Anda di halaman 1dari 19

TUGAS MANDIRI

MAKALAH KEPERAWATAN SISTEM MUSKULOSKELETAL


KONSEP GANGGUAN SISTEM MUSKULOSKELETAL TERKAIT
KEGANASAN

Oleh :
Brahmayda Wiji Lestari
(151.0006)

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN HANG TUAH SURABAYA
2017

1
DAFTAR ISI
No Hal
1 Halaman Cover 1
2 Daftar isi .. 2
3 BAB I : LATAR BELAKANG ... 3
4 BAB II : TINJAUAN TEORI
2.1 Teori Gangguan Sistem Muskuloskeletal Terkait Keganasan ... 4
2.2 Asuhan Keperawatan Pada Gangguan Sistem Muskuloskeletal
Terkait Keganasan . 11
2.3 Patient Safety . 15
2.4 Legal Etik pada Gangguan Sistem Muskuloskeletal Terkait 15
Keganasan ..
5 BAB III : PEMBAHASAN ..... 18
6 Daftar Pustaka ...... 19

2
BAB I
LATAR BELAKANG

Sistem musculoskeletal memungkinkan tubuh manusia untuk dapat


mempertahankan posisi tegak, bergerak bebas dan berfungsi secara normal.
Tulang merupakanjaringan penyambung dinamis yang penting, memiliki tiga
fungsi utama yaitu : kerangka untuk bergerak dan melindungi organ dalam,
berperan penting dalam metabolism dan homeostatis mineral, serta tempat utama
terjadinya hematopoiesis. Kelainan musculoskeletal mengakibatkan berbagai
morbiditas, menurunnya kualitas hidup, dan berakibat pada berkurangnya angka
harapan hidup.
Giant Cell Tumor atau oesteoclastoma adalah tumor yang relatif jarang,
ditandai dengan adanya sel giant multinuklear. Jenis tumor ini biasanya dianggap
sebagai tumor jinak. GCT, yang paling sering terjadi pada epiphysis tulang
panjang, merupakan tumor jinak yang meluas kaya akan sel raksasa osteoklastik.
Sering terjadi pada usia 20 sampai 40 tahun. Dalam klasifikasi tumor jaringan
lunak dan tulang yang diajukan oleh World Health Organization tahun 2002, GCT
jaringan lunak saat ini diklasifikasikan dalam kelompok tersendiri.
Sarkoma adalah tumor yang berasal dari jaringan penyambung. Mereka
secara umum dibagi kedalam dua kelompok yaitu tulang dan jaringan lunak.
Sarkoma jaringan lunak merupakan tumor yang jarang tumbuh dan berkembang
dalam jaringan yang diturunkan dari embrionik mesoderm. Sarcoma ini mungkin
terjadi dimana-mana tetapi terbesar atau paling sering terjadi pada daerah paha.

3
BAB II
TINJAUAN TEORI

2.1 TEORI GANGGUAN SISTEM MUSKULOSKELETAL TERKAIT


KEGANASAN OSTEOKLASTOMA

Giant cell tumor (tumor sel raksasa) juga dikenal sebagai


osteoklastoma adalah suatu neoplasma yang mengandung sejumlah besar sel
raksasa mirip osteoklas bercampur dengan sel mononukleus. Tumor ini juga
sering terjadi, membentuk sekitar 20% dari semua tumor jinak tulang.
Tumor giant cell (TGC) tulang merupakan sebuah lesi yang bersifat
jinak tetapi secara lokal dapat bersifat agresif dan destruktif yang ditandai
dengan adanya vaskularisasi yang banyak pada jaringan penyambung
termasuk proliferasi sel-sel mononuklear pada stroma dan banyaknya sel datia
yang tersebar serupa osteoklas.
Epidemiologi
Tumor ini mewakili sekitar 20% dari tumor jinak tulang primer.
Kebanyakan dijumpai pada usia 20-40 tahun jarang ditemukan pada anak-
anak. Insiden di Amerika Serikat dan Eropa, GCT mewakili sekitar 5% dari
seluruh tumor primer tulang dan 21% dari semua tumor jinak tulang. Di cina,
GCT ditemukan 20% merupakan tumor tulang primer. Wanita lebih sering
menderita GCT dibandingkan dengan laki-laki.

Gambar 1. Distribuasi GCT sesuai dengan umur. Gambar 2. Distribusi GCT sesuai
dengan jenis kelamin

4
2.2 KONSEP PENYAKIT GANGGUAN SISTEM MUSKULOSKELETAL
TERKAIT INFEKSI OSTEOMIELITIS

A. DEFINISI
Giant cell tumor (tumor sel raksasa) juga dikenal sebagai
osteoklastoma adalah suatu neoplasma yang mengandung sejumlah besar
sel raksasa mirip osteoklas bercampur dengan sel mononukleus. Tumor ini
juga sering terjadi, membentuk sekitar 20% dari semua tumor jinak tulang.

B. ETIOLOGI
Banyak pendapat yang berbeda mengenai neoplasma ini. Asal dari
osteoklas ini tidak diketahui; bahkan tidak ada kesepahaman yang jelas
mengenai asal sel prinsipal dari osteoklastoma merupakan sel osteoklas
(giant cell).

C. KLASIFIKASI
Enneking mengemukakan suatu sistem klasifikasi stadium TGC
berdasarkan klinisradiologis-histopatologis sebagai berikut:
1. Stage 1: Stage inaktif/laten: (i) klinis, tidak memberikan keluhan, jadi
ditemukan secara kebetulan, bersifat menetap/tidak ada proses
pertumbuhan; (ii) radiologis, lesi berbatas tegas tanpa kelainan korteks
tulang: dan (iii) histopatologi, didapat gambaran sitologi yang jinak,
rasio sel terhadap matriks rendah.
2. Stage 2 : stage aktif: (i) klinis: didapat keluhan, ada proses
pertumbuhan; (ii) radiologis: lesi berbatas tegas dengan tepi tidak
teratur, ada gambaran septa di dalam tumor. Didapati adanya bulging
korteks tulang; dan (iii) histopatologis: gambaran sitologi jinak, rasio
sel tehadap matriks berimbang.
3. Stage 3 : stage agresif: (i) klinis: ada keluhan, dengan tumor yang
tumbuh cepat; (ii) radiologis: didapatkan destruksi korteks tulang,
sehingga tumor keluar dari tulang dan tumbuh ke arah jaringan lunak
secara cepat; didapati reaksi periosteal segitiga Codman, kemungkinan
ada fraktur patologis; dan (iii) histopatologis: gambaran sitologi jinak
dengan rasio sel terhadap matriks yang tinggi, bisa didapat nukleus
yang hiperkromatik, kadang didapat proses mitosis.

5
D. MANIFESTASI KLINIS
Osteoklastoma (giant cell tumor = tumor sel raksasa) merupakan
tumor tulang yang mempunyai sifat dan kecenderungan untuk berubah
menjadi ganas dan agresif sehingga tumor ini dikategorikan sebagai suatu
tumor ganas. Tumor sel raksasa menempati urutan ke dua (1,75%) dari
seluruh tumor ganas tulang, terutama ditemukan pada umur 20-40 tahun
dan jarang sekali di bawah umur 20 tahun dan lebih sering pada wanita
daripada pria.
Gejala utama yang ditemukan berupa nyeri serta pembengkakan
terutama pada lutut dan mungkin ditemukan efusi sendi serta gangguan
gerakan pada sendi. Mungkin juga penderita datang berobat dengan gejala-
gejala fraktur (10%).6 Dapat juga terjadi pembesaran massa secara lambat.
Lebih dari tiga per empat pasien tercatat mengalami pembengkakan pada
lokasi tumor. Keluhan lain yang jarang terjadi adalah kelemahan,
keterbatasan gerak sendi dan fraktur patologis.
Pada pemeriksaan fisik dapat ditemukan massa yang keras dan
nyeri ditemukan pada lebih dari 80% pasien. Disuse Atrophy, efusi pada
persendian atau hangat pada lokasi tumor.
Bila lesi tumor terletak di tulang-tulang vertebra dapat timbul
gejala nerologis. Nyeri tekan pada pemeriksaan palpasi juga didapatkan
pada pasien. Pada pemeriksaan fisik dapat ditemukan atrofi otot dan
menurunnya pergerakan sendi. TGC pada sakrum sering menimbulkan
gejala low back pain yang meluas di kedua ekstremitas bagian bawah dan
dapat disertai gejala neurologis, gangguan berkemih atau buang air besar.

6
E. PATOFISIOLOGI
Giant cell tumor pada tulang terjadi secara spontan. Mereka tidak
diketahui apakah terkait dengan trauma, faktor lingkungan, atau diet. Pada
kasus-kasus yang jarang, mereka mungkin berhubungan dengan
hiperparatiroidisme. Dalam Beberapa penelitian pembentukan GCT ada
beberapa faktor yang menetukan, pertama yaitu adanya perubahan siklin,
dimana siklin memainkan peran penting dalam mengatur perjalanan
membagi sel melalui pos pemeriksaan penting dalam siklus sel. Karena
perubahan dari beberapa siklin, terutama siklin D1, telah terlibat dalam
perkembangan neoplasma, para peneliti memeriksa 32 kasus GCT pada
tulang panjang untuk amplifikasi gen siklin D1 dan overekspresi protein
menggunakan diferensial polymerase chain reaction dan imunohistokimia,
masing-masing.
Kedua, adanya evaluasi Immunohistokimia yang terkait dengan
ekspresi microphtalmia yang merupakan faktor transkripsi dalam lesi giant
cell. Microphtalmia terkait dengan faktor transkripsi (Mitf), anggota
subfamili heliks-loop-helix faktor transkripsi, biasanya dinyatakan dalam
oesteoklas mononuklear dan multinuklear, terlibat dalam differensiasi
terminal oesteoklas. Disfungsi aktivitas oesteoklas yang menghasilkan
ekspresi Mitf yang abnormal serta telah terlibat oesteoporosis. Sejumlah
sel giant lainnya dari berbagai jenis termasuk oesteoklas seperti sel-sel
giant terlihat dalam berbagai tumor, secara tradisional dianggap berasal
monosit, terlihat dalam berbagai tulang dan lesi extraosseus.
Ketiga adalah sel stroma. Sel stroma Fibroblastlike, yang selalu
hadir sebagai komponen dari tumor sel raksasa pada tulang (GCT), dapat
diamati dikedua sampel in vivo dan kultur. Meskipun mereka diasumsikan
untuk memicu proses kanker di GCT, histogenesis sel stroma GCT adalah
kurang diketahui. Hal ini diketahui bahwa sel batang mesenchymal (MSC)
dapat berkembang ke oesteoblas. Bukti telah disajikan bahwa sel-sel
stroma GCT juga dapat mengembangkan untuk oesteoblas. Sebuah
koneksi antara MSC dan sel stroma GCT dicari dengan menggunakan 2
pendekatan laboratorium yang berbeda.

7
F. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Gambaran Radiologi
a. X-RAY
Gambaran radiologi GCT pada tulang panjang melibatkan
metafisis dan epifisis yang meluas ke permukaan sendi. Lesi
tampak radiolusen, sering disertai trabekulasi dan berbatas jelas.
Korteks tulang menipis dan kadang-kadang menggembung
(ballooning). Gambaran khas GCT pada X-ray adalah soap bubble
appearnce dan kadng-kadang membentuk gambaran egg shell.
Sebagian besar lesi bersifat eksentrik dan dekat dengan permukaan
persendian.

b. CT-SCAN
Pemeriksaan CT-scan membantu menentukan luas dekstruksi
korteks secara tepat dan lokasi optimal untuk cortical window.

c. MRI
Pemeriksaan MRI diindikasikan ketika tumor telah mengikis
korteks dan dicurigai adanya keterlibatan neurovaskular.
Pemeriksaan MRI dapat membantu mengevaluasi penetrasi
subkondral.

d. Bone Scane
Bone scan akan menunjukkan penurunan ambilan radioisotop
di tengah lesi (doughnut sign).

2. Biopsy
Pemeriksaan biopsi dapat dilakukan dengan metode frozen
section bersamaan dengan tindakan operasi maupun secara terpisah.
Sediaan diambil dari area yang nekrosis dan hemoragis. Pada
pemeriksaan histologi didapatkan gambaran giant cell berinti banyak
dengan sel stroma yang homogen, berinti satu yang bulat atau oval.
Nukleus sel stroma yang identik dengan nukleus giant cell merupakan
gambaran histologi yang khas pada GCT yang membedakan dengan
kondisi lain yang mengandung giant cell.

8
G. PENATALAKSANAAN
Penanganan giant cell tumour adalah operasi, baik dengan kuratase
intralesi, maupun eksisi luas.
1. Stage 1 atau 2
Untuk lesi stage 1 atau 2, tujuan terapi adalah mengangkat lesi
dengan tetap menyelamatkan sendi yang terlibat. Terapi yang dipilih
adalah kuretase. Namun karena tingginya angka rekurensi post
kuretase, yaitu sekitar 22 hingga 52 %, maka dilakukan ajuvan terapi
dengan menggunakan nitrogen cair, phenol, atau methylmethacrylate.
Dengan penambahan ajuvan terapi, kesuksesan kontrol lokal
meningkat menjadi 85 sampai 90 %. Eksisi dilakukan dengan
membuat cortical window yang cukup luas untuk mengakses setiap
sudut dari lesi intraoseus.
Kryoterapi dengan nitrogen cair dapat menyebabkan kematian
sel tumor 2 cm dari batas kavitas dan formasi krristal es intralsel
dipertimbangkan menjadi mekanisme utama nekrosis sel. Komplikasi
penggunaan nitrogen cair dapat berupa ekstensif nekrosis dri tulang
dan jaringan lunak sekitar dan dapat mempresipitasi fraktur patologis
atau nekrosis kulit. Penggunaan phenol secara lokal membantu
mengeliminasi sel tumor melalui mekanisme nekrosis koagulasi non
spesifik dan lebih aman dibanding nitrogen cair karena phenol hanya
menyebabkan nekrosis 1,5 mm pada tulang. Kavitas yang terbentuk
dari kuretase ditutup dengan menggunakan methacrylate atau bone
grafts setelah pemberian terapi adjuvan.

9
2. Stage 3 atau lesi rekuran
Kategori ini termasuk fraktur patologis atau destruksi sendi.
Eksisi luas diindikasikan pada :
a. Tumor stage 3 ekstensif tanpa support mekanik dari tulang yang
tersisa
b. Lesi rekuren
c. GCT yang disertai fraktur patologis dengan intraartikular
dispacement
d. GCT yang terletak di proximal fibula atau distal ulna
e. Tumor di distal radius dengan ekstensi extraoseous
Untuk keadaan rekureni lokal yang masif, transformasi
maligna, atau infeksi, amputasi merupakan pilihan terapi. Adapun
penggunaan radioterapi pada tumor yang tidak dapat direseksi masih
dipertimbangkan karena dapat menyebabkan transformasi maligna.

10
2.3 ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN SISTEM
MUSKULOSKELETAL TERKAIT KEGANASAN OSTEOMIELITIS

A. PENGKAJIAN
1. Anamnesis
Dapatkan riwayat kesehatan, proses penyakit, bagaimana
keluarga dan pasien mengatasi masalahnya dan bagaimana pasien
mengatasi nyeri yang dideritanya. Berikan perhatian khusus pada
keluhan misalnya : keletihan, nyeri pada ekstremitas, berkeringat pada
malam hari, kurang nafsu makan, sakit kepala, dan malaise.

2. Pemeriksaan Fisik
a) Teraba massa tulang dan peningkatan suhu kulit di atas massa serta
adanya pelebaran vena.
b) Pembengkakan pada atau di atas tulang atau persendian serta
pergerakan yang terbatas.
c) Nyeri tekan / nyeri lokal pada sisi yang sakit :
- mungkin hebat atau dangkal
- sering hilang dengan posisi flexi
- anak berjalan pincang, keterbatasan dalam melakukan aktifitas,
tidak mampu menahan objek berat
d) Kaji status fungsional pada area yang sakit, tanda-tanda inflamasi,
nodus limfe regional

3. Pemeriksaan Diagnostik
a) Radiografi
Adalah penggunaan sinar pengionan (sinar X, sinar gama)
untuk membentuk bayangan benda yang dikaji pada film.
b) Tomografi
Adalah sebuah metode penggambaran medis menggunakan
tomografi di mana pemrosesan geometri digunakan untuk
menghasilkan sebuah gambar tiga dimensi bagian dalam sebuah
objek dari satu seri besar gambar sinar-X dua dimensi diambil
dalam satu putaran axis

11
c) Pemindaian tulang,
d) Radioisotop, atau biopsi tulang bedah,
e) Tomografi paru,
f) Aspirasi sumsum tulang (sarkoma ewing).

B. DIAGNOSA MEDIS
1. Nyeri akut berhubungan dengan proses patologik dan pembedahan.
2. Koping tidak efektif berhubungan dengan rasa takut tentang ketidak
tahuan, persepsi tentang proses penyakit, dan sistem pendukung tidak
adekuat.
3. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan status
hipermetabolik berkenaan dengan kanker.

12
C. INTERVENSI
No Diagnose Tujuan dan kriteria hasil Intervensi
1 Nyeri akut berhubungan Setelah dilakukan tindakan 1. Pantau tingkat nyeri pada punggung, nyeri terlokalisasi
dengan proses patologik dan keperawatan selama 2x24 jam atau menyebar pada abdomen atau pinggang. Skala
pembedahan. diharapkan nyeri berkurang nyeri 7-9 yaitu nyeri berat.
2. Rencanakan pada klien tentang periode istirahat
dengan kriteria hasil :
adekuat dengan berbaring dalam posisi telentang
1. Mengikuti aturan farmakologi
selama kurang lebih 15 menit.
yang ditentukan.
3. Ajarkan pada klien tentang alternative lain untuk
2. Mendemontrasikan penggunaan
mengatasi dan mengurangi rasa nyerinya.
keterampilan relaksasi dan 4. Kolaborasi dengan dokter dan farmasi dalam
aktifitas hiburan sesuai indikasi pemberian analgesic.
situasi individu.
2 Koping tidak efektif Setelah dilakukan tindakan 1. Motivasi pasien dan keluarga untuk mengungkapkan
berhubungan dengan rasa takut keperawatan selama 3x24 jam perasaan.
tentang ketidak tahuan, diharapkan pasien mampu 2. Berikan lingkungan yang nyaman dimana pasien dan
persepsi tentang proses mendemonstrasikan penggunaan keluarga merasa aman untuk mendiskusikan perasaan
penyakit, dan sistem mekanisme koping efektif dan atau menolak untuk berbicara.
pendukung tidak adekuat. partisipasi aktif dalam aturan 3. Pertahankan kontak sering dengan pasien dan bicara
pengobatandengan, dengan kriteria dengan menyentuh pasien.
hasil : 4. Berikan informasi akurat, konsisten mengenai

13
1. Pasien tampak rileks. prognosis.
2. Melaporkan berkurangnya
ansietas.
3. Mengungkapkan perasaan
mengenai perubahan yang
terjadi pada diri klien
3 Nutrisi kurang dari kebutuhan Setelah dilakukan tindakan 1. Catat asupan makanan setiap hari
tubuh berhubungan dengan keperawatan selama 3x24 jam 2. Ukur tinggi, berat badan, ketebalan kulit trisep setiap
status hipermetabolik diharapkan pasien mengalami hari.
berkenaan dengan kanker. peningkatan asupan nutrisi yang 3. Berikan diet TKTP dan asupan cairan adekuat.
adekuat, dengan kriteria hasil : 4. Pantau hasil pemeriksaan laboratorium sesuai indikasi.
1. Penambahan berat badan
2. Bebas tanda malnutrisi.
3. Nilai albumin dalam batas
normal ( 3,5 5,5 g% ).

14
2.4 PATIENT SAFETY
Keselamatan pasien (Pasient safety) adalah suatu sistem dimana
membuat asuhan keperawatan pada pasien lebih aman. Sistem tersebut
meliputi asesmen resiko, identifikasi dan pengelolaan hal yang berhubungan
dengan resiko pasien, pelaporan dan analisis insiden, kemampuan belajar dari
insiden dan implementasi solusi untuk meminimalkan timbulnya resiko
(Paduan Nasional Keselamatan Pasien Rumah Sakit, Depkes R.I 2006).
Tujuan pasient safety menurut Joint Commission International :
1. Mengidentifikasi pasien dengan benar.
2. Meningkatkan komunikasi secara efektif.
3. Meningkatkan keamanan dari obat yang perlu diwaspadai.
4. Memastikan benar tempat, benar prosedur, dan benar pembedahan pasien.
5. Mengurangi risiko infeksi dari pekerjaan kesehatan
6. Mengurangi risiko terjadinya kesalahan yang lebih buruk pada pasien.

2.5 LEGAL ETIK PADA GANGGUAN SISTEM MUSKULOSKELETAL


PADA LANSIA
Prinsip Prinsip Legal Dan Etik dalam keperawatan adalah :
1. Autonomi ( Otonomi )
Prinsip otonomi didasarkan pada keyakinan bahwa individu mampu
berpikir logis dan mampu membuat keputusan sendiri. Orang dewasa
dianggap kompeten dan memiliki kekuatan membuat sendiri, memilih dan
memiliki berbagai keputusan atau pilihan yang harus dihargai oleh orang
lain. Prinsip otonomi merupakan bentuk respek terhadap seseorang, atau
dipandang sebagai persetujuan tidak memaksa dan bertindak secara
rasional. Otonomi merupakan hak kemandirian dan kebebasan individu
yang menuntut pembedaan diri. Praktek profesional merefleksikan
otonomi saat perawat menghargai hak-hak klien dalam membuat
keputusan tentang perawatan dirinya.
2. Beneficience ( Berbuat Baik )
Beneficience berarti, hanya melakukan sesuatu yang baik. Kebaikan,
memerlukan pencegahan dari kesalahan atau kejahatan, penghapusan
kesalahan atau kejahatan dan peningkatan kebaikan oleh diri dan orang

15
lain. Terkadang, dalam situasi pelayanan kesehatan, terjadi konflik antara
prinsip ini dengan otonomi.
3. Justice ( Keadilan )
Prinsip keadilan dibutuhkan untuk tercapai yang sama dan adil
terhadap orang lain yang menjunjung prinsip-prinsip moral, legal dan
kemanusiaan. Nilai ini direfleksikan dalam prkatek profesional ketika
perawat bekerja untuk terapi yang benar sesuai hukum, standar praktek
dan keyakinan yang benar untuk memperoleh kualitas pelayanan
kesehatan.
4. Non-maleficience ( Tidak Merugikan )
Prinsip ini berarti tidak menimbulkan bahaya/ cedera fisik dan
psikologis pada klien.
5. Veracity ( Kejujuran )
Prinsip ini berarti penuh dengan kebenaran. Nilai diperlukan oleh
pemberi pelayanan kesehatan untuk menyampaikan kebenaran pada setiap
klien dan untuk meyakinkan bahwa klien sangat mengerti. Prinsip ini
berhubungan dengan kemampuan seseorang untuk mengatakan kebenaran.
6. Fidellity (Metepati Janji)
Prinsip ini dibutuhkan individu untuk menghargai janji dan
komitmennya terhadap orang lain. Perawat setia pada komitmennya dan
menepati janji serta menyimpan rahasia pasien.
7. Confidentiality ( Kerahasiaan )
Aturan dalam prinsip kerahasiaan adalah informasi tentang klien harus
dijaga privasi klien. Segala sesuatu yang terdapat dalam dokumen catatan
kesehatan klien hanya boleh dibaca dalam rangka pengobatan klien.

16
8. Accountability ( Akuntabilitas )
Akuntabilitas merupakan standar yang pasti bahwa tindakan seorang
professional dapat dinilai dalam situasi yang tidak jelas atau tanpa
terkecuali.
9. Informed Consent
Informed Consent terdiri dari dua kata yaitu informed yang
berarti telah mendapat penjelasan atau keterangan (informasi), dan
consent yang berarti persetujuan atau memberi izin. Jadi informed
consent mengandung pengertian suatu persetujuan yang diberikan setelah
mendapat informasi. Dengan demikian informed consent dapat
didefinisikan sebagai persetujuan yang diberikan oleh pasien dan atau
keluarganya atas dasar penjelasan mengenai tindakan medis yang akan
dilakukan terhadap dirinya serta resiko yang berkaitan dengannya.

17
BAB III
PEMBAHASAN

Tumor giant cell tumor (TGC) tulang adalah tumor jinak yang mempunyai
sel yang sulit dibedakan. Jenis sel TGC yang sebenarnya tidak diketahui. Saat ini
karakteristik anatomi dari TGC masih merupakan tantangan bagi para ahli bedah.
TGC merupakan tumor jinak yang sangat berpotensi untuk bermetastase. TGC
lebih banyak dijumpai di Asia Tenggara dibandingan dengan negara Barat.
Pengobatan untuk osteomeilitis pada dasarnya antara lain paliatif dan pendekatan
kuratif. Pendekatan kuratif untuk osteomeilitis kronis memiliki tujuan yaitu :
mengurangi rasa sakit, mempertahankan tungkai dan fungsi, penangkapan infeksi.
TGC diidentifikasikan sebagai suatu komponen histologis dari adanya reaksi
tubuh akibat rangsangan benda asing, materi kristalin (seperti monosodium urat),
agen penyebab infeksi (bakteri dan jamur), ketidakseimbangan hormonal
(hiperparathyroidisme), dan neoplasma; namun penyebabnya belum dapat
ditentukan.(7) Menurut pendapat yang baru, TGC berasal dari unsur selular
sumsum tulang, di mana sel raksasanya merupakan fusi dari sel mononuklear.(8)
Berbagai modalitas pencitraan dan histopatologis akan sangat membantu
dalam mendiagnosis TGC dan membedakannya dari tumor jinak tulang lainnya.
Dalam makalah ini kami akan mengemukakan TGC dalam berbagai pencitraan
serta klasifikasinya untuk membedakan dengan tumor jinak tulang lainnya.
TGC tulang merupakan tumor tulang primer yang bersifat jinak tetapi secara
lokal dapat bersifat agresif dan destruktif . Penyebabnya belum dapat ditentukan.
Tumor ini sering terjadi pada wanita dibandingkan pria dengan usia 20-40 tahun,
karena biasanya tumor ini terjadi tulang yang sudah matur. Enam puluh persen
dari tumor ini terjadi pada tulang panjang, dan hampir seluruhnya terletak pada
ujung tulang di persendian. Umumnya tumor ini terjadi pada proksimal tibia,
distal femur, distal radius, dan proksimal humerus.

18
DAFTAR PUSTAKA

Hawks, Jane Hokanson. Joyke M. Black. (2014). Keperawatan Medical Bedah


Management Klinis Untuk Hasil Yang Diharapkan Ed 08 buku
1.Singapore : Elsevier.
Judith, W. M. (2015). Diagnosis Keperawatan : NANDA, Intervensi NIC, Hasil
NOC Ed 10. Jakarta : EGC.
Taylor, Cynthia M. (2010). Diagnosis Keperawatan : Dengan Asuhan
Keperawatan Ed 10. Jakarta : EGC.
David dan Fajar Arifin. (2006). Pengobatan Mutakhir Giant Cell Tumor Tulang
(Osteoklastoma). Vol 25.no 2

19