Anda di halaman 1dari 32

NPM :4316500077

NAMA :INDRA KURNIAWAN SETIYA NEGARA


MK : AKUNTANSI BIAYA

Contoh soal Metode Harga Pokok Pesanan-Full Costing

Metode Harga Pokok Pesanan


Job Order Cost Method

PT. Kangen Berat adalah perusahaan yang bergerak dalam bidang percetakan dengan menggunakan
metode harga pokok pesanan. Pada bulan November 2014 perusahaan mendapat pesanan untuk
mencetak brosur sebanyak 5.000 lembar dari CV. Selalu Menanti dengan harga yang dibebankan
adalah Rp. 2.500,- per lembar. Pada bulan yang sama perusahaan juga menerima pesanan sebanyak
50 spanduk dari CV. Ingin Berjumpa dengan harga Rp. 425.000,- per buah. Pesanan dari CV. Selalu
Menanti diberi kode pesanan ELANG-01 dan pesanan dari CV. Ingin Berjumpa diberi nomor ELANG-
02.
Data Kegiatan dan Produksi

1. Pada tanggal 11 November 2014 dibeli bahan baku dan penolong dengan cara kredit yakni
sebagai berikut :
Bahan Baku
Kertas untuk brosur Rp. 2.500.000,-
Kain putih 200 meter Rp. 3.200.000,-
Bahan Penolong
Bahan Penolong B1 Rp. 450.000,-
Bahan Penolong B2 Rp. 550.000,-

2. Dalam pemakaian bahan baku dan penolong untuk memproses pesanan ELANG-01 dan ELANG-
02 diperoleh informasi sebagai berikut :
Bahan baku kertas dan bahan penolong B1 digunakan untuk memproses pesanan ELANG-01,
sedangkan bahan baku kain dan bahan penolong B2 dipakai untuk memproses pesanan ELANG-02.

3. Untuk penentuan Biaya Tenaga Kerja yang dikeluarkan oleh departemen produksi
menggunakan dasar jam tenaga kerja langsung dengan perhitungan sebagai berikut.

a. Upah langsung untuk pesanan ELANG-01 240 jam @Rp. 10.000,-.


b. Upah langsung untuk pesanan ELANG-02 menghabiskan sebanyak 360 jam @Rp. 10.000,-.
c. Upah tidak langsung adalah Rp. 2.500.000,-.
d. Gaji Karyawan Bagian Pemasaran dikeluarkan sebesar Rp. 4.000.000,-.
e. Gaji Karyawan Bagian Administrasi & Umum sebesar Rp.2.200.000,-.

4. Pencatatan Biaya Overhead Pabrik. Perusahaan dalam hal ini menggunakan tarif BOP sebesar
150% dari Biaya Tenaga Kerja Langsung, baik pesanan ELANG-01 dan ELANG-02.

Biaya overhead pabrik sesungguhnya terjadi dalam kaitannya dengan pesanan di atas, adalah
sebagai berikut.
Biaya pemeliharaan gedung Rp. 500.000
Biaya depresiasi gedung pabrik Rp. 1.000.000
Biaya depresiasi mesin Rp. 1.500.000
Biaya pemeliharaan mesin Rp. 250.000
Biaya asuransi gedung pabrik & mesin Rp. 750.000

5. Pencatatan Harga Pokok Produk Jadi. Berdasarkan informasi untuk pesanan ELANG-01 telah
selesai dikerjakan.

6. Pencatatan Harga Pokok Produk Dalam Proses. Berdasarkan informasi diketahui bahwa untuk
pesanan ELANG-02 masih dalam proses penyelesaian.

7. Pencatatan Harga Pokok Produk yang dijual. Pesanan ELANG-01 telah diserahkan kepada
pemesan. Dan dari penyerahan tersebut pemesan akan membayar dengan cara kredit.

DIMINTA
Berdasarkan informasi di atas, buatlah jurnal yang diperlukan berdasarkan Metode Harga Pokok
Pesanan.
PENYELESAIAN

Metode Harga Pokok Pesanan


Job Order Cost Method

Jurnal-Jurnal yang diperlukan :

1. Pencatatan Pembelian Bahan Baku & Penolong


Persediaan Bahan Baku Rp. 5.700.000,-
Hutang Dagang Rp. 5.700.000,-
Persediaan Bahan Penolong Rp. 1.000.000,-
Hutang Dagang Rp. 1.000.000,-

2. Pencatatan Pemakaian Bahan Baku & Penolong


BDP – Biaya Bahan Baku Rp. 5.700.000,-
Persediaan Bahan Baku Rp. 5.700.000,-
BOP – Sesungguhnya Rp. 1.000.000,-
Persediaan Bahan Penolong Rp. 1.000.000,-

3. Pencatatan Biaya Tenaga Kerja


a. Pencatatan Biaya Tenaga Kerja yang terutang
Gaji & Upah Rp. 14.700.000,-
Utang Gaji & Upah Rp. 14.700.000,-
b. Pencatatan Distribusi Biaya TK
Biaya TK Langsung Rp. 6.000.000,-
Biaya TK Tdk Langsung Rp. 2.500.000,-
Biaya Pemasaran Rp. 4.000.000,-
Biaya Adm & Umum Rp. 2.200.000,-

4. Pencatatan Biaya Overhead Pabrik


BDP – Biaya Overhead Pabrik Rp. 9.000.000,-
BOP yg Dibebankan Rp. 9.000.000,-
BOP yg Sesungguhnya Rp. 4.000.000,-
Persediaan Bahan Bangunan Rp. 500.000,-
Akum. Depr. Gedung Pabrik Rp. 1.000.000,-
Akum. Depr. Mesin Rp. 1.500.000,-
Persediaan Suku Cadang Rp. 250.000,-
Persekot Asuransi Rp. 750.000,-
BOP yg Dibebankan Rp. 9.000.000,-
BOP yg Sesungguhnya Rp. 9.000.000,-

Selisih BOP :
Untuk menentukan selisih BOP dicari dengan cara membandingkan antara jumlah BOP yang
dibebankan dengan jumlah seluruh BOP yang sesungguhnya terjadi.
Berdasarkan soal di atas, selisih BOP dapat ditentukan dengan cara :
BOP yang Sesungguhnya:
Jurnal No. #2 Rp. 1.000.000,-
Jurnal No. #3b Rp. 2.500.000,-
Jurnal No. #4 Rp. 4.000.000,-
Jumlah BOP yg Sesungguhnya Rp. 7.500.000,-
BOP yang Dibebankan Rp. 9.000.000,-
(Selisih pembebanan lebih)
Jurnal Selisih BOP
BOP yg Sesungguhnya Rp1.500.000,-
Selisih BOP Rp. 1.500.000,-

5. Pencatatan Harga Pokok Produk Jadi (ELANG-01)


Persediaan Produk Jadi Rp. 8.950.000,-
BDP- Biaya Bahan Baku Rp. 2.950.000,-
BDP- Biaya TK Langsung Rp. 2.400.000,-
BDP- Biaya Overhead Pabrik Rp. 3.600.000,-

6. Pencatatan Harga Pokok Produk Dlm Proses (ELANG-02)


Persediaan PDP Rp. 12.750.000,-
BDP- Biaya Bahan Baku Rp. 3.750.000,-
BDP- Biaya TK Langsung Rp. 3.600.000,-
BDP- Biaya Overhead Pabrik Rp. 5.400.000,-

7. Pencatatan Harga Pokok Produk yg Dijual


Harga Pokok Produksi Rp. 8.950.000,-
Persediaan Produk jadi Rp. 8.950.000,-
Piutang Dagang Rp. 12.750.000,-
Harga Pokok Produksi Rp. 12.750.000,-
CONTOH SOAL DAN PENYELESAIAN : PRODUK HILANG PADA AKHIR PORSES

ASUMSI :

1. Produk diolah pada 2 departemen


2. Tidak terdapat produk dalam proses pada awal periode
3. Memproduksi hanya satu jenis produk
4. Produk hilang pada akhir proses

Data produksi dan biaya produksi bulan januari 2008 sbb :

DEP A DEP B

PRODUK SELESAI DITRANSFER KE DEP B 1.000 KG

PRODUK SELESAI SUDAH DI TRANSFER KE GUDANG PRODUK JADI 700 KG

PRODUK SELESAI BELUM DI TRANSFER KE GUDANG PRODUK JADI 200 KG

PRODUK DALAM PROSES :

BAHAN BAKU & PENOLONG 100%, KONVERSI 30% 400 KG

BAHAN PENOLONG 50 %, KONVERSI 60% 400 KG

PRODUK HILANG PADA AKHIR PROSES 200 KG 250 KG

BIAYA BAHAN BAKU 40.000 -

BIAYA BAHAN PENOLONG 48.500 48.800

BIAYA TENAGA KERJA 64.000 66.000

BIAYA OVERHEAD 78.000 80.000

JUMLAH BIAYA PRODUKSI 230.500 194.800

DIMINTA :

1. PERHITUNGAN HARGA POKOK PER SATUAN MASING2 DEPARTEMENT.


2. Perhitungan harga pokok produk selesai dan produk dalam proses masing2
departement
3. Laporan biaya produksi masing masing departemen
PENYELESAIAN:

Karna produk hilang pada akhir proses , maka produk tersebut ikut menyerap biaya produksi
dan harus dimasukkan dalam perhitungan unit ekuivalen

Harga pokok produk yang hilang tersebut diperlakukan sebagai tambahan harga pokok
produk selesai yang di transfer ke departemen berikutnya.

DEPARTEMEN A

Perhitungan harga pokok per satuan di departemen A :

jenis biaya Jumlah produk dihasilkan (unit ekuivalen) Biaya produksi Biaya per

satuan

Bahan baku 1.000 + (100%*400) + 200 = 1.600 40.000 25,00

Bahan penolong 1.000 + (100%*400) + 200 = 1.600 48.500 30,31

Tenaga kerja 1.000 + (30%*400) + 200 = 1.320 64.000 48,48

overhead 1.000 + (30%*400) + 200 = 1.320 78.000 59,09

jumlah 230.500 162,88

Perhitungan harga pokok produk selesai yang di transfer ke departemen B sbb:

Harga produk selesai yang ditransfer ke dep. B = 1.000 kg * Rp 162,88 162.880

Tambahan harga pokok karena adanya produk yang hilang pada akhir proses

Di dep. A 200 kg * Rp. 162,88 32.576 +

Jumlah harga pokok produk selesai yang di transfer ke dep. B yang baru 195.456

1.000 kg * Rp 195,46=Rp165.456

Perhitungan harga pokok produk dalam proses di dep. A (200 kg)

Bahan baku (100%*400)*25 10.000

Bahan penolong (100%*400)*30,31 12.124

Tenaga kerja (30%*400)*48,48 5817


Overhead (30%*400)*59,09 7090

Harga pokok produk dalam proses di dep. A 35.031

Departemen B

Perhitungan harga pokok per satuan di departemen B

Jenis biaya Jumlah produk dihasilkan (unit ekuivalen) Biaya produksi Biaya per

satuan

Harga produk 195.460 195,46

Produk dari dep. A

Bahan penolong 700 + 200 +(50%*400)+250=1.350 48.800 36,14

Tenaga kerja 700 + 200 +(60%*400)+250=1.390 66.000 47,48

Overhead 700 + 200 +(60%*400)+250=1.390 80.000 57,55

Jumlah 390.260 336,63

Perhitungan harga pokok produk selesai yang di transfer ke gudang produk jadi sbb:

Harga pokok produk selesai di transfer ke gudang=700 kg* Rp 33,63 235.641

Tambahan harga pokok karena adanya produk yang hilang pada akhir proses

Di dep. B 150kg* Rp 336,63 50.494

Jumlah harga pokok produk selesai yang di transfer ke gudang yang baru 286.135

700 kg * Rp 408,76= Rp 286.135

Perhitungan harga pokok produk dalam proses di dep. B

Harga pokok produk selesai belum di transfer ke gudang

200kg * Rp 336,63 67.326


Harga pokok produk masih dalam proses (200kg)

Harga pkok produk dari dep. A 200 * 336,63 134.652

Biaya produksi deb. B

Bahan penolong (50% * 400)*36,14 7.228

Tenaga kerja (60%*400)*47,48 11.395

Overhead (60% * 400)*57,55 7.680 +

32.435 +

Harga pokok produk dalam proses di dep. B 99.761


BAB 8
1. Apa Tujuan dari Departementalisasi BOP :

Jawaban :

1. Menghasilkan biaya produksi yang lebih baik  departemen yang berbeda


memiliki tarif overhead yang berbeda, sehingga pesanan yang melewati suatu
departemen produksi akan dibebani dengan BOP sesuai dengan tarif departemen
yang bersangkutan.
2. Meningkatkan pengendalian BOP  setiap manajer departemen bertanggungjawab
atas biaya yang terjadi di departemen tersebut.

2. PT. Rifani memiliki 3 Departemen Produksi, yaitu departemen A, departemen B dan


departemen C serta 2 departemen pembantu, yaitu departemen X dan Departemen
Y. Taksiran BOP dan taksiran kapasitas dari tiap departemen adalah sebagai berikut :

Taksiran Kapasitas Dept A : 100.000 JKL

Dept B : 25.000 JM
Dept C : Rp 36.000.000
Perbandingan Service atau jasa yang diberikan oleh departemen pembantu X dan Y
kepada
departemen produksi adalah sebagai berikut:

Dari soal diatas perhitungan tarif BOP untuk tiap departemen produksi (A, B, C) dengan
menggunakan metode :
a. Metode alokasi kontinyu
b. Metode aljabar
JAWABAN
a. Metode alokasi kontinyu

b. Metode aljabar
Jumlah biaya departemen pembantu dinyatakan dalam persamaan aljabar.
Misal
X=jumlah biaya departemen X setelah menerima alokasi biaya dari departemen Y
Y= jumlah biaya departemen Y setelah menerima alokasi biaya dari departemen X
Maka:
X = Rp 3.046.000 + 10 % Y
Y = Rp 5.000.000 + 15 % X
Penyelesaian lanjutannya:
X = Rp 3.046.000 + 10 % (5.000.000 + 15 % X)
= Rp 3.046.000 + 500.000 + 0,015 X
= Rp 3.546.000 + 0,015 X
X - 0,015 X = Rp 3.546.000
0.985 X = Rp 3.546.000
X = Rp 3.600.000
Y = Rp 5.000.000 + 15 % (3.600.000)
= Rp 5.000.000 + 540.000
Y = Rp 5.540.000
BAB 9
1. Apa itu kuantitas pemesanan ekonomis?
Jawaban : adalah jumlah persediaan yang di pesan pada suatu waktu yang meminimalkan
biaya persediaan tahunan.

2. PT. Pesona adalah perusahaan manufaktur yang berlokasi di Jakarta, data persediaan bahan
baku (raw material inventory) yang ada dalam catatan perusahaan adalah sebagai berikut :

Persediaan (inventory) Tanggal 1 Januari 1999 = 200 Kg @ Rp 100,00

Pembelian

Tanggal Jumlah (Kg) Harga / Kg

12 Jan 1999 400 Rp 120

26 Jan 1999 500 Rp 90

31 Jan 1999 100 Rp 110

Pemakaian

Tanggal Jumlah

16 Jan 1999 500

28 Jan 1999 300

Catatan:
29 Jan 1999 Dikembalikan ke suplier sebanyak 100 Kg berasal dari pembelian tanggal 26 jan
1999

30 Jan 1999 Diterima oleh gudang bahan sebanyak 50 Kg dari bahan yang diminta tanggal 28
januari dan berasal dari persediaan awal (beginning inventory)

Perhitungan fisik 31 Jan 1999 sebanyak 350 Kg

Dari data diatas saudara diminta menghitung bahan baku yang dipakai (raw material used) bulan
Jan 1999 dengan metode pencatatan fisik maupun Perpetual serta metode penilaian persediaan :
a. Metode FIFO

b.Metode LIFO

c.Metode Average
 JAWABAN

A. Alokasi tanggal 20 mei 1999.


Jenis Kuantitas Alokasi biaya Harga pokok

bahan angkut Bahan baku

baku (2 x 50.000) (3) (4)

Unit (1) % (2)

A 200 20 10.000 110.000

B 300 30 15.000 165.000

C 200 20 10.000 110.000

D 300 30 15.000 165.000

Jumlah 1000 100 50.000 550.000

Tanggal 25 mei 1999.

Jenis Kuantitas Alokasi biaya Harga pokok

Bahan Angkut Bahan baku

Baku (2 x 36.000) (3) (4)

Unit %

(1) (2)

A 250 38 13.680 138.680

B 200 31 11.160 121.160

D 200 31 11.160 131.160

Jumlah 650 100 36.000 391.000

Tanggal 28 mei 1999

Karena pembelian hanya 1 jenis bahan baku maka tanpa alokasi :

(300 unit x 525) + 20.000 = 177.500


C.

Tanggal A B C D

20 Mei 1999 110.000 165.000 110.000 165.000

25 Mei 1999 138.680 121.160 - 131.160

28 Mei 1999 - - 177.500 -

Nilai persediaan 248.680 286.160 287.500 296.160


BAB 10

1. Biaya tenaga kerja dapat dibagi dalam tiga golongan besar, sebutkan 3 golongan tersebut:
Jawaban :
1. Gaji dan upah reguler  jumlah gaji dan upah bruto dikurangi dengan potongan-
potongan seperti pajak penghasilan karyawan dan biaya asuransi hari tua.
2. Premi lembur
3. Biaya-biaya yang berhubungan dengan tenaga kerja (labor related costs).

2. PT PESONA SAMUDRA BAHARI adalah sebuah perusahaan yang produksinya melalui


4 departemen produksi dan beroperasi sesuai pesanan dari pelanggan .

Berikut ini data data yang diambil dari perusahaan untuk bulan April 1999

Keterangan Departemen produksi

I II III IV

Jam kerja standart persatuan 2 jam 1 jam 4 jam 3 jam

Tarif upah standart perjam kerja langsung Rp 700 Rp 750 Rp 650 Rp 800

Pesanan yang dikerjakan

No. 001 sebanyak 500 unit dikerjakan di dept I,II,III,IV

No. 002 sebanyak 300 unit dikerjakan di dept I , II , dan IV

No. 003 sebanyak 450 unit dikerjakan di dept II,III, dan IV

No. 004 sebanyak 400 unit dikerjakan di dept I,II,Dan III

No. 005 sebanyak 100 unit dikerjakan di dept I,III, dan IV

Data jumlah jam kerja langsung sesungguhnya (actual direct labor hours) dan jumlah upah
langsung (direct labor cost) untuk tiap departemen adalah sebagai berikut:

Departemen Jumlah jam kerja Jumlah upah


langsung sesungguhnya langsung

Dept I 2.500 jam 1.850.000


Dept II 1.600 jam 1.200.000

Dept III 5.900 jam 3.900.000

Dept IV 4.000 jam 3.100.000

Diminta :

A. Hitunglah Selisih Upah Langsung (direct labor variance).

B. Hitunglah Tarif Upah Langsung (direct labor rate).

JAWABAN
Keterangan Dept

I II III IV Jumlah

Pesanan yang dikerjakan

No.001 500 500 500 500


No.002 300 300 ---- 300
No.003 ---- 450 450 450
No.004 400 400 400 ----

No.005 100 ----- 100 100

1300 1650 1450 1350

jam kerja langsung standar per

satuan produk 2 jam 1 jam 4 jam 3 jam

jam kerja langsung standar 2.600 jam 1.650 jam 5.800 jam 4.050 jam

selisih efisiensi upah

langsung (dlm jam) 100 jam 50 jam 100 jam 50 jam

tarif upah langsung standar Rp 700 Rp 750 Rp 650 Rp 800

70.000 37.500 65.000 40.000 82.500

(laba) (laba) (rugi) (laba) (laba)

a. selisih tarif upah langsung

Keterangan Dept

I II III IV Jumlah

Jam kerja langsung sesungguhnya 2.500 1.600 5.900 4.000


Tarif upah langsung standar Rp 700 Rp 750 Rp 650 Rp 800

1.750.000 1.200.000 3.835.000 3.200.000

jumlah upah langsung

sesungguhnya 1.850.000 1.200.000 3.900.000 3.100.000


100.000 (0) 65.000 100.000 65.000

(rugi) (rugi) (laba) (rugi)


BAB 11

1. Apa yang di maksud Produk Sampingan?


Jawaban : Produk sampingan adalah suatu produk dengan nilai total yang relatif kecil dan
dihasilkan secara simultan atau bersamaan dengan produk lain yang nilai totalnya lebih besar
yang disebut dengan produk utama (main product)

2. PT. Meubel Jaya menghasilkan berbagai macam perabotan dari kayu seperti meja,
kursi, pintu dan produk lainnya. Untuk memproduksi produk bersama tersebut
mengeluarkan biaya bersama sebesar Rp 20.000.000,00 dengan jumlah produk yang
dihasilkan adalah 500.000 m3 dengan rata-rata biaya per 1000m3 adalah sebesar Rp
40.000,00 (Rp 20.000.000,00/500). Berikut data produk beserta kuantitasnya:
Produk Kuantitas (m3)

Meja 120.000

Kursi 180.000

Pintu 120.000

Produk lainnya 80.000

500.000
JAWABAN

Alokasi biaya bersama dengan metode biaya rata-rata :


Produk Kuantitas (m3) Rata-rata biaya per satuan per Alokasi biaya bersama*
3
1000m
Meja 120.000 40.000 4.800.000

Kursi 180.000 40.000 7.200.000

Pintu 120.000 40.000 4.800.000

Produk lainnya 80.000 40.000 3.200.000

500.000 20.000.000

*kuantitas x rata-rata biaya persatuan):1000}xbiaya bersama


BAB 12

1. Apa Kegunaan dari Biaya Standar?:


Jawaban :
1. Untuk menetapkan anggaran
2. Mengendalikan biaya dengan cara memotivasi karyawan dan mengukur efisiensi
operasi.
3. Menyederhanakan prosedur perhitungan biaya dan mempercepat laporan biaya.
4. Membebankan biaya ke persediaan bahan baku, barang dalam proses dan barang
jadi.
5. Menetapkan tawaran kontrak dan harga jual.

2. PT.WARNA-WARNI HII… memproduksi satu macam produk melalui satu departemen


produksi. Untuk menghitung biaya-biayanya, perusahaan menggunakan sistem biaya taksiran.
Statistik produksi selama bulan November 1999 adalah sebagai berikut :

Produk masuk proses (unit started) 1800

Produk selesai ditransfer ke gudang (finished goods & transferred out) 1500

Produk dalam proses akhir (ending goods in process)


(BBB 100%, BK 40%) 300

Biaya taksiran per kg produk adalah :


BBB ( raw material cost) Rp.300
BTKL (direct labor cost) Rp.200
BOP (FOH) Rp.100
Jumlah biaya taksiran per kg Rp.600

Berikut ini adalah data lain dari perusahaan pada bulan November 1999 :
Persediaan awal bahan baku (beginning raw material inventory) Rp. 65.000
Pembelian bahan baku (raw material purchasing) selama bln Nov.1999
secara kredit Rp.500.000
Persediaan akhir bahan baku (ending raw material inventory) Rp. 15.000
Produk yang terjual selama bulan November 1999 1400 kg
Harga jual per kg Rp. 620
BTKL (direct labor cost) Rp.320.000
BOP (FOH) Rp.158.000
Diminta :
1. Buatlah jurnal-jurnal yang diperlukan untuk mencatat semua transaksi yang terjadi selama bulan
November 1999 serta perhitungannya.
2. Buatlah jurnal untuk mencatat pembagian selisih antara biaya sesungguhnya dengan biaya
taksiran.

 JAWABAN

1. a. Mencatat pembelian bahan baku


Pembelian Rp.500.000
Utang dagang Rp.500.000
b. Mencatat biaya bahan baku yang sesungguhnya dipakai
BDP-BBB Rp.550.000
Pers.BB Rp. 15.000
Pers.BB Rp. 65.000
Pembelian Rp.500.000
Perhitungan :
HP pers.BB awal bulan 65.000
Pembelian 500.000 +
565.000
HP pers.BB akhir bulan 15.000 -
BBB slm bln November 2000 550.000
c. Mencatat BTKL yang sesungguhnya
BDP-BTK Rp.320.000
Gaji & upah Rp.320.000
d. Mencatat BOP yang sesungguhnya terjadi
BDP-BOP Rp.158.000
BOP Rp.158.000
e. Mencatat HP produk jadi
Pers. Produk jadi Rp.900.000
BDP-BBB Rp.450.000
BDP-BTK Rp.300.000
BDP-BOP Rp.150.000
Perhitungan : Kuantitas produk jadi yg dihasilkan X bi.taks per satuan
BBB = 1500 x Rp.300 = Rp.450.000
BTK = 1500 x Rp.200 = 300.000
BOP = 1500 x Rp.100 = 150.000
Hp taks. Produk jadi Rp.900.000
f. Mencatat HP pers.produk dalam proses pada akhir bulan
Pers.produk dlm proses Rp.126.000
BDP-BBB Rp.90.000
BDP-BTK Rp.24.000
BDP-BOP Rp.12.000
Perhitungan : unti ekuiv. BDP akhir X bi.taks per satuan
BBB = 300 x 100% x Rp.300 = Rp.90.000
BTK = 300 x 40% x Rp.200 = 24.000
BOP = 300 x 40% x Rp.100 = 12.000
Hp pers.produk dlm proses akhir 126.000
g. Mencatat penjualan bln November 2000
Piutang dagang Rp.868.000 (1400 x Rp.620 = 868.000)
Hasil penjualan Rp.868.000
h. Mencatat HP produk yang terjual
HPP Rp.840.000
Pers.produk jadi Rp.840.000

i. Mencatat selisih antara bi.taks dgn bi.sesungguhnya


BDP-BTK Rp.4000
BDP-BOP Rp.4000
Selisih Rp.2000
BDP-BBB Rp.10.000
Perhitungan : Selisih BBB = 550.000 – 540.000 = (10.000)
Selisih BTK = 320.000 – 324.000 = 4.000
Selisih BOP = 158.000 – 162.000 = 4.000
( 2.000)
2. a. Membagi selisih BBB
Selisih Rp.10000
Pers.produk jadi Rp.555.56
Pers. BDP Rp.1666.67
HPP Rp.7777.77
Perhitungan :
Ekuiv.unit : Brg yang terjual 1400 unit
Pers.produk jadi 100 --------- (1500 – 1400)
Pers.BDP akhir 300 --------- ( 100% x 300 u )
Pembagian selisih : Pers.produk jadi = 100 x Rp.10.000 = 555.56
1800
Pers.BDP = 300 x Rp.10.000 = 1666.67
1800
HPP = 1400 x Rp.10.000 = 7777.77
1800
b. Membagi selisih BTK
Pers.prpoduk jadi Rp.246.9136
Pers.BDP Rp.296.2964
HPP Rp.3456.79
Selisih Rp.4000
Perhitungan :
Ekuiv.unit : Pembagian selisih :
Brg yg terjual 1400 Pers.produk jadi = 100 x Rp.4000 = 246.9136
Pers.produk jadi 100 1620
Pers.BDP 120 Pers.BDP = 120 x Rp.4000 = 296.2964
1620 1620
HPP = 1400 x Rp.4000 = 3456.79
1620
c. Membagi selisih BOP
Pers.brg jadi Rp.246.9136
Pers,BDP Rp.296.2964
HPP Rp.3456.79
Selisih Rp.4000
Perhitungan :
Ekuiv.unit : Pembagian selisih :
Brg yg terjual 1400 Pers.produk jadi = 100 x 4000 = 246.9136
Pers.produk jadi 100 1620
Pers.BDP 120 Pers.BDP = 120 x 4000 = 296.2964
1620 1620
HPP = 1400 x 4000 = 3456.79
1620
BAB 13

1. Ada Dua metode dalam akuntansi sistem perhitungan biaya standar, sebutkan dua
metode tersebut dan jelaskan rinciannya ?
Jawaban :
1. Metode Tunggal (Single Plan) :
 rekening Barang Dalam Proses di debit dan dikredit dengan angka
tunggal, yaitu angka standar
 Penyimpangan antara biaya standar dengan biaya sesungguhnya dicatat
dalam rekening ‘Selisih’ pada saat terjadinya, sehingga setiap saat
manajemen dapat mengetahui besarnya penyimpangan yang terjadi.
2. Metode Ganda (Partial Plan) :
 Rekening Barang Dalam Proses dicatat angka ganda, sebelah debit
diisi dengan biaya sesungguhnya dan sebelah kredit diisi dengan biaya
standar.
 Penyimpangan antara biaya sesungguhnya dengan biaya standar
dihitung pada akhir periode akuntansi.

2. PT. Sejahtera adalah perusahaan yang memproduksi produk dengan jenis jaket jeans.
Perusahaan ini menggunakan sistem biaya standar dalam penentuan harga pokok
produknya. Berikut ini disajikan rincian biaya yang dikeluarkan untuk memproduksi
jaket jeans per potongnya :
BBB (2 m @ Rp 30.000) : Rp 60.000
BTKL (5 jam @ Rp 8.000) : Rp 40.000
BOP Tetap (3 jam @ Rp 3.000) : Rp 9.000
BOP Variabel (3 jam @ Rp 4.000) : Rp 12.000
Kapasitas standarnya tiap bulan adalah 500 JKL sedangkan kapasitas normalnya 370
JKL. Setelah produksi berjalan diketahui tiap bulannya perusahaan membeli 350 m
kain dengan harga @ Rp 25.000, sedangkan BTKL yang dikeluarkan per-JKL nya
adalah Rp 9.000 dengan jam kerja langsung sebanyak 550 jam kerja dan kapasitas
sesungguhnya adalah 520 jam.
Pada bulan ini dihasilkan 150 potong jaket jeans, dan BOP sesungguhnya
Rp 3.500.000.
Hitunglah :
1) Selisih BBB (direct material variances)
2) Selisih BTK (direct labor variances)
3) Selisih BOP (factory overhead variances)

JAWABAN :
1) Selisih BBB
 Kapasitas Standar = 150 unit * 2 m/ unit
= 300 m

 Selisih Harga = (HSt – HS) * KSt


= (30.000 – 25.000) * 300
= 1.500.000 L

 Selisih Kuantitas = (KSt – KS) * HS


= (300 – 350) * 25.000
= 1.250.000 R
2) Selisih BTK
 Selisih TK = (TSt – TS) * JK sesungguhnya
= (8.000 – 9.000) * 550
= 550.000 R
 Selisih Efiensi = (JK standar – JK sesungguhnya) * TSt
= (750 -550) * 8000
= 1.600.000 L

3) Selisih BOP
Tarif standar = Tarif tetap + Tarif variable
= 3.000 + 4.000
= 7.000
 Selisih anggaran = (BOP sesungguhnya – ( Kapasitas normal *
total biaya tetap) + (kapasitas sesungguhnya *
total biaya variable)
= 3.500.000 – {(400*3000) + (520*4000)}
= 3.500.000 – 3.280.000
= 220.000 L
 Selisih kapasitas = (KN – KS) * total biaya tetap
= (400 – 520) * 3000
= 360.000 R
 Selisih efisiensi = (KS – KSt) *TSt
= (520 – 500) * 7000
= 140.000 L

JURNAL
Metode Full Costing
I. Pencatatan BBB
BDP – BBB xxx
Pers. Bahan baku xxx

II. Pencatatan BTKL


BDP – BTKL xxx
Gaji & upah xxx

III. Pencatatan BOP


BOP sesungguhnya xxx
Rek. Yg dikredit xxx
(BOP sesungguhnya terjadi)

BDP – BOP xxx


BOP sesungguhnya xxx
(pembebanan BOP sesungguhnya ke rekening BDP)
IV. Pencatatan HP produk jadi
Pers. Produk jadi xxx
BDP – BBB xxx
BDP – BTK xxx
BDP – BOP xxx

Metode Variable Costing

I. Pencatatan BBB
BDP – BBB xxx
Pers. Bhn Baku xxx
Selisih efisiensi BBB xxx

II. Pencatatan BTKL


BDP – BTKL xxx
Selisih efisiensi upah xxx
Selisih tarif upah xxx
Gaji & upah xxx

III. Pencatatan BOP


BOP variable ssngghny xxx
BOP tetap ssngghny xxx
BOP ssngghny xxx

IV. Pencatatan HP produk jadi


Pers. Produk jadi xxx
BDP – BBB xxx
BDP – BTK xxx
BDP – BOP variabel xxx
BAB 14

1. Gejala apa saja dari sistem biaya yang telah ketinggalan zaman ?
Jawaban :
1. Hasil dari penawaran sulit dijelaskan karena perhitungan biaya produk terlalu tinggi.
2. Harga pesaing nampak tidak wajar atau terlihat rendah
3. Produk yang sulit diproduksi menunjukkan laba yang tinggi
4. Margin laba sulit untuk dijelaskan
5. Pelanggan tidak mengeluhkan kenaikan harga
6. Departemen Akuntansi menghabiskan banyak waktu untuk memberikan data biaya bagi
proyek-proyek khusus.

2. Pada tahun 2012, PT.LABALA memproduksi 1000 unit batako. Biaya produksi yang
dikeluarkan selama tahun 2012 adalah sebagai berikut:

Biaya bahan baku (raw material cost) 500.000

Biaya tenaga kerja langsung (direct labor cost) 350.000

Biaya bahan penolong (indirect material cost) 100.000

Biaya tenaga kerja tidak langsung (indirect labor cost) 110.000

Depresiasi bangunan pabrik (depreciation of factory building) 100.000

Data lain yang diperoleh selama tahun 2012 adalah:

 Harga jual Rp.2000 per unit.


 Produk terjual sebanyak 900 unit.
 Persediaan awal 100.000 (metode full costing) dan 90.000 (metode variable costing).
 Persediaan akhir 232.000 (metode full costing) dan 212.000 (metode variable costing).
 Pembebanan BOP (factory overhead) berdasar BTKL.
 Kapasitas normal dicapai pada saat BTKL sebesar Rp.400.000 per tahun dengan perkiraan BOP
variabel Rp.250.000 dan BOP tetap Rp.110.000.
 Biaya administrasi dan umum (general and administrative expense) Rp.100.000.
 Biaya iklan (advertising expense) Rp.300.000.

Diminta :

1. Dengan menggunakan metode Full costing, hitunglah;


a. Tarif BOP per unit dan jumlah BOP yang dibebankan.
b. Laporan Laba/Rugi (income statement).
2. Laporan Laba/Rugi dengan metode Variable costing.
JAWABAN

1. Metode Full costing


a. Tarif BOP(FOH) per unit
BOP T 110.000 Ket; * = pada kapasitas normal

BOP V 250.000 *

Jumlah BOP 360.000

Tarif overhead pabrik berdasarkan BTKL, dimana kapasitas normal dicapai pada jumlah
Rp.400.000.

Tarif BOP (FOH) = 360.000 x 100% = 90% dari BTKL

400.000

b. Bop yang dibebankan untuk tahun 2012 = 90% x 350.000 = 315.000

PT.LABALA

Laporan Laba/Rugi

Untuk periode yang berakhir 31 Desember 2012

Penjualan ( Rp.2000 x 900 u ) 1.800.000


HPP (Cost of goods sold) :

Persed. awal brg jadi (beginning finished goods inventory) 100.000

BBB (raw material cost) 500.000

BTKL (direct labor cost) 350.000

BOP (FOH) T 310.000

BOP (FOH) V 100.000 +

HP.Produksi (Cost of goods manufactured) 1.260.000 +

BTUD (finished goods available for sales) 1.260.000

Persed.akhir brg jadi (ending finished goods inventory ) 232.000 –

HPP sebelum penyesuaian

(cost of goods sold before adjustment) 1.028.000

Selisih kapasitas menguntungkan ( 315.000 – 310.000 ) 5.000 +

HPP setelah penyesuaian

(cost of goods sold after adjustment) 1.033.000 -

Laba kotor (gross income) 777.000

Biaya usaha (operating expense):

Biaya adm. & umum (general & administrative expense) 100.000

Biaya iklan (advertising expense) 300.000 +

400.000 –

Laba bersih sebelum pajak ( EBT ) 377.000


2. Metode Variable costing
PT.LABALA

Laporan Laba/Rugi

Untuk periode yang berakhir 31 Desember 2012

Penjualan ( Sales) = Rp.2000 x 900 u 1.800.000

Biaya variabel (variable costing):

Persed.awal brg jadi (beginning finished goods inventory) 90.000

BBB (raw material cost) 500.000

BTKL (direct labor cost) 350.000

BOP (FOH) V 210.000 +

HP.Produksi (COGM) 1.060.000 +

BTUD ( finished goods available for sales) 1.150.000

Persed.akhir brg jadi (ending finished goods inventory) 212.000 –

HPP (Cost of goods sold) variabel 938.000 –

Contribution Margin 862.000

Biaya Tetap (Fixed expense):

BOP (FOH) T 310.000

Biaya adm.& umum (general & administrative expense) 100.000

Biaya iklan (advertising expense) 300.000 +

Total biaya tetap


500.000 –

Laba bersih sebelum pajak ( EBT ) 362.000