Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH

KIMIA FISIKA III


PROSES IRREVERSIBLE

DISUSUN OLEH :

1. Dea Pazira Rahayu ( E1M0150


2. Eli Yanti (E1M015024)
3. Riska Dia Sapitri (E1M015059)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MATARAM
2017

Sub Kajian : Proses Irreversible


Indikator : 1. Merumuskan koefisien viskositas
2. Menghitung koefisien viskositas cairan dalam kapiler
3. Merumuskan persamaan hantaran elektrolit
4. Menghitung hantaran jenis suatu hantaran
5. Merumuskan Persamaan laju difusi menurut Fick
6. Menghitung tetapan laju difusi

BAB I
PENDAHULUAN

A. Wacana I
Buah-buahan merupakan bahan pangan sumber vitamin. Warna buah
cepat sekali berubah oleh pengaruh fisika misalnya sinar matahari dan
pemotongan, serta pengaruh biologis (jamur) sehingga mudah menjdi busuk.
Oleh karena itu pengolahan buah untuk memperpanjang masa simpannya
sangat penting. Buah dapat diolah menjadi berbagai bentuk minuman seperti
anggur, sari buah dan sirup juga makanan lain seperti manisan, dodol, keripik,
dan lainnya. Manisan buah adalah buah yang diawetkan dengan gula. Tujuan
pemberian gula dengan kadar yang tinggi pada manisan buah, selain untuk
memberikan rasa manis, juga untuk mencegah tumbuhnya mikroorganisme.
Pembuatan manisan sering sekali mendapatkan habatan dalam
pembuatannya, misalnya jumlah kosentrasi gula yang digunakan pada proses
pemanisan kurang tepat sehingga manisan yang diolah akan mengalami
kerusakan ataupun buah yang dibuat manisan akan berubah rasa, dalam hal ini
rasa bisa menjadi lebih asam. Selain itu dalam pembuatan manisan hal yang
diperhatikan selanjutnya adalah suhu atau temperature yang akan digunakan
pada proses pembuatan manisan. Suhu sangatlah penting dalam pembuatan
manisan. Dimana ketika suhu yang digunakan rendah maka proses pembuatan
manisan akan menjadi lambat jauh dibandingkan dengan suhu yang digunakan
tinggi, ketika suhu yang digunakan tinggi maka proses pemanisan akan cepat
berlangsung.
Dari penjelasan diatas kita dapat menyimpulakan bahwa proses
pemanisan buah dipengaruhi oleh dua factor yaitu kosentrasi dan suhu. Jika
kita melihat dari fator tersebut kita dapat mengkaitkannya dengan proses
irreversible berupa proses difusi. Dimana kita ketahui difusi juga dipengaruhi
oleh dua factor di atas. Seperti diketahui bahwa proses difusi merupakan
proses perpindahan dari suatu kosentrasi yang tinggi ke rendah atau pun dari
suhu yang tinggi ke suhu yang rendah, proses ini tidak dapat perbalik seperti
ke keadaaan semulanya. Proses yang tidak dapat kembali ke kedaaan
semulanya ini disebut dengan proses irreversible.
B. Wacana II
Larutan hanya dapat mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang
rendah, namun sebalik larutannya tidak dapat mengalir dari tempat rendah ke
tempat yang tinggi. Proses mengalirnya suatu larutan dari tempat tinggi ke
tempat rendah ini termasuk dalam proses irreversible. Mengalirnya suatu
larutan juga dapat dipengerahui oleh viskositas dari suatu larutan tersebut.
Viskositas atau kekentalan suatu cairan adalah salah satu sifat cairan yang
menentukan besarnya perlawanan terhadap gaya geser.Viskositas terjadi
karena adanya interaksi antara molekul-molekul cairan.Viskositas merupakan
pengukuran dari ketahanan fluida yang diubah baik dengan tekanan maupun
tegangan.

Salah satu contohnya adalah mesin hidrolik yang digunakan pada


proses pencucian mobil. Mesin hidrolik adalah alat digunakan untuk
mempermudah proses pencucian pada mobil yang menggunakan prinsip
viskositas. Mencuci mobil adalah kegiatan yang membutuhkan banyak tenaga,
ketika seseorang ingin mencuci bagian bawah mobilnya maka membutuhkan
tenaga yang besar. Oleh karena itu untuk mempermudah proses pencucian
mobil pada bagian bawahnya maka digunakan mesin hidrolik. Mesin hidrolik
merupakan alat yang menggunakan pipa dimana didalam pipa tersebut diletak
larutan. Larutan yang biasa yang digunakan pada mesin hidrolik berupa yang
air. Bagaimana jika pada mesin hidrolik diletakkan air yang bercampur dengan
minyak. Pada laju kecepatan tekanannya akan berbeda dengan pipa yang
hanya di isi dengan air saja. Hal ini membuktikan koefisien viskositas suatu
larutan mempengaruhi gerak pada mesin hidrolik.

C. Wacana III
Larutan elektrolit merupakan larutan yang dapat menghantarkan arus
listrik, karena kemampuan dari larutan yang dapat mengion sedangkan larutan
non elektrolit merupakan larutan yang tidak dapat menghantarkan arus listrik
karena larutan non elektrolit tidak dapat mengion. Larutan yang dapat
menghantarkan arus lisrtik dapat kita jumpai dalam kehidupan sehari- hari
seperti larutan garam dan yang lainnya. Sedangkan larutan yang tidak dapat
menghantrakan arus listrik yang sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-
hari adalah larutan gula maupun larutan cuka yang kita jumpai di dalam
makanan. Larutan yang dapat menghantarkan arus listik dapat dihitung daya
hantaran elektrolit yang terdapat dalam larutan tersebut. Tidak hanya larutan
elektrolit yang bisa dihitung daya hantarnya namun daya hantran elektrolit
juga dapat dihitung pada buah atau sayur yang dapat menghantarkan arus
listrik.
Kentang merumpakan salah satu contoh buah yang dapat
menghantarkan arus listrik. Walaupun daya hantarnya tidak terlalu besar,
kentang dapat digunakan untuk menguji bahwa didalam kentang terdapat
larutan elektrolit lemah yang dapat menghantar arus listrik. Dari kemapuan
kentang yang dapat menghantarkan arus listrik kita dapat menghitung
hantaran elektrolit yang terdapat pada kentang. Kemapuan kentang
mengantarkan arus listrik berbeda-beda antara kentang yang satu dengan
kentang lainnya. Dimana kentang yang lebih besar menghasil arus listrik yang
cukup besar dibandingkan dengan kentang yang berukuran kecil. Hal ini dapat
dikaitkan dengan besar hantaran elektrolit yang terdapat di dalam kentang.

D. RUMUSAN MASALAH
Dari wacana di atas dapat dirumuskan maslah sebagai berikut:
1. Apakah yang dimaksud dengan difusi dan factor apa saja yang
mempengaruhi proses difusi?
2. Bagaimanakah cara merumuskan dan menghitung tetapan laju difusi
menurut Fick?
3. Apakah yang dimaksud dengan viskositas dan factor apa saja yang
mempengaruhi viskositas ?
4. Bagaimanakah hubungan antara viskositas dan fluida?
5. Bagaimanakah cara merumuskan dan menghitung koefisien viskositas
cairan dalam kapiler?
6. Apakah yang dimaksud dengan hantaran elektrolit dan apa saja larutan
yang memiliki hantara elektrolit?
7. Bagaimanakah cara merumuskan dan menghitung hantaran elektrolit
dalam larutan?

BAB II
PEMBAHASAN

A. DIFUSI
1. Pengertian Difusi
Difusi adalah peristiwa mengalirnya atau berpindahnya
suatu zat dalam pelarut dari bagian berkonsentrasi tinggi ke bagian yang
berkonsentrasi rendah. Perbedaan konsentrasi yang ada pada dua larutan
disebut gradien konsentrasi. Difusi akan terus terjadi hingga seluruh
partikel tersebar luas secara merata atau mencapai
keadaan kesetimbangan di mana perpindahan molekul tetap terjadi
walaupun tidak ada perbedaan konsentrasi. Contoh yang sederhana adalah
pemberiangula pada cairan teh tawar. Lambat laun cairan menjadi manis.
Contoh lain adalah uap air dari cerek yang berdifusi dalamudara.Difusi
yang paling sering terjadi adalah difusi molekuler. Difusi ini terjadi jika
terbentuk perpindahan dari sebuah lapisan (layer) molekul yang diam dari
solid atau fluida.

2. Faktor- Faktor Yang Mempengaruhi Difusi


Ada beberapa faktor yang memengaruhi kecepatan difusi, yaitu:
a. Ukuran partikel. Semakin kecil ukuran partikel, semakin cepat partikel
itu akan bergerak, sehingga kecepatan difusi semakin tinggi.
b. Ketebalan membran. Semakin tebal membran, semakin lambat
kecepatan difusi.
c. Luas suatu area. Semakin besar luas area, semakin cepat kecepatan
difusinya.
d. Jarak. Semakin besar jarak antara dua konsentrasi, semakin lambat
kecepatan difusinya.
e. Suhu. Semakin tinggi suhu, partikel mendapatkan energi untuk
bergerak dengan lebih cepat. Maka, semakin cepat pula kecepatan
difusinya
3. Cara Merumuskan Laju Difusi Menurut Ficks
Pada tahun 1855, Fick menemukan bahwa persamaan matematika dari
konduksi panas yang dikembangkan oleh Fourier pada tahun 1822 dapat
diterapkan ke dalam perpindahan massa menentukan proses difusi dalam
sistem farmasetik

Dimana :
 J = fluks (g/cm2det)
 M = jumlah massa (g atau mol)
 S = luas permukaan (cm2)
 t = waktu (detik)
Pada peristiwa difusi, berlaku Hukum Ficks I dan II yang dijelaskan
sebagai berikut
- Hukum Ficks I
Hukum ini berbunyi: “laju difusi berbanding lurus dengan gradien
konsentrasinya”. Kondisi dari hukum ini adalah tanpa adanya perubahan
konsentrasi akibat pengaruh waktu difusi, sehingga pemakaiannya terbatas
pada difusi steady state (dengan konsentrasi yang dianggap sama pada
setiap posisi), atau

dc
=0
dt
dc
j=−D …………
dx

(2.1)

di mana: j = banyaknya atom yang berdifusi

D= koeafisien difusi (m2/s)


dc
= gradien konsentrasi.
dx
C = konsentrasi (g/cm3)
x = jarak (cm)

 Tanda negatif pada persamaan menandakan bahwa difusi terjadi


dalam arah yang berlawanan dengan kenaikan konsentrasi (arah x
positif).
 Jadi difusi terjadi dalam arah penurunan konsentrasi difusan fluks
selalu bernilai positif.
 Difusi akan berhenti jika tidak terdapat lagi gradien konsentrasi
(jika dC/dx = 0).

- Hukum Ficks II
 Suatu persamaan untuk transpor massa yang menekankan perubahan
dalam konsentrasi terhadap waktu pada tempat tertentu, bukan pada

dc d2 c
=D 2
dt dx
massa yang berdifusi melalui satu satuan luas barrier dalam satuan
waktu dikenal sebagai Hukum Fick Kedua.

Dengan dc
dt = perubahan kosentrasi pesatuan waktu.

B. VISKOSITAS
1. Pengertian Viskositas
Viskositas atau kekentalan suatu cairan adalah salah satu sifat
cairan yang menentukan besarnya perlawanan terhadap gaya
geser.Viskositas terjadi karena adanya interaksi antara molekul-molekul
cairan.Viskositas merupakan pengukuran dari ketahanan fluida yang
diubah baik dengan tekanan maupun tegangan.
Selain itu Viskositas (kekentalan) dapat diartikan sebagai suatu
gesekan di dalam cairan zat cair. Kekentalan itulah maka diperlukan gaya
untuk menggerakkan suatu permukaan untuk melampaui suatu permukaan
lainnya, jika diantaranya ada larutan baik cairan maupun gas mempunyai
kekentalan air lebih besar daripada gas, sehingga zat cair dikatakan lebih
kental daripada gas.Viskositas suatu zat cairan murni atau larutan
merupakan indeks hambatan aliran cairan. Viskositas dapat diukur dengan
mengukur laju aliran cairan, yang melalui tabung berbentuk silinder. Cara
ini merupakan salah satu cara yang paling mudah dan dapat digunakan
baik untuk cairan maupun gas.

2. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Viskositas


Ada beberapa factor yang mempengaruhi besar kecil viskositas,
factor-faktor tersebut diantaranya :
a. Suhu
Viskositas berbanding terbalik dengan suhu. Jika suhu naik maka
viskositas akan turun, dan begitu sebaliknya. Hal ini disebabkan
karena adanya gerakan partikel-partikel cairan yang semakin cepat
apabila suhu ditingkatkan dan menurun kekentalannya.
b. Konsentrasi larutan
Viskositas berbanding lurus dengan konsentrasi larutan. Suatu
larutan dengan konsentrasi tinggi akan memiliki viskositas yang tinggi
pula, karena konsentrasi larutan menyatakan banyaknya partikel zat
yang terlarut tiap satuan volume. Semakin banyak partikel yang
terlarut, gesekan antar partikrl semakin tinggi dan viskositasnya
semakin tinggi pula.
c. Berat molekul solute
Viskositas berbanding lurus dengan berat molekul solute.
Karena dengan adanya solute yang berat akan menghambat atau
member beban yang berat pada cairan sehingga manaikkan viskositas.
d. Tekanan
Semakin tinggi tekanan maka semakin besar viskositas suatu
cairan.Makin kental suatu cairan, makin besar gaya yang dibutuhkan
untuk membuatnya mengalir pada kecepatan tertentu. Viskositas
disperse koloid dipengaruhi oleh bentuk partikel dari fase disperse
dengan viskositas rendah, sedang system disperse yang mengandung
koloid-koloid linier viskositasnya lebih tinggi. Hubungan antara
bentuk dan viskositas merupakan refleksi derajat solvasi dari partikel.
Bila viskositas gas meningkat dengan naiknya temperature, maka
viskositas cairan justru akan menurun jika temperature dinaikkan.
Fluiditas dari suatu cairan yang merupakan kelebihan dari viskositas
akan meningkat dengan makin tingginya temperature
e. Ikatan Hidrogen
Cairan dengan ikatan hidrogen yang kuat
mempunyai viskositas lebih tinggi karena peningkatan
ukuran dan massa molekul. Sebagai contoh, gliserol dan
asam sulfat mempunyai viskositas yang lebih tinggi
daripada air karena adanya ikatan hidrogen yang lebih
kuat.

f. Hubungan Antara Viskositas dengan Fluida


Didalam fluida yang tidak diidealisir terdapat aktivitas molekuler
antara bagian-bagian lapisannya. Salah satu akibat dari adanya aktivitas ini
adalah timbulnya aktivitas internal antara bagian-bagian tersebut, yang
dapat digambarkan sebagai gaya luncur diantara lapisan-lapisan fluida
tadi.Hal ini dapat dilihat dari perbedaan kecepatan bergerak lapisan-
lapisan fluida tersebut. Bila pengamatan dilakukan terhadap aliran fluida
makin mengecil ditempat-tempat yang jaraknya terhadap dinding pipa
semakin kecil dan praktis tidak bergerak pada tempat di dinding pipa.
Sedangkan kecepatan terbesar terdapat di tengah-tengah pipa aliran.

g. Cara merumuskan Koefisien Viskositas cairan Dalam Kapiler


Viskometer kapiler / Otswald digunakan untuk menentukan
viskositas dari suatu cairan dengan menggunakan air sebagai
pembandingnya. Caranya yaitu dengan membandingkan waktu alir dan
berat jenis cairan yang akan ditentukan dengan berat jenis cairan dan
waktu alir.
Cara kerja Viskometer Ostwald :
 Sebelum digunakan, viskometer hendaknya di bersihkan terlebih
dahulu
 Letakkan viskometer pada posisi vertikal
 Pipet cairan yang akan ditentukan kekentalannya dimasukkan
kedalam reservoir a sampai melewati garis reservoirnya (kira-kira
setengahnya)
 Biarkan viskometer beberapa menit dalam thermostat untuk
menyeimbangkan atau mencapai suhu yang di kehendaki
 Cairan dihisap melalui pipa b sampai melewati garis m.reservoirnya
 Cairan dibiarkan turun sampai garis n
 Catat waktu yang dibutuhkan cairan untuk mengalir dari garis m ke n

Alat yang digunakan untuk mengukur viskositas fluida disebut


viskosimeter. Paling tidak, terdapat 2 prinsip dasar system / metode
pengukuran viskositas tersebut. Pertama, metode berdasarkan laju aliran
fluida dalam pipa kapiler vertikal saat menempuh jarak tertentu. Alat yang
digunakan sesuai dengan metode ini adalah viskosimeter ostwald yang
asas kerjanya berdasarkan hukum Poiseuille.Hukum Poiseuille dituliskan
sebagai: π r 4t
η=
8 VI

Keterangan:
P = tekanan
η= koefisien viskositas fluida
l = panjang pipa kapiler yang dilalui fluida
v = laju aliran volume

t adalah waktu yang diperlukan cairan bervolume V


yang mengalir melalui pipa kapiler dengan panjang l dan
jari-jari r. Tekanan P merupakan perbedaan tekanan aliran
kedua ujung pipa viskometer. Untuk dua cairan yang
berbeda dengan pengukuran alat yang sama diperoleh
hubungan:

4
η1 π P 1 r t 8 VI P1t 1
= x 4
=
η2 8 VI π P2r t P2t 2

Karena tekanan berbanding lurus dengan kerapatan


cairan (d), maka berlaku:

η1 d 1 t 1
=
η2 d 2 t 2
C. HANTARAN ELEKTROLIT
1. Pengertian Hantaran Elektrolit
Hantaran elekrolit dapat ditafsirkan sebagai arus elektron yang
membawa muatan negatif melewati suatu penghantar. Perpindahan ini
dapat terjadi bila terdapat beda potensial antara satu tempat terhadap
tempat lain, dan arus listrik akan mengalir dari tempat yang memiliki
potensial tinggi ketempat potensial rendah. Hantaran elektrolit ialah arus
muatan listrik, yaitu banyaknya muatan listrik yang melintas penampang
per satuan waktu, dan rapat arus listrik bagi arus listrik yang terdistribusi
secara kontinyu seperti misalnya oleh gerakan ion-ion yang berserakan di
udara didefinisikan sebagai banyaknya muatan listrik yang melintas
penampang seluas satu satuan luas per satuan waktu.
Pada hakekatnya pembawa muatan listrik di dalam kawat tahanan
ialah elektron-elektron bebas, yaitu elektron-elektron yang lepas dari
ikatan atom-atom penyusun bahan konduktor itu, yang bersikap seperti
molekul-molekul gas sehingga disebut gas elektron. Sedangkan arus listrik
di dalam cairan, khususnya larutan elektrolit, adalah oleh ion-ion yang
bergerak dari elektrode satu ke elektrode lainnya, dan di dalam larutan
tidak terdapat elektron bebas.
Daya hantar merupakan tolak ukur mudah-sukarnya arus listrik
mengalir, yang ditentukan oleh mudah-sukarnya pembawa-pembawa
muatan listrik, yakni elektron-elektron ataupun ion-ion yang bergerak
didalam medium. Untuk beda potensial yang sama tidak selalu
menghasilkan kuat arus lirtrik yang sama, melainkan tergantung pada
dasarnya tahanan penghantar yang dipakai. ” makin besar tahanan
pengantar, makin kecil yang mengalir melalui penghantar tersebut, atau
dengan perkataan lain makin besar tahanan ( R ) makin sedikit muatan
listrik yang dihantarkan. ” Kamampuan suatu penghantar untuk
memindahkan muatan listrik dikenal sebagai ” daya hantar listrik ” yang
besarnya berbanding terbalik dengan tahanan R.

Hantaran Listrik
Sebagaimana yang telah diamati oleh Faraday,
bahwa ketika arus listrik sesuai dengan jumlah arus listrik
yang dialirkan. Dengan demikian, maka dilewatkan pada
suatu larutan, ternyata akan didapati sejumlah massa pada
elektroda yang dalam gejala kelistrikan, akan terdapat
proses pengaliran energi. Sebagaimana dalam hukum
kekekalan energi, yaitu energi tidak dapat diciptakan atau
dimusnahkan, namun energi dapat mengalir dari satu
bentuk ke bentuk lain. Oleh karena itu kita akan dapati
fenomena konduktivitas dalam gejala kelistrikan, yaitu
daya atau kemampuan suatu bahan dalam menghantarkan
energi. Hantaran listrik sebenarnya adalah fenomena yang
sangat jamak kita lihat dalam kehidupan, apalagi dengan
teknologi yang semakin maju, kita semakin akrab dengan
perangkat elektronik, contohnya saja ketika kita mengecas
smartphone atau laptop kita, maka arus listrik mengalir
melalui kabel menuju baterai agar baterai dapat kembali
mengalami reaksi reversibel sehingga reaksi berikutnya
dapat dimanfaatkan energinya berupa listrik.
2. Cara Menghitung Hantaran Elektrolit
Ketika listrik mengalir dalam suatu medium, maka
akan didapat dua reaksi bahan, yaitu resistansi dan
konduktansi. Resistansi yaitu pertahanan, penolakan,
hambatan dari bahan tersebut untuk mengalirkan arus
listrik. Menurut penelitian yang dilakukan oleh George
Ohm, didapat bahwa resistansi (R) berbanding lurus
dengan voltase listrik (V) dan berbanding terbalik dengan
arus listrik (I) yang mengalir, atau dalam bentuk
matematisnya yaitu:
Dengan V dalam satuan Volt dan I dalam satuan
Ampere (A)
Atas jasanya dalam menemukan hukum ini, maka nama
Ohm dijadikan sebagai satuan resistor baku dengan
lambang .
Jika kita melakukan plot pada grafik antara V dan I
dengan perbandingan yang tetap, maka kita akan
mendapat garis lurus atau gradien yang merupakan nilai
dari R. Sebaliknya dengan konduktansi, yang merupakan
kemampuan suatu medium dalam meneruskan atau
mengalirkan arus listrik. Oleh karena itu, konduktansi ( )
berbanding terbalik dengan resistansi, sehingga secara
matematis dapat ditulis dengan satuannya ohm( )-1 atau
setara dengan Siemens:

Hantaran (Conductivity)
Pada suatu sistem yang dapat mengalirkan listrik (kawat atau
larutan elektrolit) akan memiliki tahanan, (resistance, R) yang mengikuti

∆φ
Hk. Ohm R= .Pada umumnya tahanan hanya bergantung pada
I
temperatur dan jenis media dan tidak tergantung pada besarnya potensial
dan arus yang diberikan, tahanan seperti ini disebut sebagai tahanan yang
bersifat ohmic. Beberapa tahanan dalam elektrokimia bersifat non-ohmic,
namun untuk kemudahan dalam pendekatan maka tahanan dalam suatu
sistem elektrolit dianggap bersifat ohmic.
Tahanan adalah suatu besaran yang bersifat ekstensif : karena
tahanan merupakan fungsi dari ukuran (dan bentuk). Untuk sistem yang
memiliki penampang yang seragam (uniform) dapat berlaku tahanan

A
jenis, (resistivity,) yang besarnya adalah ¿R , dengan A adalah luas
L
area, L adalah panjang, dan R adalah tahanan. Tahanan jenis adalah suatu
besaran yang bersifat intensif.Pada sistem elektrolit lebih mudah bila

1
digunakan pengertian hantaran (conductance, S S= ) yang
R
merupakan kebalikan dari tahanan, dan juga hantaran jenis, (conductivity,
) yang merupakan kebalikan dari tahanan jenis.
Sehingga dapat disimpulkan rumus hantaran elektrolit sebagai
berikut
1 L
k= =
ρ RA

Dimana, k = konduktivitas (hantaran elektrolit)


L = panjang
R = tahanan
A = luas Area
DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2011. Fluida. Diunduh dari


http://fisikabisa.wordpress.com/2011/02/04/pengertian-fluida/ pada
tanggal 18 September 2017 pukul 17.54 WITA.

. 2012. Laporan Kimia Fisika Viskositas Zat Cair. Diunduh dari


http://itatrie.blogspot.co.id/2012/10/laporan-kimia-fisika-viskositas-zat-
cair.htmlpada tanggal 20 September 2017 pukul 16.41.
. 2014. Viskositas. Diunduh dari
http://inanovarina.blogspot.co.id/2014/12/viskositas.htmlpada tanggal 20
September 2017 pukul 16.17.
. 2017. Tugas Fisika Viskositas. Diunduh dari
https://www.academia.edu/11974296/Tugas_fisika_vikositaspada tanggal
20 September 2017 pukul 16.32.
Kanginan, Marthen, 2007. Fisika SMA Kelas XI.Cimahi : Erlangga.
Purwaningsih, S.Si,dkk. 2012. Dongkrak Nilai Raport Fisika SMA. Yogyakarta :
Planet Ilmu.

https://id.wikipedia.org/wiki/Difusi

Yas, Ali. 2013. Fisika 2 untuk SMA Kelas XI. Edisi kedua. Quadra