Anda di halaman 1dari 21

PENTINGNYA INTERVENSI PEMBERDAYAAN MASYARAKAT UNTUK MENDORONG

PARTISIPASI MASYARAKAT SEKITAR HUTAN DIKLAT TABO-TABO DALAM RANGKA


MENJAGA KELESTARIAN HUTAN

Adi Riyanto Suprayitno


Widyaiswara Madya Balai Diklat Lingkungan Hidup dan Kehutanan Makassar
Email: raontiyarpus@gmail.com

Abstract

In order to maintain the preservation of tabo-tabo education and trainning forest is necessary
supported by community who live nearby. The community participation to preserve the forest is
the crusial element. To invite that community to be involved in preserving the forest can be done
through empowerment activities. Community empowerment is a concept of economic
development that encapsulates social values. This concept reflects the new paradigm of
development, which is "people centred, participatory, empowering, and sustainable". In this
empowerment activities, by BDLHK Makassar, the potential of the community should be
triggered and encouraged through participation from planning to evaluation. Farmer group
approach is one of the community empowerment strategies that can be undertaken by BDLHK
Makasasar so that the communities around the forest of tabo-tabo are willing and able to
participate or be involved in forest management and conservation to improve their welfare.

Key words: community, empowerment, farmer group, participation.

1. Pendahuluan
1.1. Latar Belakang

Balai Diklat Lingkungan Hidup dan Kehutanan Makassar berdasarkan Peraturan Menteri
Lingkungan Hidup Dan Kehutanan Republik Indonesia Nomor: P.16/Menlhk/Setjen/OTL.0/1/
2016 Tentang Organisasi Dan Tata Kerja Balai Pendidikan Dan Pelatihan Lingkungan Hidup
Dan Kehutanan, bahwa Balai Diklat Lingkungan Hidup dan Kehutanan Makassar mempunyai
tugas pokok melaksanakan Pendidikan dan Pelatihan Aparatur dan Non Aparatur Lingkungan
Hidup dan Kehutanan. Salah satu sarana pendukung diklat yang dikelola oleh Seksi Sarana
dan Evaluasi Diklat, salah satu seksi BDLHK Makassar, adalah Kawasan Hutan Dengan Tujuan
Khusus (KHDTK) Tabo-Tabo.

Secara geografis, kawasan Hutan Tabo-Tabo terletak pada koordinat 118º 49’ 42” BT -
118º 49’ 45” BT dan 04º 40’ 45” LS - 04º 40’ 47” LS, sedangkan secara administratif
pemerintahan, kawasan ini masuk dalam wilayah administratif pemerintahan Desa Tabo-Tabo
Kecamatan Bungoro Kabupaten Pangkep Provinsi Sulawesi Selatan (BDLHK, 2014).
Penunjukan Kawasan Hutan Tabo-Tabo sebagai KHDTK ditetapkan dengan Keputusan Menteri
Kehutanan Nomor SK.105/Menhut-II/2004 tanggal 14 April 2004 Tentang Perubahan
Keputusan Dirjen Kehutanan Nomor 041/Kpts/DJ/I/1980 tanggal 28 Pebruari 1980 tentang
Penunjukan Sebagian Kelompok Hutan Bulusaraung seluas ± 500 (lima ratus) hektar yang
terletak di Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan, Provinsi Sulawesi Selatan sebagai Hutan
Pendidikan dan Pelatihan Tabo-Tabo dan selanjutnya menjadi Kawasan Hutan Dengan Tujuan
Khusus untuk Hutan Pendidikan dan Pelatihan di Bidang Kehutanan.

Pada tahun 2010, diterbitkan Penetapan Kawasan Hutan Diklat Tabo-Tabo dengan
Keputusan Menteri Kehutanan Republik Indonesia Nomor SK.13/MENHUT-II/2010 tanggal 14
Januari 2010 tentang Penetapan Kawasan Hutan Pendidikan dan Pelatihan Tabo-Tabo
Kelompok Hutan Bulusaraung, yang terletak di wilayah Kecamatan Bungoro, Kabupaten
Pengkajene dan Kepulauan, Provinsi Sulawesi Selatan, seluas 601,26 (Enam Ratus Satu dan
Dua Puluh Enam Perseratus) Hektar.

Keberadaan KHDTK Tabo-Tabo tidak terlepas dari keberadaan masyarakat yang ada di
sekitarnya. Karena secara realitas terdapat beberapa wilayah desa yang berbatasan langsung
dengan KHDTK Tabo-Tabo. Sebagian masyarakat sekitar KHDTK Tabo-Tabo memanfaat
ketersediaan berbagai potensi alam yang terdapat di dalam KHDTK Tabo-Tabo untuk
pemenuhan kebutuhan ekonomi rumah tangganya, Hal ini telah dilakukan secara turun temurun
dan menjadi karakteristik dalam berinteraksi dengan KHDTK Tabo-Tabo. Oleh karena itu,
proses pelestarian KHDTK Tabo-Tabo tidak dapat dipisahkan dari keberadaan masyarakat
yang tinggal di sekitarnya, hal ini sejalan dengan pertanyaan Oszaer (2011) bahwa hutan dan
masyarakat lokal tidak dapat dipisahkan. Hal ini berarti bahwa masyarakat di sekitar KHDTK
Tabo-Tabo yang aktivitas kehidupannya bersentuhan langsung dengan hutan merupakan pihak
yang sangat merasakan dampak keberadaan KHDTK Tabo-Tabo secara langsung, baik dalam
arti positif maupun negatif. Maka sangat beralasan menempatkan masyarakat sekitar KHDTK
Tabo-Tabo sebagai mitra utama pengelolaan hutan lestari. Dengan demikian, masyarakat
sekitar KHDTK Tabo-Tabo dapat berperan aktif dalam menjaga dan melakukan pelestarian
KHDTK Tabo-Tabo. Pemanfaatan KHDTK tabo-Tabo yang dilakukan oleh masyarakat sekitar
hutan dapat memberi kontribusi positip bagi kelestariannya, jika dilaksanakan secara baik dan
bertanggung jawab. Namun, jika masyarakat kurang atau tidak memiliki pengetahuan dan
pemahaman teknis yang cukup baik dalam memanfaatkan KHDTK Tabo-Tabo maka yang akan
terjadi adalah sebaliknya.

1.2. Rumusan Masalah

Pada saat ini keberadaan KHDTK Tabo-Tabo dalam kondisi yang cukup terjaga atau
lestari, jika dibandingkan dengan kondisi kawasan hutan di sekitarnya. Hal ini mengindikasikan
bahwa tidak terdapat tekanan yang berarti dari masyarakat sekitar hutan yang dapat
mengakibatkan kerusakan hutan. Namun, masih perlu dipertanyakan apakah ketidak-adanya
tekanan tersebut disebabkan oleh kesadaran masyarakat akan arti pentingnya hutan bagi
kehidupan sehingga mau ikut menjaga kelestarian KHDTK Tabo-Tabo.

Berdasarkan hasil kajian lapangan ketika dilakukan praktek diklat pemetaan konflik pada
tahun 2015 dan 2017 jawabannya adalah ketiadaan tekanan ini sebagian besar bukan karena
kesadaran, namun lebih disebabkan oleh faktor “pakewuh” karena adanya hubungan
kekeluargaan antara sebagian besar masyarakat dengan pegawai BDLHK Makassar yang
notabene adalah masyarakat desa Tabo-Tabo. Masih terdapat sebagian masyarakat yang
memiliki keinginan untuk melakukan kegiatan alih fungsi KHDTK Tabo-Tabo menjadi sawah,
kebun, bahkan melakukan eksploitasi kayu. Jika dikaji lebih jauh maka permasalahan mendasar
adanya keinginan tersebut adalah dorongan faktor ekonomi (kesejahteraan). Oleh karena itu,
perlu dicarikan pola hubungan yang harmonis antara masyarakat sekitar KHDTK Tabo-Tabo
dengan lingkungan hutan sebagai tempat hidupnya. Disini, peran BDLHK Makassar, sebagai
institusi yang diberikan kewenangan mengelola KHDTK Tabo-Tabo, sangat dibutuhkan. Perlu
dilakukan berbagai upaya dan usaha (intervensi) oleh BDLHK Makassar dalam meningkatkan
kesadaran dan partisipasi masyarakat untuk melestarikan KHDTK Tabo-Tabo. Intervensi yang
dilakukan oleh BDLHK Makassar lebih bersifat stimulant untuk mendorong tumbuh dan
berkembangnaya potensi serta kemampuan masyarakat.

Berdasarkan fenomena yang diungkapkan di atas, disusun rumusan masalah sebagai


berikut:
1. Bagaimana proses pemberdayaaan masyarakat sekitar KHDTK Tabo-Tabo yang
berkesinambungan yang dapat dilaksanakan oleh BDLHK Makasar?
2. Bagaimana kaitan antara intervensi pemberdayaan dengan partisipasi masyarakat sekitar
hutan?
3. Bagaimana pemberdayaan masyarakat melalui pendekatan kelompok?

1.3. Tujuan Penulisan

Secara umum tulisan ini bertujuan untuk memberikan proyeksi gambaran upaya
pemberdayaan masyarakat sekitar hutan di Desa Tabo-Tabo sehingga mau berpartisipasi
dalam menjaga dan ikan KHDTK Tabo-Tabo. Secara spesifik tujuan penulisan ini adalah:

1. Mendeskripsikan proses pemberdayaan masyarakat sekitar KHDTK Tabo-Tabo yang


berkesinambungan yang dapat dilaksanakan oleh BDLHK Makasar.
2. Menjelaskan kaitan intervensi pemberdayaan dengan partisipasi masyarakat sekitar hutan.

2. Landasan Teori
2.1. Pembangunan Masyarakat

Pembangunan masyarakat perlu dipahami dengan benar sehingga dapat menjadi ruh
yang menggerakkan pelaksanaan program pembangunan kehutanan berbasis masyarakat.
Terdapat 2 (dua) dimensi dalam pembangunan masyarakat (community development) yaitu
bagaimana membangun keberdayaan atau kapasitas masyarakat (community organizing) dan
membangun ekonomi rakyat (economic development). Dimensi kedua (economic development)
pada umumnya merupakan dampak dari dimensi pertama, yang dilengkapi atau disertai dengan
adanya intervensi atau bantuan pihak eksternal. Kebanyakan pelaksanaan pembangunan lupa
pada dimensi yang pertama karena lebih fokus pada dimensi kedua tersebut, sehingga yang
terjadi program pembangunan lebih bersifat karikatif dibandingkan memberi solusi terhadap
persoalan yang dihadapi masyarakat. Oleh karena itu, perlu digarisbawahi bahwa yang menjadi
entry point atau titik masuk agar tercapai tujuan pembanguan kehuatan berbasis masyarakat
adalah dimensi pertama yaitu meningkatkan keberdayaan masyarakat.
Perserikatan Bangsa-Bangsa mendefinisikan pembangunan masyarakat (community
development) sebagai : "the process by which the efforts of the people themselves are united
with those of governmental authorities to improve the economic, social and cultural conditions of
communities, to integrade these communities into the life of the nations, and to enable them to
contribute fully to national progress" (Ndraha, 1990). Rumusan ini menekankan bahwa
pembangunan masyarakat merupakan upaya membangun dan meningkatkan potensi
masyarakat agar mampu meningkatkan kualitas hidup yang lebih baik/berdaya sehingga
mampu berpartisipasi secara penuh dalam pembangunan.

Pembangunan masyarakat (community development) adalah upaya atau kegiatan


mengembangkan potensi masyarakat yang diarahkan untuk memperbesar akses masyarakat
untuk mencapai kondisi sosial-ekonomi-budaya yang lebih baik apabila dibandingkan dengan
sebelum adanya kegiatan pembangunan (Rudito dan Budimanta, 2003). Sehingga diharapkan
masyarakat dapat menjadi lebih mandiri dengan kualitas kehidupan dan kesejahteraan yang
lebih baik pula. Terkait dengan pengertian tersebut, intervensi pemberdayaan yang merupakan
bagian dari pembangunan masyarakat (community development) harus dilakukan dengan cara
mengelola potensi yang dalam masyarakat tetapi belum diberdayakan untuk menjadi suatu
kekuatan sehingga dapat tercapai dampak/hasil yang lebih besar..

Pemberdayaan masyarakat merupakan bagian integral dari konsep pembangunan


ekonomi masyarakat (economic development) yang merangkum nilai-nilai sosial. Konsep ini
membangun paradigma baru dalam pembangunan, yakni lebih bersifat “people-centered,
participatory, empowering, and subtainable” (Chambers,1995). Konsep ini lebih luas dari hanya
semata-mata mempengaruhi kebutuhan dasar (basic needs) dan/atau menyediakan
mekanisme untuk mencegah proses kemiskinan lebih lanjut (safety net), namun lebih jauh lagi
yaitu sebagai upaya untuk mencari alternatif dan perbaikan terhadap kegagalan pembangunan
masyarakat di masa lalu.

Menurut Du Sautoy (1962), terdapat tiga hal penting suatu program pembangunan dapat
dikatakan sebagai program pembangunan berbasis community development. Apabila ketiga hal
tersebut diabaikan maka kegiatan yang dilaksanakan bukan kegiatan membangun masyarakat
(community development) melainkan pembangunan yang diperuntukan bagi masyarakat (work
for). Ketiga elemen tersebut adalah: (1) pelaksanaan program harus dapat menciptakan “self
help” masyarakat, (2) program harus sesuai dan mengedepankan kebutuhan masyarakat, dan
(3) pelaksanaan program harus dilaksanakan secara terintegrasi dengan mengaitkan berbagai
dimensi dan sektor.

2.2. Partisipasi Masyarakat

Secara etimologis partisipasi berasal dari kata bahasa Inggris participationyang berarti
take part in (ambil bagian), dengan demikian partisipasi dalampembangunan berarti ambil
bagian dalam suatu tahap atau lebih dalam suatuproses atau kegiatan pembangunan. Mubyarto
(1984) memberikan pengertian partisipasi sebagai kesediaan untuk membantu berhasilnya
setiap program sesuai kemampuan setiap orang tanpa berarti mengorbankan kepentingan diri
sendiri. Kesediaan berarti adanya unsur kerelaan yang melibatkan aspek emosional dan mental
dari orang yang terlibat. Unsur kemampuan sebagaimana yang dinyatakan oleh Mubyarto lebih
ditekankan untuk menghargai adanya perbedaan individu. Artinya, setiap orang akan berbeda-
beda bentuk partisipasinya disesuaikan dengan kemampuan dan kepentingan masing-masing
orang tersebut Agar tumbuh partisipasi, paling tidak ada tiga syarat yang harus dipenuhi
(Slamet, 2003), yaitu: (1) adanya lingkungan yang mendukung atau kesempatan bagi
masyarakat untuk terlibat dalam pembangunan, (2) adanya kemampuan masyarakat untuk
memanfaatkan kesempatan tersebut, dan (3) adanya kemauan atau motivasi dari masyarakat
untuk berpartisipasi.

Menurut Cary (dalam Suprayitno, 2011) partisipasi memiliki fungsi ganda yaitu sebagai
alat dan sekaligus tujuan pembangunan masyarakat. Sebagai alat pembangunan, partisipasi
berperan sebagai penggerak dan pengarah proses perubahan sosial yang dikehendaki,
demokratisasi kehidupan sosial ekonomi serta berasaskan kepada pemerataan dan keadilan
sosial, pemerataan hasil pembangunan yang bertumpu pada kepercayaan kemampuan
masyarakat sendiri. Sebagai tujuan pembangunan, partisipasi merupakan bentuk nyata
kehidupan masyarakat yang berdaya, sejahtera, adil, dan makmur. Slamet (2003) menjelaskan
lebih rinci bahwa yang dimaksud dengan masyarakat berdaya adalah masyarakat yang tahu,
mengerti, faham termotivasi, berkesempatan, memanfaatkan peluang, berenergi, mampu
bekerjasama, tahu berbagai alternatif, mampu mengambil keputusan, berani mengambil resiko,
mampu mencari dan menangkap informasi dan mampu bertindak sesuai dengan situasi. Proses
pemberdayaan yang melahirkan masyarakat yang memiliki sifat seperti yang diharapkan harus
dilakukan secara berkesinambungan dengan mengoptimalkan partisipasi masyarakat secara
bertanggungjawab.
Dari beberapa pendapat di atas, maka dapat dinyatakan bahwa keterlibatan atau
partisipasi masyarakat sekitar hutan dalam kegiatan pengelolaan hutan secara lestari sangat
diperlukan, demikian pula dengan dalam pengelolaan KHDTK Tabo-Tabo.

3. Metode Kajian

Metode yang mendasari penulisan ini adalah pengamatan lapangan dan wawancara,
yaitu bertanya dan mengamati langsung aktivitas dilakukan oleh masyarakat desa sekitar
KHDTK Tabo-Tabo. Pembahasan dilaksanakan dengan melakukan kajian teoritis/konseptual
terhadap fenomena atau fakta empiris yang terjadi.

4. Hasil dan Pembahasan

4.1. Proses Pemberdayaan Masyarakat yang Berkesinambungan

Pemberdayaan masyarakat sekitar KHDTK Tabo-Tabo oleh BDLHK Makasar, pada


prinsipnya, harus dipandang sebagai sebuah proses yang berkesinambungan, jangan sekedar
dipandang sebagai sebuah program atau proyek yang bisa saja terhenti karena dibatasi oleh
target waktu dan/atau ketersediaan anggaran. Prinsip ini sejalan dengan pernyataan Hogan
(2000) bahwa pemberdayaan bukan kegiatan yang terhenti pada suatu masa, melainkan suatu
proses yang terus berlangsung sepanjang usia (empowerment is not an end state, but a
process that all human beings experience).

Kegiatan pemberdayaan masyarakat sekitar hutan harus diarahkan pada bagaimana


masyarakat sekitar KHDTK Tabo-Tabo dapat berusaha tani lebih baik, berusaha tani lebih
menguntungkan “better bussines”, hidup lebih sejahtera, dan mampu menciptakan lingkungan
yang lebih sehat dan bersahabat. Dengan demikian sasaran kegiatan pemberdayaan
masyarakat harus bersifat komprehensif/integral bukan hanya masalah penerapan teknologi,
tetapi termasuk juga perubahan sikap, cara hidup, dan kemampuan berusaha lebih
menguntungkan. Yang menjadi perhatian bukan hanya kegiatan produksi saja, tetapi
menyangkut juga silvoagribisnis dan agroindustri, usaha rumah tangga dan pedesaan.
Pendekatan yang dapat dilakukan oleh BDLHK Makassar adalah pendekatan silvo agribisnis,
pendekatan keterpaduan dengan pembangunan ekonomi pedesaan, dan pendekatan
sumberdaya, yang mana ketiga pendekatan tersebut kemudian dapat dijabarkan menjadi
pedoman atau pegangan dalam penyelenggaraan pemberdayaan masyarakat, yaitu: 1) titik
berat pembangunan adalah SDM masyarakat sekitar KHDTK tabo-tabo agar menjadi pintar,
kreatif, analitis, mandiri dan hidup layak serta sejahtera; 2) dalam membantu masyarakat sekitar
KHDTK tabo-tabo diberikan kail bukan ikannya; 3) dalam membangun dan mengembangkan
masyarakat sekitar KHDTK tabo-tabo dan usaha taninya tidak dilakukan sendiri akan tetapi
harus bekerja sama secara utuh agar memberikan output yang optimal dan berdampak sinergi.

Pemberdayaan perlu dilaksanakan oleh BDLHK Makassar secara sistimatis. Berangkat


dari pendapat Slamet (2003) tentang faktor-faktor yang dapat memicu dan memacu partisipasi
masyarakat dalam pembangunan, gambar berikut menunjukan alur pikir proses pemberdayaan
yang sistematis dan berkesinambungan yang perlu dilakukan oleh BDLHK Makasar.:

Gambar. Alur Pikir Pembangunan Masyarakat

Kegatan awal yang perlu dilakukan oleh BDLHK adalah menganalisis potensi sumber
daya alam atau hutan untuk menentukan mana bagian yang dapat dikelola dan dimanfaatkan
masyarakat. Perlu juga dilakukan analisis terhadap kualitas masyarakat untuk mengetahui
sejauhmana pengetahuan, sikap, motivasi dan keterampilan masyarakat. Dengan mengetahui
kualitas masyarakat maka akan diketahui kemampuan masyarakat untuk terlibat dalam
kegiatan pemberdayaan serta dapat dirancang pendekatan yang tepat untuk kegiatan
selanjutnya.

Kegiatan pemberdayaan akan berjalan dengan baik jika didukung oleh masyarakat.
Masyarakat akan mendukung kegiatan jika kegiatan tersebut dibutuhkan atau dianggap penting
dan bermanfaat bagi mereka, sebagaimana dinyatakan oleh Ife (1995) bahwa masyarakat akan
mendukung kegiatan program pembangunan jika kegiatan yang ditawarkan dianggap penting
atau sesuai dengan kebutuhan dan juga dapat memberikan sesuatu yang menguntungkan atau
bermanfaat. Oleh karenanya perlu dilakukan analisis harapan dan kebutuhan masyarakat.
Berdasarkan hasil analisis kualitas, potensi dan kebutuhan masyarakat, selanjutnya BDLHK
dapat merancang atau menyusun rencana kegiatan pemberdayaan.

Rencana pemberdayaan yang didalamnya berisi berbagai pendekatan pelaksanaan


kemudian diimplementasikan berupa intevensi pemberdayaan, yang secara operasional dapat
termanifestasi dalam bentuk diklat bagi masyarakat dimana output diklat tersebut dapat
mendukung kegiatan pemberdayaan, ataupun termanisfestasi dalam bentuk kegiatan
penyuluhan/pendampingan. Keterlibatan atau kerjasama secara sinergi dengan pihak atau
instansi lain baik pemerintah maupun swasta, perlu dipertimbangkan, dalam melancarkan
kegiatan pemberdayaan sehingga output pemberdayaan sesuai dengan yang diharapkan.

Hasil pemberdayaan masyarakat sekitar KDHTK tabo-tabo harus berupa peningkatan


kualitas hidup masyarakat baik dari aspek ekonomi, sosial maupun budaya dan juga tercipta
kondisi lingkungan dan KHDTK tabo-tabo yang lestari. Untuk mengetahui hasil pemberdayaan
tersebut dilakukan evaluasi. Evaluasi ini dipergunakan oleh BDLHK Makasar untuk balikan
proses pemberdayaan selanjutnya atau untuk perbaikan kelanjutan proses pemberdayaan yang
telah berlangsung. Mengingat proses pemberdayaan memerlukan waktu yang cukup panjang,
maka kegiatan pemberdayaan perlu dirancang secara sistematis dengan tahapan kegiatan
yang jelas dan dilakukan terus-menerus dalam kurun waktu yang cukup berdasarkan
kemampuan dan potensi usaha masyarakat sekitar hutan desa tabo-tabo, artinya proses ini
harus dipandang sebagai sebuah siklus yang berjalan secara berkesinambungan.
4.2. Intervensi Pemberdayaan sebagai Proses Membangun Partisipasi Masyarakat
Sekitar Hutan

Sebagaimana telah diulas sebelumnya, bahwa upaya penumbuhan dan pengembangan


partisipasi masyarakat sekitar KHDTK tabo-tabo dapat diupayakan melalui kegiatan
pemberdayaan. Intervensi pemberdayaan yang dilakukan hendaknya lebih bersifat stimulant
untuk mendorong tumbuh dan berkembangnya motivasi, potensi serta kemampuan masyarakat
sehingga dapat berpartisipasi dalam pelestarian KHDTK tabo-tabo sekaligus dapat
meningkatkan kesejahteraan hidupnya. Pemberdayaan harus dipandang sebagai upaya untuk
menyiapkan masyarakat sekitar KHDTK tabo-tabo agar mereka memiliki pengetahuan,
kemampuan dan mau secara aktif berpartisipasi dalam kegiatan pengelolaan hutan lestari yang
disandingkan dengan kegiatan peningkatan atau perbaikan mutu atau kesejahteraan hidupnya.

Perlu diperhatikan oleh BDLHK Makassar bahwa tumbuh dan berkembangnya partisipasi
masyarakat menyaratkan adanya kepercayaan dan kesempatan dari BDLHK Makassar kepada
masyarakat untuk terlibat aktif di dalam kegiatan pemberdayaan. Oleh karena itu, sudah
seharusnya masyarakat sekitar hutan diklat dilibatkan di dalam setiap tahapan proses
pemberdayaan. Masyarakat perlu dilibatkan mulai dari proses analisis kebutuhan, analisis
kualitas, analisis potensi sumberdaya alam, penyusunan rencana pemberdayaan sampai
dengan tahapan pengawasan.

Setiap tahapan harus dilaksanakan secara bersama-sama, sehingga muncul sense of


belonging dan sense of responsibility pada keberhasilan kegiatan pemberdayaan apabila
diimplementasikan. Artinya, dengan melibatkan masyarakat mulai dari awal sampai berakhirnya
kegiatan yang kemudian dapat dilanjutkan dengan kegiatan yang baru, mengindikasikan
adanya pengakuan dari BDLHK Makassar bahwa masyarakat bukan sekedar obyek melainkan
juga sebagai subyek yang memiliki kemampuan dan kemauan yang dapat diandalkan sejak
perencanaan, pelaksanaan, pengawasan dan pemanfaatan hasil-hasl pemberdayaan.
Pemikiran ini sejalan dengan paradigm pembangunan kehutanan yang sedang berkembang
saat ini yaitu pemberdayaan bagi masyarakat desa sekitar KHDTK tabo-tabo harus berada
dalam kerangka pembangunan berbasis masyarakat (people centered development), yang
menekankan dan memperhatikan kebersamaan dalam keragaman (pluralitas) dan kekhasan
lokal, kearifan lokal, untuk bersama-sama menggalang kekuatan dan meningkatkan
kemandirian. Dengan kata lain, membangun pemberdayaan partisipatif. Paradigma ini sejalan
dengan pendapat Hikmat (2001) bahwa dalam pembangunan masyarakat, yang dikatakan
“pemberdayaan” adalah ketika mampu menampilkan 5 karakteristik, yaitu berbasis lokal,
berorientasi pada peningkatan kesejahteraan, berbasis kemitraaan, bersifat holistik, dan
berkelanjutan..

Dalam merancang dan melaksanakan program pemberdayaan yang ditawarkan, biasanya


tidak serta merta kegiatan tersebut didukung oleh masyarakat, bahkan masih dijumpai berbagai
hambatan. Kadangkala, dan tidak jarang, terdapat kelompok-kelompok dalam masyarakat yang
bersikap apatis bahkan melakukan penolakan terhadap kegiatan yang ditawarkan terjadi apa
yang dikenal sebagai resistance to change.. Hambatan ini, pada hakekatnya, terjadi karena
adanya perbedaan persepsi atau sudut pandang antara masyarakat dengan instansi yang
memiliki kewenangan mengelola hutan, termasuk BDLHK Makassar. Situasi seperti ini
sebagaimana dinyatakan oleh Watson (1985) bahwa terdapat beberapa hambatan dalam
pelaksanaan program pembangunan. Hambatan yang disampaikan Watson pada prisnipnya
berlaku universal maka sangat terkait juga dengan program pembangunan masyarakat.
Kendala-kendala tersebut dapat juga dijumpai pada masyarakat desa sekitar KHDTK Tabo-
Tabo, sehingga dapat dijadikan rujukan atau pertimbangan oleh BLHK Makassar sehingga
dapat mengantisipasi atau mencarikan solusi secara bersama dengan masyarakat ketika
merancang dan mengimplementasikan program pemberdayaan masyarakat. Agar program
pemberdayaan bisa berjalan sesuai dengan harapan, maka perlu dilakukan antisipasi terhadap
kemungkinan adanya hambatan tersebut. Sudah semestinya agar BDLHK Makasar dapat
melakukan antisipasi yang tepat terhadap berbagai faktor penghambat, terlebih dahulu perlu
dilakukan usaha untuk memahami dan mengidentifikasikannya. Hambatan-hambatan tersebut
adalah:

1. Kekhawatiran bahwa program yang ditawarkan oleh BDLHK Makassar tidak membawa
perubahan yang berarti bahkan membawa dampak yang tidak dinginkan.
2. Tingkat kemampuan masyarakat berupa pengetahuan, keterampilan dan pengalaman yang
rendah terkait dengan program yang ditawarkan.
3. Masyarakat menganggap buang-buang waktu.
4. Masyarakat cenderung mempertahankan status quo, yang dianggap sebagai zona nyaman
5. Adanya kecurigaan pada pihak luar, dalam hal ini BDLHK Makassar dianggap sebagai
pihak yang hanya ingin memanfaatkan masyarakat untuk kepentingan BDLHK Makassar..

Antisipasi terhadap apatisme dan penolakan masyarakat perlu dilakukan oleh BDLHK
Makassar. Perubahan perilaku masyarakat merupakan sebuah proses yang tidak mudah, oleh
karena itu diperlukan waktu yang cukup panjang agar nantinya masyarakat bersedia menerima
program yang ditawarkan sebagai bagian dari pola aktivitasnya sehari-hari. sebagaimana
pernyataan Zaltman (1982) bahwa dalam memperkenalkan perubahan dalam masyarakat,
antisipasi terhadap faktor yang menjadi penghambat perlu dilakukan sejak memotivasi
masyarakat melakukan perubahan, memilih jenis-jenis perubahan yang diperkenalkan sampai
dengan saat memilih prosedur dalam melaksanakan perubahan. Ibarat mendorong mobil di
jalan yang banyak gundukan tanahnya. Agar mobil tersebut dapat berjalan lancar perlu usaha
menghilangkan gundukan tanah tersebut.

Faktor hambatan terhadap kegiatan pemberdayaan dapat dikurangi oleh BDLHK Makassar
dengan memperhatikan 2 (dua) hal, yaitu pertama masyarakat harus merasa bahwa kegiatan
tersebut adalah miliknya, sehingga dalam proses berikutnya masyarakat akan merasa ikut
bertanggung jawab bagi keberhasilan program pemberdayaan, sehingga dapat memberikan
kontribusi yang optimal. Solusi dari hambatan ini adalah sebagaimana telah dijelaskan di atas
yaitu melibatkan masyarakat mualai dari proses perencanaan sampai dengan evaluasi dari
kegiatan yang ditawarkan. Kedua Kegiatan tersebut mendapat dukungan dan merupakan
kesepakatan. Hal ini berkaitan dengan solusi yang pertama. Jika masyarakat telah memeiliki
sense of belonging terhadap sebuah kegiatan artinya kegiatan tersebut kedepannya akan
berjalan sebagaimana yang diharapkan, karena secara otomatis sense of belonging ini dapat
diartikan sebagai dukungan dan kepercayaan masyarakat terhadap kegiatan yang ditawarkan.
Namun, harus diupayakan bahwa kegiatan yang ditawarkan bukan merupakan tindakan
individual melainkan tindakan kolektif di mana gagasan kegiatan mungkin bisa berasal dari
individu, namun agar dapat menjadi faktor pendorong bagi tindakan bersama maka gagasan
tersebut perlu ditransfomasi menjadi gagasan kolektif.

4.3. Pemberdayaan Masyarakat Sekitar Hutan Diklat Tabo-Tabo Melalui Peningkatan


Dinamika Kelompok

Secara konseptual pemberdayaan masyarakat sekitar hutan diklat tabo-tabo ruang


lingkupnya dapat dipersempit menjadi pemberdayaan kelompok tani hutan. Pemberdayaan
kelompok tani hutan dapat diartikan sebagai upaya meningkatkan kemampuan kelompok tani
hutan dalam menjalankan dan mengembangkan usahanya secara mandiri dan berkelanjutan.
Kemandirian kelompok tani hutan dapat terwujud apabila kelompok tani hutan mampu
mengembangkan usaha di bidang agroforestri secara mandiri yang mencakup aspek
kelembagaan, manajemen dan usaha agroforestrinya. Dengan demikian, fokus pemberdayaan
kelompok tani hutan diarahkan dalam rangka pengembangan kelembagaan, manajemen dan
usaha-usaha bidang agroforestri.

Proses pemberdayaan kelompok tani hutan sekitar hutan diklat tabo-tabo hendaknya
dilakukan dengan menumbuhkan kesadaran kelompok dalam mengembangkan usahanya.
Upaya menumbuhkembangkan kesadaran ini harus dilakukan secara partisipatif, sebagaimana
telah diuraikan di atas. Kegiatan pemberdayaan juga harus diarahkan dan diartikan sebagai
upaya mengurangi ketergantungan petani sebagai pelaku usaha terhadap berbagai fasilitas dan
kemudahan yang disediakan pemerintah (Balai Diklat LHK Makassar), serta meningkatkan
kemandirian kelompok. Melalui pendekatan kelompok yang dibingkai kegiatan agrosilvo bisnis,
diharapkan dapat mendorong terwujudnya kelembagaan ekonomi kerakyatan di desa sekitar
hutan diklat tabo-tabo untuk mendukung kegiatan ekonomi petani.

Dengan terbentuknya kelompok tani hutan yang mandiri banyak manfaat yang akan
dipetik oleh masyarakat, karena melalui kegiatan kelompok masyarakat tani sekitar hutan dibina
untuk berkelompok yaitu agar mereka memiliki wadah untuk berorganisasi dan bersosialisasi.
Kelompok ini akan berfungsi sebagai kelas belajar, wahana bekerjasama, dan unit produksi.
Para petani diajak belajar sambil bekerja. Hal ini akan menciptakan suasana yang
menyenangkan bagi kelompok, yang akan menciptakan keakraban para anggota kelompok
yang akan bermuara pada terciptanya kekohesifan kelompok.

Oleh karena itu perlu dilakukan, oleh Balai Diklat LHK Makassar, kegiatan-kegiatan
mengembangkan kelompok tani hutan sebagai lembaga tani hutan yang tangguh, terutama di
bidang ekonomi, sosial, dan budaya dengan menfasilitasi proses pembelajaran petani dan
masyarakat pelaku bisnis agroforestri, membantu menciptakan iklim usaha yang
menguntungkan, memberikan rekomendasi dan mengusahakan akses-akses petani ke sumber-
sumber informasi dan sumberdaya lainnya demi memecahkan masalah kelompok tani,
menjadikan unit penyuluhan yang ada di Balai Diklat LHK Makasar sebagai wadah mediasi dan
intermediasi terutama menyangkut teknologi untuk kepentingan agroforestri.

Pada “pendekatan kelompok mandiri”, oleh Balai Diklat LHK Makassar, masyarakat tani
sekitar hutan diklat tabo-tabo hendaknya dibina untuk mandiri melalui kemampuan
memecahkan sendiri masalah yang dihadapi baik teknis, sosial maupun ekonomi. Dalam
kegiatan kelompok, masyarakat harus dibimbing untuk belajar memecahkan masalah-masalah
yang dihadapi serta dibimbing untuk membiasakan mencari kemungkinan-kemungkinan yang
lebih baik sehingga secara bertahap mereka akan menjadi sumber daya manusia yang
berinisiatif, produktif dan berswadaya. Melalui kerjasama kelompok mereka akan dapat
mengembangkan kemampuan-kemampuan mengidentifikasi masalah sampai mencari upaya
pemecahan masalah dan akhirnya mengambil sendiri keputusan. Kedinamisan suatu kelompok
tani merupakan komponen yang krusial dalam rangka mengembangkan kemandirian kelompok
tersebut. Kelompok-kelompok yang berhasil mandiri “biasanya” adalah kelompok tani yang
memiliki dinamika kelompok yang tinggi.

Slamet (2003) menyatakan bahwa membuat suatu kelompok dinamis bukanlah


pekerjaan yang mudah. Kelompok mempunyai perilaku, demikian pula anggota-anggotanya.
Perilaku ini dipengaruhi oleh kekuatan-kekuatan yang ada dalam kelompok. Kekuatan-kekuatan
tersebut dinamakan dinamika kelompok. Dengan demikian membahas dinamika kelompok,
artinya menguraikan kekuatan-kekuatan atau faktor-faktor yang terdapat dalam situasi
kelompok yang menentukan perilaku kelompok dan perilaku anggotanya dalam mencapai
tujuan.

Banyak faktor yang dapat mempengaruhi dinamika suatu kelompok tani hutan. Banyak
di antaranya yang harus dapat diciptakan di dalam dan oleh kelompok itu sendiri. Terdapat
faktor-faktor yang secara psikologis mempengaruhi dinamika kelompok. Faktor-faktor tersebut
perlu mendapat perhatian dari Balai Diklat LHK Makassar agar kedinamisan kelompok dapat
ditumbuhkan dan berkembang dengan baik. Namun, untuk keperluan pembinaan dinamika
kelompok tani masih perlu kiranya dirumuskan secara lebih konkret hal-hal yang perlu dilakukan
yang sesuai dengan faktor-faktor itu. Faktor-fakor tersebut adalah:

1. Tujuan

Seluruh anggota kelompok tani hutan perlu mengetahui dengan baik tujuan yang
hendak dicapai oleh kelompoknya. Tujuan tersebut merupakan sesuatu yang harus dicapai
secara bersama-sama untuk kepentingan bersama. Tujuan kelompok harus relatif selaras
dengan tujuan individual dari anggota-anggotanya. Dengan demikian, Balai Diklat LHK
Makassar, seyogyanya perlu mengetahui tujuan-tujuan yang secara perorangan ingin
dicapai oleh para anggota yang ada dalam kelompok tani hutan. Kemudian bersama
dengan kelompok binaannya merumuskan tujuan perorangan tersebut menjadi tujuan
bersama yang ingin dicapai. Tujuan kelompok ini akan dapat menjadi sumber utama
aktivasi motivasi anggota untuk berpartisipasi aktif dalam kegiatan kelompok.

2. Struktur Kelompok

Setiap kelompok tani hutan harus memiliki struktur yang mengatur interaksi dalam
kelompok untuk mencapai tujuan. Struktur kelompok merupakan suatu pola teratur tentang
bentuk tata hubungan antara individu-individu dalam kelompok yang menggambarkan
kedudukan dan peran masing-masing anggota dalam upaya pencapaian tujuan kelompok.
Ketidakjelasan struktur kelompok berpengaruh terhadap ketidakjeasan kedudukan, peran,
hak dan kewajiban, serta kekuasaan anggotanya, sehingga pelaksanaan kegiatan tidak
mungkin dapat berlangsung secara efisien dan efektif untuk mencapai tujuan kelompok.
Terdapat tiga hal penting dari struktur kelompok, yang menentukan kehidupan suatu
kelompok:

a) struktur kekuasaan, yaitu bagaimana orang-orang mengambil keputusan atas nama


kelompok.
b) Sistem komunikasi dalam kelompok, yaitu bagaimana informasi atau pesan-pesan
tersebar kepada anggota
c) Wahana bagi kelompok untuk berinteraksi.

Struktur dari ketiga hal tersebut haruslah sesuai dengan keinginan anggota, atau setidak-
tidaknya memuaskan anggota. Pengambilan keputusan yang selalu didominasi oleh orang-
orang tertentu saja mungkin dapat diterima oleh kelompok tertentu, tetapi mungkin tidak
memuaskan untuk kelompok lain.

3. Fungsi Tugas

Fungsi tugas yang dimaksudkan adalah memfasilitasi dan mengkoordinasi usaha-usaha


kelompok tani hutan yang menyangkut masalah-masalah bersama dan dalam rangka
memecahkan masalah-masalah itu. Hal-hal yang harus dilakukan di dalam kelompok agar
kelompok tani hutan mencapai tujuannya harus berorientasi pada tujuan. Enam kriteria
fungsi tugas yang perlu mendapat perhatian, yaitu :

a) Kepuasan semua anggota karena bisa mencapai tujuan kelompok.


b) Mencari informasi dan mendapatkan gagasan-gagasan yang diperlukan kelompok.
c) Adanya koordinasi yang baik untuk mencapai kesepakatan bersama.
d) Inisiasi, mengigatkan motivasi dan inisitaf anggota untuk memulai suatu kegiatan nyata.
e) Diseminasi, yaitu penyebaran informasi dan aktivitas, yang berdampak semua anggota
mengetahui dan terlibat.
f) Menjelaskan, yaitu memperjelas sesuatu agar anggota kelompok tidak mengalami tanda
tanya atau kebingungan, termsuk laporan keuangan.

4. Pembinaan dan Pengembangan Kelompok

Pembinaan dan pengembangan kelompok tani hutan diarahkan pada usaha menjaga
kelangsungan hidup kelompok (survival oriented). Usaha-usaha pembinaan dan
pengembangan kelompok tani hutan yang perlu dilakukan, yaitu :

a) Partisipasi: usahakan adanya partisipasi semua anggota, agar tumbuh perasaan


sebagai bagian dari kelompok.
b) Fasilitas: Penyedian input dan sarana yang diperlukan oleh kegiatan kelompok untuk
tercapainya tujuan.
c) Aktivitas: adanya aktivitas merupakan tanda kehidupan kelompok.
d) Koordinasi: dengan adanya koordinasi maka akan dapat meminimalisasi dan atau
terhindar dari konflik yang bisa membahayakan kehidupan kelompok.
e) Komunikasi: komunikasi vertikal dan horisontal yang baik merupakan kunci pembinaan
kelompok.
f) Penentuan standar: adanya standar perilaku (norma) akan merupakan alat kontrol yang
ampuh.
g) Sosialisasi: usaha pendidikan agar bisa menjadi anggota yang baik, sehingga tercipta
dan terjaga kehidupan kelompok yang harmonis.
h) Mendapatkan anggota baru: mengganti anggota yang keluar, menambah anggota baru,
dan mempertahankan jumlah anggota yang dilakukan secara terbuka.

5. Kekompakan Kelompok

Bagaimana menumbuhkan keterikatan yang kuat pada anggota kelompok tani hutan,
menumbuhkan rasa kesatuan dan solidaritas. Untuk keperluan tersebut perlu diperhatikan
hal-hal sebagai berikut:
a) Kepemimpinan, yaitu bagaimana pemimpin menjalankan fungsi kepemimpinan dalam
membina kesatuan dan persatuan anggotanya untuk mencapai tujuan kelompok..
Kepemimpinan yang ada harus sesuai dengan sifat kelompok yang demokratis dan
edukatif
b) Keanggotaan, yaitu perlu dikembangkan rasa memiliki, afiliasi atau keterikatan terhadap
kelompok.
c) Nilai dan tujuan kelompok, yaitu pandangan anggota terhadap tujuan-tujuan yang akan
dicapai oleh kelompok. Penilaian terhadap tujuan kelompok dilihat dari segi nilai sosial,
spiritual dan ekonomis.
d) Homogenitas anggota kelompok, yaitu adanya unsur-unsur yang mencirikan adanya
kesamaan dan kebersamaan dari anggota kelompok.
e) Integrasi, yaitu keterpaduan antar anggota dalam suatu kelompok sehingga kelompok
dapat bergerak dengan baik dan efisien.
f) Kerja sama, yaitu dalam melaksanakan kegiatan untuk mencapai tujuan, harus dipupuk
jiwa kerja sama di antara anggota kelompok sehingga diharapkan akan meningkatkan
kekompakan dan kedinamisan kelompok.
g) Besarnya kelompok, yaitu semakin besarnya kelompok maka biasanya akan semakin
sulit menyatu dibanding kelompok yang berukuran kecil, dengan kata lain kelompok
yang kecil lebih mudah dibina dibandingkan dengan kelompok yang besar.

6. Suasana Kelompok

Perasaan-perasaan dan sikap-sikap mental yang umum terdapat dalam kelompok. Hal
ini menyangkut moral kelompok, yang berhubungan dengan antusiasme ataupun apatisme.
Keakraban pergaulan dalam kelompok ataupun pertentangan yang ada menimbulkan
tegangan tertentu yang menentukan suasana atau iklim kelompok. Suasana bebas harus
diusahakan sebagai pengganti suasana tertekan atau terkekang. Adapun faktor-faktor yang
mempengaruhi suasana adalah sebagai berikut :

a) Tegangan (tension), dapat berasal dari dalam atau luar kelompok. Situasi ini dapat
menggiatkan motivasi anggota kelompok atau sebaliknya akan menciptakan suasana
kelompok tidak kondusif. Suatu tegangan berupa ancaman dari luar yang ditujukan pada
kelompok biasanya akan menimbulkan rasa solidaritas tinggi pada diri anggota, namun
sebaliknya jika timbul dari dalam karena munculnya konflik terkadang akan
menyebabkan suasana kelompok menjadi tidak kondusif..
b) Hubungan antar anggota kelompok, yang dilihat dari tingkat keramahan dan
persahabatan (friendly) atau cendrung bersifat konflik atau permusuhan.
c) Kelonggaran (permissiveness), yaitu adanya kebebasan yang dimiliki anggota dalam
menyalurkan ide-ide atau bersifat terkendali, yaitu anggota tidak memiliki kebebasan
(controlled).
d) Lingkungan fisik, meskipun bersifat temporer, namun suasana lingkungan fisik yang baik
akan mendukung kegiatan kelompok dan mempengaruhi emosi anggota kelompok.
e) Demokrasi dimana pendapat anggota diperhatikan, atau bersifat otokratis dimana
pendapat anggota diabaikan.

7. Tekanan pada Kelompok

Tekanan pada kelompok dapat menumbuhkan atau mematikan kedinamisan kelompok


tani. Sumber tekanan dapat berasal dari dalam kelompok (internal pressure) atau berasal
dari luar (eksternal pressure). Tekanan yang datangnya dari dalam kelompok misalnya
tuntutan-tuntutan dari para anggota untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi
mereka. Sepanjang tuntutan tersebut masih logis untuk dilaksanakan dan dipenuhi, maka
hal tersebut dapat meningkatkan kedinamisan kelompok. Sebaliknya jika terlalu berat atau
tidak mungkin dilaksanakan, maka dapat mematikan kedinamisan kelompok. Sehubungan
dengan konteks ini, penyuluh dapat mengambil peranan dalam menumbuhkan tekanan-
tekanan internal yang bersifat positif.

Tekanan yang datangnya dari luar kelompok sering pula dapat menumbuhkan dinamika
baru, sepanjang masih dalam batas-batas kemampuan kelompok untuk mengatasinya.
Misalnya dalam bentuk target-target produksi ataupun perlombaan-perlombaan antar
kelompok yang sejenis. Tekanan-tekanan lain yang menghendaki adanya uniformitas
ataupun konformitas sering juga dapat meningkatkan dinamika kelompok, sepanjang hal
tersebut terasa manfaatnya bagi para anggota kelompok.

Dari uraian di atas jelaslah kiranya bahwa pendinamisan kelompok tani bukanlah suatu
pekerjaan yang mudah dan yang dapat dikerjakan dalam waktu singkat. Banyak hal yang harus
dibenahi lebih dahulu, termasuk pembinaan dan latihan bagi para pendamping masyarakat
yang ada di BDLHK Makassar agar mereka benar-benar mampu membina dinamika kelompok
tani.
5. Penutup
5.1. Kesimpulan

Dukungan masyarakat dalam rangka menjaga kelestarian hutan pendidikan dan


pelatihan tabo tabo sangat diperlukan. Partisipasi masyarakat untuk melestarikan hutan
merupakan elemen krusial. Keterlibatan masyarakat dalam melestarikan hutan dapat dilakukan
melalui kegiatan pemberdayaan. Pemberdayaan masyarakat adalah konsep pembangunan
ekonomi yang merangkum nilai-nilai sosial. Konsep ini mencerminkan paradigma pembangunan
yang baru, yaitu "berpusat pada orang, partisipatif, memberdayakan, dan berkelanjutan". Dalam
kegiatan pemberdayaan ini, oleh BDLHK Makassar, potensi masyarakat harus dipicu dan
didorong melalui partisipasi dari perencanaan sampai evaluasi.

Pendekatan kelompok tani hutan mandiri merupakan salah satu strategi pemberdayaan
masyarakat yang dapat dilakukan oleh BDLHK Makasasar sehingga masyarakat sekitar hutan
diklat tabo-tabo mau dan mampu secara mandiri berperan serta atau terlibat dalam pengelolaan
dan pelestarian hutan untuk meningkatkan kesejahteraannya. Dengan terbentuknya kelompok
tani hutan yang mandiri banyak manfaat yang akan dipetik oleh masyarakat, karena melalui
kegiatan kelompok masyarakat tani sekitar hutan dibina untuk berkelompok yaitu agar mereka
memiliki wadah untuk berorganisasi dan bersosialisasi. Kelompok ini akan berfungsi sebagai
kelas belajar, wahana bekerjasama, dan unit produksi. Para petani diajak belajar sambil
bekerja.

5.2. Saran

BDLHK Makassar hendaknya dapat melakukan intervensi pemberdayaan yang dapat


meningkatkan partisipasi masyarakat, dan berperan aktif sebagai fasilitator dalam memberikan
dukungan, pengetahuan, pengajaran, penyuluhan dan motivasi kepada masyarakat sekitar
hutan diklat tabo-tabo demi kesuksesan program pemberdayaan masyarakat. BDLHK Makassar
harus mampu menjadi pendamping masyarakat sekitar hutan diklat tabo-tabo agar sumber
daya alam dan sumber daya manusianya dapat dikembangkan dengan maksimal.
Daftar Pustaka

Chambers R. 1995. PRA Participatory Rural Appraisal: Memahami Desa Secara Partisipatif.
Sukoco Y, penerjemah, Nugroho PA, editor. Yogyakarta: Kanisius/OXFAM kerjasama
dengan Yayasan Mitra Tani.

[BDLHK] Balai Diklat Lingkungan Hidup dan Kehutanan Makassar. 2014. Laporan Kegiatan:
Survei Sosial Ekonomi Masyarakat Desa Tabo-Tabo, Kecamatan Bungoro Kabupaten
Pangkep. Makassar: Balai Diklat Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Hikmat H. 2001. Strategi Pemberdayaan Masyarakat. Bandung: Humaniora Utama Press.

Hogan C. 2000. Facilitating Empowerment: A Handbook for Facilitators, Trainers and


Individuals. Londong: Kogan Page Limited.

Ife J. 1995. Community Development: Creating Community Alternatives - Vision, Anallysis and
Practice: Australia: Longman Australia Pty. Ltd.

Mubyarto. 1984. Strategi Pembangunan Pedesaan. Yogyakarta: P3PK UGM.

Ndraha T. 1990. Pembangunan Masyarakat. Jakarta: Rineka Cipta.

Oszaer R. 2011. Pembangunan Hutan Berbasis Ekosisitem dan Masyarakat. http://indonesia


forest.webs.com

Rudito B, Budimanta A. 2003. Metode dan Teknik Pengelolaan Community Development.


Jakarta: Indonesia Center for Sustainable Development.

Slamet, M. 2003. Kumpulan Materi Kuliah Kelompok, Organisasi dan Kepemimpinan. Bogor:
Program Studi Ilmu Penyuluhan Pembangunan., Sekolah Pascasarjana, IPB.

Watson. 1985. Planning of Change. New York: Harcourt, Brace & World Inc.

Slamet M. 2003. Membentuk Pola Prilaku Manusia Pembangunan. Bogor: IPB Press.

Suprayitno AR. 2011. Model Peningkatan Partisipasi Petani Sekitar Dalam Mengelola Hutan
Kemiri Rakyat. [disertasi]. Bogor: Sekolah Pasacasarjana-IPB
Zaltman GE. 1982. Creating Social Change. New York: Holt Rinehart and Winston, Inc.

Anda mungkin juga menyukai