Anda di halaman 1dari 7

RELASI REKURSIF

Tugas ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah


Matematika Diskrit

Dosen Pengampu:
Dr. Pradnyo Wijayanti, M.Pd

Disusun Oleh:
Kelompok 1
1. Amirul Khumaini .S (17070785013)
2. Andik Saputro (17070785049)
3. Ditya Rifky R (17070785038)

PROGRAM STUDI S2 PENDIDIKAN MATEMATIKA


PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA
2017
RELASI REKURSIF
A. Pendahuluan
Relasi rekursif sering juga disebut relasi berulang. Relasi ini mendefinisikan sebuah
barisan dengan memberikan nilai ke-n yang dikaitkan dengan suku–suku sebelumnya. untuk
mendefinisikan sebuah barisan, relasi berulang memerlukan nilai awal yang sudah ditentukan.
Secara formal relasi berulang ini didefinisikan sebagai sebuah relasi berulang untuk barisan

... merupakan sebuah persamaan yang mengkaitkan dengan ..., .

Syarat awal untuk barisan ... adalah nilai-nilai yang diberikan secara eksplisit pada

beberapa suku dari barisan tersebut.


Banyak permasalahan dalam matematika yang dapat dimodelkan dalam bentuk relasi
rekursif, kombinatorik merupakan salah satunya. Misal Pn menyatakan banyaknya permutasi dari
n objek berbeda, maka P1 = 1 karena hanya ada satu permutasi dari 1 objek. Untuk n ≥ 2
terdapat n kemungkinan posisi dari satu objek dan setiap kemungkinan posisi dari satu objek
akan diikuti oleh permutasi dari n – 1 objek. Karena banyaknya permutasi dari n – 1 objek ini

adalah Pn – 1 maka terdapat hubungan dengan demikian

P1 = 1 ; Pn = Pn – 1 , n ≥ 2 (2. 1. 1)
Bentuk diatas disebut relasi rekursif untuk Pn, banyaknya permutasi dari n objek. P1 = 1 disebut
kondisi awal sedangkan Pn = n.Pn – 1 disebut bagian rekusif dari relasi rekursif tersebut.

Contoh :
Tentukan relasi rekursi untuk menentukan banyaknya cara menyusun n buah objek yang
berbeda dalam suatu barisan serta banyaknya cara untuk menyusun 8 buah objek.

Penyelesaian:
Misalkan menyatakan banyaknya cara menyusun n objek yang berbeda, maka ada n cara
meletakan n objek pada urutan pertama di barisan. Dengan cara yang sama untuk , maka
ada cara. Oleh karena itu formula relasi rekursif dapat dinyatakan sebagai
.

B. Barisan Fibonacci
Relasi rekursif yang paling terkenal dan sering digunakan yaitu barisan Fibonacci. Relasi
rekursif ini merupakan salah satu relasi rekursif yang paling tua di dunia, dibahas pada buku
Liber Abbaci yang ditulis oleh Leonardo of Pisa atau yang lebih dikenal dengan nama Fibonacci
pada tahun 1202.
Pada saat itu dicoba untuk menghitung jumlah pasangan kelinci yang ada, jika setiap
pasangan kelinci setiap bulan dapat menghasilkan sepasang anak kelinci baru.

2
(1, 1, 2, 3, 5, 8, 13, 21, 34, 55, 89, ...)

Misalkan Fn menyatakan suku ke-n dari barisan tersebut, perhatikan bahwa n 3, suku ke-n dari

barisan tersebut adalah jumlah dari dua suku sebelumnya, sehingga relasi rekursif untuk F n
ditulis:
F1 = 1 , F2 = 1; Fn = Fn-1 + Fn –2 , n ≥ 3
Dalam relasi tersebut terdapat dua kondisi awal yaitu F1 = 1 dan F2 = 1. Jika kondisi awal diubah,
maka barisan fibonacci yang diperoleh akan berbeda dengan di atas.

C. Relasi Rekurensi Linier Berkoefisien Konstanta

Bentuk umum bagian rekursif dari suatu relasi rekursif linier berderajat k dapat ditulis
sebagai berikut:

Dengan , untuk setiap i , dan f(n) adalah sebuah fungsi numerik dengan variabel
n.
Jika f(n) = 0 maka relasi rekursifnya disebut homogen

Jika f(n) 0 maka relasi rekursifnya disebut nonhomogen

Selanjutnya jika untuk setiap konstanta, maka relasi tersebut


dinamakan “relasi rekursif dengan koefisien konstanta”

Misalnya,

i)
Maka, bentuk barisan dapat ditulis sebagai
Karena , , maka disebut relasi rekursif linear nonhomogen berderajat dua
dengan koefisien konstanta
ii)
Maka, bentuk barisan dapat ditulis sebagai
Karena , , maka disebut relasi rekursif linear homogen berderajat dua
dengan koefisien konstanta
iii)
Maka, bentuk barisan dapat ditulis sebagai
Karena , maka disebut relasi rekursif nonlinear
iv)

a. Relasi Rekursif Linear Homogen Dengan Koefisien Konstanta

Bentuk umum dari relasi rekursif linier homogen dengan koefisien konstanta adalah
sebagai berikut :

3
(2.2.1)

Dengan k kondisi awal, untuk 1≤ i ≤ k, = konstanta.

Pada bagian ini akan dikembangkan suatu teknik untuk menyelesaikan relasi rekursif.
Untuk maksud tersebut diperlukan teorema berikut:

Teorema 2.2.1: (prinsip superposisi). Jika berturut-turut adalah solusi


dari:

, (2.2.2)

dan

(2.2.3)

Maka untuk sebarang konstanta , adalah sebuah solusi dari:

(2.2.4)

Bukti :

karena berturut – turut adalah solusi dari (2.2.2) dan (2.2.3) maka

, dan

Misal :

, maka

Ini berarti solusi dari (2.4) terbukti

Sebagai akibat dari teorema 2.2.1 diperoleh teorema berikut:


Teorema 2.2.2 :

jika , adalah solusi – solusi dari

4
, (2.2.5)

maka juga solusi dari (2.2.5) untuk sebarang konstanta

Untuk menyelesaikan relasi (2.2.1), pertama-tama misalkan , untuk menentukan x,

substitusikan dengan pada (2.2.1) dimana i{n, n-1, n-2, ..., n-k}. Diperoleh

Bagi kedua ruas persamaan tersebut dengan diperoleh :

(2.2.6)

Persamaan (2.2.6) disebut persamaan karakteristik dari relasi rekursif homogen dengan
koefisien konstanta. Pada umumnya persamaan (2.2.6) mempunyai k akar, beberapa
diantaranya mungkin bilangan kompleks.

Jika adalah k akar-akar (yang berbeda) dari persamaan (2.2.6), maka ;

1≤ i ≤ k adalah penyelesaian dari Berdasar


teorema 2.2.2 jika g1(n), g2(n), ..., gk(n) berturut-turut adalah solusi dari

maka ; adalah

penyelesaian dari . Dengan demikian solusi


umum dari relasi rekursif (2.2.1) adalah

= (2.2.7)

Dari persamaan (2.2.7) dan k kondisi awal akan terbentuk suatu sistem persamaan yang
terdiri dari k persamaan dengan k variabel . Jika penyelesaian dari sistem
persamaan ini kita substitusikan ke persamaan (2.2.7), diperoleh solusi dari relasi rekursif
(2.2.1).
Contoh:
Selesaikan relasi rekursif berikut dengan akar karakteristik

a0 = 0, a1 = -1 ; an = 7an-1 – 12an-2,

penyelesaian:

misalnya an = xn : x 0 maka bentuk rekursif an = 7an-1 – 12an-2 menjadi

xn = 7xn-1 – 12xn-2, ekuivalen dengan xn – 7xn-1 – 12xn-2 = 0


bagikedua ruas dengan xn-2, sehingga diperoleh persamaan karakteristik
x2 – 7x + 12 = 0
dengan akar-akar karakteristiknya x1 = 4 dan x2 = 3
sehingga solusi homogen (umum) dari relasi rekkursif tersebut adalah

5
an(h) = +

an(h) = + ............................(1)

karena kondisi awal a0 = 0 dan a1 = -1


maka dari persamaan (1) diperoleh persamaan

+ ......................................(2)

+ ......................................(3)

Dari persamaan (2) dan (3) diperoleh


c1 = -1 dan c2 = 1
subtitusi nilai c1 dan c2 ke pers (1) sehingga diperoleh solusi homogen (khusus) dari relasi
rekursif berikut
an = -1 . 4n – 1 . 3n
an = - 4n – 3n

Contoh 2.2.1:

Selesaikanlah hubungan rekursif berikut: = = , n ≥3

Penyelesaian : persamaan karakteristik dari rekursif ini adalah , yang akar-

akarnya dan , sehingga solusi umum dari relasi rekursif adalah:

Karena kondisi awal dan , maka dari (i) diperoleh sistem persamaan berikut:

1=

1=

Selanjutnya dari persamaan (ii) dan (iii) didapat

dan

Substitusikan nilai kepersamaan (i)diperoleh penyelesaian sebagai berikut:

6
Perlu dicatat bahwa untuk setiap n ≥ 1, adalah bilangan bulat non negatif, walau

formula dari melibatkan irrasional