Anda di halaman 1dari 7

Tugas

15 Desember 2017

TUGAS UJIAN LAPORAN KASUS


ONLAY ALL PORCELAIN

Oleh

ASRIANTI J1022 16 110

Penguji:

drg. Nurhayaty Natsir, Ph.D., Sp.KG

PROGRAM PENDIDIKAN DOKTER GIGI SPESIALIS


PROGRAM STUDI KONSERVASI GIGI
FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2017
1. Alasan memilih restorasi onlay all porcelain:

Jawab:

Restorasi pada gigi pasca perawatan endodontik sangat penting untuk

keberhasilan perawatan. Penyebab utama kegagalan restorasi pasca perawatan

endodontik adalah kebocoran restorasi. Rencana pemilihan restorasi harus

dilakukan dengan beberapa pertimbangan diantaranya banyaknya jaringan gigi

tersisa, fungsi gigi, posisi dan lokasi gigi. Faktor yang paling utama dalam

menentukan restorasi gigi posterior adalah banyaknya jaringan gigi sehat yang

tersisa, karena gigi posterior menerima beban kunyah lebih besar dibandingkan

gigi anterior. Onlay merupakan restorasi indirek yang menutupi sebagian

permukaan ekstra koronal gigi dan tetap mengikuti kontur gigi.

Terdapat beberapa dasar pertimbangan dalam memilih restorasi setelah

perawatan endodontik agar restorasi dapat bertahan dalam jangka waktu yang

lama. Beberapa syarat yang harus dipenuhi oleh restorasi setelah perawatan

endodontik, diantaranya menutupi koronal secara menyeluruh, melindungi

struktur gigi yang tersisa, memiliki retensi agar restorasi tidak lepas, memiliki

resistensi agar mampu menahan daya kunyah, mampu mengembalikan fungsi

gigi, yaitu fungsi pengunyahan, estetik,bicara, dan menjaga gigi antagonis dan

gigi sebelahnya.

Dengan mempertimbangkan kondisi rongga mulut pasien, indikasi,

kontraindikasi, keuntungan, dan kerugian dari restorasi onlay all porcelain maka

pada kasus ini digunakan restorasi onlay all porcelain.


Indikasi utama onlay all porcelain:

a) Pada pasien yang membutuhkan hasil estetika yang sangat baik.

b) Pasien yang memiliki tingkat kebersihan mulut yang sangat baik.

c) Pasien yang memiliki reaksi alergi terhadap logam.

d) Pada gigi posterior dengan kehilangan struktur jaringan keras. Pada kasus hasil
preparasi gigi menyediakan dukungan yang sesuai dan jumlah enamel cukup
untuk ikatan yang kuat dengan resotorasi.

Kontraindikasi onlay all porcelain:

I. Pasien dengan karies yang banyak.

II. Pasien dengan penyakit periodontal dan tingkat kebersihan mulut yang buruk.

III. Pasien dengan erosi gigi

IV. Pasien dengan kehilangan jaringan gigi yang berlebihan, yang membuat gigi
tidak adekuat untuk bonding.

V. Pada gigi dimana jaringan yang tersisa sangat berubah warna dan sebagai
hasilnya memiliki hasil estetika yang tidak memuaskan.

VI. Pasien dengan kebiasaan parafungsional.

Keuntungan Onlay all porcelain:

a. Biokompatibilitas tinggi.

b. Tidak mendukung konsentrasi plak di permukaannya, kombinasi dengan


kemajuan teknik bonding sehingga memiliki ketahanan mekanik yang sangat
baik dan tidak mentransfer kekuatan ke dalam gigi di bawah beban fungsional.

c. Sangat cocok dengan gigi dan kombinasi dengan ikatan yang sangat baik
dengan enamel dan mengurangi kebocoran mikro.

d. Karena dibuat di laboratorium, kita bisa membuat bentuk anatomi yang sangat
baik dari gigi dan titik kontak yang baik.

e. Kestabilan warna sempurna.


f. Hubungan ikatan antara semen komposit dan keramik sudah cukup. Kita bisa
meningkatkan koneksi ini Jika kita menggunakan keramik berbasis silika, karena
kita bisa mengetsa keramik dengan bahan kimia.

g. Hasil penelitian jangka panjang terbukti tidak ada kaitan meningkatkan karies
bahkan jika margin ditempatkan pada dentin.

h. Onlay mampu mempertahankan kontur anatomi dari waktu ke waktu.

j. Efek samping dari penyusutan polimerisasi diminimalkan karena lapisan semen


tipis.

Kerugian dari onlay porcelain adalah:

1. Biaya dan waktu, restorasi ini dibuat di laboratorium sehingga memerlukan


waktu kunjungan pasien setidaknya dua kali. Tambahan biaya laboratorium
menyebabkan restorasi jenis ini lebih mahal dibanding restorasi direct.
2. Dokter gigi harus terbiasa dengan teknik ikatan modern.
3. Brittle: restorasi onlay all porcelain memerlukan ketebalan yang cukup untuk
mencegah fraktur pada restorasi.
4. Aus pada restorasi dan gigi antagonis : Restorasi porcelain dapat
menyebabkan aus pada restorasi dan/ atau gigi antagonis. Masalah ini harus
dipertimbangkan selama perbaikan restorasi keramik.
5. Low repair potential : Jika terjadi fraktur, perbaikan tidak dipertimbangkan
sebagai perawatan tetap.
6. Kesulitan polishing intraoral : Restorasi keramik sulit dipolis setelah
disementasi. karena masalah akses dan kurangnya instrument yang tepat.
Sumber:

1. Haslinda. Nugroho, JJ. Restorasi onlay porselen pada gigi molar pertama
rahang atas pasca perawatan endodontik. http://pdgimakassar.org.
2. Aspros A. Inlays & Onlays Clinical Experiences and Literature review. J
Dent Health Oral Disord Ther 2015, 2(1): 1-7.
3. Sturdevant's Art & Science of Operative Dentistry, ed 4. Mosby 2002
4. Conrad HJ, Seong WJ, Pesun IJ. Current ceramic materials and systems with
clinical recommendations: a systematic review, J Prosthet Dent
2007;98(5):389-404.

2. Teknik preparasi onlay all porcelain

Onlay adalah suatu restorasi yang menutupi satu atau lebih kuspid

dengan menggabungkan prinsip restorasi ekstrakoronal dan intrakoronal.

Onlay paling diindikasikan dan secara umum digunakan sebagai restorasi

tuang untuk gigi tunggal. Perlindungan yang diberikan merupakan

perlindungan keseluruhan kuspid pada gigi posterior yang telah melemah

akibat karies ataupun restorasi terdahulu. Restorasi ini didesain untuk

mendistribusikan tekanan oklusal gigi sebagai cara meminimalkan

kemungkinan fraktur di kemudian hari. Desain preparasi onlay, antara lain,

adalah sebagai berikut :4,6 a. Preparasi 2 mm dari groove central ke dalam

lantai pulpa. b. Pengurangan permukaan oklusal sebesar 1,5 mm. c. Dinding

gingival ke oklusal divergen sebesar 2-5 dari lantai pulpa sebagai retensi. d.

Pembuatan step oklusal sebesar 0,5 mm sebagai retensi. e. Pembuatan

counterbevel sebesar 30 pada tepi fasial dan lingual.


Desain cavosurface margin yang digunakan biasanya tergantung pada situasi
klinis. Pemilihan desain dapat ditentukan oleh bentuk gigi, lokasi yang diinginkan,
atau merupakan pilihan dari operator. Tipe margin yang paling sering digunakan
untuk restorasi tuang adalah knife-edge, chamfer, shoulder, chamfer bevel dan
shoulder bevel. 8-10 a. Knife-edge. Tipe ini memerlukan pengurangan gigi yang
paling sedikit. Terkadang digunakan pada gigi yang berbentuk bell-shaped, karena
pembutannya yang lebih sulit, sehingga dapat menyebabkan pengurangan gigi yang
berlebihan.

b. Chamfer. Tipe ini sering dipilih sebagai akhiran tepi untuk restorasi
ekstrakoronal, mudah dibentuk, dan memberikan ruang untuk ketebalan yang
memadai pada restorasi emas tanpa menyebabkan kontur yang berlebihan dari
restorasi. Menghasilkan konsentrasi tekanan yang lebih rendah, dan dengan mudah
dapat masuk ke celah gingiva. Desain ini memberi tempat yang terbatas untuk
restorasi metal keramik sehingga menghasilkan distorsi margin yang besar dan estetis
yang kurang baik. Selain itu, ketahanan desain ini terhadap tekanan vertikal kurang
baik.

c. Shoulder. Tipe ini dipilih terutama pada situasi dimana bagian terbesar
material diperlukan untuk memperkuat restorasi pada daerah tepi gigi, seperti untuk
restorasi all-porcelain atau restorasi metal keramik. Desain ini sulit dipreparasi,
undercut minimum, dan tahan terhadap distorsi margin. Selain itu, shoulder akan
menghasilkan tekanan yang paling sedikit di daerah servikal dan memberikan tempat
maksimum untuk porselen dan metal, sehingga porselen dapat dibakar pada tepi
metal dan menghasilkan estetis yang baik.

d. Chamfer atau shoulder bevel. Desain ini lebih sering digunakan oleh
beberapa dokter yang percaya bahwa tepi bevel lebih mudah dalam mendapatkan
cetakannya dan dapat membuat tepi gigi dari restorasi tuang lebih mudah dipolis.
Bevel biasanya dikombinasikan untuk bentuk proksimal box. Bevel tersebut
bertujuan untuk mengkompensasi kekurangan dalam kecermatan selama proses
casting dan penyemenan, proteksi terhadap enamel margin, memungkinkan
burnishing setelah penyemenan, menambah retensi. Chamfer dan shoulder memberi
bentuk akhiran tepi yang jelas, yang bisa diidentifikasikan dalam preparasi mahkota
sementara dan die. Chamfer membutuhkan pengurangan aksial yang minimal dan
cocok untuk restorasi all-ceramic konservatif. Kedalaman preparasi margin shoulder
berkisar 1-1,5 mm untuk memberikan ketepatan, kedudukan maksimum, dan estetis
yang baik.9,10

Sumber:

Gordon J.C, 2008, 23 May. Considering tooth-colored inlays and onlays versus crown. Jada
vol.139 5. David Penn. 2007. Indirect composite inlays and onlays. Australian dental journal.
Vol 112.

6. Jason S, Philip N, David R, Siobhn O. 2010. Direct or indirect restorations. International


Dentistry- African edition vol. 1 no.1.

7. Edward A and Jeffrey H. January 2007. Tips and tricks for the adhesive cementation of
ceramic inlays, onlays, and veneers. Lab talk.

8. Al-Qmari, Wael M, Al-WAhadni. 2004. Convergence angle, occlusal reduction, and finish
line depth of full-crown preparation. Quintessence international journal vol.35 no.4.

9. Deog Gyu Seo, august 2009. The effect of preparation design on the margial and internal
gaps in Cerec3 partial ceramic crowns. Deoartment of Dentistry,Yonsei University.

Anda mungkin juga menyukai