Anda di halaman 1dari 62

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Dewasa ini pembangunan kesehatan telah mengalami perkembangan yang

begitu pesat serta kesehatan sudah menjadi sebuah hal yang harus diutamakan

dibandingkan dengan kebutuhan lainnya. Melihat kondisi yang demikian sudah

seharusnya bukan hanya tenaga kesehatan saja yang menjadi penanggung

jawab kesehatan, tetapi kesehatan merupakan tanggung jawab semua

masyarakat siapapun masyarakat tersebut secara individu atau berkelompok

mempunyai tanggung jawab yang sama besarnya dengan tenaga kesehatan

terhadap upaya menciptakan terwujudnya kesehatan masyarakat itu sendiri.

(Kholid,2010)

Gambaran perkembangan derajat kesehatan masyarakat dapat dilihat dari

kejadian kematian dalam masyarakat dari waktu ke waktu. Disamping itu

kejadian kematian juga dapat digunakan sebagai indikator dalam penilaian

keberhasilan pelayanan kesehatan dan program pembangunan kesehatan

lainnya. Angka kematian pada umumnya dapat dihitung dengan melakukan

berbagai survei dan penelitian.(Dinkes Prop.SUL-SEL, 2009)

Indikator derajat kesehatan dan kesejahteraan masyarakat ditandai dengan

jumlah kematian ibu, dan usia harapan hidup. Sampai saat ini, kematian ibu

masih merupakan salah satu masalah prioritas bidang kesehatan ibu dan anak

1
2

di Indonesia. Berbagai program telah dilaksanakan di Indonesia salah satunya

adalah safe motherhood dengan keterlibatan aktif dari berbagai sektor

pemerintah, organisasi non pemerintahan dan masyarakat serta dukungan dari

berbagai badan internasional. (Widaningrum dkk, 2009)

Angka Kematian Ibu adalah banyaknya wanita yang meninggal dari suatu

penyebab kematian terkait dengan gangguan kehamilan atau penanganannya

selama kehamilan, melahirkan selama masa nifas (42 hari selama melahirkan).

Angka kematian ibu (AKI) berguna untuk menggambarkan tingkat kesadaran

perilaku hidup sehat, status gizi, kesehatan ibu, kondisi kesehatan lingkungan,

tingkat pelayanan kesehatan terutama untuk ibu hamil, pelayanan kesehatan

waktu ibu melahirkan dan masa nifas. (Dinkes Prop.SUL-SEL, 2009)

Menurut WHO jumlah kematian ibu sekitar 500.000 persalinan hidup,

sedangkan jumlah kematian perinatal sekitar 10.000.000 orang. Seandainya

seorang ibu hanya mempunyai tiga orang anak maka angka kematian ibu

(AKI) dapat diturunkan menjadi 300.000 orang, sedangkan angka kematian

perinatal (AKP) menjadi 5.600.000 orang dalam persalinan hidup. Dari jumlah

kematian ibu dan perinatal tersebut, sebagian besar terjadi di Negara

berkembang karena kekurangan fasilitas, terlambatnya pertolongan, persalinan

dukun disertai keadaan sosial ekonomi dan pendidikan masyarakat yang masih

tergolong rendah.(Manuaba, 2008:28)

Kesakitan dan kematian pada wanita hamil dan bersalin merupakan

masalah yang besar di Negara miskin dan berkembang, seperti Indonesia.

Departemen kesehatan menargetkan pengurangan angka kematian ibu angka


3

kematian bayi berkurang dari kelahiran yang dicapai pada tahun 2009,

sementara angka harapan hidup berkisar rata-rata 70,6/tahun.(Dinkes, 2009)

Untuk melihat keadaan AKI di Indonesia, digunakan data hasil survey

kesehatan rumah tangga(SKRT). Menurut SKRT, pada tahun 2002-2003 AKI

sebesar 307/100.000 kelahiran hidup diperoleh dari hasil survey demografi

kesehatan Indonesia(SDKI), kemudian menjadi 248/100.000 kelahiran hidup

pada tahun 2007. Hal ini menunjukkan AKI terus menurun, tetapi bila

dibandingkan dengan target yang ingin dicapai secara nasional pada tahun

2010, yaitu sebesar 125/100.000 kelahiran hidup, maka apabila penurunannya

masih seperti tahun sebelummya, diperkirakan target tersebut dimasa

mendatang sulit tercapai.(Dinkes Prop.SUL-SEL, 2009)

Safe motherhood merupakan upaya untuk menyelamatkan wanita agar

kehamilan dan persalinannya sehat dan aman, serta melahirkan bayi yang

sehat. Tujuan upaya safe motherhood adalah menurunkan angka kesakitan dan

kematian ibu hamil, bersalin, nifas, dan menurunkan angka kesakitan dan

angka kematian bayi baru lahir. Upaya ini ditunjukan pada Negara yang sedang

berkembang karena 99% kematian ibu di dunia terjadi di Negara-negara

tersebut. WHO mengembangkan konsep four pillars of safe motherhood untuk

menggambarkan ruang lingkup upaya penyelamatan ibu dan bayi. Empat pilar

tersebut adalah: keluarga berencana, asuhan antenatal, persalinan bersih dan

aman, pelayanan obstetri esensial.(Syafruddin, 2009)

Pelayanan program perencanaan persalinan dan persiapan komplikasi

(P4K), program tersebut adalah kegiatan yang membangun potensi suami,


4

keluarga, dan masyarakat khususnya untuk persiapan dan tindakan yang dapat

menyelamatkan ibu dan bayi lahir dengan mengurangi penyebab kematian

utama. (Ferry, 2009)

Pendekatan kini mengenalkan pendekatan terbaru, yaitu: Antenatal

terfokus (Focused ANC), yang mengutamakan kualitas kunjungan daripada

kuantitasnya. Pendekatan ini mengenal 2 kunci kualitas, yaitu: pertama,

kunjungan berkala kehamilan dan di Negara berkembang secara logistik dan

finansial adalah bagi fasilitas kesehatan dan komunitas yang mereka layani.

Kedua, banyaknya wanita yang didentifikasi beresiko tinggi. Strategi kunci

Antenatal terfokus (Focused Antenatal) lainnya adalah setiap kunjungan yang

ahli, yaitu: bidan, dokter, perawat atau tenaga kesehatan yang mempunyai

pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang dibutuhkan untuk bekerja secara

efektif untuk mencapai tujuan.(Syafruddin dkk, 2009)

Jumlah angka kematian bayi(AKB) di Kab.Maros pada tahun 2004

sebanyak 36 kasus, tahun 2005 sebanyak 30 kasus, tahun 2006 sebanyak 24

kasus, tahun 2007 sebanyak 36, dan tahun 2008 21 kasus atau 3,9/1000 angka

kematian bayi. Jumlah angka kematian ibu(AKI) pada tahun 2004 sebanyak 7

kasus, pada tahun 2005 sebanyak 10 kasus, pada tahun 2006 sebanyak 3 kasus,

padaa tahun 2007 sebanyak 9 kasus, pada tahun 2008 sebanyak 4 kasus. Dari

data ini menunjukan bahwa tiap tahun terjadi fluktasi jumlah kematian ibu

maternal.(Dinkes Kab.Maros 2008)

Data pada Puskesmas Barandasi pada tahun 2008 jumlah ibu hamil 495,

yang datang berkunjung untuk melakukan kunjungan keempat sebanyak 467,


5

ibu hamil yang melahirkan dengan bantuan oleh tenaga kesehatan sebanyak

350, sedangkan yang ditolong bukan dari tenaga kesehatan sebanyak 145.(Data

PKM Barandasi, 2008)

Pada tahun 2009 di Puskesmas Barandasi jumlah ibu hamil 606, yang

datang berkunjung untuk melakukan kunjungan keempat sebanyak 527, ibu

hamil yang melakukan persalinan dengan tenaga kesehatan sebanyak 538.

Berdasarkan data yang telah diuraikan di atas, tentang tinnginya angka

kematian ibu hamil, maka peneliti tertarik melakukan penelitian tentang

FAKTORFAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PERILAKU

IBU HAMIL MELAKUKAN ANTENATAL CARE DI PUSKESMAS

BARANDASI KABUPATEN MAROS.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah tersebut di atas maka dapat di

rumuskan masalah sebagai berikut :

Faktor-faktor apa saja yang berhubungan dengan perilaku ibu hamil

melakukan antenatal care di Puskesmas Barandasi Kabupaten Maros?

C.Tujuan Penelitian

a. Tujuan umum

Diketahui faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku ibu

hamil melakukan antenatal care di Puskesmas Barandasi Kabupaten

Maros.
6

b. Tujuan khusus

1. Diketahuinya hubungan antara pengetahuan dengan perilaku ibu hamil

melakukan antenatal care

2. Diketahuinya hubungan antara motivasi dengan perilaku ibu hamil

melakukan antenatal care

3. Diketahuinya hubungan antara dukungan keluarga dengan perilaku ibu

hamil melakukan antenatal care

4. Diketahuinya hubungan antara respon pelayanan antenatal care

keluarga dengan perilaku ibu hamil melakukan antenatal care

5. Diketahuinya hubungan antara jarak rumah dengan perilaku ibu hamil

melakukan antenatal care

D. Manfaat Penelitian

1. Bagi Tempat Penelitian

Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai masukan bagi institusi

terkait dalam penentuan arah kebijakan dalam menentukan prioritas

perencanaan program pendidikan kesehatan pada remaja.

2. Bagi Penelitian

a. Hasil penelitian ini diharapkan dapat mengembangkan ilmu

pengetahuan khususnya di bidang keperawatan.


7

b. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi dan bahan

acuan bagi peneliti lain selanjutnya.

3. Bagi peneliti

Sebagai tambahan ilmu dan pengetahuan serta pengalaman bagi

peneliti tentang Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Perilaku Ibu

Hamil Melakukan Antenatal Care Di Puskesmas Barandasi Kabupaten

Maros

E. Penelitian Relevan

Sepengetahuan penulis sudah cukup banyak penelitian tentang

kunjungan antenatal care, namun ada beberapa penelitian yang serupa yakni

penelitian tentang Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Frekuensi

Antenatal Care Ibu Hamil Di Puskesmas Jumpandang Baru.Rostia A, Rahmat

N. 2008. Bagian Ilmu Kesehatan Makassar dan Ilmu Kedokteran Komunitas

Makassar.Universitas Hasanuddin Makassar.

Penelitian tersebut menggunakan metode survey analitik dengan

pendekatan cross sectional diperoleh dari instansi puskesmas dari kartu control

yang memeriksakan kehamilan. Penelitian tersebut dengan variabel dependen

yaitu: umur ibu, paritas, jarak kelahiran terakhir, status pekerjaan ibu, dan jenis

pekerjaan suami.
8

Perbedaan dengan penelitian ini, pada Faktor-Faktor Yang

Mempengaruhi Ibu Hamil Melakukan Antenatal Care Di Puskesmas Barandasi

Kabupaten Maros, tempat penelitian yang berbeda dengan menggunakan

metode assosiatif hubungan kausal dengan pendekatan cross sectional.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Teori

1. Tinjauan Umum Tentang Perilaku

Perilaku adalah aktivitas yang timbul dan respon saat dapat diamati

secara langsung maupun tidak langsung. Perilaku individu tidak akan timbul

dengan sendirinya, tetapi akibat adanya ransangan (stimulus) baik dari

dalam dirinya sendiri (internal) maupun dari luar individu (eksternal). Pada

hakekatnya perilaku individu mancakup perilaku yang tampak (overt

behavior) dan atau perilaku yang tidak tampak (inert behavior atau covert

behavior).(Notoatmojo, 2007)

Dilihat dari bentuk respon terhadap stimulus ini, maka prilaku dapat

dibedakan menjadi dua yaitu:

a. Perilaku Tertutup (Covert behavior)

Respon seorang terhadap stimulus dalam bentuk terselubung atau

tertutup (Covert Behavior). Respon atau reaksi terhadap stimulus ini masih
9

terbatas pada perhatian, persepsi, pengetahuan/kesadaran, sikap yang

terjadi pada orang yang menerima stimulus tersebut, dan belum dapat

diamati secara jelas oleh orang lain. Oleh sebab itu, disebut Covert

Behavior atau Unobservable Behavior.

b. Perilaku Terbuka (Overt Behavior)

Respon seorang terhadap stimulus dalam bentuk tindakan nyata

atau terbuka. Respon terhadap stimulus tersebut sudah jelas dalam bentuk

tindakan atau praktik (practice), yang dengan mudah dapat diamati atau

dilihat oleh orang lain. Oleh karena itu disebut overt behavior, tindakan

nyata atau praktik. Perilaku kesehatan adalah suatu respon seseorang

(organism) terhadap stimulus atau objek yang berkaitan dengan sakit dan

penyakit, system pelayanan kesehatan, makanan dan minuman serta

lingkungan. Dari batasan ini, perilaku kesehatan dapat diklasifikasikan

menjadi tiga kelompok yaitu:

b.1. Perilaku pemeliharaan kesehatan (health mantannance)

Perilaku ini adalah atau usaha seseorang untuk memelihara

atau menjaga kesehatan agar tidak sakit atau usaha untuk

penyembuhan bilamana sakit. Oleh sebab itu perilaku pemeliharaan

kesehatan ini terjadi dari tiga aspek yaitu:

b.1.1 Perilaku pencegahan penyakit dan penyembuhan penyakit bila

sakit serta pemulihan kesehatan bilamana telah sembuh dari

penyakit.
10

b.1.2 Perilaku peningkatan kesehatan apabila seseorang dalam keadaan

sehat. Perlu dijelaskan disini bahwa kesehatan ibu sangat

dinamis maka dari itu orang yang sehat pun perlu diupayakan

supaya mencapai tingkat kesehatan yang seoptimal mungkin.

b.1.3 Perilaku konsumsi makanan dan minuman. Makanan dan

minuman dapat memelihara serta meningkatkan kesehatan

seseorang tetapi sebaiknya makanan dan minuman dapat

menjadi penyebab menurunya kesehatan seseorang bahkan

dapat mendatangkan penyakit. Hal ini sangat tergantung pada

perilaku orang terhadap makanan dan minuman tersebut.

2. Perilaku pencarian dan penggunaan system atau fasilitas pelayanan

kesehatan, atau sering disebut perilaku pencarian pengobatan (healt

seeking behavior).

Perilaku ini adalah menyangkut upaya atau tindakan seseorang

pada saat menderita penyakit dan atau kecelakaan. Tindakan atau

perilaku ini mulai dari mengobati sendiri (self treatment) sampai

mancari pengobatan ke luar negeri.

3. Perilaku Kesehatan Lingkungan

Bagaimana seseorang merespon lingkungan baik lingkungan

fisik maupun sosial budaya dan sebagainya, sehingga lingkungan

tersebut tidak mempengaruhi kesehatannya sendiri keluarga atau

masyarakat.(Notoadmojo, 2005)

2. Tinjauan Umum Tentang Antenatal Care


11

Proses kehamilan merupakan mata rantai yang berkesinambungan, terdiri

atas: ovulasi, migrasi spermatozoa dan ovum, nidrasi(implantasi pada uterus),

pembentukan plasenta, serta pertumbuhan dan perkembangan hasil konsepsi sampai

aterm.(Hidayati R, 2009)

Kehamilan adalah kondisi dimana seorang wanita memiliki janin

yang sedang tumbuh di dalam tubuhnya (yang pada umumnya di dalam

rahim). Kehamilan pada manusia berkisar 40 minggu atau 9 bulan, dihitung

dari awal periode menstruasi terakhir sampai melahirkan. Kehamilan terjadi

karena ada pertemuan sperma dan sel telur di dalam tuba fallopi yang

kemudian tertanam di dalam uterus (Wibisono H, 2008).

Kehamilan matur (Cukup Bulan) berlangsung kira-kira 40 minggu

(280 hari) dan tidak lebih dari 43 minggu (30 hari). Kehamilan yang

berlansung antara 28 dan 38 minggu disebut kehamilan postmatur menurut

usia kehamilan, kehamilan dibagi menjadi 3 yaitu :

a. Kehamilan trismester pertama (0-12 minggu)

b. Kehamilan trismester kedua (13-28 minggu)

c. Kehamilan trismester ketiga (29-42 minggu)

(Hidayati R,2009)

Antenatal adalah suatu program yang terencana berupa observasi

edukasi dan penanganan medik pada ibu hamil, untuk memperoleh suatu

proses kehamilan dan persalinan yang aman dan memuaskan yang disebut

pelayanan prenatal care. Pelayanan antenatal adalah pelayanan kesehatan


12

oleh tenaga professional untuk itu selama masa kehamilannya sesuai dengan

standar minimal pelayanan antenatal yang meliputi 7 yaitu :

a. Menimbang berat badan (timbang)

b. Pengukuran tekan darah (tekanan darah)

c. Pengukuran tinggi puncak rahim (tinggi fundus uteri)

d. Pemberian tablet Fe dan kapsul yodium (Tablet Fe)

e. Pemberian imunisasi TT (Tetanus Toxoid)

f. Test terhadap penyakit menular seksual (PMS)

g. Temu bicara dalam rangka persiapan rujukan

Tujuan dari antenatal care adalah mempersiapkan peran ibu dan

keluarga dalam menerima kelahiran bayi agar dalam menerima kelahiran

bayi agar dapat tumbuh dengan normal, meningkatkan dan mempertahankan

kesehatan fisik, mental, sosial ibu dan bayi, memantau kemajuan kehamilan

untuk memastikan kesehatan ibu dan tumbuh kembang bayi, menganalisis

secara dini adanya ketidaknormalan dan komplikasi yang mungkin terjadi

selama hamil, mempersiapkan ibu dalam masa nifas secara normal dan

pemberian asi eksklusif.(Kontcoro T, 2005)

Setiap ibu hamil menjalani resiko yang mengancam jiwanya, oleh

karena itu setiap wanita hamil memerlukan sedikitnya empat kali kunjungan

antenatal. Pelayanan antenatal merupakan unsur penting dalam

meningkatkan derajat kesehatan serta menurunkan angka kematian ibu dan

angka kematian bayi. Ibu hamil yang memeriksakan kehamilannya secara


13

dini dan teratur selama kehamilan akan berpengaruh besar kepada ibu dan

calon bayi yang akan dilahirkan. Kunjungan selama periode antenatal :

a. Satu kali kunjungan selama trimester pertama (sebelum 14

minggu)

b. Satu kali kunjungan selama trimester kedua (antara minggu 14-28)

c. Dua kali kunjungan selama trimester ketiga (antara minggu 28-36

dan sesudah minggu ke 36) (Saifuddin AB, 2006)

Pemanfaatan pelayanan antenatal care adalah dimanfaatkannya

pelayanan antenatal care oleh ibu hamil selama masa kehamilannya (K1-

K4) secara sistimatik dan teratur.

a. K1 (kunjungan pertama) adalah kunjungan/kontak pertama dengan

petugas kesehatan pada trimester pertama pada masa kehamilan yang

dimaksudkan untuk mendiagnosa kehamilan.

Dalam K1 dilakukan :

a.1. Anamnesis lengkap termasuk mengenai riwayat obstetrics dan

ginekologi dahulu

a.2. Pemeriksaan fisik: tekanan darah, nadi, pernapasan, suhu, bunyi

jantung, edema dan lain-lain.

a.3. Pemeriksaan obstetrics: usia kehamilan, besar, uterus, bunyi

jantung janin dan pengukuran panggul luar.

a.4. Pemeriksaan laboratorium: urine lengkap dan darah (hb, leukosit

dan gula darah).


14

a.5. Penilaian status gizi: dilihat dari keseimbangan antara berat badan

dan tinggi badan serta LILA.

b. K2 (kunjungan kedua) adalah kunjungan /kontak kedua ibu hamil

dengan petugas kesehatan pada trimester kedua selama kehamilan

pemeriksaan terutama menilai resiko kehamilan dan kelainan/cacat

bawaan.

Dalam K2 dilakukan:

b.1. Anamnesis: keluhan dan perkembangan yang dirasa oleh ibu.

b.2. Pemeriksaan fisis dan obstetrics.

b.3. Pemeriksaan dengan utrasonografi: besar dan usia kehamilan,

aktivitas janin, kelainan atau cacat bawaan, cairan ketuban dan

letak plasenta.

b.4. Penilaian resiko kehamilan.

b.5. Pemeberian imunisasi TT-1 dan pemberian tablet tambahan darah

(Fe).

c. K3 (kunjungan ketiga) adalah kunjungan/kontak ketiga ibu hamil

selama dengan petugas kesehatan trimester ketiga selama masa

kehamilan. Pemeriksaan terutama menilai resiko kehamilan, juga

melihat aktivitas janin dan pertumbuhan janin secara klinik.

Dalam K3 dilakukan:

c.1. Anamnesis: Keluhan, gerakan janin.

c.2. Pemeriksaan fisis dan obstetrics (pemeriksaan panggul dalam

khusus pada kehamilan pertama).


15

c.3. Penilaian resiko kehamilan.

c.4. Pemberian TT-2 dan pemberian tablet tambahan darah (Fe).

d. K4 (kunjungan keempat) adalah kunjungan/kontak keempat ibu

hamil dengan petugas kesehatan selama trimester keempat selama

masa kehamilan. Pemeriksaan terutama ditujukan kepada penilaian

kesejahteraan janin dan fungsi plasenta, persiapan persalinan.

Dalam K4 dilakukan:

d.1. Anamnesis: keluhan, gerakan janin.

d.2. Pengamatan gerakan janin.

d.3. Pemeriksaan fisis dan obstetrics.

d.4. Ultrasonografi yang dilakukan kembali. (Saifuddin AB, 2006)

Kualitas pelayanan antenatal diberikan selama masa hamil secara

berkala sesuai pedoman pelayanan antenatal yang telah ditentukan untuk

memelihara serta meningkatkan kesehatan ibu selama hamil sesuai dengan

kebutuhan sehingga dapat menyelesaikan kehamilan dengan baik dan

melahirkan bayi sehat. Pelayanan tersebut dipengaruhi tenaga professional,

dana, sarana dan prosedur kerja yang tersedia agar mandapat kualitas yang

baik.(Mufdillah, 2009)

3. Tinjauan umum tentang faktor-faktor yang mempengaruhi

perilaku ibu hamil melakukan antenatal care.

a. Tingkat pengetahuan

Pengetahuan adalah hasil tahu dan ini terjadi setelah orang

melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan


16

terjadi melalui panca indera manusia, yakni indera penglihatan,

pendengaran, penciuman dan raba. Sebagian besar pengetahuan

manusia diperoleh melalui mata dan telinga. Pengetahuan atau kognitif

merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan

seseorang (Overt behaviour) (Notoatmojo, 2007).

Pengetahuan adalah hasil penginderaan manusia atau hasil

tahu seseorang terhadap objek melalui indera yang dimilikinya

(mata, hidung, telinga dan sebagainya). Dengan sendirinya pada

waktu penginderaan dan persepsi terhadap objek. Sebagian besar

pengetahuan seseorang diperoleh melalui indera pendengaran

(telinga) dan indera penglihatan (mata). Pengetahuan seseorang

terhadap objek mempunyai intensitas atau tingkat yang berbeda-

beda secara garis besarnya dibagi dalam tingkatan pengetahuan,

yaitu:

a.1. Tahu (Know)

Diartikan sebagai recall (memanggil) memori yang telah

ada sebelumnya setelah mengamati sesuatu.

a.2. Memahami (comprehension)

Memahami suatu objek bukan sekedar tahu terhadap objek

tersebut. Tidak sekedar dapat menyebutkan tetapi orang tersebut


17

harus dapat menginterpretasikan secara benar tentang objek yang

diketahui tersebut.

a.3. Aplikasi (Application)

Aplikasi diartikan apabila orang yang telah memahami

objek yang dimaksud dapat menggunakan atau mengaplikasikan

prinsip yang diketahui yang diketahui tersebut pada situasi yang

lain.

a.4. Sintesis (Syntetis)

Sintetis menunjukkan suatu kemampuan seseorang untuk

merangkum atau meletakkan dalam satu hubungan yang logis

dari komponen-komponen pengetahuan yang dimiliki.

a.5. Analisis (Analysis)

Analisis adalah kemampuan seseorang untuk

menjabarkan dan atau memisahkan, kemudian mencari

hubungan antara komponen-komponen yang terdapat dalam

suatu masalah atau objek yang diketahui.

a.6. Evaluasi (Evaluation)


18

Evaluasi berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk

melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu objek

tertentu (Notoatmodjo, 2005).

Pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket yang

menanyakan tentang isi materi yang ingin diukur dari subjek penelitian

atau responden. Kedalaman pengetahuan yang ingin kita ketahui atau kita

ukur dapat kita sesuaikan dengan tingkatan pengetahuan (Notoatmojo,

2007).

b. Motivasi

Motivasi adalah dorongan penggerak untuk mencapai tujuan

tertentu, baik disadari ataupun tidak disadari. Motivasi dapat timbul

dari dalam diri individu atau datang dari lingkungan. Motivasi yang

terbaik adalah motivasi yang datang dari dalam diri sendiri (motivasi

intrinsik), bukan pengaruh lingkungan (motivasi ekstristik).(Sunaryo,

2004)

Motivasi adalah sebuah alasan atau dorongan seseorang untuk

bertindak. Orang yang tidak mau bertindak sering kali disebut tidak

memiliki motivasi. Alasan atau dorongan itu bisa datang dari luar

maupun dari dalam diri. Sebenarnya pada dasarnya semua motivasi itu

datang dari dalam diri, faktor luar hanyalah pemicu munculnya

motivasi tersebut. Motivasi dari luar adalah motivasi yang pemicunya

datang dari luar diri kita. Sementara motivasi dari dalam ialah

motivasinya muncul dari inisiatif diri kita. (Abi, 2010)


19

Motivasi merupakan adanya keinginan dan kebutuhan pada diri

individu, memotivasi individu tersebut untuk memenuhinya. Individu

yang merasa haus mengarahkan perilakunya minum, demikian pula

yang merasa lapar menjalankan perilakunya untuk makan.(Sunaryo,

2006)

Motivasi bermaksud sebab, tujuan atau pendorong, maka tujuan

seseorang itulah sebenarnya yang menjadi penggerak utama baginya

berusaha keras mencapai atau mendapat apa juga yang diinginkannya

sama ada secara negatif atau positif. (Taidin Suhaimin,2009)

c. Dukungan keluarga

Dukungan keluarga salah satu faktor yang sangat berpengaruh

terhadap perilaku positif. Faktor-faktor utama yang mempengaruhi

dukungan keluarga meliputi : kelas sosial, bentuk-bentuk keluarga,

latar belakang keluarga, tahap siklus kehidupan keluarga, model-model

peran peristiwa situasional khususnya masalah-masalah kesehatan

atau sakit.

Keluarga merupakan unit terkecil yang ada dimasyarakat ini

berarti keluarga merupakan kelompok yang secara langsung

berhadapan dengan anggota keluarga selama 24 jam penuh. Peran

keluarga adalah mampu membuat keputusan tindakan, mampu

melakukan perawatan pada anggota keluarga yang sakit, mampu

memodifikasi lingkungan rumah, dan mampu memanfaatkan


20

pelayanan kesehatan yang ada keluarga yang memiliki fungsi

dukungan yaitu:

c.1. Dukungan informasional

Keluarga berfungsi sebagai sebuah kolektor dan

diseminator (penyebar) informasi tentang dunia. Menjelaskan

tentang pemberian saran, seperti, informasi yang dapat digunakan

mengungkapkan sesuatu masalah. Manfaat dari lingkungan ini

adalah dapat menekan munculnya suatu stressor karena informasi

yang diberikan dapat mengembangkan aksi seperti yang khusus

seperti pada individu, usulan, saran, petunjuk dan pemberian

informasi.

c.2. Dukungan penilaian

Keluarga yang bertindak sebagai sebuah bimbingan umpan

balik, membimbing dan menengahi pemecahan masalah, sebagai

sumber dan validator identitas anggota keluarga diantaranya

memberikan support, penghargaan dan perhatian.

c.3. Dukungan instrumental

Keluarga merupakan sebuah sumber pertolongan praktis

dan kongkrit, diantaranya: kesehatan penderita dalam hal

kebutuhan makan dan minum, istirahat, terhindarnya penderita dari

kelelahan.

c.4. Dukungan emosional


21

Keluarga sebagai tempat yang aman dan damai untuk

istirahat dan pemulihan serta membantu penguasaan terhadap

emosi. Aspek-aspek dari dukungan emosional meliputi dukungan

yang diwujudkan dalam bentuk afeksa, adanya kepercayaan,

perhatian, mendengarkan dan didengarkan. (Akhmadi, 2009)

d. Respon ibu hamil terhadap pelayanan kesehatan

Respon adalah proses terhadap rangsangan yang diterima oleh

organisme atau individu sehingga merupakan suatu yang berarti dan

merupakan aktifitas.

Pelayanan tenaga kesehatan dalam merawat pasien agar dapat

memberikan pelayanan kesehatan yang sesuai dengan harapan pasien,

antara lain: Harus memiliki sikap yang ramah terhadap pasien,

memiliki rasa kasih sayang terlebih bagi yang membutuhkan, memberi

rasa aman terhadap pasien, menaruh perhatian terhadap kebutuhan

yang diperlukan pasien, murah senyum dan suara lembut, memiliki

sikap yang dapat dipercaya, percaya diri, tidak mempermalukan pasien

maupun keluarganya, tidak menyinggung, penuh pengertian, mudah

diajak kerja sama oleh tim kesehatan lainnya dan memiliki sikap

humoris untuk menghibur pasien. (Sunaryo, 2006)

Pada masa kehidupan orang dewasa membentuk sikap baru

terhadap dirinya, kesehatan, penyakit, hubungan keluarga, kegiatan

pekerjaan, agama, nilai-nilai spiritual dan interaksi sosial. Dalam


22

merawat pasien, akan terlihat bahwa ada pasien yang bersedia

mengikuti, menerima, cara pengobatan yang baru. (Singgih D, 2008)

e. Jarak

Jarak adalah perjalanan yang dapat di tempuh oleh masyarakat

untuk memanfaatkan pelayanan kesehatan baik dengan jalan kaki

maupun dengan menggunakan transportasi lain yang ada.

Jarak fisik puskesmas dengan tempat tinggal dapat diukur

dengan radius kilometer, tempat beradanya puskesmas, apakah itu

dipinggir jalan raya yang ramai transpotasinya atau di tempat yang

tidak dilalui oleh kendaraan umum akan mempengaruhi

dimanfaatkannya atau tidak suatu tempat pelayanan kesehatan. Syarat

pokok pelayanan yang baik adalah yang mudah dicapai oleh

masyarakat. (Setiawan, 2008)

f. Pekerjaan

Menurut kamus besar bahasa indonesia yang dimaksud dengan

pekerjaan adalah sesuatu yang dilakukan untuk mencari nafkah. Wanita

di perkotaan dan pedesaan, selain bekerja untuk keluarga mereka juga

berperan mencari nafkah, misalnya sebagai buruh untuk

mempertahankan kelangsungan hidup, yang kadang kepentingan untuk

masalah lain yang dianggap tidak mendesak menjadi terabaikan akrena

keterbatasan waktu. Hal ini berkaitan dengan ibu yang menghabiskan

waktunya untuk membantu perekonomian keluarga sehingga hampir


23

tidak ada waktu untuk memperhatikan kesehatan diri dan

kehamilannya.

Meningkatnya kesempatan belajar bagi kaum wanita membuka

peluang kepada mereka untuk berkiprah di luar rumah. Sebagian

wanita bekerja di luar rumah dengan niat murni, yaitu membantu

suami memenuhi kebutuhan rumah tangganya. Sebagian lagi karena

tuntunan sosial, ingin mengapdikan diri pada orang lain, bukan untuk

mencari penghasilan.

g. Paritas

Paritas menandakan banyaknya kelahiran hidup yang dipunyai

oleh seorang wanita atau pengeluaran hasil konsepsi yang telah cukup

bulan atau dapat hidup di luar kandungan melalui jalan lahir atau

melalaui jalan lain. Makin sering seorang ibu melahirkan atau

multipara merupakan salah satu faktor resiko tinggi ibu hamil. Oleh

karena itu, ibu hamil sebaiknya rajin memeriksakan kehamilannya.

Paritas 2-3 merupakan paritas paling aman ditinjau dari sudut kematian

maternal. Lebih tinggi paritas, lebih tinggi angka kematian.

h. Umur

Seorang ibu secara biologis sudah memasuki usia

reproduksinya beberapa tahun setelah mencapai umur dimana

kehamilan dan persalinan dapat berlangsung dengan aman. Umur ibu

pada saat hamil merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi


24

kelangsungan dan ramalan persalinan. Umur ibu yangt aman untuk

hamil antara 20-35 tahun.

Seorang ibu sebaiknya hamil pertama kali umur 20 tahun

karena pada usia tersebut rahim ibu sudah siap menerima kehamilan

sehingga dapat merawat bayi dan dirinya. Umur ibu yang kurang dari

20 tahun atau lebih dari 35 tahun adalah resiko tinggi ibu untuk

melahirkan. Ibu yang hamil pada usia yang terlalu muda pertumbuhan

alat reproduksinya belum sempurna, dimana masih memiliki pelvis

yang kecil sehingga dapat menyebabakan terhambatnya persalinan

yang akan mengakibatkan kematian ibu dan janin. (Manuaba, 2008)

BAB III

KERANGKA KERJA PENELITIAN


25

A. Kerangka Konsep Pikir

Tingkat Pengetahuan

Motivasi

Dukungan Keluarga
Respon Ibu Hamil Terhadap
Pelayanan Antenatal Care Perilaku ibu hamil
Melakukan
Jarak Rumah Ke Tempat P Antenatal Care
Pelayanan

Pekerjaan

Paritas

Umur

Keterangan:

= Variabel independen

= Variabel dependen

= Variabel yang diteliti

= Variabel yang tidak diteliti

B. Hipotesis

1. Hipotesis alternative
26

a. Ada hubungan antara tingkat pengetahuan terhadap perilaku ibu

hamil melakukan antenatal care.

b. Ada hubungan antara motivasi terhadap perilaku ibu hamil

melakukan antenatal care.

c. Ada hubungan antara dukungan keluarga terhadap perilaku ibu

hamil melakukan antenatal care.

d. Ada hubungan antara respon ibu hamil terhadap pelayanan

antenatal care.

e. Ada hubungan antara jarak rumah ibu hamil terhadap perilaku ibu

hamil melakukan antenatal care.

C. Defenisi Operasional Variabel

1. Pengetahuan: pengetahuan ibu hamil tentang antenatal care dan

kegiatan yang dilakukan dalam pelayanan kesehatan ibu dan anak di

puskesmas

Kriteria objektif: Penilaian terhadap tingkat pengetahuan menggunakan

skala Guttman untuk menjawab dengan benar diberi nilai 1 dan jawaban

yang salah diberi nilai 0 dengan kriteria,

Cukup = jika ibu menjawab dengan skor 5

Kurang = jika ibu menjawab dengan skor < 5


27

2. Motivasi: dorongan ibu hamil untuk memeriksakan kehamilan ke

pelayanan kesehatan ibu dan anak di Puskesmas

Kriteria objekif: Penilaian terhadap motivasi menggunakan skala Guttman

untuk menjawab dengan benar diberi nilai 1 dan jawaban yang salah

diberi nilai 0 dengan kriteria,

Cukup = jika ibu menjawab dengan skor 5

Kurang = jika ibu menjawab dengan skor < 5

3. Dukungan keluarga: dukungan terhadap ibu hamil dari keluarga

dalam melakukan pemeriksaan kehamilan ke pelayanan kesehatan ibu dan

anak di Puskesmas

Kriteria objektif: Penilaian terhadap dukungan keluarga menggunakan

skala Guttman untuk menjawab dengan benar diberi nilai 1 dan jawaban

yang salah diberi nilai 0 dengan kriteria,

Cukup = jika ibu menjawab dengan skor 5

Kurang = jika ibu menjawab dengan skor < 5

4. Respon ibu hamil terhadap pelayanan antenatal care: tanggapan ibu

hamil terhadap pelayanan kesehatan ibu dan anak yang diberikan

Kriteria objektif:
28

Cukup = jika ibu menjawab dengan skor 8

Kurang = jika ibu menjawab fasilitas kurang < 8

5. Jarak ke tempat pelayanan kesehatan: perjalanan yang lalui

seberapa jauh sampai ke tempat pelayaanan kesehatan dengan

menggunakan skala likert

Kriteria objektif:

Dekat = Perjalan dari rumah ke pelayanan kesehatan 3 Km

Jauh = Perjalan dari rumah ke tempat pelayanan kesehatan 7 Km

6. Kunjungan ibu hamil: kemauan ibu hamil untuk memeriksakan

kehamilannya di antenatal care

Cukup = Jika responden menjawab pertanyaan dengan skor >3

Kurang = Jika responden menjawab pertanyaan dengan skor 2


29

BAB IV

METODOLOGI PENELITIAN

A. Metodologi Penelitian

Jenis penelitian yang di gunakan adalah penelitian Asosiatif

hubungan kausal merupakan hubungan sebab akibat yang saling

mempengaruhi antarvariabel yang digunakan.

Cross sectional merupakan rancangan penelitian yang pengukurannya

atau pengamatannya dilakukan secara simultan pada satu saat (sekali waktu).

Penggunaan metode Cross Sectional study dalam penelitian ini untuk

mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan ibu hamil melakukan


30

antenatal care di Puskesmas Barandasi Kabupaten Maros dengan cara

pengumpulan data pada periode yang sama.

B. Populasi, Sampel, dan Teknik Sampling

1. Populasi

Semua ibu hamil yang berkunjung di Puskesmas Barandasi

Kabupaten Maros.

2. Sampel

Sampel dalam penelitian ini adalah semua ibu hamil yang

berkunjung pada antenatal care di Puskesmas Barandasi Kabupaten

Maros. Penentuan sampel dilakukan secara consecultive sampling untuk

memperoleh data tentang faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku

ibu hamil melakukan antenatal care di Puskesmas Barandasi Kabupaten

Maros.

3. Teknik Sampling

Metode penarikan sampel dengan cara sampling accidental adalah

teknik penentuan sampel berdasarkan kebetulan yaitu siapa saja yang

secara kebetulan bertemu dengan peneliti dapat digunakan sebagai

sampel. Penentuan besar sampel menggunakan rumus statistik sebagai

berikut:
31

n= N

1+N(d)2

Keterangan: N = Besar populasi

n = Besar sampel

d = kepercayaan atau ketepatan yang diinginkan (0.05)

C. Kriteria Inklusi dan Eksklusi

1. Kriteria inklusi

a. Ibu yang bersedia jadi sampel pada K1-K4

b. Ibu hamil yang datang memeriksakan kehamilan pada antenatal

care Puskesmas Barandasi Kabupaten Maros

2. Kriteria eksklusi

a. Ibu yang tidak bersedia jadi responden

b. Ibu yang pernah mengisi kuesioner

c. Ibu yang datang berkunjung ulang selama penelitian

D. Teknik dan Instrument Pengumpulan Data

1. Instrumen Penelitian
32

Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan alat ukur

kuesioner yang telah dibuat oleh peneliti dan mengacu pada kepustakaan

yang terdiri atas beberapa pertanyaan dengan menggunakan skala Likert

dan Guttmen.

2. Prosedur Pengumpulan Data

Pengumpulan data dilakaukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:

a. Mengajukan surat permohonan izin penelitian dari institusi kepada

kepala puskesmas barandasi untuk mendapatkan izin penelitian

b. Peneliti mengadakan pendekatan kepada calon responden, sekaligus

memberi penjelasan tantang maksud dan tujuan penelitian ini. Jika

setuju maka peneliti akan meminta calon responden membaca dan

menandatangani surat persetujuan.

c. Peneliti mengakhiri pertemuan dengan mengucapkan terima kasih

kepada responden atas kerjasamanya

E. Tehnik Pengolahan Data dan Analisis Data

Dalam penelitian tahap-tahap pengolahan data yang dilakukan adalah:

1. Editing
33

Setelah data terkumpul peneliti akan mengadakan seleksi data editing

yakni memeriksa setiap kuesioner yang telah diisi mengenai kebenaran

data yang sesuai variabel.

2. Koding

Untuk memudahkan pengolahan data maka semua jawaban atau diberi

kode. Pengkodean ini dilakukan dengan memberi daftar pertanyaan nomor

pertanyaan dan nama variabel.

3. Entri/Tabulasi Data

Data diolah menggunakan program komputer spss for windows untuk uji

statistik.

4. Analisa Data

Analisa data dimaksudkan untuk menilai masing-masing variabel serta

analisis hubungan variabel.

a. Analisis Univariat

Analisis univariat dilakukan terhadap tiap variabel dari hasil

penelitian, analisis ini menghasilkan distribusi dan frekuensi dari tiap

variabel yang diteliti.


34

b. Analisis Bivariat

Analisis bivariat dilakukan terhadap dua variabel yang diduga

berhubungan atau berkolerasi dengan uji cross sectional.

F. Lokasi dan Waktu Peneliti

1. Lokasi peneliti

Lokasi peneliti dilakukan di Puskesmas Barandasi letaknya tepat di jalan

poros, Kabupaten Maros Provinsi Sulawesi selatan.

2. Waktu Penelitian

Penelititan dilaksanakan kurang lebih 1 bulan, mulai tanggal 9 Juni

sampai 9 Juli 2010

G. Prosedur dan Alur Penelitian

Ujian proposal dan proposal sudah disahkan

Mendapatkan surat permohonan izin penelitian dari bagian


35

Mengurus izin penelitian dari bagian kesatuan Dinas Kesehatan

Meneruskan rekomendasi izin penelitian ke Puskesmas Barandasi

Melaksanakan penelitian dengan cara membagikan

Mengolah data laporan penelitian

Konsultasi dengan pembimbing

Skripsi didukomentasikan

H. Etika penelitian

Persetujuan dan kerahasiaan responden adalah hal utama yang perlu

diperhatikan. Oleh karena itu peneliti sebelum melakukan penelitian terlebih

dahulu mengajukan ethical clearance kepada pihak yang terlibat langsung

maupun tidak langsung dalam penelitian, agar tidak terjadi pelanggaran

terhadap hak-hak (otonomi) manusia yang kebetulan menjadi subyek

penelitian.
36

Setelah mendapat persetujuan dari pihak terkait, maka peneliti akan

memulai penelitian dengan menekankan prinsip-prinsip etika penelitian yang

berlaku. Adapun prinsip-prinsip dalam etika penelitian adalah sebagai

berikut:

1. Tanpa Nama (Anonymity)

Kerahasiaan responden harus terjaga dengan tidak mencantumkan

nama pada lembar pengumpulan data maupun pada lembar kuisioner,

tetapi hanya dengan memberikan kode-kode tertentu sebagai

identifikasi responden.

2. Rahasia (Confidentiality)

Informasi yang diberikan responden akan terjamin kerahasiaannya

karena peneliti dalam pemanfaatan informasi yang diberikan responden

hanya menggunakan kelompok-kelompok data sesuai dengan

kebutuhan dalam penelitian.(Nursalam, 2009)

3. Keterbatasan

Ada beberapa keterbatasan yang mungkin akan ditemukan

peneliti dalam penelitian ini, yaitu:

a. Alat Ukur (Instrument)


37

Kepatuhan merupakan masalah yang abstrak yang dan sulit

untuk dilakukan pengukuran. Untuk mensiasati hal tersebut, maka

upaya yang dilakukan adalah dengan memberikan pertanyaan-

pertanyaan yang berhubungan dengan sikap dan tindakan

responden yang kemudian dari jawaban tersebut dilakukan analisis.

Disadari bahwa alat ukur baku yang memiliki validitas dan

reabilitas belum tersedia. Hal ini merupakan keterbatasan dalam

penyediaan instrument yang benar-benar salah

b. Faktor Feasibility

Sebuah penelitian yang benar-benar akurat, tentunya

membutuhkan waktu yang cukup lama untuk melakukan observasi

atau pengamatan terhadap responden yang akan diteliti. Mengingat

penelitian ini hanya dilaksanakan selama satu bulan, maka sangat

mungkin banyak hal-hal penting yang menyangkut kepatuhan

responden yang luput dari pengamatan peneliti. Kurangnya biaya

serta keterbatasan pengalaman peneliti dalam penelitian merupakan

masalah kesehatan masyarakat, sangat mungkin akan menyebabkan

kurangnya informasi yang dapat disampaikan dari hasil penelitian

ini.

BAB V

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN


38

A. Hasil Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Puskesmas Barandasi Kabupaten Maros

dimana proses pengumpulan data dilakukan dengan berpedoman pada

kuesioner penelitian. Proses pengambilan data dilaksanakan dari tanggal 9 juni

sampai dengan 9 juli 2010. Responden dalam penelitian ini sebanyak 30 orang

dari semua ibu hamil yang berkunjung ke Puskesmas Barandasi Kabupaten

Maros.

Hasil penelitian disajikan secara berurutan yaitu dengan analisis

univariat dan bivariat selanjutnya dilakukan pembahasan terhadap hasil

penelitian.

1. Hasil Analisis Univariat

Analisis Univariat dilakukan untuk melihat distribusi frekuensi dari

variabel yang diteliti adalah:

a. Umur

Berdasarkan hasil penelitian, didapatkan bahwa umur responden

antara 18-25 sebanyak 17 orang responden(56.7%), sedangkan yang umur

26 keatas sebanyak 13 orang responden(43.3%). Distribusi frekuensi

responden berdasarkan umur dapat dilihat pada tabel 5.1 berikut ini.

Tabel 5.1
39

Distribusi Responden Berdasarkan Umur Ibu Hamil

di Puskesmas Barandasi

Kabupaten Maros

Umur Jumlah (n) Persentase (%)

18-25 17 56.7

26 Keatas 13 43.3

Total 30 100

Sumber: Data Primer Juni-Juli 2010

b. Variabel yang di teliti

1. Tingkat Pengetahuan

Berdasarkan hasil penelitian, didapatkan bahwa jumlah responden

yang pengetahuannya cukup 21 orang responden(70%) sedangkan yang

pengetahuan kurang 9 orang responden(30%). Distribusi frekuensi

responden berdasarkan tingkat pengetahuan dapat dilihat pada tabel 5.2

berikut ini.

Tabel 5.2

Distribusi Responden Berdasarkan Tingkat Pengetahuan

Ibu Hamil di Puskesmas Barandasi


40

Kabupaten Maros

Pengetahuan Jumlah (n) Persentase (%)

Cukup 21 70

Kurang 9 30

Total 30 100

Sumber: Data Primer, Juni-Juli 2010

2. Motivasi

Berdasarkan hasil penelitian, didapatkan jumlah responden dengan

ibu hamil yang tingkat motivasi cukup yaitu 16 orang responden(53,3%)

sedangkan yang kurang 14 orang responden(46,7%). Distribusi responden

berdasarkan motivasi, dapat dilihat pada tabel 5.3 berikut ini.

Tabel 5.3

Distribusi Responden Berdasarkan Motivasi Ibu Hamil

di Puskesmas Barandasi Kabupaten Maros


41

Motivasi Jumlah (n) Persentase (%)

Cukup 16 53,3

Kurang 14 46,7

Total 30 100

Sumber: Data Primer, Juni-Juli 2010

3. Dukungan keluarga

Berdasarkan hasil penelitian, didapatkan jumlah responden yang

mendapat dukungan keluarga cukup 20 orang responden(66,7%) dan

dukungan keluarga kurang 10 orang responden(33,3%). Distribusi

dukungan keluarga dapat dilihat pada tabel 5.4 berikut ini.

Tabel 5.4

Distribusi Responden Berdasarkan Dukungan Keluaraga

Ibu Hamil di Puskesmas Barandasi

Kabupaten Maros

Dukungan keluarga Frekuensi Persentasi (%)

Cukup
20 66.7

Kurang
10 33.3
42

Total 30 100

Sumber: Data Primer, Juni-Juli 2010

4. Respon

Berdasarkan hasil penelitian, didapatkan respon ibu hamil terhadap

pelayanan antenatal care cukup 22 orang responden(73.3%) dan yang

mengatakan kurang 8 orang responden(26.7%). Distribusi respon Ibu

hamil terhadap pelayanan kesehatan dapat dilihat pada tabel 5.5 berikut

ini.

Tabel 5.5

Distribusi Responden Berdasarkan Respon Ibu Hamil Terhadap

Pelayanan Kesehatan di Puskesmas Barandasi

\ Kabupaten Maros

Respon Frekuensi Persentasi (%)

Cukup
22 73.3

Kurang
8 26.7

Total 30 100

Sumber: Data Primer, Juni-Juli 2010


43

5. Jarak

Berdasarkan hasil penelitian, didapatkan jumlah ibu hamil yang

jarak rumah dekat 17 orang responden(56,7%) dan ibu hamil yang jarak

rumah jauh 13 orang responden(43.3%). Distribusi jarak rumah pada ibu

hamil dapat dilihat pada tabel 5.6 berikut ini.

Tabel 5.6
Distribusi Responden Berdasarkan Jarak Rumah Ibu Hamil
dari Puskesmas Barandasi Kabupaten Maros

Jarak Frekuensi Persentasi (%)

Dekat
17 56,7

Jauh
13 43,3

Total 30 100

Sumber: Data Primer, Juni-Juli 2010


44

6. Kunjungan ibu hamil

Berdasarkan hasil penelitian, didapatkan jumlah ibu hamil yang

kunjungan cukup 21 orang responden(70%) dan ibu hamil yang kunjungan

kurang 9 orang responden(30%). Distribusi kunjungan ibu hamil dapat

dilihat pada tabel 5.7 berikut ini.

Tabel 5.7
Distribusi Responden Berdasarkan Kujungan Ibu Hamil
dari Puskesmas Barandasi Kabupaten Maros

Kunjungan Frekuensi Persentasi (%)

Cukup
21 70

Kurang
9 30

Total 30 100

Sumber: Data Primer, Juni-Juli 2010

B. Analisis Bivariat

Untuk mengetahui hubungan kedua variabel yaitu variabel dependen

dan independen maka dilakukan uji statistika menggunakan Chi Square.

a. Pengaruh Tingkat Pengetahuan Terhadap Perilaku Ibu Hamil Melakukan

Antenatal Care
45

Tabulasi silang antara variabel tingkat pengetahuan dengan

perilaku ibu hamil melakukan antenatal care didapatkan hasil bahwa

responden yang tingkat pengetahuan cukup dengan perilaku ibu hamil

melakukan antenatal care cukup 20 orang responden(66,7%) dan yang

tingkat pengetahuan kurang dengan perilaku ibu hamil melakukan

antenatal care cukup 1 orang responden(3,3%), sedangkan responden

yang tingkat pengetahuan cukup dengan perilaku ibu hamil melakukan

antenatal care kurang 1 orang responden(3,3%) dan yang tingkat

pengetahuan kurang dengan perilaku ibu hamil melakukan antenatal care

kurang 8 orang responden(26,7%), seperti dapat dilihat pada tabel 5.8

berikut ini.

Tabel 5.8

Pengaruh Tingkat Pengetahuan Terhadap Perilaku Ibu Hamil

Melakukan Antenatal Care di Puskesmas Barandasi

Kabupaten Maros

Perilaku ibu hamil melakukan anc


Total
Pengetahuan Cukup Kurang

N % N % N %
Cukup 20 66,7 1 3,3 21 70

Kurang 1 3,3 8 26,7 9 30

Total 21 70 9 30 30 100
46

Sumber : Data Primer, juni-juli 2010 P=0,000, =0,05

3. Uji Chi Square untuk menguji hubungan dua variabel ini

menghasilkan nilai (p < 0,05) maka hal ini berarti ada pengaruh tingkat

pengetahuan terhadap perilaku ibu hamil melakukan antenatal care di

Puskesmas Barandasi Kabupaten Maros.

b.Pengaruh Motivasi Terhadap Terhadap Perilaku Ibu Hamil Melakukan

Antenatal Care

Tabulasi silang antara variabel motivasi dengan perilaku ibu hamil

melakukan antenatal care didapatkan hasil bahwa responden yang

motivasi cukup dengan perilaku ibu hamil melakukan antenatal care

cukup 15 orang responden(50%) dan yang motivasi cukup dengan perilaku

ibu hamil melakukan antenatal care kurang 1 orang responden(3,3%),

sedangkan ibu hamil yang motivasi kurang dengan perilaku ibu hamil

melakukan antenatal care cukup 6 orang responden(3,3%) dan yang

motivasi kurang dengan perilaku ibu hamil melakukan antenatal care

kurang 8 orang responden(26,7%), seperti dapat dilihat pada tabel 5.9

berikut ini.
47

Tabel 5.9

Pengaruh Motivasi Terhadap Perilaku Ibu Hamil Melakukan

Antenatal Care di Puskesmas Barandasi

Kabupaten Maros

Perilaku ibu hamil melakukan anc


Total
Motivasi Cukup Kurang

N % N % N %

Cukup 15 50 1 3,3 16 53.3

Kurang 6 20 8 26,7 14 46.7

Total 21 70 9 30 30 100
Sumber : Data Primer, juni-juli 2010 P=0,002, =0,05

Uji Chi Square untuk menguji hubungan dua variabel ini

menghasilkan nilai (p < 0,05) maka hal ini berarti ada pengaruh motivasi

terhadap perilaku ibu hamil melakukan antenatal care di Puskesmas

Barandasi Kabupaten Maros.

c. Pengaruh Dukungan Keluarga Terhadap Terhadap Perilaku Ibu

Hamil Melakukan Antenatal Care

Tabulasi silang antara variabel di dapatkan hasil bahwa dukungan

keluarga ibu hamil cukup dengan perilaku ibu hamil melakukan antenatal

care cukup 18 orang responden(60%) yang dukungan keluarga cukup

dengan perilaku ibu hamil melakukan antenatal care kurang 2 orang


48

responden(6.7%) dan yang dukungan keluarga kurang dengan perilaku ibu

hamil melakukan antenatal care cukup 3 orang orang responden(10%),

dukungan keluarga kurang dengan perilaku ibu hamil melakukan

antenatal care kurang 7 orang responden(23.3%), seperti dapat dilihat

pada tabel 5.10 berikut ini.

Tabel 5.10

Pengaruh Dukungan Keluarga Terhadap Perilaku Ibu Hamil

Melakukan Antenatal Care di Puskesmas Barandasi

Kabupaten Maros

Perilaku ibu hamil melakukan anc


Total
Dukungan keluarga Cukup Kurang

N % N % N %

Cukup 18 60 2 6.7 20 66,7

Kurang 3 10 7 23.3 10 33,3

Total 21 70 9 30 30 100
Sumber : Data Primer, juni-juli 2010 P=0,001, =0,05

Uji Chi Square untuk menguji hubungan dua variabel ini

menghasilkan nilai( p < 0,05) maka hal ini berarti ada pengaruh dukungan

keluarga terhadap perilaku ibu hamil melakukan antenatal care di

Puskesmas Barandasi Kabupaten Maros.

d. Respon Ibu Hamil Terhadap Pelayanan Antenatal Care Terhadap

Perilaku Ibu Hamil Melakukan Antenatal Care


49

Tabulasi silang antara variabel respon ibu hamil dengan perilaku

ibu hamil melakukan antenatal care didapatkan hasil bahwa respon ibu

hamil cukup dengan perilaku ibu hamil melakukan antenatal care cukup

21 orang responden(70%) dan respon ibu hamil cukup dengan perilaku ibu

hamil melakukan antenatal care kurang 1 orang responden(3.3%),

sedangkan respon ibu hamil kurang dengan perilaku ibu hamil melakukan

antenatal care cukup 0 responden(0%) dan yang respon ibu hamil kurang

dengan perilaku ibu hamil melakukan antenatal care kurang 8 orang

responden(26.7% ), seperti dapat dilihat pada tabel 5.11 berikut ini.

Tabel 5.11

Pengaruh Respon Ibu Hamil Terhadap Perilaku IbHamilMelakukan


Antenatal Care di Puskesmas Barandasi Kabupaten Maros

Perilaku ibu hamil melakukan anc


Total
Respon Cukup Kurang

N % N % N %

Cukup 21 70 1 3.3 22 73.3

Kurang 0 0 8 26.7 8 26.7

Total 21 70 9 30 30 100
Sumber : Data Primer, juni-juli 2010 P=0,000, =0,05

Uji Chi Square untuk menguji hubungan dua variabel ini

menghasilkan nilai (p < 0,05) maka hal ini berarti ada pengaruh respon
50

ibu hamil terhadap perilaku ibu hamil melakukan antenatal care di

Puskesmas Barandasi Kabupaten Maros.

e. Jarak Rumah Terhadap Perilaku Ibu Hamil Melakukan Antenatal

Care

Tabulasi silang antara variabel jarak rumah dengan perilaku ibu

hamil melakukan antenatal care didapatkan hasil bahwa jarak rumah ibu

hamil dekat dengan yang perilaku ibu hamil melakukan antenatal care

cukup 16 orang responden(53.3%) yang jarak rumah ibu hamil dekat

dengan perilaku ibu hamil melakukan antenatal care kurang 1 orang

responden(3,3%), sedangkan jarak rumah ibu hamil jauh dengan perilaku

ibu hamil melakukan antenatal care cukup 5 orang responden(16.7%) dan

yang jarak rumah ibu hamil jauh dengan perilaku ibu hamil melakukan

antenatal care kurang 8 orang responden( 26.7% ), seperti dapat dilihat

pada tabel 5.12 di bawah ini.

Tabel 5.12

Pengaruh Jarak Rumah Ibu Hamil Terhadap Perilaku Ibu Hamil


Melakukan Antenatal Care di Puskesmas Barandasi
Kabupaten Maros

Perilaku ibu hamil melakukan


Total
Jarak Cukup Kurang

N % N % N %
51

Dekat 16 53.3 1 3,3 17 56.7

Jauh 5 16.7 8 26.7 13 43.3

Total 21 70 9 30 30 100
Sumber : Data Primer, juni-juli 2010 P=0,001, =0,05

Uji Chi Square untuk menguji hubungan dua variabel ini

menghasilkan nilai (p > 0,05) maka hal ini berarti ada pengaruh fasilitas

atau sarana kesehatan terhadap perilaku ibu hamil melakukan antenatal

care di Puskesmas Barandasi Kabupaten Maros.

B. Pembahasan

1. Hubungan Pengetahuan Dengan Perilaku Ibu Hamil Melakukan Antenatal

Care

Hasil analisa bivariat menunjukkan bahwa lebih banyak responden

yang berpengetahuan cukup dengan perilaku ibu hamil melakukan

antenatal care cukup yaitu 20 orang responden(66.7%) pada tabel 5.8

dibanding responden yang berpengetahuan kurang dan perilaku ibu hamil

melakukan antenatal care kurang yaitu sebanyak 8 orang

responden(26.7%) pada tabel 5.8. Sehingga secara proporsi ibu hamil

yang berada di wilayah kerja Puskesmas Barandasi Kabupaten Maros

memiliki pengetahuan cukup.

Dari hasil analisa bivariat menunjukkan ada hubungan antara

pengetahuan dengan kunjungan ibu hamil ke Puskesmas Barandasi

Kabupaten Maros dengan uji Chi-Square nilai p=0,00< =0,05.


52

Hal ini didukung oleh Notoatmojo (2007), pengetahuan adalah

hasil tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap

suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia,

yakni indera penglihatan, pendengaran, penciuman dan raba. Sebagian

besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga.

Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk

terbentuknya tindakan seseorang.

Menurut penulis, masyarakat dengan pengetahuan cukup memiliki

kunjungan lebih banyak dalam melaksanakan kunjungan ke puskesmas

dibanding dengan masyarakat yang pengetahuan kurang. Hal ini dapat

dipahami karena pengetahuan merupakan dasar dan motivasi bagi

seseorang untuk melakukan suatu tindakan.

Pada hubungan tingkat pengetahuan dengan perilaku ibu hamil

melakukan antenatal care, peneliti mendapatkan responden dengan tingkat

pengetahuan cukup tetapi perilaku ibu hamil melakukan antenatal care

kurang sebanyak 1 orang responden(3.3%) pad tabel 5.8. Hal ini

disebabkan oleh tingkat pengetahuan yang cukup pada responden, tetapi

tidak mengetahui secara pasti tentang fungsi dari pelayanan antenatal care

bagi kesehatan kehamilannya, sehingga responden kurang berkunjung

dalam memeriksakan kehamilannya. Kemudian pada tingkat pengetahuan

kurang dengan perilaku ibu hamil melakukan antenatal care cukup

sebanyak 1 orang responden(3.3%) pada tabel 5.8, peneliti berasumsi hal


53

ini disebabkan karena tingginya rasa ingin tahu dan besarnya keinginan

untuk menjaga kesehatan ibu hamil dan bayinya.

2. Hubungan Motivasi Dengan Perilaku Ibu Hamil Melakukan

Antenatal Care

Berdasarkan hasil analisa bivariat menunjukkan bahwa lebih

banyak responden yang motivasi cukup dengan perilaku ibu hamil

melakukan antenatal care cukup yaitu 15 orang responden(50%) pada

tabel 5.9 dibanding responden yang tingkat motivasi kurang dengan

perilaku ibu hamil melakukan antenatal care kurang yaitu sebanyak 8

orang resonden(26.7%) pada tabel 5.9. Sehingga secara proporsi motivasi

responden yang berada di wilayah kerja Puskesmas Barandasi Kabupaten

Maros memiliki motivasi cukup.

Dari hasil analisa bivariat menunjukkan ada hubungan antara

motivasi dengan perilaku ibu hamil melakukan antenatal care di

Puskesmas Barandasi Kabupaten Maros dengan nilai uji Chi-Square

p=0,02< =0,05.

Menurut penulis hal ini sesuai dengan apa yang dikemukakan oleh

Sunaryo (2004), motivasi adalah dorongan penggerak untuk mencapai

tujuan tertentu, baik disadari ataupun tidak disadari. Motivasi dapat timbul

dari dalam diri individu atau datang dari lingkungan. Motivasi yang

terbaik adalah motivasi yang datang dari dalam diri sendiri (motivasi

intrinsik), bukan pengaruh lingkungan (motivasi ekstristik).(Sunaryo,

2004)
54

Dapat disimpulkan bahwa motivasi adalah sebuah alasan atau

dorongan seseorang untuk bertindak. Orang yang tidak mau bertindak

sering kali disebut tidak memiliki motivasi. Alasan atau dorongan itu bisa

datang dari luar maupun dari dalam diri. Sebenarnya pada dasarnya semua

motivasi itu datang dari dalam diri, faktor luar hanyalah pemicu

munculnya motivasi tersebut. Motivasi dari luar adalah motivasi yang

pemicunya datang dari luar diri kita. Sementara motivasi dari dalam ialah

motivasinya muncul dari inisiatif diri kita.

Pada hubungan motivasi dengan perilaku ibu hamil melakukan

antenatal care, peneliti mendapatkan motivasi cukup tetapi kunjungan

yang kurang sebanyak 1 orang responden(3.3%) pada tabel 5.9. Hal ini

disebabkan karena kurangnya keinginan ibu hamil dalam memanfaatkan

pelayanan kesehatan di antenatal care. Terjadi kesenjangan antara

motivasi kurang dengan kunjungan cukup sebanyak 6 orang responden

(20%) pada tabel. Peneliti berasumsi bahwa hal ini terjadi diakibatkan oleh

faktor eksternal yaitu dukungan keluarga untuk memeriksakan

kehamilannya pada antenatal care di puskesmas.

3. Hubungan Dukungan Keluarga Dengan Perilaku Ibu Hamil

Melakukan Antenatal Care

Dari hasil analisa bivariat menunjukkan ada hubungan antara

dukungan keluarga dengan perilaku antenatal care ibu hamil melakukan di

Puskesmas Barandasi Kabupaten Maros dengan nilai uji Chi-Square

P=0,01> =0,05. Sehingga secara proporsi dukungan keluarga responden


55

yang berada di wilayah kerja Puskesmas Barandasi Kabupaten Maros

tergolong cukup.

Berdasarkan hasil analisa bivariat menunjukkan bahwa lebih

banyak responden yang mendapat dukungan keluarga cukup dan perilaku

ibu hamil melakukan antenatal care cukup yaitu 18 orang responden(60%)

pada tabel 5.10 dibanding responden yang dukungan keluarga kurang dan

perilaku ibu hamil melakukan antenatal care kurang yaitu sebanyak 7

orang (23,3%) pada tabel 5.10. Sehingga secara proporsi perilaku ibu

hamil melakukan antenatal care yang berada di wilayah kerja Puskesmas

Barandasi Kabupaten Maros mendapatkan dukungan dari keluarga yang

cukup.

Menurut Akhmadi (2009), dukungan keluarga salah satu faktor

yang sangat berpengaruh terhadap perilaku positif. Faktor-faktor utama

yang mempengaruhi dukungan keluarga meliputi: kelas sosial, bentuk-

bentuk keluarga, latar belakang keluarga, tahap siklus kehidupan keluarga,

model-model peran peristiwa situasional khususnya masalah-masalah

kesehatan atau sakit.

Peneliti berasumsi bahwa dukungan keluarga dapat mempengaruhi

perilaku ibu hamil melakukan antenatal care, dikarenakan keluarga

merupakan salah satu faktor berupa dukungan emosional bagi ibu hamil

dalam menentukan segala hal untuk menjaga kesehatan kehamilannya,

terutama kunjungan ke puskesmas untuk memeriksakan kehamilannya di

puskesmas.
56

Pada hubungan dukungan keluarga dengan perilaku ibu hamil

melakukan antenatal care, peneliti mendapatkan responden dukungan

keluarga cukup dengan perilaku ibu hamil melakukan antenatal care

kurang sebanyak 2 responden (6.7%) pada tabel 5.10. Hal ini terjadi

karena motivasi dari dalam diri ibu hamil yang kurang untuk

memeriksakan kehamilannya serta faktor jarak yang menjadi salah satu

faktor yang berpengaruh pada kurangnya perilaku ibu hamil melakukan

antenatal care ke puskesmas. Sedangkan dukungan kurang tetapi perilaku

ibu hamil melakukan antenatal care cukup sebanyak 3 orang

responden(10%) pada tabel 5.10, hal ini disebabkan karena adanya

keinginan untuk menjaga kesehatan kehamilan dari responden sehingga

ada kunjungan meskipun kurang dukungan dari keluarga.

Menurut peneliti hal ini sesuai dengan yang dikatakan oleh

Sunaryo (2004). Motivasi dapat timbul dari dalam diri individu atau

datang dari lingkungan. Motivasi yang terbaik adalah motivasi yang

datang dari dalam diri sendiri (motivasi intrinsik).

4. Hubungan Respon Ibu Hamil Terhadap Pelayanan Antenatal Care

Dengan Perilaku Ibu Hamil Melakukan Antenatal Care

Hasil analisa univariat menunjukkan bahwa lebih banyak

responden mempunyai respon cukup dan perilaku ibu hamil melakukan

antenatal care cukup yaitu 21orang responden(70%) pada tabel 5.11 orang

responden daripada yang mempunyai respon kurang dan memiliki

kunjungan kurang yaitu sebanyak 8 orang responden(26.7%) pada tabel


57

5.11. Sehingga secara proporsi respon ibu hamil yang berada di wilayah

kerja Puskesmas Barandasi Kabupaten Maros tergolong cukup.

Sementara berdasarkan hasil analisa bivariat menunjukkan ada

hubungan antara respon dengan kunjungan ibu hamil diwilayah kerja

Puskesmas Barandasi Kabupaten Maros dengan uji chi-square nilai

P=0,000 < =0,05.

Pelayanan tenaga kesehatan dalam merawat pasien agar dapat

memberikan pelayanan kesehatan yang sesuai dengan harapan pasien,

antara lain: harus memiliki sikap yang ramah terhadap pasien, memiliki

rasa kasih sayang terlebih bagi yang membutuhkan, memberi rasa aman

terhadap pasien, menaruh perhatian terhadap kebutuhan yang diperlukan

pasien, murah senyum dan suara lembut, memiliki sikap yang dapat

dipercaya, percaya diri, tidak mempermalukan pasien maupun

keluarganya, tidak menyinggung, penuh pengertian, mudah diajak kerja

sama oleh tim kesehatan lainnya dan memiliki sikap humoris untuk

menghibur pasien.(Sunaryo, 2006)

Pada hubungan respon ibu hamil terhadap pelayanan antenatal

care dengan perilaku ibu hamil melakukan antenatal care didapatkan

responden cukup dan perilaku ibu hamil melakukan antenatal care kurang

1 orang responden(3,3%) pada tabel 5.11. Peneliti berasumsi bahwa

kurangnya motivasi pada ibu hamil dalam memeriksakan kehamilannya

meskipun pelayanan kesehatan mempunyai fasilitas yang baik dan

memadai.
58

Menurut penulis hal ini sesuai dengan Sunaryo (2006), Respon

adalah proses terhadap rangsangan yang diterima oleh organisme atau

individu sehingga merupakan suatu yang berarti dan merupakan aktifitas.

5. Hubungan Jarak Rumah Dengan Perilaku Ibu hamil Melakukan

Antenatal Care

Hasil analisa univariat menunjukkan bahwa lebih banyak responden

mempunyai jarak rumah dekat dan perilaku ibu hamil melakukan antenatal

care cukup yaitu 16 orang responden(53.3%) pada tabel 5.12 sedangkan

yang mempunyai jarak rumah jauh dan memiliki kunjungan kurang yaitu

sebanyak 8 orang responden(26.7%) pada tabel 5.12. Sehingga secara

proporsi ibu hamil yang mempunyai jarak rumah dekat yang berada di

wilayah kerja di Puskesmas Barandasi Kabupaten Maros memiliki

kunjungan cukup.

Sementara berdasarkan hasil analisa bivariat menunjukkan ada

hubungan antara jarak rumah dengan perilaku ibu hamil melakukan

antenatal care di Puskesmas Barandasi Kabupaten Maros dengan uji chi-

square nilai p=0,001 < =0,05.

Hal ini sesuai yang dikatakan oleh Setiawan (2008), yang

mengatakan bahwa jarak adalah perjalanan yang dapat di tempuh oleh

masyarakat untuk memanfaatkan pelayanan kesehatan baik dengan jalan

kaki maupun dengan menggunakan transportasi lain yang ada.


59

Jarak fisik puskesmas dengan tempat tinggal diukur dengan radius

kilometer, tempat beradanya puskesmas, apakah itu dipinggir jalan raya

yang ramai transportasinya atau di tempat yang tidak dilalui oleh kendaraan

umum akan mempengaruhi dimanfaatkannya atau tidak suatu tempat

pelayanan kesehatan. Syarat pokok pelayanan yang baik adalah yang

mudah dicapai oleh masyarakat.

Meskipun demikian, pada penelitian ini didapatkan responden

dengan jarak rumah dekat tetapi perilaku ibu hamil melakukan antenatal

care kurang sebanyak 1 orang responden(3.3%) pada tabel 5.12. Hal ini

terjadi karena kurangnya motivasi dari dalam diri responden untuk

memeriksakan kehamilannya serta kurangnya dukungan dari keluarga dan

pada jarak rumah jauh dan kunjungan cukup sebanyak 5 orang

responden(16,7%) pada table 5.12. Hal ini terjadi diakibatkan, tingginya

motivasi dari dalam diri responden serta adanya dukungan dari keluarga.

Sehingga responden tetap melakukan kunjungan meskipun jarak rumahnya

tergolong jauh dari pelayanan kesehatan.


60

BAB VI

PENUTUP

Pada bab ini penulis menguraikan beberapa hal berupa simpulan dari semua

hasil pembahasan pada bab sebelumnya, dan saran-saran dari penulis yang kiranya

dapat dijadikan bahan pertimbangan untuk pengembangan ilmu pengetahuan,

sebagai berikut:

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil analisis data dan uraian bab-bab sebelumnya dapat

disimpulkan bahwa:

1. Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku ibu hamil melakukan

antenatal care di Puskesmas Barandasi Kabupaten Maros adalah tingkat

pengetahuan, motivasi, dukungan keluarga, respon ibu hamil terhadap

pelayanan antenatal care dan jarak rumah ibu hamil dengan tempat

pelayanan kesehatan.
61

2. Dari hasil penelitian ibu hamil yang berhubungan dengan perilaku

ibu hamil melakukan antenatal care dengan responden yang banyak yaitu

respon cukup ibu hamil terhadap pelayanan antenatal care.

3. Dari hasil uji statistik dengan tingkat pengetahuan, motivasi,

dukungan keluarga, respon ibu hamil terhadap pelayanan antenatal care,

jarak rumah dengan perilaku ibu hamil melakukan antenatal care.

B. Saran

1. Pada instansi terkait agar dapat menentukan arah kebijakan yang lebih

bijaksana dalam menentukan prioritas perencanaan program kesehatan

khusunya antenatal care, agar angka kunjungan ibu hamil dapat lebih

meningkat.

2. Perlunya pengadaan program sosialisasi pada masyarakat yang berpengetahuan

rendah dan menengah kebawah, agar minat dan motivasi masyarakt dapat

lebih meningkat khusunya bagi ibu hamil untuk memeriksakan kesehatan di

antenatal care.

3. Bagi profesi perawat perlunya keterlibatan keluarga khusunya suami dalam

memberi dorongan, agar motivasi ibu hamil dapat meningkat dalam


62

pemeriksaan kesehatan ke puskesmas, terutama pemanfaatan pemeriksaan

antenatal care.

4. Perlu adanya penelitian ulang lebih lanjut terhadap variabel yang belum diteliti

terhadap faktor-faktor kunjungan ibu hamil di tempat pelayanan kesehatan ibu

hamil.