Anda di halaman 1dari 29

II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Karakteristik Telur Unggas

2.1.1 Telur Kalkun

Kalkun (turkey) adalah jenis unggas darat yang berasal dari kalkun liar

yang didomestikasikan oleh suku bangsa Indian pada zaman pro-Colombia.

Kalkun memiliki tubuh besar serta mempuyaibentuk khas pada ekornya, selain

pada pial dan gelambirnya (Rasyaf dan Amrullah, 1983). Menurut Prayitno dan

Murad (2009), produksi telur pada kalkun dimulai pada saat induk kalkun

mencapai dewasa kelamin pada umur sekitar 6 bulan, memasuki fase produksi

pertama umur 6,5 - 7,0 bulan, puncak fase produksi umur 9 10 bulan sedangkan

fase produksi kedua pada umur induk lebih dari13bulan dan induk kalkun diafkir

pada umur 15 bulan. Walaupun tingkat produksinya tidak terlalu tinggi, berat telur

yang dihasilkan mencapai 75 - 100 g, sedangkan berat telur ayam hanya 56 - 60 g.

Menurut Suprijatna (2008), telur pertama yang dihasilkan oleh induk lebih

kecil dari pada yang dihasilkan berikutnya. Ukuran telur tetas secara bertahap

meningkat sejalan dengan mulai teraturnya induk bertelur. Namun, ukuran telur

yang dihasilkan tidak merata. Umur induk memengaruhi besar telur, begitu umur

induk bertambah, ukuran telur, bobot kering, dan persentase yolk meningkat.

Sebaliknya, persentase kerabang, albumen, dan albumen padat berkurang.

(Peebles et al. 2001) menjelaskan bahwa laju produksi telur akan berkurang

seiring dengan bertambahnya umur. Induk yang lebih tua akan menghasilkan telur

dengan ukuran dan bobot telur yang lebih besar.


2.1.2 Telur Merpati

Merpati termasuk dalam Familia Columbidae dari Ordo Columbiformes.

Merpati termasuk dalam kelas unggas yang telah lama dikenal di Indonesia

dengan sebutan burung dara. Merpati Indonesia merupakan jenis merpati

lokal yang berasal dari merpati liar (Columba livia) yang telah lama

dibudidayakan dan asal penyebarannya dari Eropa (Antawidjaja, 1988).

Seekor merpati betina umumnya bertelur sebanyak dua butir. Berat telur

merpati yaitu 11,17 1,07 g menurut (Kabir 2013). Telur tersebut dierami oleh

merpati jantan dan betina secara bergantian, lama pengeraman telur hingga

menetas adalah 17 hari (Sukardi & Muljowati 1999). Anak burung merpati dapat

terbang dalam jarak yang dekat pada usia 60 hari. Telur merpati berukuran kecil.

2.1.3 Telur Puyuh

Telur puyuh terdiri atas putih telur (albumen) 47,4%, kuning telur (yolk)

31,9% dan kerabang serta membran kerabang 20,7%. Kandungan protein telur

puyuh sekitar 13,1%, sedangkan kandungan lemaknya 11,1%. Kuning telur puyuh
mengandung 15,7% - 16,6% protein, 31,8% - 35,5% lemak, 0,2% - 1,0%

karbohidrat dan 1,1% abu. Telur puyuh mengandung vitamin A sebesar 543 g

(per 100g) (Stadelman & Cotterill, 1995). Telur puyuh memiliki bobot sekitar 10

g (sekitar 8% dari bobot badan induk) (Woodard et al., 1973). Bobot telur

semakin meningkat secara gradual seiring pertambahan umur puyuh (Natarajan et

al., 1991). Kalsium dibutuhkan untuk proses pembentukan kerabang telur, jika

kebutuhan kalsium dalam telur kurang terpenuhi maka akan menyebabkan

kerabang telur menjadi tipis, akibatnya telur akan mudah retak dan pecah. Mineral

yang sangat berperan dalam proses pembentukan cangkang telur adalah kalsium
dan fosfor. Asupan mineral yang dibutuhkan kurang maka deposisi mineral

(kalsium dan fosfor) maka secara langsung akan mengambil cadangan mineral

pada tulang tibia untuk proses pembentukan kerabang telur (Suprapto, 2012).

2.1.4 Telur Angsa

Telur angsa memiliki ukuran dua kali ukuran telur ayam, Ukuran rata

rata telur angsa 113 x 74 mm dan berat 340 gram dengan berat sekitar 200 g.

Warna cangkangnya putih kapur. Cangkang/ kerabang telur angsa biasanya sangat

keras. Memiliki flavor yang lebih kuat dari pada telur ayam, namun tidak sekuat

pada telur bebek. Suhu telur angsa menetas 37 390C. Cangkang Telur

Mempunyai banyak pori yang penting untuk pertukaran udara. Membran ada 2

lapisan yaitu membran dalam dan membran luar. Fungsinya membatasi cangkang.

Putih telur / albumen, ada dua bagian yaitu bagian kental dan encer. Kantung

udara (air cell) merupakan ruang kosong yang terdapat di antara putih telur dan

lapisan membran cangkang berfungsi sumber oksigen bagi embrio. Membran

vitelline berfungsi untuk melindungi yolk supaya tidak pecah dan mencegah

supaya yolk tidak bercampur dengan albumen Kuning telur (yolk) adalah

cadangan makanan bagi embrio. Kalaza atau Chalazae (tali kuning telur)

berfungsi untuk menahan kuning telur agar tetap pada tempatnya dan menjaga

embrio agar tetap berada di bagian atas kuning telur.

2.1.5 Telur Itik

Kualitas eksternal difokuskan pada kebersihan kulit, tekstur, bentuk, warna

kulit dan keutuhan telur. Ketebalan kerabang telur itik yaitu 0,3--0,5 mm. Bagian

kerabang telur terdapat pori-pori sebanyak 7.000--15.000 buah yang digunakan


untuk pertukaran gas. 11 Pori-pori tersebut sangat sempit, berukuran 0,036 x

0,031 mm dan 0,014 x 0,012 mm yang tersebar di seluruh permukaan kerabang

telur (Ramanoff dan Ramanoff 1963). Warna kerabang telur dapat dikaitkan

dengan tingkat ketebalan kerabang telur. Telur dengan warna gelap lebih kuat dan

tebal dibanding telur yang berwarna terang (Joseph, dkk., 1999). Telur segar

memiliki HU rata-rata 86,63 9,67 setelah disimpan selama 7 hari memiliki nilai

HU 41,59 19,69 dan telur dengan lama penyimpanan 14 hari hanya telur dengan

warna kerabang gelap yang masih dapat dihitung nilai HUnya, karena pada telur

dengan warna kerabang sedang dan terang putih telur telah mengencer (Jazil,

dkk., 2012) Kecerahan pada kuning telur merupakan indikator yang digunakan

untuk menentukan kualitas telur. Penilaian warna kuning telur dapat dilakukan

secara visual dengan membandingkan warna kuning telur dengan alat yolk color

fan yang memiliki skala Roche yaitu standar warna 1--15 dari warna pucat sampai

warna pekat atau orange tua (Kurtini, dkk., 2011)

Kualitas internal mengacu pada putih telur (albumen) : Kebersihan dan

viskositas, ukuran sel udara, bentuk kuning telur dan kekuatan kuning telur.

Penurunan kualitas interior dapat diketahui dengan meneropong

rongga udara (air cell) dan dapat juga dengan memecah telur untuk diperiksa

kondisi kuning telur, putih telur, warna kuning telur, posisi kuning telur, haugh

unit (HU) dan ada tidaknya noda bintik darah (North and Bell, 1990). Besar telur

ditentukan oleh banyak faktor termasuk genetik, umur dan beberapa zat makanan

dalam ransum. Faktor yang sangat penting yang mempengaruhi besar telur adalah

protein dan asam amino dalam ransum yang cukup, dan asam linoleat (Wahyu,

1997). Selain itu, telur konsumsi yang baik yaitu telur yang mempunyai ketebalan

kerabang kuat sehingga dapat terhindar dari resiko pecah selama perjalanan.
Ketebalan kerabang sangat menentukan kualitas telur karena dapat melindungi

kualitas bagian dalam (Anggorodi, 1985). Adapun pengukuran nilai kuning telur

yang dilakukan dengan menggunakan indeks kuning telur yaitu perbandingan

antara tinggi dengan diameter kuning telur. Daya tahan membran vitelina dari

kuning telur terhadap pecahnya kuning telur penting untuk menyatakan kualitas

kuning telur (Yuwanta, 2007).

2.2 Angsa

2.2.1 Anatomi dan Morfologi


Berdasarkan bentuk dan fisiknya morfologi angsa dapat dilihat berdasarkan

fisiologisnya yaitu mulut Angsa putih memiliki mulut kerucup berwarna

kekuningan, kemerahan, dan juga ada berwarna kecoklatan. Angsa dewasa

biasanya memiliki panjang leher mencapai 30-40 cm bahkan lebih, dan panjang

tubuh berkisar 140-160 cm. Angsa dewasa juga memiliki sayap dengan lebar

mencapai 200-240 cm. Angsa putih juga memiliki ukuran kepala jantan lebih

besar dibandingkan dengan betina. Berat jantan dewasa mencapai 11-12 kg,
sedangkan betina mencapai 8-9 kg. Panjang kaki 3-5 cm dan panjang ekor 20-25

cm bahkan lebih. Bulu yang terdapat di tubuh berwarna putih dominan, tekstur

lembur/halus dan sangat lunak serta memiliki tulang/batang bulu keras berwarna

putih.

2.2.2 Saluran Pencernaan

Sistem pencernaan pada angsa umumnya sama dengan sistem pencernaan

unggas lainnya. Sistem digesti angsa terdiri atas organ-organ yang menyusun

saluran pencernaan dan memiliki fungsi masing masing. Organ yang menyusun

sistem digesti dari pakan masuk sampai keluar sebagai ekskret antara lain yaitu
paruh, esophagus, crop, proventriculus, gizzard, usus halus, usus besar, dan

cloaca.

2.2.3 Saluran Reproduksi

Sistem reproduksi angsa jantan terdiri dari tiga bagian yang berbeda yaitu

ada dua testis berbentuk kacang di dalam rongga tubuh yang memproduksi

spermatozoa baik dan hormon laki-laki. Mereka sangat vascularized dan

perubahan ukuran dan posisi menurut apakah angsa jantan yang aktif secara

seksual atau tidak. Usia kematangan seksual untuk Ganders secara langsung

berkaitan dengan program pencahayaan mereka. Namun, produksi spermatozoa

biasanya tidak dimulai sampai Ganders setidaknya 30 minggu usia. Dari testis

bergerak ke spermatozoa epididimis.

Vas deferens ini (ada dua) mengikuti urethras dan transportasi spermatozoa

dari testis dan epididimis pada organ sanggama. Panjang jelas mereka adalah 15

cm, tetapi mereka memiliki banyak tikungan dan tikungan dan bahkan mengukur

lebih dari 30 cm. Vas deferenes adalah lokasi pematangan spermatozoa dan

penyimpanan. Mereka berakhir pada vesikula seminalis yang terletak di dinding

kloaka.

Organ reproduksi betina, organ reproduksi primer, ovaria, menghasilkan

ovarium dan hormon-hormon kelamin betina. Organ-organ sekunder atau saluran

reproduksi terdiri dari tuba fallopi (oviduct), uterus, cervix, vagina dan vulva.

(Dellman, 1992).Secara anatomik alat reproduksi betina terdiri dari gonad atau

ovarium, saluran-saluran reproduksi, dan alat kelamin luar (Partodiharjo,1992).


2.2.4 Karkas Angsa

Daging angsa berwarna lebih gelap diseluruh tubuhnya dan memiliki

aroma yang lebih menyengat dibandingkan dengan kalkun. Lemak daging angsa

memiliki rasa yang lebih gurih dan lebih padat Berberoglu, (2004). Rosinski

(1999) menjelaskan bahwa persentase karkas angsa umur 8 dan 12 minggu adalah

56,7% dan 61,4%. Angsa memiliki kandungan asam lemak jenuh 50,4% dan asam

lemak tak jenuh 49,6% (Yuwanta, 1999).

2.3 Merpati
2.3.1 Anatomi dan Morfologi

Morfologi burung merpati dapat dilihat dan diketahui berdasarkan

anatominya, diantaranya adalah kepala memiliki bentuk relatif kecil terdaat

didekat bagian paruh yang dibentuk oleh maxilla dan mandibul. Neres terletak

pada bagian lateral rostrum bagian atas, sedangkan bagian organun visus di

kelilingi oleh kulit yang memiliki bulu tipis. Pada bagian kepala memiliki mata

berwarna kemerahan, dan dikelilingi oleh lapisan kulit, bentuk mata bulat dan
memiliki paruh keras, berwarna kecoklatan, kehitaman dan sebagainya tergantung

dengan jenisnya, paruh tersebut berguna untuk mengambil makan. Selain itu,

burung merpati juga memiliki membran tympani yang berguna untuk

menangkap getaran suara dari luar (Radiopoetra, 1996).

Badan burung merpati di tutupi oleh bulu dengan warna yang beragam

mulai dari warna coklat, putih, kecoklatan, krim, kombinasi dan sebagainya

tergantung dengan spesies. Badan burung memiliki panjang 10-15 cm bahkan

lebih dengan diameter lebih kurang 5-8 cm. Ekor burung merpati berbentuk

memanjang dengan bagian ujung tumpul, ketika terbang berbentuk seperti kipas.
Bagian ekor pada burung merpati dilandasi oleh sayapnya yang kebawah. Sayap

tersebut menutupi hingga jarang sekali ekor terlihat. Ekor burung tersebut

berwarna yang bervariasi dan beragam tergantung jenis spesiesnya.

2.3.2 Saluran Pencernaan

Pada bagian mulut terdapat paruh dan lidah. Paruh berfungsi untuk

mengambil makanan, SedangkanLidah burung memiliki struktur kaku dan

bentuknya runcing dan kecil. Makanan yang masuk ke rongga mulut tidak

mengalami proses pencernaan mekanik maupun kimiawi . Makanan yang diambil

oleh paruh langsung masuk ke dalam rongga mulut lalu menuju ke kerongkongan.

Kerongkongan merupakan saluran antara rongga mulut dan lambung. Bagian

bawahnya membesar berupa kantong yangdisebut tembolok. Tembolok

merupakan pelebaran kerongkongan yang berfungsi menyimpan makanan untuk

sementara, dan sedikit demi sedikit akan disalurkan ke lambung kelenjar.

Lambung Kelenjar, yaitu lambung yang terletak di bagian depan. Dilambung

kelenjar terjadi proses kimiawi karena dindingnya mengandung kelenjar-kelenjar

yang menghasilkan getah lambung dan berfungsi mencerna makanan. Bagian

empedal terjadi proses pencernaan makanan secara mekanik karena dindingnya

mengandung otot-otot kuat yang berguna untuk menghancurkan makanan dengan

bantuan batu kecil atau kerikil. Kemudian batu kerikil ini akan disalurkan ke usus

halus bersama dengan makanan. Organ pencernaan selanjutnya adalah usus halus.

Di usus halus terjadi proses kimiawi karena Enzim yang dihasilkan oleh pankreas

dan empedu yang dihasilkan oleh hati lansung dialirkan ke dalam usus halus

karena burung merpati tidak mempunyai kantong empedu. Hasil-Hasil pencernaan

yang berupa sari-sari makanan diserap oleh kapiler darah dalam dinding usus
halus. Kemudian sisa makanan didorong ke usus besar (kolon), lalu ke dalam

rektum, dan akhirnya dikeluarkan melalui kloaka. Kloaka merupakan saluran

kelamin.

2.3.3 Saluran Reproduksi

Pada hewan jantan terdapat sepasang testis yang bulat, berwarna putih,

melekat disebelah anteriornan ren disuatu alat penggantung. Testes sebelah kanan

lebih kecil dari pada yang kiri. Dari masing-masing testis terjulur saluran

vasdeverensia sejajar dengan ureter ynag berasal dari ren. Pada sebagian besar

aves memiliki vesicula seminalis yang merupakan gelembung kecil bersifat

kelenjar sebagai tempat penampungan sementara sperma sebelum dituangkan

melalui papil yang terletak pada cloaka pada beberapa spesies memiliki penis

sebagai alat untuk menuangkan sperma ke kloaka hewan betina. Walaupun

merpati tidak memiliki alat kelamin luar, fertilisasi tetap terjadi di dalam tubuh.

Hal ini dilakukan dengan cara saling menempelkan kloaka (Blakely,1998 ).

2.3.4 Karkas Merpati

Ketika anak merpati umur 2-3 minggu, induk betina mulai bertelur

lagi. Pemberian makan selanjutnya diserahkan pada induk pejantan. Umur 4

minggu anak merpati sudah bisa dipanen sebagai merpati potong. Saat itu bobot

anak merpati King telah mencapai 460-690 gram per ekor. Bobot karkas yang

dikonsumsi 60-70% , dan biasanya dijual dalam bentuk karkas beku berbobot

400-580 gram per ekor. Winter dan Funk (1960) bahwa ternak yang memiliki berat

hidup yang lebih tinggi menghasilkan persentase karkas yang tinggi pula. Acker dan

Cunningham (1998) menyatakan bahwa persentase potongan komersial karkas


dipengaruhi oleh jenis kelamin, umur, bobot, volume, dan dimensi karkas. Nilai

persentase potongan komersial karkas berdasarkan bobot hidup adalah dada 28--30%;

paha atas 15--17%; paha bawah 14--16%; sayap 12--14%; dan punggung 20--22%.

2.4 Puyuh

2.4.1 Anatomi dan Morfologi

Burung puyuh merupakan unggas yang berukuran pendek, kecil, gemuk

dan bulat dengan kaki-kaki yang kuat dan pendek. Badannya dipenuhi dengan

bulu berwarna coklat dengan bercak abu-abu dan hitam. Awalnya puyuh hidup
liar dan berpindah-pindah dihutan. suaranya cukup keras dan agak berirama. Vali

(2011), menyatakan bahwa lebih mudah mengidentifikasi jenis kelamin puyuh

setelah tiga minggu, karena warna bulu dada puyuh jantan sangat jelas terlihat

perubahannya menjadi cokelat kemerahan. Perubahan warna bulu dada hanya

terjadi pada burung puyuh jantan, tidak terlihat pada burung puyuh betina. Cara

lain yang dapat dilakukan untuk identifikasi jenis kelamin pada puyuh adalah

dengan melihat ukuran tubuh, dimana ukuran tubuh puyuh betina lebih besar dari

yang jantan (Vali dan Doosti, 2011)

2.4.2 Saluran Pencernaan

Puyuh merupakan hewan monogastrik, yaitu hewan yang memiliki satu

lambung. Saluran pencernaan pada puyuh sama dengan hewan unggas lainnya,

terbagi atas beberapa segmen yaitu mulut, esophagus, tembolok, lambung kelenjar

(proventriculus), lambung keras (ventriculus), usus halus (small intestine), sekum

(caecum), usus besar (large intestine), kloaka (cloaca), anus (vent) serta pangkreas

dan hati yang merupakan organ yang diperlukan dalam membantu proses

pencernaan (Rizal,2006).
2.4.3 Saluran Reproduksi

Burung Puyuh Betina Organ reproduksi ayam betina terdiri dari ovarium

serta oviduct. Pada ovarium terdapat tidak sedikit folikel serta ovum. Oviduct

terdiri dari infudibulum, magnum, ithmus, kelenjar kerabang telur serta vagina.

Burung Puyuh Jantan Organ reproduksi ayam jantan terdiri dari sepasang testis,

epididymis, duktus deferens ,serta organ kopulasi pada kloaka.

2.4.4 Karkas Puyuh

Persentase karkas berhubungan dengan jenis kelamin, umur dan bobot

hidup Brake et al., (1993). Soeparno (1994) menyatakan bahwa persentase karkas

dipengaruhi oleh bangsa, umur, bobot badan dan pakan. Faktor - faktor yang

mempengaruhi persentase karkas adalah umur, perlemakan, bobot badan, jenis

kelamin, kualitas dan kuantitas ransum. Mahfudz et al., (2009) menyatakan bahwa

persentase karkas diperoleh dari perbandingan antara bobot karkas terhadap bobot

badan akhir dikalikan 100%. Persentase karkas burung puyuh mencapai 60% dari

bobot hidupnya (Muin, 2002). Karkas hasil penelitian Genchev et al. (2008)

yaitu berkisar antara 64-65 % bobot hidup. Komposisi karkas dipengaruhi kadar

laju pertumbuhan, nutrisi, umur, dan bobot tubuh Soeparno, (2005). Karkas utuh

biasanya dipotong sesuai pesanan konsumen. Karkas bisa dipotong menjadi 9

bagian yang terdiri dari 2 paha bawah, 2 paha atas, 2 sayap, 2 dada tulang dan 1

dada tengah. Selain itu, biasanya dipotong menjadi 4 bagian, yaitu 2 potong paha
dan punggung sebelah bawah, 2 potong sayap, dada dan punggung bagian atas

Prayitno, (2000).

2.5 Kalkun

2.5.1 Anatomi dan Morfologi

Kalkun yang berkembang di Indonesia yaitu memiliki tubuh yang relatif

jauh lebih kecil dibandingkan dengan varietas kalkun yang dipelihara di negara

maju. Bobot kalkun betina dewasa sekitar 3,0--3,5 kg sedangkan jantannya sekitar

6--8 kg. Warna bulunya beragam, ada yang gelap, putih, gelap/hitam bercampur
putih, cokelat, dan abu-abu. Diduga kalkun ini adalah keturunan dari berbagai

spesies dan varietas kalkun yang ada pada waktu itu dibawa masuk oleh orang-

orang Belanda ke Indonesia (Prayitno dan Murad, 2009). Menurut (Maspul

2012), cara membedakan kalkun jantan dan betina dapat dilihat dari ukuran tubuh.

Kalkun jantan memiliki tubuh yang lebih besar dibandingkan dengan kalkun

betina.Selain tubuh yang besar, kalkun jantan memiliki bulu yang lebih indah dan

memiliki snood yang lebih panjang di atas kepalanya, sedangkan betina memiliki

snood tetapi kurang muncul dan warna bulu kurang berwarnawarni.Kalkun jantan

juga diciri-cirikan memiliki suara yang lebih keras dibandingkan dengan kalkun

betina.

2.5.2 Saluran Pencernaan

Unggas adalah jenis ternak bersayap dari klas aves yang telah

didomestikasikan dan cara hidupnya diatur oleh manusia dengan tujuan untuk

memberikan nilai ekonomis dalam bentuk barang (daging dan telur) dan jasa

(pendapatan). Termasuk kelompok unggas adalah ayam (petelur dan pedaging),

ayam kampung, itik, kalkun, burung puyuh, burung merpati, dan angsa (Yuwanta,
2000). Oesophagusmemanjang dari pharynx hingga proventrikulus melewati crop.

Organ ini menghasilkan mukosa yang berfungsi membantu melicinkan pakan

menuju tembolok (Yuwanta, 2004).Pada lipatan duodenum terdapat kelenjar yang

disebut pankreas. Di dalam jejenum dan ileum terdai absorpsi nutrient. Pada

dinding small intestinum dilapisi oleh fili-fili (Yuwanta, 2000). Unggas

memiliki coecum yaitu sepasang coeca (saluran buntu). Coecum berfungsi dalam

penyerapan air. Menurut Yuwanta (2004). Rektum merupakan penampung

kotoran sementara yang terhubung dengan kloaka. Menurut Yuwanta (2004), pada

bagian rektum juga bermuara ureter dari ginjal untuk membuang urin yang

bercampur dengan feses sehingga feses unggas dinamakan ekskreta.Kloaka

merupakan tempat keluarnya ekskreta (Yuwanta, 2000). Kloaka pada unggas

terdiri dari 3 bagian, yaitu kuprodeum, urodeum, dan protodeum.

2.5.3 Saluran Reproduksi

Sistem reproduksi hewan jantan terdiri atas sepasang testis, pasangan-

pasangan kelenjar asesori dan sistem ductus termasuk organ kopulasi. Testes

berkembang didekat ginjal yaitu pada daeah krista genitalis primitif. Fungsi testes

ada dua macam yaitu menghasilkan hormon sex jantan disebut androgen dan

menghasilkan gamet jantan disebut sperma. Scrotum mempunyai fungsi untuk

memberikan ke pada testes suatu lingkungan yang memeiliki 1-8 0F lebih dingin

dibandingkan temperature rongga tubuh. Yang termasuk kelenjar asesori adalah

sepasang vesicula seminalis prostat dan sepasang kelenjar bulbourethra atau

kelenjar cowper. Sedangkan sistem ductus pada jantan sebagian besar berasal dari
sistem ductus Wolft pada ginjal mesonefrik (Nalbandov, 1990). Fungsi reproduksi

pada alat kelamin jantan dapat dibagi menjadi tiga subdivisi utama: pertama,

spermatogenesis, yang berarti hanya pembentukan sperma. Kedua, kinerja

kegiatan seksual alat kelamin jantan. Dan ketiga,pengaturan fungsi reproduksi alat

kelamin jantan oleh berbagai hormon.(Guyton & Hall,1997). Sistem reproduksi

unggas jantan terdiri dari dua testis bentuknya elips dan berwarna terang, dan

menghasilkan sperma yang masing-masing mempunyai sebuah saluran sperma

yang bernama vas defferens serta sebuah kloaka yang menjadi muara dari sistem

reproduksi tersebut (Srigandono, 1997). Testis yang berbentuk bulat kacang

tersebut besarnya berbeda-beda menurut umur dan besar unggas. Permukaan testis

diselaputi oleh suatu jaringan fibrosa yang kuat yang diteruskan kedalam testis

membentuk kerangka penunjang tenunan testis (Sarwono, 1993).

2.5.4 Karkas Kalkun

Universitas Jendral Sudirman, Purwekerto persentase keseluruhan karkas kalkun

adalah antara 54,89 sampai 58,97 persen. Angka ini sedikit lebih rendah dari pada bebek

jantan, yaitu 62,24 persen (Siswoyo, 1999), 60-75 persen (Siregar, 1979), 60,3 61,5

persen (Leclercq dan de Carville, 1985). Karkas bagian dada memiliki kisaran 11,48

sampai 15,99 persen (Universitas Jendral Sudirman, 2003). kalkun muda (kalkun jantan

dengan umur kurang dari 8 bulan) memiliki daging tender dengan sternum lunak. Ini

membuktikan bahwa kalkun pada usia tersebut memiliki tingkat pertumbuhan yang baik

terutama tingkat fleshing pada porsi dada Marsden (1971). Hasil penelitian ini sedikit

lebih rendah dari pada Tugiyanti et al (1998) dimana rata-rata karkas belakang 11,94

persen. Namun dalam praktikum kami karkas punggung kalkun yang di dapatkan sebesar
12,96%,. Mirran dan Orr (1970) yang dikutip oleh Pudjiastuti (1985) menyatakan bahwa

persentase betis, sayap, dan leher berkurang saat kalkun menjadi tua, sementara

persentase kenaikan paha dan punggung. Hasil ini mengkonfirmasi Mirran dan Orr

(1970) seperti yang dinyatakan sebelumnya. Tampaknya kalkun pada usia ini memiliki

potensi tinggi untuk menghasilkan proporsi daging yang tinggi dibagian paha.

2.6 Itik

2.6.1 Anatomi dan Morfologi

Itik adalah jenis unggas air yang tergolong dalam ordo Anseriformes,

family Anatidae, genus Anas dan termasuk spesies Anas javanica. Proses

domestikasi membentuk beberapa variasi dalam besar tubuh, konformasi, dan

warna bulu. Perubahan ini diperkirakan akibat campur tangan manusia untuk

mengembangkan ternak itik dengan tujuan khusus dan juga karena jauhnya jarak

waktu domestikasi dengan waktu pengembangan (Chaves dan Lasmini, 1978).

Itik asli Indonesia termasuk jenis Indian Runner (Anas plathyryncos). Secara

morfologis Indonesia memiliki beberapa jenis itik lokal berdasarkan tempat

berkembangnya (Simanjuntak, 2002). Bangsa itik domestikasi dibedakan 6

menjadi tiga yaitu: pedaging, petelur dan hiasan. Itik-itik yang ada sekarang

merupakan keturunan dari Mallard berkepala hijau (Anas plathyrhynchos

plathyrhynchos). Beberapa itik lokal yang banyak dipelihara oleh masyarakat di

pulau Jawa antara lain yaitu itik Tegal, itik Mojosari, itik Magelang, itik Cihateup

dan itik Cirebon (Djanah, 1982). Menurut Kedi (1980), bangsa-bangsa itik yang

termasuk golongan tipe pedaging mempunyai sifat-sifat pertumbuhan serta

struktur perdagingan yang baik, sedangkan bangsa-bangsa itik yang tergolong


petelur memiliki badan relatif lebih kecil dibandingkan dengan tipe pedaging.

Salah satu itik lokal yang banyak dipelihara adalah itik Tegal.

2.6.2 Saluran Pencernaan

Alat-alat pencernaan pada itik meliputi , mulut, pharynx, esophagus, crop,

proventikulus, intestinum tenue (duodenum, jejunum, ileum) dan kloaka

(Srigandono, 1986). Mulut yang terdiri atas paruh atas dan ruang paruh serta

lidah. Pharynk pada itik tidak bersifat peristaltik karena itik tidak memiliki palat

halus dan muskulas konstriktor pada pharynknya. Makanan masuk ke esophagus

oleh adanya gravitasi (gaya berat) makanan dan kerana tekanan yang lebih rendah

di dalam ruang esophagus oleh leher yang dijulurkan ke atas demikian juga

dengan proses menelan di dalam air. Crop merupakan pelebaran dari dinding

Universitas Sumatera Utara esophagus. Perut pada itik terdiri atas perut kelenjar

(proventikulus) dan perut muskulular (ventrikulus), sebagi alat penghancur

makanan. Bangsa itik mengenali makanan semata-mata hanya dari indra

penglihatan saja, sedangkan indra penciuman dan indra perasaaan tidak berperan

(Srigandono, 1997). Sebelum kerongkongan memasuki rongga tubuh, ada bagian

yang melebar di salah satu sisinya menjadi kantong yang dikenal sebagai

tembolok, proventrikulus adalah suatu pelebaran dari kerongkongan yang

berhubungan dengan gizard atau empedal. Sedangkan gizard sendiri berada di

ventrikulus bagian atas usus halus. Small intestine atau usus halus memanjang

dari ventriculus sampai large intestinum dan terbagi atas tiga bagian yaitu

duodenum, jejenum dan ileum. Ceca atau usus buntu terletak diantara small

intestine (usus kecil) dan large intestine (usus besar) dan pada kedua ujungnya

buntu, maka disebut juga usus buntu. Usus buntu mempunyai panjang sekitar 10
sampai 15 cm dan berisi calon tinja. Large intestine berupa saluran yang

mempunyai diameter dua kali dari diameter small intentine dan berakhir pada

kloaka. Usus besar paling belakang terdiri dari rektum yang pendek dan

bersambungan dengan kloaka (Suthama, 2005).

2.6.3 Saluran Reproduksi

Organ reproduksi betina pada ayam dan itik hampir sama. Yaitu terdiri

atas Ovarium, Infundibulum, Magnum, Isthmus, Uterus, Vagina, dan Cloaca.

Anatomi alat reproduksi itik betina terdiri atas dua bagian utama yakni

ovarium dan oviduk. Ovarium berfungsi sebagai tempat pembentukan kuning

telur (Suprijatna et al. 2008). Ovarium adalah tempat sintesis hormon steroid

seksual, gametogenesis, dan perkembangan serta pemasakan kuning telur. Oviduk

adalah tempat menerima kuning telur masak, sekresi putih telur, dan pembentukan

kerabang telur. Ovarium adalah tempat sintesis hormon steroid seksual

gametogenesis dan perkembangan serta pemasakan kuning telur. Fungsi utama

Infundibulum adalah menangkap ovum yang masak. Magnum merupakan temapat

untuk mensintesis dan mensekresi putih telur. Isthmus adalah tempat untuk

mensekresikan membran atau selaput telur. Uterus temapat terbentuknya

cangkang. vagina adalah tempat penyimpanan sementara telur. Kloaka merupakan

bagian ujung luar dari oviduck tempat dikeluarkannya telur (Yuwanta, 2004).

Infundibulum berperan dalam penangkapan kuning telur. Fungsi utama magnum

adalah mensekresikan albumen. Isthmus berfungsi sebagai tempat untuk

mensekresikan membran cangkang. Uterus adalah mensekresikan cangkang.

vagina dalah tempat dimana telur untuk sementara ditahan dan dikeluarkan bila

telah tercapai bentuk yang sempurna. Fungsi utama magnum adalah


mensekresikan albumen. Fungsi uterus adalah mensekresikan cangkang. Vagina

dalah tempat dimana telur untuk sementara ditahan dan dikeluarkan bila telah

tercapai bentuk yang sempurna. Kloaka merupakan tempat untuk mengeluarkan

telur (Hardjosworo, 2000)

Sistem reproduksi itik jantan terdiri dari sepasang testis, sepasang

saluran deferens, papilla dan kloaka.

Testis. Testis ayam jantan terletak di rongga badan dekat tulang belakang, melekat

pada bagian dorsal dari rongga abdomen dan dibatasi oleh ligamentum

mesorchium,berdekatan dengan aorta dan vena cava atau di belakang paru-paru

bagian depan dari ginjal. Meskipun ekat dengan rongga udara, temperatur testis

selalu 41oC sampai 43oC karena spermatogenesis akan terjadi pada temperatur

tersebut. Testis ayam terbungkus oleh dua lapisan tipis transparan,

lapisan albuginea yang lunak. Bagian dalam dari testis terdiri atas tubuli

seminiferi (85% sampai 95% dari volume testis), yang merupakan tempat

terjadinya spermatogenesis dan jaringan interstitialyang terdiri atas sel glanduler

(sel Leydig) tempat disekresikannya hormon steroid, androgen, dan testosteron.

Besar testis tergantung pada umur, strain, musim, dan pakan (Yuwanta,

2004). Spermatozoamenunjukkan bagian ujung kepala yang panjang diikuti oleh

satu ekor yang panjang. pH semen sekitar 7 sampai 7,4. Volume ejakulasi selama

satu kali perkawinan mencapai 1 ml pada permulaan hari itu dan berkurang sedikit

setelah beberapa kali perkawinan (Supprijatna et al., 2005).

Vas Deferens. Vas Deferens (ductus deferens) merupakan sebuah saluran yang

berfungsi mengalirkan sperma keluar dari tubuh. Masing-masing ductus

deferens bermuara ke dalam sebuah papilla kecil yang bersama berperan sebagai

organ intromittent (Suprijatna et al., 2005). Saluran duktus deferens dibagi


menjadi dua bagian, yaitu bagian atas yang merupakan muara sperma testis serta

bagian bawah yang merupakan perpanjangan dari saluran epididimis dan

dinamakan saluran deferens. Saluran deferens ini akhirnya akan bermuara di

kloaka pada daerah proktodeum yang bersebelahan dengan urodeum dan

koprodeum. Sperma di dalam saluran deferens mengalami pemasakan dan

penyimpanan sebelum diejakulasikan. Pemasakan dan penyimpanan sperma

terjadi pada 65% bagian distal saluran deferens (Yuwanta, 2004).

Papilla. Alat kopulasi pada ayam berupa papila (penis ) yang mengalami

rudimenter, kecuali pada itik berbentuk spiral yang panjangnya 12 sampai 18 cm.

Papila memproduksi cairan transparan yang bercampur dengan sperma saat

terjadinya kopulasi (Yuwanta, 2004).

2.6.4 Karkas Itik

Karkas itik adalah daging bersama tulang hasil pemotongan, setelah

dipisahkan dari kepala sampai batas pangkal leher dan dari kaki sampai batas lutut

serta dari isi rongga perut aitik. Karkas diperoleh dengan memotong itik kemudian

menimbang bagian daging, tulang, jantung dan ginjal. Aviagen (2006)

menyatakan bobot karkas itik berkisar antara 625 gr untuk jantan dan 644 gr untuk

betina 54,58 dan 62,52% dari bobot potong. Persentase itik siap potong menurut

Bakrie et al. (2003) adalah 58,9%.

2.7 Itik Manila

2.7.1 Anatomi dan Morfologi

Itik peking adalah itik yang berasal dari daerah Cina. Setelah mengalami

beberapa perubahan dan perkembangan di Inggris dan Amerika Serikat, itik

peking ini menjadi popular dikalangan masyarakat. Itik Peking dapat dipelihara di
daerah sub tropis maupun tropis. Itik Peking sangat mudah beradaptasi dan

keinginan untuk terbang sangat minim. Umumnya dipelihara secara intensif

dengan dilengkapi dengan kolam yang pendek (Murtidjo, 1996). Marhijanto

(1993), menyatakan bahwa itik peking bukan suatu jenis itik yang cocok untuk

petelur, melainkan lebih cocok dijadikan ternak untuk diambil dagingnya. Sebagai

unggas pedaging, itik peking mempunyai kelebihan yang diantaranya

pertumbuhannya cepat, mudah dalam pemeliharaannya, ekonomis dan tahan

terhadap penyakit. Itik peking mempunyai kepala besar dan bundar, paruhnya

lebar, pendek dan ujungnya berwarna kuning, akan tetapi ada juga yang berwarna

putih, lehernya pendek, gemuk dan tegak dan warna bulunya putih seperti burung

kenari. Pada jantan ditemukan bulu yang pada leher tengah agak dipanjangkan

dan diatas kepala kadang-kadang ditemukan bulu seperti jambul (Samosir, 1993).

Dari golongan itik pedaging (Peking, Muscovy dan Entok), itik peking mulai

popular di Indonesia. Produksi dagingnya bisa mencapai 3-3,5 kg pada umur 7-8

minggu (Anggorodi, 1995).

2.7.2 Saluran Pencernaan

Alat-alat pencernaan pada itik peking (manila) meliputi , mulut, pharynx,

esophagus, crop, proventikulus, intestinum tenue (duodenum, jejunum, ileum) dan

kloaka (Srigandono, 1986). Mulut yang terdiri atas paruh atas dan ruang paruh

serta lidah. Pharynk pada itik tidak bersifat peristaltik karena itik tidak memiliki

palat halus dan muskulas konstriktor pada pharynknya. Makanan masuk ke

esophagus oleh adanya gravitasi (gaya berat) makanan dan kerana tekanan yang

lebih rendah di dalam ruang esophagus oleh leher yang dijulurkan ke atas

demikian juga dengan proses menelan di dalam air. Crop merupakan pelebaran
dari dinding Universitas Sumatera Utara esophagus. Perut pada itik terdiri atas

perut kelenjar (proventikulus) dan perut muskulular (ventrikulus), sebagi alat

penghancur makanan. Bangsa itik mengenali makanan semata-mata hanya dari

indra penglihatan saja, sedangkan indra penciuman dan indra perasaaan tidak

berperan (Srigandono, 1997). Sebelum kerongkongan memasuki rongga tubuh,

ada bagian yang melebar di salah satu sisinya menjadi kantong yang dikenal

sebagai tembolok, proventrikulus adalah suatu pelebaran dari kerongkongan yang

berhubungan dengan gizard atau empedal. Sedangkan gizard sendiri berada di

ventrikulus bagian atas usus halus. Small intestine atau usus halus memanjang

dari ventriculus sampai large intestinum dan terbagi atas tiga bagian yaitu

duodenum, jejenum dan ileum. Ceca atau usus buntu terletak diantara small

intestine (usus kecil) dan large intestine (usus besar) dan pada kedua ujungnya

buntu, maka disebut juga usus buntu. Usus buntu mempunyai panjang sekitar 10

sampai 15 cm dan berisi calon tinja. Large intestine berupa saluran yang

mempunyai diameter dua kali dari diameter small intentine dan berakhir pada

kloaka. Usus besar paling belakang terdiri dari rektum yang pendek dan

bersambungan dengan kloaka (Suthama, 2005).

2.7.3 Saluran Reproduksi

Organ reproduksi betina pada itik peking. Yaitu terdiri atas Ovarium,

Infundibulum, Magnum, Isthmus, Uterus, Vagina, dan Cloaca. Anatomi alat

reproduksi itik betina terdiri atas dua bagian utama yakni ovarium dan oviduk.

Ovarium berfungsi sebagai tempat pembentukan kuning telur (Suprijatna et al.

2008). Ovarium adalah tempat sintesis hormon steroid seksual, gametogenesis,

dan perkembangan serta pemasakan kuning telur. Oviduk adalah tempat


menerima kuning telur masak, sekresi putih telur, dan pembentukan

kerabang telur. Ovarium adalah tempat sintesis hormon steroid seksual

gametogenesis dan perkembangan serta pemasakan kuning telur. Fungsi utama

Infundibulum adalah menangkap ovum yang masak. Magnum merupakan temapat

untuk mensintesis dan mensekresi putih telur. Isthmus adalah tempat untuk

mensekresikan membran atau selaput telur. Uterus temapat terbentuknya

cangkang. vagina adalah tempat penyimpanan sementara telur. Kloaka merupakan

bagian ujung luar dari oviduck tempat dikeluarkannya telur (Yuwanta, 2004).

Infundibulum berperan dalam penangkapan kuning telur. Fungsi utama magnum

adalah mensekresikan albumen. Isthmus berfungsi sebagai tempat untuk

mensekresikan membran cangkang. Uterus adalah mensekresikan cangkang.

vagina dalah tempat dimana telur untuk sementara ditahan dan dikeluarkan bila

telah tercapai bentuk yang sempurna. Fungsi utama magnum adalah

mensekresikan albumen. Fungsi uterus adalah mensekresikan cangkang. Vagina

dalah tempat dimana telur untuk sementara ditahan dan dikeluarkan bila telah

tercapai bentuk yang sempurna. Kloaka merupakan tempat untuk mengeluarkan

telur (Hardjosworo, 2006)

Sistem reproduksi itik jantan terdiri dari sepasang testis, sepasang

saluran deferens, papilla dan kloaka.

Testis. Testis ayam jantan terletak di rongga badan dekat tulang belakang, melekat

pada bagian dorsal dari rongga abdomen dan dibatasi oleh ligamentum

mesorchium,berdekatan dengan aorta dan vena cava atau di belakang paru-paru

bagian depan dari ginjal. Meskipun ekat dengan rongga udara, temperatur testis

selalu 41oC sampai 43oC karena spermatogenesis akan terjadi pada temperatur

tersebut. Testis ayam terbungkus oleh dua lapisan tipis transparan,


lapisan albuginea yang lunak. Bagian dalam dari testis terdiri atas tubuli

seminiferi (85% sampai 95% dari volume testis), yang merupakan tempat

terjadinya spermatogenesis dan jaringan interstitialyang terdiri atas sel glanduler

(sel Leydig) tempat disekresikannya hormon steroid, androgen, dan testosteron.

Besar testis tergantung pada umur, strain, musim, dan pakan (Yuwanta,

2004). Spermatozoamenunjukkan bagian ujung kepala yang panjang diikuti oleh

satu ekor yang panjang. pH semen sekitar 7 sampai 7,4. Volume ejakulasi selama

satu kali perkawinan mencapai 1 ml pada permulaan hari itu dan berkurang sedikit

setelah beberapa kali perkawinan (Supprijatna et al., 2005).

Vas Deferens. Vas Deferens (ductus deferens) merupakan sebuah saluran yang

berfungsi mengalirkan sperma keluar dari tubuh. Masing-masing ductus

deferens bermuara ke dalam sebuah papilla kecil yang bersama berperan sebagai

organ intromittent (Suprijatna et al., 2005). Saluran duktus deferens dibagi

menjadi dua bagian, yaitu bagian atas yang merupakan muara sperma testis serta

bagian bawah yang merupakan perpanjangan dari saluran epididimis dan

dinamakan saluran deferens. Saluran deferens ini akhirnya akan bermuara di

kloaka pada daerah proktodeum yang bersebelahan dengan urodeum dan

koprodeum. Sperma di dalam saluran deferens mengalami pemasakan dan

penyimpanan sebelum diejakulasikan. Pemasakan dan penyimpanan sperma

terjadi pada 65% bagian distal saluran deferens (Yuwanta, 2004).

Papilla. Alat kopulasi pada ayam berupa papila (penis ) yang mengalami

rudimenter, kecuali pada itik berbentuk spiral yang panjangnya 12 sampai 18 cm.

Papila memproduksi cairan transparan yang bercampur dengan sperma saat

terjadinya kopulasi (Yuwanta, 2004).

2.7.4 Karkas Itik Manila


Persentase karkas itik manila dengan berat hidup 3,75 kg adalah 62,6 %

(Leglereg dan de Varville, 1985 dalam Srigandono, 1997). hasil penelitian Randa

et al (2002) pada penelitiannya yaitu rataan persentase dada, paha, punggung dan

sayap pada itik Mandalung masing-masing berkisar antara 18,77%-24,87%;

23,17%-29,06%; 25,56%-27,41% dan 14,69%-19,15%. Tetapi persentase ini lebih

rendah dibanding dengan penelitian Muhsin (2002) sebesar 33,45% pada itik.
DAFTAR PUSTAKA

Acker, D., and M.Cunningham. 1998. Animal Science Industry. 4th Ed. Prentice
Hall, Inc. New Jersey.

Anggorodi, R., 1985. Nutrisi Aneka Ternak Unggas. Gramedia. Jakarta.

Anggorodi.H.R., 1985. Ilmu Pakan Ternak Unggas. UI-Press, Jakarta.

Antawidjaja, T. 1988. Pengaruh Pengelolaan Loloh Paksa (Force Feeding)


terhadap Performans Piyik dan Induk Burung Merpati. Homer King. Tesis.
Program Studi Pasca Sarjana. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Bakrie, B., D. Andayani, M. Yanis, dan D. Zainuddin. 2003. Pengaruh


penambahan jamu ke dalam air minum terhadap preferensi konsumen dan
mutu karkas ayam buras. hlm. 490495. Prosiding Seminar Nasional
Teknologi Peternakan dan Veteriner Iptek untuk Meningkatkan
Kesejahteraan Petani melalui Agribisnis Peternakan yang Berdaya Saing.
Bogor, 2930 September 2003. Pusat Penelitian dan Pengembangan
Peternakan, Bogor

Blakely, J. dan D.A Bade. 1998. Ilmu Peternakan. Terjemahan: B. Srigandono


dan Soedarsono. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Brake, J., G.B. Havestein., S.E. Scheideler. , P.R. Ferket and D.V. Rives.
1993.Relationship of sex, age and body weight to broiler carcass yield and
ofal production. Poult. Sci. 72: 1137 -1145.

Chaves, E.R., and Lasmini, A. 1978. Comparative Performance on Native


Indonesian Egg Laying Ducks. Center for Animal. Res and Dev.
CLSI/NCCLS. 2002. Interference Testing in Clinical Chemistry. EP7-A2.

Dellman, Brown. 1992. Buku Teks Histologi Veteriner II, 3rd. UI Press:Jakarta.

Djanah, D. 1982. Beternak Ayam dan Itik. Jasaguna. Malang

Genchev, A., Mihaylova, G., Ribarski, S., Pavlov, A., and Kabakchiev, M. 2008.
Meat quality and composition in Japanese quails. Trakia J. Sci. 6 (4) : 72-
82.
Guyton A. C., Hall J. E. 1997. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi 9. Jakarta :
EGC. P. 208 212, 219 223, 277 282, 285 287.

Hardjosworo dan Rukminasih. 2000. Peningkatan Produksi Ternak Unggas.


Penebar Swadaya. Jakarta.

Jazil, N., A. Hintono., dan S. Mulyani. 2012. Penurunan Kualitas Telur Ayam Ras
dengan Intensitas Warna Cokelat Kerabang Berbeda Selama Penyimpanan.
Jurnal Penelitian. Fakultas Peternakan dan Pertanian. Universitas
Diponegoro, Semarang.

Joseph, N. S., N. A. Robinson, R. A. Renema, dan F. E. Robinson. 1999. Shell


Quality and Color Variation in Broiler Eggs. J. Appl. Poult. Res. 8:70-74.

Kabir MA. 2013. Productivity of crossed indigenous pigeon in semi intensive


system. J Agric. 2;1-4.
Kedi, S. 1980. Duck In Indonesia. Poultry Indonesia Nomor 4. University
Indonesia Press. Jakarta

Kurtini, T., K. Nova., dan D. Septinova. 2011. Produksi Ternak Unggas.


Universitas Lampung, Bandar Lampung.

Leclercq, B and H. de Carvile. 1985. Growth and Body Composition of Muscovy


Duckling. In : Duck Production Science and Work Practice. University of
New England.

Marhijanto, B., 1993. Delapan Langkah Beternak Itik yang Berhasil. Arkola,
Surabaya

Marsden, William. 1811. History of Sumatra. London: Black Horse Court.

Maspul. 2012. Apa-itu-Kalkun-danJenis-jeniskalkun/219/ com/18 maret 2013

Muhsin. 2002. Persentase bobot potongan karkas, kepala, leher dan shank itik
lokal jantan yang diberi berbagai level kayambang (Salvinia molesta)
dalam ransum. Skripsi Jurusan Ilmu Nutrisi dan Makanan Ternak, Fakultas
Peternakan Institut Pertanian Bogor. Institut Pertanian Bogor. Bogor

Murtidjo, B.A., 1996. Pedoman Meramu Pakan Unggas. Kanisius, Yogyakarta

Nalbandov, A.V. 1990. Fisiologi Reproduksi Pada Mamalia dan Unggas. UGM
Press Yogyakarta.
Natarajan CP, Lewis YS. 1991. Technologi of Ginger an Turmeric. Procceding of
the Nasional Seminar on Ginger. Turmeric. Central Plantation Corps
Research Institute Krala. India.

North, M.O and D.D. Bell. 1990. Commercial Chicken Production Manual
Fourth Edition. An Avi Book Published by Van Nostrand Reinhold, New
York.

Partodihardjo, S.1992. Ilmu Reproduksi Hewan. Mutiara Sumber Widya. Jakarta

Peebles, E.D and J. Brake. 2001. Relationship of Egg Shell Porosity of Stage of
Embrionic Development in Broiler Breeders. Poult.Sci. 64 (12): 2388.

Prayitno & Amti, E. (2000). Dasar- Dasar Bimbingan dan Konseling. Jakarta:
Rineka Cipta

Prayitno, D.S., dan B.C. Murad. 2009. Manajemen Kalkun Berwawasan Animal
Welfare. Badan Penerbit Universitas Diponegoro. Semarang.

Radiopoetro. 1996. Biologi. Jakarta : Erlangga

Rasyaf, M. Dan I.K. Amrullah. 1983. Beternak Kalkun. Cetakan Pertama. Penebar
Swadaya. Jakarta.

Rizal, Yose. 2006. Ilmu Nutrisi Unggas. Yogyakarta: Andalas University Press.

Romanoff, A.L., A.J. Romanoff. 1963. The Avian Egg. New York: john Wiley
And Sons, Inc.

Samosir, D. J., 1993. Ilmu Ternak Itik. Gramedia, Jakarta.

Sarwono, Solita, 1993. Sosiologi Kesehatan, berberapa Konsep beserta


Aplikasinya. Gajah Mada University Press, Jakarta.

Simanjuntak, L. 2002. Mengenal Lebih Dekat Tiktok Unggas Pedaging Hasil


Persilangan Itik dan Entok. Agro-Media Pustaka. Jakarta

Siregar, S.B. 1979. Pengawetan Pakan Ternak. Penebar Swadaya, Jakarta.

Soeparno. 1994. Ilmu dan Teknologi Daging Cetakan ke-2. Gadjah Mada
University Press. Yogyakarta

Soeparno. 2005. Ilmu dan Teknologi Daging, Cetakan III. Gadjah


Mada University Press. Yogyakarta.
Srigandono, 1997. Ilmu Unggas Air. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Srigandono, B. 1986. Ilmu Unggas Air. Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta

Srigandono, B. 1997. Produksi Unggas Air. Gadjah Mada University Press.


Yogyakarta

Stadelman, W. J. and O. J. Cotteril.1995. Egg Science and Technology.4th Edition.


Food Products Press. An Imprint of the Haworth Press. Inc. New York.

Sudaryani, T., 2006.Kualitas Telur. Jakarta: Penebar Swadaya.

Sukardi,Muljowati S. 1999. Dasar ternak unggas. Purwokerto (Indonesia):


Fakultas Peternakan UNSOED.

Suprijatna, E. Umiyati, dan A. R. Kartasudjana. 2005. Ilmu Dasar Ternak Unggas.


Penebar Swadaya. Jakarta.

Suprijatna, E., U. Atmomarsono dan R. Kartasudjana. 2008. Ilmu Dasar Ternak


Unggas. Penebar Swadaya, Jakarta

Suthama, N. 2005. Kapasitas ribosomal saluran pencernaan pada ayam Kedu. J.


Pengembang. Petem. Tropis 30 (I): 7 ~ 12.

TUGIYANTI, E. dan S. RAHAYU. Perkembangan otot dada dan paha serta


kinerja ayam kampung yang mendapat ransum berbahan dasar polisakarida
bukan pati dan suplementasi pakan lisin. Abstrak Panduan Seminar
Nasional Tentang Unggas Lokal III. Fakultas Peternakan Universitas
Diponegoro. Halaman: 19.

Vali Nasrollah & Abbas Doosti, 2011.Molecular study for the sex identification in
Japanese quail.African of Biotechnology 10(80).
Wahyu, J., 1997. Ilmu Nutrisi Unggas. Gadjah Mada University Press.
Yogyakarta
Winter, A.R . dan E.M. Funk. 1960. Poultry Science and Practice. J.B. Lippincont
Co., Chicago, Philadelphia, New York

Woodard et al. 1973. Pengaruh zeolit dalam ransum puyuh (Coturnix coturnix
japonica) terhadap produksi dan kualitas telur pada periode produksi
umur13-19 minggu. Skripsi. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Yuwanta, T. 2007. Telur dan Produks Telur. UGM Press. Yogya., T. 1999. Goose
production in Indonesia and Asia. http://www.fao.com. Diakses tanggal 12
Desember 2017 Pukul 16.37 WIB.
Yuwanta, Tri. 2000. Telur dan Kualitas Telur. Gadjah Mada University Press.
Yogyakarta.

Yuwanta, Tri. 2004. Dasar Ternak Unggas. Kanisius. Yogyakarta.