Anda di halaman 1dari 5

BAB IV

PEMBAHASAN

Pada pembahasan ini kelompok akan membahas mengenai kesenjangan dari asuhan
keperawatan pada klien dengan Ca Recti. Hal ini berdasarkan dengan tinjauan teoritis dan
tinjauan kasus, serta faktor-faktor penghambat dan pendukung dalam pelaksanaan asuhan
keperawatan yang mengacu pada teori yang ada.

A. PENGKAJIAN
Pengkajian dilakukan berdasarkan teoritis dan anamnesa dari pasien, kemudian data
dikumpulkan dan dianalisa sehingga dapat diketahui apakah kebutuhan klien sudah sesuai
dengan kebutuhan yang ada. Hanya saja kendala yang ditemukan saat melakukan
pengkajian ialah ketika pasien sedang mengalami nyeri. Hal tersebut menyebabkan
pengkajian akan terhenti dan tertunda sampai pasien dapat tenang kambali dan nyeri yang
dirasakan hilang. Data yang didapat setelah pengkajian pada Tn. M cukup sesuai dengan
teori yang dibuat. Data-data tersebut menunjang untuk dilakukan asuhan keperawatan
selanjutnya karena data yang didapatkan sudah jelas dan sesuai.
Ca rekti adalah kanker yang terjadi pada rektum. Rektum terletak di anterior sakrum
dan coccygeus panjangnya kira - kira 15 cm. Rectosigmoid junction terletak pada bagian
akhir mesocolon sigmoid. Bagian sepertiga atasnya hampir seluruhnya dibungkus oleh
peritoneum. Di setengah bagian bawah rektum keseluruhannya adalah ektraperitoneal
(Hassan, 2006).
Ca rekti timbul akibat peningkatan jumlah sel akibat replikasi tak terkontrol dan
menyebabkan terjadinya mutasi yang akan mengaktivasi K- ras onkogen dan mutasi gen
p53, hal ini akan mencegah terjadinya apoptosis dan memperpanjang hidup sel. Kanker
kolon dan rectum yang terutama (95%) adenokarsinoma (muncul dari lapisan epitel usus)
dimulai sebagai polip jinak, tetapi dapat menjadi ganas dan menyusup serta merusak
jaringan normal serta meluas ke dalam struktur sekitarnya. Sel kanker dapat terlepas dari
tumor primer dan menyebar ke dalam tubuh yang lain (paling sering ke hati).
Gejala yang mungkin muncul pada kanker rektal ialah, perubahan pada kebiasaan
BAB atau adanya darah pada feses, baik itu darah segar maupun yang berwarna hitam,
diare, konstipasi atau merasa bahwa isi perut tidak benar - benar kosong saat BAB, feses
yang lebih sedikit dari biasanya, keluhan tidak nyaman pada perut seperti sering flatus,
kembung, rasa penuh pada perut atau nyeri, penurunan berat badan yang tidak diketahui
sebabnya, mual dan muntah, rasa letih dan lesu, pada tahap lanjut dapat muncul gejala
pada traktus urinarius dan nyeri pada daerah gluteus.
Keluhan utama Tn. M saat masuk Rumah Sakit Achmad Mochtar Bukittinggi, klien
mengatakan nyeri di bagian abdomen dan rektum, klien mengatakan BAB berdarah dan
bercampur lendir, BAB tidak lancar dan nyeri saat BAB. Klien juga mengatakan nafsu
makan menurun. Klien mengatakan pernah dirawat di RST 15 hari yang lalu dengan
penyakit yang sama.

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Dari beberapa diagnosa keperawatan yang berdasarkan teoritis, ada beberapa
perbedaan diagnosa terhadap hasil pengkajian pada pasien. Secara teoritis diagnosa
keperawatan yang ditegakkan ada 4, yaitu :

1. Nyeri kronis berhubungan dengan agen injury


2. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
anoreksia
3. Konstipasi berhubungan dengan penyakit
4. Anxietas berhubungan dengan dengan pre opersai

Sedangkan hasil dari pengkajian yang telah dilakukan, diagnosa keperawatan yang
ditegakkan sesuai dengan data objektif dan data subjektif pasien. Diagnosa keperawatan
tegak berdasarkan keadaan pasien. Diagnosa keperawatan yang diangkat mengacu pada
batasan karakteristik yang terdapat pada NANDA (2015), yaitu sebagai berikut :
1. Pre-Operasi
a. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan penyakit.
b. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
intake tidak adekuat.
c. Anxietas berhubungan dengan pre-operasi.

2. Post-Operasi
a. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan pembedahan
b. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan agen injuri post-operasi.
c. Resiko infeksi berhubungan dengan pembedahan
d. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri
C. INTERVENSI
Dalam penyusunan rencana keperawatan mahasiswa menggunakan rencana asuhan
keperawatan yang telah disusun oleh NANDA, NIC-NOC sebagai standar acuan. Dalam
hal ini setiap rencana asuhan keperawatan dikembangkan berdasarkan teori yang dapat
diterima secara logis dan sesuai dengan kondisi pasien. Pada saat pengkajian kelompok
tidak terlalu mengalami kesulitan yang begitu berarti. Hal ini disebabkan karena adanya
beberapa faktor pendukung diantaranya hubungan komunikasi yang baik antara anggota
kelompok, keluarga klien, dan juga dengan perawat ruangan.
Sehingga dari kerjasama dan hubungan yang baik tersebut mahasiswa dapat
memberikan asuhan keperawatan kepada Tn. M dengan melakukan intervensi yang telah
dipilih berdasarkan diagnosa keperawatan yang telah ditegakkan sesuai dengan kondisi
pasien.

D. IMPLEMENTASI
Tahap implementasi merupakan penerapan asuhan keperawatan yang didelegasikan
kepada pihak keluarga klien. Dalam tahap implementasi penulis tidak mengalami
kesulitan. Pada tahap ini, penulis mengambil aktivitas dari beberapa teori, yaitu
mengontrol nyeri dengan melakukan management nyeri kepada pasien dan menjelaskan
intervensi tersebut kepada keluarga.
Adapun faktor-faktor pendukung yang dapat dilaksanakan sesuai dengan rencana
yang telah ditetapkan ialah sebagai berikut :
1. Adanya perencanaan yang baik, sehingga dapat memudahkan kelompok dalam
melakukan tindakan keperawatan.
2. Adanya jurnal / penelitian yang telah dilakukan sebelumnya untuk mengatasi masalah
yang timbul pada Ca recti.
3. Adanya sikap kooperatif, partisipasi keluarga dalam membantu perawat dalam
melakukan asuhan keperawatan.
4. Adanya bimbingan dari perawat ruangan serta memberikan kesempatan kepada
kelompok dalam melakukan asuhan keperawatan.

E. EVALUASI
Setelah dilakukan asuhan keperawatan pada Tn. M, pada saat awal pengkajian 28
November 2017 sampai dengan tanggal 2 Desember 2017 keadaan Tn. M sudah mulai
membaik dari pre-operasi sampai post-operasi. Hanya saja Tn. M masih mengalami nyeri
pada post-colostomy dan harus bedrest untuk memulihkan kondisi.
BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil pengkajian pada Tn. M di Rumah Sakit Achmad Mochtar


Bukittinggi tahun 2017, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa ada beberapa perbedaan
antara teori dengan hasil pengkajian yang telah dilakukan. Hal tersebut dapat dilihat dari
hasil pengkajian, tanda dan gejala ca recti yang dialami pasien, diagnosa keperawatan
yang ditegakkan dan intervensi yang harus dilakukan kepada pasien. Pada tahap
implementasi mahasiswa tidak mengalami kesulitan dan dapat melakukan aktivitas
asuhan keperawatan kepada pasien sesuai dengan harapan, dikarenakan hubungan dan
kerja sama yang baik antara mahasiswa, perawat rumah sakit dan anggota keluarga
pasien. Sehingga, pada akhir pengkajian keadaan Tn. M sudah mulai membaik dari
kadaan sebelumnya sebelumnya.

B. Saran
1. Bagi Rumah Sakit Achmad Mochtar Bukittinggi

Bahan seminar kasus ini dapat dijadikan bahan bacaan, serta menambah
pengetahuan dan wawasan untuk seluruh individu yang berada di ruang lingkup
rumah sakit. Baik pasien yang berobat maupun tenaga medis dan karyawan
kariyawati di Rumah Sakit Achmad Mochtar Bukittinggi, sehingga lebih mengetahui
tentang ca recti dan permasalahan yang ditemukan pada penderita ca recti.
Memberikan informasi dan promosi kesehatan dalam rangka menanggulangi penyakit
ca recti. Serta membuka aspek-aspek pengobatan baru dan perluasan wacana
pencegahan penyakit ca recti, agar dapat mengantisipasi berbagai faktor resiko yang
dapat menyebabkan terjadinya ca recti. Selain itu juga untuk perencanaan
pembiayaan, triage, skala prioritas baik mengenai terapi maupun pada kegiatan
pencegahan.

2. Bagi Keperawatan

Agar dapat memberikan pendidikan kesehatan tentang ca recti kepada seluruh


masyarakat untuk lebih waspada terhadap penyakit ca recti dan meningkatkan kualitas
hidup sehat. Informasi bisa diberikan dengan cara memberikan penyuluhan dan
penyebaran liflet.