Anda di halaman 1dari 31

INTEGRATED COASTAL MANAGEMENT

KELURAHAN LAKKANG 29
Penyusunan laporan Integrated Coastal management ini merupakan
kelanjutan dari kegiatan inventarisasi potensi sumberdaya wilayah pesisir
Kelurahan Lakkang. Laporan ini tersusun melalui rangkaian kegiatan yang cukup
panjang dan intensif mulai dari tahapan Inventarisasi berbagai data primer dan
sekunder berkaitan dengan potensi sumber daya alam dan jasa lingkungan di
Pesisir Kelurahan Lakkang, pertemuan dan diskusi melalui FGD di Kelurahan
Lakkang yang melibatkan segenap pemangku kepentingan di Pesisir Kelurahan
Lakkang Kecamatan Tallo Kota Makassar. Berbagai pihak telah terlibat secara aktif
mulai dari tahapan perencanaan sampai formulasiakhir penulisan laporan ini.
Oleh karenanya, pada kesempatan ini kami menyampaikan salut danterima kasih
kepada semua pihak-pihak yang terlibat khususnya kepada tokoh-tokoh
masyarakat yang juga turut mewarnai dan memperkaya substansi laporan ICM
ini.
Laporan ini bersifat dinamis dan terbuka, sehingga segenap kritik, saran
dan masukan yang bersifatkonstruktif akan sangat bermanfaat dalam proses
implementasinya. Mudah-mudahan secara bersamakita dapat mewujudkan “hari
esok” di Kelurahan Lakkang yang lebih baik.

Makassar, Desember
2015

Lurah Lakkang

INTEGRATED COASTAL MANAGEMENT


KELURAHAN LAKKANG 29
Halaman

KATA PENGANTAR..........................................................................................i

DAFTAR ISI...........................................................................................................ii

DAFTAR GAMBAR................................................................................................iv

DAFTAR TABEL.....................................................................................................v

BAB I. PENDAHULUAN.........................................................................................1

1.1. Latar Belakang ...........................................................................1


1.2. Ruang Lingkup.............................................................................2
1.3. Tujuan..........................................................................................3
1.4. Proses penyusunan.....................................................................6

BAB II. RONA WILAYAH PESISI.............................................................................6

2.1. Geo Administrasi.........................................................................6


2.2. Kondisi sosial budaya..................................................................7
2.3. Aktivitas ekonomi masyarakat.....................................................9
2.4. Potensi sumberdaya alam dan ekosisistem................................15

BAB III. ISU-ISU PENGELOLAAN...........................................................................17


3.1. Isu sosial......................................................................................17
3.2. Isu ekologi....................................................................................17
3.3. Isu ekonomi.................................................................................17
3.4. Kelembagaan...............................................................................17

BAB IV. PERENCANAAN PENGELOLAAN WILAYAH PESISIR..................................18


4.1. Isu prioritas...................................................................................18
4.2 Strategi pengelolaan......................................................................18
4.3 Rencana aksi..................................................................................24
4.4 Monitoring dan evaluasi.................................................................27

INTEGRATED COASTAL MANAGEMENT


KELURAHAN LAKKANG 29
Nomor Halaman

1. Proses penyusunan rencana pengelolan wilayah pesisir kelurahan


Lakkang.........................................................................................................5

2. Kondisi mobilitas masyarakat Kelurahan Lakkang.......................................6


3. Perahu Pincara sebagai sarana transportasi................................................7
4. Peta Lokasi Kelurahan Lakkang....................................................................8
5. Kegiatan dan hasil budidaya air payau di Kelurahan Lakkang......................12

INTEGRATED COASTAL MANAGEMENT


KELURAHAN LAKKANG 29
6. Kondisi pencemaran perairan di Kelurahan Lakkang...................................12
7. Kegiatan produksi pengolahan di Kelurahan Lakkang..................................13
8. Peta penggunaan lahan kelurahan Lakkang.................................................14
9. Kegiatan Sosialisasi Penanaman bibit mangrove.........................................15
10. Aksi penanaman mangrove di Kelurahan Lakkang......................................16
11. Peta sea use kelurahan Lakkang...................................................................16
12. Guest House yang berada di Kampung Lakkang..........................................21
13. Transportasi wisata yang ada di Kelurahan Lakkang....................................21

Nomor Halaman
1. Jumlah Penduduk Kelurahan Lakkang..........................................................8
2. Kualifikasi Penduduk menurut umur di kelurahan Lakkang.........................8
3. Mata Pencaharian penduduk kelurahan Lakkang........................................10

INTEGRATED COASTAL MANAGEMENT


KELURAHAN LAKKANG 29
1.1 Latar Belakang
Pesisir merupakan kawasan yang komplek, dinamis dan lingkungan yang
unik karena pengaruh dari dua ekosistem, yaitu ekosistem daratan dan ekosistem
lautan. Kawasan ini mengkondisikan sebagai suatu sumberdaya pesisir dan
apabila dikelola dengan benar dapat menjadi tumpuan dan sumber
pertumbuhan baru bagi pembangunan ekonomi secara berkelanjutan dalam
mewujudkan masyarakat yang maju dan mandiri.
Wilayah pesisir didefenisikan sebagai suatu wilayah dimana daratan
berbatasan dengan laut; batas di daratan meliputi daerah daerah yang tergenang
air maupun yang tidak tergenang air yang masih dipengaruhi oleh proses
proses laut seperti pasang surut, angin laut instrusi air laut, sedangkan
batas dilaut daerah daerah yang dipengaruhi oleh proses alami di daratan
seperti sedimen dan mengalir air tawar kelaut serta benda‐benda yang dibawa
air kelaut.Dari aspek pembangunan, batas wilayah pesisir kearah laut
ditetapkan 12 Mill laut dan kearah darat sampai batas kecamatan yang yang
memiliki desa‐desa pesisir. Memperhatikan realitas wilayah pesisir inilah yang
mendorong KKP mengembangkan program pembangunan masyarakat pesisir
dengan mendapat dukungan dari IFAD.
Dalam rangka mengatasi degradasi sumber daya perikanan kelautan di
Indonesia, khususnya di Kota Makassar diperlukan suatu desain pengelolaan yang
komprehensif. Desain pengelolaan ini diharapkan dapat menyatukan beberapa
kebijakan yang ada sehingga dapat mengakomodasi kebutuhan masyarakat.
Desain pengelolaan tersebut adalah menyisihkan lokasi-lokasi yang memiliki
potensi keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa, gejala alam dan keunikan
serta ekosistem yang ada didalamnya.

INTEGRATED COASTAL MANAGEMENT


KELURAHAN LAKKANG 29
1.2 Ruang Lingkup
Daerah kajian adalah keseluruhan wilayah pesisir Kelurahan Lakkang Kota
Makassar. Penentuan titik sampling dilakukan melalui overlay peta yang ada dan
menetapkan kriteria berdasarkan :
1. Posisi geografis atau keterwakilan dalam wilayah administrasi
2. Status pemanfaatan dan kondisi eksoistem pesisir dan laut
3. Potensi ekosistem pesisir dan laut
4. Jumlah penduduk wilayah
1.3 Tujuan
Adapun sasaran dari pelaksanaan kegiatan ini adalah:
1. Teridentifikasi secara menyeluruh informasi potensi sumber daya alam
(pertanian, kehutanan, kelautan dan perikanan, pertambangan dan
energi, pariwisata, dll) dan jasa lingkungan di Wilayah Pesisir Kota
Makassar.
2. Teridentifikasinya isu strategis, baik terhadap masalah ekosistem
wilayah pesisir, laut dan pulau-pulau kecil maupun masalah-masalah
sosial, ekonomi, dan lingkungan hidup di Wilayah Pesisir Kota
Makassar.
3. Teridentifikasinya kebijakan pembangunan dan pengembangan wilayah
laut, pesisir, dan pulau-pulau kecil di Wilayah Pesisir Kota Makassar
dalam dokumen perencanaan baik nasional maupun daerah (RPJPN/D,
RPJMN/D, RKP/RKPD), dokumen perencanaan spasial (RTRWN, RTRW
Sulawesi Selatan, RTRW Kota Makassar) dan dokumen lain yang
terkait.
4. Terumuskannya visi atau situasi yang diinginkan Pengelolaan Wilayah
Pesisir dan Laut Kelurahan Lakkang Kelurahan Kota Makassar di masa
depan serta merumuskan misi untuk mewujudkan visi;
5. Terumuskannya kebijakan, strategi dan konsep pengembangan wilayah
laut, pesisir dan pulau-pulau kecil di Wilayah Pesisir Kota Makassar.
6. Terjalinnya kerjasama dan koordinasi antar daerah di Wilayah Pesisir
Kota Makassar untuk pengelolaan dan pengembangan secara terpadu
dan berkelanjutan.

INTEGRATED COASTAL MANAGEMENT


KELURAHAN LAKKANG 29
1.4 Proses Penyusunan
Proses penyusunan pelaksanaan pekerjaan Penyusunan Pengelolaan
Wilayah Pesisir Terpadu Kelurahan Lakkang Kota Makassar ini adalah sebagai
berikut :
1. Tahapan Persiapan
 Administrasi
 Pembentukan tim perencana
 Penyusunan rencana kerja
 Personil, fasilitas dan pembiayaan
 Pelatihan tenaga perencana
2. Tahapan identifikasi isu pengelolaan
 Mengidentifikasi stakeholder utama dan kepentingannya.
 Menilik potensi dan kondisi sumberdaya dan lingkungan pesisir.
 Mengkaji isu-isu pesisir dan kelembagaan serta implikasinya
melalui FGD.
 Mengidentifikasi hubungan sebab-akibat antara kegiatan
manusia, proses alamiah dan kerusakan sumberdaya pesisir.
 Memilih isu-isu penting yang akan menjadi fokus utama
pengelolaan
 Merumuskan arahan pengelolaan pesisir.
3. Tahapan Perencanaan Program
 Melaksanakan penelitian ilmiah terhadap berbagai isu yang
dipilih pada langkah pertama.
 Mendokumentasikan kondisi awal wilayah pesisir yang akan
dikelola.
 Menyusun rencana pengelolaan dan kerangka kerja kelembagaan
yang akan melaksanakan program.
 Mempersiapkan SDM dan kelembagaan pelaksanaan program.
 Menguji strategi pelaksanaan program dalam skala kecil.
4. Tahapan Adopsi Program dan Pendanaan
 Mendapatkan persetujuan pemerintah terhadap suatu perencanaan dan
proses penyusunan kebijakan.

INTEGRATED COASTAL MANAGEMENT


KELURAHAN LAKKANG 29
 Memperoleh pengesahan resmi terhadap kebijakan ataupun rencana
yang disusun
 Memperoleh pendanaan yang dibutuhkan bagi implementasi program
5. Tahapan Pelaksanaan Program
 Pelaksanaan mekanisme koordinasi antar lembaga dan prosedur-
prosedur resolusi konflik.
 Penguatan kapasitas pengelolaan program
 Membangkitkan, mendorong atau meningkatkan partisipasi
kelompok stakeholder utama.
 Melaksanakan program pendidikan dan penyadaran bagi masyarakat
(umum) dan stakeholder
 Menjaga agar prioritas program tetap berada dalam agenda publik.
 Memantau kinerja program dan kecenderungan yang terjadi pada
lingkungan sosial.
6. Tahapan Monitoring dan Evaluasi
Melakukan monitoring dan evaluasi program sebagai pembelajaran
untuk program pengelolaan berikutnya:
 dampak program secara ekologis, sosial dan ekonomi
 proses pelaksanaan program,
 desain program,
 pengembangan program
Secara ringkas proses penyusunan rencana pengelolaan wilayah pesisir
terpadu kelurahan Lakkang diperlihatkan pada Gambar 1.

Adopsi
Program

Perencanaan
Program

Pelaksanaan
Program

Identifikasi Isu Pengelolaan

INTEGRATED COASTAL MANAGEMENT


KELURAHAN LAKKANG 29
Monitoring dan Evaluasi

Persiapan
Gambar 1. Proses Penyusunan Rencana Pengelolaan Wilayah Pesisir Terpadu
Kelurahan Lakkang

2.1 Geo-Adminsitrasi
Lakkang adalah kelurahan dan pulau di KecamatanTallo, Kota Makassar,
Sulawesi Selatan. Lakkang berada di deltasungai Tallo dan Pampang dan
terbentuk sebagai akibat sedimentasi sungai selama ratusan tahun. Pulau yang
telah ditetapkan sebagai tempat wisata ini dikelilingi oleh vegetasi yang beragam.

INTEGRATED COASTAL MANAGEMENT


KELURAHAN LAKKANG 29
Kelurahan Lakkang juga merupakan wilayah yang unik karena termasuk
kawasan yang terisolir, sehingga alat transportasi yang merupakan kebituhan
utama masyarakat adalah perahu. Mobilitas penduduk antara satu tempat ke
tempat lainnya dalam wilayah perairan di Keluarahan selalu menggunakan
transportasi sungai.

Gambar 2. Kondisi mobilitas masyarakat Kelurahan Lakkang

Sedangkan untuk sarana transportasi umum masyarakat menggunkan


perahu pincara, yakni dua perahu yang dirakit menjadi satu dan dilengkapi
dengan lantai yang cukup luas dan kuat untuk menahan penumpang, motor dan
barang bawaan. Idealnya, 1 Perahu pincara menggunakan 2 unit mesin perahu.

Gambar 3. Perahu Pincara sebagai sarana transportasi

INTEGRATED COASTAL MANAGEMENT


KELURAHAN LAKKANG 29
Kelurahan Lakkang mempunyai luas wilayah 1,95 ha dengan luas area 1,65
km2. Wilayah Kelurahan Lakkang terletak di daerah aliran Sungai Tallo. Secara
administratif terletak di Kecamatan Tallo Kota Makassar yang mana posisi
geografis kelurahan terletak di E 05006’38,2 dan 119025,37,2 dengan batas-batas
wilayah:
Sebelah utara : Kecamatan Tamalanrea (Kelurahan Kapasa dan
Kelurahan Parangloe)
Sebelah selatan : Kecamatan Panakukang (Kelurahan Pampang)
Sebelah barat : Kecamatan Rappokalling dan Kelurahan Parangloe
Sebelah timur : Kecamatan Tamalanrea (Kelurahan Tamalanrea Indah)

2.2 Kondisi Sosial-Budaya

Jumlah penduduk Kelurahan Lakkang sebanyak 952 orang yang terdiri dari
laki-laki sebanyak 504 orang dan perempuan sebanyak 448 orang. Jumlah Rumah
Tangga yang menghuni Kelurahan Lakkang sebanyak 261 KK dengan rata-rata
jumlah anggota rumah tangga sebanyak 3,89 orang per rumah tangga (Makassar
Dalam Angka, 2010).

INTEGRATED COASTAL MANAGEMENT


KELURAHAN LAKKANG 29
Gambar 4. Peta Lokasi Kelurahan Lakkang

Tabel 1. Jumlah Penduduk Kelurahan Lakkang

Jenis Jumlah Persentase


No. Total
Kelamin RW.01 RW.02 (%)
1 Laki-laki 262 220 504 51
2 Perempuan 242 228 448 49
Jumlah 504 448 952 100

Tabel 2. Kualifikasi Penduduk Menurut Umur di Kelurahan Lakkang


Jenis Kelamin Persentase
No. Uraian (Tahun) Jumlah (Jiwa)
L P (%)
1 0-5 49 31 80 8,8
2 6 - 12 81 62 143 13,8
3 13 - 16 61 45 106 9,5
4 17 - 30 127 109 236 26,1
5 31 - 40 85 91 176 19,1
6 40 ≤ 101 110 211 22,7
Jumlah 504 448 952 100
Sistem kekeluargaan di Lakkang masih sangat kuat perlu dipertahankan
dan dilestarikan. Hal ini dapat menjadi ciri khas Kelurahan Lakkang dalam
mempromosikan kelurahan ini sebagai daerah wisata alam dan budaya. Beberapa
rumah panggung dan even budaya dapat menarik turis domestik maupun manca
negara bila dikelola dan dipromosikan dengan baik.
2.3 Aktivitas Ekonomi Masyarakat
Kelurahan Lakkang yang letaknya berdampingan dengan sungai Tallo
menjadikan mata pencaharian utama masyarakatnya adalah dominan petambak.
Kegiatan usaha budidaya udang windu dan bandeng menjadi profesi yang sudah
dilakukan secara turun temurun di Kelurahan Lakkang. Masyarakat Lakkang bisa

INTEGRATED COASTAL MANAGEMENT


KELURAHAN LAKKANG 29
dikatakan masih serumpun, kekeluargaan di Lakkang yang masih kuat tentu saja
memberi dampak positif dan perlu dilestarikan. Namun adakalanya kurang
mengembangkan perkonomian penduduk. Sebagai contoh, masyarakat tidak
terbiasa menjual hasil panen Bandengnya, mereka lebih suka membagikan hasil
tangkapan ini pada tetangga maupun kerabatnya.
Selain petambak, sisanya adalah bertani, luas sawah di Kelurahan Lakkang
ini sekitar 15 hektare dengan produksi utama adalah padi. Letak sawah berada di
pusat perkampungan. Masyarakat di kelurahan ini melakukan aktivitas bertani
ketika musim hujan, kalau musim kering mereka bertambak.
Sebagian masyarakat Lakkang juga bercocok tanam, dengan menanam
padi sehingga kebutuhan pangan masyarakat selalu terpenuhi, sedangkan bagi
masyarakat yang kurang mampu hanya mengandalkan bantuan pembagian beras
raskin dari pemerintah setempat.
Meningkatkan pendapatan di Kelurahan Lakkang dapat dilakukan melalui
aktifitas perekonomian yang disesuaikan dengan karakter ekologi dan masyarakat
setempat. Perlu pelatihan-pelatihan keterampilan bagi yang dapat dijadikan mata
pencaharian alternatif. Untuk lebih jelasnya jenis mata pencaharian masyarakat
di Kelurahan Lakkang dapat dilihat pada table di bawah ini.
Tabel 3. Mata Pencaharian Penduduk Kelurahan Lakkang

Jumlah Persentase
No. Uraian Total
RW.01 RW.02 (%)
1 Petambak / Nelayan 89 83 172 18,3
2 Penjual / Pedagang 25 24 49 4,2
3 Mahasiswa / Pelajar 129 101 230 25,4
4 Buruh Harian 44 48 92 8,7
5 PNS / POLRI / TNI 2 5 7 0,8
6 Karyawan / Pegawai Swasta 25 19 44 3,4
7 Anak-anak / Tidak Bekerja 177 153 330 36,5
8 Dan lain-lain 13 15 28 2,7
Jumlah 504 448 952 100

Dalam upaya pemberdayaan masyarakat pesisir pada tahun 2013 melalui


Program Coastal Community Development Project-IFAD (CCDP-IFAD)

INTEGRATED COASTAL MANAGEMENT


KELURAHAN LAKKANG 29
Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia dengan Dinas Kelautan,
Perikanan, Pertanian dan Peternakan Kota Makassar membina beberapa
kelompok Masyarakatyang merupakan pelaksana kegiatan CCDP-IFAD, dengan
masing-masing kelompok terdiri dari 8-10 orang. Kelompok-kelompok tersebut
adalah :

1. Kelompok Pembudidaya Ikan Bonto Perak I


2. Kelompok Pembudidaya Ikan Bonto Perak III
3. Kelompok Pembudidaya Ikan Harapan Jaya I
4. Kelompok Pembudidaya Ikan Harapan Jaya II
5. Kelompok Pembudidaya Ikan Sengka Padada
6. Kelompok Pengolahan Cahaya Lakkang
7. Kelompok Pengolahan Mekar Jaya
8. Kelompok Pengolah Jaya Lakkang
9. Kelompok Pengolah Mekar Jaya
10. Kelompok Pengelola Sumberdaya Pesisir Biring Je’ne
11. Kelompok Pembangunan Prasarana Minasa Te’ne
12. Kelompok Tabungan (grameen bank) Lakkang Mandiri

Karena dominannya mata pencaharian sebagai petambak, wajar saja


kalau Kelompok usaha yang ada di Kelurahan Lakkang didominasi oleh kelompok
pembudidaya ikan. Kelompok pembudidaya ikan berjumlah 5 kelompok dan
terdiri dari 10 orang yang mempunyai kegiatan usaha yang sama yakni budidaya
polikultur udang windu dan ikan bandeng, kegiatan usaha tersebut telah
dilakukan oleh masyarakat Kelurahan Lakkang secara turun temurun dengan
metode tradisional. Udang windu dipelihara selama 3 (tiga) bulan sampai
mencapai ukuran panen, metode panen yang digunakan adalah dengan panen
bertahap.
Hasil produksi udang windu dijual langsung ke pengepul lokal sedangkan
ikan bandeng dipanen setelah 6 (enam) bulan, pada umumnya bagi petambak
yang ada di Kelurahan Lakkang, komoditas bandeng dibudidayakan secara
polikultur dengan udang windu tujuan utamanya bukan untuk dijual secara
komersil, tapi lebih kepada pemenuhan kebutuhan pangan keluarga, atau untuk
menjamu kerabat yang berkunjung ke Lakkang. Sumber air kegiatan usaha

INTEGRATED COASTAL MANAGEMENT


KELURAHAN LAKKANG 29
budidaya di Kelurahan Tallo adalah sungai Tallo yang saat ini telah mengalami
pencemaran akibat limbah industri yakni pabrik gula yang berada di Kawasan
Bontoa, Kelurahan Parang Loe.
Beberapa key person yang ada di kelurahan ini menyadari betul
pentingnya penanganan pencemaran di Sungai Tallo yang menjadi tempat utama
mereka dalam beraktifitas. Penanganan pencemaran berupa limbah cair yang
dibuang oleh pabrik-pabrik telah diupayakan oleh masyarakat Kelurahan Lakkang
dengan melakukan demo ke perusahaan tersebut, namun hingga saat ini masih
belum membuahkan hasil. Perlu upaya yang lebih negotitif pada pembuat
kebijakan dan pemerintah. Dari segi kelembagaan, perlu koordinasi yang baik
antar lembaga desa dan masyarakat guna mewujudkan kesejahteraan
masyarakat.

INTEGRATED COASTAL MANAGEMENT


KELURAHAN LAKKANG 29
Gambar 5. Kegiatan dan hasil budidaya air payau di Kelurahan Lakkang

Gambar 6. Kondisi pencemaran perairan di Kelurahan Lakkang

Selain Kelompok pembudidaya ikan, juga terdapat 4 kelompok usaha


wanita yakni kelompok pengolahan hasil perikanan, Kelompok pengolah Cahaya
Lakkang melakukan kegiatan produksi abon ikan tuna dan bandeng cabut duri,
kelompok Jaya Lakkang melakukan kegiatan usaha pembuatan bakso ikan,
sedangkan kelompok Mekar Jaya melakukan kegiatan usaha Bandeng Presto.
Ketiga kelompok usaha wanita tersebut masih tergolong kelas pemula dan
sementara ini memasarkan hasil produksinya di masyarakat sekitar saja.
Tidak tersedianya peralatan yang memadai merupakan faktor utama
sehingga kelompok pengolah tersebut diusulkan untuk menerima bantuan dan
BLM CCDP-IFAD, karena masih tergolong pemula, maka kelompok-kelompok
tersebut belum bersifat sehingga sangat sulit untuk mengakses permodalan di
perbankan.

INTEGRATED COASTAL MANAGEMENT


KELURAHAN LAKKANG 29
Gambar 7. Kegiatan produksi pengolahan di Kelurahan Lakkang

Berdasarkan data yang kami peroleh, diketahui bahwa tidak ada satupun
lembaga keuangan formal di Kelurahan Lakkang, baik bank maupun non bank
seperti pegadaian, asuransi maupun koperasi. Namun terdapat 1 kelompok
tabungan yang bernama Kelompok Lakkang Mandiri Kelompok Tabungan
(Grameen Bank) Lakkang Mandiri yang melayani pembiayaan usaha kecil
menengah bagi masyarakat Lakkang yang ingin mendirikan ataupun
mengembangkan usahanya. Kelompok ini merupakan bentukan dan binaan dari
Dinas Kelautan, Perikanan, Pertanian dan Peternakan Kota Makassar melalui
proyek CCDP-IFAD Kota Makassar pada tahun 2014. Masyarakat Lakkang sangat
bersyukur dengan hadirnya kelompok tabungan Lakkang Mandiri di tengah-
tengah masyarakat yang berfungsi melayani permodalan usaha kecil dan
menengah yang manfaatnya hingga kini sangat dirasakan oleh masyarakat.
Gambar 8 . Peta penggunaan lahan kelurahan Lakkang

INTEGRATED COASTAL MANAGEMENT


KELURAHAN LAKKANG 29
Bantuan permodalan yang dikelola oleh kelompok tabungan tersebut
telah dimanfaatkan oleh masyarakat untuk mendirikan ataupun mengembangkan
usaha baru seperti membuka usaha warung makan, jualan pulsa, jualan pakaian,
modal usaha pemasaran ikan keliling (pagandeng), usaha jahit pakaian, dan
pengembangan usaha jualan kelontong. Masyarakat Lakkang sangat antusias
terhadap kehadiran kelompok tabungan tersebut karena model pengelolaannya
sangat pro kepada usaha kecil dan menengah tanpa persyaratan yang rumit
seperti yang diterapkan oleh lembaga keuangan pada umumnya.
2.4 Potensi Sumberdaya Alam dan ekosistem
CCDP-IFAD juga memfasilitasi kegiatan konservasi mangrove yang
dilaksanakan oleh kelompok pengelola sumberdaya pesisir Biring Je’ne dengan
tujuan untuk menambah daya dukung ekosistem mangrove di sekitar sungai Tallo
sebagai penyangga dari kegiatan usaha masyarakat yaitu budidaya udang windu

INTEGRATED COASTAL MANAGEMENT


KELURAHAN LAKKANG 29
dan ikan bandeng di tambak. Penanaman bibit mangrove sebanyak 1.000 pohon
tersebut merupakan aksi nyata dari masyarakat Lakkang, yang juga merasakan
dampak dari pencemaran perairan di sungai Tallo yang merupakan sumber air
utama bagi kegiatan usaha budidaya polikutur yang pada umumnya digeluti oleh
masyarakat Lakkang. Tujuan lain dari kegiatan yang difasilitasi oleh kelompok
pengelola sumberdaya tersebut adalah mengajak masyarakat untuk bersama-
sama ikut berpartisipasi mengembangkan dan memelihara ekosistem mangrove
dalam rangka pengembangan ekomina wisata di Kelurahan Lakkang yang sedang
diwacanakan oleh pemerintah.

Gambar 9. Kegiatan Sosialisasi Penanaman bibit mangrove

INTEGRATED COASTAL MANAGEMENT


KELURAHAN LAKKANG 29
Gambar 10. Aksi penanaman mangrove di Kelurahan Lakkang

Gambar 11. Peta sea use kelurahan Lakkang

3. Isu Pengelolaan
3.1. Isu Sosial
1. Rendahnya kualitas sumbedaya manusia
3.2. Isu Ekologi
1. Pencemaran Sungai Tallo sebagai penyangga kehidupan masyarakat
Lakkang
2. Rawan bencana banjir karena terjadinya proses degradasi DAS Tallo
3.3. Isu Ekonomi
1. Belum Optimalnya Pengelolaan Budidaya dan Perikanan Tangkap
2. Potensi dan obyek ekowisata belum dikembangkan secara optimal
3.4. Isu Kelembagaan

INTEGRATED COASTAL MANAGEMENT


KELURAHAN LAKKANG 29
1. Keterpaduan dan koordinasi wewenang antar instansi terkait masih
kurang

4.1. Isu Prioritas

a) Pencemaran wilayah perairan Sungai Tallo


b) Belum Optimalnya Pengelolaan Budidaya dan Perikanan Tangkap
c) Potensi dan obyek ekowisata belum dikembangkan secara optimal
4.2. Strategi Pengelolaan

PENCEMARAN WILAYAH PERAIRAN


SUNGAI TALLO

Indikator:
 Semakin bersihnya kawasan pantai dari limbah padat
 Semakin baiknya mekanisme penanganan limbah industri
 Terpenuhinya standar baku mutu air sungai sesuai peruntukannya
 Meningkatnya tuntutan dan kepedulian masyarakat akan kualitas
lingkungan sekitar yang baik
 Terhindarnya pencemaran limbah cair di perairan sekitar Lakkang

INTEGRATED COASTAL MANAGEMENT


KELURAHAN LAKKANG 29
 Terbentuknya tim mitigasi pencemaran
Strategi:
 Mengadakan program kampanye-kampanye penanganan sampah
 Mengembangkan program penanganan sampah di lingkungan perairan
 Meningkatkan pengelolaan sampah di areal sungai
 Mengefektifkan operasionalisasi pemantauan dan pengawasan terhadap
sumber-sumber pencemaran di daerah hulu ke hilir (early warning system)
 Mengembangkan penelitian pencemaran air sungai
 Meningkatnya tuntutan dan kepedulian masyarakat akan kualitas
lingkungan sekitar yang baik
Tujuan :
 Meningkatkan kesadaran masyarakat dalam penanganan sampah
 Menghindari terjadinya banjir
 Meningkatkan kualitas air di areal sungai
 Meningkatkan kesehatan lingkungan
 Meningkatkan kesehatan masyarakat

BELUM OPTIMALNYA PENGELOLAAN BUDIDAYA DAN


PERIKANAN TANGKAP
Di Kelurahan Lakkang terdapat paling sedikit 172 rumah tangga yang
menggeluti kegiatan usaha Kelautan dan Perikanan, kegiatan usaha tersebut
terdiri dari Budidaya Polikultur Udang Windu dan Ikan Bandeng dan kegiatan
penangkapan ikan di sungai Tallo.
Sistem budidaya tradisonal yang dicirikan dengan sistem pengelolaan
tambak yang sederhana dimana sumber air mengandalkan pasang surut air laut,
dan bentuk dan luasan kolam tambak bervariasi dengan padat penebaran rendah
kurang lebih 2 ekor udang/m2. System budidaya ini belum berkembang,
diakibatkan kurangnya pengetahuan dan keinginan masyarakat untuk memulai
inovasi baru. Rendahnya pengetahuan dan lambatnya pola fikir masyarakat
menjadi tantangan tersendiri dalam pembinaan masyarakat khususnya tentang
cara budidaya ikan yang baik di Kelurahan Lakkang. Kasus gagal panen, baik
karena kurang tepatnya penanganan di media budidaya ataupun karena penyakit
masih sering kita jumpai di Kelurahan Lakkang. Penggunaan pupuk terkadang

INTEGRATED COASTAL MANAGEMENT


KELURAHAN LAKKANG 29
tidak memperhatikan dosis penggunaan yang tepat dan tidak menyesuaikan
dengan karakteristik tambak mereka, begitu pula dengan kondisi kecukupan
plankton di dalam tambak, tidak pernah dikontrol secara berkala.
Indikator:
 Tersedianya sarana dan prasarana usaha perikanan
 Meningkatnya keterampilan masyarakat dalam usaha perikanan
 Berkembangnya pemasaran usaha perikanan
 Meningkatnya nilai tambah usaha perikanan
 Meningkatnya pendapatan masyarakat dari usaha perikanan
 Tersedianya data dan informasi untuk pengelolaan usaha perikanan
Strategi pengelolaan:
 Pengadaan sarana dan prasarana usaha perikanan
 Mengembangkan skim-skim perkreditan usaha perikanan yang sederhana
 Mengembangkan dan memperkenalkan sistem budidaya yang lebih inovatif
 Membina usaha produksi perikanan berorientasi pasar
 Mengadakan pelatihan manajemen usaha perikanan skala rumah tangga
 Mengembangkan upaya-upaya perlindungan hak-hak pelaku utama dengan
pola kemitraan
 Mengembangkan sistem informasi perikanan
 Mengembangkan forum komunikasi antar instansi terkait dalam
pengelolaan usaha perikanan
Tujuan :
 Mengoptimalkan perikanan budidaya dan tangkap
 Meningkatkan kesejahteraan nelayan
 Meningkatkan manajemen budidaya ikan

POTENSI DAN OBYEK WISATA BELUM DIKEMBANGKAN


SECARA OPTIMAL

Kelurahan
Lakkang memiliki banyak obyek wisata yang menarik karena memiliki ciri khas
tersendiri namun pengembangan ekowisata tidak hanya tergantung dari faktor
sumberdaya alam saja, tetapi perlu memperhitungkan faktor lain yang tidak kalah
pentingnya seperti, penyediaan fasilitas, aksesibilitas, keamanan dan sikap
masyarakat sekitarnya dalam menerima kedatangan pengunjung.

INTEGRATED COASTAL MANAGEMENT


KELURAHAN LAKKANG 29
Bagi pemerintah Kota Makassar, pengembangan ekowisata di Lakkang
mulai digodok sejak 2013. Melalui Disbudpar Kota Makassar, masyarakat
setempat dibina menjadi guide lokal, menyediakan rumah warga sebagai
penginapan, juga fasilitas menikmati kuliner di atas pincara di sekitar Lakkang.
Hal ini menjadi jualan bagi turis lokal maupun mancanegara.

Gambar 12. Guest House yang berada di Kampung Lakkang

Gambar 13. Transportasi wisata yang ada di Kelurahan Lakkang

INTEGRATED COASTAL MANAGEMENT


KELURAHAN LAKKANG 29
Indikator:
 Tersedianya pusat-pusat informasi pariwisata
 Tersusunnya basis data potensi dan informasi kepariwisataan yang dapat
digunakan untuk perencanaan
 Tersedia dan terpeliharanya sarana dan prasarana dasar pariwisata
 Berkembangnya ciri lokal sebagai daya tarik lokasi kunjungan wisata
 Semakin meningkatnya pendapatan masyarakat lokal dari pengembangan
pariwisata bahari
 Meningkatnya jumlah usaha-usaha ekonomi (kecil dan menengah) dalam
bidang ekowisata bahari
 Meningkatnya kepedulian dan partisipasi masyarakat dalam usaha wisata
bahari
 Meningkatnya jumlah usaha kecil masyarakat yang mendukung kegiatan
usaha wisata bahari
 Semakin meningkatnya partisipasi masyarakat dalam mendukung program
pengembangan wisata bahari
Strategi pengelolaan:
 Menyusun dan mengembangkan basis data dan jaringan informasi
kepariwisataan
 Mengembangkan pusat-pusat informasi, promosi, dan pemasaran
pariwisata
 Memperbaiki, memelihara, dan mengembangkan sarana dan prasarana
dasar pariwisata bahari
 Mempromosikan dan memberikan insentif bagi investor pariwisata bahari
 Menyediakan kredit lunak bagi masyarakat untuk pengembangan usaha
kerajinan rakyat yang berwawasan lingkungan
 Mengembangkan program kemitraan antara pengusaha dan masyarakat
lokal untuk usaha kepariwisataan dan kerajinan rakyat
 Mengembangkan dan memperkuat jaringan profesi usaha kepariwisataan
 Meningkatkan kualitas penyuluhan dan pelatihan pariwisata bahari Terpadu
 Mengembangkan program untuk peningkatan partisipasi masyarakat
dalam pengembangan wisata bahari
Tujuan :
 Meningkatkan jumlah pengunjung pariwisata

INTEGRATED COASTAL MANAGEMENT


KELURAHAN LAKKANG 29
 Mengembangkan objek wisata
 Meningkatkan kerjasama dengan berbagaai pihak dalam hal pemasaran
kepariwisataan

INTEGRATED COASTAL MANAGEMENT


KELURAHAN LAKKANG 29
4.3 Rencana Aksi
Waktu Sumber
Isu Strategi Program Kegiatan Pelaksana
1 2 3 4 5 Pendanaan
Pencemaran Mengembangkan Pengelolaan 1. Bimtek Dinas KP3K, √ IFAD, APBN
wilayah pengetahuan dan Limbah B3 (Bimbingan Lurah, Dinas
perairan keterampilan dalam (Bahan teknis) Kebersihan
Sungai Tallo penanganan limbah Bahaya pengelolaan
Beracun) limbah
2. Pelatihan daur √ √
ulang sampah
3. Penyuluhan
kesadaran √
masyarakat
dalam
penanggulanga
n sampah

Belum Pengembangan keterampilan Peningkatan 1. Pengadaan alat Dinas KP3K, √ IFAD, APBN
Optimalnya dan pengetahuan nelayan hasil bantu LAPAN
Pengelolaan budidaya dan nelayan tangkap perikanan penangkapan Parepare
Budidaya dan budidaya dan ikan
Perikanan tangkap 2. Pelatihan
Tangkap penggunaan √
GPS dan
Fishfinder
3. Pelatihan
pembacaan √

INTEGRATED COASTAL MANAGEMENT


KELURAHAN LAKKANG
peta daerah
penangkapan
4. Kerjasama
dengan pihak √ √ √ √ √
LAPAN dalam
pengadaan data
perikanan
5. Pelatihan √
pembenihan
budidaya ikan
6. Workshop √
pengendalian
hama dan
penyakit
budidaya ikan

Potensi dan Pengembangan pariwisata Peningkatan 1. Promosi wisata Dinas KP3K, √ √ IFAD, APBN
obyek bahari pariwisata melalui Dinas
ekowisata bahari penyebaran Pariwisata
belum brosur
dikembangka 2. Pengembangan
n secara Sarana dan √
optimal Prasarana
Wisata
3. Penyuluhan dan
pelatihan
pariwisata

INTEGRATED COASTAL MANAGEMENT


KELURAHAN LAKKANG
bahari terpadu √
4. Kerjasama
dengan √
berbagai pihak
pengelola
wisata

INTEGRATED COASTAL MANAGEMENT


KELURAHAN LAKKANG
4.4. Rencana Monitoring dan Evaluasi

Waktu Monitoring Penanggung Jawab


Kegiatan
1 2 3 4 5
No
1 Bimtek (Bimbingan teknis) pengelolaan limbah √ Dinas KP3K
2 Pelatihan daur ulang sampah √ √ Dinas KP3K
3 Penyuluhan kesadaran masyarakat dalam √ Dinas KP3K
penanggulangan sampah
4 Pengadaan alat bantu penangkapan ikan √ Dinas KP3K
5 Pelatihan penggunaan GPS dan Fishfinder √ Dinas KP3K
6 Pelatihan pembacaan peta daerah penangkapan √ Dinas KP3K
7 Kerjasama dengan pihak LAPAN dalam pengadaan √ √ √ √ √ Dinas KP3K
data perikanan
8 Promosi wisata melalui penyebaran brosur √ √ Dinas KP3K
9 Pengadaan Sarana dan Prasarana Wisata √ Dinas KP3K
10 Penyuluhan dan pelatihan pariwisata bahari terpadu √ Dinas KP3K
11 Kerjasama dengan berbagai pihak pengelola wisata √ √ Dinas KP3K

INTEGRATED COASTAL MANAGEMENT


KELURAHAN LAKKANG