Anda di halaman 1dari 13

LECTURE NOTES

0184F
AUDIT ATAS KECURANGAN

Week 2
Preventing Fraud

0184F - Audit Atas Kecurangan


LEARNING OUTCOMES

Setelah mempelajari materi ini diharapkan mahasiswa dapat:

1. Memahami seriusnya masalah kecurangan dan akibatnya pada individu, pelanggan


dan organisasi;

2. Memahami bagaimana menciptakan budaya yang jujur, terbuka dan siap memberikan
bantuan;

3. Mengetahui bagaimana organisasi dapat menghapus peluang kecurangan;

OUTLINE MATERI (Sub-Topic)

1. Creating a Culture of Honesty, Openness, and Assistance

2. Eliminating Opportunities for Fraud to Occur

3. IT support for eliminating opportunity to fraud

4. Why Insurance Fraud Succeeds

0184F - Audit Atas Kecurangan


ISI

1. Creating a Culture of Honesty, Openness, and Assistance


Terkait dengan pencegahan kecurangan, bagaimana suatu organisasi dapat
menciptakanbudaya kerja yang jujur, terbuka dan siap memberikan bantuan bagi
karyawannya yang mengalami masalah?
Ada tiga faktor yang berperan penting untuk menjawab pertanyaan di atas.
o Pertama, organisasi harus dapat merekrut karyawan yang jujur dan memberikan
pelatihan kesadaran akan kecurangan.
Berikut ini adalah langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk dapat
merekrut karyawan yang jujur:
1) perusahaan harus melakukan verifikasi informasi terhadap catatan
yang disampaikan oleh calon karyawan dalam CV atau resume mereka
termasuk mengecek referensi yang disampaikan oleh calon karyawan;
2) perusahaan harus meminta kepada calon karyawan untuk menyatakan
(certify) bahwa informasi yang ia sediakan dalam CV atau resume
tersebut sudah benar/akurat. Apabila ada pernyataan yang salah, maka
karyawan tersebut bisa dipecat/diputus kontraknya di kemudian hari;
3) perusahaan harus dapat memberikan pelatihan yang cukup untuk
karyawan bagian rekrutmen untuk melakukan wawancara yang rinci
dan mendalam terhadap calon karyawan. Dengan melakukan
wawancara dengan baik, rinci dan mendalam, maka perusahaan
mendapat gambaran yang jelas tentang calon karyawan terkait
keahlian, pengalaman kerja dan rekam jejak.

Beberapa perusahaan seperti bank misalnya, memiliki cara lain dalam melihat rekam
jejak calon karyawannya, antara lain dengan mengecek apakah calon karyawan memiliki
masalah terhadap kredit mereka di masa lalu. Cara ini cukup efektif karena bank memiliki
akses yang cukup terhadap data-data kredit.Jika seorang karyawan telah diterima bekerja di
perusahaan, maka langkah selanjutnya yang bisa dilakukan adalah mengajaknya
berpartisipasi dalam fraud awareness program, pelatihan tentang pencegahan kecurangan,

0184F - Audit Atas Kecurangan


mendidik mereka tentang hal apa yang pantas dan tidak pantas dilakukan, tindakan apa yang
bisa dilakukan oleh karyawan tersebut apabila mereka menemukan orang lain melakukan hal
yang kurang tepat dan beberapa tindakan lainnya.

o Kedua, menciptakan lingkungan kerja yang positif, dengan antara lain menentukan
kode etik perusahaan, memiliki kebijakan pintu terbuka (open door policy) di mana
karyawan bisa langsung menemui atasannya untuk mengemukakan masalah yang
dihadapi agar tidak terjadi hal-hal yang dapat memicu kecurangan, dan memiliki
atmosfir kerja kecurangan yang rendah.
1) Kode etik perusahaan disusun dengan semangat bahwa karyawan bisa memahami
apa yang dilarang dan tidak dilarang oleh perusahaan. Kode etik bisa berupa hal-
hal terkait antara lain conflit of interest, gifts, corporate opportunities, insider
trading, confidential information, proper accounting, antitrust compliance,
illegal payment, safety, fair employment practice, fair dealing, harassment,
environmental responsibility, diversity dan reporting illegal, unethical behavior
or violations of the code.
2) Open door policy atau kebijakan pintu terbuka guna memudahkan akses bawahan
untuk bertemu atasan. Kebijakan ini membantu mengurangi kecurangan dari dua
sisi. Pertama, banyak orang melakukan kecurangan, karena tidak ada orang yang
bisa diajak bicara olehnya. Terkadang, jika seseorang menyimpan masalahnya
sendiri, mereka akan kehilangan perspektif tentang apa perilaku yang wajar dan
tidak wajar. Kehilangan perspektif tersebut bisa membawa seseorang untuk
melakukan kecurangan. Kedua, kebijakan pintu terbuka bisa membantu manager
dan pimpinan untuk bisa paham terhadap permasalahan, tekanan dan rasionalisasi
yang ada pada karyawannya. Dengan kesadaran tersebut, maka para manager bisa
mengambil langkah-langkah yang bisa mencegah terjadinya kecurangan.
3) Lingkungan kerja yang positif juga bisa berkontribusi pada pencegahan
kecurangan. Untuk itu hal-hal seperti ini sebaiknya dihindari di dalam organisasi
agar tidak menciptakan risiko kecurangan:
Pimpinan yang berkompromi atau tidak peduli terhadap kejujuran;
Bayaran/kompensasi yang tidak cukup;
Pengakuan yang rendah terhadap pencapaian kinerja;

0184F - Audit Atas Kecurangan


Espektasi terhadap target atau anggaran yang terlalu tinggil;
Ketidakadilan dalam lingkungan kerja dan beberapa hal lainnya.

o Ketiga, menyediakan program bantuan bagi karyawan (employee assistance program


atau EAP) yang dapat membantu karyawan mengatasi masalah/tekanan pribadinya.
Dengan adanya EAP maka perusahaan bisa membantu dan berkomunikasi dengan
karyawannya yang memiliki masalah terkait obat-obatan terlarang, alkohol, perjudian,
kesehatan, masalah pribadi dan keluarga.

Berikut ini rangkuman dari strategi organisasi menciptakan budaya yang jujur, terbuka dan
siap membantu:

Source: Albrecht, et al (2015): Fraud Examination 5th edition

2. Eliminating Opportunities for Fraud to Occur


Bagaimana dengan upaya organisasi untuk menghapus kecurangan yang dapat terjadi?
Ada 5 cara yang dapat ditempuh oleh organisasi dalam rangka menghapus peluang
kecurangan, seperti berikut ini:
1. Memiliki sistem pengendalian internal yang baik;
Seperti yang dianjurkan oleh COSO (Committee of Sponsoring Organizations)
pengertian pengendalian internal yang baik adalah memiliki lingkungan
pengendalian yang baik, sistem akuntansi yang baik, aktivitas pengendalian yang
baik, pemantauan dan komunikasi serta informasi yang baik. Terkait dengan aktivitas

0184F - Audit Atas Kecurangan


pengendalian bisa dibagi berdasarkan tipe pengendaliannya, apakah pencegahan
atau deteksi seperti berikut ini:

Source: Albrecht, et al (2015): Fraud Examination 5th edition

2. Menekan kolusi antara karyawan dan pelanggan/pemasok dan dengan jelas


menginformasikan pada pemasok/pihak eksternal terkait kebijakan perusahaan
terhadap kecurangan;
Penelitian menunjukkan sebesar 71% kecurangan dilakukan secara individual
sementara sisanya 29% dilakukan secara bersama-sama atau kolusif. Kendatipun
hanya 29% tapi kecurangan secara kolusif sangat sulit dideteksi dan melibatkan paling
banyak jumlah kecurangan. Dalam kondisi bisnis saat ini, perilaku kolusi semakin
meningkat. Hal ini terkait dengan 2 hal: pertama, dalam lingkungan kerja yang
kompleks, karyawan semakin bekerja dalam area yang sangat terspesialisasi dan
terisolasi dari karyawan yang lain. Kedua, semakin tingginya frekuensi dan kerjasama
supplier. Di mana hubungan antara supplier dan perusahaan semakin akrab dan dekat
guna mendukung efisiensi produksi dan bisnis. Hal tersebut, semakin mendorong
terjadinya kolusi antara karyawan disisi pembeli dan supplier.

3. Melakukan pengawasan terhadap karyawan dan menyediakan layanan pengungkap


kecurangan (whistle-blowing system) untuk pelaporan anonim; Dalam banyak kasus
kecurangan, sebenarnya banyak pihak yang mengetahui tentang kecurangan tersebut,
tapi mereka enggan atau tidak tahu bagaimana caranya melaporkan tindak kecurangan
tersebut. Dengan demikian, cukup penting bagi perusahaan untuk membuat suatu
sistem layanan pengungkap kecurangan untuk pelaporan tindak kecurangan, tanpa

0184F - Audit Atas Kecurangan


harus mengungkap identitas pelapor. Untuk itu whistle-blowing system akan menjadi
suatu sistem yang efektif jika paling tidak empat elemen berikut ini dipenuhi:
Pelaporan yang sifatnya anonim; sistem menjamin bahwa identitas pelapor tidak
akan diungkapkan.
Independensi; pelapor merasa lebih nyaman apabila mereka melaporkan
informasi terkait tindak kecurangan kepada pihak yang tidak terkait
dengan organisasi/pihak independen;
Mudah diakses; pelapor harus bisa menyampaikan pengaduannya
melalui beragam fasilitas penghubung seperti email, surat, telepon atau pelaporan
secara online;
Tindak lanjut; bahwa informasi yang berasal dari laporan pihak ketiga,
harus ditindaklanjuti dan tindakan korektif dijalankan dengan baik.

4. Menciptakan suatu sanksi/hukuman yang jelas bagi pelaku kecurangan dan konsisten
menerapkannya;
Salah satu faktor penghalang/penghambat bagi pelaku kecurangan untuk melakukan
tindakannya adalah faktor ketakutan akan adanya hukuman. Namun demikian
hukuman yang paling berat untuk pelaku kecurangan ternyata bukanlah ketakutan
akan kehilangan pekerjaan mereka (dipecat). Melainkan ketika mereka harus
mendapati berita tentang ketidakjujuran mereka diketahui oleh orang-orang terdekat
mereka termasuk keluarga dan teman-teman.

5. Secara proaktif melakukan audit.


Audit kecurangan yang baik adalah meliputi empat langkah berikut ini:
Mengidentifikasi paparan risiko kecurangan;
Mengidentifikasi fraud symptoms;
Menyusun program audit yang baik guna secara aktif mencari symptoms
dan exposures;
Menginvestigasi fraud symptoms yang didapat.

0184F - Audit Atas Kecurangan


Kemudian bagaimana caranya menciptakan organisasi yang efektif dalam meminimalisasi
kecurangan?
Kebanyakan organisasi biasanya tidak memiliki suatu sistem yang komprehensif untuk
mencegah dan menghalangi kecurangan. faktanya, kebanyakan perusahaan baru berpikir
tentang kecurangan, ketika mereka baru menghadapi masalah tersebut. Ketika kecurangan
terjadi, mereka masuk ke dalam model penangangan krisis, melakukan investigasi dan
mencoba menyelesaikan masalah kecurangan tersebut dan menunggu kecurangan
berikutnya terjadi.
Untuk itu suatu organisasi haruslah memiliki suatu model yang komprehensi dalam upayanya
memerangi kecurangan. Berikut ini adalah model yang dapat digunakan:
Menciptakan model yang tepat agar managemen level atas dapat memberikan contoh
yang baik dalam perang terhadap kecurangan (tone at the top);
Melakukan pendidikan dan pelatihan pada karyawan terkait kecurangan;
Menilai risiko dan meletakkan pengendalian yang tepat pada tempatnya;
Memiliki sistem pelaporan dan pemantauan yang baik;
Secara proaktif melakukan audit kecurangan dan ketika kecurangan terjadi;
Melakukan investigasi dan melalukan penyelesaian masalah kecurangan tersebut.

Berikut ini adalah gambar ringkasan tentang 2 poin utama pencegahan kecurangan yaitu: (1)
menciptakan budaya jujur, terbuka dan member bantuan dan (2) menghilangkan peluang
terjadinya kecurangan, bersama dengan 8 sub poin

0184F - Audit Atas Kecurangan


Source: Albrecht, et al (2015): Fraud Examination 5th edition

3. IT support for eliminating opportunity to fraud

Berdasarkan segitiga fraud diketahui bahwa peluang merupakan faktor penyebab yang paling
dominan, peluang timbul dari adanya kelemahan sistem, sehingga timbul adanya celah yang
dapat dimanfaatkan oleh pelaku untuk melakukan fraud. Dengan bantuan teknologi
informasi, kita dapat menguji apakah ada kelemahan dalam sistem yang dapat dimanfaatkan
oleh pelaku fraud.
Auditor, fraud auditor, dan akuntan forensik, yang memiliki spesialisasi di bidang audit
teknologi informasi dapat menggunakan salah satu dari dua pendekatan pengujian
pengendalian sistem. Yang pertama adalah sistem teknologi informasi yang ada disekitar kita
yang dapat diaudit, sering disebut pendekatan black-box, auditor bergantung pada
profesionalisme berdasarkan pada hasil wawancara dan diagram alur untuk membangun
pemahaman dari sistem dan penekanan pada pengujian integritas data dan sistem dengan
mencocokan data masukan pada data keluaran.

0184F - Audit Atas Kecurangan


Alternatif kedua adalah pendekatan white-box,yang menggunakan serangkaian data yang
kuantitasnya lebih kecil untuk menguji sistem. Beberapa pengujian yang digunakan
termasuk: pengujian keaslian, keakuratan, kelengkapan, pengulangan, akses jejak audit, dan

pengujian apabila terjadi kesalahn sistem. CAATs dapat digunakan untuk memfasilitasi
pendekatan white-box dengan membuat pengujian data dan melakukan pengujian fasilitas
yang mana auditor memeriksa aplikasi dan logika mereka selama pengoperasian normal
dengan melakukan simulasi paralel.
Auditor sistem informasi perlu untuk menjamin bahwa mereka memeriksa keseluruhan
sistem pengendalian intern, termasuk pengendalian yang menyampaikan aspek lain dari
pengoperasian komputer, seperti: aturan dan prosedur penggunaan teknologi informasi;
sistem manajemen data; pengembangan sistem dan integrasi kepada lingkungan digital;
prosedur dan aturan pemeliharaan sistem; termasuk backup data dan perencanaan cadangan;
e-commerce; baik pengoperasian komputer secara harian, bulanan dan tahunan dengan
dukungan perangkat keras, perangkat lunak, karyawan bagian IT, dan pengguna sistem.

4. Why Insurance Fraud Succeeds


Mengapa kecurangan asuransi berhasil?
Properti pribadi dan kerugian pemegang polis asuransi mencapai seratus miliar US Dollar
setiap tahunnya karena kasus kriminal yang melibatkan asuransi. Kasus kecurangan asuransi
merupakan kasus yang hanya sedikit menarik perhatian polisi dan aparat penegak hukum.
Seringkali dilihat sebagai kejahatan tanpa korban. Sebenarnya hal ini bisa dihindari apabila
pemegang polis, obyek yang diasuransikan, dan pihak lain yang terlibat berani mengeluarkan
suara dan berani mengungkap sampai tuntas kasus tersebut demi keadilan.
Kasus-kasus besar yang terungkap, seperti: Enron, Worldcom, Phar-mor, bukan terjadi
karena pimpinan yang tiba-tiba berubah menjadi jahat, namun karena adanya sebuah proses
rasionalisasi dimana mereka berpikir bahwa ternyata pelaku kecurangan pun tidak diberikan
hukuman, atau dibiarkan bebas.
Setiap tahun nya sekitar seratus miliar US Dollar diselewengkan melalui program asuransi
seperti Medicare dan Medicaid. Dalam hal ini asersi yang harus diketahui oleh auditor adalah
mengenai existence dan occurence, yaitu mengenai keberadaan dan keterjadian suatu perkara,
apakah perkara tersebut benar-benar terjadi atau hanya rekaan belaka. Banyak kali yang

0184F - Audit Atas Kecurangan


terjadi adalah kolusi antara beberapa pihak, yaitu pemegang polis, dengan petugas medis,
pihak rumah sakit/klinik, sehingga ketika dilakukan konfirmasi, maka pihak-pihak tersebut
akan menutupi (conceal) kecurangan yang dilakukan oleh pemegang polis. Adanya sifat
simbiosisi atau saling membutuhkan, dimana rumah sakit dan tenaga medis membutuhkan
pendapatan dan pemegang polis membutuhkan penghasilan tambahan dari kecurangan
melalui asuransi.

0184F - Audit Atas Kecurangan


SIMPULAN

Pepatah mengatakan bahwa mencegah lebih baik daripada mengobati, maka sebelum dampak
dan kerugian terjadi karena perbuatan Fraud, auditor mencoba untuk mencegah dan
meminimalisir terjadinya fraud.

Penyebab fraud tediri dari tekanan, peluang dan pembenaran/rasionalisasi. Ada beberapa hal
yang dapat dilakukan organisasi untuk meminalisir ketiga hal tersebut, yaitu:

Melakukan perekrutan karyawan dengan hati-hati,melihat track recordnya dari


karyawan tersebut

Menciptakan iklim kerja dan budaya organisasi yang baik

Memberikan program bantuan kepada karyawan, terutama untuk mengurangi beban


karyawan karena faktor tekanan

Memberikan sanksi yang tegas pada kecurangan yang terjadi, sehingga meminimalisir
rasionalisasi untuk berbuat fraud

Melakukan monitoring dan pengujian pada sistem pengendalian intern, agar dapat
diketahui bilaman terdapat kelemahan-kelemahan dalam sistem yang dapat dijadikan
peluang fraud

Keberadaan teknologi informasi dapat membantu auditor dalam melakuakn pengujian


terhadap pengendalian, sehingga peluang atau opportunity dapat diminimalisir

0184F - Audit Atas Kecurangan


DAFTAR PUSTAKA

1. Albrecht C.O Albrecht and M.F. Zimbelman. 2015. Fraud Examination. South
Western Cengage Learning. USA. ISBN:978-1-305-07914-4
2. Kranacher M.J, Riley JR.R.A, Wells J.T. 2011. Forensic Accounting and Fraud
Examination. 1st Books Library. New Jersey. ISBN:9780470437742

0184F - Audit Atas Kecurangan