Anda di halaman 1dari 10

BAB I.

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kulit kayu belum banyak dimanfaatkan hingga saat ini karena masih dianggap sebagai
limbah. Seiring dengan berkurangnya persediaan kayu di hutan maka pemanfaatan kulit
mulai banyak diteliti. Kayu dan kulit kayu memiliki perbedaan dalam hal komponen kimia
penyusunnya.Jika kayu dominan disusun oleh selulosa maka kulit kayu banyak mengandung
ekstraktif. Zat ekstraktif berbagai jenis kayu memang telah terbukti mengandung senyawa
bioaktif yang dapat menghambat serangan organisme perusak kayu seperti jamur dan rayap.
Pujilestari, (2014) Zat Warna Alam berupa pigmen pembawa warna dapat diperoleh pada
tanaman atau hewan. Jenis pigmen yang banyak dijumpai adalah klorofil, karotenoid, tanin
dan antosianin. Pigmen pembawa warna dari tanaman biasanya diperoleh melalui proses
ekstraksi maupun fermentasi. Proses ekstraksi pada semua bahan secara garis besar adalah
sama yaitu mengambil pigmen atau zat warna yang terkandung dalam bahan. Salah satu kayu
yang memiliki zat ekstraktif yang dimanfaatkan sebagai bahan pewarna adalah kulit kayu
angsana.
Angsana (Pterocarpus indicus) merupakan salah satu jenis kayu dari suku Fabaceae
yang mempunyai potensi cukup banyak dan tersebar di hampir seluruh wilayah Indonesia,
termasuk Indonesia bagian timur seperti Papua dan Sulawesi. Tanaman angsana telah dikenal
sejak lama di berbagai negara terutama di kawasan Asia Tenggara, seperti Filipina, Malaysia,
Singapura, dan Indonesia, baik sebagai tumbuhan pelindung di sepanjang jalan maupun
sebagai hiasan (Anggriani dkk., 2013).
Senyawa kimia yang terkandung dalam tanaman angsana telah banyak diteliti.,
senyawa yang terkandung dalam kayu angsana antara lain senyawa terpen, fenol, flavon,
isoflavon, tannin, dan lignan (Sinivase Rao dkk. 2000 dalam Fatimah, 2008). Jenis tanin yang
terdapat dalam kulit kayu angsana adalah tanin terhidrolisis dengan jumlah kadar tanin
sebesar 7,62±0,04% dalam ekstrak air (Gunawan, 2009). Tanin terhidrolisis mengandung
karbohidrat dimana sebagian atau semua gugus hidroksinya teresterifikasi dengan gugus
fenol seperti asam gallat pada gallotanin atau asam ellagat pada ellagitanin (Kasmudjiastuti,
2014).
Berdasarkan uraian di atas maka perlu dilakukan praktikum tentang pengolahan zat
ekstraktif bahan pewarna dari kulit kayu angsana (Pterocarpus indicus) dengan tujuan untuk
lebih mengenal bahan pewarna alami dengan beberapa proses pewarnaan.
1.2 Tujuan
tujuan dari praktikum ini ialah:
1. Memahami pembuatan ekstrak bahan pewarna kayu
2. Mengetahui cara pengujian zat pewarna alami kayu

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Zat Ekstraktif
Zat ekstraktif adalah zat zat yang larut dalam pelarut netral , seperti eter, alkohol,
benzena dan air. Zat yang terlarut antara lain minyak, resin, lilin, gula, dan lemak, zat
warna, pati, damar, serta asam-asam organik.Soenardi, (1978) dalam Supartini (2009).
Zat ektraktif merupakan hal yang perlu dipertimbangakan dalam setiap
pengelolaan kayu, sehingga perlu dilakukan perlakuan awal pada bahan baku untuk
menurunkan kandungan zat ekstraktif yang tinggi tersebut.
Kayu memiliki zat ekstraktif yang bisa berpengaruh pada sifat kayu maupun
pengolahannya.Penelitian sifat kimia kayu mangium pada umur yang relatif dewasa
sangat terbatas. Penelitian zat ekstraktif kayu mangium yang dihubungkan dengan
busuk hati atau sifat bioaktivitas pada umur muda telah dilakukan oleh beberapa
peneliti (Lange & Hashim 2001, Barry et al. 2005, Mihara et al. 2005) dalam Yanti,
dkk. 2012.
2.2 Komponen Zat Ekstraktif Kayu
Kayu sebagian besar tersusun atas tiga unsur yaitu unsur C, H dan O. Unsur unsur
tersebut berasal dari udara berupa CO2 dan dari tanah berupa H2O. Namun, dalam
kayu juga terdapat unsur-unsur lain seperti N, P, K, Ca, Mg, Si, Al dan Na. Unsur-
unsur tersebut tergabung dalam sejumlah senyawa organik, secara umum dapat
dibedakan menjadi dua bagian. Fengel danWegener, (1995) dalam Sukarta, (2012),
yaitu:
1. Komponen lapisan luar yang terdiri atas fraksi-fraksi yang dihasilkan oleh kayu
selama pertumbuhannya. Komponen ini sering disebut dengan zat ekstraktif. Zat
ekstraktif ini adalah senyawaan lemak, lilin, resin dan lain-lain.
2. Komponen lapisan dalam terbagi menjadi dua fraksi yaitu fraksi karbohidrat yang
terdiri atas selulosa dan hemiselulosa, fraksi non karbohidrat yang terdiri dari
lignin.
2.3 Fungsi Zat Ektraktif dalam Kayu
Kandungan dan komposisi zat ekstraktif berubah-ubah diantara spesies kayu,
dan bahkan terdapat juga variasi dalam satu spesies yang sama tergantung pada tapak
geografi dan musim. Sejumlah kayu mengandung senyawa-senyawa yang dapat
diekstraksi yang bersifat racun atau mencegah bakteri, jamur dan rayap.Selain itu zat
ekstraktif juga dapat memberikan warna dan bau pada kayu Fengel dan Wegener,
(1995) dalam Silaban, (2013).
2.4 Angsana

Angsana atau sonokembang (Pterocarpus indicus) adalah sejenis pohon penghasil


kayu berkualitas tinggi dari suku Fabaceae (=Leguminosae, polong-polongan). Kayunya
keras, kemerah-merahan, dan cukup berat, yang dalam perdagangan dikelompokkan
sebagai narra atau rosewood (Anonim, 2017).

Kingdom: Plantae

Divisi: Magnoliophyta

Kelas: Magnoliopsida

Ordo: Fabales

Famili: Fabaceae

Subfamili: Faboideae

Bangsa: Dalbergieae

Genus: Pterocarpus

Spesies: P. indicus
BAB III. METODOLOGI PRAKTIKUM

3.1 Waktu dan Tempat


Praktikum pengolahan zat ekstraktif dilaksanakan pada tanggal 16 juni 2017 di Lab
Teknologi Hasil Hutan Universitas Mataram. Mataram
3.2 Alat dan Bahan
3.2.1 Alat :
1. Panic untuk merebus bahan pewarna
2. Timbangan
3. Pengaduk
4. Kompor
5. Gelas ukur
3.2.2 Bahan:
6. Kayu ukuran ukuran 3 x 4 x 5 cms ebanyak 4 potong (kayu A, B, C, D)
7. Tanaman (semua tanaman yang mengandung zat pewarna)
8. Air untuk merebus bahan pewarna dan membilas kayu
9. Deterjen
10. Etanol
11. Amplas
3.3 Cara Kerja
1. pembuatan ekstrak bahan pewarna
 Bahan pewarna dipotong menjadi partikel (serbuk)
 Kemudian partikel bahan pengawet dikering udarakan
 Selanjutnya dilakukan penimbangan untuk mengetahui kadar air bahan pewarna
(kadar air dibawah 5%).
 Setelah mencapaikadar air kering udara dilakukan perebusan dengan air dengan
perbandingan 1:10 (partikel bahan pewarna : air). Perebusan bahan pewarna selama
kurang lebih satu jam (sepertiga bagian dari panci).
 Setelah direbus kemudian dilakukan penyaringan, bila ekstrak bahan pewarna belum
jernih (masih ada seratnya) dilakukan penyaringan ulang sampai larutan pewarna
tersebutj ernih.
2. perlakuan contoh uji kayu
 Contoh uji dengan ukuran 3 cm x 4 cm x 5 cm dicuci bersih, lalu dibilas dengan
etanol kemudian dikering udarakan
 Selanjutnya kayu yang telah kering diamplas permukaannya sampai halus dan rata
 Kemudian kayu ditimbang massanya

3. uji zat warna dengan menggunakan tawas


Uji zat warna dengan menggunakan tawas ini dimaksudkan untuk mengetahui
daya serap tawas terhadap zat warna. Karena tawas memiliki kemampuan menyerap zat
warna.
Pengujian dilakukan dengan cara sebagai berikut:
 Contoh uji kayu direbus dengan menggunakan tawas dan air selama 15 menit
 Kemudian contoh uji dibilas dan selanjutnya dikering udarakan
 Selanjutnya dilakukan penimbangan contoh uji.

4. Pewarnaan contoh uji kayu dengan ekstrak bahan pewarna kayu dan pengujian
 Contoh uji kayu yang telah diberi tawas (perlakuan/kayu A,B) dan yang tidak diberi
tawas (kontrol/kayu C,D) direndam dalam ekstrak bahan pewarna selama 30 menit
 Contoh uji kayu ditimbang untuk mengetahui massa sebelum dan sesudah diberi
tawas
5. uji daya tahan warna
 Contoh uji kayu A dan C dibilas dengan deterjen sebanyak 5 kali ,contoh uji B dan D
tidak dibilas.
 Kemudian dilakukan pengamatan pada warna contoh uji A, B, C dan D dengan
parameter warna (+, ++, +++).
BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
Berat Kayu (gr)
NO Kayu Sebelum diberi Setelah
Diberi Etanol Diberi Tawas
perlakuan Perendaman
1 T7 11 11,15 15 18
2 T16 12 11,85 17 19
3 T17 10 9,41 13 16
4 T19 12 11,33 17 20
5 T20 13 12,50 17 19
6 K23 11 11,12 11 14
7 K24 13 12,72 13 17
8 K25 11 11,36 11 15
9 K36 11 11,09 11 14
10 K38 11 10,90 11 15

Keterangan
T : kayu yang diberi perlakuan dengan tawas
K : Kayu tanpa diberi perlakuan dengan tawas

4.2 Pembahasan
1. Pembuatan Ekstrak zat bahan pewarna
Pembuatan zat pewarna dilakukan pertama kali dengan menyiapkan bahan
baku dalam hal ini bahan baku yang dipersiapkan ialah kulit kayu angsana, kulit
kayu angsana diambil di lingkungan UPT. Perpustakaan dengan memperoleh bahan
baku sekitar 500 gram. Kemudian kulit kayu angsana dikeringudarakan sampai
dengan 7% lalu kemudian setelah kering udara, dilakukan perebusan dengan air
dengan perbandingan 500 gr bahan pewarna: dan 10 liter air. Setelah perebusan
dilakukan penyaringan sampai larutan pewarna menjadi jernih dan

Gambar 4.1 proses perebusan bahan pewarna


Gambar 4.2 Proses penyaringan bahan pewarna
2. Pengujian Zat pewarna alami kayu
Setelah zat pewarna jadi, lalu kemudian dilakukan pengujian terhadap sampel
kayu untuk melihat bagaimana tingkat ketahanan zat pewarna ke dalam kayu dalam hal
ini sampel kayu yang digunakan adalah kayu kemiri. kayu kemiri dipilih berdasarkan
warna kayunya yang putih cerah dan cocok digunakan sebagai sampel kayu pada
pengujian zat ekstraktif bahan pewarna alami. Jumlah sampel kayu yang dipakai
sebanyak 10 kayu sebagai pembanding di mana 10 kayu tersebut dibagi menjadi 2
bagia yaitu 5 kayu yang dicampur dengan tawas dan 5 kayu tanpa tawas. Sebelum
dilakukan pengujian, sampel kayu kemiri terlebih dahulu dihaluskan dan ditimbang di
mana berat setiap kayu yang didapatkan berturut-turut:11 gr,11 gr, 13 gr, 11 gr, 11 gr
11 gr, 12, 10 gr, 11 gr, 11 gr. Kemudian dibersihkan dengan larutan etanol untuk
menetralisir kayu agar terhindar dari kotoran ataupun kuman kemudian ditimbang lagi
dengan berat kayu didapatkan berturut-turut sebesar 11.15 gr, 11.85 gr, 9.41 gr, 11.33
gr, 12.50, 11.12 gr, 12.72 gr, 11.36 gr, 11.09 gr, 10.90 gr. Perlakuan selanjutnya ialah
dengan merebus 5 sampel kayu yang sudah diberi label dengan tawas selama 15 menit,
dan setelah itu kayu dibilas dan dikeringudarakan dan ditimbang sehingga didapatkan
data berat 5 kayu dengan tawas berturut-turut 15 gr, 17 gr, 13 gr, 17 gr, 17 gr. Langkah
selanjutnya ialah dengan pengujian warna pada sampel kayu di mana 10 sampel kayu
direndam dalam larutan zat pewarna dari kulit kayu selama 3 hari dan ditimbang. Hasil
pengujian ini kemudian dibandingkan dengan zat pewarna dari mangga di mana kayu
yang dihasilkan dari zat ekstraktif kulit kayu angsana lebih gelap dengan menghasilkan
warna coklat daripada zat ekstraktif dari daun mangga yang menghasilkan warna
kuning.
Gambar 4.3 Sampel kayu dengan bahan dasar pewarnaan kulit kayu

Gambar 4.4 Sampel kayu dengan bahan dasar pewarnaan daun mangga
BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
Kesimpulan dari praktikum ini ialah
1. Proses pembuatan ekstrak bahan pewarna kayu dimulai dari persiapan bahan baku,
selanjutnya dengan perebusan bahan baku, dan penyaringan. Setelah itu merendam
larutan zat pewarna dalam hal ini dari kulit kayu angsana dengan sampel kayu yang
telah ditentukan.
2. Hasil yang didapatkan dari pengujian bahan pewarna dari ekstrak kulit angsana
pada sampel kayu kemiri menghasilkan warna coklat berbeda dari bahan pewarna
dari ekstrak daun mangga yang mennghasilkan warna kuning.
5.2 Saran
Untuk menghasilkan warna alami kayu yang baik diperlukan waktu perendaman
yang cukup kurang lebih selama 3 jam.