Anda di halaman 1dari 20

Pengertian Hipotesis dan Perumusan

Hipotesis
Pembahasan Mengenai Pengertian Hipotesis dan
Perumusan Hipotesis
Hai Pembaca, Kali ini Informasi Ahli akan membahas mengenai apa itu hipotesis dan
perumusan hipotesis.

Pengertian Hipotesis adalah jawaban atau pernyataan sementara mengenai rumusan dari
penelitian yang dikemukakan.
Perumusan Hipotesis adalah kesimpulan yang ditarik sebagai jawaban sementara terhadap
masalah penelitian.

Tujuan perumusan hipotesis adalah sebagai langkah untuk menfokuskan masalah,


mengidentifikasikan data-data yang relevan untuk dikumpulkan, menunjukkan bentuk desain
penelitian, termasuk teknik analisis yang akan digunakan, menjelaskan gejala sosial,
mendapatkan kerangka penyimpulan, merangsang penelitian lebih lanjut.

Hipotesis harus memenuhi kriteria-kriteria sebagai berikut.


1. Hipotesis harus menyatakan pertautan dua variabel atau lebih.
2. Hipotesis harus jelas, tidak membingungkan dan dalam bentuk deklaratif atau pernyataan.
3. Hipotesis harus dapat diuji secara empiris, yang berarti bahwa seseorang mengumpulkan
data yang tersedia di lapangan untuk menguji kebenaran hipotesis tersebut.

Hipotesis menurut jenisnya terdiri atas 3 (tiga), yaitu :


1. Hipotesis penelitian (hipotesis alternatif) atau hipotesis kerja, yang biasanya dimulai
dengan kata “terdapat hubungan” atau “terdapat perbedaan”.
2. Hipotesis nol, yang biasanya dimulai dengan kata “tidak terdapat hubungan” atau “tidak
terdapat perbedaan”.
3. Hipotesis Statistika.

Dalam penelitian, hipotesis penelitian cenderung untuk diterima. Contoh hipotesis


penelitian :
1. Terdapat hubungan antara waskat dengan disiplin kerja.
2. Tidak terdapat perbedaan disiplin kerja antara wanita dan pria.
Setelah perumusan hipotesis telah dibuat, maka dapat digambarkan hubungan antara variabel
dengan suatu gambar. Jika definisi operasionalnya belum disebutkan dalam BAB
pendahuluan, maka dapat diungkapkan setelah gambaran tersebut.

Berdasarkan rumusan masalah dan hipotesis, maka peneliti dapat menentukan suatu judul
dengan tepat. Pada umumnya judul ditentukan sebelum segala sesuatu dipermasalahkan.
Namun judul baru dapat ditentukan setelah kita mengetahui rumusan masalahnya atau setelah
kita mengadakan observasi kepustakaan, baik secara teoritis maupun praktis (ke lapangan).
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam membuat judul, yaitu :
1. Judul harus menggambarkan keseluruhan isi yang terdapat di dalam tulisan atau tesis.
2. Judul harus dirumuskan dalam bentuk kalimat yang sederhana dan jelas maksudnya.
3. Judul harus dalam bentuk kalimat pernyataan, bukan merupakan kalimat tanya.
4. Judul harus singkat, yaitu tidak lebih dari 10 kata. Nama organisasi atau instansi dianggap
satu kata.
5. Judul harus menggunakan tata bahasa baku.
6. Judul harus jelas objeknya.

Sekian dari informasi ahli mengenai pengertian hipotesis dan perumusan hipotesis, semoga
tulisan informasi ahli mengenai pengertian hipotesis dan perumusan hipotesis.

Sumber : Tulisan Informasi Ahli :

– Husaini Usman dan Purnomo, 2008. Metodologi Penelitian Sosial. Penerbit PT Bumi
Aksara : Jakarta.
http://www.informasiahli.com/2015/07/pengertian-hipotesis-dan-perumusan-hipotesis.html

Hipotesis Penelitian: Pengertian, Konsep dan Macamnya


Share:

Share6

Hipotesis Penelitian: Pengertian, Konsep dan Macamnya - AsikBelajar.Com. Hipotesis merupakan


jawaban sementara terhadap rumusan masalah atau sub masalah yang diajukan oleh peneliti, yang
diajabarkan dari landasan teori atau kajian teori dan masih harus diuji kebenarannya. Karena
bersifat sementara, maka dibuktikan kebenarannya melalui data empirik yang terkumpul atau
penelitian ilmiah. Hiptotesis dinyatakan ditolak atau diterima. Hipotesis harus bersifat
analistis. Dalam penelitian yang bersifat deskriptif, yang bermaksud men-deskripsikan masalah yang
diteliti, hipotesis tidak perlu dibuat, oleh karena memang tidak pada tempatnya.

Hipotesis penelitian harus dirumuskan dalam kalimat positif. Tidak dalam kalimat tanya, menyuruh,
menyarankan atau kalimat mengharapkan.

Baca juga: Variabel Penelitian

Konsep Hipotesis
Awalnya, istilah hipotesis berasal dari bahasa Yunani yang terdiri dari dua kata, yaitu “hupo” artinya
sementara dan “thesis” berarti pernyataan atau teori. Karena hipotesis adalah
pernyataansementara yang masih lemah kebenarannya, maka perlu diuji kebenarannya. Menurut
Kerlinger (Riduan, 2010:35) hipotesis ditafsirkan sebagai dugaan terhadap hubungan antara dua
variabel atau lebih. Sedangkan Sudjana (Riduan, 2010:35) mengartikan hipotesis adalah asumsi atau
dugaan mengenai suatu hal yang dibuat untuk menjelaskan hal itu yang sering dituntut untuk
melakukan pengecekannya.

Dari definisi ahli di atas dapat dsimpulkan bahwa hipotesis adalah jawaban atau dugaan sementara
yang harus diuji lagi kebenarannya melalui penelitian ilmiah.
Hipotesis kerja (Hipotesis Alternatif Ha atau H1) yaitu hipotesis yang dirumuskan untuk menjawab
permasalahan dengan menggunakan teori-teori yang relevan dengan masalah penelitian dan belum
berdasarkan fakta dan dukungan data yang nyata di lapangan. Hipotesis alternatif (Ha) dirumuskan
dengan kalimat positif.

Secara statistik, hipotesis diartikan sebagai pernyataan mengenai keadaan populasi (Parameter)
yang akan diuji kebenarannya berdasarkan data yang diperoleh dari sampel penelitian. Dengan
demikian dalam perhitungan statistik yang diuji adalah hipotesis nol (H0). Jadi, hipotesis nol adalah
pernyataan tidak ada hubungan, pengaruh atau perbedaan antara parameter dengan statistik dan
lawannya adalah Ha yang menyatakan adanya hubungan, pengaruh atau perbedaan antara
parameter dengan statistik. Hipotesis nol (H0) dinyatakan dengan kalimat negatif (Riduan, 2010:36).
Setiap penelitian tidah harus dirumuskan masalahnya. Agar rumusan masalah dapat terjawan dan
hipotesis dapat teruji, keduanya harus dirumuskan dengan menggunakan kalimat yang jelas,
tidak menimbulkan banyak penafsiran dan spesifik supaya dapat diukur. Masalah penelitian
dirumuskan dalam bentuk kalimat tanya, sedang hipotesis dalam bentuk kalimat pernyataan.

Macam-Macam Hipotesis Penelitian


Berdasarkan tiga macam masalah penelitian (deskriptif, komparatif dan asosiatif), maka ada tiga
macam hipotesis penelitian (Ha), yaitu:
a. Hipotesis Deskriptif yaitu hipotesis yang tidak membandingkan dan menghubungkan dengan
variabel lain atau hipotesis yang dirumuskan untuk menentukan titik peluang, hipotesis yang
dirumuskan untuk menjawab permasalahan taksiran (estimatif).
Contoh:

1. Panen udang windu di Tambak Udang Kalinyar-Bangil mencapai 3 ton/ha.


2. Motivasi belajar siswa SDN Melayu 5 mencapai 80% dari kriteria rata-rata nilai ideal yang
ditetapkan.
3. Gaya mengajar dosen statistik mencapai 70% dari kriteria rata-rata nilai ideal.

b. Hipotesis Komparatif dirumuskan untuk memberikan jawaban pada permasalahan yang bersifat
membedakan.

1. Ada perbedaan besarnya motivasi belajar antara mahasiswa prodi Administrasi pendidikan
dengan mahasiswa PGSD.
2. Ada perbedaan kesenangan bagi anak-anak SD antara menonton TV dengan membaca buku,
bahwa menonton TV lebih disukai daripada membaca buku.
3. Ada perbedaan kemampuan berbahasa asing antara lulusan pondok pesantren Yapi Bangil
dengan lulusan SMU Darul Ulum Jombang, yaitu lulusan pondok pesantren Yapi Bangil lebih
baik daripada lulusan SMU Darul Ulum Jombang.

c. Hipotesis Asosiatif dirumuskan untuk memberikan jawaban pada permasalahan yang bersifat
hubungan. Sedangkan menurut sifat hubungannya hipotesis penelitian (Ha) ada tiga jenis, yaitu:
1. Hipotesis hubungan simetris ialah hipotesis yang menyatakan hubungan yang bersifat
kebersamaan antara kedua variabel atau lebih, tetapi tidak menunjukan sebab akibat.
Contoh:
a) Ada hubungan antara berpakaian mahal dengan penampilan.
b) Ada hubungan yang positif antara banyaknya penonton sepak bola dengan tingkat kerusuhan.
2. Hipotesis hubungan sebab akibat (kausal) ialah hipotesis yang menyatakan hubungan yang
bersifat mempengaruhi antara dua variabel atau lebih.
Contoh:
a) Motivasi belajar berpengaruh positif terhadap prestasi belajar.
b) Disiplin guru yang tinggi berpengaruh positif terhadap produktivitas kerja.

3. Hipotesis hubungan interaktif ialah hipotesis hubungan antara dua variabel atau lebih yang
bersifat saling mempengaruhi.
Contoh:
a) Terdapat pengaruh timbal balik antara kreativitas siswa dengan hasil belajar.
b) Terdapat hubungan yang saling mempengaruhi antara status sosial ekonomi dengan terpenuhi
gizi keluarga.

http://www.asikbelajar.com/2015/10/hipotesis-penelitian-pengertian-konsep.html

Pengertian, Contoh, dan Perumusan Hipotesis Riset


Pengertian Hipotesis Riset

Apakah hipotesis itu? Ada banyak definisi hipotesis yang pada hakikatnya mengacu pada
pengertian yang sama. Salah satunya mendefinisikan hipotesis sebagai jawaban sementara
terhadap masalah yang sedang diteliti.

Zikmund (1997, 111) mendefinisikan hipotesis sebagai “an uproven propotion or supposition
that tentatively explain certains certain factc or phenomena; a probable answer to a research
quesstion”. Hipotetis menurut zikmund adalah proposisi atau dugaan yang belum terbukti
yang digunakan untuk menerangkan fakta atau gejala tertentu; atau disebut juga sebagai
jawaban sementara terhadap suatu riset.

Davis dan Cozensa (1985 : 24) mendifinisikan hipotesis sebagai pernyataan mengenai
hubungan antar dua variabel atau lebih yang mengakibatkan adanya implikasi untuk
pengujian hubungan tersebut.

Dari definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa hipotesis mengandung elemen pengertian
sebagai berikut: pertama, hipotesis merupakan jawaban sementara atau dugaan terhadap
masalah riset; kedua, pernyataan hipotesis mengandung setidak-tidaknya hubungan dua
variabel.
Asal dan Fungsi Hipotesis

Hipotesis dapat diturunkan dari teori yang berkaitan dengan masalah yang akan diteliti.
Misalkan seorang peneliti akan melakukan penelitian mengenai jam kerja. Adar dapat
menurunkan hipotesis yang baik maka sebaiknya dia membaca teori mengenai penentuan
manajemen sumber daya manusia.

Kasus:
Pegawai mempunyai tingkat kepuasan kerja dikarenakan adanya kompensasi yang memadai
yang berupa gaji, insentif dan bonus. Jika ketiga komponen tersebut selalui diberikan kepada
para pegawai maka motivasi dan semangat kerja pegawai akan meningkat.
Hipotesis:
Kepuasan kerja pegawai mempunyai hubungan dengan sistem kompensasi finansial yang
diberikan oleh perusahaan.

Pertimbangan dalam Merumuskan Hipotesis

Dalam merumuskan hipotesis, peneliti perlu pertimbangan-pertimbangan sebagai berikut:

 Hipotesis harus mengekpresikan hubungan antara dua variabel atau lebih. Maksudnya,
dalam merumuskan hipotesis, seorang peneliti harus setidak-tidaknya mempunyai dua
variabel yang dikaji. Kedua variabel tersebut adalah variabel bebas dan variabel tergantung.
Contoh jam kerja dan stress kerja.
 Hipotesis harus dinyatakan secara jelas dan tidak bermakna ganda. Artinya, rumusan
hipotesis harus bersifat spesifik dan mengacu pada satu makna. Tidak boleh menimbulkan
penafsiran lebih dari satu. Contoh: Ada hubungan antara jumlah jam kerja pegawai dengan
stress kerja.
 Hipotesis harus dapat diuji secara empiris. Maksudnya adalah memungkinkan untuk
diungkapkan dalam bentuk opersional dan dapat dievaluasi berdasarkan data yang
didapatkan secara empiris.

Menurut bentuknya, hipotesis dibagi menjadi tiga:

1. Hipotesis penelitian/kerja : merupakan anggapan dasar peneliti terhadap suatu masalah


yang sedang dikaji. Dalam hipotesis ini peneliti menganggap benar hipotesisnya yang
kemudian akan dibuktikan secara empiris melalui pengujian hipotesis dengan
mempergunakan data yang diperolehnya selama melakukan penelitian. Misalnya : Ada
hubungan antara jumlah bonus dengan tingkat kepuasan kerja.
2. Hipotesis Operasional : merupakan hipotesis yang bersifat objektif. Artinya peneliti
merumuskan hipotesis tidak semata-mata berdasarkan anggapan dasarnya, tetapi juga
berdasarkan objektivitasnya, bahwa hipotesis penelitian yang dibuat belum tentu benar
setelah diuji menggunakan data yang ada. Untuk itu peneliti memerlukan hipotesis
pembanding yang bersifat objektif dan netral, atau yang secara teknis disebut hipotesis nol
(H0). H0 digunakan untuk memberikan keseimangan pada hipotesis penelitian karena
peneliti meyakini dalam pengujian nanti benar atau salahnya hipotesis penelitian tergantung
pada bukti-bukti yang diperolehnya selama melakukan penelitian. Contoh: H0: Tidak ada
hubungan antara jumlah bonus dengan tingkat kepuasan kerja.
3. Hipotesis statistik : merupakan jenis hipotesis yang dirumuskan dalam bentuk notasi
statistik. Hipotesis ini dirumuskan berdasarkan pengamatan peneliti terhadapa populasi
dalam bentuk angka (kuantitif). Misalnya H0: p = 0; untuk H0 dengan bunyi persentase
kenaikan jam kerja tidak berhubungan dengan stress kerja.
Cara merumuskan Hipotesis

Cara merumuskan hipotesis ialah dengan tahapan merumuskan hipotesis penelitian, hipotesis
operasional dan hipotesis statsitik. Tahapan merumuskan penelitian dilakukan dengan
merumuskan hipotesis yang kita buat dan menyatakan dalam bentuk kalimat.

Contoh 1 : Hipotesis asosiatif

Rumusan masalah:

 Adakah hubungan antara gaya kepemimpinan dengan kinerja pegawai?

Hipoteisi penelitian :

 Ada hubungan antara gaya kepemimpinan dengan kinerja pegawai.

Tahap merumuskan hipotesis operasional dilakukan dengan mendefinisikan hipotesisi secara


operasional variabel-variabel yang ada di dalamnya agar dapat dioperasionalisasikan sebagai
cara memberikan instruksi terhadap bawaan. Kinerja pegawai dioperasionalisasikan sebagai
tinggi-rendahnya pemasukan perusahaan. Hipotesis operasional dijadikan dua, yaitu hipotesis
0 yang bersifat netral dan hipotesis 1 yang bersifat tidak netral atau didasarkan pada asumsi.

Jadi rumusan hipotesi operasionalnya:


H0 : Tidak ada hubungan antara cara memberikan instruksi terhadap bawaan dengan tinggi-
rendahnya pemasukan perusahaan.

H1 : Ada hubungan antara cara memberikan instruksi terhadap bawahan dengan tinggi-
rendahnya pemasukan perusahaan.

Hipotesis statistik ialah operasional yang diterjemahkan ke dalam bentuk angka-angka


statsitik sesuai dengan alat ukur yang dipilih oleh peneliti. Dalam contoh ini asumsi kenaikan
pemasukan adalah sebesar 30%.

https://www.aristo.id/pengertian-contoh-dan-perumusan-hipotesis-riset/#
Hipotesis atau hipotesa adalah jawaban sementara terhadap masalah yang masih bersifat
praduga karena masih harus dibuktikan kebenarannya.[1]

Hipotesis ilmiah mencoba mengutarakan jawaban sementara terhadap masalah yang kan
diteliti.[2] Hipotesis menjadi teruji apabila semua gejala yang timbul tidak bertentangan
dengan hipotesis tersebut.[2] Dalam upaya pembuktian hipotesis, peneliti dapat saja dengan
sengaja menimbulkan atau menciptakan suatu gejala.[2] Kesengajaan ini disebut percobaan
atau eksperimen.[2] Hipotesis yang telah teruji kebenarannya disebut teori.[2]

Contoh:

Apabila terlihat awan hitam dan langit menjadi pekat, maka seseorang dapat saja
menyimpulkan (menduga-duga) berdasarkan pengalamannya bahwa (karena langit
mendung, maka...) sebentar lagi hujan akan turun. Apabila ternyata beberapa saat kemudia
hujan benar turun, maka dugaan terbukti benar. Secara ilmiah, dugaan ini disebut hipotesis.
Namun apabila ternyata tidak turun hujan, maka hipotesisnya dinyatakan keliru.

Hipotesis berasal dari bahasa Yunani: hypo = di bawah;thesis = pendirian, pendapat yang
ditegakkan, kepastian.[3]

Artinya, hipotesa merupakan sebuah istilah ilmiah yang digunakan dalam rangka kegiatan
ilmiah yang mengikuti kaidah-kaidah berfikir biasa, secara sadar, teliti, dan terarah.[3] Dalam
penggunaannya sehari-hari hipotesa ini sering juga disebut dengan hipotesis, tidak ada
perbedaan makna di dalamnya.[3]

Ketika berfikir untuk sehari-hari, orang sering menyebut hipotesis sebagai sebuah anggapan,
perkiraan, dugaan, dan sebagainya.[3] Hipotesis juga berarti sebuah pernyataan atau proposisi
yang mengatakan bahwa di antara sejumlah fakta ada hubungan tertentu.[3] Proposisi inilah
yang akan membentuk proses terbentuknya sebuah hipotesis di dalam penelitian, salah satu di
antaranya, yaitu penelitian sosial.[4]

Proses pembentukan hipotesis merupakan sebuah proses penalaran, yang melalui tahap-tahap
tertentu.[3] Hal demikian juga terjadi dalam pembuatan hipotesis ilmiah, yang dilakukan
dengan sadar, teliti, dan terarah.[3] Sehingga, dapat dikatakan bahwa sebuah Hipotesis
merupakan satu tipe proposisi yang langsung dapat diuji.[4]

Daftar isi
 1 Kegunaan
o 1.1 Hipotesis dalam penelitian
 2 Karakteristik
 3 Tahap-tahap pembentukan hipotesis secara umum
 4 Hubungan hipotesis dan teori
 5 Catatan kaki

Kegunaan
Hipotesis merupakan elemen penting dalam penelitian ilmiah, khususnya penelitian
kuantitatif.[2] Terdapat tiga alasan utama yang mendukung pandangan ini, di antaranya:[5]

1. Hipotesis dapat dikatakan sebagai piranti kerja teori. Hipotesis ini dapat dilihat dari teori
yang digunakan untuk menjelaskan permasalahan yang akan diteliti. Misalnya, sebab dan
akibat dari konflik dapat dijelaskan melalui teori mengenai konflik.
2. Hipotesis dapat diuji dan ditunjukkan kemungkinan benar atau tidak benar atau di falsifikasi.
3. Hipotesis adalah alat yang besar dayanya untuk memajukan pengetahuan karena membuat
ilmuwan dapat keluar dari dirinya sendiri. Artinya, hipotesis disusun dan diuji untuk
menunjukkan benar atau salahnya dengan cara terbebas dari nilai dan pendapat peneliti
yang menyusun dan mengujinya.

Hipotesis dalam penelitian

Walaupun hipotesis penting sebagai arah dan pedoman kerja dalam penelitian, tidak semua
penelitian mutlak harus memiliki hipotesis.[6] Penggunaan hipotesis dalam suatu penelitian
didasarkan pada masalah atau tujuan penelitian.[2] Dalam masalah atau tujuan penelitian
tampak apakah penelitian menggunakan hipotesis atau tidak.[2] Contohnya yaitu Penelitian
eksplorasi yang tujuannya untuk menggali dan mengumpulkan sebanyak mungkin data atau
informasi tidak menggunakan hipotesis.[2] Hal ini sama dengan penelitian deskriptif, ada yang
berpendapat tidak menggunakan hipotesis sebab hanya membuat deskripsi atau mengukur
secara cermat tentang fenomena yang diteliti,[7] tetapi ada juga yang menganggap penelitian
deskriptif dapat menggunakan hipotesis.[8] Sedangkan, dalam penelitian penjelasan yang
bertujuan menjelaskan hubungan antar-variabel adalah keharusan untuk menggunakan
hipotesis.[9]

Fungsi penting hipotesis di dalam penelitian, yaitu:[10]

1. Untuk menguji teori,


2. Mendorong munculnya teori,
3. Menerangkan fenomena sosial,
4. Sebagai pedoman untuk mengarahkan penelitian,
5. Memberikan kerangka untuk menyusun kesimpulan yang akan dihasilkan.

Karakteristik
Satu hipotesis dapat diuji apabila hipotesis tersebut dirumuskan dengan benar.[2] Kegagalan
merumuskan hipotesis akan mengaburkan hasil penelitian.[2] Meskipun hipotesis telah
memenuhi syarat secara proporsional, jika hipotesis tersebut masih abstrak bukan saja
membingungkan prosedur penelitian, melainkan juga sukar diuji secara nyata.[4]

Untuk dapat memformulasikan hipotesis yang baik dan benar, sedikitnya harus memiliki
beberapa ciri-ciri pokok, yakni:[11]

1. Hipotesis diturunkan dari suatu teori yang disusun untuk menjelaskan masalah dan
dinyatakan dalam proposisi-proposisi. Oleh sebab itu, hipotesis merupakan jawaban atau
dugaan sementara atas masalah yang dirumuskan atau searah dengan tujuan penelitian.
2. Hipotesis harus dinyatakan secara jelas, dalam istilah yang benar dan secara operasional.
Aturan untuk, menguji satu hipotesis secara empiris adalah harus mendefinisikan secara
operasional semua variabel dalam hipotesis dan diketahui secara pasti variabel independen
dan variabel dependen.
3. Hipotesis menyatakan variasi nilai sehingga dapat diukur secara empiris dan memberikan
gambaran mengenai fenomena yang diteliti. Untuk hipotesis deskriptif berarti hipotesis
secara jelas menyatakan kondisi, ukuran, atau distribusi suatu variabel atau fenomenanya
yang dinyatakan dalam nilai-nilai yang mempunyai makna.
4. Hipotesis harus bebas nilai. Artinya nilai-nilai yang dimiliki peneliti dan preferensi
subyektivitas tidak memiliki tempat di dalam pendekatan ilmiah seperti halnya dalam
hipotesis.
5. Hipotesis harus dapat diuji. Untuk itu, instrumen harus ada (atau dapat dikembangkan) yang
akan menggambarkan ukuran yang valid dari variabel yang diliputi. Kemudian, hipotesis
dapat diuji dengan metode yang tersedia yang dapat digunakan untuk mengujinya sebab
peneliti dapat merumuskan hipotesis yang bersih, bebas nilai, dan spesifik, serta
menemukan bahwa tidak ada metode penelitian untuk mengujinya. Oleh sebab itu, evaluasi
hipotesis bergantung pada eksistensi metode-metode untuk mengujinya, baik metode
pengamatan, pengumpulan data, analisis data, maupun generalisasi.
6. Hipotesis harus spesifik. Hipotesis harus bersifat spesifik yang menunjuk kenyataan
sebenarnya. Peneliti harus bersifat spesifik yang menunjuk kenyataan yang sebenarnya.
Peneliti harus memiliki hubungan eksplisit yang diharapkan di antara variabel dalam istilah
arah (seperti, positif dan negatif). Satu hipotesis menyatakan bahwa X berhubungan dengan
Y adalah sangat umum. Hubungan antara X dan Y dapat positif atau negatif. Selanjutnya,
hubungan tidak bebas dari waktu, ruang, atau unit analisis yang jelas. Jadi, hipotesis akan
menekankan hubungan yang diharapkan di antara variabel, sebagaimana kondisi di bawah
hubungan yang diharapkan untuk dijelaskan. Sehubungan dengan hal tersebut, teori
menjadi penting secara khusus dalam pembentukan hipotesis yang dapat diteliti karena
dalam teori dijelaskan arah hubungan antara variabel yang akan dihipotesiskan.
7. Hipotesis harus menyatakan perbedaan atau hubungan antar-variabel. Satu hipotesis yang
memuaskan adalah salah satu hubungan yang diharapkan di antara variabel dibuat secara
eksplisit.

Tahap-tahap pembentukan hipotesis secara umum


Tahap-tahap pembentukan hipotesa pada umumnya sebagai berikut:

1. Penentuan masalah.[3]

Dasar penalaran ilmiah ialah kekayaan pengetahuan ilmiah yang biasanya timbul karena
sesuatu keadaan atau peristiwa yang terlihat tidak atau tidak dapat diterangkan berdasarkan
hukum atau teori atau dalil-dalil ilmu yang sudah diketahui.[3] Dasar penalaran pun sebaiknya
dikerjakan dengan sadar dengan perumusan yang tepat.[3] Dalam proses penalaran ilmiah
tersebut, penentuan masalah mendapat bentuk perumusan masalah.[3]

2. Hipotesis pendahuluan atau hipotesis preliminer (preliminary hypothesis).[4]

Dugaan atau anggapan sementara yang menjadi pangkal bertolak dari semua kegiatan.[4] Ini
digunakan juga dalam penalaran ilmiah.[3] Tanpa hipotesa preliminer, pengamatan tidak
akan terarah.[4] Fakta yang terkumpul mungkin tidak akan dapat digunakan untuk
menyimpulkan suatu konklusi, karena tidak relevan dengan masalah yang dihadapi.[3] Karena
tidak dirumuskan secara eksplisit, dalam penelitian, hipotesis priliminer dianggap bukan
hipotesis keseluruhan penelitian, namun merupakan sebuah hipotesis yang hanya digunakan
untuk melakukan uji coba sebelum penelitian sebenarnya dilaksanakan.[4]

3. Pengumpulan fakta.[3]

Dalam penalaran ilmiah, di antara jumlah fakta yang besarnya tak terbatas itu hanya dipilih
fakta-fakta yang relevan dengan hipotesa preliminer yang perumusannya didasarkan pada
ketelitian dan ketepatan memilih fakta.[3]

4. Formulasi hipotesa.[3]

Pembentukan hipotesa dapat melalui ilham atau intuisi, dimana logika tidak dapat berkata
apa-apa tentang hal ini.[3] Hipotesa diciptakan saat terdapat hubungan tertentu di antara
sejumlah fakta.[3] Sebagai contoh sebuah anekdot yang jelas menggambarkan sifat
penemuan dari hipotesa, diceritakan bahwa sebuah apel jatuh dari pohon ketika Newton
tidur di bawahnya dan teringat olehnya bahwa semua benda pasti jatuh dan seketika itu
pula dilihat hipotesanya, yang dikenal dengan hukum gravitasi.[3]

5. Pengujian hipotesa

Artinya, mencocokkan hipotesa dengan keadaan yang dapat diamati[3] dalam istilah ilmiah
hal ini disebut verifikasi(pembenaran).[3] Apabila hipotesa terbukti cocok dengan fakta maka
disebut konfirmasi.[3] Falsifikasi(penyalahan) terjadi jika usaha menemukan fakta dalam
pengujian hipotesa tidak sesuai dengan hipotesa. Bilamana usaha itu tidak berhasil, maka
hipotesa tidak terbantah oleh fakta yang dinamakan koroborasi (corroboration).[3] Hipotesa
yang sering mendapat konfirmasi atau koroborasi dapat disebut teori.[3]

6. Aplikasi/penerapan.[3]

Apabila hipotesa itu benar dan dapat diadakan menjadi ramalan (dalam istilah ilmiah disebut
prediksi), dan ramalan itu harus terbukti cocok dengan fakta.[3] Kemudian harus dapat
diverifikasikan/koroborasikan dengan fakta.[3]

Hubungan hipotesis dan teori


Hipotesis ini merupakan suatu jenis proposisi yang dirumuskan sebagai jawaban tentatif atas
suatu masalah dan kemudian diuji secara empiris.[12] Sebagai suatu jenis proposisi, umumnya
hipotesis menyatakan hubungan antara dua atau lebih variabel yang di dalamnya pernyataan-
pernyataan hubungan tersebut telah diformulasikan dalam kerangka teoritis.[12] Hipotesis ini,
diturunkan, atau bersumber dari teori dan tinjauan literatur yang berhubungan dengan
masalah yang akan diteliti.[12] Pernyataan hubungan antara variabel, sebagaimana dirumuskan
dalam hipotesis, merupakan hanya merupakan dugaan sementara atas suatu masalah yang
didasarkan pada hubungan yang telah dijelaskan dalam kerangka teori yang digunakan untuk
menjelaskan masalah penelitian.[12] Sebab, teori yang tepat akan menghasilkan hipotesis yang
tepat untuk digunakan sebagai jawaban sementara atas masalah yang diteliti atau dipelajari
dalam penelitian.[12] Dalam penelitian kuantitatif peneliti menguji suatu teori. Untuk meguji
teori tersebut, peneliti menguji hipotesis yang diturunkan dari teori.[12]
Agar teori yang digunakan sebagai dasar penyusunan hipotesis dapat diamati dan diukur
dalam kenyataan sebenarnya, teori tersebut harus dijabarkan ke dalam bentuk yang nyata
yang dapat diamati dan diukur.[12] Cara yang umum digunakan ialah melalui proses
operasionalisasi, yaitu menurunkan tingkat keabstrakan suatu teori menjadi tingkat yang lebih
konkret yang menunjuk fenomena empiris atau ke dalam bentuk proposisi yang dapat diamati
atau dapat diukur.[12] Proposisi yang dapat diukur atau diamati adalah proposisi yang
menyatakan hubungan antar-variabel.[12] Proposisi seperti inilah yang disebut sebagai
hipotesis.[12]

Jika teori merupakan pernyataan yang menunjukkan hubungan antar-konsep (pada tingkat
abstrak atau teoritis), hipotesis merupakan pernyataan yang menunjukkan hubungan antar-
variabel (dalam tingkat yang konkret atau empiris).[12] Hipotesis menghubungkan teori
dengan realitas sehingga melalui hipotesis dimungkinkan dilakukan pengujian atas teori dan
bahkan membantu pelaksanaan pengumpulan data yang diperlukan untuk menjawab
permasalahan penelitian.[12] Oleh sebab itu, hipotesis sering disebut sebagai pernyataan
tentang teori dalam bentuk yang dapat diuji (statement of theory in testable form), atau
kadang-kadanag hipotesis didefinisikan sebagai pernyataan tentatif tentang realitas (tentative
statements about reality).[12]

Oleh karena teori berhubungan dengan hipotesis, merumuskan hipotesis akan sulit jika tidak
memiliki kerangka teori yang menjelaskan fenomena yang diteliti, tidak mengembangkan
proposisi yang tegas tentang masalah penelitian, atau tidak memiliki kemampuan untuk
menggunakan teori yang ada.[13] Kemudian, karena dasar penyusunan hipotesis yang reliabel
dan dapat diuji adalah teori, tingkat ketepatan hipotesis dalam menduga, menjelaskan,
memprediksi suatu fenomena atau peristiwa atau hubungan antara fenomena yang ditentukan
oleh tingkat ketepatan atau kebenaran teori yang digunakan dan yang disusun dalam kerangka
teoritis.[12] Jadi, sumber hipotesis adalah teori sebagaimana disusun dalam kerangka teoritis.
Karena itu, baik-buruknya suatu hipotesis bergantung pada keadaan relatif dari teori
penelitian mengenai suatu fenomena sosial disebut hipotesis penelitian atau hipotesis
kerja.[12] Dengan kata lain, meskipun lebih sering terjadi bahwa penelitian berlangsung dari
teori ke hipotesis (penelitian deduktif), kadang-kadang sebaliknya yang terjadi.[12]

https://id.wikipedia.org/wiki/Hipotesis

PENGERTIAN HIPOTESIS

Ketika sedang melihat sebuah drama ataupun reality show di televisi, pernahkah Anda
menduga-duga apa yang akan terjadi pada tokoh utama di akhir cerita? Jika pernah, apa dasar
yang Anda gunakan untuk membuat dugaan tersebut?

Dalam kehidupan ini ada banyak hal yang membuat kita sering menduga-duga tentang apa
yang akan terjadi selanjutnya. Seringkali dugaan-dugaan tersebut muncul karena adanya
pengalaman akan hal yang sama atau setidaknya mirip dengan kejadian yang tengah kita
hadapi. Dalam ranah penelitian, dugaan-dugaan juga seringkali muncul. Dugaan ini lebih
sering disebut dengan istilah hipotesis.
Hipotesis (atau ada pula yang menyebutnya dengan istilah hipotesa) dapat diartikan secara
sederhana sebagai dugaan sementara. Hipotesis berasal dari bahasa Yunani hypo yang berarti
di bawah dan thesis yang berarti pendirian, pendapat yang ditegakkan, kepastian. Jika
dimaknai secara bebas, maka hipotesis berarti pendapat yang kebenarannya masih diragukan.
Untuk bisa memastikan kebenaran dari pendapat tersebut, maka suatu hipotesis harus diuji
atau dibuktikan kebenarannya.

Untuk membuktikan kebenaran suatu hipotesis, seorang peneliti dapat dengan sengaja
menciptakan suatu gejala, yakni melalui percobaan atau penelitian. Jika sebuah hipotesis
telah teruji kebenarannya, maka hipotesis akan disebut teori.

Dalam penelitian ada dua jenis hipotesis yang seringkali harus dibuat oleh peneliti, yakni
hipotesis penelitian dan hipotesis statistik. Pengujian hipotesis penelitian merujuk pada
menguji apakah hipotesis tersebut betul-betul terjadi pada sampel yang diteliti atau tidak. Jika
apa yang ada dalam hipotesis benar-benar terjadi, maka hipotesis penelitian terbukti, begitu
pun sebaliknya. Sementara itu, pengujian hipotesis statistik berarti menguji apakah hipotesis
penelitian yang telah terbukti atau tidak terbukti berdasarkan data sampel tersebut dapat
diberlakukan pada populasi atau tidak.
ILUSTRASI MACAM HIPOTESISI (SAMUEL/UCEO)

MACAM HIPOTESIS

Terdapat tiga macam hipotesis dalam penelitian, yakni hipotesis deskriptif, hipotesis
komparatif, dan hipotesis asosiatif. Masing-masing dari hipotesis ini dapat digunakan sesuai
dengan bentuk variabel penelitian yang digunakan. Apakah penelitian menggunakan variabel
tunggal/ mandiri atau kah variabel jamak? Jika yang digunakan adalah variabel jamak, apa
yang ingin diketahui oleh peneliti dalam rumusan masalah?

1. Hipotesis Deskriptif

Hipotesis deskripsif dapat didefinisikan sebagai dugaan atau jawaban sementara terhadap
masalah deskriptif yang berhubungan dengan variabel tunggal/mandiri.

Contoh:
Seorang peneliti ingin mengetahui apakah bakso di restoran Bakso Idola Malang
mengandung boraks atau tidak.

Maka peneliti dapat membuat rumusan masalah seperti berikut: Apakah bakso di restoran
Bakso Idola Malang mengandung boraks?

Dalam penelitian ini, variabel yang digunakan adalah variabel tunggal yakni bakso di
restoran Bakso Idola Malang, maka hipotesis yang digunakan adalah hipotesis deskriptif. Ada
dua pilihan hipotesis yang dapat dibuat oleh peneliti sesuai dengan dasar teori yang ia
gunakan, yakni:

Ho : Bakso di restoran Bakso Idola Malang mengandung boraks

Atau

H1 : Bakso di restoran Bakso Idola Malang tidak mengandung boraks

2. Hipotesis Komparatif

Hipotesis komparatif dapat didefinisikan sebagai dugaan atau jawaban sementara terhadap
rumusan masalah yang mempertanyakan perbandingan (komparasi) antara dua variabel
penelitian.

Contoh:

Seorang peneliti hendak mengetahui bagaimana sikap loyal antara pendukung club sepakbola
Manchester United jika dibandingkan dengan sikap loyal pendukung club sepakbola Chelsea.
Apakah pendukung memiliki tingkat loyalitas yang sama ataukah berbeda.

Maka peneliti dapat membuat rumusan masalah seperti berikut: Apakah pendukung club
sepakbola Manchester United dan Chelsea memiliki tingkat loyalitas yang sama?

Dalam penelitian ini, variabel yang digunakan adalah variabel jamak. Variabel pertama
adalah loyalitas club sepakbola Manchester United, sedangkan variabel kedua adalah
loyalitas club sepakbola Chelsea. Karena rumusan masalah mempertanyakan perihal
perbandingan antara dua variabel, maka hipotesis yang digunakan adalah hipotesis
komparatif. Ada dua pilihan hipotesis yang dapat dibuat oleh peneliti sesuai dengan dasar
teori yang ia gunakan, yakni:

Ho: Pendukung club Manchester United memiliki tingkat loyalitas yang sama dengan
pendukung club Chelsea

Atau

H1: Pendukung club Manchester United memiliki tingkat loyalitas yang tidak sama (berbeda)
dengan pendukung club Chelsea

3. Hipotesis Asosisatif
Hipotesis asosiatif dapat didefinisikan sebagai dugaan/jawaban sementara terhadap rumusan
masalah yang mempertanyakan hubungan (asosiasi) antara dua variabel penelitian.

Contoh:

Seorang peneliti ingin mengetahui apakah sinetron berjudul “Anak Jalanan” memengaruhi
gaya remaja laki-laki dalam mengendarai motor.

Maka peneliti dapat membuat rumusan masalah seperti berikut: Apakah sinetron berjudul
“Anak Jalanan” memengaruhi gaya remaja laki-laki dalam mengendarai motor?

Dalam penelitian ini, variabel yang digunakan adalah variabel jamak. Variabel pertama
adalah sinetron berjudul “Anak Jalanan”, sedangkan variabel kedua adalah gaya remaja laki-
laki dalam mengendarai motor. Karena rumusan masalah mempertanyakan perihal hubungan
antara dua variabel, maka hipotesis yang digunakan adalah hipotesis asosiatif. Ada dua
pilihan hipotesis yang dapat dibuat oleh peneliti sesuai dengan dasar teori yang ia gunakan,
yakni:

Ho: Sinetron berjudul “Anak Jalanan” memengaruhi gaya remaja laki-laki dalam
mengendarai motor.

Atau

H1: Sinetron berjudul “Anak Jalanan” tidak memengaruhi gaya remaja laki-laki dalam
mengendarai motor.

CIRI-CIRI HIPOTESIS YANG BAIK

Setiap orang bisa membuat hipotesis, entah hipotesis dalam penelitian maupun hipotesis
untuk hal-hal yang lebih sederhana dalam berbagai gejala di kehidupan sehari-hari. Meskipun
begitu, ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan untuk menghasilkan suatu hipotesis
yang baik. Menurut Moh. Nazir, setidaknya ada 6 ciri-ciri hipotesis yang baik, yaitu:

1. Harus menyatakan hubungan


2. Harus sesuai dengan fakta
3. Harus berhubungan dengan ilmu, serta sesuai dengan tumbuhnya ilmu pengetahuan
4. Harus dapat diuji
5. Harus sederhana
6. Harus bisa menerangkan fakta

Dengan demikian, untuk membuat sebuah hipotesis yang baik, seorang peneliti harus
mempertimbangkan fakta-fakta yang relevan, masuk akal dan tidak bertentangan dengan
hukum alam. Selain itu, hipotesis juga harus bisa diuji sebagai langkah verifikasi dalam
penelitian.

PERUMUSAN HIPOTESIS

Setelah mengetahui pengertian hipotesis, jenis-jenis hipotesis, dan ciri-ciri hipotesis yang
baik, sekarang saatnya kita belajar untuk membuat hipotesis. Untuk menghasilkan sebuah
hipotesis, tentunya kita harus mengikuti langkah-langkah tertentu. Dengan langkah dan cara
yang benar, sebuah hipotesis yang baik akan memudahkan jalannya proses penelitian.

Awal terbentuknya hipotesis dalam sebuah penelitian biasanya diawali atas dasar terkaan atau
conjecture peneliti. Meskipun hipotesis berasal dari terkaan, namun sebuah hipotesis tetap
harus dibuat berdasarkan paca sebuah acuan, yakni teori dan fakta ilmiah.

Teori Sebagai Acuan Perumusan Hipotesis

Untuk memudahkan proses pembentukan hipotesis, seorang peneliti biasanya menurunkan


sebuah teori menjadi sejumlah asumsi dan prostulat. Asumsi-asumsi tersebut dapat
didefinisikan sebagai anggapan atau dugaan yang mendasari hipotesis. Berbeda dengan
asumsi, hipotesis yang telah diuji dengan menggunakan data melalui proses penelitian adalah
dasar untuk memperoleh kesimpulan.

Fakta Ilmiah Sebagai Acuan Perumusan Hipotesis

Selain menggunakn teori sebagai acuan, dalam merumuskan hipotesis dapat pula
menggunakan acuan fakta. Secara umum, fakta dapat didefinisikan sebagai kebenaran yang
dapat diterima oleh nalar dan sesuai dengan kenyataan yang dapat dikenali dengan panca
indera.

Fakta Ilmiah sebagai acuan perumusan hipotesis dapat diperoleh dengan berbagai cara,
misalnya :

1. Memperoleh dari sumber aslinya


2. Fakta yang diidentifikasi dengan cara menggambarkan dan menafsirkannya dari
sumber yang asli.
3. Fakta yang diperoleh dari orang mengidentifikasi dengan jalan menyusunnya dalam
bentuk abstract reasoning (penalaran abstrak).

Selain teori dan fakta ilmiah, hipotesis dapat pula dirumuskan berdasarkan beberapa sumber
lain, yakni:

1. Kebudayaan dimana ilmu atau teori yang relevan dibentuk


2. Ilmu yang menghasilkan teori yang relevan
3. Analogi
4. Reaksi individu terhadap sesuatu dan pengalaman

http://ciputrauceo.net/blog/2016/1/11/pengertian-hipotesis-dan-langkah-perumusan-hipotesis

Pengertian Hipotesis adalah jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian. Dikatakan
sementara karena jawaban yang diberikan baru didasarkan pada teori dan belum menggunakan
fakta. Oleh karena itu, setiap penelitian yang dilakukan memiliki suatu hipotesis atau jawaban
sementara terhadap penelitian yang akan dilakukan. Dari hipotesis tersebut akan dilakukan
penelitian lebih lanjut untuk membuktikan apakah hipotesis tersebut benar adanya atau tidak benar.
Dalam penelitian yang menggunakan analisis statistik inferensial, terdapat dua hipotesis yang perlu
diuji, yaitu hipotesis penelitian dan hipotesis statistik. Menguji hipostesis penelitian berarti menguji
jawaban yang sementara itu apakah betul-betul terjadi pada sampel yang diteliti atau tidak. Kalau
terjadi berarti hipotesis penelitian terbukti dan kalau tidak berarti bahwa tidak terbukti. Selanjutnya
menguji hipotesis statistik, berarti menguji apakah hipotesis penelitian yang telah terbukti atau tidak
terbukti berdasarkan data sampel itu dapat diberlakukan pada populasi atau tidak.

| Macam Macam Hipotesis |


Macam macam hipotesis dalam penelitian, sebagai berikut :

1. Hipotesis Deskriptif

Pengertian Hipotesis Deskriptif adalah dugaan terhadap nilai satu variabel dalam satu sampel
walaupun di dalamnya bisa terdapat beberapa kategori. Hipotesis deskriptif ini merupakan salah
satu dari macam macam hipotesis.

Contoh :

Ho : Kecenderungan masyarakat memilih warna mobil gelap.

Ha : Kecenderungan masyarakat memilih warna mobil bukan warna gelap.

2. Hipotesis Komparatif

Pengertian Hipotesis Komparatif adalah dugaan terhadap perbandingan nilai dua sampel atau lebih.
Hipotesis komparatif merupakan salah satu dari macam macam hipotesis. Dalam hal komparasi ini
terdapat beberapa macam, yaitu :

(1) Komparasi berpasangan (related) dalam dua sampel dan lebih dari dua sampel (k sampel).

(2) Komparasi independen dalam dua sampel dan lebih dari dua sampel (k sampel).

Contoh :

Sampel Berpasangan, komparatif dua sampel

Ho : Tidak terdapat perbedaan nilai penjualan sebelum dan sesudah ada iklan.

Ha : Terdapat berbedaan nilai penjualan sebelum dan sesudah ada iklan

Sampel Independen, komparatif tiga sampel

Ho : Tidak terdapa perbedaan antara birokrat, akademisi dan pebisnis dalam memilih partai.

Ha : Terdapa perbedaan antara birokrat, akademisi dan pebisnis dalam memilih partai.
3. Hipotesis Asosiatif

Pengertian Hipotesis Asosiatif adalah dugaan terhadap hubungan antara dua variabel atau lebih.
Hipotesis asosiatif merupakan salah satu dari macam macam hipotesis.

Contoh :

Ho : Tidak terdapat hubungan antara jenis profesi dengan jenis olah raga yang disenangi.

Ha : Terdapat hubungan antara jenis profesi dengan jenis olah raga yang disenangi.

Sekian pembahasan mengenai pengertian hipotesis dan macam macam hipotesis, semoga tulisan
saya mengenai pengertian hipotesis dan macam macam hipotesis dapat bermanfaat.

Sumber : Buku dalam Penulisan Pengertian Hipotesis dan Macam Macam Hipotesis :

– Sugiyono, 1999. Judul : Statistik Nonparametris Untuk Penelitian. Penerbit Alfabeta : Bandung.

http://www.pengertianpakar.com/2015/05/pengertian-dan-macam-macam-hipotesis-
penelitian.html

engertian Hipotesis Menurut Para Ahli-AsikBelajar.Com. Bagi sabahat yang ingin


mengetahui definisi atau pengetian hipotesis menurut pakar, maka kami sajikan di bawah ini
pendapat para ahli tersebut tentang apa itu hipotesis...

Menurut Prof. Dr. S. Nasution definisi hipotesis ialah “pernyataan tentative yang merupakan
dugaan mengenai apa saja yang sedang kita amati dalam usaha untuk
memahaminya”. (Nasution:2000)

Zikmund (1997:112) mendefinisikan hipotesis sebagai: “Unproven proposition or


supposition that tentatively explains certain facts or phenomena; a probable answer to a
research question”. Menurut Zimund hipotesis merupakan proposisi atau dugaan yang belum
terbukti yang secara tentative menerangkan fakta-fakta atau fenomena tertentu dan juga
merupakan jawaban yang memungkinkan terhadap suatu pertanyaan riset.

Menurut Erwan Agus Purwanto dan Dyah Ratih Sulistyastuti (2007:137), hipotesis adalah
pernyataan atau dugaan yang bersifat sementara terhadap suatu masalah penelitian yang
kebenarannya masih lemah (belum tentu kebenarannya) sehingga harus diuji secara empiris.

Menurut Mundilarso (tanpa tahun dan halaman) mengatakan bahwa hipotesis adalah
pernyataan yang masih lemah tingkat kebenarannya sehingga masih harus diuji menggunakan
teknik tertentu. Hipotesis dirumuskan berdasarakan teori, dugaan, pengalaman pribadi/orang
lain, kesan umum, kesimpulan yang masih sangat sementara. Hipotesis adalah pernyataan
keadaan populasi yang akan diuji kebenarannya menggunakan data/informasi yang
dikumpulkan melalui sampel.
Menurut Kerlinger (1973) mengatakan hipotesis adalah pernyataan yang bersifat terkaan dari
hubungan antara dua atau lebih variabel.
Pendapat lain mengatakan hipotesis adalah suatu pernyataan mengenai satu atau lebih
populasi yang belum tentu benar atau salah dan perlu diuji kebenarannya.
http://www.asikbelajar.com/2015/10/pengertian-hipotesis-menurut-para-ahli.html

Hipotesis Penelitian: Pengertian, Konsep dan Macamnya - AsikBelajar.Com. Hipotesis


merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah atau sub masalah yang diajukan
oleh peneliti, yang diajabarkan dari landasan teori atau kajian teori dan masih harus diuji
kebenarannya. Karena bersifat sementara, maka dibuktikan kebenarannya melalui data
empirik yang terkumpul atau penelitian ilmiah. Hiptotesis dinyatakan ditolak atau diterima.
Hipotesis harus bersifat analistis. Dalam penelitian yang bersifat deskriptif, yang bermaksud
men-deskripsikan masalah yang diteliti, hipotesis tidak perlu dibuat, oleh karena memang
tidak pada tempatnya.
Hipotesis penelitian harus dirumuskan dalam kalimat positif. Tidak dalam kalimat tanya,
menyuruh, menyarankan atau kalimat mengharapkan.

Baca juga: Variabel Penelitian

Konsep Hipotesis
Awalnya, istilah hipotesis berasal dari bahasa Yunani yang terdiri dari dua kata, yaitu “hupo”
artinya sementara dan “thesis” berarti pernyataan atau teori. Karena hipotesis adalah
pernyataansementara yang masih lemah kebenarannya, maka perlu diuji
kebenarannya. Menurut Kerlinger (Riduan, 2010:35) hipotesis ditafsirkan sebagai dugaan
terhadap hubungan antara dua variabel atau lebih. Sedangkan Sudjana (Riduan, 2010:35)
mengartikan hipotesis adalah asumsi atau dugaan mengenai suatu hal yang dibuat untuk
menjelaskan hal itu yang sering dituntut untuk melakukan pengecekannya.
Dari definisi ahli di atas dapat dsimpulkan bahwa hipotesis adalah jawaban atau dugaan
sementara yang harus diuji lagi kebenarannya melalui penelitian ilmiah.
Hipotesis kerja (Hipotesis Alternatif Ha atau H1) yaitu hipotesis yang dirumuskan untuk
menjawab permasalahan dengan menggunakan teori-teori yang relevan dengan masalah
penelitian dan belum berdasarkan fakta dan dukungan data yang nyata di
lapangan. Hipotesis alternatif (Ha) dirumuskan dengan kalimat positif.
Secara statistik, hipotesis diartikan sebagai pernyataan mengenai keadaan populasi
(Parameter) yang akan diuji kebenarannya berdasarkan data yang diperoleh dari sampel
penelitian. Dengan demikian dalam perhitungan statistik yang diuji adalah hipotesis nol
(H0). Jadi, hipotesis nol adalah pernyataan tidak ada hubungan, pengaruh atau perbedaan
antara parameter dengan statistik dan lawannya adalah Ha yang menyatakan adanya
hubungan, pengaruh atau perbedaan antara parameter dengan statistik. Hipotesis nol (H0)
dinyatakan dengan kalimat negatif (Riduan, 2010:36).
Setiap penelitian tidah harus dirumuskan masalahnya. Agar rumusan masalah dapat terjawan
dan hipotesis dapat teruji, keduanya harus dirumuskan dengan menggunakan kalimat yang
jelas, tidak menimbulkan banyak penafsiran dan spesifik supaya dapat diukur. Masalah
penelitian dirumuskan dalam bentuk kalimat tanya, sedang hipotesis dalam bentuk kalimat
pernyataan.

Macam-Macam Hipotesis Penelitian


Berdasarkan tiga macam masalah penelitian (deskriptif, komparatif dan asosiatif), maka ada
tiga macam hipotesis penelitian (Ha), yaitu:
a. Hipotesis Deskriptif yaitu hipotesis yang tidak membandingkan dan menghubungkan
dengan variabel lain atau hipotesis yang dirumuskan untuk menentukan titik peluang,
hipotesis yang dirumuskan untuk menjawab permasalahan taksiran (estimatif).
Contoh:

1. Panen udang windu di Tambak Udang Kalinyar-Bangil mencapai 3 ton/ha.


2. Motivasi belajar siswa SDN Melayu 5 mencapai 80% dari kriteria rata-rata nilai ideal
yang ditetapkan.
3. Gaya mengajar dosen statistik mencapai 70% dari kriteria rata-rata nilai ideal.

b. Hipotesis Komparatif dirumuskan untuk memberikan jawaban pada permasalahan yang


bersifat membedakan.

1. Ada perbedaan besarnya motivasi belajar antara mahasiswa prodi Administrasi


pendidikan dengan mahasiswa PGSD.
2. Ada perbedaan kesenangan bagi anak-anak SD antara menonton TV dengan membaca
buku, bahwa menonton TV lebih disukai daripada membaca buku.
3. Ada perbedaan kemampuan berbahasa asing antara lulusan pondok pesantren Yapi
Bangil dengan lulusan SMU Darul Ulum Jombang, yaitu lulusan pondok pesantren
Yapi Bangil lebih baik daripada lulusan SMU Darul Ulum Jombang.

c. Hipotesis Asosiatif dirumuskan untuk memberikan jawaban pada permasalahan yang


bersifat hubungan. Sedangkan menurut sifat hubungannya hipotesis penelitian (Ha) ada tiga
jenis, yaitu:
1. Hipotesis hubungan simetris ialah hipotesis yang menyatakan hubungan yang bersifat
kebersamaan antara kedua variabel atau lebih, tetapi tidak menunjukan sebab akibat.
Contoh:
a) Ada hubungan antara berpakaian mahal dengan penampilan.
b) Ada hubungan yang positif antara banyaknya penonton sepak bola dengan tingkat
kerusuhan.
2. Hipotesis hubungan sebab akibat (kausal) ialah hipotesis yang menyatakan hubungan yang
bersifat mempengaruhi antara dua variabel atau lebih.
Contoh:
a) Motivasi belajar berpengaruh positif terhadap prestasi belajar.
b) Disiplin guru yang tinggi berpengaruh positif terhadap produktivitas kerja.
3. Hipotesis hubungan interaktif ialah hipotesis hubungan antara dua variabel atau lebih yang
bersifat saling mempengaruhi.
Contoh:
a) Terdapat pengaruh timbal balik antara kreativitas siswa dengan hasil belajar.
b) Terdapat hubungan yang saling mempengaruhi antara status sosial ekonomi dengan
terpenuhi gizi keluarga.
http://www.asikbelajar.com/2015/10/hipotesis-penelitian-pengertian-konsep.html