Anda di halaman 1dari 37

PENGOLAHAN FESES SAPI PERAH DAN JERAMI SECARA TERPADU

MENJADI PUPUK ORGANIK CAIR , BIOGAS DAN POP DENGAN


VERMICOMPOSTING

Oleh :

MOCHAMMAD RIZALDY

NPM. 200110140067

KELAS D

LABORATORIUM MIKROBIOLOGI DAN PENANGANAN LIMBAH


FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS PADJADJARAN
2016
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah
memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan laporan akhir
praktikum dengan judul “ Pengelolaan limbah ternak terpadu “. Laporan akhir praktikum
ini disusun dalam rangka memenuhi tugas mata kuliah Pengelolaan Limbah Peternakan
Program Studi Peternakan Universitas Padjadjaran.

Kami mengucapkan terimakasih kepada pihak yang telah membantu dalam


menyusun laporan akhir praktikum ini, yaitu :

1. Ir. Sudiarto ,MM dosen pengampu mata kuliah Pengelolaan Limbah


Peternakan dan laboran Lab Mikrobiologi dan Penanganan Limbah
2. Semua pihak yang ikut dalam penyusunan laporan akhir praktikum ini.

Kami menyadari bahwa laporan akhir praktikum ini masih memiliki banyak

kekurangan, oleh karena itu kami mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari

pembaca demi terciptanya kesempurnaan laporan akhir praktikum ini.

Sumedang, November 2016

Penyusun
DAFTAR ISI

BAB Halaman
KATA PENGANTAR ...................................................................... i
DAFTAR ISI .................................................................................... ii

I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ............................................................................ 1
1.2 Identifikasi masalah .................................................................... 2
1.3 Maksud dan Tujuan .................................................................... 2
1.4 Waktu dan tempat ........................................................................ 3
1.5 Manfaat ...................................................................................... 3

II KAJIAN KEPUSTAKAAN
2.1 Dekomposisi awal .................................................................. 4
2.1.1 Proses dekomposisi awal ......................................................... 4
2.1.2 Perubahan pada proses dekomposisi awal .............................. 5
2.2 Pupuk organik cair ............................................................... 6
2.2.1 Pupuk organik ......................................................................... 6
2.2.2 Manfaat pupuk organik cair ..................................................... 7
2.3 Pembuatan biogas ................................................................. 9
2.3.1 Pengertian biogas .................................................................... 9
2.3.2 Tahapan pembuatan biogas ..................................................... 9
2.3.4 Manfaat biogas ........................................................................ 12
2.4 Vermicomposting .................................................................. 13
2.4.1 Pengertian vermicomposting ................................................. 13
2.4.2 Pembuatan vermicomposting ................................................. 14
2.4.3 Kriteria cacing tanah .............................................................. 14

III ALAT BAHAN DAN PROSEDUR KERJA


3.1 Alat dan bahan ............................................................................ 16
3.2 Prosedur Kerja ............................................................................ 17

IV HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN


4.1 Hasil Pengamatan ........................................................................
4.2 Pembahasan .................................................................................

V KESIMPULAN
5.1 Kesimpulan .................................................................................. 30
5.2 Saran ............................................................................................ 31
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
I

PENDAHULUAN

1.1.1 Latar Belakang

Dewasa ini semakin dunia menuju era teknologi yang canggih semakin pula

aktivitas manusia yang dilakukan yang bertujuan untuk pemenuhan kebutuhan hidup .

Semakin banyak aktivitas manusia semakin banyak masalah pula yang ada terutama

limbah ternak yang masih menjadi polemik di masyarakat modern ini.

Kebutuhan protein terutama hewani terutama di era saat ini terus meningkat

sehingga produksi hewan ternak tinggi dan permintaan konsumsi daging ternak terus

meningkat alhasil limbah yang dihasilkan oleh hewan ternak pula semakin tinggi dan

pemanasan global di dunia semakin meningkat menjadi sumber masalah dalam kehidupan

manusia sebagai penyebab menurunnya mutu lingkungan melalui pencemaran lingkungan,

menggangu kesehatan manusia dan juga sebagai salah satu penyumbang emisi gas efek

rumah kaca.

Untuk mengatasi hal tersebut tentu ada teknologi pengelolaan limbah yang menjadi

salah satu teknologi untuk mengurangi pemanasan global. Dan salah satu limbah yang

dihasilkan dari aktifitas kehidupan manusia adalah limbah dari usaha peternakan sapi yang
terdiri dari feses, urin, gas dan sisa makanan ternak.

Oleh karena itu pemanfaatan limbah terus dikembangkan dan diterapkan seperti

pembuatan pupuk organik padat, pupuk organik cair, biogas, vermikomposting , sehingga

limbah yang dihasilkan industri peternakan memiliki nilai ekonomis dan dapat

meningkatkan kesejahteraan masyarakat khususnya peternak


2

1.1.2 Identifikasi Masalah

1.2.1 Dekomposisi Awal

(1) Bagaimana proses dekomposisi awal?

( 2) Bagaimana perubahan suhu pada tahap awal sampai hari ketujuh?

(3) Apa saja indikator keberhasilan pada proses dekomposisi awal ?

1.2.2 Pupuk Organik Cair

(1) Apa yang dimaksud pupuk organik cair ?

(2) Apa saja manfaat pupuk organik cair?

1.2.3 Pembuatan biogas

(1) Apa itu biogas ?

(2) Bagaimana proses tahapan pembuatan biogas ?

(3) Apa saja kegunaan dari pembuatan biogas?

1.2.4 Vermicomposting

(1) Apa pengertian dari vermicomposting?

(2) Bagaimana proses tahapan pembuatan vermicomposting?

(3) apa saja kriteria cacing tanah pada proses vermicomposting ?

1.3 Maksud dan Tujuan


1.3.1 Dekomposisi Awal

(1) Dapat mengetahui proses dekomposisi awal

(2) Dapat mengetahui pada tahap awal sampai hari ketujuh

(3) Dapat mengetahui indikator keberhasilan proses dekomposisi awal

1.3.2 Pupuk Organik Cair

(1) Dapat mengetahui Pupuk Organik Cair

(2) Dapat mengetahui manfaat dari Pupuk Organik Cair

1.3.3 Pembuatan biogas

(1) Dapat mengetahui tentang Biogas

(2) Dapat mengetahui tahapan pembuatan Biogas


(3) Dapat mengetahui kegunaan dari pembuatan Biogas

1.3.4 Vermicomposting

(1) Dapat mengetahui pengertian dari vermicomposting


3

(2) Dapat mengetahui proses tahapan pembuatan vermicomposting

(3) Dapat mengetahui kriteria cacing tanah dalam proses vermicomposting

1.4 Waktu dan Tempat

Hari : Senin, 02 September – 22 November

Waktu : Pukul 07.30 – 09.30

Tempat : Laboratorium Mikrobiologi dan Penanganan Limbah

Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran

1.5 Manfaat

Mengetahui bagaimana pengelolaan limbah secara terpadu menggunakan feses sapi

perah dan jerami padi serta dapat mensosialisasikanya terhadap peternak akan

manfaat dari pembuatan pupuk organik cair, biogas dan proses vermicomposting.
II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Dekomposisi Awal

2.1.1 Proses Dekomposis Awal

Dekomposisi awal (fermentasi) didefinisikan sebagai suatu proses dekomposisi/

degradasi/ perombakan/penguraian bahan organik senyawa kompleks (protein,

lemak,karbohidrat dan selulosa) menjadi bahan organik senyawa sederhana (asam amino,

asam lemak, gula sederhana) oleh mikroorganisme (bakteri, ragi dan jamur) sebagai agen

perombaknya.

Dekomposisi awal dapat dilakukan dengan cara aerobik atau anaerobik.Pada sistem

aerobik, untuk keperluan respirasi mikroorganisme yang terlibat (bakteri dan atau kapang)

menggunakan oksigen bebas, sedangkan pada sistem anaerobik respirasi

mikroorganismenya (bakteri dan atau ragi) menggunakan oksigen yang terikat, misal

nitrit/nitrat (NO2/NO3), sulfit/sulfat (SO3/SO4) dan CO2.

Di bidang pertanian, sistem anaerobik biasanya dilakukan untuk membuat pakan

ternak dalam bentuk silase (silage) dan proses pembuatan biogas, walaupun beberapa

produk pakan menggunakan sistem aerobik. Untuk membuat pupuk organik, fermentasi ini

harus diteruskan agar bahan organik senyawa sederhana terus terurai sampai kondisinya
stabil sehingga membentuk unsur hara sebagai nutrisi bagi tanaman. Proses ini dikenal

sebagai proses pengomposan.

Baik pada proses dekomposisi awal maupun pengomposan, hal yang perlu

diperhatikan adalah bagaimana agar mikroorganisme yang aktif dapat tumbuh dan

berkembang dengan baik (persyaratan). Persyaratan tersebut adalah : Komposisi bahan

organik sebagai sumber nutrisi mikroba, Keberadaan mikroba, Kadar air bahan organik

Oksigen dan Pengendalian

Pada proses dekomposisi awal Nisbah C dan N mutlak harus sesuai kebutuhan,

karena apabila kurang atau berlebih, keduanya menjadi penyebab terhambatnya proses,

bahkan bisa gagal.Keberadaan mikroorganisme dalam dekomposan mutlak, oleh karena


itu dengan memahami karakteristik bahan organik bisa ditentukan apakah mikro

organisme perlu ditambahkan atau tidak.


5

Pada dekomposisi aerobik, oksigen harus tercukupi agar produk yang dikehendaki

dapat dihasilkan dengan sempurna. Bila kekurangan oksigen maka proses akan berubah

menjadi anaerob, sehingga respirasi mikroorganisme yang terlibat mengalami gangguan.

Pengendalian disini dilakukan dengan maksud agar kondisi lingkungan (suhu,

kelembaban dan pH ) tidak mengalami gangguan selama proses berlangsung, seperti

gangguan hewan,cuaca atau gangguan bentuk lain.

2.1.2 Perubahan pada proses dekomposisi awal

Secara teknis, transformasi bahan organik tidak-stabil menjadi bahan organik stabil

(kompos matang) ditandai oleh pembentukan panas dan produksi CO2. Selama proses

pengomposan, komposisi populasi mikroba berubah dari tahap mesofilik (suhu 20-40oC)

ke tahap termofilik (suhu bisa mencapai 80◦C), dan terakhir tahap stabilisasi atau

pendinginan. Mikroba mesofilik memulai dekomposisi substrat mudah hancur seperti

protein, gula, dan pati yang selanjutnya digantikan oleh mikroba termofilik yang secara

cepat merombak substrat organik.Pada tahap akhir stabilisasi, jumlah populasi mikroba

meningkat. Panas yang timbul selama fase termofilik mampu membunuh mikroba patogen

(>55oC) dan benih gulma (>62◦C menurut Husen dan Irawan 2008 , sehingga kompos

matang sering dipakai sebagai media pembibitan tanam. Penggunaan kompos matang

mampu menstimulasi perkembangan mikroba dan menghindari bibit dari serangan patogen
tular tanah (Husen dan Irawan.2008).

Kompos mengalami tiga tahap proses pengomposan yaitu Pada tahap pertama yaitu

tahap penghangatan (tahap mesofilik), mikroorganisme hadir dalam bahan kompos secara

cepat dan temperatur meningkat. Mikroorganisme mesofilik hidup pada temperatur 10-

45oC dan bertugas memperkecil ukuran partikel bahan organik sehingga luas permukaan

bahan bertambah dan mempercepat proses pengomposan. Pada tahap kedua yaitu tahap

termofilik, mikroorganisme termofilik hadir dalam tumpukan bahan kompos.

Mikroorganisme termofilik hidup pada tempratur 45-60 ◦C dan bertugas

mengkonsumsi karbohidrat dan protein sehingga bahan kompos dapat terdegradasi dengan

cepat.Mikroorganisme ini berupa Actinomycetes dan jamur termofilik.Sebagian dari


Actinomycetes mampu merombak selulosa dan hemiselulosa. Kemudian proses

dekomposisi mulai melambat dan temperatur puncak dicapai. Setelah temperatur puncak

terlewati, tumpukan mencapai kestabilan, dimana bahan lebih mudah


6

terdekomposisikan.Tahap ketiga yaitu tahap pendinginan dan pematangan.Pada tahap ini,

jumlah mikroorganisme termofilik berkurang karena bahan makanan bagi mikroorganisme

ini juga berkurang, hal ini mengakibatkan organisme mesofilik mulai beraktivitas kembali.

Organisme mesofilik tersebut akan merombak selulosa dan hemiselulosa yang tersisa dari

proses sebelumnya menjadi gula yang lebih sederhana, tetapi kemampuanya tidak sebaik

organism termofilik. Bahan yang telah didekomposisi menurun jumlahnya dan panas yang

dilepaskan relatif kecil (Djuarnani dkk.,2005).

2.2 Pupuk Organik Cair

2.2.1 Pupuk Organik

Pupuk organik merupakan pupuk yang bahan bakunya berasal dari makhluk hidup

baik berupa tumbuhan maupun hewan. Biasanya yang dijadikan bahan baku adalah limbah

tumbuhan seperti daun kering, jerami, maupun tumbuhan lain dan limbah peternakan

seperti kotoran sapi, kotoran kerbau dan kotoran ternak lainnya. Kualitas pupuk organik

sangat bervariasi, tergantung pada jenis ternak yang menghasilkan kotoran, umur ternak,

jenis pakan yang dikonsumsi, campuran bahan selain feses, proses pembuatan, serta teknik

penyimpanannya. Samekto (2008) dan Yuliarti (2009), mengemukakan bahwa pupuk

organik merupakan hasil akhir dari peruraian bagian – bagian atau sisa sisa tanaman dan
binatang (makhluk hidup) misalnya pupuk kandang, pupuk hijau, kompos, bungkil, guano,

tepung tulang dan lain sebagainya.

Penduduk Indonesia sudah mengenal pupuk organik sebelum diterapkannya

revolusi hijau di Indonesia. Setelah revolusi hijau, kebanyakan petani lebih suka

menggunakan pupuk buatan karena praktis menggunakannya, jumlahnya jauh lebih sedikit

dari pupuk organik, harganyapun relatif murah, dan mudah diperoleh. Kebanyakan petani

sudah sangat tergantung pada pupuk buatan, sehingga dapat berdampak negatif terhadap

perkembangan produksi pertanian. Tumbuhnya kesadaran para petani akan dampak negatif

penggunaan pupuk buatan dan sarana pertanian modern lainnya terhadap lingkungan telah

membuat mereka beralih dari pertanian konvensional ke pertanian organik (Sutanto,


2002).
7

2.2.2 Pupuk Organik Cair

Pupuk organik cair adalah jenis pupuk berbentuk cair tidak padat mudah sekali larut

pada tanah dan membawa unsur-unsur penting untuk pertumbuhan tanaman. Pupuk

organik cair mempunyai banyak kelebihan diantaranya, pupuk tersebut mengandung zat

tertentu seperti mikroorganisme jarang terdapat dalam pupuk organik padat dalam bentuk

kering

Pupuk organik cair adalah pupuk yang berbemtuk cairan, dibuat dengan cara

melarutkan kotoran ternak, dan jenis kacang – kacangan dan rumput jenis tertentu ke

dalama air. Pupuk cair mengandung unsur – unsur hara yang dibutuhkan untuk

pertumbuhan, perkembangan kesehatan tanaman.

Unsur-unsur hara itu terdiri dari: Unsur Nitrogen (N), untuk pertumbuhan tunas, batang

dan daun. Unsur Fosfor (P), untuk merangsang pertumbuhan akar buah, danbiji. Unsur

Kalium (K), untuk meningkatkan ketahanan tanaman terhadap serangan hama

danpenyakit. Pupuk cair ini memiliki keistimewaan yaitu pupuk ini dibanding dengan

pupuk alam yang lain (pupuk kandang, pupuk hijau dan kompos) lebih cepat diserap

tanaman.

Pupuk organik cair umumnya tidak merusak tanah dan tanaman walaupun digunakan

sesering mungkin. Selain itu, pupuk organik cair juga memiliki bahan pengikat sehingga
larutan pupuk yang diberikan kepermukaan tanah bisa langsung digunakan oleh tanaman

(Hadisuwito. 2007 ).

Menurut Purwowidodo (1992) bahwa pupuk organik cair mengandung unsur kalium

yang berperan penting dalam setiap proses metabolisme tanaman, yaitu dalam sintesis

asam amino dan protein dari ion-ion ammonium serta berperan dalam memelihara tekanan

turgor dengan baik sehingga memungkinkan lancarnya proses-proses metabolisme dan

menjamin kesinambungan pemanjangan sel.

2.2.3 Manfaat penggunaan pupuk organik cair

Pupuk organik cair selain dapat memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah,
juga membantu meningkatkan produksi tanaman, meningkatkan kualitas produk tanaman,

mengurangi penggunaan pupuk anorganik dan sebagai alternatif pengganti pupuk kandang

( Parman . 2007).
8

Pengomposan cair pada dasarnya sama dengan pengomposan padat, yaitu dekomposisi

bahan organik senyawa kompleks dan atau senyawa sederhana menjadi unsur hara

tanaman oleh mikroorganisme dan atau hewan tingkat rendah secara terkendali. Bahan

baku yang digunakan berupa filtrat yang diperoleh dengan cara ekstraksi produk dari

proses dekomposisi awal (dekomposan awal) dilanjutkan dengan filtrasi.

Proses dekomposisi pada pengomposan cair cenderung terjadi secara anaerob.

Dekomposisi secara anaerob biasanya berlangsung lama. Oleh karena itu untuk

mempercepat perlu pengendalian, yaitu memasukkan oksigen dari luar, yang dinamakan

aerasi. Dengan aerasi proses berlangsung dengan lebih cepat, selain itu bahan organik

yang mudah menguap dibebaskan

Pupuk cair mampu menyediakan nitrogen dan unsur mineral lainnya yang dibutuhkan

untuk pertumbuhan tanaman, seperti halnya pupuk nitrogen kimia. Kehidupan organisme

di dalam tanah juga terpacu dengan penggunaan pupuk cair. Pupuk cair lebih mudah

terserap oleh tanaman karena senyawa kompleks di dalamnya sudah terurai dan dalam

bentuk cair sehingga mudah terserap oleh tanaman, baik melalui akar maupun daun.

Pupuk organik cair mempunyai beberapa manfaat diantaranya adalah (Nur Fitri, Erlina

Ambarwati, dan Nasih Widya, 2007)

(1) Dapat mendorong dan meningkatkan pembentukan klorofil daun dan pembentukan
bintil akar pada tanaman leguminosae sehingga meningkatkan kemampuan

fotosintesis tanaman dan penyerapan nitrogen dari udara.

(2) Dapat meningkatkan vigor tanaman sehingga tanaman menjadi kokoh dan kuat,

meningkatkan daya tahan tanaman terhadap kekeringan, cekaman cuaca dan serangan

patogen penyebab penyakit.

3) Merangsang pertumbuhan cabang produksi.

4) Meningkatkan pembentukan bunga dan bakal buah, serta

5) mengurangi gugurnya daun, bunga dan bakal buah.

Pemberian pupuk organik cair harus memperhatikan konsentrasi atau dosis yang

diaplikasikan terhadap tanaman. Berdasarkan beberapa hasil penelitian menunjukkan


bahwapemberian pupuk organik cair melalui daun memberikan pertumbuhan dan hasil

tanamanyang lebih baik daripada pemberian melalui tanah. Semakin tinggi dosis pupuk

yang diberikan maka kandungan unsur hara yang diterima oleh tanaman akan semakin
9

tinggi,begitu pula dengan semakin seringnya frekuensi aplikasi pupuk daun yang

dilakukan padatanaman, maka kandungan unsur hara juga semakin tinggi. Namun,

pemberian dengan dosis yang berlebihan justru akan mengakibatkan timbulnya gejala

kelayuan pada tanaman Oleh karena itu, pemilihan dosis yang tepat perlu diketahui oleh

para peneliti maupun petani dan hal ini dapat diperoleh melalui pengujian-pengujian di

lapangan (Abdul Rahmi Dan Jumiati,2007).

Tabel 1. Bahan pembuatan pupuk organik cair dan peruntukkannya

Bahan Kandungan unsur terbesar Peruntukan

Daun gamal, lamtoro, Nitrogen Memupuk tanaman selama

jenis kacang-kacangan dan pembibitan dan sayuran

kotoran sapi/ ayam/babi daun

Daun kacang panjang, Fosfor Dan Memupuk sayuran, bunga,

rumput gajah, benggala Kalium buah dan umbi (kembang

dan kotoran kelelawar kol, tomat, cabe, kentang)

Air Melarutkan unsur hara

Tanda-tanda yang bisa dikenali pupuk organik cair adalah bila dilihat suspensi berubah

menjadi larutan (keruh menjadi bening), warna hitam pekat tetapi bening, bila dicium

sudah tidak berbau, bila dirasakan terasa netral , Uji menggunakan kadang-kadang

akurasi- nya rendah karena kepekaan orang berbeda

Untuk mengetahui secara pasti apakah bahan organik sudah menjadi unsur hara

harus dilakukan analisis di laboratorium. Namun demikian, ada cara yang ebih praktis

yang dapat dilakukan, yaitu dengan mengguna-kan indera kita, yaitu dengan melihat, men

cium, dan merasakan.

2.3 Pembuatan Biogas


Menurut Setiawan (2008), menyatakan bahwa biogas merupakan gas yang

ditimbulkan jika bahan – bahan organik, seperti kotoran hewan, kotoran manusia, atau

sampah, direndam di dalam air dan disimpan di dalam tempat tertutup atau anaerob.
10

Sedangkan menurut Simamora, S et al. (2006), menyatakan bahwa proses terjadinya

biogas adalah fermentasi anaerob bahan organik yang dilakukan oleh mikroorganisme

sehingga menghasilkan gas yang mudah terbakar (flammable). Secara kimia, reaksi yang

terjadi pada pembuatan biogas cukup panjang dan rumit, meliputi tahap hidrolisis, tahap

pengasaman, dan tahap metanogenik.

Biogas adalah gas-gas yang dihasilkan dari proses penguraian bahan organik oleh

mikro-organisme, khususnya bakteri pada kondisi anaerob. Proses pembentukan biogas

dapat terjadi di alam bebas (alamiah) tanpa ikut campur tekno-logi manusia atau

sebaliknya terjadi melalui upaya pengendalian teknologi manusia.

Pembentukan biogas yang dikendalikan manusia diperluka alat yang membuat kondisi

anaerob yang dinamakan digester

Pada dasarnya kotoran hewan yang ditumpuk atau dikumpulkan begitu saja dalam

beberapa waktu tertentu dengan sendirinya akan membentuk gas metan. Namun karejna

tidak ditampung, gas iitu akan hilang menguap ke udara. Karena itu, untuk menampung

gas yang terbentuk dari kotoran sapi dapat dibuat beberapa model konstruksi alat

penghasil biogas (Simamora, S et al, 2006).

Syarat Pembuatan Biogas

Menurut Simamora, S et.al (2006), menyatakan bahwa dalam pembuatan biogas ada
beberapa syarat yang harus dipenuhi yakni;

1. Ada bahan pengisi yang berupa bahan organik, terutamqa limbah pertanian dan

peternakan.

2. Ada intalasi biogas yang memenuhi beberapa persyaratan seperti, lubang pemasukan

dan pengeluaran, tempat penampungan gas, dan penampungan sludge (sisa

Pembuangan).

3 Terpenuhinya faktor pendukung yakni faktor dalam (dari digester) yang meliputi

imbangan C/n, pH, dan struktur bahan isian (kehomogenan) dan faktor luar yang

meliputi fluktuasi suhu.

2.3.1 Tahapan Pembentukan Biogas


2.3.1.1 Tahap I Hidrolisis

Pada tahap ini bahan organik utama seperti karbohidrat, lemak, dan protein dalam

limbah ternak terlarut dalam air sehingga enzim-enzim yang dihasilkan bakteri dapat
11

memecahnya menjadi senyawa-senyawa sederhana, seperti Monosakarida, Peptida,

Gliserol Bakteri yang berperan Clostridium acteinum, Bacteriodes ruminicola,

Bifidobacterium sp, Eschericia sp, Enterobacter sp, dan Desulfobio sp.

2.3.1.2 Tahap 2 Acidogenesis-Asetogenesis

Pada tahap ini senyawa-senyawa sederhana Monosakarida, Peptida, Gliserol

dipecah menjadi asam-asam organik dilanjutkan menjadi asam asetat, H2 dan CO2.

Bakteri yang berperan . Lactobacillus sp, Streptococcus sp.

2.3.1.3 Tahap 3 Metanogenesis

Bakteri methanogenik menggunakan H2, CO2, dan asetat untuk pertumbuhannya,

serta memproduksi CH4 dan CO2. Urea yang berasal dari protein dihidrolisa oleh bakteri

menjadi gas metana (CH4) dan NH4+. Asam asetat serta asam propionat dari lemak

difermentasi menjadi CH4 dan CO2 CO2 yang dihasilkan direduksi menjadi CH4 dan

H2O.

Bakteri yang berperan pada tahap ini adalah Methanobacterium melianskii,

Methanococcus sp, dan Methanosarcina sp 70% gas metana dihasilkan dari asam asetat,

15% dari H2 dan CO2, 15% lagi dari reduksi metanol.

2.3 .2 Faktor yang Mempengaruhi Produksi Biogas

Menurut Simamora, S. et al (2006), menyatakan bahwa banyak faktor yang

mepengaruhi keberhasilan produksi bigas. Faktor pendukung untuk mempercepat proses

fermentasi adalah kondisi lingkungan yang optimal bagi pertumbuhan bakteri perombak.

Ada beberpa faktor yang berpengaruh terhadap produksi biogas yakni sebagai berikut:

1. Kondisi Anaerob / Kedap Udara

Biogas dihasilkan dari proses fermentasi bahan organik oleh mikroorganisme

anaerob. Instalasi pengolahan biogas harus kedap udara.

2. Bahan Baku Isian


Bahan baku isian berupa bahan organik seperti kotoran ternak, limbah pertanian,

sisa dapaur, dan sampah organik yang terhindar dari bahan anorganik. Bahan isian
12

harus mengandung 7 – 9 % bahan kering dengan pengenceran 1 : 1 (bahan baku :

air).

3. Imbangan C/N

Imbangan C/N yang terkandung dalam bahan organik sangat menentukan

kehidupan dan aktivitas mikroorganisme dengan imbangan C/N optimum 25 – 30

untuk mikroorganisme perombak.

4. Derajat Keasaman (pH)

Derajat keasaman sangat berpengaruh terhadap kehidupan mikroorganisme.

Derajat keasaman yang optimum bagi kehidupan mikroorganisme adalah 6,8 – 7,8.

5. Temperatur

Produksi biogas akan menurun secara cepat akibat perubahan temperatur yang

mendadak di dalam instalasi pengolahan biogas. Untuk menstabilkan temperatur

kita dapat membuat instalasi biogas di dalam tanah.

6. Starter

Starter diperlukan untuk mempercepat proses perombakan bahan organik hingga

menjadi biogas. Starter merupakan mikroorganisme perombak yang telah dijual

komersil dapat juga digunakan lumpur aktif organik atau cairan rumen.

2.3.3 Manfaat Biogas


Manfaat energi biogas adalah sebagai pengganti bahan bakar khususnya minyak

tanah dan dipergunakan untuk memasak kemudian sebagai bahan pengganti bahan bakar

minyak (bensin, solar). Dalam skala besar, biogas dapat digunakan sebagai pembangkit

energi listrik. Di samping itu, dari proses produksi biogas akan dihasilkan sisa kotoran

ternak yang dapat langsung dipergunakan sebagai pupuk organik pada tanaman / budidaya

pertanian. Potensi pengembangan Biogas di Indonesia masih cukup besar.

Hal tersebut mengingat cukup banyaknya populasi sapi, kerbau dan kuda, yaitu 11

juta ekor sapi, 3 juta ekor kerbau dan 500 ribu ekor kuda pada tahun 2005. Setiap 1 ekor

ternak sapi/kerbau dapat dihasilkan + 2 m3 biogas per hari. Potensi ekonomis Biogas

adalah sangat besar, hal tersebut mengingat bahwa 1 m3 biogas dapat digunakan setara
dengan 0,62 liter minyak tanah. Di samping itu pupuk organik yang dihasilkan dari proses

produksi biogas sudah tentu mempunyai nilai ekonomis yang tidak kecil pula.
13

2.4 Vermicomposting

2.4.1 Pengertian Vermicomposting

Vermicomposting didefinisikan sebagai suatu proses penguraian bahan organik

kompleks/ sederhana menjadi unsur hara oleh mikroorganisme dan hewan tingkat rendah

terutama cacing tanah sebagai agen pengurainya, yang saling berinteraksi satu dengan

yang lain secara terkendali menghasilkan bahan menye-rupai humus yang kondisinya

stabil dan dikenal sebagai vermicompost.

Selain istilah vermicomposting ada juga istilah vermiculture ( budi daya cacing

tanah). Pembeda nya adalah tujuan utam proses, tujuan utama vermicomposting adalah

vermicompost-nya, sedangkan vermiculture adalah produksi cacing tanah Walaupun

tujuan vermicomposting dan vermiculture berbeda, kunci dasar keberhasilan

vermicomposting adalah penguasaan teknik budidaya cacing tanah.

Vermikompos merupakan pupuk organik dari perombakan bahan-bahan organik

dengan bantuan mikroorganisme dan cacing. Vermikompos mengandung berbagai unsur

hara dan kaya akan zat pengatur tumbuh yang mendukung pertumbuhan tanaman.

Vermikompos mengandung zat pengatur tumbuh seperti giberellin, sitokinin dan auxin,

serta unsur hara N, P, K, Mg dan Ca dan Azotobacter sp yang merupakan bakteri

penambat N nonsimbiotik yang akan memperkaya unsur N yang dibutuhkan oleh tanaman.
Vermikompos juga mengandung berbagai unsur hara mikro yang dibutuhkan tanaman

seperti Fe, Mn, Cu, Zn, Bo dan Mo .

Vermikompos berasal dari kotoran cacing tanah seperti Lumbricus rubellus,

Lumbricus castaneus, Eisenia foetida, Dendrobaena veneta, Allobopora rosea dan lain

sebagainya. Cacing akan memakan habis seluruh kotoran dan sampah organik lainnya

yang tersedia (Khairuman dan Amri, 2009).

Menurut penelitian cacing Lumbricus rubellus mampu meningkatkan kadar unsur

hara pada kotoran sapi jauh melebihi hasil penguraian dengan bakteri. Sebagai contoh

hasil uji lab menunjukkan kadar N sebesar 1,79 % jauh dibandingkan kompos yang hanya

0,09 %. Vermikompos juga mempunyai kelebihan lain yaitu kandungan hormon dan
antibiotik. Kedua kandungan ini berasal dari tubuh cacing. Hormon dalam vermikompos

sangat baik untuk pertumbuhan tanaman sedangkan antibiotik berfungsi membunuh jamur

dan bakteri penyebab penyakit .


14

Vermikompos tampak seperti tanah kering yang telah digiling dan secara nyata

meningkatkan kesuburan tanah. Menurut penelitian komposisi hara vermikompos yang

berasal dari sampah organik adalah 1,60% N-total; 14,97% C-organik; 0,02% P-total;

2,46% Ca; 0,59 Mg; 4,49% karbohidrat; 0,08% lemak; 24,86% protein. Persentase unsur

hara ini bergantung dari media dan jenis pakan yang diberikan kepada cacing. Selain

mengandung unsur hara tersebut, kascing juga mengandung zat pengatur tumbuh seperti

giberelin, sitokinin, auksin masing-masing sebanyak 2,75; 1,05; 3,80 miliequivalen tiap

gram bobot kering. Selain itu ditemukan sejumlah mikroba yang bersifat menguntungkan

bagi tanaman (Nurmawati dan Suhardianto, 2000).

2.4.2 Pembuatan Vermicomposting

Dalam pembuatan kascing, cacing tanah memegang peranan penting yaitu sebagai

dekomposer. Cacing tanah memiliki enzim seperti protease, Lipase, amilase, selulose dan

kitin yang memberikan perubahan kimia secara cepat terhadap meterial selulosa dan

protein dari sampah organik. Aktivitas cacing tanah menunjukkan peningkatan

dekomposisisi dan penghancuran sampah secara alami (60% - 80%). Hal ini sangat

berpengaruh mempercepat waktu pengomposan hingga beberapa minggu .

Vermikomposting menghasilkan 2 manfaat utama yaitu biomassa cacing tanah dan


vermikompos (Sharma dkk., 2005). Vermikompos memiliki struktur halus, partikel-

partikel humus yang stabil, porositas, kemampuan menahan air dan aerasi, kaya nutrisi,

hormon, enzim dan populasi mikroorganisme . Vermikompos yang dihasilkan berwarna

coklat gelap, tidak berbau dan mudah terserap air (Ismail . 1997).

2.4.3 Cacing Tanah

Pemeliharaan cacing tanah dimaksudkan untuk mengatasi masalah gangguan, baik

biologis, fisis, kimiawi ataupun teknis. Secara umum, pemeliharaan ditujukan pada

perawatan bangunan, wadah, media, pakan dan serangan hama. Pemeliharaan bangunan

difokuskan apakah masih berfungsi dengan baik. Apabila terjadi kebocoran atap harus
segera ditanggulangi, jangan sampai percikan airnya jatuh pada media pemeliharaan.
15

Saat panen vermicompost yang paling tepat harus memperhatikan siklus hidup

cacing tanah. Panen vermicompost yang paling tepat adalah dari pemeliharaan cacing

tanah umur satu bulan. Cara panen vermicompost bisa dilakukan dengan cara migrasi,

yaitu cacing tanah pindah ke media baru. Untuk kondisi tertentu panen vermicompos

dilakukan dengan cara memisahkannya dengan cacing tanah.

Cacing tanah peka cahaya dan peka perabaan, oleh karena itu cara panennya adalah

mengambil media yang menutupi badannya sampai media habis dan tinggal tersisa cacing

tanah, Cacing tanah selalu mengeluarkan kotorannya bila badannya terbuka dan medianya

habis. Bila cadangan feses habis cacing tanah mengeluarkan lendir untuk menutupi

badannya, keadaan ini menun-jukkan cacing tanah sudah bersih dari media yang

menempel.
III

ALAT BAHAN DAN PROSEDUR KERJA

3.1 Alat dan Bahan

3.1.1 Dekomposisi Awal

(1) Feses sapi perah

(2) Jerami Padi

(3) Karung plastik

(4) Tongkat bambu

(5) Karton tebal

(6) Alat tulis

3.1.2 Pupuk Organik Cair

(1) Substrat dekomposan

(2) Air panas

(3) Timbangan

(4) Kotak plastik


(5) Saringan bertingkat

(6) Alat tulis

3.1.3 Pembuatan Biogas

(1) Digester ( Tong plastik volume 30 L dilengkapi dengan kran gas )

(2) Penampung gas ( Ban karet )

(3) Selang plastik

(4) Klem

(5) Substrat dekomposan

(6) Air
17

(7) Kompor

(8) Alat tulis

3.1.4 Vermicomposting

(1) Substrat padat ( residu ) hasil esktrasi POC

(2) Cacing tanah Lumbricus rubellus

(3) Karton tebal

(4) Kotak plastik 30 x 40 x 14

(5) Alat tulis

3.2 Prosedur kerja

3.2.1 Dekomposisi Awal

(1) Perbandingan bahan dengan perhitungan nisbah C/N ( 30 ) .

(2) Bila kurang dari 55% hitung jumlah air yang harus ditambahkan

(3) Timbang masing-masing bahan sesuai dengan hasil perhitungan di atas.

Masukan ke dalam bak plastik .


(4) Campurkan kedua bahan ( Feses sapi perah dan jerami ) sampai homogen /

merata

(5) Tambahkan air jika kadar air kurang < 55%

(6) Susun ke dalam karung plastik yang telah disiapkan ( karung sudah diisi

dengan bawahnya potongan jerami kering ). Fungsi jerami kering untuk

menyerap kelebihan air pada bahan campuran.

(7) Padatkan dengan menggunakan tongkat bambu

(8) Pompa oksigen ke dalam susunan bahan campuran dengan tongkat bambu

yang sama selapis demi selapis sampai karung terisi penuh.


18

(9) Setelah penuh, lapiasan atas dilapisi kembali dengan jerami kering. Fungsi

jerami kering adalah untuk menyerap bau yang timbul pada proses

dekomposisi awal

( 10 ) Tutup dengan karton tebal selebar diameter karung, untuk mencegah

penguapan dan menahan panas tidak keluar dari tumpukan bagian atas

( 11 ) Untuk menjaga kelembaban, selimuti bagian samping karung dengan kain

yang sudah dibasahi sampe lembab

( 12 ) Setiap hari dilakukan pemeriksaan suhu sampai hari ke 7.

( 13 ) Bersamaan dengan pemeriksaan suhu, lakukan juga pemeriksaan

kelembaban dengan cara memeriksa kain penutup karung. Jika kain

penutup terlihat kering celupkan dalam air sampai kain lembab kembali.

( 14 ) Setelah hari ke 7, lakukan pembongkaran hasil dekomposisi dan amati

kondisi yang terjadi ( fisik, warna dan bau )

( 15 ) Persiapan untuk bahan baku POP dan POC.

3.2.2 Pupuk Organik Cair


(1) Timbang substrat yang sudah kering kemudian ekstrak dengan cara

merendam dengan air panas sampai seluruh substrat terendam air, diamkan

selama kurang lebih 1 – 2 jam sampai rendaman mencapai suhu 30 -35 ◦ C

(2) Saring dengan saringan bertingkat sehingga yang diperoleh sebanyak 4

liter filtrat yang kental atau hiitam pekat dan 4 liter untuk filtrat yang

encer setiap 1 kg substrat kering. Empat liter filtrat pekat dipersiapkan

untuk POC dan 4 liter filtrat encer dipersiapkan untuk pakan imbuhan,

sisihkan residu untuk pembuatan POP dan bahan baku biogas.

(3) Inkubasi filtrat pekat dalam wadah plastik / tong plastik. Lakukan aerasi

setiap hari selama 15 menit. Lakukan aerasi setiap hari sampai larutan
19

tidak berbau dan tidak mengendap apabila disimpan dalam waktu relatif

lama.

3.2.3 Pembuatan Biogas

3.2.3.1 Pemasangan Instalasi Biogas

(1) Siapkan instalasi biogas yang terdiri dari digester dan penampung gas .

(2) Rangkai instalasi biogas yang terdiri dari digester ( tong plastik dengan

volume 30 L ) yang dilengkapi dengan kran gas dibagian penutupnya.

(3) Kemudian penampung gas terbuat dari ban karet bagian dalam yang telah

dilepaskan pentilnya.

(4 ) Untuk menghubungkan kran dari digester ke lubang angin pada ban

menggunakan selang plastik dengan diameter sama dengan lubang kran

dan lubang angin pada ban.

3.2.3.2 Memasukan substrat ke dalam digester

(1) Tentukan kadar air substrat ( KA = 75%)

(2) Analisis kandungan air substrat biogas


(3) Hitung penambahan air pada substrat sampai mencapai kadar air substrat

75%

(4) Timbang substrat dan air yang harus ditambahkan sesaui dengan

perhitungan

(5) Tambahkan air dalam substrat dan campur hingga rata

(6) Masukan campuran substrat tersebut ke dalam digester sampai mencapai

volume ¾ dari volume tong

(7) Sisipkan sealer yang terbuat dari karet pada antara t ong dan penutupnya

(8) Kunci tong dan penutup dengan menggunakan klem


20

(9) Inkubasi selama 1 bulan, setiap 1 minggu sekali diperiksa perkembangan

proses pembentukan biogas

( 10 ) Setelah 1 bulan, untuk mengetahui kualitas biogas yang dihasilkan, l

akukan uji nyala api.

3.2.4 Vermicomposting

(1) Substrat padat atau residu hasil ekstrasi POC diangin-angin selama 1

minggu. Fungsinya untuk membebaskan substrat dari senyawa-senyawa

yang dapat mengganggu proses vermicomposting, seperti gas yang dapat

mengganggu pertumbuhan cacing tanah.

(2) Substrat yang sudah dikondisikan berfungsi sebagai media sekaligus pakan

bagi cacing tanah

(3) Timbang substrat 10kg, masukan pada wadah plastik yang sudah

disediakan

(4) Masukan cacing tanah sebanyak 250 g ke dalam media. Tutup dengan

karton tebal yang telah dilubangi, sampai menutupi permukaan tengah


wadah. Tempatkan wadaha yang sudah berisi cacing tanah di tempat yang

terlinduingi cahaya matahari langsung.

(5) Setelah 1 minggu cacing tanah di panen. Timbang dan catat produksi

biomassa cacing tanah dan kascing.


IV

HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pengamatan

4.1.1 Dekomposisi awal ( Hari Pertama )

Berat Feses = 10kg

Berat Jerami = 20kg

Alas Jerami = Bawah 1kg , Atas 1kg

Tinggi : 40 cm

Suhu awal : 29.5 ◦C

4.1.2 Dekomposisi Awal (Suhu)

Tabel 1. Perubahan suhu hari 1 sampai hari ke 7

Hari Atas (◦C ) Tengah ( ◦C ) Bawah (◦C)

Selasa 29.5 29.5 29.5

Rabu 52 55 49

Kamis 53 56 51

Jumat 52 55 60

Sabtu 40 44 45

Minggu 39 41 39

Senin 33 33 32

Selasa 34 36 36
22

4.1.3 Pengamatan hari ke tujuh

Fisik : Tekstur remah, tidak bau, warna coklat tua kehitaman, aga

lembab

Kimia : Tidak mengandung nitrit, sulfit, phosfit karena tidak bau

menyengat

Biologi : Terdapat pertumbuhan jamur Jumlah yang diambil untuk

praktikum selanjutnya yaitu 10 kg dan sisanya 8kg

4.1.2 Hasil Pengamatan Pupuk Organik Cair

Hasil :

1. Warna : Coklat kehitaman tapi tidak transparan

2. Gelembung : Tidak ada

3. Terdapat lapisan atas pada permukaan

4. Masih terdapat aktivitas mikroba

4.1.3 Hasil Pengamatan pembuatan biogas

Hasil : Tidak ada gas pada ban sehingga pembuatan biogas pada

praktikum mengalami kegagalan.

4.1.1 Hasil Pengamatan Vermicomposting

Berat awal cacing : 250 gram

Berat akhir cacing : 310 gram

Hasil : a. Cacing menjadi lebih besar dari sebelumnya

b. Aktivitas gerak baik ( Ketika dibuka cacing langsung

menghilang karena peka terhadap cahaya )

c. Terdapat clitelium pada sebagian cacing


23

4.2 Pembahasan

4.2.1 Dekomposisi Awal

Pada praktikum ini mengenai dekomposisi awal menyiapkan bahan yaitu

jerami dan feses sapi perah yang perbadinganya 2 : 1 ( Jerami : Feses sapi perah )

lalu pada prosesnya jerami dan feses sapi perah di homogen kan sehingga jerami

dan feses bersatu , lalu proses selanjutnya yaitu memasukan hasil jerami dan feses

sapi perah tersebut kedalam karung plastik yang sebelumnya setelah di beri alas

terlebih dahulu yaitu dengan menggunakan jerami karena jerami berfungsi untuk

menyerap kadar air yang berlebihan pada proses memasukan jerami ke dalam

karung dilakukan pemadatan dan diusahakan tidak ada ruang udara yang kosong

sehingga akan menghambat proses fermentasi atau dekomposisi awal.

Proses homogenisasi dilakukan secara manual menggunakan tangan yang

dilapisi agar benar-benar sempurna dan tangan tidak terkontaminasi

mikroorganisme yang berasal dari feses maupun jerami. Proses inilah awal yang

sangat menentukan keberhasilan pengelolaan limbah secara terpadu ini karena jika

bahan tidak homogen akan menghambat kerja mikroorganisme perombak.


Sebelum bahan yang homogen dimasukkan ke karung, karung tersebut dijahit

menggunakan tali rapia agar menghindari bagian lancip pada kedua sisi karung

yang dapat mempengaruhi proses dekomposisi awal

Karena menurut teori dekomposisi awal (fermentasi) didefinisikan sebagai

suatu proses dekomposisi/ degradasi/ perombakan/penguraian bahan organik

senyawa kompleks (protein, lemak,karbohidrat dan selulosa) menjadi bahan

organik senyawa sederhana (asam amino, asam lemak, gula sederhana) oleh

mikroorganisme (bakteri, ragi dan jamur) sebagai agen perombaknya.


24

Pada hari pertama setelah melakukan proses dekomposisi awal dilihat

suhu awal dan suhu pada hari pertama yaitu 29.5◦C lalu pada hari kedua dan

ketiga meningkat sampai 50◦C dan hari selanjutnya mengalami penurunan

sehingga pada hari ketujuh dilakukan pengamatan didapatkan hasil suhu 35◦C.

Pada hasil pengamatan hari ketujuh sifat fisik Tekstur remah, tidak bau, warna

coklat tua kehitaman, aga lembab, sifat kimia tidak mengandung nitrit, sulfit,

phosfit karena tidak bau menyengat, sifat biologi nya terdapat pertumbuhan jamur

Lalu jumlah yang diambil untuk praktikum selanjutnya yaitu 10 kg dan sisanya

8kg. dekomposan tersebut sudah seperti tanah yang menandakan dekomposan ini

matang sempurna. Hal tersebut dibuktikan menurut praktikum pembuatan kompos

dinyatakan berhasil bila berbau khas fermentasi, kering, dingin, dan ditumbuhi

jamur putih. Apabila berbau busuk maka pengomposan yang dilakukan gagal.

Menurut ( Husen dan Irawan.2008 ) pada proses ini komposisi populasi

mikroba berubah dari tahap mesofilik (suhu 20 - 40◦C) ke tahap termofilik (suhu

bisa mencapai 80◦C), dan terakhir tahap stabilisasi atau pendinginan. Mikroba

mesofilik memulai dekomposisi substrat mudah hancur seperti protein, gula, dan
pati yang selanjutnya digantikan oleh mikroba termofilik yang secara cepat

merombak substrat organik.Pada tahap akhir stabilisasi, jumlah populasi mikroba

meningkat. Panas yang timbul selama fase termofilik mampu membunuh mikroba

patogen (>55oC) dan benih gulma (>62◦C) jadi bisa dikatakan bahwa

dekomposisi awal melalui tahap mesofilik lalu ke tahap termofilik dan pada

tahapan termofilik adanya mikroorganisme yang aktif. Hal yang perlu

diperhatikan adalah bagaimana agar mikroorganisme yang aktif dapat tumbuh

dan berkembang dengan baik (persyaratan). Persyaratan tersebut adalah


25

Komposisi bahan organik sebagai sumber nutrisi mikroba, Keberadaan mikroba,

Kadar air bahan organik, Oksigen dan Pengendalian.

4.2.2 Pupuk organik cair

Pada praktikum pembuatan pupuk organik cair ini diambil substrat yang

dihasilkan pada proses dekomposisi awal lalu siapkan air hangat lalu lakukan

penyaringan sehingga didapatkan pupuk organik cair. Menurut Pupuk organik cair

adalah jenis pupuk berbentuk cair tidak padat mudah sekali larut pada tanah dan

membawa unsur-unsur penting untuk pertumbuhan tanaman.

Menurut purwowidodo (1992) pupuk organik cair mengandung unsur

kalium yang berperan penting dalam setiap proses metabolisme tanaman, yaitu

dalam sintesis asam amino dan protein dari ion-ion ammonium serta berperan

dalam memelihara tekanan turgor dengan baik sehingga memungkinkan lancarnya

proses-proses metabolisme dan menjamin kesinambungan pemanjangan sel.

Pada hasil pengamatan didapat bahwa warna coklat kehitaman tapi tidak

transparan ,gelembung tidak ada, terdapat lapisan atas pada permukaan,masih


terdapat aktivitas mikroba . Pupuk cair mampu menyediakan nitrogen dan unsur

mineral lainnya yang dibutuhkan untuk pertumbuhan tanaman, seperti halnya

pupuk nitrogen kimia. Kehidupan organisme di dalam tanah juga terpacu dengan

penggunaan pupuk cair. Pupuk cair lebih mudah terserap oleh tanaman karena

senyawa kompleks di dalamnya sudah terurai dan dalam bentuk cair sehingga

mudah terserap oleh tanaman, baik melalui akar maupun daun.

Penggunaan pupuk organik mampu menjadi solusi dalam mengurangi

aplikasi pupuk anorganik yang berlebihan dikarenakan adanya bahan organik

yang mampu memperbaiki sifat fisika, kimia, dan biologi tanah. Perbaikan

terhadap sifat fisik yaitu menggemburkan tanah, memperbaiki aerasi dan drainase,
26

meningkatkan ikatan antar partikel, meningkatkan kapasitas menahan air,

mencegah erosi dan longsor, dan merevitalisasi daya olah tanah

4.2.3 Pembuatan Biogas

Pada praktikum pembuatan biogas diawali dengan persiapkan substrat lalu

persiapkan instalasi biogas lalu pembuatan bioga. Bangunan utama dari instalasi

biogas adalah digester. Digester berfungsi untuk menampung gas metan hasil

perombakan bahan bahan organik oleh bakteri. Digester sebenarnya meniru alat

pencernaan dari ruminansia, untuk merubah gas metan. Digester yang kami

gunakan adalah berupa drum, dengan sealer dan klem. Memakai tutup kompresor,

sokrat dalam, selang, klem selang, dan kran.

Dalam digester juga dapat ditambahkan water trap untuk menangkap air

pada saat proses ini terjadi. Selang-selang ini dihubungkan dengan ban dalam dan

kompor. Supaya kompor menyala, makan gas metan harus lebih besar dari

karbondioksidanya. Yang dijadikan untuk bahan pembuatan biogas adalah filtrat

yaitu bahan padat hasil dari ekstraksi .


Pada dasarnya kotoran hewan yang ditumpuk atau dikumpulkan begitu

saja dalam beberapa waktu tertentu dengan sendirinya akan membentuk gas

metan. Namun karejna tidak ditampung, gas itu akan hilang menguap ke udara.

Karena itu, untuk menampung gas yang terbentuk dari kotoran sapi dapat dibuat

beberapa model konstruksi alat penghasil biogas

Faktor yang mepengaruhi keberhasilan produksi bigas. Faktor pendukung

untuk mempercepat proses fermentasi adalah kondisi lingkungan yang optimal

bagi pertumbuhan bakteri perombak. Ada beberpa faktor yang berpengaruh

terhadap produksi biogas yakni sebagai berikut:


27

1. Kondisi anaerob atau kedap udara

Biogas dihasilkan dari proses fermentasi bahan organik oleh mikroorganisme

anaerob. Instalasi pengolahan biogas harus kedap udara.

2.Bahan baku isian

Bahan baku isian berupa bahan organik seperti kotoran ternak, limbah pertanian,

sisa dapaur, dan sampah organik yang terhindar dari bahan anorganik. Bahan isian

harus mengandung 7 – 9 % bahan kering dengan pengenceran 1 : 1 (bahan baku :

air).

3.Imbangan C/N

Imbangan C/N yang terkandung dalam bahan organik sangat menentukan

kehidupan dan aktivitas mikroorganisme dengan imbangan C/N optimum 25 – 30

untuk mikroorganisme perombak.

4.Derajat keasaman (pH)

Derajat keasaman sangat berpengaruh terhadap kehidupan mikroorganisme.

Derajat keasaman yang optimum bagi kehidupan mikroorganisme adalah 6,8 –

7,8.
5.Temperatur

Produksi bigas akan menurun secara cepat akibat perubahan temperatur yang

mendadak di dalam instalasi pengolahan biogas. Untuk menstabilkan temperatur

kita dapat membuat instalasi biogas di dalam tanah.

6.Starter

Starter diperlukan untuk mempercepat proses perombakan bahan organik hingga

menjadi biogas. Starter merupakan mikroorganisme perombak yang telah

dijual komersil dapat juga digunakan lumpur aktif organik atau cairan rumen.

Pada praktikum yang dilakukan pembuatan biogas mengalami kegagalan

faktor kegagalan pada percobaan kelompok kami karena faktor kebocoran selang
28

sehingga gas yang tercipta tidak terbuat sehingga gas keluar dan ban tidak

mengembang karena instalasi biogas nya tida kedap udara.

4.2.4 Proses Vermicomposting

Vermikompos adalah kompos yang diperoleh dari hasil perombakan

bahan-bahan organik yang dilakukan oleh cacing tanah. Vemikompos merupakan

campuran kotoran cacing tanah (casting) dengan sisa media atau pakan dalam

budidaya cacing tanah. Oleh karena itu vermikompos merupakan pupuk organik

yang ramah lingkungan dan memiliki keunggulan tersendiri dibandingkan dengan

kompos lain yang kita kenal selama ini. Vermikomposting juga disebut proses

dekomposisi bahan organik yang melibatkan kerjasama antara cacing tanah dan

mikroorganisme. Komponen utama dalam vermikomposting terdiri atas:

kesesuaian substrat, faktor lingkungan, jenis cacing tanah, desain composter dan

pengoperasian. Kualitas vermikompos dari limbah organik yang dihasilkan

tergantung dari bahan organik awalnya.


Cacing tanah yang digunakan dalam proses vermikomposting, juga

sebaiknya yang memenuhi syarat seperti memiliki laju reproduksi yang tinggi,

tingkat produksi kokon yang tinggi, waktu perkembangan kokon pendek dan

keberhasilan penetasan kokon yang tinggi. selain itu, cacing tanah yang memiliki

tingkat konsumsi bahan organik yang tinggi dan toleransi terhadap perubahan

lingkungan yang luas dapat digunakan di dalam proses vermikomposting.

Vermikomposting menghasilkan 2 manfaat utama yaitu biomassa cacing

tanah dan vermikompos (Sharma dkk., 2005). Vermikompos memiliki struktur


29

halus, partikel-partikel humus yang stabil, porositas, kemampuan menahan air

dan aerasi, kaya nutrisi, hormon, enzim dan populasi mikroorganisme (Lavelle

dkk.

1999). Vermikompos yang dihasilkan berwarna coklat gelap, tidak berbau dan

mudah terserap air (Ismail 1997).

Pada praktikum hasil pengamatanya cacing tanah lebih besar daripada

sebelumnya, aktivitas gerak baik dan ada clitellium pada cacing. Menurut teori

bahwa dalam proses vermicomposting cacing tanah produksi kokon yang tinggi ,

laju reproduksi yang tinggi dan penetasan kokon yang tinggi.Berat cacing awal

sebelum dimasukan ke media berat nya 250 gram setelah panen cacing berat naik

menjadi 310 gram.

Pada proses vermikomposting ini, tidak hanya warna cacing yang berubah,

namun kematangan vermikompos juga dapat terlihat. Selama proses konsumsi

berlangsung, terjadi perubahan warna menjadi coklat kehitaman. Kematangan

kompos dapat diindikasikan dengan semakin menurunnya rasio karbon dan

nitrogen. Rasio C/N rendah menunjukkan substrat yang mudah didekomposisi.


Kematangan vermikompos dikatakan tercapai apabila warnanya telah menjadi

coklat kehitaman. Perubahan warna berhubungan dengan perubahan bentuk media

yang lebih halus dan lebih remah.

Kriteria dari cacing tanah sendiri cacing tanah peka cahaya dan peka

perabaan, oleh karena itu cara panennya adalah mengambil media yang menutupi

badannya sampai media habis dan tinggal tersisa cacing tanah, Cacing tanah

selalu mengeluarkan kotorannya bila badannya terbuka dan medianya habis. Bila

cadangan feses habis cacing tanah mengeluarkan lendir untuk menutupi badannya,

keadaan ini menun-jukkan cacing tanah sudah bersih dari media yang menempel.
V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

(1) Dekomposisi awal adalah Dekomposisi awal (fermentasi) didefinisikan

sebagai suatu proses dekomposisi/ degradasi/ perombakan/penguraian

bahan organik senyawa kompleks menjadi bahan organik sederhana

(2) Dekomposisi awal mengalami perubahan pada suhu hari pertama sampai

hari ketujuh

(3) Sifat fisik tekstur remah, tidak bau, warna coklat tua kehitaman, aga

lembab, sifat kimia tidak mengandung nitrit, sulfit, phosfit karena tidak

bau menyengat, sifat biologi nya terdapat pertumbuhan jamur

(4) Pupuk organik cair mengandung unsur kalium yang berperan penting

dalam setiap proses metabolisme tanaman

(5) Pupuk organik mampu menjadi solusi dalam mengurangi aplikasi pupuk

anorganik yang berlebihan dikarenakan adanya bahan organik yang

mampu memperbaiki sifat fisika, kimia, dan biologi tanah


(6) proses terjadinya biogas adalah fermentasi anaerob bahan organik yang

dilakukan oleh mikroorganisme sehingga menghasilkan gas yang mudah

terbakar (flammable).

(7) Ada 3 tahapan dalam pembuatan biogas , tahapan hidrolisis, tahapan

asidogenesis dan metanogenesis.

(8) Manfaat energi biogas adalah sebagai pengganti bahan bakar khususnya

minyak tanah dan dipergunakan untuk memasak kemudian sebagai bahan

pengganti bahan bakar minyak (bensin, solar).


(9) Vermicomposting didefinisikan sebagai suatu proses penguraian bahan

organik kompleks/ sederhana menjadi unsur hara oleh mikroorganisme

dan hewan tingkat rendah terutama cacing tanah sebagai agen pengurainya

( 10 ) Vermikomposting menghasilkan 2 manfaat utama yaitu biomassa cacing

tanah dan vermikompos

( 11 ) cacing tanah sendiri cacing tanah peka cahaya dan peka perabaan

5.2 Saran

Dalam praktikum pengolahan feses sapi perah dan jerami terpadu ini

dalam pelaksanaanya sudah dilaksanakan cukup baik sehingga dapat

melaksanakan praktikum dan tidak ada hambatan, namun pada praktikum masih

kurang kondusif karena sebagian praktikan secara teknis pelaksanaanya belum

bisa kerjasama dengan baik dalam pelaksanaanya , sehingga suasana kelas tidak

kondusif.

Oleh karena itu diharapkan setelah melaksanakan praktikum ini

mahasiswa dapat mengaplikasikanya kepada masyarakat atau peternak akan

teknologi pengelolaan limbah ini agar mendapatkan nilai jual dan peternak dapat
mengambil keuntungan.
DAFTAR PUSTAKA

Djuamani, N., Kristian dan S.S Budi. 2005. Cara Cepat Membuat Kompos. Agro
Media Pustaka. Jakarta
Hadisuwito, S. 2007. Membuat Pupuk Kompos cair. PT. Agromedia Pustaka.
Jakarta.
Husen, E. dan Irawan. 2008. Efektivitas dan Efisiensi Mikroba Dekomposer
Komersial dan Lokal dalam Pembuatan Kompos
Jerami.litbang pertanian
Khairuman dan K. Amri. 2009. Mengeruk Untung dari Beternak
Cacing. Agromedia Pustaka. Jakarta.
Nurmawati, S. dan A. Suhardianto. 2000. Studi Perbandingan Penggunaan
Pupuk Kotoran Sapi dengan Pupuk Kascing Terhadap Produksi
Tanaman Selada. Universitas Terbuka. Fakultas
Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam/ Biologi.
Parman, S. 2007. Pengaruh Pemberian Pupuk Organik Cair terhadap
Pertumbuhan dan Produksi Kentang (Solanum tuberosum L.). Anatomi dan
Fisiologi Vol 15 (2) Hal : 1-4
Poewowidodo, 1992. Telaah Kesuburan Tanah. Penerbit Angkasa. Bandung
Samekto, Riyo. 2008. Pemupukan .PT. Aji Cipta Pratama.Yogyakarta
Setiawan, A.I. 2008. Memanfatkan Kotoran Ternak. Penebar Swadaya. Jakarta
Sharma S, Pradhan K, Satya S, Vasudevan P. 2005. Potentiality of eartworms for
waste management and in other uses. J Am Sci

Simamora, S. et al. 2006. Membuat Biogas Pengganti Bahan Bakar Minyak Dan
Gas Dari Kotoran Ternak. AgroMedia Pustaka. Jakarta
Sutanto, Rachman. 2002. Penerapan Pertanian Organik, Pemasyarakatan dan
Pengembangannya. Kanisius. Yogyakarta
Yuliarti, Nugraheti. 2009. 1001 Cara Menghasilkan Pupuk Organik. Lily
Publisher.Yogyakarta
LAMPIRAN

Dekomposisi awal

Pupuk Organik Cair

Pembuatan Biogas
Vermicomposting