Anda di halaman 1dari 23

I.

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Hutan merupakan sekumpulan pohon-pohon atau tumbuhan berkayu
lainnya yang pada kerapatan dan luas tertentu mampu menciptakan iklim setempat
serta keadaan ekologis berbeda dengan di luarnya (Spurr dan Burton, 1973).
Definisi hutan menurut Simon (1988) adalah sebagai asosiasi masyarakat tumbuh-
tumbuhan dan binatang yang didominasi oleh pohon-pohon atau vegetasi berkayu,
yang mempunyai luasan tertentu sehingga dapat membentuk suatu iklim mikro
dan kondisi ekologi spesifik. Hutan sebagai modal pembangunan nasional
memiliki manfaat yang nyata bagi kehidupan dan penghidupan bangsa Indonesia,
baik manfaat ekologi, sosial budaya maupun ekonomi, secara seimbang dan
dinamis. Untuk itu hutan harus diurus dan dikelola, dilindungi dan dimanfaatkan
secara berkesinambungan bagi kesejahteraan masyarakat Indonesia, baik generasi
sekarang maupun yang akan datang.
Hutan tersusun dari masyarakat tumbuhan diantaranya pohon, semak dan
perdu, herba, rumput, liana, serta epiphyta. Pohon adalah tumbuhan berkayu yang
tumbuh dengan tinggi minimal 5 meter (16 kaki) dan diameter batang lebih dari
35 cm. Pohon mempunyai batang pokok tunggal yang menunjang tajuk berdaun
dari cabang-cabang di atas tanah. Di bawah tanah, akar mengambil air dan
mineral dari dalam tanah. Air dan mineral tersebut dibawa ke atas, yaitu daun
melalui batang yang dilindungi oleh kulit kayu (pegagan). Cabang merupakan
bagian yang menyokong daun, bunga dan buah dari pohon tersebut. Sedangkan
tajuk pohon disusun oleh ranting, cabang, dan dedaunan (Greenaway, 1997).
Menurut Arief (2001) klasifikasi pohon berdasarkan ukuran yaitu : 1). Tingkat
semai, apabila pohon-pohonnya mempunyai tinggi sampai 1,5 m. 2). Tingkat
pancang, apabila pohon-pohonnya mempunyai tinggi sampai 1,5 m dengan
diameter < 10 cm. 3). Tingkat tiang, apabila pohon-pohonnya mempunyai
diameter 10 cm - 19 cm. 4). Tingkat pohon inti, apabila pohon-pohonnya
mempunyai diameter 20 cm – 49 cm. 5). Tingkat pohon besar, apabila pohon-
pohonnya mempunyai diameter > 50 cm.

1
Vegetasi adalah suatu sistem dinamik yang selalu mengalami pergantian
dan dipengaruhi oleh berbagai faktor lingkungan, sehingga kondisi ekstrim suatu
habitat yang tidak menguntungkan dapat berubah menjadi habitat optimum bagi
pertumbuhan tumbuhan (Irwan, 1992). Analisis vegetasi berfungsi untuk
mengetahui struktur vegetasi dan komposisi jenis tumbuhan. Menurut Fachrul
(2007), analisis vegetasi dapat juga digunakan untuk mengetahui pengaruh
dampak lingkungan merupakan suatu cara pendekatakan yang khas, karena
pengamatan terhadap berbagai aspek vegetasi yang dilakukan harus secara
mendetail dan terdiri atas vegetasi yang belum terganggu (alamiah).

1.2 Tujuan Praktikum


Untuk mengetahui struktur, komposisi dan penyebaran vegetasi pohon
pada daerah atau habitat hutan darat, dengan menganalisis parameter-parameter
vegetasi antara lain : Frekuensi (kekerapan), Densitas (kerapatan), Dominansi,
Frekuensi Relatif, Densitas Relatif, Dominansi relatif, Nilai Penting (Importance
Value), Indeks diversitas, Indeks similaritas dan Pola Penyebaran Jenis.

1.3 Manfaat Praktikum


Berdasarkan praktikum yang dilakukan diharapkan dapat mengetahui dan
menginformasikan pola penyebaran vegetasi dan jenis-jenis pohon serta tiang
yang terdapat di hutan wisata Alas Kedaton dengan menganalisis parameter-
parameter vegetasi antara lain Frekuensi (kekerapan), Densitas (kerapatan),
Dominansi, Frekuensi Relatif, Densitas Relatif, Dominansi Relatif, Nilai Penting
(Importance Value), Indeks Diversitas, Indeks Similaritas dan Pola Penyebaran
Jenis.

2
II. MATERI DAN METODE PRAKTIKUM

2.1 Lokasi Praktikum


Praktikum analisis vegetasi pohon pada hutan darat dilaksanakan di Objek
Tujuan Wisata Alas Kedaton, Jalan Batukaru, Tabanan, Bali. Praktikum dilakukan
pada tanggal 19 November 2017.

2.2 Alat dan Bahan


Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah meteran kain, hard board,
tali rafia, patok besi, alat-alat tulis. Bahan yang dipergunakan dalam praktikum ini
adalah jenis-jenis pohon yang terdapat di dalam hutan kawasan Alas Kedaton,
diantaranya Dau (Dracontomelon mangiferum), Gintungan (Bischivia javanica),
Wahyuni/sonokeling (Dalbergia latifolia), Kepohpoh (Buchanania
arborescenns), Bayur (Pterospermum diversifolium), Kutat (Planchonia valida),
Nyantuh (Palaquium javanica), Pule (Alstonia scholaris), Kayu Adeng
(Dyzoxylum sp.), Kayu Bukak (Rauvolfia javanica), Kuanitan (Dyzoxylum sp.),
Kejimas (Duabanga molluccana), Sengon (Albizia sp.).
2.3 Cara Kerja
Areal/stasiun penelitian ditentukan terlebih dahulu, selanjutnya ditentukan
luas area minimal seluas 5-10 % dari luas total untuk menentukan luas plot yang
akan dibuat. Untuk analisis vegetasi digunakan metode kuadrat (Quadrat
Sampling Technique) yang dilakukan secara acak/random. Ukuran plot untuk
pohon adalah 20m x 20m dan untuk tiang 10m x 10 m. Masing-masing individu
yang diketemukan dalam plot dicatat lingkaran batang setinggi 135 cm atau
setinggi dada. Tumbuhan yang dikategorikan pohon memiliki keliling batang
lebih besar dari 35 cm, sedangkan tumbuhan yang dikategorikan tiang memiliki
keliling batang antara 25 – 35 cm. Data pengamatan yang diperoleh kemudian
ditentukan parameter vegetasi meliputi frekuensi, densitas, dominansi, frekuensi
relatif, densitas relatif, dominansi relatif, nilai penting, indeks diversitas, dan pola
penyebaran jenis.

3
2.4 Analisis Hasil
Analisis yang dilakukan adalah :
a. Keliling batang
Rumus : 2𝜋r
b. Basal area
Rumus : 𝜋r2
Keterangan : 𝜋 = 3,14
r = jari-jari
Data-data yang diperoleh kemudian dianalisis dan ditentukan parameter-
parameter vegetasinya sebagai berikut :
Jumlah kuadrat dari jenis yang ditemukan
1. Frekuensi = Jumlah plot yang diambil
Jumlah individu suatu jenis
2. Densitas = Total area kuadrat
Luas bidang dasar (Basal area)suatu jenis
3. Dominansi = Total area kuadrat (luas daerah cuplikan)
Frekuensi suatu jenis
4. Frekuensi relatif = 𝑥 100%
Total frekuensi seluruh jenis
Densitas suatu jenis
5. Densitas relatif = 𝑥 100%
Total densitas seluruh jenis
Dominansi suatu jenis
6. Dominansi relatif = 𝑥 100%
Total dominansi seluruh jenis

7. Nilai penting (NP) = Frekuensi relatif + Densitas relarif + Dominansi relatif


8. Indeks Diversitas (ID) dapat ditentukan dengan rumus :

Keterangan :
H = Indeks Diversitas ( Indeks Keanekaragaman Jenis)
n1 = Nilai penting dari suatu jenis
N = Nilai penting dari seluruh jenis
Indeks diversitas untuk pohon yang tumbuh pada hutan darat dapat ditentukan
dengan 5 kriteria :

a. Jika H  1,0 termasuk katagori sangat buruk (tidak mantap)


b. Jika 1,1  H  1,5 tergolong katagori buruk (kurang mantap)

4
c. Jika 1,6  H  2,4 tergolong katagori sedang (cukup mantap)
d. Jika 2,5 < H < 3,5 tergolong katagori baik (mantap)
e. Jika H > 3,5 tergolong katagori sangat baik ( sangat mantap sekali)
9. Pola Penyebaran Individu
Pola penyebaran individu suatu jenis dinyatakan dengan rumus :
Varian (Keragaman Jenis) : Mean (rata-rata) = (V/M)

Keterangan :
X = Jumlah individu dari masing-masing jenis
N = Jumlah seluruh individu
̅ = Jumlah rata-rata dari jenis yang ditemukan
X
Pola penyebaran/distribusi suatu jenis vegetasi dapat ditetapkan dengan 3
ketentuan pokok yaitu :
a. Jika V/M = 1 maka pola penyebaran vegetasinya bersifat acak
b. Jika V/M  1 maka pola penyebaran vegetasinya bersifat seragam
c. Jika V/M > 1 maka pola penyebaran vegetasinya bersifat mengelompok

5
III. HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1 Hasil Pengamatan
Tabel 1. Hasil Pengamatan Vegetasi Pohon
No Nama Lokal Nama Ilmiah Individu Jumlah Terdapat Keliling (cm)
(Plot)
1. Dau Dracontomelon 39 11 3424,7
mangiferum
2. Gintungan Bischivia 14 7 1663,5
javanica
3. Wahyuni/sonokeling Dalbergia 8 6 1542
latifolia
4. Kepohpoh Buchanania 2 2 291
arborescenns
5. Bayur Pterospermum 5 4 963
diversifolium
6. Kutat Planchonia 8 6 1039
valida
7. Nyantuh Palaquium 2 2 305
javanica
8. Pule Alstonia scholaris 2 1 550
9. Kayu Adeng Dyzoxylum sp. 15 8 1545,4
10. Kayu Bukak Rauvolfia 1 1 39
javanica
11. Kuanitan Dyzoxylum sp. 2 2 257,5
12. Kejimas Duabanga 4 1 693,5
molluccana
13. Sengon Albizia sp. 1 1 148

Tabel 2. Hasil Pengamatan Vegetasi Tiang

No Nama Lokal Nama Ilmiah Individu Jumlah Terdapat Keliling (cm)


(Plot)
1. Dau Dracontomelon 21 10 612,3
mangiferum
2. Gintungan Bischivia 2 2 61
javanica
3. Kepohpoh Buchanania 3 2 89,1
arborescenns

6
Tabel 3. Hasil Analisis Vegetasi Pohon pada Hutan Darat

dominansi relatif

indeks diversitas
basal area (cm2)

frequensi relatif

densitas relatif
o
jml individu
jml terdapat
nama jenis

dominansi
frequensi

INP (%)
densitas

(%)

(%)

(%)
1 Dau 11 39 933803,4 0,917 0,008 194,54 21,163 36,69 52,54 110,4 0,158
2 7 8 09

2 Gintunga 7 14 220321 0,583 0,003 45,9 14,454 13,76 12,39 39,61 0,116
n 1 8 5

3 Wahyuni 6 8 189312,4 0,5 0,002 39,441 11,539 9,174 10,65 31,36 0,102
/sonokeli 3 7
ng

4 Kepohpo 2 2 6742,118 0,167 0,0004 1,405 3,854 1,834 0,379 6,068 0,034
h

5 Bayur 4 5 73835,11 0,333 0,001 15,382 7,685 4,587 4,155 16,42 0,069
7

6 Kutat 6 8 85949,12 0,5 0,002 17,906 11,539 9,174 4,837 25,55 0,091

7 Nyantuh 2 2 7406,449 0,167 0,0004 1,543 3,854 1,835 0,417 6,106 0,034

8 Pule 1 2 24084,39 0,083 0,0004 5,017 1,915 1,835 1,355 5,105 0,03

9 Kayu 8 15 190148,2 0,667 0,003 39,614 15,393 13,76 10,7 39,85 0,116
Adeng 1 5

10 Kayu 1 1 121,098 0,083 0,0002 0,025 1,915 0,917 0,007 2,839 0,019
Bukak

11 Kuanitan 2 2 5279,16 0,167 0,0004 1,099 3,854 1,835 0,297 5,986 0,034

12 Kejimas 1 4 38291,58 0,083 0,0008 7,977 1,915 3,669 2,155 7,739 0,04

13 Sengon 1 1 1743,949 0,083 0,0002 0,363 1,915 0,917 0,098 2,931 0,019

Σ = 52 103 1777038 4,333 0,0218 370,21 100% 100% 100% 300% 0,862
4

7
Tabel 4. Hasil Analisis Vegetasi Tiang pada Hutan Darat

No

dominansi relatif (%)


frequensi relatif (%)

densitas relatif (%)

indeks diversitas
basal area (cm2)
jml individu
jml terdapat
nama jenis

dominansi
frequensi

INP (%)
densitas
1 Dau 10 21 29849,63 0,833 0,0175 24,875 71,38 80,65 96,98 249,01 0,067

2 Gintungan 2 2 296,258 0,167 0,0017 0,247 14,31 7,83 0,96 23,11 0,086

3 Kepohpoh 2 3 632,07 0,167 0,0025 0,527 14,31 11,52 2,05 27,88 0,096

Σ = 14 26 30777,96 1,167 0,0217 25,649 100% 100% 100% 300% 0,249

GRAFIK POHON

Grafik 1. Jumlah Terdapat Jenis Pohon di Alas Kedaton

Jumlah Terdapat
12

10

4
jml terdapat
2

8
Grafik 2. Jumlah Individu Jenis Pohon di Alas Kedaton

Jumlah Individu
45
40
35
30
25
20
15
jml individu
10
5
0

Grafik 3. Luas Basal Area (cm2) Pohon di Alas Kedaton

Basal Area (cm2)


2000000
1800000
1600000
1400000
1200000
1000000
800000
600000 basal area (cm2)
400000
200000
0

9
Grafik 4. Frekuensi Pohon di Alas Kedaton

frequensi
1
0.9
0.8
0.7
0.6
0.5
0.4
0.3
frequensi
0.2
0.1
0

Grafik 5. Densitas Pohon di Alas Kedaton

densitas
0.009
0.008
0.007
0.006
0.005
0.004
0.003
0.002 densitas
0.001
0

10
Grafik 6. Dominansi Pohon di Alas Kedaton

dominansi
250

200

150

100
dominansi
50

Grafik 7. Frequensi Relatif (%) Pohon di Alas Kedaton

frequensi relatif (%)


25.00

20.00

15.00

10.00

frequensi relatif (%)


5.00

0.00

11
Grafik 8. Densitas Relatif (%) Pohon di Alas Kedaton

densitas relatif (%)


40.00
35.00
30.00
25.00
20.00
15.00
10.00 densitas relatif (%)
5.00
0.00

Grafik 9. Dominansi Relatif (%) Pohon di Alas Kedaton

dominansi relatif (%)


60.00

50.00

40.00

30.00

20.00
dominansi relatif (%)
10.00

0.00

12
Grafik 10. INP (%) Pohon di Alas Kedaton

INP (%)
120.00
100.00
80.00
60.00
40.00
20.00 INP (%)

0.00

Grafik 11. Indeks Diversitas Pohon di Alas Kedaton

indeks diversitas
0.18
0.16
0.14
0.12
0.1
0.08
0.06
indeks diversitas
0.04
0.02
0

13
GRAFIK TIANG

Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan didapat grafik sebagai berikut :

Grafik 1. Jumlah terdapat jenis tiang di daerah alas kedaton

12
Jumlah Terdapat
10

6
jumlah terdapat

0
Dau Gintungan Kepohpoh

Grafik 2. Jumlah individu jenis tiang di daerah alas kedaton

25
Jumlah Individu
20

15

jumlah individu
10

0
Dau Gintungan Kepohpoh

14
Grafik 3. Basal area jenis tiang di daerah alas kedaton

35000
Basal Area ( cm2 )
30000

25000

20000
Basal Area
15000

10000

5000

0
Dau Gintungan Kepohpoh

Grafik 4.Frekuensi jenis tiang di daerah alas kedaton

0.9
Frekuensi
0.8
0.7
0.6
0.5
0.4 Frekuensi

0.3
0.2
0.1
0
Dau Gintungan Kepohpoh

15
Grafik 5.Densitas jenis tiang di daerah alas kedaton

0.02
0.018
Densitas
0.016
0.014
0.012
0.01
Densitas
0.008
0.006
0.004
0.002
0
Dau Gintungan Kepohpoh

Grafik 6.Dominasi jenis tiang di daerah alas kedaton

30
Dominasi
25

20

15
Dominasi

10

0
Dau Gintungan Kepohpoh

16
Grafik 7. Frekuensi relatif jenis tiang di daerah alas kedaton

80 Frekuensi Relatif ( % )
70
60
50
40 Frekuensi Relatif
30
20
10
0
Dau Gintungan Kepohpoh

Grafik 8. Densitas relatif jenis tiang di daerah alas kedaton

90
Densitas Relatif ( % )
80
70
60
50
40 Densitas relatif

30
20
10
0
Dau Gintungan Kepohpoh

17
Grafik 9. Dominasi relatif jenis tiang di daerah alas kedaton

120
Dominasi Relatif ( % )
100

80

60
Dominasi relatif

40

20

0
Dau Gintungan Kepohpoh

Grafik 10. Nilai penting jenis tiang di daerah alas kedaton

300
INP ( % )
250

200

150
Inp

100

50

0
Dau Gintungan Kepohpoh

18
Grafik 11. Indeks diversitas jenis tiang di daerah alas kedaton

0.12
Indeks Diversitas
0.1

0.08

0.06
Indeks Diversitas

0.04

0.02

0
Dau Gintungan Kepohpoh

3.2 Pembahasan

Pada praktikum analisis hutan darat di Hutan Alas Kedaton tercatat


terdapat 13 spesies pohon diantaranya Dau (Dracontomelon mangiferum),
Gintungan (Bischivia javanica), Wahyuni/sonokeling (Dalbergia latifolia),
Kepohpoh (Buchanania arborescenns), Bayur (Pterospermum diversifolium),
Kutat (Planchonia valida), Nyantuh (Palaquium javanica), Pule (Alstonia
scholaris), Kayu Adeng (Dyzoxylum sp.), Kayu Bukak (Rauvolfia javanica),
Kuanitan (Dyzoxylum sp.), Kejimas (Duabanga molluccana), Sengon (Albizia sp.)
dan 3 spesies tiang yaitu Dau (Dracontomelon mangiferum), Gintungan (Bischivia
javanica), Kepohpoh (Buchanania arborescenns). Dengan jumlah total individu
pohon sebanyak 103 individu dan tiang sebanyak 26 individu. Jumlah individu
yang sedikit diakibatkan di lapangan lebih banyak menemukan anakan dan
pancang dengan diameter batang kurang dari 25 cm. Kawasan Hutan Alas
Kedaton terdapat banyak monyet karena banyaknya pohon-pohon besar yang
menjadi tempat hidup dan berlindung bagi monyet.
Hasil analisis vegetasi dari jenis pohon yang terdapat di Hutan Alas
Kedaton adalah Dau (Dracontomelon mangiferum) merupakan spesies yang
paling banyak ditemukan hampir di semua plot dan paling banyak jumlah

19
individunya dengan ditemukan pada 11 plot dengan 39 individu. Kemudian
diikuti oleh Kayu Adeng (Dyzoxylum sp.) yang ditemukan di 8 plot dengan 15
individu yang tercatat. Nilai frekuensi, densitas, dan dominansi tertinggi juga
dimiliki oleh Dau (Dracontomelon mangiferum) dengan nilai frekuensi 0,917;
densitas 0,008; dan dominansinya 194,542. Nilai tertinggi kedua dimiliki oleh
Kayu Adeng (Dyzoxylum sp.) dengan nilai frekuensi sebesar 0,667; densitas
0,003; dan dominansi 39,614. Hal ini menunjukkan bahwa vegetasi pohon yang
paling sering ditemukan di kawasan Alas Kedaton adalah pohon dau dan pohon
kayu adeng. Tingginya frekuensi, densitas dan dominansi dari 2 jenis pohon
tersebut, dikarenakan kemampuan reproduksi bijinya termasuk biji yang cepat
berkecambah, sehingga penyebaran dari kedua jenis pohon tersebut lebih banyak
dan luas dibandingkan jenis pohon lainnya (Nathan and Katul, 2005).
Persentase frekuensi relatif, densitas relatif, dan dominansi relatif tertinggi
adalah pohon Dau dengan persentase berturut-turut 21,163%; 36,697%; 52,548%
dan persentase terendah adalah pada kayu bukak dengan persentase frekuensi
relatif sebesar 1,915 %, densitas relatif sebesar 0,917 % dan dominansi relatif
0,007%. Hasil penjumlahan seluruh nilai dari persentase frekuensi relatif, densitas
relatif dengan dominansi relatif seluruh pohon didapatkan hasil 300%. Apabila
nilai maksimum mencapai 300% maka dapat dikatakan penyebaran vegetasi
setiap pohon mantap, padat, dan merata, tetapi apabila nilai maksimum kurang
dari 300% maka penyebaran vegetasi setiap pohon di kawasan alas kedaton
dikatakan tidak mantap, padat dan kurang merata (Sundra, 2017).
Indeks diversitas yang didapat pada vegetasi pohon adalah sebesar 0,862,
nilai indeks diversitas yang baik adalah H > 3,5. Hasil yang diperoleh
menunjukkan bahwa vegetasi pohon di Alas Kedaton tergolong sangat buruk
(tidak mantap) karena nilai H < 1. Hal ini terjadi karena terdapat 1 spesies yang
mendominasi di kawasan Hutan Alas Kedaton yang memiliki wilayah yang luas,
dapat dilihat dari dominansi pohon dau yang mendominasi jenis pohon yang lain.
Hasil analisis vegetasi dari jenis tiang yang terdapat di Hutan Alas
Kedaton adalah Dau (Dracontomelon mangiferum) merupakan spesies yang
paling banyak ditemukan hampir di semua plot dan paling banyak jumlah

20
individunya dengan ditemukan pada 10 plot dengan 21 individu. Nilai frekuensi,
densitas, dan dominansi tertinggi juga dimiliki oleh Dau (Dracontomelon
mangiferum) dengan nilai frekuensi 0,833; densitas 0,0175; dan dominansinya
24,875. Hal ini menunjukkan bahwa vegetasi tiang yang paling sering ditemukan
di kawasan Alas Kedaton adalah pohon dau. Persentase frekuensi relatif, densitas
relatif, dan dominansi relatif tertinggi adalah pohon Dau dengan persentase
berturut-turut 71,38%; 80,65%; 96,98% dan persentase terendah adalah pada
gintungan dengan persentase frekuensi relatif sebesar 14,31 %, densitas relatif
sebesar 7,83 % dan dominansi relatif 0,96 %. Hasil penjumlahan seluruh nilai dari
persentase frekuensi relatif, densitas relatif dengan dominansi relatif seluruh
pohon didapatkan hasil 300%. Hal ini menunjukkan penyebaran vegetasi setiap
pohon mantap, padat, dan merata. Indeks diversitas yang didapat pada vegetasi
pohon adalah sebesar 0,249, Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa vegetasi
pohon di Alas Kedaton tergolong sangat buruk (tidak mantap) karena nilai H < 1.
(Sundra, 2017).

21
IV. KESIMPULAN DAN SARAN
4.1 Kesimpulan
Dari hasil pengamatan yang telah dilakukan di kawasan Hutan Alas
Kedaton tentang analisis vegetasi pohon dan tiang hutan darat maka dapat
disimpulkan frekuensi, densitas, dan dominansi pohon tertinggi adalah Pohon
Dau; penyebaran vegetasi setiap pohon mantap, padat, dan merata; indeks
diversitas menunjukkan bahwa vegetasi pohon di Alas Kedaton tergolong sangat
buruk (tidak mantap) karena nilai H < 1.

4.2 Saran
Saran yang penulis ajukan dalam pembuatan laporan praktikum ini adalah
agar mahasiswa dapat lebih memahami tentang analisis vegetasi pada komunitas
pohon selain itu disarankan untuk melakukan pengukuran dengan pengulangan
dan dengan referensi yang lebih baik sehingga dapat meningkatkan tingkat akurasi
data.

22
DAFTAR PUSTAKA

Arief, A. 2001. Hutan dan Kehutanan. Yogyakarta : Penerbit Kanisius

Fachrul, M. F. 2007. Metode Sampling Bioekologi. Jakarta: Penerbit Bumi


Aksara.

Irwan, Z.D. 1992. Prinsip-Prinsip Ekologi dan OrganismeEkosistem Komunitas


dan Lingkungan. Jakarta: Bumi Aksara.

Nathan, R and KatulG.G..2005. Foliage shedding in deciduous forests lifts up


longdistanceseed dispersal by wind. Journal of Proc Natl Acad Sci U S
A.102(1): 8251–8256

Simon, H. 1988. Pengantar Ilmu Kehutanan. Bagian Penerbit Fakultas Kehutanan


Universitas Gadjah Mada,Yogyakarta.

Spurr, S.H. and V.B. Burton. 1973. Forest Ecology. Second Edition. New York :
The Ronald Press Company

Sundra, I.K. 2017. Penuntun Praktikum Ekologi Tumbuhan. Bukit Jimbaran :


Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Universitas Udayana.

23