Anda di halaman 1dari 17

Persiapan sebelum operasi katarak

Persiapan operator
1. menguasai teknik operasi
2. perhatian terhadap detil dalam teknik operasi

Persiapan pasien
1. Informed Consent
- aspek medikolegal
- menciptakan hubungan dokter-pasien
- teknik dalam operasi segala kemungkinan, komplikasi, biaya, pengobatan.
- memberi informasi kepada pasien dan keluarga tentang perawatan sebelum
dan sesudah operasi
2. Evaluasi preoperatif
a. Status generalis kesehatan pasien
Perlu diketahui ada atau tidaknya penyakit yang menyertai terutama
diabetes mellitus, hipertensi, penyakit jantung, Penyakit Paru Obstruktif Kronik,
kelainan perdarahan atau supresi adrenal yang disebabkan oleh pemberian
kortikosteroid sistemik. Hal yang perlu diperhatikan adalah sensitivitas obat dan
penggunaan medikasi yang dapat mempengaruhi hasil postoperasi, seperti
pemberian imunosupresan dan antikoagulan. Dalam operasi untuk menghindari
terjadi komplikasi intraoperasi diameter pupil sebaiknya dilebarkan misalnya
dengan pemberian fenilefrin intracameral, insersi pengait iris dan penggunaaan
peralatan viscosurgical ophtalmica.

b. Riwayat kelainan okuler


Riwayat okuler akan membantu untuk mengidentifikasi kondisi-kondisi
yang dapat mempengaruhi pendekatan operasi dan prognosis visual. Trauma,
inflamasi, ambliopia, glaukoma, kelainan nervus optikus, kelainan pada retina,
dapat mempengaruhi visual outcome setelah pengangkatan katarak.

1
c. Riwayat sosial
Keputusan untuk dilakukannya operasi katarak tidak hanya dilakukan pada
keadaan tajam penglihatan pasien, tetapi juga didasarkan pada efek penurunan
tajam penglihatan tersebut terhadap kualitas hidup pasien.

Indikasi operasi katarak


Indikasi yang paling umum dari operasi katarak adalah keinginan pasien
untuk meningkatkan ketajaman penglihatannya. Operasi katarak harus ditentukan
melalui diskusi dengan pasien dan keluarganya, disamping melalui analisis tes.
Ketika pasien memiliki katarak pada kedua matanya, operasi dilakukan pada
katarak yang lebih berat. Indikasi umum pada operasi katarak monokular adalah
hilangnya kemampuan untuk melihat stereopsis, berkurangnya penglihatan perifer,
atau anisometropia simtomatik.

Indikasi lain adalah:


1. menganggu pekerjaan
2. rehabilitasi visus (terapeutik)
3. diagnosis segmen posterior
4. mencegah komplikasi seperti glaukoma, ambliopia,dan lain-lain
5. alasan kosmetik

Pemeriksaan sebelum operasi katarak:


Pemeriksaaan fungsi penglihatan
1. tes tajam penglihatan
2. refraksi. Berguna untuk merencanakan power IOL
3. brightness acuity
4. sensitivitas kontras
5. tes lapangan penglihatan. Bila terdapat hilang lapangan pandang akan menghalangi
kemajuan dari fungsi penglihatan setelah operasi.

2
Pemeriksaan luar
Evaluasi preoperatif katarak temasuk bentuk tubuh dan abnormalitas bagian mata luar
serta adneksa okuler. Lemak supraklavikula yang tebal, kifosis, obesitas, tremor kepala
mempengaruhi proses pembedahan. Enoftalmus dapat mempengaruhi pendekatan bedah
dan merubah rute anastesi. Infeksi dan peradangan seperti blefaritis harus diobati dulu
sebelum operasi dilakukan.
1. motilitas. Melihat dan menilai gerakan bola mata. Cover testing dapat dilakukan
untuk mendokumentasikan adanya deviasi dari otot.
2. pupil. Mengevaluasi refleks cahaya pupil. Menilai respon langsung dan konsensuil
pupil terhadap cahaya. Jika terdeteksi relative afferent pupillary defect
mengindikasikan adanya penyakit retina yang ekstensif atau disfungsi saraf optik.
Pada disfungsi saraf optik akan menghasilkan visual outcome yang terbatas setelah
operasi.

Pemeriksaan slit lamp


Menilai kondisi konjungtiva, misal adanya neovaskularisasi,sikatrik,simblefaron.
Kornea, ketebalan kornea, irregularitas membran descement, arcus senilis yang luas dan
kekeruhan stroma pada kornea dapat mempengaruhi pandangan pada tindakan bedah.
Bilik mata depan, menilai apakah dangkal atau dalam. Bilik mata yang dangkal mungkin
mengindikasikan sudut sempit, nanophtalmus, lensa intumesen, atau kelainan letak lensa-
iris ke arah depan karena adanya tumor pada bagian posterior, Bilik mata depan yang
dangkal dapat membuat operasi katarak menjadi sulit. Pada kelainan sudut, gonioskopi
diperlukan, begitu juga jika akan dilakukan pemasangan IOL pada bilik mata depan. Pada
iris, dilihat apakah ada kelainan-kelainan pada iris. Dilatasi pupil yang hanya sedikit dapat
membuat operasi katarak lebih sulit. Kemudian lensa, dapat mengetahui jenis katarak,
posisi lensa dan hal lain yang dibutuhkan. Lensa yang keras membutuhkan kekuatan phaco
yang lebih dibanding lensa yang lunak. Misalnya katarak nuklearis membutuhkan tenaga
yang lebih besar dibanding katarak kortikalis yang lebih lunak.

3
Evaluasi Fundus
1. oftalmoskopi. Mengevaluasi macula, saraf optik, pembuluh darah retina, perifer
retina. Untuk operasi, retina dalam keadaan baik. Pada degenerasi makula,
memungkinkan terbatasnya rehabilitasi visual setelah ekstraksi katarak.
2. saraf optik. Mengevaluasi cup, menunujukkan pucat atau ada abnormalitas yang
lain.
3. evaluasi fundus pada media yang keruh. Katarak yang padat dapat menghalangi
untuk melihat segmen posterior secara langsung. B- scan USG dapat digunakan
untuk menilai segmen posterior pada keadaan ini. USG dapat menilai retinal
detachment, kekeruhan vitreus, tumor pada segmen posterior, staphyloma. Dapat
juga dilakukan tes proyeksi sinar.

Tambahan:
1. Fungsi retina harus baik, yang diperiksa adalah tes
proyeksi sinar dimana retina disinari dari semua arah, arahnya harus dapat ditentukan
penderita dengan baik. Bila penderita tidak dapat memproyeksikan sinar dengan baik,
maka operasi tidak dilakukan karena tidak ada gunanya.
2. Tidak boleh ada infeksi pada mata dan jaringan
sekitarnya. Sebelum operasi katarak juga dilakuka tes anel. Jika tes anel (-) maka
operasi tidak dilakukan karena dapat terjadi infeksi.
3. Tidak boleh ada glaukoma (tekanan intraokuler
meningkat). Pada keadaan glaukoma, pembuluh darah retina menyesuiakan diri
dengan tensi okular yang tinggi. Jika dioperasi, pada waktu kornea dipotong, tensi
okular akan turun tiba-tiba, pembuluh darah pecah dan timbul perdarahan hebat. Dapat
juga terjadi prolaps isi bulbus okuli, seperti iris, badan kaca dan lensa.

Pemeriksaan pre-operasi
1. Keratometri
Untuk mengukur kelengkungan kornea. Kekuatan dioptri kornea sesuai
dengan kelengkungan kornea, dimana semakin tajam kelengkungan akan

4
memberikan dioptri yang lebih besar. Keratometer selalu mengukur power kornea
pada dua meridian, yaitu ukuran dioptri yang paling kuat dan paling lemah. Kedua
ukuran ini kemudian dirata-ratakan dan menjadi masukan untuk menentukan
power IOL dengan berbagai formula.
2. Biometri
Ada tiga faktor utama yang mementukan akurasi dari power IOL, yaitu:
1. panjang bola mata (axial length), dimensi anteroposterior mata dalam mm.
2. kurvatura kornea yang sekaligus menentukan power refraksi kornea (K
readings)
3. posisi IOL dalam mata
3. topografi kornea. Untuk mengetahui topografi dan kontur kornea.
4. pachimetri kornea. Untuk mengetahui ketebalan kornea dan menilai fungsi endotel.
5. specular microscopy. Menentukan jumlah sel per mm persegi pada endotel kornea,
karena operasi katarak dapat menyebabkan kehilangan dari sel-sel endotel.

Penyulit operasi katarak

*Perdarahan
Dapat terjadi pada saat insisi kornea. Lebih berbahaya pada perdarahan retrobulbar
waktu melakukan blocking dari ganglion ciliaris, sehingga bola mata terdesak ke
depan. Pada waktu kelopak mata dibuka, bola mata dapat melompat keluar. Harus
diuur tekanan bola mata sebab perdarahan dapat menyebabkan kenaikan tekanan bola
mata.

*Prolaps iris
Dapat terjadi pada waktu memasukkan keratom, sehingga iris tidakdapat
dimasukkan lagi. Pengobatannya iridektomi iris yang keluar dan reposisi iris dari
sisanya.

5
*Prolaps badan siliar
Ini akan menarik iris ke atas, sehingga pupil hilang tak terlihat. Sesudah operasi
pasien tidak dapat melihat karena pupil yang tertarik ke atas tertutup palpebra.
Pengobatan denganiridektomi bagian bawah agar dapat melihat lagi.

*Penyakit yang menyertai terutama diabetes mellitus, hipertensi, penyakit jantung,


PPOK, kelaianan perdarahan, arthritis atau supresi adrenal yang disebabkan oleh
pemberian kortikosteroid sistemik. Hal yang perlu diperhatikan adalah sensitivitas obat
dan penggunaan medikasi yang dapat mempengaruhi hasil postoperasi, seperti
pemberian imunosupresan dan antikoagulan.

* Pada mata, Trauma, inflamasi, radang kronik , glaukoma, dapat mempengaruhi


operasi katarak.

Faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas hasil operasi katarak.

1. Teknik operasi

# ICCE ( INTRACAPSULAR CATARACT EXTRACTION)

Jarang dilakukan lagi. Mengangkat lensa in toto, isi lensa dan kapsulnya. Melalui
insisi limbus superior 140 hingga 160 derajat.
Perkembangan mikroskop, sistem aspirasi yang lebih maju dan lensa intraokuler
mengakibatkan ECCE menggantikan ICCE.
Keuntungan:
1. mengeluarkan seluruh lensa, tanpa meninggalkan kapsul dibelakangnya yang dapat
menjadi keruh yang mengakibatkan operasi tambahan.
2. lebih sedikit instrumen yang digunakan, memungkinkan dikerjakan pada daerah
yang memiliki keterbatasan di seluruh dunia.

6
3. rehabilitasi visual biasanya dimungkinkan segera setelah operasi dengan
penglihatan temporer + 10 Dioptri
Kerugian:
1. penyembuhan yang lama
2. rehabilitasi visual yang lama
3. menginduksi astigmatisma secara signifikan
4. iris inkarserata
5. luka post-operatif mengalami kebocoran
6. vitreus inkarserata

Indikasi
- Pada negara dengan peralatan yang terbatas
- Katarak unstable, intumesen, hipermatur, dan luksasi lensa

Kontraindikasi:
- Kontraindikasi absolut antara lain katarak pada anak-anak,
dewasa muda dan kasus traumatik ruptur kapsular.
- Kontraindikasi relatif antara lain miopi tinggi, sindrom
marfan, katarak morgagni, dan vitreus di bilik mata depan.

# ECCE ( EXTRACAPSULAR CATARACT EXTRACTION)

Mengangkat isi lensa dengan meninggalkan kapsul posterior. Dilakukan dengan


insisi limbus superior, bagian anterior kapsul dipotong dan diangkat, nukleus
diekstraksi dan korteks lensa dibuang dari mata dengan irigasi dengan atau tanpa
aspirasi, sehingga menyisakan kapsul posterior. Pemilihan teknik ini tergantung
ketersediaan instrumen, pengalaman ahli bedah, kepadatan nukleus.
Keuntungan:

7
1-trauma lebih sedikit pada endotel kornea
2-berhubungan dengan astigmatisma yang lebih sedikit
3-lebih stabil dan luka lebih aman
4-kapsul posterior yang intak;
- menurunkan resiko kehilangan vitreus intraoperatif
- posisi anatomi yang lebih baik untuk fiksasi IOL
- mengurangi mobilitas iris dan vitreus
- mencegah pertukaran molekul antara aqueus dan vitreus
- mengurangi akses bakteri ke vitreus
Implantasi IOL, filtrasi bedah, transplantasi kornea, dan perbaikan luka lebih mudah
dan aman jika kapsul posterior intak.

Kontraindikasi:
Zonular insufficient

SMALL INSICION MANUAL CATARACT SURGERY


Prosedur ini cepat dan komplokasinya rendah, dapat dilakukan pada katarak yang
padat. Kerugian utama karena disekeliling tepi IOL PMMA yang digunakan sering
terjadi PCO.
Teknik:
membuat terowongan partial thickness pada sclera kemudian menembus BMD
kapsuloreksis
hidrodiseksi dan delineation sehingga nukleus prolaps ke BMD
glide dimasukkan ke BMD, nukleus dikeluarkan
epinukleus dan sisa korteks diaspirasi dengan kanula simcoe
IOL dimasukkan

8
# PHACOEMULSIFICATION.

Adalah teknik ekstrakapsuler yang menggunakan getaran ultrasound untuk


memotong nukleus menjadi fragmen-fragmen dan mengemulsi fragmen tersebut.
Teknik ini juga digunakan ahli bedah sebagai sistem aspirasi otomatis terkontrol untuk
memindahkan material korteks melalui jarum kecil yang dImasukkan melalui insisi
yang sangat kecil. Phacoemulsifikasi menghasilkan insiden komplikasi dalam jumlah
kecil berhubungan dengan luka, penyembuhan yang cepat, dan rehabilitasi visual
lebih tajam dibanding prosedur dengan insisi yang luas. Teknik ini juga menghasilkan
sistem yang relatif tertutup selama phacoemulsifikasi dan aspirasi, dimana mengontrol
kedalaman bilik mata depan dan mencegah tekanan pada vitreus dan perdarahan
koroid.
Beberapa keuntungan fakoemulsifikasi adalah:
1. tercapainya visus terbaik tanpa koreksi kacamata, salah satunya dengan sayatan
sekecil mungkin untuk mencegah induksi astigmatismae selama operasi.
2. waktu pengerjaan dan penyembuhan yang singkat
3. menggunakan teknik operasi yang paling aman
4. anastesi cukup tetes topikal saja
Pada teknik-teknik operasi, keahlian operator dan ketersediaan alat sangat
menentukan hasil dari operasi katarak.

2. Lensa
Kepadatan lensa dan letak lensa mempengaruhi operasi.
Lensa Intraokular
Jenis IOL saat ini terbagi 2 yaitu anterior chamber dan posterior chamber. Anterior
chamber sudah jarang digunakan lagi. Materi IOL ada 2 komponen yaitu optik dan haptik.
Jika materi komponen IOL optik dan haptik terdiri dari komponen yang sama disebut one-
piece IOL, jika berbeda disebut three-piece IOL.

9
- Posisi
IOL terdiri atas optik (elemen refraksi sentral) dan hapti, diletakkan kontak dengan
struktur dari mata ( kapsul, sulcus siliaris atau sudut bilik mata depan) dimana akan
memberikan posisi yang stabil dan optimal dari optik. IOL pada bilik mata belakang haptic
pada sulcus siliaris, IOL di bilik mata depan, haptic pada sudut bilik mata depan.

Ada 3 jenis materi komponen optik yang digunakan yaitu:


1.acrylic. Merupakan polimer ester methacrylic acid, dibagi menjadi rigid (keras) dan
fleksibel. Tipe keras menggunakan PMMA (polymethylmethacrylate) bersifat kaku dan
hidrofobik. Bahan hidrofobik menyebabkan mudah menempelnya sel-sel radang dan
mikroorganisme pada permukaan optik lensa. Bahan acrylic fleksibel digunakan untuk
IOL foldable (lipat).
2.silikon. Polimer dari polyorganosiloxane, bersifat lentur. Keuntungan dari lensa
silikon karena berbentuk seperti flat, hingga memungkinkan lensa untuk digulung dan
diimplantasi dalam injektor.
3.hydrogel. berasal dari polimer atau kopolimer methacrylate, tetepi ada tambahan gugus
hidroksil. Lensa hidrogel umumnya mempunyai kandungan air yang cukup sehingga
bersifat cukup lunak dan dapat dilipat. Karena bersifat hidrofilik, mempunyai
biokompabilitas yang tinggi dibanding materi IOL lainnya, sehingga menurunkan
resiko inflamasi pasca operasi, sel radang maupun mikroorganisme sulit menempel
pada permukaan optik.

Komponen haptik terbagu 4 jenis:


1. nylon. Mudah mengalami hidrolisis sehingga tidak dgunakan lagi
2. prolene. Sifat elastis dan tahan daya regang tinggi. Bahan ini tahan terhadap
biodegradasi sehingga banyak digunakan untuk haptik.
3. PMMA. Sama bahannya dengan komponen optik, sehingga tidak terdapat celah
sambungan tempat berkumpulnya sel-sel radang.
4. polyimide. Tahan terhadap sterilisasi panas, tetapi jarang dipakai.

10
- Desain
1. IOL Rigid
Rigid IOL memerlukan insisi yang lebih luas daripada diameter optik.. Dibuat dari
PMMA digunakan secara umum pada negara berkembang karena murah.
2. IOL fleksibel
Dapat dipasang dengan forsep, dimasukkan ke dalam sistem injeksi atau pembawa,
dan dimasukkan dengan insisi yang kecil.
a. IOL silikon. Posterior capsular opafication/kekeruhan kapsul posterior
(PCO) lebih rendah daripada PMMA. Three-piece loops dan one piece
plate haptic.
b. IOL acrylic. Hidrofobik dan hidrofilik. IOL acrylic hidrofobik dengan
pinggir optik yang tajam menghambat PCO. Material hidrofobik memiliki
indeks refraksi yang lebih tinggi daripada hidrofilik dan lebih tipis.
c. IOL hydrogel mirip dengan hidrofilik acrylic IOL tetapi memiliki
kandungan air lebih tinggi dan cenderung memiliki insiden PCO lebih
tinggi.
3. multifokal IOL untuk penglihatan yang terang pada jarak yang berbeda.

3. Viskoelastis
Merupakan suatu larutan yang kental dan tidak toksik bagi jaringan intraokular.
Viskoelastik sangat berguna untuk membantu melindungi endotel kornea dari trauma
operasi, getaran ultrasound maupun energi panas yang dihasilkannya, efek turbulensi
cairan, sekaligus memberi kedalaman pada bilik mata depan, sehingga memudahkan
manuver instrumen operasi saat melakukan operasi.
Materi viskoelastis
a. Sodium hyaluronate (NaHA)
Merupakan molekul polisakarida dengan berat molekul 50.000 Da (Dalton)
dan panjang rantai molekul 10.000 nm. Di dalam mata ditemukan dalam kadar
yang cukup tinggi pada jaringan trabekulum, juga terdapat dalam kadar yang lebih

11
rendah dalam akuos humor dan endotel kornea. NaHA tidak dimetabolisme di mata
sehingga harus dikeluarkan setelah operasi katarak. Sisa larutan yang tertinggal di
dalam mata akan dikeluarkan lewat jaringan trrabekulum, tetapi jika terlalu banyak
akan meningkatkan tekanan intraokuler pasca operasi katarak. NaHA tidak boleh
juga disterilisasi dengan autoclave karena akan merusak struktur molekulnya dan
meningkatkan PH larutan tersebut sehingga bersifat toksik bagi endotel kornea.
Contoh produknya adalah Healon®, Amvisc®, Microvisc®, Viscoat®, dan lain-
lain
b. Methylcellulose
Methylcellulose dan turunannya hydroxypropil methylcellulose (HPMC)
merupakan molekul glukosa rantai panjang. HPMC mempunyai sifat lebih
hidrofilik dibanding methylcellulose sehingga lebih sering digunakan sebagai
materi viskoelastis. Berat molekul HPMC adalah 85.000 Da, sehingga
membutuhkan kanula dan tekanan yang lebih besar untuk melakukan injeksi
dibanding NaHA. HPMC bersifat dispersif sehingga cukup baik untuk melindungi
endotel kornea, harganya lebih murah dibanding NaHA, boleh dismpan dalam suhu
kamar dan dapat disterilisasi ulang dengan autoclave. Beberapa produk yang
menggunakan HPMC adalah Occucoat®, Cellugel®, Hymecel®, Visilon®, dan
lain-lain.
c. Chondroitin sulfate
Mengandung bahan dasar proteoglikan dengan berat molekul 20.000 Da
dan panjang rantai molekul 50 nm. Viskositas CDS yang rendah membuatnya
sangat mudah dikeluarkan melalui jaringan trabekulum jika tertinggal dalam
jaringan mata pasca operasi katarak. CDS yang digunakan berasal dari tilang
rawan sirip ikan hiu. Penggunaan CDS tidak berdiri sendiri tetapi selalu sebagai
bahan yang ditambahkan dalam NaHA, karena sifatnya yang dispersif akan sangat
membantu melindungi endotel kornea.

12
Steve Arshinoff membagi berbagai jenis viskoelastik menjadi 2 kategori
umum, yaitu: Cohesive High Viscosity dan Dispersive Low Viscosity
1. Cohesive High Viscosity
Termasuk dalam kelompok ini adalah yang mengandung berat molekul yang
tinggi dan konsentrasi yang tinggi pula. Seperti Healon GV®, Healon5® dan
Microvisc®. Karena mempunyai viskositas yang sangat tinggi maka jenis ini
bermanfaat untuk melakukan kapsuloreksis paada katarak matur, melebarkan
pupil jika diameter pupil kurang lebar, mempertahankan bilik mata depan
terutama pada penderita hiperopia.
2. Dispersive Low Viscosity
Paling baik untuk melindungi endotel kornea karena ikatan antar molekulnya
tidak erat dan dengan viskositas yang rendah akan memudahkan penyebaran
serta berfungsi seperti lapisan pada permukaaan endotel kornea. Produknya
Viscoat®, Occucoat®, dan lain-lain.

4. Akurasi perhitungan IOL


Kalkulasi Power IOL
Keratometri
Untuk mengukur kelengkungan kornea. Kekuatan dioptri kornea sesuai
dengan kelengkungan kornea, dimana semakin tajam kelengkungan akan
memberikan dioptri yang lebih besar. Keratometer selalu mengukur power kornea
pada dua meridian, yaitu ukuran dioptri yang paling kuat dan paling lemah. Kedua
ukuran ini kemudian dirata-ratakan dan menjadi masukan untuk menentukan
power IOL dengan berbagai formula.

Biometri
Ada tiga faktor utama yang mementukan akurasi dari power IOL, yaitu:
1. panjang bola mata (axial length), dimensi anteroposterior mata dalam mm.
2. kurvatura kornea yang sekaligus menentukan power refraksi kornea (K
readings)

13
3. posisi IOL dalam mata
Prinsip pengukuran panjang bola mata dengan alat ultrasound adalh
berdasarkan waktu yang diperlukan oleh gelombang ultrasound saat dikeluarkan
dari probe transmitter, berjalan menuju target serta kembali menuju probe receiver,
dimana keduanya disatukan pada probe ultrasound sehingga disebut transciever.
Berbagai formulasi IOL berasumsi bahwa IOL akan ditempatkan di dalam
Kapsul lensa (in the Bag), maka jika IOL ditempatkan bukan di dalam kapsul
lensa, power IOL yang digunakan harus disesuaikan. Posisi IOL ini walaupun
diletakkan di dalam kapsul lensa tetap saja sulit dipresiksi karena dipengaruhi oleh
faktor lain seperti axial length, kedalaman bilik praoperasi, ketebalan lensa,
diameter kornea, dan lain-lain.

Formula IOL
Formulasi IOL pada awalnya dibagi menjadi dua kelompok yaitu:
-Theoretical formula
-Empirical formula
Formulasi IOL yang paling mutakhir merupakan gabungan dari dua formula
tersebut yang disebut hybrid formula.
Formula perhitungan kekuatan IOL. Sejumlah formula, menggabungkan
parameter tambahan seperti kedalaman bilik mata depan dan faktor bedah
individual, yang dikembangkan demi keakuratan prediksi preoperatif.
Salah satu formula perhitungan IOL

P = A - 2.5L - 0.9K
P = power IOL (D)
A = konstanta spesifik IOL (diperoleh dari penelitian terhadap berbagai jenis IOL)
L = Axial length
K = rata-rata Keratometri (D)

14
Perawatan pasca bedah katarak
Yang harus diperhatikan adalah:
1. Visus atau tajam penglihatan. Apakah ada kemajuan tajam penglihatan atau tidak
ada.
2. Tekanan intraokular. Tekanan intraokular bisa meningkat karena adanya sel radang
yang terbentuk sebagai reaksi inflamasi terhadap trauma atau manipulasi operasi.
3. Apakah ada tanda-tanda infeksi. Infeksi dapat terjadi setelah operasi katarak, nyeri
pada bola mata,adanya sekret yang banyak, bengkak.
4. Luka dan jahitan. Dinilai apakah jahitannya baik, bisa saja jahitannya putus.
Astigmatisma dapat juga terjadi karena jahitan yang terlalu kencang
5. Nilai apakah ada komplikasi operasi katarak seperti edema kornea, lepasnya
membran descement, astigmatisma, pendangkalan COA, iridodialisis,siklodialisis,
glaukoma bliok siliar, uveitis kronik prolaps vitreus, ablasio retina, perdarahan,
kekeruhan kapsul dan kontraksi dan lain-lain.

Perawatan pasca operasi

Jika digunakan teknik insisi kecil, masa penyembuhan lebih pendek. Pasien dapat
rawat jalan pada hari itu juga. Tetapi harus hati-hati, pasien harus menghindari peregangan
atau mengangkat benda berat selama 1 bulan. Mata dibalut selama beberapa hari, tetapi
jika merasa nyaman dapat dibuka. Mata dilindungi dengan kacamata atau dengan
perlindungan seharian. Jika malam dengan pelindung logam selama beberapa minggu.
Kacamata sementara dapat digunakan beberapa hari setelah operasi, tetapi biasanya cukup
baik dengan lensa intraokuler sambil menunggu kacamata permanen.

Perawatan setelah pembedahan katarak


- pada pasien tertentu, dokter menganjurkan untuk dirawat di
rumah sakit selama 1-3 hari
- sesudah pembedahan dan obat bius hilang, mata akan terasa
berat.

15
Perawatan setelah bedah katarak
§ Obat pengurang rasa sakit
§ Antibiotik baik injeksi subkonjungtiva, tetes mata atau salep mata + steroid tetes mata
§ Mata ditutup

Hal-hal yang perlu diketahui untuk perawatan dirumah setelah pembedahan/Operasi :

§ Hal yang perlu dilakukan


1 Menjaga kebersihan mata dengan hati-hati menggunakan kapas basah yang lembut
2 Hindari batuk yang keras dan kenali gejala URI (upper respiratori infection)
3 Memakai dan meneteskan obat seperti yang dianjurkan.
4 Pakai penutup mata seperti yang
dinasehatkan.
5 Melakukan pekerjaan yang tidak berat.
6 Jangan membungkuk saat pakai tali sepatu, kaki diangkat kebangku

§ Hal-hal yang tidak boleh dilakukan.

1 Jangan menggosok mata.


2 Jangan membungkuk terlalu dalam.
3 Jangan membaca berlebihan dari pada biasanya.
4 Jangan mengedan terlalu keras pada saat buang air besar
5 Jangan berbaring kesisi mata yang baru di bedah/dioperasi
6 Jangan mengosok gigi pada minggu pertama.
7 Mencoba mencuci mulut saja.

Berapa lama setelah di operasi ditutup atau dibebat:

§ Lamanya 1 minggu, sementara setelah dibebat dan pada saat dibuka mata akan tetap
merasa pedas atau silau yang ringan.

16
Sumber

1. American Academy of Opthalmology. Lens and Cataract. Section 11. San Fransisco:
MD Association, 2005-2006
2. American Academy of Opthalmology. Lens and Cataract. Section 11. San Fransisco:
MD Association, 2008-2009
3. Kanski, Jack J. Clinical Ophthalmology. Sixth edition. Philadelpia, USA: Butterworth
Heinemann Elsevier, 2007
4. Vaughan DG, Asbury T, Riordan Eva P. Oftalmologi Umum. Edisi 14. Jakarta: Widya
Medika, 2000.
5. Ilyas, Sidarta. Ilmu Penyakit Mata. Edisi Kedua. Jakarta : Balai Penerbit FKUI, 2003
6. Ilyas, Sidarta. Penuntun Ilmu Penyakit Mata. Edisi Ketiga. Balai Penerbit FKUI,
Jakarta: 2005.
7. Ilyas, Sidarta. Ilmu Perawatan Mata. Jakarta: CV. Sagung Seto, 2004.
8. Soekardi, Istiantoro. Transisi Menuju Fakoemulsifikasi.
9. Prosedur Standar Diagnostik dan Pegobatan/Tindakan. Bagian Mata Ilmu Penyakit
Mata FKUI/RSCM. Jakarta: 2000.

17

Anda mungkin juga menyukai