Anda di halaman 1dari 60

MAKALAH AUDIT MANAJEMEN

AUDIT PERPAJAKAN

Disusun oleh :

Bintaria Laksmimurti (201510170311183)

Mega Putri P (201510170311191)

Riska Wulansari (201510170311192)

Dela Lifiana P (201510170311195)

Dwi Risma Alji (201510170311196)

Emi Dwi (201510170311209)

Rizka Abrianti (201510170311226)

PROGRAM STUDI AKUNTANSI


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
NOVEMBER 2017
DAFTAR ISI

DAFATAR ISI ................................................................................................................... i

KATA PENGANTAR ....................................................................................................... ii

BAB I
PENDAHULUAN ............................................................................................................. 1

1.1.Latar Belakang .................................................................................................. 1


1.2.Rumusan Masalah ............................................................................................. 1
1.3.Tujuan ............................................................................................................... 1

BAB II
PEMBAHASAN ................................................................................................................ 2

2.1. Definisi .......................................................................................................... 2


2.2. Tujuan dan Manfaat ...................................................................................... 3
2.3. Ruang Lingkup.............................................................................................. 3
2.4. Meminimalkan Penghasilan Kena Pajak ...................................................... 4
2.5. Memaksimalkan Deductible Expenses ......................................................... 5
2.5.1. Memasukan Pemberian Natura dan Kenikmatan
sebagai tunjangan dalam Daftar Gaji ..................................................... 8
2.6. Tax Review ................................................................................................... 10
2.6.1. Hak dan Kewajiban Wajib Pajak .................................................................. 11
2.7. Audit atas PPh Pasal 21 ................................................................................ 12
2.8. Audit atas PPh Pasal 26 ................................................................................ 13
2.9. Audit atas PPh Pasal 22 ................................................................................ 14
2.10. Audit atas PPh Pasal 23 ................................................................................ 14
2.11. Audit atas PPh Pasal 25 ................................................................................ 16
2.12. Audit atas Perhitungan Pajak Akhir Tahun .................................................. 17
2.13. Audit atas Kewajiban PPN............................................................................ 18
2.14. Pajak Penghasilan ......................................................................................... 23
2.15. Pajak Penghasilan Pasal 21 (Orang Pribadi) ................................................. 48
2.16. Pajak Penghasilan Pasal 22/23/26 ................................................................. 50

BAB III
PENUTUP .......................................................................................................................... 55

3.1. Kesimpulan .................................................................................................... 55

3.2. Saran .............................................................................................................. 55

Daftar Pustaka .................................................................................................................. 56

i
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmatNYA sehingga makalah ini
dapat tersusun hingga selesai. Tidak lupa kami mengucapkan banyak terimakasih atas
bantuan dari pihak yang telah berkontribusi dengan memberikan sumbangan baik materi
maupun pikirannya.

Dan harapan kami semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan pengalaman bagi
para pembaca, Untuk ke depannya dapat memperbaiki bentuk maupun menambah isi
makalah agar menjadi lebih baik lagi.

Karena keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman kami, Kami yakin masih banyak
kekurangan dalam makalah ini, Oleh karena itu kami sangat mengharapkan saran dan kritik
yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini.

Malang, November 2017

Penyusun

ii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Banyaknya kasus sengketa perpajakan, kerugian-kerugian yang terjadi karena denda


dan sanksi administrasi perpajakan adalah akibat dari kurang mampunya Wajib Pajak
mengelola kewajiban perpajakannya. Di samping itu, hilangnya kesempatan untuk
melakukan efisiensi pengeluaran dengan meminimalkan pembayaran pajak tanpa melanggar
peraturan perpajakan, menyebabkan hilangnya potensi ekonomi. Maka dari itu penilaian
terhadap kemampuan perusahaan dalam mengelola kewajiban perpajakannya menjadi sangat
penting dan strategis dalam operasi perusahaan yang ekonomis, efisien, dan efektif dalam
mencapai tujuannya. Penilaian secara keselurruhan, baik terhadap ketaatan dalam
pelaksanaan peraturan perpajakan maupun kemampuan untuk meminimalkan pembayaran
pajak dilakukan melalui audit perpajakan. Audit ini menjadi sangat penting dan mendesak
bagi perusahaan melihat besar perannya dalam membantu memberi penilain terhadap
ketaatan pemenuhan kewajiban perpajakan secara efektif dan efisien.

1.2. Rumusan Masalah


1. Apakah yang dimaksud dengan audit perpajakan ?
2. Apa tujuan dan manfaat dari audit perpajakan ?
3. Bagaimana ruang lingkup audit perpajakan ?
4. Bagaimana cara meminimalkan Penghasilan Pajak ?
5. Bagaimana cara memaksimalkan Deductible Expenses ?

1.3. Manfaat
1. Mengetahui apa yang dimaksud dengan Audit Perpajakan.
2. Mengetahui tujuan dan manfaat dari Audit Perpajakan.
3. Mengetahui ruang lingkup Audit Perpajakan.
4. Mengetahui cara Meminimalkan Penghasilan Pajak.
5. Mengetahui cara Memaksimalkan Deductible Expenses.

1
BAB II
PEMBAHASAN

2.1. DEFINISI

Berbagai istilah digunakan dalam pengelolaan kewajiaban perpajakan yang harus


dilakukan secara efektif dan efisien. Beberapa praktisi menyebutnya sebagai perencanaan
pajak, yang menekankan aktivitas pada perancanaan transaksi yang bisa menghemat
pembayaran pajak. Istilah lain adalah tax review. Yang melakukan review terhadap ketaatan
perusahaan dalam memenuhi kewajiban perpajakannya dan memberikan penilaian atas
kekurangan-kekurangan yang masih terjadi atas pemenuhan kewajiban tersebut.

Istilah audit pajak, lebih mewakili kepentingan fikus dalam melakukan pemeriksaan
terhadap ketaatan Wajib Pajak memenuhi kewajiban perpajakannya dan memaksimalkan
penerimaan negara dari pajak yang harus diterima. Pemeriksaan adalah serangkaian kegiatan
menghimpun, mengolah data, keterangan, dan/atau bukti yang dilaksanakan secara objektif
dan profesional berdasarkan suatu standar pemeriksaan untuk menguji kepatuhan penuhan
kewajiban perpajakan dan/atau untuk tujuan lain dalam rangka melaksanakan ketentuan
peraturan perundang-undangan perpajakan. Tujuan audit ini adalah untuk menguji kepatuhan
Wajib Pajak dalam hal :

1. SPT lebih bayar termasuk yang telah diberikan pengembalian pendahuluan pajak
2. SPT Rugi
3. SPT tidak atau terlambat disampaikan
4. melakukan penggabungan, peleburan, pemekaran, likuidasi, pembubaran, atau akan
meninggalkan Indonesia untuk selama-lamanya
5. menyampaikan SPT yang memenuhi kriteria seleksi berdasarkan hasil analisis (risk
based selection) mengindikasikan adanya kewajiban perpajakan Wajib Pajak yang
tidak dipenuhi sesuai dengan ketentuan perundang-undangan perpajakan.

Audit Perpajakan yang dibahas dalam makalah ini adalah audit yang dilakukan
secara internal berkelanjutan, yang menyatu dengan sistem pengendalian operasional
perusahaan menilai ketaatan pelaksanaan aturan perpajakan dan teknik pengelolaan transaksi
yang mampu meminimalkan pembayaran pajak tanpa melanggar aturan-aturannya. Audit
ini mencakup penilain terhadap :
1. kebijakan perpajakan yang ditetapkan perusahaan, yang biasanya terintegrasi dengan
kebijakan operasional dan kebijakan akuntansinya
2. aplikasi manajemen pajak, yang mengelola transaksi perpajakan perusahaan, untuk
meminimalkan pembayaran pajak tanpa melanggar ketentuan dan aturan perpajakan
3. pelaksanaan menyeluruh terhadap kewajiban perpajakan yang diatur dalam UU dan
peraturan perpajakan lainnya yang secara umum menyangkut
pemungutan/pemotongan, penghitungan, penyetoran, dan pelaporan pajak baik pajak
penghasilan , pajak pertambahan nilai maupun pajak-pajak lainnya.

2
2.2. TUJUAN DAN MANFAAT

Tujuan dari audit perpajakan ini adalah untuk melakukan evaluasi secara menyeluruh
terhadap pengelolaan kewajiban perpajakan perusahaan, yang meliputi penilaian terhadap
hal-ha beriku :

1. ketetapan kewajiban perpajakan yang ditetapkan perusahaan dan kemampuannya


dalam memberikan panduan untuk pengelolaan kewajiban perpajakan yang efektif
dan efisien
2. kemampuan meminimalkan konsekuensi perpajkan dari transaksi yang terjadi di
perusahaan tersebut.
a. Memaksimalkan biaya fiskal dalam setiap pengeluaran perusahaan
b. Meminimalkan pendapatan fiskal Dalam setiap penerimaan perusahaan
3. Kemampuan perusahaan dalam menaati ketentuan dan peraturan perpajakan
a. Melakukan pemungutan/pemotongan seluruh pajak yang harus dilakukan
b. Melakukan perhitungan pajak dengan benar
c. Menyetor dan melaporkan seluruh kewajiban perpajakan dengan benar dan
tepat waktu.

Audit internal perpajakan lebih berfungsi sebagai pencegahan terhadap kegagalan


perusahaan dalam mengelola kewajiban perpajakannya yang seharusnya berjalan secara
ekonomis, efisien dan efektif. Maka dari itu, agar dapat memberikan manfaat yang maksimal,
audit ini seharusnya dilakukan setiap terjadinya transaksi yang memiliki dampak perpajakan,
penyetoran, dan pelaporan kewajiban perpajakan tersebut. Hasil audit ini menjadi umpan
balik bagi perusahaan dalam meningkatkan kemampuannya mengelola kewajiban perpajakan,
meningkatkan efisiensi pembayaran pajak dan ketaatan pada peraturan perpajakan.

2.3. RUANG LINGKUP

Ruang lingkup audit ini adalah keseluruhan aspek perpajakan perusahaan, baik dalam
rangka meminimalkan pembayaran pajak maupun ketaatan pelaksanaan kewajiban
perpajakan. Dari aspek efisiensi pembayaran pajak audit melakukan penilaian terhadap
kemampuan perusahaan dalam :

1. Meminimalkan penghasilan kena pajak (taxable revenue)


2. Memaksimalkan deducitble expense
Sementara dari aspek ketaatan dalam pelaksanaan kewajiban perpajakan, audit
melakukan penilaian terhadap ketaatan perusahaan dalam melakukan :
1. Pemungutan dan pemotongan pajak;
2. Penghitungan pajak dengan benar;
3. Penyetoran pajak dengan benar;
4. Pelaporan pajak secara lengkap dan tepat waktu.

3
2.4. MEMINIMALKAN PENGHASILAN KENA PAJAK

Meminimalkan penghasilan kena pajak (taxable revenue), menyangkut strategi


pengelolaan transaksi pendapatan agar tidak mengandung dampak perpajakan, baik final
maupun tidak final. Dengan meminimalkan dampak ini pada pendapatan, maka pendapatan
sebagai dasar pengenaan pajak akan menjadi lebih kecil dan secara otomatis juga mengurang
pajak terutang.

Berikut ini adalah pengahasilan yang merupakan objek pajak berdasarkan Pasal 4 ayat UU
Pajak Penghasilan.

1. Bantuan, Sumbangan, Hibah


a. Bantuan atau sumbangan, termasuk zakat yang diterima oleh badan amil zakat
atau lembaga amil zakat yang dibentuk atau disahkan oleh pemerintah dan yang
diterima oleh penerima zakat yang berhak atau sumbangan keagamaan yang
sifatnya wajib bagi pemeluk agama yang diakui di Indonesia, yang diterima oleh
lembaga keagamaan yang dibentuk atau disahkan oleh pemerintah dan yang
diterima oleh penerima sumbangan yang berhak, yang ketentuannya diatur
dengan atau berdasarkan Peraturan Pemerintah; dan
b. Harta hibah yang diterma oleh keluarga sedarah dalam garis keturunan lurus satu
derajat, badan keagamaan, badan pendidikan, badan sosial termasuk yayasan,
koperasi atau orang pribadi yang menjalankan usahan mikro dan kecil, yang
ketentuannya diatur dengan atau berdaarkan peraturan Menteri Keuangan,
sepanjang tidak ada hubungan dengan usaha, pekerjaan, kepemilikan, atau
penguasaan diantara pihak-pihak yang bersangkutan.
2. Warisan
3. Harta, termasuk setoran tunai diterima oleh badan sebagai pengganti saham atau
sebagai pengganti penyertaan modal.
4. Penggantian atau imbalan sehubungan dengan pekerjaan atau jasa yang diterima atau
diperoleh dalam bentuk natura dan/atau kenikmatan dari Wajib Pajak atau
pemerintah kecuali yang diberikan oleh bukan Wajib Pajaka, Wajib Pajak yang
dikenakan pajak secara final atau Wajib Pajak yang menggunakan norma
penghitungan khusus (deemed profit).
5. Pembayaran dari perusahaan asuransi kepada orang pribadi sehubungan dengan
asuransi kesehatan, asuransi kecelakaan, asuransi jiwa, asuransi dwiguna, dan
asuransi beasiswa.
6. Deviden atau bagian laba yang diterima atau diperoleh perseroan terbatas sebaga
Wajib Pajak dalam negeri, koperasi,badan usaha milik negara, atau badan usaha
milik daerah dari penyertaan modal pada badan usaha yang didirikan dan bertempat
kedudukan di Indonesia dengan syarat:
a. Deviden berasal dari cadangan laba yang ditahan; dan
b. Bagi perseroan terbatas, badan usaha milik negara dan badan usaha milik
daerah yang menerima deviden, kepemilikan saham pada badan yang
memberikan deviden paling rendah 25% dari jumlah modal disetor.

4
7. Iuran yang diterima atau diperoleh dana pensiun yang pendiriannya telah disahkan
Menteri Keuangan, baik yang dibayar pemberi kerja maupun pegawai.
8. Penghasilan dari modal yang ditanamkan oleh dana pensiun, dalam bidang-bidang
tertentu yang ditetapkan dengan Keputusan Menteri Keuangan.
9. Bagian laba yang diterima atau diperoleh anggota dari perseroan komanditer yang
modalnya tidak terbagi atas saham-saham , persekutuan, perkumpulan, firma, dan
kongsi, termasuk pemegang unit penyertaan kontrak investasi kolektif.
10. Penghasilan yang diterima atau diperoleh perusahaan modal ventura berupa bagian
laba dari badan pasangan usaha yang didirikan dan menjalankan usaha atau kegiatan
di Indonesia, dengan syarat badan pasangan usaha tersebut:
a. Merupakan perusahaan mikro, kecil, menengah, atau menjalankan kegiatan
dalam sektor-sektor usaha yang diatur dengan atau berdasarkan Peraturan
Menteri Keuangan; dan
b. Sahamnya tidak diperdagangkan di bursa efek di Indonesia.
11. Beasiswa yang memenuhi persyaratan tertentu yang ketentuannya diatur lebih
lanjut dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan
12. Sisa yang lebih diterima atau diperoleh badan atau lembaga nirlaba yang bergerak
dalam bidang pendidikan dan/atau bidang penelitian dan pengembangan, yang
elah terdaftar pada instansi yang membidanginya , yang ditanamkan kembali
dalam bentuk sarana dan prasarana kegiatan pendidikan dan/atau penelitian dan
pengembangan, dalam jangka waktu paling lama empat tahun sejak diperolehnya
sisa lebih tersebut, yang ketentuannya diatur lebih lanjut dengan atau berdasarkab
Peraturan Menteri Keuangan.
13. Bantuan atau santunan yang dibayarkan oleh Badan Penyelenggara Jaminan
Sosial kepada Wajib Pajak tertentu, yang ketentuannya diatur lebih lanjut dengan
atau berdasarkab Peraturan Menteri Keuangan.

2.5. MEMAKSIMALKAN DEDUCTIBLE EXPENSES

Memaksimalkan beban-beban yang diakui dalam penghitungan pajak (deductible


expenses) menyangkut strategi pengelolaan transaksi di mana setiap beban yang terjadi, bisa
diperhitungkan dalam penentuan besarnya pajak terutang. Dengan memaksimalkan beban-
beban ini, berarti akan memperbesar faktor pengurangan penghasilan, dalam penghitungan
pajak. Intinya, bagaimana mengelola transaksi beban, agar seluruh beban yang terjadi dapat
diidentifikasisebagai beban untuk mendapatkan, menagih, dan memilihara penghasilan,
seperti yang diatur dalam Pasal 6 UU Pajak penghasilan, sebagai berikut.

Besarnya Penghasilan Kena Pajak bagi Wajib Pajak dalam negeri dan bentuk usaha
tetap ditentukan berdasarkan penghasilan bruto dikurangi biaya untuk mendapatkan, menagih
dan memelihara penghasilan,termasuk:

1. Biaya yang secara langsung atau tidak langsung berkaitan dengan kegiatan usaha
antara lain:
a. Biya pembelian bahan;

5
b. Biaya berkenaan dengan pekerjaan atau jasa termasuk upah, gaji,honorarium,
bonus, gratifikasi, dan tunjangan yang diberikan dalam benyuk uang;
c. Bunga, sewa, dan royalti;
d. Biaya perjalanan;
e. Biaya pengolahan limbah;
f. Premi asuransi;
g. Biaya promosi dan penjualan yang diatur dengan atau berdasarkan Peraturan
Menteri Keuangan;
h. Biaya administrasi; dan
i. Pajak, kecuali pajak penghasilan;
2. Penyusutan atas pengeluaran untuk memperoleh harta berwujud dan amortisasi
atas pengeluaran untuk memperoleh hak dan atas biaya lain yang mempunyai
masa manfaat lebih dari satu tahun;
3. Iuran kepada dana pensiun yang pendiriannya telah disahkan oleh Menteri
Keuangan;
4. Kerugian karena penjualan atau pengalihan harta yang dimiliki dan digunakan
dalam perusahaan atau yang dimiliki untuk mendapatkan, menagih, dan
memelihara penghasilan;
5. Kerugian selisih kurs mata uang asing;
6. Biaya penelitian dan pengembangan perusahaan yang dilakukan di Indonesia;
7. Biaya beasiswa, magang, danpelatihan;
8. Piutang yang nyata-nyata tidak dapat ditagih dengan syarat:
a. Telah dibebankan sebagai biaya dalam laporan laba rugi komersial;
b. Wajib pajak harus menyerahkan daftar piutang yang tidak dapat ditagih
kepada Direktorat Jendral Pajak;
c. Telah diserahkan perkara penagihannya kepada Pengadilan Negeri atau
instansi pemerintah yang menangani piutang negara;atau adanya perjanjian
tertulis mengenai penghapusan piutang/pembebasan utang antara kreditor dan
debitur yang bersangkutan; atau telah dipublikasikan dalam penerbitan umum
atau khusus; atau adanya pengakuan dari debitur bahwa utangnya telah
dihapuskan untuk jumlah utang tertentu.

Efisiensi pengelolaan kewajiban perpajakan dari sisi beban, mengarahkan pengelolaan


transaksi beban untuk semaksimal mungkin menjadikan beban-beban tersebut masuk ke
dalam kriteria beban fiskal. Kebijakan akuntansi perusahaan harus mengadopsi peraturan
perpajakan, agan transaksi beban tidak termasuk dalam daftar nondeductible expense. Daftar
biaya-biaya yang tidak diakui sebagai biaya fiskal (non deductible expenses) dan dasar
hukumnya disajikan pada tabel 1.1.

6
Tabel 1.1
Daftar Non-Deductible Expenses

BEBAN USAHA DASAR HUKUM

BIAYA YANG DIKELUARKAN UNTUK MENDAPATKAN, MENAGIH, DAN MEMELIHARA PENGHASILAN YANG MERUPAKAN OBJEK PPh:
-konservatis/penyisihan
BIAYA YANG DIKELUARKAN UNTUK MENDAPATKAN, MENAGIH, DAN MEMELIHARA PENGHASILAN YANG BUKAN OBJEK PPh ATAU
PENGENAAN PPh-NYA FINAL:
1. PPh dibayar perusahaan Pasal 9 huruf h UU PPh Kep-545/PJ/2000;PER-31/PJ/2009
JO PER-57/PJ/2009
2. Premi asuransi jiwa untuk pemilik/pemegang saham dan Pasal 9 UU PPh; SE-03/PJ.41/2003
keluarganya
3. Iuran pensiun ke dana pensiun yang belum disahkan menteri
keuangan
4. Pengobatan : Cuma-Cuma (langsung ke rumah sakit) Termasuk natura pasal 4 ayat (3) huruf d
5. Pemberian imbalan dalam bentuk natura & kenikmatan, misal: Pasal 9 huruf e UU PPh
beras, gula, dll
6. Cuti pegawai : dibayar perusahaan
7. Perjalanan dinas pegawai
a. Lumpsum (tidak didukung bukti-bukti)
b. Biaya piknik/rekreasi
8. Pembagian laba berupa bonus, tantiem, gratifikasi, jasa Pasal 9 ayat 1 SE-11/PJ/42/1992
produksi, yang dibebankan ke laba ditahan
9. Beasiswa : tidak ada ikatan kerja dengan perusahaan
(sumbangan)
10. Kendaraan perusahaan (sedan) yang dibawa pulang dan
dikuasai pegawai:
Penyusutan kelompok 2 Kep-220/PJ/2002
Biaya resparasi/pemeliharaan Kep-220/PJ/2002
Bahan bakar/oli, dsb Kep-220/PJ/2002
11. Perumahan perusahaan dan asrama: pegawai yang menempati Pasal 9 ayat 1 huruf b penjelasan pasal 6 ayat 1 huruf aa UU
tidak diberi tunjangan perumahan: PPh
Penyusutan rumah
Biaya eksploitasi rumah
12. Sewa rumah pegawai yang tidak diberi tunjangan sewa minimal
sebesar sewa rumah tersebut
13. PPh sewa rumah dibayar perusahaan Penjelasan pasal 6 ayat 1 huruf a UU PPh
14. Imbalan ke pagawai yang merupakan pemegang saham :
1. Imbalan di atas kewajaran Pasal 9 ayat 1 huruf a UU PPh
2. Dividen terselubung:
Premi asuransi jiwa Penjelasan pasal 4 ayat 3 huruf g. Pasal 9 ayat 1 huruf a UU
PPh
Biaya listrik, telpon rumah pribadi
Biaya pemeliharaan mobil pribadi
PBB rumah pribadi
Pengeluaran perusahaan untuk keperluan pribadi
Pembagian laba secara langsung/tidak langsung
15. Gaji yang dibayar ke anggota/sekutu Persekutuan, CV, Firma Pasal 9 ayat 1 huruf j UU PPh
16. Beban bunga:
c. Bunga atas pinjaman yang digunakan untuk membeli saham PP 138/2000
yang sudah beredar atau untuk melakukan akuisisi saham
milik pemegang saham (penyertaan dalam negeri), bagi
PTDN,BUMN/D, koperasi, yayasan yang bukan onjek pajak:
dibebankan pada tahun yang bersangkuatan
d. Biaya bunga atas pinjaman untuk keperluan pribadi Pasal 9 ayat 1UU PPh
e. Pembayaran bunga: ke pemegang saham/hubungan Pasal 23 UU PPh
istemewa yang tidak wajar (selisihnya)
17. Beban litbang (R & D) yang dilakukan di LN Pasal 6 ayat (1) huruf f UU PPh Pasal 4 PP 138/2000

7
18. Sanski perpajakan: denda, bunga, kenaikan
19. PBB untuk tanah/bangunan yang tidak digunakan untuk
usaha/milik pribadi
20. Pajak Masukan yang tidak dapat dikreditkan:
a. Untuk perolehan BKP/JKP sesuai Pasal 9
b. Faktur Pajak Standar yang tidak lengkap, tidak benar, cacat,
kecuali dapat dibuktikan bahwa pajak telah bayar
21. Biaya entertaiment: tidak dibuat daftar nominatif
22. Keperluan pegawai dibayar perusahaan Penjelasan pasal 4 ayat (3) huruf g jo.
23. Keperluan pegawai yang merupakan pemilik/pemegang saham Penjelasan pasal 4 ayat (3) huruf g jo. Pasal 9 (1) huruf a UU
dibayar perusahaan merupakan deviden terselubung PPh
24. Biaya promosi : tidak didukung bukti
25. Penyisihan kerugian piutang bagi perusahaan bukan bank/sewa
guna usaha dengan hak opsi
a. Penyisihan Pasal 9 ayat (1) huruf c UU PPh
b. Metode langsung, tidak dibuat daftar nominatif
26. SGU dengan hak opsi:
a. Penyusatan aset SGU
b. Bunga SGU
27. Kerugian pengalihan harta: tidak digunakan untuk usaha Pasal 4 PP 138/2000
28. Beban starco/handphone:
a. Penyusutan ke 1 Kep-220/PJ./2002
b. Beban pemeliharaan/perbaikan
c. Pulsa Hp, dsb
29. Macam-macam biaya: tidak diperinci

Secara umum, beban-beban pada tabel di atas yang tidak diakui sebagai beban fiskal
dapat dikelompokkan menjadi dua berdasarkan penyebabnya yaitu beban-beban karena
1)pemberian natura dan kenikmatan, dan 2) karena tidak terpenuhinya ketentuan administrasi
menurut ketentuan perpajakan, sebagai bukti dari terjadinya beban tersebut. Kenyataan
bahwa secara komersial beberpa beban memang diperlukan terjadinya, terutama berkaitan
dengan menjaga hubungan baik dengan pemasok dan pelanggan. Namun karena tidak
lengkapnya bukti menurut ketentuan perpajakan, secara fiskal beban ini tidak diakui sebagi
pengurang pendapatan dalam penghitungan pajak terutang. Manajemen perpajakan, harus
mampu secara maksimal menjadikan beban-beban komersial yang tidak diakui sebagai beban
fiskal ini menjadi beban fiskal melalui penetapan kebijakan perpajakan dan akuntansi yang
dapat dijadikan panduan dalam mengelola transaksi agar beban-beban tersebut menjadi
deductible. Kebijakan perpajkan yang diambil dalam rangka ini harus tetap dalam koridor
aturan perpajakan, agar kebijakan perpajakan yang diambil tidak menimbulkan masalah.

2.5.1. Memasukan Pemberian Natura dan Kenikmatan sebagai Tunjangan dan Daftar
Gaji

Sebagai pemeberi kerja, Wajib Pajak melakukan pemotongan PPh 21 atas gaji
dan/atau upah yang dibayarkan kepada karyawannya. Kompensasi yang dibayarkan kepada
karyawan memungkinkan tidak seluruhnya terdaftar pada slip gaji karena di samping
memberikan gaji, perusahaan mungkin memberikan kesejahteraan kepada karyawannya
dalam bentuk benda (natura) atau kenikmatan seperti rekreasi, pajak dibayar perusahaan,
tunjangan kesehatan dan sebagainya. Pasal 9 ayat 1 huruf e UU Pajak Penghasilan

8
mengisyaratkan bahwa terhadap beban-beban yang berkaitan dengan penggantian atau
imbalan sehubungan dengan pekerjaan atau jasa yang diberikan dalam bentuk natura dan
kenikmatan, kecuali penyediaan makanan dan minuman bagi seluruh pegawai serta
penggantian atau imbalan dalam bentuk natura dan kenikmatan di daerah tertentu dan yang
berkaitan dengan pelaksanaan pekerjaan yang diatur dengan atau berdasarkan Peraturan
Menteri Keuangan; tidak boleh dikurangkan terhadap penghasilan.

Berdasarkan ketentuan dalam aturan ini, semua pemberian dalam bentuk natura dan
kenikmatan tidak diakui sebagai beban fiskal sehingga tidak bisa dikurangkan dalam
perhitungan dasar pengenaan pajak. Dalam praktiknya hal ini menimbulkan adanya koreksi
fiskal positif yang menyebabkan dasar pengenaan pajak dan pajak terutang menjadi lebih
besar dan mendorong terjadinya pengeluaran kas yang lebih besar pula untuk menyelesaikan
kewajiban perpajakan ini. Melalui kebijakan perpajakan yang memasukkan seluruh
penghasilan karyawan ke dalam slip gajinya dan dibayarkan dalam bentuk uang, menjadikan
seluruh pemberian kepada karyawan diakui oleh pajak sebagai penghasilan bagi penerimanya
dan sebagai beban bagi yang memberikan. Dengan kebijakan ini, Wajib Pajak dapat
memaksimalkan beban-beban yang terjadi berkaitan dengan karyawannya menjadi beban
fiskal (deductible expense).

Jika perusahaan membebankan PPh pasal 21 pada penghasilan karyawannya


(karyawan menanggung sendiri pajak penghasilannya) maka kebijakan ini sangat tepat karena
tidak menimbulkan beban baru bagi perusahaan untuk membayar pajak penghasilan
karyawannya. Akan tetapi pada sisi yang lain, hal ini akan membebani karyawan pajak
penghasilan yang lebih tinggi dibanding jika mereka menerima sebagian penghasilannya
dalam bentuk natura atau kenikmatan.

Jika perusahaan menanggung semua pajak karyawannya, perbandingan antara


peningkatan beban pajak karyawan yang harus ditanggung dengan penghematan pajak badan
yang diperoleh, harus memberikan manfaat yang maksimal. Penghematan pajak yang
diperoleh harus lebih besar dari peningkatan beban pajak yang harus ditanggung. Pasal 17
UU No.36 Thn. 2008, lapisan tertinggi untuk tarif pajak WP Pribadi adalah 30% sedangkan
untuk PPh Badan mulai tahun 2010 ditetapkan tarif tunggal sebesar 25%. Jika penghasilan
kena pajak karyawan masih di bawah Rp.250.000.000 per tahun atau Rp.20.900.000 per
bulan (15%), kebijakan ini akan memberi selisih penghematan pajak yang lebih besar
dibandingkan tambahan beban pajak yang terjadi.

Untuk menyamakan besarnya jumlah tunjangan pajak dengan PPh 21 yang terutang,
banyak perusahaan menggunakan metode gross up. Metode ini memasukkan dalam daftar
penghasilan pada slip gaji tunjangan dalam bentuk natura dan kenikmatan yang diberikan
kepada karyawan termasuk tunjangan PPh 21, kemudian menghitung besarnya tunjangan
pajak yang harus diberikan yang sama dengan jumlah PPh 21 terutang. Dalam
perhitungannya, metode ini tampak agak rumit, tetapi memberikan manfaat penghematan
pajak yang sangat berarti bagi perusahaan.

9
2.6. Tax Review

Tax review dilakukan untuk menelaah dan menilai bagaimana kemampuan


perusahaan dalam memenuhi seluruh kewajiban perpajakannya. Hasil dari tax review ini
dapat memberikan penjelasan tentang bagaimana tingkat ketaatan perusahaan dalam
memenuhi kewajiban perpajakannya. Agar mampu memberikan gambaran yang
komprehensif, tax review dilakukan terhadap seluruh kewajiban perpajakan yang dimiliki
perusahaan. Berdasarkan Laporan Keuangan dan SPT (Masa dan/atau Tahunan) seorang tax
reviewer melakukan analisis untuk menentukan ketaatan perusahaan dalam memenuhi
kewajiban perpajakannya. Secara garis besar, kewajiban perpajakan untuk Wajib Pajak
meliputi:

1. Pemungutan dan pemotongan pajak,


2. Penghitungan pajak dengan benar,
3. Penyetoran pajak tepat waktu,
4. Pelaporan pajak secara lengkap dan tepat waktu.

Untuk memberikan hasil yang maksimal, tax review seharusnya dilakukan setiap
pelaporan kewajiban perpajakan tersebut timbul, tidak hanya setiap akhir tahun. Beberapa
manfaat yang diperoleh Wajib Pajak dari pelaksanaan tax review di antaranya adalah sebagai
berikut.

1. Menghindari Sanksi Perpajakan.


Secara umum sanksi perpajakan dapat dikelompokkan menjadi dua kelompok
besar, yaitu sanksi sebelum pemeriksaan (sanksi dalam tahun berjalan) dan sanksi
perpajakan akibat pemeriksaan pajak. Sanksi perpajakan dalam tahun berjalan terdiri
atas:
a. Sanksi perpajakan seperti denda keterlambatan pembayaran pajak pasal 14
ayat 3 sebesar 2% per bulan maksimal 24 bulan dikalikan jumlah bulan
yang terlambat dibayar.
b. Denda keterlambatan pelaporan SPT Masa pasal 7 dan keterlambatan
pelaporan SPT Tahunan.
c. Sanksi bunga penagihan pasal 19 ayat 1 sebesar 2% per bulan (tanpa ada
batas maksimal).
d. Sanksi pasal 14 ayat 4 berupa denda 2% kali Dasar Pengenaan Pajak PPN
akibat tidak, terlambat, atau salah membuat faktur pajak.
e. Sanksi pasal 13 ayat 3 berupa kenaikan 50% akibat tidak menyampaikan
SPT Tahunan walaupun sudah diperingatkan dengan Surat Teguran.

Sanksi perpajakan akibat pemeriksaan pajak terdiri atas:

a. Sanksi pasal 13 ayat 2 sebesar 2% kali jumalh pajak yang kurang bayar
yang ditemukan pada saat dilakukan pemeriksaan.
b. Sanksi pasal 13 ayat 3 berupa kenaikan 100% dari jumlah Lebih Bayar
yang seharusnya tidak dikompensasikan.

10
c. Sanksi pasal 13 ayat 3 berupa denda 100% karena PPh yang dipotong atau
dipungut tidak dibayarkan.
2. Menghindari adanya pajak masukan yang tidak dapat dikreditkan karena baru
ditemukan pada saat pemeriksaan.
3. Menghindari kedaluwarsa masa pengkreditan pajak masukan.
4. Menghindari adanya pajak masukan yang tidak bisa dikreditkan karena pajak
masukan tersebut tidak dapat dikonfirmasikan oleh pemeriksa.
5. Menghindari kedaluwarsa pengajuan keberatan pajak yakni tiga bulan setelah
penerbitan SKP.
6. Mengusahakan persetujuan pengurangan angsuran PPh Pasal 25 bila berdasarkan hasil
review, syarat-syarat pengurangan angsuran PPh Pasal 25 sudah bisa dipenuhi.
7. Mengusahakan Surat Keterangan Bebas pajak bila berdasarkan hasil review, syarat-
syarat pemberian SKB sudah terpenuhi.

2.6.1. Hak dan Kewajiban Wajib Pajak

Hak-Hak Wajib Pajak

1. Wajib Pajak dapat memperpanjang jangka waktu penyampaian Surat Pemberitahuan


Tahunan Pajak Penghasilan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) untuk paling lama 2
(dua) bulan dengan cara menyampaikan pemberitahuan secara tertulis atau dengan
cara lain kepada Direktur Jenderal Pajak yang ketentuannya diatur dengan atau
berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan (pasal 3 ayat 4).
2. Wajib Pajak dengan kemauan sendiri dapat membetulkan Surat Pemberitahuan yang
telah disampaikan dengan menyampaikan pernyataan tertulis, dengan syarat Direktur
Jenderal Pajak belum melakukan tindakan pemeriksaan (pasal 8 ayat 1)

Kewajiban Wajib Pajak

1. Setiap Wajib Pajak yang telah memenuhi persyaratan subjektif dan objektif sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan wajib mendaftarkan diri
pada Kantor Direktorat Jenderal Pajak yang wilayah kerjanya meliputi tempat tinggal
atau tempat kedudukan Wajib Pajak dan kepadanya diberikan Nomor Pokok Wajib
Pajak (pasal 2 ayat 1).
2. Setiap Wajib Pajak sebagai pengusaha yang dikenai pajak berdasarkan Undang-
Undang Pajak Pertambahan Nilai 1984 dan perubahannya, wajib melaporkan
usahanya pada Kantor Direktorat Jenderal Pajak yang wilayah kerjanya meliputi
tempat tinggal atau tempat kedudukan Pengusaha, dan tempat kegiatan usaha
dilakukan untuk dikukuhkan menjadi Pengusaha Kena Pajak (pasal 2 ayat 2).
3. Setiap Wajib Pajak wajib mengisi Surat Pemberitahuan dengan benar, lengkap, dan
jelas, dalam bahasa Indonesia dengan menggunakan huruf Latin, angka Arab, satuan
mata uang Rupiah, dan menandatangani serta menyampaikannya ke kantor Direktorat

11
Jenderal Pajak tempat Wajib Pajak terdaftar atau dikukuhkan atau tempat lain yang
ditetapkan oleh Direktur Jenderal Pajak (pasal 3 ayat 1).
4. Wajib Pajak mengisi dan menyampaikan Surat Pemberitahuan dengan benar, lengkap,
jelas, dan menandatanganinya (pasal 4 ayat 1).
5. Wajib Pajak wajib membayar atau menyetor pajak yang terutang dengan
menggunakan Surat Setoran Pajak ke kas negara melalui tempat pembayaran yang
diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan (pasal 10 ayat 1).

2.7. Audit atas PPh Pasal 21

Pasal 21: Pemotongan pajak atas penghasilan sehubungan dengan pekerjaan, jasa,
atau kegiatan dengan nama dan dalam bentuk apapun yang diterima atau diperoleh Wajib
Pajak orang pribadi dalam negeri wajib dilakukan oleh:

1. Pemberi kerja yang membayar gaji, upah, honorarium, tunjangan, dan pembayaran
lain sebagai imbalan sehubungan dengan pekerjaan yang dilakukan oleh pegawai atau
bukan pegawai;
2. Bendahara pemerintah yang membayar gaji, upah, honorarium, tunjangan, dan
pembayaran lain sehubungan dengan pekerjaan, jasa, atau kegiatan;
3. Dana pensiun atau badan lain yang membayarkan uang pensiun dan pembayaran lain
dengan nama apa pun dalam rangka pensiun;
4. Badan yang membayar honorarium atau pembayaran lain sebagai imbalan
sehubungan dengan jasa termasuk jasa tenaga ahli yang melakukan pekerjaan bebas;
dan
5. Penyelenggara kegiatan yang melakukan pembayaran sehubungan dengan
pelaksanaan suatu kegiatan.

Kewajiban perpajakan terkait PPh 21, selain menghitung dan memotong pajak dengan
benar adalah waktu penyetoran dan pelaporan SPT masa PPh 21. Pasal 2 dan pasal 7 PMK
No.80/PMK.03/2010 mengatur tentang batas waktu penyetoran dan pelaporan pajak. Untuk
PPh 21, penyetoran pajak Paling lama tanggal 10 bulan berikutnya dari waktu pemotongan
dan pelaporan SPT Masa PPh 21 paling lama 20 hari setelah Masa Pajak berakhir. Untuk
menghindari terjadinya kesalahan baik dalam perhitungan, pemotongan, penyetoran maupun
pelaporannya, internal audit perpajakan harus memastikan bahwa data-data karyawan yang
dihitung pajaknya adalah data yang terbarukan (up to date), penerapan tarif PTKP dan tarif
pajaknya serta pengisian SPT-nya akurat, penyetoran dan pelaporan pajaknya tidak terlambat.

12
2.8. Audit Atas PPh Pasal 26

Pasal 26 : Atas penghasilan tersebut dibawah ini, dengan nama dan dalam bentuk apapun,
yang dibayarkan, disediakan untuk dibayarkan, atau telah jatuh tempo pembayarannya oleh
badan pemerintah, Subjek Pajak dalam negeri, penyelenggara kegiatan, bentuk usaha tetap,
atau perwakilan perusahaan luar negeri lainnya kepada Wajib Pajak luar negeri selan bentuk
usaha tetap di Indonesia :

1. Dipotong Pajak sebesar 20% dari jumlah bruto oleh pihak yang wajjib membayarkan :
a. Dividen;
b. Bunga termasuk premium, diskonto, dan imbalan sehubungan dengan jaminan
pengembalian utang;
c. Royalty, sewa, dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta;
d. Imbalan sehubungan dengan jasa, pekerjaan, dan kegiatan;
e. Hadiah dan penghargaan;
f. Pensiun dan pembayaran berkala lainnya;
g. Premi swap dan transaksi lindung nilai lainnya; dan atau
h. Keuntungan karena pembebasan utang;
2. Atas penghasilan dari penjualan atau pengalihan harta di Indonesia, kecuali yang diatur
dalam Pasal 4 ayat (2), yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak luar negeri selain
bentuk usaha tetap di Indonesia, dan premi asuransi yang dibayarkan kepada
perusahaan asuransi luar negeri dipotong pajak 20% dari perkiraan penghasilan neto.
3. Atas penghasilan dari penjualan / pengalihan saham sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 18 ayat (3c) dipotong pajak sebesar 20% dari perkiraan penghasilan neto.
4. Penghasilan Kena Pajak sesudah dikurangi pajak dari suatu bentuk usaha tetap di
Indonesia dikenai pajak sebesar 20%, kecuali penghasilan tersebut ditanamkan kembali
di Indonesia, yang ketentuannya diatur lebih lanjut dengan berdasarkan Peraturan
Menteri Keuangan.
5. Pemotongan pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), ayat (2a), dan ayat
(4) bersifat final, kecuali :
a. Pemotongan atas penghasilan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (1) huruf b
dan huruf c; dan
b. Pemotongan atas penghasilan yang diterima / diperoleh orang pribadi / badan luar
negeri yang berubah status menjadi Wajib Pajak dalam negeri atau bentuk usaha
tetap.
Sebagaimana pemotong, Wajib Pajak harus menyetor PPh 26 yang dipotong pajak
paling lama tanggal 10 bulan berikutnya dari waktu pemotongan dan melaporkannya paling
lama 20 hari setelah Masa Pajak berakhir. Pastikan bahwa PPh 26 hanya dipotong dan
dipungut dari Wajib Pajak Luar Negeri.

13
2.9. Audit Atas PPh Pasal 22

Pasal 22 : Menteri Keuangan dapat menetapkan :

1. Bendahara pemerintah untuk memungut pajak sehubungan dengan pembayaran atas


penyerahan barang;
2. Badan-badan tertentu untuk memungut pajak dari Wajib Pajak yang melakukan
kegiatan dibidang impor atau kegiatan usaha dibidang lain, dan;
3. Wajib Pajak badan tertentu untuk memungut pajak dari pembeli atas penjualan barang
yang tergolong sangat mewah.

Besarnya pungutan yang diterapkan untuk Wajib Pajak yang tidak memiliki NPWP lebih
tinggi 100% daripada tarif pajak yang diterapkan pada Wajib Pajak yang memiliki NPWP.
PPh pasal 22 yang pemungutannya dilakukan oleh Wajib Pajak badan tertentu sebagai
pemungut pajak, penyetorannya paling lama tanggal 10 bulan berikutnya dan pelaporannya
paling lama 20 hari setelah Masa Pajak berakhir.

Sebagai pemungut , Wajib Pajak harus menyerahkan bukti pemungutan kepada Wajib
Pajak sesuai aturan yang berlaku. Sebagai yang dipungut, Wajib Pajak harus mendapat
bukti pemungutan yang cukup sesuai dengan aturan yang berlaku dan memisahkan
catatannya antara Uang Muka PPh 22 Final dan tidak final. PPh yang tidak final akan dapat
dikreditkan dan bukti pungutnya digunakan sebagai bukti untuk mengkreditkan PPh Pasal
22 pada saat dilakukan penghitungan akhir tahun kewajiban perpajakan. Sementara PPh 22
final tidak dapat dikreditkan, maka dari itu penghasilan yang sudah dipungut PPh 22 final
dikeluarkan dari pendapatan perusahaan pada saat menghitung besarnya pajak terutang
(koreksi fiskal negatif).

2.10. Audit Atas PPh Pasal 23

Pasal 23 : Atas penghasilan tersebut dibawah ini, dengan nama dan dalam bentuk apapun,
yang dibayarkan, disediakan untuk dibayarkan, atau telah jatuh tempo pembayarannya
oleh badan pemerintah, Subjek Pajak dalam negeri, penyelenggara kegiatan, bentuk usaha
tetap, atau perwakilan perusahaan luar negeri lainnya kepada Wajib Pajak dalam negeri
atau bentuk usaha tetap, dipotong pajak oleh pihak yang wajib membayarkan :

1. Sebesar 15% dari jumlah bruto atas :


a. Dividen sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) huruf g;
b. Bunga sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) huruf f;
c. Royalty; dan
d. Hadiah, penghargaan, bonus, dan sejenisnya selain yang telah dipotong Pajak
Penghasilan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 ayat (1) huruf e;
2. Sebesar 2% dari jumlah bruto atas :

14
a. Sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta, kecuali sewa dan
penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta yang telah dikenai pajak
penghasilan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (2); dan
b. Imbalan sehubungan dengan jasa teknik, jasa manajemen, jasa konstruksi, jasa
konsultan, dan jasa lain selain jasa yang telah dipotong pajak penghasilan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21.
Orang pribadi sebagai Wajib Pajak dalam negeri dapat ditunjuk oleh Direktur Jenderal Pajak
untuk memotong pajak sebagaimana ketentuan yang berlaku. Pemotongan pajak
sebagaimana dimaksud tidak dilakukan atas :

1. Penghasilan yang dibayar atau terutang kepada Bank;


2. Sewa yang dibayarkan atau terutang sehubungan dengan sewa guna usaha dengan
hak opsi;
3. Dividen sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (3) huruf f dan dividen yang
diterima oleh orang pribadi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (2c);
4. Bagian laba sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (3) huruf i;
5. Sisa Hasil Usaha koperasi yang dibayarkan oleh koperasi kepada anggotanya;
6. Penghasilan yang dibayar atau terutang kepada badan usaha atas jasa keuangan
yang berfungsi sebagai penyalur pinjaman atau pembiayaan yang diatur dengan
Peraturan Menteri Keuangan.

Sebagai pemotong, Wajib Pajak harus menerbitkan bukti potong yang sesuai dengan
objek pemotongannya dan menyerahkan kepada Wajib Pajak yang dipotong. Sebagai pihak
yang dipungut PPh 23, Wajib Pajak harus mendapatkan bukti pungut, yang akan digunakan
sebagai bukti untuk mengkreditkan pajak terutang pada saat dibuat laporan pajak akhir
tahun.

Untuk menghindari terjadinya perbedaan antara objek pajak pada SPT masa PPh 23
dengan biaya-biaya yang menjadi objek pajak pemotongan PPh 23, perusahaan harus
melakukan penyetaraan antara biaya-biaya objek pemotongan PPh 23 yang dibuat dalam
rekening tersendiri, dengan objek pajak pada SPT masa PPh 23. Jika masih terdapat
perbedaan , sebelum SPT masa dilaporkan harus dicari penyebabnya. Apakah pemotongan
pajak dilakukan pada saat pengakuan prepaid expenses atau terdapat pengakuan provisi
biaya atau accrued expenses yang belum menimbulkan kewajiban pemotongan pajak. Harus
disiapkan data dan penjelasan yang memadai jika perlu dilakukan perbaikan sebelum SPT
dilaporkan, untuk dilaporkan kepada petugas pajak yang melakukan pemeriksaan.

15
2.11. Audit Atas PPh Pasal 25
1. Besarnya angsuran pajak dalam tahun pajak berjalan yang harus dibayar sendiri oleh
Wajib Pajak untuk setiap bulan adalah sebesar Pajak Penghasilan yang terutang menurut
Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan tahun pajak yang lalu dikurangi dengan:
a. Pajak Penghasilan yang dipotong sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 dan Pasal 23
serta Pajak Penghasilan yang dipungut sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22; dan
b. Pajak Penghasilan yang dibayar atau terutang di luar negeri yang boleh dikreditkan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24, dibagi 12 atau banyaknya bulan dalam bagian
tahun pajak.
2. Besarnya angsuran pajak yang harus dibayar sendiri oleh Wajib Pajak untuk bulan-bulan
sebelum Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan disampaikan sebelum batas
waktu penyampaian SPT Pajak Penghasilan sama dengan besarnya angsuran pajak untuk
bulan terakhir.
3. Apabila dalam tahun pajak berjalan diterbitkan surat ketetapan pajak untuk tahun pajak
yang lalu, besarnya angsuran pajak dihitung kembali berdasarkan surat ketetapan pajak
tersebut dan berlaku mulai bulan berikutnya setelah bulan penerbitan surat ketetapan
pajak.
4. Direktur Jenderal Pajak berwenang untuk menetapkan penghitungan besarnya angsuran
pajak dalam tahun pajak berjalan dalam hal-hal tertentu, sebagai berikut :
a. Wajib Pajak berhak atas kompensasi kerugian,
b. Wajib Pajak memperoleh penghasilan tidak teratur;
c. SPT Pajak Penghasilan tahun yang lalu disampaikan setelah lewat batas waktu yang
ditentukan;
d. Wajib Pajak diberikan perpanjangan jangka waktu penyampaian SPT Pajak
Penghasilan;
e. Wajib Pajak membetulkan sendiri SPT Pajak Penghasilan yang mengakibatkan
angsuran bulanan sebelum pembetulan; dan
f. Terjadi perubahan keadaan usaha atau kegiatan Wajib Pajak.
5. Menteri Keuangan menetapkan penghitungan besarnya angsuran pajak bagi :
a. Wajib Pajak baru;
b. Bank, BUMN, BUMD, Wajib Pajak masuk bursa, dan Wajib Pajak lainnya yang
berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan harus membuat laporan
keuangan berkala; dan
c. Wajib Pajak orang pribadi pengusaha tertentu dengan tarif paling tinggi 0,75% dari
peredaran bruto.
6. Wajib Pajak orang pribadi dalam negeri yang tidak memilik NPWP dan telah berusia 21
tahun yang bertolak ke luar negeri wajib membayar pajak yang ketentuannya diatur
dengan Peraturan Pemerintah.
7. Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (8) berlaku sampai dengan tanggal 31
Desember 2010 Penyetoran PPh harus dilakukan paling lambat tanggal 15 bulan
berikutnya, SSP atas setoran tersebut harus disimpan dan memiliki nilai yang sama
dengan angsuran PPh 25 yang telah dilakukan pada buku besarnya. Pengkreditan PPh 25
pada perhitungan pajak terutang akhir tahun harus didukung (dilampiri) dengan SSP PPh
25 dengan jumlah yang sama.

16
2.12. AUDIT atas Perhitungan Akhir Tahun

Pasal 28

1. Bagi Wajib Pajak dalam negeri dan bentuk usaha tetap, pajak yang terutang dikurangi
dengan kredit pajak untuk tahun pajak yang bersangkutan, berupa:
a. Pemotongan pajak atas penghasilan dari pekerjaan, jasa, dan kegiatan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21;
b. Pemungutan pajak atas penghasilan dari kegiatan di bidang impor atau kegiatan
usaha di bidang lain sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22;
c. Pemotongan pajak atas penghasilan berupa deviden, bunga, royalti, sewa, hadiah
dan penghargaan, dan imbalan jasa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23;
d. Pajak yang dibayar atau terutang atas penghasilan dari luar negeri yang boleh
dikreditkan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24;
e. Pembayaran yang dilakukan oleh Wajib Pajak sendiri sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 25;
f. Pemotongan pajak atas penghasilan sebagaimana dimaksud dalam pasal 26 ayat
(5)
2. Sanksi administrasi berupa bunga, denda, dan kenaikan serta sanksi pidana berupa
denda yang berkenaan dengan pelaksanaan peraturan perundang-undangan di bidang
perpajakan yang berlaku tidak boleh dikreditkan dengan pajak yang terutang
sebagaimana dimaksud pada ayat (1).

Pasal 29

Apabila pajak yang terutang untuk suatu tahun pajak ternyata lebih besar daripada
kredit pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 ayat (1), kekurangan pembayaran pajak
yang terutang harus dilunasi sebelum Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan
disampaikan.

Dasar perhitungan pajak terutang adalah laba yang diperoleh perusahaan. Dalam
menghitung pajak yang harus dibayar, perusahaan harus memaksimalkan pengkreditan yang
bisa dilakukan terhadap pajak terutang. Auditor harus memeriksa dengan teliti apakah seluruh
pajak yang bisa dikreditkan telah dikreditkan, dengan membandingkan antara catatan uang
muka pajak (selain PPN) dengan pengkreditan yang dilakukan pada perhitungan pajak yang
masih harus dibayar.

Untuk meminimalkan pembayaran pajak penghasilan badan, Wajib Pajak dapat


melakukan pengelolaan kewajiban perpajakan akhir tahun melalui beberapa cara, antara lain:

1) Review dan Analisis Pajak Terutang Akhir Tahun PPh Badan


Wajib Pajak membuat estimasi pajak terutang pada tahun berjalan berdasarkan
Laporan Laba Ruginya, dengan memperhitungkan kredit pajak PPh Pasal 22,
23,24,dan 25. Jika terjadi lebih bayar, dicari penyebabnya, mungkin karena
perusahaan mengalami penurunan laba, dsb, lalu dicari jalan keluarnya. Jika
menunjukkan kurang bayar dan apakah jumlahnya cukup signifikan. Strategi

17
penghematan pajak akhir tahun pada poin 2 berikt bisa dipertimbangkan untuk
memperkecil pajak kurang bayar tanpa melanggar aturan dan ketentuan perpajakan.
Sementara strategi nomor 3 bisa digunakan untuk mengantisipasi pajak lebih bayar
untuk menghindari aparat perpajakan dalam melakukan pemeriksaan.
2) Strategi menghemat Pajak Penghasilan Akhir Tahun
a. Menunda pengakuan penghasilan ke tahun berikutnya
1. Menunda pengakuan sales ke tahun berikutnya.
2. Menunda realisasi penjualan aset tetap yang menghasilkan laba.
3. Menunda realisasi penerimaan piutang dan atau pelunasan utang dalam valuta
asing yang menghasilkan laba selisih kurs.
b. Meningkatkan/mempercepat pengakuan biaya (kerugian) dalam tahun berjalan
1. Menjual aset tetap yang nilai bukunya jauh diatas harga pasar.
2. Meningkatkan biaya iklan dan promosi pada akhir tahun.
3. Memberikan interim bonus kepada direksi dan karyawan.
4. Mempercepat realisasi penerimaan piutang dan atau pelunasan utang dalam
valuta asing yang menimbulkan kerugian selisih kurs.
5. Mempercepat realisasi atas rencana pembelian aset tetap baru.
6. Merealisasi program pelatihan karyawan (local & overseas training).
7. Melakukan perbaikan dan pemeliharaan aset agar tetap produktif bagi
perusahaan.
8. Meningkatkan biaya riset dan pengembangan dalam negeri.
3) Menghindari Pajak Lebih Bayar dan Rugi Fiskal
Melakukan langkah-langkah sebaliknya dari Strategi Menghemat Pajak Penghasilan
Akhir Tahun berjalan (poin 2) diatas.
4) Dan langkah-langkah strategis lainnya
a. Melakukan review pembukuan agar up-to-date dan akurat.
b. Melakukan ekualisasi PPh Badan dan PPN.
c. Malakukan ekualisasi PPh Badan dan Withholding Tax [PPh pasal 21, 23, 26 dan
pasal 4 ayat (2)].
d. Melakukan rekonsiliasi fiskal atas Laporan Keuangan Komersial.
e. Melakukan pengecekan ulang keabsahan bukti-bukti potong dan SSP yang
menjadi kredit pajak.
f. Membuat daftar normatif atas pengeluaran untuk hiburan (entertainment).
g. Menyiapkan dokumen-dokumen pendukung atas transaksi hubungan istimewa.
h. Menyiapkan detail perhitungan selisih kurs, menyiapkan dokumen COD
(Certificate of Domicile) dalam hal melakukan pembayaran dengan menggunakan
tarif tax treaty atau sesuai perjanian pajak antara dua negara.

2.13. AUDIT atas Kewajiban PPN

Kewajiban Wajib Pajak yang telah ditetapkan sebagai Pengusaha Kena Pajak (PKP)
meliputi pemungutan, penyetoran, dan pelaporan Pajak Pertambahan Nilai atas penyerahan
Barang Kena Pajak (BKP) dan/atau Jasa Kena Pajak (JKP) yang diserahkan, seperti yang
diatur dalam pasal 3a dan pasal 4 UU No.42 Tahun 2009 tentang PPN.

18
1. Pengusaha yang melakukan :
a. Penyerahan Barang Kena Pajak di dalam Daerah Pabean yang dilakukan oleh
pengusaha;
b. Impor Barang Kena Pajak;
c. Penyerahan Jasa Kena Pajak di dalam Daerah Pabean yang dilakukan oleh
pengusaha;
d. Pemanfaatan Barang Kena Pajak Tidak Berwujud dari luar Dareah Pabean di
dalam Daerah Pabean;
e. Pemanfaatan Jasa Kena Pajak dari luar Daerah Pabean di dalam Daerah Pabean;
f. Ekspor Barang Kena Pajak Berwujud oleh Pengusaha Kena Pajak;
g. Ekspor Barang Kena Pajak Tidak Berwujud oleh Pengusaha Kena Pajak; dan
h. Ekspor Jasa Kena Pajak oleh Pengusaha Kena Pajak.
Kecuali pengusaha kecil yang batasannya ditentukan oleh Menteri Keuangan, wajib
melaporkan usahanya untuk dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak dan wajib
memungut, menyetor, dan melaporkan Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan
atas Barang Mewah yang terutang.

2. Pengusaha kecil dapat memilih untuk dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak.
Pengusaha kecil yang memilih dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak wajib
melaksanakan ketentuan UU PPN.
3. Orang pribadi atau badan yang memanfaatkan Barang Kena Pajak Tidak Berwujud
dari luar daerah Pabean sebagaimana dimaksud dalam pasal 4 ayat (1) huruf d
dan/atau yang memanfaatkan Jasa Kena Pajak dari luar Daerah Pabean sebagaimana
dimaksud dalam pasal 4 ayat (1) huruf e wajib memungut, menyetor, dan melaporkan
Pajak Pertambahan Nilai yang terutang yang perhitungan dan tata caranya diatur
dengan Peraturan Menteri Keuangan.
4. Ketetntuan mengenai batasan kegiatan dan jenis Jasa Kena Pajak yang atas ekspornya
dikenai Pajak Pertambahan Nilai diatur dengan Peraturan Menteri Keuangan.
Disamping mewajibkan PKP untuk memungut PPN atas penyerahan BKP/JKP, UU PPN
juga mengecualikan dari pemungutan PPN atas penyerahan BKP/JKP berikut ini:

1. Jenis barang yang tidak dikenai PPN adalah barang tertentu dalam kelompok barang:
a. Barang hasil pertambangan atau hasil pengeboran yang diambil langsung dari
sumbernya;
b. Barang kebutuhan pokok yang sangat dibutuhkan oleh rakyat banyak;
c. Makanan dan minuman yang disajikan di hotel, restoran, rumah makan, warung,
dan sejenisnya, meliputi makanan dan minuman baik yang dikonsumsi ditempat
maupun tidak, termasuk makanan dan minuman yang diserahkan oleh usaha jasa
boga atau katering; dan
d. Uang, emas batangan, dan surat berharga.
2. Jenis jasa yang tidak dikenai PPN adalah jasa tertentu dalam kelompok jasa:
a. Jasa pelayanan kesehatan medis;
b. Jasa pelayanan sosial;
c. Jasa pengiriman surat dengan perangko;
d. Jasa keuangan;
e. Jasa asuransi;

19
f. Jasa keagamaan;
g. Jasa pendidikan;
h. Jasa kesenian dan hiburan;
i. Jasa penyiaran yang tidak bersifat iklan;
j. Jasa angkutan umum di darat dan di air serta jasa angkutan udara dalam negeri
yang menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari jasa angkutan udara luar negeri;
k. Jasa tenaga kerja;
l. Jasa perhotelan;
m. Jasa yang disediakan oleh pemerintah dalam rangka menjalankan pemerintahan
secara umum;
n. Jasa penyediaan tempat parkir;
o. Jasa telepon umum yang menggunakan uang logam;
p. Jasa pengiriman uang dengan wesel pos; dan
q. Jasa boga dan katering.
Atas penyerahan atas BKP/JKP yang dilakukan, sesuai dengan KMK No.
84/PMK.03/2012, Wajib Pajak wajib menerbitkan Faktur Pajak untuk setiap :

1. Penyerahan BKP sebagaimana dimaksud dalam pasal 4 ayat (1) huruf a dan/atau pasal
16D UU PPN;
2. Penyerahan JKP sebagaimana dimaksud dalam pasal 4 ayat (1) huruf c UU PPN;
3. Ekspor BKP Berwujud sebagaimana dimaksud dalam pasal 4 ayat (1) huruf f UU
PPN;
4. Ekspor BKP Tidak Berwujud sebagaimana dimaksud dalam pasal 4 ayat (1) huruf g
UU PPN; dan/atau
5. Ekspor JKP sebagaimana dimaksud dalam pasal 4 ayat (1) huruf h UU PPN.
Faktur Pajak ini harus dibuat pada saat :

1. Saat penyerahan BKP dan/atau JKP;


2. Saat penerimaan pembayaran dalam hal pembayaran terjadi sebelum penyerahan BKP
dan/atau penyerahan JKP;
3. Saat penerimaan pembayaran termin dalam hal penyerahan sebagian tahap pekerjaan;
atau
4. Saat PKP rekanan menyampaikan tagihan kepada Bendahara Pemerintah sebagai
Pemungut PPN.
Faktur Penjualan yang memuat keterangan dan yang pengisiannya sesuai dengan
ketentuan dalam faktur pajak yaitu memuat: (1) nama, alamat, NPWP yang menyerahkan
BKP atau JKP; (2) nama, alamat, dan NPWP pembeli BKP atau PENERIMA jkp; (3) jenis
barang atau jasa, jumlah Harga Jual atau penggantian, dan potongan harga; (4) PPN yang
dipungut; (5) PPn-BM yang di pungut; (6) kode, nomor seri an tanggal pembuatan Faktur
Pajak; dan (7) nama dan tandatangan yang berhak menandatangani Faktur Pajak, dapat
dipersamakan sebagai Faktur Pajak.

Disamping Faktur Pajak, peraturan Dirjen Pajak No. Per-27/PJ/2011 juga menetapkan
bebrapa dokumen yang kedudukannya dipersamakan dengan faktur pajak. Dokumen-
dokumen tersebut adalah sebagai berikut.

20
1. Pemberitahuan Ekspor Barang (PEB) yang telah diberikan persetujuan ekspor oleh
pejabat yang berwenang dari Direktorat Jendral Bea dan Cukai dan dilampiri dengan
invoicce yang merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan dengan PEB tersebut;
2. Surat Perintah Penyerahan Barang (SPPB) yang dibuat atau dikeluarkan oleh
BULOG/DOLOG untuk penyaluran tepung terigu;
3. Paktur Nota Bon Penyerahan (PNBP) yang dibuat atau dikeluarkan oleh Pertamina
untuk penyerahan bahan bakar minyak dan/atau bukan bahan bakar minyak;
4. Tanda pembayaran atau kuitansi untuk penyerahan jasa telekomunikasi;
5. Tiket, surat kargo udara (airway bill), atau bukti penyerahan (delivery bill) yang
dibuat atau dikeluarkan untuk penyerahan jasa angkutan udara dalam negeri;
6. Nota Penjualan Jasa yang dibuat atau dikeluarkan untuk penyerahan jasa ke
pelabuhan;
7. Tanda pembayaran atau kuitansi listrik;
8. Pemberitahuan Ekspor JKP/BKP Tidak Berwujud yang dilampiri dengan invoice yang
merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan dengan Pemberitahuan Ekspor
JKP/BKP Tidak Berwujud, untuk ekspor JKP/BKP Tidak Berwujud;
9. Pemberitahuan Immpor Barang (PIB) dan dilampiri dengan Surat Setoran Pajak, Surat
Setoran Pabean, Cukai dan Pajak (SSPCP), dan/atau bukti pungutan pajak oleh
Direktorat Jendral Bea dan Cukai yang merupakan satu kesatuan yang tidak
terpisahkan dengan PIB tersebut, untuk impor BKP; dan SSP untuk pembayaran PPN
atas pemanfaatan BKP Tidak Berwujud atau JKP dari luar Daerah Pabean;
10. Bukti tagihan atas penyerahan BKP/JKP oleh perusahaan air minum;
11. Bukti tagihan (trading confirmation) atas JKP oleh perantara efek; dan
12. Bukti tagihan atas penyerahan JKP oleh perbankan.

Apabila dalam suatu Masa Pajak, Pajak Keluaran lebih besar daripada Pajak Masukan,
selisihnya merupakan PPN yang harus disetor oleh PKP. Wajib pajak harus menyetor PPN
yang telah dipungut (PPN Keluaran), setelah dikompensasikan dengan PPN Masukan pada
masa yang sama, paling lama 15 bulan berikutnya dan harus dilaporkan paling lama akhir
bulan berikutnya setelah Masa Pajak berakhir (pasal 2 dan pasal 7 PMK No.
80/PMK.03/2010). Apabila dalam suatu Masa Pajak, Pajak Masukan yang dikreditkan lebih
besar daripada Pajak Keluaran, selisihnya merupakan kelebihan pajak yang dikompensasikan
ke Masa Pajak Berikutnya. Atas kelebihan Pajak Masukan tersebut dapat diajukan
permohonan pengembalian pada akhir tahun buku.

Pajak masukan yang dikreditkan harus menggunakan Faktur Pajak yang memenuhi
persyaratan sebagaimana dimaksudkan dalam pasal 13 ayat (5) dan ayat (9). (pasal 9 ayat 2a
UU PPN). Pajak Masukan yang dibayar untuk perolehan BPK/JKP harus dikreditkan dengan
Pajak Keluaran di tempat PKP dikukuhkan. Pajak Masukan yang dapat dikreditkan, tetapi
belum dikereditkan dengan Pajak Keluaran pada Masa Pajak yang sama, dapat dikreditkan
pada Masa Pajak berikutnya paling lama 3 bulan setelah berakhirnya Masa Pajak yang
bersangkutan sepanjang belum dibebankan sebagai biaya dan belum dilakukan pemeriksaan
(pasal 9 ayat 9 UU PPN).

Memaksimalkan PPN Masukan yang dapat dikreditkan adalah bagian dari Strategi Wajib
Pajak untuk meminimalkan arus kas keluarnya untuk penyetoran PPN. Maka dari itu, Wajib

21
Pajak harus memastikan bahwa semua faktur pajak atas pembeliannya yang telah dipungut
PPN telah diterima dan memenuhi syarat untuk dikreditkan (diisi dengan lengkap dan tidak
cacat). Pasal 9 ayat 8 UU PPN Pengkreditan Pajak Masukan sebagaimana dimaksudkan pada
ayat (2) tidak dapat diberlakukan bagi pengeluaran untuk:

a. Perolehan BKP atau JKP sebelum pengusaha dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena
Pajak;
b. Perolehan BKP atau JKP yang tidak mempunyai hubungan langsung dengan kegiatan
usaha;
c. Perolehan dan pemeliharaan kendaraan bermotor berupa sedan dan station wagon,
kecuali merupakan barang dagangan atau disewakan;
d. Pemanfaatan BKP Tidak Berwujud atau pemanfaatan JKP dari luar daerah Pabean
sebelum pengusaha dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak;
e. Perolehan BKP atau JKP yang Faktur Pajaknya tidak memenuhhi ketentuan
sebagaimana dimaksud dalam pasal 13 ayat (5) atau ayat (9) atau tidak
mencantumkan nama, alamat, dan NPWP pembeli BKP atau penerima JKP;
f. Pemanfaatan BKP Tidak Berwujud atau pemanfaatan JKP dari luar daerah Pabean
yang Faktur Pajaknya tidak memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksudkan dalam
pasal 13 ayat (6);
g. Perolehan BKP atau JKP yang Pajak Masukannya ditagih dengan penerbitan
ketetapan pajak;
h. Perolehan BKP atau JKP yang Pajak Masukannya tidak dilaporkan dalam Surat
Pemberitahuan Masa Pajak Pertambahan Nilai, yang ditemukan pada waktu dilakukan
pemeriksaan; dan
i. Perolehan BKP selain barang modal atau JKP sebelum PKP berproduksi sebagaimana
dimaksudkan pada ayat (2).

Pajak Masukan yang dibayar untuk perolehan BKP dan/atau JKP yang atas
penyerahannya dibebaskan dari pengenaan PPN tidak dapat dikreditkan.

Disamping memaksimalkan pengkreditan pajak masukan, meminimalkan arus kas


keluar untuk penyetoran PPN juga dapat dilakukan dengan menunda penerbitan faktur pajak
terhadap penjualan yang belum diterima pembayarannya dengan menunda pengakuan
penjualan sampai akhir bulan berikutnya.

22
2.14. PAJAK PENGHASILAN

1. TAX HOLIDAY BAGI INDUSTRI PIONIR

Kriteria penerima:
Wajib Pajak badan baru atau yang berdiri paling lama 12 bulan sebelum tanggal 15
agustus 2011, dengan syarat:

a. Merupakan industri pionir, yaitu industri logam dasar, penyulingan minyak bumi
dan/atau kimia dasar organik yang bersumber dari minyak bumi dan gas alam,
permesinan, sumber daya terbarukan, dan atau peralatan komunikasi.
b. Investasi minimal Rp1 Triliun
c. Menempatkan dana di perbankan indonesia minimal 10% dari total rencana investasi

Bentuk fasilitas:

a. Pembebasan pph badan (tax holiday) 5 s.d. 10 tahun, sejak dimulainya produksi
komersial
b. Pengurangan pph badan 50% selama 2 tahun setelah periode tax holiday
c. Dengan mempertimbangkan kepentingan daya saing industri nasional dan nilai
strategis dari kegiatan usaha tertentu, menteri keuangan dapat memberikan fasilitas
dengan jangka waktu lbih panjang

Prosedur:

a. Permohonan WP kepada Menteri Perindustrian atau Kepala BKPM untuk


dilakukan penelitian mengenai :
Ketersediaan infrastruktur di lokasi investasi
Penyerapan tenaga kerja domestik
Pemenuhan kriteria indutri pionir
Rencana tahapan ahli teknologi
Ketentuan simpanan pajak di negara domisili
b. Berdasarkan penelitian tersebut permohonan WP akan diteruskan kepada Menteri
Keuangan
c. Apabila disetujui, Keputusan Menteri Keuangan mengenai pemberian fasilitas akan
diterbitkan

23
Kewajiban wajib pajak:

a. WP wajib menyampaikan laporan berkala kepada DJP dan Komite Verifikasi


mengenai :
Penggunaan dana triwulan dilampiri rekening koran, dan
Realisasi penanaman modal triwulan dan laporan tahunan yang diaudit
b. WP dapat memanfaatkan tax holiday apabila:
Seluruh penanaman modal telah direalisasikan; dan
Telah berproduksi secara komersial (SMB)

Untuk penetatapan SMB, WP mengajukan permohonan ke Dirjen Pajak dengan


melampirkan:

a. Fotokopi akta pendirian


b. Fotokopi keputusan Menteri Keuangan mengenai pemberian fasilitas tax holiday
c. Laporan keuangan tiga tahun terakhir yang telah diaudit
d. Surat kuasa khusus dalam hal permohonan disampaikan oleh kuasa wajib pajak
e. Dokumen terkait transaksi penjualan hasil produksi minimal terdiri atas faktur
penjualan, faktur pajak, dan bukti pengiriman barang

2. Investment Allowance Untuk Penanaman Modal Bidang Usaha Tertentu Dan/Atau


Di Daerah Tertentu:

Kriteria penerima:

a. WP badan berbentuk PT atau koperasi yang melakukan penanaman modal pada:


52 bidang usaha pada lampiran I atau:
77 bidang usaha di daerah tertentu pada lampiran II dalam PP 52/2011
b. WP sebagaimana dimaksud di atas termasuk WP yang telah memiliki izin penanaman
modal sebelum berlakunya PP Nomor 52Tahun 2011, dengan syarat:
Rencana penanaman modal minimal Rp 1 triliun,dan
Belum beroperasi secara komersial pada saat PP 52/2011 berlaku
c. Fasilitas dapat dimanfaatkan setelah WP merealisasikan rencana penanaman modal
minimal 80% kecuali bagi WP yang telah mendapat fasilitas berdasarkan PP 1/2007 atau
PP 62/2008

Bentuk fasilitas:

a. Investment allowance 30% dari jumlah penanaman modal yang dibebankan selama 6
tahun, masing-masing sebesar 5%
b. Penyusutan dan amortisasi yang dipercepat
c. Tarif pph 10% atas dividen kepada subyek pajak luar negeri, atau tarif yang lebih
rendah menurut P3B.
d. Kompensasi kerugian 5 s.d. 10 tahun dengan ketentuan:

24
Penanaman modal di kawasan industri dan kawasan berikat;
Tenaga kerja indonesia minimal 500 orang selama 5 tahun berturut-turut;

Pengeluaran infrastruktur ekonomi dan sosial di lokasi usaha minimal Rp10


miliar;

Bunga litbang di dalam negeri untuk pengembangan atau efisiensi produk


minimal 5% dari investasi dalam jangka waktu 5 tahun; dan

Menggunakan bahan baku dan komponen hasil produksi dalam negeri minimal
70% sejak tahun ke-4

Prosedur:

a. Permohonan WP harus disampaikan kepada Kepala BKPM, untuk kemudian


diusulkan kepada menteri keuangan melalui dirjen pajak dengan melampirkan:
Fotokopi NPWP;
Fotokopi surat permohonan WP kepada kepala BKPM;
Ijin penanaman modal atau instansi perluasan penanaman modal yang diterbitkan oleh
kepala BKPM atau instansi lain yang berwenang berdasarkan peraturan perundang-
undangan yang berlaku;
Perincian jenis dan nilai penannaman modal; dan
Khusus bagi WP yang memiliki izin prinsip sebelum PP 52 Tahun 2011 berlaku serta
memiliki rencana penanaman modal lebih dari Rp 1 triliun, harus melampirkan surat
keterangan belum beroperasi secara komersial yang diterbitkan oleh Kepala BKPM.
b. Usulan yang diterima oleh dirjen pajak akan diteliti untuk kemudian diterbitkan
keputusan pemberian/penolakan dalam waktu selambatnya 10hari kerja setelah usulan
diterima

3. Kawasan Ekonomi Khusus

Kriteria penerima:

WP yang melakukan kegiatan di Kawasan Ekonomi Khusus

Bentuk fasilitas:

a. Fasilitas pajak penghasilan;


b. Tambahan fasilitas pph dapat diberikn sesuai karakteristik Zona;
c. Impor barang ke KEK dapat diberikan fasilitas berupa tidak dipungut pph impor

25
4. Fasilitas Untuk Kegiatan Pemanfaatan Sumber Energi Terbarukan

Kriteria penerima:

a. WP yang melakukan kegiatan pemanfaatan sumber energi terbarukan


b. Fasilitas investment allowance dapat dimanfaatkan setelah WP merealisasikan
rencana penanaman modal minimal 80%, kecuali bagi WP yang telah mendapat
fasilitas berdasarkan PP 1/2007 atau PP 62/2008
c. Fasilitas pajak penghasilan pasal 22 impor dimanfaatkan secara otomatis tanpa
menggunakan Surat Keterangan Bebas (SKB).

Bentuk fasilitas:

a. Investment allowance 30% dari jumlah penanaman modal, selama 6 tahun;


b. Penyusutan dan amortisasi yang dipercepat;
c. Tarif pph 10% atas dividen kepada subjek pajak luar negeri atau tarif yang lebih
rendah menurut P3B;
d. Kompensasi kerugian 5 s.d. 10 tahun dengan ketentuan:

Tambahan 1 tahun: penanaman modal di kawasan industri dan kawasan berikat;

Tambahan 1 tahun: tenaga kerja indonesia minimal 500 orang selama 5 tahun
berturut-turut;

Tambahan 1 tahun: pengeluaran infrastruktur ekonomindan sosial di lokasi usaha


minimal Rp10 miliar;

Tambahan 1 tahun: biaya litbang di dalam negeri untuk pengembangan atau


efisiensi produk minimal 5% dari investasi dalam jangka waktu 5 tahun; dan/atau

Tambahan 1 tahun : menggunakan bahan baku dan komponen hasil produksi


dalam negeri minimal 70% sejak tahun ke-4.

e. Dikecualikan dari pemungutan pph pasal 22 impor atas impor barang berupa mesin
dan peralatan baik dalam keadaan terpasang maupun terlepas, tidak termasuk suku
cadang.

Prosedur:

a. Permohonan WP harus disampaikan kepada kepala BKPM untuk, kemudian


diusulkan kepada menteri keuangan melalui Dirjen Pajak dengan melampirkan:

Fotokopi Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP);

Izin prinsip penanaman modal baru atau perluasan, termasuk rinciannya.

26
b. Usulan yang diterima oleh Dirjen Pajak akan diteliti untuk kemudian diterbitkan
keputusan mengenai pemberian/penolakan dalam waktu selambatnya 10 hari kerja
setelah usulan diterima
c. Fasilitas ini dimnfaatkan dengan cara self-assessment tanpa perlu menyampaikan
permohonan untuk dapat memperoleh fasilitas tersebut.

5. Kemudahan Penghitungan Pajak Penghasilan Atas Penghasilan Usaha Dengan


Peredaran Bruto Tertentu

Kriteria penerima:

a. WP OP atau badan tidak termasuk bentuk usaha tetap (BUT);


b. Menerima penghasilan dari usaha bagi WP OP tidak termasuk penghasilan dari jasa
sehubungan dengan pekerjaan bebas;
c. Memiliki peredaran bruto tidak melebihi Rp4,8M dalam 1 tahun pajak;
d. Tidak termasuk WP OP yang dalam usahanya;
Menggunakan sarana/prasarana yang dapat dibongkar pasang, baik yang
menetap/tidak menetap
Menggunakan sebagian/seluruh tempat untuk kepentingan umum yang tidak
diperuntukan bagi tempat usaha atau berjualan
e. Tidak termasuk WP badan yang:
Belum beroperasi secara komersial; atau
Dalam jangka waktu 1 tahun serelah beroperasi secara komersial, memperoleh
peredaran bruto lebih dari Rp4,8 M.

Bentuk fasilitas:

Penyerdehanaan penghitungan pph atas penghasilan usaha, yaitu dengan dikenakan PPh
bersifat final sebesar 1% dihitung dari peredaran usaha

6. Penurunan Tarif PPh Bagi Perseroan Terbuka

Kriteria penerima:

a. WP badan dalam negeri yang berbentuk Perseroan Terbuka, dengan syarat:


b. Minimal 40% dari keseluruhan saham disetor dan diperdagangkan di bursa efek di
Indonesia;
c. Saham tersebut dimiliki paling sedikit oleh 300 pihak;
d. Masing-masing pihak hanya boleh memiliki saham kurang dari 5%dari keseluruhan
saham yang disetor;
e. Ketentuan tersebut harus dipenuhi dalam waktu minimal 6 bulan dalam jangka waktu
1 tahun pajak.

27
Bentuk fasilitas:

Penurunan tarif pph 5% lebih rendah dari tarif tertinggi PPh WP badan dalam negeri
sebagaimana diatur dalam Pasal 17 ayat (1) huruf b UU PPh.

Prosedur:

Fasilitas ini dimanfaatkan dengan cara self-assessment pada saat penyampaian SPT Tahunan
PPh WP badan, yaitu dengan:

a. Melampirkan surat keterangan dari Biro Administrasi Efek berupa formulir X.H.1-6
sebagaimana diatur dalam Peraturan Bapepam dan LK Nomor X.H.1 untuk setiap
tahun pajak terkait;
b. Mencantumkan nama WP, NPWP, Tahun Pajak, serta menyatakan bahwa ketentuan
tersebut dipenuhi dalam waktu yang singkat 6 bulan dalam jangka waktu 1 tahun
pajak.

7. Pengurangan 50% Tarif PPh Bagi Wajib Pajak Badan

Kriteria penerima:

a. WP badan dalam negeri dengan peredaran bruto sampai dengan Rp50 M;


b. Peredaran bruto dalam hal ini, yaitu penghasilan yang diterima atau diperoleh dari
kegiatan usaha sebelum dikurangi biaya untuk mendapatkan, menagih; dan
c. Memelihara penghasilan baik yang berasal dari Indonesia maupun dari luar Indonesia
meliputi:
Penghasilan yang dikenai PPh bersifat final;
Penghasilan yang dikenai PPh tidak bersifat final; dan
Penghasilan yang dikecualikan dari objek pajak.

Bentuk fasilitas:

Pengurangan tarif sebesar 50% dari tarif WP badan dalam negeri yang dikenakan atas
Penghasilan Kena Pajak dari bagian peredaran bruto sampai dengan Rp4,8M

Prosedur:

Fasilitas ini dimanfaatkan dengan cara self-assessment pada saat penyampaian Tahunan PPh
WP badan.

28
8. Pengurangan Angsuran PPh Pasal 25 Dalam Tahun Berjalan

Kriteria penerima:

WP yang sudah 3(tiga) bulan atau lebih berjalannya suatu tahun pajak, dapat menunjukkkan
Pajak Penghasilan yang akan terutang untuk tahun pajak tersebut kurang dari 75% dari Pajak
Penghasilan yang terutang tahun sebelumnya yang menjadi dasar perhitungan besarnya Pajak
Penghasilan Pasal 25.

Bentuk fasilitas:

Pengurangan besarnya Pajak Penghasilan Pasal 25 dalam tahun berjalan.

Prosedur:

a. Mengajukan permohonan pengurangan angsuran PPh Pasal 25 apabila terjadi


perubahan keadaan usaha atau kegiatan WP kepada KPP tempat WP terdaftar.
b. Menyertakan penghitungan PPh yang akan terutang berdasarkan perkiraan
penghasilan yang akan diterima atau diperoleh dan besarnya PPh Pasal 25 untuk
bulanbulan yang tersisa dalam Tahun Pajak berjalan.

9. Pegurangan PPh Pasal 25 Dan/Atau Penundaan Pembayaran PPh Pasal 29 Bagi


Wajib Pajak Industri Tertentu

Kriteria penerima:

WP yang melakukan kegiatan usaha pada bidang:

a. Industri tekstil;
b. Industri pakaian jadi;
c. Industri alas kaki;
d. Industri furniture; dan/atau
e. Industri mainan anak-anak, yang mendapat rekomendasi dari menteri perindustrian.

Bentuk fasilitas:

a. Pengurangan PPh pasal 25 untuk Masa Pajak September 2013 s.d. Desember 2013
paling tinggi sebesar:
25% dari PPh Masa Pajak Agustus 2013, bagi WP yang tidak berorientasi ekspor;
50% dari PPh Pasal 25 Masa Pajak Agustus 2013, bagi WP yang berorientasi
ekspor;

29
b. Penundaan pembayaran PPh Pasal 29 paling lama 3 bulan dari saat terutangnya PPh
pasal 29.

Prosedur:

a. Pengurangan PPh Pasal 25:


1. WP menyampaikan permohonan tertulis kepada Kepala KPP tempat WP
terdaftar paling lambat pada akhir Masa Pajak dimulainya pengurangan PPh
Pasal 25

2. Permohonan dilampiri:

fotokopi surat rekomendasi Menteri Perindustrian;


fotokopi NPWP;
fotokopi SK pengurangan PPh Pasal 25 sesuai KEP-537/PJ/2000 bagi
WP yang pernah menerima persetujuan pengurangan PPh Pasal 25
utnuk tahun pajak 2013;
3. Kepala KPP memberikan keputusan persetujuan penguranga PPh Pasal 25
paling lambat 5 hari kerja sejak permohonan diterima lengkap.
b. Penundaan pembayaran PPh Pasal 29:
1. WP menyampaikan permohonan tertulis kepada Kepala KPP tempat WP terdaftar
paling lambat 20 hari kerja sebelum saat terutangnya PPh Pasal 29
2. Permohonan dilampiri:
Fotokopi surat rekomendasi Menteri Perindustrian;
Fotokopi NPWP;
3. Kepala KPP memberikan keputusan pemberian penundaan pembayaran PPh Pasal
29 paling lambat 5 hari kerja sejak permohonan diterima lengkap.

10. Bantuan, Sumbangan , dan Hibah Yang Dikecualikan Sebagai Objek PPh

Kriteria penerima:

a. Anggota keluarga, yaitu orang tua dan anak kandung;


b. Badan keagamaan;
c. Badan pendidikan;
d. Badan sosial nirlaba tertentu; atau
e. Orang pribadi yang menjalankan usaha mikro dan kecil dengan batasan tertentu yang
menerima bantuan, sumbangan, dan hibah.

Bentuk fasilitas:

Hibah,bantuan, atau sumbangan yang diterima dikevualikan dari objek PPh

30
Prosedur:

Fasilitas ini dimanfaatkan dengan cara self-assessment tanpa perlu menyampaikan


permohonan untuk dapat memperoleh fasilitas tersebut.

11. Bantuan/Santunan Yang Dibayarkan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial


Dikecualikan Dari Objek PPh

Kriteria penerima:

WP yang menerima bantuan/santunan dari:

a. Persero Jaminan Sosial Tenaga Kerja (JAMSOSTEK);


b. Persero Tabungan dan Asuransi Pegawai Negeri (TASPEN);
c. Persero Asuransi Sosial Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ASABRI);
d. Persero Asuransi Kesehatan Indonesia (ASKES); dan/atau
e. Badan hukum lainnya yang dibentuk untuk menyelenggarakan Program Jaminan
Sosial.

Bentuk fasilitas:

Bantuan/santunan yang diberikan kepada WP dan/atau masyarakat yang:

a. Hidup di bawah garis kemiskinan sesuai data dan Kriteria Biro Pusat Statistik;
b. Sedang tertimpa bencana alam;
c. Tertimpa kecelakaan yang tidk dapat diperkirakan sebelumnya dan membahayakan
atau mengancam keselamatan jiwa dikecualikan dari Objek Pajak Penghasilan.

Prosedur:

Fasilitas ini dimanfaatkan dengan cara self-assessment tanpa perlu menyampaikan


permohonan untuk dapat memperoleh fasilitas tersebut

12. Zakat dan Sumbangan Wajib Keagamaan Dikecualikan Dari Objek PPh

Kriteria penerima:

a. Badan Amil Zakat (BAZ) atau Lembaga Amil Zakat atau lembaga keagamaan yang
dibentuk atau disahkan Pemerintah;
b. Penerima zakat atau sumbangan wajib keagamaan yang berhak dan tidak ada
hubungan dengan usaha, pekerjaan, atau penguasaan di antara pihak-pihak yang
bersangkutan.

31
Bentuk fasilitas:

Zakat atau sumbangan keagamaan yang sifatnya wajib dalam bentuk uang atau barang yang
diterima oleh pihak penerima dikecualikan sebagai objek PPh

Prosedur:

Fasilitas ini dimanfaatkan dengan cara self-assessment tanpa perlu menyampaikan


permohonan untuk dapat memperoleh fasilitas tersebut.

13. Sisa Lebih Badan/Lembaga Nirlaba Yang Dikecualikan Dari Objek PPH

Kriteria Penerima:

Badan/lembaga nirlaba bergerak di bidang pendidikan dan atau litbang terdaftar pada instansi
yang membidanginya yang menanamkan kembali sisa lebihnya dalam bentuk sarana dan
prasarana meliputi:

a. Gedung dan prasarana penddikan, litbang, termasuk pembelian tanah;


b. Sarana/prasarana kantor, laboratorium dan perpustakaan;
c. Asrama mahasiswa, rumah dinas guru, dosen, atau karyawan dan sarana prasarana
olahraga, sepanjang berada di lingkungan/lokasi lembaga pendidikan formal.

bentuk fasilitas:

Sisa lebih yang ditanamkan kembali dalam bentuk sarana/prasarana dikecualikan dari objek
PPh paling lama 4tahun sejak diperolehnya sisa lebih. Sisa lebih dalam konteks ini adalah
selisih dari seluruh penerimaan yang merupakan objek PPh selain penghasilan yang
dikenakan PPh tersendiri, dikurangi dengan pengeluaran untuk biaya operasional sehari-hari.

Prosedur:

a. WP menyampaikan pemberitahuan kepada Kepala KPP tempat WP terdaftar


mengenai:

Rencana fisik sederhana, dan

Rencana biaya pembangunan dan pengadaan.

b. Pemberitahuan tersebut disampaikan:


Pada saat penyampaian SPT Tahunan PPh Tahun Pajak diperbolehnya sisa
lebih tersebut atau paling lama sebelum pembangunan dan pengadaan sarana
dan prasarana dimulai, dalam jangka waktu 4 tahun sejak diperbolehnya sisa
lebih tersebut;
32
Dengan tindakan/carbon copy kepada instansi yang membidanginya

14. Beasiswa Yang Dikecualikan Dari Objek PPH

Kriteria Penerima:

Warga Negara Indonesia yang menerima beasiswa dengan syarat:

a. Untuk pendidikan formal dan/atau nonformal di dalam negeri dan/atau di luar negeri;
b. Tidak memiliki hubungan istimewa dengan pemilik, komisaris, direksi atau pengurus
WP pemberi beasiswa;
c. Komponen beasiswa dalam hal ini adalah tuition fee, biaya ujian, biaya penelitian,
biaya buku, dan biaya hidup.

Bentuk fasilitas:

Beasiswa dikecualikan dari objek PPh.

Prosedur:

Fasilitas ini dimanfaatkan dengan cara self-assessment tanpa perlu menyampaikan


permohonan untuk dapat memperoleh fasilitas tersebut.

15. Penghasilan tertentu dana pensiun yang dikeualikan dari objek pph

Kriteria penerima:

Dana pensiun yang pendiriannya disahkan oleh Menteri Keuangan.

Bentuk fasilitas:

Pengecualian dari objek PPh atas penghasilan tententu dana pensiun sebagai berikut:

a. Bunga, diskonto, imbalan dari deposito, sertifikat deposito dan tabungan pada bank di
Indonesia, serta SBI;
b. Bunga,diskonto, imbalan dari obligasi syariah, Surat Berharga Syariah Negara, dan
Surat Perbendaharaan Negara pada bursa efek di Indonesia; atau
c. Dividen dari saham pada PT yang tercatat pada bursa efek Indonesia.

Prosedur:

33
a. Untuk dikecualikan dari pemotongan PPh atas bunga deposito dan tabungan serta
diskonto SBI , WP harus mengajukan permohonan SKB secara tertulir kepada Kepala
KPP tempat dana pensiun terdaftar sebagai WP dengan dilampiri:
Fotokopi KMK Pengesahan Pendirian Dana Pensiun;
Fotokopi Neraca;
Fotokopi Laporan Sisa Hasil Usaha;
Fotokopi Laporan Arus Kas dan Bank;
Fotokopi Laporan Investasi; dan
Daftar sertifikat/bilyet/buku deposito,tabungan, dan SBI.
b. Kepala KPP memberikan jawaban permohonan WP paling lambat 7 hari kerja setelah
permohonan WP;jika tidak, permohonan WP diterima dan SKB diterbitkan 3 hari
kerjaberikutnya;
c. Masa berlaku SKB meliputi periode 1januari s.d. 31 desember. Dalam hal ini
permohonan SKB diterima lengkap oleh Kepala KPP setelah 1 januari , SKB berlaku
sejak tanggal permohonan SKB diterima lengkap oleh Kepala KPP s.d. 31 Desember.
d. Dana pensiun yang memperoleh SKB wajib menyampaikan laporan investasi setiap
semester selambat-lambatnya pada tanggal 31 Juli untuk semester pertama dan
tanggal 31 januari untuk semester kedua.

16. Keuntungan Karena Pembebasan Utang Debitur Kecil Dikecualikan dari Objek Pajak
Kriteria Penerima:
Debitur Kecil yang mempunyai utang usaha berjumlah tidak lebih dari Rp350 Juta
termasuk:
a. Kredit Usaha Keluarga Prasejahtera (Kukesra);
b. Kredit Usaha Tani (KUT);
c. Kredit Pemilik Rumah Sangat Sederhana (KPRSS);
d. Kredit Usaha Kecil (KUK);
e. Kredit kecil lainnya dalam rangka kebijakan perkreditan BI dalam mengembangkan
UKM dan Koperasi.

Bentuk Fasilitas:
Keuntungan atas pembebasan utang debitur kecil dikecualikan dari objek PPh.

Prosedur:
Fasilitas ini dimanfaatkan dengan cara self-assessment tanpa perlu menyampaikan
permohonan untuk dapat memperoleh fasilitas tersebut.
Referensi
a. Pasal 4 ayat (1) UU PPh.
b. PP 130/2000.

34
17. Pembentukan atau Pemupukan Dana Cadangan yang Boleh Dibebankan sebagai
Biaya.
Kriteria Penerima:
a. Bank, sewa guna usaha dengan hak opsi, perusahaan pembiayaan konsumen, dan
perusahaan anjak piutang;
b. Badan usaha lain yang menyalurkan kredit, meliputi:
Koperasi simpan pinjam;
PT Permodalan Nasional Madani (Persero);
Lembaga pembiayaan ekspor Indonesia;
Perusahaan pembiayaan infrastruktur yang melakukan;
Pembiayaan dalam bentuk penyediaan dana pada proyek infrastruktur; dan
PT Perusahaan Pengelola Aset.
c. Asuransi dan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial;
d. Lembaga Penjamin Simpanan;
e. WP pertambangan;
f. WP di bidang usaha kehutanan; dan
g. WP di bidang usaha pengolahan limbah industri.

Bentuk Fasilitas:

Pembentukan atau pemupukan dana cadangan yang boleh dikurangkan sebagai


biaya:

a. Cadangan piutang tak tertagih untuk usaha bank dan badan usaha lain yang
menyalurkan kredit, sewa guna usaha dengan hak opsi, perusahaan pembiayaan
konsumen, dan perusahaan anjak piutang;
b. Cadangan premi untuk usaha asuransi;
c. Cadangan penjaminan untuk lembaga penjamin simpanan;
d. Cadangan biaya reklamasi untuk usaha pertambangan;
e. Cadangan biaya penanaman kembali untuk usaha kehutanan; dan
f. Cadangan biaya penutupan dan pemeliharaan tempat pembuangan limbah industri
untuk usaha pengolahan limbah industri.

Prosedur:

Fasilitas ini dilaksanakan dengan cara self-assessment tanpa perlu menyampaikan


permohonan, untuk dapat memperoleh fasilitas tersebut.

Referensi:

a. Pasal 9 ayat (1) huruf c UU PPh.


b. PMK-81/PMK.03/2009 s.t.d.d PMK-219/PMK.011/2012.
c. SE-97/PJ/2011.

35
18. Penghapusan Piutang Yang Nyata-Nyata Tidak Dapat Ditagih Yang Dapat Dikurangkan
Dari Penghasilan Bruto.
Kriteria Penerima:
WP yang melakukan sepanjang memenuhi persyaratan:
a. Telah dibebankan dalam Laporan rugi laba komersial;
b. Meyerahkan daftar piutang tersebut kepada DJP; dan
c. Telah menyerahkan perkara penagihannya kepada Pengadilan Negeri atau instansi
pemerintah yang menangani piutang negara, atau telah dipublikasikan dalam
penerbitan umum atau khusus, atau adanya pengakuan debitur tentang
penghapusan utang.

Bentuk Fasilitas:
Penghapusan piutang yang nyata-nyata tidak dapat ditagih dapat dibebankan secara
fiskal sepanjang memenuhi persyaratan.

Prosedur:
Bersama dengan penyampaian SPT Tahunan WP harus meyampaikan:

a. Daftar piutang tersebut (hardcopy/softcopy) yang mencantumkan identitas debitur


berupa nama, NPWP, alamat, dan jumlah piutang; dan
b. Fotokopi bukti penyerahan perkara penagihannya; atau
c. Fotokopi perjanjian penghapusan piutang yang telah dilegalisasi oleh notaris; atau
d. Fotokopi bukti publikasi dalam penerbitan umum atau penerbitan khusus; atau
e. Surat pengakuan dari debitur tentang penghapusan utang.

Referensi:

a. Pasal 6 ayat (1) huruf h UU PPh


b. PMK-105/PMK.03/2009 s.t.d.d PMK-57/PMK.03/2010

19. Zakat Dan Sumbangan Wajib Keagamaan Lainnya Sebagai Pengurangan Penghasilan
Bruto
Kriteria Penerima:
WP OP dan/atau WP Badan pemeluk agama yang diakui di Indonesia yang
membayarkan pada BAZ atau LAZ atau Lembaga keagamaan yang dibentuk atau
disahkan oleh Pemerintah.

Bentuk Fasilitas:
Zakat atau sumbangan keagamaan yang sifatnya wajib berupa uang atau yang
disertakan dengan uang dapat dikurangkan dari penghasilan bruto.

36
Prosedur:
Dilaporkan dalam SPT Tahunan dalam Tahun Pajak dibayarkan zakat atau smbangan
wajib keagamaan, dengan didukung bukti yang sah berupa lampiran fotokopi bukti
pembayaran yang:
1. Dapat berupa:
a. Bukti pembayaran secara langsung atau melalui transfer rekening bank, atau
b. Pembayaran melalui Anjungan Tunai Mandiri (ATM).
2. Paling sedikit memuat:
a. Nama lengkap WP dan NPWP pembayar;
b. Jumlah pembayaran;
c. Tanggal pembayaran;
d. Nama BAZ; LAZ; atau lembaga keagamaan yang dibentuk atau disahkan
Pemerintah; dan
e. Tanda tangan petugas BAZ; LAZ; atau lembaga keagamaan yang dibentuk dan
disahkan Pemerintah di bukti pembayaran, apabila pembayaran secara
langsung; atau
f. Validasi petugas bank pada bukti pembayaran, apabila pembayaran melalui
transfer rekening bank.

Referensi:

a. Pasal 9 ayat (1) huruf g UU PPh


b. PP 60/2010
c. PMK 254/PMK.03/2010
d. PER-6/PJ/2011
e. PER-33/PJ/2011 s.t.d.d. PER-15/PJ/2012

20. Sumbangan Yang Dapat Dikurangkan Dari Penghasilan Bruto


Kriteria Penerima:
WP yang memberikan:
a. Sumbangan bencana nasional;
b. Sumbangan untuk litbang di Indonesia;
c. Sumbangan fasilitas pendidikan;
d. Sumbangan pembinaan olahraga; dan
e. Biaya pembangunan infrastruktur sosial sepanjang memenuhi kriteria:
Berdasarkan SPT PPh WP untuk Tahun Pajak sebelumnya terdapat penghasilan
neto fiskal;
Pemberian sumbangan dan/atau biaya tidak menyebabkan rugi pada Tahun
Pajak sumbangan diberikan.

37
Bentuk Fasilitas:

Sumbangan/biaya berikut dapat dibebankan secara fiskal:

a. Sumbangan bencana nasional, kepada badan penangulangan bencana atau lembaga


atau pihak yang telah mendapat izin;
b. Sumbangan untuk litbang di Indonesia, kepada lembaga penelitian dan
pengembangan;
c. Sumbangan fasilitas pendidikan, kepada lembaga pendidikan;
d. Sumbangan pembinaan olahraga, kepada lembaga pembinaan olahraga;
e. Biaya pembangunan infrastruktur sosial, dengan cara membangun sarana dan
prasarana untuk kepentingan umum dan bersifat nirlaba, sepanjang total
sumbangan/biaya tersebut tidak melebihi 5% dari penghasilan neto fiskal tahun
sebelumnya.

Prosedur:

WP wajib melampirkan bukti penerimaan sumbangan/biaya sesuai dengan lampiran


PMK-76/PMK.03/2011 pada SPT Tahunan PPh di tahun pajak pemberian
sumbangan/biaya.

Referensi:

a. PP 93/2010
b. PMK-76/PMK.03/2011

21. PEMBERIAN NATURA BAGI PEGAWAI YANG DAPAT DIBEBANKAN SEBAGAI BIAYA
Kriteria:
WP pemberi kerja yang memberikan natura dan kenikmatan tertentu bagi pegawainya

Bentuk Fasilitas:
Pemberian natuta dan kenikmatan dalam bentuk :
a. Makanan dan/atau minuman bagi seluruh pegawai;
b. Sarana dan prasarana berkenaan dengan pelaksanaan pekerjaan yang belum
tersedia di daerah tertentu; dan
c. Sarana keselamatan kerja atau yang diharuskan dalam pekerjaan dapat dikurangkan
dari penghasilan bruto dan merupakan objek pajak bagi karyawan.

Prosedur:

a. Fasilitas terkait natura dan kenikmatan berupa :


Makanan dan/atau minuman bagi seluruh pegawai
Sarana keselamatan kerja atau yang diharuskan dalam pekerjaan.

38
Dapat dimanfaatkan dengan cara self-assessment pada saat penyampaian SPT
Tahunan PPh dan WP tidak perlu menyampaikan permohonan fasilitas.
b. Fasilitas terkait natura dan kenikmatan berupa sarana dan prasaranan berkenaan
dengan pelaksanaan pekerjaan yang belum tersedia di daerah tertentu, WP harus
mengajukan permohonan kepada Kepala Kantor Wilayah DJP yang membawahi KPP
tempat WP terdaftar untuk ditetapkan sebagai WP di daerah tertentu, dengan
mengisi formulir dan melampirkan :
Fotokopi Surat Persetujuan penanaman modal dari BKPM;
Fotokopi peta lokasi;
Fotokopi laporan keuangan terakhir sebelum tahun permohonan; dan
Penyertaan mengenai keadaan prasarana ekonomi dan sarana transportasi
umum dengan menggunakan formulir yang telah disediakan.

Referensi:

a. Pasal 9 ayat (1) huruf e UU PPh


b. PMK-83/PMK.03/2009
c. PER-51/PJ/2009

22. BIAYA TELEPON SELULER DAN KENDARAAN PERUSAHAAN YANG BOLEH DIBEBANKAN
SEBAGAI BIAYA
Kriteria:
a. Wajib Pajak yang membebankan biaya telepon seluler dan kendaraan perusahaan
b. Fasilitas ini dimanfaatkan dengan cara self-assessment tanpa perlu menyampaikan
permohonan.

Bentuk Fasilitas:

a. Biaya terkait telepon seluler untuk pegawai tertentu


Pembelian telepon seluler dapat dibebankan 50% melalui penyusutan aset
tetap kelompok I;
Biaya pulsa dan perbaikan telepon seluler dapat dibebankan 50% di tahun
pajak bersangkutan.
b. Biaya Kendaraan Perusahaan berupa:
Bus, minibus/sejenis untuk antar-jemput para pegawai:
Perolehan /perbaikan besar dapat dibebankan seluruhnya melalui
penyusutan kelompok II
Biaya pemeliharaan/perbaikan rutin dapat dibebankan seluruhnya di
tahun pajak bersangkutan
Sedan/sejenis untuk pegawai tertentu:
Perolehan/perbaikan besar dapat dibebankan sebesar 50% melalui
penyusutan kelompok II

39
Biaya pemeliharaan/perbaikan rutin dapat dibebankan sebesar 50% di
tahun pajak bersangkutan

Referensi:

a. PMK-96/PMK.03/2009
b. KEP-220/PJ./2002
c. SE-09/PJ.42/2002
23. FASILITAS DALAM RANGKA MERGER ATAU PEMEKARAN USAHA
Kriteria Penerima:
WP yang melakukan pengalihan harta dalam rangka merger atau pemekaran usaha.
a. Marger yang diperbolehkan dalam hal ini meliputi :
Penggabungan usaha dengan syarat salah satu badan usaha tidak mempunyai
sisa kerugian atau mempunyai sisa kerugian yang lebih kecil;
Peleburan usaha dua atau lebih WP badan dengan cara mendirikan badan
usaha baru;
b. Pemekaran usaha yang diperbolehkan dalam hal ini meliputi pemekaran usaha
oleh:
WP belum Go Public yang akan melakukan penawaran umum perdana (Intital
Public Offering); atau
WP Go Public sepanjang seluruh badan usaha hasil pemakaran melakukan
penawaran umum perdana.

Bentuk Fasilitas:

WP yang melakukan marger atau spim-off tersebut diperbolehkan untuk menggunakan


nilai buku pada saat pengalihan harta.

Prosedur:

a. Mengajukan permohonan kepada Direktur Jendral Pajak dengan melampirkan


alasan dan tujuan melakukan marger dan pemekaran usaha paling lama enam
bulan setelah tanggal efektif marger/pemekaraan usaha.
b. Melunasi seluruh utang pajak dari tiap badan usaha yang terkait; dan
c. Memenuhi persyaratan tujuan bisnis;
d. Melampirkan laporan keuangan dari WP yang mengalihkan harta dan laporan
keuangan dari WP yang meneriima hart khususnya untuk tahun pajak dilakukannya
pengalihan harta yang diaudit oleh akuntan publik.

Referensi:

a. Pasal 10 ayat (3) UU PPh


b. PMK-43/PMK.03/2008
c. PER-28/PJ/2008

40
d. SE-45/PJ/2008

24. FASILITAS PPh ATAS REVALUASI ASET TETAP DAN ANGSURAN


PEMBAYARANNYA
Kriteria Penerima:
WP Badan dalam negeri dan BUT dapat melakukan penilaian kembali (revaluasi) aset
tetap dengan syarat:
a. Telah memenuhi semua kewajiban pajaknya s.d. masa pajak terakhir sebelum masa
pajak dilakukannya revaluasi;
b. Tidak termasuk WP dengan izin pembukaan dalam bahas Inggris dan mata uang
dolar Amerika Serikat

Bentuk Fasilitas

Selisih lebih revaluasi aset tetap di atas nilai sisa buku fiskal dikenakan PPh Final 10%
dan pembayarannya diangsur paling lama 12 bulan

Prosedur:

a. Untuk dapat melakukan revaluasi aset tetap, WP harus mengajukan


permohonanan kepada DJP melalui Kepala Wilayah DJP dengan mengisi
formulir dan melampirkan:
Fotokopi surat izin usaha jasa penilai atau ahli penilai yang dilegalisasi;
Laporan penilaian oleh perusahaan jasa penilai;
Daftar revaluasi aset tetap untuk tujuan perpajakan;
Laporan keuangan tahun buku terakhir sebelum revaluasi aset tetap.
b. Ketentuan revaluasi aset tetap untuk tujuan perpajakan adalah sebagai berikut:
Revaluasi dilakukan terhadap seluruh aset berwujud termasuk tanah atau tidak
termasuk tanah;
Revaluasi tidak dapat dilakukan kembali sebelum lewat 5 tahun sejak revaluasi
terakhir;
Revaluasi didasarkan pada nilai pasar atau nilai wajar aset tetap dengan
penilaian (appraisal) oleh jasa penilai atau ahli penilai yang memperoleh izin
dari pemerintah
Revaluasi dilakukan selambatnya 1 tahun setelah appraisal.
c. Untuk dapat mengangsur PPh Final 10% atas selisih lebih revaluasi aset tetap,
WP mengajukan permohonan angsuran kepada Kepala Kantor Wilayah DJP
bersamaan dengan permohonan revaluasi aset tetap.
d. Permohonan angsuran disampaikan sesuai dengan formulir dan melampirkan
proyeksi arus kas yang menunjukkan bahwa kondisi keuangan WP tidak
memungkinkan untuk melunasi sekaligus PPh Final 10%.

Referensi:

41
a. Pasal 19 UU PPh
b. PMK-79/PMK.03/2008
c. PER-12/PJ./2009

25. PENANGGUHAN SAAT MULAI PENYUSUTAN UNTUK BIAYA PEROLEHAN


HARTA BERWUJUD BIDANG USAHA TERTENTU

Kriteria Penerima :

Wajib Pajak yang bergerak dalam bidang usaha tertentu, yaitu :

a. Bidang usaha perkebunan tanaman keras;


b. Bidang usaha kehutanan; dan
c. Bidang usaha peternakan;
Yang tanaman/ternaknya dapat berproduksi berkali-kali, dan baru menghasilkan setelah
ditanam/dipelihara lebih dari satu tahun.

Fasilitas ini dimanfaatkan dengan cara self-assessment tanpa perlu menyampaikan


permohonan untuk dapat memperoleh fasilitas tersebut.

Bentuk Fasilitas :

a. Penangguhan saat mulai penyusutan untuk biaya perolehan harta berwujud bidang usaha
tertentu;

b. Penyusutan harta berwujud bidang usaha tertentu dimulai pada bulan produksi komersial;

c. Bulan produksi komersial adalah bulan dimana penjualan mulai dilakukan;

d. Harta berwujud yang saat penyusutannya ditangguhkan yaitu asset tetap yang dimiliki dan
digunakan serta merupakan komoditas pokok dalam bidang usaha tertentu;

e. Biaya perolehan yang saat penyusutannya ditangguhkan, termasuk biaya pembelian bibit,
biaya untuk membesarkan dan memelihara bibit, namun tidak termasuk biaya tenaga kerja;

f. Kelompok penyusutan harta berwujud bidang usaha tertentu :

Bidang usaha perkebunan tanaman keras, kelompok 4 (20 tahun);


Bidang usaha kehutanan, kelompok 4 (20 tahun);
Bidang usaha peternakan, kelompok 2 (8 tahun).

Referensi :

a. Pasal 11 ayat (7) UU PPh.


b. PMK-249/PMK.03/2008 s.t.d.d. PMK-126/PMK.011/2012.

42
26. FASILITAS PPh BERUPA SAAT PENGAKUAN PENGHASILAN DARI
PENGALIHAN HARTA/AGUNAN BERUPA TANAH DAN ATAU BANGUNAN
BAGI WAJIB PAJAK TERTENTU

Kriteria Penerima :

a. Bank Umum mengalihkan agunan tersebut kepada pembeli yang sebenarnya.


b. Bank dalam Penyehatan Badan Perbankan Nasional (BPPN);
c. Perusahaan Terafiliasi Bank dalam Penyehatan;
d. Debitur yang langsung/tidak langsung mempunyai kewajiban pembayaran kepada Bank
Dalam Penyehatan, BPPN, dan atau Perusahaan Terafiliasi Bank Dalam Penyehatan,
termasuk Bank yang mempunyai kewajiban kepada Bank Indonesia dalam kaitan dengan
fasilitas Bank Indonesia;
e. Pemegang saham, Direktur, atau Komisaris Bank Dalam Penyehatan;
f. Debitur/Pemilik Agunan pada Bank Umum, yang diambil alih harta/agunannya dalam
rangka melaksanakan restrukturisasi perusahaan.
g. Fasilitas ini dimanfaatkan dengan cara self assessment tanpa perlu menyampaikan
permohonan untuk dapat memperoleh fasilitas tersebut.

Bentuk Fasilitas :

Penundaan pengakuan penghasilan atas pengalihan :

a. Harta berupa tanah dan atau bangunan milik WP tertentu yang dilakukan oleh BPPN
sampai pihak BPPN mengalihkan harta tersebut kepada pembeli yang sebenarnya;
b. Agunan berupa tanah dan atau bangunan milik WP tertentu yang dilakukan oleh Bank
Umum sampai dengan pihak Bank Umum mengalihkan agunan tersebut kepada pembeli
yang sebenarnya.
c. WP tertentu tersebut ditetapkan dalam PP Nomor 17 Tahun 1999 tentang BPPN dan
Undang-Undang No. 10 Tahun 1998 tentang Perbankan.

Referensi :

a. KEP-141/PJ/1999.
b. SE-27/PJ.42/1999.

27. FASILITAS PPh ATAS PENGHASILAN BUNGA KREDIT NON-PERFORMING


OLEH BANK

Kriteria Penerima :

Wajib Pajak Bank

43
Bentuk Fasilitas :

a. Penghasilan bank berupa bunga kredit non-performing diakui pada saat penghasilan bunga
tersebut diterima oleh bank (cash basis).
b. Dalam hal bank membukukan penerimaan bunga kredit non-performing sebagai
pengurang pokok kredit, saat pengakuan penghasilan ditunda hingga saat diterimanya
penghasilan bunga setelah pelunasan pokok kredit.
Prosedur :

Fasilitas ini dilaksanakan dengan cara self-assessment pada saat penyampaian SPT Tahunan
PPh Badan dengan melampirkan formulir daftar debitur yang kreditnya digolongkan kurang
lancar, diragukan, dan macet yang memuat :

Nomor urut;
Nama debitur;
NPWP;
Jumlah kredit non-performing loan yang digolongkan kurang lancar, diragukan, dan
macet;
Jumlah bunga akrual yang belum diakui sebagai penghasilan dalam laporan keuangan.

Referensi :

a. KEP-184/PJ./2002

b. SE-08/PJ.42/2002.

28. FASILITAS PPh TERKAIT SAAT PENGAKUAN PENGHASILAN BERUPA


KEUNTUNGAN KARENA PEMBEBASAN UTANG YANG DIPEROLEH DEBITUR
TERTENTU

Kriteria Penerima :

Debitur WP dalam negeri yang melakukan perjanjian restrukturisasi utang usaha dengan
BPPN sesuai dengan kebijakan pemerintah.

Bentuk Fasilitas :

Saat pengakuan penghasilan atas keuntungan karena pembebasan utang dapat dialokasikan
dalam jangka waktu paling lama 5 tahun, yaitu dalam jumlah bagian yang sama besarnya
setiap tahun dan dimulai dari tahun pajak saat diperolehnya pembebasan utang.

Prosedur :

a. Mengajukan permohonan tertulis kepada kepala KPP tempat debitur terdaftar sebagai
Wajib Pajak;

44
b. Permohonan diajukan paling lambat sebelum batas waktu penyampaian SPT Tahunan
tahun pajak diperolehnya penghasilan tersebut, dengan dilampiri fotokopi perjanjian
restrukturisasi utang usaha yang dilegalisasi oleh BPPN.

Referensi :

KEP-563/PJ./2001.

29. ORGANISASI INTERNASIONAL YANG TIDAK TERMASUK SUBJEK PPh.

Kriteria Penerima :

a. Organisasi internasional apabila memenuhi syarat :


Indonesia menjadi anggota organisasi tersebut; dan
Tidak menjalankan usaha atau kegiatan lain untuk memperoleh penghasilan dari
Indonesia selain pemberian pinjaman kepada pemerintah yang dananya berasal dari
iuran para anggota.
b. Organisasi internasional yang berbentuk kerja sama teknik dan atau kebudayaan dengan
syarat :
Kerjasama teknik tersebut memberi manfaat pada Negara/pemerintah Indonesia;
Tidak menjalankan usaha/kegiatan lain untuk memperoleh penghasilan dari
Indonesia.
c. Pejabat-pejabat perwakilan dari organisasi internasional apabila memenuhi syarat :
Bukan warga Negara Indonesia; dan
Tidak menjalankan usaha/kegiatan/pekerjaan lain untuk memperoleh penghasilan dari
Indonesia.
d. Organisasi-organisasi internasional yang telah memenuhi persyaratan harus ditetapkan
dalam Peraturan Menteri Keuangan.

Bentuk Fasilitas :

Organisasi-organisasi internasional yang telah memenuhi persyaratan tidak termasuk Subjek


PPh.

Prosedur :

Untuk dapat ditetapkan dalam Peraturan Menteri Keuangan sebagai organisasi internasional
yang tidak termasuk subjek pajak PPh, organisasi internasional tersebut harus mendapatkan
rekomendasi dari sekretariat Negara dan memenuhi proses pendaftaran organisasi
internasional di Indonesia sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku, antara
lain sebagaimana diatur dalam UU Nomor 37 Tahun 1999 tentang Hubungan Luar Negeri.

45
Referensi :

a. Pasal 3 ayat (1) huruf c UU PPh.

b. UU Nomor 37 Tahun 1999.

c. PMK-251/PMK.03/2008 s.t.d.t.d. PMK-142/PMK.03/2010.

30. FASILITAS PPh DITANGGUNG PEMERINTAH ATAS HIBAH DAN


PINJAMAN LUAR NEGERI

Kriteria Penerima :

Kontraktor, konsultan, dan pemasok untama berdasarkan kontrak melaksanakan proyek-


proyek pemerintah yang dibiayai dengan dana hibah dan atau dana pinjaman luar negeri,
termasuk tenaga ahli dan tenaga pelatih yang dibiayai dengan hiabh luar negeri.

Fasilitas ini dilaksanakan dengan cara self-assesment pada saat penyampaian SPT PPh.
Dengan demikian, WP tidak perlu menyampaikan permohonan untuk dapat memperoleh
fasilitas tersebut.

Bentuk fasilitas :

PPh yang terutang atas penghasilan yang diterima atau diperoleh kontraktor, konsultan, dan
pemasok utama dari pekerjaan yang dilakukan dalam rangka pelaksanaan proyek-proyek
pemerintah yang dibiayai dengan dana hibah atau pinjaman luar negeri, ditanggung oleh
pemerintah.

Referensi :

a. PP 42/1995 s.t.d.t.d PP 25/2001


b. KMK-239/KMK.01/1996 s.t.d.t.d KMK-486/KMK.04/2000
c. KEP-526/PJ./2000
d. SE-05/PJ.42/2001.

31. WP TERTENTU TIDAK WAJIB LAPOR SPT

Kriteria Penerima :

WP PPh tertentu, yaitu :

a. WP OP dibawah PTKP, yaitu WP OP yang dalam satu Tahun Pajak menerima atau
memperoleh penghasilan neto tidak melebihi PTKP; atau
b. WP OP tidak melakukan usaha/atau pekerjaan bebas, yaitu WP OP yang tidak
menjalankan kegiatan usaha atau tidak melakukan pekerjaan bebas;
c. WP PPh tertentu yang berhak atas fasilitas ini tidak perlu menyampaikan
permohonan.

46
Bentuk Fasilitas :

a. WP OP dibawah PTKP tidak wajib menyampaikan SPT Masa PPh Pasal 25 dan SPT
Tahunan PPh WP OP.
b. WP OP tidak melakukan usaha atau pekerjaan bebas tidak wajib menyapaikan SPT
Masa PPh Pasal 25.
Referensi :

a. Pasal 3 ayat (8) UU KUP


b. PMK-183/PMK.03/2007
32. KENAIKAN PENGHASILAN TIDAK KENA PAJAK (PTKP)

Kriteria Penerima :

a. WP OP dalam negeri
b. Fasilitas dilaksanakan dengan cara self-assesment tanpa perlu menyampaikan
permohonan dapat memperoleh fasilitas tersebut.
Bentuk Fasilitas :

PTKP per tahun diberikan paling sedikit sebesar :

a. Rp.15.840.000,00 untuk diri WP OP;


b. Rp.1.320.000,00 tambahan untuk WP yang kawin;
c. Rp.15.840.000,00 tambahan untuk seorang istri yang penghasilannya digabung
dengan penghasilan suami sebagaimana dimaksud dalam pasal 8 ayat (1); dan
d. Rp.1320.000,00 tambahan untuk setiap anggota keluarga sedarah dan keluarga
semenda dalam garis keturunan lurus serta anak angkat, yang menjadi tanggungan
sepenuhnya, paling banyak 3 orang untuk setiap keluarga.
Referensi :

Pasal 7 UU PPh

2.15. Pajak Penghasilan Pasal 21 (Orang Pribadi)

33. PPH PASAL 21 YANG DITANGGUNG PEMERINTAH BAGI PEJABAT


NEGARA, PNS, ANGGOTA ABRI, DAN PARA PENSIUNAN

Kriteria Penerima :

a. Pejabat Negara, untuk:


1. Gaji dan tunjangan lain yang sifatnya tetap dan teratur setiap bulan; atau
2. Imbalan tetap dan sejenisnya.
b. PNS, anggota TNI, dan anggota POLRI, untuk gaji dan tunjangan lain yang sifatnya
tetap dan teratur setiap bulan; dan

47
c. Pensiunan, untuk uang pensiun dan tunjangan lain yang sifatnya tetap dan teratur
setiap bulan.
Fasilitas ini dilaksanakan dengan cara self-assesment tanpa perlu menyampaikan permohonan
untuk dapat memperoleh fasilitas tersebut.

Bentuk Fasilitas :

PPh Pasal 21 yang terutang atas penghasilan tetap dan teratur setiap bulan yang menjadi
beban APBN atau APBD ditanggung oleh pemerintah.

Referensi :

a. PP 80/2010
b. PMK-262/PMK.03/2010

34.PENGENAAN PPH PASAL 21 DENGAN TARIF YANG LEBIH RENDAH DAN


BERSIFAT FINAL

Kriteria penerima :

Pegawai yang menerima atau memperoleh penghasilan berupa uang pesangon, uang manfaat
pensiun, tunjangan hari tua, atau jaminan hari tua yang dibayarkan sekaligus.

Fasilitas ini dilaksanakan ddengan cara self-assesment tanpa perlu menyampaikan


permohonan untuk dapat memperoleh fasilitas tersebut.

Bentuk Fasilitas :

Pengenaan PPh pasal 21 secara final atas penghasilan berupa uang pesangon sebesar:

a. 0% atas penghasilan bruto < Rp.50 Juta;


b. 5% atas penghasilan bruto diatas Rp.50 Juta s.d. Rp.100 Juta;
c. 15% atas penghasilan bruto diatas Rp.100 Juta s.d. Rp.500 Juta;
d. 25% atas penghasilan bruto > Rp.500 Juta.
Pengenaan PPh pasal 21 secara final atas penghasilan berupa Uang Manfaat Pensiun,
Tunjangan Hari Tua, Jaminan Hari Tua sebesar :

a. 0% atas penghasilan bruto < Rp.50 Juta;


b. 5% atas penghasilan bruo > Rp.50 Juta.
Referensi :

a. PP 68/2009
b. PMK-16/PMK.03/2010

48
35. PPH PASAL 21 PEGAWAI HARIAN, MINGGUAN, DAN PEGAWAI TIDAK
TETAP LAINNYA

Kriteria Penerima :

Pegawai harian dan mingguan, serta pegawai tidak tetap lainnya yang menerima atau
memperoleh penghasilan bruto sampai dengan jumlah Rp,150.000 sehari.

Pegawai yang berhak atas fasilitas ini tidak perlu menyampaikan permohonan.

Bentuk Fasilitas :

a. Penghasilan yang diterima atau diperoleh sampai dengan jumlah Rp.150.000 sehari
tidak dikenakan pemotongan PPh pasal 21.
b. Namun demikian, hal ini tidak berlaku dalamhal penghasilan bruto dimaksud
jumlahnya melebihi Rp.1.320.000 sebulan atau dalam hal penghasilan dimaksud
dibayar secara bulanan.
Referensi : PMK-254/PMK.03/2008

36. KANTOR PERWAKILAN NEGARA ASING DAN ORGANISASI INTERNASIONAL


YANG TIDAK WAJIB MEMOTONG PPH PASAL 21 /26

Kriteria Penerima :

Kantor perwakilan negara asing dan organisasi internasional yang telah ditetapkan dengan
Peraturan Menteri Keuangan.

Fasilitas ini dilaksanakan dengan cara self-assesment tanpa perlu menyampaikan permohonan
untuk dapat memperoleh fasilitas tersebut.

Bentuk Fasilitas :

Tidak diwajibkan memotong PPh pasal 21/26 atas penghasilan yang diterima/diperoleh
pejabat/pegawai yang bekerja dikantor perwakilan negara asing atau organisasi internasional
tersebut.

Referensi :

a. Pasal 21 ayat (2) UU PPh.


b. KMK-649/KMK.04/1994.
c. PMK-215/PMK.03/2008 s.t.d.t.d. PMK-142/PMK.03/2010.

49
2.16. PAJAK PENGHASILAN PASAL 22/23/26
37. Pengecualian Pemungutan PPh Pasal 22 Atas Impor dan Kegiatan Lain
Kriteria Penerima:
WP pemungut yang melakukan kegiatan tertentu yang dikecualikan pemungutan PPh
Pasal 22

prosedur:
tanpa surat keterangan bebas (SKB), untuk :
a. Impor yang dibebaskan dari pemungutan bea masuk dan PPN;
b. Impor sementara, yang ketentuannya dilaksanakan oleh Dirjen Bea Cukai dan
tata caranya diatur oleh Dirjen bea cukai dan atau Dirjen Pajak
Dengan SKB, untuk :
a. Impor yang tidak terutang PPh-nya
b. Impor emas batangan

referensi:
a. PMK-154/PMK.03/2010
b. PER-57/PJ/2010 s.t.d.d. PER-15/PJ/2011

38. PENGECUALIAN PENGENAAN PAJAK PPh PASAL 26 AYAT (4) (BRANCH


PROFIT TAX)

Kriteria Penerima :

BUT yang melakukan penanaman kembali dalam bentuk :

a. Penyertaan modal pada perusahaan baru di Indonesia sebagai pendiri;


b. Penyertaan modal pada perusahaan di Indonesia sebagai pemegang saham;
c. Pembelian aset tetap; atau
d. Investasi aset tidak berwujud.
Yang dilakukan paling lama akhir Tahun Pajak berikutnya, setelah diperolehnys
penghasilan.

Bentuk Fasilitas :

Pengecualian dari pengenaan PPh pasal 26 ayat (4).

Prosedur :

Menyampaikan pemberitahuan tertulis dan menyatakan :

50
Bentuk penanaman kembali, dilampirkan pada SPT Tahunan untuk Tahun Pajak
diterimanya penghasilan;
Realisasi penananman kembali dan/atau saat mulai berproduksi komersial,
dilampirkan pada SPT Tahunan untuk Tahun Pjak berikutnya setelah penghasilan
diterima Pemberitahuan tertulis disampaikan minimal dalam 3 tahun berturut-turut
sejak tahun penanaman kembali.
Referensi :

a. Pasal 26 ayat (4) UU PPh


b. PMK 14/PMK.03/2011
c. PER-16/PJ/2011

39. PENGECUALIAN PEMOTONGAN PPh ATAS BUNGA DEPOSITO DAN


TABUNGAN SERTA DISKONTO SERTIFIKAT BANK INDONESIA

Bentuk Fasilitas :

Pengecualian dari pemotongan PPh untuk penghasilan tertentu bunga deposito/tabungan serta
diskonto SBI.

Kriteria Penerima :

a. Orang pribadi subjek pajak dalam negeri yang seluruh penghasilannya dalam satu
tahu pajak termasuk bunga dan diskonto tidak melebihi PTKP.
b. Dana pensiun yang pendiriannya telah disahkan oleh menteri keuangan.
Prosedur :

a. Tanpa diperlukan prosedur permohonan, pemotongan PPh tidak dilakukan dalam hal :
Jumlah deposito/tabungan serta SBI tidak melebihi Rp.75 Juta;
Diterima bank yang didirikan di Indonesia atau cabang bank luar negeri di
Indonesia; atau
Bunga tabungan pada bank untuk pemilikan rumah sederhana dan sangat
sederhana, kaveling siap bangun untuk rumah sederhana dan sangat sederhana,
atau rumah susun sederhana, untuk dihuni sendiri.
b. Untuk dana pensiun yang pendiriannya telah disahkan oleh menteri keuangan,
pengecualian pemotongan PPh diberikan berdasarkan Surat Keterangan Bebas (SKB).
Untuk memperoleh SKB tersebut, WP harus mengajukan permohonan tertulis kepada
Kantor Pelayanan Pajak (KPP) sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Referensi :

a. PP 131 Tahun 2000


b. KMK 51/KMK.04/2001
c. PER-01/PJ/2013

51
40. PENGECUALIAN DARI PEMOTONGAN PPh FINAL ATAS BUNGA OBLIGASI

Kriteria Penerima :

a. Dana pensiun yang pendirian atau pembentukannya telah disahkan oleh Menteri
Keuangan dan Memenuhi Persyaratan sebagaimana diatur dalam pasal 4 ayat (3)
huruf h UU PPh.
b. Bank yang didirikan di Indonesia atau cabang bank luar negeri di Indonesia.
Fasilitas ini dilaksanakan dengan cara self-assesment pada saat penyampaian SPT
Tahunan PPh. Dengan demikian, WP tidak perlu menyampaikan permohonan untuk dapat
memperoleh fasilitas tersebut.

Bentuk Fasilitas :

Penghasilan berupa bunga obligasi tidak dikenai pemotongan Pajak Penghasilan yang bersifat
final.

Referensi :

a. Pasal 4 ayat (2) huruf a dan pasal 17 ayat (7) UU PPh.


b. PP 16/2009.
c. PMK-234/PMK.03/2009.
d. PMK-85/PMK.03/2011 s.t.d.t.d. PMK-07/PMK.03/2012.

41. Pengecualian Dari Pemotongan Dan/Atau Pemungutan PPh Oleh Pihak Lain
Kriteria Penerima:
Seluruh WP, dengan syarat:
a. Membuktikan bahwa dalam tahun pajak berjalan tidak akan terutang PPh karena:
1. Mengalami kerugian fiskal;
2. Berhak atas kompensasi kerugian fiskal;
3. PPh yang telah dan akan dibayar lebih besar dari PPh yang akan terutang; atau
b. Penghasilannya hanya dikenakan pajak bersifat final.
c. Telah menyampaikan SPT Tahunan Badan tahun terakhir.
(kecuali untuk WP baru berdiri)

Catatan :
WP yang mengalami kerugian fiskal yaitu dalam hal:
a. Baru berdiri dan masih dalam tahap investasi;
b. Belum sampai pada tahap produksi komersial; atau
c. Mengalami suatu peristiwa yang berada di luar kemampuan (force majeur).

Bentuk Fasilitas:
Dibebaskan dari pemotongan dan/atau pemungutan PPh oleh pihak ketiga.

Prosedur:

52
a. WP mengajukan permohonan kepada Kepala Kantor Pelayanan Pajak tempat WP
terdaftar.
b. Permohonan diajukan untuk setiap pemotongan dan/atau pemungutan PPh Pasal 21,
Pasal 22, Pasal 22 Impor, dan/atau Pasal 23 dengan menggunakan formulir yang
telah ditentukan.
c. Permohonan dilampiri perhitungan PPh yang diperkirakan akan terutang untuk tahun
pajak diajukannya permohonan (kecuali untuk permohonan pembebasan karena WP
yang atas penghasilannya hanya dikenakan pajak bersifat final).
d. Apabila disetujui Kepala Kantor Pelayanan Pajak akan menerbitkan Surat
Keterangan Bebas (SKB).

Referensi:
a. PP 94/2010
b. PER-1/PJ/2011.

42. Pengecualian Dari Pemotongan Dan/Atau Pemungutan PPh Bagi Wajib Pajak
Dengan Peredaran Bruto Tertentu.
Kriteria:
Wajib Pajak yang dikenai PPh final berdasarkan PP No. 46 Tahun 2013 tentang Pajak
Penghasilan atas Penghasilan dari Usaha yang Diterima atau Diperoleh Wajib Pajak yang
Memiliki Peredaran Bruto Tertentu.

Bentuk Fasilitas:
a. PPh bagi Wajib Pajak yang memiliki peredaran bruto tertentu.
b. Dibebaskan dari pemotongan dan/atau pemungutan PPh oleh pihak ketiga.

Prosedur:
Permohonan Surat Keterangan Bebas (SKB).
a. WP mengajukan permohonan kepada Kepala KPP tempat WP terdaftar, dengan
persyaratan:
1) Telah menyampaikan SPT Tahunan Pajak sebelumnya, untuk WP yang telah
terdaftar pada Tahun Pajak Sebelumnya;
2) Menyerahkan surat pernyataan bahwa WP memenuhi kriteria untuk dikenai PPh
final berdasarkan PP No. 46 Tahun 2013, untuk WP yang baru terdaftar pada
Tahun Pajak diajukannya permohonan;
3) Menyerakan dokumen pendukung transaksi;
4) Ditandatangani oleh WP/ditandatangani oleh bukan WP dengan dilampiri surat
kuasa khusus.
b. Permohonan diajukan untuk setiap pemotongan dan/atau pemungutan PPh Pasal 21,
Pasal 22, Pasal 22 Impor, dan/atau Pasal 23.
c. Kepala KPP menerbitkan SKB/surat penolakan permohonan SKB dalam jangka
waktu 5 hari kerja sejak permohonan diterima lengkap.

53
Permohonan legalisasi fotokopi SKB:
a. Pembebasan dari pemotongan dan/atau pemungutan PPh oleh pihak ketiga hanya
dilakukan untuk WP yang menyerahkan fotokopi SKB yang telah dilegalisasi oleh
KPP;
b. WP mengajukan permohonan legalisasi kepada Kepala KPP dengan persyaratan:
1. Menunjukkan SKB;
2. Menyerahkan bukti penyetoran PPh final berdasarkan PP No. 46 Tahun 2013;
3. Mengisi identitas WP pemotongan/pemungut PPh dan nilai transaksi pada kolom
yang tercantum dalam SKB;
4. Ditandatangani oleh WP/ditandatangani oleh bukan WP dengan dilampiri surat
kuasa khusus.
c. Legalisasi dilakukan dalam jangka waktu 1 hari kerja sejak permohonan diterima
lengkap.

54
BAB III
PENUTUP

3.1. KESIMPULAN
Fungsi dan tujuan pemeriksaan pajak secara keseluruhan adalah supaya Wajib
Pajak melaporkan kegiatan usahanya dengan benar. Benar karena Wajib Pajak
melaporkan kegiatan usahanya sesuai keadaan sebenarnya. Tidak ada yang
ditutupi, tidak ada yang disembunyikan dan terbuka. Benar karena Wajib Pajak
telah menghitung pajak terutang sesuai dengan peraturan perundang- undangan
perpajakan yang berlaku.
Setiap dilakukan pemeriksaan pajak oleh kantor pajak, Wajib Pajak mempunyai
kewajiban dan haknya yang telah ditentukan oleh perundang-undangan.
Audit yang dilakukan secara internal berkelanjutan, yang meyatu dengan sistem
pengendalian operasional perusahaan, menilai ketaatan pelaksanaan aturan
perpajakan dan teknik pengelolaan transaksi yang mampu meminimalkan
pembayaran pajak tanpa melanggar aturan-aturannya.

3.2. SARAN
Audit internal perpajakan lebih berfungsi sebagai pencegahan terhadap kegagalan
perusahaan dalam mengelola kewajiban perpajakannya yang seharusnya berjalan
secara ekonomis, efisien dan efektif. Maka dari itu, agar dapat memberikan
manfaat yang maksimal, audit ini seharusnya dilakukan setiap terjadinya
transaksi yang memiliki dampak perpajakan, penyetoran, dan pelaporan
kewajiban perpajakan tersebut. Hasil audit ini menjadi umpan balik bagi
perusahaan dalam meningkatkan kemampuannya mengelola kewajiban
perpajakan, meningkatkan efisiensi pembayaran pajak dan ketaatan pada
peraturan perpajakan.

55
DAFTAR PUSTAKA

IBK Bhayangkara. 2016. Audit Manajemen (Prosedur dan Implementasi) Edisi 2. Jakarta: Salemba
Empat.

56