Anda di halaman 1dari 7

DAFTAR ISI

Kata Pengantar..............................................................................

Daftar Isi........................................................................................

BAB I Pendahuluan

1. Latar Belakang Masalah........................................................

2. Rumusan Masalah.................................................................

3. Tujuan Penulisan...................................................................

BAB II Pembahasan

1. Pengertian Tradisi, Budaya dan NU.....................................

a. Tradisi........................................................................

b. Budaya......................................................................

c. NU.............................................................................

2. Landasan Terhadap Tradisi dan Budaya ....................

3. Sikap Terhadap Tradisi dan Budaya..........................................

4. Contoh Tradisi dan Budaya di kalangan NU ......................

BAB III Penutup..........................................................................

Daftar Pustaka...............................................................................
Kata pegantar
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Sejarah diterimannya kehadiran Islam di Nusantara dengan kondisi keagamaan masyarakat yang
menganut pahamanimisme (Hindu-Budha), tidak bisa dilepaskan dari cara dan model pendekatan dakwah
para mubaligh Islam kala itu yang ramah dan bersedia menghargai kearifan budaya dan tradisi lokal.
Sebuah pendekatan dakwah yang terbuka dan tidak antisipati terdapat nilai-nilai normatif di luar Islam,
melainkan mengakulturasikannya dengan membenahi penyimpangan-penyimpangan di dalamnya
memasukkan ruh-ruh keislaman ke dalam subtstansinya. Maka lumrah jika kemudian corak amaliah
ritualitas muslim Nusantara (khususnya Jawa) hari ini, kita saksikan begitu kental diwarnai
dengan tradisi dan budaya khas lokal, seperti ritual selametan, kenduri, dan lain-lain.

Amaliah keagamaan seperti itu tetap dipertahankan karena kaum Nahdliyyin meyakini bahwa ritual-ritual
dan amaliyah yang bercorak lokal tersebut. Hanyalah sebatas teknis atau bentuk luaran saja, sedangkan
yang menjadi substansi didalamnya murni ajaran-ajaran Islam. Dengan kata lain, ritual-ritual yang
bercorak tradisi lokal hanyalah bungkus luar, sedangkan isinya adalah nilai-nilai ibadah yang dianjurkan
oleh Islam.

Dalam pandangan kaum Nahdliyyin, kehadiran Islam yang dibawa oleh Rasulullah saw. Bukanlah untuk
menolak segala tradisi yang mengakar menjadi kultur budaya masyarakat, melainkan sekedar untuk
melakukan pembenahan-pembenahan dan pelurusan-pelurusan terhadap tradisi dan budaya yang tidak
sesuai dengan risalah Rasulullah saw. Budaya yang telah mapan menjadi nilai normatif masyarakat dan
tidak bertentangan dengan ajaran Islam akan mengakulturasikannya bahkan mengakuinnya sebagai
bagian dari budaya dan tradisi Islam itu sendiri. Dalam hal ini, Rasululullah saw. Bersabda:

apa yang dilihat orang Muslim baik, maka hal itu baik disisi Allah. (HR. Malik).

Kendati demikian, amaliah dan ritual keagamaan kaum Nahdliyin seperti itu, sering mengobsesi
sebagian pihak untuk menganggapnya sebagai praktik-praktik sengkritisme, mitisme, khurafat, bidah
bahkan syirik.

Anggapan demikian sebenarnya lebih merupakan subyektifitas akibat terjebak dalam pemahaman Islam
yang sempit dan dangkal serta tidak benar-benar memahami hakikat amaliah dan ritual-ritual hukum
Nahdliyyin tersebut. Pihak-pihak yang seperti ini, wajar apabila kemudian dengan mudah melontarkan
tuduhan bidah atau syirik terhadap amaliah dan ritualitas kaum Nahdliyyin, seperti ritual tahlilan,
peringatan Maulid Nabi, Istighfar, Pembacan berzanji, Manaqib, Ziarah kubur, dan amaliah-amaliah
lainnya.

Tuduhan-tuduhan bidah seperti itu, sangat tidak berdasar baik secara dalil maupun ilmiah, dan lebih
merupakan sikap yang mencerminkan kedangkalan pemahaman keislaman. Sebab sekalipun terdapat
kaidah fiqh yang menyatakan:

hukum asal ritual ibadah adalah haram.

B. Rumusan Masalah

1. Apa Pengertian dari Pengertian Tradisi,Budaya dan NU ?

2. Apa saja Landasan Terhadap Tradisi dan Budaya ?

3. Bagaimana sikap terhadap Tradisi dan Budaya ?

4. Apa aja contoh Tradisi dan Budaya di kalangan NU ?

C. Tujuan Penulisan

1. Untuk Memahami Pengertian Tradisi dan Budaya .

2. Untuk Mengetahui Landasan Terhadap Tradisi dan Budaya.

3. Untuk Memahami Sikap terhadap Tradisi dan Budaya.

4. Untuk Mengetahui Contoh Tradisi dan Budaya di kalangan NU ( Shalawatan:Dibaan , barzanji ,


terbangan / hadrah,burdah,manaqib)
BAB II

PEMBAHASAN

1. Pengertian Tradisi, Budaya, dan NU

a. Tradisi

Tradisi (Bahasa Latin: tradition, diteruskan) atau kebiasaan, dalam pengertian yang paling sederhana
adalah sesuatu yang telah dilakukan untuk sejak lama dan menjadi bagian dari kehidupan suatu kelompok
masyarakat, biasannya dari suatu Negara, kebudayaan, waktu, atau agama yang sama. Hal yang paling
mendasar dari tradisi adanya informasi yang diteruskan dari generasi ke generasi baik tertulis maupun
(sering kali) lisan, karena tanpa adanya ini, suatu tradisi dapat punah.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Tradisi adalah adat kebiasaan turun temurun yang masih
dijalankan dimasyarakat dengan anggapan tersebut bahwa cara-cara yang ada merupakan yang paling
baik dan benar.

Tradisi adalah pertama, sesuatu yang ditransferensikan kepada kita. Kedua, sesuatu yang dipahamkan
kepada kita. Dan ketiga, sesuatu yang mengarahkan perilaku kehidupan kita. Itu merupakan tiga lingkaran
yang didalamnya suatu tradisi tertentu ditransformasikan menuju tradisi yang dinamis. Pada lingkaran
pertama, tradisi menegakkan kesadaran historis, pada lingkaran kedua menegakkan kesadaran eidetis, dan
pada lingkaran ketiga menegakkan kesadaran praksis.

b. Budaya

Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sanksekerta yaitu buddayah, yang merupakan bentuk jamak
dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia.
Dalam bahasa Inggris, kebudayaan disebut culture, yang berasal dari kata latin Colere, yaitu mengolah
atau mengerjakan. Bisa diartikan juga sebagai mengolah tanah atau bertani. Kata culture juga kadang
diterjemahkan sebagai kultur dalam bahasa Indonesia. Budaya adalah suatu cara hidup yang
berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi kegenerasi.
Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, sistem agama, dan politik adat istiadat, bahasa, perkakas,
pakaian, bangunan, dan karya seni. Bahasa, sebagaimana juga budaya, merupakan bagian tak terpisahkan
dari diri manusia sehingga cenderung menganggapnya diwariskan secara genetis. Ketika seorang
berusaha berkomunikasi dengan orang-orang yang berbeda budaya dan menyesuaikan perbedaan-
perbedaannya, membuktikan bahwa budaya itu dipelajari.
Budaya adalah suatu pola hidup menyeluruh. Budaya bersifat kompleks, abstrak, dan luas. Banyak aspek
budaya turut menentukan perilaku komunikatif. Unsur-unsur sosio-budaya ini tersebar dan meliputi
banyak kegiatan sosial manusia..

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Budaya adalah sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan dan sukar
untuk dirubah.

c. NU

Nahdlatul Ulama secara etimologis mempunyai arti Kebangkitan Ulama atau Bangkitnya para
Ulama, sebuah organisasi yang didirikan sebagai tempat terhimpun seluruh Ulama dan umat Islam.
Sedangkan menurut istilah, Nahdlatul Ulama adalah Jamiyyah Diniyah yang berhaluan Ahlussunnah
Wal Jamaah yanh didirikan pada tanggal 16 Rajab 1344 H atau bertepatan pada tanggal 31 Januari 1926
M di Surabaya yang bergerak dibidang ekonomi, pendidikan, dan sosial.

NU didirikan atas dasar kesadaran dan keinsyafan bahwa setiap manusia hanya dapat memenuhi
kebutuhannya bila bersedia hidup bermasyarakat.

Sikap kemasyarakatan yang ditumbuhkan oleh NU adalah :

a. At-Tawasuth dan Itidal, yaitu sikap tengah dengan inti keadilan dalam kehidupan.

b. At-Tasamuh, yaitu toleran dalam perbedaan, toleran dalam urusan kemasyarakatan dan kebudayaan.

c. At-Tawazun, yaitu keseimbangan beribadah kepada Allah swt dan berkhidmah kepada sesama
manusia serta keselarasan masa lalu, masa kini, dan masa depan.

d. Amar Maruf Nahi Munkar, yaitu mendorong perbuatan baik dan mencegah hal-hal yang
merendahkan nilai-nilai kehidupan (mencegah kemungkaran).
DAFTAR PUSTAKA

Kamus Besar Bahasa Indonesia,( Jakarta: Balai Pustaka, 2007), hlm. 1208.

[Hasan Hanafi, Islamologi 2 dari Rasionalisme ke Empirisme, ( Yogyakarta: LkiS


Yogyakarta, 2004). Cet. 1.hlm. 5.

Munthoha, Pemikiran dan Peradaban Islam, (Yogyakarta: UIII Press,


1998).cet.1.hlm.7.Kamus Besar Bahasa Indonesia, op.cit.hlm.169.

[SUNADI,dkk, Ahlussunnah Wal Jamaah Materi Dasar Nahdlatul Ulama(MDNU),


(Jepara: Pimpinan Cabang Lembaga Pendidikan Maarif NU, 2011).hlm.2.