Anda di halaman 1dari 2

Prognosis

Hiperbilirubinemia baru akan berpengaruh buruk apabila bilirubin indirek telah melalui sawar
darah otak. Pada keadaan ini penderita mungkin menderita kern ikterus atau ensefalopati biliaris. Kern
ikterus (ensefalopati biliaris) adalah sindrom neurologis akibat pengendapan bilirubin tak terkonjugasi di
dalam sel-sel otak. Risiko pada bayi dengan eritroblastosis foetalis secara langsung berkaitan dengan
kadar bilirubin serum : hubungan antara kadar bilirubin serum dan kern ikterus pada bayi cukup bulan
yang sehat masih belum pasti. Bilirubin indirek yang larut dalam lemak dapat melewati sawar darah otak
dan masuk ke otak dengan cara difusi apabila kapasitas albumin untuk mengikat bilirubin dan protein
plasma lainnya terlampaui dan kadar bilirubin bebas dalam plasma bertambah (Nelson, dkk, 2012).

Pada setiap bayi nilai persis kadar bilirubin yang bereaksi indirek atau kadar bilirubin bebas
dalam darah yang jika dilebihi akan bersifat toksik tidak dapat diramalkan, tetapi kern ikterus jarang
terjadi pada bayi cukup bulan yang sehat (Nelson, dkk, 2012).

Manifestasi klinis akut bilirubin ensefalopati pada fase awal bayi dengan ikterus berat akan
tampak letargis, hipotonik, dan reflek menghisap buruk, sedangkan pada fase intermediate ditandai
dengan moderate stupor, iritabilitas, hipertoni. Untuk selanjutnya bayi akan demam, high-pitced cry,
kemudian akan menjadi drowsiness dan hipotoni (Kosim, 2012).

Pada kern ikterus, gejala klinik pada permulaan tidak jelas, antara lain dapat disebutkan yaitu
bayi tidak mau menghisap, letargi, mata berputar, gerakan tidak menentu (involuntary movements),
kejang, tonus otot meninggi, leher kaku dan akhirnya opistotonus (Saifuddin,

2009).

Komplikasi

1. Terjadi kernikterus, yaitu kerusakan pada otak akibat perlengketan bilirubin indirek pada otak
terutama pada korpus striatum, thalamus, nucleus subtalamus hipokampus, nucleus merah didasar
ventrikel IV.

2. Kernikterus; kerusakan neurologis, cerebral palsy, RM, hyperaktif, bicara lambat, tidak ada koordinasi
otot, dan tangisan yang melengking.

3. Retardasi mental - Kerusakan neurologis

Efek Hiperbilirubinemia dapat menimbulkan kerusakan sel-sel saraf, meskipun kerusakan sel-sel tubuh
lainnya juga dapat terjadi. Bilirubin dapat menghambat enzim-enzim mitokondria serta mengganggu
sintesis DNA. Bilirubin juga dapat menghambat sinyal neuroeksitatori dan konduksi saraf (terutama pada
nervus auditorius) sehingga menimbulkan gejala sisa berupa tuli saraf.

4. Gangguan pendengaran dan penglihatan

5. Kematian.

(Donna L. Wong ; 2008)

Daftar Pustaka
Wong, Donna L. (2008). Buku Ajar Keperawatan Pediatrik. Jakarta : EGC

American Academy of Pediatrics. ( 2004). Clinical Practice Guideline. Management of hyperbilirubinemia


in the newborn infant 35 or more weeks of gestation. Pediatrics;114:297-316.

Martin CR, Cloherty JP. (2004) Neonatal hyperbilirubinemia. Dalam: Cloherty JP, Stark AR, eds. Manual
of neonatal care; edisi ke-5. Boston : Lippincott Williams & Wilkins, ; 185-222.

Ngastiyah. Perawatan Anak Sakit. Jakarta: EGC

Nelson. (1990). Ilmu Kesehatan Anak bagian 1. Jakarta: EGC

Suriadi, Yuliani Rita. (2001). Asuhan Keperawatan Pada Anak. Jakarta : CV. Sagung seto

Anda mungkin juga menyukai