Anda di halaman 1dari 14

MAKALAH RELEVANSI ILMU FISIKA DENGAN

TEKNIK SIPIL

Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Fisika Dasar

Disusun Oleh :
Nama : Alfi Azhari
NIM : 1713049

DOSEN :

Nurhikmah Sasna Junaidi, S.Pd.,M.Pd

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS PASIR PENGARAIAN
KATA PENGANTAR

Berkat rahmat dan hidayah dari Allah SWT maka sampai saat ini penulis masih
diberikan bimbingan dalam menyusun makalah fiska ini. Semoga Allah SWT akan senantiasa
memberikan kemudahan disetiap kegiatan yang kita lakukan.
Makalah ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Fisika Dasar pada
jurusan Teknik Sipil Universitas Mercu Buana. Makalah ini berisi tentang hubungan antara
Fisika Dasar dengan Teknik Sipil. Makalah ini disusun berdasarkan berbagai sumber yang di
dapat oleh penulis.
Pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan rasa terima kasih kepada pihak-
pihak yang telah membantu penulis didalam pembuatan makalah, yaitu kepada :

1. Nurhikma sasna junaidi, S.Pd.,M.Pd selaku dosen mata kuliah Fisika Dasar.
2. Orang tua serta kawan-kawan jurusan Teknik Sipil yang telah memberikan dorongan
moril dan materil untuk terus menuntut ilmu.

Akhir kata penulis berharap agar makalah ini dapat berguna bagi teman-teman maupun
pembaca lainnya.

Pasir Pengaraian, 21 Desemberr 2017

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR..................................................................................................................i
DAFTAR ISI..............................................................................................................................ii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang.............................................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah.......................................................................................................1
1.3 Tujuan Penulisan.........................................................................................................1
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Dasar Teori..................................................................................................................2
2.1.1 Gerak.....................................................................................................................2
2.1.2 Gravitasi................................................................................................................2
2.1.3 Tekanan Hidrostatis................................................................................................3
2.1.4 Kesetimbangan Benda Tegar....................................................................................3
2.1.5 Hukum Archimedes................................................................................................3
2.1.6 Hukum Newton III..................................................................................................3
2.2 Relevansi Ilmu Fisika Dengan Teknik Sipil................................................................4
2.2.1 Penentuan Sistem Pondasi Dan Perhitungan Bangunan Terhadap Gempa Bumi Akibat
Adanya Gerak.........................................................................................................4
2.2.2 Perhitungan Gaya Dalam Pada Bangunan Yang Terjadi Akibat Gravitasi...........4
2.2.3 Konsep Tekanan Hidrostatis Dalam Pembangunan Bendungan .........................5
2.2.4 Kesetimbangan Benda Tegar Pada Perhitungan Rangka Jembatan.....................6
2.2.5 Hukum Archimedes Pada Jembatan Ponton........................................................6
2.2.6 Hukum III Newton Pada Jembatan......................................................................7
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan..................................................................................................................8
3.2 Saran............................................................................................................................8
DAFTAR PUSTAKA.................................................................................................................9

ii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG


Teknik sipil merupakan salah satu cabang ilmu teknik yang mempelajari tentang
bagaimana merancang, membangun, merenovasi tidak hanya gedung dan infrastruktur,
tetapi juga mencakup lingkungan untuk kemaslahatan hidup manusia. Teknik sipil
mempunyai ruang lingkup yang luas, di dalamnya pengetahuan matematika, fisika,
kimia, biologi, geologi, lingkungan hingga komputer mempunyai peranannya masing-
masing. Teknik sipil dikembangkan sejalan dengan tingkat kebutuhan manusia dan
pergerakannya, hingga bisa dikatakan ilmu ini bisa merubah sebuah hutan menjadi kota
besar.
Seperti telah dijelaskan sebelumnya, salah satu ruang lingkup teknik sipil adalah
pengetahuan tentang fisika (dibatasi pada konteks teknik sipil). Dengan demikian,dunia
teknik sipi tak dapat dilepaspisahkan dari beberapa konsep fisika, yang pada dasarnya
dapat dijadikan sebagai acuan analisis. Konsep gerak, gravitasi, hukum Newton III,
kesetimbangan benda tegar, dan tekanan hidrostatis ini menjadi hal yang penting untuk
diketahui dan dipahami oleh seorang insinyur dalam melakukan perencanaan,
perancangan, dan pembangunan berbagai infrastruktur dan lingkungan lainnya yang
masuk dalam ruang lingkup Teknik Sipil.

1.2. RUMUSAN MASALAH


Rumusan masalah yang akan dibahas dari makalah ini adalah :
1. Cabang Ilmu Fisika apa saja yang digunakan dalam pekerjaan di bidang teknik sipil ?
2. Bagaimana relevansi dari cabang ilmu fisika dan cabang ilmu teknik sipil ?

1.3. TUJUAN PENULISAN


Tujuan dari penulisan makalah ini adalah :
1. Mengetahui dan memahami cabang ilmu fisika yang digunakan dalam perencanaan
dan pembangunan bendungan.
2. Mengetahui relevansi atau analogi ilmu fisika dan ilmu teknik sipil.

1
BAB II
PEMBAHASAN

1.1 DASAR TEORI

2.1.1 GERAK
Dalam fisika, gerak didefinisikan sebagai perubahan posisi suatu benda
terhadap waktu. Gerak biasanya digambarkan dalam
hal kecepatan, percepatan, perpindahan, dan waktu. Gerak diamati dengan
melampirkan kerangka acuan untuk tubuh dan mengukur perubahan dalam
posisi relatif terhadap yang lain kerangka acuan.
Mekanika merupakan cabang ilmu fisika tertua yang mempelajari gerak
benda-benda. Jika kita membahas tentang gerak, maka kita berhadapan dengan
bagian dari mekanika, yaitu kinematika. Selanjutnya, jika gerak dihubungkan
dengan gaya yang berkaitan dengannya dan sifat-sifat benda yang bergerak,
maka dikenal istilah kinematika.
Mekanika secara fundamental didasarkan pada tiga Hukum Newton tentang
Gerak. Hukum-hukum ini menggambarkan hubungan antara gaya dan gerak
yang bekerja pada benda. Mekanika pertama kali disusun oleh Sir Isaac
Newton dalam karyanya Philosophiae Naturalis Principia Mathematica,
pertama kali diterbitkan pada tanggal 5 Juli 1687.

2.1.2 GRAVITASI

Gambar 1 Gravitasi Bumi


Gravitasi merupakan fenomena alam dimana benda-benda menarik satu
sama lain dengan kekuatan yang proporsional. Gravitasi merupakan
agen yang memberikan bobot kepada objek dengan massa dan menyebabkan
objek jatuh ke tanah saat terjatuh. Gravitasi bertanggung jawab untuk
menjaga planet-planet tetap bergerak sesuai dengan orbit mengelilingi
matahari, menjaga bulan dalam orbitnya mengelilingi bumi,
pembentukan pasang surut, konveksi alam, aliran fluida yang terjadi
di bawah pengaruh kerapatan gradien dan gravitasi, untuk
memanaskan interior bintang dan planet-planet membentuk suhu yang sangat
tinggi, dan fenomena lain di bumi.

3
Fisika modern menjelaskan gravitasi menggunakan teori relativitas
umum oleh Einstein, dimana gravitasi merupakan konsekuensi dari
kelengkungan ruang-waktuyang mengatur gerak benda inersia.
Hukum Newton tentang gravitasi universal memberikan perkiraan yang akurat
tentang fenomena gravitasi ini.

2.1.3 TEKANAN HIDROSTATIS

Tekanan hidrostatis adalah tekanan yang diberikan oleh cairan pada


kesetimbangan karena pengaruh gravitasi. atau tekanan pada zat cair.
Besar tekanan zat cair bergantung pada kedalaman zat cair, semakin dalam
letak suatu bagian zat cair, akan semakin besar pula tekanan pada bagian itu.
Menurut hukum tekanan hidrostatis “Tekanan hidrostatis yang
terletak pada semua titik yang terletak pada suatu bidang datar
dalam suatu jenis zat cair yang sama besarnya sama"
Hukum tekanan hidrostatis berlaku jika zat cair dalam keadaan diam (tidak
mengalir).

2.1.4 KESETIMBANGAN BENDA TEGAR


Benda tegar adalah benda yang tidak mengalami perubahan bentuk akibat
pengaruh gaya atau momen gaya. Sebenarnya benda tegar hanyalah suatu
model idealisasi, karena pada dasarnya semua benda akan mengalami
perubahan bentuk apabila dipengaruhi oleha gaya atau momen gaya. Akan
tetapi , karena perubahannya sangat kecil maka pengaruhnya terhadap
kesetimbangan statik dapat diabaikan.

2.1.5 HUKUM ARCHIMEDES

Ahli Fisika yang bernama Archimedes mempelajari hal ini dengan cara
memasukkan dirinya pada bak mandi. Ternyata, ia memperoleh hasil yang
sama dengan hasil percobaanmu, yakni beratnya menjadi lebih ringan ketika di
dalam air. Gaya ini disebut gaya apung atau gaya ke atas (FA). Hukum
Archimedes yang menyatakan bahwa apabila suatu benda dicelupkan ke dalam
zat cair, baik sebagian atau seluruhnya, benda akan mendapat gaya apung
(gaya ke atas) yang besarnya sama dengan berat zat cair yang didesaknya
(dipindahkan) oleh benda tersebut. Secara matematis ditulis sebagai berikut.

3
Gambar 2 Hukum Archimedes
- Benda terapung jika massa jenis benda lebih kecil dari massa jenis zat
cair
- Benda melayang jika massa jenis benda sama besar dengan massa jenis
zat cair.
- Benda tenggelam jika massa jenis benda lebih besar dari massa jenis zat
cair.

2.1.6 HUKUM III NEWTON

Gambar 3 Hukum Newton III


Hukum III Newton menyatakan bahwa jika benda 1 memberikan
gaya pada benda 2 maka pada saat yang sama benda 2 memberikan
gaya pada benda 1. Besar kedua gaya sama tetapi arah
kedua gaya berlawanan. Salah satu gaya disebut aksi,
gaya lainnya disebut reaksi. Tanda negatif menjelaskan arah gaya.
F aksi bertanda positif sedangkan F reaksi bertanda negatif. Hal ini
menunjukan bahwa gaya aksi dan rekasi berlawanan arah

3
2.2 RELEVANSI ILMU FISIKA DENGAN TEKNIK SIPIL

2.2.1. PENENTUAN SISTEM PONDASI DAN PERHITUNGAN BANGUNAN


TERHADAP GEMPA BUMI AKIBAT ADANYA GERAK
Gerak Bangunan Akibat Gerak Tanah : gerakan ini disebabkan oleh adanya
dua atau beberapa macam tanah di bawah bangunan, sehingga reaksi tanah
tidak sama atau merata. Diperlukan untuk menyelidiki tanah sebelum
menentukan sistem pondasi yang akan digunakan. Penyelidikan tanah dapat
berupa sondering, tes laboratorium atau pengeboran untuk menentukan garis
permukaan air pada musim kemarau dan hujan.
Goyangan Bangunan Akibat Gempa Bumi: terjadi akibat longsoran tanah,
gempa tektonik, letusan gunung berapi, bahan peledak pada tambang. Getaran
gempa dapat berupa gerak vertikal dan horisontal. Hubungan-hubungan dan
landasan struktur mendapat goyangan seperti hendak dipatahkan dan diuji
kekokohannya. Perlu diadakan perhitungan terhadap gempa pada bangunan 4
lantai atau lebih dan bangunan besar walaupun tidak bertingkat.

2.2.2. PERHITUNGAN GAYA DALAM PADA BANGUNAN YANG TERJADI


AKIBAT GRAVITASI
Pada saat ini, ada beberapa metode analisa struktur yang dapat dipakai
untuk menghitung besarnya gaya-gaya dalam yang terjadi akibat beban
gravitasi pada bangunan tinggi. Metode yang umum dipakai selama ini adalah
metode pembebanan langsung, di mana pembebanan diberikan sekaligus
segera setelah proses pembangunan selesai, tanpa memperhatikan proses
pembangunan di lapangan.
Metode lainnya, yaitu metode sequential loading memberikan pembebanan
secara bertahap sesuai dengan proses pembangunan di lapangan. Analisa
struktur dengan metode pembebanan langsung memberikan hasil perhitungan
gaya-gaya dalam yang lebih besar dibandingkan dengan metode sequential
loading

7
2.2.3. KONSEP TEKANAN HIDROSTATIS DALAM PEMBANGUNAN
BENDUNGAN

Gambar 4. Bendungan
Bendungan atau dam adalah konstruksi yang dibangun untuk menahan
lajuair menjadi waduk, danau, atau tempat rekreasi. Seringkali bendungan juga
digunakan untuk mengalirkan air ke sebuah Pembangkit Listrik Tenaga Air.
Kebanyakan dam juga memiliki bagian yang disebut pintu air untuk
membuang air yang tidak diinginkan secara bertahap atau berkelanjutan.
Bendungan (dam) dan bendung(weir) sebenarnya merupakan struktur yang
berbeda. Bendung (weir) adalah struktur bendungan berkepala rendah
(lowhead dam), yang berfungsi untuk menaikkan muka air, biasanya terdapat
di sungai. Air sungai yang permukaannya dinaikkan akan melimpas melalui
puncak / mercu bendung (overflow). Dapat digunakan sebagai pengukur
kecepatan aliran air di saluran / sungai dan bisa juga sebagai penggerak
pengilingan tradisional di negara-negara Eropa. Di negara dengan sungai yang
cukup besar dan deras alirannya, serangkaian bendung dapat dioperasikan
membentuk suatu sistem transportasi air. Di Indonesia, bendung dapat
digunakan untuk irigasi bila misalnya muka air sungai lebih rendah dari muka
tanah yang akan diairi.

Gambar 5 Struktur Dinding Bendungan

7
Hubungan antara tekanan hidrostatis dengan bendungan dapat dilihatt dari
struktur dinding bendungan. Dinding bendungan bagian bawah dibuat lebih
tebal dari bagian atas agar bendungan tidak hancur karena tekanan zat cair
terbesar berada pada dasar permukaan zat cair. Hal ini sesuai dengan prinsip
tekanan hidrostatis yang menyatakan semakin dalam letak suatu bagian zat
cair, akan semakin besar pula tekanan pada bagian itu.

2.2.4. KESETIMBANGAN BENDA TEGAR PADA PERHITUNGAN RANGKA


BATANG JEMBATAN

Gambar 6 Jembatan

Prinsip kesetimbangan benda tegar menyatakan bahwa benda-benda dalam


keadaan setimbang ketika jumlah gaya-gaya yang bekerja padanya bernilai
nol. Pada pembahasan mengenai aksi reaksi, tiap gaya aksi yang diberikan
beban kepada tumpuan akan dibalas oleh tumpuan dengan gaya reaksi yang
besarnya sama namun berlawanan arah. sudah membuktikan bahwa prinsip
kesetimbangan benda tegar teraplikasikan pada jembatan.
Namun, ada elemen struktur lain yang menggunakan prinsip kesetimbangan
benda tegar. Elemen struktur tersebut adalah rangka batang ( truss ). Rangka
batang dibuat berbentuk segitiga dengan berbagai macam pola, hal ini
dimaksud agar tidak ada gaya geser dari beban yang bekerja.

Gambar 7 Rangka Batang Pada Jembatan

Prinsip Kesetimbangan benda tegar diaplikasikan untuk menghitung


tegangan dan tarikan dari batang batang dari rangka batang jembatan tersebut.
Dalam ilmu teknik sipil , metode analisis gaya gaya batang ini disebut dengan
metode titik buhul (joint).

7
2.2.5. HUKUM ARCHIMEDES PADA JEMBATAN PONTON
Peristiwa mengapung suatu benda karena memiliki rongga udara
dimanfaatkan untuk membuat jembatan yang terbuat dari drum-drum berongga
yang dijajarkan melintang aliran sungai. Volume air yang dipindahkan
menghasilkan gaya apung yang mampu menahan berat drum itu sendiri dan
benda-benda yang melintas di atasnya. Setiap drum penyusun jembatan ini
harus tertutup agar air tidak dapat masuk ke dalamnya. Hal ini dilakukan agar
jembatan dapat terus mengapung.

Gambar 8 Jembatan Ponton


2.2.4. HUKUM III NEWTON PADA JEMBATAN

Pada prinsipnya setiap benda yang memiliki gaya berat akan ada gaya yang
besarnya sama dan berlawanan arah dengan gaya berat tersebut yaitu gaya
normal. Prinsip fisika Hukum III newton tersebut juga berguna dalam
pembangunan struktur jembatan. Hukum aksi reaksi berlaku pada tumpuan
atau perletakan dari jembatan. Setiap gaya aksi yang diberikan oleh beban
kepada tumpuan akan mendapat reaksi yang besarnya sama dari tumpuan
kepada beban tersebut. Sehingga sistem jembatan tetap dalam keadaan statis
(diam). Prinsip fisika aksi reaksi ini berguna untuk menghitung reaksi
perletakan sehingga dapat mengontrol lendutan
nantinya.

Gambar 9 Jembatan

pada gambar diatas misalnya, jembatan dibebani oleh gaya aksi yaitu
beratnya sendiri (komponen) dan juga beban hidup(truk) maka masing-masing
ujung jembatan akan memberi reaksi yang besarnya sama namun arahnya
berlawanan.

7
BAB III
PENUTUP

3.1 KESIMPULAN
Setelah memelajari relevansi antara Ilmu Fisika dengan Teknik Sipil, maka
dapat disimpulkan bahwa :

1. Ilmu Teknik Sipil bukanlah ilmu yang independent ( berdiri sendiri),


karena di dalam ilmu Teknik Sipil di pelajari pula ilmu lainnya, seperti
ilmu fisika, matematika, komputer, ddl.

2. Pentingnya memelajari ilmu Fisika dalam perkuliahan Teknik Sipil, karena


di dalam penerapan Teknik Sipil pada kehidupannya nyata, banyak
ditemukan konsep-konsep ilmu Fisika.

3. Konsep-konsep ilmu Fisika yang berhubungan dengan Teknik Sipil


diantaranya yaitu gerak, gravitasi, kesetimbangan benda tegar, tekanan
hidrostatis, hukum Archimedes, hukum Newton III.

4. Relevansi antara Ilmu Fisika dan Teknik Sipil terdapat pada penentuan
sistem podasi dan perhitungan bangunan terhadap gempa Bumi akibat
adanya gerak, perhitungan gaya dalam pada bangunan yang terjadi akibat
gravitasi, konsep tekanan pada pembangunan bendungan, kesetimbangan
benda tegar pada perhitungan rangka jembatan, hukum Archimedes pada
jembatan ponton, hukum III Newton pada jembatan.

3.2 SARAN

Karena banyaknya relevansi antara Ilmu Fisika dengan Teknik Sipil, maka
hendaknya semangat dalam pembelajaran Ilmu Fisika ditingkatkan, khusunya
bagi mahasiswa Teknik Sipil. Selain itu, proses pembelajaran Fisika dikelas
sebaiknya dikembangkan lagi, sehingga dalam proses belajar mengajar,
mahasiswa tidak jenuh.

8
DAFTAR PUSTAKA

Khristianto, Yuda. 2013. Contoh Aplikasi Fisika Dalam Kehidupan. (Online),


(http://ipaceria47.blogspot.co.id/2013/03/contoh-aplikasi-fisika-dalam-
kehidupan.html, Diakses pada 22 Oktober 2015)

Mualim, Fyrisco. 2013. Bendungan Dasar. (Online),


(https://www.academia.edu/4880142/BENDUNGAN_DASAR, Diakses pada 20
Oktober 2015)

Tomy. 2011. Penjelasan Tentang Bendungan. (Online),


(https://totobolacrot.wordpress.com/2011/08/30/var-adfly_id-811511-var-
adfly_advert-int-var-frequency_cap-5-var-frequency_delay-5-var-init_delay-3,
Diakses Pada 19 Oktober 2015)

Wikipedia. 2014. Bendungan. (Online),


(https://id.wikipedia.org/wiki/Bendungan, Diakses pada 19 Oktober 2015)

Yobi. 2014. Relevansi Ilmu Fisika Dan Teknik Sipil. (Online), (http://yobi-
engineering.blogspot.co.id/2015_01_01_archive.html, Diakses pada 18 Oktober 20

9
9