Anda di halaman 1dari 40

BAB I

PENDAHULUAN

Undang-Undang No. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan menyatakan


bahwa kesehatan merupakan hak asasi manusia serta salah satu unsur
kesejahteraan yang harus diwujudkan sesuai dengan cita-cita Bangsa Indonesia
sebagaimana dimaksud dalam Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara
Republik Indonesia Tahun 1945.Hal tersebut sejalan dengan prinsip dasar
Deklarasi Alma Ata yaitu kesehatan merupakan salah satu hak dasar manusia.
Setiap upaya peningkatan derajat kesehatan masyarakat merupakan
investasi bagi pembangunan negara, sehingga seluruh upaya pembangunan
semestinya dilandasi dengan wawasan kesehatan. Dengan kata lain, pembangunan
nasional harus memperhatikan kesehatan masyarakat dan hal tersebut merupakan
tanggung jawab semua pihak, baik pemerintah, tenaga medis, maupun masyarakat
(Depkes RI, 2009).
Pelayanan kesehatan merupakan salah satu bentuk pelayanan yang paling
banyak dibutuhkan oleh masyarakat.Salah satu sarana pelayanan kesehatan yang
berperan penting adalah rumah sakit.Rumah sakit juga merupakan bagian penting
dalam sistem kesehatan.Idealnya rumah sakit berperan sebagai penyedia
pelayanan kuratif komplek, pelayanan gawat darurat, pusat alih pengetahuan dan
teknologi, serta berfungsi sebagai pusat rujukan.
Untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat serta meningkatkan
kepuasan pengguna jasa, rumah sakit harus senantiasa meningkatkan mutu
pelayanan. Dalam Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2009 Tentang Rumah Sakit,
Pasal 29 huruf b menyebutkan bahwa rumah sakit wajib memberikan pelayanan
kesehatan yang aman, bermutu, anti diskriminasi dan efektif dengan
mengutamakan kepentingan pasien sesuai dengan standar pelayanan rumah sakit.
Pengelolaan rumah sakit pada masa lalu dipandang sebagai usaha sosial,
tetapi di masa sekarang pengelolaan yang berbasis ekonomi dan manajemen
sangat penting artinya untuk menghadapi bebagai situasi persaingan global,
mengantisipasi cepatnya perubahan lingkungan, dan menjaga kelangsungan usaha
1
rumah sakit itu sendiri. Menanggapi hal diatas, diperlukan suatu manajemen
rumah sakit yang integratif dan berkualitas (Alkatiri, et.al.1997).
Manajemen rumah sakit adalah koordinasi antara berbagai sumber daya
(unsur manajemen) melalui proses perencanaan, pengorganisasian, kemampuan
pengendalian untuk mencapai tujuan rumah sakit. Banyak hal yang harus
diperhatikan dalam manajemen rumah sakit agar pelaksanaan program dan sistem
yang ada di rumah sakit dapat berjalan dengan baik (Sabarguna, 2009).
Dalam pelaksanaan kepaniteraan klinik IKM (Ilmu Kesehatan
Masyarakat), dokter muda dituntut untuk menguasai manajemen dan administrasi
rumah sakit sehingga nantinya dapat mudah beradaptasi di ruang lingkup rumah
sakit baik secara fungsional maupun struktural, dan dapat meningkatkan mutu
pelayanan, serta memecahkan masalah yang dihadapi rumah sakit.
Berdasarkan uraian diatas, maka perlu diketahui bagaimana manajemen
dan administrasi di Rumah Sakit Umum Daerah Surakarta.Kegiatan ini
diharapkan dapat menjadi bekal calon dokter agar siap terjun ke masyarakat untuk
mengabdikan ilmu kesehatan masyarakat sebaik-baiknya serta memberikan
pelayanan kesehatan yang bemutu kepada masyarakat.

2
BAB II
KEGIATAN YANG DILAKUKAN

Kepaniteraan Klinik Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas


Sebelas Maret dilaksanakan di RSUD Kota Surakarta selama 3 hari mulai hari
Kamis tanggal 5 November 2015 hingga Sabtu tanggal 7 November 2015
1. Kamis, 5 November 2015
Ini adalah hari pertama kami berada di RSUD Kota Surakarta. Pada hari
itu kami menemui pembimbing kami, dr Niken, dalam rangka orientasi dan
koordinasi kegiatan selama berada di RSUD Kota Surakarta. Kurang lebih
pukul 09.00 kami bertemu dr Niken dan diberi penjelasan awal. Kemudian
kami melakukan orientasi dan dibagi menjadi 4 kelompok dan secara
bergiliran masuk ke bagian administrasi, poli, rekam medis, dan IGD. Kami
melihat langsung bagaimana proses masuknya pasien mulai dari awal
pendaftaran, mendapatkan nomor rekam medis, hingga bagaimana tata
laksana pasien selanjutnya, baik dirujuk balik ke fasilitas kesehatan yang
lebih bawah, atau dikelola penangannya oleh dokter spesialis di RSUD Kota
Surakarta, atau dirujuk menuju fasilitas kesehatan yang lebih tinggi. Kurang
lebih pukul 13.30 kami pulang.
2. Jumat, 6 November 2015
Hari kedua kami berada di RSUD Kota Surakarta ada materi dari Bu
Dewi dan Pak Yudi. Bu Dewi menjelaskan tentang rekam medis. Melalui
peraturan Menteri Kesehatan tentang rekam medis, sudah cukup menjelaskan
apa saja isi dari rekam medis pasien, bagaimana mengelola rekam medis
pasien, siapa yang bertanggung jawab atas isi dan berkas dari rekam medis.
Dan materi yang diberikan Pak Yudi tentang pengendalian infeksi yang
terjadi di rumah sakit. Beliau menjelaskan penting untuk mengendalikan
infeksi di rumah sakit agar kejadian infeksi di rumah sakit tidak bertambah
dan tidak merugikan, baik pasien maupun rumah sakit. Lalu, materi berakhir
pukul 11.00.

3
3. Sabtu, 7 November 2015
Hari terakhir kami berada di RS kami dijadwalkan untuk mendapat
bimbingan dari Bu Rohmah, bu Etik dan dr Sigit. Bimbingan diawali oleh bu
Rohmah tentang perencanaan, pengelolaan, monitoring dan evaluasi dari
asuransi kesehatan. Kami melakukan kegiatan berbentuk diskusi karena
banyak kasus, baik sengketa ataupun pembiayaan terjadi dan tidak ada jalan
keluar yang jelas dari peraturan yang berlaku. Bu Rohmah yang sehari –
harinya berada di bagian administrasi rujukan kali ini memimpin diskusi
bersama kami. Ada beberapa topik yang muncul seperti bagaimana jika ada
kasus partus normal namun dilakukan di RS tipe A yang notabene menjadi
RS rujukan terakhir, serta apa yang seharusnya RS lakukan terhadap kasus
molornya pelunasan biaya perawatan. Ada beberapa kasus seperti bagaimana
status pembiayaan kesehatan pada gelandangan. Diskusi berlangsung lancar
dan menarik dilihat dari keterlibatan teman – teman di dalamnya. Dilanjutkan
materi dari bu Etik tentang K3RS (Kesehatan dan Keselamatan Kerja di RS)
yakni mengenai tujuan, prinsip – prinsip, realisasi dan hambatannya di
RSUD. Banyak sekali kejadian yang berkaitan dengan K3RS dan juga
bagaimana cara menanggulangi kejadian yang berkaitan K3RS ini. Kemudian
dilanjutkan dengan materi dari dr Sigit berisikan tentang materi mengenai
manajemen di RSUD meliputi manajemen organisasi, sumber daya dan
pelayanan. Juga terdapat materi tentang manajemen bencana yang ada di Kota
Surakarta. Setelah selesai, kami bertemu dr Niken untuk berpamitan dan
diberikan pengarahan tentang tugas – tugas yang diserahkan kepada RSUD
Kota Surakarta.

4
BAB III
TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian Rumah Sakit


Rumah sakit adalah suatu organisasi tenaga medis profesional yang
terorganisir, serta sarana kedokteran yang menyelenggarakan pelayanan
kedokteran, asuhan keperawatan yang berkesinambungan, diagnosis, serta
pengobatan penyakit yang diderita oleh pasien (American Hospital
Association; 1974 dalam Azwar, 1996).
Wolper dan Pena (dalam Azwar, 1996) menyatakan bahwa rumah sakit
adalah tempat dimana orang sakit mencari dan menerima pelayanan
kedokteran, serta tempat diselenggarakannya pendidikan klinik untuk
mahasiswa kedokteran, perawat dan berbagai tenaga profesi kesehatan.Adapun
Association of Hospital Care (dalam Azwar, 1996) menjelaskan bahwa rumah
sakit adalah suatu pusat dimana pelayanan kesehatan masyarakat, pendidikan
dan penelitian kedokteran diselenggarakan.
Menurut WHO (World Health Organization), rumah sakit merupakan
bagian integral suatu organisasi sosial dan kesehatan dengan fungsi
menyediakan pelayanan paripurna (komprehensif), penyembuhan penyakit
(kuratif) dan pencegahan penyakit (preventif) kepada masyarakat. Rumah sakit
juga merupakan pusat pelatihan bagi tenaga kesehatan dan pusat penelitian
medik.
Pada UU No. 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit, disebutkan bahwa
rumah sakit adalah institusi pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan
pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna yang menyediakan
pelayanan rawat inap, rawat jalan, dan gawat darurat.
Menurut Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.
1204/Menkes/SK/X/2004 tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Rumah
Sakit, dinyatakan bahwa rumah sakit merupakan sarana pelayanan kesehatan,
tempat berkumpulnya orang sakit maupun orang sehat, atau dapat menjadi
tempat penularan penyakit serta memungkinkan terjadinya pencemaran
5
lingkungan dan gangguan kesehatan.Adapun menurut Peraturan Menteri
Kesehatan Republik Indonesia No. 340/MENKES/PER/III/2010 rumah sakit
adalahinstitusi pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan
kesehatan perorangan secara paripurna yang menyediakan pelayanan rawat
inap, rawat jalan dan gawat darurat.

B. Klasifikasi Rumah Sakit


Rumah sakit dapat dibedakan berdasarkan pendiri, jenis pelayanannya, dan
pengelolaannya.
1. Berdasarkan pendirinya, dibedakan menjadi Rumah Sakit yang
didirikan oleh Pemerintah, Pemerintah Daerah, atau swasta.
a. Rumah Sakit yang didirikan oleh Pemerintah dan Pemerintah
Daerah berbentuk Unit Pelaksana Teknis dari Instansi yang
bertugas di bidang kesehatan, Instansi tertentu, atau Lembaga
Teknis Daerah dengan pengelolaan Badan Layanan Umum atau
Badan Layanan Umum Daerah sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.
b. Sedangkan Rumah Sakit yang didirikan oleh swasta berbentuk
badan hukum yang kegiatan usahanya hanya bergerak di bidang
perumahsakitan.
2. Berdasarkan jenis pelayanannya, Rumah Sakit dibedakan menjadi
Rumah Sakit Umum dan Rumah Sakit Khusus.
a. Rumah Sakit Umum memberikan pelayanan kesehatan pada semua
bidang dan jenis penyakit. Berdasarkan Keputusan Menteri
Kesehatan Republik Indonesia No. 340/MENKES/Per/III/2010
rumah sakit umum diklasifikasikan menjadi:
1) Rumah Sakit umum kelas A
Rumah Sakit Umum Kelas A adalah rumah sakit umum
yang mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medik
paling sedikit 4 (empat) spesialis dasar, 5 (lima) spesialis
penunjang medik, 12 (dua belas) spesialis lain dan 13 (tiga
6
belas) subspesialis.Kriteria, fasilitas dan kemampuan Rumah
Sakit Umum Kelas A meliputi :
a) Pelayanan Medik Umum terdiri dari Pelayanan Medik
Dasar, pelayanan Medik Gigi Mulut, dan Pelayanan
kesehatan Ibu dan Anak/ Keluarga Berencana
b) Pelayanan Gawat Darurat harus dapat memberikan
pelayanan gawat darurat 24 (dua puluh empat) jam dan 7
(Tujuh) hari seminggu dengan kemapuan melakukan
resusitasi dan stabilisasi sesuai dengan standar.
c) Pelayanan Medik Spesialis Dasar terdiri dari Pelayanan
Penyakit Dalam, Kesehatan Anak, Bedah, Obsteri dan
Ginekologi.
d) Pelayanan Spesialis Penunjang Medik terdiri dari
Pelayanan Anestesiologi, Radiologi, Rehabilitasi Medik,
Patologi Klinik, dan Patologi Anatomi.
e) Pelayanan Medik Spesialis lain sekurang kurangnya terdiri
dari Pelayanan Mata, Telinga Hidung Tenggorokan,
Syaraf, Jantung, Pembuluh Darah, Kulit dan Kelamin,
Kedokteran Jiwa, Paru, Orthopedi, Urologi, Bedah Syaraf,
Bedah Plastik dan Kedokteran Forensik.
f) Pelayaan Medik Spesialis Gigi Mulut terdiri dari
Pelayanan Bedah Mulut, Konservasi,/Endodonsi,
Periodonti, Orthodonti, Prosthodonti, Pedodonsi, dan
Penyakit Mulut
g) Pelayanan Keperawatan dan Kebidanan terdiri dari
Pelayanan Asuhan Keperawatan dan Asuhan Kebidanan.
h) Pelayanan Medik Subspesialis terdiri dari Subspesialis
Bedah, Penyakit Dalam, Kesehatan Anak, Obsteri dan
Ginekologi, Mata, Telinga Hidung Tenggorokan,Syaraf,
Jantung dan Pembuluh Darah, Kulit dan Kelamin, Jiwa,
Paru, Orthopedi dan Gigi Mulut.
7
i) Pelayanan Penunjang Klinik terdiri dari Perawatan
Intensif, Pelayanan Darah, Gizi, Farmasi, Sterilisasi
Instrumen dan Rekam Medik.
j) Pelayanan Penunjang Non Klinik terdiri dari Pelayanan
Laundry/Linen, Jasa Boga/Dapur, Teknik dan
Pemeliharaan Fasilitas, Pengelolaan Limbah, Gudang,
Ambulance, Komunikasi, Pemulasaraan Jenazah,
Pemadam Kebakaran, Pengelolaan Gas Medik dan
Penampungan Air Bersih
Ketersediaan tenaga kesehatan disesuaikan dengan jenis
tingkat pelayanan, dibawwah ini akan dijelaskan mengenai
tenaga kesehatan di tipa jenis dan ingkat pelayanan pada
Rumah Sakit Umum tipe A :
a) Pada Pelayanan Medik Dasar minimala harus ada 18
orang dokter umum dan 4 orang dokter gigi sebagai tenaga
tetap.
b) Pada Pelayanan Medik Spesialis Dasar harus ada masing-
masing minimal 6 orang dokter spesialis dengan masing-
masing 2 orang dokter spesialis sebagai tenaga tetap
c) Pada Pelayanan Spesialis Penunjang Medik harus ada
masing-masing minmal 3 orang dokter spesialis dengan
masing-masing 1 orang dokter spesialis sebagai tenaga
tetap
d) Pada Pelayanan Medik Spesialis Lain harus ada masing-
masing minimal 3 orang dokter spesialis dengan masing-
masing 1 orang dokter spesialis sebagai tenaga tetap
e) Untuk Pelayanan Medik Spesialis Gigi dan Mulut harus
ada masing-masing minmal 1 orang dokter gigi spesialis
sebagai tenaga tetap
f) Pada Pelayanan Medik Subspesialis harus ada masing-
masing minimal 2 orang dokter subspesialis dengan
8
masing-masing 1 orang dokter subspesialis sebagai tenaga
tetap
g) Perbandingan tenaga keperawatan dan tempat tidur adalah
1:1 dengan kualifikasi tenaga keperawatan sesuai dengan
pelayanan Rumah Sakit
h) Tenaga penunjang berdasarkan kebutuhan Rumah Sakit
Sarana Prasaranan dan peralatan yang ada di Rumah Sakit
Umum kelas A harus memenuhi standar yang telah ditetapkan
oleh Menteri. Peralatan radiologi dan kedokteran nuklir di
Rumah Sakit Umum Kelas A harus memenuhi standar yang
telah ditetapkan oleh undang-undang.
`Jumlah tempat tidur di Rumah Sakit Umum tipe A
minimal terdapat 400 buat tempat tidur. Sedangkan dari segi
administrasi dan manajemen di Rumah Sakit Umum kelas A
terdiri dari struktur organisasi dan tata laksana. Struktur
organisasi di Rumah sakit Umum Kelas A paling sedikit terdiri
atas kepala rumah sakit atau direktur Rumah Sakit, unsur
pelayanan medik, unsur keperawatan, unsur penungjang medis,
komite medis, satuan pemeriksaan internal, serta administrasi
umum dan keuangan. Sedangkan yang dimaksud dengan tata
laksana meliputi tata laksana organisasi, standar pelayanan,
stanndar operasinal prosedur(SPO), sistem Informasi
Mananjemen Rumah Sakit (SIMRS), hospital by laws dan
Medical Staff by laws.
2) Rumah Sakit umum kelas B
Rumah Sakit Umum Kelas B adalah rumah sakit umum
yang mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medik
paling sedikit 4 (empat) spesialis dasar, 4 (empat) spesialis
penunjang medik, 8 (delapan) spesialis lain dan 2 (dua)
subspesialis dasar. Kriteria, fasilitas dan Kemampuan Rumah
Sakit Kelas B meliputi :
9
a) Pelayanan Medik Umum terdiri dari Pelayanan Pelayanan
Medik Dasar, pelayanan Medik Gigi Mulut, dan
Pelayanan kesehatan Ibu dan Anak/ Keluarga Berencana
b) Pelayanan Gawat Darurat harus dapat memberikan
pelayanan gawat darurat 24 (dua puluh empat) jam dan 7
(Tujuh) hari seminggu dengan kemapuan melakukan
resusitasi dan stabilisasi sesuai dengan standar.
c) Pelayanan Medik Spesialis Dasar terdiri dari Pelayanan
Penyakit Dalam, Kesehatan Anak, Bedah, Obsteri dan
Ginekologi.
d) Pelayanan Spesialis Penunjang Medik terdiri dari
Pelayanan Anestesiologi, Radiologi, Rehabilitasi Medik,
Patologi Klinik.
e) Pelayanan Medik Spesialis lain sekurang kurangnya 8
(delapan) dari 13 (tiga belas) pelayanan meliputi Mata,
Telinga Hidung Tenggorokan, Syaraf, Jantung, Pembuluh
Darah, Kulit dan Kelamin, Kedokteran Jiwa, Paru,
Orthopedi, Urologi, Bedah Syaraf, Bedah Plastik dan
Kedokteran Forensik.
f) Pelayaan Medik Spesialis Gigi Mulut terdiri dari
Pelayanan Bedah Mulut, Konservasi,/Endodonsi,
Periodonti
g) Pelayanan Keperawatan dan Kebidanan terdiri dari
Pelayanan Asuhan Keperawatan dan Asuhan Kebidanan.
h) Pelayanan Penunjang Klinik terdiri dari Perawatan
Intensif, Pelayanan Darah, Gizi, Farmasi, Sterilisasi
Instrumen dan Rekam Medik.
i) Pelayanan Penunjang Non Klinik terdiri dari Pelayanan
Laundry/Linen, Jasa Boga/Dapur, Teknik dan
Pemeliharaan Fasilitas, Pengelolaan Limbah, Gudang,
Ambulance, Komunikasi, Pemulasaraan Jenazah,
10
Pemadam Kebakaran, Pengelolaan Gas Medik dan
Penampungan Air Bersih.
Ketersediaan tenaga kesehatan disesuaikan dengan
jenis tingkat pelayanan, dibawah ini akan dijelaskan mengenai
tenaga kesehatan di jenis dan tingkat pelayanan pada Rumah
Sakit Umum Kelas B :
a) Pada Pelayanan Medik Dasar minimal harus ada 12 orang
dokter umum dan 3 orang dokter gigi sebagai tenaga tetap.
b) Pada Pelayanan Medik Spesialis Dasar harus ada masing-
masing minimal 3 orang dokter spesialis dengan masing-
masing 1 orang dokter spesialis sebagai tenaga tetap
c) Pada Pelayanan Spesialis Penunjang Medik harus ada
masing-masing minimal 2 orang dokter spesialis dengan
masing-masing 1 orang dokter spesialis sebagai tenaga
tetap
d) Pada Pelayanan Medik Spesialis Lain harus ada masing-
masing minimal 1 orang dokter spesialis setiap pelayan
dengan 4 orang dokter spesialis sebagai tenaga tetap pada
pelayanan yang berbeda
e) Untuk Pelayanan Medik Spesialis Gigi dan Mulut harus
ada masing-masing minmal 1 orang dokter gigi spesialis
sebagai tenaga tetap
f) Pada Pelayanan Medik Subspesialis harus ada masing-
masing minimal 1 orang dokter subspesialis dengan
masing-masing 1 orang dokter subspesialis sebagai tenaga
tetap
g) Perbandingan tenaga keperawatan dan tempat tidur adalah
1:1 dengan kualifikasi tenaga keperawatan sesuai dengan
pelayanan Rumah Sakit
h) Tenaga penunjang berdasarkan kebutuhan Rumah Sakit

11
Sarana Prasaranan an peralatan yang ada di Rumah Sakit
Umum kelas B harus memenuhi standar yang telah ditetapkan
oleh Menteri. Peralatan yang dimiliki oleh Rumah sakit kelas
B harus memenuhi standar yang telah di tetapkan oleh
Menteri.Peralatan radiologi dan kedokteran nuklir di Rumah
Sakit Umum Kelas B harus memenuhi standar yang telah
ditetapkan oleh undang-undang.
Jumlah tempat tidur di Rumah Sakit Umum kelas B
minimal terdapat 200 buat tempat tidur. Sedangkan dari segi
administrasi dan manajemen di Rumah Sakit Umum kelas A
terdiri dari struktur organisasi dan tata laksana. Struktur
organisasi di Rumah sakit Umum Kelas A paling sedikit terdiri
atas Kepala Rumah Sakit atau Direktur Rumah Sakit, unsur
pelayanan medik, unsur keperawatan, unsur penunjang medis,
komite medis, satuan pemeriksaan internal, serta administrasi
umum dan keuangan. Sedangkan yang dimaksud dengan tata
laksana meliputi tata laksana organisasi, standar pelayanan,
stanndar operasinal prosedur(SPO), sistem Informasi
Mananjemen Rumah Sakit (SIMRS), hospital by laws dan
Medical Staff by laws.
3) Rumah Sakit umum kelas C
Rumah Sakit Umum Kelas C adalah rumah sakit umum
yang mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medik
paling sedikit 4 (empat) spesialis dasar dan 4 (empat) spesialis
penunjang medik. Kriteria, fasilitas dan kemampuan kelas C
meliputi :
a) Pelayanan Medik Umum terdiri dari Pelayanan Pelayanan
Medik Dasar, pelayanan Medik Gigi Mulut, dan
Pelayanan kesehatan Ibu dan Anak/ Keluarga Berencana
b) Pelayanan Gawat Darurat harus dapat memberikan
pelayanan gawat darurat 24 (dua puluh empat) jam dan 7
12
(Tujuh) hari seminggu dengan kemapuan melakukan
pemeriksaan kasus-kasus gawat darurat, melakukan
resusitasi dan stabilisasi sesuai dengan standar.
c) Pelayanan Medik Spesialis Dasar terdiri dari Pelayanan
Penyakit Dalam, Kesehatan Anak, Bedah, Obsteri dan
Ginekologi.
d) Pelayanan Spesialis Penunjang Medik terdiri dari
Pelayanan Anestesiologi, Radiologi, Rehabilitasi Medik,
Patologi Klinik.
e) Pelayaan Medik Spesialis Gigi Mulut minimal 1 (satu)
pelayanan
f) Pelayanan Keperawatan dan Kebidanan terdiri dari
Pelayanan Asuhan Keperawatan dan Asuhan Kebidanan.
g) Pelayanan Penunjang Klinik terdiri dari Perawatan
Intensif, Pelayanan Darah, Gizi, Farmasi, Sterilisasi
Instrumen dan Rekam Medik.
h) Pelayanan Penunjang Non Klinik terdiri dari Pelayanan
Laundry/Linen, Jasa Boga/Dapur, Teknik dan
Pemeliharaan Fasilitas, Pengelolaan Limbah, Gudang,
Ambulance, Komunikasi, Kamar Jenazah, Pemadam
Kebakaran, Pengelolaan Gas Medik dan Penampungan Air
Bersih.
Ketersediaan tenaga kesehatan disesuaikan dengan jenis
tingkat pelayanan, dibawah ini akan dijelaskan mengenai
tenaga kesehatan di jenis dan tingkat pelayanan pada Rumah
Sakit Umum Kelas C :
a) Pada Pelayanan Medik Dasar minimal harus ada 9 orang
dokter umum dan 2 orang dokter gigi sebagai tenaga tetap.
b) Pada Pelayanan Medik Spesialis Dasar harus ada masing-
masing minimal 2 orang dokter spesialis setiap pelayanan

13
dengan 2 orang dokter spesialis sebagai tenaga tetap pada
pelayanan yang berbeda.
c) Pada setiap Pelayanan Spesialis Penunjang Medik masing-
masing minimal 1 orang dokter spesialis setiap pelayanan
dengan 2 orang dokter spesialis sebagai tenaga tetap pada
pelayanan yang berbeda.
d) Perbandingan tenaga keperawatan dan tempat tidur adalah
2:3 dengan kualifikasi tenaga keperawatan sesuai dengan
pelayanan Rumah Sakit
e) Tenaga penunjang berdasarkan kebutuhan Rumah Sakit
Sarana Prasaranan an peralatan yang ada di Rumah Sakit
Umum kelas C harus memenuhi standar yang telah ditetapkan
oleh Menteri. Peralatan yang dimiliki oleh Rumah sakit kelas
C harus memenuhi standar yang telah di tetapkan oleh
Menteri.Peralatan radiologi dan kedokteran nuklir di Rumah
Sakit Umum Kelas C harus memenuhi standar yang telah
ditetapkan oleh undang-undang.
Jumlah tempat tidur di Rumah Sakit Umum kelas C
minimal terdapat 100 buah tempat tidur. Sedangkan dari segi
administrasi dan manajemen di Rumah Sakit Umum kelas C
terdiri dari struktur organisasi dan tata laksana. Struktur
organisasi di Rumah sakit Umum Kelas C paling sedikit terdiri
atas Kepala Rumah Sakit atau Direktur Rumah Sakit, unsur
pelayanan medis, unsur keperawatan, unsur penunjang medis,
komite medis, satuan pemeriksaan internal, serta administrasi
umum dan keuangan. Sedangkan yang dimaksud dengan tata
laksana meliputi tata laksana organisasi, standar pelayanan,
stanndar operasinal prosedur(SPO), sistem Informasi
Mananjemen Rumah Sakit (SIMRS), hospital by laws dan
Medical Staff by laws.
4) Rumah Sakit umum kelas D
14
Rumah Sakit Umum Kelas D adalah rumah sakit umum
yang mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medik
paling sedikit 2 (dua) spesialis dasar.Kriteria, fasilitas dan
kemampuan Rumah Sakit Umum Kelas D meliputi :
a) Pelayanan Medik Umum terdiri dari Pelayanan Pelayanan
Medik Dasar, pelayanan Medik Gigi Mulut, dan
Pelayanan kesehatan Ibu dan Anak/ Keluarga Berencana
b) Pelayanan Gawat Darurat harus dapat memberikan
pelayanan gawat darurat 24 (dua puluh empat) jam dan 7
(Tujuh) hari seminggu dengan kemapuan melakukan
pemeriksaan kasus-kasus gawat darurat, melakukan
resusitasi dan stabilisasi sesuai dengan standar.
c) Pelayanan Medik Spesialis Dasar sekurang-kurangnya 2
(dua) dari 4 (empat) jenis pelayanan medik dasar meliputi
Pelayanan Penyakit Dalam, Kesehatan Anak, Bedah,
Obsteri dan Ginekologi.
d) Pelayanan Spesialis Penunjang Medik yaitu Laboratorium
dan Radiologi .
e) Pelayanan Keperawatan dan Kebidanan terdiri dari
Pelayanan Asuhan Keperawatan dan Asuhan Kebidanan.
f) Pelayanan Penunjang Klinik terdiri dari High Care Unit,
Pelayanan Darah, Gizi, Farmasi, Sterilisasi Instrumen dan
Rekam Medik.
g) Pelayanan Penunjang Non Klinik terdiri dari Pelayanan
Laundry/Linen, Jasa Boga/Dapur, Teknik dan
Pemeliharaan Fasilitas, Pengelolaan Limbah, Gudang,
Ambulance, Komunikasi, Kamar Jenazah, Pemadam
Kebakaran, Pengelolaan Gas Medik dan Penampungan Air
Bersih.
Ketersediaan tenaga kesehatan disesuaikan dengan jenis
tingkat pelayanan, dibawah ini akan dijelaskan mengenai
15
tenaga kesehatan di jenis dan tingkat pelayanan pada Rumah
Sakit Umum Kelas D :
a) Pada Pelayanan Medik Dasar minimal harus ada 4 orang
dokter umum dan 1 orang dokter gigi sebagai tenaga tetap.
b) Pada Pelayanan Medik Spesialis Dasar harus ada masing-
masing minimal 1 orang dokter spesialis dari 2 jenis
pelayaanan spesialis dasar dengan 1 orang dokter spesialis
sebagai tenaga tetap.
c) Perbandingan tenaga keperawatan dan tempat tidur adalah
2:3 dengan kualifikasi tenaga keperawatan sesuai dengan
pelayanan Rumah Sakit
d) Tenaga penunjang berdasarkan kebutuhan Rumah Sakit
Sarana Prasaranan an peralatan yang ada di Rumah Sakit
Umum kelas D harus memenuhi standar yang telah ditetapkan
oleh Menteri. Peralatan yang dimiliki oleh Rumah sakit kelas
D harus memenuhi standar yang telah di tetapkan oleh
Menteri.Peralatan radiologi dan kedokteran nuklir di Rumah
Sakit Umum Kelas D harus memenuhi standar yang telah
ditetapkan oleh undang-undang.
Jumlah tempat tidur di Rumah Sakit Umum kelas B
minimal terdapat 50 buah tempat tidur. Sedangkan dari segi
administrasi dan manajemen di Rumah Sakit Umum kelas A
terdiri dari struktur organisasi dan tata laksana. Struktur
organisasi di Rumah sakit Umum Kelas A paling sedikit terdiri
atas Kepala Rumah Sakit atau Direktur Rumah Sakit, unsur
pelayanan medik, unsur keperawatan, unsur penunjang medis,
komite medis, satuan pemeriksaan internal, serta administrasi
umum dan keuangan. Sedangkan yang dimaksud dengan tata
laksana meliputi tata laksana organisasi, standar pelayanan,
stanndar operasinal prosedur(SPO), sistem Informasi

16
Mananjemen Rumah Sakit (SIMRS), hospital by laws dan
Medical Staff by laws.
b. Rumah Sakit Khusus memberikan pelayanan utama pada satu
bidang atau satu jenis penyakit tertentu berdasarkan disiplin ilmu,
golongan umur, organ, jenis penyakit, atau kekhususan
lainnya.Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik
Indonesia No. 340/MENKES/Per/III/2010 jenis rumah sakit khusus
antara lain Rumah Sakit ibu dan Anak, Jantung, Kanker, Orthopedi,
Paru, Jiwa, Jiwa, Kusta, Mata, ketergantungan Obat, Strok,
Penyakit Infeksi, bersalin, Gigi dan Mulut, rehabilitasi medik,
Telinga Hidung Tenggorokan, Bedah, ginjal, kulit dan
Kelamin.Klasifikasi Rumah Sakit khusus terdiri atas :
1) Rumah Sakit khusus kelas A
Rumah Sakit Khusus kelas A adalah Rumah Sakit Khusus
yang mempunyai fasilitas dan kemampuan paling sedikit
pelayanan medik spesialis dan pelayanan medik subspesialis
sesuai kekhususan yang lengkap.
2) Rumah Sakit khusus kelas B
Rumah Sakit Khusus kelas B adalah Rumah Sakit Khusus
yang mempunyai fasilitas dan kemampuan paling sedikit
pelayanan medik spesialis dan pelayanan medik subspesialis
sesuai kekhususan yang terbatas.
3) Rumah Sakit khusus kelas C
Rumah Sakit Khusus kelas C adalah Rumah Sakit Khusus
yang mempunyai fasilitas dan kemampuan paling sedikit
pelayanan medik spesialis dan pelayanan medik subspesialis
sesuai kekhususan yang minimal.
3. Berdasarkan pengelolaannya, Rumah Sakit dibedakan menjadi Rumah
Sakit publik dan Rumah Sakit privat.
a. Rumah Sakit publik dapat dikelola oleh Pemerintah, Pemerintah
Daerah, dan badan hukum yang bersifat nirlaba.Rumah Sakit
17
publik yang dikelola Pemerintah dan Pemerintah Daerah
diselenggarakan berdasarkan pengelolaan Badan Layanan Umum
atau Badan Layanan Umum Daerah sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan.
b. Rumah Sakit privat dikelola oleh badan hukum dengan tujuan
profit yang berbentuk Perseroan Terbatas atau Persero.
Rumah Sakit dapat ditetapkan menjadi Rumah Sakit pendidikan setelah
memenuhi persyaratan dan standar rumah sakit pendidikan. Rumah Sakit
pendidikan adalah Rumah Sakit yang menyelenggarakan pendidikan dan
penelitian secara terpadu dalam bidang pendidikan profesi kedokteran,
pendidikan kedokteran berkelanjutan, dan pendidikan tenaga kesehatan
lainnya.

C. Sistem Organisasi Rumah Sakit


Untuk mencapai organisasi rumah sakit yang baik diperlukan
penerapan manajemen yang baik pula. Setiap Rumah Sakit harus memiliki
organisasi yang efektif, efisien, dan akuntabel, yang minimal terdiri atas :
1. Kepala Rumah Sakit atau Direktur Rumah Sakit,
2. Unsur pelayanan medis,
3. Unsur keperawatan,
4. Unsurpenunjang medis,
5. Komite medis,
6. Satuan pemeriksaan internal, serta
7. Administrasi umum dan keuangan.
Kepala Rumah Sakit harus seorang tenaga medis yang mempunyai
kemampuan dan keahlian di bidang perumahsakitan dan berkewarganegaraan
Indonesia. Pemilik Rumah Sakit tidak boleh merangkap menjadi kepala
Rumah Sakit.
Pemilik Rumah Sakit dapat membentuk Dewan Pengawas Rumah
Sakit yang bersifat independen dan bertanggung jawab kepada pemilik Rumah
Sakit. Keanggotaan Dewan Pengawas Rumah Sakit terdiri dari unsur pemilik

18
Rumah Sakit, organisasi profesi, asosiasi perumahsakitan, dan tokoh
masyarakat, dengan jumlah maksimal 5 (lima) terdiri dari 1 (satu) orang ketua
merangkap anggota dan 4 (empat) orang anggota.
Dewan Pengawas Rumah Sakit bertugas :
a. menentukan arah kebijakan Rumah Sakit;
b. menyetujui dan mengawasi pelaksanaan rencana strategis;
c. menilai dan menyetujui pelaksanaan rencana anggaran;
d. mengawasi pelaksanaan kendali mutu dan kendali biaya;
e. mengawasi dan menjaga hak dan kewajiban pasien;
f. mengawasi dan menjaga hak dan kewajiban Rumah Sakit; dan
g.mengawasi kepatuhan penerapan etika Rumah Sakit, etika profesi, dan
peraturan perundangundangan;
Badan Pengawas Rumah Sakit Indonesia merupakan unit
nonstruktural di Kementerian yang bertanggung jawab dibidang kesehatan dan
dalam menjalankan tugasnya bersifat independen. Keanggotaan Badan
Pengawas Rumah Sakit Indonesia berjumlah maksimal 5 orang terdiri dari 1
orang ketua merangkap anggota dan 4 orang anggota, yang terdiri dari unsur
pemerintah, organisasi profesi, asosiasi perumahsakitan, dan tokoh masyarakat.
Badan Pengawas Rumah Sakit dapat dibentuk di tingkat provinsi oleh
Gubernur dan bertanggung jawab kepada Gubernur.
Untuk Rumah Sakit Umum kelas A, susunan organisasinya diatur sesuai
dengan SK Menkes No. 543/VI/1994 adalah sebagai berikut.
1. Direktur
2. Wakil Direktur yang terdiri dari:
 Wadir Pelayanan Medik dan Keperawatan
 Wadir Penunjang Medik dan Instalasi
 Wadir Umum dan Keuangan
 Wadir komite Medik
Tiap-tiap Wadir memiliki tanggung jawab dan wewenang mengatur
beberapa bidang/bagian pelayanan dan keperawatan serta instalasi.Instalasi RS
bertugas untuk menyiapkan fasilitas agar pelayanan medik dan keperawatan
19
dapat terlaksana dengan baik.Instalasi RS dipimpin oleh seorang kepala yang
diberikan jabatan non struktural. Beberapa jenis instalasi RS yang ada pada RS
kelas A adalah instalasi rawat jalan, rawat darurat, rawat inap, rawat intensif,
bedah sentral, farmasi, patologi klinik, patologi anatomi, gizi, laboratorium,
perpustakaan, pemeliharaan sarana rumah sakit (PSRS), pemulasaran jenazah,
sterilisasi sentral, pengamanan dan ketertiban lingkungan, dan binatu.
Komite Medik (KM) juga diberikan jabatan nonstruktural yang
fungsinya menghimpun anggota yang terdiri dari para kepala Staf Medik
Fungsional (SMF). KM diberikan dua tugas utama yaitu menyusun standar
pelayanan mediks dan memberikan pertimbangan kepada direktur dalam hal:
1. Pembinaan, pengawasan dan penelitian mutu palayanan medis, hak-hak
klinis khusus lepada SMF, program pelayanan medis, pendidikan dan
pelatihan (diklat), serta penelitian dan pengembangan (litbang).
2. Pembinaan tenaga medis dan bertanggung jawab terhadap pelaksanaan
etika profesi.
Kepala SMF diangkat oleh Dirjen Yan. Medik Depkes RI berdasarkan
usulan dari Direktur RS. Untuk RS kelas A jumlah SMF yang dimiliki minimal
15 buah, yaitu : (1) Bedah (2) Kesehatan Anak (3) Kebidanan dan Penyakit
Kandungan (4) Penyakit Dalam (5) Penyakit Saraf (6) Penyakit Kulit dan
Kelamin (7) THT (8) Gigi dan Mulut (9) Mata (10) Radiologi (11) Patologi
Klinik (12) Patologi Anatomi (13) Kedokteran Kehakiman (14) Rehabilitasi
Medik (15) Anestesi.
Untuk RSU kelas B, hampir sama dengan kelas A. Hanya berbeda
pada jumlah dan jenis-jenis masing-masing SMF. RSU kelasB tidak memiliki
subspesialis. Sedangkan susunan organisasi RS kelas C dan D lebih sederhana
jika dibandingkan dengan RSU kelas A dan B. Pada RSU kelas C dan D tidak
ada wakil direktur, tetapi dilengkapi dengan staf khusus yang mengurus
administrasi. Kondisi ini berpengaruh pada jenis pelayanan medis dan jumlah
staf profesional (medis dan paramedis) yang dipekerjakan pada tiap-tiap RS
tersbut.

20
D. Manajemen Rumah Sakit
Manajemen Pelayanan Medik di Rumah Sakit yaitu suatu pengelolaan
yang meliputi perencanaan berbagai sumber daya medik dengan mengorganisir
serta menggerakkan sumber daya tersebut diikuti dengan evaluasi dan kontrol
yang baik, sehingga dihasilkan suatu pelayanan medik yang merupakan bagian
dari sistem pelayanan di Rumah Sakit (Djuhaeni, 2009).
Tenaga Medik menurut PP No.32 Tahun 1996 Tenaga Medik
termasuk tenaga kesehatan. Sedangkan menurut Permenkes No.262/1979 yang
dimaksud dengan tenaga medis adalah lulusan Fakultas Kedokteran atau
Kedokteran Gigi dan "Pascasarjana" yang memberikan pelayanan medik dan
penunjang medik. Pelayanan medik di Rumah Sakit merupakan salah satu jenis
pelayanan Rumah Sakit yang diberikan oleh tenaga medik.
Banyak hal-hal yang harus diperhatikan dalam manajemen rumah
sakit agar pelaksanaan program dan sistem – sistem yang ada di rumah sakit
dapat berjalan dengan baik, seperti manajeman fungsional dan mutu.
Manajeman fungsional meliputi perencanaan, pengorganisasian, operasional
rumah sakit, pengendalian dan pegawasan.Manajemen mutu memperhatikan
komponen, aspek, efesiensi dan efektifitas, keselamatan pasien, serta kepuasan
pasien (Sabarguna, 2009).
Setiap Rumah Sakit harus menyelenggarakan tata kelola (manajemen)
Rumah Sakit dan tata kelola klinis yang baik. Tata kelola (manajemen) rumah
sakit yang baik adalah penerapan fungsi-fungsi manajemen rumah sakit yang
berdasarkan prinsip-prinsip tranparansi, akuntabilitas, independensi dan
responsibilitas, kesetaraan dan kewajaran. Sedangkan Tata kelola klinis yang
baik adalah penerapan fungsi manajemen klinis yang meliputi kepemimpinan
klinik, audit klinis, data klinis, risiko klinis berbasis bukti, peningkatan kinerja,
pengelolaan keluhan, mekanisme monitor hasil pelayanan, pengembangan
profesional, dan akreditasi rumah sakit.
Dalam sistem pelayanan medik yang terkait dengan manajemen
Rumah Sakit, terdapat beberapa komponen, yaitu :
1. Komponen Input, yang terdiri dari :
21
a. Tenaga medik yaitu dokter umum, dokter gigi dan dokter spesialis.
Perhitungan kebutuhan tenaga medik Rumah Sakit dapat melalui
berbagai cara antara lain : Peraturan Menkes 262/1979, Indikator Staff
Needs (ISN) dan standar minimal.
Hal lain yang berkaitan dengan Sumber Daya Manusia (SDM) yang
diperlukan antaralain tenaga penunjang medis, tenaga keperawatan,
tenaga kefarmasian, tenaga manajemen Rumah Sakit, dan tenaga
nonkesehatan. Jumlah dan jenis sumber daya manusia harus sesuai
dengan jenis dan klasifikasi Rumah Sakit.
b. Organisasi dan Tata Laksana
Struktur organisasi yang berlaku saat ini mengacu kepada SK Menkes
983/1992, seperti pada poin sebelumnya. Kendala dalam pelaksanaan
organisasi adalah SDM yang ada belum memenuhi kualifikasi.
c. Kebijakan Direktur
d. Sarana dan Prasarana Pelayanan Medik, yang meliputi :
- Gedung rawat jalan, rawat inap, ruang bedah, UGD, penunjang medik
radiologi, laboratorium, gizi dan lain-lain yang harus memenuhi syarat
sesuai dengan arsitektur Rumah Sakit yang berlaku.
- Sarana dan prasarana alat kesehatan sederhana maupun canggih untuk
terlaksananya pelayanan medik yang bermutu.
e. Dana
f. Pasien/klien
2. Komponen Proses
Menggambarkan Manajemen Pelayanan Medis itu sendiri, yang terdiri dari :
a. Perencanaan
- Tenaga yang dibutuhkan sesuai dengan jenis pelayanan yang diberikan.
- Sumber daya lain yang dibutuhkan untuk terselenggaranya suatu
pelayanan medis.
- Kegiatan yang akan dilaksanakan sesuai dengan sasaran yang
diharapkan.
b. Pengorganisasian
22
Seperti telah dibicarakan sebelumnya, tenaga medik diorganisir melalui
staf medik fungsional (SMF) dari komite medik (KM), sedangkan
pengelolaan pelayanan medik di bawah Wadir Pelayanan Medik.
c. Penggerakan
d. Pelaksanaan pelayanan medis
e. Pengawasan dan pengendalian
Ada dua macam yaitu :
- Pengawasan pelaksanaan pelayanan termasuk medikolegal oleh
wadir/seksi pelayanan.
- Pengawasan teknis medis oleh komite medis
Keduanya bertanggung jawab kepada Direktur Rumah Sakit.
3. Output
Output/keluaran yang diharapkan dari sistem dan manajemen rumah
sakit adalah pelayanan medis yang bermutu, terjangkau oleh masyarakat
luas dengan berdasarkan etika profesi dan etika Rumah Sakit. Tolok ukur
keberhasilan pelayanan Rumah Sakit dapat dinyatakan seperti angka
kematian di Rumah Sakit, kejadian infeksi nosokomial, kepuasan pasien,
waktu tunggu dan lain-lain akan berubah yaitu angka kematian rendah,
kejadian infeksi nosokomial rendah, kepuasan pasien meningkat, waktu
tunggu pendek, dan lain sebagainya. Keadaan ini akan meningkatkan Citra
Rumah Sakit.
4. Faktor yang mempengaruhi
a. Pemilik Rumah Sakit (Pemerintah Pusat, PEMDA, Yayasan, PT, PMA
dll). Missi dan dukungan pemilik sangat menentukan keberhasilan
pelayanan medik.
b. Depkes. Peraturan dan kebijakan dengan sanksi yang tegas akan
meningkatkan sistem pelayanan medis di Rumah Sakit.
c. IPTEK (Ilmu Pengetahuan dan Teknologi)
Kemajuan IPTEK harus diikuti sesuai falsafah Rumah Sakit yaitu
memberikan pelayanan sesuai IPTEK kedokteran yang mutakhir.
d. Sosio-ekonomi-budaya masyarakat
23
E. Manajemen Keuangan Rumah Sakit
Pembiayaan Rumah Sakit dapat bersumber dari penerimaan Rumah
Sakit, anggaran Pemerintah, subsidi Pemerintah, anggaran Pemerintah Daerah,
subsidi Pemerintah Daerah atau sumber lain yang tidak mengikat sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan.
Djuhaeni (2009) menyebutkan beberapa sumber dana yang dapat
digunakan untuk terselenggaranya pelayanan medik, antara lain :
- Pendapatan Asli Rumah Sakit
- APBN (Depkes)
- APBN (Depdagri)
- APBD Tingkat I
- APBD Tingkat II
- Banpres
- Asuransi
- Kontraktor
- Subsidi
- dll.
Dana tersebut digunakan untuk :
l. Investasi peralatan medik yang diperlukan sesuai dengan jenis pelayanan
yang diberikan.
2. Operasional yang terdiri dari :
- Jasa pelayanan medis yaitu jasa yang diberikan kepada petugas kesehatan
(medis, paramedis maupun non-medis) atas pelayananyang diberikan.
- Jasa Rumah Sakit yaitu jasa yang digunakan untuk operasional dan
pemeliharaan Rumah Sakit sehingga dapat memberikan pelayanan.
- Bahan habis pakai yaitu bahan-bahan yang digunakan untuk
terselenggaranya suatu kegiatan pelayanan kepada pasien.
Ketiga komponen operasional tersebut tercermin pada tarif Rumah Sakit.

24
Sedangkan menurut Indra Bastian (2008) dalam bukunya Akuntansi
Kesehatan menyebutkan bahwa ada 2 (dua) metode pembayaran atas jasa
pelayanan kesehatan yang berasal dari pasien, yaitu:
1. Pembayaran Retrospektif
Metode pembayaran retrospektif atau pembayaran per item (Fee
for Servive Payment) yaitu pembayaran dengan cara pasien membayar
secara penuh kepada penyedia layanan kesehatan (provider) setelah
layanan selesai dilakukan.
2. Pembayaran Prospektif
Pembayaran prospektif yaitu metode pembayaran yang
disetujui dan dilakukan lebih lanjut sebelum jasa dilakukan, tanpa
memperdulikan berapa biaya aktual yang dikeluarkan oleh penyedia
layanan kesehatan. Salah satu metode pembayaran prospektif yaitu
Pembayaran Kapitasi (capitation payment). Pembayaran prospektif
digunakan oleh pemerintah untuk membiayai layanan kesehatan bagi
penduduk miskin baik oleh pemerintah pusat berupa Jaminan Kesehatan
Masyarakat (Jamkesmas), Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dan
Jaminan Kesehatan yang diberikan oleh Pemerintah Daerah berupa
Jaminan Kesehatan Daerah (Jamkesda) oleh Pemerintah Kabupaten/Kota
dan Jaminan Kesehatan Semesta (Jamkesta) oleh Penerintah Provinsi.
Pembayaran jasa pelayanan kesehatan dengan jaminan
disebut juga pembayaran tidak langsung.Pembayaran langsung diterima
setelah pasien mendapatkan pelayanan kesehatan per jenis pelayanan
yang diberikan. Tarif berdasarkan dengan sistim paket yang diterbitkan
oleh Kementerian Kesehatan dengan Permenkes Nomor : 59 Tahun 2014
tentang Standar Tarif Pelayanan dalam Penyelengaraan Program Jaminan
Kesehatan, untuk pelayanan kesehatan bagi pasien tidak mampu.

F. Rumah Sakit sebagai Badan Layanan Umum


Sesuai dengan pasal 1 ayat 23 Undang-undang Nomor 1 Tahun 2004
tentang perbendaharan negara disebutkan: “Badan Layanan Umum adalah
25
instansi di lingkungan pemerintah yang dibentuk untuk memberikan
pelayanan kepada masyarakat berupa barang dan atau jasa yang dijual tanpa
mengutamakan mencari keuntungan dalam melakukan kegiatannya
didasarkan pada prinsip efesiensi dan produktivitas”.
Menurut jenisnya, Badan Layanan Umum terbagi menjadi 3
kelompok, yaitu:
1. BLU yang kegiatannya menyediakan barang atau jasa meliputi rumah
sakit, lembaga pendidikan, pelayanan lisensi, penyiaran, dan lain-lain.
2. BLU yang kegiatannya mengelola wilayah atau kawasan meliputi otorita
pengembangan wilayah dan kawasan ekonomi terpadu (Kapet).
3. BLU yang kegiatannya mengelola dana khusus meliputi pengelola dana
bergulir, dana Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM), penerusan
pinjaman dan tabungan pegawai (PP Nomor: 23 Tahun 2005).
Tujuan dibentuknya badan layanan umum (BLU) adalah
sebagaimana diamanatkan dalam Pasal 68 ayat (1) UU. No 1 Tahun 2004,
yang menyebutkan bahwa:
“Badan Layanan Umum dibentuk untuk meningkatkan pelayanan
kepada masyarakat dalam rangka memajukan kesejahteraan umum dan
mencerdaskankehidupan bangsa”. Kemudian ditegaskan kembali dalam PP
No. 23 tahun 2005 sebagai peraturan pelaksana dari pasal 69 ayat (7) UU
No. 1 Tahun 2004, Pasal 2 yang menyebutkan bahwa: “BLU bertujuan
untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat dalam rangka
memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa
dengan memberikan fleksibilitas dalam pengelolaan keuangan berdasarkan
prinsip ekonomi dan produktifitas, dan penerapan sesuai praktik bisnis yang
sehat”
Rumah sakit sebagai BLU telah diterapkan untuk membangun
kemajuan rumahsakit tersebut, untuk mendukung proses pelayanan dan
dapat meningkatkan kemanfaatan terhadap masyarakat.

26
Perbedaan sifat dan karakteristik Rumah Sakit BLUD dengan
Rumah Sakit Non BLUD dapat dilihat dengan membandingkan beberapa
hal, yaitu:

27
BAB IV
PEMBAHASAN

RSUD Kota Surakarta yang berlokasi di Jalan Lettu Sumarto No.1


Ngipang Kadipiro Surakarta memiliki visi menjadi rumah sakit kebanggaan Kota
Surakarta dengan pelayanan yang bermutu. Untuk mencapai visi tersebut
disusunlah misi RSUD Kota Surakarta sebagai berikut : meningkatkan motivasi
dan kinerja sumber daya manusia, meningkatkan sarana dan prasarana,
meningkatkan manajemen rumah sakit, dan meningkatkan mutu pelayanan.
Semua hal tersebut dilakukan untuk meningkatkan kualitas pelayanan kepada
masyarakat untuk mewujudkan penyelenggaraan tugas tugas pemerintah dan/atau
pemerintah daerah dalam memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan
kehidupan bangsa.
RSUD Kota Surakarta merupakan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD)
yang berkedudukan sebagai Rumah Sakit milik Pemerintah Kota Surakarta yang
merupakan unsur pendukung tugas pemerintah daerah di bidang pelayanan
kesehatan. RSUD Kota Surakarta juga memiliki status sebagai Badan Layanan
Umum Daerah (BLUD) yaitu SKPD di lingkungan Pemerintah Daerah yang
dibentuk untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat berupa penyediaan
barang dan/atau jasa yang dijual tanpa mengutamakan mencari keuntungan, dan
dalam melakukan kegiatannya didasarkan pada prinsip efisiensi dan produktivitas.
Terhitung sejak 15 Desember 2014, RSUD Surakarta telah ditetapkan
sebagai Rumah Sakit Umum Kelas C dengan struktur organisasi yang dipimpin
oleh seorang pemimpin (karena direktur berasal dari non PNS) yang dibantu oleh
kelompok jabatan fungsional dan sub bagian tata usaha, serta membawahi tiga
seksi yaitu Seksi Pelayanan Medis dan Penunjang Medis, Seksi Sarana, Prasarana
dan Logistik, dan Seksi Keuangan. Kepala tata usaha membawahi tiga bagian
yaitu: pengelolaan kepegawaian, pengelolaan surat dan dokumen, serta bagian
umum dan rumah tangga. Kepala seksi sarana prasarana dan logistik membawahi
pengelolaan barang dan aset, serta hospital service.Sedangkan kepala seksi
keuangan membawahi bendahara pemasukan dan bendahara pengeluaran.Kepala
28
seksi pelayanan dan penunjang medik membawahi pelayanan rawat jalan dan
rawat inap, serta pelayanan penunjang dan klaim.
Tata struktur organisasi tersebut terhitung masih sederhana untuk
pengelolaan sebuah rumah sakitkelas C sehingga perlu dilakukan pembagian
secara terperinci pada setiap departemen serta penanggung jawabnya agar
pembagian tugas serta kewenangan di setiap departemen lebih terfokus, efektif
dan efisien demi tercapainya visi rumah sakit. Fakta bahwa RSUD Kota Surakarta
masih terhitung sebagai rumah sakit yang baru dan merupakan rumah sakit milik
pemerintah sehingga tidak bisa dengan mudah untuk mengubah struktur
organisasi dan merekrut pegawai juga menjadi faktor yang harus dipertimbangkan
dalam penataan menuju struktur yang ideal untuk sebuah rumah sakit.

Gambar 4.1. Struktur Organisasi RSUD Kota Surakarta.

Struktur di atas bertanggung jawab untuk melaksanakan tugas pokok


RSUD Kota Surakarta dalam melaksanakan upaya kesehatan secara berdaya guna
dan berhasil guna dengan mengutamakan upaya penyembuhan dan pemulihan
yang dilaksanakan secara serasi dan terpadu dengan upaya peningkatan dan
pencegahan serta melaksanakan upaya rujukan. Sedangkan fungsi yang harus
dijalankan yaitu menyelenggarakan pelayanan medis, menyelenggarakan

29
pelayanan asuhan keperawatan, pelayanan penunjang medis dan non medis,
pelayanan rujukan, pendidikan dan pelatihan, penelitian dan pengembangan, serta
menyelenggarakan administrasi umum dan keuangan.
Sumber daya manusia yang dimiliki oleh RSUD Kota Surakarta
ditampilkan dalam tabel 4.1.Dalam tabel tersebut dapat dilihat bahwa proporsi
pegawai non PNS lebih besar dibanding dengan PNS. Hal ini disebabkan karena
status rumah sakit sebagai BLUD, yang mana rumah sakit diberi wewenang untuk
mengelola pendapatan dan keuangannya sendiri, sehingga dana untuk gaji
pegawai non PNS bisa dianggarkan melalui sistem keuangan BLUD. Namun,
penyerapan anggaran rumah sakit sebagian besar bisa jadi digunakan untuk
membiayai pegawai non PNS, sehingga rumah sakit akan sulit berkembang di
bidang sarana prasarana, seperti penambahan tempat tidur, penambahan sarana
penunjang medik dan lain sebagainya. Walaupun begitu, BLUD lebih
menguntungkan bagi rumah sakit dari pada non BLUD karena tidak perlu
menunggu keputusan pemerintah apabila terjadi kebutuhan mendadak terkait
pelayanan rumah sakit.

Tabel 4.1.Pegawai di RSUD Kota Surakarta


SDM / Jenis Ketenagaan Jumlah

Dokter umum 9
Dokter spesialis
Penyakit dalam 3
Anak 1
Kulit kelamin 1
Mata 1
Dokter gigi 3
Bidan 16
Perawat 22
Apoteker 1
Farmasi 7
Analis lab 5

30
Rekam medis 2
Sanitarian 2
Pelaksana gizi 1
Struktural dan administrasi 17
Total jumlah pns 91
Pegawai non pns 114
Dokter spesialis mitra 11
Jumlah total pegawai 216

Selain pegawai tetap, RSUD Kota Surakarta juga merekrut 11 dokter


spesialis mitra yaitu 2 spesialis bedah, 3 spesialis obsgyn, 2 spesialis anestesi, 1
spesialis radiologi, 1 spesialis patologi klinik, 1 spesialis gigi prostodonti, dan 1
spesialis mata. Dengan adanya moratorium PNS yang dilakukan oleh pemerintah
pada tahun 2015 ini, RSUD Kota Surakarta masih belum bisa merekrut tenaga
kesehatan dari kalangan PNS, sebagai gantinya untuk pemenuhan SDM, rumah
sakit merekrut 160 tenaga BLUD. Perekrutan ini termasuk bagian dari upaya
peningkatan kelas RSUD Kota Surakarta dari kelas D menjadi kelas C yang
mensyaratkan rumah sakit untuk memiliki pelayanan medik dasar lengkap dan
memiliki 1 pelayanan spesialis medik gigi dan mulut. Upaya tersebut juga
dilakukan untuk mencapai visi RSUD Kota Surakarta sebagai rumah sakit
kebanggaan Kota Surakarta dengan pelayanan yang bermutu.
Pelayanan medis dan penunjang medis di RSUD Kota Surakarta terdiri
dari Pelayanan Gawat Darurat, Pelayanan Rawat Jalan, Pelayanan Rawat Inap,
Pelayanan Bedah, Pelayanan Persalinan dan Perinatologi, Pelayanan Intensif,
Pelayanan Radiologi, Pelayanan Laboratorium Patologi Klinik, Pelayanan
Rehabilitasi Medik, Pelayanan Farmasi, Pelayanan Gizi, Pelayanan Transfusi
Darah, Pelayanan Hemodialisa, Pelayanan Pasien Gakin, Pelayanan Rekam
Medik, Pengelolaan Limbah, Pelayanan Administrasi Manajemen, Pelayanan
Ambulance, Pelayanan Pemulasaraan Jenazah, Pelayanan Laundry, Pelayanan
Pemeliharaan Sarana Rumah Sakit, Pencegahan dan Pengendalian Infeksi, dan
Pelayanan Keamanan. Sementara pelayanan rawat jalan yang dimiliki RSUD Kota

31
Surakarta yaitu terdiri dari Poliklinik Umum, Poliklinik Penyakit Dalam,
Poliklinik Gizi, Poliklinik Bedah, Poliklinik Obsgyn, Poliklinik Anak dan
Tumbuh Kembang, Poliklinik Kulit Kelamin, Poliklinik Mata, Poliklinik Gigi dan
Spesialis Gigi, Poliklinik THT, dan Klinik VCT dan CST.

Tabel 4.2. Pelayanan Rawat Inap di RSUD Kota Surakarta


Kelas Jumlah Bed Keterangan
VIP 0 -
Kelas 1 4 Anak dan dewasa
Kelas 2 22 Maternity, anak, dan dewasa
Kelas 3 90 Maternity, anak, dan dewasa
Total 116 Baru diaktifkan 104 bed (diluar ICU 4 + HD 4)

Kasus RANAP
Anak Lantai 2
Obsgyn Lantai 2
Penyakit dalam Lantai 3
Bedah Lantai 3
Mata Lantai 3
Kulit Lantai 3

Dari sisi pelayanan medis dan penunjang medis, RSUD Kota Surakarta
harus menghadapi tantangan yaitu keterbatasan ruang dan lahan. Sebagai rujukan
dari seluruh puskesmas dan dokter keluarga di seluruh kota Surakarta, di sebagian
Kabupaten seperti Karanganyar dan Boyolali, RSUD Kota Surakarta perlu
dilakukan perluasan lahan rumah sakit agar nyaman bagi pasien dan pengunjung.
Di beberapa ruang/poli terhitung cukup sempit untuk bisa melayani dengan ideal
dan nyaman. Selain itu, keterbatasan ini membuat antrian pasien tampak ramai
dan berjejalan di ruang/kursi tunggu beberapa poli. Untuk meningkatkan kelas
rumah sakit juga dituntut penambahan ruang rawat inap, poli dan berbagai
persyaratan lain, sedangkan kondisi saat ini bangunan dan lahan yang ada sulit

32
untuk dikembangkan/ditambah lagi, karena lahan terseut bukanlah milik Kota
Surakarta, sehingga perlu perencanaan strategis tentang penambahan lahan dan
bangunan agar RSUD Kota Surakarta bisa memberikan pelayanan terbaik bagi
masyarakat.
Pembiayaan pelayanan pasien RSUD Kota Surakarta didapatkan dari
asuransi/ jaminan kesehatan dan pembayaran mandiri dari pasien umum, namun
sebagian besar pasien menggunakan fasilitas jaminan kesehatan.Terdapat tiga
jaminan kesehatan yang dilayani di RSUD Kota Surakarta yaitu JKN/BPJS,
PKMS (Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat Surakarta), dan Jamkesda
Kabupaten Karanganyar.Pada sistem Jaminan Kesehatan Nasional BPJS,
pembayaran dilakukan pemerintah berdasarkan tarif dasar Indonesian Case Based
Group’s (INA CBG’S).Tarif untuk klaim dihitung berdasarkan pengkodean
diagnosis ICD 10.Pengajuan klaim dilakukan setiap dua bulan sekali melalui
Kementrian Kesehatan yang dikirim ke rekening RSUD.Peserta JKN terdiri atas
peserta penerima bantuan iuran (PBI) dan bukan penerima bantuan iuran (non
PBI).Peserta PBI adalah fakir miskin dan orang tidak mampu yang tidak dibebani
iuran sehingga seluruh jaminan kesehatan ditanggung oleh pemerintah.Peserta
PBI mendapat jatah kelas III di rumah sakit.Untuk peserta Non PBI diberikan
kewajiban untuk membayar iuran perbulan dengan tarif yang telah
ditentukan.Peserta Non PBI terdiri atas pekerja penerima upah yang mendapat
jatah kelas I dan II, pekerja bukan penerima upah yang mendapatkan hak kelas I,
II, dan III, serta bukan pekerja yang mendapat jatah kelas I, II, dan III di rumah
sakit.
Selain program JKN yang dikelola oleh pemerintah pusat, pemerintah
daerah Kota Surakarta juga menyediakan jaminan kesehatan tersendiri yaitu
PKMS.PKMS terdiri atas PKMS gold dan PKMS silver.PKMS gold diberikan
kepada masyarakat miskin yang sudah ditetapkan dalam SK Walikota.
Masyarakat yang memiliki PKMS gold ditanggung semua biaya perawatannya
oleh pemerintah kota dan pemerintah provinsi Jawa Tengah. Untuk masyarakat
Kota Surakarta yang tidak terdaftar dalam program PKMS gold dapat

33
menggunakan PKMS silver. Pada PKMS silver klaim biaya dalam setiap
perawatan yang diterima maksimal 5 juta per orang.
Dalam model sistem rujukan pelayanan kesehatan JKN dilakukan secara
berjenjang.Setiap pasien yang ingin berobat atau mendapatkan pelayanan
kesehatan harus melalui layanan kesehatan primer, yaitu pada puskesmas atau
pada dokter keluarga. Bila pasien tersebut memerlukan penanganan lebih lanjut
atau tidak dapat ditangani pada layanan primer dapat dirujuk kepada pelayanan
sekunder yang sifatnya spesialistik.Bila masih tidak dapat ditangani dengan cukup
dapat dirujuk ke pelayanan tersier yang bersifat subspesialistik. Sistem rujukan
yang berjenjang seperti ini sangat diperlukan untuk ketertiban dalam pembiayaan
kesehatan karena semakin tinggi jenis pelayanannya maka akan semakin mahal.
Bila sistem rujukan dapat dilaksanakan dengan baik maka pembiayaan
kesehatanpun bisa lebih efektif dan efisien.
RSUD Kota Surakarta sebagai layanan kesehatan sekunder masih kurang
optimal dalam pelayanannya.Hal tersebut disebabkan masih sangat terbatasnya
sumber daya manusia yang diperlukan (terutama beberapa dokter spesialis yang
belum tersedia di beberapa bidang), juga terdapat keterbatasan sarana dan
prasarana, khususnya alat kesehatan di instalasi pelayanan dan penunjang rumah
sakit baik yang bersifat medis maupun non medis. Seiring dengan berlakunya
sistem Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) mulai 2014 yang menerapkan rujukan
berjenjang, kunjungan pasien akan meningkat disertai beragamnya variabel
penyakit.
Masalah yang lain terkait pembiayaan adalah adanya kasus piutang rumah
sakit kepada beberapa pasien, padahal pasien tersebut menyampaikan bahwa
biayanya akan dilunasi oleh tokoh masyarakat (dalam hal ini anggota Dewan
Perwakilan Rakyat Daerah). Pihak rumah sakit belum mempunyai prosedur yang
jelas dan tegas jika menghadapi kasus seperti ini. Diperlukan konsultasi dan
koordinasi dengan pihak-pihak terkait untuk menyelesaikan kasus seperti ini,
misalnya ke ahli hukum, badan kehormatan DPRD, dan lain-lain sehingga bisa
dibuat prosedur yang jelas dan tegas.

34
Sebagai Badan Layanan Umum Daerah, RSUD Surakarta diberikan
keleluasaan untuk mengelola setiap pendapatan dan keuangannya sendiri demi
keberjalanan rumah sakit. Hal itu didasarkan pada Peraturan Menteri Dalam
Negeri nomor 61 tahun 2007 tentang Pedoman Teknis Pengelolaan Keuangan
Badan Layanan Umum Daerah.Di dalam peraturan tersebut disebutkan bahwa
pemerintah memberikan fleksibilitas kepada rumah sakit berupa keleluasaan
untuk menerapkan praktek-praktek bisnis yang sehat untuk meningkatkan
pelayanan kepada masyarakat dalam rangka memajukan kesejahteraan umum dan
mencerdaskan kehidupan bangsa, sebagai pengecualian dari ketentuan
pengelolaan keuangan daerah pada umumnya.Rumah sakit dapat memberikan
pelayanan kepada masyarakat berupa penyediaan barang dan/atau jasa yang dijual
tanpa mengutamakan mencari keuntungan, dan dalam melakukan kegiatannya
didasarkan pada prinsip efisiensi dan produktivitas.
Tarif layanan BLUD diatur dalam BAB IX pasal 57 sampai 59 yang
didalamnya menyebutkan bahwa BLUD dapat memungut biaya kepada
masyarakat sebagai imbalan atas barang dan/atau jasa layanan yang diberikan.
Tarif layanan BLUD diusulkan oleh pemimpin BLUD kepada kepala daerah
melalui sekretaris daerah, sedangkan tarif layanan BLUD-Unit Kerja diusulkan
oleh pemimpin BLUD kepada kepala daerah melalui kepala SKPD.Tarif layanan
ditetapkan dengan peraturan kepala daerah dan disampaikan kepada pimpinan
DPRD dengan mempertimbangkan kontinuitas dan pengembangan layanan, daya
beli masyarakat, serta kompetisi yang sehat.
Pendapatan dan biaya BLUD juga diatur dalam Permendagri tersebut pada
bab X pasal 60 sampai 68. Pendapatan BLUD dapat bersumber dari jasa layanan,
hibah, hasil kerjasama dengan pihak lain, APBD, APBN, dan pendapatan BLUD
lainnya yang sah. Pendapatan BLUD yang bersumber dari jasa layanan berupa
imbalan yang diperoleh dari jasa layanan yang diberikan kepada
masyarakat.Pendapatan BLUD yang bersumber dari hibah dapat berupa hibah
terikat dan hibah tidak terikat. Hasil kerjasama dengan pihak lain dapat berupa
perolehan dari kerjasama operasional, sewa menyewa, dan usaha lainnya yang
mendukung tugas dan fungsi BLUD. Pendapatan BLUD yang bersumber dari
35
APBD berupa pendapatan yang berasal dari otorisasi kredit anggaran pemerintah
daerah bukan dari kegiatan pembiayaan APBD.Pendapatan BLUD yang
bersumber dari APBN dapat berupa pendapatan yang berasal dari pemerintah
dalam rangka pelaksanaan dekonsentrasi dan/atau tugas pembantuan dan lain-
lain.BLUD dalam melaksanakan anggaran dekonsentrasi dan/atau tugas
pembantuan, proses pengelolaan keuangan diselenggarakan secara terpisah
berdasarkan ketentuan yang berlaku dalam pelaksanaan APBN.
Pendapatan BLUD lainnya yang sah antara lain adalah hasil penjualan
kekayaan yang tidak dipisahkan, hasil pemanfaatan kekayaan, jasa giro,
pendapatan bunga, keuntungan selisih nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing,
komisi, potongan ataupun bentuk lain sebagai akibat dari penjualan, dan/atau
pengadaan barang dan/atau jasa oleh BLUD, serta hasil investasi.
Dengan status sebagai BLUD, RSUD Kota Surakarta mempunyai peluang
besar untuk menjadi rumah sakit yang maju dan mewujudkan visi sebagai rumah
sakit kebanggaan Kota Surakarta. Sinergi yang baik antara pemerintah kota
Surakarta dan struktur rumah sakit, serta ditunjang dengan rencana strategis
pembangunan dan pengembangan rumah sakit lalu dibingkai dengan sistem
manajemen rumah sakit yang mumpuni maka RSUD Kota Surakarta akan bisa
berkembang dengan baik dan berperan besar dalam pencapaian keberhasilan
pembangunan di bidang kesehatan, namun status BLUD ini membuat adanya
kemungkinan untuk meraih keuntungan, untuk itu, rumah sakit tidak mengincar
keuntungan, namun tidak juga selalu jatuh dalam kerugian, sehingga operasional
rumah sakit dapat berjalan sebagaimana mestinya.

36
BAB V
PENUTUP

A. Simpulan
1. RSUD Kota Surakarta merupakan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) yang
berkedudukan sebagai Rumah Sakit milik Pemerintah Kota Surakarta yang
merupakan unsur pendukung tugas pemerintah daerah di bidang pelayanan
kesehatan.
2. RSUD Kota Surakarta adalah Rumah Sakit Umum Kelas Cyang memiliki
status sebagai Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) yang diberikan
kewenangan sepenuhnya untuk mengelola setiap pendapatan dan
keuangannya sendiri demi kelangsungan opeasional rumah sakit.
3. RSUD Kota Surakarta memiliki visi menjadi rumah sakit kebanggaaan
kota Surakarta dengan pelayanan yang bermutu, serta misi meningkatkan
motivasi dan kinerja sumber daya manusia, sarana dan prasarana,
manajemen RS, dan mutu pelayanan.
4. RSUD Kota Surakarta memiliki struktur organisasi yang dipimpin oleh
seorang direkturdibantu oleh kelompok jabatan fungsional dan sub bagian
tata usaha, serta membawahi tiga seksi yaitu Seksi Pelayanan Medis dan
Penunjang Medis, Seksi Sarana, Prasarana dan Logistik, dan Seksi
Keuangan.
5. Pembiayaan pelayanan pasien RSUD Kota Surakarta didapatkan dari
asuransi/ jaminan kesehatan dan pembayaran mandiri dari pasien umum.
Terdapat tiga jaminan kesehatan yang dilayani di RSUD Kota Surakarta
yaitu JKN/BPJS, PKMS (Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat Surakarta),
dan Jamkesda Kabupaten Karanganyar.
6. Di RSUD Surakarta dilakukan sistem rujukan berjenjang dalam
melakukan pelayanan kesehatan JKN atau PKMS.

37
B. Saran
1. RSUD Surakarta sebagai BLUD yang sudah mandiri dalam pengelolaan
pendapatan, perlu dilakukannya optimalisasi terutama pengobatan yang
efektif dari sisi biaya. Selain itu RSUD Kota Surakarta harus tetap
berpegang teguh pada visi untuk menjadi RS kebanggan Kota Surakarta
yang memiliki pelayanan yang bermutu sehingga sebagai BLUD, rumah
sakit tidak mencari keuntungan semata dari pasien.
2. RSUD Kota Surakarta harus selalu melakukan perkembangan demi
pelayanan kesehatan yang optimal dan bermutu, diantaranya adalah
dengan penambahan sumber daya manusia (baik PNS maupun non PNS)
dan penambahan sarana-prasarana penunjang baik medis maupun non-
medis.
3. Adanya masalah rujukan balik yang saat ini masih menjadi kendala
transfer pengetahuan antara pelayanan sekunder dengan pelayanan primer
hendaknya dilakukan secara optimal dalam era JKN ini.
4. Adanya masalah terkait pembiayaan RS seperti adanya kasus piutang rumah sakit
kepada beberapa pasien hendaknya bisa dibuat prosedur yang jelas dan tegas.

38
DAFTAR PUSTAKA

Alkatiri, A., et.al. (1997). Rumah Sakit Suatu Pemikiran Awal. P.T. Nimas
Multima. Jakarta

Azwar, Azrul. 1996. Pengantar Administrasi Kesehatan. Jakarta: Bina Rupa


Aksara

Depkes RI, 2009. Sistem Kesehatan Nasional. Jakarta.

Djuhaeni, Henni. 2009. Manajemen Pelayanan Medik di Rumah


Sakit.pustaka.unpad.ac.id

Handoko, T Hani, 1997, Manajemen, Edisi 2, BPFE, Yogyakarta

Hardjodisastro, Daldiyono. 2006. Menuju Seni Ilmu Kedokteran Bagaimana


Dokter Berpikir, Bekerja, Dan Menampilkan Diri. Jakarta: PT Gramedia
Pusaka Utama

Keputusan Menteri Kesehatan nomor 340 tentang Klasifikasi Rumah Sakit.

Keputusan Menteri Kesehatan No. 1165 tentang Pola tarif Rumah Sakit Badan
Layanan Umum

Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 1204/Menkes/SK/X/2004


tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit

Peraturan Menteri Kesehatan No.262 Tahun 1979

Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.


340/MENKES/PER/III/2010.

Peraturan Pemerintah No. 32 Tahun 1996.

Rustiyanto, Ery. 2010. Statistik Rumah Sakit untuk Pengambilan Keputusan.


Yogyakarta: Graha Ilmu

39
Sabarguna, Boy S. 2004. Decision Support System (DSS)/ Sistem Bantu
Keputusan (SBK). Yogyakarta: Konsorsium Rumah Sakit Islam

---. 2009. Kompetensi Manajemen Rumah Sakit. Jakarta : Sagung Seto.

Sabrguna, Boy S., Listiani, Henny. 2003. Organisasi Manajemen Rumah Sakit.
Yogyakarta: Konsorsium

Surat Keputusan Menkes No. 543/VI/1994.

Undang Undang No. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan.

Undang Undang N0.44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit.

Undang Undang No. 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit.

40