Anda di halaman 1dari 13

Batuan Piroklastik

Disusun Oleh :
Adinda Fitri Rahmawati
111.140.130
Kelas B

JURUSAN TEKNIK GEOLOGI


FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN”
YOGYAKARTA
2016
Mineralgi Optik dan Petrografi 2016

Batuan Piroklastik

Batuan piroklastik adalah batuan volkanik klastik yang dihasilkan oleh


serangkaian proses yang berkaitan dengan letusan gunungapi. Material
penyusu n tersebut terendapkan dan terbatukan / terkonsolidasikan sebelum
mengalami transportasi (reworked) oleh air atau es ( Williams, 1982).
1. Komponen Penyusun Batuan Piroklastik
Fisher (1984) dan Williams, (1982) mengelompokkan material -
material penyusun batuan piroklastik menjadi:
a. Kelompok Material Esensial ( Juvenil)
Material yang berasal langsung dari letusan gunung api
yaitu magma dalam bentuk padatan atau cairan serta buih
magma. Massa yang awalnya berupa padatan menjadi blok
piroklastik, massa cairan akan membeku dan cenderung
membentuk bom piroklastik dan buih magma akan menjadi
batuan yang porous dan sangat ringan, dikenal dengan
batuapung (pumice).
b. Kelompok material Asesori ( Cognate)
Material berasal dari endapan letusan gunung api
sebelumnya dari gunungapi yang sama atau tubuh volkanik
yang lebih tua.
c. Kelompok Asidental (Bahan Asing)
Material hamburan dari batuan dasar yang lebih tua di
bawah gunung api tersebut, terutama adalah batuan dinding di
sekitar leher volkanik. Batuannya dapat berupa batuan
beku,sedimen atau metamorf.

NAMA : ADINDA FITRI RAHMAWATI Page 1


NIM : 111.140.130
KELAS: B
Mineralgi Optik dan Petrografi 2016

2. Genesa Batuan Piroklastik

Gambar 1 Ilustrasi terbentuknya partikel/butiran vulkanik hingga proses sedimentasi


dan lithifikasi
Batuan piroklastik terbentuk dari hasil letusan gunung berapi yang
memiliki material asal yang berbeda-beda, lalu mengalami suatu proses
transportasi setelah itu terendapkan dan akhirnya terlithifikasi.
Di dalam gunung berapi magma yang bersifat encer bergerak ke
permukaan bumi menerobos melalui rekahan-rekaham akibat proses
tektonisme, sehingga apabila magma tersebut bertekanan tinggi maka
gunung tersebut meletus dan magma pun terlempar ke udara menuju ke
permukaan. Akibat dari letusan tersebut maka selanjutnya terjadi suatu
proses pendinginan yang sangat cepat, sehingga magma membeku dan
membentuk gelas (obsidian), tufa (abu halu), dan batuan apung dengan
rongga-rongga yang mengandung gas. Material-material halus atau tufa
karena berat jenisnya yang sangat ringan umumnya akan terbawa jauh oleh
udara tetapi pada obsidian dan lapili biasanya berada di sekitar puncak
gunung api atau pada area vulcanic flow.
Keterbentukannya batuan piroklastik diawali oleh meletusnya
gunung api, mengeluarkan magma dari dalam bumi diakibatkan dari energi
yang sangat besar yaitu gaya endogen dari pusat bumi. Gaya endogen ini
berupa panas inti bumi yang menyebakan arus konveksi terjadi. Magma
yang dikeluarkan oleh gunung itu terhempas ke udara melalui bidang yang
lemah atau rekahan, sehingga magma tersebut membeku karena penurunan
suhu dan membentuk gumpalan yang mengeras yang kemudian disebut
batu. Gumpalan tersebut memiliki tekstur dan struktur yang tertentu pula.
Sedangkan batu-batu tadi yang telah mengalami proses pengangkutan

NAMA : ADINDA FITRI RAHMAWATI Page 2


NIM : 111.140.130
KELAS: B
Mineralgi Optik dan Petrografi 2016

(transportasi) oleh faktor luar yaitu angin dan air, maka batuan tersebut
disebut dengan batuan epiklastik.
Batuan epiklastik ini yaitu batuan yang telah tertransportasikan
yang mengakibatkan terjadinya pengikisan pada batuan oleh faktor luar
tersebut. Batuan epiklastik ini terdapat pada dataran yang rendah,
disebabkan oleh air dan angin yang membawanya ke tempat yang rendah
disekitar gunung api atau berupa cekungan dan lembah.
Klasifikasi Endapan Piroklastik
Endapan piroklastik terjadi akibat adanya jatuhan pada saat gunung
api meletus, dan pada saat pengendapan memiliki ukuran ketebalan yang
sama pada endapannya. Piroklastik lainnya yaitu piroklastik aliran akan
membentuk penebalan apabila pada proses pengendapannya terdapat
cekungan, dan piroklastik surge merupakan gabungan antara piroklastik
endapan dan piroklastik aliran.
a) Endapan Jatuhan Piroklastik
Hasil dari letusan eksplosif material vulkanik ke atmosfer dan jatuh
kembali ke bawah dan terkumpul di sekitar gunung api. Endapan
jatuhan piroklastik yang terjadi dari letusan gunung api yang meletus
kemudian terlempar pada suatu permukaan, memiliki ketebalan
endapan yang relatif berukuran sama.
b) Endapan Aliran Piroklastik
Dihasilkan dari pergerakan lateral di permukaan tanah dari
fragmen-fragmen piroklastik yang tertransport dalam matrik fluida
(gas atau cairan), material vulkanik ini tertransportasi jauh dari gunung
api. Endapan piroklastik yang umumnya mengalir kebawah dari pusat
letusan gunung api yang memiliki kecepatan tinggi pada saat adanya
longsoran.
c) Endapan Surge Piroklastik
Endapan piroklastik surge dihasilkan dari letusan gunung api yang
kemudian mengalir karena adanya penyatuan dari jatuhan dan aliran.
Karakteristiknya endapan ini menunjukan stratifikasi bersilang,
struktur dunes, laminasi planar, struktur anti dunes dan pind and swell,

NAMA : ADINDA FITRI RAHMAWATI Page 3


NIM : 111.140.130
KELAS: B
Mineralgi Optik dan Petrografi 2016

endapan sedikit menebal di bagian topografi rendah dan menipis pada


topografi tinggi.
3. Struktur Batuan Piroklastik
Struktur yang hanya dimiliki batuan piroklastk adalah welded.
Welded (struktur pengelasan) terbentuk ketika klastika pijar
terlempar keudara dalam kondisi panas akan memiliki
kencendrungan untuk mengalami pengelasan antar satu klastika
dengan klastika lainya.

Gambar 2 Welded
4. Tekstur Batuan Piroklastik

Menurut Pettijohn (1975) tekstur adalah kenampakan yang


berhubungan dengan ukuran dan bentuk butir serta susunanya
a) Ukuran Butir (Grain Size)
Ukuran butir pada batuan piroklastik merupakan salah satu
kriteria dalam melakukan penamaan batuan piroklastik tanpa
mempertimbangkan genesanya:
Tabel 1 Ukuran Butir Batuan Piroklatik

NAMA : ADINDA FITRI RAHMAWATI Page 4


NIM : 111.140.130
KELAS: B
Mineralgi Optik dan Petrografi 2016

b) Pemilahan (Sorting)
Pemilahan adalah keserahaman ukuran butir pada penyusun
batuan endapan/sedimen. Pemilahan dibagi menjadi beberapa
kelompok yaitu:
1) Terpilah baik (well sorted), ukuran butir yang terlihat pada
batuan sedimen relatif seragam.
2) Terpilah sedang (moderately sorted), ukuran butir yang
terlihat pada batuan sedimen ada yang seragam dan ada
yang tidak seragam.
3) Terpilah buruk (poorly sorted), ukuran butir yang terlihat
pada batuan sedimen beragam mulai dari lempung-kerikil
bahkan bongkah.
Menurut after Folk (1974) pemilahan dibagi
berdasarkan dari deviasi grafik phi. Digambarkan oleh tabel
dibawah ini:
Tabel 2 Pemilahan berdasarkan deviasi grafik phi after Folk (1974)

Phi Standard Verbal Sorting


Deviation
< 0,35 Very well sorted
0,35-0,5 Well sorted
0,5-0,7 Moderately well sorted
0,7-1 Moderately sorted
1-2 Poorly sorted
2-4 Very poorly sorted
>4 Extremely poorly sorted

NAMA : ADINDA FITRI RAHMAWATI Page 5


NIM : 111.140.130
KELAS: B
Mineralgi Optik dan Petrografi 2016

Gambar 3 Pemilahan berdasarkan deviasi grafik phi


(https://basdargeophysics.wordpress.com/2012/04/17/batuan-sedimen/)
c) Kebundaran (Roundness)
Berdasarkan kebundaran atau keruncingan butir
sedimen maka Pettijohn, dkk., (1987) membagi kategori
kebundaran menjadi enam yaitu:
a. Sangat menyudut (very angular), permukaan kasar dengan
ujung butirannya sangat runcing dan tajam.
b. Menyudut (angular), permukaan kasar dengan ujung
butirannya runcing dan tajam.
c. Agak menyudut (subangular), permukaan datar dengan
ujung butirannya tajam.
d. Agak membundar (subrounded), permukaan umumnya
datar dengan ujung butirannya membundar.
e. Membundar (rounded), permukaan membundar dengan
ujung butiran serta tepinya cekung.
f. Membundar sempurna (well-rounded), hampir seluruh
permukaan cembung.

Gambar 4 Kategori kebundaran dan keruncingan butiran sedimen


(Pettijohn, dkk., 1987).

NAMA : ADINDA FITRI RAHMAWATI Page 6


NIM : 111.140.130
KELAS: B
Mineralgi Optik dan Petrografi 2016

Tekstur Batuan Piroklastik dibagi menjadi lima (5) yaitu:


1) Volcanic Brecia, breksi yang terdiri atas fragmen dari berbagai bahan
vulkanik.

Gambar 5 Volcanic Brecia


2) Spherulite, massa kristal yang memencar dalam matriks gelas yang terdiri
dari alkali feldspar dan beberapa pilimorf SiO2, dengan kenampakan pada
sayatan tipis berupa objek bulat dengan persilangan hitam.

Gambar 6 Spherulite
3) Vitrophyre (Obsidian Bearing Fenokris), pada sayatan tipis sebagian besar
fenokris adalah plagioklas dan massar dasar berupa kaca obsidian.

Gambar 7 Vitrophyre

NAMA : ADINDA FITRI RAHMAWATI Page 7


NIM : 111.140.130
KELAS: B
Mineralgi Optik dan Petrografi 2016

4) Poorly-Welded tuff, kenampakan pada sayatan tipis adalah pecahan-


pecahan gelas telah mengalami deformasi.

Gambar 8 Poorly-Welded tuff


5) Lightly-compacted tuff, kenampakan pada sayatan tipis dari tekstur ini
adalah kebalikan Poorly-Welded tuff, dimana pecahan-pecahan gelas
belum mengalami deformasi.

Gambar 9 Lightly-compacted tuff


5. Komponen Mineral Batuan Piroklastik
a) Mineral-Mineral Sialis
 Kuarsa (SiO2), hanya ditemukan pada batuan gunungapi
yang kaya kandungan silika atau bersifat asam.
 Felspar, baik alkali felspar maupun kalsium felspar (Ca)
 Felspatoid, merupakan kelompok mineral yang
terbentuk jika larutan magma dalam keadaan tidak atau
kurang jenuh silika.
b) Mineral Ferromagnesian
Merupakan kelompok mineral yang kaya kandungan Fe dan
Mg silikat disusul oleh Ca silikat. Mineral tersebut hadir dalam
kelompok mineral

NAMA : ADINDA FITRI RAHMAWATI Page 8


NIM : 111.140.130
KELAS: B
Mineralgi Optik dan Petrografi 2016

 Piroksen, mineral penting dalam batuan gunung api


 Olivin, merupakan mineral yang kaya akan besi
dan magnesium dan miskin silika.
 Hornblende, biasanva hadir dalam andesit
 Biotit, merupakan mineral mika yang terdapat
dalam batuan volkanik berkomposisi intermediet
hingga asam.
c) Mineral Tambahan
 Ilmenit dan magnetit yang merupakan mineral bijih.
Selain itu seringkali didapati mineral senyawa sulfida
atau sulfur murni.
d) Mineral Ubahan
Mineral ubahan seringkali muncul saat batuan terlapukkan
atau terkena alterasi hidrotermal. Mineral tersebut seperti:
klorit, epidot, serisit, limonit, montmorilonit dan lempung,
kalsit.
6. Klasifikasi Batuan Piroklastik

7. Klasifikasi batuan piroklastik Schmid, 1981


1) Schmid, 1981, membagi batuan piroklastik berdasarkan ukuran
butirnya 0-2mm (tuff), 2-64mm (lapilli), dan (>64mm Breksi)
Tabel 4 Klasifikasi batuan piroklastik berdasrkan ukurannya (Schmid, 1981)
Ukuran Piroklas Endapan piroklastik
Tefra (tak Batuanpiroklastik
terkonsolidasi) (terkonsolidasi)
> 64 mm Bom, blok Lapisan bom / blok Aglomerat, breksi
piroklastik
Tefra bom atau blok
2 – 64 Lapili Lapisan lapili atau Batulapili (lapillistone)
mm
Tefra lapili
1/16 – 2 Abu/debu Abu kasar Tuf kasar
mm kasar
< 1/16 Abu/debu Abu/debu halus tuf halus
mm halus

NAMA : ADINDA FITRI RAHMAWATI Page 9


NIM : 111.140.130
KELAS: B
Mineralgi Optik dan Petrografi 2016

2) Klasifikasi Menurut H. William F.J Tunner Dan C.M Gilbert (1954)


William F.J Turner Dan C.M Giblert (1954) membagi batuan
piroklastik berdasarkan ukuran butirnya. Bom dan bongkahan apabila
ukurannya lebih besar dari 32mm, lapili (4-32mm) dan abu (<4mm) . Bom
merupakan bahan lepas yang padat saat dikeluarkan sudah berupa bahan
padat akan membentuk endapan breksi gunung api.
Tabel 3 Klasifikasi Menurut H. William F.J Tunner Dan C.M Gilbert
(1954)

Size UNCONSOLIDATED CONSILDATED

Bomb Angglomerat

Block Volcanic Breciass

> 23 Block and ashes Tuff Breceiass

Lapili Lapili

4- 32 Cinder (vecikuler) Cindey lapili tuft

¼-4 Coarse Ash Coarse Tuft

<¼ Asg or volcanic dust Tuft


3) Klasifikasi Fisher 1966
Jika batuan piroklastik terdiri dari campuran berbagai ukuran
piroklas, klasifikasi dengan diagram segitiga (Fischer, 1966) dengan
melihat komposisi abu, lapili dan bom atau blocks.

Gambar 10 Klasifikai Fisher 1966

NAMA : ADINDA FITRI RAHMAWATI Page 10


NIM : 111.140.130
KELAS: B
Mineralgi Optik dan Petrografi 2016

4) Menurut Williams, Turner dan Gilbert (1954), tuf dapat


diklasifikasikan menjadi :
1. Vitric Tuff :tuf dengan penyusun utama terdiri dari gelas
2. Lithic Tuff :tuf dengan penyusun utama terdiri dari fragmen batuan
3. Crystal Tuff :tuf dengan penyusun utama kristal dan pecahan –
pecahan kristal
5) Pettijohn (1975) membuat klasifikasi tuf, dengan membandingkan
prosentase gelas dengan kristal, yaitu:
1. Vitric Tuff :Tuf mengandung gelas antara 75% - 100% dan kristal
0% - 25%.
2. Vitric crystal tuff :Tuf mengandung gelas antara 50% - 75% dan
kristal 25% - 50%.
3. Crystal vitric tuff :Tuf mengandung gelas antara 25% - 50% dan
kristal 50% - 75%.
4. Crystal tuff : Tuf mengandung gelas antara 0% - 25% dan kristal
75% - 100%.

Gambar 11 Klasifikai Tuff berdasarkan komposisi fragmen

NAMA : ADINDA FITRI RAHMAWATI Page 11


NIM : 111.140.130
KELAS: B
DAFTAR PUSTAKA

Jr, Sam Boggs. 2009. Petrology of Sedimentary Rocks Second Edition.USA:


Cambridge University Press.

Tim Penyusun. 2015. Buku Panduan Praktikum Petrologi. Yogyakarta: UPN


“Veteran” Yogyakarta

Anonim.2016. Petrografi Batuan Piroklastik


(http://mentarigeologi.blogspot.co.id/2016/01/petrografi-batuan-
piroklastik.html, diakses pada tanggal 1 Juni 2016)

Anonim.2014. Petrografi Batuan Beku Fragmental Piroklastik


(https://elangnaga.wordpress.com/2014/01/26/petrografi-batuan-beku-
fragmental-piroklastik/, diakses pada tanggal 1 Juni 2016)

Anonim.2013. Klasifikasi Penamaan Batuan Piroklastik


(http://khariswiratama.blogspot.co.id/2013/10/klasifikasi-penamaan-batuan-
piroklastik.html, diakses pada tanggal 1 Juni 2016)

Anonim.2013. Batuan Beku Fragmental (http://muhaimin-


27.blogspot.co.id/2013/06/batuan-beku-fragmental.html, diakses pada
tanggal 1 Juni 2016)

Anonim.-. Batuan Piroklastik


(https://www.academia.edu/8825662/BATUAN_PIROKLASTIKdiakses
pada tanggal 1 Juni 2016)