Anda di halaman 1dari 16

Macam-Macam Restorasi Rigid Inlay/Onlay

a. Inlay/Onlay Logam
Komposisi dari inlay atau onlay yang terbuat dari logam terdiri atas beberapa macam, seperti Au
(Gold) 83%, Ag (Silver) 10%, Cu (Tembaga) 6% dan Pd (Paladium) 0,5%.
Kelebihan
- Resistensi kuat dan lebih balik dibandingkan dengan komposit.
- Biokompatibilitas terhadap jaringan baik.
- Dapat memperkuat jaringan gigi yang tersisa. Gigi yang karies cenderung menyisakan jaringan
gigi yang lemah, dengan adanya restorasi dari logam dapat memperkuat jaringan gigi tersebut.
- Karena proses pembuatannya dilakukan secara ekstraoral (teknik indirect), polishing lebih
mudah.
- Dapat membentuk kontur gigi yang lebih baik.
- Lebih murah dibandingkan dengan restorasi rigid dari porselen.
Kekurangan
- Membutuhkan kunjungan berkala.
- Apabila rusak, lebih sulit diperbaiki.
- Lebih mahal dibandingkan restorasi direct.
- Teknik yang digunakan lebih rumit.
- Secara estetik buruk, karena tidak sewarna dengan gigi asli.

b. Inlay/Onlay Resin Komposit


Perbedaan resin komposit yang digunakan sebagai restorasi plastis dan inlay/onlay adalah cara
manipulasinya dan sifat-sifatnya. Resin komposit sebagai inlay dan onlay dimanipulasi secara langsung
dan tidak langsung di rongga mulut (direct and indirect technique). Teknik indirect ini menyebabkan
resin komposit dapat dipolimerisasi dua kali. Polimerisasi pertama dilakukan dengan menggunakan sinar
tampak (visible light) dengan panjang gelombang 470 nm. Polimerisasi kedua dilakukan dengan
menggunakan bantuan alat spesifik yang bentuknya seperti oven, yang telah dimodifikasi dengan
tambahan alat pemancar sinar, pengatur suhu, serta tekanan. Suhu yang digunakan adalah 250 F selama
7 menit.
Adanya polimerisasi kedua ini menyempurnakan polimerisasi pada monomer-monomer yang
awalnya belum terpolimerisasi seluruhnya. Hal ini menurunkan resiko polymerization shrinkage
sehingga mengurangi terjadinya microleakage atau kebocoran mikro di daerah tepi. Sifat fisik resin
komposit seperti kekuatan tahan tekan (compressive strength) dan ketahanan aus (wear resistance) akan
semakin meningkat dengan menurunnya kebocoran mikro ini. Selain itu, sifat estetisnya tetap baik, dan
tidak berbeda dengan resin komposit sebagai restorasi plastis.
Kelebihan
- Estetik sewarna dengan gigi asli.
- Preparasi tidak terlalu rumit.
- Lebih ekonomis dibandingkan dengan restorasi indirek lain.
Kekurangan
- Kurang tahan lama dan mudah aus dibandingkan restorasi rigid berbahan logam ataupun
porselen.
- Jika menggunakan teknik indirek memerlukan kunjungan tambahan.
- Lebih mahal dibandingkan restorasi plastis komposit, karena memerlukan instrument khusus
maupun proses laboratorium.

c. Inlay/Onlay Porselen
Komposisi Porselen
Komposisi porselen terdiri dari kaolin, feldspar, silika, flux, dan logam pewarna.
- Kaolin
Kaolin untuk mempertahankan kepadatan dan kekuatan porselen agar dapat dibentuk sebelum
dibakar.Makin banyak kaolin maka makin gelap porselen karena kaolin bersifat memberi warna
gelap pada porselen, sehingga akan mempengaruhi estetik dari porselen.
- Feldspar
Feldspar memberikan warna transparan pada porselen dan berfungsi sebagai flux untuk
mengikat kaolin dengan silika.
- Silika
Silika digunakan dalam porselen berguna sebagai penambah kekuatan.Bahan ini melengkapi
bahan dasar dan mempengaruhi warna pada porselen serta sebagai bahan utama dalam porselen.
- Flux
Flux dicampurkan pada porselen dalam pembuatannya pada temperatur yang rendah.Flux
yang dicampurkan pada porselen terdiri dari sodium karbonat, kalsium karbonat, natrium
karbonat, dan boraks.Flux berfungsi untuk memperendah temperatur penyatuan.
- Bahan Pewarna
Bahan ini ditambahkan agar memberi warna pada porselen supaya sesuai dengan warna gigi.
Bahan pewarna dalam porselen adalah :
o Titanium untuk memberikan warna kuning dan dapat digunakan untuk membuat bahan
menjadi lebih opak.
o Kobalt untuk memberi warna kebiru-biruan.
o Besi untuk memberi warna kecoklat-coklatan.
o Timah dan emas untuk memberi warna merah jambu.
o Emas metalik untuk memberi warna bayangan merah kecoklatan.
o Platina untuk memberi warna keabu-abuan.
Sifat-sifat Porselen
- Ekspansi termal
Porselen memiliki ekspansi termal yang mendekati ekspansi termal dari substansi gigi, yaitu
sekitar 6,4 7,8 x 10-6 mm/mmoC.
- Estetis
Pewarna porselen terdiri dari sediaan bubuk metal.Pewarnaan yang terjadi pada porselen
tergantung pada oksida logam yang digunakan.Penambahan zat warna yang tepat akan
menghasilkan warna translusen yang menyerupai warna gigi. Porselen yang telah dipoles
memiliki permukaan yang halus, sehingga plak dan debris tidak mudah menempel.
- Kekuatan
Porselen memiliki comprsessive strength yang tinggi dibanding dengan tensil strength atau
transverse strength.Porselen membentuk restorasi yang tahan lama dan tidak korosi atau larut.
- Kekerasan
Memiliki kekerasan yang sangat bagus dan merupakan salah satu material yang mempunyai
kekerasan terbaik dilihat dari knoop Hardness Number yaitu 460 kg/mm2 dibandingkan alloy
emas 22K.
- Biokompatible
Porselen dapat beradaptasi dengan baik terhadap perubahan temperatur mulut dan tidak larut
dalam saliva dan tidak mengiritasi jaringan mulut.Pada bahan ini tidak ditemukan efek toksiknya
dan tidak menimbulkan reaksi alergi bagi si pemakai.
Kelebihan
- Memiliki estetik yang baik karena warnanya dapat disesuaikan dengan warna gigi asli pasien.
- Resistensi terhadap pemakaian karena porselen miliki kekuatan yang bagus, sehingga cukup lama
dapat bertahan di rongga mulut.
- Biokompatibilitas dan respon jaringannya baik.
- Mempunyai kemampuan untuk menguatkan struktur gigi yang tersisa.
- Dapat mengembalikan anatomis gigi
- Sifat fisis yang adekuat untuk rekonstruksi oklusi.
- Polimerisasi shrinkage tidak ditemukan.
Kekurangan
- Biayanya mahal
- Waktu kunjungan lama
- Memerlukan keterampilan yang tinggi
- Dapat menyebabkan keausan gigi antagonis dan restorasi komposit antagonis.
- Kesulitan untuk polishing intraoral.
- Potensial perbaikan yang rendah.

d. Inlay/Onlay Porselen Fused to Metal


Restorasi PFM adalah tipe porselen gigi yang paling umum digunakan. Berdasarkan perbedaan
temperatur ada tiga tipe porselen gigi yaitu; regular felspathic porcelain (temperatur tinggi 1200-
1400C), aluminous porcelain (temperatur sedang 1050-1200C), dan metal bonding porcelain
(temperatur rendah 800-1050 C). PFM merupakan metal bonding porcelain. PFM terdiri atas beberapa
lapisan yang difusikan secara kimia pada dasar kerangka metal. Substruktur metal mendukung keramik
dan membuat keramik bertahan lama terhadap beban dari kekuatan mulut.
Prinsip Umum Restorasi Metal Keramik
Restorasi metal keramik harus memenuhi syaratsyarat, antara lain, adalah sebagai berikut :
Metal dan keramik mempunyai ikatan yang kuat.
Metal dan keramik mempunyai thermal expansi yang sesuai.
Keramik yang dipakai relatif mempunyai low fusing.
Metal harus tahan terhadap deformasi pada saat keramik mencapai temperatur fusing. Pada saat
fusing, keramik harus dapat bersatu dengan logam dan berikatan tanpa merubah bentuk logam. Pada
saat mendingin, baik logam maupun keramik akan mengalami kontraksi yang akan menimbulkan
retak atau bahkan terlepasnya keramik dari logam.
Bahanbahan yang dipakai harus bersifat biokompatibel terhadap jaringan.
Pada prinsipnya, sifatsifat restorasi metal keramik ditentukan oleh keadaan interfacenya. Bila
didapati ikatan yang rapat antara metal dengan keramik maka akan terjadi penurunan energi bebas yang
dapat memisahkan kedua komponen atau sebaliknya.

Perlekatan Logam pada Porselen


Dua jenis ikatan utama:
a. Chemical bonding
b. Mechanical interlocking
Kegagalan pada Restorasi Kramik Metal
a. Mayoritas kasus yang terjadi oleh karena
- Kegagalan biologis: fraktur gigi, periodontal disease, karies sekunder
- Fraktur prothesisi dan kegagalan estetik, 20% dari kasusu retretment
b. Fraktur pada protesis (crown) terletak pada adhesif kramik coping.

Kelebihan
- Warna dapat disesuaikan dengan warna gigi.
- Permukaan licin seperti kaca.
- Daya kondensasinya rendah dan toleransi jaringan lunak baik.
Kekurangan
- Ketahanan terhadap benturan rendah.
- Kurang dapat beradaptasi dengan dinding kavitas.
- Dalam proses pembuatannya membutuhkan tungku khusus.

LO 3. Indikasi dan Kontraindikasi Restorasi Rigid Inlay/Onlay

SECARA UMUM
A. INLAY
Indikasi dan kontraindikasi inlay secara umum antara lain sebagai berikut :
INDIKASI KONTRAINDIKASI
Baik untuk kavitas yang kecil/ karies Oral hygiene pasien buruk.
proksimal lebar Pasien dengan insidensi karies yang tinggi.
Bila diperlukan untuk restorasi klamer dari
suatu gigi tiruan (pegangan), misalnya:
inlay bukal atau disto/mesial inlay yang
perlu untuk dibuatkan Rest Seat, untuk
gigi tiruan.
Kavitas dengan bentuk preparasi > 1,5
jarak central fossa ke puncak cusp
Mengembalikan estetik pada restorasi gigi
posterior yang mengalami kerusakan
akibat adanya karies sekunder
Restorasi meliputi kavitas pada oklusal
Alternatif restorasi rigid yang gagal.

B. ONLAY
Indikasi dan kontraindikasi onlay secara umum antara lain sebagai berikut :
INDIKASI KONTRAINDIKASI
Pengganti restorasi amalgam yang rusak. Oral hygiene pasien buruk.
Kalau restorasi dibutuhkan sebagai Pasien dengan insidensi karies yang tinggi.
penghubung tonjol bukal dan lingual. Mahkota klinis gigi pendek, pada gigi
Restorasi karies interproksimal gigi vital.
posterior. Karies yang sangat luas melibatkan bukal,
Restorasi gigi posterior yang menerima palatal, lingual, dan oklusal.
tekanan oklusal yang kuat.
Complete crown
Gigi yang rusak parah karena karies yang
melebar hingga melibatkan cusp.
Didesain untuk memperkuat jaringan yang
tersisa.
Memperbaiki fungsi oklusi.
Kemungkinan bisa terjadi fraktur cusp
apabila tidak di restorasi rigid onlay.

INLAY / ONLAY LOGAM


Indikasi dan kontraindikasi inlay / onlay logam antara lain sebagai berikut :
INDIKASI KONTRAINDIKASI
Untuk karies yang besar dan dalam, Oral hygiene pasien buruk.
terutama yang meluas sampai ke Pasien alergi logam.
proksimal. Pasien dengan insidensi karies yang tinggi.
Sebagai penyangga bridge.
Gigi yang mengalami abrasi yang luas
atau pada karies yang lebar meskipun
masih dangkal.
Gigi yang menerima beban kunyah yang
besar.
Keadaan ekonomi pasien hanya mampu
dilakukan restorasi rigid dengan bahan
logam, karena logam merupakan restorasi
yang paling ekonomis dibandingkan
porselen dan komposit.
Pasien menginginkan untuk direstorasi
inlay / onlay logam.
Ketika gigi antagonisnya telah direstorasi
porselen.
Ketika gigi antagonis atau gigi yang
berdekatan dari gigi yang akan direstorasi
sudah direstorasi dengan bahan alloy
logam, gigi yang direstorasi diindikasikan
untuk menggunakan restorasi logam yang
sama, karena hal tersebut dianggap
mampu menghindari aktifitas elektrik dan
korosi yang kadang-kadang terjadi atara
alloy logam yang berbeda (efek galvanis)
(contoh: alloy logam dan alloy emas).

INLAY / ONLAY PORSELEN


Indikasi dan kontraindikasi inlay / onlay porselen antara lain sebagai berikut :
INDIKASI KONTRAINDIKASI
Diindikasikan pada kavitas kelas IV Oral hygiene pasien buruk.
Black. Pasien dengan insidensi karies yang tinggi.
Kasus dimana faktor estetik lebih Pada pasien yang mempunyai kebiasaan
diperhatikan. bruxism.
Daerah yang mengalami erosi yang
disebabkan oleh cara menyikat gigi yang
salah.
Kavitas yang besar di permukaan
proksimal gigi anterior.

INLAY / ONLAY PORCELAIN FUSE TO METAL (PFM)


Indikasi dan kontraindikasi inlay / onlay porcelain fuse to metal antara lain sebagai berikut :
INDIKASI KONTRAINDIKASI
Restorasi pada gigi posterior yang Oral hygiene pasien buruk.
membutuhkan kekuatan dan estetik. Pasien dengan insidensi karies yang tinggi.
Restorasi kavitas klas II yang dalam dan Alergi logam.
meluas sampai CEJ. Pada pasien yang mempunyai kebiasaan
Keadaan sosial ekonomi pasien bruxism.
memungkinkan.

INLAY / ONLAY RESIN KOMPOSIT


Indikasi dan kontraindikasi inlay / onlay resin komposit antara lain sebagai berikut :
INDIKASI KONTRAINDIKASI
Diindikasikan pada gigi vital maupun non Oral hygiene pasien buruk.
vital yang lebih mementingkan faktor Pasien dengan insidensi karies yang tinggi.
estetik. Pada pasien yang mempunyai kebiasaan
Pasien menginginkan untuk dilakukan bruxism.
restorasi rigid resin komposit. Apabila gigi antagonisnya telah dilakukan
Pada pasien kelas menengah. restorasi porselen. Karena akan
Pada gigi yang tidak memiliki beban mengakibatkan abrasi pada restorasi
kunyah yang besar. kompositnya.

LO 4. Tahapan Pembuatan Restorasi Rigid Inlay/Onlay

Ada Beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum melakukan preparasi inlay/onlay adalah sebagai
berikut:
Apabila terdapat penyakit periodontal harus dihilangkan terlebih dahulu
Melakukan foto rontgen untuk mengetahui apakah terdapat kelainan atau tidak
OH harus baik
Dalam laporan ini akan dibahas 3 prinsip preparasi untuk beberapa bahan yang digunakan dalam
restorasi inlay/onlay, yakni :
A. Inlay/Onlay logam
B. Inlay/Onlay Porselen
C. Inlay/Onlay Porcelain Fused To Metal

A. Tahapan Preparasi pada Inlay/ Onlay Logam


1. Teknik Preparasi
Teknik preparsi dari inlay/onlay hampir sama dengan prinsip preparasi pada umumnya. Namun,
terkadang inlay/onlay digunakan apabila terjadi karies sekunder yang sudah melibatkan cusp.
Tahapan preparasi sebagai berikut:
a) Membuka akses dengan membongkar restorasi yang lama dengan round bur
b) Menghlangkan jaringan karies sekunder dengan roundbur ataupun ekskavator
Preparasi ini tetap memperhatikan prinsip dari preparasi pada umumnya, yaitu resistensi, retensi,
convinience dan extension for prevention. Ditambah syarat-syarat khusus dari preparasi untuk
restorasi rigid dari logam antara lain:
a. Outline form kavitas sempit dan bersudut tajam
b. Line angle tajam pada alas kavitas
c. Dinding kavitas tegak atau divergen 3 - 5 ke oklusal
d. Tidak ada undercut
e. Short bevel 45 pada cavosurface line angle, agar inlay/onlay dapat diburnish sehingga
mendapatkan adaptasi yang baik
f. Reverse bevel pada gingivoaxial line angle.
2. Memeriksa kerentanan cusp
Tahap ini merupakan aspek yang penting dan harus diperhatikan karena bagian oklusal gigi akan
mendapatkan tekanan pengunyahan maka harus dilihat dan diperhatikan bagaimana kerentanan dari
cusp tersebut. Dengan tahap ini kita juga bisa memilih bahan yang tepat untuk restorasi inlay/ onlay
yang akan digunakan.
3. Memeriksa undercut
Pada restorasi rigid (inlay atau onlay), undercut bukan merupakan bentuk retensi. Retensi dari
restorasi rigid didapat dari adanya bevel pada cavosurface. Sehingga setiap undercut ditutup dengan
menggunakan liner.
4. Memberi liner kavitas.
Dasar kavitas diberi liner dan seringkali liner tersebut adalah kalsium hidroksida. Semen ini
digunakan juga untuk menutup undercut sehingga diharapkan dasar cavitas akan rata dan licin.
Semen ionomer kaca juga seringkali digunakan, bahan ini bekerja optimal karena memeiliki sifat
adesif dengan dentine dan mudah diadaptasikan dalam kavitas.
5. Pencetakan
Pencetakan bisa secara menyeluruh ataupun hanya sebagian, namun tetap kedua regio dilakukan
pencetakan untuk mengetahui kontak dengan gigi antagonisnya. Bahan yang sering digunakan adalah
elastomer karena lebih praktis dibanding bahan lain.
6. Restorasi sementara

B. Tahapan Preparasi pada Inlay/Onlay Porselen


Inlay atau onlay porselen mempunyai permukaan dalam (pit dan fissure) yang dietsa atau
sekurang-kurangnya dikasarkan. Inlay disemenkan dengan semen komposit terhadap email yang sudah
dietsa atau ke basis semen ionomer kaca yang dietsa. Karies dan restorasi yang lama harus dibuang
tetapi basis ionomer kaca dibuat cukup tebal. Bahan porselen ini berfungsi untuk memberikan lapisan
permukaan oklusal yang tahan terhadap keuasan.
Prinsip desain dari kavitasnya yaitu harus masih ada cukup email atau permukaan ionomer kaca
untuk dietsa dan tepinya tidak dibevel. Teknik pencetakannya sama untuk logam tuang indirek. Inlay
dikembalikan dari laboratorium dengan permukaan dalam yang telah dietsa menggunakan asam
hidrofluorik atau hanya dibiarkan kasar setelah dilepas dari die refraktori dengan cara sandblasting.
Resin kemudian diaplikasikan menurut petunjuk pabrik. Pada pemakaian beberapa semen perekat reaksi
pengerasan bisa dipercepat dengan penyinaran dan reaksi pengerasan akan berlanjut secara kimia.
Kelebihan semen akan lebih mudah dibersihkan pada saat semen belum mengeras sempurna. Jika semen
sudah mengeras, isolator karet dilepas dan oklusi dicek dengan kertas artikulasi serta diasah dengan bur
intan kecil. Permukaan yang diasah bisa dipoles dengan disk pemoles komposit atau dengan roret dan
poin yang khusus dibuat untuk memoles porselen.

Kunjungan Pertama
a) Akses Ke Karies
Tahap pertama preparsi adalah memperoleh akses ke dentin karies.
b) Menentukan Luas Karies
Jika akses telah diperoleh, kavitas bisa dilebarkan kearah bukopalatal sampai dicapai pertautan
email-dentin yang sehat. Hal ini menentukan lebar boks arah bukopalatal.
c) Desain Preparasi Kavitas
Desain preparasi kavitas harus memastikan retensi seperti dinding vertikal kavitas utama yang
hampir sejajar dan sedut divergensi dinding bukal dan lingual pada bagian proksimal masing-masing
adalah 50-100. Jika sudut kurang 50, struktur gigi yang masih ada berada pada keadaan yang terlalu
banyak tekanan selama prosedur sementasi dan jika sudut lebih dari 100, retensinya bermasalah.
d) Keyway
Keyway dibuat dengan kemiringan minimal sekitar 100 memakai bus fisur kuncup dan dijaga
agar sumbu bur sejajar dengan sumbu gigi. Lebar keyway diantara tonjol merupakan daerah yang
paling sempit dan melebar kearah yang berlawanan dengan letak karies aproksimalnya dan dengan
mengikuti kontur fisurnya. Setelah membuat keyway, kavitas dikeringkan untuk memeriksa ada
tidaknya sisa karies dibagian ini dan bahwa kavitasnya sedikit membuka dengan sumbu yang benar.
Jika kemiringan dinding tidak tepat, maka ketidaktepatan itu harus diperbaiki.
e) Boks Aproksimal
Kini perhatian dapat dialihkan kembali ke lesi aproksimalnya. Dibagian ini kavitas harus di
dalamkan memakai bur bulat kecepatan rendah dan dengan cara yang sama dengan jalan membuang
dentin karies pada daerah pertautan email-dentin. Ketika dentin karies pada pertautan email-dentin
telah dibuang, dinding email dapat dipecahkan dengan pahat pemotong tepi gingiva. Preparasi dibuat
miring sebesar 10 derajat dengan bur fisur runcing. Gigi tetangga dilindungi dengan lempeng matriks
untuk melindunginya dari kemungkinan terkena bur. Menjaga agar sumbu bur sejajar dengan waktu
pembuatan keyway merupakan hal yang sangat penting sehingga bagian boks dan keywaynya
mempunyai kemiringan yang sama. Pelebaran ke arah gingiva hanya dilakukan seperlunya saja
sekedar membebaskan pertautan email-dentin dari karies, demikian juga halnya dalam arah
bukolingual. Setiap email yang tak terdukung dentin sehat, hendaknya dibuang dengan bur fisur
kecepatan tinggi.
f) Pembuangan Karies Dalam
Karies mungkin masih tertinggal di dinding aksial. Jika dinding karies telah terbuang, periksalah
kemungkinan masih adanya daerah undercut. Undercut padadaerah pertautan email-dentin
seharusnya telah dibersihkan. Jika masih terdapat undercut pada dinding aksial, maka undercut
tersebut biasanya terletak seluruhnya pada dentin dan ditutup dengan semen pelapik pada tahap
preparasi berikutnya sehingga preparasi mempunyai kemiringan yang dikehendaki.
g) Bevel
Garis sudut aksiopulpa hendaknya dibevel, dengan menggunkan bur fisur. Hal ini untuk
memungkinka diperolehnya ketebalan yang cukup bagi pola malam yang kelak akan dibuat di daerah
yang dinilai kritis. Bevel hendaknya diletakkan di tepi email agar tepi tipis hasil tuangan dapat
dipaskan seandainya kerapatan hasil tuangan dengan gigi tidak baik. Hendaknya bevel tidak
diluaskan lebih ke dalam lagi karena retensi restorasi akan berkurang. Tepi luar bevel harus halus
dan kontinyu untuk memudahkan penyelesaian restorasi dan supaya tepi tumpatannya beradapatsi
baik dengan gigi. Bevel biasanya tidak dibuat didinding aproksimal karena akan menciptakan
undercut, mengingat sebagian besar tepi kavitas terletak di bawah bagian gigi yang paling cembung.
Akan tetapi dinding gingiva dapat dan harus dibevel. Bevel gingiva sangat penting karena akan
menigkatkan kecekatan tuangan yang biasanya merupakan hal yang paling kritis.
h) Pola Malam
Pola malam dibuat secara:
- Direct : pembuatan restorasi rigid secara langsung dalam satu kali kunjungan.
- Indirect : pembuatan restorasi rigid yang dilakukan di laboratorium dan berkali-kali kunjungan
i) Gigi direstorasi dengan tumpatan rigid sementara

Kunjungan Kedua
1. Tumpatan rigid sementara dibongkar
2. Setelah preparasi selesai, aplikasikan lapisan tipis lubricant larut air atau separating medium (cairan
agar atau gliserin) pada gigi. Kemudian tempatkan matriks band, wedge atau cincin penahan untuk
menghasilkan kontak proksimal yang baik.
3. Lalu tumpat dengan porselen. Sesuaikan anatomi oklusal dengan menggunkan bur untuk
menghasilkan pit dan fisur, inklinasi tonjol dan batas margin yang baik dan sistemis.
4. Trial Inlay/ Onlay porselen pada pasien
5. Jika kedudukannya baik, restorasi rigid yang sudah ditrial disemenkan pada gigi tersebut.
6. Kelebihan semen dari tepi-tepi yang dapat dijangkau dibersihkan dengan eskavator sementara
benang gigi digunakan untuk membuang kelebihan di aproksimal. Tepi-tepi restorasi harus dilapisi
dua lapisan pernis copalite untuk mengurangi pelarutan semen selama jam-jam pertama pengerasan.
Setelah itu, permukaan oklusal harus dipoles dengan pasta pumis yang diletakkan pada bur sikat,
diikuti oleh whiting yang diletakkan pada berbagai sikat.

C. Tahapan Preparasi Pada Inlay/Onlay Porcelain Fused To Metal ( PFM )


Restorasi PFM adalah tipe porselen gigi yang paling umum digunakan. Berdasarkan perbedaan
temperatur ada tiga tipe porselen gigi yaitu; Regular Felspathic Porcelain (temperatur tinggi 1200-1400
c), aluminous porcelain (temperatur sedang 1050-1200 c), dan Metal Bonding Porcelain (temperatur
rendah 800-1050 c). PFM merupakan Metal Bonding Porcelain. PFM terdiri atas beberapa lapisan
yang difusikan secara kimia pada dasar kerangka metal. Substruktur metal mendukung keramik dan
membuat keramik bertahan lama terhadap beban dari kekuatan mulut.
A. Prinsip umum restorasi metal keramik
Restorasi metal keramik harus memenuhi syaratsyarat, antara lain, adalah sebagai berikut :
a. Metal dan keramik mempunyai ikatan yang kuat.
b. Metal dan keramik mempunyai thermal expansi yang sesuai.
c. keramik yang dipakai relatif mempunyai low fusing.
d. Metal harus tahan terhadap deformasi pada saat keramik mencapai temperatur fusing. Pada saat
fusing, keramik harus dapat bersatu dengan logam dan berikatan tanpa merubah bentuk logam.
Pada saat mendingin, baik logam maupun keramik akan mengalami kontraksi yang akan
menimbulkan retak atau bahkan terlepasnya keramik dari logam.
e. Bahanbahan yang dipakai harus bersifat biokompatibel terhadap jaringan.

Pada prinsipnya, sifatsifat restorasi metal keramik ditentukan oleh keadaan interfacenya. Bila
didapati ikatan yang rapat antara metal dengan keramik maka akan terjadi penurunan energi bebas
yang dapat memisahkan kedua komponen atau sebaliknya.
B. Teknik preparasi
Secara umum bentuk preparasi gigi untuk restorasi tidak langsung harus mempunyai ketinggian
maksimum dan keruncingan yang minimum untuk memperoleh retensi dan resistensi yang optimal.
Untuk mencapai hal ini dan untuk membuat ketebalan yang adekuat dari material restorasi tanpa
kontur yang berlebihan, maka permukaan dari preparasi sebaiknya meniru restorasi yang diharapkan,
baik oklusal maupun aksial. Adapun ciri-ciri preparasi restorasi tidak langsung, antara lain, adalah
sebagai berikut :
1. Preparasi pembebasan undercut yang mana semua margin dan sudut dalam dapat terlihat.
2. Penempatan single path dibuat selebar mungkin, hal ini dibuat dengan cara mempersiapkan
dinding yang berlawanan dibuat sejajar untuk memberikan retensi maksimal. Posisi gigi yang
berdekatan harus dipertimbangkan terhadap kemungkinan terjadinya tepi yang menggantung
pada gigi yang dipreparasi.
3. Bentuk resisten perlu disediakan pada restorasi untuk mendistribusikan tekanan yang berasal dari
oklusal.
4. dinding yang berlawanan dalam preparasi 1/2 gingival harus dibuat mendekati paralel. 1/3
sampai 1/2 oklusal biasanya lebih runcing karena adanya pengurangan dua dataran di sebelah
labial yang dibutuhkan untuk menyediakan ruangan yang cukup untuk material restorasi di dalam
kontur gigi yang asli.
5. Mahkota klinis yang pendek memiliki peningkatan resiko kegagalan karena jalan masuk yang
pendek. Panjangnya preparasi dapat ditingkatkan dengan memanjangkan mahkota, dan bentuk
resisten dapat ditingkatkan dengan pengurangan groove, celah atau box, dan dengan cara
mengubah permukaan lereng menjadi komponen vertikal dan horizontal.
6. Pengurangan oklusal harus mengikuti outline tonjol untuk memaksimalkan retensi dan
meminimalkan pengurangan gigi. Untuk mahkota porcelain fused to metal dan untuk mahkota
emas, jaraknya masing-masing 2 mm dan 1 mm.
7. Posisi dan tipe margin yang telah selesai ditentukan oleh kontur gingiva, keaslian material
restorasi, ada atau tidaknya core margin, dan pemilihan bahan luthing agent. Bila
memungkinkan, margin tersebut sebaiknya berada di supragingiva mengikuti kontur gingival
yang asli. Akhiran tepi gigi idealnya paling tidak 1 mm melewati core margin untuk
mengistirahatkan jaringan gigi yang masih sehat.
8. Bentukan line angle harus di perhatikan karena pada dasar kavitas adalah metal yang nantinya
pada bagian luar akan di selimuti porcelain, maka bentukannya berbeda antara internal dan
eksternal. Pada internal line angle harus tajam dan eksternal line angle harus membulat.
C. Desain restorasi
Untuk mendapatkan kekuatan dan persyaratan warna yang optimal, maka ketebalan logam
ditambah porselen pada bagian fasial tidak kurang dari 1,2-1,5 mm. Ketebalan minimal metal di
bawah porselen yaitu 0.3 mm. Jika metal terlalu tipis, maka metal akan melentur di bawah tekanan
dan dapat menyebabkan retaknya porselen. Tetapi ketebalan metal tergantung pada jenis metal yang
digunakan. Ketebalan lapisan opak yaitu 0,1-0,2 mm. Ketebalan minimum dentin dan enamel
porselen yaitu 0,8 mm. Ketebalan bagian insisal porselen yaitu 2 mm gunanya untuk memberi sifat
translusen pada restorasi.

RESTORASI SEMENTARA PASCA PREPARASI


Restorasi sementara ini penting karena selain sebagai penutup kavitas sebelum restorasi
onlay/inlay siap disemenkan juga melindungi kavitas dari gangguan termal, khususnya dari dingin dan
tetap mampu untuk mengunyah makanan seperti biasanya. Jika preparasi tidak begitu sukar dan tidak
melibatkan sebagian besar permukaan oklusal, preparasi dapat ditumpat dengan tumpatan sementara
menggunakan semen seng oxide eugenol. Restorasi akan bertahan selama beberapa hari, dan pasien
terasa nyaman.
Selain itu terdapat juga situasi yang membutuhkan restorasi sementara yang tidak sederhana
seperti hal diatas, karena kavitas preparasi sering melibatan seluruh permukaan oklusal. Jadi tambalan
sementara harus lebih canggih.
Restorasi sementara ada 2 jenis ;
1. Restorasi sementara buatan pabrik
Restorasi sementara buatan pabrik adalah salah satu jalan keluar. Mahkota sementara ini bisa
terbuat dari aluminium atau resin yang juga terdiri dari berbagai ukuran dan bentuk baik untuk gigi
anterior atau gigi posterior. Tetapi mahkota ini lebih mudah digunakan untuk gigi-gigi posterior.
Mahkota alumunium juga lebih mudah dadaptasikan pada bagian tepid an oklusal dibandingkan
dengan resin sementara, meskipun resin memiliki factor estetis yang baik.

Cara Penggunaan :
a. Diantara berbagai ukuran mahkota sementara , pilihlah satu yang paling mendekati ukuran gigi
yang dipreparasi. Ukuran harus pas jika terlalu besar maka akan menekan jaringan gingiva dan
mengganggu kenyamanan lidah dan pipi
b. Setelah didapatkan ukuran dan bentuk yang sesuai, pada bagian gingival dipotong untuk
mendapatkan bentuk yang sesuai. Kontur gingiva dibentuk sedemikian rupa dan disesuaikan
dengan kontur bukal dan lingual dengan menggunakan tang kontur bila perlu.

c. Kemudian pasang coba mahkota sementara pada gigi yang dipreparasi. Untuk menentukan
apakah sudah sempurna ditempatkan, pasien sebaiknya diminta mengoklusikan gigi-giginya dan
tidak boleh ada ganjalan akibat pemasangan pada mahkota.
d. Kemudian sebelum dilakukan penyemenan mahkota sementara, perlu juga mengamati ujung
gingival dari restorasi sementara dan menghindari tertekannya jaringan gingiva, dan harus terus
menyesuaikan panjang gingiva agar tidak berkontak dengan jaringan. Kemudian pastikan juga
mahkota sementara harus benar-benar halus, dan licin tidak ada ujung-ujung yang kasar.

2. Restorasi Sementara Buatan Sendiri


Metode lain yang banyak dgunakan untuk restorasi semntara ini adalah dengan membuatnya
sendiri dengan resin swa-polimerisasi. Tipe restorasi sementara ini mempunyai keunggulan yaitu
menghasilkan estetik yang baik. Mahkota ini dapat dibuat meniu anatomi mulut pasien.
Cara Penggunaan :
a. Langkah pertama adalah mencetak daerah gigi yang membutuhkan restorasi sementara. Perlu
diingat cetakan dilakukan sebelum melakukan preparasi. Jika restorasi sementara melibatkan satu
gigi saja, sendok cetak sebagian sudah cukup memadai. Jika melibatkan lebih dari satu gigi,
harus dibuatkan cetakan seluruh rahang untuk kestabilan ketika dipasangkan kembali ke
tempatnya.
b. Setelah cetakan selesai, dilakukan pemanipulasian resin yang digunakan untuk restorasi
sementara.
c. Mula-mula campur adonan resin dalam dappen dish sampai terbentuk bahan dengan tekstur
seperti krem . Kemudian campuran dipindahkan ke sendok cetak sebagian.
d. Cetakan kemudian dikembalikan dengan baik ke posis yang normal. Gigi yang dipreparasi
sebaiknya diolesi cairan atau paling tidak agak basah, untuk mempermudah pelepasan restorasi
sementara sewaktu restorasi mengeras.
e. Atur waktu setting dari bahan, jika restorasi dilepas terlalu cepat, resin tidak mencetak dengan
akurat dank arena itu pencetakan harus diulang dan jika restorasi dilepas terlalu lama maka
restorasi akan susah dilepas dari daerah preparasi.
f. Kemudian penting juga untuk mencoba memasang kembali restorasi sementara pada gigi untuk
memastikan apakah restorasi sementara dapat dilepaskan dengan mudah
g. Jika bahan telah setting dan telah beradaptasi dengan baik pada daerah restorasi dilakukan
penyemenan.

Tahap Pekerjaan restorasi rigid logam :


Inlay Logam Direct

Kunjungan pertama
1. Akses Ke Karies
Tahap pertama preparsi adalah memperoleh akses ke dentin karies dengan menggunkan bur fisur
tungsten carbide pendek-kuncup dengan kecepatan tinggi. Penggunaan bur kuncup dan bukan bur fisur
sejajar adalah untuk mencegah terbentuknya undercut.
2. Menentukan Luas Karies
Jika akses telah diperoleh, kavitas bisa dilebarkan kearah bukopalatal sampai dicapai pertautan
email-dentin yang sehat. Hal ini menentukan lebar boks arah bukopalatal.
3. Keyway
Keyway dibuat dengan kemiringan minimal sekitar 100 memakai bus fisur kuncup dan dijaga agar
sumbu bur sejajar dengan sumbu gigi. Lebar keyway diantara tonjol merupakan daerah yang paling sempit
dan melebar kearah yang berlawanan dengan letak karies aproksimalnya dan dengan mengikuti kontur
fisurnya. Setelah membuat keyway, kavitas dikeringkan untuk memeriksa ada tidaknya sisa karies dibagian
ini dan bahwa kavitasnya sedikit membuka dengan sumbu yang benar. Jika kemiringan dinding tidak tepat,
maka ketidaktepatan itu harus diperbaiki.
4. Boks Aproksimal
Kini perhatian dapat dialihkan kembali ke lesi aproksimalnya. Dibagian ini kavitas harus di
dalamkan memakai bur bulat kecepatan rendah dan dengan cara yang sama dengan jalan membuang dentin
karies pada daerah pertautan email-dentin. Ketika dentin karies pada pertautan email-dentin telah dibuang,
dinding email dapat dipecahkan dengan pahat pemotong tepi gingiva. Preparasi dibuat miring sebesar 10
derajat dengan bur fisur
runcing. Gigi tetangga dilindungi dengan lempeng matriks untuk melindunginya dari kemungkinan terkena
bur. Menjaga agar sumbu bur sejajar dengan waktu pembuatan keyway merupakan hal yang sangat penting
sehingga bagian boks dan keywaynya mempunyai kemiringan yang sama. Pelebaran ke arah gingiva hanya
dilakukan seperlunya saja sekedar membebaskan pertautan email-dentin dari karies, demikian juga halnya
dalam arah bukolingual. Setiap email yang tak terdukung dentin sehat, hendaknya dibuang dengan bur fisur
kecepatan tinggi.
Pembersihan Karies Dalam
Karies mungkin masih tertinggal di dinding aksial. Jika dinding karies telah terbuang, periksalah
kemungkinan masih adanya daerah undercut. Undercut padadaerah pertautan email-dentin seharusnya telah
dibersihkan. Jika masih terdapat undercut pada dinding aksial, maka undercut tersebut biasanya terletak
seluruhnya pada dentin dan ditutup dengan semen pelapik pada tahap preparasi berikutnya sehingga
preparasi mempunyai kemiringan yang dikehendaki.
5. Bevel
Garis sudut aksiopulpa hendaknya dibevel, dengan menggunkan bur fisur. Hal ini untuk
memungkinka diperolehnya ketebalan yang cukup bagi pola malam yang kelak akan dibuat di daerah yang
dinilai kritis. Bevel hendaknya diletakkan di tepi email agar tepi tipis hasil tuangan dapat dipaskan
seandainya kerapatan hasil tuangan dengan gigi tidak baik. Hendaknya bevel tidak diluaskan lebih ke dalam
lagi karena retensi restorasi akan berkurang. Tepi luar bevel harus halus dan kontinyu untuk memudahkan
penyelesaian restorasi dan supaya tepi tumpatannya beradapatsi baik dengan gigi. Bevel biasanya tidak
dibuat didinding aproksimal karena akan menciptakan undercut, mengingat sebagian besar tepi kavitas
terletak di bawah bagian gigi yang paling cembung. Akan tetapi dinding gingiva dapat dan harus dibevel.
Bevel gingiva sangat penting karena akan menigkatkan kecekatan tuangan yang biasanya merupakan hal
yang paling kritis.
6. Pelapikan
Setelah preparasi selesai, meletakkan pelapik semen pada dinding aksial kavitas terutama dikavitas
yang dalam. Selain itu pelapikan akan sekaligs menghilangkan undercut yang mungkin ada dan mengurangi
badan tuang yang tidak perlu. Bahan pelapik yaitu ZEO, yang cepat mengeras, SIK, semen seng fosfat dan
semen polikarboksilat. Pelapik semen kalsium hidroksida tidak cocok digunakan disini karena semen akan
terelepas saat percobaan pola malam
- Semen diaduk pada glass plate sampai kental.
- Sejumlah kecil semen diambil dengan ujung sonde dan diletakkan di dinding aksial kavitas
- Semen dipadatkan pada dinding tadi dengan instrumen penghalus berbentuk buah pir yang
diolesi dahulu dengan bahan separator yang cocok (alkohol 10% untuk semen OSE atau spirtus
bagi semen yang lain)
- Kelebihan semen dibuang dengan eskavator tajam sebelum mengeras
7. Pola malam
Kavitas dilapisi selapis tipis bahan separator misalnya microfilm (Kerr, Romulus, Michigan,
Amerika Serikat). Ujung malam inlay untuk penggunaan klinik dipanaskan perlhan-lahan diatas api bunsen.
Ketika malam melunak, malam dimanipulasi oleh jari operator. Ujung malam dipotong dan diletakkan diatas
jari operator dan lewatkan sebentar diatas nyala api sebelum dibawa ke rongga mulut dan ditekankan masuk
kavitas, ditekan sampai malam mendingin. Pola malam kemudian diangkat dengan menusukkan sonde atau
instrumen plastis datar pada kelebihan malam di ridge tepi. Permukaan dalam pola malam diperiksa. Jika
pola malam sudah baik, dikembalikan lagi kedalam kavitas.
Tahapan selanjutnya adalah memberikan sprue pada pola malam. Sprue terbuat dari kawat bulat
lurus berdiameter sekitar 1mm dan panjang 15mm. Sprue dipanaskan dan setelah ditambah selapis malam
inlay disekelilingnya, sprue ditusukkan ditengah pola malam dan dibiarkan sampai dingin. Sprue berfungsi
sebagai pegangan untuk menarik pola malam dari kavitas dan untuk membentuk saluran tempat mengalirnya
logam setelah pola ditanam dan spruenya diangkat
8. Tumpat sementara
Setelah itu kavitas ditumpat dengan restorasi sementara. Selama menunggu selesainya restorasi, restorasi
sementara dapat dipasang dengan tujuan untuk:
1. Mencegah timbulnya kepekaan gigi yang dipreparasi
2. Mencegah penetrasi bakteri pada dentin yang baru dipotong yang bisa membahayakan pulpa
3. Memugar oklusi gigi dan mencegah over erupsi dan bergesernya gigi
4. Mencegah kerusakan sisa gigi seperti tonjol yang mungkin bisa fraktur
5. Memugar kontak aproksimal sehingga dapat mencegah terselipnya makanan diantara gigi yang bisa
merusak jaringan periodonsiumnya
6. Memugar penampilan
Prosedur laboratorium
Sprue dan pola diletakkan pada cone-shaped form, ditutup dengan bumbung tuang lalu dituangi
dengan bahan investmen dan dibiarkan mengeras. Jika telah mengeras, cone-shaped form dan sprue diangkat
dengan pinset. Bumbung tuang kemudian diletakkan dalam pembakaran (temperatur bumbung tuang dalam
pembakaran mencapai 7000C yang dinaikkan perlahan-lahan) sampai malam meleleh dan menguap atau
akriliknya terbakar habis lalu logam cair dicorkan dan dibiarkan mengeras. Ketika masih panas bumbung
tuang dicelupkan kedalam air sehingga investmen akan pecah dan mudah dibuka. Sprue dipotong, biasanya
disisakan sedikit sebagai pegangan ketika mencoba inlay dalam kavitas. Inlay direk yang kecil biasanya
tidak dipoles sampai dicobakan di dalam mulut (Kidd, 2000).
Kunjungan Kedua
Restorasi sementara dibuka dan kavitas dibersihan serta diperiksa dari sisa-sisa tambalan sementara.
Untuk sebagian besar inlay kecil dianjurkan memakai isolator karet agar bila terjatuh tidak ada resiko
tertelan (Kidd, 2000). Sebelum dicobakan kedalam kavitas, permukaan dalam inlay harus diperiksa dengan
teliti memakai alat pembesar. Kemudian inlay dicobakan kedalam kavitas. Jika restorasinya telah pas, tepi
inlay diburnis dengan burnisher tangan dengan gerakan dari inlay ke gigi. Suatu daerah tepi yang tampak
terlalu tebal dapat dikurangi dengan finishing bur baja bulat dan kecil atau dengan stone putih low speed.
Jika telah ditipiskan, logam dapat diburnis kembali. Tepi inlay dipoles dengan poin karet pumis dan caret.
Kemudian inlay diangkat dan sprue dipotong dengan disk karborondum dan sisa permukaan dipoles dengan
roda karet abrasif. (Kidd, 2000)
Kavitas lebih dahulu dicuci, diisolasi dan dikeringkan untuk penyemenan dalam kavitas. Semen yang
digunakan adalah semen ionomer kaca. Campuran semen dilapiskan ke permukaan dalam inlay lalu ke
dinding-dinding kavitas. Inlay kemudian dimasukkan dan tekan dengan burnisher yang diletakkan di tengah-
tengah inlay. Setelah itu gulungan kapas diletakkan di permukaan oklusal dan pasien diminta menggigit
keras-keras sehingga inlay terdorong ke posisi yang tepat dan mengurangi ketebalan semen perekat.
Permukaan oklusal dipoles dengan pasta pumis yang diletakkan pada bur sikat, diikuti oleh whiting pada but
caret supaya kemengkilatan sempurna.
Inlay Logam Indirek
Teknik preparasi inlay logam indirek sama dengan inlay logam direk, yang membedakan keduanya
adalah pada proses pencetakan. Pencetakan pada inlay logam indirek menggunakan bahan cetak elastomer.
Cetakan dari rahang antagonis dibuat dengan alginat. Syarat penting dari cetakan adalah semua permukaan
oklusal gigi tercetak tanpa gelembung udara sehingga model atas dan bawah bisa diartikulasikan dengan
benar (Kidd, 2000).
Rekaman hubungan antaroklusal dibutuhkan jika cukup banyak gigi yang
beroklusi. Tapi jika oklusi diragukan, bisa dibuat rekaman antaroklusal yang baik pada posisi intercuspal,
dengan menggunakan malam yang dilunakkan dengan pemanasan dan digigitkan. Bahan cetak elastomer
bersifat hidrofobik oleh karena itu permukaan gigi yang dipreparasi harus kering. Gigi diisolasi dengan
kapas serta bisa menggunakan saliva ejector. Rincian permukaan oklusal dari seluruh cetakan harus
diperiksa karena lubang kosong akibat gelembung udara nantinya akan terisi gips dan menghalangi oklusi
model (Kidd, 2000).