Anda di halaman 1dari 55

MAKALAH

ASUHAN KEPERAWATAN GAWAT DARURAT PADA


SOLUSIO PLASENTA

DISUSUN OLEH :
KELOMPOK 2

1. HENI AGUSTINI M P (036 STYC 13)


2. DWI PURNAWARNI (020 STYC 13)
3. SUCI HENDRA L (093 STYC 13)
4. BQ. DIAN NURMAYA (014 STYC 13)
5. HELMI YATI ASRI (035 STYC 13)
6. LAELA BADRIA (052 STYC 13)
7. RONI ANDANI (088 STYC 13)
8. MUHAMAD SOPIAN (063 STYC 13)
9. M. MAKSUM (067 STYC 13)
10. M. IRWAN S (059 STYC 13)
11. KHAERUL UMAM (048 STYC 13)

YAYASAN RUMAH SAKIT ISLAM NUSA TENGGARA BARAT


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN YARSI MATARAM
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN JENJANG S1
MATARAM
2017

i
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT., atas limpahan dan
rahmat karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah “Asuhan
Keperawatan Gawat Darurat Solusio Plasenta”. Makalah ini disusun sebagai
salah satu tugas Mata Kuliah Keperawatan Gawat Darurat. Karena makalah ini
tidak mungkin dapat diselesaikan tanpa bantuan dari pihak-pihak tertentu, maka
dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terimakasih yang sedalam-dalamnya
kepada :
1. H. Zulkahfi., S.Kep., Ners., M.Kes., selaku Ketua STIKES YARSI Mataram.
2. Irwan Hadi, S.Kep., Ners., M.Kep., selaku Ka. Prodi S1 Keperawatan STIKES
YARSI Mataram.
3. Bq. Nur’ainun Apriani Idris, S.Kep., Ners., selaku dosen pembimbing
akademik.
4. Sabi’ah Khairi, S.Kep., Ners., M.Kep., Sp.Kep.Mat., selaku dosen Mata
Kuliah Keperawatan Gawat Darurat.
5. Semua pihak yang ikut membantu dalam penyusunan makalah ini.
Penulis membuat makalah ini dengan seringkas-ringkasnya dan bahasa
yang jelas agar mudah dipahami. Karena penulis menyadari keterbatasan yang
penulis miliki, penulis mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca, agar
pembuatan makalah penulis yang berikutnya dapat menjadi lebih baik.
Akhir kata semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca.

Mataram, 15 April 2017

Penulis

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ................................................................................. i


KATA PENGANTAR ............................................................................... ii
DAFTAR ISI .............................................................................................. iii

BAB 1 PENDAHULUAN ......................................................................... 1


1.1 Latar Belakang ......................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah .................................................................... 3
1.3 Tujuan Penulisan ...................................................................... 4
1.3.1 Tujuan Umum............................................................... 4
1.3.2 Tujuan Khusus .............................................................. 4
1.4 Manfaat Penulisan .................................................................... 4
1.5 Ruang Lingkup ......................................................................... 5
1.6 Metode Penulisan ..................................................................... 5
1.7 Sistematika Penulisan............................................................... 5

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA ................................................................ 6


2.1 Konsep Dasar Solusio Plasenta ................................................ 6
2.1.1 Definisi Solusio Plasenta .............................................. 6
2.1.2 Penyebab Solusio Plasenta ........................................... 8
2.1.3 Etiologi ......................................................................... 8
2.1.4 Klasifikasi dan Macam Solusio Plasenta...................... 11
2.1.5 Patofisiologi.................................................................. 13
2.1.6 Pathway ........................................................................ 16
2.1.7 Manifestasi Klinis......................................................... 18
2.1.8 Pemeriksaan Penunjang ................................................ 18
2.1.9 Penatalaksanaan............................................................ 19
2.1.10 Komplikasi ................................................................... 19
2.1.11 Gambaran Klinik .......................................................... 22
2.1.12 Diagnosis ...................................................................... 23
2.1.13 Penanganan ................................................................... 28
2.1.14 Prognosis ...................................................................... 29
2.2 Konsep Asuhan Keperawatan .................................................. 30
2.2.1 Pengkajian .................................................................... 30
2.2.2 Diagnosa Keperawatan ................................................. 36
2.2.3 Intervensi Keperawatan ................................................ 37
2.2.4 Implementasi Keperawatan .......................................... 40
2.2.5 Evaluasi Keperawatan .................................................. 41
2.2.6 Dokumentasi ................................................................. 42

iii
BAB 3 PENUTUP...................................................................................... 48
3.1 Simpulan................................................................................... 48
3.2 Saran ......................................................................................... 48

DAFTAR PUSTAKA

iv
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Solutio Plasenta adalah terlepasnya plasenta dengan implantasi normal
sebelum waktunya pada kehamilan yang berusia diatas 28 minggu (Arief
Mansjoer, 2001). Solutio Plasenta adalah suatu keadaan dalam kehamilan
viable, dimana plasenta yang tempat implantasinya normal (pada fundus
ataukorpus uteri) terkelupas atau terlepas sebelum kala III (Dr. Chrisdiono. M.
Achadiat, 2003).
Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia masih tinggi dan bahkan lebih
tinggi dibanding beberapa negara tetangga. Tentu saja kenyataan ini sangat
mengusik semua masyarakat yang peduli terhadap masih banyaknya kematian
ibu. Salah satu penyebab AKI adalah perdarahan. Tingginya AKI di dunia
pada tahun 2000 disebabkan kehamilan, persalinan, dan nifas mencapai
529.000 yang tersebar di Asia 47,8% (253.000), Afrika 47,4% (251.000),
Amerika Latin dan Caribbean 4% (22.000), dan kurang dari 1% (2.500) di
negara maju. AKI di Indonesia tertinggi dibandingkan negara-negara ASEAN
lainnya, seperti Thailand hanya 44 per 100.000 kelahiran hidup, Malaysia 39
per 100.000 kelahiran hidup, dan Singapura 6 per 100.000 kelahiran hidup
(BPS, 2003). Berdasarkan SDKI (2007) Indonesia telah berhasil menurunkan
AKI dari 390 per 100.000 kelahiran hidup (1992) menjadi 334 per 100.000
kelahiran hidup (1997), selanjutnya turun menjadi 228 per 100.000 kelahiran
hidup (Kemenkes RI, 2008). Meskipun telah terjadi penurunan dalam
beberapa tahun tarakhir akan tetapi penurunan tersebut masih sangat lambat
(Wilopo, 2010). AKI di Indonesia bervariasi, provinsi dengan AKI terendah
adalah DKI Jakarta dan tertinggi adalah Provinsi Nusa Tenggara Barat (Profil
Kesehatan Indonesia, 2009). Di Provinsi Nusa Tenggara Barat ditemukan
angka kematian ibu sebesar 99 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2008,
tahun 2009 menjadi 130 per 100.000 kelahiran hidup

1
Insiden solusio plasenta bervariasi antara 0,2-2,4 % dari seluruh
kehamilan. Literatur lain menyebutkan insidennya 1 dalam 77-89 persalinan,
dan bentuk solusio plasenta berat 1 dalam 500-750 persalinan . Slava dalam
penelitiannya melaporkan insidensi solusio plasenta di dunia adalah 1% dari
seluruh kehamilan. Di sini terlihat bahwa tidak ada angka pasti untuk insiden
solusio plasenta, karena adanya perbedaan kriteria menegakkan diagnosisnya
(8)
.
Penelitian Cunningham di Parkland Memorial Hospital melaporkan 1
kasus dalam 500 persalinan. Tetapi sejalan dengan penurunan frekuensi ibu
dengan paritas tinggi, terjadi pula penurunan kasus solusio plasenta menjadi 1
dalam 750 persalinan (Chalik, 2010). Menurut hasil penelitian yang
dilakukan Deering didapatkan 0,12% dari semua kejadian solusio plasenta di
Amerika Serikat menjadi sebab kematian bayi . Penelitian retrospektif yang
dilakukan oleh Ducloy di Swedia melaporkan dalam 894.619 kelahiran
didapatkan 0,5% terjadi solusio plasenta .
Cunningham di Amerika Serikat melakukan penelitian pada 763 kasus
kematian ibu hamil yang disebabkan oleh perdarahan. Hasilnya dapat dilihat
pada tabel berikut :
Tabel 1.1 Kematian ibu hamil yang disebabkan perdarahan.
No. Penyebab Perdarahan Sampel (%)
1. Solusio Plasenta 141 19
2. Laserasi/ Ruptura uteri 125 16
3. Atonia Uteri 115 15
4. Koagulopathi 108 14
5. Plasenta Previa 50 7
6. Plasenta Akreta/ Inkreta/ Perkrata 44 6
7. Perdarahan Uterus 44 6
8. Retained Placentae 32 4

2
Pada tabel 1.1 diketahui bahwa solusio plasenta menempati tempat
pertama sebagai penyebab kematian ibu hamil yang disebabkan oleh
perdarahan dalam masa kehamilan (Chalik, 2010).
Menurut data yang diperoleh dari Rumah Sakit Umum Pusat
Nasional Cipto Mangunkusumo (RSUPNCM) Jakarta didapat angka 2%
atau 1 dalam 50 persalinan. Antara tahun 1968-1971 solusio plasenta terjadi
pada kira-kira 2,1% dari seluruh persalinan, yang terdiri dari 14% solusio
plasenta sedang dan 86% solusio plasenta berat. Solusio plasenta ringan
jarang didiagnosis, mungkin karena penderita terlambat datang ke rumah
sakit atau tanda-tanda dan gejalanya terlalu ringan sehingga tidak menarik
perhatian penderita maupun dokternya (Doengoes, 2001).
Sedangkan penelitian yang dilakukan Suryani di RSUD. DR. M.
Djamil Padang dalam periode 2002-2004 dilaporkan terjadi 19 kasus solusio
plasenta dalam 4867 persalinan (0,39%) atau 1 dalam 256 persalinan.
Dari uraian di atas, maka kami rasa perlu dilakukan pemahaman lebih
dalam guna mengetahui bagaimana sebenarnya proses patofisiologi solusio
plasenta hingga bagaimana cara menangani pasien dengan solusio plasenta
sebagai perawat berdasar pada diagnosa-diagnosa keperawatan yang muncul
akibat solusio plasenta sehingga penulis merasa tertarik untuk membahas
mengenai masalah solusio plasenta dengan judul “Asuhan Keperawatan
Gawat Darurat Solusio Plasenta.

1.2 Rumusan Masalah


1.2.1 Apa definisi dari solusio plasenta ?
1.2.2 Apa penyebab solusio plasenta?
1.2.3 Apa etiologi dari solusio plasenta?
1.2.4 Apa klasifikasi dari solusio plasenta?
1.2.5 Bagaimana patofisiologi dari solusio plasenta?
1.2.6 Bagaimana pathway dari solusio plasenta?
1.2.7 Apa manifestasi klinis dari solusio plasenta?
1.2.8 Apa pemeriksaan penunjang untuk solusio plasenta?
1.2.9 Bagaimana penatalaksanaan dari solusio plasenta?

3
1.2.10 Apa komplikasi dari solusio plasenta?
1.2.11 Bagaimana gambaran klinik dari solusio plasenta?
1.2.12 Bagaimana diagnosis solusio plasenta?
1.2.13 Apa saja penanganan solusio plasenta?
1.2.14 Bagaimana prognosis solusio plasenta?
1.2.15 Bagaimana asuhan keperawatan dari solusio plasenta?
1.3 Tujuan Penulisan
1.3.1 Tujuan Umum
Mahasiswa mampu mengetahui dan memahami tentang Konsep Dasar
solusio plasenta dan Konsep Asuhan Keperawatan solusio plasenta.
1.3.2 Tujuan Khusus
1. Dapat menuliskan konsep-konsep dan teori yang terdapat pada
kasus solusio plasenta.
2. Dapat melaksanakan pengkajian sesuai dengan masalah yang
muncul pada kasus solusio plasenta.
3. Merumuskan diagnosa keperawatan yang paling sering muncul
pada kasus solusio plasenta.
4. Dapat menyusun perencanaan keperawatan pada kasus solusio
plasenta.
5. Dapat menyusun implementasi keperawatan pada kasus solusio
plasenta.
6. Dapat menyusun evaluasi keperawatan pada kasus solusio plasenta.
7. Dapat menyusun dokumentasi keperawatan pada kasus solusio
plasenta.
1.4 Manfaat Penulisan
1.4.1 Bagi Mahasiswa
Agar mahasiswa dapat mengetahui Konsep Dasar Asuhan
Keperawatan solusio plasenta.
1.4.2 Bagi Pendidikan
Sebagai kerangka acuan dalam pembuatan makalah Konsep
Dasar Asuhan Keperawatan solusio plasenta.

4
1.4.3 Penulis
Meningkatkan pengetahuan penulis dalam menerapkan asuhan
keperawatan mengenai cara pencegahan, perawatan, dan pengobatan
pada solusio plasenta.
1.5 Ruang Lingkup
Dalam penulisan makalah ini penulis membatasi masalah Konsep
Dasar Edema Paru dan Konsep Asuhan Keperawatan solusio plasenta.
1.6 Metode Penulisan
Metode penulisan yang digunakan dalam penyusunan makalah adalah
metode Deskrisif dan teknik pengumpulan data dengan menggunakan teknik
studi kepustakaan yang mengambil materi dari berbagai sumber buku dan
melalui media internet.
1.7 Sistematika Penulisan
Penulisan karya tulis ini, penulis bagi dalam beberapa bab dan sub bab
yang disusun sebagai berikut :
BAB I : Pendahuluan meliputi : Latar Belakang, Tujuan, Manfaat, Ruang
Lingkup Metode Penulisan, Sistematika Penulisan.
BAB II : Tinjauan Pustaka : Konsep dasar penyakit dan konsep dasar
asuhan keperawatan mioma uteri dan Konsep Dasar Asuhan
Keperawatan melipiuti : Pengkajian, Diagnosa, Intervensi,
Implementasi, dan Evaluasi
BAB III : Penutup meliputi: Simpulan dan Saran.

5
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Dasar Solusio Plasenta


2.1.1 Definisi Solusio Plasenta
Terdapat beberapa definisi tentang solusio plasenta menurut
beberapa ahli diantaranya yaitu :
a. Solusio plasenta adalah lepasnya plasenta dengan implantasi
normal sebelum waktunya pada kehamilan yang berusia diatas 28
minggu (Manuaba dan Ida Bagus Gde, 2003).
b. Solusio plasenta atau abrupsio plasenta adalah pelepasan prematur
dari plasenta letak normal yang terjadi setelah usia kehamilan 22
minggu (Buku ajar bidan, 2009).
c. Solusio plasenta adalah lepasnya plasenta sebelum waktunya, pada
usia kehamilan 22 minggu atau dengan perkiraan berat janin lebih
dari 500 gram (Ida Bagus Gde Manuaba, 2007).
d. Solusio plasenta (atau abruption plaseta) didefinisikan sebagai
pemisahan premature plasenta yang implantasinya normal (Leveno
dan Kenneth J, 2009).
e. Solutio Plasenta adalah lepasnya plasenta dengan implantasi
normal sebelum waktunya pada kehamilan yang berusia di atas 28
minggu (Arif Mansjoer. Kapita Selekta edisi 3 jilid 1, Media
Aeskulapius, 2001).
f. Solutio Plasenta adalah terlepasnya plasenta yang letaknya normal
di korpus uteri yang terjadi setelah kehamilan 20 minggu dan
sebelum janin dilahirkan (Nita Norma, 2013).
g. Solutio Plasenta adalah terlepasnya plasenta dengan implantasi
normal sebelum waktunya pada kehamilan yang berusia diatas 28
minggu (Arief Mansjoer, 2001). Solutio Plasenta adalah suatu
keadaan dalam kehamilan viable, dimana plasenta yang tempat

6
implantasinya normal (pada fundus ataukorpus uteri) terkelupas
atau terlepas sebelum kala III (Dr. Chrisdiono. M. Achadiat, 2003).
h. Solusio plasenta adalah terlepasnya sebagian atau keseluruhan
plasenta dari implantasi normalnya (korpus uteri) setelah
kehamilan 20 minggu dan sebelum janin lahir.1,2 Cunningham
dalam bukunya mendefinisikan solusio plasenta sebagai separasi
prematur plasenta dengan implantasi normalnya korpus uteri
sebelum janin lahir.3

Gambar 2.1 Solusio plasenta (placental abruption)

Nama lain dari Solutio Plasenta adalah:


1. Abrupsio Plasenta
2. Ablasio Plasenta
3. Accidental Haemorarrhge
4. Premature Separation Of The Normally Implanted Placenta
Dari beberapa definisi diatas dapat kami simpulkan bahwa
solusio plasenta adalah lepasnya plasenta dari implantasi normal
sebelum waktunya yang terjadi pada usia kehamilan antara 20-28
minggu.

7
2.1.2 Penyebab Solusio Plasenta
1. Trauma langsung Abdomen
2. Hipertensi ibu hamil
3. Umbilicus pendek atau lilitan tali pusat
4. Janin terlalu aktiv sehingga plasenta dapat terlepas
5. Tekanan pada vena kafa inferior
6. Preeklamsia/eklamsia
7. Tindakan Versi luar
8. Tindakan memecah ketuban (hamil biasa, pada hidramnion, setelah
anak pertama hamil ganda)
2.1.3 Etiologi
Kausa primer solusio plasenta belum diketahui tetapi terdapat
beberapa kondisi terkait, sebagai berikut:

Ris Relatif
Faktor Risiko (%)

Bertambahnya usia dan paritas NA


Preeklamsia 2.1-4.0
Hipertensi kronik 1.8-3.0
Ketuban pecah dini 2.4-3.0
Merokok 1.4-1.9
Trombofilia NA
Pemakaian kokain NA
Riwayat solusio 10-25
Leiomioma uterus NA
NA = tidak tersedia
Dikutip dari Cunningham dan Hollier (1997); data risiko dari
Ananth dkk. (1999a, 1999b) dan Kramer dkk. (1997).

8
Penyebab primer solusio plasenta belum diketahui secara pasti,
namun ada beberapa faktor yang menjadi predisposisi :
1. Faktor kardiorenovaskuler
Glomerulonefritis kronik, hipertensi essensial, sindroma
preeklamsia dan eklamsia. Pada penelitian di Parkland, ditemukan
bahwa terdapat hipertensi pada separuh kasus solusio plasenta
berat, dan separuh dari wanita yang hipertensi tersebut mempunyai
penyakit hipertensi kronik, sisanya hipertensi yang disebabkan oleh
kehamilan. Dapat terlihat solusio plasenta cenderung berhubungan
dengan adanya hipertensi pada ibu.
2. Faktor trauma
Trauma yang dapat terjadi antara lain:
a. Dekompresi uterus pada hidroamnion dan gemeli.
b. Tarikan pada tali pusat yang pendek akibat pergerakan janin
yang banyak/bebas, versi luar atau tindakan pertolongan
persalinan.
c. Trauma langsung, seperti jatuh, kena tendang, dan lain-lain.
3. Faktor paritas ibu
Lebih banyak dijumpai pada multipara dari pada primipara.
Holmer mencatat bahwa dari 83 kasus solusio plasenta yang diteliti
dijumpai 45 kasus terjadi pada wanita multipara dan 18 pada
primipara. Pengalaman di RSUPNCM menunjukkan peningkatan
kejadian solusio plasenta pada ibu-ibu dengan paritas tinggi. Hal
ini dapat diterangkan karena makin tinggi paritas ibu makin kurang
baik keadaan endometrium.
4. Faktor usia ibu
Dalam penelitian Prawirohardjo di RSUPNCM dilaporkan
bahwa terjadinya peningkatan kejadian solusio plasenta sejalan
dengan meningkatnya umur ibu. Hal ini dapat diterangkan karena
makin tua umur ibu, makin tinggi frekuensi hipertensi menahun.

9
5. Leiomioma uteri (uterine leiomyoma) yang hamil dapat
menyebabkan solusio plasenta apabila plasenta berimplantasi di
atas bagian yang mengandung leiomioma.
6. Faktor pengunaan kokain
Penggunaan kokain mengakibatkan peninggian tekanan
darah dan peningkatan pelepasan katekolamin, yang mana
bertanggung jawab atas terjadinya vasospasme pembuluh darah
uterus dan dapat berakibat terlepasnya plasenta . Namun, hipotesis
ini belum terbukti secara definitif. Angka kejadian solusio plasenta
pada ibu-ibu penggunan kokain dilaporkan berkisar antara 13-
35%.
7. Faktor kebiasaan merokok
Ibu yang perokok juga merupakan penyebab peningkatan
kasus solusio plasenta sampai dengan 25% pada ibu yang merokok
≤ 1 (satu) bungkus per hari. Ini dapat diterangkan pada ibu yang
perokok plasenta menjadi tipis, diameter lebih luas dan beberapa
abnormalitas pada mikrosirkulasinya. Deering dalam penelitiannya
melaporkan bahwa resiko terjadinya solusio plasenta meningkat
40% untuk setiap tahun ibu merokok sampai terjadinya kehamilan.
8. Riwayat solusio plasenta sebelumnya
Hal yang sangat penting dan menentukan prognosis ibu
dengan riwayat solusio plasenta adalah bahwa resiko berulangnya
kejadian ini pada kehamilan berikutnya jauh lebih tinggi
dibandingkan dengan ibu hamil lainnya yang tidak memiliki
riwayat solusio plasenta sebelumnya.
9. Pengaruh lain, seperti anemia, malnutrisi/defisiensi gizi, tekanan
uterus pada vena cava inferior dikarenakan pembesaran ukuran
uterus oleh adanya kehamilan, dan lain-lain.
Etiologi solusio plasenta belum diketahui dengan jelas,
namun diduga hal-hal tersebut dapat disebabkan karena beberapa

10
keadaan tertentu dapat menyertainya. Adapun faktor predisposisinya
antara lain :
1. Hipertensi dalam kehamilan (penyakit hipertensi menahun,
preeklamsi, eklamsia)
2. Multiparitas, dengan umur ibu yang tua ( < 20 atau > 35 tahun)
3. Tali pusat pendek
4. Defisiensi gizi, asam folat
5. Trauma abdomen mis: kecelakaan lalu lintas
6. Tekanan pada vena cava inferior
7. Merokok
8. Mengkonsumsi alkohol
9. Penyalahgunaan obat – obatan
( Nita norma, 2013).
2.1.4 Klasifikasi dan Macam Solutio Plasenta
Menurut Nita Norma (2013), solusio plasenta di klasifikasikan
menjadi beberapa tipe :
1. Berdasarkan gejala klinis yang ditimbulkan :
i. Kelas 0 : Asimptomatik. Diagnosa ditegakkan secara
retrospektif dengan menemukan hematoma atau daerah yang
mengalami pendesakan pada plasenta. Ruptur sinus marginal
juga dimasukkan dalam kategori ini.
j. Kelas 1 : gejala klinis ringan dan terdapat pada hampir 48 %
kasus. Gejala meliputi tidak ada perdarahan pervaginam sampai
perdarahan pervaginam ringan, uterus sedikit tegang, tekanan
darah dan denyut jantung maternal normal, tidak ada
koagulopati dan tidak ditemukan tanda-tanda fetal distress.
k. Kelas 2 : gejala klinik sedang dan terdapat ± 27 % kasus.
Perdarahan pervaginam bisa ada atau tidak ada, ketegangan
uterus sedang sampai berat dengan kemungkinan kontraksi
tetanik, takikardi maternal dengan perubahan ortostatik tekanan

11
darah dan denyut jantung, terdapat fetal distress dan
hipofibrinogenemi (150- 250 mg/dl).
l. Kelas 3 : gejala berat dan terdapat pada hampir 24 % kasus,
perdarahan pervaginam dari tidak ada sampai berat, uterus
tetanik dan sangat nyeri, syok maternal, hipofibrinogemi (< 150
mg/dl), koagulopati serta kematian janin.
2. Berdasarkan ada tidaknya perdarahan pervaginam :
a. Solusio plasenta yang nyata/tampak (revealed )
Terjadinya perdarahan pervaginam, gejala klinis sesuai dengan
jumlah kehilangan darah, tidak terdapat ketegangan uterus, atau
ringan.
b. Solusio plasenta yang tersembunyi (concealed)
Tidak terdapat perdarahan pervaginam, uterus tegang dan
hipertonus, sering terjadi fetal distres berat. Tipe ini sering
disebut retroplasental.
c. Solusio plasenta tipe campuran (mixed)
Terjadi perdarahan baik retroplasental atau pervaginam, uterus
tetanik.
3. Berdasarakan jumlah perdarahan yang terjadi :
a. Solusio plasenta ringan : perdarahan pervaginam < 100 ml.
b. Solusio plasenta sedang : perdarahan pervaginam 100-500 ml,
hipersensititas uterus atau peningkatan tonus, syok ringan,
dapat terjadi fetal distres.
c. Solusio plasenta berat : perdarahan pervaginam luas > 500 ml,
uterus tetanik, syok maternal sampai kematian janin dan
koagulopati.
4. Berdasarkan luasnya plasenta yang terlepas dari uterus :
a. Solusio plasenta ringan : kurang dari ¼ bagian plasenta terlepas.
Perdarahan kurang dari 250 ml.

12
b. Solusio plasenta sedang : plasenta yang terlepas ¼ - 2/3 bagian.
Perdarahan < 1000 ml, uterus tegang, terdapat fetal distress
akibat insufisiensi uteroplasenta.
c. Solusio plasenta berat : plasenta yang terlepas > 2/3 bagian,
perdarahan > 1000 ml, terdapat fetal distress sampai dengan
kematian janin, syok maternal koagulopati.
2.1.5 Patofisiologi
Solusio plasenta dimulai dengan terjadinya perdarahan ke
dalam desidua basalis dan terbentuknya hematom subkhorionik yang
dapat berasal dari pembuluh darah miometrium atau plasenta, dengan
berkembangnya hematom subkhorionik terjadi penekanan dan
perluasan pelepasan plasenta dari dinding uterus (Cunningham, 2001).

Gambar 2.2 Plasenta normal dan solusio plasenta dengan hematom


subkhorionik.

Apabila perdarahan sedikit, hematom yang kecil hanya akan


sedikit mendesak jaringan plasenta dan peredaran darah utero-
plasenter belum terganggu, serta gejala dan tandanya pun belum jelas.
Kejadian baru diketahui setelah plasenta lahir, yang pada pemeriksaan
plasenta didapatkan cekungan pada permukaan maternalnya dengan
bekuan darah lama yang berwarna kehitaman. Biasanya perdarahan
akan berlangsung terus-menerus/tidak terkontrol karena otot uterus
yang meregang oleh kehamilan tidak mampu berkontraksi untuk

13
membantu dalam menghentikan perdarahan yang terjadi. Akibatnya
hematom subkhorionik akan menjadi bertambah besar, kemudian
akan medesak plasenta sehingga sebagian dan akhirnya seluruh
plasenta akan terlepas dari implantasinya di dinding uterus.
Sebagian darah akan masuk ke bawah selaput ketuban, dapat juga
keluar melalui vagina, darah juga dapat menembus masuk ke dalam
kantong amnion, atau mengadakan ekstravasasi di antara otot-otot
miometrium. Apabila ekstravasasinya berlangsung hebat akan terjadi
suatu kondisi uterus yang biasanya disebut dengan istilah Uterus
Couvelaire, dimana pada kondisi ini dapat dilihat secara makroskopis
seluruh permukaan uterus terdapat bercak-bercak berwarna biru atau
ungu. Uterus pada kondisi seperti ini (Uterus Couvelaire) akan
terasa sangat tegang, nyeri dan juga akan mengganggu kontraktilitas
(kemampuan berkontraksi) uterus yang sangat diperlukan pada saat
setelah bayi dilahirkan sebagai akibatnya akan terjadi perdarahan post
partum yang hebat (3,5).
Akibat kerusakan miometrium dan bekuan retroplasenter
adalah pelepasan tromboplastin yang banyak ke dalam peredaran
darah ibu, sehingga berakibat pembekuan intravaskuler dimana-mana
yang akan menghabiskan sebagian besar persediaan fibrinogen.
Akibatnya ibu jatuh pada keadaan hipofibrinogenemia. Pada keadaan
hipofibrinogenemia ini terjadi gangguan pembekuan darah yang tidak
hanya di uterus, tetapi juga pada alat-alat tubuh lainnya (Doengoes,
2001).
Perdarahan dapat terjadi dari pembuluh darah plasenta atau
uterus yang membentuk hematoma pada desidua, sehingga plasenta
terdesak dan akhirnya terlepas. Apabila perdarahan sedikit, hematoma
yang kecil itu hanya akan mendesak jaringan plasenta, peredaran
darah antara uterus dan plasenta belum terganggu, dan tanda serta
gejalanya pun tidak jelas. Kejadiannya baru diketahui setelah plasenta
lahir, yang pada pemeriksaan didapatkan cekungan pada permukaan

14
maternalnya dengan bekuan darah lama yang berwarna kehitam-
hitaman.
Biasanya perdarahan akan berlangsung terus-menerus
karena otot uterus yang telah meregang oleh kehamilan itu tidak
mampu untuk lebih berkontraksi menghentikan perdarahannya.
Akibatnya, hematoma retroplasenter akan bertambah besar, sehingga
sebagian dan akhirnya seluruh plasenta terlepas dari dinding uterus.
Sebagian darah akan menyelundup di bawah selaput ketuban dari
vagina, atau menembus selaput ketuban masuk ke dalam kantong
ketuban atau mengadakan ekstravasasi di antara serabut-serabut otot
uterus. Apabila ekstravasasinya berlangsung hebat, seluruh permukaan
uterus akan berbercak biru atau ungu. Hal ini disebut uterus
Couvelaire, menurut orang yang pertama kali menemukannya. Uterus
seperti itu akan terasa sangat tegang dan nyeri. Akibat kerusakan
jaringan miometrium dan pembekuan retroplasenter, banyak
tromboplastin akan masuk kedalam peredaran darah ibu, sehingga
terjadi pembekuan intravaskuler di mana-mana, yang menyebabkan
gangguan pembekuan darah tidak hanya di uterus akan tetapi juga
pada alat-alat tubuh lainnya. Perfusi ginjal akan terganggu karena
syok dan pembekuan intravaskuler. Oliguria dan proteinuria akan
terjadi akibat nekrosis tubuli ginjal mendadak yang masih dapat
sembuh kembali atau akibat nekrosis korteks ginjal mendadak yang
biasanya berakibat fatal.
Nasib janin tergantung dari luasnya plasenta yang terlepas dari
dinding uterus. Apabila sebagian besar atau seluruhnya terlepas,
mungkin tidak berpengaruh sama sekali, atau mengakibatkan gawat
janin. Waktu, sangat menentukan hebatnya gangguan pembekuan
darah, kelainan ginjal dan nasib janin. Makin lama sejak terjadinya
solusio plasenta sampai selesai, makin hebat umumnya makin hebat
komplikasinya. (Nita Norma, 2013).

15
2.1.6 Pathway

16
17
2.1.7 Manifestasi Klinis
1. Perdarahan pervaginam disertai rasa nyeri di perut yang terus
menerus, warna darah merah kehitaman.
2. Rahim keras seperti papan dan nyeri dipegang karena isi rahim
bertambah dengan darah yang berkumpul di belakang plasenta
hingga rahim teregang (wooden uterus).
3. Palpasi janin sulit karena rahim keras
4. Fundus uteri makin lama makin naik
5. Auskultasi DJJ sering negatife
6. Kala uri pasien lebih buruk dari jumlah darah yang keluar
7. Sering terjadi renjatan (hipovolemik dan neurogenik)
8. Pasien kelihatan pucat, gelisah dan kesakitan
Keluhan dan gejala pada solusio plasenta dapat bervariasi
cukup luas. Sebagai contoh, perdarahan eksternal dapat banyak sekali
meskipun pelepasan plasenta belum begitu luas sehingga
menimbulkan efek langsung pada janin, atau dapat juga terjadi
perdarahan eksternal tidak ada, tetapi plasenta sudah
terlepas seluruhnya dan janin meninggal sebagai akibat langsung dari
keadaan ini.
Solusio plasenta dengan perdarahan tersembunyi
mengandung ancaman bahaya yang jauh lebih besar bagi ibu, hal ini
bukan saja terjadi akibat kemungkinan koagulopati yang lebih tinggi,
namunjuga akibat intensitas perdarahan yang tidak diketahui sehinga
pemberian transfusi sering tidak memadai atau terlambat.
2.1.8 Pemeriksaan Penunjang
1. Laboratorium: Hemoglobin, hematokrit, trombosit, waktu
protrombin, waktu pembekuan, waktu tromboplastin parsial, kadar
fibrinogen, gen elektrolitplasenta. CBC, C T, BT, Elektrolit (bila
perlu).
2. Keadaan janin: Kardiootokografi, Doppler, Laennec.
3. USG: Menilai letak plasenta, usia kehamilan dan keadaan janin
secara keseluruhan.

18
2.1.9 Penatalaksanaan
1. Konservatif
Menunda pelahiran mungkin bermanfaat pada janin masih
imatur serta bila solusio plasenta hanya berderajat ringan. Tidak
adanya deselerasi tidak menjamin lingkungan intrauterine
aman.Harus segera dilakukan langkah-langkah untuk memperbaiki
hipovolemia, anemia dan hipoksia ibu sehingga fungsi plasenta
yang masih berimplantasi dapat dipulihkan. Tokolisis harus di
anggap kontra indikasi pada solusio plasenta yang nyata secara
klinis.
2. Aktif
Pelahiran janin secara cepat yang hidup hampir selalu
berarti seksio caesaria. Seksio sesaria kadang membahayakan ibu
karena ia mengalami hipovolemia berat dan koagulopati
konsumtif. Apabila terlepasnya plasenta sedemikian parahnya
sehingga menyebabkan janin meninggal lebih dianjurkan
persalinan pervaginam kecuali apabila perdarahannya sedemikian
deras sehingga tidak dapat di atasi bahkan dengan penggantian
darah secara agresif atau terdapat penyulit obstetric yang
menghalangi persalinan pervaginam.
2.1.10 Komplikasi
Komplikasi solusio plasenta pada ibu dan janin tergantung dari
luasnya plasenta yang terlepas, usia kehamilan dan lamanya solusio
plasenta berlangsung. Komplikasi yang dapat terjadi pada ibu :
1. Syok perdarahan
Pendarahan antepartum dan intrapartum pada solusio
plasenta hampir tidak dapat dicegah, kecuali dengan
menyelesaikan persalinan segera. Bila persalinan telah
diselesaikan, penderita belum bebas dari perdarahan postpartum
karena kontraksi uterus yang tidak kuat untuk menghentikan
perdarahan pada kala III persalinan dan adanya kelainan pada

19
pembekuan darah.Pada solusio plasenta berat keadaan syok sering
tidak sesuai dengan jumlah perdarahan yang terlihat.
Titik akhir dari hipotensi yang persisten adalah asfiksia,
karena itupengobatan segera ialah pemulihan defisit volume
intravaskuler secepat mungkin. Angka kesakitan dan kematian ibu
tertinggi terjadi pada solusio plasenta berat. Meskipun kematian
dapat terjadi akibat nekrosis hipofifis dan gagal ginjal, tapi
mayoritas kematian disebabkan syok perdarahan dan penimbunan
cairan yang berlebihan. Tekanan darah tidak merupakan petunjuk
banyaknya perdarahan, karena vasospasme akibat perdarahan
akanmeninggikan tekanan darah. Pemberian terapi cairan bertujuan
mengembalikan stabilitas hemodinamik dan mengkoreksi keadaan
koagulopathi. Untuk tujuan ini pemberian darah segar adalah
pilihan yang ideal, karena pemberian darah segar selain dapat
memberikan sel darah merah juga dilengkapi oleh platelet dan
faktor pembekuan.
2. Gagal ginjal
Gagal ginjal merupakan komplikasi yang sering terjadi pada
penderita solusio plasenta, pada dasarnya disebabkan oleh keadaan
hipovolemia karena perdarahan yang terjadi. Biasanya terjadi
nekrosis tubuli ginjal yang mendadak, yang umumnya masih dapat
ditolong dengan penanganan yang baik. Perfusi ginjal akan
terganggu karena syok dan pembekuan intravaskuler. Oliguri dan
proteinuri akan terjadi akibat nekrosis tubuli atau nekrosis korteks
ginjal mendadak. Oleh karena itu oliguria hanya dapat diketahui
dengan pengukuran pengeluaran urin yang harus secara rutin
dilakukan pada solusio plasenta berat. Pencegahan gagal ginjal
meliputi penggantian darah yang hilang secukupnya,
pemberantasan infeksi, atasi hipovolemia, secepat mungkin
menyelesaikan persalinan dan mengatasi kelainan pembekuan
darah.

20
3. Kelainan pembekuan darah
Kelainan pembekuan darah pada solusio plasenta biasanya
disebabkan oleh hipofibrinogenemia. Dari penelitian yang
dilakukan oleh Wirjohadiwardojo di RSUPNCM dilaporkan
kelainan pembekuan darah terjadi pada 46% dari 134 kasus
solusio plasenta yang ditelitinya. Kadar fibrinogen plasma normal
pada wanita hamil cukup bulan ialah 450 mg%, berkisar antara
300-700 mg%. Apabila kadar fibrinogen plasma kurang dari
100 mg% maka akan terjadi gangguan pembekuan darah.
Mekanisme gangguan pembekuan darah terjadi melalui dua fase,
yaitu:
a. Fase I
Pada pembuluh darah terminal (arteriole, kapiler, venule)
terjadi pembekuan darah, disebut disseminated intravasculer
clotting. Akibatnya ialah peredaran darah kapiler
(mikrosirkulasi) terganggu. Jadi pada fase I, turunnya kadar
fibrinogen disebabkan karena pemakaian zat tersebut, maka
fase I disebut juga coagulopathi consumptive. Diduga bahwa
hematom subkhorionik mengeluarkan tromboplastin yang
menyebabkan pembekuan intravaskuler tersebut. Akibat
gangguan mikrosirkulasi dapat mengakibatkan syok, kerusakan
jaringan pada alat-alat yang penting karena hipoksia dan
kerusakan ginjal yang dapat menyebabkan oliguria/anuria.
b. Fase II
Fase ini sebetulnya fase regulasi reparatif, yaitu usaha
tubuh untuk membuka kembali peredaran darah kapiler yang
tersumbat. Usaha ini dilaksanakan dengan fibrinolisis.
Fibrinolisis yang berlebihan malah berakibat lebih menurunkan
lagi kadar fibrinogen sehingga terjadi perdarahan patologis.
Kecurigaan akan adanya kelainan pembekuan darah harus
dibuktikan dengan pemeriksaan laboratorium, namun di
klinikpengamatan pembekuan darah merupakan cara

21
pemeriksaan yang terbaik karena pemeriksaan laboratorium
lainnya memerlukan waktu terlalu lama, sehingga hasilnya
tidak mencerminkan keadaan penderita saat itu.
4. Apoplexi uteroplacenta (Uterus couvelaire)
Pada solusio plasenta yang berat terjadi perdarahan dalam
otot-otot rahim dan di bawah perimetrium kadang-kadang juga
dalam ligamentum latum. Perdarahan ini menyebabkan gangguan
kontraktilitas uterus dan warna uterus berubah menjadi biru atau
ungu yang biasa disebut Uterus couvelaire. Tapi apakah uterus ini
harus diangkat atau tidak, tergantung pada kesanggupannya
dalam membantu menghentikan perdarahan. Komplikasi yang
dapat terjadi pada janin:
a. Fetal distress
b. Gangguan pertumbuhan/perkembangan
c. Hipoksia dan anemia
d. Kematian
2.1.11 Gambaran Klinik
Gambaran klinik penderita solusio plasenta bervariasi sesuai
dengan berat ringannya atau luas permukaan maternal plasenta yang
terlepas. Belum ada uji coba yang khas untuk menentukan
diagnosisnya. Gejala dan tanda klinisnya yang klasik dari solusio
plasenta adalah terjadinya perdarahan yang berwarna tua keluar
melalui vagina (80% kasus), rasa nyeri perut dan uterus tegang terus-
menerus mirip his partus prematurus. Sejumlah penderita bahkan tidak
menunjukkan tanda atau gejala klasik, gejala yang lahir mirip tanda
persalinan prematur saja. Oleh karena itu, kewaspadaan atau
kecurigaan yang tinggi diperlukan dari pihak pemeriksa.5
1. Solusio plasenta ringan
Solusio plasenta ringan ini disebut juga ruptura sinus
marginalis, dimana terdapat pelepasan sebagian kecil plasenta yang
tidak berdarah banyak. Apabila terjadi perdarahan pervaginam,
warnanya akan kehitam-hitaman dan sedikit sakit. Perut terasa agak

22
sakit, atau terasa agak tegang yang sifatnya terus menerus.
Walaupun demikian, bagian-bagian janin masih mudah diraba.
Uterus yang agak tegang ini harus selalu diawasi, karena dapat saja
menjadi semakin tegang karena perdarahan yang berlangsung.
2. Solusio plasenta sedang
Dalam hal ini plasenta terlepas lebih dari 1/4 bagian, tetapi
belum 2/3 luas permukaan Tanda dan gejala dapat timbul perlahan-
lahan seperti solusio plasenta ringan, tetapi dapat juga secara
mendadak dengan gejala sakit perut terus menerus, yang tidak lama
kemudian disusul dengan perdarahan pervaginam. Walaupun
perdarahan pervaginam dapat sedikit, tetapi perdarahan sebenarnya
mungkin telah mencapai 1000 ml. Ibu mungkin telah jatuh ke
dalam syok, demikian pula janinnya yang jika masih hidup
mungkin telah berada dalam keadaan gawat. Dinding uterus teraba
tegang terus-menerus dan nyeri tekan sehingga bagian-bagian janin
sukar untuk diraba. Jika janin masih hidup, bunyi jantung sukar
didengar. Kelainan pembekuan darah dan kelainan ginjal mungkin
telah terjadi,walaupun hal tersebut lebih sering terjadi pada solusio
plasenta berat.
3. Solusio plasenta berat
Plasenta telah terlepas lebih dari 2/3 permukaannnya.
Terjadi sangat tiba-tiba. Biasanya ibu telah jatuh dalam keadaan
syok dan janinnya telah meninggal. Uterus sangat tegang seperti
papan dan sangat nyeri. Perdarahan pervaginam tampak tidak
sesuai dengan keadaan syok ibu, terkadang perdarahan pervaginam
mungkin saja belum sempat terjadi. Pada keadaan-keadaan di atas
besar kemungkinan telah terjadi kelainan pada pembekuan darah
dan kelainan/gangguan fungsi ginjal (Gasong, 2007).
2.1.12 Diagnosis
Berdasarkan gejala dan tanda klinik yaitu perdarahan melalui
vagina, nyeri pada uterus, kotraksi tetanik pada uterus, dan pada
solusio plasenta yang berat terdapat kelainan denyut jantung janin

23
pada pemeriksaan dengan KTG. Namun adakalanya pasien datang
dengan gejala mirip persalinan prematur, ataupun datang dengan
perdarahan tidak banyak dengan perut tegang, tetapi janin telah
meninggal. Diagnosis definitif hanya bisa ditegakkan secara
resrospektif yaitu setelah partus dengan melihat adanya hematoma
retroplasenta.
Pemeriksaan dengan ultrasonografi berguna untuk
membedakannya dengan plasenta previa, tetapi pada solusio plasenta
pemeriksaan dengan USG tidak memberikan kepastian berhubung
kompleksitas gambaran retroplasenta yang normal mirip dengan
gambaran perdarahan retroplasenta pada solusio plasenta.
Kompleksitas gambar normal retroplasenta, kompleksitas vaskular
rahim sendiri, desidua dan mioma semuanya bisa mirip dengan solusio
plasenta dan memberikan hasil pemeriksaan positif palsu. Di samping
itu solusio plasenta sulit dibadakan dengan plasenta itu sendiri.
Pemeriksaan ulang pada perdarahan baru sering bisa menbantu karena
gambaran ultrasonografi dari darh yang telah membeku akan berubah
menurut waktu menjadi lebih ekogenik pada 48 jam kemudian
menjadi hipogenik dalam waktu 1-2 minggu (Doengoes, 2001).
Keluhan dan gejala pada solusio plasenta dapat bervariasi
cukup luas. Sebagai contoh, perdarahan eksternal dapat banyak sekali
meskipun pelepasan plasenta belum begitu luas sehingga
menimbulkan efek langsung pada janin, atau dapat juga terjadi
perdarahan eksternal tidak ada, tetapi plasenta sudah terlepas
seluruhnya dan janin meninggal sebagai akibat langsung dari
keadaan ini. Solusio plasenta dengan perdarahan tersembunyi
mengandung ancaman bahaya yang jauh lebih besar bagi ibu, hal ini
bukan saja terjadi akibat kemungkinan koagulopati yang lebih tinggi,
namun juga akibat intensitas perdarahan yang tidak diketahui
sehingga pemberian transfusi sering tidak memadai atau terlambat
(Chalik, 2010).

24
Menurut penelitian retrospektif yang dilakukan Hurd dan
kawan-kawan pada 59 kasus solusio plasenta dilaporkan gejala dan
tanda pada solusio plasenta (Cunningham, 2001) :
Tabel 2 Tanda dan Gejala Pada Solusio Plasenta

No. Tanda atau Gejala Frekuensi (%)


1. Perdarahan pervaginam 78
2. Nyeri tekan uterus atau nyeri pinggang 66
3. Gawat janin 60
4. Persalinan prematur idiopatik 22
5. Kontraksi berfrekuensi tinggi 17
6. Uterus hipertonik 17
7. Kematian janin 15
Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa perdarahan pervaginam
merupakan gejala atau tanda dengan frekuensi tertinggi pada kasus-
kasus solusio plasenta.
Berdasarkan kepada gejala dan tanda yang terdapat pada
solusio plasenta klasik umumnya tidak sulit menegakkan diagnosis,
tapi tidak demikian halnya pada bentuk solusio plasenta sedang dan
ringan. Solusio plasenta klasik mempunyai ciri-ciri nyeri yang hebat
pada perut yang datangnya cepat disertai uterus yang tegang terus
menerus seperti papan, penderita menjadi anemia dan syok, denyut
jantung janin tidak terdengar dan pada pemeriksaan palpasi perut
ditemui kesulitan dalam meraba bagian-bagian janin.
Prosedur pemeriksaan untuk dapat menegakkan diagnosis
solusio plasenta antara lain :
1. Anamnesis (Gasong, 2007).
a. Perasaan sakit yang tiba-tiba di perut, kadang-kadang pasien
dapat menunjukkan tempat yang dirasa paling sakit.
b. Perdarahan pervaginam yang sifatnya dapat hebat dan
sekonyong-konyong (non-recurrent) terdiri dari darah segar
dan bekuan-bekuan darah yang berwarna kehitaman .

25
c. Pergerakan anak mulai hebat kemudian terasa pelan dan
akhirnya berhenti (anak tidak bergerak lagi).
d. Kepala terasa pusing, lemas, muntah, pucat, mata berkunang-
kunang. Ibu terlihat anemis yang tidak sesuai dengan jumlah
darah yang keluar pervaginam.
e. Kadang ibu dapat menceritakan trauma dan faktor kausal yang
lain.
2. Inspeksi (Gasong, 2007).
a. Pasien gelisah, sering mengerang karena kesakitan.
b. Pucat, sianosis dan berkeringat dingin.
c. Terlihat darah keluar pervaginam (tidak selalu).
3. Palpasi (Gasong, 2007).
a. Tinggi fundus uteri (TFU) tidak sesuai dengan tuanya
kehamilan.
b. Uterus tegang dan keras seperti papan yang disebut uterus in
bois (wooden uterus) baik waktu his maupun di luar his.
c. Nyeri tekan di tempat plasenta terlepas.
d. Bagian-bagian janin sulit dikenali, karena perut (uterus)
tegang.
4. Auskultasi (Gasong, 2007).
Sulit dilakukan karena uterus tegang, bila denyut jantung
terdengar biasanya di atas 140, kemudian turun di bawah 100 dan
akhirnya hilang bila plasenta yang terlepas lebih dari satu per tiga
bagian.
5. Pemeriksaan dalam
a. Serviks dapat telah terbuka atau masih tertutup.
b. Kalau sudah terbuka maka plasenta dapat teraba menonjol dan
tegang, baik sewaktu his maupun di luar his.
c. Apabila plasenta sudah pecah dan sudah terlepas seluruhnya,
plasenta ini akan turun ke bawah dan teraba pada pemeriksaan,
disebut prolapsus placenta, ini sering meragukan dengan
plasenta previa.

26
6. Pemeriksaan umum (Gasong, 2007).
a. Tekanan darah semula mungkin tinggi karena pasien
sebelumnya menderita penyakit vaskuler, tetapi lambat laun
turun dan pasien jatuh dalam keadaan syok. Nadi cepat, kecil
dan filiformis.
7. Pemeriksaan laboratorium
a. Urin : Albumin (+), pada pemeriksaan sedimen dapat
ditemukan silinder dan leukosit.
b. Darah : Hb menurun, periksa golongan darah, lakukan
cross-match test. Karena pada solusio plasenta sering terjadi
kelainan pembekuan darah hipofibrinogenemia, maka
diperiksakan pula COT (Clot Observation test) tiap l jam, tes
kualitatif fibrinogen (fiberindex), dan tes kuantitatif fibrinogen
(kadar normalnya 15O mg%).
8. Pemeriksaan plasenta .
Plasenta dapat diperiksa setelah dilahirkan. Biasanya
tampak tipis dan cekung di bagian plasenta yang terlepas (kreater)
dan terdapat koagulum atau darah beku yang biasanya menempel
di belakang plasenta, yang disebut hematoma retroplacenter.
9. Pemeriksaaan Ultrasonografi (USG)
Pada pemeriksaan USG yang dapat ditemukan antara lain :
a. Terlihat daerah terlepasnya plasenta
b. Janin dan kandung kemih ibu
c. Darah
d. Tepian plasenta

27
Gambar 2.3 Ultrasonografi kasus solusio plasenta.
2.1.13 Penanganan
Semua pasien yang tersangka menderita solusio plasenta harus
dirawat dirumah sakit yang berfasilitas cukup. Ketika masuk lansung
lakukan pemeriksaan darah lengkap lansung Hb dan golongan darah
serta gambaran pembekuan darah dengan memeriksa waktu
pembekuan darah, waktu protrombin, kadar fibrinogen dan kadar
hancuran fibrinogen dalam plasma. Pemeriksaan dengan
ultrasonografi berguna terutama untuk membedakanya dengan
plasenta previa dan memastikan janin masih hidup (Doengoes, 2001).
Penanganan solusio plasenta didasarkan kepada berat atau
ringannya gejala klinis, yaitu:
a. Solusio plasenta ringan
Ekspektatif, bila kehamilan kurang dari 36 minggu dan bila
ada perbaikan (perdarahan berhenti, perut tidak sakit, uterus tidak
tegang, janin hidup) dengan tirah baring dan observasi ketat,
kemudian tunggu persalinan spontan. Bila ada perburukan
(perdarahan berlangsung terus, gejala solusio plasenta makin jelas,
pada pemantauan dengan USG daerah solusio plasenta bertambah
luas), maka kehamilan harus segera diakhiri. Bila janin hidup,
lakukan seksio sesaria, bila janin mati lakukan amniotomi disusul
infus oksitosin untuk mempercepat persalinan (Israr, 2007).

28
b. Solusio plasenta sedang dan berat
Apabila tanda dan gejala klinis solusio plasenta jelas
ditemukan, penanganan di rumah sakit meliputi transfusi darah,
amniotomi, infus oksitosin dan jika perlu seksio sesaria. Apabila
diagnosis solusio plasenta dapat ditegakkan berarti perdarahan
telah terjadi sekurang-kurangnya 1000 ml. Maka transfusi darah
harus segera diberikan. Amniotomi akan merangsang persalinan
dan mengurangi tekanan intrauterin. Keluarnya cairan amnion juga
dapat mengurangi perdarahan dari tempat implantasi dan
mengurangi masuknya tromboplastin ke dalam sirkulasi ibu yang
mungkin akan mengaktifkan faktor-faktor pembekuan dari
hematom subkhorionik. Persalinan juga dapat dipercepat dengan
infus oksitosin yang memperbaiki kontraksi uterus.
Kemungkinan kelainan pembekuan darah harus selalu
diawasi dengan pengamatan pembekuan darah. Pengobatan dengan
fibrinogen tidak bebas dari bahaya hepatitis, oleh karena itu
pengobatan dengan fibrinogen hanya pada penderita yang sangat
memerlukan, dan bukan pengobatan rutin. Dengan melakukan
persalinan secepatnya dan transfusi darah dapat mencegah kelainan
pembekuan darah. Persalinan diharapkan terjadi dalam 6 jam sejak
berlangsungnya solusio plasenta. Tetapi jika itu tidak
memungkinkan, walaupun sudah dilakukan amniotomi dan infus
oksitosin, maka satu-satunya cara melakukan persalinan adalah
seksio sesaria. Uterus Couvelaire tidak merupakan indikasi
histerektomi. Akan tetapi, jika perdarahan tidak dapat dikendalikan
setelah dilakukan seksio sesaria, tindakan histerektomi perlu
dilakukan.4,8,9
2.1.14 Prognosis
Solusio plasenta mempunyai prognosis yang buruk baik bagi
ibu hamil dan lebih buruk lagi bagi janin. Solusio plasenta ringan
masih mempunyai prognosis yang baik bagi ibu dan janin karena tidak
ada kematian dan morbiditasnya rendah. Solusio plasenta

29
sedangmempunyai prognosis yang lebih buruk terutama terhadap
janinnya karena morbiditas ibuyang lebih berat. Solusio plasenta berat
mempunyai prognosis paling buruk terhadap ibu lebih-lebih terhadap
janinnya. Umumnya pada keadaan yang demikian janin telah mati dan
mortalitas maternal meningkat akibat salah satu komplikasi. Pada
solusio plasenta sedang dan berat prognosisnya juga tergantung pada
kecepatan dan ketepatan bantuan medik yang diperoleh pasien.
Transfusi darah yang banyak dengan segera dan terminasi kehamilan
tepat waktu sangat menurunkan morbiditas dan mortalitas maternal
dan perinatal (Moses, 2008).

2.2 Konsep Asuhan Keperawatan


2.2.1 Pengkajian
1. Biodata
Pada biodata yang perlu dikaji berhubungan dengan solusio plasenta
antara lain
a. Nama
Nama dikaji karena nama digunakan untuk mengenal dan
merupakan identitas untuk membedakan dengan pasien lain dan
menghindari kemungkinan tertukar nama dan diagnosa
penyakitnya.
b. Jenis kelamin
Pada solusio plasenta diderita oleh wanita yang sudah menikah
dan mengalami kehamilan.
c. Umur
Solusio plasenta cenderung terjadi pada usia lanjut (> 45 tahun)
karena terjadi penurunan kontraksi akibat menurunnya fungsi
hormon (estrogen) pada masa menopause.
d. Pendidikan
Solusio plasenta terjadi pada golongan pendidikan rendah
karena mereka tidak mengetahui cara perawatan kehamilan dan
penyebab gangguan kehamilan.

30
e. Alamat
Solusio plasenta terjadi di lingkungan yang jauh dan pelayanan
kesehatan, karena mereka tidak pernah dapat pelayanan
kesehatan dan pemeriksaan untuk kehamilan.
f. Riwayat persalinan
Riwayat persalinan pada solusio plasenta biasanya pernah
mengalami pelepasan plasenta.
g. Status perkawinan
Dengan status perkawinan apakah pasien mengalami kehamilan
(KET) atau hanya sakit karena penyakit lain yang tidak ada
hubungannya dengan kehamilan.
h. Agama
Untuk mengetahui gambaran dan spiritual pasien sebagai
memudahkan dalam memberikan bimbingan kegamaan.
i. Nama suami
Agar diketahui siapa yang bertanggung jawab dalam
pembiayaan dan memberi persetujuan dalam perawatan.
j. Pekerjaan
Untuk mengetahui kemampuan ekonomi pasien dalam
pembinaan selama istrinya dirawat.
2. Keluhan utama
a. Pasien mengatakan perdarahan yang disertai nyeri
b. Rahim keras seperti papan dan nyeri tekan karena isi rahim
bertambah dengan dorongan yang berkumpul dibelakang
plasenta, sehingga rahim tegang.
c. Perdarahan yang berulang-ulang
3. Riwayat penyakit sekarang
Darah terlihat merah kehitaman karena membentuk gumpalan darh,
darah yang keluar sedikit banyak, terus menerus. Akibat dari
perdarahan pasien lemas dan pucat. Sebelumnya biasanya pasien
pernah mengalami hypertensi esensialis atau pre eklampsi, tali pusat

31
pendek trauma, uterus yang sangat mengecil (hydroamnion gameli)
dll.
4. Riwayat penyakit masa lalu
Kemungkinan pasien pernah menderita penyakit hipertensi / pre
eklampsi, tali pusat pendek, trauma, uterus / rahim feulidli.
5. Riwayat psikologis
Pasien cemas karena mengalami perdarahan disertai nyeri, serta
tidak mengetahui asal dan penyebabnya.
6. Pengkajian Cepat
a. AVPU
1) A : Kesadaran pasien
2) V : Verbal stimulus
3) P : Stimuluis nyeri
4) U : Unresponsive
b. SAMPLE
1) S : perdarahan berulang, nyeri, Rahim keras seperti papan
dan nyeri tekan karena isi rahim bertambah dengan
dorongan yang berkumpul dibelakang plasenta, sehingga
rahim tegang.
2) A : Alergi makanan/obat yang dimiliki pasien.
3) M : obat-obatan yang biasa dikonsumsi pasien
4) P : riwayat penyakit/kehamilan yang dimiliki pasien
5) L : makanan terakhir yang dikonsumsi
6) E : mekanisme kejadian terjadinya perdarahan.
7. Primary Survey dan Secondary Survey
a. Primary Survey
1) Airway
Pasien tidak mengeluh sesak, tidak ada nyeri dada, tidak
terdapat suara nafas tambahan, tidak ada secret.
2) Breathing
Tidak ada pernapasan cuping hidung, tidak ada penggunakan
otot aksesori pernapasan.

32
3) Circulation
conjungtiva anemis, acral dingin, Hb turun, muka pucat &
lemas, nadi meningkat/ > 100x/menit.
b. Secondary Survey
1) Keadaan umum
a) Kesadaran : composmetis s/d coma
b) Postur tubuh : biasanya gemuk
c) Cara berjalan : biasanya lambat dan tergesa-gesa
d) Raut wajah : biasanya pucat
2) Tanda-tanda vital
a) Tensi : normal sampai turun (syok)
b) Nadi : normal sampai meningkat (> 90x/menit)
c) Suhu : normal / meningkat (> 37ºC)
d) RR : normal / meningkat (> 24x/menit)
3) Pemeriksaan cepalo caudal
a) Kepala : kulit kepala biasanya normal / tidak mudah
mengelupas rambut biasanya rontok / tidak rontok.
b) Muka : biasanya pucat, tidak oedema ada cloasma
c) Hidung : biasanya ada pernafasan cuping hidung
d) Mata : conjunctiva anemis
4) Dada : bentuk dada normal, RR meningkat, nafas cepat da
dangkal, hiperpegmentasi aerola.
5) Abdomen
a) Inspeksi : perut besar (buncit), terlihat etrio pada area
perut, terlihat linea alba dan ligra
b) Palpasi rahim keras, fundus uteri naik
c) Auskultasi : tidak terdengar DJJ, tidak terdengar gerakan
janin.
6) Genetalia
Hiperpregmentasi pada vagina, vagina berdarah / keluar
darah yang merah kehitaman, terdapat farises pada kedua
paha / femur.

33
7) Ekstremitas
Akral dingin, tonus otot menurun.
8. Pemeriksaan penunjang
Darah : Hb, hemotokrit, trombosit, fibrinogen, elektrolit.
USG untuk mengetahui letak plasenta,usia gestasi, keadaan janin.
9. Analisa Data
Symptom Etiologi Problem
DS: Solusio Plasenta Gangguan perfusi
Pasien merasa jaringan
pusing Perdarahan
DO:
conjungtiva anemis, Hematom
acral dingin, Hb turun, Subhkronik
muka pucat & lemas.

Penekanan dan
Perluasan

Mendesak Plasenta
Lahir

Cekungan

Perdarahan terus-
menerus
DS: Solusio Plasenta Resiko tinggi
Pasien merasa terjadinya letal
pusing Perdarahan distress
DO:
conjungtiva anemis, Hematom
acral dingin, Hb turun, Subhkronik
muka pucat & lemas.

Penekanan dan

34
Perluasan

Mendesak Plasenta
Lahir

Cekungan

Perdarahan terus-
menerus
DS: Solusio Plasenta Gangguan rasa
Pasien mengeluh nyaman nyeri
kesakitan Perdarahan
DO:
Rahim keras seperti Hematom
papan dan nyeri Subhkronik
tekan karena isi
rahim bertambah Penekanan dan
dengan dorongan Perluasan
yang berkumpul
dibelakang plasenta,
sehingga rahim
tegang.

DS: Pasien merasa Solusio Plasenta Gangguan psikologi


khawatir dengan (cemas)
kehamilan dan Cemas
keadaannya
DO:
Gelisah, takut,
cemas, tegang, Nadi
meningkat.

35
DS:- Solusio Plasenta Potensial terjadinya
DO: hypovolemik
Perdarahan berulang Perdarahan

Hematom
Subhkronik

Penekanan dan
Perluasan

Mendesak Plasenta
Lahir

Cekungan

Perdarahan terus-
menerus
DS: Solusio Plasenta Kurang pengetahuan
Tidak paham tentang
solusio plasenta Kurang Informasi
DO:
Cemas, tegang,
khawatir

2.2.2 Diagnosa Keperawatan


1. Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan perdarahan ditandai
dengan conjungtiva anemis, acral dingin, Hb turun, muka pucat &
lemas.
2. Resiko tinggi terjadinya letal distress berhubungan dengan perfusi
darah ke plasenta berkurang.
3. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan kontraksi uterus
di tandai terjadi distress/pengerasan uterus, nyeri tekan uterus.

36
4. Gangguan psikologi (cemas) berhubungan dengan keadaan yang
dialami.
5. Potensial terjadinya hypovolemik syok berhubungan dengan
perdarahan.
6. Kurang pengetahuan klien tentang keadaan patologi yang
dialaminya berhubungan dengan kurangnya informasi.
2.2.3 Intervensi Keperawatan
No Diagnosa Tujuan dan Intervensi Rasional
keperawatan Kriteria Hasil
1 Gangguan - Tujuan : 1. Bina hubungan 1. Pasien percaya tindakan yang
perfusi suplai/ saling percaya dilakukan
jaringan kebutuhan dengan pasien
darah 2. Jelaskan 2. Pasien paham tentang kondisi
berhubungan
kejaringan penyebab terjadi yang dialami
dengan terpenuhi perdarahan 3. Tensi, nadiyang rendah, RR
perdarahan - Kriteria hasil 3. Monitor tanda- dan suhu tubuh yang tinggi
ditandai Conjunctiva tanda vital menunjukkan gangguan
dengan tida anemis, 4. Kaji tingkat sirkulasi darah.
conjungtiva acral hangat, perdarahan setiap 4. Mengantisipasi terjadinya
anemis, acral Hb normal 15 – 30 menit syok
muka tidak 5. Catat intake dan 5. Produsi urin yang kurang dari
dingin, Hb
pucat, tida output 30 ml/jam menunjukkan
turun, muka lemas. 6. Kolaborasi penurunan fungsi ginjal.
pucat & pemberian cairan 6. Cairan infus isotonik dapat
lemas. infus isotonic mengganti volume darah
7. Kolaborasi yang hilang akiba
pemberian perdarahan.
tranfusi darah 7. Tranfusi darah mengganti
bila Hb rendah komponen darah yang hilang
akibat perdarahan

2 Resiko tinggi - Tujuan : tidak 1. Jelaskan resiko 1. Kooperatif pada tindakan


terjadinya terjadi fetal terjadinya dister
fetal distres distress janin / kematian
- Kriteria hasil : janin pada ibu
berhubungan
DJJ normal / 2. Hindari tidur 2. Tekanan uterus pada vena
dengan terdengar, bisa terlentang dan cava aliran darah kejantung
perfusi darah berkoordinasi, anjurkan tidur ke menurun sehingga terjadi
ke placenta adanya posisi kiri perfusi jaringan.
berkurang. pergerakan 3. Observasi tekanan 3. Penurunan dan peningkatan
bayi, bayi lahir darah dan nadi denyut nadi terjadi pad
selamat. klien sindroma vena cava sehingga
klien harus di monitor secara

37
teliti.
4. Oservasi 4. Penurunan frekuensi plasenta
perubahan mengurangi kadar oksigen
frekuensi dan pola dalam janin sehingga
DJ janin menyebabkan perubahan
frekuensi jantung janin.
5. Berikan O2 10-12 5. Meningkat oksigen pada
liter dengan janin
masker jika
terjadi tanda-
tanda fetal
distress

3 Gangguan - Tujuan : klien 1. Jelaskan 1. Dengan mengetahui


rasa nyaman dapat penyebab nyeri penyebab nyeri, klien
nyeri beradaptasi pada klien kooperatif terhadap tindakan
dengan nyeri 2. Menentukan tindakan
berhubungan
- Kriteria hasil : 2. Kaji tingkat nyeri keperawatan selanjutnya
dengan Klien dapat 3. Dapat mengalihkan perhatian
kontraksi melakukan klien pada nyeri yang
3. Bantu dan
uteres ditandai tindakan untuk dirasakan, posisi miring
ajarkan tindakan
terjadi mengurangi mencegah penekanan pada
untuk
distrensi nyeri, Klien vena cava, memberi
mengurangi rasa
uterus, nyeri kooperatif dukungan mental.
nyeri : Tarik
dengan
tekan uterus. nafas panjang
tindakan yang
(dalam) melalui
dilakukan.
hidung dan
meng-hembuskan
pelan-pelan
melalui mulut,
memberikan
posisi yang
nyaman (miring
kekiri / kanan),
berikan masage
pada perut dan
penekanan pada
punggung
4. Libatkan suami 4. Memberi dukungan mental
dan keluarga

4 Gangguan - Tujuan : klien 1. Anjurkan klilen 1. Dengan mengungkapkan


psikologis untuk perasaannyaaka mengurangi
tidak cemas dan
(cemas) mengemukakan beban pikiran.
dapat mengerti hal-hal yang
berhubungan
dicemaskan.
dengan tentang
2. Ajak klien 2. Mengurangi kecemasan klien

38
keadaan yang keadaannya. mendengarkan tentag kondisi janin.
dialami denyut jantung
- Kriteria hasil :
janin
3. Mengurangi kecemasan
penderita tidak 3. Beri penjelasan
tentang kondisi/keadaan
tentang kondisi
cemas, janin.
janin
penderita 4. Beri informasi
tentang kondisi 4. Mengembalikan kepercayaan
tenang, klie dan klien.
klien
tidak gelisah. 5. Anjurkan untuk
manghadirkan 5. Dapat memberi rasa aman
orang-orang dan nyaman bagi klien
terdekat
6. Anjurkan klien
untuk berdo’a 6. Dapat meningkatkan
kepada tuhan keyakinan kepada Tuhan
7. Menjelaskan tentang kondisi yang dilami.
tujuan dan 7. Penderita kooperatif.
tindakan yang
akan diberikan.

Potensial - Tujuan : syok 1. Kaji perdarahan 1. Mengetahui adanya gejala


terjadinya setiap 15 – 30 syok sedini mungkin.
hipovolemik
hypovolemik menit
tidak terjadi 2. monitor tekanan 2. Mengetahui keadaan pasien
syok
darah, nadi,
berhubungan - Kriteria hasil :
pernafasan setiap
dengan Perdarahan 15 menit, bila
perdarahan normal observasi
berkurang,
dilakukan setiap
tanda-tanda 30 menit.
3. Awasi adanya 3. Menentkan intervensi
vital normal, selanjutnya dan mencegah
tanda-tanda syok,
Kesadaran pucat, menguap syok sedini mungkin
terus keringat
kompos mentis
dingin, kepala
pusing.
4. Kaji konsistensi 4. Mengetahui perdarahan yang
abdomen dan tersembunyi
tinggi fundur
uteri. 5. Produksi urine yang kurang
5. Catat intake dan dari 30 ml/jam merupakan
output penurunan fungsi ginjal.
6. Mempertahanka volume
6. Berikan cairan cairan sehingga sirkulasi bisa
sesuai dengan adekuat dan sebagian
program terapi persiapan bila diperlukan

39
transfusi darah.
7. Menentukan intervensi
7. laboratorium
selanjutnya
hematkrit dan
hemoglobin

6 Kurangnya - Tujuan : 1. Kaji tingkat 1. Menentukan intervensi


pengetahuan pengetahuan keperawatan selanjutnya.
penderita dapat
klien tentang penderita tentang
mengerti keadaanya
keadaan
2. Berikan 2. Penderita mengerti dan
patologi yang tentang
penjelasan menerima keadaannya serta
dialaminya penyakitnya. tentang pederita menjadi kooperatif.
berhubungan kehamilan dan
- Kriteria hasil :
dengan tindakan yang
kurangnya dapat akan dilakukan :
informasi pengetahua
menjelaskan
tentang
hal-hal yang perdarahan
antepartum,
berkaitan
penyebab, Tanda
dengan dan gejala, akibat
perdarahan
penyakitnya.
terhadap ibu dan
janin, tindakan
yang mungkin
dilakukan.

2.2.4. Implementasi Keperawatan


Pelaksanaan adalah inisiatif dari rencana tindakan untuk
mencapai tujuan yang spesifik. Implementasi merupakan pelaksanaan
perencanaan keperawatan oleh perawat dan pasien dengan tujuan
untuk membantu pasien dan mencapai hasil yang telah ditetapkan
yang mencakup perawatan, kesehatan, pencegahan peyakit,
pemeliharaan kesehatan dan memfasilitasi koping (Nursalam, 2001).
Ada tiga fase implementasi keperawatan yaitu :
1. Fase Persiapan Pengetahuan tentang rencana, validasi rencana
2. Fase Persiapan Pasien.
3. Fase Persiapan lingkungan.
Fokus tahap pelaksanaan tindakan perawatan adalah kegiatan
pelaksanaan tindakan dan perencanaan untuk memenuhi kebutuhan

40
fisik dan emosional. Tindakan keperawatan dibedakan berdasarkan
tanggung jawab perawat secara profesional sesuai standar praktik
keperawatan yaita tindakan dpenden (limpahan) dan independen (kerja
sama tim kesehatan lainnya).
2.2.5. Evaluasi Keperawatan
Evaluasi adalah tindakan intelektual untuk melengkapi proses
keperawatan yang menandakan seberapa jauh diagnosa keperawatan.
Rencana tindakan dan pelaksanaan sudah berhasil dicapai melalui
evaluasi memungkinkan perawat untuk memonitor kealpaan yang
terjadi selama tahap pengkajian. Analisa perencanaan dan pelaksanaan
tindakan (Ignatifikcus dan Bayne, 1994).
Tolak ukur yang digunakan untuk penilaian pencapaian tujuan
pada tahap ini dan kreteria yang telah dibuat pada tahap perencanaan
sehingga pada akhirnya dapat disimpulkan apakah masalah teratasi
seluruhnya/sebagian belum sama sekali dan bahkan timbul masalah
baru.
Evaluasi adalah tindakan intelektual untuk melengkapi proses
keperawatan yang menandakan seberapa jauh diagnose keperawatan,
rencana tindakan, dan pelaksanaannya sudah berhasil dicapai. Melalui
evaluasi memungkinkan perawat untuk memonitor “ kealpaan “ yang
terjadi selama tahap pengkajian, analisa, perencanaan, dan
pelaksanaan tindakan. ( Nursalam, 2001 )
Adapun komponen tahap evaluasi adalah pertama pencapaian
kreteria hasil, kedua keefektifan tahap-tahap keperawatn, ketiga revisi
atau terminasi keperawatn.
Evaluasi perencanaan kreteria hasil tulis pada catatan
perkembangan dalam bentuk SOAPIER :
S (Subyektif) : Keluhan-keluhan klien
O (Obyektif) : Apa yang dilihat, dicium, diraba dan
dapat diukur oleh perawat.
A (Analisa) : Kesimpulan tentang keadaan klien

41
P (Plan of care) :Rencana tindakan keperawatan untuk
mengatasi diagnosa/ masalah keperawatan
klien.
I (Intervensi) :Tindakan yang dilakukan perawat untuk
kebutuhan klien
E (Evaluasi) :Respon klien terhadap tindakan perawat
R (Ressesment) :Mengubah rencana tindakan keperawatan
yang diperlukan.
Tujuan evaluasi ini adalah untuk melihat kemampuan klien
dalam mencapai tujuan. Hal ini bias dilaksanakan dengan
mengadakan hubungan dengan klien berdasarkan respon klien
terhadap tindakan keperawatan yang diberikan, sehingga perawat
dapat mengambil keputusan:
a. Mengakhiri rencana tindakan keperawatan (klien telah mencapai
tujuan yang ditetapkan).
b. Memodifikasi rencana tindakan keperawatan (klien mengalami
kesulitan untuk mencapai tujuan)
c. Meneruskan rencana tindakan keperawatan (kilen memerlukan
waktu yang lebih lama untuk mencapai tujuan).
2.2.6. Dokumentasi Keperawatan
Menurut Harnawati (2008), dokumentasi keperawatan adalah
kegiatan keperawatan mencakup rencana secara sistematis. Semua
kegiatan dalam kegiatan kontrak perawat klien dalam kurun waktu
tertentu, secara jelas, lengkap dan objektif.
Hal ini bertujuan untuk memberi kemudahan dalam
memberikan asuhan keperawatan dan jaminan mutu, di samping
pencatatan kegiatan pendokumentasian keperawatan juga mencakup
penyimpangan atau pemeliharaan hasil pencatatan dan
pendokumentasian pada anggota sesama tim kesehatan untuk
kepentingan pengobatan klien serta kepada aparat penegak hukum bila
di perlukan untuk pembuktian.

42
1. Kegiatan pedokumentasian meliputi :
a. Komunikasi
Keterampilan dokumentasi yang efektif memungkinkan
perawat untuk mengkomunasikan kepada tenaga kesehatan
lainya dan menjelaskan apa yang sudah, sedang, dan yang
akan di kerjakan oleh perawat.
b. Dokumentasi proses keperawatan
Pencatatan proses keperawatan merupakan metode
yang tepat untuk pengambilan keputusan yang sistematis,
problem solving, dan riset lebih lanjut. Doumentasi proses
keperawatan mencakup pengkajian, identifikasi masalah,
perencanaan dan tindakan. Perawat kemudian mengobservasi
dan mengevaluasi respon klien terhadap tindakan yang di
berikan dan mengkomunikasikan informasi tersebut kepada
tenaga kesehatan lainya.
c. Standar dokumentasi
Perawat perlu menampilkan keterampilan untuk
memenuhi standar dokumentasi adalah suatu peryataan tentang
kualitas dan kwantitas dokumentasi yang di pertimbangkan
secara adekuat dalam suatu situasi tertentu standar
dokumentasi berguna untuk memperkuat pola pencatatan
sebagai petunjuk atau pedoman praktik pendokumentasian
dalam memberikan tindakan keperawatan.
2. Tujuan Dokumentasi Keperawatan
Tujuan utama dari pendokumentasian adalah
mengindentifikasi status kesehatan klien dalam rangka mencatat
kebutuhan klien, merencanakan, melaksanakan tindakan
keperawatan dan mengevaluasi tidakan.
3. Manfaat dan Pentingnya Pendokumentasian
Dokumentasi mempunyai makna yang penting bila di lihat dari
berbagai aspek.

43
a. Hukum
Bila terjadi suatu masalah yang berhubungan dengan
profesi keperawatan, di mana perawat sebagai pemberi jasa
dan klien sebagai penguna jasa. Dokumentasi dapat di
pergunakan sebagai barang bukti di pengadilan.
b. Jaminan Mutu (Kualitas Pelayanan)
Pencatatan data klien yang lengkap dan akurat, akan
memberikan kemudahan bagi perawat dalam membantu
menyelesaikan masalah klien. Dan untuk mengetahui sejauh
mana masalah klien dapat teratasi dan seberapa jauh masalah
baru dapat di idetifikasi dan dimonitor melalui catatan yang
akurat. Hal ini akan membantu meningkatkan mutu pelayanan
keperawatan (yankep).
c. Komunikasi
Dokumentasi keadan klien merupakan alat perekam
terhadap masalah yang berkaitan dengan klien. Perawat atau
tenaga kesehatan lain akan bisa melihat catatan yang ada dan
sebagai alat komuikasi yang di jadikan pedoman dalam
memberikan asuhan keperawatan.
d. Keuangan
Semua tindakan keperawatan yang belum, sedang dan
telah di berikan di catat dengan lengkap dan dapat di gunakan
sebagai acuan atau pertimbangan dalam biaya keperawatan.
e. Pendidikan
Isi pendokumentasian menyagkut kronologis dari
kegiatan asuhan keperawatan yang dapat dipergunakan sebagai
bahan atau referensi pembelajaran bagi siswa atau profesi
keperawatan.
f. Penelitian
Data yang terdapat di dalam dokumentasi keperawatan
mengandung informasi yang dapat di jadikan sebagai bahan
objek riset dan pengembangan profesi keperawatan.

44
g. Akreditasi
Melalui dokumentasi keperawatan dapat di lihat sejauh
mana peran dan fungsi keperawatan dalam memberikan
asuhan keperawatan pada klie dengan demikian dapat di ambil
kesimpulan tingkat keberhasilan pemberian asuhan
keperrawatan yang di berikan, guna pembinaan lebih lanjut.
Menurut Nursalam (2001), Dokumentasi masalah,
perencanaan, tindakan, dan evaluasi.
1. Dokumentasi pengkajian Keperawatan
a. Dokumentasi pengkajian di tunjukan pada data klien di mana
perawat dapat mengumpulkan dan mengorganisir dalam
catatan kesehatan. Format pengkajian meliputi data dasar, flow
sheetv dan catatan perkembangan lainnya yang
memungkinkan dapat sebagai alat komunikasi bagi tenaga
keperawatan atau kesehatan lainnya.
b. Gunakan format yang sistimatis untuk mencatat pengkajian
yang meliputi:
1) Riwayat klien masuk rumah sakit
2) Respon klien yang berhubungan dengan persepsi kesehatan
klien
3) Riwayat pengobatan
4) Data klien rujukan
5) Gunakan format yang telah tersusun untuk mencatat
pengkajian
6) Kelompokan data-data berdasarkan model pendekatan
yang digunakan.
7) Tulis data objektif tanpa hias (tanpa mengartikan), menilai,
memasukan data pribadi. Sertakan pernyataan yang
mendukung interprestasi data objektif .
8) Jelaskan observasi dan temuan secara sistimatis, termasuk
difinisi karakteristiknya.

45
9) Ikuti aturan atau prosedur yang dipakai dan disepakati di
instalasi
10) Tuliskan secara jelas dan singkat.
2. Dokumentasi diagnosa keperawatan
Sebagai bukti ukuran pencatatan perawat pernyataan
diagnosa keperawatan bahwa mengidentifikasi masalah actual atau
potensial penyebab maupun tanda dan gejala sebagai indikasi
perlu untuk pelayanan perawatan, Contoh:
a. Proses dan pencatatan diagnosa keperawatan dalam rencana
pelayanan catatan perkembangan.
b. Pemakaian format problem, etiologi untuk tiap masalah
potensial.
c. Pengkajian data pada dokumen, semua faktor mayor untuk
setiap diagnosa.
d. Dokumen dari pengkajian atau mengikuti diagnosa
keperawatan yang tepat.
e. Ulangi data salah satu informasi pengkajian perawatan,
sebagai perawat prefisional dari kerja sama dengan staf
pembuat diagnosa.
3. Dokumentasi rencana keperawatan
Dokumentasi intervensi mengidentifikasi mengapa
sesuatu terjadi terhadap klien, apa yang terjadi, kapan,
bagaimana, dan siapa yang melakukan intervensi.
a. Why: Harus di jelaskan alasan tindakan dan data yang ada
dari hasil dokumentasi pengkajian dan diagnosa
keperawatan.
b. What: Di tulis secara jelas, ringkas dari
pengobatan/tindakan dalam bentuk action verbs.
c. When: Mengandung asfek penting dari dokumen
intervensi.
d. Who: Tindakan di laksanakan dalam pencatatan yang
lebih detail.

46
e. Who: Siapa yang melaksanakan intervensi harus selalu di
tuliskan pada dokumen serta tanda tangan sebagai
pertanggung jawab.
4. Dokumentasi Evaluasi
Pernyataan evaluasi perlu di dokumentasikan dalam
catatan kemajuan, di revisi dalam perencanaan perawatan atau
di masukan pada ringkasan khusus dan dalam pelaksanaan
dalam bentuk perencanaan.

47
BAB 3
PENUTUP
3.1 Simpulan
Solusio plasenta adalah terlepasnya plasenta dari tempat
implantasinya sebelum janin lahir diberi beragam sebutan; abruption plasenta,
accidental haemorage. Keadaan klien dengan solutio plasenta memiliki
beberapa macam berdasarkan tingkat keparahannya, tingkat keparahan ini
dilihat dari volume perdarahan yang terjadi mulai dari solutio ringan hingga
berat.
Trauma langsung abdomen, hipertensi ibu hamil, umbilicus pendek
atau lilitan tali pusat, janin terlalu aktiv sehingga plasenta dapat terlepas,
tekanan pada vena kafa inferior, dan lain-lain diketahui bahwa sebagai
penyebab dari solution plasenta. Beberapa faktor yang menjadi faktor
predisposisi solution plasenta itu sendiri didapat dan diketahui mulai dari
faktor fisik dan psikologis dengan kata lain ditinjau dari kebiasaan-kebiasaan
klien yang dapat mendukung timbulnya solution plasenta. Adapun
komplikasi dari solusio plasenta pada ibu dan janin tergantung dari luasnya
plasenta yang terlepas, usia kehamilan dan lamanya solusio plasenta
berlangsung. Komplikasi terparah dari solution plsenta dapat mengakibatkan
syok dari perdarahan yang terjadi, keadaan seperti ini sangat berpengaruh
pada keselamatan dari ibu dan janin.
Penatalaksanaan dari solution plaseenta dapat dilakukan secara
konservatif dan secara aktif. Masing-masing dari penatalaksaan tersebut
mempunyai tujuan demi keselamatan baik bagi ibu, janin, ataupuun
keduanya.
3.2 Saran
1. Diharapkan perawat serta tenaga kesehatan lainnya mampu memahami
dan mendalami tentang solusio plasenta.
2. Perawat serta tenaga kesehatan lainnya mampu meminimalkan faktor
risiko dari solusio plasenta demi mempertahankan dan meningkatkan
status derajat kesehatan ibu dan anak.

48
3. Institusi kesehatan terkait dapat menyediakan dan mempersiapkan sarana
dan prasarana yang dibutuhkan dalm kejadian-kejadian abnormalitas ibu
terkait dengan kehamilan dan persalinan.
4. Masyarakat mampu dan mau mempelajari keadaan abnormal yang terjadi
pada mereka sehingga para tenaga kesehatan dapat memberikan tindakan
secara dini dan mampu mengurangi jumlah mortalitas pada ibu dan janin.
5. Pemerintah mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang dapat mendukung
peningkatan derajat kesehatan masyarakat.
6. Mahasiswa dengan latar belakang medis sebagai calon tenaga kesehatan
mampu menguasai baik secara teori maupun skil untuk dapat diterapkan
pada masyarakat secara menyeluruh.

49
DAFTAR PUSTAKA

Blumenfelt M, Gabbe S. (2007). Placental Abruption. In: Sciarra Gynecology and


Obstetrics. Philadelphia: Lippincott Raven Publ

Chalik TMA. (2010). Perdarahan pada Kehamilan Lanjut dan Persaliinan. Di


dalam: Saifuddin, A.B. (ed), Ilmu Kebidanan. Ed ke-4. Jakarta: PT Bina
Pustaka Sarwono Prawirohardjo1

Cunningham FG, Macdonald PC, Gant NF, Leveno KJ, Gilstrap LC. (2001).
Obstetrical Haemorrhage. Wiliam Obstetrics 21th edition. Prentice Hall
International Inc Appleton. Lange USA

Doengoes, Marilynn E, dkk. (2001). Rencana perawatan maternal/bayi. Edisi 2.


Jakarta: EGC

Gasong MS, Hartono E, Moerniaeni N. (2007). Penatalaksanaan Perdarahan


Antepartum. Bagian Obstetri dan Ginekologi FK UNHAS.

Gurewitsch GD, Diament P, Fong J, Huang G, Popovtzer A, Weinstein,


Chervenak FA. (2002). The Labor Curve Of The Grand Multipara: Does
Progress Of Labor Continue To Improve With Additional Childbearing?.
Am J Obstet Gynecol.

Israr YA. (2007). Karakteristik Kasus Solusio Plasenta di Bagian Obstetri dan
Ginekologi RSUD Arifin Achmad Pekanbaru Periode 1 Januari 2002-31
Desember 2006. Riau: Fakultas Kedokteran Universitas Riau

Manuaba, Chandarnita, dkk. (2008). Gawat-darurat obstetri-ginekologi &


obstetri-ginekologi sosial untuk profesi bidan. Jakarta: EGC

Moses S. (2008). Placental Abruption/Abruptio Placentae. Emerg [Serial Online].


Diunduh dari http://www. fpnotebook.com /OB13.htm.

Prawirohardjo S, Hanifa W. (2002). Kebidanan Dalam Masa Lampau, Kini dan


Kelak. Dalam: Ilmu Kebidanan, edisi III. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka
Sarwono Prawiroharjo.

Slava VG. (2015). Abruptio Placenta. Diunduh dari http://www.emedicine.com


/emerg/topic12.htm.

Sulastri, Badriyah, Rahardjo S. (2011). Pengaruh Faktor Resiko Terhadap


Perdarahan Ibu Post Partum Di RS Syarifah Ambami Rato Ebu
Bangkalan. Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes

Suyono et al. (2007). Hubungan Antara Umur Ibu Hamil dengan Frekuensi
Solusio Plasenta di RSUD Dr. Moewardi Surakarta. CDK

50
WHO. (2003). Managing Complications in Pregnancy and Childbirth. Geneva:
WHO

Wong, Dona L, dkk. (2002). Maternal child nursing care 2nd edition. Santa Luis:
Mosby Inc

51