Anda di halaman 1dari 30

BAB I

PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Gula merupakan salah satu kebutuhan bahan pangan yang sangat penting
bagi kebutuhan sehari-hari dalam rumah tangga maupun industri makanan dan
minuman baik yang berskala besar maupun kecil. Gula menjadi sangat penting
karena gula mengandung kalori yang dibutuhkan bagi kesehatan dan gula juga
digunakan sebagai bahan pemanis utama yang digunakan oleh banyak industri
makanan dan minuman
Gula merupakan suatu karbohidrat sederhana yang menjadi sumber energi
dan komoditi perdagangan utama. Gula paling banyak diperdagangkan dalam
bentuk kristal sukrosa padat. Gula digunakan untuk mengubah rasa menjadi
manis dan keadaan makanan atau minuman. Gula sederhana, seperti glukosa
(yang diproduksi dari sukrosa dengan enzim atau hidrolisis asam), menyimpan
energi yang akan digunakan oleh sel. Gula sebagai sukrosa diperoleh dari nira
tebu, bit gula, atau aren. Meskipun demikian, terdapat sumber – sumber gula
minor lainnya, seperti kelapa, sumber – sumber pemanis lainnya, seperti umbi
dahlia, anggir, atau jagung, juga menghasilkan semacam gula / pemanis namun
bukan tersusun dari sukrosa.
I.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana proses penggilingan di Pabrik Gula ?
2. Alat apa saja yang digunakan dalam proses penggilingan di Pabrik Gula ?
3. Bagaimana pengolahan limbah di Pabrik Gula ?
I.3 Tujuan
1. Agar mahasiswa dapat memahami proses penggilingan di Pabrik Gula
2. Agar mahasiswa dapat mengetahui alat – alat yang digunakan dalam proses
penggilingan di Pabrik Gula
3. Agar mahasiswa dapat mengetahui pengolahan limbah di Pabrik Gula

TEKNOLOGI GULA 1
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

II.1 Secara Umum


II.1.1 Pengertian Gula
Gula adalah suatu karbohidrat sederhana yang menjadi sumber energi dan
komoditi perdagangan utama. Gula paling banyak diperdagangkan dalam bentuk
kristal sukrosa padat. Gula digunakan untuk mengubah rasa menjadi manis dan
keadaan makanan atau minuman. Gula sederhana, seperti glukosa (yang
diproduksi dari sukrosa dengan enzim atau hidrolisis asam), menyimpan energi
yang akan digunakan oleh sel. Gula sebagai sukrosa diperoleh dari nira tebu, bit
gula, atau aren. Meskipun demikian, terdapat sumber-sumber gula minor lainnya,
seperti kelapa. Sumber-sumber pemanis lain, seperti umbi dahlia, anggir, atau
jagung, juga menghasilkan semacam gula/pemanis namun bukan tersusun dari
sukrosa. Proses untuk menghasilkan gula mencakup tahap ekstrasi (pemerasan)
diikuti dengan pemurnian melalui distilasi (penyulingan).(Ekcsta, 2014)
II.1.2 Air Imbibisi
Pemberian air maupun campuran nira pada ampas yang akan masuk
gilingan II, III, dan IV disebut imbibisi. Tujuan pemberian imbibisi adalah untuk
melarutkan kandungan gula (sukrosa) yang masih tertinggal dalam ampas secara
maksimal tanpa memberatkan pada proses selanjutnya. Ampas akhir diharapkan
mengandung kadar gula serendah mungkin karena apabila hal itu tercapai berarti
proses pemerahan berjalan dengan baik. Ada dua sistem pemberian imbibisi,
yaitu:
1. Imbibisi Tunggal
Pemberian air imbibisi dilakukan hanya pada ampas yang akan masuk pada
unit gilingan terakhir.
2. Imbibisi Ganda
Pemberian air imbibisi ditujukan pada lebih dari satu unit gilingan. Imbibisi
ganda ini ada yang berupa double compound, triple compound, ataupun quadruple
compound imbibisi.

TEKNOLOGI GULA 2
Dalam penggunaan air imbibisi ada dua macam air imbibisi, yaitu imbibisi
panas dan imbibisi dingin. Air imbibisi panas merupakan air imbibisi yang
dipompakan ke gilingan III dengan suhu sekitar 60 – 80oC. Air imbibisi dingin
merupakan air imbibisi yang berasal dari air sungai yang sudah dijernihkan dan
bertemperatur 30oC.
Keuntungan yang diperoleh dengan pemanfaatan air imbibisi panas pada proses
penggilingan adalah :
- Larutan glukosa yang dapat diperah menjadi lebih banyak karena dapat
lebih membuka pori-pori pada ampas.
- Dapat menghambat aktivitas dan membunuh mikroorganisme perusak
nira.
Sementara kerugian dari penggunaan air imbibisi panas adalah:
- Melarutkan zat-zat bergetah lilin (pektin) sehingga hasil perahan menjadi
kurang bagus.
- Pengoperasian dan pengontrolan lebih sulit karena adanya penguapan.
- Kebutuhan air panas (energi) lebih besar.
Keuntungan yang diperoleh dengan pemanfaatan air imbibisi dingin pada proses
penggilingan adalah :
- tidak melarutkan zat-zat pengotor nira sehingga memudahkan proses
pemurnian.
- tidak menyulitkan proses penggilingan karena jika temperatur tinggi dapat
menyebabkan slip.
Sementara kerugian dari penggunaan air imbibisi panas adalah:
- proses pelarutan gula dalam ampas kurang sempurna.
- mikroorganisme pengganggu masih aktif. (Ratmanto, 2008)

II.1.3 Proses Pembuatan Gula


Proses pembuatan gula ada beberapa tahapan dari penerimaan tebu hingga
sampai proses pengepakan. Tahapan-tahapan dalam proses pembuatan gula
dimulai dari penanaman tebu, proses ekstraksi, pembersihan kotoran, penguapan,
kritalisasi, afinasi, karbonasi, penghilangan warna, dan sampai proses pengepakan
sehingga sampai ketangan konsumen. Pada umumnya proses pembuatan gula di

TEKNOLOGI GULA 3
Pabrik Gula menggunakan sistem double sulfitasi dan menggunakan bahan dasar
tebu. Produksi yang dapat dihasilkan SHS (Super High Sugar) yang berwarna
putih. Hasil sampingan pabrik gula ini adalah ampas sebagai bahan bakar ketel
uap dan tetes dapat digunakan sebagai bahan bakar pembuatan alkohol dan lain-
lain.
Proses pembuatan gula dapat dilakukan dalam beberapa tahapan yang terbagi atas
stasiun-stasiun. Stasiunnya antara lain :
1. Stasiun Penerimaan tebu
2. Stasiun Gilingan
3. Stasiun Pemurnian
4. Stasiun Penguapan / Evaporasi
5. Stasiun Masakan / Kristalisasi
6. Stasiun Puteran
7. Stasiun Penyelesaian

1. Stasiun Penerimaan Tebu


Tahap pertama didalam pembuatan gula pasir adalah tebu dihancurkan
dalam penggiling tebu yang berukuran besar. Sebelum tebu diolah lebih lanjut
hingga menjadi gula pasir, awalnya tebu mengalami perlakuan pendahuluan yaitu
tebu diterima pada stasiun penerimaan. Stasiun ini berperan penting karena
sebagai control kualitas tebu yang akan digunakan dalam proses pengolahan.
Pada stasiun penerimaan tebu ini melalui beberapa tahapan-tahapan,
seperti yang dijelaskan pada gambar dibawah ini :

Gambar 1. Stasiun Penerimaan Tebu

TEKNOLOGI GULA 4
Fungsi alat-alat diatas adalah:
1. Overhead crane / Cane crane
Alat ini digunakan untuk mengangkut tebu dari lori atau truck dan
meletakkannya di meja tebu. Overhead crane dijalankan oleh operator untuk
diletakkan di meja tebu.
2. Cane Table atau Meja Tebu
Alat ini digunakan sebagai penampung umpan tebu serta mengatur banyaknya
jumlah tebu yang akan digiling secara kontinu karena alat ini dilengkapi dengan
laveler berupa rol bergerigi yang akan mengatur permukaan atau ketebalan tebu
agar dapat jatuh dengan tepat dalam cane carrier. Meja tebu memiliki panjang
berkisar antara 2 – 3 meter.
3. Cane carrier
Alat ini berfungsi untuk membawa tebu yang telah diatur dalam meja tebu ke
dalam cane cutter.
4. Cane cutter
Alat ini berfungsi untuk memotong dan menyayat tebu agar menjadi
potongan tebu kasar agar lebih memudahkan saat dicacah dalam unigrator.
5. Unigrator
Alat ini berfungsi untuk memukul dan mencacah potongan tebu kasar agar
menjadi serpihan halus sehingga memmudahkan dan mempercepat ekstraksi pada
saat penggilingan.

Untuk pemenuhan kualitas gula yang baik, bahan baku tebu yang diterima
harus memenuhi pola MBS yaitu Manis, Bersih dan Segar. Proses penilaian bahan
baku pola MBS ini dilakukan oleh Petugas Lapangan Pabrik Gula (PLPG) setiap
kali tebu akan dikirim ke pabrik sehingga tebu yang masuk dapat terjamin
kualitasnya.
Sistem pemasukan tebu menuju stasiun penggilingan menggunakan prinsip
FIFO (first in first out) dimana tebu yang pertama kali masuk dalam stasiun
penerimaan adalah tebu yang pertama kali akan digiling, hal ini dilakukan untuk
menghindari terjadinya penurunan rendemen dalam tebu. Penurunan rendemen
terjadi karena tebu mengalami proses respirasi terus menerus yang dapat

TEKNOLOGI GULA 5
mengakibatkan menurunnya kandungan gula. Pada stasiun penerimaan ini juga
terdapat proses penimbangan tebu guna untuk mengetahui bobot tebu yang akan
digiling seperti alur yang dijelaskan pada gambar berikut ini:

Gambar 2. Alur Penerimaan dan Penimbangan Tebu


Besarnya persentasi rendemen secara riil dapat diketahui dengan menghitung
perbandingan antara gula yang dihasilkan dengan sejumlah tebu yang digiling di
pabrik, kemudian nilai tersebut dikalikan 100%, oleh karena itu kita memerlukan
penimbangan tebu ini supaya dapat mempermudah dalam menghitung rendemen
tebu yang digiling selama penggilingan berlangsung.
Penimbang tebu ini terdiri dari:timbangan brutto, timbangan tarra dan
timbangan lori. Pada masing-masing timbangan memiliki kegunaan yang berbeda-
beda seperti yang dijelaskan pada pengertian dibawah ini:
1. Timbangan Brutto
Untuk menimbang truk yang bermuatan tebu sehingga diketahui berat kotor
(brutto) dari truk dan tebu.
2. Timbangan Tarra

TEKNOLOGI GULA 6
Untuk menimbang truk yang tebunya telah di giling sehingga dapat di ketahui
berat bersih tebu yang di di giling.
3. Timbangan Lori
Untuk menimbang berat tebu yang di angkut dengan lori, lori yang ada di beri
kode dan telah di ketahuim beratnya sehingga tebu yang di angkut dengan lori
langsung dapat di ketahui beratnya, lori biasanya di gunakan untuk
mengangkut daerah – daerah histories yang berada di sekitar pabrik. tebu
masuk ke dalam pabrik untuk diproses lebih lanjut, tebu harus ditimbang
terlebih dahulu.
Tujuan dari penimbangan ini adalah :
1. Mengetahui bobot tebu yang masuk ke pabrik dari kebun tebu
2. Menghitung biaya upah tebang yang harus dibayarkan
3. Menghitung pengawasan proses lainnya
4. Mempermudah dalam pengambilan keputusan di dalam pabrik.
2. Stasiun Gilingan
Tahap selanjutnya dalam pembuatan gula tebu adalah ekstraksi jus atau
sari tebu. Caranya dengan menghancurkan tebu dengan mesin penggiling untuk
memisahkan ampas tebu dengan cairannya. Setelah tebu menjadi serpihan halus
selanjutnya diolah dalam stasiun gilingan yang bertujuan untuk memerah nira dari
batang tebu sebanyak mungkin dengan kehilangan nira seminimal mungkin,
diharapkan nira yang dapat diperah adalah 90%. Cairan tebu kemudian
dipanaskan dengan boiler. Jus yang dihasilkan masih berupa cairan yang kotor:
sisa-sisa tanah dari lahan, serat-serat berukuran kecil dan ekstrak dari daun dan
kulit tanaman, semuanya bercampur di dalam gula. Jus dari hasil ekstraksi
mengandung sekitar 50 % air, 15% gula dan serat residu, dinamakan bagasse,
yang mengandung 1 hingga 2% gula. Dan juga kotoran seperti pasir dan batu-batu
kecil dari lahan yang disebut sebagai “abu”. Pada stasiun ini terjadi pemisahan
antara bagian tebu yang mengandung cairan dengan kotoran dan ampas yang
berupa padat.

TEKNOLOGI GULA 7
Gambar 3. Unit Gilingan / Pemerahan

a. Gilingan I
Pada gilingan pertama hanya terdiri dari serpihan – serpihan tebu sari
unigrator yang setelah digiling akan menghasilkan nira perahan pertama (NPP)
dan ampas. NPP selanjutnya dipompa menuju DSM Screen untuk dilakukan
penyaringan agar terpisah nira dengan ampas. Dari DSM Screen nira dipompa ke
Door Clone untuk dilakukan pemisahan dengan pasir yang masih terikut. Nira
yang telah dipisahkan pasirnya dialirkan ke bak penampungan nira mentah,
sedangkan ampasnya diangkut dengan Intermediet Carrier (IMC) menuju gilingan
kedua.
b. Gilingan II
Pada gilingan kedua terdiri dari ampas gilingan pertama dan ampas dari DSM
Screen, yang kemudian ditambahkan nira imbibisi (N3) atau nira dari hasil
perahan gilingan ketiga, banyak air imbibisi yang diperlukan sebanyak 20 – 30%
dari berat batang tebu yang digiling. Tujuan dari penambahan nira imbibisi adalah
untuk melarutkan gula yang masih terkandung dalam ampas dan kemudian
mengeluarkannya dengan pemerasan pada gilingan berikutnya.
Dari gilingan kedua ini akan dihasilkan nira perahan kedua (NPK) dan ampas.
NPK akan ditampung dalam bak penampung nira mentah yang sama dengan NPP,
selanjutnya ditambahkan Ca(OH)2 dan asam phosphate (H3PO4). Penambahan
Ca(OH)2 bertujuan untuk menjaga kondisi nira agar tidak terlalu asam karena jika
terlalu asam akan menyebabkan terbentuknya gula inverse dan mencegah
berkembangnya mikroorganisme yang dapat merusak sukrosa yang terdapat
dalam nira dan sedangkan H3PO4 bertujuan agar terbentuk endapan kalsium
phosphate (Ca3(PO4)2) sebagai inti endapan yang mampu mengikat koloid. NPP
dan NPK yang telah ditambahkan H3PO4 dan Ca(OH)2 disebut nira mentah

TEKNOLOGI GULA 8
dengan pH 6,8 yang akan diolah dalam stasiun berikutnya. Ampas dari gilingan
kedua akan dibawa dengan IMC menuju gilingan ketiga.
c. Gilingan III
Pada gilingan ketiga, ampas dari gilingan kedua ditambahkan ampas dari
DSM screen dan ditambahkan nira imbibisi (N4) atau nira yang berasal dari
gilingan keempat, kemudian diperah menghasilkan ampas dan nira perahan ketiga
(N3). N3 akan digunakan untuk nira imbibisi gilingan kedua dan ampasnya
dibawa oleh IMC menuju gilingan keempat.
d. Gilingan IV
Pada gilingan keempat, ampas gilingan ketiga yang digunakan sebagai umpan
ditambahkan dengan air imbibisi dan nira imbibisi (N5) atau nira perahan gilingan
kelima. Air imbibisi yaitu air panas dengan suhu 60 – 70°C yang berasal dari air
condesat. Suhu air berkisar 60 – 70°C jika suhunya terlalu tinggi akan melarutkan
zat lilin (peptin) dalam tebu sehingga akan mengganggu proses pemurnian dan
pengendapan, selain itu juga akan menyebabkan selip dalam gilingan, namun jika
suhunya terlalu rendah akan menyebabkan pelarutan yang kurang sempurna dan
kemungkinan masih ada bakteri yang belum mati dalam nira. Dari gilingan ini
akan menghasilkan ampas dan nira perahan keempat (N4), N4 akan digunakan
sebagai nira imbibisi gilingan ketiga, sedangkan ampas dibawa IMC menuju
gilingan kelima.
e. Gilingan V
Pada gilingan kelima, umpan dari gilingan keempat ditambahkan air imbibisi
sebagai air pencuci ampas terakhir dan diharapkan mampu melarutkan nira
sebanyak – banyaknya sehingga nira yang terbawa oleh ampas terakhir sedikit.
Dari gilingan kelima ini akan menghasilkan ampas (baggase) dan nira perahan
kelima (N5). N5 digunakan sebagai nira imbibisi gilingan keempat, sedangkan
ampasnya diangkut dengan baggase carrier menuju dapur pembakaran ketel dan
digunakan sebagai bahan bakar ketel. (Anonim, 2014)

TEKNOLOGI GULA 9
II.1.4 Pengolahan dan Pemanfaatan Limbah Pabrik Gula
Pada pemrosesan gula dari tebu menghasilkan limbah atau hasil samping,
antara lain ampas, blotong dan tetes. Ampas berasal dari tebu yang digiling dan
digunakan sebagai bahan bakar ketel uap. Blotong atau filter cake adalah endapan
dari nira kotor yang di tapis di rotary vacuum filter, sedangkan tetes merupakan
sisa sirup terakhir dari masakan yang telah dipisahkan gulanya melalui kristalisasi
berulangkali sehingga tak mungkin lagi menghasilkan kristal.

1. Limbah Bagasse (Ampas)


Satu diantara energi alternatif yang relatif murah ditinjau aspek
produksinya dan relatif ramah lingkungan adalah pengembangan bioetanol dari
limbah-limbah pertanian (biomassa) yang mengandung banyak lignocellulose
seperti bagas (limbah padat industri gula). Indonesia memiliki potensi limbah
biomassa yang sangat melimpah seperti bagas. Industri gula khususnya di luar
jawa menghasilkan bagas yang cukup melimpah.
Bagasse tebu (Saccharum officinarum L.) semula banyak dimanfaatkan
oleh pabrik kertas, namun karena tuntutan dari kualitas kertas dan sudah banyak
tersedia bahan baku kertas lain yang lebih berkualitas, sehingga pabrik kertas
mulai jarang menggunakannya. Material bahan organik yang dimiliki pabrik gula
cukup banyak, sebagai contoh adalah limbah hasil proses pasca panen di
lapangan, yaitu klaras dan daun tebu, serta limbah proses pabrik gula, antara lain
blotong dan ampas tebu yang kadar bahan organiknya dapat mencapai di atas
50%.
Limbah padat pabrik gula (PG) berpotensi besar sebagai sumber bahan
organik yang berguna untuk kesuburan tanah. Menurut Budiono (2008), ampas
(bagasse) tebu mengandung 52,67% kadar air; 55,89% C-organik; N-total 0,25%;
0,16% P2O5; dan 0,38% K2O.
Kompos adalah hasil dekomposisi biologi dari bahan organik yang dapat
dipercepat secara artifisial oleh populasi berbagai macam mikroba (bakteria,
actinomycetes dan fungi) dalam kondisi lingkungan aerobik atau anaerobic. Hasil
pengomposan campuran blotong, ampas (bagasse) dan abu ketel diinkubasi
dengan bioaktivator mikroba selulolitik selama 1 dan 2 minggu, kemudian

TEKNOLOGI GULA 10
diaplikasikan ke lahan tebu. Pemberian kompos 10 ton/ha mampu meningkatkan
bobot tebu sebanyak 16,8 ton/ha.
Bioaktivator adalah inokulum campuran berbagai jenis mikroorganisme
(mikroba lignolitik, selulolitik, proteolitik, lipolitik, amilolitik, dan mikroba
fiksasi nitrogen non simbiotik) untuk mempercepat laju pengomposan bahan
organik . Bibit perombak Katalek® merupakan bioaktivator pembuatan kompos
yang diteliti selama beberapa tahun akan keefektifan mikrobanya dalam
mempercepat perombakan bahan-bahan organik menjadi unsur hara yang berguna
bagi tanah. Bibit perombak Katalek® mengandung 13 macam mikroba
(diantaranya Bacillus, Lactobacillus, Pseudomonas, Streptomyces, Clostridium,
Aspergillus) yang berperan dalam penguraian atau dekomposisi limbah oirganik
sampai berubah menjadi kompos. Sedangkan penggunaan bibit pengaya Katalek
yang terdiri dari beberapa mikroba diantaranya Azotobacter, Trichoderma,
Aspergillus, Pseudomonas) akan menghasilkan kompos yang lebih kaya akan
unsur hara (N, P dan K) sehingga dapat mempengaruhi produktivitas tanaman.
Pengembangan teknologi bioproses etanol dengan menggunakan enzim
pada proses hidrolisisnya diyakini sebagai suatu proses yang lebih ramah
lingkungan. Pemanfaatan enzim sebagai zat penghidrolisis tergantung pada
substrat yang menjadi prioritas, penelitian telah dilakukan untuk mengantikan
asam yaitu menggunakan jamur pelapuk putih untuk perlakuan awal kemudian
dengan menggunakan enzim selulase untuk menghidrolisis selulosa menjadi
glukosa, kemudian melakukan fermentasi dengan menggunakan S. cerivisiae
untuk mengkonversi menjadi etanol. Namun, pemanfaatan enzim selulase dan
yeast S. cerivisiae tidak mampu mengkonversi kandungan hemiselulosa pada
bagas. Padahal sekitar 20-25% komposisi karbohidrat bagas adalah hemiselulosa.
Jika kita mampu mengkonversi hemiselulosa berarti akan meningkatkan konversi
bagas menjadi etanol. Material berbasis lignoselulosa (lignocellulosic material)
memiliki substrat yang cukup kompleks karena didalamnya terkadung lignin,
polisakarida, zat ekstraktif, dan senyawa organik lainnya. Bagian terpenting dan
yang terbanyak dalam lignocellulosic material adalah polisakarida khususnya
selulosa yang terbungkus oleh lignin dengan ikatan yang cukup kuat. Dalam
kaitan konversi biomassa seperti bagas menjadi etanol, bagian yang terpenting

TEKNOLOGI GULA 11
adalah polisakarida. Karena polisakarida tersebut yang akan dihidrolisis menjadi
monosakarida seperti glukosa, sukrosa, xilosa, arabinosa dan lain-lain sebelum
dikonversi menjadi etanol.
Proses hidrolisis umumnya digunakan pada industry etanol adalah
menggunakan hidrolisis dengan asam (acid hydrolysis) dengan menggunakan
asam sulfat (H2SO4) atau dengan menggunakan asam klorida (HCl). Proses
hidrolisis dapat dilakukan dengan menggunakan enzim yang sering disebut
dengan enzymatic hydrolysis yaitu hidrolisis dengan menggunakan enzim jenis
selulase atau jenis yang lain. Keuntungan dari hidrolisis dengan enzim dapat
mengurangi penggunaan asam sehingga dapat mengurangi efek negatif terhadap
lingkungan. Kemudian setelah proses hidrolisis dilakukan fermentasi
menggunakan yeast seperti S. cerevisiae untuk mengkonversi menjadi etanol.
Proses hidrolisis dan fermentasi ini akan sangat efisien dan efektif jika
dilaksanakan secara berkelanjutan tanpa melalui tenggang waktu yang lama, hal
ini yang sering dikenal dengan istilah Simultaneous Sacharificatian dan
Fermentation (SSF). Keuntungan dari proses ini adalah polisakarida yang
terkonversi menjadi monosakarida tidak kembali menjadi poliskarida karena
monosakarida langsung difermentasi menjadi etanol. Selain itu dengan
menggunakan satu reaktor dalam prosesnya akan mengurangi biaya peralatan
yang digunakan.
Seperti halnya pakan ternak dari limbah yang mengandung serat pada
umumnya, bagas tebu mempunyai faktor pembatas, yaitu kandungan nutrisi dan
kecernaannya yang sangat rendah. Bagas tebu mempunyai kadar serat kasar dan
kadar lignin sangat tinggi, yaitu masing-masing sebesar 46,5% dan 14%.
Pendekatan bioproses dalam rumen melalui suplementasi amonium sulfat dan
defaunasi yang dilakukan pada kambing yang mendapat ransum berbahan dasar
limbah tebu belum berhasil meningkatkan produktivitas kambing. Pendekatan
melalui teknik pengolahan pakan sebelum pakan dikonsumsi akan dapat
meningkatkan daya guna bagas tebu. Rekayasa teknologi pengolahan pakan yang
dapat dilakukan untuk meningkatkan kualitas nutrisi bagas tebu adalah teknik
amoniasi dan fermentasi. Proses amoniasi akan melemahkan ikatan lignoselulosa
bagas tebu serta fermentasi telah terbukti dapat menurunkan kadar serat kasar dan

TEKNOLOGI GULA 12
meningkatkan kadar protein kasar. Mikroba yang sering digunakan sebagai agen
fermentasi limbah yang mengandung serat kasar tinggi adalah kapang
Trichoderma viride. Kapang tersebut akan menghasilkan enzim untuk mencerna
serat kasar sehingga dapat dimanfaatkan sebagai pakan.
2. Limbah Blotong (Padat)
Salah satu limbah yang dihasilkan PG dalam proses pembuatan gula
adalah blotong, limbah ini keluar dari proses dalam bentuk padat mengandung air
dan masih ber temperatur cukup tinggi (panas), berbentuk seperti tanah,
sebenarnya adalah serat tebu yang bercampur kotoran yang dipisahkan dari nira.
Komposisi blotong terdiri dari sabut, wax dan fat kasar, protein kasar,gula, total
abu, SiO2, CaO, P2O5 dan MgO. Komposisi ini berbeda prosentasenya dari satu
PG dengan PG lainnya, bergantung pada pola prodkasi dan asal tebu. Selama ini
pemanfaatan blotong umumnya adalah sebagai pupuk organik, dibeberapa PG
daur ulang blotong menjadi pupuk yang kemudian digunakan untuk produksi tebu
di wilayah-wilayah tanam para petani tebu.
Proses penggunaan pupuk organik ini tidak rumit, setelah dijemur selama
beberapa minggu / bulan untuk diaerasi di tempat terbuka, dimaksudkan untuk
mengurangi temperatur dan kandungan Nitrogen yang berlebihan. Dengan tetap
menggunakan pupuk anorganik sebagai starter, maka penggunaan pupuk organik
blotong ini masih bisa diterima oleh masyarakat.
Pada perkembangan selanjutnya, upaya pemanfaatan blotong sebagai
pengganti kayu bakar. Proses pembuatan blotong pengganti kayu bakar sangat
sederhana, limbah blotong dari pabrik yang masih panas, diangkut dengan dump
truk menuju lokasi pengrajin/pembuat blotong kayu bakar, blotong ini kemudian
dijemur di terik matahari selama 2 – 3 minggu dengan intensitas matahari penuh.
Sebelum total kering, lapisan blotong ini dipadatkan dengan tujuan untuk
mempersempit pori dan membuang sisa kandungan air, kemudian dipotong
seukuran batu bata untuk memudahkan pengangkutan. Setelah dirasa cukup
kering pada satu permukaan, bata blothong ini dibalik, supaya sisi lainnya juga
kering. Hasil yang diperoleh dari proses ini adalah blothong seukuran batu bata
yang bobotnya ringan karena kandungan airnya sudah hilang. Penggunaan, untuk
keperluan memasak di kompor tanah mereka, blothong kering tersebut masih

TEKNOLOGI GULA 13
harus dipotong menjadi ukuran yang lebih kecil menyesuaikan lubang pemasukan
kompor. Dari satu rit blothong tersebut, setelah diolah dan kering, kemudian
dipindahkan ke dapur sebagai cadangan kayu bakar. Cadangan blothong / kayu
bakar ini cukup untuk memenuhi kebutuhan memasak sampai dengan musim
giling tahun depan.
Blotong dapat dimanfaatkan sebagai sumber protein. Kandungan protein
dari nira sekitar 0.5 % berat zat padat terlarut. Dari kandungan tersebut telah
dicoba untuk melakukan ekstraksi protein dari blotong dan ditemukan bahwa
kandungan protein dari blotong yang dipress sebesar 7.4 %. Protein hanya dapat
diekstrak menggunakan zat alkali yang kuat seperti sodium dodecyl sulfate.
Kandungan dari protein yang dapat diekstrak antara lain albumin 91.5 %; globulin
1 %; etanol terlarut 3 % dan protein terlarut 4 %. Dengan demikian, blotong dapat
juga digunakan sebagai pakan ternak dengan cara dikeringkan dan dipisahkan
partikel tanah yang terdapat didalamnya. Untuk menghindari kerusakan oleh
jamur dan bakteri blotong yang dikeringkan harus langsung digunakan dalam
bentuk pellet.
Pada saat ini pemanfaatan blotong antara lain sebagai bahan bakar
alternative dalam bentuk briket. Untuk pembuatan briket blotong dipadatkan lalu
dikeringkan. Keuntungan menggunakan briket blotong adalah harganya yang
lebih murah daripada kayu bakar dan bahan bakar lain. Akan tetapi untuk
membuat briket ini diperlukan waktu cukup lama antara 4 sampai 7 hari
pengeringan, selain itu juga tergantung dari kondisi cuaca. Pada saat ini semakin
banyak masyarakat yang memanfaatkan blotong sebagai bahan bakar rumah
tangga pengganti MITAN dan kayu bakar. Kedepannya perlu ada kajian apakah
briket blotong ini juga bisa digunakan sebagai bahan bakar ketel sehingga dapat
mengurangi konsumsi bahan bakar minyak PG.
Blotong dapat digunakan langsung sebagai pupuk, karena mengandung
unsur hara yang dibutuhkan tanah. Untuk memperkaya unsur N blotong dikompos
dengan ampas tebu dan abu ketel (kabak). Pemberian ke tanaman tebu sebanyak
100 ton blotong atau komposnya per hektar dapat meningkatkan bobot dan
rendemen tebu secara signifikan. Kandungan hara kompos ampas tebu (KAT),
blotong dan komposdari ampas tebu, blotong dan abu ketel (KABAK).

TEKNOLOGI GULA 14
3. Limbah Tetes (Cair)
Tetes atau molasses merupakan produk sisa (by product) pada proses
pembuatan gula. Tetes diperoleh dari hasil pemisahan sirop low grade dimana
gula dalam sirop tersebut tidak dapat dikristalkan lagi. Walaupun masih
mengandung gula, tetes sangat tidak layak untuk dikonsumsi karena mengandung
kotoran-kotoran bukan gula yang membahayakan kesehatan. Penggunaan tetes
sebagian besar untuk industri fermentasi seperti alcohol, pabrik MSG, pabrik
pakan ternak dll. Secara umum tetes yang keluar dari sentrifugal mempunyai brix
85 – 92 dengan zat kering 77 – 84 %. Sukrosa yang terdapat dalam tetes bervariasi
antara 25 – 40 %, dan kadar gula reduksi nya 12 – 35 %. Untuk tebu yang belum
masak biasanya kadar gula reduksi tetes lebih besar daripada tebu yang sudah
masak.
Komposisi yang penting dalam tetes adalah TSAI ( Total Sugar as Inverti )
yaitu gabungan dari sukrosa dan gula reduksi. Kadar TSAI dalam tetes berkisar
antara 50 – 65 %. Angka TSAI ini sangat penting bagi industri fermentasi karena
semakin besar TSAI akan semakin menguntungkan, sedangkan bagi pabrik gula
kadar sukrosa menunjukkan banyaknya kehilangan gula dalam tetes. Komposisi
Tetes merupakan bahan yang kaya akan karbohidrat yang mudah larut (48-68)%,
kandungan mineral yang cukup dan disukai ternak karena baunya manis. Selain
itu tetes juga mengandung vitamin B komplek yang sangat berguna untuk sapi
yang masih pedet. Tetes mengandung mineral kalium yang sangat tinggi sehingga
pemakaiannya pada sapi harus dibatasi maksimal 1,5-2 Kg/ekor/hari.
Penggunaan tetes sebagai pakan ternak sebagai sumber energi dan meningkatkan
nafsu makan, selain itu juga untuk meningkatkan kualitas bahan pakan dengan
peningkatan daya cernanya. Apabila takaran melebihi batas atau sapi belum
terbiasa maka menyebabkan kotoran menjadi lembek dan tidak pernah dilaporkan
terjadi kematian karena keracunan tetes.

Pembuatan bioethanol molase melalui tahap pengenceran karena kadar


gula dalam tetes tebu terlalu tinggi untuk proses fermentasi, oleh karena itu perlu
diencerkan terlebih dahulu. Kadar gula yang diinginkan kurang lebih adalah 14 %.

TEKNOLOGI GULA 15
Kemudian dilakukan penambahan ragi, urea dan NPK kemudian dilakukan proses
fermentasi. Proses fermentasi berjalan kurang lebih selama 66 jam atau kira-kira
2.5 hari. Salah satu tanda bahwa fermentasi sudah selesai adalah tidak terlihat lagi
adanya gelembung-gelembung udara. Kadar etanol di dalam cairan fermentasi
kurang lebih 7% – 10 %. Setelah proses fermentasi selesai, masukkan cairan
fermentasi ke dalam evaporator atau boiler dan suhunya dipertahankan antara 79 –
81oC. Pada suhu ini etanol sudah menguap, tetapi air tidak menguap. Uap etanol
dialirkan ke distilator. Bioetanol akan keluar dari pipa pengeluaran distilator.
Distilasi pertama, biasanya kadar etanol masih di bawah 95%. Apabila kadar
etanol masih di bawah 95%, distilasi perlu diulangi lagi hingga kadar etanolnya
95%. Apabila kadar etanolnya sudah 95% dilakukan dehidrasi atau penghilangan
air. Untuk menghilangkan air bisa menggunakan kapur tohor atau zeolit sintetis.
Setelah itu didistilasi lagi hingga kadar airnya kurang lebih 99.5%.(Ekcsta, 2014)

II.2 Proses Produksi Gula di Pabrik Gula Kremboong Sidoarjo


II.2.1 Proses Persiapan
Tebu yang digunakan diangkut dengan menggunakan truk dan lori menuju
ke emplacement untuk menunggu giliran penimbangan. Penimbangan ini
dilakukan untuk mengetahui dan mengatur jumlah tebu yang akan digiling,
dimana pengaturannya didasarkan pada kapasitas giling pabrik yang mencapai
2750 TCD (Ton Canes per Day) dan berdasarkan seberapa besar kebijakan target
giling dan sisa giling tiap harinya.
Proses penimbangan tebu dilakukan dengan dua cara, yaitu:
1. Penimbangan dengan Lori
Pertama-tama, penimbangan lori kosong (tarra) dilakukan sebelum
periode giling. Penimbangan ini dilakukan selama beberapa kali (± 2 minggu)
sehingga diperoleh nilai rata-rata berat lori. Berat lori yang telah diketahui
tersebut kemudian dicatat beserta dengan kode lorinya. Selanjutnya dilakukan
penimbangan lori beserta tebunya (berat kotor). Perhitungan berat bersih
(netto) dilakukan dengan mengurangkan nilai berat kotor dengan tarra sesuai
dengan kode lori pengangkutannya, sehingga diperoleh berat tebu yang
digunakan.

TEKNOLOGI GULA 16
2. Penimbangan dengan Truk
Pada malam hari, proses pengangkutan dan penimbangan tebu dilakukan
secara langsung dengan truk. Truk berisi tebu ditimbang terlebih dahulu (berat
kotor), kemudian dilakukan penimbangan kembali ketika truk dalam keadaan
kosong (tarra). Berat tebu yang akan diproses adalah sama dengan berat kotor
dikurangi tarra-nya.
II.2.2 Stasiun Gilingan
Setelah melalui proses persiapan, tebu dari lori ataupun truk diangkut ke
meja timbangan dengan menggunakan cane unloading crane. Dari meja
timbangan ini tebu kemudian dijatuhkan pada slide carrier I dengan
menggunakan cane leveller untuk mengatur jumlah tebu yang masuk. Selanjutnya
slide carrier I membawa tebu menuju ke cane cutter untuk memperkecil ukuran
tebu menjadi potongan-potongan kecil sehingga luas permukaannya meningkat
dan proses penggilingannya lebih mudah. Cane cutter berbentuk seperti rangkaian
pisau yang disusun menjadi satu silinder besar yang berotasi dan mampu
memotong tebu hingga panjangnya 12 cm.
Potongan-potongan tebu tersebut dibawa menuju ke unigrator dengan
menggunakan slide carrier II. Unigrator berbentuk seperti palu besar yang
disusun secara silinder dan berfungsi untuk memecah ukuran sel tebu dengan cara
ditumbuk-tumbuk sehingga luas permukaannya bertambah. Jika sel tebu tidak
dipecah, nira akan sulit keluar walaupun sudah dilarutkan air karena sifat sel tebu
yang semipermiabel menyulitkan partikel sukrosa untuk keluar.
Tebu yang telah dipecah selnya selanjutnya akan memasuki tahap
penggilingan. Jumlah total gilingan yang digunakan ada 4 unit, dimana prosesnya
dilakukan secara seri. Masing-masing unit gilingan terdiri dari 3 buah rol pemerah
(rol depan, rol atas dan rol belakang),1 buah feeding roll, 1 buah scrapper (sisi
ampas) dan 1 buah trash plate. Dalam proses penggilingan, tebu akan mengalami
8 kali pemerahan, dimana pada setiap alat gilingan terjadi 2 kali pemerahan, yaitu
saat tebu melewati rol atas dengan rol depan dan saat melewati rol atas dengan rol
belakang.
Tiga buah rol gilingan pada tiap rangkaian gilingan disusun membentuk
segitiga dengan celah di antara ketiganya. Celah tersebut akan semakin kecil dari

TEKNOLOGI GULA 17
gilingan I ke gilingan IV, karena volume ampas makin kecil dan halus. Adapun
arah putaran rol depan dan rol belakang adalah searah jarum jam, sedangkan
untuk rol atas putarannya berlawanan arah jarum jam jika feed masuk dari kiri.
Gilingan I, II, dan III berputar dengan kecepatan  60 rpm, sedangkan gilingan IV
berputar dengan kecepatan maksimal  40 rpm. Hal ini dilakukan karena gilingan
IV merupakan gilingan terakhir dimana ampas sudah hampir tidak mengandung
nira, sehingga kecepatan putarnya harus diturunkan untuk memperoleh perahan
nira.
Adapun proses penggilingan tebu pada keempat gilingan akan dijelaskan
sesuai dengan Gambar 1. Cacahan tebu yang keluar dari unigrator akan diangkut
oleh slide carrier II menuju ke gilingan (mill) I. Dari proses pada gilingan I akan
diperoleh nira perahan pertama (NPP), dimana ampasnya akan diangkut oleh
intermediate cane carrier I menuju ke gilingan II untuk diperah kembali. NPP dan
nira II akan dicampur menjadi nira mentah dan ditambahkan dengan Ca(OH)2
hingga pH nira mentah mencapai ±6,2. Selanjutnya nira mentah tersebut disaring
dalam suatu vibrating screen untuk memisahkannya dari ampas halus.
Nira yang telah terpisah dari ampas halusnya kemudian dialirkan menuju ke
Rotary Cush-Cush untuk memisahkannya dari ampas halus yang berukuran lebih
kecil. Selanjutnya, nira mentah akan ditampung ke dalam sebuah tangki untuk
kemudian ditambahkan H3PO4. Sementara itu, ampas halus yang tersaring di
vibrating screen maupun Rotary Cush-Cush akan diangkut oleh cush elevator ke
intermediate cane carrier I untuk diperah kembali pada gilingan II.
Aliran nira yang keluar dari Stasiun Gilingan akan melewati magnetic flow
meter, yaitu alat yang terpasang pada pipa transfer dan berfungsi untuk mengukur
flow nira yang masuk ke tangki. Setelah melewati alat tersebut, nira akan mengalir
menuju ke Stasiun Pemurnian.
Sementara itu, ampas dari gilingan II akan diangkut oleh intermediate cane
carrier II menuju ke gilingan III. Dari gilingan III akan diperoleh nira III yang
kemudian dicampur dengan ampas I dan masuk ke gilingan II. Sedangkan ampas
III akan disiram dengan air imbibisi bersuhu 60-80oC. Jika suhu air imbibisi lebih
tinggi dari range suhu tersebut, maka unsur-unsur bukan gula akan ikut terlarut
serta menyebabkan slip pada gilingan. Sementara jika suhunya terlalu rendah,

TEKNOLOGI GULA 18
maka akan ada banyak gula yang tidak larut. Oleh karena itu, suhu air imbibisi
harus dijaga dalam range 60-80oC.
Selanjutnya ampas yang sudah dibasahi tersebut akan masuk ke gilingan IV.
Dari gilingan IV akan diperoleh nira IV yang ditambahkan dengan NaHPO4
(disinfektan) dan kemudian dicampur dengan ampas II lalu dialirkan masuk ke
gilingan III. Sedangkan ampasnya akan diangkut oleh bagasse carrier menuju ke
Stasiun Boiler.
Ampas yang masuk gilingan tidak selalu memiliki ketebalan yang tetap,
sehingga diperlukan alat penekan gilingan yang bekerja secara hidrolik untuk
mengatur tekanan pada ampas agar dapat konstan. Dengan adanya penekanan
pada gilingan, pemerahan tetap dapat berjalan dengan baik walaupun ketebalan
ampas tebu tidak merata.

TEKNOLOGI GULA 19
Ca(OH)2 H3PO4(aq)

Vibrating Rotary Tangki Nira


Nira Mentah Stasiun
Screen Cush-Cush Mentah
Pemurnian
Ampas Halus H2O (imbibisi)
NPP Nira II
Cacahan Ampas I Ampas II Ampas III Gilingan IV Ampas IV Stasiun
Gilingan I Gilingan II Gilingan III
Tebu Boiler

Nira III (imbibisi)


Nira IV (imbibisi)
NaHPO4

Gambar 4. Diagram Alir Proses di Stasiun Gilingan Pabrik Gula Kremboong Sidoarjo

TEKNOLOGI GULA 20
II.2.3 Stasiun Boiler
Stasiun boiler pada PG Kremboong menjadi penyuplai utama energi untuk proses-
proses yang terjadi pada pabrik. Adapun alur sistem conveyor ampas tebu sebagai jalur
masukan bahan bakar boiler akan dijelaskan sebagai berikut.
Ampas tebu dari gilingan IV akan masuk ke dalam cakar utama, dimana dalam cakar
utama ini terbagi atas dua bagian, yaitu cakar selatan dan cakar utara. Cakar selatan akan
membawa ampas tebu menuju ke boiler, sementara cakar utara akan membawa ampas tebu
menuju ke mesin pembuatan pellet. Ampas tebu yang masuk ke dalam cakar selatan akan
melewati incline gilingan. Karena boiler memiliki batasan kapasitas bagasse yang masuk,
maka tidak semua ampas yang ada akan langsung dibakar bersama-sama. Ampas yang
berlebih akan masuk ke conveyor atas dan dibawa menuju ke gudang ampas (bagasse house)
untuk disimpan terlebih dahulu.
Jika ampas dari bagasse houseakan digunakan, maka reclaimer akan membawa ampas
tersebut menuju ke double deck. Double deck ini kemudian akan mengisi 6 unit bagasse
feeder yang nantinya digunakan sebagai bahan bakar dari boiler.

Stasiun Ampas IV Cakar Mesin Pembuat Pellet


Gilingan Utama Pellet dan Briket dan Briket

Bagasse AmpasTebu
House

Boiler

Turbin
Akselerator

Listrik
Gambar 5. Diagram Alir di Stasiun Boiler

TEKNOLOGI GULA 21
BAB III
SPESIFIKASI ALAT
III.1 STASIUN GILINGAN
1. Cane Unloading Crane
Alat yang digunakan untuk memindahkan tebu dari lori pengangkut ke meja tebu.
Merk crane yang digunakan adalah “DEMAG” yang diproduksi oleh negara Jerman. Di
stasiun ini terdapat 2 buah crane.1 crane dipasang tetap dan memiliki 2 katrol yang
kapasitas berat maksimalnya 10 ton.2 katrol ini terpasang pada crane yang dikhususkan
untuk mengangkat tebu ke meja tebu.Hanya kedua katrolnya yang bisa dioperasikan
untuk naik-turun dan geser kanan-kiri.1 crane yang lainnya dipasang dan dioperasikan
untuk membantu karyawan dalam mengangkat barang atau sparepart mesin yang
berat.Bedanya crane ini hanya bisa dijalankan maju-mundur.Crane ini juga memiliki 2
katrol yang masing-masing memiliki kapasitas beban 10 ton.

Gambar 6. Cane Unloading Crane di Stasiun Gilingan


Ukuran Rantai : 5/8 (1 inch)
Jumlah Rantai Truk : 1 buah × 60 mm = 60 mm
Rantai
 Lori Panjang : 8 buah × 40 mm = 320 mm
 Lori Besar : 5 buah × 20 mm = 100 mm
Jumlah seluruhnya : 480 mm

TEKNOLOGI GULA 22
2. Meja Tebu (Cane Table)
Alat ini berupa meja yang permukaan atasnya mempunyai kemiringan 35o dan
dilengkapi dengan 6 lajur rantai peluncur yang berjalan otomatis dengan bantuan motor
penggerak. Di bagian samping terdapat sebuah alat untuk menahan laju tebu (cane
leveller) yang secara berlebihan akan masuk ke slide carrier I, dan alat ini proses
pengerjaannya secara manual.
Panjang : 7300 mm
Lebar : 5000 mm
Tinggi Meja Sisi Utara : 800 mm
Tinggi Meja Sisi Selatan : 1310 mm
Kapasitas : 15 ton
Penggerak : electromotor “Yaskawa”, 380 volt, 1460 rpm, 7,5 kW
Panjang Rantai : 19 m
Jumlah Rantai : 100 buah
Jumlah Jalur : 8 Jalur
Jumlah Rantai Keseluruhan: 100 × 8 = 800 rantai

Gambar 7. Meja Tebu


3. Slide Carrier I
Alat pengangkut tebu yang berfungsi membawa tebu dari meja tebu menuju unit
alat kerja pendahuluan berikutnya yaitu menuju Cane Cutter. Nomor seri rantai
09063k2, dimana k2 adalah simbol trek boss pada bearing).
Kapasitas : 8 ton
Daya : 40 HP
Penggerak : Elektromotor “Finger Harian Holland”

TEKNOLOGI GULA 23
Kecepatan : ± 104 detik/siklus
Rotasi Per Menit (RPM) : 1425
Panjang Slide : 190 mm
Lebar Slide : 1820 mm
Panjang Rantai : 125000 mm
Panjang Lintasan Slide Carrier I : 60500 mm
Jumlah Rantai : 750 buah
Jumlah Slide Carrier I : 375 buah

Gambar 8. Slide Carrier I

4. Cane Cutter
Alat ini berfungsi memotong dan mencacah tebu secara kasar.
Nomor Bearing : 23134 CCK
Ukuran Baut : 5/8 inch
Nomor Trekbos : H 3134 CCK
Tangkai Pisau : 560 mm
Jarak Pisau : 120 mm – 200 mm
Panjang Pisau : 380 mm
Lebar : 140 mm
Jumlah Piringan : 14 buah
Jumlah pisau tiap piringan : 4 buah
Jumlah Pisau : 56 buah
RPM : 500
Penggerak : Elektromotor

TEKNOLOGI GULA 24
Gambar 9. Cane Cutter
5. Slide Carrier II
Alat pengangkut tebu kedua yang berfungsi membawa tebu yang sudah
terpotong-potong menuju unit alat kerja pemukul tebu yang biasa disebut dengan
Unigrator / Hammer /Palu Tebu. Bentuk Slide Carrier II sama dengan slide carrier I
hanya saja panjangnya berbeda. Slide Carrier I lebih panjang daripada Slide Carrier II.
Panjang Slide : 190 mm
Lebar Slide : 1820 mm
Panjang Rantai : 104200 mm
Panjang Lintasan : 20400 mm
Jumlah Rantai : 625 buah
Jumlah Slider Carrier II : 312 buah

6. Unigrator (Palu Tebu)


Alat yang berfungsi untuk memecah tebu. Pada bagian ujung pisau unigrator
terdapat hammer (palu).
Jumlah tangkai palu : 44 buah
Nomor Bearing : 23144 CCK
Nomor Trekbos : H 3144 CCK
Jarak Anfil dengan Unigrator : 25 mm
Tipe : Mark Fouri
RPM : 745
Daya : 355 kW

TEKNOLOGI GULA 25
Gambar 10. Unigrator

Gambar 11. Anvil Unigrator (Landasan Tempat Hammer Menumbuk)


7. Gilingan Tebu
Alat ini berfungsi untuk memecah nira yang terkandung dalam tebu, sehingga
diperoleh nira mentah dan ampas tebu.Masing-masing gilingan tersusun atas:
1) Feeding Roll
Untuk membantu mengumpankan cacahan tebu ke bagian depan rol pemerah.
2) Rol pemerah
Terdiri dari 3 buah rol, yaitu Front Roll (Rol Muka), Back Roll (Rol
Belakang), dan Top Roll (Rol Atas). Susunan ketiga buah rol ini dibuat sedemikian
rupa sehingga cacahan tebu akan mengalami 2 kali pemerahan, yaitu antara rol muka
dengan rol atas dan antara rol belakang dengan rol atas.
3) Scrapper (Sisir Ampas)
Alat pembersih ampas yang tertinggal pada alur rol gilingan dan menahan
supaya ampas yang keluar dari Rol Muka menuju Rol Belakang.
4) Trash Plate
Alat yang berfungsi untuk menghubungkan Rol Muka dengan Rol Belakang
sebagai tempat nira perahan Rol Muka.

TEKNOLOGI GULA 26
a. Spesifikasi Gearbox Gilingan 1, Gilingan 2, dan Gilingan 4
Nomor SI : Nfs / 3003199398 / 300
Tipe : H3sh_22
Daya : 319,5 kW
N.1 : 1000 rpm
N.2 : 16,29 rpm
Oil vg. : 320 SAE
Kuantitas Oi l : 470 liter
Tahun : Maret 2013
Berat : 9800 kg
Rasio Gearbox : 1:61,4
b. Spesifikasi Gearbox Gilingan 3
Nomor SI : Nfs / 3003199378 / 400
Tipe : H2.sh_12
Daya : 319,5 kW
N.1 : 1000 rpm
N.2 : 102,90 rpm
Oil vg. : 320
Kuantitas : 96 liter
Tahun : Maret 2013
Berat : 1620 kg
Rasio Gearbox : 1:9,7
c. Spesifikasi Rol Gilingan
Jenis Alur : V Groven
Ukuran : 36’’× 66”
Jumlah Alur : 28 buah
8. Intermediate Cane Carrier
Untuk membawa ampas tebu dari gilingan satu ke gilingan berikutnya.
9. Vibrating Screen
Untuk menyaring ampas halus yang terbawa nira.
10. Cush Elevator
Untuk mengangkut ampas halus yang tersaring vibrating screen ke intermediate
cane carrier.

TEKNOLOGI GULA 27
11. Pompa Imbibisi Nira
Untuk memompa imbibisi nira hasil penggilingan IV ke penggilingan II dan dari
penggilingan III ke penggilingan I.
Tipe : Sentrifugal
Merk : TAKI
Kapasitas :50 m3/jam; 60 m3/jam
Head : 40 m
Diameter pipa hisap/tekan : 5 inch
Jumlah :2
12. Bagasse Carrier
Untuk membawa ampas dari Gilingan IV ke Stasiun Boiler.
13. Rotary Cush-Cush
Panjang Sarangan Rotary : 2850 mm
Jarak Sarangan : 1900 mm
Diameter Depan Rotary : 1500 mm
Jarak Kemiringan Rotary Belakang : 300 mm
Jarak Kemiringan Rotary Depan : 250 mm
Putaran Rotary (tiap 1 kali Putaran) : 10 detik
Aliran Air Ampas Dalam Rotary : 2850 mm/5 detik
= 570 mm/detik
Lubang Sarangan : 1,5 mm
Bearing Roda Rotary : No. 30207 J2 / q
Bearing Talang Baling-Baling : No. Uc 322

TEKNOLOGI GULA 28
BAB IV
PENUTUP
IV.1 Kesimpulan
Gula adalah suatu karbohidrat sederhana yang menjadi sumber energi dan komoditi
perdagangan utama. Tahapan-tahapan dalam proses pembuatan gula dimulai dari penanaman
tebu, proses ektrasi, pembersihan kotoran, penguapan, kritalisasi, afinasi, karbonasi,
penghilangan warna, dan sampai proses pengepakan sehingga sampai ketangan konsumen.
Pada pemrosesan gula dari tebu menghasilkan limbah atau hasil samping, antara lain:
Ampas berasal dari tebu yang digiling dan digunakan sebagai bahan bakar ketel uap. Blotong
atau filter cake adalah endapan dari nira kotor yang di tapis di rotary vacuum filter. Tetes
merupakan sisa sirup terakhir dari masakan yang telah dipisahkan gulanya melalui kristalisasi
berulangkali sehingga tak mungkin lagi menghasilkan kristal.
Limbah adalah buangan yang dihasilkan dari suatu proses produksi baik industri
maupun domestik (rumah tangga). Dimana masyarakat bermukim, disanalah berbagai jenis
limbah akan dihasilkan. Ada sampah, ada air kakus (black water), dan ada air buangan dari
berbagai aktivitas domestik lainnya (grey water).

IV.2 Saran
Dari setiap premosesan pasti akan menghasilkan hasil samping, limbah, atau ampas
yang masih bisa dimanfaatkan sehingga limbah tidak menyebabkan lingkungan tercemar, jadi
berpandai-pandailah memanfaatkan hasil samping, limbah, atau ampas agar dapat
memperhemat bahan mentah.

TEKNOLOGI GULA 29
DAFTAR PUSTAKA

Ratmanto. 2008. “Proses Pemisahan Nira Dan Ampas”.


(http://favetech.blogspot.co.id/2008/08/mill-station-bagian-gilingan.html) Diakses pada
tanggal 17 September 2017
Ekcsta. 2014. “Proses Pembuatan Gula dan Pemanfaatan Limbah Pabrik
Gula”.(http://ekcsta4ever.blogspot.co.id/2014/06/makalah-proses-pembuatan-gula-
dan.html) Diakses pada tanggal 17 September 2017
Anonim. 2014. “Mengenal Proses Pengolahan Gula”.(
http://gubukktani.blogspot.co.id/2014/05/mengenal-proses-pengolahan-gula-2.html)
Diakses pada tanggal 17 September 2017

TEKNOLOGI GULA 30