Anda di halaman 1dari 10

BAB III

TINJAUAN ISLAM MENGENAI ASPEK MEDIKOLEGAL

PEMERKOSAAN AYAH TERHADAP

ANAK KANDUNG

III.1. Hukum Pidana Islam bagi Pelaku Pemerkosaan

Pemerkosaan merupakan kekerasan seksual yang mengakibatkan trauma

terhadap korbannya baik penderitaan lahir maupun batin. Anak-anak korban

pemerkosaan (chield rape) adalah kelompok yang paling sulit untuk dipulihkan.

Korban cenderung akan menderita trauma yang membayangi kehidupannya

(Wahid A, 2001).

Menurut sudut pandang Islam pemerkosaan ayah terhadap anak kandung

adalah zina, dalam hukum Islam merupakan perbuatan haram dan dosa besar yang

berdampak pada adanya hukuman had. Hukuman had bagi pelaku zina adalah

hukuman yang ditetapkan oleh Allah SWT, maka pemberian hukuman itu

mengandung sisi manfaat karena dapat mencegah perbuatan-perbuatan dosa

seseorang dari perbuatan terlarang (Hanafi. A, 1993).

Ayat al-Quran mengatur hukuman zina yang terdapat dalam al-Quran ,

yaitu:

Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, Maka deralah tiap-tiap
seorang dari keduanya seratus dali dera, dan janganlah belas kasihan kepada
keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamuberiman

32
kepada Allah, dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan)hukuman mereka
disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang beriman. (QS. An-Nur (24): 2)
Pemerkosaan merupakan salah satu perbuatan yang dapat dikategorikan

pada perbuatan zina, karena melakukan hubungan intim dan pelakunya tidak

dalam ikatan pernikahan, bahkan terdapat unsur kekerasan. Dalam salah satu

kaidah fikih dinyatakan bahwa persetubuhan yang diharamkan adalah

zina(Awdah A, 1992). Perilaku laki-laki dewasa dalam hal ini seorang ayah

terhadap anak kandungnya merupakan salah satu perbuatan zina yang hanya

dikehendaki oleh satu pihak saja yaitu ayah kandung, dan hal itu diharamkan

dalam agama, karena sampai kapan pun hukum Islam melarang menikahi anak

kandung sendiri. Sebagaimana yang dijelaskan dalam QS. An-Nisa (4) : 23.

Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang


perempuan. (QS An-Nisa (4): 23)

Ketentuan hukum Allah tentang larangan menikahi anak-anak kandung,

memiliki makna bahwa orang tidak boleh menggauli anaknya sendiri, tidak akan

pernah berubah sampai berakhirnya dunia ini. Sehingganya bagi orang tua yang

melakukan pemerkosaan terhadap anaknya sudah sepatutnya mendapat hukuman

yang sangat berat, karena telah banyak melakukan pelanggaran terhadap ketetapan

hukum Allah, merusak tatanan kehidupan yang harmonis dalam keluarga, merusak

harga diri anak kandungnya, merusak masa depan anaknya dan memberi luka dan

trauma psikologis pada tersebut.

Hukuman pidana Islam pemerkosaan ayah terhadap anak kandung untuk

pelakunya adalah ayah terhadap anak kandungnya, yaitu dirajam sampai mati, hal

ini berlaku bagi pezina muhsan, yaitu orang yang pernah terikat pernikahan, baik

33
masih terikat pernikahan ataupun yang sudah bercerai. Hukuman pidana Islam

pemerkosaan ayah terhadap anak kandung untuk pelakunya adalah anak terhadap

orang tua atau kakak dengan adik yang belum menikah adalah dicambuk seratus

kali dan dibuang selama satu tahun, hal ini berlaku bagi perawan atau perjaka

(orang yang belum pernah menikah) (Asari Abdul Ghafar, 1997).

Dalam pandangan lain hukuman untuk para pezina adalah sebagai berikut:

1. Jika pelakunya sudah menikah, ini berlaku untuk ayah sebagai pelakunya

melakukannya secara sukarela (tidak dipaksa atau tidak diperkosa),

mereka dicambuk 100 kali, kemudian dirajam.


2. Jika pelakunya belum menikah, ini berlaku untuk anak sebagai pelakunya

maka mereka didera (dicambuk) 100 kali. Kemudian diasingkan selama

setahun.

Pandangan ini didasarkan pada salah satu hadits Nabi yang diriwatkan oleh

Imam Muslim dari Ubadah bin Samit:

:




Ambillah dariku, ambillah dariku, sesungguhnya Allah telah memberikan jalan
ke luar (hukuman) bagi mereka (pezina). Jejaka dan gadis yang berzina dengan
gadis didera seratus kali dan diasingkan selama satu tahun. Dan orang yang
telah menikah melakukan zina di dera seratus kali dan dirajam. (HR. Muslim,
Ahmad, Ad-Darimy, Abu Dawud, Attirmidzi, Ath-Thahawy, Ath-Thayalisi dan Al
Baihaqi).

Dalam penambahan hukuman pengasingan ini para ulama berbeda

pendapat, yaitu:

34
a. Menurut Imam Abu Hanifah bahwa tidak mesti dihukum buang atau

diasingkan saat hukum pengasingan diserahkan kepada pertimbangan yang

memutuskan (hakim).
b. Menurut Imam Ahmad bahwa rasanya hukuman dera seratus kali belum

cukup, sehingga perlu ditambah dengan pengasingan selama satu tahun.


c. Menurut Imam Malik bahwa yang dikenakan hukuman pengasingan hanya

pria saja, sedangkan bagi wanita tidak ada sanksi apa-apa.


d. Menurut Imam Syafii, al-Qurtubi dan para khulafaurasyidin mereka

menyatakan bahwa perlu didera dan diisolasikan bagi para pezina mukhson

(Asari Abdul Ghafar, 1997).

Dalam Hukum Islam menjatuhkan suatu sanksi bagi pelaku pemerkosaan

terhadap anak di bawah umur, diperlukannya minimal empat orang saksi laki-laki

yang adil dan berdasarkan alat-alat bukti yang sah dan orang yang melakukan

perbuatan tersebut harus mengakui secara terus terang. Contohnya Bayyinah atau

Hujjah ialah berupa petunjuk alat bukti. Alat-alat bukti yang paling pokok atau

hujjah syariyyah yang diperlukan dalam sebuah pembuktian adalah:

1. Iqrar (pengakuan) yaitu hujjah bagi si pelaku memberi pengakuan

sendiri.
2. Syahadah (kesaksian) yaitu hujjah yang mengenai orang lain.
3. Qarinah (qarinah yang diperlukan) (Awdah. Abd al-Qadir, 1992).
III.1.1. Status Anak Korban Pemerkosaan Ayah Terhadap Anak

Kandung Dengan Ayahnya Sebagai Tersangka Menurut

Pandangan Islam

Bicara tentang hak anak dalam Islam, pertama sekali secara umum

dibicarakan dalam apa yang disebut sebagai dharuriyatu khamsin (hak asasi

dalam Islam). Hak itu ada lima hal yang perlu dipelihara sebagai hak setiap

35
orang salah satunya adalah pemeliharaan atas keturunan/nasab (hifzhzun nasl)

dan Kehormatan (hifzul ird) (Ghoir Lil Khoir, 2015).

Masalah nasab atau keturunan berkaitan dengan muharramat yaitu

aturan tentang wanita-wanita yang haram dinikahi (dianggap pemerkosaan

ayah terhadap anak kandung/menikah seketurunan). Dalam tata hukum Islam

(Fiqih), masalah ikatan darah atau keluarga menjadi masalah yang

mempunyai dampak luas, karena dari tes itulah bisa diketahui nasab

(keturunan keluarga atau silsilah). Silsilah tidak hanya berdampak pada

masalah generatif semata, namun juga berdampak pada masalah hukum dan

social (Ghoir Lil Khoir, 2015).

Peringatan keras bagi orang-orang yang dengan sengaja

menyembunyikan siapa ayahnya dan mengetahui nasabnya, namun dia

sengaja menyembunyikannya atau mengingkarinya, perbuatan tersebut

(menyembunyikan nasab) bisa mengakibatkan pencampuran mahram,

terputusnya hak waris, memutuskan hubungan kekerabatan dan lain-lainnya.

Pernyataan di atas jelas untuk menjawab bahwa nasab anak terhadap orang

tua tidak akan pernah bisa terputus karena terjadinya peristiwa pemerkosaan

ayah terhadap anak kandung. Hal tersebut bertujuan untuk mencegah

diperbolehkannya ayah menikahi anak kandungnya (Ghoir Lil Khoir, 2015).

Hukum Islam, nasab mempunyai peran yang sangat penting. Dengan

jelasnya status nasab seseorang, hukum-hukum yang berkait dengan hal ini

juga akan jelas. Semisal tentang perkawinan. Dengan kepastian bahwa

seorang laki-laki mempunyai ikatan darah dan masih menjadi muhrim

36
seorang perempuan, haram hukumnya bagi kedua orang ini untuk melakukan

perkawinan (Ghoir Lil Khoir, 2015).

Tujuan mempelajari ilmu nasab adalah untuk saling mengenal di

antara manusia, hingga kepada keluarga yang bukan satu keturunan

dengannya. Hal ini penting untuk menentukan masalah hukum waris, wali

pernikahan, kafaah suami terhadap istri dalam pernikahan dan masalah wakaf.

Sehingga nasab orangtua kepada anak tidak akan pernah terputus (Irfan

N.H.M, 2013).

III.1.2. Status Nasab Anak Hasil Zina Apabila Korban Pemerkosaan

Ayah Terhadap Anak Kandung Hamil Menurut Pandangan

Islam

Penetapan nasab anak dalam perspektif Islam memiliki arti yang

sangat penting, karena dengan penetapan itulah dapat diketahui hubungan

nasab antara anak dengan ayahnya. Di samping itu, penetapan nasab itu

merupakan hak pertama seorang anak ketika sudah terlahir ke dunia yang

harus dipenuhi.

Dalam Fiqih, seorang anak dapat dikatakan sah memiliki hubungan

nasab dengan ayahnya jika terlahir dari perkawinan yang sah. Sebaliknya

anak yang terlahir di luar perkawinan yang sah, tidak dapat disebut dengan

anak yang sah. Biasa disebut dengan anak zina atau anak di luar perkawinan

yang sah (Nuruddin Amir dkk, 2004).

Dalam prespektif kompilasi hukum Islam, pada Pasal 99 disebutkan

bahwa anak sah adalah:

1. Anak yang dilahirkan dalam atau akibat perkawinan yang sah.

37
2. Hasil pembuahan suami istri yang sah di luar rahim dan dilahirkan oleh

istri tersebut (Abdurrahman, 2004).

Dalam Pasal 100 Kompilasi Hukum Islam disebutkan: anak yang

lahir di luar perkawinan hanya mempunyai hubungan nasab dengan ibunya

dan keluarga ibunya. Selanjutnya Pasal 103 Kompilasi Hukum Islam

berbicara mengenai asal-usul seorang anak yang hanya dibuktikan dengan

akta kelahiran atau alat bukti lainnya (Abdurrahman, 2004).

Disamping penjelasan teresebut, masalah nasab ini juga dipaparkan

dalam Pasal 42 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan,

yang berbunyi bahwa Keturunan yang sah didasarkan atas adanya

perkawinan yang sah. Sebaliknya keturunan yang tidak sah adalah keturunan

yang tidak didasarkan atas suatu perkawinan yang sah (Satrio J, 2002).

Disamping Pasal 42, masalah ini juga dapat dalam Pasal 43, sebagai

berikut:

Pasal 43:

1. Anak yang dilahirkan di luar perkawinan hanya mempunyai hubungan

perdata dengan ibunya dan keluarga ibunya.


2. Kedudukan anak tersebut ayat (1) di atas selanjutnya akan diatur dalam

peraturan pemerintah.

Dalam Islam penentuan status seorang anak merupakan hal yang

sangat penting karena melalui status tersebut dapat ditentukan penasaban

anak tersebut yang akan berimplikasi terhadap hak-hak yang akan

diperolehnya, seperti hak untuk diwalikan saat menikah dan hak waris.

Dalam hukum Islam, para ulama sepakat mengatakan bahwa nasab

seseorang kepada ibunya terjadi dengan sebab kehamilan sebagai akibat

38
hubungan seksual yang dilakukannya dengan seorang lelaki, baik hubungan

itu dilakukan berdasarkan akad nikah yang sah maupun melalui hubungan

gelap atau perselingkuhan dan perzinaan (Irfan N.H.M, 2013).

Pemerkosaan ayah terhadap anak kandung yang dilakukan secara

illegal para ulama sepakat bahwa perbuatan tersebut merupakan zina.

Karena hubungan luar nikah yang dilakukan merupakan hal yang jelas-jelas

dilarang oleh agama Islam. Terlebih lagi hubungan luar nikah tersebut

dilakukan oleh para pihak yang masih mempunyai hubungan darah yang

sangat dekat (pemerkosaan ayah terhadap anak kandung). Impilkasi dari

perbuatan pemerkosaan ayah terhadap anak kandung yang dilakukan secara

illegal ini terhadap status anak yang lahir akibat perbuatan tersebut adalah

anak tersebut berstatus sebagai anak zina dan hanya dapat dinasabkan

kepada ibunya saja. Para ulama sepakat menyatakan bahwa perzinaan bukan

penyebab timbulnya hubungan nasab anak dengan ayah, sehingga anak zina

tidak boleh dihubungkan dengan nasab ayahnya, meskipun secara biologis

berasal dari benih laki-laki yang menzinai ibunya (Irfan N.H.M, 2013).

III.1.3. Hukum Waris Anak Hasil Zina Apabila Korban Pemerkosaan

Ayah Terhadap Anak Kandung Hamil Menurut Pandangan

Islam

Selain untuk menentukan nasab seorang anak, sah atau tidaknya

perkawinan orangtua juga untuk menentukan hak mewaris dari seorang

anak. Karena anak yang bisa menjadi ahli waris dari ayahnya hanya anak

yang mempunyai nasab dengan ayahnya, yaitu anak yang berstatus sebagai

39
anak sah. Hal ini sesuai dengan salah satu dari hal sebab mewaris, yaitu

karena adanya hubungan darah/kekerabatan (Syarifuddin Amir, 2004).

Serupa dengan pendapat yang dikemukakan oleh para ulama dari

berbagai mazhab yang sepakat menyatakan bahwa anak yang dilahirkan dari

hubungan pemerkosaan ayah terhadap anak kandung yang dilakukan

secara illegal berstatus sebagai anak zina sehingga anak tersebut hanya

dapat dinasabkan kepada ibunya saja, Bapak Drs. H. M. Anshary MK, S.H.,

M.H., Hakim pada Pengadilan Tinggi Agama Palangkaraya, Kalimantan

Tengah juga mengemukakan hal yang sama. Menurut beliau anak hasil

pemerkosaan ayah terhadap anak kandung yang dilakukan secara illegal

sudah jelas sebagai anak zina karena hubungan biologis yang dilakukan oleh

orangtuanya merupakan perbuatan zina. Oleh karenanya jelaslah bahwa

anak tersebut tidak dapat dinasabkan kepada laki-laki yang menghamili

ibunya dan hanya dapat dinasabkan dengan ibunya saja. Karena hanya dapat

dinasabkan kepada ibunya saja, maka anak tersebut juga hanya berhak

mewaris dari ibunya saja. Namun, anak tersebut tetap dapat mendapatkan

sebagian harta peninggalan milik ayahnya melalui mekanisme hibah, wasiat,

atau wasiat wajibah.

Berdasarkan Fatwa MUI tersebut dapat penulis simpulkan bahwa

Pemerintah ingin melindungi anak hasil zina agar tetap bisa mendapatkan

hak waris dari laki-laki yang telah menghamili ibunya tersebut melalui

mekanisme wasiat wajibah. Karena bagaimanapun tidak seharusnya anak

hasil zina yang ikut menanggung akibat dari perbuatan zina yang telah

dilakukan oleh orangtuanya. Oleh karena itu, walaupun anak hasil zina tidak

40
memiliki hubungan nasab dengan ayahnya, namun ayahnya tetap

berkewajiban untuk mencukupi kebutuhan hidup dan memberikan hartanya

setelah ia meninggal melalui wasiat wajibah. Hal tersebut dapat dikatakan

sebagai bentuk penghukuman kepada lelaki yang telah melakukan zina

hingga lahir seorang anak (Irfan N.H.M, 2013).

41