Anda di halaman 1dari 69

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN KRITIS PADA NY “Y”


DENGAN DIAGNOSA MEDIS COMBUTIO GRADE II
YANG DILAKUKAN TINDAKAN DEBRIDEMENT DI
RUANG INSTALASI BEDAH SENTRAL
RSUD KOTA MATARAM

DISUSUN OLEH :
FIRMAN SAPUTRA
045 STYJ 17

YAYASAN RUMAH SAKIT ISLAM NUSA TENGGARA BARAT


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN YARSI MATARAM
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN JENJANG S1
MATARAM
2017

i
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT., atas limpahan dan
rahmat karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah “Asuhan
Keperawatan Gawat Darurat Pada Luka Bakar”. Makalah ini disusun sebagai
salah satu tugas Mata Kuliah Keperawatan Gawat Darurat. Karena makalah ini
tidak mungkin dapat diselesaikan tanpa bantuan dari pihak-pihak tertentu, maka
dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terimakasih yang sedalam-dalamnya
kepada :
1. H. Zulkahfi., S.Kep., Ners., M.Kes., selaku Ketua STIKES YARSI Mataram.
2. Irwan Hadi, S.Kep., Ners., M.Kep., selaku Ka. Prodi S1 Keperawatan STIKES
YARSI Mataram.
3. Bq. Nur’ainun Apriani Idris, S.Kep., Ners., selaku dosen pembimbing
akademik.
4. Bahjatun Nadrati, S.Kep., Ners., M.Kep., selaku dosen Mata Kuliah
Keperawatan Gawat Darurat.
5. Semua pihak yang ikut membantu dalam penyusunan makalah ini.
Penulis membuat makalah ini dengan seringkas-ringkasnya dan bahasa
yang jelas agar mudah dipahami. Karena penulis menyadari keterbatasan yang
penulis miliki, penulis mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca, agar
pembuatan makalah penulis yang berikutnya dapat menjadi lebih baik.
Akhir kata semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca.

Mataram, 21 Maret 2017

Penulis

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ................................................................................. i


KATA PENGANTAR ............................................................................... ii
DAFTAR ISI .............................................................................................. iii

BAB 1 PENDAHULUAN ......................................................................... 1


1.1 Latar Belakang ......................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah .................................................................... 2
1.3 Tujuan Penulisan ...................................................................... 2
1.3.1 Tujuan Umum............................................................... 2
1.3.2 Tujuan Khusus .............................................................. 3
1.4 Manfaat Penulisan .................................................................... 3
1.5 Ruang Lingkup ......................................................................... 3
1.6 Metode Penulisan ..................................................................... 3
1.7 Sistematika Penulisan............................................................... 4

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA ................................................................ 5


2.1 Konsep Dasar Luka Bakar........................................................ 5
2.1.1 Definisi Luka Bakar ..................................................... 5
2.1.2 Epidemiologi ................................................................ 6
2.1.3 Etiologi Luka Bakar ..................................................... 7
2.1.4 Patologi Luka Bakar ..................................................... 9
2.1.5 Klasifikasi Luka Bakar ................................................. 15
2.1.6 Perhitungan Luas Luka Bakar ...................................... 22
2.1.7 Pathway ........................................................................ 35
2.1.8 Derajat Keparahan Luka Bakar .................................... 35
2.1.9 Penatalaksanaan............................................................ 39
2.1.10 Luka Bakar Khusus ...................................................... 42
2.1.11 Komplikasi ...................................................................
2.1.12 Prognosis ......................................................................
2.2 Konsep Asuhan Keperawatan Gawat Darurat Luka Bakar ...... 43
2.2.1 Pengkajian .................................................................... 43
2.2.2 Diagnosa Keperawatan ................................................. 49
2.2.3 Intervensi Keperawatan ................................................ 51
2.2.4 Implementasi Keperawatan .......................................... 66
2.2.5 Evaluasi Keperawatan .................................................. 66
2.2.6 Dokumentasi ................................................................. 68

iii
BAB 3 PENUTUP...................................................................................... 73
3.1 Simpulan................................................................................... 73
3.2 Saran ......................................................................................... 73

DAFTAR PUSTAKA

iv
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Luka bakar adalah suatu trauma yang disebabkan oleh panas, arus
listrik, bahan kimia dan petir yang mengenai kulit, mukosa dan jaringan yang
lebih dalam (Irna Bedah RSUD Dr.Soetomo, 2001).
Luka Bakar adalah keadaan sakit yang dapat membawa pemderitaan
pada morbiditas yang sangat kompleks dan merupakan trauma yang paling
berpotensi menyebabkan gangguan berat integritas penampakan dan
psikologis apabila berpotensi menyebabkan gangguan berat integritas.
Mencegah timbulnya bekas luka adalah merupakan tujuan utama dari
penatalaksanaan luka bakar. Edukasi pasien secara konsisten dan berulang
adalah suatu bagian yang penting dalam terapi pasien. Penatalaksanaan
terhadap edema, penatalaksanaan gangguan nafas, memposisikan, dan
melibatkan pasien dalam aktivitas fungsional dan pergerakan harus dimulai
sejak dini. Pasien perlu dimotivasi untuk bekerja sesuai dengan kemampuan
mereka dan menerima tanggung jawab untuk merawat diri mereka sendiri.
Kemampuan fungsional pasien setelah terapi tidak akan maksimal jika pasien
tidak secara teratur terlibat dalam pergerakan (Teddy O.H SMF Bedah Plastik
RSUD Dr. Soetomo).
Menurut the National Institutes of General Medical Sciences, sekitar
1,1 juta luka-luka bakar yang membutuhkan perawatan medis setiap tahun di
Amerika Serikat. Di antara mereka terluka, sekitar 50.000 memerlukan rawat
inap dan sekitar 4.500 meninggal setiap tahun dari luka bakar. Ketahanan
hidup setelah cedera luka bakar telah meningkat pesat selama abad kedua
puluh. Perbaikan resusitasi, pengenalan agen antimikroba topikal dan, yang
lebih penting, praktek eksisi dini luka bakar memberikan kontribusi terhadap
hasil yang lebih baik.Namun, cedera tetap mengancam jiwa. Di India,
sekitar 2,4 juta luka bakar dilaporkan per tahun. Sekitar 650.000 dari cedera
ditangani oleh pusat-pusat perawatan luka bakar, 75.000 dirawat di rumah
sakit. Dari mereka yang dirawat di rumah sakit, 20.000 yang mengalami luka

1
bakar besar telah melibatkan paling sedikit 25% dari total permukaan tubuh
mereka. Antara 8.000 dan 12.000 pasien dengan luka bakar meninggal, dan
sekitar satu juta akan mempertahankan cacat substansial atau permanen yang
dihasilkan dari luka bakar mereka. Angka mortalitas penderita luka bakar di
Indonesia masih cukup tinggi, yaitu 27,6% (2012) di RSCM dan 26,41%
(2012) di RS Dr. Soetomo (Martina & Wardhana, 2013). Data epidemiologi
dari unit luka bakar RSCM pada tahun 2011-2012 melaporkan jumlah pasien
luka bakar sebanyak 257 pasien. Dengan rerata usia adalah 28 tahun ( range :
2,5 bulan – 76 tahun), dengan rasio laki- laki : perempuan adalah 2,7 : 1.
Luka bakar api adalah etiologi terbanyak (54,9 %), diikuti air panas (29,2%),
luka bakar listrik (12,8%), dan luka bakar kimia (3,1%). Rerata luas luka
bakar adalah 26% (range 1-98%).
1.2 Rumusan Masalah
1.1.1 Apa definisi dari luka bakar ?
1.1.2 Bagaimana epidemiologi luka bakar?
1.1.3 Apa etiologi dari luka bakar?
1.1.4 Bagaimana patologi dari luka bakar?
1.1.5 Apa saja klasifikasi dari luka bakar?
1.1.6 Bagaimana perhitungan luas luka bakar?
1.1.7 Bagaimana derajat keparahan luka bakar?
1.1.8 Bagaimana penatalaksanaan luka bakar?
1.1.9 Bagaimana luka bakar khusus?
1.1.10 Apa saja komplikasi luka bakar?
1.1.11 Bagaimana prognosis luka bakar?
1.1.12 Bagaimana asuhan keperawatan dari edema paru?
1.3 Tujuan.
1.3.1 Tujuan Umum
Mahasiswa mampu mengetahui dan memahami tentang Konsep Dasar
Luka Bakar dan Konsep Asuhan Keperawatan Gawat Darurat Luka
Bakar.

2
1.3.2 Tujuan Khusus
1. Dapat menuliskan konsep-konsep dan teori yang terdapat pada
kasus Luka Bakar.
2. Dapat melaksanakan pengkajian sesuai dengan masalah yang
muncul pada kasus Luka Bakar.
3. Merumuskan diagnosa keperawatan yang paling sering muncul
pada kasus Luka Bakar.
4. Dapat menyusun perencanaan keperawatan pada kasus Luka Bakar.
5. Dapat menyusun implementasi keperawatan pada kasus Luka
Bakar.
6. Dapat menyusun evaluasi keperawatan pada kasus Luka Bakar.
7. Dapat menyusun dokumentasi keperawatan pada kasus Luka
Bakar.
1.4 Manfaat
1.1.1. Bagi Mahasiswa
Agar mahasiswa dapat mengetahui Konsep Dasar Asuhan
Keperawatan Luka Bakar.
1.1.2. Bagi Pendidikan
Sebagai kerangka acuan dalam pembuatan makalah Konsep
Dasar Asuhan Keperawatan Gawat Darurat Luka Bakar.
1.1.3. Penulis
Meningkatkan pengetahuan penulis dalam menerapkan asuhan
keperawatan mengenai cara pencegahan, perawatan, dan pengobatan
pada Luka Bakar.
1.5 Ruang Lingkup
Dalam penulisan makalah ini penulis membatasi masalah Konsep
Dasar Luka Bakar dan Konsep Asuhan Keperawatan Gawat Darurat Luka
Bakar.
1.6 Metode Penulisan
Metode penulisan yang digunakan dalam penyusunan makalah adalah
metode Deskrisif dan teknik pengumpulan data dengan menggunakan teknik

3
studi kepustakaan yang mengambil materi dari berbagai sumber buku dan
melalui media internet.
1.7 Sistematika Penulisan
Penulisan karya tulis ini, penulis bagi dalam beberapa bab dan sub bab
yang disusun sebagai berikut :
BAB I : Pendahuluan meliputi : Latar Belakang, Tujuan, Manfaat, Ruang
Lingkup Metode Penulisan, Sistematika Penulisan.
BAB II : Tinjauan Pustaka : Konsep dasar penyakit dan konsep dasar
asuhan keperawatan mioma uteri dan Konsep Dasar Asuhan
Keperawatan melipiuti : Pengkajian, Diagnosa, Intervensi,
Implementasi, dan Evaluasi
BAB III : Penutup meliputi: Simpulan dan Saran

4
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Dasar Luka Bakar


2.1.1 Definisi Luka Bakar
Luka bakar adalah suatu trauma yang disebabkan oleh panas,
arus listrik, bahan kimia dan petir yang mengenai kulit, mukosa dan
jaringan yang lebih dalam (Irna Bedah RSUD Dr.Soetomo, 2001).
Luka Bakar adalah keadaan sakit yang dapat membawa
pemderitaan pada morbiditas yang sangat kompleks dan merupakan
trauma yang paling berpotensi menyebabkan gangguan berat integritas
penampakan dan psikologis apabila berpotensi menyebabkan
gangguan berat integritas (Teddy O.H SMF Bedah Plastik RSUD Dr.
Soetomo).
Luka bakar adalah luka yang disebabkan oleh kontak
dengan suhu tinggi seperti api, air panas, listrik, bahan kimia
dan radiasi, sebab kontak dengan suhu rendah. Luka bakar ini
dapat mengakibatkan kematian, atau akibat lain yang berkaitan
dengan problem fungsi maupun estetik (Arif Mansjoer, 2000).
Luka bakar adalah kelainan kulit yang di sebabkan oleh agen
termal, kimia, listrik atau radioaktif (Wong, 2004). Luka bakar
merupakan luka yang unik diantara bentuk-bentuk luka lainnya karena
luka tersebut meliputi sejumlah besar jaringan mati (eskar) yang tetap
berada pada tempatnya untuk jangka waktu yang lama (Smeltzer,
2001).
Luka bakar adalah rusaknya struktur dan fungsi anatomis
normal akibat proses patologis yang berasal dari internal maupun
eksternal dan mengenai organ tertentu (Lazarus, 1994 dalam Potter &
Perry, 2006). Luka bakar merupakan jenis luka, kerusakan jaringan
atau kehilangan jaringan yang diakibatkan sumber panas ataupun suhu
dingin yang tinggi, sumber listrik, bahan kimiawi, cahaya, radiasi dan
friksi. Jenis luka dapat beraneka ragam dan memiliki penanganan

5
yang berbeda tergantung jenis jaringan yang terkena luka bakar,
tingkat keparahan, dan komplikasi yang terjadi akibat luka tersebut)
(Chemical Burn Causes, 2008).
2.1.2 Epidemiologi
Di Amerika Serikat, sekitar 1,1 juta orang per tahun
mengalami luka bakar yang cukup serius dan harus mencari perawatan
kesehatan. Sekitar 45.000 dari memerlukan rawat inap, dan sekitar
4.500 mati.Lebih dari 90 persen dari kebakaran dapat dicegah, dengan
hampir satu-setengah yang berhubungan dengan merokok atau karena
penyalahgunaan bahan mudah terbakar. Jumlah tahunan membakar
kematian di Amerika Serikat telah menurun dari kira-kira 15.000 pada
tahun 1970 menjadi sekitar 4.500 saat ini. Selama periode yang sama,
ukuran luka bakar yang berhubungan dengan 50 persen angka
kematian telah meningkat dari 30 persen dari total luas permukaan
tubuh (TBSA) sehingga 80 persen dari TBSA orang dewasa muda.
Hampir 95 persen pasien yang dirawat di pusat perawatan luka bakar
di Amerika Serikat bertahan hidup, dan lebih dari satu-setengah dari
mereka kembali ke fungsi sosial dalam waktu 12-24 bulan setelah
cedera. Kualitas perawatan luka bakar tidak lagi diukur hanya dengan
kelangsungan hidup, tetapi juga oleh fungsi jangka panjang dan
penampilan.Seperti bentuk-bentuk lain trauma, luka bakar sering
mempengaruhi anak-anak dan kaum muda dewasa.Anak-anak kurang
dari 8 tahun, luka bakar yang paling umum adalah luka bakar,
biasanya diakibatkan cairan panas. Pada anak yang lebih tua dan
orang dewasa, luka bakar yang paling umum adalah yang
berhubungan dengan api, biasanya akibat kebakaran rumah. Bahan
kimia atau cairan panas, diikuti oleh listrik, dan kemudian logam cair
atau panas yang paling sering terkait dengan pekerjaan menyebabkan
luka bakar (Thorne, 2007).

6
2.1.3 Etiologi Luka Bakar
Secara garis besar, penyebab terjadinya luka bakar menurut
Sudjatmiko (2007), dapat dibagi menjadi:
1. Panas
a. Flame: Akibat kontak langsung antara jaringan dengan api
terbuka, dan menyebabkan cedera langsung ke jaringan
tersebut. Api dapat membakar pakaian terlebih dahulu baru
mengenai tubuh. Serat alami memiliki kecenderungan untuk
terbakar, sedangkan serat sintetik cenderung meleleh atau
menyala dan menimbulkan cedera tambahan berupa cedera
kontak.
b. Benda panas : Terjadi akibat kontak langsung dengan benda
panas. Luka bakar yang dihasilkan terbatas pada area tubuh
yang mengalami kontak. Contohnya antara lain adalah luka
bakar akibat rokok dan alat-alat seperti solder besi atau
peralatan masak.
c. Scalds (air panas)
Terjadi akibat kontak dengan air panas. Semakin kental
cairan dan semakin lama waktu kontaknya, semakin besar
kerusakan yang akan ditimbulkan. Luka yang disengaja atau
akibat kecelakaan dapat dibedakan berdasarkan pola luka
bakarnya. Pada kasus kecelakaan, luka umumnya
menunjukkan pola percikan, yang satu sama lain dipisahkan
oleh kulit sehat. Sedangkan pada kasus yang disengaja, luka
umumnya melibatkan keseluruhan ekstremitas dalam pola
sirkumferensial dengan garis yang menandai permukaan
cairan.
d. Uap panas
Terutama ditemukan di daerah industri atau akibat
kecelakaan radiator mobil. Uap panas menimbulkan cedera
luas akibat kapasitas panas yang tinggi dari uap serta dispersi
oleh uap bertekanan tinggi. Apabila terjadi inhalasi, uap panas

7
dapat menyebabkan cedera hingga ke saluran napas distal di
paru.
e. Gas panas
Inhalasi menyebabkan cedera thermal pada saluran
nafas bagian atas dan oklusi jalan nafas akibat edema.
2. Aliran listrik
Cedera timbul akibat aliran listrik yang lewat menembus jaringan
tubuh. Umumnya luka bakar mencapai kulit bagian dalam. Listrik
yang menyebabkan percikan api dan membakar pakaian dapat
menyebabkan luka bakar tambahan.
3. Bahan kimia (asam atau basa)
4. Radiasi
Sunburn sinar matahari, terapi radiasi.
Kerusakan jaringan disebabkan oleh api lebih berat
dibandingkan dengan air panas; kerusakan jaringan akibat bahan yang
bersifat koloid (misalnya bubur panas) lebih berat dibandingkan air
panas. Luka bakar akibat ledakan juga menyebabkan kerusakan organ
dalam akibat daya ledak (eksplosif). Pada luka bakar yang disebabkan
oleh bahan kimia terutama asam menyebabkan kerusakan yang hebat
akibat reaksi jaringan sehingga terjadi diskonfigurasi jaringan yang
menyebabkan gangguan proses penyembuhan.

8
2.1.4 Patologi Luka Bakar
1. Zona Kerusakan Jaringan

Gambar. 5 skematis zona kerusakan jaringan


a. Zona Koagulasi
Daerah yang langsung mengalami kerusakan (koagulasi
protein) akibat pengaruh panas. Daerah ini merupakan titik
kerusakan maksimal.
b. Zona Statis
Daerah yang berada langsung di luar zona koagulasi
yang ditandai dengan adanya vasokonstriksi dan iskemia.
terjadi kerusakan endotel pembuluh darah disertai kerusakan
trombosit dan leukosit, sehingga terjadi gangguan perfusi (no
flow phenomena), diikuti perubahan permeabilitas kapiler dan
respons inflamasi lokal. Proses ini berlangsung selama 12-24
jam pasca cedera dan mungkin berakhir dengan nekrosis
jaringan.
c. Zona Hiperemi
Zona hiperemi terletak langsung disekitar zona stasis
ditandai dengan adanya vasodilatasi. Vasodilatasi pada zona

9
ini diakibatkan adanya pelepasan mediator-mediator inflamasi
lokal dari sel-sel kutaneus. Jaringan pada zona ini umumnya
masih viabel dan dapat mengalami penyemb’uhan spontan atau
berubah menjadi zona kedua bahkan pertama.
2. Fase Luka Bakar
Dalam perjalanan penyakit dibedakan 3 fase pada luka bakar,
yaitu :
1) Fase awal, fase akut, fase syok
Pada fase ini problem yang berkisar pada gangguan
saluran nafas karena adanya cedera inhalasi dan gangguan
sirkulasi. Pada fase ini juga terjadi gangguan keseimbangan
sirkulasi cairan dan elektrolit, akibat cedera termis yang
bersifat sistemik.
2) Fase setelah syok berakhir, diatasi, fase subakut
Fase ini berlangsung setelah syok berakhir atau dapat di
atasi. Luka terbuka akibat kerusakan jaringan (kulit dan
jaringan dibawahnya) dapat menimbulkan masalah, yaitu :
a) Proses inflamasi
Proses inflamasi yang terjadi pada luka bakar
berbeda dengan luka sayat elektif; proses inflamasi di sini
terjadi lebih hebat disertai eksudasi dan kebocoran protein.
Pada saat ini terjadi reaksi inflamasi lokal yang
kemudian berkembang menjadi reaksi sistemik dengan
dilepaskannya zat-zat yang berhubungan dengan proses
immunologik, yaitu kompleks lipoprotein (lipid protein
complex, burn-toxin) yang menginduksi respon inflamasi
sistemik (SIRS = Systemic Inflammation Response
syndrome).
b) Infeksi yang dapat menimbulkan sepsis
c) Proses penguapan cairan tubuh disertai panas / energi
(evaporative heat loss) yang menyebabkan perubahan dan
gangguan proses metabolisme.

10
3) Fase lanjut
Fase ini berlangsung setelah terjadi penutupan luka
sampai terjadi maturasi. Masalah pada fase ini adalah timbul
penyulit dari luka bakar berupa parut hipertrofik, kontraktur
dan deformitas lain yang terjadi karena kerapuhan jaringan
atau organ-organ stuktural, misalnya bouttoniérre deformity.
(Herndo, 2008).
3. Patofisiologi Luka Bakar
Sel-sel tubuh dapat menahan temperatur sampai 44 ºC
tanpa kerusakan bermakna. Temperatur antara 44 ºC sampai
dengan 51 ºC, kecepatan kerusakan jaringan berlipat ganda untuk
tiap derajat kenaikan temperatur dan waktu penyinaran yang
terbatas yang dapat ditoleransi. Diatas 51 ºC protein terdenaturasi
dan kecepatan kerusakan jaringan sangat hebat. Temperatur di atas
70 ºC menyebabkan kerusakan selular yang sangat cepat dan
hanya periode yang sangat singkat yang dapat ditahan. Pada
rentang panas yang lebih rendah, tubuh dapat mengeluarkan
tenaga panas dengan perubahan sirkulasi; tetapi pada rentang
panas yang lebih tinggi, hal ini tidak efektif (Ahmadsyah, 2005).
Efek-efek umum yang terjadi pada luka bakar adalah sebagai
berikut :
1) Akibat pertama luka bakar adalah syok karena kaget dan
kesakitan. Pembuluh kapiler yang terkena suhu tinggi rusak
sel darah yang di dalamnya ikut rusak sehingga dapat terjadi
anemia.
2) Meningkatnya permeabilitas menyebabkan udem dan
menimbulkan bula dengan membawa serta elektrolit. Hal ini
menyebabkan berkurangnya volume cairan intravaskuler.
Tubuh kehilangan cairan antara ½ % - 1 %, “Blood Volume ”
setiap 1 % luka bakar. Kerusakan kulit akibat luka bakar
menyebabkan kehilangan cairan tambahan karena penguapan
yang berlebih (insensible water loss meningkat).

11
3) Bila luka bakar lebih dari 20 % akan terjadi syok
hipovolemik dengan gejala yang khas yaitu : gelisah, pucat
dingin berkeringat, nadi kecil, dan cepat, tekanan darah
menurun dan produksi urine menurun (kegagalan fungsi
ginjal).
4) Pada luka bakar daerah wajah dapat terjadi kerusakan
mukosa jalan nafas karena gas, asap atau uap panas yang
terhisap. Gejala yang timbul adalah sesak nafas, takipneu,
stridor, suara serak dan berdahak berwarna gelap karena
jelaga. Dapat juga terjadi keracunan gas CO atau gas beracun
lain. CO akan mengikat hemoglobin dengan kuat sehingga
tak mampu mengikat oksigen lagi. Tanda keracunan yang
ringan adalah lemas, bingung, pusing, mual dan muntah.
Pada keracunan berat terjadi koma. Bila lebih 60 %
hemoglobin terikat CO, penderita akan meninggal.
5) Setelah 12-24 jam, permeabilitas kapiler mulai membaik
dengan integritas kembali normal sekitar 36-48 jam.
Kemudian terjadi mobilisasi dan penyerapan kembali cairan
edema ke pembuluh darah. Hal ini ditandai dengan
meningkatnya diuresis.
6) Luka bakar sering tidak steril. Kontaminasi pada kulit mati
yang merupakan medium yang baik bagi kuman, akan
mempermudah infeksi. Infeksi ini sulit diatasi karena daerah
tersebut mengalami trombosis sehingga tidak tercapai oleh
pembuluh darah kapiler yang membawa sistem kekebalan
tubuh dan antibiotik. Kuman penyebeb infeksi dapat berasal
dari kulit penderita sendiri, kontaminasi kuman di saluran
pernapasan atas, maupun kontaminasi di lingkungan rumah
sakit.
7) Pada awalnya infeksi terjadi karena bakteri gram positif,
selanjutnya dapat terjadi invasi bakteri gram negatif, sebagai
contoh Pseudomonas aeruginosa yang dapat menghasilkan

12
eksotoksin protease dan toksin lain yang berbahaya, terkenal
agresif dalam invasinya pada luka bakar. Infeksi
pseudomonas dapat dilihat dari warna hijau pada kasa
penutup luka bakar.
8) Luka bakar yang tampak adanya invasi kuman di jaringan
sekelilingnya, dimana pada biopsi eksudat yang dibiakkan
ditemukan kuman, maka telah terjadi luka bakar septik yang
dapat menyebabkan syok septik.
9) Bila infeksi dapat di atasi, penderita luka bakar derajat dua
dapat sembuh dengan meninggalkan cacat berupa parut. Luka
bakar derajat dua yang dalam mungkin meninggalkan parut
hipertrofik yang gatal, nyeri, kaku dan secara estetik tampak
jelek. Luka bakar derajat tiga yang dibiarkan sembuh sendiri
akan mengalami kontraktur. Jika terjadi di daerah persendian
maka fungsi sendi akan menghilang atau menurun.
10) Fase permulaan luka bakar merupakan fase katabolisme
sehingga keseimbangan protein menjadi negatif. Protein
tubuh banyak hilang karena eksudasi, metabolisme tinggi dan
infeksi. Penguapan yang berlebihan memerlukan kalori
tambahan dan di dapat dari pembakaran protein dari otot
skelet. Oleh karena itu otot penderita akan mengecil dan berat
badan menurun.
11) Kehilangan cairan terbesar terjadi dalam 6-8 jam pertama.
Jumlah kehilangan cairan melalui evaporasi luka dapat
mencapai 6-8 liter/hari atau sekitar 300 ml/m2/jam.
Kehilangan ini dapat ditentukan dengan rumus :
Volume (ml) = (25 + persentase luka TBSA) × luas seluruh
permukaan tubuh dalam meter persegi
Respon sistemik pada luka bakar adalah sebagai berikut :
1) Respon kardiovaskuler
Curah jantung akan menurun sebelum perubahan yang
signifikan pada volume darah terlihat dengan jelas. Karena

13
berlanjutnya kehilangan cairan dan berkurangnya volume
vaskuler, maka curah jantung akan terus turun dan terjadi
penurunan tekanan darah. Keadaan ini merupakan awitan syok
luka bakar. Sebagai respon, sistem saraf simpatik akan
melepaskan katekolamin yang meningkatkan resistensi perifer
(vasokontriksi) dan frekuensi denyut nadi. Selanjutnya
vasokontriksi pembuluh darah perifer menurunkan curah
jantung.
2) Respon Renalis
Ginjal berfungsi untuk menyaring darah, dengan
menurunnya volume intravaskuler maka aliran ke ginjal dan
GFR menurun mengakibatkan keluaran urin menurun dan bisa
berakibat gagal ginjal.
3) Respon Gastro Intestinal
Ada 2 komplikasi gastrointestinal yang potensial, yaitu
ileus paralitik (tidak adanya peristaltik usus) dan ulkus curling
dengan gejala yang sama dengan gejala ulkus peptikum.
Berkurangnya peristaltik usus dan bising usus merupakan
manifestasi ileus paralitik yang terjadi akibat syok atau karena
berkurangnya kalium pada fase mobilisasi pada luka bakar.
Distensi lambung dan nausea dapat mengakibatkan vomitus
kecuali jika segera dilakukan dekompresi lampung (dengan
pemasangan sonde lambung). Perdarahan lambung yang
terjadi sekunder akibat stres fisiologik yang masif dapat
ditandai oleh darah dalam feses atau vomitus yang berdarah.
Semua tanda ini menunjukkan erosi lambung atau duodenum
(ulkus curling). Respon umum pada luka bakar > 20 % adalah
penurunan aktivitas gastrointestinal. Hal ini disebabkan oleh
kombinasi efek respon hipovolemik dan neurologik serta
respon endokrin terhadap adanya perlukan luas. Pemasangan
NGT mencegah terjadinya distensi abdomen, muntah dan
aspirasi.

14
4) Respon Imunologi
Pertahanan imunologik tubuh sangat berubah akibat
luka bakar. Sebagian basis mekanik, kulit sebagai mekanisme
pertahanan dari organisme yang masuk. Terjadinya gangguan
integritas kulit akan memungkinkan mikroorganisme masuk ke
dalam luka.
5) Respon Pulmoner
Pada luka bakar yang berat, konsumsi Oksigen oleh
jaringan akan meningkat dua kali lipat sebagai akibat dari
keadaan hipermetabolisme dan respon lokal (White, 1993).
Cedera pulmoner dapat diklasifikasikan menjadi beberapa
kategori yaitu cedera saluran napas atas terjadi akibat panas
langsung, cedera inhalasi di bawah glotis terjadi akibat
menghirup produk pembakaran yang tidak sempurna atau gas
berbahaya seperti karbon monoksida, sulfur oksida, nitrogen
oksida, senyawa aldehid, sianida, amonia, klorin, fosgen,
benzena, dan halogen. Komplikasi pulmoner yang dapat
terjadi akibat cedera inhalasi mencakup kegagalan akut
respirasi dan ARDS (adult respiratory distress syndrome).
(Smeltzer, 2001, 1913).
2.1.5 Klasifikasi Luka Bakar
Klasifikasi luka bakar menurut Effendi (2008), dibagi atas
berdasarkan penyebab/ etiologi (seperti dijelaskan diatas) dan
kedalaman luka bakar.
1. Klasifikasi berdasarkan penyebab
Luka bakar dibedakan menjadi beberapa jenis, antara lain:
a. Luka bakar karena api
b. Luka bakar karena air panas
c. Luka bakar karena bahan kimia (yang bersifat asam atau basa
kuat)
d. Luka bakar karena listrik dan petir
e. Luka bakar karena radiasi

15
f. Cedera akibat suhu sangat rendah (frost bite)
2. Klasifikasi berdasarkan kedalaman luka
Lama kontak jaringan dengan sumber panas menentukan
luas dan kedalaman kerusakan jaringan. Semakin lama waktu
kontak, maka semakin luas dan dalam kerusakan jaringan yang
terjadi.

Gambar. 6 klasifikasi luka bakar berdasarkan kedalaman


luka

a. Luka bakar derajat satu


Ditandai dengan luka bakar superfisial dengan kerusakan
pada lapisan epidermis. Tampak hiperemia dan eritema.
Penyebab tersering adalah sengatan sinar matahari. Pada proses
penyembuhan terjadi lapisan luar epidermis yang mati akan
terkelupas dan terjadi regenerasi lapisan epitel yang sempurna
dari epidermis yang utuh dibawahnya. Tidak terdapat bula, nyeri
karena ujung-ujung saraf sensorik teriritasi. Dapat sembuh
spontan selama 5-10 hari.

16
Gambar. 7 luka bakar derajat satu
b. Luka bakar derajat dua
Kerusakan terjadi pada lapisan epidermis dan sebagian
dermis dibawahnya, berupa reaksi inflamasi akut disertai proses
eksudasi. Pada luka bakar derajat dua ini ditandai dengan nyeri,
bercak-bercak berwarna merah muda dan basah serta
pembentukan blister atau lepuh. biasanya disebabkan oleh
tersambar petir, tersiram air panas. Dalam waktu 3-4 hari,
permukaan luka bakar mengering sehingga terbentuklah krusta
tipis berwarna kuning kecoklatan seperti kertas perkamen.
Beberapa minggu kemudian, krusta itu akan mengelupas karena
timbul regenerasi epitel yang baru tetapi lebih tipis dari organ
epitel kulit yang tidak terbakar didalamnya. Oleh karena itu
biasanya dapat terdapat penyembuhan spontan pada luka bakar
superfisial atau partial thickness burn.

17
Gambar. 8 bula pada telapak tangan, luka in i digolongkan ke dalam
luka bakar derajat dua, karena epidermis berada diatas luka
Dibedakan menjadi 2 (dua):
a) Derajat II dangkal (superfisial)
1) kerusakan mengenai sebagian superfisial dari dermis
2) apendises kulit seperti folikel rambut, kelenjar keringat,
kelenjer sebasea masih utuh
3) penyembuhan terjadi spontan dalam waktu 10-14 hari.
b) Derajat II dalam (deep)
1) kerusakan mengenai hampir saluruh bagian dermis
2) apendises kulit seperti folikel rambut, kelenjar keringat,
kelenjer sebasea sebagian masih utuh.
3) Penyembuhan terjadi lebih lama, tergantung apendises
kulit yang tersisa. Biasanya terjadi dalam waktu lebih
dari satu bulan.

18
Gambar. 9 luka bakar derajat dua dalam, pada anak yang tersiram kopi
panas, luka berwarna merah muda, lunak pada penekanan,
dan tampak basah, sensasi nyeri sulit ditentukan pada anak.

c. Luka bakar derajat tiga


Terjadi kerusakan pada seluruh ketebalan kulit.
Meskipun tidak seluruh tebal kulit rusak, tetapi bila semua
organ kulit sekunder rusak dan tidak ada kemampuan lagi untuk
melakukan regenerasi kulit secara spontan/ reepitelisasi, maka
luka bakar itu juga termasuk derajat tiga. Penyebabnya adalah
api, listrik, atau zat kimia. Mungkin akan tampak berwarna
putih seperti mutiara dan biasnya tidak melepuh, tampak kering
dan biasanya relatif anestetik. Dalam beberapa hari, luka bakar
semacam itu akan membentuk eschar berwarna hitam, keras,
tegang dan tebal.

19
Gambar. 10 luka bakar derajat tiga, pada anak yang memegang
pengeriting rambut luka kering tidak kemerahan dan
berwarna putih

Selama periode pasca luka bakar dini sampai 5 hari, akan


sulit untuk membedakan luka bakar derajat dua atau tiga, tetapi
pada minggu kedua sampai minggu ketiga pasca luka bakar di
mana tampak drainase dan eschar yang terpisah dari luka bakar
derajat tiga. Setelah eschar diangkat, sisa jaringan dibawahnya
(biasanya lapisan subkutan) akan membentuk jaringan granulasi,
suatu massa yang terdiri dari sel-sel fibroblas dan jaringan
penyambung yang kaya pembuluh darah kapiler. Permukaan
jaringan granulasi yang berwarna merah tua itu terbentuk
setelah 21 hari, dan dalam waktu 1 sampai 2 minggu kemudian
sebaiknya dilakukan skin graft.

Gambar. 11 Klasifikasi luka bakar berdasarkan kedalaman luka

20
Tabel. 3 Klasifikasi kedalaman luka bakar
Klasifikasi Penyebab Penampakan Sensasi Waktu
luar penyembuhan
Luka bakar dangkal (superficial Sinar UV, Kering dan Nyeri 3 – 6
burn) paparan merah; hari
nyala api memucat
dengan
penekanan
Luka bakar sebagian dangkal Cairan atau Gelembung Nyeri bila 7-20 hari
(superficial partial-thickness burn) uap panas berisi cairan, terpapar
(tumpahan berkeringat, udara dan
atau merah; panas
percikan), memucat
paparan dengan
nyala api penekanan

Luka bakar sebagian dalam (deep Cairan atau 1ptung berisi Terasa >21 hari
partial-thickness burn) uap panas cairan dengan
(tumpahan), (rapuh); penekanan
api, minyak basah atau saja
panas kering
berminyak,
berwarna dari
putih sampai
merah; tidak
memucat
dengan
penekanan
Luka bakar seluruh lapisan (full Cairan atau Putih Terasa Tidak dapa
thickness burn) uap panas, berminyak hanya sembuh (jika
api, sampai abu- dengan luka baka
minyak, abu dan penekanan mengenai >2%
bahan kehitaman; yang kuat dari TBSA)
kimia, kering dan
listrik tidak elastis;
tegangan tidak
tinggi memucat
dengan
penekanan

21
2.1.6 Perhitungan Luas Luka Bakar
Walaupun hanya perkiraan saja , the rule of nine, tetap
merupakan petunjuk yang baik dalam menilai luasnya luka bakar:
kepala 7 persen, dan leher 2 persen sehingga totalnya 9 persen. Setiap
ekstremitas atas, 9 persen, totalnya 18 persen. Badan bagian anterior
18 persen. Badan bagian posterior, 13 persen, dan bokong 5 persen,
sehingga total 18 persen. Ekstremitas bawah masing-masing 18
persen, total 36 persen, dan genitalia 1 persen.

Gambar. 12 Perhitungan luas luka bakar berdasarkan Rule of Nine oleh


Wallace dewasa dan anak-anak

22
Gambar. 13 Perhitungan luas luka bakar berdasarkan Rule of Nine
dewasa dan bayi

23
Gambar. 14 Perhitungan luas luka bakar berdasarkan Rule of Nine
bagian depan dan belakang tubuh

Untuk area luka bakar yang tersebar kita dapat memperkirakan


persentasenya dengan menggunakan tangan dengan jari-jari pasien,
dimana jari-jari dalam keadaan abduksi, dimana sama dengan kurang
lebih 1 persen dari total luas permukaan tubuh pasien.
Pada anak-anak terdapat perbedaan dalam luas permukaaan
tubuh, yang umumnya mempunyai pertimbangan lebih besar antara
luas permukaan kepala dengan luas ekstrimitas bawah dibandingkan
pada orang dewasa. Area kepala luasnya adalah 19 persen pada waktu
lahir (10 persen lebih besar daripada orang dewasa). Hal ini terjadi
akibat pengurangan pada luas ekstrimitas bawah, yang masing-masing
sebesar 13 persen. Dengan bertambahnya umur setiap tahun, sampai
usia 10 tahun, area kepala dikurangi 1 persen dan jumlah yang sama
ditambah pada setiap ekstrimitas bawah. Setelah usia 10 tahun,
digunakan persentase orang dewasa.

24
Rumus rule of nine dari Wallace tidak digunakan pada anak
dan bayi karena luas relatif permukaan kepala anak jauh lebih besar
dan luas relatif permukaan kaki lebih kecil. Oleh karena itu,
digunakan rumus 10 untuk bayi, dan rumus 10-15-20 dari Lund dan
Browder untuk anak (Marzoeki, 2004).
Tabel 4. Penilaian luas area tubuh menurut Lund and Browder
Lahir- 1 – 4 5 – 9 0 – 14 5
Area 1 tahun tahun tahun tahun tahun dewasa 2nd* 3rd* TBSA
Kepala 19 17 13 11 9 7
Leher 2 2 2 2 2 2
Badan bagian 13 13 13 13 13 13
depan
Badan bagian 13 13 13 13 13 13
belakang
Pantat kanan 2.5 2.5 2.5 2.5 2.5 2.5
Pantat kiri 2.5 2.5 2.5 2.5 2.5 2.5
Genitalia 1 1 1 1 1 1
(kemaluan)
Lengan kanan atas 4 4 4 4 4 4
lengan kiri atas 4 4 4 4 4 4
Lengan bawah 3 3 3 3 3 3
kanan
Lengan bawah 3 3 3 3 3 3
kiri
Tangan kanan 2.5 2.5 2.5 2.5 2.5 2.5
(telapak tangan
depan dan
punggung tangan)
Tangan kiri 2.5 2.5 2.5 2.5 2.5 2.5
(telapak tangan
dan punggung
tangan)
Paha kanan 5.5 6.5 8 8.5 9 9.5
Paha kiri 5.5 6.5 8 8.5 9 9.5
Betis kanan 5 5 5.5 6 6.5 7
Betis kiri 5 5 5.5 6 6.5 7
Kaki kanan 3.5 3.5 3.5 3.5 3.5 3.5
(bagian tumit
sampai telapak
kaki)
Kaki kiri 3.5 3.5 3.5 3.5 3.5 3.5
Total:

25
2.1.7 Pathway
2.1.8 Derajat Keparahan Luka Bakar
Berdasarkan berat ringannya luka bakar (American Burn Association):
1. Luka Bakar Berat ( Major Burn Injury )
a. Derajat II, terbakar >25% area permukaan tubuh pada dewasa
b. Derajat III, terbakar >25% area permukaan tubuh pada anak-
anak
c. Derajat III, terbakar >10% area permukaan
d. Kebanyakan meliputi tangan, muka, mata, telinga, kaki atau
perineum
Kebanyakan pasien meliputi :
a. Luka inhalasi
b. Luka elektrikal
c. Luka bakar dengan komplikasi trauma
2. Luka Bakar Sedang
a. Derajat II, terbakar 15-25% area permukaan tubuh pada
dewasa
b. Derajat II, terbakar 10-20% are permukaan tubuh pada anak-
anak
c. Derajat III, terbakar <10% area permukaan tubuh.
3. Luka Bakar Ringan
a. Derajat II, terbakar <15% area permukaan tubuh pada dewasa
b. Derajat II, terbakar <10% area permukaan tubuh pada anak-
anak
c. Derajat III, terbakar <2% area permukaan tubuh.
Indikasi rawat inap :
1. Derajat 2 lebih dari 15% pada dewasa, dan lebih dari 10% pada
anak
2. Derajat 2 pada muka, tangan, kaki, perineum
3. Derajat 3 lebih dari 2% pada dewasa, dan setiap derajat 3 pada
anak

26
4. Luka bakar yang disertai trauma visera, tulang, dan jalan napas
2.1.9 Penatalaksanaan
Menurut Moenadjat (2005), secara sistematik dapat dilakukan
6c : clothing, cooling, cleaning, chemoprophylaxis, covering and
comforting (contoh pengurang nyeri). Untuk pertolongan pertama
dapat dilakukan langkah clothing dan cooling, baru selanjutnya
dilakukan pada fasilitas kesehatan.
1. Pertolongan pertama
a. Clothing
Singkirkan semua pakaian yang panas atau terbakar. Bahan
pakaian yang menempel dan tak dapat dilepaskan maka
dibiarkan untuk sampai pada fase cleaning.
b. Cooling
1) Dinginkan daerah yang terkena luka bakar dengan
menggunakan air dingin yang mengalir selama 20 menit,
hindari hipotermia (penurunan suhu di bawah normal,
terutama pada anak dan orang tua). Cara ini efektif sampai
dengan 3 jam setelah kejadian luka bakar
2) Kompres dengan air dingin (air sering diganti agar efektif
tetap memberikan rasa dingin) sebagai analgesia
(penghilang rasa nyeri) untuk luka yang terlokalisasi. Pada
luka bakar yang luas jangan berikan kompres air dingin
karena dapat menimbulkan hipotermia.
3) Jangan pergunakan es karena es menyebabkan pembuluh
darah mengkerut (vasokonstriksi) sehingga justru akan
memperberat derajat luka dan risiko hipotermia
4) Untuk luka bakar karena zat kimia dan luka bakar di
daerah mata, siram dengan air mengalir yang banyak
selama 15 menit atau lebih. Bila penyebab luka bakar
berupa bubuk, maka singkirkan terlebih dahulu dari kulit
baru disiram air yang mengalir.

27
c. Cleaning
pembersihan luka tergantung dari derajat berat luka bakar,
kriteria minor cukup dilakukan dengan zat anastesi lokal,
sedangkan untuk kriteria moderate sampai major dilakukan
dengan anastesi umum di ruang operasi untuk mengurangi rasa
sakit. Dengan membuang jaringan yang sudah mati, proses
penyembuhan akan lebih cepat dan risiko infeksi berkurang.
d. Chemoprophylaxis
pemberian anti tetanus, dapat diberikan pada luka yang lebih
dalam dari superficial partial thickness. Pemberian krim silver
sulvadiazin untuk penanganan infeksi, dapat diberikan kecuali
pada luka bakar superfisial. Tidak boleh diberikan pada wajah,
riwayat alergi sulfa, perempuan hamil, bayi baru lahir, ibu
menyusui dengan bayi kurang dari 2 bulan.
e. Covering : penutupan luka bakar dengan kassa. Dilakukan
sesuai dengan derajat luka bakar. Luka bakar superfisial tidak
perlu ditutup dengan kasa atau bahan lainnya. Pembalutan luka
(yang dilakukan setelah pendinginan) bertujuan untuk
mengurangi pengeluaran panas yang terjadi akibat hilangnya
lapisan kulit akibat luka bakar. Jangan berikan mentega,
minyak, oli atau larutan lainnya, akan menghambat
penyembuhan dan meningkatkan risiko infeksi.
f. Comforting
Dapat dilakukan pemberian pengurang rasa nyeri.
Dapat diberikan penghilang nyeri berupa :
a) Paracetamol dan codein (PO-per oral)- 20-30mg/kg
b) Morphine (IV-intra vena) 0,1mg/kg diberikan dengan dosis
titrasi bolus
c) Morphine (I.M-intramuskular) 0,2mg/kg
Selanjutnya pertolongan diarahkan untuk mengawasi
tanda-tanda bahaya dari ABC (Airway, Breathing, Circulation).

28
2. Stabilisasi Penderita Luka Bakar
a. Airway and Breathing
Perhatikan adanya stridor (mengorok), suara serak,
dahak berwana jelaga (black sputum), gagal napas, bulu
hidung yang terbakar, bengkak pada wajah. Luka bakar pada
daerah orofaring dan leher membutuhkan tatalaksana intubasi
(pemasangan pipa saluran napas ke dalam trakea/batang
tenggorok) untuk menjaga jalan napas yang adekuat/tetap
terbuka. Intubasi dilakukan di fasilitas kesehatan yang
lengkap. Pada luka bakar dapat terjadi hal-hal sebagai berikut,
yaitu :
a) Trauma bakar langsung menyebabkan edema/obstruksi
dari saluran napas atas
b) Inhalasi dari hasil-hasil pembakaran yang tidak sempurna
(partikel karbon) dan asap beracun, menyebabkan tracheo-
bronchitis kimiawi, edema pada pneumonia.
c) Keracunan monoksida
Penderita yang dicurigai keracunan CO harus diberikan
oksigen kadar tinggi, menggunakan sungkup nafas
berkatup.
b. Circulation
Penilaian terhadap keadaan cairan harus dilakukan.
Pastikan luas luka bakar untuk perhitungan pemberian cairan.
Pemberian cairan intravena (melalui infus) diberikan bila luas
luka bakar besar dari 15% pada orang dewasa dan besar dari
10% pada anak-anak. Bila kurang dari itu dapat diberikan
cairan melalui mulut. Cairan merupakan komponen penting
karena pada luka bakar terjadi kehilangan cairan baik melalui
penguapan karena kulit yang berfungsi sebagai proteksi sudah
rusak dan mekanisme dimana terjadi perembesan cairan dari
pembuluh darah ke jaringan sekitar pembuluh darah yang

29
mengakibatkan timbulnya pembengkakan (edema). Bila hal ini
terjadi dalam jumlah yang banyak dan tidak tergantikan maka
volume cairan dalam pembuluh darah dapat berkurang dan
mengakibatkan kekurangan cairan yang berat dan mengganggu
fungsi organ-organ tubuh.
Beberapa cara yang lazim yang dapat digunakan untuk
menghitung kebutuhan cairan pada penderita luka bakar adalah
:
a) Cara Evans. Untuk menghitung kebutuhan cairan pada hari
pertama hitunglah :
1) Berat badan (kg) x % luka bakar x 1 cc NaCl (1)
2) Berat Badan (kg) x luka bakar x 1 cc larutan koloid (2)
3) 2000 cc glukosa 5% (3)
Separuh dari jumlah (1),(2), dan (3) diberikan dalam 8 jam
pertama dan sisanya diberikan dalam 16 jam berikutnya.
Pada hari kedua diberikan setengah jumlah cairan hari
pertama. Sebagai monitoring pemberian cairan dilakukan
perhitungan diuresis.
b) Rumus Brooke Army. Untuk menghitung kebutuhan cairan
hari pertama :
1) Koloid: 0,5 ml X kg BB X % luas luka bakar
2) Elektrolit (larutan ringer laktat): 1,5ml X kg BB X %
luas luka bakar
3) Glukosa (5% dalam air): 2000 ml untuk kehilangan
insensible
Hari pertama separuh diberikan dalam 8 jam pertama,
separuh sisanya dalam 16 jam selanjutnya. Hari kedua
separuh dari cairan koloid, separuh elektrolit, seluruh
penggantian cairan insensible.
c) Cara Baxter/Parkland. Merupakan cara lain yang lebih
sederhana dan banyak dipakai. Jumlah kebutuhan cairan
pada hari pertama dihitung dengan rumus = % luka bakar x

30
BB (kg) x 4 cc. Separuh dari jumlah cairan ini diberikan
dalam 8 jam pertama, sisanya diberikan dalam 16 jam.
Hari pertama terutama diberikan elektrolit yaitu larutan
Ringer laktat karena terjadi hiponatremi. Untuk hari kedua
bervariasi, dapat diberikan setengah dari jumlah pemberian
hari pertama, atau dapat juga diberikan koloid 500-2000 ml
ditambah glukosa 5%. Jika luka bakar lebih dari 50% maka
perhitungan cairan sama dengan perhitungan luas luka
bakar 50%.
Untuk kebutuhan maintenance cairan harian atau cairan
rumatan selama 24 jam, dapat diberikan tambahan 35cc/kgbb
untuk dewasa dan untuk anak-anak 4cc/kgBB dalam 10 kg
pertama, 2cc/kgBB dalam 10 kg ke 2 (11-20 kg) dan 1cc/kgBB
tiap kgbb diatas 20 kg.
3. Pemeriksaan Fisik
Pada pemeriksaan fisik hal yang perlu dilakukan adalah:
a) Tentukan luas dan dalamnya luka bakar
b) Periksa apakah ada cedera ikutan selain luka bakar
c) Tentukan berat badan penderita
4. Perawatan Luka Bakar Kecil
Sebagian besar luka bakar berukuran kecil, dan dapat di rawat
jalan. Umumnya merupakan luka bakar permukaan yang tidak
mengenai tangan, wajah tau perineum. Tindakan yang perlu
dilakukan :
a) Bersihkan luka dari benda asing termasuk kulit yang lepas
b) Cuci dengan larutan povidonyodium atau anti bakteri serupa
c) Pembalutan dengan kasa seperti kasa vaselin, adaptik dan
xeroform.
d) Pemberian krim luka bakar seperti perak sulfadiasin, mafenit
asetat, krim gentamisin dan salep povidonyodium.
e) Profilaksis untuk tetanus
5. Pertimbangan lain pada periode pasca luka segera

31
a. Pada penderita luka bakar dengan luas lebih dari 20-25%
TBSA seringkali menderita ileus paralitik.
1) Hindari penggunaan cairan oral
2) Pasang intubasi nasogaster untuk penhgisapan menghindari
ketegangan abdomen, emesis dan aspirasu sekunder.
3) Setelah 24 jam jika bising usus membaik pertimbangkan
pemberian oral.
b. Ulserasi akibat stres pada mukosa gasstroduodenum (ulkus
curling).
1) Pemberian antasida atau antagonis H2 melalui sonde
2) Jika terjadi perforasi perlu tndakan operasi.
c. Nyeri yang dialami penderita pada luka bakar dengan
kedalaman sebagian perlu diberikan analgesik intravena
dengan dosis besar yang tepat. Jika kedalaman penuh hanya
memerlukan sedikit pengobatan.
d. Luka bakar yang melingkar yang membatasi pergerakan napas
maupun pergerakan ekstremitas yang disertai berkurangnya
denyut perifer perlu dilakukan eskarotomi. Eskarotomi
dilakukan dengan insisi pada linea axillaris anterior bilateral
dan pada garis mediolateral serta mediomedial anggotagerak.
Insisi hanya cukup dalam untuk memisahkan tepi-tepi eskar.
6. Perawatan awal luka bakar
Perawatan awal biasanya untuk mencegah terjadinya
infeksi yang luas karena luka yang terbuka memudahkan mikroba
untuk berkembang biak. Biasanya diberikan antimikroba topikal
seperti perak nitrat 0,5%, sulfadiasin 1%, mafenid asetat 11,1%.
Namun jika terdapat tanda-tanda perubahan luka dari sebagian
menjadi seluruh ketebalan kulit, lakukan biopsi untuk mengetahui
tingkat bakteri dengan teknik biakan kuantitatif. Jika jumlah
bakteri >100.000/gram jaringan hal ini menunjukkan telah terjadi
infeksi luka bakar yang luas. Terapi antimikroba sistemik yang
tepat untuk organisme tersebut harus segera dilakukan.

32
7. Pemantauan pasien luka bakar
Setelah mendapatkan penanganan perlu dimonitor tanda vital
berikut :
a. Tekanan darah
b. Denyut nadi
c. Masukan dan keluaran cairan
d. Temperatur
e. Tingkat kesadaran dan status anxietas
f. Respirasi
8. Penanganan lanjutan pasien luka bakar
Penanganan lanjutan setelah pemberian cairan, antitetanus dan
analgesik adalah :
a. Pemasangan nasogastric tube
1) Pasien mengalami mual dan muntah
2) Distensi abdomen
3) Luas luka bakar lebih dari 20%
4) Pemberian antasid
5) Pemberian makanan setelah 48 jam pasien tidak dapat
makan melalui mulut
b. Pemasangan kateter urin untuk menilai produksi urin
c. Pemasangn selang oksigen melalui kanul atau sungkup
d. Mengontrol infeksi
1) Luka bakar yang serius menyebabkan penurunan fungsi
sistem imun, rentan terkena infeksi dan sepsis
2) Menggunakan teknik aseptik yang sesuai
3) Pemberian antibiotik jika ada kontaminasi
e. Menjaga keseimbangan nutrisi
1) Pasien luka bakar cenderung mengalami penurunan berat
badan
2) Pemberian makanan dapat melalui oral maupun nasogastric
tube

33
3) Pada luka bakar berat diberikan diet 3g/kgbb protein dan 90
kk/kgbb
f. Mencegah dan mengatasi anemia
1) Tingi karbohidrat tinggi protein dengan suplemen zat besi
dan vitamin
2) Transfusi darah jika ada tanda-tanda kekurangan oksigen
g. Bedah
1) Debridement dan skin graft pada luka akar yang parah.
2) Eskarotomi
h. Merujuk pasien jika keadaan umum telah stabil pada luka
bakar yang serius
i. Fisioterapi untuk mencegah terjadinya pneumonia, kontraktur
dan cacat lebih lanjut. fisioterapi dapat dimulai pada saat awal
penatalaksanaan.

Gambar. 15 penanganan pasien luka bakar

34
9. Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan Laboratorium
1) pemeriksaan Hb, Ht tiap 8 jam pada 2 hari pertama, dan tiap
2 hari pada 10 hari selanjutnya
2) Fungsi hati dan ginjal tiap minggu
3) Pemeriksaan elektrolit tiap hari pada minggu pertama
4) Pemeriksaan AGD bila nafas lebih dari 32x/menit
5) Kultur jaringan pada hari ke-1, 3, 7.
b. Pemeriksaan Radiologis
1) Hendaknya dilakukan pemeriksaan foto thorax, dan dapat
diulangi bila diperlukan (pada trauma bakar inhalasi)
2) Foto thorax hendaknya juga dilakukan setelah selesai
pemasangan endotrakeal atau CVP
3) Pemeriksaan radiologi lainnya dapat dilakukan bila
dicurigai terjadi cedera ikutan yang memerlukan
pemeriksaan radiologi untuk menunjang diagnosanya.
2.1.10 Luka Bakar Khusus
1. Luka Bakar Karena Bahan Kimia/Kimiawi
Luka bakar dapat disebabkan oleh asam alkali, dan hasil-
hasil pengolahan minyak. Luka bakar alkali lebih berbahaya dari
asam, sebab alkali lebih dalam merusak jaringan. Segeralah
bersihkan bahan kimia tersebut dari luka bakar Kerusakan jaringan
akibat luka bakar bahan kimia dipengaruhi oleh lamanya kontak,
konsentrasi bahan kimia dan jumlahnya. Segera lakukan irigasi
sebanyak-banyaknya, bila mungkin gunakan penyemprot air.
Lakukan tindakan ini dalam waktu 20 – 30 menit. Untuk luka
bakar alkali, di perlukan waktu yang lebih lama. Bila bahan kimia
merupakan bubuk, sikatlah terlebih dahulu sebelum irigasi.
Jangan memberikan bahan-bahan penetral (neutralizing
agent) sebab reaksi kimiawi yang terjadi akibat pemberian bahan
penetral dapat memperberat kerusakan yang terjadi. Untuk luka
bakar pada mata, memerlukan irigasi terus-menerus selama 8 jam

35
pertama setelah luka bakar. Untuk irigasi ini dapat digunakan
kanula kecil yang di pasang pada sulkus palpebra.
2. Luka Bakar Listrik
Luka bakar listrik terjadi karena tubuh terkena aliran listrik.
Luka bakar listrik sering menyebabkan kerusakan jaringan yang
lebih berat daripada luka bakar yang terlihat pada permukaannya.
Penanganan harus segera dilakukan meliputi perhatian pada
jalan nafas, pernafasan, pemasangan infus, ECG,dan pemasangan
kateter. Apabila urine berwarna gelap, mungkin urine mengandung
hemokhromogens. Jangan menunggu konfirmasi laboratorium
untuk melakukan terapi terhadap mioglobinuria. Pemberian cairan
ditingkatkan sedemikian rupa sehingga tercapai produksi urin
sekurang-kurangnya 100 cc/jam (dewasa). Bila urin belum tampak
jernih, berikan segera 25 gr manitol dan tambahkan 12,5 gr manitol
pada tiap penambahan 1 liter cairan untuk mempertahankan
diuresis sejumlah tersebut di atas. Bila terjadi asidosis metabolik,
pertahankan perfusi sebaik mungkin dan berikan Natrium
bikarbonat untuk memberikan urine menjadi alkalis dan
meningkatkan kelarutan mioglobin dalam urine.
2.1.11 Komplikasi
1. Syok hipovolemik
Akibat pertama dari luka bakar adalah syok karena kaget
dan kesakitan. Pembuluh kapiler yang terpajan suhu tinggi akan
rusak dan permeabilitas meninggi. Sel darah yang ada di dalamnya
ikut rusak sehingga dapat terjadi anemia. Meningkatnya
permeabilitas menyebabkan udem dan menimbulkan bula dengan
membawa serta elektrolit. Hal ini menyebabkan berkurangnya
volume cairan intravaskuler. Kerusakan kulit akibat luka bakar
menyebabkan kehilangan cairan tambahan karena penguapan yang
berlebihan, cairan yang masuk ke bula pada luka bakar derajat II
dan pengeluaran cairan dari kropeng pada luka bakar derajat III.

36
Bila luas luka bakar < 20% biasanya mekanisme
kompensasi tubuh masih bisa mengatasi tetapi bila > 20 % terjadi
Syok hipovolemik dengan gejala yang khas seperti gelisah, pucat,
dingin , berkeringat, nadi kecil dan cepat, tekanan darah menurun
dan produksi urin berkurang. Pembengkakan terjadi perlahan lahan
dan maksimal pada delapan jam.
2. Udem laring
Pada kebakaran dalam ruangan tertutup atau bila luka
terjadi di muka,. Dapat terjadi kerusakan mukosa jalan napas
karena gas , asap, uap panas yang terhisap, udem yang terjadi
dapat menyebabkan gangguan berupa hambatan jalan napas karena
udem laring. Gejala yang timbul adalah sesak napas, takipnea,
stridor, suara serak, dan dahak berwarna gelap karena jelaga.
Setelah 12 – 24 jam, permeabilitas kapiler mulai membaik
dan terjadi mobilisasi dan penyerapan cairan edema kembali ke
pembuluh darah . ini ditandai dengan meningkatnya diuresis.
3. Keracunan gas CO
Dapat juga terjadi keracunan gas CO atau gas beracun lain.
Karbon monoksida akan mengikat hemoglobin dengan kuat
sehingga hemoglobin tak mampu lagi mengikat oksigen. Tanda-
tanda keracunan ringan adalah lemas, bingung, pusing, mual dan
muntah. Pada keracunan yang berat terjadi koma. Bila > 60 %
hemoglobin terikat dengan CO, penderita dapat meninggal.
4. SIRS (systemic inflammatory respone syndrome)
Luka bakar sering tidak steril. Kontaminasi pada kulit mati,
yang merupakan medium yang baik untuk pertumbuhan kuman,
akan mempermudah infeksi. Infeksi ini sulit untuk mengalami
penyembuhan karena tidak terjangkau oleh pembuluh darah kapiler
yang mengalami trombosis. Kuman penyebab infeksi berasal dari
kulitnya sendiri, juga dari kontaminasi kuman dari saluran nafas
atas dan kontaminasi kuman di lingkungan rumah sakit. Infeksi

37
nosokomial ini biasanya berbahaya karena banyak yang sudah
resisten terhadap antibiotik.
Prosesnya dimulai oleh aktivasi makrofag, netrofil, dan
pelepasan mediator – mediator, yang kemudian diikuti oleh :
1) gangguan hemodinamik berupa vasodilatasi, depresi
miokardium, gangguan sirkulasi dan redistribusi aliran.
2) perubahan mikrovaskuler karena endotel dan edema jaringan,
mikroemboli, dan maldigesti aliran.
3) gangguan oksigenasi jaringan. Ketiganya menyebabkan
hipoksia seluler dan menyebabkan kegagalan fungsi organ.
Yang ditandai dengan meningkatnya kadar limfokin dan sitokin
dalam darah.
5. MOF (Multi Organ Failure)
Adanya perubahan permeabilitas kapiler pada luka bakar
menyebabkan gangguan sirkulasi. Di tingkat seluler, gangguan
perfusi menyebabkan perubahan metabolisme. Pada tahap awal
terjadi proses perubahan metabolisme anaerob yang diikuti
peningkatan produksi dan penimbunan asam laktat menimbulkan
asidosis. Dengan adanya gangguan sirkulasi dan perfusi, sulit untuk
mempertahankan kelangsungan hidup sel, iskemi jaringan akan
berakhir dengan nekrosis.
Gangguan sirkulasi makro menyebabkan gangguan perfusi
ke jaringan-jaringan organ penting terutama otak, hepar, paru,
jantung, ginjal, yang selanjutnya mengalami kegagalan
menjalankan fungsinya. Dalam mekanisme pertahanan tubuh,
terjadi gangguan pada sistem keseimbangan tubuh (homeostasis),
maka organ yang dimaksud dalam hal ini adalah ginjal. Dengan
adanya penurunan atau disfungsi ginjal ini, beban tubuh semakin
berat.
Resusitasi cairan yang inadekuat pada fase ini menyebabkan
berjalannya proses sebagaimana diuraikan diatas. Sebaliknya bila
terjadi kelebihan pemberian cairan (overload) sementara sirkulasi

38
dan perifer tidak atau belum berjalan normal, atau pada kondisi
syok; cairan akan ditahan dalam jaringan paru yang manifestasi
klinisnya tampak sebagai edema paru yang menyebabkan
kegagalan fungsi paru sebagai alat pernafasan, khususnya
pertukaran oksigen dengan karbondioksida, kadar oksigen dalam
darah sangat rendah, dan jaringan hipoksik mengalami degenerasi
yang bersifat irreversible. Sel-sel otak adalah organ yang paling
sensitive; bila dalam waktu 4 menit terjadi kondisi hipoksik, maka
sel-sel otak mengalami kerusakan dan kematian; yang
menyebabkan kegagalan fungsi pengaturan di tingkat sentral.
Sementara edema paru juga merupakan beban bagi jantung
sebagai suatu pompa. Pada mulanya jantung menjalankan
mekanisme kompensasi, namun akhirnya terjadi dekompensasi.
6. Kontraktur
Kontraktur merupakan salah satu komplikasi dari
penyembuhan luka, terutama luka bakar. Kontraktur adalah jenis
scar yang terbentuk dari sisa kulit yang sehat di sekitar luka, yang
tertarik ke sisi kulit yang terluka. Kontraktur yang terkena hingga
lapisan otot dan jaringan tendon dapat menyebabkan terbatasnya
pergerakan.
Pada tahap penyembuhan luka, kontraksi akan terjadi pada
hari ke-4 dimana proses ini bersamaan dengan epitelisasi dan
proses biokimia dan seluler dari penyembuhan luka. Kontraktur
fleksi dapat terjadi hanya karena kehilangan lapisan superfisial dari
kulit. Biasanya dengan dilakukan eksisi dari jaringan parut yang
tidak elastik ini akan menyebabkan sendi dapat ekstensi penuh
kembali. Pada luka bakar yang lebih dalam, jaringan yang banyak
mengandung kolagen akan meliputi neurovascular bundles dan
ensheathed flexor tendons, juga permukaan volar dari sendi akan
mengalami kontraksi atau perlekatan sehingga akan membatasi
range of motion. Kontraktur yang disebabkan oleh hilangnya kulit

39
atau luka bakar derajat III pada daerah persendian harus segera
dilakukan skin grafting.
2.1.12 Prognosis
Prognosis pada kasus luka bakar ditentukan oleh beberapa
faktor, dan menyangkut mortalitas dan morbiditas atau burn illness
severity and prediction of outcome ; yang mana bersifat bersifat
kompleks.
Beberapa faktor yang berperan antara lain faktor penderita
(usia, gizi, jenis kelamin, dan kelainan sistemik), faktor trauma (jenis,
luas, kedalaman luka bakar, dan trauma penyerta), dan faktor
penatalaksanaan (prehospital and inhospital treatment).
Prognosis luka bakar umumnya jelek pada usia yang sangat
muda dan usia lanjut. Pada usia yang sangat muda (terutama bayi)
beberapa hal mendasar menjadi perhatian, antara lain sistem regulasi
tubuh yang belum berkembang sempurna; komposisi cairan
intravaskuler dibandingkan dengan cairan ekstravaskuler, interstitial,
dan intraselular yang berbeda dengan komposisi pada manusia
dewasa, sangat rentan terhadap suatu bentuk trauma. Sistem
imunologik yang belum berkembang sempurna merupakan salah satu
faktor yang patut diperhitungkan, karena luka bakar merupakan suatu
bentuk trauma yang bersifat imunosupresi.

2.2 Konsep Dasar Asuhan Keperawatan


2.2.1 Pengkajian
1. Pengkajian Luas Luka Bakar
Sistem ini menggunakan prosentase kelipatan sembilan
terhadap luas permukaan tubuh.
a. Adult: kepala = 9 %, tangan kanan-kiri = 18%, dada dan perut
= 18%, genetalia = 1%, kaki kanan-kiri = 36%, dan punggung
= 18
b. Child: kepala = 18%, tangan kanan-kiri = 18% , dada dan perut
= 18%, kaki kanan-kiri = 28%, dan punggung = 18%

40
c. Infant: kepala = 18%, tangan kanan-kiri =18%, dada dan perut
= 18%, kaki kanan-kiri = 28%, dan punggung = 18%
2. Pengkajian Awal
Pengkajian ini dibuat dengan cepat selama pertemuan
pertama dengan pasien yang meliputi ABC (Airway, Breathing,
dan Circulation)
a. Airway
1) Data subjektif
Pasien mengeluh sesak, pasien mengeluh nyeri .
2) Data objektif
terdengar suara krekels dan stridor , terdapat edema pada
laring
b. Breathing
1) Data subjektif
Pasien mengeluh sesak .
2) Data objektif
Terdapat adanya gerakan otot bantu nafas, RR lebih dari
20 kali permenit, nampak pernafasan cuping hidung
c. Circulation
1) Data subjektif
Pasien mengeluh pusing
2) Data objektif
Nadi klien meningkat > 100 x permenit .
3. Pengkajian Berdasarkan 6 B
a. Breathing
1) Data subjektif
Pasien mengatakan susah untuk bernafas.
2) Data objektif
Pasien telihat sesak (RR> 20 x/menit), pernafasan cuping
hidung, menggunakan otot bantu pernafasan
b. Blood
1) Data subjektif

41
Klien mengeluh pusing .
2) Data objektif
Nadi klien meningkat > 100 x permenit , hematokrit
meningkat, leukosit meningkat , trombosit menurun.
c. Brain
1) Data subjektif
Pasien merasa pusing, pasien mengeluh nyeri kepala.
2) Data objektif
Pasien mungkin disorientasi.
d. Bladder
1) Data subjektif
Pasien mengatakan sedikit kencing
2) Data objektif
Haluaran urin menurun.
e. Bowel
1) Data subjektif
Pasien mengeluh susah BAB .
2) Data objektif
Pasien mungkin mengalami penurunan berat badan dan
konstipasi.
f. Bone
1) Data subjektif
Pasien mengeluh letih dan pegal-pegal.
2) Data objektif

A. Analisa Data

Data Penyebab Masalah

Data subyektif : Faktor predisposisi (luka bakar Nyeri akut


Klien mengatakan nyeri pada akibat air panas)
pada daerah yang menagalami
luka bakar
Terpapar pada bagian kulit

42
Data obyektif :
1. Ku. Lemah Merusak aliran pembuluh
2. Klien Nampak meringis darah pada area yang terpapar
3. Derajat luka bakar 37
% Kerusakan Ujung- ujung saraf
4. Skala nyeri 8 ( nyeri pada kulit
berat )
5. Tanda – tanda vital Terjadi proses peradangan
TD : 100/60 mmHg pada kulit
N : 98 x/mnt
S : 37,5 0C Meransang system saraf pusat
P : 28 x/mnt
Neurotransmiter nyeri

Cortex cerebri

Penurunan ambang nyeri

Nyeri akut

Data subyektif : Kerusakan Integritas


Luka bakar
Klien mengatakan sakit pada Kulit
daerah yang mengalami luka
Terpapar pada kulit klien
bakar
Data obyektif :
Perubahan temperature kulit
ü Ku. Lemah
pada daerah yang terpapar
ü Nampak telihat eiritema dan
bula pada kulit yang
Laserasi pada kulit
mengalami luka bakar dan
sebagian bula sudah picah

43
dan berair Peradangan pada kulit

Adanya perubahan bentuk pada


kulit yang terpapar ( eritema
dan bula )

Kerusakan jaringan kulit pada


daerah yang terkena luka bakar

Kerusakan Integritas Kulit

Data subyektif : Faktor predisposisi (luka bakar Intoleransi Aktivitas


Klien mengatakan sakit pada akibat air panas)
daerah yang mengalami luka
bakar
Terpapar pada bagian kulit
Data obyektif :
ü Ku.lemah
Merusak aliran pembuluh
ü Nampak terlihat luka pada
darah pada area yang terpapar
bakar pada ekstremitas
klien
a. Ekstremitas atas Kerusakan Ujung- ujung

terdapat luka bakar pada saraf pada kulit

tangan kanan dan kiri


dengan derajat luka Terjadi proses peradangan

bakar sebesar 13 % pada kulit

b. Ekstremitas bawah
terdapat luka bakar pada Merangsang system saraf
kaki kanan dan kiri pusat
sebesar 14 %
ü Luka bakar pada Dada dan
Neurotransmiter nyeri
perut sebesar 10 kali
telapak tangan
Cortex cerebri

44
ü Tanda – tanda vital
TD : 100/60 mmHg Penurunan ambang nyeri
N : 98 x/mnt
S : 37,5 0C Terbatasnya gerak akibat nyeri
P : 28 x/mnt
Intoleransi Aktivitas

Data subyektif : Luka bakar Kekurangan Volume


Klien mengatakan sakit pada Cairan
daerah yang mengalami luka Jaringan kulit rusak (Epidermis
bakar dan Dermis)
Data obyektif :
ü Ku.lemah Kerusakan integritas kapiler
ü Nampak terlihat luka pada
bakar pada ekstremitas Meningkatnya permeabilitas
klien kapiler
a. Ekstremitas atas
terdapat luka Perpindahan cairan dari
bakar pada tangan kanan intravascular ke intestisial
dan kiri dengan derajat
luka bakar sebesar 13 % Kehilangan cairan
b. Ekstremitas bawah
terdapat luka Kekurangan Volume Cairan
bakar pada kaki kanan
dan kiri sebesar 14 %
ü Luka bakar pada Dada dan
perut sebesar 10 kali
telapak tangan
ü Tanda – tanda vital

45
TD : 100/60 mmHg
N : 98 x/mnt
S : 37,5 0C
P : 28 x/mnt

Data subyektif : Luka bakar Resiko Infeksi


Klien mengatakan sakit pada
daerah yang mengalami luka Jaringan kulit mengalami
bakar kerusakan
Data obyektif :
ü Ku.lemah
Invasi kuman
ü Nampak terlihat luka pada
bakar pada ekstremitas
peradangan pada kulit
klien
a. Ekstremitas atas
Resiko Infeksi
terdapat luka
bakar pada tangan kanan
dan kiri dengan derajat
luka bakar sebesar 13 %
b. Ekstremitas bawah
terdapat luka
bakar pada kaki kanan
dan kiri sebesar 14 %
ü Luka bakar pada Dada dan
perut sebesar 10 kali
telapak tangan
ü Tanda – tanda vital
TD : 100/60 mmHg
N : 98 x/mnt

46
S : 37,5 0C
P : 28 x/mnt

2.2.2 Diagnosa Keperawatan


1. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan obstruksi
mekanis laring dan faring

2. Pola nafas tidak efektif b/d kebutuhan oksigen meningkat ditandai


dengan ; DS : pasien mengeluh susah bernafas, DO : frekuensi
napas 32 x/mnt, ada retraksi dada, pasien terlihat sesak napas
3. Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan penurunan
oksihemoglobin
4. Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan curah
jantung
5. kekurangan volume cairan b/d Kehilangan cairfan melalui rute
abnormal.
6. Nyeri akut b/d kerusakan jaringan kulit
7. Kerusakan intergritas kulit b/d trauma, kerusakan permukaan kulit
8. Intoleransi aktivitas b/d penurunan kekuatan dan tahanan serta
kelemahan dan nyeri
9. Resiko Infeksi b/d Pertahanan primer tidak adekuat dan penekanan
respon inflamasi.

2.2.3 Intervensi Keperawatan


a. Dx: Bersihan jalan nafas berhubungan dengan obstruksi mekanis
laring dan faring
Tujuan: setelah diberikan askep selama 1 x 10 menit diharapkan
jalan nafas pasien efektif (paten) dengan kriteria hasil:
1) tidak ada suara nafas tambahan (snowring).

47
2) tidak ada dispnea
3) tidak ada penggunaan otot bantu pernafasan
Intervensi:
1) Pertahankan posisi tubuh/ posisi kepala (head til-chin lift) dan
gunakan jalan nafas tambahan bila perlu (pemasangan
endotrakeal tube).
R/: membuka jalan nafas
- Kaji suara nafas pasien
R/: mengetahui ada atau tidak suara nafas tambahan yang
menandakan adanya sumbatan jalan nafas.
2) Kaji frekuensi/kedalaman pernafasan dan gerakan dada.
R/: pernafasan dangkal dan gerakan dada yang tidak simetris
menandakan masih terdapat gangguan pernafasan.
- Kolaborasi dalam pemberian oksigen tambahan
R/: meringankan usaha untuk bernafas
- Pasang monitor (bedside monitor: EKG, tekanan darah,
nadi, frekuensi pernafasan, dan saturasi oksigen)
R/: membantu dalam pemantauan setiap saat jika tiba-tiba
terjadi kegawatan.
b. Dx: Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan atelektasis paru
Tujuan: setelah diberikan askep selama 1 x 6 jam diharapkan pola
nafas pasien kembali normal dengan kriteria hasil:
1) Pasien tidak tampak sesak
2) Pernafasan pasien teratur
3) RR dalam batas normal (30-40 x/mnt)
4) Tidak ada penggunaan otot bantu pernafasan
Intervensi:
1) Kaji tanda-tanda vital terutama frekuensi pernafasan
R/: mengetahui keadaan umum pasien
2) Kaji usaha pernafasan, pengembangan dada, keteraturan
pernafasan, dan pengggunaan otot bantu nafas

48
R/: untuk mengetahui tindakan mengoptimalkan oksigen untuk
bernafas.
3) Kolaborasi dalam pemberian oksigen tambahan
R/: meringankan usaha untuk bernafas
c. Dx: Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan penurunan
oksihemoglobin
Tujuan: setelah diberikan askep selama 1×15 mnt diharapkan
pertukaran gas kembali normal dengan kriteria hasil:
1) Pasien tidak tampak sesak
2) Frekuensi nafas dalam batas normal
3) Sianosis tidak ada
4) Hasil AGD dalam batas normal
Intervensi:
1) Kaji status pernapasan dengan sering, catat peningkatan
frekuensi/upaya pernapasan/perubahan pola napas.
R/: Takipnea adalah mekanisme kompensasi untuk hipoksemia
dan peningkatan upaya pernapasan dapat menunjukkan derajat
hipoksemia.
2) Kaji adanya sianosis
R/: penurunan oksigenasi bermakna (desaturasi 5 g
hemoglobin) terjadi sebelum sianosis. Sianosis sentral dari
“organ” hangat, contoh lidah, bibir, dan daun telinga, adalah
paling indikatif dari hipoksemia sistemik. Sianosis perifer
kuku/ekstremitas sehubungan dengan vasokonstriksi.
3) Observasi kecenderungan tidur, apatis, tidak perhatian, gelisah,
bingung, somnolen.
R/: Dapat menunjukkan berlanjutnya hipoksemia dan/atau
asidosis.
4) Berikan periode istirahat dan lingkungan tenang.
R/: Menghemat energi pasien, menurunkan kebutuhan oksigen.
5) Kaji seri foto dada.
R/: Menunjukkan kemajuan/kemunduran kongesti paru.

49
6) Awasi/gambarkan seri GDA/oksimetri nadi.
R/: Menunjukkan ventilasi/oksigenasi dan status asam/basa.
Digunakan sebagai dasar evaluasi keefektifan terapi/indikator
kebutuhan perubahan terapi.
7) Kolaborasi dalam pemberian oksigen tambahan
R/: meringankan usaha untuk bernafas
d. Dx: Kekurangan volume cairan berhubungan dengan penguapan
cairan tubuh yang berlebihan
Tujuan: stelah diberikan askep selama 1 x 24 jam diharapkan
paien tidak mengalami kekurangan cairan dengan kriteria hasil:
1) Tanda-tanda vital stabil
2) Produksi urine 0,5-1cc/kgBB/jam, warna jernih kekuningan,
tidak ada darah
3) Intake dan output cairan tubuh pasien seimbang
Intervensi:
a. Kaji tanda-tanda vital
R/: mengetahui kondisi umum pasien
b. Awasi haluaran urine dan berat jenis. Observasi warna urine
dan hemates sesuai indikasi
R/: secara umum, penggantian cairan harus dititrasi untuk
meyakinkan rata-rata haluaran urine 30-50 ml/jam (pada
oranmg dewasa). Urine dapat tampak merah sampai hitam,
pada kerusakan otot massif sehubungan dengan adanya darah
dan keluarnya mioglobin. Bila terjadi mioglobinuria mencolok,
minimum haluaran urine harus 75-100 ml/jam untuk mencegah
kerusakan nekrosis tubulus.
c. Perkirakan drainase luka dan kehilangan cairan yang tak
tampak
R/: peningkatan permeabilitas kapiler, perpindahan protein,
proses inflamasi, dan kehilangan melalui evaporasi besar
mempengaruhi volume sirkulasi dan haluaran urine, khususnya
selama 24-72 jam pertama setelah terbakar.

50
d. Pertahankan pencatatan kumulatif jumlah dan tipe pemasukan
cairan
R/: penggantian massif/ cepat dengan tipe cairan berbeda dan
fluktuasi kecepatan pemberian memerlukan penghitungan
ketat untuk mencegah ketidakseimbangan dan kelebihan
cairan.
e. Timbang berat badan tiap hari.
R/: penggantian cairan tergantung pada berat badan pertama
dan perubahan selanjutnya. Peningkatan berat badan 15-20%
pada 72 jam pertama selama penggantian cairan dapat
diantisipasi untuk mengembalikan ke berat sebelum terbakar
kira-kira 10 hari setelah terbakar.
f. Selidiki perubahan mental
R/: penyimpangan pada tingkat kesadaran dapat
mengindikasikan ketidakadekuatan volume sirkulasi atau
penurunan perfusi serebral
Kolaborasi
1. Pasang/pertahankan kateter urine tak menetap
R/: memungkinkan observasi ketat fungsi ginjal dan mencegah
stasis atau refleks urine. Retensi urine dengan produk sel
jaringan yang rusak dapat menimbulkan disfungsi dan infeksi
ginjal.
2. Pasang/pertahankan ukuran kateter IV
R/: memungkinkan infuse cairan cepat
3. Berikan penggantian cairan IV yang dihitung, elektrolit,
plasma, albumin
R/: resusitasi cairan menggantikan kehilangan cairan/ elektrolit
dan membantu mencgah komplikasi contoh, syok. Penggantian
formula bervariasi (contoh Brook, Evans, Parkland) tetapi
berdasarkan luasnya cedera, jumlah haluaran urine, dan BB.
4. Awasi pemeriksaan laboratorium (contoh : Hb/Ht, elektrolit,
natrium urine random)

51
R/: mengidentifikasi kehilangan darah/kerusakan SDM, dan
kebutuhan penggantian ciran dan elektrolit. Natrium urine
kurang dari 10 mEq/L diduga ketidakadekuatan penggantian
cairan.
5. Berikan obat sesuai indikasi (diuretic : manitol /osmotrol)
R/: diindikasikan untuk meningkatan haluaran urine dan
membersihkan tubulus dari debris/ mencegah nekrosis.
e. Dx: Gangguan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan
penurunan curah jantung
Tujuan: setelah diberikan askep selama 1×6 jam diharapkan
perfusi jaringan pasien kembali efektif dengan kriteria hasil:
1. Sianosis tidak ada
2. Tanda-tanda vital stabil
3. Menunjukan peningkatan perfusi yang sesuai
Intervensi:
1. Auskultasi frekuensi dan irama jantung. Catat adanya bunyi
jantung tambahan
R/: Takikardia merupakan akibat hipoksemia dan kompensasi
upaya peningkatan aliran darah dan perfusi jaringan.
Gangguan irama berhubungan dengan hipoksemia,
ketidakseimbangan elektrolit, dan atau peningkatan regangan
jantung kanan. Bunyi jantung ekstra, mis. S3 dan S4 terlihat
sebagai peningkatan kerja jantung/ terjadinya dekompensasi.
2. Observasi warna dan suhu kulit/membran mukosa
R/: Kulit pucat atau sianosis, kuku, membrane mukosa dingin,
kulit burik menunjukan vasokonstriksi perifer (shok) dan/atau
gangguan aliran darah sistemik
3. Kaji tanda-tanda vital
R/: mengetahui kondisi umum pasien
4. Kolaborasi dalam pemberian cairan IV sesuai indikasi
R/: Peningkatan cairan berguna untuk mendukung volume
sirkulasi/ perfusi jaringan.

52
f. Dx : nyeri akut b/d kerusakan ujung-ujung saraf karena luka bakar
ditandai dengan ; DS : pasien mengeluh nyeri, DO : wajah pasien
tampak menringis, skala nyeri : 7, nadi meningkat sampai 120 x/
mnt
Tujuan : setelah diberikan askep diharapkan nyeri pasien
berkurang
Kriteria hasil :
1. Pasien mengatakan nyeri berkurang
2. Pasien tampak relax
3. Skala nyeri = 3
4. Nadi = 80-100 x/mnt
Intervensi :
1. Tutup luka sesegera mungkin kecuali perawatan luka bakar
metode pemajanan pada udara terbuka
R/ : suhu berubah dan gerakan udara dapat menybabkan nyeri
hebat pada pemajanan ujung saraf
2. Tinggikan ekstremitas luka bakar secara periodik
R/ : peninggian mungkin diperlukan pada awal untuk
menurunkan pembentukan edema; setelah perubahan posisi
dan peninggian menurunkan ketidaknyamanan serta risiko
kontraktur sendi
3. Berikan tempat tidur ayunan sesuai indikasi
R/ : peninggian linen dari luka membantu menurunkan nyeri
4. Ubah posisi dengan sering dan rentang gerak pasif dan aktif
sesuai indikasi
R/ : gerakan dan latihan menurunkan kekakuan sendi dan
kelelahan otot tetapi tipe latihan tergantung pada lokasi dan
luas cedera
5. Pertahankan suhu linhkungan nyaman, berikan lampu
penghangat, penutup tubuh hangat.
R/ : pengaturan suhu dapat hilang karena luka bakat mayor.
Sumber panas eksternal untuk mencegah menggigil

53
6. Kaji keluhan nyeri, perhatikan lokasi atau karakter (skala 0-10)
R/ : nyeri hampir selalu ada pada beberapa derajat beratnya
keterlibatan jaringan atau kerusakan tetapi paling berat selama
penggantian balutan dan debridemen. Perubahan lokasi/
karakter/ intensitas nyeri dapat mengindikasikan terjadinya
komplikasi atau perbaikan kembalinya fungsi saraf.
7. Dorong ekpresi perasaan tentang nyeri.
R/ : pertanyaan memungkinkan pengungkapan emosi dan
dapat meningkatkan mekanisme koping.
8. Libatkan pasien dalam penentuan jadwal aktivitas, pengobatan,
pemberian obat.
R/ : meningkatkan rasa kontrol pasien dan kekuatan
mekanisme koping.
9. Berikan tindakan kenyamanan dasar contoh pijatan pada area
yang tidak sakit, perubahan posisi dengan sering.
R/ : dukungan empati dapat membantu menghilangkan nyeri
atau meningkatkan relaksasi.
10. Dorong penggunaan teknik manajemen stres, contoh relaksasi
progresif, nafas dalam, bimbingan imajinasi, dan visualisasi.
R/ : memfokuskan kembali perhatian, meningkatkan relaksasi
dan meningkatkan rasa kontrol yang dapat menurunkan
ketergantungan farmakologis.
11. Berikan analgesik sesuai indikasi.
R/ : metode IV sering digunakan pada awal untuk
memaksimalkan efek otot.
g. Dx : Kerusakan Integritas Kulit berhubungan dengan Trauma dan
kerusakan permukaan kulit.
Kriteria Hasil :
1. Menunjukkan regenerasi yang telah dicapai oleh sel dan
jaringan setelah penutupan yang diharapkan.
2. Mencapai penyembuhan tepat waktu pada area luka bakar.

54
Intervensi:
1. Anjurkan Pasien untuk memakai pakaian yang longgar
2. Hindari kerutan pada tempat tidur.
3. Kumpulkan dan analisa data pasien untuk mempertahankan
integritas kulit dan membrane mukosa.
4. Lakukan perawatan luka atau perawatan kulit secara rutin.
5. Ubah dan atur posisi pasien sesering mungkin.
h. Dx: Intoleransi aktivitas b/d penurunan kekuatan dan tahanan serta
kelemahan dan nyeri
Kriteria Hasil :
1. Pasien dapat mengidentifikasi aktivitas atau situasi yang
menimbulkan nyeri yang dapat mengakibatkan intoleransi
aktivitas.
Intervensi:
1. Bantu pasien untuk mengidentifikasi pilihan aktivitas.
2. Fasilitasi latihan otot resistif secara rutin untuk untuk
mempertahankan atau meningkatkan kekuatan otot
3. Bantu dan arahkan pasien untuk mengenali aktivitas kehidupan
sehari – hari yang dapat dilakukan.
i. Dx: Resiko Infeksi b/d Pertahanan primer tidak adekuat dan
penekanan respon inflamasi.
Kriteria Hasil :
1. Jumlah Leukosit DBN
2. Pasien terbebas dari tanda dan gejala infeksi.Pasien.
3. Memperlihatkan hygiene personal yang ade kuat
4. Pembentukan jaringan granulasi baik.
Intervensi:
1. Kaji tanda – tanda infeksi
2. Meminimalkan penyebaran agens infeksius.
3. Pantau penampilan Luka bakar dan area luka bakar.
4. Bersihkan area luka bakar setiap hari dan lepaskan jaringan
nekrotik.

55
2.2.4. Implementasi Keperawatan
Pelaksanaan adalah inisiatif dari rencana tindakan untuk
mencapai tujuan yang spesifik. Implementasi merupakan pelaksanaan
perencanaan keperawatan oleh perawat dan pasien dengan tujuan
untuk membantu pasien dan mencapai hasil yang telah ditetapkan
yang mencakup perawatan, kesehatan, pencegahan peyakit,
pemeliharaan kesehatan dan memfasilitasi koping (Nursalam, 2001).
Ada tiga fase implementasi keperawatan yaitu :
1. Fase Persiapan Pengetahuan tentang rencana, validasi rencana
2. Fase Persiapan Pasien.
3. Fase Persiapan lingkungan.
Fokus tahap pelaksanaan tindakan perawatan adalah kegiatan
pelaksanaan tindakan dan perencanaan untuk memenuhi kebutuhan
fisik dan emosional. Tindakan keperawatan dibedakan berdasarkan
tanggung jawab perawat secara profesional sesuai standar praktik
keperawatan yaita tindakan dpenden (limpahan) dan independen
(kerja sama tim kesehatan lainnya).
2.2.5. Evaluasi Keperawatan
Evaluasi adalah tindakan intelektual untuk melengkapi proses
keperawatan yang menandakan seberapa jauh diagnosa keperawatan.
Rencana tindakan dan pelaksanaan sudah berhasil dicapai melalui
evaluasi memungkinkan perawat untuk memonitor kealpaan yang
terjadi selama tahap pengkajian. Analisa perencanaan dan pelaksanaan
tindakan (Ignatifikcus dan Bayne, 1994).
Tolak ukur yang digunakan untuk penilaian pencapaian tujuan
pada tahap ini dan kreteria yang telah dibuat pada tahap perencanaan
sehingga pada akhirnya dapat disimpulkan apakah masalah teratasi
seluruhnya/sebagian belum sama sekali dan bahkan timbul masalah
baru.
Evaluasi adalah tindakan intelektual untuk melengkapi proses
keperawatan yang menandakan seberapa jauh diagnose keperawatan,
rencana tindakan, dan pelaksanaannya sudah berhasil dicapai. Melalui

56
evaluasi memungkinkan perawat untuk memonitor “ kealpaan “ yang
terjadi selama tahap pengkajian, analisa, perencanaan, dan
pelaksanaan tindakan. ( Nursalam, 2001 )
Adapun komponen tahap evaluasi adalah pertama pencapaian
kreteria hasil, kedua keefektifan tahap-tahap keperawatn, ketiga revisi
atau terminasi keperawatn.
Evaluasi perencanaan kreteria hasil tulis pada catatan
perkembangan dalam bentuk SOAPIER :
S (Subyektif) : Keluhan-keluhan klien
O (Obyektif) : Apa yang dilihat, dicium, diraba dan
dapat diukur oleh perawat.
A (Analisa) : Kesimpulan tentang keadaan klien
P (Plan of care) :Rencana tindakan keperawatan untuk
mengatasi diagnosa/ masalah keperawatan
klien.
I (Intervensi) :Tindakan yang dilakukan perawat untuk
kebutuhan klien
E (Evaluasi) :Respon klien terhadap tindakan perawat
R (Ressesment) :Mengubah rencana tindakan keperawatan
yang diperlukan.
Tujuan evaluasi ini adalah untuk melihat kemampuan klien
dalam mencapai tujuan. Hal ini bias dilaksanakan dengan
mengadakan hubungan dengan klien berdasarkan respon klien
terhadap tindakan keperawatan yang diberikan, sehingga perawat
dapat mengambil keputusan:
a. Mengakhiri rencana tindakan keperawatan (klien telah mencapai
tujuan yang ditetapkan).
b. Memodifikasi rencana tindakan keperawatan (klien mengalami
kesulitan untuk mencapai tujuan)
c. Meneruskan rencana tindakan keperawatan (kilen memerlukan
waktu yang lebih lama untuk mencapai tujuan).

57
2.2.6. Dokumentasi Keperawatan
Menurut Harnawati (2008), dokumentasi keperawatan adalah
kegiatan keperawatan mencakup rencana secara sistematis. Semua
kegiatan dalam kegiatan kontrak perawat klien dalam kurun waktu
tertentu, secara jelas, lengkap dan objektif.
Hal ini bertujuan untuk memberi kemudahan dalam
memberikan asuhan keperawatan dan jaminan mutu, di samping
pencatatan kegiatan pendokumentasian keperawatan juga mencakup
penyimpangan atau pemeliharaan hasil pencatatan dan
pendokumentasian pada anggota sesama tim kesehatan untuk
kepentingan pengobatan klien serta kepada aparat penegak hukum bila
di perlukan untuk pembuktian.
1. Kegiatan pedokumentasian meliputi :
a. Komunikasi
Keterampilan dokumentasi yang efektif memungkinkan
perawat untuk mengkomunasikan kepada tenaga kesehatan
lainya dan menjelaskan apa yang sudah, sedang, dan yang
akan di kerjakan oleh perawat.
b. Dokumentasi proses keperawatan
Pencatatan proses keperawatan merupakan metode
yang tepat untuk pengambilan keputusan yang sistematis,
problem solving, dan riset lebih lanjut. Doumentasi proses
keperawatan mencakup pengkajian, identifikasi masalah,
perencanaan dan tindakan. Perawat kemudian mengobservasi
dan mengevaluasi respon klien terhadap tindakan yang di
berikan dan mengkomunikasikan informasi tersebut kepada
tenaga kesehatan lainya.
c. Standar dokumentasi
Perawat perlu menampilkan keterampilan untuk
memenuhi standar dokumentasi adalah suatu peryataan tentang
kualitas dan kwantitas dokumentasi yang di pertimbangkan
secara adekuat dalam suatu situasi tertentu standar

58
dokumentasi berguna untuk memperkuat pola pencatatan
sebagai petunjuk atau pedoman praktik pendokumentasian
dalam memberikan tindakan keperawatan.
2. Tujuan Dokumentasi Keperawatan
Tujuan utama dari pendokumentasian adalah
mengindentifikasi status kesehatan klien dalam rangka mencatat
kebutuhan klien, merencanakan, melaksanakan tindakan
keperawatan dan mengevaluasi tidakan.
3. Manfaat dan Pentingnya Pendokumentasian
Dokumentasi mempunyai makna yang penting bila di lihat dari
berbagai aspek
a. Hukum
Bila terjadi suatu masalah yang berhubungan dengan
profesi keperawatan, di mana perawat sebagai pemberi jasa
dan klien sebagai penguna jasa. Dokumentasi dapat di
pergunakan sebagai barang bukti di pengadilan.
b. Jaminan Mutu (Kualitas Pelayanan)
Pencatatan data klien yang lengkap dan akurat, akan
memberikan kemudahan bagi perawat dalam membantu
menyelesaikan masalah klien. Dan untuk mengetahui sejauh
mana masalah klien dapat teratasi dan seberapa jauh masalah
baru dapat di idetifikasi dan dimonitor melalui catatan yang
akurat. Hal ini akan membantu meningkatkan mutu pelayanan
keperawatan (yankep).
c. Komunikasi
Dokumentasi keadan klien merupakan alat perekam
terhadap masalah yang berkaitan dengan klien. Perawat atau
tenaga kesehatan lain akan bisa melihat catatan yang ada dan
sebagai alat komuikasi yang di jadikan pedoman dalam
memberikan asuhan keperawatan.

59
d. Keuangan
Semua tindakan keperawatan yang belum, sedang dan
telah di berikan di catat dengan lengkap dan dapat di gunakan
sebagai acuan atau pertimbangan dalam biaya keperawatan.
e. Pendidikan
Isi pendokumentasian menyagkut kronologis dari
kegiatan asuhan keperawatan yang dapat dipergunakan sebagai
bahan atau referensi pembelajaran bagi siswa atau profesi
keperawatan.
f. Penelitian
Data yang terdapat di dalam dokumentasi keperawatan
mengandung informasi yang dapat di jadikan sebagai bahan
objek riset dan pengembangan profesi keperawatan.
g. Akreditasi
Melalui dokumentasi keperawatan dapat di lihat sejauh
mana peran dan fungsi keperawatan dalam memberikan
asuhan keperawatan pada klie dengan demikian dapat di ambil
kesimpulan tingkat keberhasilan pemberian asuhan
keperrawatan yang di berikan, guna pembinaan lebih lanjut.
Menurut Nursalam (2001), Dokumentasi masalah,
perencanaan, tindakan, dan evaluasi.
1. Dokumentasi pengkajian Keperawatan
a. Dokumentasi pengkajian di tunjukan pada data klien di mana
perawat dapat mengumpulkan dan mengorganisir dalam
catatan kesehatan. Format pengkajian meliputi data dasar, flow
sheetv dan catatan perkembangan lainnya yang
memungkinkan dapat sebagai alat komunikasi bagi tenaga
keperawatan atau kesehatan lainnya.
b. Gunakan format yang sistimatis untuk mencatat pengkajian
yang meliputi:
1) Riwayat klien masuk rumah sakit

60
2) Respon klien yang berhubungan dengan persepsi kesehatan
klien
3) Riwayat pengobatan
4) Data klien rujukan
5) Gunakan format yang telah tersusun untuk mencatat
pengkajian
6) Kelompokan data-data berdasarkan model pendekatan
yang digunakan.
7) Tulis data objektif tanpa hias (tanpa mengartikan), menilai,
memasukan data pribadi. Sertakan pernyataan yang
mendukung interprestasi data objektif .
8) Jelaskan observasi dan temuan secara sistimatis, termasuk
difinisi karakteristiknya.
9) Ikuti aturan atau prosedur yang dipakai dan disepakati di
instalasi
10) Tuliskan secara jelas dan singkat.
2. Dokumentasi diagnosa keperawatan
Sebagai bukti ukuran pencatatan perawat pernyataan
diagnosa keperawatan bahwa mengidentifikasi masalah actual atau
potensial penyebab maupun tanda dan gejala sebagai indikasi
perlu untuk pelayanan perawatan, Contoh:
a. Proses dan pencatatan diagnosa keperawatan dalam rencana
pelayanan catatan perkembangan.
b. Pemakaian format problem, etiologi untuk tiap masalah
potensial.
c. Pengkajian data pada dokumen, semua faktor mayor untuk
setiap diagnosa.
d. Dokumen dari pengkajian atau mengikuti diagnosa
keperawatan yang tepat.
e. Ulangi data salah satu informasi pengkajian perawatan,
sebagai perawat prefisional dari kerja sama dengan staf
pembuat diagnosa.

61
3. Dokumentasi rencana keperawatan
Dokumentasi intervensi mengidentifikasi mengapa
sesuatu terjadi terhadap klien, apa yang terjadi, kapan,
bagaimana, dan siapa yang melakukan intervensi.
a. Why: Harus di jelaskan alasan tindakan dan data yang ada
dari hasil dokumentasi pengkajian dan diagnosa
keperawatan.
b. What: Di tulis secara jelas, ringkas dari
pengobatan/tindakan dalam bentuk action verbs.
c. When: Mengandung asfek penting dari dokumen
intervensi.
d. Who: Tindakan di laksanakan dalam pencatatan yang
lebih detail.
e. Who: Siapa yang melaksanakan intervensi harus selalu di
tuliskan pada dokumen serta tanda tangan sebagai
pertanggung jawab.
4. Dokumentasi Evaluasi
Pernyataan evaluasi perlu di dokumentasikan dalam
catatan kemajuan, di revisi dalam perencanaan perawatan atau
di masukan pada ringkasan khusus dan dalam pelaksanaan
dalam bentuk perencanaan.

62
BAB 3
PENUTUP
3.1 Simpulan
Luka bakar adalah kerusakan atau kehilangan jaringan yang
disebabkan oleh energi panas, bahan kimia, listrik, atau benda-benda fisik lain
yang menghasilkan panas dengan efek berupa kerusakan atau kehilangan
jaringan. Pada rentang panas yang lebih rendah, sel-sel masih dapat bertahan
tanpa menimbulkan kerusakan yang bermakna, dan tubuh dapat
mengeluarkan tenaga panas dengan perubahan sirkulasi. Pada rentang suhu
yang lebih tinggi, sel-sel mengalami kecepatan kerusakan berlipat ganda,
tubuh tidak mampu melakukan kompensasi dengan mengeluarkan panas.
Luka bakar dapat menyebabkan syok karena kesakitan, sepsis karena
infeksi dan kontaminasi oleh agen mikroba dan berakibat buruk bagi organ-
organ tubuh serta dapat menyebabkan kematian. Luka bakar dangkal dan
ringan (superfisial) dapat sembuh dengan cepat dan tidak menimbulkan
jaringan parut. Namun apabila luka bakarnya dalam dan luas, maka
penanganan memerlukan perawatan di fasilitas yang lengkap dan komplikasi
semakin besar serta kecacatan dapat terjadi.
Penatalaksanaan awal pasien luka bakar dengan memberikan
pertolongan pertama dan resusitasi yang adekuat seringkali dapat membantu
dalam mengurangi morbiditas dan mortalitas pasien luka bakar. Pemantauan
dan penatalaksanaan lanjutan pada pasien luka bakar dilakukan untuk menilai
komorbid yang mungkin muncul pasca luka bakar dan untuk melihat
prognosis.
Prognosis pasien luka bakar ditentukan oleh status penderita (usia,
gizi, jenis kelamin, dan kelainan sistemik), faktor trauma (jenis, luas,
kedalaman luka bakar, dan trauma penyerta) dan komplikasi yang timbul,
serta kecepatan penanganan (prehospital and inhospital treatment) baik
berupa resusitasi maupun pengobatan medikamentosa.
3.2 Saran

63
DAFTAR PUSTAKA

Ahmadsyah I, Prasetyono TOH. (2005). Luka. Dalam: Sjamsuhidajat R, de Jong


W, editor. Buku ajar ilmu bedah. Edisi 2. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC
American College of Surgeons. (1999). Guidelines for the Operation of Burn
Units. Reprinted from Resources for Optimal Care of the Injured Patient,
Chapter 14: Committee on Trauma, Available in
website:http://www.ameriburn.org/ guidelinesops.pdf
Arif Mansjoes, dkk. (2000). Kapita Selekta Kedokteran, Edisi 3, Jilid 2,
Media Aesculapius Fakultas Kedokteran UI. Jakarta
Barbara C. Long . (1996). Perawatan Medikal Bedah: Suatu Pendekatan Proses
Keperawatan, The C.V Mosby Company St. Louis, USA.
Barbara Engram . (1998). Rencana Asuhan Keperawatan Medikal – Bedah Jilid II
Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.
Christantie Effendi. (2008). Perawatan Pasien Luka Bakar. Buku
Kedokteran EGC: Jakarta.
Doenges E. Marilynn. (2000). Rencana Asuhan Keperawatan. Edisi
Ketiga, Buku Kedokteran EGC: Jakarta.
Donna D. Ignatavicius. (1991). Medical Surgical Nursing: A Nursing Process
Approach. WB. Sauders Company: Philadelphia.
Duke, J. (2000). Anesthesia and Burns in Anesthesia Secrets. Second
Edition. Hanley & Belfus: Inc Philadelphia.
Evellyn Pearce. (1989). Anatomi dan Fisiologi Untuk Paramedis. PT.
Gramedia: Jakarta.
Guyton & Hall. (1997). Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi 9. Penerbit Buku
Kedoketran EGC: Jakarta
Hudak & Gallo (1997). Keperawatan Kritis: Pendekatan Holistik Volume I.
Penerbit Buku Kedoketran EGC: Jakarta
Instalasi Rawat Inap Bedah RSUD Dr. Soetomo Surabaya. (2001). Pendidikan
Keperawatan Berkelanjutan (PKB V) Tema: Asuhan Keperawatan Luka
Bakar Secara Paripurna. Instalasi Rawat Inap Bedah RSUD Dr. Soetomo:
Surabaya.
Joko, Setyono. (2001). Keperawatan Medikal Bedah. Salemba Medikal:
Jakarta
Marylin E. Doenges. (2000). Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman Untuk
Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien edisi 3. Penerbit
Buku Kedoketran EGC: Jakarta
Marzoeki, D. (2004). Overview in Burn Management dalam Penanganan Luka
Bakar Masa Kini. Seminar Luka Bakar

64
Moenadjat, Y., 2005. Petunjuk Praktise Penatalaksanaan Luka Bakar. Asosiasi
Luka Bakar Indonesia Diterbitkan oleh Komite Medik Asosiasi Luka
Bakar Indonesia
Monica Ester. (2001). Keperawatan Medikal Bedah. Buku Kedokteran
EGC: Jakarta
Naguib, M. and Lien C. A. (2005). Pharmacology of Muscle Relaxants
and Their Antagonists in Miller’s Anesthesia sixth edition.
Nurarif, Amin Huda dan Hardri Kusuma. (2013). Aplikasi Asuhan Keperawatan
Berdasarkan Diagnosa Medis & NANDA NIC_NOC. Yogyakarta :
Penerbit Media Action Publising
Perdanakusumah, D. S. (2004). Wound Management in Burn. SMF Bedah Plastik
FK UNAIR-RSU Dr. Soetomo Unit Luka Bakar: Surabaya
Roberta.,L. H. (2004). Adult Perioperative Anesthesia. Elsevier Mosby:
Philadelphia
Smeltzer & Bare. (2002). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Edisi 8
volume 3. Jakarta : Penerbit Buku Kedoktean EGC
Song, C. (2004). Recent Advance in Burn Management dalam Penanganan
Luka Bakar Masa Kini.
Steinberg KP, Hudson LD. Acute respiratory distress syndrome: Acute lung injury
and acute respiratory distress syndrome, the clinical syndrome. Clin chest
med 2000; vol 21 no.3. Available in website: http://www.
home.mdconsult.com/ das/article/body/1/jorg
Sunarso Kartohatmodjo. (2006). Penanganan Luka Bakar. Airlangga University
Press: Surabaya
Sutjahjo, R. A. (2004). Nyeri pada Luka Bakar. Departement of Anesthesiology
& Reanimation School of Medicine. Airlangga University. Dr. Soetomo
General Hospital: Surabaya
Sylvia A. Price. (1995). Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-proses Penyakit
Edisi 4 Buku 2. Penerbit Buku Kedokteran EGC: Jakarta
Wilkinson, Judith M dan nancy R. Ahern. (2011). Buku saku diagnosis
keperawatan : Diagnosis NANDA, Intervensi NIC, criteria hasil NOC.
Edisi 9. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC

65