Anda di halaman 1dari 33

MAKALAH

DANA DESA

Mata Ajaran : Akuntansi Pemerintahan


Dosen : M. Yusuf John
Disusun Oleh :

No. Nama NPM

1. Arifudin Miftakhul Huda 1506810181

2. Rochmat Basuki 1506701256

3. Raymond Firman Siahaan 1506810686

KELAS AKP15-2P-A

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS


PROGRAM MAGISTER AKUNTANSI
JURUSAN AKUNTANSI PEMERINTAHAN
UNIVERSITAS INDONESIA
JAKARTA
Statement of Authorship

“Kami yang bertandatangan dibawah ini menyatakan bahwa makalah/tugas


terlampir adalah murni hasil pekerjaan kami sendiri. Tidak ada pekerjaan orang lain
yang saya/kami gunakan tanpa menyebutkan sumbernya.
Materi ini tidak/belum pernah disajikan/digunakan sebagai bahan untuk
makalah/tugas pada mata ajaran lain kecuali saya/kami menyatakan dengan jelas
bahwa saya/kami menyatakan bahwa saya/kami menggunakannya.
Saya/kami memahami bahwa tugas yang saya/kami kumpulkan ini dapat diperbanyak
dan atau dikomunikasikan untuk tujuan mendeteksi adanya plagiarisme.”

Mata Ajaran : Akuntansi Pemerintahan


Judul Makalah : Dana Desa
Tanggal : 13 Mei 2016
Dosen : M. Yusuf John

Nama : Arifudin Miftakhul Huda


NPM : 1506810181
Tandatangan :

Nama : Rochmat Basuki


NPM : 1506701256
Tandatangan :

Nama : Raymond Firman Siahaan


NPM : 1506810686
Tandatangan :

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL...................................................................................................... i
Statement of Authorship ............................................................................................... ii
DAFTAR ISI ................................................................................................................ iii
DAFTAR TABEL ........................................................................................................ iv
DAFTAR GAMBAR .................................................................................................... v
PENDAHULUAN ........................................................................................................ 1

A. Latar Belakang ................................................................................................ 1


B. Ruang Lingkup................................................................................................ 3
C. Tujuan ............................................................................................................. 3

PENGANGGARAN DAN PENGALOKASIAN DANA DESA ................................. 4

A. Penganggaran Dana Desa ............................................................................... 4


B. Pengalokasian Dana Desa ............................................................................... 5
C. Anggaran Pendapatan Dan Belanja Desa ( Apbdesa) ..................................... 9

ALUR PELAPORAN DANA DESA ......................................................................... 11

A. Alur Penyampaian Laporan Sesuai dengan Peraturan Pemerintah ............... 12


B. Alur Penyampaian Laporan Sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan ... 13
C. Alur Penyampaian Laporan Sesuai dengan Permendagri ............................. 14
D. Penyusunan Juklak Bimkon BPKP .............................................................. 17

PENYALURAN DANA DESA.................................................................................. 21

A. Tahapan Penyaluran Dana Desa ................................................................... 21


B. Persyaratan Penyaluran Dana Desa .............................................................. 21
C. Mekanisme Penyaluran Dana Desa .............................................................. 22
D. Sanksi Terkait Dana Desa ............................................................................. 24
E. Evaluasi Penyaluran Dana Desa Tahun 2015 ............................................... 26

KESIMPULAN DAN SARAN ................................................................................... 27

A. Kesimpulan ................................................................................................... 27
B. Saran ............................................................................................................. 27

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................. 28

iii
DAFTAR TABEL

Tabel 3. 1 Perbandingan Ketentuan Pelaporan pada PP Nomor 60 Tahun 2014


dengan PP Nomor 8 Tahun 2016 ................................................................................ 12
Tabel 3. 2 Perbandingan Ketentuan Pelaporan Sesuai dengan PP Nomor 8 Tahun
2016, Permendagri Nomor 113 Tahun 2014, dan PMK Nomor 49/PMK.07/2016 .... 16

iv
DAFTAR GAMBAR

Gambar 2. 1 Alur penganggaran dana desa .................................................................. 5


Gambar 2. 2 Rumus Penghitungan Alokasi Formula ................................................... 6
Gambar 2. 3 Rumus Alokasi Formula Dana Desa Per Desa ......................................... 7
Gambar 2. 4 Skema pengalokasian dana desa .............................................................. 8
Gambar 2. 5 Alur Perencanaan APBDesa .................................................................. 10

Gambar 3. 1 Flowchart Laporan Realisasi Pelaksanaan APBDesa Semesteran ......... 19


Gambar 3. 2 Flowchart Laporan Pertanggungjawaban ............................................... 20

Gambar 4. 1 Mekanisme Penyaluran Dana Desa dari RKUN ke RKUD ................... 23


Gambar 4. 2 Mekanisme Penyaluran Dana Desa dari RKUD ke RKD ...................... 23
Gambar 4. 3 Tata Cara Penundaan dan Pemotongan Dana Perimbangan .................. 26

v
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Desa atau yang disebut dengan nama lain telah ada sebelum Negara
Kesatuan Republik Indonesia terbentuk. Sebagai bukti keberadaannya, Penjelasan
Pasal 18 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (sebelum
perubahan) menyebutkan bahwa “Dalam territori Negara Indonesia terdapat lebih
kurang 250 “Zelfbesturende landschappen” dan “Volksgemeenschappen”, seperti
desa di Jawa dan Bali, Nagari di Minangkabau, dusun dan marga di Palembang,
dan sebagainya. Daerah-daerah itu mempunyai susunan Asli dan oleh karenanya
dapat dianggap sebagai daerah yang bersifat istimewa. Negara Republik Indonesia
menghormati kedudukan daerah-daerah istimewa tersebut dan segala peraturan
negara yang mengenai daerah-daerah itu1. Desa sendiri didefinisikan sebagai2
kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas wilayah yang berwenang untuk
mengatur dan mengurus urusan pemerintahan, kepentingan masyarakat setempat
berdasarkan prakarsa masyarakat, hak asal usul, dan/ atau hak tradisional yang
diakui dan dihormati dalam sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik
Indonesia.
Pembangunan Desa bertujuan3 meningkatkan kesejahteraan masyarakat
Desa dan kualitas hidup manusia serta penanggulangan kemiskinan melalui
penyediaan pemenuhan kebutuhan dasar, pembangunan sarana dan prasarana,
pengembangan potensi ekonomi lokal, serta pemanfaatan sumber daya alam dan
lingkungan secara berkelanjutan. Dari tujuan diatas, kita dapat melihat bahwa
pembangunan dari desa yang berjumlah 74.754 dan merupakan wilayah
administratif terkecil dari Negara Kesatuan Republik Indonesia perlu menjadi
perhatian, karena untuk dapat mencapai kesejahteraan dan pembangunan yang
merata bagi masyarakat diseluruh wilayah Indonesia selayaknya dimulai dari
lingkup terkecil dan paling mewakili kondisi diwilayah Indonesia sampai batas

1
Penjelasan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Desa
2
Pasal 1 Ayat (1) Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 49/PMK.07/2016
3
Penjelasan UU No.06 Tahun 2014 Tentang Desa

1
terluar wilayah Indonesia. Untuk mencapai tujuan diatas, maka berdasarkan
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Desa, sejak
tahun 2014 (dicairkan secara betahap pada tahun 2015) Pemerintah Indonesia
mengucurkan dana untuk desa yang disebut dana desa. Dana desa merupakan4
dana yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara yang
diperuntukkan bagi Desa yang ditransfer melalui Anggaran Pendapatan dan
Belanja Daerah kabupaten/kota dan digunakan untuk membiayai penyelenggaraan
pemerintahan, pelaksanaan pembangunan, pembinaan kemasyarakatan, dan
pemberdayaan masyarakat.
Dengan disahkannya Undang-Undang (UU) Nomor 6 Tahun 2014 tentang
Desa, diharapkan segala kepentingan dan kebutuhan masyarakat desa dapat
diakomodir dengan lebih baik. Pemberian kesempatan yang lebih besar bagi desa
untuk mengurus tata pemerintahannya sendiri serta pemerataan pelaksanaan
pembangunan diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan dan kualitas hidup
masyarakat desa, sehingga dapat meminimalisir permasalahan seperti kesenjangan
antar wilayah, kemiskinan, dan masalah sosial budaya lainnya.
UU Nomor 6 Tahun 2014 beserta peraturan pelaksanaanya telah
mengamanatkan pemerintah desa untuk lebih mandiri dalam mengelola
pemerintahan dan berbagai sumber daya alam yang dimiliki, termasuk
pengelolaan keuangan dan kekayaan milik desa. Peran besar yang diterima oleh
desa, tentunya disertai dengan tanggung jawab yang besar, antara lain terkait
dengan penerapan prinsip akuntabilitas dalam tata pemerintahannya, dimana
semua akhir kegiatan penyelenggaraan pemerintahan desa harus dapat
dipertanggungjawabkan kepada masyarakat desa sesuai dengan ketentuan.
Dalam keuangan desa, pemerintah desa wajib menyusun Laporan Realisasi
Pelaksanaan APBDesa dan Laporan Pertanggungjawaban Realisasi Pelaksanaan
APBDesa. Laporan ini dihasilkan dari suatu siklus pengelolaan keuangan desa,
yang dimulai dari tahap perencanaan dan penganggaran; pelaksanaan dan
penatausahaan; hingga pelaporan dan pertanggungjawaban pengelolaan keuangan
desa.

4
Pasal 1 Ayat (2) Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 49/PMK.07/2016

2
Dalam tahap perencanaan dan penganggaran, pemerintah desa harus
melibatkan masyarakat desa yang direpresentasikan oleh Badan Permusyawaratan
Desa (BPD), sehingga program kerja dan kegiatan yang disusun dapat
mengakomodir kepentingan dan kebutuhan masyarakat desa serta sesuai dengan
kemampuan yang dimiliki oleh desa tersebut. Selain itu, pemerintah desa harus
bisa menyelenggarakan pencatatan, atau melakukan pembukuan atas transaksi
keuangannya sebagai wujud pertanggungjawaban keuangan yang dilakukannya.
Namun demikian, peran dan tanggung jawab yang diterima oleh desa belum
diimbangi dengan sumber daya manusia (SDM) yang memadai baik dari segi
kuantitas maupun kualitas. Kendala umum lainnya yaitu desa belum memiliki
prosedur serta dukungan sarana dan prasarana dalam pengelolaan keuangannya
serta belum kritisnya masyarakat atas pengelolaan anggaran pendapatan dan
belanja desa. Besarnya dana yang harus dikelola oleh pemerintah desa memiliki
risiko yang cukup tinggi dalam pengelolaannya, khususnya bagi aparatur
pemerintah desa. Aparatur pemerintah desa dan masyarakat desa yang
direpresentasikan oleh BPD harus memiliki pemahaman atas peraturan
perundang-undangan dan ketentuan lainnya, serta memiliki kemampuan untuk
melaksanakan pencatatan, pelaporan dan pertanggungjawaban.

B. Ruang Lingkup

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah disampaikan, ruang lingkup


pembahasan makalah ini adalah Pengelolaan Keuangan Desa yang meliputi
seluruh siklus pengelolaan keuangan desa. Siklus pengelolaan keuangan desa
adalah mulai dari tahap perencanaan dan penganggaran, pelaksanaan dan
penatausahaan, hingga pelaporan dan pertanggungjawaban pengelolaan keuangan
desa.

C. Tujuan

Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk dapat menguraikan dan
menjelaskan:
1. Alur perencanaan dan penganggaran dana desa;
2. Alur dan tahap pelaporan dan pertanggungjawaban dana desa; serta
3. Arus transfer dan penyaluran dana desa.

3
BAB II
PENGANGGARAN DAN PENGALOKASIAN DANA DESA

A. Penganggaran Dana Desa


Penganggaran dana desa diatur didalam pasal 2 dan pasal 3 Peraturan
Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 49/PMK.07/2016 Tentang Tata
Cara Pengalokasian, Penyaluran, Penggunaan, Pemantauan Dan Evaluasi Dana
Desa,sebagai berikut:
1. Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan menyusun Indikasi Kebutuhan
Dana dan Rencana Dana Pengeluaran Dana Desa dengan memperhatikan
persentase Dana Desa yang ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan
dan kinerja pelaksanaan Dana Desa menjadi dasar penganggaran Dana Desa.
2. Berdasarkan penganggaran Dana Desa, Direktorat Jenderal Perimbangan
Keuangan melakukan penghitungan rincian Dana Desa setiap kabupaten/kota.
3. Rincian Dana Desa setiap kabupaten/kota dialokasikan secara merata dan
berkeadilan berdasarkan Alokasi Dasar dan Alokasi Formula.
4. Rincian Dana Desa setiap kabupaten/kota disampaikan oleh Pemerintah kepada
Dewan Perwakilan Rakyat pada saat Pembahasan Tingkat I Nota Keuangan
dan Rancangan Undang-Undang mengenai APBN untuk mendapat persetujuan.
5. Rincian Dana Desa yang telah disetujui menjadi dasar penganggaran Dana
Desa yang tercantum dalam Undang-Undang mengenai APBN.
6. Rincian Dana Desa setiap kabupaten/kota ditetapkan dengan Peraturan
Presiden mengenai rincian APBN.
Alur penganggaran dana desa digambarkan sebagai berikut:

4
Gambar 2. 1 Alur penganggaran dana desa

Sumber: PMK Nomor 49/PMK.07/2016 Tentang Tata Cara Pengalokasian, Penyaluran,


Penggunaan, Monitoring dan Evaluasi Dana Desa.

B. Pengalokasian Dana Desa


Alokasi dana desa dibagi menjadi alokasi dasar dan alokasi berdasarkan
formula. Alokasi Dasar adalah alokasi minimal Dana Desa yang akan diterima
oleh setiap Desa, yang besarannya dihitung dengan cara 90% (sembilan puluh
persen) dari anggaran Dana Desa dibagi dengan jumlah Desa secara nasional
sedangkan Alokasi Formula adalah alokasi yang dihitung dengan memperhatikan
jumlah penduduk Desa, angka kemiskinan Desa, luas wilayah Desa, dan tingkat
kesulitan geografis Desa setiap kabupaten/kota. Alokasi formula dana desa diatur
dalam PMK No. 49/PMK.07/2016 pada pasal 5 sampai dengan pasal 8 yang
terdiri dari:
1. Besaran Alokasi setiap Kabupaten/Kota
Pengalokasian Dana Desa setiap kabupaten/kota dihitung dengan
menggunakan rumus sebagai berikut:
Dana Desa Kab/Kota = Alokasi Dasar kab/kota + Alokasi Formula kab/kota,
dimana besaran Alokasi Dasar setiap kabupaten/kota dihitung dengan cara
mengalikan Alokasi Dasar dengan jumlah Desa di kabupaten/kota. Jumlah Desa
yang ditetapkan dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri mengenai kode dan data
wilayah administrasi pemerintahan.

5
Besaran Alokasi Formula setiap kabupaten/ kota yang besarannya 10%
(sepuluh persen) dari anggaran Dana Desa dihitung dengan bobot sebagai berikut:
a. 25% (dua puluh lima persen) untuk jumlah penduduk;
b. 35% (tiga puluh lima persen) untuk angka kemiskinan;
c. 10% (sepuluh persen) untuk luas wilayah; dan
d. 30% (tiga puluh persen) untuk tingkat kesulitan geografis
Angka kemiskinan Desa dan tingkat kesulitan geografis Desa
masing-masing ditunjukkan oleh jumlah penduduk miskin Desa dan IKK
kabupaten/kota. Penghitungan Alokasi Formula setiap kab/kota menggunakan
rumus sebagai berikut:
Gambar 2. 2 Rumus Penghitungan Alokasi Formula

Sumber: Sumber: PMK Nomor 49/PMK.07/2016 Tentang Tata Cara Pengalokasian, Penyaluran,
Penggunaan, Monitoring dan Evaluasi Dana Desa.
Data jumlah penduduk Desa, angka kemiskinan Desa, luas wilayah Desa, dan
IKK kabupaten/kota bersumber dari kementerian yang berwenang dan/ atau
lembaga yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang statistic dan
disampaikan oleh kementerian yang berwenang dan/atau lembaga yang
menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang statistik kepada Menteri c.q.
Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan paling lambat bulan Agustus, apabila
terlambat atau tidak disampaikan, penghitungan rincian Dana Desa setiap
kabupaten/kota menggunakan data yang digunakan dalam penghitungan rincian
Dana Desa setiap kabupaten/kota tahun anggaran sebelumnya.

6
2. Besaran Alokasi Dana Desa setiap Desa
Besaran alokasi dana desa pada setiap desa disusun berdasarkan rincian
Dana Desa setiap kabupaten/kota yang disusun oleh bupati/walikota dimana
Rincian Dana Desa setiap Desa tersebut dialokasikan secara merata dan
berkeadilan berdasarkan:
a. Alokasi Dasar; dan
b. Alokasi Formula.
Besaran Alokasi Dasar setiap Desa dihitung dengan cara membagi Alokasi Dasar
setiap kabupaten/kota dengan jumlah Desa di kabupaten/kota yang bersangkutan.
Besaran Alokasi Formula setiap desa, dihitung dengan bobot sebagai
berikut:
a. 25% (dua puluh lima persen) untuk jumlah penduduk;
b. 35% (tiga puluh lima persen) untuk angka kemiskinan;
c. 10% (sepuluh persen) untuk luas wilayah; dan
d. 30% (tiga puluh persen) untuk tingkat kesulitan geografis.
Angka kemiskinan Desa dan tingkat kesulitan geografis Desa masing-
masing ditunjukkan oleh jumlah penduduk miskin desa dan IKG Desa.
Penghitungan alokasi formula dana desa per desa dihitung dengan
menggunakan rumus sebagai berikut:
Gambar 2. 3 Rumus Alokasi Formula Dana Desa Per Desa

Sumber: Sumber: PMK Nomor 49/PMK.07/2016 Tentang Tata Cara Pengalokasian,


Penyaluran, Penggunaan, Monitoring dan Evaluasi Dana Desa.

7
IKG Desa sebagaimana diatas disusun dan ditetapkan oleh bupati/walikota
berdasarkan data dari kementerian yang berwenang dan/ atau lembaga yang
menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang statistik. IKG Desa
sebagaimana meliputi: a. ketersediaan prasarana pelayanan dasar; b. kondisi
infrastruktur; dan c. aksesibilitas/transportasi. Penyusunan IKG Desa dapat
mengacu pada pedoman penyusunan IKG Desa se bagaimana tercantum dalam
Lampiran I Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor
49/PMK.07/2016.
Setelah membahas mengenai pengalokasian dana desa pada setiap
kabupaten/kotan dan juga pengalokasian dana desa per desa, maka kita dapat
membuat skema pengalokasian dana desa yang digambarkan sebagai berikut:
Gambar 2. 4 Skema pengalokasian dana desa

Sumber: Sumber: PMK Nomor 49/PMK.07/2016 Tentang Tata Cara Pengalokasian,


Penyaluran, Penggunaan, Monitoring dan Evaluasi Dana Desa.

8
C. Anggaran Pendapatan Dan Belanja Desa ( Apbdesa)
Pemerintah Desa menyusun perencanaan Pembangunan Desa sesuai
dengan kewenangannya dengan mengacu pada perencanaan pembangunan
Kabupaten/ Kota. Perencanaan Pembangunan Desa disusun secara berjangka yang
meliputi:
a) Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa untuk jangka waktu 6 (enam)
tahun; dan
b) Rencana Kerja Pemerintah Desa, yangmerupakan penjabaran dari Rencana
Pembangunan Jangka Menengah Desa untuk jangka waktu 1 (satu) tahun.
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa dan Rencana Kerja
Pemerintah Desa merupakan pedoman dalam penyusunan Anggaran Pendapatan
dan Belanja Desa yang diatur dalam Peraturan Pemerintahan dan ditetapkan
dengan Peraturan Desa dimana Rencana Pembangunan dan Rencana kerja tersebut
merupakan salah satu sumber masukan dalam perencanaan pembangunan
Kabupaten/ Kota.
Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa, selanjutnya disebut APBDesa,
adalah rencana keuangan tahunan Pemerintahan Desa, APBDes disusun dengan
urutan sebagai berikut5:
1. Sekretaris Desa menyusun Rancangan Peraturan Desa tentang APBDesa
berdasarkan RKPDesa tahun berkenaan.
2. Sekretaris Desa menyampaikan rancangan Peraturan Desa tentang APBDesa
kepada Kepala Desa.
3. Rancangan peraturan Desa tentang APBDesa disampaikan oleh Kepala Desa
kepada Badan Permusyawaratan Desa untuk dibahas dan disepakati bersama.
4. Rancangan Peraturan Desa tentang APBDesa disepakati bersama sebagaimana
dimaksud pada ayat (3) paling lambat bulan Oktober tahun berjalan.
5. Rancangan Peraturan Desa tentang APBDesa yang telah disepakati
bersamasebagaimana dimaksud dalam Pasal 20 ayat (3) disampaikan oleh
KepalaDesa kepada Bupati/Walikota melalui camat atau sebutan lain
palinglambat 3 (tiga) hari sejak disepakati untuk dievaluasi.

5
Pasal 20 -22 Permendagri Nomor 113 Tahun 2014 Tentang Pengelolaan Keuangan Desa

9
6. Bupati/Walikota menetapkan hasil evaluasi Rancangan APBDesa
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling lama 20 (dua puluh) hari kerja
sejak diterimanya Rancangan Peraturan Desa tentang APBDesa.
7. Dalam hal Bupati/Walikota tidak memberikan hasil evaluasi dalam batas
waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (2) Peraturan Desa tersebut berlaku
dengan sendirinya.
8. Dalam hal Bupati/Walikota menyatakan hasil evaluasi Rancangan Peraturan
Desa tentang APBDesa tidak sesuai dengan kepentingan umum adn peraturan
perundang-undangan yang lebih tinggi, Kepala Desa melakukan
penyempurnaan paling lama 7 (tujuh) hari kerja terhitung sejak diterimanya
hasil evaluasi
9. Apabila hasil evaluasi tidak ditindaklanjuti oleh Kepala Desa dan Kepala Desa
tetap menetapkan Rancangan Peraturan Desa tentang APBDesa menjadi
Peraturan Desa, Bupati/Walikota membatalkan Peraturan Desa dengan
keputusan Bupati atau Walikota.
10. Pembatalan Peraturan Desa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sekaligus
menyatakan berlakunya pagu APBDesa tahun anggaran sebelumnya.
Alur Perencanaan APBDesa digambarkan sebagai berikut:
Gambar 2. 5 Alur Perencanaan APBDesa

Sumber: Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 113 Tahun 2014 tentang Pengelolaan
Keuangan Desa

10
BAB III
ALUR PELAPORAN DANA DESA

Dalam melaksanakan tugas pengelolaan keuangan desa, kepala desa


memiliki kewajiban untuk menyampaikan laporan yang bersifat periodik
semesteran dan tahunan, yang disampaikan kepada Bupati/Walikota dan
disampaikan pula kepada Badan Permusyawaratan Desa (BPD). BPD adalah
lembaga yang melaksanakan fungsi pemerintahan yang anggotanya merupakan
wakil dari penduduk desa berdasarkan keterwakilan wilayah dan ditetapkan secara
demokratis. Anggota BPD terdiri dari ketua rukun warga, pemangku adat,
golongan profesi, pemuka agama dan tokoh atau pemuka masyarakat lainnya.
Sebagaimana telah diatur dalam pasal 48 PP Nomor 43 Tahun 2014 tentang
Petunjuk Pelaksanaan Undang-Undang Desa, disebutkan bahwan Kepala Desa
wajib menyampaikan laporan keterangan penyelenggaraan pemerintahan secara
tertulis kepada BPD setiap akhir tahun anggaran, termasuk dalam pengelolaan
keuangan desa. Oleh karena itu, tugas BPD dalam pelaporan dana desa adalah ikut
mengawasi kinerja kepala desa termasuk didalamnya adalah penggunaan Dana
Desa yang telah ter-integrasi dalam APBDesa.
Selanjutnya, dasar hukum yang mengatur tentang alur penyampaian serta
tahap penyusunan laporan realisasi dan pertanggungjawaban dana desa adalah
sebagai berikut:
a) Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 60 Tahun 2014 tentang Dana Desa yang
Bersumber Dari APBN sebagaimana terakhir telah diubah dengan PP Nomor 8
Tahun 2016.
b) Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendagri) Nomor 113 Tahun 2014
tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah.
c) Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 49/PMK.07/2016 tentang Tata
Cara Pengalokasian, Penyaluran, Penggunaan, Monitoring dan Evaluasi Dana
Desa.

11
A. Alur Penyampaian Laporan Sesuai dengan Peraturan Pemerintah

Kepala Desa menyampaikan laporan realisasi penggunaan Dana Desa


kepada bupati/walikota. Selanjutnya, bupati/walikota menyampaikan laporan
realisasi penyaluran dan konsolidasi penggunaan Dana Desa kepada Menteri
dengan tembusan kepada gubernur, menteri yang menyelenggarakan urusan
pemerintahan di bidang dalam negeri, dan menteri yang menyelenggarakan urusan
pemerintahan di bidang pembangunan dan pemberdayaan masyarakat desa.
Laporan realisasi penggunaan Dana Desa disampaikan sebelum penyaluran Dana
Desa tahap berikutnya. Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pelaporan ini
diatur dalam dengan Peraturan Menteri (Pasal 24).
Seiring dengan adanya beberapa perubahan ketentuan dalam PP Nomor 60
Tahun 2014 tentang Dana Desa yang Bersumber Dari APBN, maka dilakukan
perubahan atas PP dimaksud sebagaimana terakhir kali diubah dengan PP Nomor
8 Tahun 2016 tentang Perubahan Kedua atas PP Nomor 60 Tahun 2014.
Perubahan ketentuan dimaksud antara lain terkait dengan penyusunan laporan
dana desa serta pemberian sanksi yang diberikan atas keterlambatan dalam
penyampaian laporan pengelolaan keuangan desa. Perbandingan Perubahan
Ketentuan Pelaporan pada PP Nomor 60 Tahun 2014 dengan PP Nomor 8 Tahun
2016 dapat dilihat pada Tabel ... sebagai berikut:
Tabel 3. 1 Perbandingan Ketentuan Pelaporan pada PP Nomor 60 Tahun 2014
dengan PP Nomor 8 Tahun 2016
Alur Nama/Jenis Batas Waktu
No Peraturan Sanksi
Pelaporan Laporan Penyampaian
1. PP Nomor 60 Desa ke • Semester I • Minggu IV
Dalam hal
Tahun 2014 Kab/Kota bulan Juli
laporan
TA berjalan
tidak/terlambat
• Semester II • Minggu IV disampaikan,
bulan maka Kepala
Januari TA Daerah/
berikutnya Menteri

Kab/Kota Tahunan Minggu ke IV Keuangan

12
ke Pusat bulan Maret dapat menunda
TA berjalan penyaluran s.d.
diterimanya
laporan
tersebut.

2. PP Nomor 8 Desa ke Realisasi Sebelum Dihapus


Tahun 2016 Kab/Kota Penggunaan Penyaluran
Dana Desa Tahap
Tahap Berikutnya
Sebelumnya

Kab/Kota Realisasi Sebelum


ke Pusat Penggunaan Penyaluran
Dana Desa Tahap
Tahap Berikutnya
Sebelumnya
Sumber: PP Nomor 60 Tahun 2014 dan PP Nomor 8 Tahun 2016

B. Alur Penyampaian Laporan Sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan

Setelah ditetapkannya PP Nomor 8 Tahun 2016 tentang Kepala Desa


menyampaikan laporan realisasi penggunaan Dana Desa setiap tahap kepada
bupati/walikota yang terdiri atas:
a. Laporan realisasi penggunaan Dana Desa tahun anggaran sebelumnya; dan
b. Laporan realisasi penggunaan Dana Desa tahap I.
Laporan realisasi penggunaan Dana Desa tahun anggaran sebelumnya
disampaikan paling lambat minggu kedua bulan Februari tahun anggaran berjalan,
sedangkan Laporan realisasi penggunaan Dana Desa tahap I disampaikan paling
lambat minggu kedua bulan Juli tahun anggaran berjalan. Laporan realisasi
penggunaan Dana Desa tersebut di atas disusun sesuai dengan format
sebagaimana tercantum dalam Lampiran III PMK Nomor 49/PMK.07/2016.
Bupati/walikota dapat memfasilitasi percepatan penyampaian laporan realisasi
penggunaan Dana Desa tersebut (Pasal 25).

13
Bupati/walikota menyampaikan laporan realisasi penyaluran dan
konsolidasi penggunaan Dana Desa kepada Menteri c.q. Direktur Jenderal
Perimbangan Keuangan dengan tembusan kepada gubernur, Menteri Dalam
Negeri, Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi yang
terdiri atas:
a. Laporan realisasi penyaluran dan konsolidasi penggunaan Dana Desa tahun
anggaran sebelumnya; dan
b. Laporan realisasi penyaluran dan konsolidasi penggunaan Dana Desa tahap I.
Laporan realisasi penyaluran dan konsolidasi penggunaan Dana Desa disampaikan
paling lambat minggu keempat bulan Februari tahun anggaran berjalan,
sedangkan Laporan realisasi penyaluran dan konsolidasi penggunaan Dana Desa
tahap I disampaikan paling lambat mmggu keempat bulan Juli tahun anggaran
berjalan. Format laporan realisasi penyaluran dan konsolidasi tersebut tercantum
dalam Lampiran IV dan V PMK ini (Pasal 26).
Dalam rangka kegiatan pemantauan dan evaluasi dalam pelaksanaan dan
penyaluran Dana Desa, Pasal 27 ayat (1) PMK tersebut menyebutkan bahwa:
“Menteri Keuangan c.q. Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan bersama
dengan Menteri Dalam Negeri, dan Menteri Desa, Pembangunan Daerah
Tertinggal dan Transmigrasi melakukan pemantauan atas pengalokasian,
penyaluran, dan penggunaan Dana Desa.”

C. Alur Penyampaian Laporan Sesuai dengan Permendagri

Permendagri Nomor 113 Tahun 2014 tidak secara khusus mengatur


tentang dana desa, namun mengatur tentang pengelolaan keuangan desa.
Pengelolaan Keuangan Desa adalah keseluruhan kegiatan yang meliputi
perencanaan, pelaksanaan, penatausahaan, pelaporan, dan pertanggungjawaban
keuangan desa. Keuangan Desa adalah semua hak dan kewajiban Desa yang dapat
dinilai dengan uang serta segala sesuatu berupa uang dan barang yang
berhubungan dengan pelaksanaan hak dan kewajiban Desa. Dana Desa merupakan
bagian dari Keuangan Desa atau Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa
(APBDesa) yang digunakan untuk membiayai penyelenggaraan pembangunan,
pembinaan kemasyarakatan, dan pemberdayaan masyarakat (Pasal 1).

14
Sesuai Permendagri No. 113 Tahun 2014, Kepala Desa menyampaikan
laporan realisasi pelaksanaan APBDesa kepada Bupati/Walikota berupa:
a. laporan semester pertama; dan
b. laporan semester akhir tahun.
Laporan semester pertama berupa laporan realisasi APBDesa yang disampaikan
paling lambat pada akhir bulan Juli tahun berjalan, sedangkan laporan semester
akhir tahun disampaikan paling lambat pada akhir bulan Januari tahun berikutnya
(Pasal 37).
Kepala Desa menyampaikan laporan pertanggungjawaban realisasi
pelaksanaan APBDesa kepada Bupati/Walikota setiap akhir tahun anggaran yang
terdiri dari pendapatan, belanja, dan pembiayaan, serta ditetapkan dengan
Peraturan Desa. Peraturan Desa tentang laporan pertanggungjawaban realisasi
pelaksanaan APBDesa tersebut dilampiri dengan:
a. Format Laporan Pertanggungjawaban Realisasi Pelaksanaan APBDesa Tahun
Anggaran berkenaan;
b. Format Laporan Kekayaan Milik Desa per 31 Desember Tahun Anggaran
berkenaan;
c. Format Laporan Program Pemerintah dan Pemerintah Daerah yang masuk ke
desa.
Laporan Pertanggungjawaban Realisasi Pelaksanaan APBDesa tersebut di atas
merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari laporan penyelenggaraan
Pemerintahan Desa (Pasal 38 dan 39).
Laporan realisasi dan laporan pertanggungjawaban realisasi pelaksanaan
APBDesa diinformasikan kepada masyarakat secara tertulis dan dengan media
informasi yang mudah diakses oleh masyarakat, antara lain melalui: papan
pengumuman, radio komunitas, dan media informasi lainnya. Selanjutnya, laporan
realisasi dan laporan pertanggungjawaban realisasi pelaksanaan APBDesa
disampaikan paling lambat 1 (satu) bulan setelah akhir tahun anggaran berkenaan
kepada Bupati/Walikota melalui camat (Pasal 40 dan 41).
Selanjutnya, dalam rangka kegiatan pembinaan dan pengawasan dalam
pelaksanaan dan penyaluran APBDesa, Pasal 44 Permendagri tersebut
menyebutkan bahwa:

15
(1). Pemerintah Provinsi wajib membina dan mengawasi pemberian dan
penyaluran Dana Desa, Alokasi Dana Desa, dan Bagi hasil Pajak dan
Retribusi Daerah dari Kabupaten/ Kota kepada Desa.
(2). Pemerintah Kabupaten/Kota wajib membina dan mengawasi pelaksanaan
pengelolaan keuangan desa.
Berdasarkan uraian tersebut di atas, perbandingan ketentuan pelaporan
sesuai dengan PP Nomor 8 Tahun 2016, Permendagri Nomor 113 Tahun 2014,
dan PMK Nomor 49/PMK.07/2016 dapat dilihat pada tabel sebagai berikut:
Tabel 3. 2 Perbandingan Ketentuan Pelaporan Sesuai dengan PP Nomor 8 Tahun
2016, Permendagri Nomor 113 Tahun 2014, dan PMK Nomor
49/PMK.07/2016
Alur Nama/Jenis Batas Waktu
No Peraturan Sanksi
Pelaporan Laporan Penyampaian
1. PP Nomor 8 Desa ke Realisasi Sebelum
Tahun 2016 Kab/Kota Penggunaan Dana Penyaluran Tahap
Desa Tahap Berikutnya
Sebelumnya
Dihapus
Realisasi
Sebelum
Kab/Kota Penggunaan Dana
Penyaluran Tahap
ke Pusat Desa Tahap
Berikutnya
Sebelumnya
2. PMK Nomor Desa ke • Realisasi • Minggu ke-2 Dikenakan
49/PMK.07/2 Kab/Kota penggunaan bulan Februari sanksi
016 Dana Desa tahun anggaran administratif
tahun anggaran berjalan dengan
sebelumnya • Minggu ke-2 menunda
• Realisasi bulan Juli penyaluran
penggunaan tahun anggaran Dana Desa
Dana Desa berjalan
tahap I

Kab/Kota • Realisasi • Minggu ke-4

16
ke Pusat penyaluran dan bulan Februari
konsolidasi tahun anggaran
penggunaan berjalan
Dana Desa
tahun anggaran
sebelumnya
• Realisasi • Minggu ke-4

penyaluran dan bulan Juli

konsolidasi tahun anggaran

penggunaan berjalan

Dana Desa
tahap I

3. Permendagri Desa ke • Semester I • Akhir bulan Tidak terdapat


Nomor 113 Kab/Kota Juli tahun ketentuan
Tahun 2014 berjalan pemberian
• Semester II
• Akhir bulan sanksi terkait
Januari tahun ketidakpatuhan
berikutnya dalam
penyampaian
laporan
Sumber: PP Nomor 8 Tahun 2016, Permendagri Nomor 113 Tahun 2014, dan PMK
Nomor 49/PMK.07/2016

D. Penyusunan Juklak Bimkon BPKP

Sebagaimana telah diamanatkan dalam UU Desa, pemerintah pusat,


pemerintah provinsi, dan pemerintah kabupaten/kota turut membantu
memberdayakan masyarakat desa dengan pendampingan dalam perencanaan,
pelaksanaan, dan pemantauan pembangunan desa. Selanjutnya, BPKP selaku
pengemban amanat untuk mempercepat peningkatan kualitas akuntabilitas
keuangan negara sebagaimana tercantum dalam diktum keempat Instruksi
Presiden Nomor 4 Tahun 2011 tentang Percepatan Peningkatan Kualitas
Akuntabilitas Keuangan Negara, berinisiatif menyusun Petunjuk Pelaksanaan

17
Bimbingan dan Konsultasi (Juklak Bimkon) Pengelolaan Keuangan Desa. Juklak
Bimkon Pengelolaan Keuangan Desa ini diharapkan berguna bagi Tim Perwakilan
BPKP di daerah dan aparat pemerintah daerah kabupaten/kota untuk
meningkatkan pemahaman bagi aparatur pemerintah desa dalam pengelolaan
keuangan desa, meningkatkan kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan,
dan meningkatkan kualitas laporan keuangan dan tata kelola.
Juklak Bimkon Pengelolan Keuangan Desa disusun dengan maksud untuk
menyediakan bahan acuan dan referensi bagi Perwakilan BPKP dan pemerintah
kabupaten/kota dalam pelaksanaan asistensi kepada pemerintah daerah dan
pemerintah desa khususnya mengenai pengelolaan keuangan desa. Juklak Bimkon
Pengelolan Keuangan Desa ini disusun berdasarkan ketentuan dalam Undang-
Undang, Peraturan Pemerintah, Peraturan Presiden, Peraturan Menteri Keuangan,
Peraturan Menteri Dalam Negeri, serta Peraturan Menteri Desa, Pembangunan
Daerah Tertinggal dan Transmigrasi yang berhubungan dengan pengelolaan
keuangan desa sehingga Juklak Bimkon ini diharapkan dapat menjadi panduan
bagi Perwakilan BPKP dan pemerintah kabupaten/kota dalam hal pemberian
bimbingan teknis terkait kebijakan pengelolaan keuangan desa mulai tahap
perencanaan hingga pelaporan dan pertanggungjawaban.
Sebagaimana diatur dalam Permendagri Nomor 113 Tahun 2014, Kepala
Desa menyampaikan Laporan Realiasasi Pelaksanaan APBDesa Semester Pertama
dan Semester Akhir Tahun kepada Bupati/Walikota melalui camat. Laporan
Realisasi Pelaksanaan APBDesa Semester Pertama menggambarkan realisasi
pendapatan, belanja dan pembiayaan selama semester I dibandingkan dengan
target dan anggarannya, sedangkan Laporan Realisasi Pelaksanaan APBDesa
Semester Akhir Tahun mengambarkan realisasi pendapatan, belanja dan
pembiayaan sampai dengan akhir Tahun, jadi bersifat akumulasi hingga akhir
tahun anggaran.
Tahap Pelaporan dalam rangka penyusunan LRA semester I dan semester
akhir tahun APBDesa mulai dari internal desa hingga penyampaian kepada
Bupati/Walikota dapat dilihat pada gambar sebagai berikut:

18
Gambar 3. 1 Flowchart Laporan Realisasi Pelaksanaan APBDesa Semesteran

Sumber: Juklak Bimkon Pengelolaan Keuangan Desa, BPKP (2015)


Tahap Pertanggungjawaban dalam rangka penyusunan Laporan
Pertanggungjawaban (LPJ) akhir tahun APBDesa mulai dari internal desa hingga
penyampaian kepada Bupati/Walikota dapat dilihat pada gambar sebagai berikut:

19
Gambar 3. 2 Flowchart Laporan Pertanggungjawaban

Sumber: Juklak Bimkon Pengelolaan Keuangan Desa, BPKP (2015)

20
BAB IV

PENYALURAN DANA DESA

A. Tahapan Penyaluran Dana Desa


Pasal 14 Peraturan Menteri Keuangan Nomor 49/PMK.07/2016 tentang
Tata Cara Pengalokasian, Penyaluran, Penggunaan, Pemantauan dan Evaluasi
Dana Desa (PMK Nomor 49/2016) menyebutkan bahwa penyaluran Dana Desa
dilakukan dengan cara pemindahbukuan dari Rekening Kas Umum Negara
(RKUN) ke Rekening Kas Umum Daerah (RKUD). Kemudian dilakukan
pemindahbukuan dari RKUD ke Rekening Kas Desa (RKD) paling lambat 7
(tujuh) hari kerja setelah Dana Desa diterima di RKUD. Penyaluran Dana Desa
dari RKUN dilakukan secara bertahap, yaitu:
a. Tahap I sebesar 60% (enam puluh persen) pada bulan Maret; dan
b. Tahap II sebesar 40% (empat puluh persen) pada bulan Agustus.

B. Persyaratan Penyaluran Dana Desa


Pasal 15 ayat (2) PMK Nomor 49/2016 menyebutkan bahwa penyaluran
Dana Desa tahap I dari RKUN ke RKUD dilakukan setelah bupati/walikota
menyampaikan persyarataan kepada Menteri Keuangan c.q. Direktur Jenderal
Perimbangan Keuangan sebagai berikut:
a. Peraturan daerah mengenai Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah
(APBD) kabupaten/kota tahun berjalan;
b. Peraturan bupati/walikota mengenai tata cara pembagian dan penetapan
rincian Dana Desa setiap Desa; dan
c. Laporan realisasi penyaluran dan konsolidasi penggunaan Dana Desa tahun
anggaran sebelumnya.
Sedangkan untuk penyaluran tahap II dilakukan setelah Menteri Keuangan c.q.
Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan menerima laporan realisasi penyaluran
dan konsolidasi penggunaan Dana Desa tahap I dari bupati/walikota yang
menunjukkan paling kurang 50% (lima puluh persen) Dana Desa telah disalurkan
dan digunakan (Pasal 16 PMK Nomor 49/2016).

21
Penyaluran Dana Desa dari RKUD ke RKD tahap I dilakukan setelah
kepala desa menyampaikan persyaratan kepada bupati/walikota sebagai berikut:
a. Peraturan desa mengenai Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa
(APBDesa); dan
b. Laporan realisasi penggunaan Dana Desa tahun anggaran sebelumnya (Pasal
18 ayat (2) PMK Nomor 49/2016).
Sedangkan penyaluran tahap II dilakukan setelah kepala desa menyampaikan
laporan realisasi penggunaan Dana Desa tahap I kepada bupati/walikota yang
menunjukkan paling kurang 50% (lima puluh persen) Dana Desa tahap I sudah
digunakan (Pasal 19 PMK No. 49/2016).
Pasal 25 PMK No. 49/2016 menyebutkan bahwa persyaratan penyaluran
tahap I disampaikan oleh kepala desa paling lambat minggu kedua bulan Februari
dan disampaikan oleh bupati/walikota paling lambat minggu keempat bulan
Februari. Sedangkan persyaratan penyaluran tahap II disampaikan oleh kepala
desa paling lambat minggu kedua bulan Juli dan disampaikan oleh bupati/walikota
paling lambat minggu keempat bulan Juli (Pasal 26 PMK Nomor 49/2016.

C. Mekanisme Penyaluran Dana Desa


Penyaluran Dana Desa dari RKUN ke RKUD dilakukan berdasarkan
alokasi Dana Desa yang tercantum dalam Undang-Undang APBN yang kemudian
dirinci dalam Peraturan Presiden mengenai rincian APBN. Berdasarkan alokasi
tersebut, Kuasa Pengguna Anggaran Bendahara Umum Negara (KPA BUN)
Transfer Non Dana Perimbangan menyusun konsep Daftar Isian Pelaksanaan
Anggaran (DIPA) Dana Desa yang disahkan oleh Direktur Jenderal Anggaran.
Berdasarkan DIPA tersebut, KPA BUN Transfer Non Dana Perimbangan
menetapkan Surat Keputusan Penetapan Rincian Dana Desa (SKRDD). Kemudian
staf Pejabat Pembuat Komitmen (SPK) Transfer Non Dana Perimbangan
membuat Resume Tagihan yang kemudian menjadi dasar Pejabat Pembuat
Komitmen (PPK) untuk membuat Surat Permintaan Pembayaran (SPP).
Berdasarkan SPP, Pejabat Penandatangan Surat Perintah Membayar (PPSPM)
membuat Surat Perintah Membayar (SPM) yang kemudian akan disampaikan ke
Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN). Kemudian KPPN akan
menerbitkan Surat Perintah Pencairan Dana (SP2D) berdasarkan SPM yang

22
diterima (Kementerian Keuangan, n.d.). Mekanisme penyaluran Dana Desa dari
RKUN ke RKUD dapat dilihat pada Gambar 4.1.
Mekanisme pencairan dana di pemerintah daerah dilakukan berdasarkan
pengaturan pada Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang
Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah (PMD Nomor 13/2006). Penyaluran
Dana Desa dari RKUD ke RKD dilakukan berdasarkan alokasi yang termuat di
APBD yang kemudian diturunkan menjadi Dokumen Pelaksanaan Anggaran
(DPA). Kemudian Pejabat Pengelola Keuangan Daerah (PPKD) selaku Bendahara
Umum Daerah (BUD) menyusun anggaran kas. Berdasarkan anggaran kas, PPKD
menyusun Surat Penyediaan Dana (SPD) dalam rangka manajemen kas. Atas
dasar SPD tersebut, pejabat pembuat komitmen menerbitkan SPP yang kemudian
disampaikan kepada PPSPM sebagai dasar penerbitan SPM. Kemudian SPM
diserahkan kepada kuasa BUD untuk diterbitkan SP2D. Mekanisme penyaluran
Dana Desa dari RKUD ke RKD dapat dilihat pada gambar 4.2.
Gambar 4. 1 Mekanisme Penyaluran Dana Desa dari RKUN ke RKUD

UU APBN Perpres DIPA SKPRDD

Resume
SP2D SPM SPP
Tagihan

Sumber: Kementerian Keuangan (n.d., Diolah)


Gambar 4. 2 Mekanisme Penyaluran Dana Desa dari RKUD ke RKD

Anggaran
APBD DPA SPD
Kas

SP2D SPM SPP

Sumber: PMD Nomor 13/2006 (2006, Diolah)

23
D. Sanksi Terkait Dana Desa
PMK Nomor 49/2016 mengatur sanksi terkait dengan pelaksanaan Dana
Desa. Jenis sanksi yang dapat diberikan oleh Menteri Keuangan terkait dengan
Dana Desa adalah:
a. Sanksi berupa penundaan DAU dan/atau DBH kabupaten/kota sebesar selisih
kewajiban Dana Desa yang harus disalurkan ke Desa diberikan apabila
bupati/walikota tidak menyalurkan Dana Desa tepat waktu dan tepat jumlah;
b. Sanksi berupa penundaan penyaluran Dana Desa kabupaten/kota apabila:
1) bupati/walikota tidak menyampaikan persyaratan penyaluran Dana Desa
setiap tahap; dan/atau
2) bupati/walikota tidak menyampaikan perubahan peraturan kepala daerah
mengenai tata cara pembagian dan penetapan rincian Dana Desa setiap
Desa yang dalam peraturan kepala daerah sebelumnya tidak sesuai dengan
ketentuan;
c. Sanksi berupa tidak disalurkannya sisa anggaran Dana Desa kabupaten/kota
tahap II dan mejadikannya sebagai Sisa Anggaran Lebih pada RKUN apabila
bupati/walikota tidak dapat memenuhi persyaratan penyaluran tahap II sampai
dengan November; dan/atau
d. Sanksi berupa pemotongan Dana Desa apabila ada laporan penundaan
penyaluran Dana Desa dan/atau ada laporan pemotongan penyaluran Dana
Desa dari bupati/walikota.
Sanksi terkait Dana Desa yang dapat diberikan oleh bupati/walikota
adalah:
e. Sanksi berupa penundaan penyaluran Dana Desa ke Desa apabila:
1) kepala desa tidak menyampaikan peraturan desa mengenai APBDes;
2) kepala desa tidak menyampaikan laporan realisasi penggunaan Dana Desa
tahap sebelumnya; dan/atau
3) terdapat usulan dari aparat pengawas fungsional daerah.
f. Sanksi berupa pemotongan Dana Desa ke Desa apabila:
1) terdapat sisa Dana Desa lebih dari 30% (tiga puluh persen) selama 2 (dua)
tahun berturut-turut; dan/atau

24
2) terdapat penjelasan hasil pemeriksaan yang menemukan adanya
penyimpangan berupa sisa lebih perhitungan anggaran (SiLPA) yang tidak
wajar.
Sanksi juga dapat diberikan berupa penundaan dan pemotongan Dana
Perimbangan terhadap daerah yang tidak memenuhi kewajiban Alokasi Dana
Desa (ADD) sebagaimana diatur dalam PMK Nomor 257/PMK.07/2015 tentang
Tata Cara Penundaan dan/atau Pemotongan Dana Perimbangan terhadap Daerah
yang Tidak Memenuhi Alokasi Dana Desa. Pemerintah kabupaten/kota
berkewajiban menyampaikan peraturan kepala daerah atau perubahannya kepada
Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan (DJPK). Kemudian DJPK melakukan
evaluasi I terhadap penganggaran ADD dalam peraturan kepala daerah/ APBD.
Apabila Daerah sudah memenuhi kewajiban 10% (sepuluh persen) dari Dana
Alokasi Umum (DAU) dan Dana Bagi Hasil (DBH), DJPK menyampaikan surat
pemberitahuan kepada Daerah. Sedangkan apabila kewajiban tersebut tidak
dipenuhi, DJPK memberikan surat peringatan kepada Daerah. Atas surat
peringatan tersebut, Daerah wajib menyampaikan surat komitmen pemenuhan
kewajiban tersebut pada APBD Perubahan (APBD-P) kepada DJPK. Namun,
apabia Daerah tidak menyampaikan surat komitmen, DJPK akan menunda
penyaluran DAU/DBH. Kemudian Daerah menyampaikan peraturan kepala
daerah atau perubahannya mengenai ADD dalam APBD-P kepada DJPK dan
DJPK melakukan evaluasi II. Apabila kewajiban ADD masih belum dipenuhi juga
dalam APBD-P, DJPK melakukan pemotongan DAU/DBH. Hasil pemotongan
tersebut ditransfer ke RKUD Provinsi yang mana akan diteruskan ke RKD. Tata
cara pengenaan sanksi berupa penundaan dan pemotongan Dana Perimbangan
tersebut dapat dilihat pada gambar 4.3.

25
Gambar 4. 3 Tata Cara Penundaan dan Pemotongan Dana Perimbangan
DJPK Kabupaten/Kota Provinsi Desa

Sumber: Kementerian Keuangan (2016)

E. Evaluasi Penyaluran Dana Desa Tahun 2015


Penyaluran Dana Desa pada tahun 2015 masih mengalami kendala, yaitu
realisasi penyaluran Dana Desa dari RKUD ke RKD yang masih lambat dan
rendah. Penyebab masalah tersebut adalah:
a. Sebagian Daerah belum memasukkan Dana Desa ke APBD induk;
b. Keterlambatan penetapan peraturan kepala daerah terkait Dana Desa;
c. Penambahan persyaratan penyaluran dari RKUD ke RKD yang dilakukan
oleh pemerintah kabupaten/kota; dan
d. Ada ketakutan Daerah untuk menyalurkan Dana Desa ke Desa (Kementerian
Keuangan, 2016).

26
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut:
a. Dana Desa sudah mulai diimplementasikan mulai tahun 2015; dan
b. Masih terdapat permasalahan dalam realisasi Dana Desa dari RKUD ke RKD.

B. Saran
Saran yang dapat kami sampaikan terkait dengan pelaksanaan Dana Desa
adalah perlunya pendampingan dari pemerintah pusat yang dapat mendorong
peningkatan realisasi Dana Desa di Desa. Pendampingan ini juga dapat ditujukan
agar tidak terjadi penyimpangan dalam penggunaan Dana Desa.

27
DAFTAR PUSTAKA

Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa. (2014). Jakarta.


Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman
Pengelolaan Keuangan Daerah. (2006). Jakarta.
Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 113 Tahun 2014 tentang Pengelolaan
Keuangan Desa. (2014). Jakarta.
Peraturan Menteri Keuangan Nomor 257/PMK.07/2015 tentang Tata Cara
Penundaan dan/atau Pemotongan Dana Perimbangan terhadap Daerah yang
Tidak Memenuhi Alokasi Dana Desa. (2015). Jakarta.
Peraturan Menteri Keuangan Nomor 49/PMK.07/2016 tentang Tata Cara
Pengalokasian, Penyaluran, Penggunaan, Monitoring dan Evaluasi Dana
Desa. (2016). Jakarta.
Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2014 tentang Dana Desa yang Bersumber
Dari APBN sebagaimana terakhir telah diubah dengan Peraturan Pemerintah
Nomor 8 Tahun 2016. Jakarta.
Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 2014 tentang Petunjuk Pelaksanaan
Undang-Undang Desa. Jakarta.
Petunjuk Pelaksanaan Bimbingan dan Konsultasi Pengelolaan Keuangan Desa,
Deputi Bidang Pengawasan Penyelenggaraan Keuangan Daerah, (2015),
BPKP.
Kementerian Keuangan. (2016). Slide Sosialisasi Kebijakan Dana Desa yang
Bersumber dari APBN TA 2016. Jakarta. Direktorat Jenderal Perimbangan
Keuangan

28