Anda di halaman 1dari 6

A.

Rantai Kegiatan Bisnis Properti


Rantai bisnis properti merupakan seluruh kegiatan dalam bisnis properti mulai
dari perencanaan sampai pemasaran.
Berikut merupakan rantai kegiatan dalam bisnis properti:

Pengadaan Lahan Pemetaan Lahan Perencanaan Bahan Bangunan

Pemasaran Pengelolaan Kontraktor

1. Pengadaan Lahan
Pengadaan lahan bertujuan untuk pembangunan dan menyangkut pengaturan kembali
penggunaan, pemanfaatan, pemilikan, dan penguasaan tanah (landreform) sejalan
dengan penatagunaan tanah.
2. Pemetaan Lahan
Pemetaan lahan merupakan suatu kegiatan untuk :
 Menentukan posisi sembarang bentuk yang berbeda di atas permukaan bumi.
 Menentukan letak ketinggian (elevasi) segala sesuatu yang berbeda di atas atau
di bawah suatu bidang yang berpedoman pada permukaan air laut rata – rata/ Mean
Sea Level (MSL).
 Menentukan bentuk atau relief permukaan tanah beserta benda – benda yang
ada dipermukaan tanah tersebut.
 Menentukan panjang, arah/ sudut, dan koordinat suatu titik (posisi) dari titik
lain yang terdapat pada permukaan bumi, dan menghitung luas daerah yang telah
dibatasi suatu areal tertentu.
3. Perencanaan
Perencanaan merupakan suatu rangkaian kegiatan yang terstruktur untuk mencapai
tujuan pada masa mendatang secara efektif dan efisien dengan memanfaatkan sumber
daya.
4. Bahan bangunan
Bahan bangunan merupakan bahan yang digunakan untuk tujuan konstruksi. Banyak
bahan alami, seperti tanah liat, pasir, kayu dan batu, bahkan ranting dan daun telah
digunakan untuk membangun bangunan. Selain dari bahan alami, produk buatan
banyak digunakan, dan beberapa lagi kurang sintetik.
5. Kontraktor
Kontraktor merupakan suatu badan hukum atau badan usaha yang di kontrak atau di
sewa untuk menjalankan proyek pekerjaan berdasarkan isi kontrak yang
dimenangkannya dari pihak pemilik proyek yang merupakan instansi/lembaga
pemerintahan, badan hukum, badan usaha, maupun perorangan, yang telah
melakukan penunjukan secara resmi.
6. Pengelolaan
Pengelolaan merupakan suatu proses yang memberikan pengawasan pada semua hal
yang terlibat dalam pelaksanaan kebijaksanaan dan pencapaian tujuan dalam hal ini
terkait dengan kegiatan bisnis properti.
B. Rantai Proses Bisnis Usaha Properti

Secara umum proses usaha real estate adalah kegiatan investor yang
menghasilkan produk berupa properti baik berupa residensial seperti rumah, rumah
susun, rumah toko, rumah kantor, atapun apartemen. Selain menghasilkan produk yang
bersifat residensial dapat pula produk yang bersifat komersial seperti, perkantoran,
pertokoan, kawasan industri, dan pergudangan.

Dalam upaya untuk menghasilkan produk tersebut dilakukan dengan serangkaian


kegiatan antara lain:
a. Persiapan
Kegiatan dalam tahap persiapan ini meliputi: penelitian pendahuluan, potensi pasar,
kelayakan bisnis, perencanaan konstruksi, dan rencana anggaran biaya.
Pengusaha real estate dalam menjalan kegiatan persiapan ini dapat dilakukan oleh
dirinya sendiri ataupun dapat pula menggunakan pihak ketiga yaitu jasa konsultan.
b. Perizinan
Langkah selanjutnya setalah proses persiapan selesai dilakukan, maka harus
dilakukan pengurusan berbagai perizinan diantaranya: Izin Lokasi, Izin Pematangan
Tanah, Izin Perubahan Penggunaan Tanah, Izin Mendirikan Bangunan, dan izin-izin
lainnya.
Dalam menjalankan proses pengurusan izin ini, pihak pengusaha juga dapat
dilakukan oleh dirinya sendiri ataupun dapat pula menggunakan pihak ketiga.
c. Pengadaan lahan
Dalam pengadaan lahan untuk pembangunan pihak pengembang didapat dengan
cara yaitu pembelian langsung kepada pemilik tanah ataupun kerjasama dengan
pemilik lahan. Dalam pengadaan lahan seringkali pihak pengembang menggunakan
jasa broker untuk mencari dan mendapatkan lahan tersebut.
d. Pembangunan
Lahan yang telah dikuasai pengusaha real estate akan ditindaklanjuti dengan
aktivitas pembangunan berupa pematangan lahan, pembangunan sarana, prasarana,
utilitas, dan tentunya pembangunan unti properti yang akan dijual.
Pada tahap ini pihak pengembang umumnya menggunakan pihak ketiga yaitu
pengusaha di bidang jasa konstruksi.
e. Pemasaran
Untuk menjadikan produknya dapat terjual, pihak pengembang harus melakukan
kegiatan pemasaran produk. Kegiatan pemasaran ini dapat dilakukan oleh pihak
pengembang sendiri, ataupun menggunakan pihak lain seperti perusahaan
advertising, event organizing pameran, dan lainnya.
f. Penjualan
Terakhir tentunya produk tersebut dijual kepada konsumen, baik secara tunai, tunai
bertahap, maupun secara kredit dengan pihak perbankan.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tumbuh sekitar 5 % pada tahun-tahun terakhir ini
sangatlah ditunjang oleh pertumbuhan sektor riil salah satunya yaitu sektor bangunan
yang mencakup industri properti. Sektor riil khususnya industri properti merupakan salah
satu indikator bangkitnya kondisi makroekonomi suatu negara. Di negara-negara maju
dan berkembang, pembangunan dan bisnis properti tumbuh dengan pesat. Sementara itu
di negara yang sedang mengalami keterpurukan ekonomi ataupun negara-negara
berkembang seperti Indonesia, pembangunan properti yang naik cukup pesat
menandakan mulai adanya perbaikan ekonomi yang signifikan ke arah masa depan yang
lebih baik (Rafitas, 2005). Menurut Siti (2009) Perbaikan ini ditandai dengan banyaknya
pembangunan proyek yang ada di kota-kota besar khususnya di DKI Jakarta dan kota-
kota besar lainnya baik yang bersifat komersial, industrial, hunian ataupun investasi
jangka panjang yang akan mendatangkan tambahan devisa yang besar bagi negara dan
memberikan peluang kerja yang cukup berarti bagi masyarakat Indonesia. Tahun 2009
jumlah penduduk Indonesia diperkirakan mencapai 230 juta jiwa (BPS, 2008). Dengan
jumlah penduduk sebesar itu maka kebutuhan akan sektor properti khususnya perumahan
akan semakin besar. Begitu juga dengan permintaan terhadap apartemen, pusat
perbelanjaan, perkantoran serta bangunan-bangunan komersial lainnya juga akan
mengalami peningkatan. Hal ini tentu saja akan berimplikasi pada pertumbuhan industri
properti yang nantinya akan mempengaruhi kegiatan ekonomi dan perkembangan
ekonomi nasional.
Properti tergolong dalam sektor konstruksi yang merupakan salah satu sektor potensial
bagi pembangunan nasional karena mampu mendatangkan penerimaan pemerintah baik
pusat maupun daerah. Sektor properti mampu memberikan dampak berganda (multiplier
effect) pada peningkatan kesejahteraan, baik secara langsung (melalui penciptaan
lapangan pekerjaan) maupun tidak langsung (melalui kontribusinya terhadap PDB
nasional).
Menurut Badan Pusat Statistik pada tahun 2007, sektor konstruksi mampu menyerap
tenaga kerja sebesar 4.373.950 jiwa atau 4,6 persen dari total angkatan kerja yang ada
di Indonesia. Sementara sumbangan sektor konstruksi terhadap PDB nasional pada
tahun 2004 hingga tahun 2008 masing-masing sebesar 6,4 %, 6,5 %, 6,6 %, 6,7 %, 6,8 %.

Hal ini menandakan bahwa investasi di sektor ini terus meningkat dan begitu juga
dengan permintaan dari masyarakat. Antara tahun 2002-2007 total sumbangan proyek
properti terhadap nilai sektor konstruksi masing-masing sebesar 41,46 %, 42,78 %, 41,74
%, 41,89 %, 43,61 %, 41,36 %. Dari data tersebut dapat diketahui bahwa sektor
konstruksi lebih didominasi oleh tipe konstruksi properti daripada tipe konstruksi
lainnya. Dengan semakin meningkatnya nilai pembangunan proyek properti maka
sumbangan industri properti terhadap PDB akan semakin besar sehingga peranan sektor
properti menjadi sangat penting dalam perekonomian.

Menurut Siti (2009) seringkali kita melihat di sekeliling kita bangunan-bangunan baru
terus bermunculan, baik itu perumahan, apartemen, pusat perbelanjaan, ataupun
proyek-proyek properti lainnya. Bisa dikatakan bisnis properti memang tidak pernah
sepi. Tingkat pengembalian (Rate of Return) yang besar menjadi salah satu faktor yang
menarik investor untuk memasuki bisnis ini. Apalagi harga tanah dan bangunan
cenderung terus meningkat sehingga resiko menderita kerugian sangat kecil. Dilihat dari
sisi permintaan, bisnis ini memiliki prospek yang menjanjikan di masa yang akan datang,
apalagi dengan jumlah penduduk Indonesia yang sebesar itu. Pembangunan proyek
properti selalu diperlukan dalam berbagai kegiatan ekonomi, sehingga penawaran yang
dilakukan oleh pengembang sebagian besar mampu diserap oleh pasar