Anda di halaman 1dari 5

SUMMARY REPORT

FORUM NASIONAL KEBIJAKAN KESEHATAN INDONESIA VII

NAMA: KERIS NANDA


NIM : 03012141

EVALUASI KEBIJAKAN JKN TAHUN 2019 :


 Dari 8 sasaran BPJS yang ditargetkan tahun 2019, antara lain :
1. BPJS beroperasi dengan baik
2. Seluruh penduduk Indonesia mendapat jaminan kesehatan melalui BPJS Kesehatan
3. Paket manfaat medis dan non-medis sudah sama, tidak ada perbedaan untuk
wujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia
4. Jumlah dan sebaran fasyankes sudah memadai untuk menjamin seluruh penduduk
memenuhi kebutuhan medis mereka
5. Semua peraturan pelaksanaan telah disesuaikan secara berkala untuk menjamin
kualitas yang memadai dengan harga keekonomian yang layak
6. Paling sedikit 85% peserta menyatakan puas, baik dalam layanan di BPJS maupun di
faskes yang dikontrak BPJS
7. Paling sedikit 80% tenaga dan fasyankes menyatakan puas atau pembayaran yang
layak dari BPJS
8. BPJS dikelola secara terbuka, efisien, dan akuntabel
 Hanya satu sasaran yang dapat dicapai hingga tahun ini yaitu, sasaran ke-6.
 Untuk membangun sistem coverage menuju Indonesia Sehat, telah dibentuk blueprint
menuju pencapaian tersebut dalam bentuk :
 UU No. 40 Tahun 2004 tentang SJSN
 UU No. 24 Tahun 2011 tentang BPJS
 Untuk mencapai tujuan kolektif pada kebijakan publik dapat dipengaruhi mulai dari :
 Proses kebijakan
 Implementasi kebijakan
 Serta konkret kebijakan
 Dari 3 hal di atas sangat mempengaruhi 8 tujuan sistem penjamin kesehatan sehingga
validitas rujukan dapat tercapai.
 Sepanjang tahun 2013-2016 terdapat peningkatan jumlah fasilitas kesehatan di Indonesia,
namun distribusinya masih belum merata. Di regional 4 (seluruh Kalimantan kecuali
Kalbar) dan regional 5 (Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua) masih belum ada RS tipe A.
di Indonesia Timur terdapat 8 RS tipe A dan ada 4 RS Pemerintah.
 Pengembangan RS tanpa kelas di Indonesia menjadi RS dengan pemerataan semua
standar masih memerlukan waktu dan diperlukan pula kajian mendalam
 Sistem Rujukan : Pada prinsipnya sistem rujukan dilaksanakan untuk memenuhi
kebutuhan pasien. Adapun alurnya yaitu dari fasilitas kesehatan tingkat pertama
kemudian ke RS Tipe D, RS Tipe C, RS tipe B dan terakhir ke RS tipe A. Adapun
terdapat ketentuan dimana dari fasilitas kesehatan tingkat pertama dapat langsung di
rujuk ke RS tipe B jika menyangkut kesehatan dan kebutuhan pasien.

IDEOLOGI DALAM MONITORING DAN EVALUASI KEBIJAKAN JAMINAN


KESEHATAN NASIONAL MENUJU CAKUPAN SEMESTA
Menurut UU 40/2004 tentang SJSN dan UU 24/2011 tentang BPJS, Indonesia
membangun sistem Universal Coverage menuju Indonesia sehat. Untuk mencapai tujuan
tersebut diperlukannya proses kebijakan. Dalam pembentukan proses kebijakan, terlebih
dahulu dibentuk disain kebijakan yang terdiri dari infrastruktur kebijakan dan instrumen
kebijakan.

SUPPLY SIDE READINESS : Apakah sumber dari masalah ketidakadilan JKN ?


Jumlah rumah sakit dan spesialis per regional mengalami peningkatan tiap tahunnya,
namun terdapat disparitas yang ekstrim antara kesediaan di regional 1 dengan regional 5
(Indonesia Timur). Di regional 1, sistem rujukan lebih banyak mengarah pada rumah sakit tipe
A. Sedangkan di regional 5, sistem rujukan banyak pada rumah sakit tipe B/C. Disparitas yang
ekstrim ini salah satunya disebabkan oleh faktor geografis yang terlalu luas dibandingkan
dengan jumlah penduduk yang sedikit. Ratio antara luas geografis dan jumlah penduduk inilah
yang menjadi salah satu karakteristik daerah Indonesia Timur, seperti di Papua.
Permasalahan lainnya adalah ketersediaan RS berjejaring BPJS. Di regional 5, oleh
karena jumlah RS yang ada juga kurang maka jumlah RS berjejaring BPJS juga belum banyak.
Sedangkan di regional lain, permasalahan yang ada adalah banyak program yang belum dicover
oleh BPJS misalnya KB. Program KB masih dipegang oleh BKKBN, sehingga sebagai contoh
pasien SC yang ingin steril, hanya dicover BPJS SC-nya saja, tidak dengan operasi steril.
Permasalahan lainnya adalah premi dari tiap regional yang tidak sama oleh karena akses
yang tidak sama di setiap regional, baik fisik RS itu sendiri, logistik, maupun ketersediaan
tenaga kesehatan.
Dari berbagai sumber masalah di atas, dapat diingat bahwa JKN tidak dapat
menyelesaikan masalah kesehatan yang ada di Indonesia, mengingat prinsip utama dari
kesehatan universal adalah tindakan preventif. Menurut Global Strategy of Human Resources
2013, yang dapat dilakukan adalah mengubah distribusi pelayanan kesehatan yang ada.
Prinsip JKN adalah berjenjang artinya memang sistem rujukan dilakukan dari tingkat
paling rendah yaitu pelayanan kesehatan primer ke RS tipe D, C, B, dan A. Namun dalam
kondisi tertentu, dimana seorang dokter layanan primer sudah mengetahui faskes mana yang
memiliki kompetensi menangani suatu kasus, atau dalam keadaan emergensi, maka rujukan
dapat langsung ditujukan pada RS tipe A/B, dengan alasan patient safety. Sebagai kesimpulan,
JKN yang sudah berjalan di Indonesia saat ini sudah berada pada jalur yang tepat, namun masih
berjalan sangat lambat.

HASIL EVALUASI: Apakah Perlu Revisi Undang-Undang Jkn Dan Bpjs?


Evaluasi yag dilakukan yaitu mengenai permasalahan-permasalahan tentang regulasi
SJSN dan BPJS, pendanaan dan kontrol pelayanan kesehatan. Adanya multiinterpretasi dan
kekosongan implementasi Undang-Undang menyebabkan terjadinya tumpang tindih aturan,
yaitu antara Permenkes No.71 bahwa FKTP harus oleh pemerintah dan swasta, Permenkes 75
tahun 2014 bahwa Puskesmas memiliki wewenang untuk mencapai kecamatan sehat, dan
Permenkes No.28 tahun 2011 bahwa pencatatan swasta harus dilaporkan ke dinas. Ketiga
peraturan tersebut tidak saling menunjang.
Peraturan Presiden mengenai Tatanan Nasional banyak terjadi pembenahan yang
merupakan bagian dinamika JKN. Hal ini dipengaruhi oleh riwayat pelayanan kesehatan
sebelumnya dan perilaku masyarakat. JKN sudah ada sejak tahun 2013 (3 tahun 10 bulan yang
lalu) sudah mengalami 3 kali revisi Perpres. Sehingga diperlukan implementasi untuk merubah
pola pikir masyarakat agar paham akan fungsi BPJS. Saat ini sudah terjadi banyak perubahan
yakni adanya fase transisi, dimana JKN (Jaminan Kesehatan Nasional) terlahir bukan berasal
dari Sistem Kesehatan, tetapi dari Jaminan Kerja. Adanya JKN menunjukkan hubungan
konstitusional.
Pada tahun 2016 terhitung 192 juta yang memanfaatkan JKN, 183 juta peserta dan
cenderung terjadi peningkatan. Diperkirakan pada tanggal 1 Januari 2019 terdapat 260.500.000
peserta. Tujuannya adalah sustainabilitas finansial, peserta mendapat kepuasan atas patient
safety, dan upaya maksimal dapat terwujud.
BPJS Kesehatan menjadi regulator karena dalam Undang-Undang masih belum jelas
mengenai tata kelolanya. Sehingga diperlukan perubahan berdasarkan peran masing-masing.
Berdasarkan Permenkes No.36 tahun 2009, peran JKN tidak jelas. Sehingga Kementrian
Kesehatan RI memerlukan Sistem Kesehatan Nasional yang baru sebagai kerangka kerja
regulasi keseluruhan, sehingga orkestrasi menjadi harmonis.

BAGAIMANA MENGATASI DEFISIT BPJS?


- Defisit JKN termasuk dari input merekrut dan pengelolaan dana, proses mengolah dan
outputnya. Kesulitannya karena JKN bersifat asuransi sosial
- Cara mengatasi defisit :
o seluruh penduduk punya BPJS
o bayar iuran tepat waktu
o perilaku masyarakat belum memaksimalkan pelayanan kesehatan tingkat pertama
o persepsi masyarakat ingin di rumah sakit yang high class sehingga biaya
tanggungannya tinggi
- Langkah-langkah :
o optimalkan sisi income
o revisi peraturan perundang-undangan
o kelola cash in dan cash out
- Realita tahun 2014 :
o PBI : peserta banyak namun tidak digunakan dengan maksimal
o Non-PBI : sangat dimanfaatkan
o Pernyataan diatas menimbulkan defisit, sehingga perlu dipikirkan untuk
perencanaan apakah yang non-PBI dipindahkan ke asuransi kesehatan biasa?

KEPUASAN PASIEN BPJS & UMUM TERHADAP PELAYANAN KESEHATAN


- JKN meningkatkan jumlah kunjungan di FKTP
- Anggapan pasien umum dilayani lebih baik dibandingkan pasien BPJS menghambat
tercapainya universal coverage 2019
- Hasil penelitian : Tidak ada perbedaan kepuasan pasien umum (78,2%) dan JKN
(76,45%)
- Pasien BPJS memiliki gap negative pada dimensi reliability dan responsiveness.
Sedangkan pasien umum memiliki gap negative pada dimensi assurance dan empathy
- Puskesmas memiliki gap negative pada reliability, assurance, empathy. Sedangkan klinik
pratama meiliki gap negative pada reliability, responsiveness, assurance, empathy
- Kesimpulan : tidak ada perbedaan kepuasan pasien BPJS dan umum kecualipada dimensi
empati, tidakada perbedaan kepuasan layanan antara FKTP Kab. Temanggung
- Pemberi layanan kesehatan sebaiknya secara berkala menilai kepuasan pasien untuk
perbaikan layanan dimasa depan

BAGAIMANA PERAN PEMERINTAH DAERAH DALAM MENGATASI


MISSMATCH PROGRAM JKN?
Berdasarkan angka Dinas Kesehatan DKI Jakarta, jumlah penduduk sebanyak
10.200.000 orang, yang mendaftar 15.600 jiwa. Penduduk DKI murni sebanyak 8.100 memiliki
BPJS, baik itu mandiri, APBN atau PBI. Bila dihitung pengeluaran untuk pembayaran premi
pada APBN, PBI yaitu sebanyak 1 trilyun 20 miliar rupiah. APBN mendapat 208 miyar rupiah,
sisanya mandiri. Total yang dikeluarkan untuk membayar premi adalah 4.8 milyar rupiah. Uang
yang kembali berasal dari kapitasi , RSUD, RS swasta, vertical yang bekerjasama dengan BPJS
mendapat biaya untuk rawat jalan sekitar 2.2 trilyun rupiah, rawat inap sebesar 4.2 trilyun. Jadi
totalnya adalah 6.4 trilyun, ditambah baiaya kapitasi 474 milyar per 1 tahun. Totalnya adalah
6.8 trilyun rupiah. Sehingga uang yang dikeluarkan sebesar 4.8 trilyun rupiah dan kembali
sebesar 6.8 milyar rupiah. Jadi, biaya yang masuk dibanding biaya premi, memiliki laba kurang
lebih 2 trilyun rupiah. Hal ini menunjukkan terjadi overshoot yang berarti lebih besar daripada
pemerimaan JKN.
Hal ini terjadi pula di Sumatera Utara, Jember dan Sumatera Barat. Hal ini terlihat
seperti semakin banyak pasien yang berobat, sehingga pendapatan di fasyankes pun meningkat.
Namun dalam kenyataannya kegiatan pelayanan kesehatan di DKI Jakarta dan di daerah-daerah
lain pun tetap mengutamakan upaya promotif dan preventif, namun karena adanya banyak
faktor menyebabkan upaya promotif dan preventif sangat sulit untuk dilakukan, sehingga
fasyankes terkesan hanya bergerak atau melakukan upaya kuratif saja. Tetapi pada
kenyataannya fasyankes tetap mengutamakan upaya promotif dan preventif dalam pelayanan
kesehatan.