Anda di halaman 1dari 14

NASKAH PUBLIKASI

PREVALENSI KELAINAN REFRAKSI MATA PADA ANAK


USIA 8 12 TAHUN DI SDSN PONDOK KELAPA 03 PAGI
JAKARTA, JAKARTA TIMUR

Disusun oleh :
ARGIA ANJANI
NPM 1102013041

Skripsi ini diajukan sebagai salah satu syarat untuk mendapatkan gelar Sarjana
Kedokteran

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS YARSI


JAKARTA
TAHUN 2017
2
Prevalensi Kelainan Refraksi Mata pada Anak Usia 8 12
Tahun di SDSN Pondok Kelapa 03 Pagi Jakarta, Jakarta
Timur
Prevalence of Refractive Errors on Children Aged 8 12
Years Old in SDSN Pondok Kelapa 03 Pagi Jakarta, East
Jakarta

Argia Anjani1, Tri Agus Haryono2


1. Mahasiswa, Fakultas Kedokteran, Universitas YARSI
2. Dosen, Fakultas Kedokteran, Universitas YARSI

*Korespodensi : E-mail: argia.anjani@yahoo.com

KATA KUNCI Prevalensi, Kelainan Refraksi, Anak


KEYWORDS Prevalence, Refractive Errors, Children

ABSTRAK Latar Belakang: Kelainan refraksi mata memiliki prevalensi


sebesar 22,1% dari total populasi, dan 15% diantaranya diderita
oleh anak usia sekolah di Indonesia. Kelainan refraksi dapat
ditemukan pada setiap kelompok usia, tapi kondisi ini sangat
bermasalah dan perlu diperhatikan pada anak-anak usia sekolah
Tujuan: Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui prevalensi
kelainan refraksi pada siswa usia 8 12 tahun di SDSN Pondok
Kelapa 03 Pagi Jakarta, Pondok Kelapa, Jakarta Timur, DKI
Jakarta.
Metode: Rancangan penelitian yang digunakan adalah penelitian
deskriptif. Pengambilan sampel dilakukan dengan cara
probability sampling yaitu simple random sampling dan
didapatkan 70 sampel. Pengumpulan data menggunakan lembar
persetujuan responden, formulir data responden, Snellen Chart
dan kacamata Pinhole. Analisis data menggunakan SPSS versi
24.0.

3
Hasil: Sejumlah 41 siswa SDSN Pondok Kelapa 03 Pagi Jakarta
usia 8 12 tahun dari total 70 responden mengalami kelainan
refraksi mata sehingga diperoleh persentase sebesar 58,6%.
Didapatkan pula sejumlah 29 siswa atau sebesar 41,4% responden
tidak mengalami kelainan refraksi mata. Persentase kejadian
kelainan refraksi berdasarkan usia tertinggi ada pada usia 11
tahun sebesar 70,6% dan angka persentase kejadian kelainan
refraksi tertinggi berdasarkan jenis kelamin ada pada perempuan
dengan persentase sebesar 72,9%
Kesimpulan: Secara statistik prevalensi kelainan refraksi mata
pada siswa SDSN Pondok Kelapa 03 Pagi Jakarta usia 8 12
tahun sebesar 58,6%
Keterbatasan Penelitian: Penelitian hanya dilakukan pada satu
sekolah dasar di Jakarta Timur, sehingga masih perlu dilakukan
penelitian dengan skala lebih besar dan tersebar di seluruh
wilayah Jakarta untuk dapat memberikan gambaran kelainan
refraksi pada populasi anak usia sekolah dasar di Jakarta.
Selanjutnya, pemeriksaan dengan Snellen chart dan kacamata
pinhole merupakan pemeriksaan subjektif sehinga konsentrasi
serta kerjasama dari responden dapat mempengaruhi hasil dari
penelitian ini
Saran: Diharapkan kepada masyarakat untuk lebih meningkatkan
kesadaran dan mencari informasi lebih terhadap kesehatan
refraksi mata dan melakukan skrining pemeriksaan kelainan
refraksi mata, serta menggunakan alat bantu koreksi mata jika
memang membutuhkan. Diharapkan peneliti selanjutnya dapat
melakukan penelitian dengan jumlah sampel yang lebih besar

4
ABSTRACT
Background : The refractive errors were reported to be prevalent
22.1% of the total population and 15% of who sustained by
children of school age in Indonesia. Refraction errors can be
found in every group of age, but this condition is very
troublesome and noteworthy in age of school children
Objective : The aim of this research is to discover the
prevalence of refraction errors in students ages 8 12 years old at
SDSN Pondok Kelapa 03 Pagi Jakarta, Pondok Kelapa, East
Jakarta, DKI Jakarta.
Method : The research designs is descriptive research. Data
was collected by probability sampling that is simple random
sampling from 70 respondents. Researcher use respondents
approvals sheets, respondents datas forms, Snellen Chart and
Pinhole glasses to collect data. Reasercher analyze data using
SPSS version 24.0.
Result : 41 out of 70 respondents aged 8 12 years old
sustained refractive errors (58,6%), therefore, 29 respondents
(41,4%) doesnt sustained refractive errors. The highest
prevalence of refractive errors based on age is at the age of 11
years old (70.6%) and the highest prevalence of refraction errors
based on gender is women (72,9%)
Conclusion : Statistically, the prevalence of refractive errors in
students at SDSN Pondok Kelapa 03 Pagi Jakarta aged 8 12
years old is 58.6%
Limitation : The limitation of this research is that this research
is only performed at one of many elementary schools in East
Jakarta, so its needed to do the research with greater scale and
spread across the region of Jakarta to be able to give data of
refractive errors in a population of elementary school age children
in Jakarta. Furthermore, the examination with the Snellen chart

5
and pinhole glasses is categorize as subjective examination which
cause concentration as well as the cooperation of respondents can
affect the results of this research
Suggestion: It is expected the public to increase the awareness
and seek more information on eyes health and did the screening
examination of refractive errors, as well as using eye correction
tools if it requires. It is expected the next researcher can do
research with a larger number of samples.

Pendahuluan sekolah. (Depkes, 2012)


Kelainan refraksi mata adalah Setelah dilakukan survey ke
keadaan di mana bayangan tegas tidak lapangan, pertama, peneliti menemukan
dibentuk pada retina, tetapi di bagian banyak siswa di SDSN Pondok Kelapa
depan atau belakang titik fokus retina 03 Pagi Jakarta yang menggunakan
dan tidak terletak pada satu titik yang kacamata. Kedua, menurut beberapa
tajam. Kelainan refraksi dikenal dalam guru yang mengajar di SD tersebut, ada
bentuk miopia, hipermetropia, dan beberapa murid yang mengeluhkan
astigmatismus. (Ilyas, 2013). tidak terbacanya tulisan di papan tulis.
Selain katarak, glukoma, dan Ketiga, menurut Kepala Sekolah SDSN
xeroftalmia, kelainan refraksi menjadi Pondok Kelapa 03 Pagi Jakarta, SD
penyebab tersering dari kelainan tersebut belum memiliki data mengenai
penglihatan dan kebutaan, terutama jumlah kejadian kelainan refraksi mata
pada usia anak sekolah dasar. Kelainan anak didiknya. Mengingat bahwa
refraksi mata memiliki prevalensi kelainan refraksi mata pada anak usia
sebesar 22,1% dari total populasi, dan sekolah perlu diperhatikan, hal tersebut
15% diantaranya diderita oleh anak usia menjadi alasan utama peneliti untuk
sekolah. Kelainan refraksi dapat memilih sekolah dasar tersebut menjadi
ditemukan pada usia kelompok, tapi tempat diadakannya penelitian skripsi
kondisi ini sangat bermasalah dan perlu berbasis research ini.
diperhatikan pada anak-anak usia

6
Metode
Rancangan penelitian yang Berdasarkan data pada tabel 1,
digunakan adalah penelitian deskriptif. dapat dilihat bahwa jumlah responden
Pengambilan sampel dilakukan dengan paling banyak terdapat pada usia 11
cara probability sampling yaitu simple tahun dengan jumlah 17 siswa (24,3%)
random sampling dan didapatkan 70 dan paling sedikit terdapat pada usia 12
sampel. Pengumpulan data tahun dengan jumlah 9 siswa (12,9%).
menggunakan lembar persetujuan Pada tabel 1 dapat pula dilihat
responden, formulir data responden, bahwa dari jenis kelamin responden,
Snellen Chart dan kacamata Pinhole. responden perempuan berjumlah 37
Analisis data menggunakan SPSS versi siswa (52,9%) lebih banyak
24.0. dibandingkan responden laki-laki yang
berjumlah 33 siswa (47,1%).
Hasil
Penelitian ini telah dilaksanakan
Tabel 2. Distribusi Frekuensi
pada bulan Agustus 2016 di SDSN
Kejadian Kelainan Refraksi Mata
Pondok Kelapa 03 Pagi Jakarta. Dalam
pada Siswa SDSN Pondok Kelapa 03
hasil penelitian ini dibahas mengenai
Pagi Jakarta usia 8 12 Tahun
karakteristik responden yang terdiri dari
isia dan jenis kelamin responden.
No. Hasil Pemeriksaan N %
1. Ya 41 58,6
Tabel 1. Karateristik Responden 2. Tidak 29 41,4

Siswa SDSN Pondok Kelapa 03 Pagi Total 70 100

Jakarta (n=70)
No. Karateristik N % Ket :

1. Usia Ya : Responden mengalami

8 tahun 14 20 kelainan refraksi

9 tahun 14 20 Tidak : Responden tidak mengalami

10 tahun 16 22,9 kelainan refraksi

11 tahun 17 24,3 Berdasarkan tabel 2 dapat

12 tahun 9 12,9 dilihat bahwa sejumlah 41 siswa SDSN

2. Jenis Kelamin Pondok Kelapa 03 Pagi Jakarta yang

Perempuan 37 52,9 berusia 8 12 tahun dari total 70

Laki-laki 33 47,1 responden mengalami kelainan refraksi

7
mata sehingga diperoleh angka Dari tabel 3 diperoleh angka persentase
persentase sebesar 58,6%. Dari total 70 kejadian kelainan refraksi tertinggi ada
anak, hanya ada 29 siswa atau sebesar pada usia 11 tahun dengan persentase
41,4% yang tidak mengalami kelainan sebesar 70,6% dengan jumlah 12
refraksi mata. responden dari total 17 responden pada
Peneliti menggunakan uji kategori usia tersebut, serta persentase
crosstab untuk mengetahui distribusi terendah ada pada usia 9 tahun dengan
frekuensi kejadian kelainan refraksi angka sebesar 42,8% yang diperoleh
mata berdasarkan usia siswa dan jenis dari 6 responden dari total 14 responden
kelamin responden, sehingga pada kategori usia tersebut.
didapatkan hasil sebagai berikut :
Tabel 4. Distribusi Frekuensi
Tabel 3. Distribusi Frekuensi Kejadian Kelainan Refraksi Mata
Kejadian Kelainan Refraksi Mata pada Siswa SDSN Pondok Kelapa 03
pada Siswa SDSN Pondok Kelapa 03 Pagi Jakarta usia 8 12 Tahun
Pagi Jakarta usia 8 12 Tahun Berdasarkan Jenis Kelamin
Berdasarkan Usia
No. Jenis Ya Tidak Total
No. Usia Ya Tidak Total Kelamin
Responden Responden
1. 8 tahun 9 5 14 1. Perempuan 27 10 37
(64,3%) (35,7%) (72,9%) (27,1%)
2. 9 tahun 6 8 14 2. Laki-laki 14 19 33
(42,8%) (57,2%) (42,4%) (57,6%)
3. 10 tahun 9 7 16
(56,3%) (43,7%)
Ket :
4. 11 tahun 12 5 17
Ya : Responden mengalami
(70,6%) (29,4%)
5. 12 tahun 5 4 9 kelainan refraksi
(55,6%) (44,4%) Tidak : Responden tidak mengalami
kelainan refraksi
Ket :
Ya : Responden mengalami Dari tabel 4 diperoleh angka persentase
kelainan refraksi kejadian kelainan refraksi tertinggi ada
Tidak : Responden tidak mengalami pada perempuan dengan persentase
kelainan refraksi sebesar 72,9% dengan jumlah 27

8
responden dari total 37 responden dari refraksi pada 183 anak usia sekolah
kategori perempuan, sedangkan pada dasar di sebuah klinik mata di Iran,
posisi kedua ada pada laki-laki dengan ditemukan bahwa terdapat 101
persentase sebesar 42,2% dengan responden dengan kelainan refraksi
jumlah 14 responden dari total 33 yang signifikan, serta 82 responden
responden dari kategori laki-laki. emetropia. Data ini pun selaras dengan
penelitian yang dilakukan oleh penulis
Pembahasan bahwa prevalensi kelainan refraksi
Berdasarkan hasil pada tabel 2, memiliki angka lebih dari 50% dari total
dapat dilihat bahwa prevalensi kelainan seluruh respondennya
refraksi mata pada siswa SDSN Pondok Pada penelitian yang sudah ada
Kelapa 03 Pagi Jakarta yang berusia 8 sebelumnya, oleh Juliana (2006), angka
12 tahun yakni sebesar 58,6%, dengan kejadian miopia meningkat 66% dan
rincian 41 siswa dari jumlah 70 siswa. angka astigmat meningkat 86% seiring
Sebesar 41,4% responden tidak peningkatan lama penggunaan
seluruhnya emetropia, ada beberapa dari komputer. Pada penelitian yang
responden yang memiliki penurunan dilakukan oleh Fatika SH (2009) di
visus, namun tidak mengalami kelainan Sumatra Utara, mengatakan bahwa
refraksi, dikarenakan hasil uji pinhole faktor keturunan berhubungan dengan
tetap. Ini menandakan bahwa penurunan prevalensi miopia, sedangkan lamanya
visus bukan dikarenakan oleh kelainan berkerja jarak dekat seperti membaca,
refraksi melainkan karena proses lain. bermain komputer tidak memiliki
Penelitian ini selaras dengan hubungan terhadap miopia. Namun hal
penelitian sebelumnya yang dilakukan ini tidak selaras dengan penelitian yang
oleh Jung Un Jang dan Inn-Jee Park dilakukan oleh Nindya (2013), yang
(2015) di Provinsi Jeolla Selatan, Korea mendapatkan hasil bahwa faktor
Selatan yang mengungkapkan data lifestyle lebih berpengaruh terhadap
bahwa prevalensi kelainan refraksi di kejadian miopia daripada faktor genetik.
kalangan siswa-siswa sekolah dasar di Hasil penelitian Nindya dapat
Jeolla Selatan memiliki angka lebih dari mendukung teori yang menyatakan
50% dari total seluruh respondennya. bahwa faktor gaya hidup yaitu aktivitas
Demikian pula dalam penelitian yang melihat dekat yang terlalu banyak,
dilakukan oleh Gholamhoseyn Aghai, et seperti membaca buku, melihat layar
al (2016) mengenai prevalensi kelainan komputer, bermain video game,

9
menonton televisi, dapat menyebabkan kedua orang tua yang mengalami
lemahnya otot siliaris mata sehingga miopia mempunyai risiko besar
mengakibatkan ganguan otot mata mengalami miopia.
untuk melihat jauh. Daerah perkotaan Penelitian ini memiliki beberapa
yang padat juga mengakibatkan keunggulan, yang pertama, penelitian
sempitnya ruang bermain sehingga anak pada anak usia sekolah dasar mengenai
cenderung melakukan aktivitas bermain prevalensi kelainan refraksi belum
di dalam ruangan yang jarang banyak dilakukan sehingga dapat
menggunakan penglihatan jauh menjadi data dasar bagi penelitian lain
(Fachrian dkk, 2009). tentang prevalensi kelainan refraksi
Pada penelitian lain yang serta dapat digunakan untuk intervensi
dilakukan oleh Saad A, El-Bayoumy lebih lanjut oleh pihak lain khususnya
BM (2007) pada anak usia sekolah di institusi kesehatan. Kedua, Penelitian
Mesir, diperoleh data bahwa tingkat ini adalah cara pemeriksaan tajam
pendidikan, aktivitas (kegiatan penglihatan yang mudah dan sederhana.
membaca dekat), status ekonomi, dan Pemeriksaan tajam penglihatan hanya
riwayat keluarga memiliki hubungan menggunakan uji kartu Snellen dan
terhadap terjadinya kelainan refraksi. ruangan dengan panjang 6 meter, serta
Pada penelitian yang dilakukan oleh dilakukan pinhole test untuk
Arianti (2013), ia mengemukakan membedakan apakah kelainan yang
beberapa faktor risiko yang dialami merupakan kelainan organik
berhubungan dengan terjadinya atau refraksi. Meskipun begitu, dapat
kelainan refraksi berupa lifestyle atau memberikan informasi skrining dalam
aktivitas sehari-hari yang memerlukan mendeteksi adanya gangguan tajam
penglihatan jarak dekat seperti penglihatan.
membaca, menulis, menggunakan Penelitian ini memiliki beberapa
komputer, maupun bermain video kekurangan, yang pertama, penelitian
games. Terjadinya kelainan refraksi hanya dilakukan pada satu sekolah
juga berhubungan dengan faktor dasar di Jakarta Timur, sehingga masih
genetik, seperti orang tua yang perlu dilakukan penelitian dengan skala
mengalami miopia cenderung memiliki lebih besar dan tersebar di seluruh
anak miopia. Pengaruh faktor keturunan wilayah Jakarta untuk dapat
tersebut mengikuti pola dose respons memberikan gambaran kelainan refraksi
pattern, dimana anak yang memiliki pada populasi anak usia sekolah dasar di

10
Jakarta. Kedua, pemeriksaan dengan dibandingkan responden dengan jenis
Snellen chart dan kacamata pinhole kelamin laki-laki. Dalam pandangan
merupakan pemeriksaan subjektif, maka Islam, menjaga kesehatan mata
konsentrasi serta kerjasama dari merupakan salah satu bentuk dari
responden dapat mempengaruhi hasil memelihara agama, jiwa, akal, dan
dari penelitian ini. harta. Terutama untuk orang tua,
Sebuah hal yang menarik dari memeriksakan kesehatan anak adalah
hasil penelitian prevalensi kelainan tanggung jawab yang diberikan Allah
refraksi ini adalah bahwa dari 41 S.W.T. dalam rangka menjaga amanah
responden yang mengalami kelainan yang telah diberikan oleh Allah S.W.T.
refraksi, hanya 16 orang sudah
menggunakan alat bantu koreksi mata, Saran
seperti kacamata, untuk mengkoreksi Berdasarkan hasil penelitian dan
kelainan refraksi matanya. Sedangkan pembahasan serta kesimpulan dapat
25 orang diantaranya belum disarankan sebagai berikut :
menggunakan alat koreksi mata. Hasil 1. Bagi Masyarakat
ini menunjukkan bahwa pentingnya Diharapkan kepada membaca
kesadaran orang tua maupun dinas untuk lebih meningkatkan
kesehatan setempat untuk melakukan kesadaran dan mencari informasi
skrining gangguan kelainan refraksi lebih terhadap kesehatan refraksi
pada anak usia sekolah dasar, sehingga mata dan melakukan skrining
anak dapat diberikan alat koreksi mata pemeriksaan kelainan refraksi
secara dini. mata, serta menggunakan alat
bantu koreksi mata jika memang
Kesimpulan membutuhkan.
Prevalensi kelainan refraksi mata
pada siswa SDSN Pondok Kelapa 03 2. Bagi Peneliti Selanjutnya
Pagi Jakarta usia 8 12 tahun sebesar Diharapkan peneliti selanjutnya
58,6%. Kelompok usia 11 tahun dapat melakukan penelitian
merupakan kelompok usia yang paling dengan jumlah sampel yang
sering ditemukan kelainan refraksi. lebih besar, ataupun dapat
Responden dengan jenis kelamin melanjutkan skrining kelainan
perempuan lebih banyak yang refraksi mata sampai jenis
mengalami kelainan refraksi kelainan refraksi (miopia,

11
hipermetropia, atau Arianti, Melita Perty. 2013. Hubungan
astigmatisma). Antara Riwayat Miopia di Keluarga
dan Lama Aktivitas Jarak Dekat
3. Bagi Pemerintah dengan Miopia pada Mahasiswa
Diharapakan pemerintah dapat PSPD UNTAN Angkatan 2010
melakukan usaha- usaha 2012. Pontianak: Universitas
preventif dan promotif untuk Tanjungpura.
mencegah dan menurunkan Dahlan, M. Sopiyudin. 2014. Statistik
prevalensi kelainan refraksi, untuk Kedokteran dan Kesehatan:
dengan cara mempermudah Edisi 6. Jakarta: Epidemiologi
akses informasi kesehatan, dan Indonesia.
memberikan edukasi bagi Departemen Kesehatan Indonesia 2012.
masyarakat luas melalui Mata Sehat di Segala Usia untuk
program-program kesehatan Peningkatan Kualitas Hidup
pemerintah pada pusat Masyarakat Indonesia. Pusat
pelayanan kesehatan maupun Komunikasi Sekretariat Jendral
media elektronik mengenai Kementrian Kesehatan Indonesia, RI.
kelainan refraksi, faktor- faktor Fachrian, D, dkk. 2009. Prevalensi
yang mempengaruhi kelainan Kelainan Tajam Penglihatan Pada
refraksi dan cara- cara Pelajar SD X Jatinegara Jakarta
pencegahannya. Timur. Maj Kedokt Indon, Volum:
59, Nomor: 6.
Goldberg M.D., Charlie. 2015. A
DAFTAR PUSTAKA
Practical Guide to Clinical
Abimanyu, Joeri K. 2009. Faktor yang
Medicine: A Comprehensive
Berhubungan dengan Kelainan
Physical Examination and Clinical
Refraksi Miopia pada Anak Sekolah
education site for medical students
Dasar di Kabupaten Tanggamus
and Other Health Care
tahun 2009-2010.
Proffesionals. www.
Aghai, Gholamhoseyn et al. 2016.
meded.ucsd.edu/clinicalmed/eyes.ht
Behavior Disorders in Children with
m. Diakses pada tanggal 20 Februari
Significant Refractive Errors.
2016.
Iranian Society of Ophtalmology.
Hasibuan, Fatika Sari. 2009. Hubungan
Faktor Keturunan, Lamanya Berkerja

12
Jarak Dekat, dengan Miopia pada Pasha, Mustafa Kamal, dkk. 2003. Fikih
Mahasiswa FK USU. Medan: Islam: Sesuai dengan Putusan
Universitas Sumatera Utara. Majelis Tarjih. Yogyakarta: Citra
Ilyas, H. Sidarta. 2004. Ilmu Penyakit Karsa Mandiri.
Mata. Edisi ketiga. Balai Penerbit Putra, Wicaksono. 2012. Menentukan
FKUI, Jakarta. Jumlah Sampel dengan Rumus
Ilyas, H. Sidarta. 2006. Kelainan Slovin (http://analisis-
Refraksi Mata. Edisikedua. Balai statistika.blogspot.co.id/2012/09/men
Penerbit FKUI, Jakarta. entukan-jumlah-sampel-dengan-
Ilyas, S., Yulianti, S. R. 2013. Ilmu rumus.html). Diakses 20 Mei 201
Kesehatan Penyakit Mata. Edisi Saad A. and El-Bayoumy BM (2007):
Keempat, hal 3 10, 75 82. Balai Environmental risk factors for
Penerbit FKUI, Jakarta. refractive error among Egyptian
James, Bruce., dkk. 2006. Lecture schoolchildren; 13 (4): 819-828.
Notes Ophtalmologi. Edisi ke-9, hal
Sherwood, Laurelee. 2014. Fisiologi
2 dan 35. Erlangga, Jakarta
Manusia: Dari Sel ke Sistem. Edisi
Jang, J.U. Park, I.J. 2015. The Status of
ke-8, hal 210. EGC, Jakarta.
Refractive Errors in Elementary
School Chikdren in South Jeolla Swarjana, I Ketut. 2015. Metodologi
Province, South Korea. Penelitian Kesehatan (Edisi Revisi)
Kurniasih, Imas. 2010. Mendidik SQ hal 101. ANDI, Yogyakarta.
Anak Menurut Nabi Muhammad
SAW. Yogyakarta: Pustaka Marwa Tausikal, M.A. (2013). Memilih

Munir, Juliana. 2006. Pengaruh Berobat atau Sabar dan Tawakkal?

Interaksi Komputer Terhadap http://rumaysho.com/umum/memilih

Progresivitas Miopi dan -berobat-atau-sabar-dan-tawakkal-

Astigmatisme. Yogyakarta : 5136 Diakses pada: 16 Oktober 2016

Universitas Muhammadiyah (16:08)

Yogyakarta. Vaughan, Daniel et al. 2011. General

Nindya, Kusumawardhani. 2013. Ophtalmology. Edisi ke-18. Lange

Pengaruh Faktor Genetik dan Medical, California.

Lifestyle terhadap Miopia. Widodo, Agus dkk. 2007. Jurnal

Yogyakarta : Universitas Oftalmologi Indonesia: Miopia

Muhammadiyah Yogyakarta. Patologi.

13
http://journal.unair.ac.id/download-
fullpapers-TinjPus3.pdf. Diakses
pada tanggal 15 Februari 2016
Yani, Ahmad Dwi. 2008. Kelainan
Refraksi Dan Kacamata. Surabaya
Eye Clinic,17 (5), Surabaya.
Zuhroni. 2000. Hukum Berobat Dalam
Perspektif Hukum Islam.
Kumpulan Makalah Agama Islam
1998-2011. Jakarta: Universitas
YARSI
Zuhroni. 2003. Islam untuk Disiplin
Ilmu Kesehatan dan Kedokteran 2
(Fiqh Kontemporer). Bagian Agama
Universitas YARSI. Jakarta.
Zuhroni. 2010. Pandangan Islam
Terhadap Masalah Kedokteran dan
Kesehatan Bagian Agama
Universitas YARSI. Jakarta.

14