Anda di halaman 1dari 5

Cara Budidaya Lele Sistem Bioflok, Hasilnya 10 Kali Lipat Dari Budidaya Biasa

By Syahid BilalPosted on August 21, 2017

Budidaya Lele Sistem Bioflok atau Kolam Bundar, Meningkatkan Untung Hingga 105 %
bertaniorganik.com – [PANDUAN LENGKAP] Cara Budidaya Lele Sistem Bioflok –
Budidaya Lele dengan sistem bioflok merupakan sistem budidaya lele yang belum lama
diterapkan di Indonesia. Jauh sebelum sistem ini digunakan terdapat beberapa sistem budidaya
yang biasa digunakan di Indonesia, seperti budidaya menggunakan kolam terpal, kolam tanah,
kolam beton dan lain lain.

Meskipun sistem bioflok belum lama dikembangkan di Indonesia, namun dari pengalaman para
pembudidaya sistem ini mampu memberikan hasil yang jauh lebih baik dari sistem konvensional
yang selama ini biasa digunakan. Bahkan menurut mereka, hasil yang didapat bisa mencapai
105%.

Pada artikel sebelumnya kita sudah membahas Pengertian Budidaya Lele Sistem Bioflok,
Keuntungan dan Kelemahannya. Nah kali ini kita akan fokus pada Cara Budidaya Lele
Sistem Bioflok mulai dari persiapan kolam bioflok, persiapan air pembesaran, penebaran benih
hingga perawatannya.

Untuk memulai budidaya lele dengan sistem bioflok, persiapkan alat dan bahan terlebih dahulu

Alat dan Bahan

 Bambu, besi, atau batako untuk kerangka/dinding kolam.


 Terpal
 Aerator
 Probiotik
 Kapur dolomit
 Molase/ air gula merah
 Asbes atau Plastik untuk atap
 Ragi tempe dan ragi tape
Langkah-langkah Budidaya Lele Sistem Bioflok

Pembuatan Kolam

Dalam pembuatan kolam budidaya lele sistem bioflok, bahan yang digunakan tidak jauh berbeda
dengan sistem budidaya konvensional. Hanya bedanya kalau sistem konvensional kolam
berbentuk persegi, sedangkan dalam sistem bioflok digunakan kolam berbentuk bundar. Untuk
menghemat biaya, kolam sebaiknya dibuat dengan menggunakan terpal. Sedangkan rangka atau
dindingnya bisa dibuat dengan rangka bambu, besi atau menggunakan batako.

Pada budidaya sistem bioflok pembuatan kolam tidak membutuhkan lahan yang luas. Jadi untuk
ukuran kolam dapat disesuaikan dengan luas lahan dan kapasitas produksi. Pada artikel ini kolam
menggunakan ukuran standar 2,5 cm.

Sebagai patokan, untuk kolam dengan ukuran 1m³ dapat menampung hingga 1000 ekor ikan lele.
Sedangkan dalam sistem konvensional dalam 1m³ hanya mampu menampung sekitar 100 ekor
ikan lele.
Untuk menghindari sinar matahari dan air hujan yang dapat mempengaruhi kualitas air kolam,
sebaiknya kolam diberi atap menggunakan asbes atau plastik.

Jangan lupa untuk memasang aerator pada kolam sebelum kolam digunakan.

Persiapan Air Pembesaran

Setelah kolam selesai dibuat, tahap selanjutnya adalah persiapan air pembesaran. Berikut ini
tahap-tahap persiapan air pembesaran :
 Pada hari pertama, isi kolam dengan air bersih dengan tinggi 80-100 cm.
 Pada hari kedua, masukkan probiotik (bakteri pathogen) dengan dosis 5 ml/m3. Probiotik
dapat dibeli di toko pertanian atau toko pakan ikan terdekat. Contoh merek probiotiknya
seperti POC BMW, EBS Pro atau merek lainnya.
 Pada hari ke ketiga, masukkan prebiotik (pakan bakteri) berupa molase (tetes tebu) dengan
dosis 250ml/m3. Jika tidak ada bisa menggunakan air gula merah.
 Pada malam harinya masukkan air rendaman dolomit dengan dosis 150-200 gram/m3.
 Selanjutnya diamkan air selama 7-10 hari agar mikroorganisme dapat tumbuh dengan baik.

Penebaran dan Perawatan Benih Ikan Lele

 Setelah air didiamkan selama 7-10 hari masukkan benih ikan lele. Sebelum benih ikan lele
ditebar pastikan benih yang digunakan benih unggul dan dalam kondisi yang sehat. Jenis
ikan lele yang akan dibudidaya tergantung minat. Jenis jenis Lele Unggul Yang Banyak
Dibudidayakan Di Indonesia.

Ciri-ciri benih yang bagus :

» Gerakannya aktif.

»Warna dan ukuran seragam.

»Organ tubuh lengkap dan tidak cacat.

»Bentuk tubuh proporsional dengan ukuran sekitar 5-7 cm.

 Setelah benih ditebar, pada keesokkan harinya berikan probiotik ke dalam kolam dengan
dosis 5 ml/m³.
 Selanjutnya kita tinggal melakukan perawatan. Pada tahap perawatan, setiap 10 hari sekali
berikanlah :

» Probiotik 5 ml/m³.

» Ragi tempe 1 sendok makan/m³.

» Ragi tape 2 butir/m³.

» Pada malam harinya berikan air rendaman kapur dolomite sebanyak 200-300 gr/m3.
 Setelah benih ikan lele mencapai ukuran 12 cm atau lebih, setiap 10 hari sekali masukan
kembali :

» Probiotik 5 ml/m³.

» Ragi tempe 2-3 sendok makan/m³.

» Ragi tape 6-8 butir/m³.

» Pada malam harinya berikan air rendaman kapur dolomite sebanyak 200-300 gr/m3.

Catatan : Pemberian ragi tempe dan ragi tape harus dilarutkan ke dalam air terlebih
dahulu.

Pemberian Pakan Ikan Lele

 Selama masa pembesaran ikan lele, pemberian pakan dan mesin aerator harus diperhatikan
agar dapat mencapai produksi yang maksimal.
 Pakan yang diberikan harus yang berkualitas baik dan ukurannya sesuai dengan lebar
bukaan mulut ikan.
 Pemberian pakan dilakukan dua kali yaitu pagi dan sore hari sebanyak 500-700 gram/hari
selama 2,5-3 bulan lamanya. Dosis pemberian pakan cukup 80% saja sesuai kekuatan perut
ikan.
 Setiap seminggu sekali ikan dipuasakan (tidak diberi makan selama sehari). Tujuannya
untuk mencegah timbulnya penyakit.
 Sebelum pakan diberikan, sebaiknya pakan difermentasi dengan probiotik.
 Pemberian pakan dapat dikurangi 30% setelah terbentuk flok pada kolam.

Pemanenan Ikan Lele

Pemanenan ikan lele dilakukan seperti halnya budidaya ikan lele konvensional yaitu pada usia
ikan sudah mencapai 2,5-3 bulan. Biasanya dalam 1 kg dapat berisi 7-8 ekor ikan lele normal.