Anda di halaman 1dari 21

REFLEKSI KASUS OKTOBER 2017

DIARE TANPA DEHIDRASI

Disusun Oleh :
RIZKI SAVINA AKBAR
N 111 16 076

Pembimbing :
dr. DIAH MUTIARASARI, MPH
dr. INTJE NORMA

DALAM RANGKA MENGIKUTI KEPANITERAAN KLINIK


BAGIAN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS TADULAKO
PALU
2017

1
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Diare pada anak masih merupakan masalah kesehatan utama pada
masyarakat Indonesia dengan angka kesakitan adalah sekitar 200 400
kejadian per 1000 penduduk tiap tahun dan sebagian besar dari penderita ini
berusia kurang dari 5 tahun.1
Penyakit diare merupakan masalah utama kesehatan masyarakat di negara
berkembang seperti di Indonesia, karena morbiditas dan mortalitasnya yang
masih tinggi. Menurut data World Health Organization (WHO) pada tahun 2013,
setiap tahunnya ada sekitar 1,7 miliar kasus diare dengan angka kematian 760.000
anak dibawah 5 tahun. Pada negara berkembang, anak-anak usia dibawah 3 tahun
rata-rata mengalami 3 episode diare pertahun. 2
Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas, 2013) menunjukkan insidens diare
pada kelompok umur balita adalah paling tinggi yaitu 6,7%. Lima provinsi
dengan insiden diare tertinggi adalah Aceh (10,2%), Papua (9,6%), DKI Jakarta
(8,9%), Sulawesi Selatan (8,1%), dan Banten (8,0%). Karakteristik diare balita
tertinggi terjadi pada kelompok umur 12-23 bulan (7,6%).3
Diare adalah penyakit yang ditandai dengan bertambahnya frekuensi
defekasi lebih dari biasanya (> 3kali/hari) disertai perubahan konsistensi tinja
(menjadi cair) dengan/tanpa darah dan/atau lendir. Salah satu masalah
kesehatan yang sering terjadi pada masyarakat adalah diare atau sering disebut
juga gastroenteritis, terutama pada bayi dan anak di Indonesia. Diare adalah
penyakit gangguan pencernaan yang disebabkan oleh infeksi beberapa kuman.4
Mikroorganisme masuk lewat makanan yang biasanya disebabkan oleh
kebersihan dan kehigienisan yang tidak terjaga. Menurut Nelsondiare menjadi
masalah serius diberbagai tempat diseluruh dunia dan sering bertumpangtindih

2
dengan malnutrisi. Diare menjadi salah satu penyebab utama morbiditas dan
mortalitas anak-anak diberbagai Negara berkembang. Diperkirakan lebih dari 1
milyar kasus diare di dunia dengan 4-5 juta kasus kematian. Dampak yang
ditimbulkan oleh diare adalah dehidrasi, hipokalemi, hipokalsem, hiponatremi,
syok hipovolemik, asidosis bahkan kematian.Terjadinya kehilangan cairan
tubuh atau dehidrasi dalam jumlah besar dapat mengganggu proses
metabolisme. Dehidrasi merupakan masalah gawat dalam diare, pemberian
cairan paling penting bila terjadi kasus dehidrasi, keterlambatan dalam
pemberian pertolongan dapat mengakibatkan 50 60 % klien meninggal.3
Kondisi lingkungan yang buruk adalah salah satu faktor meningkatnya
kejadian diare karena status kesehatan suatu lingkungan yang mencakup
perumahan, pembuangan kotoran, dan penyediaan air bersih.Hal ini dapat
menyebabkan masalah kesehatan lingkungan yang besar karena dapat
menyebabkan mewabahnya penyakit diare dan mempengaruhi kondisi
kesehatan masyarakat. 5
Kebersihan anak maupun kebersihan lingkungan memegang peranan
penting pada tumbuh kembang anak baik fisik maupun psikisnya. Kebersihan
anak yang kurang, akan memudahkan terjadinya penyakit cacingan dan diare
pada anak. Oleh karena itu pendidikan yang cukup harus ditunjukan untuk
bagaimana cara membuat lingkungan yang baik dan layak untuk tumbuh
kembang anak, sehingga meningkatkan rasa aman bagi anak untuk bagaimana
cara mengeksplorasi lingkungan.5
Menurut data Puskesmas Tipo angka kejadian diare pada tahun 2015
sebanyak 363 kasus, Sedangkan pada tahun 2016 menjadi peningkatan kasus
menjadi 492 kasus. Penyakit Diare merupakan salah satu penyakit yang
berpotensi untuk terjadinya kejadiaan luar biasa (KLB) dan kasus ini
menduduki urutan ke-6 dari 10 pola terbesar penyakit di Puskesmas Tipo. 6

3
1.2. Tujuan
Adapun tujuan penyusunan laporan refleksi kasus ini meliputi :
1. Sebagai syarat penyelesaian tugas akhir di bagian Ilmu Kesehatan
Masyarakat
2. Sebagai gambaran penyebaran penyakit diare dan beberapa resiko
penyebarannya di wilayah kerja Puskesmas Tipo

4
BAB II
LAPORAN KASUS
2.1 Identitas pasien
Nama Pasien : An. A
Umur : 4 tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Alamat : Lekatu
Tanggal Pemeriksaan : 6 Oktober 2017

2.2 Anamnesis
Keluhan utama:
BAB cair sebanyak 5 kali

Riwayat Penyakit Sekarang:


Pasien datang diantar oleh ibunya ke puskesmas dengan keluhan BAB cair
sejak 1 hari yang lalu sebelum ke puskesmas. Dalam satu hari pasien mengalami
BAB cair sebanyak 5 kali yang disertai lendir berwana kuning, berbau busuk
yang menyengat dan tidak ada darah. Mual (+), Muntah (+), nafsu makan
menurun. Demam (+) 1 hari timbul sebelum mengalami BAB cair. Mata cowong
(-), Rewel (+), Turgor < 2 detik, BAK lancar

Riwayat Penyakit Dahulu:


Pasien pernah mengalami keluhan yang sama 2 bulan yang lalu.

Riwayat Penyakit Keluarga:


Tidak ada anggota keluarga yang memiliki keluhan yang sama dengan pasien saat
ini.

5
Riwayat kehamilan:
Antenatal : Ibu pasien sering memeriksakan kehamilannya pada
pelayanan kesehatan (bidan).
Natal : Pasien lahir normal dan dilahirkan di Puskesmas Tipo ditolong
oleh bidan. Usia kehamilan cukup bulan.
Postnatal : Tidak ada kelainan.
Riwayat Imunisasi :
Jenis Vaksin Keterangan
HB O ( 0-7 hari) Diberikan
BCG (0-1 bulan) Diberikan
Polio (0, 2, 4, 6 bulan) Diberikan
DPT/HB (2, 4, 6 bulan) Diberikan
Campak (9 bulan) Diberikan

.
Riwayat Kebiasaan dan Lingkungan
Pasien makan 3 kali sehari dengan sayur atau lauk yang beraneka
ragam namun juga suka diberikan jajanan sekitar.
Pasien belum mampu mencuci tangan sendiri.
Pasien tinggal di rumah yang terletak di lorong berukuran 4x7 meter
persegi. Rumah pasien terdiri dari teras, ruang tamu sekaligus ruang
keluarga dan ruang tv, 1 dapur dan 1 WC sekaligus tempat mencuci
dan penyimpanan air.
Untuk air minum, air untuk mandi, dan air untuk mencuci pakaian,
pasien mendapatkan dari air PDAM. Pasien mengaku ia memasak air
untuk keperluan konsumsi rumah tangga menggunakan tungku kayu.
Didalam rumah tidak terdapat hewan peliharaan .

6
Ventilasi udara rumah pasien cukup, lantai rumah disemen halus pada
kamar dan ruang tamu dan disemen kasar pada dapur dan sebagian wc
yang sekaligus tempat mencuci dan menyimpan air, sisanya masih
berupa tanah. Dinding rumah berupa batako dan tidak ada plafon.
Tempat pembuangan kotoran tepat berada disamping rumah berupa
lubang yang hanya ditutup dengan ban dan disampingnya terdapat
tungku.
Tempat pembuangan sampah berada di depan rumah.

PEMERIKSAAN FISIK
Kondisi Umum : Sakit ringan Berat Badan : 19 kg
Tingkat Kesadaran : Compos Mentis Tinggi Badan : 95 cm
Status Gizi : Gizi Baik

Tanda Vital

Nadi : 104 kali/menit (kuat angkat, reguler)


Suhu : 37.70C
Pernapasan : 24 kali/menit
Kulit : Warna sawo matang, lapisan lemak di bawah kulit
cukup.
Kepala : Normosefal, rambut berwarna hitam, tipis dan tidak
mengkilap, konjungtiva tidak anemis, sklera tidak
ikterus, pupil bulat isokor (diameter 3 mm). Tidak
terdapat sekret pada hidung, tidak terdapat pernapasan
cuping hidung. Tidak ada sekret pada telinga, bibir
tidak sianosis.
Tenggorokan- : Tonsil dan faring tidak tampak kelainan.
Leher Tidak terdapat pembesaran kelenjar getah bening.

Thoraks
Paru : Inspeksi : permukaan dada simetris, penggunaan

7
otot-otot bantu pernapasan (-).
Palpasi : massa (-), nyeri tekan (-) taktil
fremitus kiri = kanan.
Perkusi : sonor pada kedua lapang paru
Auskultasi : bronkovesikuler +/+,
wheezing (-/-), ronkhi (-/-).
Jantung : Inspeksi : iktus kordis tampak
Palpasi : iktus kordis teraba pada ICS V linea
midclavicula sinistra
Perkusi : pekak
Auskultasi : bunyi jantung I dan II murni, reguler,
bising jantung (-).
Abdomen : Inspeksi : permukaan datar, seirama gerak napas
Auskultasi : peristaltik kesan meningkat
Perkusi : Tympani
Palpasi : massa (-), nyeri tekan (-), hepar dan
lien tidak teraba.
Turgor : Turgor kembali segera
Ekstremitas
Atas : Akral hangat, edema (-)
Bawah : Akral hangat, edema (-)

Pemeriksaan Penunjang
Tidak dilakukan pemeriksaan penunjang

Diagnosis Kerja
Diare akut tanpa dehidrasi

Diagnosis Banding
Diare akut et causa Rotavirus
Diare akut et causa salmonella

8
Anjuran Pemeriksaan
1) Pemeriksaan darah rutin
2) Pemeriksaan feses

Terapi
Medikamentosa :
Zink 20 mg (1 tablet) per hari
Oralit diberi 200 ml setiap kali BAB Cair
Paracetamol syrup 3x1 (KP)
Non medikamentosa :
Menganjurkan ibu melakukan kompres hangat bila anak demam.
Menganjurkan ibu utuk memberi minum air matang atau susu yang biasa di
minum atau makanan yang mengandung air seperti kuah sayur.
Mengedukasi ibu tata cara pemberian oralit dan zink serta mengingatkan
kembali untuk menghabiskan konsumsi zink selama 10 hari walaupun BAB
sudah tidak cair.
Memberi makanan bergizi pada anak secara teratur untuk membantu
meningkatkan daya tahan tubuh anak.
Setelah diare berhenti, beri makanan yang sama dan makanan tambahan
selama 2 minggu.
Nasihati ibu untuk membawa kembali anak apabila BAB cair lebih sering,
muntah berulang, sangat haus, makan dan minum sedikit, timbul demam,
berak berdarah atau tidak membaik dalam 3 hari.
Istirahat yang cukup.

9
2.3 Analisis Kasus
Pasien merupakan anak yang aktif, sering bermain di lingkungan luar rumah,
pasien sering bermain dan kontak dengan tanah dan setelahnya jarang mencuci
tangan. Pasien juga belum pernah di ajari cara mencuci tangan yang baik.

2.4 Identifikasi Masalah pada Pasien


1. Bagaimana masalah Diare di Wilayah kerja Puskesmas Tipo?
2. Faktor resiko apa saja yang mempengaruhi masalah Diare di Wilayah kerja
Puskesmas Tipo?
3. Bagaimana pelaksanaan program puskesmas terkait Diare di Wilayah kerja
Puskesmas Tipo?

10
BAB III

PEMBAHASAN

Pada kasus ini, pasien adalah anak perempuan berumur 4 tahun yang diantar
oleh ibunya dengan keluhan utamanya adalah BAB cair. BAB cair dengan frekuensi
3-4x/hari, dengan konsistensi cair dengan lendir dan tidak ada darah yang
berlangsung sejak 1 hari sebelum ke puskesmas. Berdasarkan keadaan tersebut,
pasien di diagnosis awal dengan diare akut. Diare didefinisikan sebagai bertambahnya
defekasi lebih dari biasanya atau lebih dari tiga kali sehari, disertai dengan perubahan
konsisten tinja menjadi cair dengan atau tanpa darah. Dikatakan diare akut karena
munculnya mendadak dan berlangsung dalam waktu kurang dari 15 hari.

Berdasarkan hasil anamnesis dan pemeriksaan fisik tidak didapatkan adanya


tanda-tanda dehidrasi pada pasien ini, keadaan umum pasien sedang, mata cekung
tidak ada, mukosa mulut terlihat basah, denyut nadi 104 x/menit, kuat angkat, isi
cukup, pernapasan 24 kali/menit, suhu tubuh normal yaitu 37,7C, pemeriksaan
turgor kulit kembali normal. Dari pemeriksaan abdomen juga didapatkan peristaltik
usus meningkat.

Berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik didapatkan diagnosis diare akut


tanpa dehidrasi. Pada kasus tidak dilakukan pemeriksaan penunjang karena ketidak
tersedianya pemeriksaan tinja di Puskesmas Tipo. Namun, berdasarkan dari
anamnesis dan pemeriksaan fisik mengarahkan bahwa diare ini bersifat akut dan
berdasarkan literatur menunjukkan diare akut infektif. Hal ini didukung oleh adanya
keluhan yang khas yaitu muntah, nyeri abdomen, demam dan tinja yang cair disertai
adanya lendir.

ORT (Oral Rehydration Therapy) merupakan hal yang paling penting untuk
mencegah dan mengobati kekurangan cairan dan elektrolit. Di Indonesia telah dibuat

11
ORS yang diberi nama Oralit, yang berisi NaCl 0,7 g, KCl 0,3 g, trinatrium sitrat
dihidrat 2,9 g serta glukosa anhidrat yang berbentuk serbuk dalam sachet, dimana
setiap sachet untuk 200 ml air. Glukosa menstimulasi secara aktif transport Na dan air
melalui dinding usus sehingga resorbsi air dalam usus halus meningkat 25 kali.
Penggunaan ORS dengan formula WHO yang dilaksanankan dengan benar, dapat
mengatasi dehidrasi akibat semua jenis diare pada semua kelompok umur.

Pemberian makanan harus diteruskan selama diare dan ditingkatkan setelah


sembuh. Meneruskan pemberian makanan akan mempercepat kembalinya fungsi usus
yang normal termasuk kemampun menerima dan mengabsorbsi berbagai nutrien.

Pada kasus ini, faktor yang paling berperan dalam penularan diare ialah faktor
perilaku dan lingkungan. Dari anamnesa diketahui bahwa pasien Pasien merupakan
anak yang aktif, sering bermain di lingkungan luar rumah, pasien sering bermain dan
kontak dengan tanah dan setelahnya jarang mencuci tangan.

Untuk itu, selain menatalaksanai pasien dengan terapi sesuai tatalaksana diare
tanpa dehidrasi, keluarga pasien juga diberi informasi mengenai cara penularan diare
melalui perilaku mereka yang salah selama ini serta cara mencegahnya muncul lagi
dikemudian hari.

Suatu penyakit dapat terjadi oleh karena ketidakseimbangan faktor-faktor


utama yang dapat mempengaruhi derajat kesehatan masyarakat. Paradigma hidup
sehat yang diperkenalkan oleh H.L. Blum mencakup 4 faktor yaitu faktor
genetik/biologis, faktor perilaku individu atau masyarakat, faktor lingkungan dan
faktor pelayanan kesehatan (jenis, cakupan dan kualitasnya). Berdasarkan kasus di
atas, jika dilihat dari segi konsep kesehatan masyarakat, maka ada beberapa yang
menjadi faktor risiko yang mempengaruhi derajat kesehatan Diare, yaitu:

1. Faktor genetik
Berdasarkan teori diare bukanlah penyakit keturunan.

12
2. Faktor Perilaku
Kebiasaan tidak mencuci tangan menggunakan sabun
Keefektifan mencuci tangan pada saat sebelum makan, sesudah
makan, sebelum mempersiapkan makanan, sesudah BAK dan BAB pada
pasien masih kurang, pasien tetap melakukan rutinitas cuci tangan, namun
pasien tidak menggunakan sabun. Hal ini dapat memudahkan penyebaran
penyakit. Budaya cuci tangan yang benar adalah kegiatan terpenting.
Kegiatan ini sangat penting baik bagi pasien, penyaji makanan, atau warung
serta orang-orang yang merawat dan mengasuh anak. Setiap tangan kontak
dengan feses, urin atau dubur harus dicuci dengan sabun dan kalau perlu
disikat, hal ini diperlukan untuk memutuskan rute transmisi penyakit
Mengolah makanan dengan tidak higienis
Pengolahan makanan yang tidak higienis bisa menjadi salah satu
penyebab, misalnya makanan yang tercemar debu, sampah, dihinggapi lalat
dan air yang kurang masak. Pengelolaan makanan sesuai WHO yakni 1)
jaga kebersihan, 2) pisahkan bahan makanan matang dan mentah, 3) masak
makanan hingga matang, 4) simpan makanan pada suhu aman, 5) gunakan
air bersih dan bahan makanan yang baik

3. Faktor Lingkungan
Sosio-ekonomi menengah
Pasien termasuk dalam keluarga dengan sosio-ekonomi yang
menengah. Walaupun dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari, pasien
terkadang tidak memikirkan kualitas makanan yang dipilih. Hal ini
kemungkinan disebabkan oleh budaya setempat yang hanya mencuci dengan
air tanpa memakai sabun, terkadang hanya terkena air dianggap sudah
bersih. Dari segi pengetahuan cukup baik sebab masing-masing orang butuh

13
perhatian dan usaha yang lebih untuk memperhatikan bagaimana
pencegahan diare tersebut.
Tempat pembuangan kotoran tepat berada disamping rumah berupa lubang
yang hanya ditutup dengan ban dan disampingnya terdapat tungku.
Tempat pembuangan sampah berada di depan rumah.

4. Faktor Pelayanan Kesehatan


a. Pelayanan UKP
Pelayanan kesehatan masyarakat terkait kinerja puskesmas untuk
menanggulangi Diare mulai dari pelayanan UKP berbasis pelayanan di polik
MTBS, melakukan pengukuran TB, BB, menilai status gizi serta penyuluhan
terkait diagnosa penyakit pasien, melakukan anamnesis, pemeriksaan fisik dan
diagnosa, apotik sebagai penyedia obat yang sesuai dengan diagnosa, juga
pelayanan UGD jika ditemukan kondisi buruk terkait komplikasi diare seperti
dehidrasi dan lain sebagainya, perlunya juga ditingkatan mengenai pelayanan
kesehatan lingkungan yang sangat berperan penting dalam mengendalikan
masalah diare di lingkungan kerja Puskesmas Tipo.
b. Pelayanan UKM
Dari pelayanan UKM, berbasis pelayanan Kesling yang berhubungan
dengan diare melakukan kegiatan pokok pengawasan rumah yang berfungsi
meningkatan pengetahuan, keterampilan, kesadaran, kemampuan masyarakat
dalam mewujudkan perumahan dan lingkungan sehat. Menurut
penangungjawab program kesehatan lingkungan program pengawasan rumah
turun lapangan diadakan satu kali dalam setiap bulan dengan mengunjungi
kelurahan yang berbeda tiap bulan, untuk kunjungan ke rumah pasien jarang
dilakukan oleh petugas, hal ini dikarenakan kurangnya SDM untuk dapat
menjangkau pemukiman penduduk di wilayah kerja Puskesmas Tipo, dimana

14
satu orang dapat memegang lebih dari satu program, sehingga dalam
pelaksanaannya kunjungan masih kurang maksimal
Pada kasus ini, faktor yang berperan dalam penularan diare ialah faktor
perilaku, lingkungan dan pelayanan kesehatan. Oleh karena itu, sangat penting
bagi kita untuk waspada dengan jalan menjaga perilaku hidup bersih dan sehat
untuk meminimalisir resiko tertular diare serta untuk pelayanan kesehatan agar
lebih meningkatkan koordinasi antara bagian konseling dengan bagian pelayanan
kesehatan terutama dalam melakukan sosialisasi berupa penyuluhan yang
berkaitan dengan sanitasi lingkungan dan perilaku hidup bersih dan sehat
(PHBS).
Kuman penyebab penyakit diare, keluar dari tubuh penderita bersama tinja
atau muntahan dan menular dengan perantaraan makanan dan minuman yang telah
terkontaminasi oleh bibit penyakitnya. Pengotoran (kontaminasi) ini dapat terjadi
karena:
Makanan / minuman dimasak kurang matang atau sengaja dimakan mentah
misalnya sayur
Makanan / alat-alat makan dihinggapi lalat yang memindahkan bibit
penyakitnya (vektor)
Tidak mencuci tangan dengan sabun sebelum makan.
Pada pasien ini tempat memasak cukup lumayan higienis. Namun
penyimpanan alat-alat makan kurang baik, karena ada beberapa alat makan yang
disimpan di bawah lantai. Penyimpanan makanan kurang baik, karena sisa makanan
tidak ditutup dengan penutup makanan sehingga dihinggapi lalat.
Pada Kasus ini, penggunaan yang masih disatukan dengan tempat lain seperti
tempat mencuci peralatan makan dan penyimpanan air yang digunakan untuk masak.
Pengelolaan sampah yang buruk yang berada di depan rumah dan terbiarkan begitu
saja. Dan sarana pembuangan limbah yang tergenang dan pengaliran kakus yang

15
hanya ditutupi ban yang diarahkan ke halaman dekat dengan tempat bermain dan
tungku untuk memasak.
Rumah pasien belum memenuhi kriteria rumah sehat dimana tempat tinggal
pasien yang terletak di lorong berukuran 4x7 meter persegi. Rumah pasien terdiri dari
teras, ruang tamu sekaligus ruang keluarga dan ruang tv, 2 Kamar, 1 dapur dan 1 WC
sekaligus tempat mencuci dan penyimpanan air. Ventilasi udara rumah pasien cukup,
lantai rumah disemen halus pada kamar dan ruang tamu dan disemen kasar pada
dapur dan sebagian wc yang sekaligus tempat mencuci dan menyimpan air, sisanya
masih berupa tanah. Dinding rumah berupa batako dan tidak ada plafon.

Pasien

Poli MTBS
Apotik
(ukur TB,
Memberikan BB,Tanda
obat sesuai Vital)
resep dokter

Poli Umum
(Anamnesis-penatalaksanaan
Pojok Oralit hingga edukasi terhadap
orang tua pasien)

Alur Pelayanan Puskesmas Tipo

16
BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Kesimpulan dari laporan refleksi kasus ini adalah diare masih menempati
posisi ke enam dari 10 Penyakit Terbanyak di Puskesmas Tipo. Diare
merupakan penyakit yang dapat dicegah dengan pemberian ASI ekslusif,
imunisasi lengkap, penerapan gaya hidup sehat, mengaplikasikan perilaku
hidup bersih dan sehat, serta menjaga kebersihan rumah agar tetap sehat.
Kejadian penyakit diare pada kasus ini di pengaruhi faktor perilaku dan faktor
lingkungan.

5.2 Saran
Adapun saran yang dapat diberikan adalah sebagai berikut.
1. Promosi kesehatan (health promotion)
Penyediaan makanan sehat dan cukup (kualitas maupun kuantitas)
Perbaikan hygiene dan sanitasi lingkungan, misalnya penyediaan air
bersih, pembuangan sampah, pembuangan tinja dan limbah.
Edukasi tentang Perilaku Hidup Bersih dan Sehat, salah satunya
pentingnya mencuci tangan dengan sabun.
Pendidikan kesehatan
Dalam hal ini perlu untuk memberikan promosi kesehatan tentang
makanan sehat dan cukup, bagaimana menjaga higinitas dan sanitasi
lingkungan serta penyuluhan kesehatan tentang diare di tingkat
masyarakat dan sekolah-sekolah di wilayah Puskesmas Tipo.

17
2. Perlindungan umum dan khusus terhadap penyakit-penyakit tertentu
(general and specific protection)
Pembuangan tinja di tempat yang aman, terutama yang berasal dari
penderita diare, baik penderita bayi, anak ataupun dewasa;
Cuci tangan setelah buang air besar, setelah membersihkan kotoran
bayi/anak, sebelum makan, menyuapi atau menyiapkan makanan;
Menjaga agar air minum terbebas dari pencemaran, baik di rumah
maupun di sumbernya.
Memastikan kebersihan tempat penyimpanan makanan sehingga tidak
dihinggapi serangga ataupun tercemari oleh debu.
3. Penegakkan diagnosa secara dini dan pengobatan yang cepat dan
tepat(early diagnosis and prompt treatment)
Jika ada didapatkan penderita diare segera dilakukan penegakkan diagnosa
dan pengobatan yang cepat dan tepat.
4. Pembatasan kecacatan (dissability limitation)
Pengobatan dan perawatan yang sempurna agar penderita sembuh dan tak
terjadi komplikasi, sehingga apabila telah ditegakkan diagnosa diare
diberikan pengobatan sesuai dengan gejala dan dianjurkan untuk ke faskes
terdekat untuk mendapatkan penanganan awal apabila didapatkan diare
dengan dehidrasi.
5. Pemulihan kesehatan (rehabilitation)
Pada tingkat ini, pasien diberikan konseling tentang jika munculnya gejala
baru atau bertambah parah agar segera dibawa kepuskesmas, misalnya
BAB cair lebih banyak, lebih sering, disertai darah, muntah, anak
rewel/gelisah, tidak mau minum, dan sebagainya.

18
DAFTAR PUSTAKA

1. Putri, M. Perbedaan Lama Diare Pada Penderita Diare Akut yang Diterapi
dengan Zink dan Probiotik Dibanding Probiotik di RSUD Dr. Moewardi
Surakarta. Bagian Ilmu Kesehatan Anak FK UNS/ RSUD Dr. Moewardi. Jurnal
Kedokteran Indonesia. Vol.1/No.1. Surakarta. 2009.
2. Christy, M.Y. 2014. Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Dehidrasi Diare
pada Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Kalijudan. Jurnal Berkala
Epidemiologi, Vol.2, No.3, 297-308. [Cited : 31 Juli 2017]. Diakses pada :
<http://e-journal.unair.ac.id/index.php/JBE/article/download/1232/1005>.
3. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, 2013. Riset Kesehatan Dasar.
Kementerian Kesehatan RI : Jakarta.
4. Ahmad, Y. Citra, W, M, S,. Sheizi, P, S,.Upaya Ibu Memiliki Balita Dalam
Pencegahan Dan Penanggulangan Diare DI Daerah Kerja Puskesmas Cililin Desa
Cililin Kabupaten Bandung Barat. Vol. 10, No. XVIII. 2008
5. S. Fiesta O., Dharma S & Marsaulina, I. 2012. Hubungan Kondisi Lingkungan
Perumahan Dengan Kejadian Diare Di Desa Sialang Buah Kecamatan Teluk
Mengkudu Kabupaten Serdang Bedagai Tahun 2012. [Cited 3 Agustus 2017].
Diakses dari <http//jurnal.usu.ac.id/index.php/lkk/article/download/3282/1609>
6. Anonim, 2016, Profil Kesehatan Pemerintah UPT Puskesmas Tipo Tahun 2015
7. Depkes, R. I., 2010. Buku Pedoman Pelaksanaan Program P2 Diare. Jakarta :
Ditjen PPM dan PL.
8. Depkes, R.I., 2011. Pedoman Pemberantasan Penyakit Diare. Jakarta : Ditjen
PPM dan PL.
9. Depkes, R.I., 2014. Pedoman Pemberantasan Penyakit Diare. Jakarta : Ditjen
PPM dan PL.

19
LAMPIRAN DOKUMENTASI RUMAH PASIEN

Gambar 1. Ruang dapur

Gambar 2. Ruang mencuci, penyimpanan air dan WC

Gambar 3. Tempat saluran pembuangan air dan kotoran berdampingan dengan tungku
memasak

20
Gambar 4. Tempat pembuangan sampah yang berada di depan rumah

21