Anda di halaman 1dari 7

ENTREPRENEUR dalam dunia pendidikan

Entrepreneur adalah seseorang yang mampu mengubah kotoran dan rongsokan menjadi
emas Ir. Ciputra -Kuliah Perdana Mahasiswa Baru Pascasarjana UGM angkatan 2007-

Keunggulan kompetitif bagi mahasiswa dapat ditanamkan sejak dini jika pendekatan
entrepreneurship dalam proses belajar-mengajar di perguruan tinggi, khususnya di
Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) dapat ditumbuhkembangkan. Praksis
pembelajaran di perguruan tinggi sering terjebak pada kondisi yang status quo. Para dosen
telah lama menggunakan sistem dan model pembelajaran yang itu-itu saja. Mereka puas
dengan apa yang telah dilakukan dalam kurun waktu yang cukup lama, tanpa adanya
perubahan. Jika masih ada anggapan seperti ini, proses belajar-mengajar di perguruan tinggi
tidak akan menghasilkan tamatan yang mandiri sebagaimana yang dimiliki oleh para
entrepreneur.

Oleh itu, jiwa dan naluri entrepreneurship perlu ditanamkan secara sadar dan tersistem agar
para lulusan perguruan tinggi mampu mandiri setelah mereka menjadi sarjana. Griffin
mengatakan bahwa entrepreneurship yang ditulis oleh Nathaniel H. Leff yang dipublikasikan
Office of Economic research, New York Stock Exchange, yaitu: Entrepreneurship is the
capacityfor innovation, investment, and expansion in new markets, products, and
techniques.

Berdasarkan pengetrian tersebut, kemudian Griffin memberikan penjelasan: .. an


entrepreneur is at work whenever someone takes risks and invests resources to make
something new, design new ways of making something that already exists, or create new
market. Penjelasan Grifin tersebut memang bernuansa bisnis yang diatur oleh mekanisme
pasar. Meskipun demikian, dunia pendidikan khususnya perguruan tinggi perlu
mengadopsinya ke dalam praksis pembelajaran, agar dari praksis pembelajaran itu perguruan
tinggi mampu menghasilkan lulusan yang memiliki wawasan untuk mandiri (entrepreneur).
Rekomendasi itu kemudian disebutnya dengan economic model of schooling. Dalam model
ekonomi tersebut, selanjutnya, dikatakan: An economic model of schooling subject to the
forces of supply and demand, diversity and autonomy, accountability and results makes
much more sense than the political model .

Jika proses belajar-mengajar di perguruan tinggi penghasil tenaga kerja terdidik harus mampu
menghasilkan lulusan yang mandiri dan memiliki keunggulan kompetitif, mau tidak mau
harus ada perubahan yang sistematik baik dilihat dari segi tujuan, metode maupun materi
pembelajaran itu sendiri. Dalam keadaan yang demikian para dosen tidak bisa lagi hanya
mengulang-ulang praktik lama dalam proses pembelajarannya. Dengan demikian, perubahan
adalah identik dengan proses pembelajaran itu sendiri. Secara metaforik mengutip ucapan
John E Kennedy berikut ini, yaitu untuk menggambarkan pentingnya perubahan yang harus
dilakukan oleh perguruan tinggi: Change is a way of life. Those who look to the past or
present will miss the future. Metafora itu jika diadopsikan dalam praksis pembelajaran di
perguruan tinggi khsuusnya UMRAH berarti: proses pembelajaran baik di kelas maupun di
laboratorium, maupun praktikum lapangan perlu ada perubahan sesuai dengan tuntutan dan
persyaratan persaingan global pada milenium ketiga. Dalam rangka perubahan itu para dosen
dan mahasiswa baik secara individual maupun kelompok dapat melakukan benchmarking.
Kegiatan untuk melakukan benchmarking dapat dilakukan baik secara internal maupun
eksternal.
Dalam kuliah perdana yang dilaksanakan pada hari Senin, 10 September 2007 tersebut, Ir. Ciputra
memaparkan bahwa setidaknya terdapat 5 alasan penting mengapa mengapa entrepreneurship
sangat penting diajarkan di bangku sekolah. Pertama, kebanyakan generasi muda tidak dibesarkan
dalam budaya wirausaha. Inspirasi dan latihan usaha tidak banyak diajarkan di bangku sekolah.
Kedua, Tingginya pengangguran di Indonesia mencapai angka 10, 93 juta jiwa pada tahun 2006.
Majalah Tempo edisi 20-26 Agustus 2007 menyajikan fakta bahwa pada tahun 2006, terdapat
670.000 sarjana dan lulusan diploma yang mengaggur. Ketiga, lapangan kerja sangat terbatas, tidak
sebanding dengan jumlah pencari kerja. Keempat, pertumbuhan interpreneur selain dapat
menampung tenaga kerja, juga dapat menciptakan kesejahteraan masyarakat secara luas. Menurut
David McClelland, seorang sosiolog terkemuka, suatu negara akan maju jika terdapat entrepreneur
sedikitnya sebanyak 2% dari jumlah penduduk. Menurut laporan yang dilansir Global
Entrepreneurship Monitor, pada tahun 2005, Negara Singapura memiliki entrepreneur sebanyak
7,2% dari jumlah penduduk. Sedangkan Indonesia hanya memiliki entrepreneur 0,18% dari jumlah
penduduk. Tidak heran jika pendapatan perkapita negara singa tersebut puluhan kali lebih tinggi dari
Indonesia. Menurut Prof. Lester C Thurow dalam bukunya Building Wealth: tidak ada isntitusi
yang dapat menggantikan peran individu para entrepreneur sebagai agen-agen perubahan. Untuk
itu menurut Ir. Ciputra, mereka yang paling siap dan paling mudah untuk dididik dan dilatih
kecakapan wirausaha adalah mereka yang sekarang berada di bangku sekolah. Kelima, Indonesia
sangat kaya dengan sumberdaya alam, akan tetapi sumber daya alam tersebut tidak bisa dikelola
dengan baik karena Indonesia kekurangan SDM entrepreneur yang mampu mengubah kotoran
dan rongsokan menjadi emas.

Dalam kuliah perdana tersebut, Ir. Ciputra membuka wawasan mahasiswa dan dosen bahwa
istilah entrepreneur tidak hanya berkaitan dengan dunia usaha, atau pengusaha, tetapi juga
berkaitan dengan bidang lain. Menurut beliau terdapat 4 kelompok Entrepreneur:

Business Entrepreneur. Kelompok ini terbagi menjadi dua yaitu Owner Entrepreneur
and professional Entrepreneur. Owner Entrepreneur adalah para penciptan dan
pemilik bisnis. Professional Entrepreneur adalah orang-orang yang memiliki daya
wirausaha akan tetapi mempraktekkannya pada perusahaan orang lain.
Government Entrepreneur. Adalah pemimpin negara yang mampu mengelola dan
menumbuhkan jiwa dan kecakapan wirausaha penduduknya. Contoh dari Government
Entrepreneur adalah pemimpin negara Singapura Lee Kuan Yew.
Social Entrepreneur. Yang masuk dalam kelompok ini adalah para pendiri orgnisasi-
organisasi social kelas dunia yang berhasil menghimpun dana masyarakat untuk
melaksanakan tugas social yang mereka yakini. Contohnya adalah Mohammad
Yunus, peraih nobel perdamaian tahun 2006 serta pendiri Grameen Bank.
Academic Entrepreneur. Termasuk dalam kelompok ini adalah akademisi yang
mengajar atau mengelola lembaga pendidikan dengan pola dan gaya Entrepreneur
sambil tetap menjaga tujuan mulia pendidikan. Universitas Harvard dan Stanford
merupakan beberapa uiversitas terkemuka yang mengelola dunia pendidikan dengan
gaya Entrepreneur
KEWIRAUSAHAAN DALAM DUNIA PENDIDIKAN
Diposkan oleh Dharwanto at Selasa, 17 Januari 2012

Tantangan paling nyata adalah era globalisasi. Globalisasi tersebut sudah


menimbulkan dampak ganda, di satu sisi membuka kesempatan kerja
sama yang seluas-luasnya antar negara, namun di sisi lain ternyata
membawa persaingan yang sangat ketat. Oleh sebab itu, tantangan utama
di masa kompentitif pada semua sektor jasa dengan mengandalkan
kemampuan sumber daya manusia (SDM), teknologi dan manajemen.

Guru sebagai ujung tombak memiliki peranan yang sangat penting dalam
menangkal dampak buruk dari globalisasi, melalui proses pembelajaran
yang dilakukannya. Proses pembelajaran yang berkualitas akan muncul
dari guru yang berkualitas, sehingga dapat menghasilkan anak didik yang
berkualitas pula. Tuntutan profesionalisme guru merupakan hal yang
tidak dapat ditawar-tawar lagi, jika kita ingin meningkatkan kualitas
pendidikan di negeri ini. Selama ini ada anggapan bahwa rendahnya
kualitas pendidikan Indonesia terkait dengan rendahnya tingkat
kesejahteraan guru. Akibatnya guru mengerjakan pekerjaan sampingan
untuk mencukupi kebutuhan hidupnya.

Peningkatan profesionalisme guru bukan hanya merupakan tanggung


jawab guru, tetapi juga merupakan tanggung jawab pemerintah,
masyarakat, sekolah dan organisasi yang terkait dengan pendidikan. Oleh
karena itu, pihak-pihak terkait harus mendukung secara nyata ketika
menuntut guru menjadi pekerjaan yang profesional. Sarana dan prasarana
untuk meningkatkan kompetensi guru mutlak harus ada, karena para guru
ini harus selalu up dating dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan
apa yang terjadi dengan dunia, dan ini membutuhkan fasilitas dan
teknologi yang memadai. Mungkin tidak begitu masalah dengan guru
yang tinggal di perkotaan yang sudah tersentuh dengan kecanggihan
teknologi, bagaimana guru yang tinggal di daerah pedesaan dan daerah
terpencil, dan kita juga tahu bahwa untuk mengakses informasi yang up
to date tidaklah murah.

Profesionalisme tidak hanya mencakup kompetensi seseorang, namun


harus mengisyaratkan adanya komitmen, dedikasi, kebanggaan, dan
ketulusan yang melekat pada diri seseorang. Kriteria seorang guru
dinyatakan profesional antara lain: memiliki komitmen pada siswa dan
proses belajarnya, secara mendalam menguasai bahan ajar dan cara
mengajarkannya pada siswa, bertanggung jawab memantau kemampuan
belajar siswa melalui berbagai teknik evaluasi, mampu berpikir sistematis
dalam melakukan tugas, dan menjadi bagian dari masyarakat belajar di
lingkungan profesinya.

Untuk mengefektifkan fungsi dan peranan guru, sesungguhnya tidak


cukup dengan hanya meningkatkan jumlah dan kualifikasi lembaga-
lembaga pendidikan dan pelatihan guru, namun hal yang paling menonjol
untuk dijadikan bahan kebijakan ialah aspek pengembangan jiwa
entrepreneur para pengelola lembaga-lembaga pendidikan dan pelatihan
guru, sehinga calon-calon guru tersebut memiliki jiwa kewirausahaan
yang memadai. Kepemilikan jiwa kewirausahaan bagi calon-calon guru
tersebut sangat penting artinya, karena guru memiliki peran strategis
dalam proses transformasi budaya entrepreneurship kepada murid-
muridnya, yang pada akhirnya jiwa kewirausahaan guru tersebut akan
senantiasa mengalir dari generasi ke generasi.

Dalam wacana teoritis, jiwa kewirausahaan tersebut akan mempengaruhi


perilaku orang lain, sebab kepemimpinan guru merupakan fenomenanya
dalam mempengaruhi murid. Perilaku kepemimpinan yang berkualitas
bagi guru ditunjukkan dengan deskripsi karakteristik pribadi guru yang
memiliki: (1) kematangan sosial, (2) kecerdasan, (3) kebutuhan untuk
berprestasi dan (5) sikap dalam hubungan kemanusiaan. Wujud dari
perilaku-perilaku tersebut pada kenyataannya cenderung membentuk
karakteristik kepribadian yang khas atau perilaku dominan yang
diperlihatkan dalam konteks interaksi dengan para muridnya.
Kecenderungan perilaku tersebut menjadi prototype perilaku yang sering
disebut gaya kepemimpinan guru.

Secara formal, guru adalah seorang "pemimpin" bagi segala kegiatan


yang harus dilakukan oleh murid-muridnya. Dengan demikian, upaya
pencapaian tujuan pembelajaran banyak dipengaruhi oleh keterampilan-
keterampilan (skills), wawasan (vision), dan jiwa (spirit) yang dimiliki
oleh para guru dalam melaksanakan tugas-tugas pembelajaran. Apabila
para guru memiliki ketiga kemampuan tadi dalam bidang kewirausahaan,
sangat dimungkinkan proses pembelajaran memiliki efektivitas yang
tinggi.

Fungsi guru sebagai pemimpin pendidikan yang paling pokok adalah


sebagai manajer pembaharu pembelajaran melalui proses-proses
transformasi budaya belajar dan bekerja. Proses transformasi budaya
tersebut hanya dapat berlangsung oleh orang-orang yang berjiwa
entrepreneur. Sebagai suatu lembaga pendidikan, sekolah merupakan unit
organisasi formal yang memiliki struktur organisasi tersendiri, dengan
tata kerja dan personil khusus yang terlibat di dalamnya. Guru merupakan
pemimpin yang bertanggungjawab dalam pengaturan dan pengelolaan
segala aktivitas pembelajaran, sehingga tujuan-tujuan pembelajaran dapat
tercapai secara efektif.

Salah satu manfaat bagi jiwa entrepreneur ialah dapat membentuk citra
anda sebagai guru yang kharismatis. Jiwa entrepreneur dapat ditularkan
melalui proses kepemimpinan transformasional, karena proses ini
memfokuskan secara khusus pada penciptaan dan pemeliharaan dari
sebuah perubahan. Perubahan seperti itu dibutuhkan ketika organisasi
mengantisipasi ancaman baru atau sedang menghadapi ancaman. Oleh
karena itu, penanaman jiwa kewirausahaan sangat relevan dengan kondisi
bangsa yang sedang mengalami keterpurukkan di berbagai sektor.
Tentu saja bagaimana anda menjadi pemimpin transformasional benar-
benar melakukannya telah menjadi subyek dari perdebatan hangat.
Namun beberapa mekanisme, termasuk kharisma dan motivasi
inspirasional sering diketahui. Perilaku kharismatis, sebagaimana telah
kita lihat, sering menyebabkan murid untuk mengidentifikasi dan
mengikat dirinya dengan pemimpin. Ini biasanya melibatkan sebuah visi
yang menarik, menyusun perilaku yang dibutuhkan (misalnya semangat
pengorbanan), dan menggunakan simbol-simbol untuk memfokuskan
pada tugas-tugas murid dalam belajar.

Guru yang berjiwa entrepreneur juga mencoba untuk menciptakan


hubungan istimewa dengan masing-masing muridnya. Kepemimpinan
entrepreneur mencoba untuk menyediakan stimulasi intelektual dengan
menantang orang-orang yang dipimpinnya untuk berpikir dalam suatu
cara yang benar-benar baru. Meskipun perilaku jelas merupakan hal yang
penting, kepemimpinan entrepreneur juga dapat dipandang sebagai
sebuah proses, baik dalam transaksional maupun tranformasional.