Verbalisasi meniadakan diri
c. Faktor yang Berhubungan :
Perilaku yang tidak selaras dengan nilai
Perubahan perkembangan
Gangguan citra tubuh
Kegagalan
Gangguan fungsional
Kurang penghargaan
Kehilangan
Penolakan
Perubahan peran social
6. Kesiapan Meningkatkan Konsep Diri
a. Definisi
Pola persepsi atau gagasan tentang diri yang memadai untuk kesejahteraan dan dapat
ditingkatkan.
b. Batasan Karakterisitik
Menerima keterbatasan
Menerima kekuatan
Tindakan selaras dengan ekspresi verbal
Mengekspresikan kepercayaan diri dalam kemampuan
Mengekspresikan kepuasan dengan citra tubuh
Mengekspresikan kepuasan dengan identitas pribadi
Mengekspresikan kepuasan dengan performa peran
Mengekspresikan kepuasan dengan rasa berharga

21
Mengekspresikan kepuasan dengan gagasan tentang diri sendiri
Mengekspresikan keinginan untuk meningkatkan konsep diri

E. Rencana Keperawatan
No No. Tujuan dan Kriteria Hasil (NOC) Intervensi (NIC)
DX
1 1 NOC NIC
a. Body Image Body image enhancement
b. Self esteem a. Kaji secara verbal dan non verbal
respon klien terhadap tubuhnya
Setelah 3x24 jam interaksi diharapkan: b. Monitor frekuensi mengkritik
Kriteria Hasil dirinya
a. Body image positif c. Jelaskan tentang pengobatan,
b. Mampu mengidentifikasi kekuatan perawatan, kemajuan dalam
personal prognosis penyakit
c. Mendeskripsikan secara faktual d. Dorong klien mengungkapkan
perubahan fungsi tubuh perasaannya
d. Mempertahankan interaksi social e. Identifikasi arti pengurangan
melalui pemakaian alat bantu
f. Fasilitas kontak dengan individu
lain dalam kelompok kecil
2 2 NOC NIC
a. Distorted Throught Self-Control a. Pantau pernyataan pasien tentang
b. Identity harga dirinya
c. Self-Mutilation Restraint b. Nilai apakah pasien percaya diri
terhadap penilaiannya
Setelah 3x24 jam interaksi diharapkan: c. Pantau frekuensi ungkapan verbal
Kriteria Hasil yang negatif terhadap diri sendiri
a. Mengungkapkan secara verbal d. Dorong pasien untuk
tentang identitas personal mengungkapkan secara verbal
b. Mengungkapkan secara verbal konsekuensi dari perubahan fisik

22
penguatan tentang identitas dan emosi yang mempengaruhi
personal konsep diri
c. Memperlihatkan kesesuaian e. Berikan perawatan dengan sikap
perilaku verbal dan non verbal yang tidak menghakimi,
mempertahankan privasi, dan
martabat pasien
f. Libatkan pasien dalam
pengambilan keputusan mengenai
perawatan
g. Bina komunikasi dengan pasien
sejak masuk rumah sakit
h. Fasilitasi pengambilan keputusan
kolaboratif
i. Dorong pasien untuk
mengidentifikasi kekuatan
j. Berikan pengalaman yang dapat
meningkatkan otonomi pasien, jika
perlu
k. Hindari memberi kritik negatif
l. Tunjukkan rasa percaya terhadap
kemampuan pasien untuk
menghadapi situasi
m. Dorong pasien untuk mengevaluasi
perilakunya sendiri
3 3 NOC NIC
a. Distorted Throught Self-Control Behaviour Management : Self-Harm
b. Identity a. Dorong pasien untuk
c. Self-Mutilation Restraint mengungkapkan secara verbal
konsekuensi dari perubahan fisik
Setelah 3x24 jam interaksi diharapkan: dan emosi yang mempengaruhi
Kriteria Hasil konsep diri

23
a. Mengungkapkan secara verbal Family Involvement Promotion
tentang identitas personal a. Bina hubungan dengan pasien
b. Mengungkapkan secara verbal sejak masuk ke rumah sakit
penguatan tentang identitas b. Fasilitasi pengambilan keputusan
personal kolaboratif
c. Memperlihatkan kesesuaian c. Menjadi penghubung antara pasien
perilaku verbal dan non verbal dan keluarga
Self-Awareness Enhancement
a. Pantau pernyataan pasien tentang
harga dirinya
b. Nilai apakah pasien percaya diri
terhadap penilaiannya
c. Pantau frekuensi ungkapan verbal
yang negatif terhadap diri sendiri
d. Dorong pasien untuk
mengidentifikasi kekuatan
e. Berikan pengalaman yang dapat
meningkatkan otonomi pasien, jika
diperlukan
f. Hindari memberi kritik negatif
g. Dorong pasien untuk mengevaluasi
perilakunya sendiri
4 4 Setelah 3x24 jam interaksi diharapkan: NIC
Kriteria Hasil a. Pantau pernyataan pasien tentang
a. Tingkat depresi : keparahan alam harga diri
perasaan melankolis dan hilang b. Tentukan rasa percaya diri pasien
minat dalam peristiwa hidup dalam penilaian diri
b. Kualitas hidup : tingkat persepsi c. Pantau frekuensi ucapan peniadaan
positif tentang situasi hidup saat diri
ini d. Ajarkan keterampilan untuk
c. Harga diri : penilaian diri tentang bersikap positif melalui bermain

24
penghargaan diri peran, model peran, diskusi, dsb
d. Mengungkapkan penerimaan diri e. Tentukan batasan tentang ucapan
secara verbal negatif (misalnya : menyangkut
e. Mempertahankan postur tubuh frekuensi, isi pembicaraan, dan
tegak pendengar)
f. Mempertahankan kontak mata f. Beri penguatan atas kekuatan diri
g. Menerima kritik dari orang lain yang diidentifikasikan oleh pasien
g. Bantu pasien mengidentifikasi
respon positif dari orang lain
h. Hindari tindakan yang dapat
mengusik pasien
i. Bantu penyusunan tujuan yang
realistis untuk mencapai harga diri
yang lebih tinggi
j. Bantu pasien mengkaji kembali
persepsi negatif tentang dirinya
k. Beri penghargaan atau pujian atas
kemajuan pasien dalam mencapai
tujuan
l. Fasilitasi lingkungan dan aktivitas
yang dapat meningkatkan harga
diri
5 5 NOC NIC
a. Body image, disturbed Self Esteem Enhancement
b. Coping, ineffective a. Monitor frekuensi komunikasi
c. Personal identity, disturbed verbal pasien yang negatif
d. Health behaviour, risk b. Kaji alasan-alasan untuk
e. Self esteem situasional, low mengkritik atau menyalahkan diri
sendiri
Setelah 3x24 jam interaksi diharapkan: c. Tunjukkan rasa percaya diri
Kriteria Hasil terhadap kemampuan pasien

25
a. Adaptasi terhadap ketunandayaan untuk mengatasi situasi
fisik : respon adaptif klien d. Dorong pasien mengidentifikasi
terhadap tantangan fungsional kekuatan dirinya
penting akibat ketunandayaan fisik e. Ajarkan keterampilan perilaku
b. Resolusi berduka : penyesuaian yang positif melalui bermain
dengan kehilangan aktual atau peran, model peran, diskusi
kehilangan yang akan terjadi f. Dukung peningkatan tanggung
c. Penyesuaian psikososial : jawab diri, jika diperlukan
perubahan hidup : respon g. Buat statement positif terhadap
psikososial adaptif individu pasien
terhadap perubahan bermakna h. Dukung pasien untuk menerima
dalam hidup tantangan bar
d. Menunjukkan penilaian pribadi i. Kolaborasi dengan sumber-
tentang harga diri sumber lain (petugas dinas sosial,
e. Mengungkapkan penerimaan diri perawat spesialis klinis, dan
f. Komunikasi terbuka layanan keagamaan)
g. Mengatakan optimisme tentang Body Image Enhancement
masa depan Counseling
h. Menggunakan strategi koping a. Menggunakan proses
efektif pertolongan interaktif yang
berfokus pada kebutuhan,
masalah, atau perasaan pasien
dan orang terdekat untuk
meningkatkan atau
mendukung koping,
pemecahan masalah
Coping Enhancement
6 6 Setelah 3x24 jam interaksi diharapkan: NIC
Kriteria Hasil a. Kaji bukti konsep diri positif
a. Citra tubuh : persepsi tentang (misalnya : alam perasaan, citra
penampilan dan fungsi tubuh tubuh positif, kepuasan terhadap

26
individu tanggung jawab peran, persepsi
b. Otonomi pribadi : tindakan pribadi tentang kepuasan terhadap diri
pada individu yang kompeten sendiri secara umum)
untuk melatih kepemimpinan b. Pantau pernyataan pasien tentang
dalam keputusan hidup harga diri
c. Harga diri : penilaian diri tentang c. Tentukan kepercayaan diri pasien
harga diri terhadap penilaian sendiri
d. Verbalisasi tentang penerimaan d. Ajarkan keterampilan perilaku
diri positif melalui bermain peran,
e. Penerimaan pujian dari orang lain model peran, diskusi, dsb
e. Bantu klien mengantisipasi
perubahan perkembangan dan
perubahan situasional yang dapat
mempengaruhi performa peran dan
harga diri
f. Tunjukkan rasa percaya terhadapa
kemampuan pasien untuk
menangani situasi
g. Dorong pasien menerima
tantangan baru
h. Beri penguatan atas kekuatan
pribadi yang diidentifikasi pasien
i. Bantu pasien mengidentifikasi
respon positif dari orang lain
j. Bantu menetapkan tujuan realistis
untuk mencapai harga diri yang
lebih tinggi
k. Beri penghargaan atau puji
kemajuan pasien ke arah
pencapaian tujuan

27
BAB III
PENUTUP

A. Simpulan
A. Konsep Dasar Konsep Diri
1. Pengertian
Konsep diri adalah cara seseorang untuk melihat dirinya secara utuh dengan semua ide,
pikiran, kepercayaan, dan pendirian yang diketahui individu dalam berhubungan dengan
orang lain.
2. Komponen konsep diri
a. Ideal diri
b. Citra tubuh (Body image)
c. Identitas diri
d. Penampilan peran
e. Harga diri
B. Stres,adaptasi, dan koping
1. Pengertian
Stress adalah reaksi atau respons tubuh terhadap stresor psikososial (tekanan mental atau
beban kehidupan) (Dadang Hawari, 2001)
Adaptasi merupakan suatu proses perubahan yang menyertai individu dalam berespons terhadap
perubahan yang ada di lingkungan dan dapat mempengaruhi keutuhan tubuh baik secara
fisiologis maupun psikologis yang akan menghasilkan perilaku adaptif
Koping merupakan upaya perilaku dan kognitif seseorang dalam menghadapi ancaman
fisik dan psikososial. (Stuart &Laraia, 2005)
2. Tahapan stress
a. Stres tingkat I
b. Stres tingkat II
c. Stres tingkat III
d. Stres tingkat IV
e. Stres tingkat V
f. Stres tingkat VI
3. Sifat stres dibagi menjadi dua yaitu eustress dan distress

28
4. Dampak stress dapat dilihat dari aspek fisik,psikologis, social dan spiritual
C. Pengkajian konsep diri
a. Identitas
b. Faktor predisposisi dan factor presipitasi
c. Identifikasi perilaku
d. Mekanisme koping
e. Pertahanan ego
D. Diagnosa keperawatan
1. Gangguan Citra Tubuh
2. Gangguan Identitas Personal
3. Risiko Gangguan Identitas Personal
4. Harga Diri Rendah Kronik
5. Harga Diri Rendah Situasional
6. Kesiapan Meningkatkan Konsep Diri

B. Saran
Seorang perawat harus dapat memahami tentang konsep diri agar dapat memberikan asuhan
keperawatan yang tepat bagi pasien.

29
DAFTAR PUSTAKA

Carpenito,Lynda Juall. 2012. Buku Saku Diagnosa Keperawatan.Jakarta: EGC


Keliat, B.A. ( 1998 ), Gangguan Koping, Citra Tubuh dan Seksual pada Klien Kanker, Jakarta,
EGC
Kozier,B.,Erb.G & Bufalino.P.M . Introdution of nursing California Addision. 1989. Wessley
Publising Company.
Nurarif, Amin Huda. 2015. NANDA NIC NOC. Jogjakarta:Mediaction Publishing
Stuart, G. W. (2016). Keperawatan Kesehatan Jiwa Stuart. Singapore: Elsevier.
Stuart GW & Laraia. 2005. Principle and practice of psychiatric nursing. Philadelphia: Elsevier
Mosby
Stuart, G.W., dan Sundeen, S.J. ( 1995 ), principle and practice of psychiatric nursing, ( 5 th ed)
Taylor,2003. Health Psychology.New York: McGra-Hill

Towsend, M.C.( 1998 ). Diagnosa Keperawatan pada Keperawatan psikiatri : Pedoman untuk
pembuatan Rencana keperawatan, Jakarta : EGC

30