Anda di halaman 1dari 11

Pengertian Subsequent Event

Bagian ketiga dari penyelesaian audit adalah review terhadap peristiwa kemudian
( Subsequent Event ). Auditor bertanggung jawab untuk mereview transaksi dan kejadian
yang terjadi setelah tanggal neraca untuk menetapkan apakah ada sesuatu yang terjadi yang
dapat mempengaruhi penilaian atau pengukapan laporan yang diaudit.

Subsequent Event adalah peristiwa atau transaksi yang terjadi setelah tanggal neraca tetapi
sebelum diterbitkannya laporan audit, yang mempunyai akibat yang material terhadap
laporan keuangan, sehingga memerlukan penyesuaian atau pengungkapan dalam laporan
tersebut. (Sukrisno,1996:133)

B. Jenis Subsequent Event Terdapat dua jenis peristiwa kemudian (subsequent event yang
memerlukan pertimbangan manajemen dan evaluasi auditor (PSA No.46) :

a. Peristiwa kemudian yang mempunyai dampak langsung terhadap laporan keuangan dan
memerlukan penyesuaia

b. Peristiwa kemudian yang tidak mempunyai dampak langsung terhadap laporan keuangan
tetapi memerlukan pengungkapan.

Menurut Sukrisno Agoes (2004:138), subsequent event yang harus di audit oleh akuntan
publik adalah:

1. Subsequent Collection

Penagihan sesudah tanggal neraca, sampai mendekati selesainya pekerjaan lapangan/audit


field work, dan dilaksanakan dalam pemeriksaan piutang, dan barang dalam perjalanan

2. Subsequent Payment

Pembayaran sesudah tanggal neraca sampai mendekati selesainya audit field work, dan
dilaksanakan pada saat pemeriksaan hutang dan biaya yang masih harus dibayar.

1. Peristiwa yang memberikan tambahan bukti yang berhubungan dengan kondisi yang ada
pada tanggal laporan posisi keuangan ( neraca ) dan berdampak terhadap taksiran yang
melekat dalam proses penyusunan laporan keuangan.
Laporan keuangan harus disesuaikan untuk setiap perubahan estimasi sebagai akibat dari
penggunaan bukti tambahan tersebut.
Contoh : kerugian sebagai akibat tidak tertagihnya piutang kepada pelanggan yang menuju
kebangkrutan setelah tanggal laporan posisi keuangan ( neraca ) merupakan indikasi keadaan
yang ada pada tanggal laporan posisi keuangan ( neraca ), oleh karena itu laporan keuangan
harus disesuiakan sebelum diterbitkan.
Dilain pihak , kerugian yang sama tetapi diakibatkan karena pelanggan mengalami
kebangkrutan karena kebakaran atau banjir setelah tanggal laporan posisi keuangan
( neraca ), bukan merupakan kondisi yang ada pada tanggal laporan posisi keuangan
( neraca ), sehingga laporan keuangan tidak perlu disesuikan.
Penyelesaian tuntutan hukum yang jumlahnya berbeda dengan jumlah utang yang sudah
dicatat membutuhkan penyesuain laporan keuangan jika peristiwa yang menyebabkan
timbulnya tuuntutan tersebut telah terjadi atau ada sebelum tanggal laporan posisi keuangan
( neraca ).
2. Peristiwa – peristiwa yang menyediakan tambahan bukti yang berhubungan dengan
kondisi yang tidak ada pada tanggal laporan posisi keuangan ( neraca ) , namun kondisi
tersebut ada sesudah tanggal laporan posisi keuangan ( neraca ).
3. Peristiwa – peristiwa yang menyediakan tambahan bukti yang berhubungan dengan
kondisi yang tidak ada pada tanggal laporan posisi keuangan ( neraca ), namun kondisi
tersebut ada sesudah tanggal laporan posisi keuangan ( neraca ).
Peristiwa – peristiwa tersebut tidak memerlukan penyesuaian terhadap laporan keuangan.
Namun beberapa peristiwa mungkin memerlukan pengungkapan agar laporan keuangan tidak
menyesatkan pembacanya.
Contoh :
 Penjualan obligasi atau penerbitan saham baru
 Pembelian bisnis
 Terjadinya tuntunan hukum yang disebabkan oleh peristiwa yang terjadi sesudah tanggal
laporan posisi keuangan ( neraca )
 Kerugian asset tetap atau persediaan yang diakibatkan oleh kabakaran atau,
 Kerugian yang diakibatakan oleh kondisi ( seperti penyebab utama kebangkrutan
pelanggan ) yang timbul setelah tanggal laporan posisi keuangan ( neraca ).

a. Peristiwa kemudian yang mempunyai dampak langsung terhadap laporan keuangan


dan memerlukan penyesuaian

Beberapa peristiwa yang muncul setelah tanggal neraca menyediakan informasi tambahan
terhadap manajemen yang membantu mereka menentukan penyajian yang wajar dari saldo
akun pada tanggal neraca. Informasi mengenai peristiwa tersebut membantu auditor dalam
memverifikasi saldo. Laporan keuangan harus disesuaikan untuk setiap perubahan estimasi
sebagai akibat dari penggunaan bukti tambahan tersebut.

PCAOB Standard 2 mengharuskan auditor perusahaan publik untuk mengajukan petanyaan


mengenai dan mempetimbangkan setiap informasi mengenai peristiwa kemudian yang secara
material mempengaruhi efektivitas pengendalian internal terhadap pelaporan keuangan pada
akhir periode fiskal. Jika auditor menyimpulkan bahwa peristiwa merefleksikan kelemahan
yang material terjadi pada akhir tahun, mereka harus memberikan pendapa tidak wajar atas
pengendalian internal terhadap pelaporan keuangan. Jika mereka tidak mampu atas
menentukan dampak dari peristiwa kemmudian terhadap efektivitas pengendalian internal,
mereka harus menolak memberikan pendapat terhadap pengendaliaan internal.

b. Peristiwa kemudian yang tidak mempunyai dampak langsung terhadap laporan


keuangan tetapi memerlukan pengungkapan

Peristiwa kemudian jenis ini menyediakan bukti dari kondisi yang tidak ada pada tanggal
neraca dilaporkan tetapi sangat signifikan sehingga peristiwa ini memerlukan pengukapan
walau tidak memerlukan penyesuain akun. Pada umumnya, peristiwa tersebut dapat
diungkapkan secara memadai dengan menggunakan catatan kaki, akan tetapi kadang-kadang,
suatu peristiwa mungkin sedemikian signifikan sehingga memerlukan pengungkapan dalam
laporan keuangan tambahan

yang memasukkan dampak dari peristiwa seperti jika peristiwa tersebut muncul pada tanggal
neraca. Contohnya adalah merger yang sangat material.

C. Tujuan Pemeriksaan Subsequent Events

Subsequent event harus dilakukan pemeriksaan dengan tujuan:

1. Menentukan keberadaan kejadian penting sesudah tanggal neraca yang membutuhkan


penyesuaian terhadap laporan keuangan atau memerlukan pengungkapan dalam catatan atas
laporan keuangan agar tidak menyesatkan pengguna laporan keuangan

2. Menentukan kemungkinan tertagihnya piutang

3. Memastikan bahwa “barang dalam perjalanan” yang tercantum di neraca per tanggal
neraca, masih di perjalanan

Saat membayar uang muka pembelian (L/C) perusahaan mencatat:

Barang dagang dalam


Xxx
perjalanan
Kas xxx

Saat penerimaan barang sebelum tanggal neraca, perusahaan mencatat:

Persediaan Xxx
Hutang dagang xxx

Akibatnya per tanggal neraca tetap terlihat saldo barang dalam perjalanan dan terjadi dua kali
pencatatan hutang dagang :

Persediaan Xxx
Barang dalam perjalanan xxx
4. Untuk memastikan kewajiban dan beban yang masih harus dibayar yang tercantum di
neraca per tanggal neraca, merupakan kewajiban perusahaan yang akan dilunasi pada saat
jatuh temponya (sesudah tanggal neraca)

5. Memastikan bahwa tidak ada kewajiban perusahaan yang belum dicatat per tanggal neraca

1. Prosedur Pemeriksaan Subsequent Event

Prosedur pemeriksaan subsequent event terdiri dari beberapa langkah, yakni:

1. Periksa pengeluaran dan penerimaan kas sesudah tanggal neraca, sampai mendekati
tanggal selesainya audit field work,
2. Periksa bukti pengeluaran dan penerimaan barang sesudah tanggal neraca, sampai
mendekati tanggal selesainya audit field work,
3. Periksa cut-off pembelian dan penjualan,
4. Review laporan keuangan interim untuk periode sesudah tanggal neraca,
5. Minta copy notulen rapat direksi, dewan komisaris, pemegang saham, periksa apakah
ada commitment dari perusahaan yang baru dipenuhi pada periode sesudah tanggal
neraca,
6. Lakukan tanya jawab dengan pejabat perusahaan yang berwenang, mengenai:
1. Ada/tidaknya contingent liabilities
2. Ada/tidaknya perubahan dalam modal saham, kewajiban jangka panjang atau
kredit modal kerja dalam periode sesudah tanggal neraca
3. Ada/tidaknya kejadian penting sesudah tanggal neraca yang memerlukan
adjustment terhadap laporan keuangan atau penjelasan catatan laporan
keuangan
7. Kirim konfirmasi ke penasihat hukum perusahaan,
8. Analisa perkiraan profesional fees,
9. Dapatkan surat representasi klien (client representation letter)

2. Penyelesaian Pemeriksaan Akuntan

Beberapa hal yang harus dilakukan akuntan publik, sebelum suatu pemeriksaan akuntan
dinyatakan selesai:

1. Seluruh kertas kerja pemeriksaan harus diparaf oleh pembuatnya dan direview oleh
atasannya.
2. Hasil review harus didokumentasikan dalam suatu review notes dan harus dijawab
oleh staf yang direview (reviewee) secara tertulis
3. Daftar audit adjustment harus disusun, lengkap dengan index working papernya,
diskusikan dengan klien
4. Audit adjustment yang sudah disetujui klien harus diposting ke masing-masing kertas
kerja yang berkaitan
5. Draft report disusun oleh auditor in-charge (pimpinan tim audit), direview oleh audit
manager dan audit partner
6. Sebelum kertas kerja pemeriksaan dan draft report di review oleh audit manager dan
audit partner, maka audit supervisor harus menyusun notes to PPM (catatan untuk
Partner, Principal dan Manager)
7. Setelah draft report direview dan disetujui PPM, diskusikan dengan klien. Jika klien
setuju, buat final audit report.
8. Sebelum laporan audit diserahkan kepada klien, auditor harus meminta Surat
Pernyataan Langganan dari klien. Tanggal surat harus sama dengan tanggal selesainya
audit field work dan tanggal laporan audit.
9. Auditor membuat draft management letter, setelah direview dan disetujui PPM,
diskusikan dengan klien. Klien setuju, buat management letter final untuk klien
10. tahap akhir, selesaikan urusan pelunasan audit fee (ditambah 10% PPN, dikurangi PPh
23 7,5%)
11. Dalam audit working papers, cantumkan “catatan untuk audit tahun berikutnya”.
12. Opini yang diberikan, tergantung hasil pemeriksaan
13. Dalam mereview kertas kerja pemeriksaan, KAP sebaiknya mempunyai daftar “Audit
Working Papers Review Guide”

Peristiwa kemudian yang memerlukan adjustment terhadap laporan keuangan klien


dibagi menjadi dua golongan:

Peristiwa kemudian yang memerlukan adjustment terhadap laporan keuangan


klien.
Peristiwa atau transaksi ini memberikan informasi tambahan bagi manajemen untuk
menentukan saldo akun penilaian (misalnya akun Cadangan Kerugian Piutang) pada
tanggal neraca dan juga kepada auditor dalam memverifikasi saldo akun tersebut. Sebagai
contoh, auditor menghadapi kesulitan dalam menentukan penilaian yang wajar terhadap
sediaan karena terjadinya keusangan dalam kondisi sediaan tersebut. Penjualan sediaan
tersebut sebagai barang rongsokan dalam periode setelah tanggal neraca dapat dipakai
oleh auditor sebagai dasar untuk menentukan nilai yang wajar bagi sediaan tersebut pada
tanggal neraca. Nilai jual rongsokan yang diketahui oleh auditor setelah tanggal neraca
tersebut dipakai oleh auditor untuk membuat jurnal adjusment yang diusulkan kepada klien
sebagai nilai sediaan tersebut di dalam catatan dan laporan keuangan klien.

Contoh peristiwa kemudian yang memerlukan adjustment terhadap laporan keuangan klien:

Pengumuman kebangkrutan debitur klien karena terjadinya kesulitan keuangan debitur


tersebut, yang jumlah piutang kepada debitur tersebut melebihi jumlah cadangan
kerugian piutang yang telah dibentuk oleh klien.
Penyelesaian perkara pengadilan yang jumlahnya berbeda dengan jumlah yang telah
dicatat di dalam buku klien.
Penjualan ekuipmen yang sudah tidak dipakai lagi dalam kegiatan usaha klien, dengan
harga dibawah nilai bukunya kini.
Penjualan surat berharga pada harga yang lebih rendah daripada kos yang dicatat di
dalam buku klien.

Peristiwa kemudian yang tidak memerlukan adjustment terhadap laporan


keuangan klien, namun perlu dicantumkan penjelasan untuk itu.
Peristiwa kemudian yang tidak berdampak langsung terhadap laporan keuangan
klien, namun perlu dicantumkan penjelasan untuk itu. Penyebab terjadinya peristiwa
kemudian dalam golongan ini tidak ada sebuah tanggal neraca,tetapi peristiwa ini sangat
penting sehingga memerlukan penjelasan, meskipun tidak memerlukan adjustment terhadap
laporan keuangan klien. Umumnya peristiwa kemudian ini sudah cukup jika dijelaskan dalam
catatan kaki, tetapi kadang-kadang peristiwa ini sangat penting artinya sehingga
memerlukan tambahan penjelasan riwayat terjadinya dan pernyataan akibat peristiwa ini
seandainya terjadi pada tanggal neraca.

Contoh peristiwa kemudian yang tidak memerlukan adjustment terhadap laporan keuangan
klien, namun perlu dicantumkan penjelasan untuk itu, misalnya sebagai catatan kaki atau
penjelasan di dalam laporan audit:

Penurunan harga pasar surat berharga yang dimiliki klien sebagai investasi sementara.
Pengeluaran obligasi atau saham.
Penyelesaian perkara pengadilan yang peristiwa penyebabnya terjadi setelah tanggal
neraca.
Penurunan nilai pasar persediaan sebagai akibat larangan pemerintah terhadap
penjualan suatu produk.
Kerugian akibat terbakarnya sediaan yang tidak diasuransikan.
Akun yang Terpengaruh Peristiwa Kemudian

Kas Bank klien bangkrut.

Keputusan pengadilan yang menyita data klien.

Perampokan, pencurian dan penggelapan kas yang


jumlahnya melebihi ganti rugi yang diterima dari
perusahaan asuransi.

Piutang Usaha Kegagalan, penagihan piutang usaha kepada sebagian


besar pelanggan yang tidak diperkiraka sebelumnya.

Investasi Penurunan drastis harga pasar surat berharga.

Kesulitan keuangan yang dialami oleh perusahaan yang


mengeluarkan surat berharga yang dimiliki oleh klien
sebagai investasi.

Kegagalan pembayaran bunga dan pokok pinjaman oleh


perusahaan yang mengeluarkan obligasi.
Akun yang Terpengaruh Peristiwa Kemudian

Penjualan surat berharga pada harga yang jauh diatas


atau di bawah kosnya.

Sediaan Kerugian karena kebakaran atau bencana alam yang


lain, yang tidak diasuransikan.

Kenaikan atau penurunan drastis harga pasar sediaan.

Perubahan metode penentuan harga sediaan.

Penggunaan sediaan yang bersifat luar biasa sebagai


jaminan penarikan kredit.

Aktiva Tetap Kerugian karena kebakaran atau bencana alam yang


lain, yang tidak diasuransikan.

Rencana perluasan usaha atau pengurangan dana.

Penilaian aktiva tetap.

Keusangan aktiva tetap karena perubahan yang


mendadak pada permintaan atau produk yang dihasilkan.

Utang Lancar Komitmen pembeliaan yang bersifat luar biasa, yang


disertai dengan penurunan harga jual barang dagangan.

Pembatalan kontrak pembelian.

Kegagalan dalam pemabayaran utang wesel.

Utang Jangka Panjang Kenaikan yang besar dalam utang jangka panjang.

Kegagalan dalam membayar bunga dan pokok pinjaman.

Modal Saham Kenaikan atau penurunan jumlah lembar saham yang


beredar.

Transaksi pembelian saham sebagai treasury treasury


stock yang bersifat luar biasa.

Reorganisasi struktur modal saham.

Pengubahan utang obligasi menjadi saham biasa.

Perubahan bentuk badan usaha, misalnya dari badan


usaha berbentuk persekutuan (CV atau Firma) menjadi
perseroan terbatas (PT) atau sebaliknya.

Saldo Laba (Retained Pembagian dividen yang bersifat luar biasa, yang
Earnings) mengganggu modal kerja.

Penyisihan saldo laba yang bersifat luar biasa.


Akun yang Terpengaruh Peristiwa Kemudian

Laba atau rugi yang jumlahnya material, yang dikreditkan


atau didebitkan langsung kedalam saldo laba.

Unsur lain Perubahan pimpinan puncak.

Perubahan kebijakan manajemen.

Perubahan undang-undang.

Tambahan pengenaan pajak atau penerimaan


penggantian pajak (tax refund) yang bersifat luar biasa.

Persyaratan yang ditetapkan oleh pasar modal.

Apabila terdapat subsequent events yang memiliki dampak langsung terhadap laporan
keuangan maka auditor wajib mengusulkan adjustment terhadap laporan keuangan klien,
jika subsequent events tidak mempunyai pengaruh langsung terhadap laporan keuangan
maka memerlukan catatan kaki di dalam laporan keuangan klien, hal tersebutlah yang
mungkin dapat menyebabkan adanya audit delay lebih lama.

Prosedur audit terhadap peristiwa kemudian:

Pelajari notulen rapat pemegang saham, dewan komisaris, dan komisi-komisi yang
dibentuk dalam periode setelah tanggal neraca.
Review laporan keuangan klien yang dibuat dalam jangka waktu antara tanggal neraca
auditan sampai dengan tanggal penerbitan laporan audit.
Adakan wawancara dengan pimpinan perusahaan mengenai peristiwa yang
kemungkinan berdampak material terhadap penyajian laporan keuangan.
Lakukan wawancara dengan penasihat hokum klien.
Review penagihan piutang usaha yang terjadi setelah tanggal neraca.
Review jurnal penerimaan kas terutama yang mengenai transaksi penerimaan kas dari
penarikan kredit atau dari penjualan aktiva tetap yang jumlahnya material.
Review transaksi yang material jumlahnya yang dicatat dalam buku jurnal material.
Peristiwa Setelah Tanggal Neraca, efeknya terhadap penyajian laporan keuangan

Laporan auditor independen umumnya diterbitkan dalam hubungannya dengan laporan


keuangan historis yang dimaksudkan untuk menyajikan posisi keuangan pada tanggal
tertentu dan hasil usaha, perubahan ekuitas, serta arus kas untuk periode yang berakhir
pada tanggal tersebut.

Namun, ada peristiwa atau transaksi yang kadang-kadang terjadi sesudah tanggal tersebut
tetapi sebelum diterbitkannya laporan keuangan dan laporan audit, yang mempunyai akibat
material terhadap laporan keuangan, sehingga memerlukan penyesuaian atau
pengungkapan dalam laporan-laporan tersebut.

Misalnya, auditor mengaudit laporan keuangan per 31 Desember 2007 dan menerbitkan
laporan auditor independen (opini auditor) pada tanggal 22 Maret 2008. Selama
pelaksanaan audit, auditor harus memperhatikan kemungkinan adanya peristiwa atau
transaksi yang terjadi setelah tanggal 31 Desember 2007 sampai tanggal 22 Maret 2008
yang memerlukan penyesuaian atau pengungkapan dalam laporan keuangan auditan per 31
Desember 2007 tersebut.

Peristiwa atau transaksi tersebut di atas merupakan “Peristiwa Kemudian atau Peristiwa
Setelah Tanggal Neraca (Subsequent Events)” yang diatur dalam Standar Profesional
Akuntan Publik (SPAP) SA Seksi 560 (PSA No. 46) tentang Peristiwa Kemudian serta
Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 8 (Revisi 2003) tentang Peristiwa
Setelah Tanggal Neraca.

Ada dua jenis peristiwa setelah tanggal neraca seperti yang diatur dalam PSAK dan SPAP,
yaitu :

peristiwa setelah tanggal neraca yang memerlukan penyesuaian


Contoh peristiwa setelah tanggal neraca yang memerlukan penyesuaian atas laporan
keuangan adalah :

Kerugian akibat piutang tak tertagih yang disebabkan oleh adanya pelanggan yang
mengalami kesulitan keuangan dan menuju kebangkrutan setelah tanggal neraca
Keputusan pengadilan setelah tanggal neraca atau penyelesaian tuntutan hukum yang
jumlahnya berbeda dengan jumlah hutang yang sudah dicatat jika peristiwa yang
menyebabkan timbulnya tuntutan tersebut telah terjadi atau ada sebelum tanggal neraca
Penemuan kecurangan atau kesalahan yang menunjukkan bahwa laporan keuangan
tidak benar
peristiwa setelah tanggal neraca yang tidak memerlukan penyesuaian
Untuk peristiwa setelah tanggal neraca yang tidak memerlukan penyesuaian atas penyajian
laporan keuangan, auditor harus memperhatikan kemungkinan adanya peristiwa tertentu
yang mungkin memerlukan pengungkapan agar laporan keuangan tidak menyesatkan
pembacanya.

Apabila peristiwa setelah tanggal neraca yang tidak memerlukan penyesuaian adalah
penting, dalam arti jika tidak diungkapkan akan mempengaruhi pengambilan keputusan
pengguna laporan keuangan, maka perusahaan harus mengungkapkan informasi berikut
untuk setiap peristiwa tersebut :

Jenis peristiwa yang terjadi;


Estimasi atas dampak keuangan, atau pernyataan bahwa estimasi semacam itu tidak
dapat dibuat.
Contoh peristiwa setelah tanggal neraca yang tidak memerlukan penyesuaian tetapi
diperlukan adanya pengungkapan dalam laporan keuangan adalah :

Penjualan obligasi atau penerbitan saham baru


Terjadinya tuntutan hukum yang signifikan yang semata-mata disebabkan oleh peristiwa
yang terjadi sesudah tanggal neraca
Pembelian dan pelepasan aset dalam jumlah yang signifikan, atau pengambilalihan aset
oleh pemerintah
Perubahan abnormal atas harga aset atau nilai tukar mata uang asing setelah tanggal
neraca
Perubahan tarif pajak atau peraturan perpajakan yang diberlakukan atau diumumkan
setelah tanggal neraca dan memiliki pengaruh yang signifikan pada aset dan kewajiban
pajak kini dan tangguhan
Kerugian aktiva tetap atau persediaan yang diakibatkan oleh kebakaran
Pengidentifikasian peristiwa-peristiwa yang memerlukan penyesuaian laporan keuangan
atau tidak ataupun yang memerlukan pengungkapan dalam laporan keuangan auditan
membutuhkan penerapan kebijakan dan pengetahuan tentang fakta-fakta dan kondisi yang
ada. Misalnya, kerugian sebagai akibat piutang tidak tertagih yang disebabkan oleh adanya
pelanggan yang mengalami kesulitan keuangan dan menuju kebangkrutan sesudah tanggal
neraca merupakan indikasi keadaan yang ada pada tanggal neraca, sehingga
membutuhkan penyesuaian terhadap laporan keuangan sebelum diterbitkan. Namun,
apabila kerugian yang sama terjadi sebagai akibat adanya pelanggan yang mengalami
kebangkrutan karena kebakaran atau banjir sesudah tanggal neraca, bukan merupakan
indikasi kondisi yang ada pada tanggal neraca, sehingga tidak diperlukan adanya
penyesuaian atas laporan keuangan.
TUGAS

PEMERIKSAAN AKUNTANSI 1

Nama : INTAN PERMATA SARI

Nim : 15622097

Kelas : SORE 1 AKUNTANSI

Mata Kuliah : PEMERIKSAAN AKUNTANSI 1

SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI PEMBANGUNAN

TANJUNG PINANG

2017/2018

Anda mungkin juga menyukai