Anda di halaman 1dari 38

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi Ca Recti
Ca Rekti adalah kanker yang terjadi pada rektum. Rektum terletak di
anterior sakrum dan coccygeus panjangnya kira kira 15 cm. Rectosigmoid
junction terletak pada bagian akhir mesocolon sigmoid. Bagian sepertiga
atasnya hampir seluruhnya dibungkus oleh peritoneum. Di setengah bagian
bawah rektum keseluruhannya adalah ektraperitoneal (Hassan, 2006)
Karsinoma merupakan suatu proses pembelahan sel-sel (proliferasi) yang
tidak mengikuti aturan baku proliferasi yang terdapat dalam tubuh (proliferasi
abnormal). Proliferasi ini di bagi atas non-neoplastik dan neoplastik, non-
neoplastik dibagi atas :
a. Hiperplasia adalah proliferasi sel yang berlebihan. Hal ini dapat normal
karena bertujuan untuk perbaikan dalam kondisi fisiologis tertentu
misalnya kehamilan.
b. Hipertrofi adalah peningkatan ukuran sel yang menghasilkan pembesaran
organ tanpa ada pertambahan jumlah sel.
c. Metaplasia adalah perubahan dari satu jenis tipe sel yang membelah
menjadi tipe yang lain, biasanya dalam kelas yang sama tapi kurang
terspesialisasi.
d. Displasia adalah kelainan perkembangan selular, produksi dari sel
abnormal yang mengiringi hiperplasia dan metaplasia.Perubahan yang
termasuk dalam hal ini terdiri dari bertambahnya mitosis, produksi dari sel
abnormal pada jumlah besar dan tendensi untuk tidak teratur.

2.2 Etiologi dan Faktor Predisposisi


Price dan Wilson (1994) mengemukakan bahwa etiologi kanker rectum
sama seperti kanker lainnya yang masih belum diketahui penyebabnya.
Faktor predisposisi munculnya karsinoma rectum
1. Idiopathic Inflammatory Bowel Disease
a. Ulseratif Kolitis
Ulseratif kolitis merupakan faktor risiko yang jelas untuk kanker
kolon sekitar 1% dari pasien yang memiliki riwayat kronik ulseratif
kolitis. Risiko perkembangan kanker pada pasien ini berbanding
terbalik pada usia terkena kolitis dan berbanding lurus dengan
keterlibatan dan keaktifan dari ulseratif kolitis. Risiko kumulatif adalah
2% pada 10 tahun, 8% pada 20 tahun, dan 18% pada 30 tahun.
Pendekatan yang direkomendasikan untuk seseorang dengan risiko
tinggi dari kanker kolorektal pada ulseratif kolitis dengan mengunakan
kolonoskopi untuk menentukan kebutuhan akan total proktokolektomi
pada pasien dengan kolitis yang durasinya lebih dari 8 tahun. Strategi
yang digunakan berdasarkan asumsi bahwa lesi displasia bisa dideteksi
sebelum terbentuknya invasif kanker. Sebuah studi prospektif
menyimpulkan bahwa kolektomi yang dilakukan dengan segera sangat
esensial untuk semua pasien yang didiagnosa dengan displasia yang
berhubungan dengan massa atau lesi, yang paling penting dari analisa
mendemonstrasikan bahwa diagnosis displasia tidak menyingkirkan
adanya invasif kanker. Diagnosis dari displasia mempunyai masalah
tersendiri pada pengumpulan sampling spesimen dan variasi perbedaan
pendapat antara para ahli patologi anatomi.
b. Penyakit Crohns
Pasien yang menderita penyakit crohns mempunyai risiko tinggi
untuk menderita kanker rektal tetapi masih kurang jika dibandingkan
dengan ulseratif kolitis. Keseluruhan insiden dari kanker yang muncul
pada penyakit crohns sekitar 20%. Pasien dengan striktur kolon
mempunyai insiden yang tinggi dari adenokarsinoma pada tempat
yang terjadi fibrosis. Adenokarsinoma meningkat pada tempat
strikturoplasty menjadikan sebuah biopsy dari dinding intestinal harus
dilakukan pada saat melakukan strikturoplasty. Telah dilaporkan juga
bahwa squamous sel kanker dan adenokarsinoma meningkat pada
fistula kronik pasien dengan crohns disease (Schwartz SI, 2005).
Gambar 6. Crohns Disease

2. Faktor Genetik
a. Riwayat Keluarga
Sekitar 15% dari seluruh kanker recti muncul pada pasien dengan riwayat
kanker rekti pada keluarga terdekat. Seseorang dengan keluarga terdekat
yang mempunyai kanker rekti mempunyai kemungkinan untuk menderita
kanker rekti dua kali lebih tinggi bila dibandingkan dengan seseorang
yang tidak memiliki riwayat kanker rekti pada keluarganya.
b. Herediter Kanker Kolorektal
Abnormalitas genetik terlihat mampu memediasi progresi dari normal
menuju mukosa kolon yang maligna. Sekitar setengah dari seluruh
karsinoma dan adenokarsinoma yang besar berhubungan dengan mutasi.
Langkah yang paling penting dalam menegakkan diagnosa dari sindrom
kanker herediter yaitu riwayat kanker pada keluarga. Mutasi sangat
jarang terlihat pada adenoma yang lebih kecil dari 1 cm. Allelic deletion
dari 17p ditunjukkan pada dari seluruh kanker kolon, dan deletion dari
5q ditunjukkan lebih dari 1/3 dari karsinoma kolon dan adenoma yang
besar.2 Dua sindrom yang utama dan beberapa varian yang utama dari
sindrom ini menyebabkan kanker kolorektal telah dikenali karakternya.
Dua sindrom ini, dimana mempunyai predisposisi menuju kanker
kolorektal memiliki mekanisme yang berbeda, yaitu familial
adenomatous polyposis (FAP) dan hereditary non polyposis colorectal
cancer (HNPCC).

c. FAP (Familial Adenomatous Polyposis)


Gen yang bertanggung jawab untuk FAP yaitu gen APC, yang berlokasi
pada kromosom 5q21. Adanya defek pada APC tumor supresor gen dapat
menggiring kepada kemungkinan pembentukan kanker kolorektal pada
umur 40 sampai 50 tahun. Pada FAP yang telah berlangsung cukup lama,
didapatkan polip yang sangat banyak untuk dapat dilakukannya
kolonoskopi polipektomi yang aman dan adekuat; ketika hal ini terjadi,
direkomendasikan untuk melakukan prophylactic subtotal colectomy
diikuti dengan endoskopi pada bagian yang tersisa. Idealnya prophylactic
colectomy harus ditunda kecuali terdapat terlalu banyak polip yang dapat
ditangani dengan aman. Prosedur pembedahan elektif harus sedapat
mungkin dihindari ketika memungkinkan. Screening untuk polip harus
dimulai pada saat usia muda. Pasien dengan FAP yang diberi 400 mg
celecoxib, dua kali sehari selama enam bulan mengurangi rata rata jumlah
polip sebesar 28%. Tumor lain yang mungkin muncul pada sindrom FAP
adalah karsinoma papillary thyroid, sarcoma, hepatoblastomas, pancreatic
carcinomas, dan medulloblastomas otak. Varian dari FAP termasuk
gardners syndrom dan turcots syndrome (Casciato DA, 2004).
Gambar 6. Familial Adenomatous Polyposis & Kolitis Ulseratifa

d. HNPCC (Hereditary Non Polyposis Colorectal Cancer)


Pola autosomal dominan dari HNPCC termasuk lynchs sindrom I dan
II.2 Generasi multipel yang dipengaruhi dengan kanker kolorektal
muncul pada umur yang muda (45 tahun), dengan predominan lokasi
kanker pada kolon kanan. Abnormalitas genetik ini terdapat pada
mekanisme mismatch repair yang bertanggung jawab pada defek eksisi
dari abnormal repeating sequences dari DNA, yang dikenal sebagai
mikrosatellite (mikrosatellite instability). Retensi dari squences ini
mengakibatkan ekspresi dari phenotype mutator, yang dikarakteristikkan
oleh frekuensi DNA replikasi error (RER+ phenotype), dimana
predisposisi tersebut mengakibatkan seseorang memiliki multitude dari
malignansi primer. Pasien dengan HNPCC mungkin juga memiliki
adenoma sebaceous, carcinoma sebaceous, dan multipel keratocanthoma,
Termasuk kanker dari endometrium, ovarium, kandung kemih, ureter,
lambung dan traktus biliaris. Jika dibandingkan dengan sporadic kanker
kolorektal, tumor pada HNPCC seringkali poorly differentiated, dengan
gambaran mucoid dan signet-cell, reaksi yang mirip crohns (nodul
lymphoid, germinal centers, yang berlokasi pada perifer inflitrasi kanker
kolorektal), kehadiran infiltrasi lymphocytes diantara tumor.
Karsinogenesis yang terakselerasi muncul pada HNPCC, pada keadaan
ini adenoma kolon yang berukuran kecil dapat menjadi karsinoma dalam
2-3 tahun, bila dibandingkan dengan proses pada rata-rata kanker
kolorektal yang membutuhkan waktu 8-10 tahun.

Pasien dengan HNPCC mempunyai kecenderungan untuk menderita


kanker kolorektal pada umur yang sangat muda, dan screening harus
dimulai pada umur 20 tahun atau lebih dini 5 tahun dari umur anggota
keluarga yang pertama kali terdiagnosa kanker kolorektal yang
berhubungan HNPCC. Angka rata-rata pasien dengan HNPCC yang
didiagnosa menderita kanker kolorektal pada umur 44 tahun,
dibandingkan dengan pasien kontrol yang menderita kanker kolorektal
pada umur 68 tahun. Prognosis dari pasien HNPCC terlihat lebih baik
daripada pasien dengan sporadic kanker kolon. Dari penelitian
menunjukkan bahwa pasien dengan HNPCC kurang mendapat manfaat
dari adjuvant kemoterapi berdasarkan kombinasi fluorourasil daripada
pasien tanpa kelainan ini (Casciato DA, 2004).

3. Diet
Masyarakat yang diet tinggi lemak, tinggi kalori, daging dan diet rendah
serat berkemungkinan besar untuk menderita kanker kolorektal pada
kebanyakan penelitian, meskipun terdapat juga penelitian yang tidak
menunjukkan adanya hubungan antara serat dan kanker kolorektal. Ada dua
hipotesis yang menjelaskan mekanisme hubungan antara diet dan resiko
kanker kolorektal. Teori pertama adalah pengakumulasian bukti epidemiologi
untuk asosiasi antara resistensi insulin dengan adenoma dan kanker
kolorektal. Mekanismenya adalah menkonsumsi diet yang berenergi tinggi
mengakibatkan perkembangan resistensi insulin diikuti dengan peningkatan
level insulin, trigliserida dan asam lemak tak jenuh pada sirkulasi. Faktor
sirkulasi ini mengarah pada sel epitel kolon untuk menstimulus proliferasi
dan juga memperlihatkan interaksi oksigen reaktif. Pemaparan jangka
panjang hal tersebut dapat meningkatkan pembentukan kanker kolorektal.
Hipotesis kedua adalah identifikasi berkelanjutan dari agen yang secara
signifikan menghambat karsinogenesis kolon secara experimental. Dari
pengamatan tersebut dapat disimpulkan mekanismenya, yaitu hilangnya
fungsi pertahanan lokal epitel disebabkan kegagalan diferensiasi dari daerah
yang lemah akibat terpapar toksin yang tak dapat dikenali dan adanya respon
inflamasi fokal, karakteristik ini didapat dari bukti teraktifasinya enzim COX-
2 dan stres oksidatif dengan lepasnya mediator oksigen reaktif. Hasil dari
proliferasi fokal dan mutagenesis dapat meningkatkan resiko terjadinya
adenoma dan aberrant crypt foci. Proses ini dapat dihambat dengan (a)
demulsi yang dapat memperbaiki permukaan lumen kolon; (b) agen anti-
inflamasi; atau (c) anti-oksidan. Kedua mekanisme tersebut, misalnya
resistensi insulin yang berperan melalui tubuh dan kegagalan pertahanan
fokal epitel yang berperan secara lokal, dapat menjelaskan hubungan antara
diet dan resiko kanker kolorektal.

4. Gaya Hidup
Pria dan wanita yang merokok kurang dari 20 tahun mempunyai risiko
tiga kali untuk memiliki adenokarsinoma yang kecil, tapi tidak untuk yang
besar. Sedangkan merokok lebih dari 20 tahun berhubungan dengan risiko
dua setengah kali untuk menderita adenoma yang berukuran besar.
Diperkirakan 5000-7000 kematian karena kanker kolorektal di Amerika
dihubungkan dengan pemakaian rokok. Pemakaian alkohol juga
menunjukkan hubungan dengan meningkatnya risiko kanker kolorektal.
Pada berbagai penelitian telah menunjukkan hubungan antara aktifitas,
obesitas dan asupan energi dengan kanker kolorektal. Pada percobaan
terhadap hewan, pembatasan asupan energi telah menurunkan
perkembangan dari kanker. Interaksi antara obesitas dan aktifitas fisik
menunjukkan penekanan pada aktifitas prostaglandin intestinal, yang
berhubungan dengan risiko kanker kolorektal. The Nurses Health Study
telah menunjukkan hubungan yang berkebalikan antara aktifitas fisik
dengan terjadinya adenoma, yang dapat diartikan bahwa penurunan aktifitas
fisik akan meningkatkan risiko terjadinya adenoma

5. Usia
Proporsi dari semua kanker pada orang usia lanjut ( 65 thn) pria dan
wanita adalah 61% dan 56%. Frekuensi kanker pada pria berusia lanjut
hampir 7 kali (2158 per 100.000 orang per tahun) dan pada wanita berusia
lanjut sekitar 4 kali (1192 per 100.000 orang per tahun) bila dibandingkan
dengan orang yang berusia lebih muda (30-64 thn). Sekitar setengah dari
kanker yang terdiagnosa pada pria yang berusia lanjut adalah kanker prostat
(451 per 100.000), kanker paru-paru (118 per 100.000) dan kanker kolon (176
per 100.000). Sekitar 48% kanker yang terdiagnosa pada wanita yang berusia
lanjut adalah kanker payudara (248 per 100.000), kanker kolon (133 per
100.000), kanker paru paru (118 per 100.000) dan kanker lambung (75 per
100.000).
Usia merupakan faktor paling relevan yang mempengaruhi risiko kanker
kolorektal pada sebagian besar populasi. Risiko dari kanker kolorektal
meningkat bersamaan dengan usia, terutama pada pria dan wanita berusia 50
tahun atau lebih, dan hanya 3% dari kanker kolorektal muncul pada orang
dengan usia dibawah 40 tahun. Lima puluh lima persen kanker terdapat pada
usia 65 tahun, angka insiden 19 per 100.000 populasi yang berumur kurang
dari 65 tahun, dan 337 per 100.000 pada orang yang berusia lebih dari 65
tahun.
Di Amerika seseorang mempunyai risiko untuk terkena kanker kolorektal
sebesar 5%. Sedangkan kelompok terbesar dengan peningkatan risiko kanker
kolorektal adalah pada usia diatas 40 tahun. Seseorang dengan usia dibawah
empat puluh tahun hanya memiliki kemungkinan menderita kanker kolorektal
kurang dari 10%. Dari tahun 2000-2003, rata-rata usia saat terdiagnosa
menderita kanker kolorektal pada usia 71 tahun. Insidensi berdasarkan usia
dibawah 20 tahun sebesar 0,0%, 20-34 tahun sebesar 0,9%, 35-44 tahun
sebesar 3,5%, 45-54 tahun sebesar 10,9%, 55-64 tahun sebesar 17,6%, 65-74
tahun sebesar 25,9%, 75-84 tahun sebesar 28,8%, dan > 85 sebesar 12,3%.

2.3 Anatomi Dan Fisiologi Rektum


Secara anatomi rektum terbentang dari vertebre sakrum ke-3 sampai garis
anorektal. Secara fungsional dan endoskopik, rektum dibagi menjadi bagian
ampula dan sfingter. Bagian sfingter disebut juga annulus hemoroidalis,
dikelilingi oleh muskulus levator ani dan fasia coli dari fasia supra-ani.
Bagian ampula terbentang dari sakrum ke-3 ke difragma pelvis pada insersi
muskulus levator ani. Panjang rektum berkisar 10-15 cm, dengan keliling 15
cm pada rectosigmoid junction dan 35 cm pada bagian ampula yang terluas.
Pada orang dewasa dinding rektum mempunyai 4 lapisan : mukosa,
submukosa, muskularis (sirkuler dan longitudinal), dan lapisan serosa
(Samsuhidajat, 2004)

Gambar 1 : Anatomi Rektum


Gambar 2: Lapisan dinding rektum
Perdarahan arteri daerah anorektum berasal dari arteri hemoroidalis
superior, media, dan inferior. Arteri hemoroidalis superior yang merupakan
kelanjutan dari a. mesenterika inferior, arteri ini bercabang 2 kiri dan kanan.
Arteri hemoroidalis merupakan cabang a. iliaka interna, arteri hemoroidalis
inferior cabang dari a. pudenda interna. Vena hemoroidalis superior berasal
dari 2 plexus hemoroidalis internus dan berjalan ke arah kranial ke dalam v.
Mesenterika inferior dan seterusnya melalui v. lienalis menuju v. porta. Vena
ini tidak berkatup sehingga tekanan alam rongga perut menentukan tekanan
di dalamnya. Karsinoma rektum dapat menyebar sebagai embolus vena ke
dalam hati. Vena hemoroidalis inferior mengalirkan darah ke v. pudenda
interna, v. iliaka interna dan sistem vena kava.

Gambar 3 : Pembuluh darah Arteri dan Vena pada rektum


Pembuluh limfe daerah anorektum membentuk pleksus halus yang
mengalirkan isinya menuju kelenjar limfe inguinal yang selanjutnya
mengalir ke kelenjar limfe iliaka. Infeksi dan tumor ganas pada daerah
anorektal dapat mengakibatkan limfadenopati inguinal. Pembuluh rekrum
di atas garis anorektum berjalan seiring dengan v. hemoroidalis seuperior
dan melanjut ke kelenjar limfe mesenterika inferior dan aorta.
Persarafan rektum terdiri atas sistem simpatik dan parasimpatik.
Serabut simpatik berasal dari pleksus mesenterikus inferior yang berasal
dari lumbal 2, 3, dan 4, serabut ini mengatur fungsi emisi air mani dan
ejakulasi. Serabut parasimpatis berasal dari sakral 2, 3, dan 4, serabut ini
mengatur fungsi ereksi penis, klitoris dengan mengatur aliran darah ke
dalam jaringan.
2.4 Epidemiologi Ca Recti
Di USA Ca kolorektal merupakan kanker gastrointestinal yang paling
sering terjadi dan nomor dua sebagai penyebab kematian di negara
berkembang. Tahun 2005, diperkirakan ada 145,290 kasus baru kanker
kolorektal di USA, 104,950 kasus terjadi di kolon dan 40,340 kasus di rektal.
Pada 56,300 kasus dilaporkan berhubungan dengan kematian, 47.700 kasus
Ca kolon dan 8,600 kasus Ca rectal. Ca kolorektal merupakan 11 % dari
kejadian kematian dari semua jenis kanker (American Cancer Society, 2006).
Di seluruh dunia dilaporkan lebih dari 940,000 kasus baru dan terjadi
kematian pada hampir 500,000 kasus tiap tahunnya. (World Health
Organization, 2003). Menurut data di RS Kanker Dharmais pada tahun 1995-
2002, kanker rektal menempati urutan keenam dari 10 jenis kanker dari
pasien yang dirawat di sana. Kanker rektal tercatat sebagai penyakit yang
paling mematikan di dunia selain jenis kanker lainnya. Namun,
perkembangan teknologi dan juga adanya pendeteksian dini memungkinkan
untuk disembuhkan sebesar 50 persen, bahkan bisa dicegah. (Cirincione,
Elizabeth., 2005).
Dari seluruh pasien kanker rektal, 90% berumur lebih dari 50 tahun.
Hanya 5% pasien berusia kurang dari 40 tahun. Di negara barat, laki laki
memiliki insidensi terbanyak mengidap kanker rektal dibanding wanita
dengan rasio bervariasi dari 8:7 - 9:5 (Hassan,2006)

Gambar 4. Ca rekti
2.5 Patofisiologi
Pada mukosa rektum yang normal, sel-sel epitelnya akan mengalami
regenerasi setiap 6 hari. Pada keadaan patologis seperti adenoma terjadi
perubahan genetik yang mengganggu proses differensiasi dan maturasi dari
sel-sel tersebut yang dimulai dengan inaktivasi gen adenomatous polyposis
coli (APC) yang menyebabkan terjadinya replikasi tak terkontrol.
Peningkatan jumlah sel akibat replikasi tak terkontrol tersebut akan
menyebabkan terjadinya mutasi yang akan mengaktivasi K- ras onkogen dan
mutasi gen p53, hal ini akan mencegah terjadinya apoptosis dan
memperpanjang hidup sel.

Patofisiologi kanker rektum

Kanker kolon dan rectum terutama (95%) adenokarsinoma (muncul dari


lapisan epitel usus) dimulai sebagai polip jinak tetapi dapat menjadi ganas
dan menyusup serta merusak jaringan normal serta meluas ke dalam struktur
sekitarnya. Sel kanker dapat terlepas dari tumor primer dan menyebar ke
dalam tubuh yang lain (paling sering ke hati).

2.6 Klasifikasi Stadium Ca recti


The American Joint Committee on Cancer (AJCC) memperkenalkan
TNM staging system, yang menempatkan kanker menjadi satu dalam 4
stadium (Stadium I-IV).
1. Stadium 0
Pada stadium 0, kanker ditemukan hanya pada bagian paling dalam
rektum.yaitu pada mukosa saja, disebut juga carcinoma in situ.
2. Stadium I
Pada stadium I, kanker telah menyebar menembus mukosa sampai lapisan
muskularis dan melibatkan bagian dalam dinding rektum tapi tidak
menyebar kebagian terluar dinding rektum ataupun keluar dari rektum.
disebut juga Dukes A rectal cancer.
3. Stadium II
Pada stadium II, kanker telah menyebar keluar rektum kejaringan terdekat
namun tidak menyebar ke limfonodi. Disebut juga Dukes B rectal cancer.
4. Stadium III
Pada stadium III, kanker telah menyebar ke limfonodi terdekat, tapi tidak
menyebar kebagian tubuh lainnya, disebut juga Dukes C rectal cancer.
5. Stadium IV
Pada stadium IV, kanker telah menyebar kebagian lain tubuh seperti hati,
paru, atau ovarium, disebut juga Dukes D rectal cancer

Gambar 7. Stadium Ca Recti I-IV


Tabel 1. CT Staging System for Rectal Cancer*

Stadium Deskripsi

Massa polypoid Intraluminal; tidak ada penebalan pada dinding


T1
rectum

Penebalan dinding rectum >6 mm; tidak ada perluasan ke


T2
perirectal

Penebalan dinding rectum dan invasi ke otot dan organ yang


T3a
berdekatan.

Penebalan dinding rectum dan invasi ke pelvic atau dinding


T3b
abdominal

T4 Metastasis jauh, biasanya ke liver atau adrenal


*Modified from Thoeni (Radiology, 1981)

Tabel 2. TNM/Modified Dukes Classification System*

TNM Modified Dukes


Deskripsi
Stadium Stadium

T1 N0
A Tumor terbatas pada submucosa
M0

T2 N0
B1 Tumor terbatas pada muscularis propria
M0

T3 N0
B2 Penyebaran transmural
M0

T2 N1
C1 T2, pembesaran kelenjar mesenteric
M0

T3 N1
C2 T3, pembesaran kelenjar mesenteric
M0

T4 C2 Penyebaran ke organ yang berdekatan


Any T,
D Metastasis jauh
M1
*Modified from the American Joint Committee on Cancer (1997)

2.7 Diagnosis Ca Recti


2.7.1 Gejala Klinis
Tanda dan gejala yang mungkin muncul pada kanker rektal antara lain
ialah :
a. Perubahan pada kebiasaan BAB atau adanya darah pada feses, baik itu
darah segar maupun yang berwarna hitam.
b. Diare, konstipasi atau merasa bahwa isi perut tidak benar benar
kosong saat BAB
c. Feses yang lebih kecil dari biasanya
d. Keluhan tidak nyaman pada perut seperti sering flatus, kembung, rasa
penuh pada perut atau nyeri
e. Penurunan berat badan yang tidak diketahui sebabnya
f. Mual dan muntah,
g. Rasa letih dan lesu
h. Pada tahap lanjut dapat muncul gejala pada traktus urinarius dan nyeri
pada daerah gluteus.

2.7.2 Pemeriksaan Fisik


Pada pemeriksaan colok dubur ini yang harus dinilai adalah:
a. Keadaan tumor: ekstensi lesi pada dinding rektum serta letak
bagian terendah terhadap cincin anorektal, cervix uteri, bagian atas
kelenjar prostat atau ujung os coccygis. Pada penderita perempuan
sebaiknya juga dilakukan palpasi melalui vagina untuk mengetahui
apakah mukosa vagina di atas tumor tersebut licin dan dapat
digerakkan atau apakah ada perlekatan dan ulserasi, juga untuk
menilai batas atas dari lesi anular. Penilaian batas atas ini tidak
dapat dilakukan dengan pemeriksaan colok dubur.
b. Mobilitas tumor: hal ini sangat penting untuk mengetahui prospek
terapi pembedahan. Lesi yang sangat dini biasanya masih dapat
digerakkan pada lapisan otot dinding rektum. Pada lesi yang sudah
mengalami ulserasi lebih dalam umumnya terjadi perlekatan dan
fiksasi karena penetrasi atau perlekatan ke struktur ekstrarektal
seperti kelenjar prostat, buli-buli, dinding posterior vagina atau
dinding anterior uterus.
c. Ekstensi penjalaran yang diukur dari besar ukuran tumor dan
karakteristik pertumbuhan primer dan sebagian lagi dari mobilitas
atau fiksasi lesi.
Ada 2 gambaran khas dari pemeriksaan colok dubur, yaitu indurasi dan
adanya suatu penonjolan tepi, dapat berupa :
a. Suatu pertumbuhan awal yang teraba sebagai indurasi seperti
cakram yaitu suatu plateau kecil dengan permukaan yang licin dan
berbatas tegas.
b. Suatu pertumbuhan tonjolan yang rapuh, biasanya lebih lunak,
tetapi umumnya mempunyai beberapa daerah indurasi dan ulserasi
c. Suatu bentuk khas dari ulkus maligna dengan tepi noduler yang
menonjol dengan suatu kubah yang dalam (bentuk ini paling
sering)
d. Suatu bentuk karsinoma anular yang teraba sebagai pertumbuhan
bentuk cincin

Gambar 7. Pemeriksaan
colok dubur pada Ca Rekti

2.8 Pemeriksaan Penunjang


Ada beberapa tes pada daerah rektum dan kolon untuk mendeteksi kanker
rektal, diantaranya ialah :
a. Pemeriksaan darah lengkap, pemeriksaan CEA (Carcinoma Embrionik
Antigen) dan Uji faecal occult blood test (FOBT) untuk melihat
perdarahan di jaringan
b. Digital rectal examination (DRE) dapat digunakan sebagai pemeriksaan
skrining awal. Kurang lebih 75 % karsinoma rektum dapat dipalpasi pada
pemeriksaan rektal, pemeriksaan digital akan mengenali tumor yang
terletak sekitar 10 cm dari rektum, tumor akan teraba keras dan
menggaung.
c. Dapat pula dengan Barium Enema,. yaitu Cairan yang mengandung
barium dimasukkan melalui rektum kemudian dilakukan seri foto X-rays
pada traktus gastrointestinal bawah.

\
Gambar 8. Foto Rontgen dengan Barium Enema
d. Sigmoidoscopy, yaitu sebuah prosedur untuk melihat bagian dalam rectum
dan sigmoid apakah terdapat polip kakner atau kelainan lainnya. Alat
sigmoidoscope dimasukkan melalui rektum sampai kolon sigmoid, polip
atau sampel jaringan dapat diambil untuk biopsi.
Gambar 9. Sigmoidoskopi
e. Colonoscopy
Sebuah prosedur untuk melihat bagian dalam rektum dan sigmoid apakah
terdapat polip kanker atau kelainan lainnya. Alat colonoscope dimasukkan
melalui rektum sampai kolon sigmoid, polip atau sampel jaringan dapat
diambil untuk biopsi.
f. Biopsi.
Jika ditemuka tumor dari salah satu pemeriksaan diatas, biopsi harus
dilakukan. Secara patologi anatomi, adenocarcinoma merupakan jenis
yang paling sering yaitu sekitar 90 sampai 95% dari kanker usus besar.
Jenis lainnya ialah karsinoma sel skuamosa, carcinoid tumors,
adenosquamous carcinomas, dan undifferentiated tumors.
g. Imaging Tehnik
MRI, CT scan, transrectal ultrasound merupakan bagian dari tehnik
imaging yang digunakan untuk evaluasi, staging dan tindak lanjut pasien
dengan kanker kolon, tetapi tehnik ini bukan merupakan screening tes.
1). CT scan
CT scan dapat mengevaluasi abdominal cavity dari pasien kanker
kolon pre operatif. CT scan bisa mendeteksi metastase ke hepar,
kelenjar adrenal, ovarium, kelenjar limfa dan organ lainnya di pelvis.
CT scan sangat berguna untuk mendeteksi rekurensi pada pasien
dengan nilai CEA yang meningkat setelah pembedahan kanker kolon.
Sensitifitas CT scan mencapai 55%. CT scan memegang peranan
penting pada pasien dengan kanker kolon karena sulitnya dalam
menentukan stage dari lesi sebelum tindakan operasi. Pelvic CT scan
dapat mengidentifikasi invasi tumor ke dinding usus dengan akurasi
mencapai 90 %, dan mendeteksi pembesaran kelanjar getah bening >1
cm pada 75% pasien.19 Penggunaan CT dengan kontras dari abdomen
dan pelvis dapat mengidentifikasi metastase pada hepar dan daerah
intraperitoneal.

2) MRI
MRI lebih spesifik untuk tumor pada hepar daripada CT scan
dan sering digunakan pada klarifikasi lesi yang tak teridentifikasi
dengan menggunakan CT scan. Karena sensifitasnya yang lebih tinggi
daripada CT scan, MRI dipergunakan untuk mengidentifikasikan
metastasis ke hepar.

2.9 Penatalaksanaan Ca Recti


Berbagai jenis terapi tersedia untuk pasien kanker rektal. Beberapa adalah
terapi standar dan beberapa lagi masih diuji dalam penelitian klinis. Tiga
terapi standar untuk kanker rektal yang digunakan antara lain ialah :
a. Pembedahan
Pembedahan merupakan terapi yang paling lazim digunakan terutama
untuk stadium I dan II kanker rektal, bahkan pada pasien suspek dalam
stadium III juga dilakukan pembedahan. Meskipun begitu, karena
kemajuan ilmu dalam metode penentuan stadium kanker, banyak pasien
kanker rektal dilakukan pre-surgical treatment dengan radiasi dan
kemoterapi. Penggunaan kemoterapi sebelum pembedahan dikenal sebagai
neoadjuvant chemotherapy, dan pada kanker rektal, neoadjuvant
chemotherapy digunakan terutama pada stadium II dan III. Pada pasien
lainnya yang hanya dilakukan pembedahan, meskipun sebagian besar
jaringan kanker sudah diangkat saat operasi, beberapa pasien masih
membutuhkan kemoterapi atau radiasi setelah pembedahan untuk
membunuh sel kanker yang tertinggal.
Tipe pembedahan yang dipakai antara lain :
1) Eksisi lokal : jika kanker ditemukan pada stadium paling dini, tumor
dapat dihilangkan tanpa tanpa melakukan pembedahan lewat
abdomen. Jika kanker ditemukan dalam bentuk polip, operasinya
dinamakan polypectomy.
2) Reseksi: jika kanker lebih besar, dilakukan reseksi rektum lalu
dilakukan anastomosis. Jiga dilakukan pengambilan limfonodi
disekitan rektum lalu diidentifikasi apakah limfonodi tersebut juga
mengandung sel kanker.

Gambar 8. Reseksi dan Anastomosis Gambar 9. Reseksi dan Kolostomi

Pengangkatan kanker rektum biasanya dilakukan dengan reseksi


abdominoperianal, termasuk pengangkatan seluruh rectum, mesorektum dan
bagian dari otot levator ani dan dubur. Prosedur ini merupakan pengobatan yang
efektif namun mengharuskan pembuatan kolostomi permanen.
Rektum terbagi atas 3 bagian yaitu 1/3 atas, tengah dan bawah. Kanker yang
berada di lokasi 1/3 atas dan tengah ( 5 s/d 15 cm dari garis dentate ) dapat
dilakukan restorative anterior resection kanker 1/3 distal rectum merupakan
masalah pelik. Jarak antara pinggir bawah tumor dan garis dentate merupakan
faktor yang sangat penting untuk menentukan jenis operasi.
Goligher dkk berdasarkan pengalamannya menyatakan bahwa kegagalan
operasi Low anterior resection akan terjadi pada kanker rectum dengan jarak
bawah rectum normal 2 cm. Angka 5 cm telah diterima sebagai jarak keberhasilan
terapi. Hasil penelitian yang dilakukan oleh venara dkk pada 243 kasus
menyimpulkan bahwa jarak lebih dari 3 cm dari garis dentate aman untuk
dilakukan operasi Restorative resection. Colonal anastomosis diilhami oleh
hasil operasi Ravitch dan Sabiston yang dilakukan pada kasus kolitis ulseratif.
Operasi ini dapat diterapkan pada kanker rectum letak bawah, dimana teknik
stapler tidak dapat dipergunakan. Local excision dapat diterapkan untuk
mengobati kanker rectum dini yang terbukti belum memperlihatkan tanda-tanda
metastasis ke kelenjar getah bening. Operasi ini dapat dilakukan melalui beberapa
pendekatan yaitu transanal, transpinchteric atau transsacral. Pendekatan
transpinshter dan transacral memungkinkan untuk dapat mengamati kelenjar
mesorectal untuk mendeteksi kemungkinan telah terjadi metastasis. Sedang
pendekatan transanal memiliki kekurangan untuk mengamati keterlibatan kelenjar
pararektal.
Pada tumor rektum sepertiga tengah dilakukan reseksi dengan
mempertahankan sfingter anus, sedangkan pada tumor sepertiga distal dilakukan
amputasi rektum melalui reseksi abdominoperineal Quenu-Miles. Pada operasi ini
anus turut dikeluarkan. Pada pembedahan abdominoperineal menurut Quenu-
Miles, rektum dan sigmoid dengan mesosigmoid dilepaskan, termasuk kelenjar
limf pararektum dan retroperitoneal sampai kelenjar limf retroperitoneal.
Kemudian melalui insisi perineal anus dieksisi dan dikeluarkan seluruhnya
dengan rektum melalui abdomen. Reseksi anterior rendah pada rektum dilakukan
melalui laparotomi dengan menggunakan alat stapler untuk membuat anastomosis
kolorektal atau koloanal rendah.
Eksisi lokal melalui rektoskop dapat dilakukan pada karsinoma terbatas.
Seleksi penderita harus dilakukan dengan teliti, antara lain dengan menggunakan
endoskopi ultrasonografik untuk menentukan tingkat penyebaran di dalam dinding
rektum clan adanya kelenjar ganas pararektal.
Indikasi dan kontra indikasi eksisi lokal kanker rectum
1. Indikasi
a. Tumor bebas, berada 8 cm dari garis dentate
b. T1 atau T2 yang dipastikan dengan pemeriksaan ultrasound
c. Termasuk well-diffrentiated atau moderately well diffrentiated secara
histologi
d. Ukuran kurang dari 3-4 cm
2. Kontraindikasi
a. Tumor tidak jelas
b. Termasuk T3 yang dipastikan dengan ultrasound
c. Termasuk Poorly diffrentiated secara histologi

b. Radiasi
Sebagai mana telah disebutkan, untuk banyak kasus stadium II dan III
lanjut, radiasi dapat menyusutkan ukuran tumor sebelum dilakukan
pembedahan. Peran lain radioterapi adalah sebagai sebagai terapi
tambahan untuk pembedahan pada kasus tumor lokal yang sudah diangkat
melaui pembedahan, dan untuk penanganan kasus metastasis jauh tertentu.
Terutama ketika digunakan dalam kombinasi dengan kemoterapi, radiasi
yang digunakan setelah pembedahan menunjukkan telah menurunkan
resiko kekambuhan lokal di pelvis sebesar 46% dan angka kematian
sebesar 29%. Pada penanganan metastasis jauh, radiesi telah berguna
mengurangi efek lokal dari metastasis tersebut, misalnya pada otak.
Radioterapi umumnya digunakan sebagai terapi paliatif pada pasien yang
memiliki tumor lokal yang unresectable.

c. Kemoterapi
Adjuvant chemotherapy, (menengani pasien yang tidak terbukti memiliki
penyakit residual tapi beresiko tinggi mengalami kekambuhan),
dipertimbangkan pada pasien dimana tumornya menembus sangat dalam
atau tumor lokal yang bergerombol ( Stadium II lanjut dan Stadium III).
Terapi standarnya ialah dengan fluorouracil, (5-FU) dikombinasikan
dengan leucovorin dalam jangka waktu enam sampai dua belas bulan. 5-
FU merupakan anti metabolit dan leucovorin memperbaiki respon. Agen
lainnya, levamisole, (meningkatkan sistem imun, dapat menjadi substitusi
bagi leucovorin. Protopkol ini menurunkan angka kekambuhan kira kira
15% dan menurunkan angka kematian kira kira sebesar 10%.

1.10 Prognosis
Secara keseluruhan 5-year survival rates untuk kanker rektal adalah
sebagai berikut :
a. Stadium I - 72%
b. Stadium II - 54%
c. Stadium III - 39%
d. Stadium IV - 7%
Lima puluh persen dari seluruh pasien mengalami kekambuhan yang dapat
berupa kekambuhan lokal, jauh maupun keduanya. Kekambuhan lokal
lebih sering terjadi. Penyakit kambuh pada 5-30% pasien, biasanya pada 2
tahun pertama setelah operasi. Faktor faktor yang mempengaruhi
terbentuknya rekurensi termasuk kemampuan ahli bedah, stadium tumor,
lokasi, dan kemapuan untuk memperoleh batas - batas negatif tumor.

ASUHAN KEPERAWATAN TEORITIS CA RECTI


A. PENGKAJIAN
1. Identitas
- Identitas klien
Nama :
Umur : resiko bertambah seiring betambahnya usia
Jenis kelamin :
Pendidikan : pendidikan yang rendah mempengaruhi terhadap
pengetahuan klien tentang penyakit ca recti
Pekerjaan :
Alamat :
- Identitas keluarga klien
Nama :
Umur :
Pendidikan :
Pekrjaan :
Hubungan dengan klien :
2. Riwayat kesehatan :
- Keluhan utama :
Pada umumnya keluhan pada pasien ca recti adalah konstipasi,
BAB berdarah dan berlendir, mual muntah, nafsu makan
turun,nyeri pada perut, BB turun.
- Riwayat kesehatan sekarang
Pengakjian meliputi keadaan ataupun keluhan klien pada saat
pengkajian
- Riwayat kesehatan dahulu
Biasanya klien mengaku jarang mengkonsumsi makan berserat atau
sayuran, sering mengkonsumsi makanan berlemak seperti dagiang,
ada riwayat menderita kelainan pada kolon
- Riwayat kesehatan keluarga
Kaji riwayat peyakit kelurga, apakah ada keluraga yang menderita
sakit seperti klien
3. Pola aktivitas
a. Aktivitas/Istirahat
Gejala:
- Kelemahan, keletihan, kelelahan
- Perubahan pola istirahat/tidur malam hari; adanya faktor-faktor
yang mempengaruhi tidur, misalnya: nyeri, ansietas dan
berkeringat malam hari
- Pekerjaan/profesi dengan pemajaan karsinogen lingkungan,
tingkat stress tinggi
b. Sirkulasi
Gejala : Palpitasi, nyeri dada pada aktivitas
Tanda : Dapat terjadi perubahan denyut nadi dan tekanan darah
c. Integritas Ego
Gejala:
- Faktor stress
- Masalah terhadap perubahan penampilan
- Menyangkal diagnosis, perasaan tidak berdaya, putus asa, tidak
mampu, tidak bermakna, rasa bersalah, kehilangan control,
depresi
Tanda : Menyangkal, menarik diri
d. Eliminasi
Gejala : Perubahan pola defekasi, darah pada feses, nyeri pada saat
defekasi
Tanda:
- Perubahan bising usus, distensi abdomen
- Teraba massa pada abdomen kuadran kanan bawah
e. Makanan/cairan:
Gejala:
- Riwayat kebiasaan diet buruk (rendah serat, tinggi lemak,
pemakaian zat aditif dan bahan pengawet)
- Anoreksia, mual, muntah, Intoleransi makanan
Tanda:
- Penurunan berat badan, berkurangnya massa otot
f. Nyeri / ketidaknyamanan:
Gejala:
- Gejala nyeri bervariasi dari tidak ada, ringan sampai berat
tergantung proses penyakit.
g. Keamanan:
Gejala:
- Komplikasi pembedahan dan atau efek sitostika.
Tanda:
- Demam, lekopenia, trombositopenia, anemia
h. Interaksi sosial
Gejala:
- Lemahnya sistem pendukung (keluarga, kerabat, lingkungan)
- Masalah perubahan peran sosial yang berhubungan dengan
perubahan status kesehatan.
i. Penyuluhan/pembelajaran:
- Riwayat kanker dalam keluarga
- Masalah metastase penyakit dan gejala-gejalanya
- Kebutuhan terapi pembedahan, radiasi dan sitostatika.
- Masalah pemenuhan kebutuhan/aktivitas sehari-hari
4. Pemeriksaan fisik
a. Kulit, Rambut dan Kuku
Inspeksi: warna kulit, kondisi kuku, warna kuku, kebersihan kulit
kepala, kaji warna rambut, kebersihan kulit, turgor, oedem.
b. Kepala dan Leher
Inspeksi: bentuk kepala.
Palpasi: nyeri tekan, distensi vena jugularis, ada/tidak benjolan
pada kepala.
c. Mata dan Telinga
- Mata
Inspeksi: bentuk bola mata, pergerakan bola mata, ptosis
ada/tidak, nistagmus ada/tidak, refleks cahaya pada kedua mata,
sklera/konjungtiva.
Palpasi: nyeri tekan bola mata, benjolan pada mata.
- Telinga
Inspeksi: bentuk daun telinga, kebersihan liang telinga,
ada/tidaknya lesi pada telinga, bengkak atau peradangan pada
mastoid ada/tidak, adanya serumen atau tidak, adanya otitis media
atau tidak.
Palpasi: nyeri tekan ada/tidak.
d. Sistem Pernafasan:
Inspeksi: bentuk dada, saat inspirasi apakah ada bagian yang
tertinggal, ada tidaknya retraksi otot bantu pernapasan,
pernapasan cuping hidung, RR = x/menit, apakah ada batuk.
Palpasi : taktil fremitus pada kedua lapang paru, kondisi kulit
dinding dada, nyeri tekan, massa, pembengkakan atau benjolan,
kesimetrisan ekspansi
Perkusi : pada daerah yang terdapat udara terdengar hipersonor
dan pada daerah yang terdapat cairan terdengar suara pekak.
Auskultasi : suara napas apakah vesikuler atau ronchi. (Pada
umumnya, area paru yang terdapat infiltratnya akan terdengar
ronchi).
e. Sistem Kardiovaskular :
Nyeri dada Ya Tidak

Palpitasi Ya Tidak

CRT < 3 dtk > 3 dtk

Inspeksi : kaji letak ictus cordis (letak ictus cordis normal berada
pada ICS 5 pada linea medio claviculas kiri selebar 1 cm).

Palpasi : denyut jantung teraba/tidak, HR = x/menit, irama dan


kedalaman denyut jantung.

Perkusi : pergeseran letak jantung.

Auskultasi : Bunyi jantung S1 S2, ada gallop atau tidak, adanya


murmur atau tidak ada.
(pada umumnya, pasien mengalami nyeri dada dan dapat diikuti
dengan peningkatan tanda-tanda vital. Selain itu, nilai analisa gas
darah juga mungkin abnormal yang dapat ditandai dengan gejala
sesak nafas, CRT > 3 detik).

f. Payudara Pria dan Wanita


Inspeksi : bentuk payudara, apakah adanya luka atau tidak, warna
kulit disekitar payudara.
Palpasi : apakah ada nyeri tekan atau tidak, apakah teraba massa
atau tidak.
g. Sistem Gastrointestinal
Inspeksi : bentuk abdomen, asites ada/tidak ada, mukosa
(lembab/kering/stomatitis).
Palpasi : nyeri tekan ada/tidak ada, ada/tidak teraba benjolan.
Perkusi : terdengar suara timpani pada lambung (regio kiri atas)
dan pekak pada regio yang lain.
Auskultasi : peristaltik: ... x/mnt
h. Sistem Urinarius
Penggunaan alat bantu/ kateter, adanya nyeri tekan kandung
kencing, gangguan eliminasi urin (anuria /oliguria /retensi
/inkontinensia /nokturia) Lain-lain:
Palpasi : nyeri tekan, ada tidaknya benjolan, ada tidaknya distensi.
Perkusi : terdengar suara timpani pada pelvis.
i. Sistem Reproduksi Wanita/Pria
Inspeksi : kaji kondisi alat kelamin, kebersihan, ada peradangan
atau benjolan.
j. Sistem Saraf
GCS (Eye, Verbal, Motorik)
Gerakan involunter: ada/tidak ada tremor pada lidah, tangan.
k. Sistem Muskuloskeletal
Hal-hal yang perlu dikaji: kemampuan pergerakan sendi
(bebas/terbatas), ada tidaknya deformitas, kekakuan, nyeri
sendi/otot, sianosis atau edema pada ektremitas, akral.
l. Sistem Imun
Hal-hal yang perlu dikaji: perdarahan gusi, perdarahan lama,
pembengkakan keletihan/kelemahan. Pada umumnya, dapat
ditemukan pasien mengalami keletihan dan kelemahan akibat
penurunan suplai oksigen ke jaringan perifer.
m. Sistem Endokrin:
Hal - hal yang perlu dikaji : kadar glukosa.

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Nyeri kronis b/d agen injury
2. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d
anoreksia
3. Konstipasi b/d penyakit
4. Anxietas b/d dengan pre opersai

C. INTERVENSI KEPERAWATAN
Diagnosa Rencana keperawatan

Tujuan dan Kriteria Intervensi


Keperawatan
Hasil
Nyeri Kronis NOC: NIC :
berhubungan dengan Comfort level Pain Manajemen
ketidakmampuan fisik- Pain control
- Monitor kepuasan
psikososial kronis Pain level
pasien terhadap
(metastase kanker,
manajemen nyeri
injuri neurologis, Setelah dilakukan
- Tingkatkan istirahat
artritis) tindakan keperawatan
dan tidur yang
selama . nyeri kronis
DS: adekuat
pasien berkurang dengan
- Kelelahan - Kelola anti
kriteria hasil:
- Takut untuk injuri analgetik ...........
ulang Tidak ada gangguan - Jelaskan pada
tidur pasien penyebab
DO: Tidak ada gangguan nyeri
- Atropi otot konsentrasi - Lakukan tehnik
- Gangguan aktifitas Tidak ada gangguan nonfarmakologis
- Anoreksia hubungan (relaksasi, masase
- Perubahan pola tidur interpersonal punggung)
- Respon simpatis Tidak ada ekspresi
(suhu dingin, menahan nyeri dan
perubahan posisi ungkapan secara
tubuh , hipersensitif, verbal
perubahan berat Tidak ada tegangan
badan) otot
Ketidakseimbangan NOC: Kaji adanya alergi
nutrisi kurang dari a. Nutritional status: makanan
kebutuhan tubuh Adequacy of nutrient Kolaborasi dengan
Berhubungan dengan : b. Nutritional Status : food ahli gizi untuk
Ketidakmampuan untuk and Fluid Intake menentukan jumlah
memasukkan atau c. Weight Control kalori dan nutrisi
mencerna nutrisi oleh yang dibutuhkan
karena faktor biologis, Setelah dilakukan tindakan pasien
psikologis atau keperawatan selama.nutrisi Yakinkan diet yang
ekonomi. kurang teratasi dengan dimakan
indikator: mengandung tinggi
DS: serat untuk
Albumin serum
- Nyeri abdomen mencegah
Pre albumin serum
- Muntah konstipasi
Hematokrit
- Kejang perut Ajarkan pasien
Hemoglobin
- Rasa penuh tiba-tiba bagaimana membuat
Total iron binding capacity
setelah makan catatan makanan
Jumlah limfosit
DO: harian.
- Diare Monitor adanya
- Rontok rambut yang penurunan BB dan
berlebih gula darah
- Kurang nafsu makan Monitor lingkungan
- Bising usus berlebih selama makan
- Konjungtiva pucat Jadwalkan
- Denyut nadi lemah pengobatan dan
tindakan tidak
selama jam makan
Monitor turgor kulit
Monitor kekeringan,
rambut kusam, total
protein, Hb dan
kadar Ht
Monitor mual dan
muntah
Monitor pucat,
kemerahan, dan
kekeringan jaringan
konjungtiva
Monitor intake
nuntrisi
Informasikan pada
klien dan keluarga
tentang manfaat
nutrisi
Kolaborasi dengan
dokter tentang
kebutuhan suplemen
makanan seperti
NGT/ TPN sehingga
intake cairan yang
adekuat dapat
dipertahankan.
Atur posisi semi
fowler atau fowler
tinggi selama makan
Kelola pemberan
anti emetik:.....
Anjurkan banyak
minum
Pertahankan terapi
IV line
Catat adanya edema,
hiperemik,
hipertonik papila
lidah dan cavitas
oval

Diagnosa Rencana keperawatan


Keperawatan Tujuan dan Kriteria Intervensi
Hasil
Konstipasi NOC: NIC :
berhubungan Manajemen konstipasi
Bowl Elimination
dengan penyakit
Hidration - Identifikasi faktor-
o Fungsi:kelemaha faktor yang menyebabkan
n otot abdominal, Setelah dilakukan konstipasi
Aktivitas fisik tindakan - Monitor tanda-tanda
tidak mencukupi keperawatan selama ruptur bowel/peritonitis
o Perilaku defekasi . konstipasi pasien - Jelaskan penyebab dan
tidak teratur teratasi dengan rasionalisasi tindakan
o Perubahan kriteria hasil: pada pasien
lingkungan - Konsultasikan dengan
Pola BAB dalam
o Toileting tidak dokter tentang
batas normal
adekuat: posisi peningkatan dan
Feses lunak
defekasi, privasi penurunan bising usus
Cairan dan serat
o Psikologis: - Kolaburasi jika ada
adekuat
depresi, stress tanda dan gejala
Aktivitas adekuat
emosi, gangguan konstipasi yang menetap
Hidrasi adekuat
mental - Jelaskan pada pasien

o Farmakologi: manfaat diet (cairan dan


serat) terhadap eliminasi
antasid,
- Jelaskan pada klien
antikolinergis,
konsekuensi
antikonvulsan,
menggunakan laxative
antidepresan,
dalam waktu yang lama
kalsium
- Kolaburasi dengan ahli
karbonat,diuretik
gizi diet tinggi serat dan
, besi, overdosis
cairan
laksatif, NSAID,
- Dorong peningkatan
opiat, sedatif.
aktivitas yang optimal
o Mekanis:
- Sediakan privacy dan
ketidakseimbang
keamanan selama BAB
an elektrolit,
hemoroid,
gangguan
neurologis,
obesitas,
obstruksi pasca
bedah, abses
rektum, tumor
o Fisiologis:
perubahan pola
makan dan jenis
makanan,
penurunan
motilitas
gastrointestnal,
dehidrasi, intake
serat dan cairan
kurang, perilaku
makan yang
buruk
DS:

- Nyeri perut
- Ketegangan
perut
- Anoreksia
- Perasaan tekanan
pada rektum
- Nyeri kepala
- Peningkatan
tekanan
abdominal
- Mual
- Defekasi dengan
nyeri
DO:

- Feses dengan
darah segar
- Perubahan pola
BAB
- Feses berwarna
gelap
- Penurunan
frekuensi BAB
- Penurunan
volume feses
- Distensi
abdomen
- Feses keras
- Bising usus
hipo/hiperaktif
- Teraba massa
abdomen atau
rektal
- Perkusi tumpul
- Sering flatus
- Muntah

4. Anxietas NOC : NIC :

Anxiety control Anxiety Reduction


Coping
(penurunan
Perasaan gelisah
Kriteria Hasil : kecemasan)
yang tak jelas dari
ketidaknyamanan Gunakan
Pasien mampu pendekatan yang
atau ketakutan yang
mengidentifikasi menenangkan
disertai respon Nyatakan dengan
dan
autonom (sumner jelas harapan
mengungkapkan
tidak spesifik atau terhadap pelaku
gejala cemas
tidak diketahui oleh Mengidentifikasi, pasien
Jelaskan semua
individu); perasaan mengungkapkan
prosedur dan apa
keprihatinan dan menunjukkan
yang dirasakan
disebabkan dari tehnik untuk
selama prosedur
antisipasi terhadap mengontol cemas
Temani pasien
Vital sign dalam
bahaya. Sinyal ini
untuk memberikan
batas normal
merupakan
Postur tubuh, keamanan dan
peringatan adanya
ekspresi wajah, mengurangi takut
ancaman yang akan Berikan informasi
bahasa tubuh dan
datang dan faktual mengenai
tingkat aktivitas
memungkinkan diagnosis, tindakan
menunjukkan
individu untuk prognosis
berkurangnya
Dorong keluarga
mengambil langkah
kecemasan
untuk menemani
untuk menyetujui
pasien
terhadap tindakan
Lakukan back/ neck
rub
Dengarkan dengan
penuh perhatian
Ditandai dengan:
Identifikasi tingkat
kecemasan
Gelisah
Bantu pasien
Insomnia
Resah mengenal situasi
Ketakutan
yang menimbulkan
Sedih
Fokus pada diri kecemasan
Kekhawatiran Dorong pasien
Cemas
untuk
mengungkapkan
perasaan, ketakutan,
persepsi
Instruksikan pasien
menggunakan
teknik relaksasi
Barikan obat untuk
mengurangi
kecemasan