Anda di halaman 1dari 33

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN PADA NY “S” DENGAN DIAGNOSA


MEDIS HIPOGLIKEMIA DI RUANG INSTALASI GAWAT DARURAT
(IGD) RSUD KOTA MATARAM

DI SUSUN OLEH :
FIRMAN SAPUTRA
045 STYJ 17

YAYASAN RUMAH SAKIT ISLAM NUSA TENGGARA BARAT


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN YARSI MATARAM
PROGRAM STUDI NERS JENJANG PROFESI
MATARAM
2017

i
KATA PENGANTAR

Puji syukur senantiasa penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa,
karena atas berkat limpahan rahmat karunia dan hidayah Nya-lah penulis dapat
menyelesaikan Asuhan Keperawatan pada klien dengan Hipoglikemia ini tepat
pada waktunya.
Penulis menyadari tugas ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu
penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi
kesempurnaan penyusunan makalah yang berikutnya. Tidak lupa pula penulis
mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu hingga
terselesaikannya makalah ini.
Akhir kata semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca pada
umumnya dan bagi penulis pada khususnya.

Mataram, November 2017

Penulis

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ................................................................................... i


KATA PENGANTAR ................................................................................. ii
DAFTAR ISI................................................................................................ iii
BAB 1 PENDAHULUAN ........................................................................... 1
1.1 Latar Belakang.............................................................................. 1
1.2 Rumusan Masalah ........................................................................ 2
1.3 Tujuan ................................................................................. 2
1.3.1 Tujuan Umum ................................................................... 2
1.3.2 Tujuan Khusus .................................................................. 2
1.4 Manfaat ................................................................................... 3
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA.................................................................. 4
2.1 Konsep Dasar Penyakit................................................................. 4
2.1.1 Definisi dari Hipoglikemia.............................................. 4
2.1.2 Anatomi dan fisiologi ..................................................... 4
2.1.3 Epidemiologi Hipoglikemia ............................................ 6
2.1.4 Klasifikasi Hipoglikemia ................................................ 7
2.1.5 Etiologi Hipoglikemia ..................................................... 9
2.1.6 Faktor resiko Hipoglikemia ............................................ 10
2.1.7 Patofisiologis Hipoglikemia............................................ 10
2.1.8 Pathway Hipoglikemia .................................................... 13
2.1.9 Manifestasi klinis Hipoglikemia ..................................... 14
2.1.10 Pemeriksaan penunjang Hipoglikemia ........................... 15
2.1.11 Penatalaksanaan Hipoglikemia ....................................... 15
2.1.12 Komplikasi Hipoglikemia ............................................... 17
2.2 Konsep dasar asuhan keperawatan Hipoglikemia ........................ 17
BAB 3 PENUTUP ....................................................................................... 28
3.1 Simpulan ...................................................................................... 28
3.2 Saran ............................................................................................ 28
DAFTAR PUSTAKA

iii
iv
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Penyakit tidak menular merupakan kelompok terbesar penyakit
penyebab kematian di indonesia. Salah satu penyakit tidak menular yang
menyebabkan kematian tinggi di Indonesia adalah diabetes mellitus.
Diabetes melitus utamanya diakibatkan karena pola hidup yang tidak sehat
(Eko, 2012). Federasi Diabetes Internasional dalam Hartono (2011),
menyatakan bahwa Tiap 10 detik satu orang meninggal dunia karena
diabetes dan World Health Organisation (WHO) menyatakan bahwa
Indonesia menempati urutan ke-4 terbesar di dunia dalam jumlah penderita
diabetes, tahun 2000 terdapat 5,6 juta penderita & 2006 menjadi 14 juta
& 21 juta jiwa tahun 2025. Diantara provinsi yang ada di Indonesia, jawa
tengah memiliki prevalensi diabetes yang cukup tinggi. prevalensi
diabetes melitus tergantung insulin di Provinsi Jawa Tengah pada
tahun 2011 sebesar 0,09%, mengalami peningkatan bila dibandingkan
prevalensi tahun 2010 sebesar 0,08%.
Hipoglikemia merupakan komplikasi yang paling sering muncul
pada penderita diabetes mellitus. Hipoglikemia adalah menurunnya kadar
glukosa darah yang menyebabkan kebutuhan metabolik yang diperlukan
oleh sistem saraf tidak cukup sehingga timbul berbagai keluhan dan gejala
klinik (Admin, 2012). Hipoglikemia berdampak serius pada morbiditas,
mortalitas dan kualitas hidup. The diabetes Control and Complication Trial
(DCCT) melaporkan diperkirakan 2-4% kematian orang dengan diabetes tipe
1 berkaitan dengan hipoglikemia. Hipoglikemia juga umum terjadi pada
penderita diabetes tipe 2, dengan tingkat prevalensi 70-80% (Setyohadi,
2011). Hipoglikemia merupakan penyakit kegawatdaruratan yang
membutuhkan pertolongan segera, karena hipoglikemia yang berlangsung
lama bisa menyebabkan kerusakan otak yang permanen, hipoglikemia juga
dapat menyebabkan koma sampai dengan kematian (Kedia, 2011).

1
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan banyaknya kasus dan pentingnya penanganan penyakit
hipoglikemia, rumusan masalahnya adalah “ Bagaimana asuhan keperawatan
pada pasien dengan Hipoglikemia?”
1.3 Tujuan Penulisan
1.3.1 Tujuan Umum
Mampu mengetahui dan menerapkan asuhan keperawatan pada
pasien dengan hipoglikemia sesuai standar keperawatan.
1.3.2 Tujuan Khusus
1. Mengetahui pengkajian pada pasien dengan hipoglikemia beserta
keluarganya.
2. Mampu menganalisa data pada pasien dengan hipoglikemia.
3. Mampu menentukan diagnose keperawatan pada pasien
hipoglikemia.
4. Mampu mengetahui penyusunan perencanaan keperawatan pada
pasien hipoglikemia.
5. Mampu melaksanakan implementasi pada pasien dengan
hipoglikemia
6. Mengetahui evaluasi pada pasien dengan hipoglikemia.
1.4 Manfaat
1. Bagi Penulis
Diharapkan agar penulis mempunyai tambahan wawasan dan
pengetahuan dalam penatalaksanaan pada pasien dengan penyakit
hipoglikemia dan dalam memberikan asuhan keperawatan pada klien
dengan hipoglikemia.
2. Bagi Pasien dan Keluarga
Agar pasien dan keluarga mempunyai pengetahuan tentang
perawatan pada pasien hipoglikemia .
3. Bagi Institusi Pelayanan
Memberikan bantuan yang mempengaruhi perkembangan klien
untuk mencapai tingkat asuhan keperawatan dan tindak lanjut untuk
perawatan mutu pasien khusus penderita hipoglikemia.

2
4. Bagi Institusi Pendidikan
Sebagai sumber bacaan atau referensi untuk meningkatkan kualitas
pendidikan keperawatan dan sebagai masukan dalam peningkatan pada
pasien hipoglikemia terutama dibidang dokumentasi asuhan keperawatan.

3
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Dasar Penyakit Hipoglikemia


2.1.1 Definisi
Hipoglikemia merupakan suatu kegagalan dalam mencapai
batas normal kadar glukosa darah (Kedia, 2011).
Hipoglikemia merupakan suatu keadaan dimana kadar
glukosa darah <60 mg/dl. Jadi, dapat disimpulkan bahwa,
hipoglikemia merupakan kadar glukosa darah dibawah normal
yaitu <60 mg/dl (McNaughton, 2011).
Hipoglikemia atau penurunan kadar gula darah merupakan
keadaan dimana kadar glukosa darah berada di bawah normal, yang
dapat terjadi karena ketidakseimbangan antara makanan yang dimakan,
aktivitas fisik dan obat-obatan yang digunakan. Sindrom hipoglikemia
ditandai dengan gejala klinis antara lain penderita merasa pusing,
lemas, gemetar, pandangan menjadi kabur dan gelap, berkeringat
dingin, detak jantung meningkat dan terkadang sampai hilang
kesadaran (syok hipoglikemia) (Nabyl, 2009).
2.1.2 Anatomi dan Fisiologi
Pankreas merupakan sekumpulan kelenjar yang panjangnya
kira-kira 15 cm, lebar 5 cm, mulai dari duodenum sampai ke limpa dan
beratnya rata-rata 60-90 gram. Terbentang pada vertebrata lumbalis 1
dan 2 di belakang lambung.
Pankreas merupakan kelenjar endokrin terbesar yang terdapat
di dalam tubuh baik hewan maupun manusia. Bagian depan (kepala)
kelenjar pankreas terletak pada lekukan yang dibentuk oleh duodenum
dan bagian pilorus dari lambung. Bagian badan yang merupakan
bagian utama dari organ ini merentang ke arah limpa dengan bagian
ekornya menyentuh atau terletak pada alat ini. Dari segi perkembangan
embriologis, kelenjar pankreas terbentuk dari epitel yang berasal dari
lapisan epitel yang membentuk usus.

4
Pankreas terdiri dari dua jaringan utama, yaitu :
1. Asini sekresi getah pencernaan ke dalam duodenum.
2. Pulau Langerhans yang tidak tidak mengeluarkan sekretnya keluar,
tetapi menyekresi insulin dan glukagon langsung ke darah.
Pulau-pulau Langerhans yang menjadi sistem
endokrinologis dari pamkreas tersebar di seluruh pankreas dengan
berat hanya 1-3 % dari berat total pankreas. Pulau langerhans
berbentuk ovoid dengan besar masing-masing pulau berbeda. Besar
pulau langerhans yang terkecil adalah 50 m, sedangkan yang
terbesar 300 m, terbanyak adalah yang besarnya 100-225 m.
Jumlah semua pulau langerhans di pankreas diperkirakan antara 1-
2 juta.
Pulau langerhans manusia, mengandung tiga jenis sel
utama, yaitu:
a. Sel-sel A (alpha), jumlahnya sekitar 20-40 % ; memproduksi
glikagon yang manjadi faktor hiperglikemik, suatu hormon
yang mempunyai “ anti insulin like activity “.
b. Sel-sel B (betha), jumlahnya sekitar 60-80 %, membuat insulin.
c. Sel-sel D (delta), jumlahnya sekitar 5-15 %, membuat
somatostatin.
Masing-masing sel tersebut, dapat dibedakan berdasarkan
struktur dan sifat pewarnaan. Di bawah mikroskop pulau-pulau
langerhans ini nampak berwarna pucat dan banyak mengandung
pembuluh darah kapiler. Pada penderita DM, sel beta sering ada
tetapi berbeda dengan sel beta yang normal dimana sel beta tidak
menunjukkan reaksi pewarnaan untuk insulin sehingga dianggap
tidak berfungsi.
Insulin merupakan protein kecil dengan berat molekul 5808
untuk insulin manusia. Molekul insulin terdiri dari dua rantai
polipeptida yang tidak sama, yaitu rantai A dan B. Kedua rantai ini
dihubungkan oleh dua jembatan (perangkai), yang terdiri dari
disulfida. Rantai A terdiri dari 21 asam amino dan rantai B terdiri

5
dari 30 asam amino. Insulin dapat larut pada pH 4-7 dengan titik
isoelektrik pada 5,3. Sebelum insulin dapat berfungsi, ia harus
berikatan dengan protein reseptor yang besar di dalam membran
sel.
Insulin di sintesis sel beta pankreas dari proinsulin dan di
simpan dalam butiran berselaput yang berasal dari kompleks Golgi.
Pengaturan sekresi insulin dipengaruhi efek umpan balik kadar
glukosa darah pada pankreas. Bila kadar glukosa darah meningkat
diatas 100 mg/100ml darah, sekresi insulin meningkat cepat. Bila
kadar glukosa normal atau rendah, produksi insulin akan menurun.
Selain kadar glukosa darah, faktor lain seperti asam amino,
asam lemak, dan hormon gastrointestina merangsang sekresi
insulin dalam derajat berbeda-beda. Fungsi metabolisme utama
insulin untuk meningkatkan kecepatan transport glukosa melalui
membran sel ke jaringan terutama sel-sel otot, fibroblas dan sel
lemak.
2.1.3 Epidemiologi
Hipoglikemia lebih sering terjadi pada DM tipe 1 dengan angka
kejadian 10-30% psien per tahun dengan angka kematian 3-4%
(Goldman and Shcafer, 2012). Sedangkan DM tipe 2 angka
kejadiannya 1,2% pasien per tahun (Berber et al 2013).
Rata-rata kejadian hipoglikemia meningkat dari 3,2 per 100
orang pertahun menjadi 7,7 per 100 orang pertahun pada penggunaan
insulin (Cutll et al 2001). Sebagai penyakit akut pada DM tipe 2,
Hipoglikemia paling sering disebabkan oleh penggunaan insulin Dan
sulfonilurea (PERKENI 2011).
Menurut survey yang dilakukan WHO, Indonesia menempati
urutan ke-4 dengan jumlah penderita diabetes terbesar di dunia setelah
India, Cina, dan Amerika Serikat. Dengan prevalensi 8,6 % dari total
penduduk, diperkirakan pada tahun 1995 terdapat 4,5 juta pengidap
diabetes dan pada tahun 2025 diperkirakan meningkat menjadi 12,4
juta penderita. Sedangkan menurut Menkes, secara global WHO

6
memperkirakan penyakit tidak menular (PTM) telah menyebabkan
sekitar 60 % kematian dan 43 % kesakitan diseluruh dunia (Supari,
2005).
Di Indonesia masih belum ada data, secara umum insidens
hipoglikemia. Dalam sebuah penelitian, 80% pasien dengan
hipoglikemia nokturnal tidak memiliki gejala. Insiden hipoglikemia
pada bayi baru lahir ialah mencapai 1,3-3,0 / 1000 kelahiran hidup.
Hipoglikemia juga bisa terjadi sampai 14% bayi-baru-lahir yang sehat
dan dilahirkan dengan masa kehamilan normal. Dan 16% pada bayi
baru lahir BMK (besar untuk masa kehamilan) yang dilahirkan dari ibu
yang menderita diabetes.
2.1.4 Klasifikasi
Menurut Setyohadi (2012) dan Thompson (2011), hipoglikemia
diklasifikasikan sebagai berikut :
1. Ringan (glukosa darah 50-60 mg/Terjadi jika kadar glukosa darah
menurun dan sistem saraf simpatik akan terangsang, pelimpahan
adrenalin ke darah menyebabkan gejala : tumor, kegelisahan, rasa
lapar, dll.
2. Sedang (glukosa darah <50 mg/dL
Penurunan kadar glukosa dapat menyebakan sel2 otak tidak
memperoleh bahan bakar untuk bekerja dengan baik. Tanda-tanda
gangguan fungsi sistem saraf pusat mencakup ketidakmampuan
berkonsentrasi, penurunan daya ingat, penglihatan ganda, peasaan
ingin pingsan.
3. Berat (glukosa darah < 35 mg/dL)
Terjadi gangguan pada sistem saraf pusat, sehingga pasien
memerlukan pertolongan orang lain untuk mengatasi hipoglikemia.
Gejalanya : serangan kejang, sulit dibangunkan bahkan kehilangan
kesadaran.

7
Hipoglikemia spontan pada orang dewasa dibedakan atas dua
tipe, yaitu :
1. Hipoglikemia puasa
Hipoglikemia puasa biasanya timbul menyertai penyakit endokrin
tertentu, seperti hipopituitarisme, penyakit Addison, atau
mixedema; terkait dengan malfungsi hepar, seperti alkoholisme
akut dan gagal hati; pada orang dengan penyakit ginjal, terutama
pada pasien yang memerlukan dialisis. Pada keadaan ini
hipoglikemia nyata tampilan sekunder. Jika hipoglikemia puasa ini
merupakan manifestasi primer, maka penyebabnya mungkin a)
hiperinsulinemia akibat tumor sel b pankreas atau karena
pemberian insulin atau pobat sulfonilurea dosis berlebihan; b)
akibat sekresi insulin tumor ekstra-pankreatik.
2. Hipoglikemia pasca-sarapan (postprandial)
Hipoglikemia reaktif dapat dibagi menjadi awal (2-3 jam sesudah
makan) dan lambat (35 jam pasca-sarapan). Hipoglikemia awal
(alimentary) timbul jika ada pengeluaran KH yang cepat dari
lambung kedalam usus halus, diikuti dengan peninggian absorpsi
glukosa dan hiperinsulinemia. Hal ini terlihat pada pasien pasca-
gastrektomi (sindroma dumping). Ada pula yang bersifat
fungsional sebagai tanda adanya overaktivitas saraf parasimpatik
yang dimediasi saraf vagus. Pada beberapa keadaan yang jarang
dijumpai adanya defek pada hormon kontra-regulasi, seperti pada
defisiensi growth hormone, glukagon, kortisol, atau respon
autonomik.

8
Definisi hipogikemia pada anak.belum bisa ditetapkan dengan
pasti, namun berdasarkan . pendapat dari beberapa sarjana dapat
dikemukakan angka-angka seperti terlihat pada table. Nilai kadar
glukose darah/ plasma atau serum untuk diagnosis Hipoglikemia pada
berbagai kelompok umur anak :
KELOMPOK GLOKUSE DARAH
UMUR <mg/dl PLASMA/SERUM
Bayi/anak <40 mg/100 ml <45 mg/100 ml
Neonatus
* BBLR/KMK <20 mg/100 ml <25 mg/100 ml
* BCB
0 - 3 hr <30 mg/100 ml <35 mg/100 ml
3 hr <40 mg/100 ml <45 mg/100 ml

2.1.5 Etiologi/Penyebab
Dosis pemberian insulin yang kurang tepat, kurangnya
asupan karbohidrat karena menunda atau melewatkan makan,
konsumsi alkohol, peningkatan pemanfaatan karbohidrat karena
latihan atau penurunan berat badan (Kedia, 2011).
Menurut Sabatine (2006), hipoglikemia dapat terjadi pada
penderita Diabetes dan Non Diabetes dengan etiologi sebagai berikut :
1. Pada Diabetes
a. Dosis insulin atau obat lainnya yang terlalu tinggi, yang
diberikan kepada penderita diabetes untuk menurunkan kadar
gula darahnya (Overdose insulin).
b. Asupan makan yang lebih dari kurang (tertunda atau lupa,
terlalu sedikit, output yang berlebihan seperti adanya gejala
muntah dan diare, serta diet yang berlebih).
c. Kelainan pada kelenjar hipofisa atau kelenjar adrenal (Ex.
Hipotiroid)
d. Aktivitas berlebih
e. Gagal ginjal

9
2. Pada Non Diabetes
a. Kelainan pada penyimpanan karbohidrat atau pembentukan
glukosa di hati
b. Pelepasan insulin yang berlebihan oleh pankreas
c. Paska aktivitas
d. Konsumsi makanan yang sedikit kalori
e. Konsumsi alkohol
f. Paska melahirkan
g. Post gastrectomy
h. Penggunaan obat dalam jumlah yang berlebih (Ex. Salisilat,
sulfonamide)
2.1.6 Faktor Resiko Hipoglikemia
Menurut Kedia (2011), terdapat beberapa faktor yang dapat
meningkatkan resiko hipoglikemia pada penderita diabetes yaitu :
1. Gangguan kesadaran hipoglikemi, merupakan faktor resiko utama,
ketidaksadaran tersebut berarti ada ketidakmampuan untuk
mendeteksi terjadinya hipoglikemia dan akibatnya, indivdu
cenderung kurang untuk memulai tindakan korektif cepat dan lebih
cenderung menderita episode parah.
2. Usia muda, karena kesadaran tentang tanda-tanda dan gejala yang
lebih rendah
2.1.7 Patofisiologi
Dalam diabetes, hipoglikemia terjadi akibat kelebihan
insulin relatif ataupun absolute dan juga gangguan pertahanan
fisiologis yaitu penurunan plasma glukosa. Mekanisme pertahanan
fisiologis dapat menjaga keseimbangan kadar glukosa darah, baik
pada penderita diabetes tipe I ataupun pada penderita diabetes tipe
II. Glukosa sendiri merupakan bahan bakar metabolisme yang
harus ada untuk otak. Efek hipoglikemia terutama berkaitan dengan
sistem saraf pusat, sistem pencernaan dan sistem peredaran darah
(Kedia, 2011).

10
Glukosa merupakan bahan bakar metabolisme yang utama
untuk otak. Selain itu otak tidak dapat mensintesis glukosa dan
hanya menyimpan cadangan glukosa (dalam bentuk glikogen)
dalam jumlah yang sangat sedikit. Oleh karena itu, fungsi otak
yang normal sangat tergantung pada konsentrasi asupan glukosa
dan sirkulasi. Gangguan glukosa dapat menimbulkan disfungsi
sistem saraf pusat sehingga terjadi penurunan suplai glukosa ke
otak. Karena terjadi penurunan suplai glukosa ke otak dapat
menyebabkan terjadinya penurunan suplai oksigen ke otak
sehingga akan menyebabkan pusing, bingung, lemah (Kedia, 2011).
Konsentrasi glukosa darah normal, sekitar 70-110 mg/dL.
Penurunan konsentrasi glukosa darah akan memicu respon tubuh,
yaitu penurunan kosentrasi insulin secara fisiologis seiring dengan
turunnya konsentrasi glukosa darah, peningkatan konsentrasi
glucagon dan epineprin sebagai respon neuroendokrin pada
kosentrasi glukosa darah di bawah batas normal, dan timbulnya
gejala- gejala neurologic (autonom) dan penurunan kesadaran pada
kosentrasi glukosa darah di bawah batas normal (Setyohadi,
2012). Penurunan kesadaran akan mengakibatkan depresan pusat
pernapasan sehingga akan mengakibatkan pola nafas tidak efektif
(Carpenito, 2007).
Batas kosentrasi glukosa darah berkaitan erat dengan
system hormonal, persyarafan dan pengaturan produksi glukosa
endogen serta penggunaan glukosa oleh organ perifer.Insulin
memegang peranan utama dalam pengaturan kosentrasi glukosa
darah. Apabila konsentrasi glukosa darah menurun melewati batas
bawah konsentrasi normal, hormon-hormon konstraregulasi akan
melepaskan. Dalam hal ini, glucagon yang diproduksi oleh sel α
pankreas berperan penting sebagai pertahanan utama terhadap
hipoglikemia. Selanjutnya epinefrin, kortisol dan hormon
pertumbuhan juga berperan meningkatkan produksi dan
mengurangi penggunaan glukosa. Glukagon dan epinefrin merupakan

11
dua hormon yang disekresi pada kejadian hipoglikemia akut.
Glukagon hanya bekerja dalam hati. Glukagon mulamula
meningkatkan glikogenolisis dan kemudian glukoneogenesis,
sehingga terjadi penurunan energi akan menyebabkan
ketidakstabilan kadar glukosa darah (Herdman, 2010).
Penurunan kadar glukosa darah juga menyebabkan terjadi
penurunan perfusi jaringan perifer, sehingga epineprin juga
merangsang lipolisis di jaringan lemak serta proteolisis di otot
yang biasanya ditandai dengan berkeringat, gemetaran, akral
dingin, klien pingsan dan lemah (Setyohadi, 2012).
Pelepasan epinefrin, yang cenderung menyebabkan rasa
lapar karena rendahnya kadar glukosa darah akan menyebabkan
suplai glukosa ke jaringan menurun sehingga masalah keperawatan
nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh dapat muncul (Carpenito,
2007).

12
2.1.8 Pathway

13
2.1.9 Manifestasi Klinis
Menurut Setyohadi (2012), manifestasi klinis hipoglikemia
antara lain:
1. Adrenergik seperti: pucat, keringat dingin, takikardi, gemetar,
lapar, cemas, gelisah, sakit kepala, mengantuk.
2. Neuroglikopenia seperti bingung, bicara tidak jelas, perubahan
sikap perilaku, lemah, disorientasi, penurunan kesadaran,
kejang, penurunan terhadap stimulus bahaya.
Menurut Suyono (2006), manifestasi klinis hipoglikemia antara
lain:
1. Hipoglikemia ringan : ketika kadar glukosa darah menurun, system
saraf simpatik akan terangsang. Pelimpahan adrenalin ke dalam
darah menyebabkan gejala seperti : perspirasi, tremor, takikardi,
palpitasi dan rasa lapar.
2. Hipoglikemia sedang : penurunan kadar glukosa darah
menyebabkan sel- sel otak tidak memperoleh cukup bahan bakar
untuk bekerja dengan baik. Tanda- tanda gangguan fisik pada
system saraf pusat mencakup ketidakmampuan berkonsentrasi,
sakit kepala, vertigo, konfusi, penurunan daya ingat, pati rasa di
derah bibir serta lidah, bicara pelo, gerakan tidak terkoordinasi,
perubahan emosional, perilaku yang tidak rasional, penglihatan
ganda dan perasaan ingin pingsan.
3. Hipoglikemia berat : fungsi system saraf pusat mengalami
gangguan yang sangat berat sehingga pasien memerlukan
pertolongan orang lain untuk mengatasi hipoglikemi yang di
deritanya. Gejala dapat mencakup perilaku yang mengalami
disorientasi, serangan kajang, sulit dibangunkan dari tidur atau
bahkan kehilangan kesadaran.

14
2.1.10 Pemeriksaan Penunjang
1. Gula darah puasa
Diperiksa untuk mengetahui kadar gula darah puasa (sebelum
diberi glukosa 75 gram oral) dan nilai normalnya antara 70- 110
mg/dl.
2. Gula darah 2 jam post prandial
Diperiksa 2 jam setelah diberi glukosa dengan nilai normal < 140
mg/dl/2 jam
3. HBA1c
Pemeriksaan dengan menggunakan bahan darah untuk memperoleh
kadar gula darah yang sesungguhnya karena pasien tidak dapat
mengontrol hasil tes dalam waktu 2- 3 bulan. HBA1c menunjukkan
kadar hemoglobin terglikosilasi yang pada orang normal antara 4-
6%. Semakin tinggi maka akan menunjukkan bahwa orang tersebut
menderita DM dan beresiko terjadinya komplikasi.
4. Elektrolit, tejadi peningkatan creatinin jika fungsi ginjalnya telah
terganggu
5. Leukosit, terjadi peningkatan jika sampai terjadi infeksi
2.1.11 Penatalaksanaan
Pedoman tatalaksana Hipoglikemia menurut PERKENI (2006)
pedoman sebagai berikut :
1. Glukosa diarahkan pada kadar glukosa puasa yaitu 120 mg/dl.
2. Bila diperlukan pemberian glukosa cepat (IV) → satu flakon (25
cc) Dex 40% (10 gr Dex) dapat menaikkan kadar glukosa kurang
lebih 25-30 mg/dl.
Manajemen Hipoglikemi menurut Soemadji (2006); Rush &
Louise (2004) ; Smeltzer & Bare (2003) sebagai berikut:
Tergantung derajat hipoglikemi:
1. Hipoglikemi ringan:
a. Diberikan 150-200 ml teh manis atau jus buah atau 6 -10 butir
permen atau 2-3 sendok teh sirup atau madu.

15
b. Bila gejala tidak berkurang dalam 15 menitulangi
pemberiannya
c. Tidak dianjurkan untuk mengkonsumsi makanan tinggi kalori
coklat, kue, donat, ice cream, cake
2. Hipoglikemi berat:
a. Tergantung pada tingkat kesadaran pasien.
b. Bila klien dalam keadaan tidak sadar, Jangan memberikan
makanan atau minuman
Pada hipoglikemia berat, membutuhkan bantuan eksternal (obat) :
1. Dekstrosa
Untuk pasien yang tidak mampu menelan glukosaoral
karena pingsan, kejang, atau perubahan status mental. Pada
keadaan darurat dapat pemberian dekstorsa dalam air pada
konsentrasi 50% adalah dosis biasanya diberikan kepada orang
dewasa, sedangkan konsentrasi 25% biasanya diberikan kepada
anak-anak.
2. Glukagon
Sebagai hormon kontra-regulasi utama terhadap insulin,
glukagon adalah pengobatan pertama yang dapat dilakukan untuk
hipoglikemia berat. Tidak seperti dekstrosa, yang harus diberikan
secara IV dengan perawatan kesehatan yang berkualitas
profesional, glukagon dapat diberikan oleh subcutan atau
intramuskular.

16
2.1.12 Komplikasi
Komplikasi dari hipoglikemia pada gangguan tingkat
kesadaran yang berubah selalu dapat menyebabkan gangguan
pernafasan, selain itu hipoglikemia juga dapat mengakibatkan
kerusakan otak akut. Hipoglikemia berkepanjangan parah bahkan
dapat menyebabkan gangguan neuropsikologis sedang sampai dengan
gangguan neuropsikologis berat karena efek hipoglikemia berkaitan
dengan sistem saraf pusat yang biasanya ditandai oleh perilaku
dan pola bicara yang abnormal (Jevon, 2010). Menurut Kedia
(2011), hipoglikemia yang berlangsung lama bisa menyebabkan
kerusakan otak yang permanen, hipoglikemia juga dapat
menyebabkan koma sampai kematian.
2.2 Konsep Dasar Asuhan Keperawatan
Proses keperawatan adalah suatu metode sistematik untuk mengkaji
respon manusia terhadap masalah-masalah dan membuat rencana keperawatan
yang bertujuan untuk mengatasi masalah-masalah tersebut. Masalah-masalah
kesehatan dapat berhubungan dengan klien, keluarga juga orang terdekat atau
masyarakat. Proses keperawatan mendokumentasikan kontribusi perawat
dalam mengurangi/mengatasi masalah-masalah kesehatan.
Proses keperawatan terdiri dari lima tahapan, yaitu : pengkajian,
diagnosa keperawatan, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi.
2.2.1 Pengkajian
Pengkajian merupakan tahap dimana perawat mengumpulkan
data secara sistematis, memilih dan mengatur data yang dikumpulkan
dan mendokumentasikan data dalam format yang didapat. Untuk itu
diperlukan kecermatan dan ketelitian tentang masalah-masalah klien
sehingga dapat memberikan arah terhadap tindakan keperawatan
(Tarwoto, 2006).
1. Identitas
Identitas klien meliputi : nama, umur, jenis kelamin, agama,
pendidikan, pekerjaan, alamat, status perkawinan, suku bangsa,
nomor register, tanggal masuk rumah sakit, diagnosa medis dan no.

17
RM, sedangkan identitas penanggung jawab terdiri dari : nama,
umur, jenis kelamin, agama, pendidikan, pekerjaan, suku bangsa,
alamat dan hubungan dengan klien.
2. Riwayat Kesehatan
a. Keluhan Utama
Biasanya pasien mengeluh pusing, lemah dan
penurunan konsentrasi.
b. Riwayat penyakit sekarang
Berisi tentang kapan terjadinya hipoglikemia, apa yang
dirasakan klien dan apa saja yang sudah dilakukan untuk
mengatasi sakitnya.
c. Riwayat penyakit dahulu
Kaji adanya penyakit yang diderita seperti diabetes
mellitus, hepatitis, sirosis hepatis, gagal ginjal dan penyakit
lainnya yang berhubungan dengan hipoglikemia. Kaji riwayat
penggunaan obat, konsumsi alkohol, aktivitas fisik yang
dilakukan dan asupan makanan.
d. Riwayat penyakit keluarga
Kaji adanya penyakit keluarga yang bisa menimbulkan
hipoglikemia seperti diabetes mellitus, hepatitis
3. Pola pemenuhan kebutuhan dasar Virginia Handerson :
a. Pola oksigenasi
Sebelum sakit : klien bernafas secara normal, tidak
menderita penyakit pernafasan.
Saat dikaji : klien sesak nafas, RR 22x/ menit
b. Pola nutrisi
Sebelum sakit : klien makan 3x sehari (nasi, sayur, dan
lauk)pasien suka makan yang mengandung kolesterol tinggi,
minum 6-8 gelas/hari
Saat dikaji : klien makan sesuai diit yang telah
diberikan, minum 4-5 gelas/hari.

18
c. Pola eliminasi
Sebelum sakit : klien BAK 4-6x/hari dan BAB 1x/hari
Saat dikaji : klien BAK 3-5x/hari dan BAB 1x/hari
d. Pola aktivitas/ bekerja
Sebelum sakit : klien melakukan aktivitas secara mandiri,
bekerja sebagai wiraswasta
Saat dikaji : aktivitas klien dibantu oleh keluarga dan
tidak dapat bekerja.
e. Pola istirahat
Sebelum sakit : klien istirahat/ tidur 8-10 jam/hari
Saat dikaji : klien istirahat/ tidur 7-9 jam/hari
f. Pola suhu
Sebelum sakit : klien tidak pernah demam (suhu normal)
Saat dikaji : suhu klien normal 360C
g. Pola gerak dan keseimbangan
Sebelum sakit : klien dapat melakukan gerak bebas sesuai
keinginannya
Saat dikaji : klien hanya melakukan gerak-gerak
terbatas karena sesak dan nyeri dada kiri.
h. Pola berpakaian
Sebelum sakit : klien dapat mengenakan pakaiannya secara
mandiri dan memakai pakaian kesayangannya
Saat dikaji : klien menggunakan pakaian seadaanya dan
dibantu keluarga saat mengganti pakaiannya
i. Pola personal hygine
Sebelum sakit : klien biasa mandi 2xsehari dengan air
bersih dan sabun mandi tanpa bantuan keluarganya
Saat dikaji : klien mandi dengan cara diseka dan
dibantu keluarganya
j. Pola komunikasi
Sebelum sakit : klien berkomunikasi dengan lancar,
memakai bahasa daerah

19
Saat dikaji : klien berkomunikasi dengan lancar,
memakai bahasa daerah
k. Pola spiritual
Sebelum sakit : klien beribadah sesuai agamanya
Saat dikaji : klien terganggu dalam melakukan ibadah
(sholat)
l. Pola aman & nyaman
Sebelum sakit : klien merasa aman dan nyaman hidup
bersama keluarga
Saat dikaji : klien merasa gelisah dirawat di rumah sakit
m. Pola rekreasi
Sebelum sakit : klien kadang-kadang berekreasi ke tempat-
tempat wisata
Saat dikaji : klien tidak dapat berekreasi, hanya tiduran
di tempat tidur dan cenderung diam
n. Pola belajar
Sebelum sakit : klien tidak mengetahui penyakit yang
dideritanya
Saat dikaji : klien tidak mengetahui penyakit yang
dideritanya
4. Pemeriksaan Fisik
a. Pemeriksaan fisik Review of System (ROS)
1) Pernafasan (B1)
pernafasan cepat dan dalam, frekuensi meningkat, nafas
berbau aseton.
2) Kardiovaskuler (B2)
Palpitasi, Akral dingin dan pucat, berkeringat meski suhu
normal, perubahan TD postural, hipotensi, nadi menurun,
ulkus pada kaki dan penyembuhan luka yang lama.
3) Persyarafan (B3)
Agresif, emosi labil, pusing, penglihatan kabur/ganda,
parestesia bibir dan jari, kejang, penurunan kesadaran-

20
koma, letargi, gangguan memori, reflek tendon menurun,
penurunan sensasi.
4) Perkemihan (B4)
Poliuria pada kasus hipoglikemi akibat diabetes mellitus,
nocturia, ISK, urine encer, dapat menjadi oliguria/anuria
bila terjadi hipovolemia berat, glukosuria.
5) Pencernaan (B5)
Mual, muntah, anoreksia, penurunan berat badan, diare,
bising usus meningkat, polifagi dan polidipsi, Rasa lapar
timbul akibat efek pelepasan epinefrin (adrenalin).
6) Muskuloskeletal dan integument (B6)
Kelemahan dan mudah capek saat melakukan aktivitas,
sulit bergerak, kulit/membrane mukosa kering.
5. Pemeriksaan Penunjang
a. Untuk hipoglikemia reaktif tes toleransi glukosa postpradial
oral 5 jam menunjukkan glukosa serum <50 mg/dl setelah 5
jam.
b. Glukosa serum <50 mg/dl, spesimen urin dua kali negatif
terhadap glukosa.
c. EKG: Takikardia
6. Pengelompokkan Data (Data Fokus)
a. Data Subyektif :
1) Sering masuk dengan keluhan yang tidak jelas
2) Keluarga mengeluh bayinya keluar banyaj keringat dingin
3) Rasa lapar (bayi sering nangis)
4) Nyeri kepala
5) Sering menguap
6) Irritabel
b. Data obyektif :
1) Parestisia pada bibir dan jari, gelisah, gugup, tremor,
kejang, kaku.

21
2) Hight-pitched cry, lemas, apatis, bingung, cyanosis, apnea,
nafas cepat irreguler, keringat dingin, mata berputar-putar,
menolak makan dan koma.
3) Plasma glukosa < 50 gr
2.2.2 Diagnosa Keperawatan
1. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan
obstruksi jalan nafas, peningkatan secret.
2. Gangguan perfusi jaringan cerebral berhubungan dengan disfungsi
sistem saraf pusat akibat hipoglikemia.
3. Defisit volume cairan berhubungan dengan diuresis osmotic.
4. Penurunan curah jantung berhubungan dengan vasokonstriksi
pembuluh darah.

22
2.2.3 Rencana Keperawatan
Diagnosa
N
Keperawata NOC NIC Rasional
o
n
1. Ketidakefekti Setelah Airway
fan bersihan dilakukan Management
jalan nafas tindakan 1. Auskultas 1. Adanya bunyi ronchi
berhubungan keperawatan i bunyi menandakan terdapat
dengan selama 3x24 nafas penumpukan sekret
obstruksi jam tambahan atau sekret berlebih di
jalan nafas, diharapkan ; ronchi, jalan nafas.
peningkatan jalan napas wheezing. 2. Posisi
secret normal 2. Berikan memaksimalkan
dengan posisi ekspansi paru dan
kriteria: yang menurunkan upaya
Respiratory nyaman pernapasan. Ventilasi
status: untuk maksimal membuka
airway menguran area atelektasis dan
patency gi meningkatkan gerakan
1. Frekuensi dispnea. sekret ke jalan nafas
pernapasa besar untuk
n dalam dikeluarkan.
batas 3. Mencegah obstruksi
normal 3. Bersihkan atau aspirasi.
(16- sekret Penghisapan dapat
20x/mnt) dari mulut diperlukan bila klien
2. Irama dan tidak mampu
pernapasn trakea; mengeluarkan sekret
normal lakukan sendiri.
3. Kedalama penghisap
n an sesuai
pernapasa keperluan 4. Mengoptimalkan
n normal . keseimbangan cairan
4. Klien 4. Anjurkan dan membantu
mampu asupan mengencerkan sekret
mengelua cairan sehingga mudah
rkan adekuat. dikeluarkan.
sputum 5. Fisioterapi dada/ back
secara 5. Ajarkan massage dapat
efektif batuk membantu
5. Tidak ada efektif. menjatuhkan secret
akumulas yang ada dijalan
i sputum 6. Kolaboras nafas.
i 6. Meringankan kerja
pemberia paru untuk memenuhi
n oksigen. kebutuhan oksigen
serta memenuhi
kebutuhan oksigen

23
7. Kolaboras dalam tubuh.
i 7. Bronkodilator
pemberia meningkatkan ukuran
n lumen percabangan
broncodil trakeobronkial
ator sehingga menurunkan
sesuai tahanan terhadap
indikasi. aliran udara.

2. Gangguan Setelah Intracranial


perfusi dilakukan Pressure
jaringan tindakan (ICP)
cerebral keperawatan Monitoring (
berhubungan selama 3x24 Monitor
dengan jam tekanan 1. Agar pasien lebih
disfungsi diharapkan intrakranial ) kooperatif.
system saraf gangguan 1. Jelaskan
pusat akibat perfusi kepada
hipoglikemia jaringan pasien
cerebral tentang
normal tindakan
dengan yang akan
kriteria: dilakukan 2. Perubahan tekanan
Tissue . CSS merupakan
Prefusion : 2. Pertahank potensi resiko
cerebral an posisi herniasi batang otak.
1. Tingkat tirah
kesadaran baring
komposm dengan
entis posisi 3. Aktivitas seperti ini
2. Disorient kepala akan meningkatkan
asi head up. intra thorak dan
tempat, 3. Bantu abdomen yang dapat
waktu, pasien meningkatkan TIK.
orang untuk
secara berkemih,
tepat membatas
3. TTV i batuk,
dalam muntah,
batas mengejan,
normal anjurkan
(suhu pasien
35,5ºC – napas 4. Pengkajian
37,5ºC, dalam kecenderungan
nadi 60- selama adanya perubahan
100 pergeraka tingkat kesadaran
x/menit, n. dan potensial
tekanan 4. Pantau peningkatan TIK

24
darah status sangat berguna
120/80 neurologi dalam menentukan
mmHg) s dengan lokalisasi.
teratur. 5. Perubahan pada
frekuensi jantung
mencerminkan
trauma/tekanan
5. Pantau batang otak.
TTV
3. Defisit Setelah Fluid
volume dilakukan Management
cairan tindakan 1. Batasi 1. Menghindari
berhubungan keperawatan intake kelebihan ambang
dengan selama 3x24 cairan ginjal dan
diuresis jam yang menurunkan tekanan
osmotik diharapkan mengand osmosis.
defisit volume ung gula
cairan teratasi dan lemak
dengan misalnya
kriteria: cairan
Fluid dari buah
Balance yang 2. Mempertahankan
1. TTV stabil manis. komposisi cairan
(N:60-100 2. Kolaboras tubuh, volume
x/menit, i dalam sirkulasi dan
TD: 100- pemberia menghindari overload
140/80-90 n terapi jantung.
mmHg, S: cairan
36,5-370C, 1500-
RR: 12-20 2500 ml
x/menit), dalam
2. Nadi batas
perifer yang 3. Dehidrasi yang
teraba dapat disertai demam akan
kuat ditolerans teraba panas,
3. turgor i jantung. kemerahan dan kering
kulit baik 3. Observasi di kulit sebagai
4. CRT < 2 suhu, indikasi penurunan
detik warna, volume pada sel.
5. Haluaran turgor
urine kulit dan
>1500- kelembab
1700 an, 4. Memberikan
cc/hari pengisian perkiraan kebutuhan
6. Kadar kapiler cairan tubuh (60-70%
elektrolit dan BB adalah air).
urin dalam membran
batas mukosa.

25
normal. 4. Pantau 5. Penurunan volume
masukan cairan darah akibat
dan diuresis osmotik
pengeluar dapat
an, catat dimanifestasikan oleh
balance hipotensi, takikardi,
cairan nadi teraba lemah,
5. Observasi CRT yang lambat,
TTV, turgor kulit yang
catat tidak elastis.
adanya
perubaha
n TD,
Turgor
kulit,
CRT.
4. Penurunan Setelah Vital Sign
curah jantung dilakukan Monitor
berhubungan tindakan 1. Observasi 1. Tachycardia
dengan keperawatan : Nadi ( merupakan tanda
vasokonstriks selama 1x24 irama, kompensasi jantung
i pembuluh jam frekuensi terhadap penurunan
darah diharapkan ), kontraktilitas jantung.
penurunan Tekanan Mengetahui fungsi
curah jantung Darah. pompa jantung yang
normal sangat dipengaruhi
dengan oleh CO dan
kriteria: 2. Jelaskan pengisisan jantung.
Circulation kepada 2. Agar pasien lebih
Status pasien kooperatif.
Vital Sign tentang
Status tindakan
1. TTV ( TD yang akan
120/80 dilakukan
mmHg, .
Nadi 60- 3. Berikan 3. Menurunkan stress
100 waktu dan ketegangan yang
x/menit ) istirahat mempengaruhi
dalam yang tekanan darah dan
batas cukup/ade perjalanan penyakit
normal. kuat. hipertensi.
2. Kesadaran 4. Berikan
Composme pembatas 4. Pembatasan ini dapat
ntis an cairan menangani retensi
3. CRT < 2 dan diit cairan dengan respon
detik. natrium hypertensive, dengan
4. Sp O2 95- sesuai demikian menurunkan
100 % indikasi. beban kerja jantung.

26
5. Kolaboras 5. Diuretik
i dengan meningkatkan aliran
dokter urine dan menghalangi
dalam reabsorsi dari
pemberia sodium/klorida
n terapi didalam tubulus ginjal.
diuretik.

2.2.4 Implementasi Keperawatan


Pelaksanaan adalah tahap pelaksananan terhadap rencana
tindakan keperawatan yang telah ditetapkan untuk perawat bersama
pasien. Implementasi dilaksanakan sesuai dengan rencana setelah
dilakukan validasi, disamping itu juga dibutuhkan ketrampilan
interpersonal, intelektual, teknikal yang dilakukan dengan cermat dan
efisien pada situasi yang tepat dengan selalu memperhatikan
keamanan fisik dan psikologis. Setelah selesai implementasi,
dilakukan dokumentasi yang meliputi intervensi yang sudah dilakukan
dan bagaimana respon pasien.
2.2.5 Evaluasi Keperawatan
Evaluasi merupakan tahap terakhir dari proses keperawatan.
Kegiatan evaluasi ini adalah membandingkan hasil yang telah dicapai
setelah implementasi keperawatan dengan tujuan yang diharapkan
dalam perencanaan.
Perawat mempunyai tiga alternatif dalam menentukan sejauh
mana tujuan tercapai:
1. Berhasil : prilaku pasien sesuai pernyatan tujuan dalam waktu atau
tanggal yang ditetapkan di tujuan.
2. Tercapai sebagian : pasien menunujukan prilaku tetapi tidak sebaik
yang ditentukan dalam pernyataan tujuan.
3. Belum tercapai. : pasien tidak mampu sama sekali menunjukkan
prilaku yang diharapakan sesuai dengan pernyataan tujuan.

27
BAB 3
PENUTUP
3.1 Simpulan
Hipoglikemia didefinisikan sebagai keadaan di mana kadar glukosa
plasma lebih rendah dari 45 mg/dl-50 mg/dl. Dosis pemberian insulin yang
kurang tepat, kurangnya asupan karbohidrat karena menunda atau melewatkan
makan, konsumsi alkohol, peningkatan pemanfaatan karbohidrat karena
latihan atau penurunan berat badan merupakan penyebab terjadinya
hipoglikemia (Kedia, 2011).
Beberapa faktor resiko penyebab hipoglikemia seperti
pengurangan/keterlambatan makan, kesalalahan dosis obat, latihan jasmani
yang berlebihan, penurunan kebutuhan insulin. Klasifikasi hipoglikemia
dibagi dalam tingkatan ringan, sedang, dan berat. Manisfestasi klinis yang
sering kita jumpai pada penderita hipoglikemia ini yaitu sering lemas, lesuh,
letih, tidak fokus terhadap sesuatu, dan mengalami penurunan berat badan.
Pemeriksaan penunjang yang utama yatiu pemeriksaan gula darah yang
apabila didapatkan hasil kurang dari normal yaitu <50 mg/dl. Tujuan
dilakukan tatalaksana Hipoglikemia yaitu untuk memenuhi kadar gula darah
dalam otak agar tidak terjadi kerusakan irreversibel, serta tidak mengganggu
regulasi DM dan mengarahkan agar kadar glukosa plasma berada dalam batas
normal orang puasa yaitu 120mg/dl. Komplikasi yang dapat terjadi yakni
kerusakan pada otak, kematian , koma. Pemberian asuhan keperawatan pada
pasien dengan hipoglikemia yang tertera, sudah sesuai dengan tinjauan teori,
begitu juga dengan pelaksanaannya tidak ada kesenjangan antara tinjauan teori
dengan tinjauan kasus.
3.2 Saran
Saran yang dapat disampaikan dari isi makalah ini yakni diharapkan
dapat meningkatkan kinerja perawat dan dapat memberikan asuhan
keperawatan kegawatdaruratan khususnya pada pasien hipoglikemia secara
cepat dan tepat. Dan diharapkan bagi mahasiswa untuk dapat menggunakan
kesempatan ini sebaik mungkin untuk serius mencari pengetahuan dalam
perawatan penderita hipoglikemia.

28
DAFTAR PUSTAKA

Carpenito. (2007). Buku Saku Diagnosa Keperawatan Edisi 6. Jakarta : EGC


Eko, Wahyu. 2012. Penyakit Penyebab Kematian Tertinggi di Indonesia.
diakses tanggal 12 November 2017. Jam 17.30.
http://www.kpindo.com/artikel
Herdman, Heather. (2010). Nanda International Diagnosis Keperawatan
Definisi dan Klasifikasi 2009- 2011. Jakarta: EGC
Jevon, Philip. (2010). Basic Guide To Medical Emergencies In The Dental
Practice. Inggris: Wiley Blackwell
Kedia, Nitil. (2011). Treatment of Severe Diabetic Hypoglycemia With
Glucagon: an Underutilized Therapeutic Approach. Dove Press Journal
McNaughton, Candace D. (2011). Diabetes in the Emergency Department:
Acute Care of Diabetes Patients. Clinical Diabetes
RA, Nabyl. (2009). Cara mudah Mencegah Dan Mengobati Diabetes Mellitus.
Yogyakarta : Aulia Publishing
Setyohadi, Bambang. (2011). Kegawatdaruratan Penyakit Dalam. Jakarta:
Pusat Penerbitan Ilmu Penyakit Dalam

29