Anda di halaman 1dari 9

PEMERINTAH KABUPATEN SAMBAS

BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH


(BAPPEDA)
Jalan Pembangunan Sambas Telp. (0562) 392785
SAMBAS ( Kal Bar )

KERANGKA ACUAN KERJA


(KAK)

PEKERJAAN : KAJIAN UPAYA MENUJU KEMANDIRIAN DESA MELALUI


PENGUATAN BUMDES DI KECAMATAN SAMBAS
LOKASI : KABUPATEN SAMBAS
SUMBER DANA : APBD
TAHUN ANGGARAN : 2017

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Problem kemiskinan di Indonesia merupakan masalah sosial yang selalu


relevan untuk dikaji dan dicarikan solusinya. Besarnya gejala kemiskinan yang
dialami oleh masyarakat sejalan dengan terjadinya krisis multidimensional yang
dihadapi oleh Indonesia. Timbulnya kemiskinan merupakan sebuah akumulasi dari
berbagai problematika kehidupan yang salah satunya juga disebabkan dari model
pembangunan di Indonesia yang lebih menekankan pada pertumbuhan ekonomi
secara berlebihan dan mengabaikan perhatian pada aspek budaya kehidupan
bangsa. Dalam perkembangannya, orientasi kepada pertumbuhan dicoba untuk
diseimbangkan dengan orientasi pada pemerataan, salah satunya tampak pada
program-program spesifik penanggulangan kemiskinan. Pemberdayaan masyarakat
pada hakekatnya adalah upaya untuk meningkatkan harkat dan martabat
masyarakat terutama yang pada saat sekarang sedang tidak mampu melepaskan diri
dari perangkap kemiskinan dan keterbelakangan, yang berarti memberdayakan
adalah membantu masyarakat menemukan kemampuan menuju kemandirian
(Khambali, 2005).
Lahirnya Undang-undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Desa,
diharapkan mampu menjadi salah satu alternatif dalam mendorong pertumbuhan
dan pemerataan disetiap daerah. Berdasarkan aturan Undang-undang tersebut,
dijelaskan bahwa tujuan dibentuknya pemerintahan daerah agar setiap daerah
otonom dengan kewenangan yang dimilikinya dapat mengatur dan mengurus
urusan rumah tangganya sendiri dalam kerangka sistem Negara Kesatuan Republik
Indonesia yang selanjutnya diharapkan dapat memberikan pemerataan
pembangunan didaerah.
Mengutip pendapat Syamsudin Haris (2007) otonomi daerah bukanlah
semata-mata persoalan penyerahan dari pusat kepada daerah yang juga disertai
dengan perimbangan keuangannya, tetapi yang lebih penting adalah bahwa daerah
memiliki kebebasan untuk merencanakan pembangunan dan pemberdayaan
masyarakat yang lebih terarah dan lebih tepat sasaran sesuai dengan karakteristik
daerah dan kearifan lokalnya masing-masing. Dengan otonomi diharapkan
pemerintah daerah akan lebih dapat melaksanakan program pembangunan dan
pemberdayaan masyarakat yang disesuaikan dengan kondisi riil daerah yang ada di
depan mata mereka, dengan asumsi bahwa demokrasi ibarat suatu pola dengan
titik gravitasi dari masyarakat, yang tujuannya dari masyarakat untuk masyarakat.
Selain itu dengan otonomi percepatan pembangunan daerah dapat dilaksanakan
karena otonomi memberikan peluang finansial yang lebih baik yang apabila
digunakan secara maksimal akan dapat menciptakan kemakmuran bagi masyarakat
(Hardinata, 2010).
Hakikat dari pelaksanaan otanomi daerah adalah bagaimana memberikan
kesempatan kepada Daerah untuk membangun dengan melakukan kreativitas dan
inovasi sesuai kebutuhan. Pelaksanaan pembangunan yang dimaksud harus berawal
dari bawah, dari masyarakat terkecil yakni pemerintah Desa. Desa adalah kesatuan
masyarakat hukum yang memiliki kewenangan untuk mengatur dan mengurus
kepentingan masyarakat setempat berdasarkan asal usul dan adat istiadat setempat
yang diakui dalam Sistem Pemerintahan Nasional dan berada di daerah Kabupaten.
Selanjutnya berdasarkan Undang-undang Nomor 6 Tahun 2014 yang dimaksud
dengan Desa adalah desa dan desa adat atau yang disebut dengan nama lain,
selanjutnya disebut Desa, adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas
wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan,
kepentingan masyarakat setempat berdasarkan prakarsa masyarakat, hak asal usul,
dan/atau hak tradisional yang diakui dan dihormati dalam sistem pemerintahan
Negara Kesatuan Republik Indonesia (hukumonline.com). Secara sosiologis desa
merupakan gambaran dari suatu kesatuan masyarakat atau komunitas penduduk
yang bertempat tinggal di dalam suatu lingkungan dimana mereka (masyarakat)
saling mengenal dengan baik dan corak kehidupan mereka relatif homogen serta
banyak bergantung dengan alam. Komunitas masyarakat desa di atas kemudian
berkembang menjadi kesatuan hukum dimana kepentingan bersama penduduk
menurut hukum adat dilindungi dan dikembangkan, atau suatu kesatuan hukum
dimana bertempat tinggal suatu masyarakat yang mengadakan pemerintahannya
sendiri (Kartohadikoesoemo, 2002)
Kawasan pedesaan adalah kawasan yang cenderung mempunyai kegiatan
utama pertanian, termasuk pengelolaan sumber daya alam, dengan susuan fungsi
kawasan sebagai tempat permukiman pedesaan dan kegiatan ekonomi (Usman,
2015). Pemerintahan Desa merupakan unit terdepan pelayanan kepada masyarakat
serta menjadi tonggak utama untuk keberhasilan semua program. Karena itu
memperkuat desa merupakan suatu keharusan yang tidak dapat ditunda dalam
upaya untuk mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat sebagai tujuan
otonomi desa pada khususnya dan otonomi daerah pada umumnya. Kemandirian
desa dalam konteks otonomi daerah memerlukan kesiapan lembaga social, politik
dan ekonomi desa itu sendiri. Oleh karenanya peningkatan fungsi dan peran
kelembagaan desa memiliki arti yang strategis.
Mengutip pendapat Soleh (2014: 45) beberapa hal yang menyebabkan
kegagalan peningkatan perekonomian di desa disebabkan oleh; (1) ketidakmandirian
pemerintah desa dari struktur pemerintah di atasnya, (2) praktik pemerintah desa
yang belum sepenuhnya bersih dan efisien oleh karena matinya kemampuan kontrol
masyarakat sehingga memberikan peluang terjadinya penyalahgunaan wewenang,
(3) ketidakberdayaan masyarakat menyelesaikan problem sosial, politik dan
ekonominya sendiri oleh karena rancunya struktur dan mandulnya fungsi-fungsi
kelembagaan desa. Perdebatan tentang otonomi desa hingga kini selalu menjadi
topik yang sangat menarik.
Perbincangan tentang desa bukan saja soal kemiskinan melainkan tentang
perdebatan sistem penyelenggaraan pemerintahannya yang tak kunjung ada
habisnya. Dalam penyelenggaraan pemerintah di level manapun tentu dibutuhkan
adanya partisipasi dari masyarakat. Demikian halnya dengan penyelenggaraan
pemerintahan desa, partisipasi adalah kunci bagi berjalannya pemerintahan desa
untuk mewujudkan stabilitas politik, ekonomi, budaya maupun hukum yang
benarbenar memberdayakan dan melindungi rakyat (Solekhan, 2012).
Berdasarkan amanat UU Desa, Alokasi APBN untuk dana desa menjadi pos
pendapatan bagi keuangan desa dengan mengefektifkan program yang berbasis
desa secara merata dan berkeadilan. Alokasi dana desa diharapkan dapat membawa
dampak pada peningkatan kesejahetraan masyarakat, terutama dalam memperkuat
upaya untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang makin merata (Muksin, 2015).
Dana desa adalah dana yang bersumber dari APBN yang diperuntukan bagi desa,
yang ditransfer melalui anggaran belanja daerah kabupaten/ kota. Dana ini
digunakan untuk membiayai penyelenggaraan pemerintahan, pelaksanaan
pembangunan, pembinaan kemasyarakatan, dan pemberdayaan masyarakat desa.
Sisi orientasi terhadap masyarakat terkandung makna bahwa alokasi dana
desa didesain memenuhi tujuan pemberdayaan desa agar menjadi kuat, maju,
mandiri, dan demokratis. Dengan begitu, ia diharapkan dapat menciptakan landasan
yang kuat dalam melaksanakan pemerintahan dan pembangunan di desa (Anwar,
2015).
Pengembangan basis ekonomi di perdesaan sudah sejak lama dijalankan oleh
Pemerintah melalui berbagai program, namun upaya itu belum membuahkan hasil
yang memuaskan sebagaimana yang diinginkan bersama. Berbagai program
Pemerintah untuk pengembangan ekonomi di perdesaan antara lain Usaha Ekonomi
Desa- Simpan Pinjam (UED-SP), Lembaga Simpan Pinjam Berbasis Masyarakat
(LSPBM), Badan Kredit Desa (BKD), Program Penanggulangan Kemiskinan Perkotaan
(P2KP), serta Program UPK-PKP-PKK sudah digulirkan untuk memperkuat
perekonomian di desa, namun hasilnya belum memuaskan. Faktor penyebab kurang
berhasilnya program-program tersebut paling dominan adalah daya kreativitas dan
inovasi masyarakat desa dalam mengelola, dan menjalankan mesin ekonomi di
perdesaan.
Strategi penguatan ekonomi desa melalui BUMDes, merupakan salah satu
solusi untuk melepaskan ketergantungan masyarakat desa terhadap bantuan
Pemerintah dan untuk dapat menggali potensi daerah. BUMDes, merupakan
lembaga usaha yang dikelola oleh masyarakat dan pemerintahan desa serta tidak
lagi didirikan atas instruksi Pemerintah, tidak dikuasai oleh kelompok tertentu serta
dalam menjalankan usahanya untuk kepentingan hajat hidup orang banyak yang
strategis di desa. Selain itu lembaga usaha desa yang dikelola oleh masyarakat dan
pemerintahan desa dibentuk berdasarkan kebutuhan dan potensi desa, Badan
Usaha Milik Desa selanjutnya disingkat dengan BUMDes diproyeksikan muncul
sebagai kekuatan ekonomi baru di wilayah perdesaan.
Kecamatan Sambas sebagai wilayah yang luas memiliki beragam potensi yang
sangat besar untuk dikembangkan. Pengembangan potensi Kecamatan Sambas
mestinya dimulai dari Desa, sebagai ujung tombang pembangunan di era otonomi
daerah. Diharapkan dengan hadirnya mekanisme otonomi Desa, menjadikan desa
lebih kreatif dan inovatif dalam mengelola potensi dan sumber daya desa menjadi
kekuatan ekonomi.
Berdasarkan pemaparan diatas, penguatanBUMDes merupakan salah satu
solusi yang mampu dilakukan oleh pemerintah Dearah dalam memberdayakan
masyarakat menuju kemandirian ekonomi Desa. Salah satu titik tekan dari
penguatanBUMDes khususnya di daerah Sambas itu sendiri adalah penguatan
kelembagaan serta pengembangan potensi Lokal, pemberdayaan masyarakat dalam
meningkatkan kreativitas dan nilai jual produk masyarakat. Kecamatan Sambas
sebagai salah satu kecamatan yang potensial di Kabupaten Sambas mestinya mampu
dioptimalkan dalam mendorong kemandirian desa melalui penguatanBUMDes.
Diharapkan nantinya model penguatanBUMDes di wilayah ini menjadi contoh untuk
wilayah-wilayah lainnya yang memiliki keunikan berbeda di wilayah Kabupaten
Sambas.

B. Rumusan dan Batasan Masalah


Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas maka dapat
dirumuskan masalah penelitian yaitu:
1. Bagaimana usaha yang tepat dalam Penguatan Badan Usaha Milik Desa
(BUMDes) menuju kemandirian masyarakat perdesaan di Kecamatan
Sambas?
2. Bagaimana prioritas strategi PenguatanBadan Usaha Milik Desa
(BUMDes) dalam meningkatkan perekonomian dan kemandirian
masyarakat perdesaan diKecamatan Sambas?

C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan pemaparan diatas, penguatan BUMDes merupakan salah satu
solusi yang mampu dilakukan oleh pemerintah Dearah dalam menuju kemandirian
Desa dalam upaya pemerataan pembangunan di Daerah. Salah satu titik tekan dari
Usaha Menuju Kemandirian Desa dalam penelitian ini adalah Melalui Penguatan
BUMDes.
Adapun Tujuan dari penelitian ini meliputi:
1. Identifikasi dan pemetaan terhadap potensi keunikan yang bisa dikembangkan
sebagai penguatan BUMDes di Kecamatan Sambas.
2. Identifikasi dan pemetaan hambatan-hambatan dalam Penguatan BUMDes di
Kecamatan Sambas.
3. Identifikasi jaringan dan organisasi yang menjadi pendukung Penguatan
BUMDes di Kecamatan Sambas.
4. Menganalisis pentingnya peranan pemerintah daerah serta lembaga-lembaga
terkait dalam Penguatan BUMDes di Kecamatan Sambas.
5. Mengetahui potensi-potensi yang bisa diberdayakan dalam Penguatan
BUMDes di Kecamatan Sambas.
6. Menentukan model yang tepat dalam usaha menuju kemandirian desa melalui
penguatan BUMDes di Kecamatan Sambas.

D. Sasaran Penelitian
Sasaran kegiatan Kajian Usaha Menuju Kemandirian Desa Melalui Penguatan
BUMDes di Kecamatan Sambas adalah adalah terlaksananya penelitian akademis
dengan pendekatan metodologi ilmiah yang berbasis pada usaha yang selanjutnya
disusun dalam rencana strategi penguatan BUMDesmenuju kemandirian Desa yang
selanjutnya menjadi rekomendasi bagi pemerintah daerah dalam pembangunan
daerah.

E. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat dari Kajian Usaha Menuju Kemandirian Desa Melalui
Penguatan BUMDes di Kecamatan Sambas ini meliputi:
1. Memberikan rekomendasi dan kajian Usaha Menuju Kemandirian Desa Melalui
Penguatan BUMDes di Kecamatan Sambas.
2. Memberikan Opini dan rekomendasi dalam mengoptimalkan peranan dan
partisipasi pemerintah daerah, swasta dan pihak lain dalam mendukung Usaha
Menuju Kemandirian Desa Melalui Penguatan BUMDes di Kecamatan Sambas.
3. Menyusun rencana starategis dalam mengoptimalkan potensi pemberdayaan
masyarakat untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam Usaha Menuju
Kemandirian Desa Melalui Penguatan BUMDes di Kecamatan Sambas.

F. Lingkup Kegiatan
Adapun ruang lingkup kegiatan ini meliputi:
1. Penelitian lapangan melalui penyebaran angket dan wawancara mendalam
pada masyarakat, para ahli dan pihak terkait.
2. Melakukan observasi terhadap objek penelitian utamanya dalam
usahaMenuju Kemandirian Desa melalui penguatan BUMDes di Kecamatan
Sambas.
3. Melakukan pendalaman materi melalui kajian pustaka dengan pendekatan
teori-teori akademis.
4. Melakukan diskusi mendalam pada pihak-pihak terkait untuk
menyempurnakan hasil kajian yang telah dilakukan sebelumnya

G. Metodologi Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, yaitu untuk
mengungkapkan peristiwa-peristiwa riil di lapangan dan dapat mengungkapkan
bentuk, proses, dan tantangan yang dihadapi dalam usaha menuju kemandirian
Desa melalui penguatan BUMDes di Kecamatan Sambas.
Penelitian ini mengambil lokasi di Kecamatan Sambas yang telah memiliki dan
mengelola BUMDes yang terdiri dari 2 (dua) Desa yakni Desa Karitasa dan Desa
Sebayan, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat. Dipilihnya 2 (dua) Desa dilakukan
secara sengaja karena pertimbangan hanya dua desa ini yang sudah memiliki
BUMDesa di Kecamatan Sambas.
Sumber data dalam penelitian ini adalah informan, sebagai sumber data utama
digali melalui wawancara mendalam dengan para informan. Informan dipilih secara
purposive sampling artinya pemilihan informan ini di pilih secara sengaja didasarkan
atas subyek yang menguasai permasalahan yang berkenaan dengan fokus penelitian
dan bersedia memberikan data. Teknik Pengumpulan Data dengan menggunakan
observasi, wawancara dan dokumen. Teknik analisis data penelitian ini
menggunakan interative model analysis dan analisis SWOT.
Analisis SWOT merupakan salah satu metode analisis yang dapat digunakan
untuk merumuskan alternatif strategi berdasarkan kondisi internal dan eksternal,
Dengan menggunakan analisis SWOT akan diperoleh beberapa alternatif strategi
yang saling memiliki keterkaitan antar alternatif. Alternatif yang diperoleh perlu
dibobotkan karena tingkat kepentingan dari tiap alternatif berbeda. Metode
Analytical Network Process (ANP) merupakan salah satu metode Multi Criteria
Decision Making (MCDM) yang dapat digunakan untuk menyusun prioritas
kepentingan dari berbagai alternatif yang ada. Dengan demikian dapat diperoleh
alternatif strategi yang paling tepat digunakan dalam Strategi Pengembangan
Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) dalam meningkatkan perekonomian
masyarakat perdesaan Kabupaten Sambas.

H. Output
Output kegiatan dari kajian Usaha Menuju Kemandirian Desa Melalui
Penguatan BUMDes di Kecamatan Sambas ini meliputi:
1. Tersusunnya rencana program pengembangan yang dapat dilakukan untuk
penguatan BUMDes di Kecamatan Sambas.
2. Inventarisasi potensi yang dapat dioptimalkan dalam penguatan BUMDes di
Kecamatan Sambas.
3. Data-data pendukung dalam penguatan BUMDes di Kecamatan Sambas
4. model yang tepat dalam usaha menuju kemandirian desa melalui penguatan
BUMDes di Kecamatan Sambas.

II. Jangka Waktu Pelaksanaan


Kegiatan Kajian Upaya Menuju Kemandirian Desa Melalui Penguatan BUMDes
di Kecamatan Sambas diharapkan dapat diselesaikan dalam waktu 90 (Sembilan
Puluh) hari kalender terhitung sejak tanggal diterbitkannya Surat Perintah Mulai Kerja
(SPMK) dari Pemberi Tugas

IV. Tenaga Ahli


Personil yang ditugaskan oleh konsultan untuk kegiataan ini, harus mampu
dalam melaksanakan tugas masing-masing. Untuk melaksanakan tugas tersebut
diminta tenaga ahli, tenaga teknis dan tenaga pendukung yang berkualifikasi dan
bertugas :
1. Tenaga Ahli
a. Ketua Tim (Team Leader)
Pascasarjana Ekonomi lulusan Universitas Negeri atau swasta dengan status
diakui / disamakan dengan pengalaman minimal 2 (dua) tahun
Tugas team leader meliputi hubungan kerja (koordinasi) dan investigasi,
bertanggung jawab masalah keuangan, administrasi, teknik, laporan kemajuan
kerja serta memecahkan persoalan yang timbul dalam pelaksanaan kerja
b. Ahli Ekonomi Pembangunan
Sarjana Ekonomi Pembangunan lulusan Universitas Negeri atau swasta
dengan status diakui / disamakan dengan pengalaman kerja minimal 2 (dua)
tahun dalam bidang yang relevan dengan pekerjaan sejenis
c. Ahli Ekonomi Management
Sarjana Ekonomi Manajemen lulusan Universitas Negeri atau swasta dengan
status diakui / disamakan dengan pengalaman kerja minimal 2 (dua) tahun
dalam bidang yang relevan dengan pekerjaan sejenis
d. Ahli Sosial
Sarjana Sosial yang berhubungan dengan kemasyarakatan baik lulusan
Universitas Negeri atau swasta dengan status diakui / disamakan dengan
pengalaman kerja minimal 2 (dua) tahun dalam bidang yang relevan dengan
pekerjaan sejenis.

2. Tenaga Teknis dan Pendukung


a. Operator Komputer
Staf konsultan yang ditugaskan menjadi operator komputer yang berkaitan
dengan pekerjaan ini.
b. Administrasi / Sekretaris
Staf konsultan yang ditugaskan menjadi Administrasi / Sekretaris yang
berkaitan dengan pekerjaan ini.

V. Pembiayaan
Pembiayaan pekerjaan ini bersumber dari dana Anggaran Pendapatan dan
Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Sambas tahun anggaran 2017 yang dibebankan
pada Anggaran kegiatan Penelitian dan Pengembangan Bidang Bidang Ekonomi
Pekerjaan Kajian Upaya Menuju Kemandirian desa Melalui Penguatan BUMDes di
Kecamatan Sambas , nomor 4.04.40101.18.26

VI. Kewajiban Konsultan


Konsultan berkewajiban dan bertanggungjawab sepenuhnya terhadap
pelaksanaan Kegiatan Kajian Upaya Menuju Kemandirian desa Melalui Penguatan
BUMDes di Kecamatan Sambas berdasarkan ketentuan perjanjian kerjasama yang
telahditetapkan.
Konsultan berkewajiban memfasilitasi Kegiatan Kajian Upaya Menuju
Kemandirian desa Melalui Penguatan BUMDes di Kecamatan Sambas sesuai
dengan Kerangka Acuan Kerja ini.
Konsultan dalam melaksanakan pekerjaan dinyatakan berakhir sampai dengan
diterimanya Laporan Akhir Kajian Upaya Menuju Kemandirian desa Melalui
Penguatan BUMDes di Kecamatan Sambas.
Konsultan diwajibkan memfasilitasi forum diskusi dan seminar pembahasan
bersama dengan Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan, Tim Teknis dan pihakpihak
terkait lainnya dalam proses Kegiatan Kajian Upaya Menuju Kemandirian desa
Melalui Penguatan BUMDes di Kecamatan Sambas

VII. Pengawasan Pekerjaan


1. Pihak pengguna jasa akan mengangkat pejabat, petugas dan wakilnya sebagai
pengawas / direksi yang diperlukan demi pelaksanaan jasa konsultasi yang efektif
2. Setiap saat pengawas/direksi berwenang memeriksa pekerjaan yang sedang
dilaksanakan dan memeriksakan perbaikan terhadap kesalahan yang mungkin
terjadi.

VIII. Konsultasi / Asistensi dan Diskusi


1. Konsultan diwajibkan untuk melakukan konsultasi/asistensi dan diskusi dengan
pihak Direksi pekerjaan secara periodie, yaitu sebelum dan sesudah item pekerjaan
dilaksanakan.
2. Konsultan tidak dibenarkan melaksanakan item pekerjaan selanjutnya sebelum
mendapat rekomendasi untuk melanjutkan pekerjaan dari pihak Direksi.
3. Konsultasi diwajibkan untuk melakukan konsultasi dan diskusi apabila ditemui
kendala pada pekerjaan yang membutuhkan penyelesaian secara terkoordinasi.

IX. Produk / Hasil Yang diserahkan


1. Laporan Pendahuluan
pengguna jasa paling lambat sejak berakhirnya masa kontrak.Pada tahap ini
pelaksanaan pekerjaan diharapkan telah memahami kerangka acuan yang
diberikan serta telah merumuskan kedalam metodologi pendekatan yang
digunakan. Cakupan laporan pendahuluan adalah pemahaman pelaksanaan
pekerjaan terhadap kerangka acuan dan kondisi wilayah, metode pendekatan yang
akan digunakan dan data-data yang dibutuhkan, uraian langka-langka kegiatan
serta rancangan survey termasuk balangko survey dan pengumpulan data
lapangan yang akan dilakukan. Laporan ini harus diserahkan kepada pihak
pengguna jasa sebanyak 5 (lima) eksemplar
2. Laporan Akhir Sementara
Laporan ini pada dasarnya merupakan uraian hasil pelaksanaan kegiatan secara
keseluruhan yang telah dirangkum dalam bentuk rancangan konkrit yang
diharapkan dapat dijadikan bahan dalam pembahasaan dengan dinas / instansi
teknis yang terkait dan untuk selanjutnya dipublikasikan sebagai hasil akhir
pelaksanaan pekerjaan. Laporan akhir sementara ini harus diserahkan kepada
pihak pengguna jasa sebanyak 5 (lima) eksemplar.
3. Laporan Akhir
Laporan akhir ini merupakan penyempurnaan dari Draft laporan akhir yang telah
direvisi dan disempurnakan berdasarkan masukan-masukan pada saat diskusi /
seminar. Laporan akhir ini dibuat sebanyak 10 (sepuluh) eksemplar dilengkapi
dengan file laporan dalam dvd sebanyak 10 (sepuluh) keping.

X. Akomodasi Staf
Selama pelaksanaan pekerjaan survey dan pengumpulan data, staf konsultan
harus bertempat tinggal di lapangan. Konsultan harus menyediakan hal-hal sebagai
berikut:
1. Biaya mobilisasi dan demobilisasi staf dan peralatan yang dibutuhkan
2. Ruang kerja untuk staf lengkap dengan peralatan yang dibutuhkan
3. Fasilitas transportasi yang sesuai dengan kondisi lapangan
4. Pengeluaran untuk akomodasi, perjalanan, penginapan dan lain-lain
5. Biaya pengadaan tenaga local (jika diperlukan), biaya sosial, pengobatan dan lain-
lain.

XI. Fasilitas Yang Disediakan Oleh Pengguna Jasa


1. Pihak pengguna jasa akan menyediakan fasilitas yang ada berupa dokumen-
dokumen seperti data, laporan-laporan, peta/gambar serta informasi lainnya yang
berhubungan dengan pekerjaan.
2. Bantuan dan kerjasama dalam bentuk keikutsertaan (jika diperlukan) pada waktu
pelaksanaan pekerjaan survey dan pengumpulan data lapangan.
XII. Lain-Lain
1. Segala sesuatu yang belum diatur di dalam TOR/KAK harus dilaksanakan
berdasarkan persyaratan teknis yang umum berlaku untuk pekerjaan serupa
setelah disetujui melalui koordinasi dan kerjasama yang baik dengan pihak
pengguna jasa.
2. Dalam melaksanakan pekerjaan pihak penyedia jasa harus selalu melakukan
koordinasi dan kerjasama yang baik dengan pihak terkait.

Sambas, 1 Agustus 2017

Pejabat Pembuat Komitmen


Badan Perencanaan Pembangunan Daerah
Kabupaten Sambas

SEPTIZA, ST, M.Kes


NIP. 19711010 200003 2 004