Anda di halaman 1dari 11

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Semua makhluk yang hidup, mulai hewan, tumbuhan, dan mikrobia, menunjukkan salah
satu tanda hidup yaitu bereproduksi. Pada tumbuhan, reproduksi secara seksual biasanya
menghasilkan spora pada tumbuhan tingkat rendah dan biji pada tumbuhan tingkat tinggi.
Spora maupun biji tersebut akan berkecambah dan tumbuh sebagaimana induknya
(Wilkins, 1969). Buat teman2x yang pinjam laporan ini tolong jangan asal contek,
anggaplah laporan ini sebagai contoh saja :) ok!
ttd: susilo 99

Biji yang dalam keadaan tidak melakukan aktifitas metabolik selama waktu
tertentu tanpa kehilangan kemampuannya untuk tumbuh disebut dormansi. Masa
dimana biji tidak aktif tersebut sering disebut masa istirahat atau masa dormansi.
Masa dormansi ini adalah salah satu upaya tumbuhan dalam memperpanjang siklus
hidupnya, memperluas daerah penyebaran dan mempertahankan kelangsungan
hidupnya dari kondisi lingkungan yang tidak menguntungkan. Waktu dormansi biji
akan bertambah lama jika kondisi lingkungan biji tidak mendukung kebutuhannya.
Lamanya waktu dormansi biji juga akan memperlambat regenerasi dan siklus hidup
spesies tertentu, dan hal ini biasanya terjadi pada tumbuhan berumur panjang. Dengan
adanya waktu dormansi, juga memberikan kemungkinan penyebaran biji yang lebih
luas dengan bantuan penyebaran hewan atau air (Dwidjoseputro, 1985).
Lamanya waktu dormansi untuk tiap spesies tumbuhan berbeda, mulai hanya
beberapa hari sampai beberapa tahun. Hal ini disebabkan oleh faktor luar dan dalam
yang mempengaruhi lamanya dormansi tersebut. Namun kadangkala dormansi tetap
terjadi pada saat kondisi lingkungan telah sesuai, sehingga oleh manusia digunakan
berbagai cara untuk mematahkan dormansi tersebut. Hal ini dimaksudkan untuk
mempercepat siklus hidup sehingga lebih sering dipanen, yang umumnya dilakukan
pada tumbuhan yang mempunyai nilai ekonomi tinggi (Winatasasmita, 1986).
B. Permasalahan
Banyaknya faktor penyebab dormansi membuat tanaman seringkali kurang
memberikan keuntungan secara ekonomi, hal ini menimbulkan suatu permasalahan
bagaimanakah pengaruh zat penghambat yang terdapat dalam daging buah tomat dan
jeruk terhadap perkecambahan biji, dalam hal ini digunakan biji padi (Oryza sativa).

C. Tujuan
Penelitian ini dilakukan untuk mempelajari pengaruh yang ditimbulkan oleh suatu zat
pengham Buat teman2x yang pinjam laporan ini tolong jangan asal contek, anggaplah
laporan ini sebagai contoh saja :) ok!
ttd: susilo 99
bat yang terdapat dalam daging buah jeruk dan tomat pada dormansi biji dan
mengetahui faktor-faktor lain yang menyebabkan dormansi serta pematahan dormansi
tersebut.
TINJAUAN PUSTAKA

Dormansi biji dialami oleh hampir seluruh tumbuhan darat. Lamanya berbeda-
beda dalam keadaan normalnya, tergantung jenis spesiesnya. Ada yang beberapa hari
saja atau bahkan sampai beberapa tahun. Kemudian setelah masa dormansi, biji dapat
tumbuh dengan normal. Masa dormansi normal ini tetap terjadi pada saat kondisi
lingkungan baik. Dormansi atau fase istirahat memang normal terjadi pada suatu
siklus hidup tumbuhan (Wilkins, 1969).
Pada saat kondisi lingkungan luar tidak sesuai dengan kondisi/keadaan yang
dibutuhkan untuk perkecambahan biji, maka biji akan memperpanjang masa
dormansinya. Dalam perkecambahan, biji biasanya memerlukan air, oksigen, cahaya,
dan temperatur yang cocok. Apabila salah satu faktor tersebut tidak tersedia, seperti
keadaan di mana tidak ada air, temperatur yang tidak sesuai atau biji terkubur di
dalam tanah yang terlalu dalam sehingga tidak ada cahaya matahari dan oksigen,
maka masa dormansi akan bertambah. Setelah keadaan luar/lingkungan menjadi baik,
maka dormansi akan terhenti dan biji dapat berkecambah dengan normal (Meyer &
Anderson, 1952).
Dormansi biji dapat disebabkan karena kulit biji yang impermeabel terhadap air dan
oksigen. Hal ini biasanya terjadi pada biji dari beberapa famili tertentu seperti
Leguminoceae, Malvaceae, Xenopodiaceae, Covolvulaceae, dan Solanaceae. Biji
mempunyai kulit atau testa sehingga tidak dapat ditembus oleh air dan atau oksigen.
Keadaan ini menyebabkan lamanya masa dormansi biji. Buat teman2x yang pinjam
laporan ini tolong jangan asal contek, anggaplah laporan ini sebagai contoh saja :) ok!
ttd: susilo 99
Dormansi ini dapat dipatahkan bila testa/kulit telah rusak oleh aktifitas mikrobia.
Namun secara alternatif, manusia biasanya memecah kulit dengan memberikan asam
sulfat pekat secara singkat namun secara periodik (Meyer & Anderson, 1952).
Dormansi yang disebabkan oleh kulit biji, juga disebabkan resistensi mekanis
kulit biji. Karena kulit biji yang keras maka pertumbuhan embrio tidak mampu
mendesak dan memecah kulit biji tersebut (Wilkins, 1969).
Pada saat biji jatuh ke tanah, pada beberapa spesies tertentu, biji tersebut belum
selesai berkembang atau belum masak. Dormansi seperti ini disebut after ripening.
Dormansi biji seperti ini biasannya akan selesai apabila embrio telah masak dan siap
untuk berkecambah. Namun untuk mempercepat dormansi after ripening ini, biasanya
digunakan perlakuan dengan temperatur rendah (Meyer & Anderson, 1952).
Pada beberapa biji serealia (padi, jagung, dan gandum) biji yang disimpan dalam
keadaan kering akan dapat awet tanpa kehilangan kemampuan berkecambahnya. Hal
ini dapat memperpanjang siklus hidup, sambil menunggu musim atau kondisi
lingkungan yang lebih baik (Dwidjoseputro, 1985).
Adanya zat penghambat atau inhibitor juga dapat menyebabkan dormansi biji.
Substansi yang menjadi inhibitor dapat diproduksi oleh satu organ tanaman atau
lebih. Zat inhibitor ini disebut allelopati. Zat allelopati ini dimungkinkan terdapat di
dalam biji atau organ tanaman lain. Zat penghambat ini merupakan pembatas
mekanisme penyebaran tumbuhan secara alami. Zat penghambat tersebut antara lain
boumarin, asam parasorbic, asam absisat yang terdapat dalam buah-buahan seperti
tomat (Meyer & Anderson, 1952).
BAB II
METODE

A. Alat
Alat-alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah :
1. Cawan petri
2. Alat peras
3. Saringan

B. Bahan
Adapun bahan-bahan yang digunakan adalah :
1. Gabah (biji padi)
2. Buah tomat
3. Buah jeruk

C. Cara Kerja
1. Buah tomat dan jeruk dicuci sampai bersih, kemudian diperas dan cairan
yang diperoleh disaring.
2. Dibuat 5 kelompok biji padi, masing-masing 100 biji.
3. Dicuci dengan akuades dan dimasukkan dalam cawan petri.
4. Dua kelompok dikecambahkan dalam cairan buah tomat, dua kelompok
dalam cairan buah jeruk, dan 1 kelompok dalam akuades sebagai kontrol.
5. Setiap hari cairan buah diganti dengan yang baru.
6. Sebelum dimasukkan dalam cairan buah yang baru, biji dicuci dahulu
dengan akuades sampai bersih
7. Diamati kapan biji mulai berkecambah, berapa jumlah biji yang
berkecambah, dan ditentukan presentase biji yang berkecambah. .
8. Setelah perkecambahan biji pada kontrol mencapai 70%, biji yang
dikecambahkan delam cairan buah dicuci dan dikecambahkan dalam akuades.
9. Pengamatan dilanjutkan sampai persentase biji berkecambah pada kontrol
mencapai 100%.
BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil
Dari percobaan yang telah dilakukan, diperoleh hasil sebagai berikut :
Tabel 1. Jumlah biji padi yang berkecambah pada tiap perlakuan

Perlakuan Pengamatan hari ke-


1 2 3 4 5 6 7
1. Akuades (kontrol) 0 0 67 76 83 88 100
2. Cairan buah jeruk a 0 0 0 0 0 32 39
b. 0 0 0 0 0 48 52
3.Cairan buah tomat a. 0 0 0 0 0 0 3
b. 0 0 0 0 0 5 8

B. Pembahasan
Dari hasil yang telah diperoleh terlihat bahwa pada tiap perlakuan, baik cairan
buah jeruk, tomat maupun akuades sebagai kontrol, menunjukkan adanya pola
perkecambahan yang berbeda. Buat teman2x yang pinjam laporan ini tolong jangan
asal contek, anggaplah laporan ini sebagai contoh saja :) ok!
ttd: susilo 99
Pada perlakuan akuades, dalam hal ini sebagai kontrol. Terlihat bahwa
pertumbuhan biji padi demikian pesatnya, dimulai pada hari ke-3 dimana tercatat
sebanyak 67 biji mulai menunjukkan perkecambahannya. Dan pada hari ke-4 sudah
76 biji yang berkecambah. Untuk perlakuan dengan cairan buah jeruk dan buah tomat
sampai hari keempat ini, dimana pada kontrol sudah melebihi 75% biji yang
berkecambah, belum terlihat adanya perkecambahan bijinya. Mulai hari ke-4 ini pada
perlakuan baik dengan cairan buah jeruk maupun dengan cairan buah tomat
semuanya diganti dengan akuades setelah sebelumnya dicuci bersih dengan akuades.
Pada hari ke-5 jumlah biji padi yang telah berkecambah pada kontrol sebanyak 83
biji. Pada perlakuan yang telah diganti dengan akuades belum ada yang berkecambah.
Namun pada hari ke-6 pada perlakuan telah mulai menunjukkan perkecambahan,
yaitu sebanyak 32 dan 48 biji yang berkecambah pada perlakuan sebelumnya yaitu
berupa cairan buah jeruk, dan sebanyak 5 biji yang berkecambah untuk perlakuan
dengan cairan buah tomat. Pada kontrol sudah 88 biji yang berkecambah sampai hari
ke-6 tersebut. Dan pada hari ke-7 disaat jumlah biji yang berkecambah pada kontrol
mencapai 100% atau semuanya telah berkecambah, pada perlakuan yang berupa
cairan buah jeruk, tercatat biji yang berkecambah sebanyak 39 dan 52. sedangkan
untuk perlakuan buah tomat sebanyak 3 dan 8 biji.
Dari hasil tersebut dapat dilihat adanya penghambatan oleh cairan buah yang
digunakan, baik itu cairan buah jeruk maupun cairan buah tomat. Dalam daging
buah jeruk maupun buah tomat ini terkandung zat penghambat (inhibitor)
seperti/berupa asam absisat, asam parasorbic, dan boumarin (Meyer & Anderson,
1952). Zat ini mengakibatkan biji padi yang diberi perlakuan dengan cairan buah
jeruk dan tomat ini mengalami suatu keadaan dormansi oleh karena adanya zat
penghambat (inhibitor) dalam daging buah, baik pada buah jeruk maupun buah
tomat. Dormansi akibat adanya zat penghambat yang secara alamiah terdapat
dalam salah satu organ atau lebih dalam tanaman ini terjadi secara alamiah dalam
kebanyakan tumbuhan dalam hal ini misalnya pada jeruk dan tomat. Buat teman2x
yang pinjam laporan ini tolong jangan asal contek, anggaplah laporan ini sebagai contoh
saja :) ok!
ttd: susilo 99
Dormansi ini dimaksudkan untuk memperpanjang siklus hidupnya untuk
mempertahankan keberadaannya dimana bila biji sudah menemukan keadaan
lingkungan yang cocok, maka dormansi akan segera berakhir, dalam hal ini terjadi
pematahan dormansi.
Dormansi ini dapat dipatahkan dengan cara mencuci biji sampai bersih baru
kemudian dikecambahkan dengan akuades, maka biji akan segera berkecambah. Hal
ini dapat dilihat dari hasil percobaan dimana setelah cairan buah diganti dengan
akuades setelah sebelumnya dicuci bersih (tabel 1. hari ke-4), biji mulai tampak
berkecambah pada hari ke-6. hal ini menunjukkan sifat penghambatan ini hanya
sementara, dalam arti bila hambatan ini dihilangkan (dengan dicuci), maka biji akan
segera tumbuh (dormansi telah dipatahkan). Maka dimungkinkan penghambatan dari
cairan buah jeruk dan buah tomat ini dimaksudkan untuk membuat biji jeruk ataupun
tomat ini dalam keadaan istirahat (dormansi), dan bila lingkungan telah sesuai, misal
telah turun hujan sehingga biji tercuci maka dormansi ini akan terpatahkan dan biji
jeruk maupun tomat dapat tumbuh.
Dilihat dari hasil yang didapatkan terlihat bahwa zat penghambat yang terdapat
dalam buah tomat, menunjukkan kekuatan penghambatan yang lebih besar/kuat.
Dapat dilihat pada relatif lebih sedikitnya biji padi dengan perlakuan cairan buah
tomat yang berkecambah dan lebih lamanya waktu yang dibutuhkan untuk tumbuh
setelah pengaruh zat penghambat (inhibitor) ini dihilangkan, yaitu setelah dicuci
bersih dan dikecambahkan dalam akuades.
Pada cairan buah jeruk, zat penghambatnya (inhibitor) tidak terlalu kuat
dibandingkan pada buah tomat, sehingga lebih mudah dihilangkan pengaruhnya
dengan dicuci bersih. Pematahan dormansi untuk zat penghambat dalam cairan
buah ini relatif mudah yaitu dengan mencuci bersih biji dan media diganti dengan
akuades yang diketahui adalah sebagai salah satu syarat terjadinya perkecambahan
disamping adanya oksigen, cahaya, dan temperatur yang cocok. Buat teman2x yang
pinjam laporan ini tolong jangan asal contek, anggaplah laporan ini sebagai contoh saja :)
ok!
ttd: susilo 99

Selain disebabkan oleh adanya zat penghambat (inhibitor), terjadinya dormansi


juga dapat disebabkan oleh impermeabilitas kulit biji/testa terhadap oksigen maupun
air, atau karena kerasnya/resistensitas kulit biji tersebut sehingga oksigen dan air
tidak dapat menembusnya sehingga embrio tidak dapat tumbuh. Dormansi ini dapat
dipatahkan dengan menghilangkan kulit biji (skarifikasi) yang di alam dapat terjadi
melalui abrasi oleh pasir, perombakan mikrobia, enzim-enzim pencernaan hewan
yang memakannya, ataupun sebab-sebab lain yang mengakibatkan pecahnya atau
rusaknya kulit biji sehingga memungkinkan air dan oksigen berinteraksi dalam biji
tersebut sehingga biji akan mulai berkecambah. Namun ada kalanya biji tidak
berkecambah walaupun telah berada dalam lingkungan yang cocok dan penyebab
dormansi telah dipatahkan, hal ini mungkin disebabkan karena tingkat kemasakan
embrio yang berbeda-beda, sehingga walaupun telah terpatahkan penyebab
dormansinya, namun karena embrionya belum masak maka tidak dapat tumbuh.

KESIMPULAN

Dari hasil percobaan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa zat
penghambat (inhibitor) yang terdapat dalam daging buah jeruk dan tomat
mengakibatkan dormansi pada biji padi yang diberi perlakuan kedua cairan tersebut.
Dormansi/pengaruh akibat adanya zat penghambat ini dapat dipatahkan/dihilangkan
dengan mudah yaitu dengan mencuci bersih biji dan media diganti dengan akuades.
Zat penghambat (inhibitor) pada buah tomat relatif lebih kuat pengaruhnya
terhadap dormansi biji padi ini dibandingkan dengan zat penghambat dalam buah
jeruk. Faktor lain penyebab terjadinya dormansi adalah tingkat kemasakan embrio,
kekerasan/impermeabilitas dari kulit biji serta keadaan lingkungan yang tidak
mendukung perkecambahan biji tersebut. Pematahan dormansi ini dapat dilakukan
dengan cara skarifikasi, mekanis, tekanan, temperatur, cahaya, perlakuan dengan
perubahan temperatur drastis dan pemenuhan kondisi lingkungan yang sesuai.

DAFTAR PUSTAKA

Dwidjoseputro, D. 1985. Pengantar Fisiologi Tumbuhan. Cetakan ketujuh. PT


Gramedia. Jakarta.
Meyer, B.S. and D.B. Anderson. 1952. Plant Physiology. 2nd ed 6th printed. Maruzen
co. Tokyo.
Salisbury, F.B. and C.W. Ross. 1992. Plant Physiology. 4th ed. Wadsworth publ. Co.
California.
Wilkins, M.B. 1969. The Physiology of Plant Growth and Development. Mc Graw
Publ. Co. Ltd. New Delhi.
Winatasasmita, D. 1986. Fisiologi Hewan dan Tumbuhan. PT Karunika Universitas
Terbuka. Jakarta.