Anda di halaman 1dari 18

34

BAB III
TINJAUAN KASUS

Pada bab tiga ini akan dipaparkan data dan masalah pasien dengan kasus Fraktur
Femur. Pada bagian ini terdiri dari pengkajian, diagnosis keperawatan, intervensi
keperawatan, tindakan keperawatan dan evaluasi.
A. Pengkajian
1. Kasus 1
a. Identitas
Ny. M 46 tahun ( 16-5-1971), Islam, pendidikan SMA, pekerjaan
wiraswasta, suku madura, alamat Ledokombo Jember, diagnosis medis
Fraktur Femur 1/3 proximal sinistra, masuk rumah sakit tanggal 28
November 2017 pukul 15.05 WIB, No. Register 06 94 97.no hp: -
b. Status kesehatan saat ini
Ny. M dibawa ke IGD dikarenakan kecelakaan tadi siang tanggal 28
november 2017 sekitar pukul 13.00. Pasien kecelakaan bertrabakan
dengan pickup. Pasien mengalami nyeri di bagian paha kiri. Pasien
mengatakan tidak mengalami nyeri kepala, pingsang (-), mual/muntah -/-
.klien oleh keluarga langsung di bawa ke rs DKT dengan menggunakan
mobil pribadi dan sampai di IGD RS DKT sekitar jam 14:00, klien di
periksa oleh dokter jaga dan di diagnose patah tulang kaki kiri. Di IGD
dilakukan pemasangan bidai 2 sisi lalu oleh dokter jaga IGD di sarankan
rawat inap dan klien di pindahkan ke ruang mawar sekitar pukul 15:30.di
ruang mawar dilakukan anamneses ulang. Pada tanggal 29 november
klien dilakukan operasi dan mengeluh kakinya masih nyeri walaupun
sudah di operasi dan kakinya masih sulit digerakan.
c. Status kesehatan dahulu
Pasien mengatakan tidak memiliki riwayat penyakit DM/HT -/-. Klien
tidak pernah menderita penyakit yang serius gagal ginjal ataupun penyakit
jantung
d. Aspek Psikososial

34
35

Ny. M dan keluarga tidak menyangka bahwa mengalami kejadian


kecelakaan. Keluarga tampak khawatir dengan kondisi kesehatan
pasienwalaupun saat ini pasien sudah di operasi. Pasien dan keluarga
sangat berharap sakit yang dialami pasien bisa sembuh dan pasien bisa
beraktifitas kembali seperti biasa serta berkumpul bersama keluarga
dalam kondisi sehat.
e. Pemeriksaan fisik
Keadaan umum cukup, kesadaran compos mentis, GCS 4-5-6, TD
110/80mmHg, nadi 90x/menit, RR 20x/menit, dan suhu 36,7oC. BB 60
kg, TB 160 cm. Kepala: warna rambut hitam, terlihat sedikit kotor dan
tidak rapi, warna kulit coklat, tidak tedapat jerawat maupun luka. Mata
simetris, sklera mata putih, konjungtiva merah muda, pupil isokor dengan
reflek cahaya 3+/3+, lapang pandang dan ketajaman (+). Hidung tidak ada
polip dan tidak ada cuping hidung. Mulut bersih, mukosa bibir kering,
tidak terdapat sariawan. Telinga simetris dan bersih. Leher tidak tampak
lesi, tidak ada pembesaran kelenjar tiroid, limfe dan tidak ada distensi
vena jagularis, posisi trakea normal dan tidak ada kaku kuduk. Paru:
bentuk dada simetris, retraksi dada (-), nyeri tekan (-), suara paru
vesikuler,ronchi -/-, whezzing -/-. Jantung: tidak tampak pergerakan ictus
cordis pada ICS 5, ictus cordis teraba, suara pekak, S1S2 tunggal.
Abdomen: bentuk cembung, tidak ada lesi, bising usus 4 x/menit, dan
suara timpani. Tulang belakang normal. Ekstremitas: kekuatan otot atas
S/D 5/5, bawah S/D 1/5, repasang drainase pada paha kanan. ROM aktif
terbatas karena kaki nyeri, CRT < 2 detik, akral hangat.
f. Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan radiologi fraktur femur 1/3 proximal,
Hasil pemeriksaan laboratorium tanggal 28 November 2017
LED (0-20), Hb 12.6 (11,4-15.1), Leucosit 15.270 (4.000-11.000), PCV
40.2 (40-47), trombosit 340.000 (150.000-450.000), eritrosit 5.0 (4.0-5.0),
MCV 80.0 (80-100), MCH 24.9 (26-36), MCHC 31.2 (32-37), RDW 19.2
(12-15), BSS 104mg/dl (70-140)
g. Terapi
36

Infuse cairan RL 1500/24jam, injeksi cefoperazone 3x500mg, injeksi


ketorolac 3x1ampul, injeksi ranitidine 2x1ampul.

2. Kasus 2
a) Identitas
Tn. I 38 tahun (23-1-1879), Islam, pendidikan SMA, pekerjaan
wiraswasta, suku Jawa, alamat Dsn Krajan Kecamatan Ambulu
Kabupaten Jember, diagnosis medis Fraktur Femur(Coloume), MRS
tanggal 27 November 2017 Pukul 10.45 WIB, No. Register 06 94 38.No
Hp: -
b) Status kesehatan saat ini
Pasien mengalami jatuh saat bekerja. Klien jatuh dari ketinggian.
Kejadian sudah lebih dari seminggu yang lalu. Kaki sebelah kiri sulit
digerakan, klien juga mengeluhkan pusing (+), mual/muntah -/-.klien ke
RS DKT diantar oleh keluarga sekitar jam 10:45. Dari IGD di periksa
oleh dokter jaga dan dilakukan foto rongen dan di dapatkan hasil fraktur
colom femur sinistra lalu dilakukan bidai 2 sisi dan disarankan untuk
rawat inap karena butuh operasi. Klien di kirim ke ruang mawar sekitar
pukul 12:00.pada tanggal 28 november 2017 klien dilakukan operasi dan
klien masih mengeluh nyeri pada kakinya sehingga kakinya tidak bisa
digerakan.
c) Status kesehatan dahulu
Pasien mengatakan tidak memiliki riwayat penyakit DM/HT -/-. Klien
tidak pernah menderita penyakit yang serius gagal ginjal ataupun penyakit
jantung
d) Aspek psikososial
Pasien khawatir sakitnya semakin parah dan pasien tidak bisa melakukan
aktivitas seperti saat sehat.karena setelah operasi nyerinya tetap dan
nyerinya tidak hilang
h. Pemeriksaan fisik
Keadaan umum cukup, kesadaran compos mentis, GCS 4-5-6, TD
120/70mmHg, N 80x/menit, RR 20x/menit, dan suhu 36,5 oC. BB 50 kg,
TB 155 cm. Kepala: warna rambut hitam, rambut tidak rapi, warna kulit
37

coklat, tidak tedapat jerawat maupun luka. Mata simetris, sklera mata
putih, konjungtiva merah muda, pupil isokor dengan reflek cahaya 2+/2+,
lapang pandang dan ketajaman (+). Hidung tidak ada polip dan tidak ada
cuping hidung. Mulut bersih,mukosa bibir kering, tidak terdapat sariawan.
Telinga simetris dan bersih. Leher tidak tampak lesi, tidak ada
pembesaran kelenjar tiroid, limfe dan tidak ada distensi vena jagularis,
posisi trakea normal dan tidak ada kaku kuduk. Paru: bentuk dada
simetris, retraksi dada (-), tidak ada nyeri tekan, suara sonor dikedua
lapang paru, ronchi -/-, whezzing -/-. Jantung: tidak tampak pergerakan
ictus cordis pada ICS 5, ictus cordis teraba, suara pekak, S1S2 tunggal.
Abdomen: bentuk flat, tidak ada lesi, bising usus 10 x/menit, , suara
timpani. Tulang belakang normal. Ekstremitas: kekuatan otot atas S/D
5/5, bawah S/D 1/5, terpasang drainase pada paha kanan, ROM aktif
tetapi terbatas karena nyeri.
i. Pemeriksaan penunjang
Hasil pemeriksaan laboratorium tanggal 27 November 2017
LED (0-15), Hb 10,9 (12,4-17,7), leucosit 12.250 (4.000-11.000), PCV
33,56 (38-42), trombosit 194.000 (150.000-450.000), eritrosit 3,52 (4,5-
5,5), MCV 95 (80-100), MCH 30,9 (26-36), MCHC 32,4 (32-37), RDW
13,4 (12-15), SGOT 32,6 (0-37), SGPT 21,1 (0-42), RFT urea 29,2 (10-
50), creatinin 0,92 (0,7-1,2), BSS 119 (70-120). Rapid test INTEC non
reaktif.
j. Terapi
Infuse cairan RL 1500/24jam, injeksi piracetam 3x1gram, neurobion drip
1ampul, injeksi dextoketoprofen 3x12,5mg, injeksi cefoperazone
3x500mg.
3. Kasus 3
a) Identitas
Tn. T 94 tahun, Islam, pendidikan tidak sekolah, pekerjaan petani, suku
Jawa, alamat Dsn kawang rejo desa lengkong Kecamatan mumbulsari
Kabupaten Jember, diagnosis medis close Fraktur Femur(Coloume), MRS
tanggal 5 desember 2017 Pukul 12:00 WIB, No. Register 06 96 28.
b) Status kesehatan saat ini
38

Klien jatuh saat di kamar mandi sekitar 2 hari yang lalu setelah itu
kakinya sulit digerakan dan terasa nyeri dan yang paling nyeri adalah
Kaki sebelah kanan, lalu pada tangga 5 desember klien di bawa ke kinik
taman gading dan dari sana di sarankan untuk ke RS DKT karena
dicurigai ada patah tulang, seteah itu keluarga langsung membawa kien
ke RS DKT dan dari IGD di diagnose S. CF femur D, klien disarankan
rawat inap karena perlu perawatan lebih lanjut.
c) Status kesehatan dahulu
Klien tidak memiliki riwayat penyakit DM dan hipertensi.
d) Aspek psikososial
keluarga khawatir sakitnya semakin parah dan pasien tidak bisa
melakukan aktivitas seperti saat sehat.
k. Pemeriksaan fisik
Keadaan umum cukup, kesadaran compos mentis, GCS 4-5-6, TD
120/80mmHg, N 84x/menit, RR 22x/menit, dan suhu 36,7 oC. BB 40 kg,
TB 145 cm. Kepala: warna rambut hitam dan putih, rambut tidak rapi,
warna kulit coklat, tidak tedapat jerawat maupun luka. Mata simetris,
sklera mata putih, konjungtiva merah muda, pupil isokor dengan reflek
cahaya 2+/2+, lapang pandang dan ketajaman (+). Hidung tidak ada polip
dan tidak ada cuping hidung. Mulut bersih,mukosa bibir kering, tidak
terdapat sariawan. Telinga simetris dan bersih. Leher tidak tampak lesi,
tidak ada pembesaran kelenjar tiroid, limfe dan tidak ada distensi vena
jagularis, posisi trakea normal dan tidak ada kaku kuduk. Paru: bentuk
dada simetris, retraksi dada (-), tidak ada nyeri tekan, suara sonor dikedua
lapang paru,suara paru vesikuler,ronchi -/-, whezzing -/-. Jantung: tidak
tampak pergerakan ictus cordis pada ICS 5, ictus cordis teraba, suara
pekak, S1S2 tunggal. Abdomen: bentuk flat, tidak ada lesi, bising usus 8
x/menit, perkusi suara timpani. Tulang belakang normal. Ekstremitas:
kekuatan otot atas S/D 5/5, bawah S/D 1/1, ROM aktif tetapi terbatas
karena nyeri.
l. Pemeriksaan penunjang
Hasil pemeriksaan laboratorium tanggal 5 desember 2017
39

Hb 12,5 (12,4-17,7), leucosit 6.200 (4.000-11.000), PCV 45,9 (38-42),


trombosit 197.000 (150.000-450.000), eritrosit 3,52 (4,5-5,5), MCV 95
(80-100), MCH 30,9 (26-36), MCHC 32,4 (32-37), RDW 13,4 (12-15),
SGOT 32,6 (0-37), SGPT 21,1 (0-42), RFT urea 29,2 (10-50), creatinin
0,92 (0,7-1,2), BSS 119 (70-120). BSS 115
m. Terapi
Infuse cairan RL 1500/24jam, injeksi ranitidine 2x25mg, ketorolac 3x30
mg

B. Analisis Data
1. Kasus 1 (MRS tanggal 28 November 2017)
a. Data subyektif:
Pasien mengatakan nyeri pada paha sebelah kiri setelah dilakukan operasi
P nyeri akibat jatuh dari sepeda akibat kecelakaan, Q nyeri yang dirasakan
seperti cekot-cekot, R nyeri dirasakan di bagian paha sebelah kiri, S Skala
nyeri 5, T nyeri dirasakan saat kaki sebelah kiri digerakan.
Data obyektif:
wajah meringis (+), TD 110/80mmHg, Nadi 90x/menit, RR 20x/menit.
Masalah Keperawatan:
Nyeri Akut
Kemungkinan Penyebab:
Agen cidera fisik: Close fraktur femur

b. Data subjektif:
Pasien mengatakan sulit mengerakan kakinya
Data objektif:
Aktivitas pasien terbatas pada tempat tidur, kaki pasien sebelah kiri
terpasang drainase pada tempat operasi mobilisasi mika/miki pasien
minimal, rentang gerak pasien terbatas.
Masalah keperawatan:
Hambatan Mobilitas Fisik
Kemungkinan penyebab:
Kerusakan integritas struktur tulang
40

c. Data subjektif:
Pasien mengatakan cemas dengan keadaan yang dialaminya (keadadan
setelah operasi karena takut tidak dapat berjalan seperti semula.
Data objektif:
Gelisah (+), tremor tangan (+), N: 90x/menit, TD: 110/80mmHg, RR:
20x/menit, suara bergetar (+), tatapan berubah-ubah (+).
Masalah keperawatan:
Ansietas
Kemungkinan penyebab:
Perubahan status kesehatan

2. Kasus 2 (MRS tanggal 27 November 2017)


a. Data subyektif:
Klien mengatakan nyeri pada paha kiri belum juga hilang setelah dioperasi
P nyeri akibat jatuh dari sepeda akibat jatuh dari ketinggian, Q nyeri yang
dirasakan seperti cekot-cekot, R nyeri dirasakan di bagian paha sebelah
kiri, S Skala nyeri 5, T nyeri dirasakan saat kaki sebelah kiri digerakan
Data obyektif:
, wajah meringis (+), TD 120/70mmHg, Nadi 80x/menit, RR 20x/menit.
Masalah Keperawatan:
Nyeri Akut
Kemungkinan Penyebab:
Agen cidera fisik: CF Femur

b. Data Subjektif:
Pasien mengatakan sulit bergerak dan kesakitan
Data Objektif:
Aktivitas pasien terbatas pada tempat tidur, kaki pasien sebelah kiri
terpasang drainase pada luka operasi, mobilisasi mika/miki pasien minimal
(+), rentang gerak pasien terbatas.
41

Masalah keperawatan:
Hambatan Mobilitas Fisik

Kemungkinan penyebab:
Kerusakan integritas struktur tulang
c. Data subjektif:
Pasien mengatakan bingung dengan sakit yang dirasakannya tak kunjung
hilang walaupun sudah di operasi.
Data objektif:
Gelisah (+), N: 80x/menit, TD: 120/70mmHg, RR: 20x/menit, suara
bergetar (+), tatapan berubah-ubah (+).
Masalah keperawatan:
Ansietas
Kemungkinan penyebab:
Perubahan status kesehatan

3. Kasus 3 (MRS tanggal 5 desember 2017)


a. Data subyektif:
Pasien mengatakan nyeri di paha sebelah kanan setelah terjatuh di kamar
mandi.
P nyeri akibat jatuh sekitar 2 hari yang lalu, Q nyeri yang dirasakan
seperti cekot-cekot, R nyeri dirasakan di bagian paha sebelah kanan, S
Skala nyeri 6, T nyeri dirasakan saat kaki sebelah kanan digerakan
Data obyektif:
, wajah meringis (+), TD 120/80mmHg, Nadi 89x/menit, RR 22x/menit.
Masalah Keperawatan:
Nyeri Akut
Kemungkinan Penyebab:
Agen Cidera Fisik: trauma fisik
b. Data subjektif:
Pasien mengatakan sulit untuk bergerak.
Data Objektif:
42

Aktivitas pasien terbatas pada tempat tidur, kaki pasien sebelah kanan
terpasang traksi (+), mobilisasi mika/miki pasien minimal, rentang gerak
pasien terbatas.
Masalah keperawatan:
Hambatan Mobilitas Fisik
Kemungkinan penyebab:
Kerusakan Struktur Integritas Tulang
c. Data subjektif:
Keluarga mengatakan klien sering bertanya tentang penyakitnya dan takut
untuk di operasi
Data objektif:
Ingin cepat pulang, tidak mau operasi,mengatakan bahwa sudah sembuh
Masalah keperawatan:
ansietas
Kemungkinan penyebab:
Kurangnya pengetahuan

C. Diagnosis Keperawatan
1. Kasus 1 (MRS tanggal 28 November 2017)
a. Nyeri kut berhubungan dengan agen cidera fisik: CF fermoralis
b. Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan integritas
struktur tulang.
c. Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan

2. Kasus 2 (MRS tanggal 27 November 2017)


a. Nyeri Akut berhubungan dengan agen cidera fisik: Cf femoralis
b. Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan integritas tulang
c. Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan.
3. Kasus 3 (MRS tanggal 5 desember 2017)
a. Nyeri Akut berhubungan dengan agen cidera fisik: prosedur pembedahan
pemasangan implant.
b. Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan struktur
integritas tulang.
43

c. Ansietas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang penyakit.

D. Rencana Tindakan Keperawatan


Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan integritas struktur
tulang.
Tujuan : mampu melakukan aktivitas fisik sesuai kemampuanya dalam
waktu 2 x 24 jam
Kriteria Hasil : a. Mampu melakukan perpindahan

b. Meminta bantuan untuk aktifitas mobilisasi


c. Tidak terjadi kontraktur
Intervensi:
1. Manajemen
(a) Kaji mobilitas yang ada dan observasi terhadap peningkatan
kerusakan
Rasional: Pengkajian secara komprehensif dapat memastikan
adanya keparahan pada lokasi fraktur
2. Monitoring dan evaluasi
1) Monitor tanda tanda vital
Rasional : tanda vital dapat menunjukan kedaan klinis klien
2) Pantau kulit bagian distal setiap hari terhadap adanya iritasi, kemerahan.
Rasional: kemerahan atu iritasi Kontrol lingkungan yang dapat
mempengapada kulit dapat menunjukan keparahan atau semakain
parahnya fraktur dan luka tersebut.
3. Health education
Ajari teknik ROM ( Range Of Motion).
Rasional: manfaat mobilitas fisik adalah untuk memperbaiki sirkulasi,

mencegah atau mengurangi komplikasi imobilisasi pasca operasi,

mempercepat proses pemulihan pasca operasi. Salah satu bentuk latihan

mobilisasi adalah dengan melakukan latihan ROM ( Range Of Motion )

baik secara aktif maupun pasif. Latihan rentang gerak (ROM), dapat
44

mencegah terjadinya kontraktur , atropi otot, meningkatkan peredaran

darah ke ekstremitas, mengurangi kelumpuhan vaskuler , dan

memberikan kenyamanan pada klien. Latihan Range Of Motion

(ROM), baik pasif maupun aktif sedikitnya 4 kali sehari dapat

meningkatkan kekuatan otot.

4. Kolaborasi
1) Kolaborasi dengn tim medis untuk pemberin terapi antibiotic cefoperazon
dan analgesik ketorolac
Rasional : obat obatan dapat mempercepat proses kesembuhan klien
2) Kolaborasi dengan ahli fisioterapi untuk latihan fisik klien.
Rasional:ahli fisioterapi dalah suatu bagian yang di khususkan untuk
melakukan latihan- latihan terapi fisik kepada pasien.

E. Pelaksanaan

1. Kasus 1 (MRS tanggal 28 November 2017)


a. Hari I post op(tanggal 29 November 2017)
1) mengkaji mobilitas yang ada dan observasi terhadap peningkatan
kerusakan
Respon: klien masih takut menggerakan kakinya, terasa sakit,terpasang
perban, sudah operasi, terpasang drainase
2) Mengajarkan dan melatih pasien untuk mempraktekan teknik ROM
excercise
Respon: Pasien mampu memahami dan mengikuti instruksi perawat
dengan pelan-pelan.
3) Melakukan kolaborasi pemberian terapi infuse cairan RL 20tpm, injeksi
cefoperazon 500mg, injeksi ketorolac 1ampul, injeksi ranitidine 1 ampul.
Respon: Nyeri sedikit berkurang
4) Monitor dan evaluasi TTV
45

Respon: TD 110/80mmHg, Nadi 82x/menit, RR 20x/menit, wajah


meringis (+), .

b. Hari II (tanggal 30 Agustus 2017)


1) mengkaji mobilitas yang ada dan observasi terhadap peningkatan
kerusakan
Respon: klien sudah bisa miring kanan kii sendiri tanpa bantuan orang
lain
2) mengintruksikan klien untuk berlatih ROM excercise.
Respon: Pasien mampu melakukan ROM secara mandiri
3) Melakukan kolaborasi pemberian terapi infuse cairan RL 20tpm,
injeksi cefoperazon 500mg, injeksi ketorolac 1ampul, injeksi
ranitidine 1 ampul.
Respon: saat mengerakan kaki sudah tidak terlalu nyeri
4) Monitor dan evaluasi TTV dan reaksi non verbal.
Respon: TD 110/70mmHg, Nadi 80x/menit, RR 20x/menit,
wajah meringis (+).
c. Hari III (tanggal 31 November 2017)
1) Mengkaji mobilitas yang ada dan observasi terhadap peningkatan
kerusakan
Respon: klien mampu miring kanan kiri secara mandiri dan
sudah bisa duduk
2) Mengintruksikan klien untuk berlatih ROM excercise
Respon: klien mampu melakukan rom exercise secra mandiri tanpa
disuruh
3) Melakukan kolaborasi pemberian terapi infuse cairan RL 20tpm,
injeksi cefoperazon 500mg, injeksi ketorolac 1ampul, injeksi
ranitidine 1 ampul.
Respon: Nyeri mulai berkurang
4) Monitor dan evaluasi TTV dan reaksi non verbal.
Respon: TD 120/70mmHg, Nadi 80x/menit, RR 20x/menit,
wajah meringis (-).
46

2. Kasus 2 (MRS tanggal 27 November 2017)


1) Hari I post op(tanggal 28 November 2017)
1) Mengkaji mobilitas yang ada dan observasi terhadap peningkatan
kerusakan
Respon: klien tidak mampu melakukan mobilisasi karena terasa nyeri
2) Mengajarkan dan melatih pasien untuk mempraktekan teknik ROM
excercise
Respon: Pasien tidak bisa melakukan tehnik ROM exercise karena
kesakitan
3) Melakukan kolaborasi pemberian terapi infuse cairan RL 20tpm,
injeksi piracetam 1gram, neurobion drip 1 ampul, injeksi
dextoketoprofen 12,5mg, injeksi cefoperazone 500mg.
Respon: Nyeri tidak berkurang
4) Monitor dan evaluasi TTV dan reaksi non verbal.
Respon: TD 120/80mmHg, Nadi 82x/menit, RR 20x/menit, wajah
meringis (+).

2) Hari II (tanggal 29 November 2017)


1) Mengkaji mobilitas yang ada dan observasi terhadap peningkatan
kerusakan
Respon: klien masih tidak bisa miring kanan kiri dan mobiisasi
2) Mengintruksikan klien untuk melakukan ROM excercise.
Respon: klien tidak mau melakukan tehnik ROM exercise karena
merasa kesakitan
3) Melakukan kolaborasi pemberian terapi infuse cairan RL 20tpm,
injeksi injeksi piracetam 1gram, neurobion drip 1ampul, injeksi
dextoketoprofen 12,5mg, injeksi cefoperazone 500mg.
Respon: Nyeri sedikit berkurang
4) Monitor dan evaluasi TTV dan reaksi non verbal.
Respon: TD 120/80mmHg, Nadi 84x/menit, RR 20x/menit, wajah
meringis (+).
47

3) Hari III (tanggal 30 November 2017)


1) Mengkaji mobilitas yang ada dan observasi terhadap peningkatan
kerusakan
Respon: kien tidak mampu melakukan mobilisasi seperti miring kanan
kiri
1) Mengintruksikan klien untuk melakukan tehnik ROM exercise
Respon: kien mau melakukan ROM jika dibantu oleh petugas
2) Melakukan kolaborasi pemberian terapi infuse cairan RL 20tpm, injeksi
injeksi piracetam 1gram, neurobion drip 1ampul, injeksi
dextoketoprofen 12,5mg, injeksi cefoperazone 500mg.
Respon: Nyeri sedikit berkurang
3) Monitor dan evaluasi TTV dan reaksi non verbal.
Respon: TD 120/80mmHg, Nadi 82x/menit, RR 20x/menit, wajah
meringis (+).
3. Kasus 3 (MRS tanggal 5 desember 2017)
a. Hari I (tanggal 6 Desember 2017)
1) Mengkaji mobilitas yang ada dan observasi terhadap peningkatan
kerusakan
Respon:klien mulai bisa menggerakan kakinya untuk miring kanan
dan kiri
2) Mengajarkan dan melatih pasien teknik ROM excercise
Respon: Pasien mampu memahami dan mengikuti instruksi perawat
3) Monitor dan evaluasi TTV dan reaksi non verbal.
Respon: TD 120/70mmHg, Nadi 80x/menit, RR 20x/menit, wajah
meringis (+), skala nyeri 5.
4) Melakukan kolaborasi pemberian terapi infuse cairan RL 20tpm, injeksi
dexketoprofen 12,5mg, infuse metronidazole 500mg.
Respon: Nyeri sedikit berkurang
b. Hari II (tanggal 7 Desember 2017)
1) Mengkaji mobilitas yang ada dan observasi terhadap peningkatan
kerusakan
Respon: klien mampu miring kanan kiri secara mandiri dan sudah bisa
duduk
48

2) Mengintruksikan klien untuk melakukan tenik ROM excercise


Respon: klien lupa cara melakukan ROM exercise dan meminta perawat
untuk mengajarinya lagi
3) Monitor dan evaluasi TTV dan reaksi non verbal.
Respon: TD 120/80mmHg, Nadi 82x/menit, RR 20x/menit, wajah
meringis (+), skala nyeri 4.
4) Melakukan kolaborasi pemberian terapi infuse cairan RL 20tpm, injeksi
ceftizozim 500mg, injeksi dexketoprofen 12,5mg, Respon: Nyeri
sedikit berkurang

F. Evaluasi
1. Kasus I (MRS 28 November 2017)
a. Hari I (tanggal 29 November 2017)
S : klien mengatakan masih belum bisa miring kanan dan kiri
O : TD 110/80 mmHg, N 82 x/mnt, RR 20 x/mnt, wajah meringis (+),
terpasang drine di luka post op.
A : Masalah hambatan mobilitas fisik belum teratasi ditandai dengan:
a. Mobilisasi di bantu keluarga
b. Belum bisa mobilisasi secara mandiri
P : Lanjutkan intervensi
1) Observasi tanda tanda vital dan rentang gerak klien
2) Kaji mobilitas yang dapat dilakukan klien
3) Intruksika pada kien untuk berlatih ROM exercise
4) Kolaborasi pemberian terapi
b. Hari II (tanggal 30 November 2017)
S : klien mengatakan masih sudah bisa miring kanan dan kiri
O : TD 110/80 mmHg, N 82 x/mnt, RR 20 x/mnt, wajah meringis (+),
terpasang drine di luka post op.
A : Masalah hambatan mobilitas fisik teratasi sebagian ditandai dengan:
a. Mobilisasi di bantu sebagian oleh keluarga
b. Klien sudah bisa miring kanan dan kiri
c. Klien sudah bisa melakukan ROM exercise secara mandiri
P : Lanjutkan intervensi
49

1) Observasi tanda tanda vital dan rentang gerak klien


2) Kaji mobiitas yang dapat dilakukan klien
3) Intruksika pada kien untuk berlatih ROM exercise
4) Kolaborasi pemberian terapi
c. Hari III (tanggal 31 November 2017)
S : klien mengatakan masih sudah bisa miring kanan dan kiri dan bisa
duduk
O : TD 110/80 mmHg, N 82 x/mnt, RR 20 x/mnt, wajah meringis (-),
terpasang drine di luka post op.
A : Masalah hambatan mobilitas fisik teratasi sebagian ditandai dengan:
a. Mobilisasi di bantu sebagian oleh keluarga
b. Klien sudah bisa miring kanan, kiri dan duduk
c. Klien sudah bisa melakukan ROM exercise secara mandiri
P : Lanjutkan intervensi
1) Observasi tanda tanda vital dan rentang gerak klien
2) Kaji mobiitas yang dapat dilakukan klien
3) Intruksika pada kien untuk berlatih ROM exercise
4) Kolaborasi pemberian terapi

2. Kasus 2 (MRS tanggal 27 November 2017)


a. Hari I (tanggal 28 November 2017)
S : klien mengatakan kakinya tidak bisa digerakan karena nyeri
O : TD 110/80 mmHg, N 82 x/mnt, RR 20 x/mnt, wajah meringis (+),
terpasang drine di luka post op.
A : Masalah hambatan mobilitas fisik belum teratasi ditandai dengan:
a. Mobilisasi di bantu oleh keluarga
b. Klien tidak mau mengerakan kakinya
c. Klien tidak mau melakukan ROM exercise secara mandiri
P : Lanjutkan intervensi
1) Observasi tanda tanda vital dan rentang gerak klien
2) Kaji mobiitas yang dapat dilakukan klien
3) Intruksika pada kien untuk berlatih ROM exercise
4) Observasi tanda tanda vital
50

5) Kolaborasi pemberian terapi


b. Hari II (tanggal 29 Agustus 2017)
S : klien mengatakan kakinya tidak bisa digerakan karena nyeri
O : TD 110/80 mmHg, N 82 x/mnt, RR 20 x/mnt, wajah meringis (+),
terpasang drine di luka post op.
A : Masalah hambatan mobilitas fisik belum teratasi ditandai dengan:
a. Mobilisasi di bantu oleh keluarga
b. Klien tidak mau mengerakan kakinya
c. Klien tidak mau melakukan ROM exercise secara mandiri
P : Lanjutkan intervensi
1) Observasi tanda tanda vital dan rentang gerak klien
2) Kaji mobilitas yang dapat dilakukan klien
3) Intruksika pada kien untuk berlatih ROM exercise
4) Observasi tanda tanda vital
5) Kolaborasi pemberian terapi
c. Hari III (tanggal 29 Agustus 2017)
S : klien mengatakan kakinya bisa digerakan tetapi harus dibantu
O : TD 110/80 mmHg, N 82 x/mnt, RR 20 x/mnt, wajah meringis (+),
terpasang drine di luka post op.
A : Masalah hambatan mobilitas fisik teratasi sebagian ditandai dengan:
a. Mobilisasi di bantu oleh keluarga
b. Klien tidak mau mengerakan kakinya
c. Klien tidak mau melakukan ROM exercise secara mandiri
P : Lanjutkan intervensi
1) Observasi tanda tanda vital dan rentang gerak klien
2) Kaji mobiitas yang dapat dilakukan klien
3) Intruksika pada kien untuk berlatih ROM exercise
4) Observasi tanda tanda vital
5) Kolaborasi pemberian terapi
3. Kasus 3 (MRS tanggal 5 desember 2017)
a. Hari I (tanggal 6 desember 2017)
S : klien mengatakan kakinya bisa digerakan tetapi harus dibantu
51

O : TD 110/80 mmHg, N 82 x/mnt, RR 20 x/mnt, wajah meringis (+),


terpasang drine di luka post op.
A : Masalah hambatan mobilitas fisik teratasi sebagian ditandai dengan:
a. Mobilisasi di bantu oleh keluarga
b. Klien tidak mau mengerakan kakinya
c. Klien tidak mau melakukan ROM exercise secara mandiri
P : Lanjutkan intervensi
1) Observasi tanda tanda vital dan rentang gerak klien
2) Kaji mobilitas yang dapat dilakukan klien
3) Intruksika pada kien untuk berlatih ROM exercise
4) Observasi tanda tanda vital
5) Kolaborasi pemberian terapi
b. Hari II (tanggal 7 desember 2017)
S : klien mengatakan kakinya bisa digerakan tetapi harus dibantu
O : TD 110/80 mmHg, N 82 x/mnt, RR 20 x/mnt, wajah meringis (+),
terpasang drine di luka post op.
A : Masalah hambatan mobilitas fisik teratasi sebagian ditandai dengan:
a. Mobilisasi di bantu oleh keluarga
b. Klien tidak mau mengerakan kakinya
c. Klien tidak mau melakukan ROM exercise secara mandiri
P : Lanjutkan intervensi
1) Observasi tanda tanda vital dan rentang gerak klien
2) Kaji mobiitas yang dapat dilakukan klien
3) Intruksika pada kien untuk berlatih ROM exercise
4) Observasi tanda tanda vital
5) Kolaborasi pemberian terapi