Anda di halaman 1dari 127

ix

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1. Alur Pelayanan Pasien HD RSMS ................. 18


Gambar 2.2 Cause and Effect in Activity Based Costing ......... 38
Gambar 2.3 Cost Assignment View ................................... 39
Gambar 2.4. Kerangka Konsep ...................................... 48
x

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Pembagian Regional Tarif INA CBG’s .....................


Tabel 2.2 SOP Hemodialisa RSMS ....................................
Tabel 2.3 Perbedaan Sistem Tradisional dan Metode ABC .
Tabel 2.4 Keaslian Penelitian ...........................................
Tabel 4.1 Activity Center Unit HD RSMS.............................
Tabel 4.2 Biaya Gaji dan Tunjangan Karyawan HD RSMS
Tahun 2015.....................................................
Tabel 4.3 Biaya Equipment Related Unit HD RSMS
Tahun 2015.....................................................
Tabel 4.4 Biaya Space Related Unit HD RSMS Tahun 2015
Tabel 4.5 Total Biaya Listrik Unit HD tahun 2015 .........
Tabel 4.6 Biaya Service Related Unit HD RSMS Tahun 2015
Tabel 4.7 Direct Cost Tindakan HD Tahun 2015 ...........
Tabel 4.8 Jumlah Pasien RSMS Tahun 2015 ................
Tabel 4.9 Biaya Labour Related Unit Non Fungsional .......
Tabel 4.10 Biaya Equipment Related Unit Non Fungsional ..
Tabel 4.11 Biaya Space Related Unit Non Fungsional .......
Tabel 4.12 Biaya Service Related Unit Non Fungsional .....
Tabel 4.13 Biaya Indirect Resources Overhead RSMS ...........
Tabel 4.14 Jumlah Pasien dan Pendepatan Unit Fungsional
......................................................................
Tabel 4.15 Dasar Pembebanan Biaya Direct Resources
Overhead ...................................................................
Tabel 4.16 Biaya Direct Resources Overhead RSMS .........
Tabel 4.17 Dasar Pembebanan Biaya Direct Resources ........
Overhead ...................................................................
Tabel 4.18 Pengeluaran RSMS Per Unit Tahun 2015 ......
Tabel 4.19 Total Biaya Overhead Unit HD ..........................
Tabel 4.20 Pembebanan Biaya Overhead Terhadap Aktivitas
Pada Unit HD ..................................................
Tabel 4.21 Biaya Satuan Unit HD RSMS ...........................
Tabel 4.22 Perbandingan Tarif Tindakan HD RSMS .......
Tabel 4.23 Biaya BMHP Pihak B-Braun untuk KSO Satu Unit
MesinDialisis .........................................
Tabel 4.24 Perbandingan antara Unit Cost Modifikasi
ABC-Baker dengan Tarif INA-CBG’s .....................
xi

Tabel 4.25 Perbedaan Harga BMHP Single Use dan Re Use


......................................................................................................

Tabel 4.26 Biaya Pengeluaran dan Pemasukan Unit HD RSMS


Tahun 2015............................................................
Tabel 4.27 Asumsi Jumlah Tindakan Unit HD per Tahun yang
dapat Memberi Profit bagi RS Tipe ..........................
Tabel 4.28 Asumsi Jumlah Tindakan Unit HD per Tahun yang
dapat Memberi Profit bagi RS Tipe C .................
Tabel 2.1 Pembagian Regional Tarif INA-

Regional I Regional II Regional III Regional IV Regional V


Pulau Jawa Sumatera NAD, Kalimantan Kep. Bangka
Barat, Riau, Sumatera Selatan dan Belitung, NTT,
Sumatera Utara, Jambi, Kalimantan Kalimantan
Selatan, Bali Bengkulu, Tengah Timur,
dan NTB Kep. Riau, Kalimantan
Kalimantan Utara, Maluku,
Papua Barat
CBG’s
Barat, dan Maluku Utara,
Sumber: PERMENKESSulawesi Papua dan
NO 27: Petunjuk Teknis Sistem INA CBG’s,
(2013)
a . Facility Sustaining Activity Cost
Biaya ini berhubungan dengan kegiatan untuk
mempertahankan kapasitas yang dimiliki
perusahaan. Biaya depresiasi dan amortisasi, biaya
asuransi, biaya gaji karyawan kunci perusahaan
adalah contoh jenis biaya yang termasuk dalam
facility sustainining activity cost. Biaya dibebankan
kepada produk atas dasar taksiran unit produk yang
dihasilkan kapasitas activity cost.

a. Product Sustaining Activity Cost


Biaya ini berhubungan dengan penelitian dan
pengembangan produk tertentu dan biaya-biaya untuk
mempertahankan produk untuk tetap dapat
dipasarkan. Biaya ini tidak terpengaruh oleh jumlah unit
yang diproduksi dan jumlah batch produksi yang
dilaksanakan oleh divisi penjual. Contoh biaya ini adalah
biaya desain produk, desain proses pengolahan produk,
pengujian produk, biaya ini dibebankan kepada
44

produk atas dasar taksiran jumlah unit produk


tertentu yang akan dihasilkan selama umur
produk tertentu (product life cycle).

c. Batch Activity Cost


Biaya aktivitas selalu berhubungan dengan jumlah
batch produk yang diproduksikan. Setiap cost yang
merupakan biaya yang dikeluarkan untuk menyiapkan
mesin dan peralatan sebelum suatu order prosuksi
diproses adalah contoh biaya yang termasuk dalam
golongan biaya ini, besar kecilnya biaya ini tergantung
dari frekuensi order produksi yang diolah oleh fungsi
produksi. Biaya ini tidak dipengaruhi oleh jumlah unit
produk yang diproduksi dalam setiap order produksi.
Pembeli dibebani batch activity cost berdasarkan jumlah
batch activity cost yang dikeluarkan oleh perusahaan
dalam setiap menerima order dari pembeli.

d. Unit Level Activity Cost

Unit level Activity Cost menjelaskan bahwa biaya

dipengaruhi oleh besar kecilnya jumlah unit produk


45

yang dihasilkan. Biaya bahan baku, biaya tenaga kerja,


biaya energi, biaya angkutan adalah contoh biaya yang
termasuk dalam golongan ini, biaya ini dibebankan
kepada produk berdasarkan jumlah unit produk
dikalikan dengan jumlah produk yang sesungguhnya
diperoleh.
Menurut Baker (1998), metode ABC memiliki dua
elemen utama yaitu pengukuran biaya dan pengukuran
perfoma. Konsep dasar ABC menurut Baker adalah bahwa
aktivitas mengkonsumsi sumber daya untuk menghasilkan
output. Perbedaaan mendasar metode ABC dengan metode
tradisional adalah penggunaan variabel keuangan dan non
keuangan sebagai dasar alokasi. Ciri khas ABC adalah
penggunaan lebih banyak penampungan biaya tak
langsung dan pemicu biaya dibandingkan dengan metode
tradisional. Metode ABC dapat dikembangkan dan
dimanfaatkan dengan adanya ketidakpastian yang timbul
dari informasi yang tidak akurat atau kurang lengkapnya
data (Esmalifalak et al, 2014).
46

a. Mengidentifikasikan aktivitas-aktivitas
Pengindentifikasian aktivitas-aktivitas menghendaki
adanya daftar jenis-jenis pekerjaan yang terdapat dalam
perusahaan yang berkaitan dengan proses produksi.

b. Membebankan biaya ke aktivitas-aktivitas

Setiap kali suatu aktivitas ditetapkan, maka biaya

pelaksanaan aktivitas tersebut ditentukan.

c. Menentukan activity driver


Langkah berikutnya adalah menentukan activity driver
untuk masing-masing aktivitas yang merupakan faktor
penyebab pengendali dari aktivitas-aktivitas tersebut.

d. Menentukan tarif
Dalam menentukan tarif ini, total biaya dari
setiap aktivitas dibagi dengan total activity driver
yang digunakan untuk aktivitas tersebut.

e. Membebankan biaya ke produk


Langkah selanjutnya adalah mengalikan tarif yang
diperoleh untuk setiap aktivitas tersebut dengan
aktivitas driver yang dikonsumsi oleh tiap-tiap jenis
51

produk yang diproduksi kemudian membaginya


dengan jumlah unit yang diproduksi untuk tiap produk.
Langkah perhitungan unit cost dengan metode ABC
menurut Baker (1998) adalah dengan dua tahap utama
yaitu dengan pengukuran biaya dari sumber daya ke
aktivitas dan dari aktivitas ke objek biaya. Tahap
kedua adalah pengukuran proses tentang apa yang
sedang atau telah terjadi. Secara ringkas langkah-
langkah ABC adalah sebagai berikut:

a. Analisis Aktivitas:

1)Penentuan aktivitas

2)Klasifikasi aktivitas

3)Peta aktivitas

4)Analisis

b. Perhitungan Biaya Aktivitas

1)Menentukan objek biaya

2)Menghubungkan biaya ke aktivitas


52

Tahapan yang digunakan adalah:


a. Menentukan objek biaya dimana aktivitas-aktivitas
yang ada harus masuk dalam pusat aktivitas.
b. Menghubungkan biaya ke aktivitas dengan
menggunakan pemicu biaya yang merupakan konsep
pelacak dan alokasi. Pelacakan adalah metode
pembebanan biaya aktivitas yang menunjukkan
hubungan sebab akibat antara konsumsi sumber daya
dengan aktivitas yang dilakukan. Alokasi adalah metode
dimana biaya dibebankan pada aktivitas secara
sembarang sehingga hasilnya kurang akurat.
Baker (1998) membagi biaya langsung overhead
ke dalam empat kategori yaitu labor, equipment, space
dan service. Labor related adalah biaya pegawai seperti
gaji, uang makan dan dana kesehatan. Service related
adalah biaya kebersihan, listrik, air, telepon, pengadaan,
laundry, sanitasi, fogging, alat tulis, rumah tangga.
Equipment related adalah biaya penyusutan alat medis
dan non medis, pemeliharaan dan perbaikan alat. Pada
53

akhir masa ekonomis alat tidak dihitung lagi depresiasinya


dan dianggap tidak ada sisa. Space related adalah
penyusutan gedung dan bangunan selama 20 tahun serta
pemeliharaan dan perbaikan gedung dan bangunan.

G. Activity Based Costing (ABC) pada Rumah Sakit


Konsep dasar ABC adalah aktivitas akan
mengkonsumsi sumber daya untuk memproduksi output.
ABC memiliki dua komponen utama yaitu cost measures dan
performnce measures. ABC adalah metodologi yang mengukur
biaya dan kinerja dari aktivitas, sumber daya dan cost
objects. Sumber daya yang diberikan untuk aktivitas, dimana
aktivitas diberikan untuk cost objects berdasarkan
penggunanya. ABC mengakui hubungan cost driver terhadap
aktivitas (Baker, 1988).
ABC memiliki pendekatan berbeda dengan
pendekatan tradisional karena berdasarkan pada konsentrasi
aktivitas. Menurut Baker (1998), pendekatan ABC
menggunakan variabel functional dan non functional yang
54

merupakan dasar dari alokasi biaya. Adanya kebutuhan ABC


di pelayanan kesehatan karena kompetisi di pelayanan
kesehatan merupakan penggerak produktivitas dan
efesiensi. ABC bisa menyampaikan informasi untuk
memaksimalkan sumber daya dan untuk menghubungkan
biaya untuk kinerja dan pengukuran outcome. Pengambilan
keputusan manajemen dapat menggunakan informasi ABC
untuk membuat efisiensi biaya tanpa disertai dampak
negatif dari kualitas pelayanan.
Dua keadaan tertentu yang mendorong munculnya
pelayanan kesehatan yang membutuhkan konsumsi sumber
daya dan informasi biaya pelayanan yaitu keragaman
pelayanan dan transisi dalam campuran pembayaran.
Pandangan tradisional tentang akuntansi biaya adalah jasa
atau produk akan mengkonsumsi sumber daya. Pandangan
ABC tentang akuntansi biaya adalah jasa atau produk akan
mengkonsumsi aktivitas, lalu aktivitas mengkonsumsi
sumber daya. ABC adalah kausal, berdasarkan sebab dan
akibat. Driver adalah penyebab aktivitas dan aktivitas
55

mengungkapkan akibat dari driver (Baker, 1998). Landasan


paling penting untuk menghitung biaya berdasarkan ABC
system adalah dengan mengidentifikasikan pemicu biaya atau
cost driver untuk setiap aktivitas. Pemahaman yang tidak tepat
atas pemicu biaya dapat menimbulkan kesalahan dalam
pengklasifikasian biaya, sehingga mengakibatkan dampak
bagi manajemen dalam mengambil keputusan.

Gambar 2.2 Cause and Effect in Activity Based Costing

Sumber: Baker (1998)

ABC
Cost and Effect

Driver = Cause of Activity Activity = Effect of Driver

Cost driver adalah faktor yang dapat menerangkan


konsumsi biaya-biaya overhead. Faktor ini menunjukkan
suatu penyebab utama tingkat aktivitas yang akan
menyebabkan biaya dalam akitivitas (Marismiati, 2011).
Dalam menentukan cost driver yang tepat terdapat tiga
56

faktor yang harus dipertimbangkan menurut Cooper


dan Kaplan (1991), yaitu:
1. Kemudahan untuk mendapatkan data yang
dibutuhkan dalam pemilihan cost driver. Cost driver
yang membutuhkan biaya pengukuran lebih rendah
akan dipilih.
2. Korelasi antara konsumsi aktivitas yang diterangkan
oleh cost driver terpilih dengan konsumsi aktivitas
sesungguhnya (degree of correlation). Cost driver
yang memiliki korelasi tinggi akan dipilih.
3. Prilaku yang disebabkan oleh cost driver terpilih
(behavior effect), cost driver yang menyebabkan
prilaku yang diinginkan akan dipilih.
Penentuan banyaknya cost driver yang dibutuhkan
berdasarkan pada keakuratan laporan product cost yang
diinginkan dan kompleksitas komposisi output perusahaan.
Semakin banyaknya cost driver yang digunakan, laporan
biaya produksi semakin akurat. Dengan kata lain semakin
57

tinggi tingkat keakuratan yang diinginkan, semakin banyak


cost driver yang dibutuhkan (Cooper dan Kaplan, 1991).

ABC
Cost Assignment View
Resource

Activities

Cost Object

Gambar 2.3 ABC :Cost Assignment View

Cost assignment terdiri dari dua tahapan, tahapan


pertama adalah dari sumber daya ke aktivitas, tahapan
kedua dari aktivitas ke cost object. Sumber daya merupakan
elemen ekonomi yang diaplikasikan atau digunakan dalam
pelaksanaan aktivitas. Gaji dan persediaan, sebagai contoh
sumber daya digunakan langsung aktivitas. Aktivitas adalah
pengumpulan tindakan yang dilakukan dalam sebuah
organisasi yang digunakan metode ABC. Cost object adalah
58

tiap pasien, produk, jasa, kontrak, proyek, atau unit kerja


lain untuk memisahkan pengukuran biaya yang diinginkan.
Pandangan dasar yang kedua adalah proses. Sudut
pandang proses memberikan laporan baik apa yang terjadi
atau apa yang akan terjadi. Definisi dari aktivitas sama
dengan cost assignment. Cost driver adalah tiap faktor yang
menyebabkan perubahan di dalam biaya dari suatu aktivitas.
Perhitungan total cost dihubungkan dengan jumlah tenaga
kerja langsung yang digunakan dan semua bahan yang
digunakan secara langsung, selama peralatan yang dipakai
khusus untuk tindakan tersebut. Sebagai tambahan, biaya
total prosedur termasuk pembagian biaya proporsi atas biaya
untuk tindakan tersebut, misalnya biaya tenaga administrasi
sebagai biaya total adalah overhead institusional yang
ditambahkan dalam biaya persatuan prosedur (Baker, 1998).
Konsep dasar dari metode ABC adalah aktivitas
mengkonsumsi sumber daya untuk menghasilkan suatu
output. Pembiayaan sebaiknya dipisahkan dan disesuaikan
dengan aktivitas yang mengkonsumsi sumber daya. Secara
59

khusus pembiayaan yang dibutuhkan untuk menghasilkan


produk individual dari suatu layanan atau dibedakan
berdasarkan produk yang berbeda, layanan yang berbeda
untuk pasien yang berbeda. Sistem ABC merupakan suatu
kebutuhan dalam pelayanan kesehatan dikarenakan
kompetisi dalam pelayanan kesehatan, dimana produktivitas
dan efisiensi menjadi suatu keharusan. Penekanan
pengelolaan pelayanan menghasilkan pembiayaan sesuai
dengan permintaan, khususnya sesuai dengan biaya untuk
aktivitas dan hasil (outcomes). Metode ABC dapat
memberikan informasi untuk memaksimalkan sumber daya
dan menghubungkan cost dan performance serta pengukuran
outcome. Pengambil kebijakan dapat menggunakan informasi
dari metode ABC untuk meningkatkan efisiensi tanpa
menimbulkan dampak negative pada kualitas layanan dan
dapat pula meningkatkan kualitas layanan berkelanjutan.
Sudut pandang dari sistem akuntansi tradisional
adalah layanan atau suatu produk mengkonsumsi sumber
daya, sedangkan metode ABC memandang suatu layanan
60

atau produk mengkonsumsi aktivitas dan aktivitas


membutuhkan sumber daya. Secara kontras ABC adalah
kausatif berdasarkan sebab akibat. Akuntansi pembiayaan
tradisional dirancang untuk pembiayaan tenaga kerja atau
biaya proses secara terpisah, sedangkan dalam sistem
pelayanan kesehatan merupakan kombinasi keduanya.
Metode ABC bukanlah sebuah alternatif dalam sistem
perhitungan pembiayaan yang dapat menggantikan
pembiayaan tenaga kerja, atau biaya proses produksi atau
kombinasi keduanya, namun metode ABC adalah sebuah
pendekatan untuk pengembangan dalam pembiayaan
tenaga kerja atau biaya proses produksi ataupun keduanya
(Baker, 1998).
Pembiayaan tradisional normalnya mengalokasikan
overhead kepada layanan individual atau produk atas
beberapa pengukuran dari layanan dan voume produk.
Secara umum pelayanan tradisional memiliki keterbatasan
yang tidak strategis, dimana terjadi subsidi silang antara
layanan dan produk. Metode ABC memungkinkan
61

menghitung biaya per layanan, per pasien, atau per kontrak


dan dapat mengalokasikan biaya dari suatu layanan pada
biaya yang spesifik.
Metode ABC memiliki tujuh dasar item dalam
perhitungan, yaitu:
1. Item pertama adalah material dan persediaan,
yaitu biaya langsung
2. Item kedua adalah tenaga kerja langsung, yaitu
biaya langsung
3. Item ketiga adalah pendukung penulisan, merupakan
bagian departemen overhead
4. Item keempat adalah pengaturan, merupakan
bagian dari departemen overhead
5. Item kelima adalah alat-alat dan perlengkapan,
merupakan bagian dari departemen overhead
6. Item keenam adalah pemeliharaan, merupakan
bagian dari alokasi overhead dari luar departemen
62

7. Item ketujuh adalah proses persediaan dan


distribusi, merupakan bagian dari alokasi overhead
dari luar departemen.
Dari kerangka kerja metode ABC , terdapat tiga
tahap dasar untuk implementasi ABC system, yaitu:

1. Mendefiniskan kegiatan yang mendatangkan output.

2. Mendefinisikan hubungan antara kegiatan dan output.

3. Mengembangkan biaya aktivitas.


Fokus dari akumulasi biaya manajemen adalah tiga
tahap dasar yang digunakan untuk implementasi sistem
tanpa memandang unit pelayanan, program atau pusat
pertanggungjawaban. Sistem ABC juga dapat digunakan
untuk mengukur biaya di seluruh layanan perawatan pada
pusat akademik kesehatan (Kaplan et al, 2014).

H. Rumah Sakit Medika Stannia

1. Profil

Rumah Sakit Medika Stannia (RSMS) merupakan

rumah sakit swasta tipe D yang beralamat di jalan Jendral


63

Sudirman no.3 Sungailiat Bangka. RSMS berdiri sejak tahun


2005, tepatnya pada tanggal 28 April 2005. Awalnya RSMS
merupakan Balai Pengobatan dan Rumah Bersalin (BPRB)
yang merupakan cabang dari Rumah Sakit milik PT. Timah
yang saat itu berpusat di kota Pangkal Pinang. Pada tahun
2003 perkembangan BPRB ini semakin pesat ditandai
semakin banyak jumlah kunjungan pasien dewasa maupun
anak ke BPRB. Setelah melalui proses yang panjang akhirnya
RSMS berdiri menjadi rumah sakit swasta pertama di
kabupaten Bangka.
RSMS berdiri di atas tanah seluas 17.727 m2 dengan
luas bangunan 3.816 m2. SK Pent kelas:
1480/MENKES/SK/X/2010 menjadi dasar hukum atas
berdirinya RSMS. Rumah sakit tipe D ini memiliki Ijin
Operasional terbaru: 441.7/01/OP.RS/BP2TPM/XII/2015.
RSMS telah mengikuti proses akreditasi Rumah Sakit Versi
2012 dari KARS.
64

2. Visi, Misi, Motto dan Tujuan


RSMS memiliki visi untuk menjadi rumah sakit
terkemuka di provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Adapun
misi RSMS antara lain; menyediakan jasa layanan
kesehatan unggulan, mengembangkan dan menyiapkan
tenaga profesional, mengembangkan sistem layanan
terpadu yang handal, dan menambah jejaring pengobatan.
Dalam kegiatan sehari-hari RSMS memiliki motto “Melayani
dengan sepenuh hati”. Tujuan dari rumah sakit ini yaitu:
a. Terwujudnya SDM yang berkualitas dan profesional
dalam pencapaian visi Rumah Sakit
b. Terwujudnya pelayanan prima kepada pelanggan dan
menjadi pioner kepercayaan masyarakat dibidang
pelayanan kesehatan yang ada di Provinsi Kepulauan
Bangka Belitung
c. Mewujudkan sistem kepemimpinan dan manajemen
yang terpercaya, efisien dan efektif

d. Pelayanan kesehatan sesuai dengan standar pelayanan


65

RSMS memiliki etos kerja yang disingkat dengan


3SPK yaitu Senyum, Salam, Sapa, Peduli, Komunikasi.
Budaya kerja di RSMS sendiri berpegang teguh pada
3K (Keterbukaan, Kebersamaan dan Kebersihan).

3. Fasilitas Pelayanan
Jumlah karyawan RSMS sebanyak 267 orang
sumber daya manusia yang terdiri dari 185 orang tenaga
profesi dan 82 orang non profesi. Tenaga profesi meliputi 12
orang dokter umum, 1 orang dokter gigi, 16 orang dokter
spesialis, 98 orang perawat, 1 orang perawat gigi, 15 orang
bidan, 2 orang apoteker, 17 orang asisten apoteker, 10
analisa kesehatan, 4 orang radiographer, 2 orang fisioterapi,
2 orang ahli gizi, 4 orang D4 rekam medis dan 1 orang AKL.
Pelayanan-pelayanan di RSMS adalah sebagai berikut:
a. Pelayanan Rawat Jalan Poli Umum (Umum dan Gigi),
Spesialis (THT, Anak, Penyakit Dalam, Saraf, Jantung
dan Pembuluh Darah, Mata, Bedah dan Obgyn,
Medical Check Up)
66

b. Pelayanan Rawat Inap

c. Pelayanan Gawat Darurat (Instalasi Gawat Darurat/IGD)

d. Pelayanan ICU (Instalation Care Unit)

e. Pelayanan Hemodialisa

f. Pelayanan Instalasi Bedah


g. Pelayanan Penunjang Medis (Laboratorium, Farmasi,
Fisioterapi, Radiologi dan Gizi)
Pada unit HD di RSMS dikepalai oleh dokter umum
bersertfikat pelatihan HD dan 3 orang perawat bersertifikat
HD. Penanggung jawab unit HD oleh dokter spesialis
penyakit dalam konsultan KGH. Unit HD RSMS memiliki 4
tempat tidur dan 4 mesin dialisis. Luas bangunan unit HD
yaitu 118.5 m2. Kapasitas listrik untuk memenuhi kebutuhan
pemakaian listrik di rumah sakit sebesar 200 KVA Saat ini unit
HD RSMS melayani tindakan HD setiap hari pada shift pagi,
dan dua hari dalm seminggu untuk shift sore. RSMS
menghabiskan bahan medis habis pakai (BMHP) sebesar Rp
1.003.174.760,- dalam satu tahun.
67

I. Keaslian Penelitian
Sejauh ini belum pernah ada penelitian yang
dilakukan mengenai analisis perhitungan unit cost pelayanan
Heamodialisis terhadap penetapan tarif INA CBG’s dan tarif
Rumah Sakit Medika Stannia.

Tabel 2.3 Keaslian Penelitian

No Nama Tahun Judul Penelitian Metode Hasil Penelitian Perbedaan dengan


Peneliti Penelitian penelitian yang akan
.
dilakukan
1 Dika 2014 Analisis Perhitungan Metode ABC Perhitungan unit cost dengan Perbedaan penelitian
Rizkiardi Unit Cost Unit (Activity pendekatan Activity Based terletak pada waktu
Pelayanan Based Costing (ABC) lebih efektif dimana akan dilakukan
Hemodialisa Dengan digunakan pada tahun 2015 dan
Costing)
dan efisien bila
Metode Activity Based system karena nilai perhitungannya bertempat di RS Medika
Costing di RS PKU lebih kecil dibandingkan unit Stannia serta
Muhammadiyah cost yang diberlakukan pihak
karakteristik responden
Yogyakarta Unit II rumah sakit sehingga pasien
yang berbeda
tidak perlu membayar cost
sharing

2 Munawir 2013 Analisis Perbandingan Metode Perhitungan unit cost dengan Perbedaan penelitian
Saragih Unit Cost Akomodasi Activity
metode double distribution terletak pada waktu
di ICU antara Metode Based dimana akan dilakukan
lebih tinggi dibandingan
Activity Based Costing Costing pada tahun 2015 dan
(ABC) dan perhitungan menggunakan
(ABC) dengan Metode bertempat di RS Medika
double metode Activity Based Costing
Double Distribution di
Stannia serta
Rumah Sakit PKU distribution (ABC). Perbedaan terjadi
karakteristik responden
Muhammadiyah akibat metode double
Yogyakarta yang berbeda
distribution dipengaruhi oleh
biaya tidak langsung yang
biaya yang cukup besar dan
bermakna dalam perhitungan
dan terdistribusi langsung oleh
68

No Nama Tahun Judul Penelitian Metode Hasil Penelitian Perbedaan dengan


Peneliti Penelitian penelitian yang akan
.
dilakukan
sistem ini, sedangkan metode
Activity Based Costing (ABC)
melakukan perhitungan biaya
berdasarkan aktivitasnya
Sehingga lebih akurat
3 Arif 2011 Analisis Perhitungan Metode Perhitungan unit cost sewa Perbedaan penelitian
Suparman Unit Cost Sewa Activity kamar kelas II Ar Rahman terletak pada waktu
Wijaya, Kamar Kelas II Ar Based menggunakan metode Activity dimana akan dilakukan
Mariska Rahman Dengan Costing yang Based Costing lebih besar pada tahun 2015 dan
Urhmila Metode Activity Based terdiri dari dibandingkan dengan unit cost bertempat di RS Medika
dan Indah Costing Di RSU PKU di rumah sakit. Perbedaan ini
dua tahap Stannia serta
Widyasm Muhammadiyah terletak pada struktur biaya
yaitu: tahap karakteristik responden
ara yang dimasukkan dalam biaya
Bantul
pertama yang berbeda
langsung dan tidak langsung.
adalah
Cost driver yang digunakan
pembebanan
dalam Activity Based Costing
sumber daya
(ABC) lebih dari satu
ke aktivitas sedangkan rumah sakit hanya

dan tahap menggunakan satu cost driver

kedua adalah yaitu jumlah hari rawat inap.

pembebanan

activity cost

ke produk

atau jasa
69

J. KERANGKA KONSEP

Gambar 2.4 Kerangka Konsep

Tindakan HD di RSMS

Clinical Pathway

Equipment Related
Klasifikasi Sumber Daya di
Unit HD
Space Related

Identifikasi

Aktivitas BMHP

Jasa Dokter

Labour Related

Service Related

Identifikasi Biaya Direct


Tracing

Indirect Resources
Identifikasi Biaya Overhead
Direct Resources

Analisa Unit Cost


Modifikasi ABC-Baker

Perhitungan Penetapan
Unit Cost Modifikasi ABC Baker

Selisih

Perhitungan Penetapan Tarif HD INA CBG’s


Tarif HD di RSMS

Keterangan:
Diteliti
Tidak diteliti
70

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis dan Rancangan Penelitian


Jenis penelitian ini adalah penelitian observasional
yang bersifat deskriptif, menggunakan data primer dan data
skunder dari rumah sakit yang bertujuan untuk
mendapatkan perhitungan unit cost pelayanan HD.
Rancangan penelitian ini adalah cross sectional dan jenis data
yang digunakan adalah data kuantitatif. Jenis penelitian
dapat bersifat observasional dan eksperimental, sifat
deskriptif pada sebuah rancangan dimaksud untuk mencari
data dasar tanpa menghubungkan antara variable yang satu
dengan yang lainnya (Siswosudarmo, 2013). Pada penelitian
ini dilakukan pehitungan unit cost dan analisa biaya dengan
metode modifikasi ABC (Activity Based Costing)-Baker. Hasil
perhitungan dan analisis biaya untuk mengetahui biaya
satuan tindakan HD dengan cara menelusuri biaya-biaya
yang berhubungan dengan pusat biaya yaitu tindakan HD
71

sebagai pusat produksi dan bagian-bagian lain yang


mendukung tindakan.

B. Subjek dan Objek Penelitian


Subjek dalam penelitian ini adalah rumah sakit
Medika Stannia. Objek dalam penelitian ini adalah semua
aktivitas yang terjadi dari awal persiapan dilakukannya
tindakan HD di unit HD Rumah Sakit Medika Stannia.

C. Variabel Penelitian
Variabel adalah suatu sifat yang akan diukur atau
diamati yang nilainya bervariasi antara satu objek ke objek
lainnya dan terukur (Riyanto, 2011). Pada penelitian ini
variabel adalah faktor-faktor yang mempengaruhi hasil,
membuat hasil menjadi bias dan faktor-faktor tersebut
harus dikendalikan agar hasil penelitian tidak menjadi bias.
Variabel pada penelitian ini meliputi:
72

1. Variabel terkendali yaitu sumber daya, biaya langsung


tindakan HD, gaji pegawai, biaya listrik, biaya air,
biaya telepon, biaya kebersihan, dan biaya langganan.
2. Variabel yang tidak terkendali yaitu merk dari BMHP
(Bahan Medis Habis Pakai) unit HD. Pada penelitian
ini merk BMHP diseragamkan satu merk sehingga
tidak menimbulkan bias pada perhitungan.

D. Definisi Operasional

Definisi operasional yang digunakan dalam

penelitian yang akan dilakukan yaitu:


1. Tarif Hemodialisis yaitu biaya yang harus
dikeluarkan selama proses HD, dari awal hingga
akhir proses, termasuk biaya administrasi,
bahan habis pakai, dan jasa medis.
2. Unit cost HD adalah hasil perhitungan biaya
operasional tindakan HD yang diberikan dibagi
dengan jumlah tindakan yang diberikan,
73

menggunakan metode modifikasi ABC (Activity


Based Costing)-Baker.
3. Aktivitas adalah tindakan-tindakan yang
dilaksanakan saat tindakan HD yang menimbulkan
biaya aktivitas.
4. Cost driver adalah cara untuk membebankan
biaya pada aktivitas atau produk.
5. Metode ABC (Activity Based Costing) adalah metode
untuk menentukan unit cost yang didasarkan pada
aktivitas dan sumber daya yang digunakan untuk
melakukan aktivitas tersebut (Baker, 1998).
6. Sumber daya (resources) adalah biaya-biaya sumber
daya yang akan dibebankan pada aktivitas. Sumber
daya dalam penelitian ini terbagi dalam empat
kategori; labour related (seperti gaji pegawai, uang
makan), equipment related (seperti penyusutan alat-
alat medis dan non medis rumah sakit serta alat tulis
kantor), space related (seperti depresiasi bangunan,
perawatan bangunan rumah sakit serta sewa
74

bangunan) dan service related (seperti administrasi


pusat termasuk gaji direktur, wadir dan staf
administrasi, pemasaran, laundry, listrik, telepon, air
dan sistem informasi) (Baker 1998).
7. Biaya langsung adalah biaya yang dapat dibebankan
secara langsung kepada objek biaya atau produk,
yaitu biaya habis pakai dan biaya jasa dokter di unit
HD (Baker 1998).
8. Biaya Overhead adalah semua biaya produksi selain
biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung
(Baker 1998).
9. Direct resources overhead adalah biaya overhead yang
secara langsung berhubungan dengan pasien yaitu
gaji pegawai, biaya pemeliharaan gedung dan alat,
biaya pengadaan, biaya listrik, biaya air, biaya
telepon, biaya kebersihan dan biaya linen di unit HD
(Baker 1998).
10. Indirect resources overhead adalah biaya overhead
non fungsional, yaitu biaya gaji pegawai non
75

fungsional dan pemeliharaan gedung dan alat non


fungsional, biaya depresiasi gedung dan alat, biaya
pemeliharaan dan perbaikan alat dan gedung non
fungsional, biaya depresiasi,mesin dan instalasi non
fungsional dan perabotan serta alat kantor non
fungsional (Baker 1998).
11. Tarif INA-CBG’s adalah tarif berdasarkan
pengelompokan diagnosis yang mempunyai
kedekatan secara klinis dan homogenitas sumber
daya yang dipergunakan. Tarif ini ditetapkan oleh
Kementrian Kesehatan yang dibagi sesuai regional
wilayah dan tipe rumah sakit.

E. Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian menggunakan data tentang
tahapan proses HD, data keuangan (gaji karyawan, biaya
listrik, biaya air, BMHP, biaya telepon, biaya pemeliharaan,
biaya umum) dan rekam medis unit HD serta alat pengukur
waktu (stop watch) yang digunakan untuk mengukur
76

lamanya waktu yang diperlukan selama proses HD, sejak


pasien datang sampai pulang. Data yang digunakan berupa
data primer dan data skunder.

F. Analisis Data
Data penelitian ini adalah data primer dan data
skunder. Data primer berupa informasi langsung dari
sumbernya berupa menanyakan langsung kepada
responden. Data skunder berupa catatan medis pasien yang
mendapat tindakan HD serta distribusi biaya operasional
rumah sakit. Metode analisis biaya yang digunakan adalah
berdasarkan metode modifikasi ABC (Activity Based Costing)-
Baker. Biaya yang digunakan adalah biaya langsung yaitu
biaya yang melekat secara langsung pada petugas,
diperoleh dengan cara penelusuran secara langsung dan
biaya tak langsung yaitu biaya-biaya yang terdapat pada
unit penunjang. Adapun cara menghitung biaya tak
langsung (Rozycki dkk, 2008) adalah:
77

1. Menentukan kategori biaya, yaitu kelompok biaya


yang menimbulkan biaya pada tindakan HD.
2. Mengidentifikasikan aktivitas. Aktivitas yang terjadi pada
setiap kelompok biaya diidentifikasikan dan didefinisikan
dengan kegiatan pelayanan masing-masing aktivitas.
Penentuan tarif tindakan HD di RSMS sebesar Rp
1.300.000,- ditentukan berdasarkan tarif yang telah ada di
rumah sakit yayasan induk sebelumnya dan tarif tindakan
HD berdasarkan INA-CBG’s ditentukan berdasarkan regional
dan tipe rumah sakit. Tindakan HD di RSMS pada tarif
INA-CBG’s termasuk regional V dengan tipe rumah sakit
tipe D yaitu sebesar Rp 841.300,- .

G. Tahapan Penelitian
1. Tahap Persiapan
a. Tahap ini penulis menyelesaikan proses administrasi
perizinan penelitian.
b. Menyiapkan bahan dan peralatan yang digunakan
dalam penelitian.
78

2. Tahap Pelaksanaan
a. Untuk pengambilan data dilakukan pada jam pelayanan
ke narasumber.
b. Sebelum pengambilan data narasumber telah diberi
tahu maksud dan tujuan pengambilan data.
c. Narasumber adalah seluruh pegawai RSMS yang
mengetahui tentang tindakan dan biaya dari
tindakan HD di unit Heamodialisis RSMS.

3. Pengolahan Data
Dari pengumpulan data primer dan data skunder,
dilakukan pengolahan data biaya langsung maupun tak
langsung pada unit HD, setelah itu dianalisa dengan
metode modifikasi ABC-Baker sesuai langkah teori Baker
(1998). Hasil analisis digambarkan sebagai berikut:

a. Identifikasi alur untuk mengetahui anlisa biaya.


b. Menentukan activity centers terkait tindakan HD
yang terdapat di clinical pathway.
c. Menentukan kategori biaya dan cost driver dari
masing-masing kategori biaya.
79

d. Mebebankan biaya langsung yang dikonsumsi di


unit HD.
e. Menentukan besarnya biaya direct dan indirect
resources overhead yang dikonsumsi masing-
masing aktivitas dengan menggunakan metode
proporsi pada unit HD.

f. Menjumlahkan total biaya direct dan indirect resources

overhead pada activity center di unit HD.

1) Indirect resources overhead


a) Menentukan dan menjumlahkan indirect resources
overhead yang terdiri dari empat kategori; labour
related, equipment related, space realted dan service
related pada unit non fungsional.
b) Menentukan jumlah proporsi biaya indirect
resources overhead yang dikonsumsi oleh activity
center menggunakan jumlah pendapatan activity
centers dalam satu tahun.
80

c) Menentukan jumlah proporsi biaya indirect


resources overhead yang dikonsumsi oleh masing-
masing activity centers khususnya pada unit HD.
2) Direct resources overhead
a) Menentukan dan menjumlahkan direct resources
overhead yang terdiri dari empat kategori;
labour related, equipment related, space realted dan
service related pada unit HD.
b) Menentukan jumlah proporsi biaya direct
resources overhead yang dikonsumsi oleh
masing-masing activity center menggunakan
waktu pada unit HD.
c) Membebankan biaya overhead ke dalam masing-
masing activity centers dalam clinical pathway.
d) Menjumlahkan biaya langsung dan overhead
yang terdapat dalam clinical pathway.
e) Membandingkan unit cost tindakan HD metode
modifikasi ABC-Baker dengan tarif INA-CBG’s.
81

H. Etika Penelitian
Menurut Nursalam (2008), pengumpulan data dalam
penelitian dilakukan dengan mempertimbangkan prinsip
manfaat, prinsip menghargai hak-hak subjek dan prinsip
keadilan. Pada penelitian ini peneliti telah melakukan sesuai
dengan prosedur yang berkaitan dengan etika penelitian
terutama yang berhubungan dengan subjek penelitian.
82

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian
Berdasarkan hasil wawancara dan observasi di
RSMS, peneliti diberi kesempatan untuk mendapatkan data
yang diperlukan demi menunjang penelitian yang akan
dilakukan. Data yang ditampilkan pada hasil penelitian ini
adalah data primer dan data skunder (data yang telah diolah
kembali oleh peneliti). Adapun asumsi yang digunakan dalam
perhitungan pada penelitian ini berdasarkan asumsi yang
digunakan di RSMS, yaitu:
 Asumsi perhitungan listrik dengan harga Rp
1.209,00 per Kwh
 Asumsi perhitungan biaya kebersihan yaitu Rp
14.914/m2
 Asumsi proporsi pembebanan tiap unit berdasarkan
proporsi pendapatan per unit
83

1. Identifikasi Aktivitas
Berdasarkan SOP HD di RSMS dapat ditentukan
activity center di unit hemodialisa seperti tertuang dalam
tabel 4.1 dibawah ini.

Tabel 4.1. Activity center unit HD RSMS

Activity center First Stage Second Stage


Cost Driver Cost driver
Pendaftaran pasien sesuai jadwal Waktu (menit) Jumlah kegiatan
Pemeriksaan berat badan Waktu (menit) Jumlah kegiatan
Anamnesis dan pemeriksaan tanda vital Waktu (menit) Jumlah kegiatan
Pemeriksaan fisik dan evaluasi pasien Waktu (menit) Jumlah kegiatan
Membilas mesin dengan cairan Waktu (menit) Jumlah kegiatan
disinfektan dan air di dalam sirkulasi
mesin
Memasang selang pada infuse Waktu (menit) Jumlah kegiatan
Mengisi cairan NaCl ke cairan ekstra Waktu (menit) Jumlah kegiatan
corporeal

Menyambungkan dialiser ke dialisat Waktu (menit) Jumlah kegiatan


Melakukan akses vaskuler kepada Waktu (menit) Jumlah kegiatan

pasien
Memprogram alat HD (selama 4jam) Waktu (menit) Jumlah kegiatan
Melepas alat dan mematikan mesin Waktu (menit) Jumlah kegiatan
Pasien pulang Waktu (menit) Jumlah kegiatan
84

Setelah mengetahui aktivitas-aktivitas yang ada,


maka dapat diidentifikasi biaya-biaya yang timbul atas
pengkonsumsian sumber daya saat melakukan aktivitas
tersebut. Dari tabel activity centers di atas, dapat
dikelompokkan secara garis besar 4 kegiatan yaitu
pendaftaran pasien, pemeriksaan berat badan pasien,
anamnesis, pemeriksaan tanda vital, permeriksaan fisik
dan evaluasi pasien serta proses HD yang dimulai dari
membilas mesin, memasang selang infuse, mengisi cairan
NaCl, menyambungkan dialisat ke dialiser, melakukan
akses vaskuler, memprogram mesin HD, melepas alat dan
mematikan mesin.

a. Aktivitas pendaftaran pasien sesuai jadwal

Biaya yang timbul dari aktivitas pendaftaran


pasien sesuai jadwal ini diantaranya adalah biaya di
unit pendaftaran dan biaya-biaya dari unit manajerial.
Data yang diperoleh dari pihak keuangan, unit
administrasi dan unit manajerial dimasukkan dalam
biaya dari unit non fungsional. Pada perhitungan unit
85

cost modifikasi ABC-Baker komponen biaya tersebut


dimasukkan dalam kategori biaya indirect resources
overhead, di dalam kategori tersebut meliputi 4
komponen pokok yaitu labour related (gaji pokok,
tunjangan, dana kesehatan dan biaya lain yang
dikeluarkan untuk pegawai yang ada di unit non
fungsional), equipment related (biaya perabotan dan
alat kantor termasuk inventaris dan kendaraan serta
penyusutan dari alat-alat tersebut di unit non
fungsional), space related (biaya pemeliharaan dan
perbaikan serta penyusutan gedung unit non
fungsional) dan service related (biaya pemakaian
barang pengadaan, biaya listrik, telepon air dan
kebersihan di unit non fungsional).

b. Pemeriksaan berat badan


Pemeriksaan berat badan ini dilakukan oleh
perawat unit HD. Biaya yang dibebankan dalam
aktivitas ini adalah berupa gaji yang diterima oleh
perawat unit HD. Pada perhitungan unit cost
86

modifikasi ABC-Baker komponen biaya tersebut


dimasukkan dalam kategori biaya direct resources
overhead unit HD yaitu labour related.
c. Anamnesis, pemeriksaan tanda vital, pemeriksaan
fisik dan evaluasi pasien
Biaya yang dibebankan pada aktivitas anamnesis,
pemeriksaan tanda vital, pemeriksaan fisik dan
evaluasi pasien adalah berupa gaji yang diterima
oleh dokter umum pelaksana HD, jasa medis visit
dokter spesialis penyakit dalam dan gaji dokter
konsultan ginjal hipertensi sebagai
penanggungjawab unit HD RSMS. Pada perhitungan
unit cost modifikasi ABC-Baker komponen biaya
tersebut dimasukkan dalam kategori biaya direct
resources overhead unit HD yaitu labour related.
d. Proses HD (Membilas mesin dengan cairan disinfektan
dan air di dalam sirkulasi mesin, memasang selang
pada infuse, mengisi cairan NaCl, menyambungkan
dialisat ke dialiser, melakukan akses
87

vaskuler, memprogram mesin HD, melepas alat


dan mematikan mesin)
Biaya yang dibebankan dalam aktivitas proses
HD ini berupa pemakaian BMHP, jasa perawat unit
HD dan biaya listrik. Biaya BMHP akan masuk
kedalam biaya direct tracing sedangkan biaya lainnya
akan masuk dalam kategori biaya direct resources
overhead HD merujuk pada perhitungan unit cost
modifikasi ABC-Baker, yang didalam kategori
tersebut meliputi 4 komponen pokok yaitu labour
related (gaji pokok, tunjangan, dana kesehatan dan
biaya lain yang dikeluarkan untuk pegawai yang ada
di unit HD), equipment related (biaya perabotan dan
alat kantor termasuk inventaris dan penyusutan dari
alat-alat tersebut di unit HD), space related (biaya
pemeliharaan dan perbaikan serta penyusutan
gedung unit HD) dan service related (biaya
pemakaian barang pengadaan, biaya listrik, telepon
air dan kebersihan di unit HD).
88

2. Klasifikasi Sumber Daya di Unit HD


Sumber daya di unit HD terbagi dalam 4
kelompok yaitu :

a. Labour related
Sumber daya manusia di unit HD pada tahun 2015
terdapat 1 orang dokter umum pelaksana HD, 2
orang perawat HD, 1 orang dokter spesialis penyakit
dalam dan 1 orang dokter konsultan Ginjal
Hipertensi yang merupakan supervisi di Unit HD
RSMS. Labour related adalah biaya pegawai seperti
gaji, lembur, tunjangan, insentif, biaya perjalanan
dinas, biaya pelatihan, gizi, uang makan dan dana
kesehatan yang dikeluarkan oleh unit HD untuk
kepentingan SDM di unit tersebut.
89

Table 4.2 Biaya Gaji dan Tunjangan Karyawan HD RSMS Tahun 2015

No Keterangan Gaji (Rp) Tunjangan Tunjangan Total


(a)
Jabatan Kerja (Rp) (a+b+c)

(c)
1 Perawat (Rp) (b)
79.853.328 27.666.672 23.466.672 130.986.672
2 Dokter 25.239.996 24.000.000 76.666.668 125.906.664
Umum
3 Dokter 60.000.000 60.000.000
Sp.PD KGH
Total (A) 316.893.336
Sumber: Data Primer Biaya Gaji Karyawan Unit HD RSMS tahun 2015

Pada table 4.2 di atas dapat dilihat biaya


pengeluaran unit HD RSMS pada tahun 2015 untuk
biaya pegawai unit HD. Biaya ini akan digunakan
pada perhitungan biaya direct resources overhead
atau pembebanan langsung unit HD.

b. Equipment related
Pada unit HD yang termasuk equipment related yaitu
alat medis (mesin HD sebanyak 4 unit, tempat tidur
pasien sebanyak 5 unit, stetoskop, tensimeter,
termometer, timbangan badan) dan alat non medis
(1 unit televisi, nurse station set, 5 unit pendingin
ruangan, 1 unit lemari pendingin, 11 lampu
90

penerangan dan 1 unit komputer). Penggunaan alat


listrik tersebut kecuali lemari pendingin, mengikuti
jadwal tindakan HD dan komputer hanya digunakan
satu kali dalam 1 bulan untuk merekap data di unit
HD. Equipment related adalah biaya penyusutan alat
medis dan non medis, pemeliharaan dan perbaikan
alat. Pada akhir masa ekonomis alat tidak dihitung
lagi depresiasinya dan dianggap tidak ada sisa. Pada
penelitian ini depresiasi inventaris mengikuti standar
RSMS yaitu selama 5 tahun untuk inventaris non
medis dan 4 tahun untuk inventaris medis. Untuk
mesin HD tidak dihitung biaya penyusutannya
dalam perhitungan unit cost karena dimiliki dengan
KSO. Pihak RS wajib membeli BMHP dari pihak B-
Braun sesuai kesepakatan. Sedangkan semua
inventaris lain dibeli oleh rumah sakit secara cash
pada tahun 2014. Proses HD pada mesin B-Braun di
unit HD RSMS menggunakan single use.
91

Tabel 4.3 Biaya Equipment Related Unit HD RSMS Tahun 2015

Keterangan Harga Beli (Rp) Biaya (Rp)

Biaya Depresiasi Inventaris Ruang HD :


1.Alat Medis (tempat tidur pasien
sebanyak 5 unit, stetoskop, tensimeter,
termometer, timbangan badan) 12.645.665 3.161.416(a)
2. Alat Non Medis (1 unit televisi, nurse
station set, 5 unit pendingin ruangan, 1
unit lemari pendingin, 11 lampu
penerangan dan 1 unit komputer) 35.779.858 7.155.917(b)
Total 48.425.250 10.317.333
Total (B) 10.317.333
Keterangan :
(a) = Harga beli inventaris medis ruang HD : 4 (tahun)
(b) = Harga beli inventaris non medis ruang HD : 5 (tahun)

Sumber: Data Inventaris Ruang HD (diolah kembali)

c. Space related
Pada kategori ini termasuk biaya pemeliharaan dan
depresiasi gedung dari unit HD. Biaya pemeliharaan
yang dikeluarkan oleh unit HD di tahun pertama ini
masih tergolong kecil, karena gedung dan fasilitas
di unit tersebut masih baru. Biaya pemeliharaan
gedung sebesar Rp 1.050.000,00. Gedung HD ini
92

dibangun oleh pihak rumah sakit menggunakan kas


rumah sakit, gedung dibangun pada tahun 2013.
Space related adalah biaya penyusutan gedung dan
bangunan selama 20 tahun serta pemeliharaan dan
perbaikan gedung dan bangunan. Luas bangunan
unit HD yaitu 118.5 m2. Harga gedung HD RSMS
menggunakan standar akuntansi tahun 2013 dengan
nilai penyusutan selama 20 tahun.

Tabel 4.4 Biaya Space Related Unit HD RSMS Tahun 2015

Keterangan Harga Beli Biaya (Rp)


Biaya Pemeliharaan dan Perbaikan 1.050.000
Biaya Depresiasi Gedung HD 750. 082.600 37.504.130(a)
Total (C) 38.554.130
Keterangan :
(a) = Harga beli gedung HD : 20 (tahun)
Sumber: Data Inventaris Ruang HD (diolah kembali)

d. Service related
Unit HD memiliki service related yang meliputi biaya
kebersihan, listrik, air, pengadaan alat medis dan
non medis, alat tulis dan alat rumah tangga. Data
keuangan di RSMS untuk unit HD belum lengkap,
sehingga untuk pengeluaran dari unit HD
93

sendiri baru ada beberapa item. Untuk biaya listrik,


peneliti menghitung sendiri dengan menggunakan
dasar asumsi yang ada di RSMS. Hasil perhitungan
biaya listrik unit HD dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 4.5 Total Biaya Listrik Unit HD RSMS Tahun 2015

No Alat Listrik Jumlah Daya Durasi Total Biaya Biaya Biaya


(Pcs) a (watt) b
(jam) c Daya Harian Bulanan
Tahunan (Rp)
(Kwh) d
(Rp) e (Rp) f

1 Lampu 4 8 5 0.16 193 4.831 1.449.300


2 Ac 1 220 7 1.54 1.862 46.547 558.558
Ac 677 220 5 745 900.342
3 Mesin HD 677 2.500 5 8.463 10.231.163
4 Lemari 1 115 24 2.76 3334 100.022 1.200.264
Pendingin
5 Televisi 1 130 8 1.04 1258 31.434 377.208
6 Komputer 1 575 2 1.15 1389 1.389 16.668
Total 14.733.503
Keterangan :
1 Kwh = Rp 1.209,00
d = a*b*c
e = d*harga per Kwh (Rp 1.209)
f = e*25hari (kecuali lemari pendingin dikalikan 30hari dan komputer dikalikan 1hari)
94

Table 4.6 Biaya Service Related Unit HD RSMS Tahun 2015

No Keterangan Biaya (Rp)


1 Biaya Pemakaian Barang Pengadaan 13.997.786
2 Biaya Listrik dan Air Unit HD 14.733.503
3 Biaya Kebersihan Unit HD 2.316.013
Total (D) 31.047.302
Sumber: Data Pengeluaran Unit HD Tahun 2015 (diolah kembali)

3. Identifikasi Biaya Direct Tracing


Biaya langsung atau direct tracing pada tindakan
HD meliputi jasa dokter dan BMHP, harga BMHP untuk
lima bahan pokok B-Braun sesuai kesepakatan awal
kontrak KSO dengan pihak RSMS. Lima bahan pokok
tersebut yaitu Blood Line (Mega Musi), Diacap Loop S15
Dialysat, Sol Card B, Acidic HD 5L, dan Diacan Arteri
G16. Biaya direct tracing dapat dilihat pada tabel di
bawah ini. Tarif pada tabel di bawah ini berupa harga
pokok dari BMHP.
95

Tabel 4.7 Direct Cost Tindakan HD RSMS Tahun 2015

Kategori Biaya Satuan Jumlah Biaya Jumlah


(b)
Satuan (Rp)(a)
Pendaftaran Aktivitas 1 10.000,00
(Rp)(c) 10.000,00
Konsul dokter spesialis Tindakan 1 40.000,00 40.000,00

Blood Line (Mega Musi) Pcs 1 120.780,00 120.780,00


Diacap Loop S15 Dialysat Pcs 1 227.700,00 227.700,00
Sol Card B Pcs 1 108.900,00 108.900,00
Acidic HD 5L Galon 1 123.750,00 123.750,00
Diacan Arteri G16 Pcs 2 8.984,25 17.968,50
Heparin Inj Cc 1 9.900,00 9.900,00
Spuit 1cc BD Pcs 1 1.100,00 1.100,00
Spuit 3cc BD Pcs 1 1.586,68 1.596,68
Spuit 20cc Terumo Pcs 1 14.300,00 14.300,00
Standar Infus Set Otsuka Pcs 1 12.760,00 12.760,00
NaCl 0.9% 500cc Otsuka Flash 3 12.540,00 37.620,00
Alcohol Swab Pcs 2 400,00 800,00
Sensi Gloves Pcs 2 660,00 1.320,00
Micropore 1/2 inci Cm 10 38,00 380,00
Kassa Lembar 3 300,00 900,00
Leukopast Cm 10 77,00 770,00
Wipax Cm 15 154,00 2,310,00
Citric Acid Cc 1 7.00,00 7.00,00
Total 739.845,18
Ket: a=bxc, a=biaya total, b=biaya satuan, c=harga satuan
Sumber: Data Primer RSMS

4. Identifikasi Biaya Overhead


Menurut Baker (1998), dalam perhitungan unit
cost metode ABC terdapat dua komponen utama yang
mempengaruhi yaitu unit fungsional dan unit non
96

fungsional. Unit fungsional yaitu unit yang menghasilkan


(revenue) dan unit non fungsional adalah unit yang tidak
menghasilkan (non revenue). Biaya overhead terdiri dari
indirect resources overhead dan direct resources overhead yang
dikonsumsi masing-masing aktivitas dengan
menggunakan proporsi waktu pada unit pelayanan HD.
Untuk menghitung biaya overhead membutuhkan data
pengeluaran unit non fungsional dan unit HD sebagai unit
fungsional. Selain itu perlu diketahui juga pendapatan total
rumah sakit dan pendapatan per unit fungsional yang
akan dipakai untuk mencari proporsi pendapatan unit HD
tahun 2015.

Tabel 4.8 Jumlah Pasien RSMS Tahun 2015

Unit Fungsional Jumlah Pasien


Rawat Jalan 34561
Rawat Inap 5652
Bedah Sentral 762
VK 533
IGD 7382
HD 667
Penunjang (laboratorium, 30893
radiologi dan fisioterapi) Total 80450
Sumber: Data Primer Total Pasien RSMS Tahun 2015
97

Biaya overhead dibagi dua kelompok indirect


resources overhead dan direct resources overhead.
Menurut teori Baker (1998), biaya overhead ini terbagi
empat kategori di tiap masing-masing kelompoknya
yaitu labour related, equipment related, space related dan
service related.

a. Biaya Indirect Resources Overhead


Biaya indirect resources overhead meliputi semua
biaya yang dikeluarkan oleh unit non fungsional atau
non revenue yang nantinya akan dibebankan ke unit
HD sesuai proporsi pembebanan. Biaya indirect
resources overhead ini ada 4 (empat) macam yaitu:

1. Labour related
Labour related adalah biaya pegawai seperti gaji,
lembur, tunjangan, insentif, biaya perjalanan dinas,
biaya pelatihan, gizi, uang makan dan dana
kesehatan. Berdasarkan wawancara dengan wakil
direktur bagian umum yang merujuk pada data
karyawan tahun 2015, unit non fungsional di RSMS
98

memiliki jumlah karyawan sebanyak 40 orang


meliputi 2 orang direksi, 5 pegawai administrasi, 2
pegawai HRD, 2 pegawai keuangan, 3 pegawai
EDP (entry data processing), 8 orang satpam dan 18
orang CS (cleaning service) yang didalamnya
terdapat dua petugas laundry.

Tabel 4.9 Biaya Labour Related Unit Non Fungsional Tahun 2015

No Keterangan Biaya (Rp)


1 Gaji Pokok dan Tunjangan
a. Administrasi 978.304.025
b. Direksi 488.475.000
c. HRD 684.840.000
d. Keuangan 514.566.000
e. EDP 118.131.000
f. Satpam 28.623.377
g. CS 64.402.598
Total Gaji dan Tunjangan 2.877.342.000
No Keterangan Biaya (Rp)
2 Snack Karyawan 36.100.400,00
3 Tunjangan Kesehatan 96.678.988,00
4 Tunjangan Peralihan 9.996.000,00
5 Perjalanan Dinas 216.091.993,00
Total (E) 3.255.353.566,00
Sumber: Data Primer Pengeluaran RSMS 2015
99

2. Equipment related
Adalah biaya penyusutan alat medis dan non medis,
pemeliharaan dan perbaikan alat. Pada akhir masa
ekonomis alat tidak dihitung lagi depresiasinya dan
dianggap tidak ada sisa. Pada penelitian ini
depresiasi inventaris selama 5 tahun. Berdasarkan
hasil wawancara dengan kepala keuangan RSMS,
unit non fungsional memiliki inventaris berupa
perabotan dan alat kantor keseluruhan senilai Rp
466.411.809,00.
Unit non fungsional ini memiliki dua buah
mobil dan sebuah sepeda motor sebagai kendaraan
dinas dan dibeli dengan uang kas rumah sakit. Dari
data inventaris rumah sakit nilai kendaraan dinas
tersebut adalah sebesar Rp 874.230.000,00
selanjutnya dapat dihitung nilai depresiasi nya
selama 5 tahun didapat nilai sebesar Rp
174.846.000,00. Menurut data primer inventaris
RSMS tahun 2015 yang didapat dari kepala
100

keuangan, unit non fungsional memiliki inventaris


yang nilainya sebesar Rp 165.015.809,00 meliputi
perangkat komputer sebanyak 14 unit, pendingin
ruangan sebanyak 18 unit, sofa tamu sebanyak 7
set, kulkas 2 unit, dan televisi sebanyak 3 unit.
Berikut data yang diterima peneliti dari kepala
keuangan RSMS terkait biaya yang terdapat di unit
non fungsional yang selanjutnya dapat digunakan
sebagai data untuk menghitung biaya indirect
resources overhead.

Tabel 4.10 Biaya Equipment Related Unit Non Fungsional Tahun 2015

No Keterangan Harga Beli Biaya (Rp)


(Rp)
1 Biaya Perabotan 126.550.000
dan Alat Kantor
2 Biaya Deprisiasi 874.230.000 174.846.000(a)
Kendaraan
3 Biaya Depresiasi 825.079.045 165.015.809(a)
Inventaris
Total (F) 466.411.809
Keterangan :
(a) = Harga beli inventaris unit non fungsional : 5 (tahun)
Sumber: Data Primer Pengeluaran RSMS 2015
101

3. Space related
Adalah penyusutan gedung dan bangunan selama
20 tahun serta pemeliharaan dan perbaikan
gedung dan bangunan. Berdasarkan hasil
wawancara dengan kepala keuangan RSMS unit
non fungsional berdiri di gedung berlantai dua
dengan luas bangunan 333 m2 yang memiliki nilai
gedung Rp 2.458.156.320,00. Gedung ini
merupakan gedung operasional unit non
fungsional RSMS. Gedung unit non fungsional ini
terpisah dari unit fungsional. Nilai depresiasi
gedung unit non fungsional ini adalah 20 tahun
sehingga didapat biaya depresiasi gedung per
tahun sebesar Rp 122.907.816,00. Biaya yang ada
di tabel berikut merupakan biaya yang dikeluarkan
oleh gedung di unit non funsional, tidak termasuk
bangunan fungsional lain seperti gedung HD,
gedung ICU dan gedung unit fungsional lainnya.
102

Tabel 4.11 Biaya Space Related Unit Non Fungsional Tahun 2015

No Keterangan Harga Beli Biaya (Rp)


(Rp)
1 Biaya Pemeliharaan
dan Perbaikan
a. Biaya Taman 60.165.000
b. Program Komputer 45.000.000
Keuangan
c. Pemeliharaan 11.798.000
Kendaraan
d. Pemeliharaan 13.808.900
Laundry
e. Perbaikan 1.150.000
f. Perbaikan Jaringan
Gedung 2.766.000
Komputer
g. Pemeliharaan Alat 11.882.000
Kantor
h. Perbaikan Unit 4.960.691
Administrasi
Total 151.530.591
2 Biaya Depresiasi 2.458.156.320 122.907.816(a)
Gedung
Total (G) 274.438.407
Keterangan :
(a)=harga beli gedung unit non fungsional : 20 (tahun)
Sumber: Data Primer Pengeluaran RSMS 2015
103

4. Service related
Adalah biaya kebersihan, listrik, air, telepon,
pengadaan alat medis dan non medis, alat tulis
kantor dan alat rumah tangga. Unit non fungsional
menghabiskan dana sebesar Rp 34.615.200,00
untuk pemakaian barang pengadaan pada tahun
2015 yang meliputi cetakan amplop dengan logo
rumah sakit, stiker logo rumah sakit, baju seragam
hari ulang tahun rumah sakit dan formulir yang
berkaitan dengan bagian administrasi serta
keuangan. Untuk biaya kantor dan langganan unit
non fungsional mengeluarkan biaya sebesar Rp
107.193.781,00 dalam satu tahun terdiri dari biaya
telepon dan listrik serta air. Biaya di unit non
fungsional ini merupakan biaya primer yang
didapat dari bagian keuangan. Hingga saat ini
pembagian biaya per unit non fungsional
dikelompokan menjadi satu oleh bagian keuangan
rumah sakit.
104

Table 4.12 Biaya Service Related Unit Non Fungsional


RSMS Tahun 2015

No Keterangan Biaya (Rp)


1 Biaya Pemakaian Barang 34.615.200
Pengadaan
2 Biaya Listrik dan
Langganan
a. Telepon Kantor 78.156.078
b. Listrik dan Air 29.037.703
Total Biaya Kantor dan 107.193.781

Langganan
3 Biaya Kebersihan 8.700.000
Total (H) 150.508.981
Sumber: Data Primer Pengeluaran di Unit Non
Fungsional RSMS 2015

Biaya pada unit non fungsional ini pada


perhitungan unit cost metode modifikasi ABC-Baker
akan diolah ke indirect resources overhead dengan
dasar pembebanan berdasarkan pendapatan.
Seluruh biaya yang terdapat di dalam tabel-tabel di
atas adalah biaya yang menurut Baker (1998) ikut
membebani unit HD nantinya (indirect resources
overhead). Biaya indirect resources overhead ini
105

didapat dari perhitungan dari data sebelumnya yaitu


dengan menjumlahkan Total E (tabel 4.8) + Total F
(tabel 4.9) + Total G (tabel 4.10) + Total H (tabel
4.11) atau dapat dilihat pada tabel berikut ini.

Tabel 4.13. Biaya Indirect Resources Overhead RSMS Tahun

2015

Labour Related Cost Driver Biaya (Rp)


Biaya Pegawai Jumlah Pegawai 3.255.353.566,00
Equipment Related
Biaya Perabotan dan Alat Kantor Jam Kerja 126.550.000,00
Biaya Depresiasi Kendaraan Jam Kerja 174.846.000,00
Biaya Depresiasi Inventaris Jam Kerja 165.015.809,00
Space Related
Biaya Pemeliharaan dan Perbaikan Luas Lantai 151.530.591,00
Biaya Depresiasi Gedung Luas Lantai 122.907.816,00
Service Related
Biaya Pemakaian Barang Jam Kerja 34.615.200,00
Pengadaan
Biaya Listrik dan Langganan Kwh dan Jam Kerja 107.193.781,00
Biaya Kebersihan Luas Lantai 8.700.000,00
Total 4.146.712.763,00
Sumber: Data Primer RSMS

Berdasarkan tabel di atas tampak bahwa


biaya indirect resources overhead RSMS tahun 2015
adalah sebesar Rp 4.146.712.763,00 yang akan
dibebankan kepada unit fungsional RSMS dengan
menggunakan dasar proporsi jumlah pendapatan
106

pada unit HD RSMS berbanding pendapatan total


rumah sakit dalam 1 tahun. Perhitungan proporsi
persentase pendapatan per unit fungsional ini
berdasarkan asumsi dari pendapatan masing-masing
unit fungsional yang dibagi dengan total pendapatan
rumah sakit dalam satu tahun dikalikan 100%.
Proporsi pendapatan tersebut dapat dilihat pada
tabel berikut.

Tabel 4.14 Jumlah Pasien dan Pendapatan di Unit Fungsional RSMS

Unit Fungsional Jumlah Jumlah Pendapatan Proporsi


Pasien (Rp)

Rawat Jalan 34561 2.647.072.099 6.7%


Rawat Inap 5652 19.326.005.872 48%
Bedah Sentral 762 8.832.270.410 22.2%
VK 533 2.604.421.810 6.5%
IGD 7382 1.810.546.867 4.7%
HD 667 622.337.680 1.5%
Penunjang 30893 3.907.831.283 10%
Total 80450 39.750.486.240 100%
Keterangan :
Proporsi = Jumlah pendapatan unit : Total pendapatan RSMS x 100%
Sumber: Data Primer RSMS Tahun 2015
107

Tabel 4.15 Dasar Pembebanan Biaya Indirect Resources Overhead RSMS Tahun 2015

Pemasukan RSMS Total Rp 39.750.486.240,00


Pemasukan dari Unit HD Rp 622.337.680,00
Proporsi 1.5%
Biaya total indirect resources Rp 4.146.712.763,00
Biaya indirect resources HD(a) Rp 62.200.691,00
Biaya indirect resources per pasien(b) Rp 93.254,00
Keterangan :
(a) Biaya Indirect resources HD = Total Indirect Resources x proporsi (1.5%)
(b) Biaya Indirect resources per pasien = Biaya Indirect resources HD :
Sumber: Data yang sudah diolah
jumlah pasien HD dalam satu tahun (667 pasien)
Berdasarkan tabel di atas, tampak bahwa
pembebanan biaya indirect resources pada unit HD
sebesar Rp 62.200.691,00 didapat dari proporsi 1.5%
dikalikan biaya total indirect resources overhead, sehingga
apabila dibebankan ke tiap pasien maka per pasien
akan terkena biaya sebesar Rp 93.254,00.

b. Biaya Direct Resources Overhead


Pada perhitungan biaya direct resources
overhead ini dilakukan dengan menjumlahkan biaya
yang terdapat pada sumber daya di unit HD (labour
related, equipment related, space related dan service
related). Biaya pada direct resources overhead ini
108

tidak termasuk dalam perhitungan di unit non


fungsional. Perhitungan dapat dengan menjumlahkan
Total A (tabel 4.2) + Total B (tabel 4.3) + Total C
(tabel 4.4) + Total D (tabel 4.5) atau dapat dilihat
jumlah biaya tersebut pada tabel berikut.

Tabel 4.16 Biaya Direct Resources Overhead RSMS Tahun 2015

Labour Related Cost Driver Biaya (Rp)


Biaya Pegawai Jumlah Pegawai 316.893.336,00
Equipment Related
Biaya Depresiasi Inventaris ruang Jumlah Pasien 10.317.333,30
Space Related
HD
Biaya Pemeliharaan dan Perbaikan Luas Lantai 1.050.000,00
Biaya Depresiasi Gedung Luas Lantai 37.504.130,00
Service Related
Biaya Pemakaian Barang Pengadaan Jumlah Pasien 14.977.785,80
Biaya Listrik dan Unit HD Kwh 14.733.503,00
Biaya Kebersihan Unit HD Luas Lantai 2.316.013,00
Total 396.812.101,00
Sumber: Data Primer RSMS

Berdasarkan tabel di atas, tampak bahwa


pembebanan biaya direct resources pada unit HD
sebesar Rp 396.812.101,00. Setelah mengetahui
bebanan biaya direct resources overhead ini, maka
biaya ini akan dibebankan kepada setiap pasien di
unit HD, dapat dilihat pada tabel berikut.
109

Tabel 4.17 Dasar Pembebanan Biaya Direct Resources Overhead RSMS Tahun 2015

Biaya total direct resources Rp 396.812.101,00


Biaya direct resources per pasien* Rp 594.921,00
Keterangan :
* biaya direct resources per pasien = biaya total direct resources : total
jumlah pasien HD dalam satu tahun (667 pasien)
Sumber: Data yang sudah diolah

Dari tabel 4.16 di atas tampak bahwa


pembebanan biaya direct resources overhead bagi unit
HD sebesar Rp 396.812.101,00 sehingga bila
dibebankan ke tiap pasien yaitu total biaya direct
resources HD dibagi total pasien HD dalam 1 tahun
(667 pasien) maka akan terkena biaya sebesar Rp
594.921,00. Untuk lebih memudahkan, penyajian
data total biaya overhead dari unit non fungsional
(indirect resources overhead) dan dari unit fungsional
HD (direct resources overhead) dapat dilihat pada tabel
di bawah ini.
1

Alokasi Total
Pegawai Biay a
(Rp)

Tabel. 4.18 Pengeluaran RSMS Per Unit Tahun 2015


Total Biaya Perabotan dan Depresiasi Depresiasi Pemeliharaan Depresiasi Pemakaian Listrik dan Kebersihan
Pengeluaran RS Alat Kantor Kendaraan Inventaris dan Perbaikan Gedung (m2) Barang Air (Kwh) (m2)
(Rp) (Rp) (Rp) (m2) Pengadaan
(Rp)
Biaya Pegawai 15.268.020.810
Biaya Perabotan dan Alat 1.003.174.760
Kantor
Biaya Depresiasi Kendaraan
Biaya Depresiasi Inventaris 687.822.060
110
Biaya Pemeliharaan dan 658.053.390 Perbaikan
Biaya Depresiasi Gedung 820.450.949
Biaya Pemakaian Barang 1.359.232.260
Pengadaan
Biaya Listrik dan Air 564.724.450
Biaya Kebersihan 264.396.020
Unit Terkait
Unit Non Fungsional 3.255.353.566 126.550.000 174.846.000 16.501.5809 151.530.591 122.907.816 34.615.200 19.037.703 8.700.000 4.058.556.685
Unit HD 316.893.336 10.317.333 1.050.000 37.504.130 13.997.786 14.733.503 2.316.013 396.812.101
Unit Fungsional Lainnya 14.918.573.908 876.624.760 337.642.918 483.207.390 660.039.003 1.310.619.274 503.953.244 253.380.007 16.140.737.243
Total 15.268.020.810 1.003.174.760 687.822.060 658.053.390 820.450.949 1.359.232.260 564.724.450 264.396.020 20.596.106.029

Sumber : Data Primer RSMS


111

5. Analisa Metode Modifikasi ABC-Baker dan Perhitungan


Penetapan Unit Cost Modifikasi ABC-Baker
Menurut Baker (1998), tahapan-tahapan dalam
menghitung unit cost metode ABC adalah sebagai berikut:
a. Menentukan tahapan aktivitas tindakan HD sesuai
SOP (tabel 4.1)
b. Membebankan biaya langsung (direct cost) yang
dikonsumsi pada tindakan HD (tabel 4.6). Dari tabel
didapat biaya langsung dari tindakan HD adalah sebesar
Rp 739.845,18.
c. Menentukan besarnya biaya indirect resources
overhead (tabel 4.12) dan direct resources overhead
(tabel 4.15) yang dikonsumsi masing-masing
aktivitas dengan menggunakan proporsi waktu
pada unit
pelayanan HD. Setelah melakukan perhitungan
biaya indirect resources overhead dan direct resources
overhead maka dapat diketahui biaya total overhead
per pasien dari unit HD yang tertuang dalam tabel
dibawah ini:
112

Tabel 4.19 Biaya Total Overhead Unit HD RSMS Tahun 2015

Biaya Indirect Resources Biaya Direct Jumlah Biaya


Overhead Resources Overhead Overhead
Rp 93.254,00 Rp 594.921,00 Rp 688.175,00

d. Membebankan biaya overhead ke dalam masing-


masing activity centers.
Setelah mengetahui biaya total overhead dari
unit HD, maka langkah selanjutnya adalah
membebankan biaya overhead ini ke dalam aktivitas
dari unit HD. Cara menghitung pembebanan biaya
overhead (indirect dan direct) = waktu per aktivitas /
total waktu aktivitas x total biaya overhead
Contoh pada activity center pendaftaran pasien
sesuai jadwal:
1. Pada biaya indirect resources overhead
5/52 x 93.254 = 8.966,7
2. Pada biaya direct resources overhead
5/52 x 594.921= 57.203,9
113

Hasil perhitungan pembebanan biaya overhead


(indirect resources overhead dan direct resources
overhead) ke activity center pada tindakan HD dapat
dilihat pada tabel 4.20, tiap aktivitas dalam tindakan
HD tersebut akan terbebani biaya indirect resources
overhead dan direct resources overhead. Sehingga
semakin besar biaya overhead dalam suatu
perhitungan maka tiap activity center akan terbebani
biaya yang tinggi pula. Activity centers turut
menanggung biaya overhead dari suatu tindakan.
114

Tabel 4.20 Pembebanan Biaya Overhead terhadap Aktivitas pada Unit HD

Activity center First Second Biaya Overhead


Stage Stage
Cost Driver Indirect Direct
Cost Driver
(Jumlah Resources Resources
Waktu
Pendaftaran pasien 5 1 8.966,7 57.203,9
(c) (d) (f)
aktivitas) Overhead Overhead
(menit)(a)
sesuai jadwal
Pemeriksaan berat badan 2 1 3.586,6 22.881,5
Anamnesis dan 5 1 8.966,7 57.203,9
pemeriksaan tanda vital
Pemeriksaan fisik dan 5 1 8.966,7 57.203,9
evaluasi pasien
Membilas mesin dengan 5 1 8.966,7 57.203,9
cairan disinfektan dan
air di dalam sirkulasi
Memasang
mesin selang pada 10 1 17.933,4 114.407,8
infuse
Mengisi cairan NaCl ke 1 8.966,7 57.203,9

Menyambungkan 1 8.966,7 57.203,9


5 cairan ekstra corporeal
Melakukan akses 5 1 8.966,7 57.203,9
5 dialiser ke dialisat
vaskuler kepada pasien
Memprogram alat HD 1 3.586,6 22.881,5

Melepas alat dan 5 1 8.966,7 57.203,9


2 (selama 4jam)
mematikan mesin
Pasien pulang
Total 52(b) 93.254(e) 594.921(g)
Total 688.175
Overhead(h)
Ket : d=a:b*c*e, f=a:b*c*g, a=waktu(menit), b=total waktu, c=jumlah aktivitas, d=biaya
indirect resources overhead per aktivitas, e=total biaya indirect resources overhead, f=biaya direct
resources overhead per aktivitas, g=total biaya direct resources overhead, h=total biaya overhead
115

e. Menjumlahkan biaya langsung dan overhead


Pada tahap terakhir yang harus dilakukan
dalam menghitung unit cost modifikasi ABC-Baker
(1998) adalah menjumlahkan semua biaya yang
muncul yaitu biaya langsung tindakan HD (direct
tracing), biaya indirect resources overhead dan biaya
direct resources overhead.

Tabel 4.21 Biaya Satuan Unit HD RSMS Tahun 2015

No Struktur Biaya Biaya (Rp)


1 Biaya Langsung Unit HD 739.845
2 Biaya Indirect resources overhead 93.254
3 Biaya Direct Resources Overhead 594.921
Total Biaya 1.428.020

Dari perhitungan di atas didapatkan unit


cost atau biaya satuan untuk unit HD dengan
metode modifikasi ABC-Baker adalah sebesar Rp
1.428.020,00.
116

B. Pembahasan

1. Hasil Perhitungan Unit Cost Modifikasi ABC-Baker


Tindakan HD dengan Perhitungan Tarif Tindakan HD
RSMS
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, dapat
diketahui bahwa unit cost metode modifikasi ABC-Baker
tindakan HD di RSMS adalah sebesar Rp 1.428.020,00. Pada
bab pendahuluan telah disampaikan bahwa RSMS memiliki
tarif pasien umum untuk tindakan HD sebesar Rp
1.300.00,00.

Tabel 4.22 Perbandingan Tarif Tindakan HD RSMS

Tarif RSMS Unit Cost Modifikasi Tarif INA-CBG’s

ABC-Baker
Rp 1.300.00,00 Rp 1.428.020,00 Rp 841.300,00

Menurut Mulyadi (2003) salah satu manfaat metode


ABC adalah mempertinggi pengendalian terhadap biaya
overhead. Pada perhitungan hasil penelitian ini didapatkan
biaya overhead yang tinggi per pasiennya. Faktor yang
117

menyebabkan tingginya biaya overhead unit HD RSMS


pada tahun 2015 antara lain:

a. Biaya direct overhead resources yang tinggi


Biaya overhead pada tindakan HD ini paling besar
dihasilkan oleh direct resources overhead atau pembebanan
langsung dari unit HD itu sendiri. Pembebanan unit HD
memakan biaya sebesar Rp 396.812.101,00. Biaya
pembebanan langsung oleh unit HD ini paling tinggi
dihasilkan dari labour related atau gaji pegawai yaitu
sebesar Rp 316.893.336,00. Labour related terdiri dari gaji
pokok, tunjangan kerja dan tunjangan jabatan yang
didalamnya sudah meliputi biaya lembur dan biaya
pengembangan ilmu. Pada unit HD memiliki dua spesialis
penyakit dalam. Jasa untuk konsultan ginjal hipertensi
diberikan berdasarkan hitungan paket perbulan sehingga
berapapun jumlah pasien HD yang datang baik pasien
umum maupun peserta JKN, sedangkan untuk dokter
penyakit dalam dibayar sesuai jasa konsul yang
dibebankan pada pasien.
118

Begitu juga untuk dokter penatalaksana HD, gaji yang


diterima tidak berdasarkan jumlah pasien HD. RSMS
merupakan anak perusahaan PT Timah sehingga pola
penetapan gaji karyawan di dalamnya mengikuti aturan
PT Timah. Bila dibandingkan dengan gaji pokok
karyawan rumah sakit swasta yang ada di kabupaten
Bangka, tarif yang diterima karyawan lebih tinggi.

b. Jumlah pasien unit HD di tahun 2015 sedikit


Faktor utama yang menyebabkan tingginya biaya
overhead unit HD sendiri yaitu dari jumlah pasien HD
dalam tahun 2015 hanya berjumlah 667 pasien,
sehingga pembebanan dari total biaya direct resources
overhead tahun 2015 dibagi jumlah pasien pada tahun
tersebut menghasilkan angka yang tinggi. Apabila jumlah
pasien semakin meningkat maka biaya overhead akan
semakin kecil karena jumlah pasien sebagai pembagi di
perhitungan pembebanan biaya direct resources overhead
semakin besar. Unit HD perannya sebagai unit fungsional
di tahun 2015 hanya memberi masukan
119

1.5% dari total pemasukan rumah sakit. Bila diambil


rata-rata pada tahun pertama pelayanan HD di RSMS ini
jumlah pasien HD per hari sebanyak 2 hingga 3 pasien.
Pasien HD di RSMS di tahun 2015 adalah sebagian besar
peserta JKN (79%). RSMS merupakan rumah sakit tipe
D , sebagai rumah sakit pratama penerima pasien
peserta JKN, RSMS tidak mendapat rujukan seperti
rumah sakit tipe C. Hal ini akan berdampak buruk bila
promosi terhadap pelayanan unit HD tidak maksimal
dilakukan. Demi menambah jumlah pasien di unit HD
pihak RS harus lebih giat melakukan promosi.

c. Biaya indirect resources overhead tinggi


Faktor lain yang mempengaruhi besarnya total biaya
overhead dalam perhitungan unit cost metode ABC yaitu
biaya indirect resources overhead atau pembebanan dari
unit non fungsional yang menghabiskan biaya sebesar
Rp 4.146.712.763,00. Pembebanan biaya dari unit
fungsional tersebut paling tinggi diberikan oleh labour
related yaitu sebesar Rp 3.255.353.566,00 termasuk
120

didalamnya gaji pegawai yang meliputi tunjangan,


bonus, biaya perjalanan dinas, bonus dan sebagainya.
Mengingat RSMS adalah rumah sakit swasta di bawah
yayasan PT Timah, maka penggajian staf direksi
menyesuaikan PT Timah. Hal tersebut akan berpengaruh
pada pembebanan biaya dari unit non fungsional. Biaya
indirect resources overhead menjadi lebih tinggi bila gaji
karyawan di unit non fungsional terlalu tinggi.

d. Biaya direct tracing tinggi


Biaya langsung tindakan (direct tracing) HD di
RSMS sebesar Rp 739.845,00 turut mempengaruhi
besarnya unit cost metode ABC. Biaya langsung yang
besar ini disebabkan oleh harga pokok BMHP yang
tinggi. Salah satu faktor yang dapat dikoreksi dari
tingginya harga pokok ini adalah merk BMHP yang
dipilih oleh pihak rumah sakit. Selain itu, merk mesin
HD yang dimiliki oleh unit HD di RSMS merupakan
merk dengan harga yang paling tinggi dibandingkan
merk mesin HD lainnya, ini akan menimbulkan biaya
121

yang tinggi pada BMHP yang digunakan oleh mesin


merk tersebut (B-Braun). Pada pengoperasian mesin HD
ini, unit HD RSMS memilih metode single use sehingga
komponen dalam mesin tersebut hanya untuk sekali
pakai. Hal ini akan berbeda apabila metode yang
digunakan adalah Re-use.
Kepemilikan mesin hemodialisis di unit ini dengan
KSO dengan pihak B-Braun. Kerjasama dengan pihak
B-Braun pada komponen lima bahan pokok prosedur
HD, biaya ini masuk ke dalam direct tracing tindakan
HD. Lima bahan pokok tersebut yaitu Blood Line
(Mega Musi), Diacap Loop S15 Dialysat, Sol Card B,
Acidic HD 5L, dan Diacan Arteri G16. Biaya direct
tracing dapat dilihat pada tabel di bawah ini. Pada
kontrak kerjasama tersebut satu unit mesin HD untuk
2640 (maksimal selama 5 tahun). Berikut BMHP yang
harus dibeli ke pihak B-Braun.
122

Tabel 4.23 Biaya BMHP Pihak B-Braun untuk KSO Satu Unit
Mesin Dialisis

BMHP Harga Satuan Total(b)


(Rp)(a)
Blood Line 120.780 318.859.200
(Mega Musi)
Diacap Loop S15 227.700 601.128.000
Dialysat
Sol Card B 108.900 287.496.000
Acidic HD 5L 123.750 326.700.000
Diacan 8.984,25 23.718.420
Arteri G16
Total 581.130 1.581.620.040
Keterangan : a=harga satuan BMHP, b=harga satuan BMHP
x 2640 (jumlah tindakan untuk 1 unit mesin HD IB-Braun)

Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa dari satu


unit mesin HD pihak RSMS harus membeli BMHP dari
pihak B-Braun senilai Rp 1.581.620.040,00. Total seluruh
BMHP yang harus dibeli untuk 4 unit mesin HD adalah
Rp 6.326.480.160,00. Apabila pihak RS membeli secara
tunai mesin HD tersebut harga 1 unit mesin berkisar
diharga Rp 435.000.000,00 sampai dengan Rp
475.000.000,00. Pembelian secara tunai dapat
123

mengganti lima bahan pokok dari B-Braun dengan


lima bahan pokok merk lain yang lebih kompetitif.
Perjanjian KSO dengan pihak B-Braun tersebut
mewajibkan pihak RSMS untuk membeli lima bahan
pokok pada tindakan HD sebanyak 2.640 tindakan atau
2.640 pasien untuk satu unit mesin HD. Total pasien
untuk 4 unit mesin adalah sebesar 10.560 pasien. Jumlah
10.560 pasien ini adalah titik impas jumlah pasien dari
KSO tersebut. Bila diasumsikan satu hari maksimal 3 shift
maka dalam satu hari dapat melayani 12 pasien dari 4
unit mesin HD tersebut. Dalam satu tahun pasien
maksimal 4.320. Target KSO akan tercapai dalam tahun
ketiga jika jumlah pasien pertahun di unit HD RSMS
maksimal 4.320 pasien. Jika disesuaikan dengan kondisi
HD ditahun pertama dengan jumlah pasien per tahun
sebanyak 667 pasien, maka untuk memenuhi titik impas
sebanyak 10.560 pasien membutuhkan waktu yang lebih
lama yaitu 16 tahun.
124

Berdasarkan hasil perhitungan unit cost metode ABC


tersebut, pihak rumah sakit dapat mempertimbangkan tarif
tindakan HD yang berlaku saat ini. Perhitungan unit cost
metode ABC di rumah sakit sering kali terkendala oleh
sulitnya menyediakan data yang diperlukan dalam
penentuan tarif (Upda, 1996). Menurut Kaplan dan
Anderson (2003), meskipun secara teori metode ABC
sangatlah baik, namun pada penerapannya banyak sekali
ditemukan hambatan dan kegagalan terutama pada
perusahaan skala besar. Ditambah lagi sulitnya melakukan
pembaharuan data apabila terdapat pembaharuan pada
tindakan atau komponen yang mendukung tindakan
tersebut.

2. Hasil Perhitungan Unit Cost Modifikasi ABC-Baker


Tindakan HD dengan Tarif INA-CBG’s
Tarif tindakan kesehatan pada fasilitas kesehatan
tingkat pertama dan fasilitas kesehatan tingkat lanjutan telah
ditetapkan dalam rangka pelaksanaan JKN. Berdasarkan
125

tabel 4.24 selisih tarif tindakan HD menurut perhitungan


unit cost modifikasi ABC-Baker dengan tarif INA-CBG’s
tindakan HD adalah sebesar Rp 586.720,00. Sesuai dengan
hasil wawancara yang telah dilakukan oleh peneliti, wakil
direktur bagian keuangan RSMS mengakui bahwa untuk
saat ini unit HD RSMS masih belum memberikan profit bagi
rumah sakit karena mayoritas pasien tindakan HD adalah
peserta JKN. Sesuai hasil perhitungan unit cost membuktikan
benar adanya selisih tarif yang cukup tinggi antara unit cost
modifikasi ABC-Baker dengan tarif INA-CBG’s dimana tarif
INA-CBG’s untuk tindakan HD lebih rendah dibandingkan unit
cost modifikasi ABC-Baker.

Tabel 4.24 Perbandingan antara Unit Cost Modifikasi ABC-Baker dengan


Tarif INA-CBG’s

Unit Cost Modifikasi Tarif INA-CBG’s Selisih


ABC-Baker (Rp)(a) (Rp)(b) (Rp)(a-b)
1.428.020 841.300 586.720
126

Perhitungan tarif INA-CBG’s berbasis pada data


costing dan data koding rumah sakit. Data costing
didapatkan dari rumah sakit terpilih (rumah sakit sample)
yang mempresentasikan kelas rumah sakit, jenis rumah
sakit, maupun kepemilikan rumah sakit (rumah sakit
swasta dan rumah sakit pemerintah), meliputi seluruh data
biaya yang dikeluarkan oleh rumah sakit. Penyusunan tarif
JKN sendiri menggunakan data costing 137 rumah sakit
pemerintah maupun swasta beserta 6 juta kasus
(Peraturan Menteri Kesehatan, 2014). Bila dilihat dari sisi
tarif tindakan HD INA-CBG’s yang telah ditetapkan, tarif
tindakan HD INA-CBG’s untuk pasien rawat jalan hanya
memiliki satu tarif secara umum, sehingga bagaimanapun
kondisi pasien HD klaim INA-CBG’s tetap sama baik pasien
dengan komplikasi atau tanpa komplikasi.
Prosedur mesin HD sendiri tentunya akan
menghasilkan biaya yang berbeda antara penggunaan
mesin single use dan re-use. Prosedur re-use memiliki biaya
BMHP lebih rendah dibandingkan single use. Pada single
127

use komponen dialiser (diacap loop) dipakai satu kali untuk


setiap tindakan pada satu pasien, sedangkan pada re-use
diacap loop tersebut dapat dipakai untuk 4x tindakan pada
satu pasien yang sama. Sehingga akan terdapat perbedaan
pada harga direct tracing tindakan HD.

Tabel 4.25 Perbedaan Harga BMHP Single Use dan Re-Use

Harga Single Use Re-Use


BMHP (4 kali) (4 kali)
Utama
Blood Line 120.780 483.120 483.120
(Mega
Musi)
Diacap 227.700 910.800 227.700
Loop S15
Dialysat
Sol Card B 108.900 435.600 435.600
Acidic HD 123.750 495.000 495.000
5L
Diacan 8.984,25 835.937 35.937
Arteri G16
Total 581.130 3.160.457 1.677.357
128

Dari tabel di atas dapat dilihat apabila klaim INA-


CBG’s tetap sama untuk semua prosedur HD maka rumah sakit
yang menggunakan prosedur single use akan mendapat
klaim yang sama dengan tindakan re-use sedangkan harga
BMHP masing-masing prosedur berbeda. Apabila
penetapan tarif INA-CBG’s memiliki besaran tarif yang
berbeda-beda sesuai prosedur mesin yang digunakan pada
tindakan HD maka kondisi seperti itu akan memberi profit
bagi rumah sakit yang menggunakan prosedur single use.
Pada tahun 2015 jumlah persentase pasien HD yang
menggunakan JKN adalah sebesar 79%, sehingga klaim
tindakan HD berdasarkan tarif INA-CBG's hanya sebesar
Rp 841.300,00. Sementara dari hasil perhitungan unit cost
modifikasi ABC-Baker, tarif untuk tindakan HD adalah
sebesar Rp 1.428.020,00.
Pada tabel dibawah ini dapat dilihat pengeluaran
dan pemasukan unit HD RSMS pada tahun 2015.
129

Tabel 4.26 Biaya Pengeluaran dan Pemasukan Unit HD RSMS Tahun 2105

Pengeluaran Pemasukan
Umum JKN Umum JKN
Jumlah Pasien 117 550 117 550
BMHP 86.561.886 406.914.849 152.100.000 462.715.000
(@739.845,18)
Total 493.476.735
Direct 396.812.101
Resources
Overhead Total 890.288.836 614.815.000
Selisih Pemasukan dan Pengeluaran = - 275.473.836,00

Biaya pengeluaran pada tabel di atas tidak


memasukan biaya overhead di unit non fungsional,
pengeluaran di unit HD pada tahun 2015 tersebut hanya
dengan menjumlahkan biaya total BMHP dan biaya
pengeluaran dari unit HD (direct resouces overhead). Dari tabel
diatas dapat diketahui bahwa unit HD RSMS pada tahun
2015 mengalami kerugian sebesar Rp 275.473.836,00.
Berdasarkan wawancara dengan wadir bagian keuangan
RSMS, pada tahun pertama layanan HD tersebut, rumah
sakit per bulan mengalami kerugian rata-rata sebesar Rp
22.956.153,00. Selisih klaim INA-CBG’s yang harus
130

dibayar oleh pihak RSMS cukup tinggi dari unit HD


pada tahun 2015.
Saat data diambil RSMS adalah rumah sakit tipe D,
klaimnya masih lebih rendah daripada rumah sakit tipe C.
Apabila RSMS masih bertahan di tipe D dan pasien yang
mendapat tindakan HD adalah peserta JKN maka dapat
dipastikan rumah sakit akan terus merugi dari unit tersebut.
Sebaliknya jika RSMS dapat meningkatkan tipe rumah sakit
menjadi tipe C, maka tarif INA-CBG’s akan menyesuaikan. Hal
ini perlu dipertimbangkan untuk mempertahankan
kestabilan keuangan rumah sakit.
Jika semua pasien HD di RSMS adalah peserta JKN
dan jumlah tindakan HD dalam satu hari 3 shift, maka
berikut adalah tabel yang menerangkan jumlah pasien JKN
yang dapat memberi profit bagi unit HD dalam 1 tahun.
Asumsi di bawah ini dengan menggunakan biaya direct
resources yang sama di tahun 2015 (jumlah tenaga kerja
dan biaya sumber daya di unit HD adalah sama dengan di
tahun 2015).
131

Tabel 4.27 Asumsi Jumlah Tindakan Unit HD per Tahun yang dapat Memberi

Profit bagi RSMS dengan Klaim INA-CBG’s RS Tipe D

Jumlah Pasien 4.320 5.400 6.480 7.560


Total Klaim INA-CBG’s (a)
3.634.416.000 4.543.020.000 5.451.624.000 6.360.228.000
Total Biaya Direct Tracing(b) 3.196.131.178 3.995.163.972 4.794.195.600 5.593.229.561
Total Biaya Direct 396.812.101 396.812.101 396.812.101 396.812.101
Resources(c)
Selisih d=a-(b+c) - 41.472.721 151.043.972 260.616.299 370.186.338
Keterangan : Asumsi biaya direct resources adalah tetap, a=total klaim INA-CBG’s(Rp 841.300),
b=total direct tracing(Rp 739.845,18) , c=total biaya direct resources, d=selisih total klaim INA-
CBG’c dikurangi biaya direct tracing dikurangi biaya direct resources dikurangi total biaya indirect
resources per pasien

Dari tabel di atas, jumlah pasien 4.380 berasal dari


asumsi 4 mesin menghasilkan 12 pasien per hari (3shift)
dikalikan 360 hari dalam 1 tahun. Asumsi ini memiliki
kelemahan pada jumlah SDM yang tersedia di unit HD saat
itu yang memiliki 2 orang perawat dan 1 orang dokter
umum pelaksana. Apabila ditambah jumlah perawat maka
biaya direct resources unit HD akan bertambah dan selisih
negatif semakin tinggi. Kesimpulan pertama dari tabel
tesebut yaitu jumlah mesin sebanyak 4 unit tidak dapat
menghasilkan profit bagi unit HD apabila semua pasien
adalah peserta JKN.
132

Apabila mesin ditambah 1 unit dan shift dalam satu


hari 3 kali, maka jumlah pasien dapat mencapai angka
maksimal 5.400 dalam satu tahun. Selisih positif yang
diperoleh dari total pasien 5.400 yaitu sebesar Rp
151.043.972,00. Jika mesin ditambah 2 unit maka maksimal
pasien dalam 1 tahun sebesar 6.480 dan selisih positif yang
diperoleh adalah sebesar Rp 211.917.899,00. Selisih positif
yang didapat dari perhitungan dalam tabel tersebut belum
dikurangi biaya indirect resources unit HD. Sehingga
penambahan mesin di unit HD sebaiknya disesuaikan
dengan jumlah biaya overhead yang harus dikeluarkan
sebagai kompensasi dari penambahan jumlah mesin
tersebut. Perlu perhitungan lebih tepat sebelum rumah sakit
memutuskan untuk menambah jumlah mesin HD.
Penambahan mesin akan menambah jumlah SDM dan
biaya lainnya.
Kenaikan tipe rumah sakit dapat meningkatkan
klaim INA-CBG’s pada pelayanan HD. Klaim INA-CBG’s
133

untuk rumah sakit swasta tipe C pada regional V


menurut Permenkes No.64 tahun 2016 yaitu sebesar
Rp 875.100,00 Berikut asumsi klaim INA-CBG’s yang
diterima pada RS tipe C.
Tabel 4.28 Asumsi Jumlah Tindakan Unit HD per Tahun yang dapat
Memberi Profit bagi RSMS dengan Klaim INA-CBG’s RS Tipe C

Jumlah Pasien 4.320 5.400 6.480 7.560


Total Klaim INA-CBG’s (a)
3.780.432.000 4.725.540.000 5.670.648.000 6.615.756.000
Total Biaya Direct Tracing(b) 3.196.131.178 3.995.163.972 4.794.195.600 5.593.229.561
Total Biaya Direct 396.812.101 396.812.101 396.812.101 396.812.101
Resources(c)
Selisih d=a-(b+c) 187.488.721 333.563.927 479.640.299 625.714.338
Keterangan : Asumsi biaya direct resources adalah tetap, a=taotal klaim INA-CBG’s(Rp
875.100), b=total direct tracing(Rp 739.845) , c=total biaya direct resources, d=selisih total klaim
INA-CBG’c dikurangi biaya direct tracing dikurangi biaya direct resources dikurangi total biaya
indirect resources per pasien

Pada tabel di atas dapat dilihat bahwa dengan


kenaikan klaim INA-CBG’s akan memberi selisih positif pada
jumlah tindakan 4.320 dalam satu tahun, jumlah tindakan
tersebut adalah tindakan maksimal dalam satu tahun
dengan 3 shift per hari. Tanpa penambahan mesin HD
akan memberi surplus untuk rumah sakit bila klaim INA-
134

CBG’s sesuai tariff rumah sakit swasta tipe C pada regional V.


Apabila penelitian ini dibandingkan dengan penelitian
terdahulu akan terlihat perbedaan signifikan pada biaya unit
cost modifikasi ABC -Baker pada tindakan HD saat ini. Hal ini
bisa saja dipengaruhi oleh jumlah tindakan HD dalam satu
tahun, merk mesin HD dan merk BMHP serta aktivitas yang
memakan waktu berbeda pada penelitian sebelumnya.
Clinical pathway belum diterapkan pada penelitian ini, rumah
sakit memakai SOP dalam melayani tindakan HD. Clinical
pathway adalah alur proses tindakan pasien yang spesifik
untuk suatu penyakit atau tindakan tertentu, mulai dari
pasien masuk sampai pasien pulang, yang merupakan
integrasi dari tindakan medis, tindakan keperawatan,
tindakan farmasi, dan tindakan kesehatan lainnya (Yereli,
2009).
Clinical pathway akan memberi manfaat bagi
penetapan unit cost metode ABC, dengan adanya clinical
pathway maka aktivitas-aktivitas pada pelayanan tindakan
HD lebih sistematis dan seragam. ABC sebagai metode
135

untuk menghitung unit cost dapat dijadikan sebuah patokan


dalam menentukan tarif pelayanan suatu tindakan.
Informasi biaya yang akurat dapat dijadikan dasar bagi
penetapan tarif yang lebih akurat. Dengan demikian, baik
pihak pasien maupun rumah sakit tidak ada yang dirugikan.
Metode ABC akan membantu mengurangi biaya
yang tidak perlu lebih efektif dan memberi nilai tambah
bahkan menghapus biaya dari aktivitas yang tidak perlu
melalui analisis aktivitas. ABC juga dapat memberi
informasi waktu dari aktivitas mana yang bisa diubah atau
membuat efisien waktu dari sebuah aktivitas. Pada
penelitian yang dilakukan oleh Gregorio et al (2016),
metode ABC juga memberi manfaat bila diterapkan pada
layanan farmasi. Sehingga metode ini dapat digunakan di
semua unit pelayanan di rumah sakit.
Pada akhirnya ABC system ini akan memberikan
informasi untuk memaksimalkan sumber daya dan
menghubungkan cost dan performance serta pengukuran
outcome. Pengambil keputusan dapat menggunakan
136

informasi dari sistem ABC untuk meningkatkan efisiensi tanpa


menimbulkan dampak negatif pada kualitas pelayanan yang
telah ada dan yang akan datang. Rumah sakit sebagai
penyedia layanan akan merasakan banyak manfaat dari
penerapan sistem ABC dalam menentukan tarif yang akurat.
Menurut Javid (2016) perhitungan unit cost yang akurat pada
pelayanan kesehatan sangat penting untuk meningkatkan
efisiensi dan transparansi di rumah sakit.

3. Usulan bagi RSMS untuk Perbaikan Unit HD


Berdasarkan unit cost tindakan HD RSMS yang
didapatkan melalui perhitungan metode modifikasi ABC-
Baker yaitu sebesar Rp 1.428.020 dinilai cukup tinggi dan
menghasilkan selisih negatif terhadap tarif HD RSMS dan
klaim INA-CBG’s, maka penulis memberi beberapa usulan
bagi RSMS untuk perbaikan unit HD selanjutnya.

a. Meningkatkan jumlah pasien HD


Provinsi Bangka Belitung memiliki jumlah pasien hipertensi
yang tinggi bila dihitung berdasarkan persentase
137

jumlah penduduk dalam satu wilayah. Menurut data hasil


Riskesda Kemenkes tahun 2013, 30,9% penduduk provinsi
ini adalah penderita hipertensi. Hal ini akan berpengaruh
pada angka kejadian gagal ginjal kronik di wilayah tersebut
apabila pengobatan tidak tepat diberikan. Hipertensi
merupakan faktor resiko terbesar gagal ginjal kronik setelah
diabetes mellitus. Data Riskesdas 2013, provinsi Bangka
Belitung memiliki 251.124 orang penderita gagal ginjal
kronik menurut diagnosa dokter yang tersebar ke 7
kabupaten/kota madya. RSMS merupakan rumah sakit
swasta di kepulauan Bangka, terdapat 4 kabupaten dan 1
kota madya di pulau tersebut serta 2 kabupaten di pulau
Belitung. RSMS berada di kabupaten Bangka. Data pasti
jumlah penderita gagal ginjal kronik di pulau tersebut belum
terdokumentasi dengan baik. Diasumsikan bila total
penderita gagal ginjal di provinsi tersebut dibagi kedalam 7
wilayah maka akan didapat angka 35.875 jiwa dalam tiap
kabupaten.
138

Pada tahun 2015 di pulau Bangka memiliki 7 rumah


sakit yang memiliki pelayanan HD, 3 rumah sakit di
kabupaten Bangka dan 4 rumah sakit di kota madya
Pangkal Pinang. Hal ini akan memberi peluang bagi RSMS
untuk menjadi pusat rujukan HD di kabupaten Bangka.
Menurut data RSMS, dari jumlah tindakan HD dalam satu
tahun (tahun 2015) yaitu 667 tindakan, RSMS memiliki
pasien tetap sebanyak 15 orang. Angka ini kecil sekali
dibandingkan jumlah diagnosa penderita gagal ginjal yang
tercatat. Masyarakat masih minim kesadaran untuk
melakukan proses ini dikarenakan berberapa hal seperti
jauhnya fasilitas kesehatan dari tempat tinggal, mind set
bahwa cuci darah mahal dan kurang motivasi.
Berdasarkan data tersebut pihak manajemen dapat
melakukan promosi yang lebih giat untuk meningkatkan
jumlah pasien HD di RSMS. Salah satu cara untuk
meningkatkan jumlah pasien adalah mempromosikan ke
puskesmas atau layanan kesehatan tingkat pertama
bahwa telah tersedia layanan HD di RSMS, sekaligus
139

menginformasikan bahwa RSMS menerima pasien JKN.


Hal ini akan membantu penderita gagal ginjal kronik yang
tidak mampu untuk mengikuti program JKN dan mendapat
layanan HD. Mind set bahwa cuci darah itu mahal akan
hilang bila masyarakat mengetahui bahwa pemerintah
telah menjamin kesehatan dengan program JKN. Promosi
yang dilakukan dapat memberi manfaat bagi RSMS dan
juga mensukseskan program JKN.

b. Mengelola unit HD secara efisien


Pengelolaan unit HD secara efisien dapat memberikan
profit bagi rumah sakit, penghematan dari BMHP dan
dapat memaksimalkan sumber daya yang ada. Dalam
pengelolaan sebuah unit layanan hal utama yang harus
tersedia adalah SDM yang sesuai kriteria. Pada unit HD
harus memiliki supervisor KGH, dokter umum dan
perawat yang bersertifikat pelatihan HD. SDM
bersertifikasi ini akan memudahkan pelayanan karena
telah memiliki keterampilan dan ilmu yang sesuai dengan
bidangnya. Pada unit HD RSMS dokter umum dan
140

perawat telah memiliki sertifikat pelayanan HD, hal


ini merupakan potensi bagi rumah sakit.
Ruangan HD sebaiknya dirancang oleh tim medis yang
paham tentang unit HD dibantu arsitektur, ini akan
memaksimalkan tata ruang yang ada. Space yang sesuai
standar antar tempat tidur dapat memberi kenyamanan
bagi pasien. Pasien HD yang nyaman dengan fasilitas di
unit HD tersebut tentu akan memilih untuk mendapat
proses HD di rumah sakit itu. Idealnya setiap 4 tempat
tidur dilengkapi 1 unit televisi dan minimal 2 unit
pendingin ruangan.
Pemilihan mesin dan BMHP yang tepat turut
menentukan efesiensi layanan di unit ini. Mesin yang
memiliki harga kompetitif sebaiknya dipilih agar tarif
yang ditarik tidak terlalu tinggi atau apabila dominan
pasien JKN yang terdaftar maka klaim yang didapat
memberi selisih positif. Unit HD perlu memikirkan proses
HD yang dipilih menggunakan single use atau re-use.
Biaya BMHP akan berbeda sekali pada kedua proses
141

tersebut. Selain itu, suatu unit HD bisa melakukan


efisiensi pada BMHP dengan memiliki fasilitas reverse
osmosis (RO) sendiri sehingga tidak bergantung pada
supplier dan dapat menghemat biaya diret tracing.

c. Mengusahakan kenaikan tipe rumah sakit


Pada tabel 4.27 dan 4.28 telah dijelaskan gambaran
pendapatan unit HD RSMS jika seluruh pasien adalah
peserta JKN. Klaim INA-CBG’s tindakan HD untuk rumah
sakit swasta tipe C lebih tinggi dibandingkan rumah
sakit swasta tipe D. Pada saat data diambil, RSMS
adalah rumah sakit swasta tipe D di regional V. Syarat
untuk menjadi rumah sakit tipe C menurut INA-CBG’s
adalah sebagai berikut :
- Memiliki fasilitas dan kemampuan pelayanan medis
paling sedikit 4 pelayanan medis spesialis dasar
dan 4 pelayanan spesialis penunjang medis.
- Kriteria fasilitas dan kemampuan rumah sakit umum kelas
C meliputi pelayanan medis umum, pelayanan gawat
darurat, pelayanan medis spesialis gigi dan mulut,
142

pelayanan keperawatan dan kebidanan, pelayanan


penunjang klinik dan pelayanan penunjang non klinik.
- Pelayanan medis umum untuk rumah sakit umum tipe C
terdiri dari pelayanan medis dasar, pelayanan medis gigi
dan mulut dan pelayanan ibu anal/keluarga berencana.
- Pelayanan gawat darurat harus 24 jam dan 7 hari dalam
seminggu dengan kemampuan melakukan pemeriksaan
awal kasus-kasus gawat darurat, melakukan resusitasi
dan stabilisasi sesuai standar.
Pelayanan medis spesialis dasar terdiri dari
pelayanan Penyakit Dalam, Kesehatan Anak, Bedah,
Obstetri dan Ginekologi. Pelayanan medis spesialis Gigi
Mulut rumah sakit umum tipe C minimal 1 (satu)
pelayanan. Pelayanan spesialis penunjang medis terdiri
dari pelayanan Keperawatan dan Kebidanan terdiri dari
pelayanan asuhan keperawatan dan asuhan kebidanan.
Pelayanan penunjang klinik terdiri dari perawatan intensif,
pelayanan darah, gizi, farmasi, sterilisasi instrumen dan
rekam medis. Pelayanan penunjang non klinik terdiri dari
143

pelayanan Laundry/Linen, Jasa Boga / Dapur, Teknik dan


Pemeliharaan Fasilitas, Pengelolaan Limbah, Gudang,
Ambulance, Komunikasi, Kamar Jenazah, Pemadam
Kebakaran, Pengelolaan Gas Medik dan Penampungan Air
Bersih. Ketersediaan tenaga kesehatan disesuaikan dengan
jenis dan tingkat pelayanan. Pada pelayanan medis dasar
minimal harus ada 9 orang dokter umum dan 2 orang
dokter gigi sebagai tenaga tetap. Pada pelayanan medis
spesialis dasar harus ada masing-masing minimal 2 orang
dokter spesialis setiap pelayanan dengan 2 orang dokter
spesialis sebagai tenaga tetap pada pelayanan yang
berbeda. Pada setiap pelayanan Spesialis penunjang medis
masing-masing minimal 1 orang dokter spesialis setiap
pelayanan dengan 2 orang dokter spesialis sebagai tenaga
tetap pada pelayanan yang berbeda.
Perbandingan tenaga keperawatan dan tempat tidur
rumah sakit umum tipe C adalah 2:3 dengan kualifikasi
tenaga keperawatan sesuai dengan pelayanan di Rumah
Sakit. Tenaga penunjang berdasarkan kebutuhan rumah
144

sakit. Sarana prasarana dan peralatan rumah sakit harus


memenuhi standar yang ditetapkan oleh Menteri.
Peralatan radiologi harus memenuhi standar sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Jumlah tempat tidur minimal 100 (seratus) buah.
Administrasi dan manajemen terdiri dari struktur
organisasi dan tata laksana. Struktur organisasi tersebut
memuat paling sedikit terdiri atas Kepala Rumah Sakit
atau Direktur Rumah Sakit, unsur pelayanan medis, unsur
keperawatan, unsur penunjang medis, komite medis,
satuan pemeriksaan internal, serta administrasi umum
dan keuangan. Tata laksana sebagai syarat rumah sakit
umum tipe C meliputi tatalaksana organisasi, standar
pelayanan, standar operasional prosedur (SPO), Sistem
Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIMS) dan Hospital by
Laws dan Medical Staff by laws.
RSMS saat ini telah memiliki kualifikasi untuk naik
menjadi rumah sakit tipe C. Pada saat data ini diambil
RSMS telah mengikuti akreditasi untuk kenaikan tipe
145

rumah sakit dan sedang menunggu hasil penilaian.


Langkah yang diambil pihak rumah sakit telah tepat demi
menunjang stabilitas rumah sakit di era JKN. Kenaikan
tipe rumah sakit dapat membantu unit HD untuk memberi
profit bagi rumah sakit.
146

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Dari hasil penelitian ini diperoleh data sebagai berikut:


1. Biaya satuan (unit cost) tindakan HD di RSMS kabupaten
Bangka menggunakan modifikasi ABC-Baker (Activity
Based Costing) adalah sebesar Rp 1.428.020,00.
2. Terdapat selisih antara unit cost modifikasi ABC-Baker
dengan tarif INA-CBG’s pada tindakan HD di RSMS
kabupaten Bangka yaitu sebesar Rp 586.720,00
dimana tarif INA-CBG’s lebih rendah dari perhitungan
unit cost modifikasi ABC-Baker.
3. Terdapat selisih antara unit cost modifikasi ABC-Baker
dengan tarif yang berlaku sebelumnya pada tindakan
HD di RSMS kabupaten Bangka yaitu sebesar Rp
128.020,00 dimana tarif HD RSMS lebih rendah dari
perhitungan unit cost modifikasi ABC-Baker.
147

4. Unit cost modifikasi ABC-Baker pada tindakan HD di


RSMS kabupaten Bangka memiliki tarif yang lebih
tinggi dibandingkan tarif HD rumah sakit dan tarif
HD INA-CBG’s.

B. Saran

1. Bagi Rumah Sakit Medika Stannia Kabupaten Bangka


a. Manajemen perlu menetapkan tarif tindakan HD yang
sesuai dengan perhitungan unit cost modifikasi ABC-
Baker.
b. Manajemen perlu melakukan upaya pemasaran lebih
giat untuk meningkatkan jumlah pasien yang
mendapat tindakan HD di RSMS baik pasien umum
maupun peserta JKN.
c. Manajemen perlu melakukan evaluasi dan efesiensi
biaya terutama pada merk mesin HD dan pemakaian
bahan medis habis pakai, terutama dalam memilih
merk yang kompetitif.
148

d. Perlu adanya evaluasi dalam penetapan biaya jasa


medis pada tindakan HD sehingga biaya yang
dibebankan ke pasien sebanding dengan biaya yang
nantinya dikeluarkan oleh pihak rumah sakit ke tenaga
medis.
e. Rumah sakit harus memikirkan kenaikan tipe rumah
sakit untuk menyesuaikan tarif klaim INA-CBG’s pada
tindakan HD. Selanjutnya apabila rumah sakit telah
berstatus tipe C dan mendapat tarif yang sesuai untuk
klaim INA-CBG’s dapat dipertimbangkan penambahan
SDM di unit HD agar bisa memenuhi shift sore atau
shift malam.

2. Bagi Peneliti Selanjutnya


Perlu dilakukan penelitian untuk tindakan HD
dengan kasus lain seperti dengan penyulit atau
dengan prosedur mesin Re-use.
149

C. Ketebatasan Penelitian

Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan dalam

pelaksanaannya, antara lain:


1. Metode ABC membutuhkan komponen data yang banyak
terutama di bagian keuangan sehingga perlu diperhatikan
untuk rumah sakit yang belum menyediakan data secara
lengkap. RSMS sendiri telah memiliki data keuangan yang
lengkap dan ada beberapa data yang harus dihitung
sendiri untuk melengkapi data yang belum lengkap.
2. Penelitian yang dilakukan di RSMS ini adalah studi kasus
sehingga penelitian hanya terbatas pada kasus HD yang
ada di rumah sakit tersebut.
3. Penelitian dilakukan pada tahun pertama pelayanan unit
HD di RSMS sehingga jumlah pasien masih sedikit dan
hal ini akan mempengaruhi biaya pembebanan dalam
perhitungan unit cost modifikasi ABC-Baker.
150

DAFTAR PUSTAKA

Amrizal, M. N, 2005, Introduction of clinical pathway casemix.


UKM Medical Center, Kuala Lumpur.

Baker Judith, 1998, Activity Based Costing and Activity-based


Management for Healthcare, Aspen Publisher Inc, USA.

Cooper Robin and Kaplan Robert S, 1993, The Design of Cost


Management System: Text, Cases and Reading, Prentise-
Hall.

Donald EK, Weygandt JJ, Warfield DT, 2007, Accounting


Principles, 7th edn., Wiley.

Dorland, 2007, Kamus Saku Kedokteran Dorland, ed.29, EGC,


Jakarta.

Emsalifalak H et al, 2014, A Comparative Study on The Activity


Based Costing Systems: Traditional, Fuzzy and Monte
Carlo Approaches, ScienceDirect: Vol 4 58-67, USA.

Feuth and Claes, 2008, Introducing Clinical Pathways as A


Strategy for Improving Care, International Journal of
Care Coordination, Vol 12 No.2, Netherlands.

French K.E. et al, 2015, Value Based Care and Bundled Payments:
Anesthesia Care Costs for Outpatient Oncology Surgery Using
Time-Driven Activity Based Costing, Healthcare: Journal Of
Harvard Business School, Vol 4 173-180, USA.

Garisson & Norren, 2000, Akuntansi manajerial (T. Budisantoso,


penerjemah), 1th edn., Salemba Empat, Jakarta.

Gregorio et al, 2016, Pharmaceutical Services Cost Analysis Using


Time-Driven Activity Based Costing: A Contribution to
151

Improve Community Pharmacies Management. Rua da


Junquiera no 100 , 1349-008. Portugal.

Hansen DR & Maryanne MM, 2005, Management Accounting,


7th edn., Publishing Co., Cincinnati, South-Western.

Hansen & Mowen, 2006, Management Accounting, Salemba


Empat, Jakarta.
Havens & Terra, 2005, Heamodialisa. Download 10 Juli 2016
dari http://b11nk.wordpress.com/heamodialisa/.

Javid M et al, 2016, Application of The Activity Based Costing for


Unit Cost Calculation in A Hospital, Global Journal of
Health Service Vol.8,No.1, Iran.

Kaplan RS and Anderson SR, 2004, ‘Time-Driven Activity Based


Costing’, Working Paper, Harvard Business School,
Boston.

Kaplan A.L. At al, 2014, Measuring The Cost of Care in Benign


Prostic Hyperplasia Using Time-Driven Activity Based
Costing (TDABC). Healthcare: Journal Of Harvard
Business School, Vol 3 43-48, USA.

Kuswadi, 2007, Analisis Keekonomian Proyek. Andi Offset,


Yogyakarta.

Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, 2012, Buku


Pegangan Sosialisasi Jaminan Kesehatan Nasional (JKN)
Dalam Sistem Jaminan Sosial Nasional, Kementrian
Kesehatan RI, Jakarta.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2013, Buletin Bina


Upaya Kesehatan (Buletin BUK), INA CBG : Untuk
Pelayanan Rumah Sakit Lebih Baik, OKK.indd, Jakarta.
152

Maher, Hilton, Selto, 2009, Cost management strategies for


business decision, 8th edn., MC Graw-Hill Companies,
North Amerika.

Marismiati, 2011, Penerapan Metode Activity Based Costing


System dalam Menentukan Harga. Jenius vol.1 No.1.
Palembang.

Mulyadi, 2003, Activity based cost system, Bagian Penerbit STIE


YKPN, Yogyakarta.

Novicky, Donald, 2007, Heamodialysis for Kidney Failure: Is It


Right for You? http : //
www.mayoclinic.com/hea;th/hemodialisis.htm (30
agustus 2016)

Nurhayati, 2004, Perbandingan Sistem Biaya Tradisional dengan


Sistem Biaya ABC, USU Respiratory, Medan.

Nursalam, 2008, Konsep dan penerapan metodologi penelitian


ilmu keperawatan profesional, 2th edn., Salemba
Medika, Jakarta.

Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 59


Tahun 2014, Standar Tarif Pelayanan Kesehatan dalam
Penyelenggaraan Program Jaminan Kesehatan, 22
Agustus 2014, Berita Negara Republik Indonesia
Tahun 2012 Nomor 1287, Jakarta.

Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2013,


Jaminan Kesehatan, 18 Januari 2013, Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2013 Nomor 29, Jakarta.

Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 27 Tahun


2014, Petunjuk Teknis Sistem INA CBG’s, 2 Juni 2014,
Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014
Nomor 13, Jakarta.
153

Primandita, 2009, Analisa Cost Sharing Perhhitungan Tarif


Hemodialisis (HD) Masyarakat Miskin Di Rumah Sakit
PKU Muhammadiyah Unit I Yogyakarta. Skripsi S1
Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat UAD,
Yogyakarta.

Pusat Kpmak UGM, 2013, ‘2nd Annual health Insurance meeting:


Action for Achieving universal health coverage in Indonesia,’
(12 Skp IDI), diakses tanggal 26 februari 2014,
dari http://m.kompasiana.com/post/read/541719/2/2nd-
annual-health-insurance-meeting-action-for-achieving-
universal-health-coverage-in-indonesia-12-skp-idi.

Riyanto A, 2011, Aplikasi metodologi penelitian kesehatan, Nuha


Medika, Yogyakarta.

Rizkiardi D, 2014, ’Analisis perhitungan Unit cost unit Pelayanan


Hemodialisa dengan metode Activity based costing di RS
PKU Muhammadiyah Yogyakarta Unit II,’ Tesis, Pogram
Pasca Sarjana Universitas Muhammadiyah, Yogyakarta.

Rozycki JJ, Dodd JL, Wolk HI, 2008, Accounting theory, Sage
Publications, Inc.

Saragih M, 2012, ‘Analisis perbandingan Unit cost akomodasi di ICU


antara metode Activity based costing ( ABC) dengan
metode Double distribution di Rumah Sakit PKU
Muhammadiyah Yogyakarta,’ Tesis, Program Pasca
Sarjana Universitas Muhammadiyah, Yogyakarta.

Simbolon MR, 2008, ‘Activity based costing sebagai alternatif


pembebanan biaya overhead pada perusahaan manufaktur,’
Jurnal Ekonomi dan Bisnis, vol. 2, no. 2.

Siswosudarmo R, 2013, Panduan Tata Cara Membuat Proposal


Penelitian dan Menulis Tesis, Gadjah Mada University,
Yogyakarta.
154

Sitorus, 2011, Penerapan Clinical Pathways Terbukti Mampu


Menurunkan Biaya Pengobatan di Rs,
www.ugm.ac.id/.../3142-penerapan-cninical-pathway,
diakses 12 Desember 2016

Trisnantoro L, 2009, Memahami Penggunaan Ilmu Ekonomi


Dalam Manajemen Rumah Sakit, Edisi keempat, Gadjah
Mada University, Yogyakarta.

Tunggal W, 2003, Activity based costing. Harvarinda, Jakarta.

Upda S, 1996, ‘Activity Based Costing for Hospital,’ Health Care


Management Review, Summer, hh. 83-96.

Wijaya AS, Urhmila M, Widyasmara I, 2011, ‘Analisis perhitungan Unit


cost sewa kamar kelas II Ar Rahman dengan metode
Activity based costing Di RSU PKU Muhammadiyah Bantul,’
Tesis, Program Pasca Sarjana Universitas
Muhammadiyah, Yogyakarta.

Yereli AN, 2009, ‘Activity Based Costing and Its Application In A


Turkish University Hospital,’ AORN Journal, vol.3,
No.89, hh. 573-591.
155

LAMPIRAN 1:

CURICCULUM VITAE

Riwayat Pribadi

Nama : dr. Febriani

Tempat, tanggal lahir : Sungailiat, 10 Februari 1986

Alamat : Jl. Imam Bonjol No.1c Sungailiat Bangka

No.HP. : 085228326555

Alamat e-mail : feby86febriani@gmail.com

Nama Orang Tua : Ayah : Drs. Taufiq Rani

Ibu : Elsye Lastari

Nama Suami : dr. Antony Widjaya

Nama Anak : Darrel Muhammad Faried

Della Atara Widjaya

Riwayat Pendidikan
Jenjang Institusi Pendidikan TahunLulus
Pendidikan
TK TK Asiyah Sungailiat Bangka 1992
SD SD 366 Sungailiat Bangka 1998
SMP SMP N 2 Sungailiat Bangka 2001
SMA SMA N 1 Sungailiat Bangka 2004
S1 Universitas Muhammadiyah Yogyakarta 2011
156

Riwayat Pekerjaan

Nama Institusi Jabatan Periode


RS Medika Stannia Fungsional (Dokter Umum) 2011 – saat ini
Bangka

Riwayat Pelatihan

Nama Pelatihan Penyelenggara Tahun


Pelatihan Dokter Hiperkes Pusat Keselamatan dan 2011

Advance trauma Life Support Kesehatan


Komisi
Kerja
Trauma 2011
(ATLS) Perhimpunan Dokter
Basic to Advance Medical LembagaBedah
Spesialis estetika Medik
Indonesia 2011
Aesthetics and Cosmetology
Program
An Up To Date CME FKIK UMY 2011
Comprehensive and
Applicable Management of
Diabetes Mellitus in Primary
Pain Management Update in RS Premier 2012
Health Care
Musculosceletal System
Related with Sport Injury and
New Horizon of Diagnosis
Hand Trauma PAPDI Sumsel 2012
and Treatment in Internal
Update Tatalaksana Kasus
Medicine RS Bhakti Timah 2012
Malaria Cdiopulmonary Pangkalpinang
Advance Departemen Anestologi dan 2015
Resuscitation Terapi Intensif FK UGM
Manajemen Pusat Manajemen dan 2015
Komite Medik Pelayanan Kesehatan
dan (PMPK) UMY
Keperawatan
157

Riwayat Penelitian

Judul Tahun
Efektivitas Terapi Akupunktur dengan Jarum Telinga dan 2007
Tanpa Jarum Telinga pada Penurunan Berat Badan