Anda di halaman 1dari 30

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Alat penukar panas atau Heat Exchanger (HE) adalah alat yang digunakan
untuk memindahkan panas antara dua fluida yang berbeda suhu melalui sebuah
penghantar media panas dengan mengkondisikan alatnya sebaik mungkin, agar tidak
mengalami kesalahan dalam proses pemindahan suhu, karena jika terjadi kesalahan
dalam pemindahan akan berakibat pada hasil akhir pemanasan. Dan juga heat bisa
berfungsi sebagai pemanas maupun sebagai pendingin. Biasanya, medium pemanas
dipakai adalah air yang dipanaskan sebagai fluida panas dan air biasa sebagai air
pendingin (cooling water). Heat Exchanger dapat berfungsi sebagai heater, cooler,
condensor, reboiler, maupun chiller.

Penukar panas dirancang sebisa mungkin agar perpindahan panas antar fluida
dapat berlangsung secara efisien. Pertukaran panas terjadi karena adanya kontak, baik
antara fluida terdapat dinding yang memisahkannya maupun keduanya bercampur
langsung (direct contact). Penukar panas sangat luas dipakai dalam industri seperti
kilang minyak, pabrik kimia maupun petrokimia, industri gas alam, refrigerasi,
pembangkit listrik. Salah satu contoh sederhana dari alat penukar panas adalah radiator
mobil di mana cairan pendingin memindahkan panas mesin ke udara sekitar.

Alat penukar kalor sangat dibutuhkan pada proses produksi dalam suatu
industri, maka untuk mengetahui unjuk kerja dari alat penukar kalor perlu diadakan
analisis. Dengan analisis yang dilakukan dapat diketahui bahwa alat tersebut mampu
menghasilkan kalor dengan standar kerja sesuai kebutuhan yang diinginkan.

Penukar panas dapat diklasifikasikan menurut pengaturan arus mereka. Dalam


paralel-aliran penukar panas, dua cairan masuk ke penukar pada akhir yang sama, dan
perjalanan secara paralel satu sama lain ke sisi lain. Dalam counter-flow penukar panas
cairan masuk ke penukar dari ujung berlawanan. Desain saat ini counter paling efisien,
karena dapat mentransfer panas yang paling banyak. Dalam suatu heat exchanger
lintas-aliran, cairan perjalanan sekitar tegak lurus satu sama lain melalui exchanger.

Untuk efisiensi, penukar panas yang dirancang untuk memaksimalkan luas


permukaan dinding antara kedua cairan, dan meminimalkan resistensi terhadap aliran
fluida melalui exchanger. Kinerja penukar juga dapat dipengaruhi oleh penambahan
sirip atau corrugations dalam satu atau dua arah, yang meningkatkan luas permukaan
dan dapat menyalurkan aliran fluida atau menyebabkan turbulensi.

1.2 RUMUSAN MASALAH

1. Apa yang dimaksud dengan Heat Exchanger ?


2. Bagaimana prinsip kerja Heat Exchanger ?
3. Apa saja tipe-tipe dan klasifikasi dari Heat Exchanger ?
4. Apa yang dimaksud dengan Double Pipe Heat Exchanger?
5. Bagaimana system kerja Double Pipe Exchanger?
6. Bagaimana susunan konstruksi Double Pipe Exchanger?
7. Bagaimana perkembangan dan penggunaanya di dunia industry ?

1.3 TUJUAN

Penulisan makalah ini memiliki beberapa tujuan, antara lain :

1. Mengetahui pengertian Heat Exchanger.


2. Mengetahui dan memahami prinsip kerja dari Heat Exchanger.
3. Mengetahui tipe-tipe dan klasifikasi dari Heat Exchanger.
4. Mengetahui pengertian dari Double Pipe Exchanger.
5. Mengetahui susunan konstruksi Double Pipe Exchanger.
6. Mengetahui Perkembangan dan penggunaan Double Pipe Exchanger di dunia
Industri.
BAB 2

PEMBAHASAN

2.1 ALAT PENUKAR PANAS

Panas adalah salah satu bentuk energi yang dapat dipindahkan dari suatu tempat
ke tempat lain, tetapi tidak dapat diciptakan atau dimusnahkan sama sekali. Dalam
suatu proses, panas dapat mengakibatkan terjadinya kenaikan suhu suatu zat dan atau
perubahan tekanan, reaksi kimia dan kelistrikan.
Proses terjadinya perpindahan panas dapat dilakukan secara langsung, yaitu
fluida yang panas akan bercampur secara langsung dengan fluida dingin tanpa adanya
pemisah dan secara tidak langsung, yaitu bila diantara fluida panas dan fluida dingin
tidak berhubungan langsung tetapi dipisahkan oleh sekat-sekat pemisah.
Stabilitas fasa fluida pada HE suhu rendah sangat penting mengingat aliran
panas/dingin harus dapat mengalir dengan baik (viscositas optimal). Pengaruh suhu,
tekanan, dan jenis kriogenik akan sangat menentukan efektivitas pertukaran panas
yang terjadi. Beberapa kriteria utama HE yang dibutuhkan untuk penggunaan pada
suhu rendah:
1. Perbedaan suhu aliran panas dan dingin yg kecil guna meningkatkan efisiensi

2. Rasio luas permukaan terhadap volume yg besar untuk meminimalkan kebocoran


3. Perpindahan panas yang tinggi untuk mengurangi luas permukaan

4. Massa yg rendah untuk meminimalkan waktu start up

5. Kemampuan multi channel untuk mengurangi jumlah HE

6. Kemampuan menerima tekanan yg tinggi

7. Pressure Drop yg rendah

Minimalisasi beda suhu aliran panas & dingin harus juga memperhatikan
pengaruh suhu terhadap panas spesifik (Cp) fluida. Jika Cp menurun dengan
menurunnya suhu fluida (contoh Hidrogen), maka perbedaan suhu inlet & outlet harus
ditambah dari harga minimal beda suhu aliran. Ada tiga cara perpindahan panas, yang
mekanismenya sama sekali berlainan, yaitu :

 Konduksi (secara molekuler)


 Konveksi (secara aliran)
 Radiasi (secara gelombamng elektromagnetik)

Perpindahan Panas Secara Konduksi

Merupakan perpindahan panas antara molekul-molekul yang saling


berdekatan antar yang satu dengan yang lainnya dan tidak diikuti oleh perpindahan
molekul-molekul tersebut secara fisik. Molekul-molekul benda yang panas
bergetar lebih cepat dibandingkan molekul-molekul benda yang berada dalam
keadaan dingin. Getaran-getaran yang cepat ini, tenaganya dilimpahkan kepada
molekul di sekelilingnya sehingga menyebabkan getaran yang lebih cepat maka
akan memberikan panas.

Perpindahan Panas Secara Konveksi

Perpindahan panas dari suatu zat ke zat yang lain disertai dengan gerakan
partikel atau zat tersebut secara fisik. Apabila dalam suatu fenomena makroskopik, ia
hanya berlangsung bila ada gaya yang bekerja pada partikel atau ada arus fluida yang
dapat membuat gerakan melawan gaya gesekan.

Perpindahan Panas Secara Radiasi

Perpindahan panas tanpa melalui media (tanpa melalui molekul). Suatu energi
dapat dihantarkan dari suatu tempat ke tempat lainnya (dari benda panas ke benda yang
dingin) dengan pancaran gelombang elektromagnetik dimana tenaga elektromagnetik
ini akan berubah menjadi panas jika terserap oleh benda yang lain.
Gambar 2.1 Perpindahan Kalor pada Heat Exchanger (Djunaidi, 2009)

Pada dasarnya prinsip kerja dari alat penukar kalor yaitu memindahkan panas
dari dua fluida padat temperatur berbeda di mana transfer panas dapat dilakukan secara
langsung ataupun tidak langsung.
a. Secara kontak langsung

Panas yang dipindahkan antara fluida panas dan dingin melalui permukaan
kontak langsung berarti tidak ada dinding antara kedua fluida.Transfer panas yang
terjadi yaitu melalui interfase / penghubung antara kedua fluida.Contoh : aliran
steam pada kontak langsung yaitu 2 zat cair yang immiscible (tidak dapat
bercampur), gas-liquid, dan partikel padat-kombinasi fluida.
b. Secara kontak tak langsung

Perpindahan panas terjadi antara fluida panas dan dingin melalui dinding
pemisah. Dalam sistem ini, kedua fluida akan mengalir.

Faktor penentu dalam alat perpindahan panas

a. Perbedaan suhu
Perbedaan suhu antara kedua fluida adalah gaya yang diberikan untuk
melakukan perpindahan panas terhadap fluida yang suhunya lebih kecil daripada
suhu awal. Oleh sebab itu semakin besar suhu yang diberikan maka jumlah panas
yang ditukarkan akan semakin besar.
b. Luas permukaan perpindahan panas
Semakin besar luas permukaan, maka semakin besar pula panas yang akan
dihasilkan.
c. Konduktifitas media hantar panas
Media yang digunakan sangat berpengaruh terhadap penghantar panas, namun
bahan yang digunakan sebagi media penghantar cenderung harus kuat terhadap
panas yang akan dihantarkan, karena jika media yang akan digunakan untuk
penghanatar tidak kuat, maka media tersebut akan rentan terhadap korosi, yang
menyebabkan penghantar panas mulai berkurang.

Klasifikasi Alat Penukar Kalor


Melihat begitu banyaknya jenis alat penukar kalor (heat exchanger), maka
dapat diklasifikasikan berdasarkan bermacam-macam pertimbangan yaitu :
1. Klasifikasi berdasarkan proses perpindahan panas

a. Tipe kontak tidak langsung

 Tipe dari satu fase

 Tipe dari banyak fase

 Tipe yang ditimbun (storage type)

 Tipe fluidized bed

b. Tipe kontak langsung

 Immiscible fluids

 Gas liquid

 Liquid vapor

2. Klasifikasi berdasarkan jumlah fluida yang mengalir

 Dua jenis fluida


 Tiga jenis fluida
 N – Jenis fluida (N lebih dari tiga)

3. Klasifikasi berdasarkan kompaknya permukaan

 Tipe penukar kalor yang kompak, Density luas permukaan > 700 m

 Tipe penukar kalor yang tidak kompak, Density luas permukaan < 700 m

4. Klasifikasi berdasarkan mekanisme perpindahan panas


 Dengan cara konveksi, satu fase pada kedua sisi alirannya

 Dengan cara konveksi pada satu sisi aliran dan pada sisi yang lainnya terdapat
cara konveksi 2 aliran
 Dengan cara konveksi pada kedua sisi alirannya serta terdapat 2 pass aliran
masing-masing
 Kombinasi cara konveksi dan radiasi

5. Klasifikasi berdasarkan konstruksi

a. Konstruksi tubular (shell and tube)

 Tube ganda (double tube)

 Konstruksi shell and tube


b. Konstruksi tipe pelat

 Tipe pelat

 Tipe lamella

 Tipe spiral

 Tipe pelat koil

c. Konstruksi dengan luas permukaan diperluas (extended surface)

 Sirip pelat (plate fin)

 Sirip tube (tube fin)

d. Regenerative

 Tipe rotary

 Tipe disk (piringan)

 Tipe drum

 Tipe matrik tetap

6. Klasifikasi berdasarkan pengaturan aliran

a. Aliran dengan satu pass


 Aliran Berlawanan
 Aliran Melintang
 Aliran yang dibagi (divided)
 Aliran Paralel
 Aliran Split

b. Aliran multipass

1. Permukaan yang diperbesar (extended surface)

 Aliran counter menyilang

 Aliran paralel menyilang

 Aliran compound Shell and tube

 Aliran paralel yang berlawanan (M pass pada shell dan N pass pada
tube)

 Aliran split

 Aliran dibagi (devided)

2. Multipass plat
 N – paralel plat multipass

2.2 DOUBLE PIPE EXCHANGER

Salah satu jenis penukar panas adalah susunan pipa ganda. Tipe ini merupakan
alat penukaran panas yang paling sederhana, karena pipa ini memiliki diameter kecil
yang di tengahnya telah terpasang pipa yang besar dengan system packing gland
sehingga antara pipa terbentuk anulus seperti sebuah tempat ruang kosong yang
digunakan sebagai media utama penghantar panas. Disini pipa kecil tersimpan didalan
ruang utama atau ruang inti yang dilindungi oleh pipa besar dan isolasi.
Dalam jenis penukar panas dapat digunakan berlawanan arah aliran atau arah
aliran, baik dengan cairan panas atau dingin cairan yang terkandung dalam ruang
annular dan cairan lainnya dalam pipa. Dalam Fluida mengalir dalam dua bagian yaitu
fluida yang satu mengalir di dalam pipa, sedangkan fluida kedua mengalir di dalam
ruang anulus antara pipa luar dengan pipa dalam.
Alat penukar panas pipa rangkap terdiri dari dua pipa logam standart yang
dikedua ujungnya dilas menjadi satu atau dihubungkan dengan kotak penyekat. Fluida
yang satu mengalir di dalam pipa, sedangkan fluida kedua mengalir di dalam ruang
anulus antara pipa luar dengan pipa dalam. Alat penukar panas jenis ini dapat
digunakan pada laju alir fluida yang kecil dan tekanan operasi yang tinggi.
Perpindahan kalor yang terjadi pada fluida adalah proses konveksi, sedangkan
proses konduksi terjadi pada dinding pipa. Kalor mengalir dari fluida yang
bertemperatur tinggi ke fluida bertemperatur rendah. Double pipe heat exchanger
merupakan Penukar panas yang digunakan ketika tingkat aliran dari cairan dan tugas
panas kecil (kurang dari 500 kW). Alat penukar panas double pipe heat exchanger
untuk arus berlawanan arah lebih besar bila dibandingkan dengan arus searah, dan
panas yang temperaturnya lebih tinggi akan lebih cepat dan lebih kuat dibandingkan
dengan temperaturanya yang kecil.
Pada jenis ini tiap pipa atau beberapa pipa mempunyai shell sendiri- sendiri.
Untuk menghindari tempat yang terlalu panjang, heat exchanger ini dibentuk menjadi
U. pada keperluan khusus, untuk meningkatkan kemampuan memindahkan panas,
bagian diluar pipa diberi srip. Bentuk siripnya ada yang memanjang, melingkar dan
sebagainya.

Gambar 2.2. Alat penukar kalor jenis Double Pipa (Ike Yulia, 2011)
Keistimewaan jenis ini adalah mampu beroperasi pada tekanan yang
tinggi, dan karena tidak ada sambungan, resiko tercampurnya kedua fluida sangat
kecil. Kelemahannya terletak pada kapasitas perpindahan panasnya sangat kecil,
Fleksibel dalam berbagai aplikasi dan pengaturan pipa, dapat dipasang secara seri
ataupun paralel, dapat diatur sedimikian rupa agar diperoleh batas pressure drop dan
LMTD sesuai dengan keperluan,mudah bila kita ingin menambahkan luas
permukaannya dan kalkulasi design mudah dibuat dan akurat Sedangkan
kelemahannya terletak pada kapasitas perpindahan panasnya sangat kecil, mahal,
terbatas untuk fluida yang membutuhkan area perpindahan kalor kecil (<50 m2), dan
biasanya digunakan untuk sejumlah kecil fluida yang akan dipanaskan atau
dikondensasikan.

Prinsip kerja double pipe

Pada alat ini, mekanisme perpindahan kalor terjadi secara tidak langsung
(indirect contact type), karena terdapat dinding pemisah antara kedua fluida sehingga
kedua fluida tidak bercampur. Fluida yang memiliki suhu lebih rendah (fluida
pendingin) mengalir melalui pipa kecil, sedangkan fluida dengan suhu yang lebih
tinggi mengalir pada pipa yang lebih besar (pipa annulus). Penukar kalor demikian
mungkin terdiri dari beberapa lintasan yang disusun dalam susunan vertikal.
Perpindahan kalor yang terjadi pada fluida adalah proses konveksi, sedang proses
konduksi terjadi pada dinding pipa. Kalor mengalir dari fluida yang bertemperatur
tinggi ke fluida yang bertemperatur rendah.
Dalam desain pipa penukar panas ganda, merupakan faktor penting adalah
jenis pola aliran dalam penukar panas. Sebuah penukar panas pipa ganda biasanya
akan baik berlawanan arah / counterflow atau aliran paralel. Crossflow hanya tidak
bekerja untuk penukar panas pipa ganda. Pola yang aliran dan tugas panas yang
dibutuhkan pertukaran memungkinkan perhitungan log mean perbedaan suhu. Yang
bersama-sama dengan perpindahan panas keseluruhan diperkirakan koefisien
memungkinkan perhitungan luas permukaan perpindahan panas yang diperlukan.
Kemudian ukuran pipa, panjang pipa dan jumlah tikungan dapat ditentukan.
Prinsip kerja dari alat ini adalah memindahkan panas dari cairan dengan
temperature yang lebih tinggi ke cairan yang memiliki temperatur lebih rendah.
Dalam percobaan kali ini, aliran panas (steam) dialirkan pada bagian dalam pipa
konsentris sedangkan air dialirkan pada bagian luar dari pipa konsentris ini (bagian
anulus).

Namun, terkadang dalam beberapa alat seperti double pipe HE ini, akan ada
pengotor didalam pipa yang membuat proses perpindahan kalor nya menjadi
terganggu. Pengotoran ini dapat terjadi endapan dari fluida yang mengalir, juga
disebabkan oleh korosi pada komponen dari heat exchanger akibat pengaruh dari
jenis fluida yang dialirinya. Selama heat exchanger ini dioperasikan pengaruh
pengotoran pasti akan terjadi. Terjadinya pengotoran tersebut dapat menganggu atau
memperngaruhi temperatur fluida mengalir juga dapat menurunkan ataau
mempengaruhi koefisien perpindahan panas menyeluruh dari fluida tersebut.
Beberapa faktor yang dipengaruhi akibat pengotoran antara lain : Temperatur fluida,
Temperatur dinding tube dan Kecepatan aliran fluida.

Gambar Double Pipe Exchanger

Terdiri dari dua pipa yang konsentris, penghubung T dan return bend. Pipa
bagian dalam ditumpuk dengan packing gland pada pipa luar. Satu fluida mengalir
dalam anulus. Aliran kedua fluida dapat dibuat co-current atau counter-current.
Penghubung T disambungkan pada pipa luar untuk pengeluaran atau pemasukan cairan
anulus. Pembalik arah menghubungkan dua pipa dalam dan tidak menyumbangkan
luas bidang perpindahan panas. Alat ini mudah dibuat dari bahan-bahan (pipa, fitting)
standar. Ukuran panjang efektif biasanya 12,15 atau 20 feet. Tipe Hairpin mempunyai
panjang 40 feet unsur luas/ panjang yang lebih besar dapat dibuat sejumlah Hairpin
secara seri. Dalam hal ini sering kali pipa dalam menyentuh pipa luar dan mengganggu
aliran dalam anulus.

Dengan demikian bagian-bagian paling penting yaitu dari 2 sets pipa


konsentris, 2 tees yang dihubungkan, sebuah return head, sebuah bend. Inner pipa
dihubungkan dengan outer pipa dengan packing glands dan fluida masuk ke inner pipa
melalui threaded connection yang letaknya diluar bagian section exchanger.

Tees (fitting) memiliki nozzles atau penghubung baut yang mengatur masuk
dan keluar dari annulus fluid dimana aliran berlawanan dari sisi satu ke sisi yang lain
melalui return head. Inner pipa yang panjang diubungkan dengan return bend yang
selalu di expose dan tidak menyediakan permukaan perpindahan panas yang efektif.

Double pipe exchanger sangat berguna karena dapat dipasang dengan berbagai
fitting piapa dari bagian standard dan menyediakan dalam permukaan transfer panas
yang mahal. Ukuran standard dari Tees dan return head dapat dilihat dari tabel dibawah
ini.

Outer Pipe, IPS Inner pipa, IPS

2 1,75

2,5 1,75

3 2

4 3

Double pipe exchanger selalu dipasang dalam 12ft, 15ft atau 20ft panjang
efektif. Panjang efektif menjadi jarak setiap lengan dimana heat transfer terjadi dan
memasuki inner pipa yang menjulang dari inner pipe ke bagian exchanger.
Kerugian yang sangat prinsip terjadi didalam penggunaan double pipe
exchangers terdapat sejumlah kecil transfer panas pada permukaan yang dilapisi single
hairpin. Ketika peralatan destilasi digunakan pada proses industri banyak tipe yang
dibutuhkan.

Jumlah panas yang dibutuhkan permukaan dan seiap double pipe exchangers
mengatakan bahwa tidak lebih dari 14 ponts kekeurangna yang tidak boleh terjadi.

Konstruksi Double Pipe Heat Exchanger

1. Hairpin:
Penyatuan dua kaki, konstruksi hairpin lebih disukai karena membutuhkan ruang
yang tidak begitu besar.
2. Packing & glad:
Packing dan glad menyediakan penyegelan untuk anulus dan mendukung pada
inner pipa.
3. Return Bend:
Ujung-ujung yang berlawanan bergabung membentuk huruf U melalui sambungan
las.
4. Support lugs:
Support lugs dapat dilengkapi pada ujung innner pipa.
5. Flange:
Pipa-pipa luar dihubungakan dengan flange pada akhir sambungan agar mudah
dibuka atau dibongkar guna pembersihan dan pemeliharaan
6. Union Join:
Untuk pemasangan inner tube dengan U-bend.
7. Nozzles:
Bagian kecil dari pipa yang di hubungkan ke shell atau ke saluran yang bertindak
sebagai inlet atau outlet dari cairan
8. Gasket:
Packing diletakkan diantara dua buah flange agar aliran dapat bergerak bebas.
Kelebihan dan kekurangan Double Pipe Heat Exchanger

Kelebihan Double Pipe Heat Exchanger:

 Mampu untuk beroprasi pada tekanan yang tinggi


 Fleksibel dalam berbagai aplikasi dan pengaturan pipa,
 Dapat dipasang secara seri atau paralel,
 Mudah bila kita ingin menambah luas permukaannya dan
 Kalkulasi design mudah dibuat dan akurat.

Kekurangan Double Pipe Heat Exchanger

 Kapasitas perpindahan panasnya sangat kecil,


 Mahal, dan
 Digunakan untuk fluida yang berjumlah sedikit yang akan dipanas kan atau
dikonsdensasikan.

Perhitungan dalam Double Pipe Heat Exchanger

Persamaaan – persamaan yang telah ada sebelumnya dapat kita kombinasikan


menjadi perhitungan double pipe heat exchanger. Perhitungan sederhana dari jenis
exchanger ini adalah menghitung ho dan hio untuk mendapatkan Uc. Nilai Uc dapat
dihitung dengan menggunakan persamaan Fourier:

Q  U p A t

Dimana :

• Q adalah laju perpindahan panas antara dua cairan dalam penukar panas di Btu/hr

• U adalah koefisien perpindahan panas keseluruhan di BTU/hr-ft2-oF,

• A adalah luas permukaan perpindahan panas di ft2

• ΔT adalah log berarti perbedaan suhu di oF, dihitung dari suhu inlet dan outlet
dari kedua cairan.
Biasanya permasalahan pertama adalah menentukan dimana fluida harus
diletakkan didalam annulus atau di dalam pipa dalam. Hal ini akan memepercepat
dengan menentukan ukuran yang sesuai dan laju daerah untuk kedua aliran. Untuk
tekanan jatuh yang bernilai sama pada aliran yang panas dan yang dingin untuk
menentukannya haruslah bernilai yang paling dekat dengan kecepatan massa dan
tekanan jatuh. Berikut ini adalah table untuk perkiraan standard dari diameter double
pipe dan daerah laju yang dapat dilewatinya.

Flow area, in2 Annulus, in


Exchanger, IPS
Annulus Inner Pipe dc d’c

2 x 11/4 1.19 1.50 0.915 0.40

2 ½ x 11/4 2.63 1.50 2.02 0.81

3x2 2.93 3.35 1.57 0.69

4x3 3.14 7.38 1.14 0.53

Suatu alat perpindahan panas dinilai mampu berfungsi dengan baik untuk
penggunaan tertentu, apabila memenuhi dua ketentuan berikut :

1.memindahkan panas sesuai dengan kebutuhan proses

2.Pressure Drop (ΔP) untuk masing-masing aliran tidak melebihi batas yang tersedia.
Harga ΔP biasanya adalah :

# Untuk aliran liquida : maksimal (ΔP) = 5 – 10 Psi


# Untuk aliran uap-gas: maksimal (ΔP) = ½ – 2 Psi

Karena yang dirancang adalah alat perpindahan panas, maka perlu dicari
dimensi atau ukuran peralatan tersebut. Ukuran alat tersebut berkaitan erat dengan
luas permukaan panas atau heating surface. Penentuan jenis double pipe heat
exchanger ini berdasarkan besarnya nilai A. Jika nilai A < 120 ft2, maka heat
exhanger jenis Double pipe dapat digunakan.

Prosedur Perancangan Perhitungan Double Pipe Heat Exchanger

1. Material dan heat balance

Dimana, T1 dan T2 = suhu aliran panas masuk dan keluar, t1 dan t2 = suhu aliran
dingin masuk dan keluar
2. Menghitung LMTD

3. Menghitung suhu caloric, Tc dan tc dari persamaan dan grafik kern;

Inner Pipe :

4. Menghitung Flow Area,

ap = πD4/4, (ft2)

5. Menghitung Mass Velocity,

Gp = w/ap, lb/(hr)(ft2)

6. μ pada Tc atau tc (bergantung dengan fluida yang melewati inner pipe),

μ = lb/(ft)(hr) = centipoise x 2.42


7. Menghitung nilai Reynold,

Rep= DGp/μ

8. Mencari nilai Heat Transfer Factor (jH)

Dengan menggunakan nilai Re dan L/D pipa, dapat dicari nilai jH pada gambar
24 kern;

9. Mencari nilai hi dan hio


nonviscous fluid, ɸ =1

Annulus :

10. Menghitung Flow Area,

aa = π(D22 – D12)/4, ft2

Equivalent diameter;

11. Menghitung Mass Velocity,

Ga = w/aa, lb/(hr)(ft2)

12. μ pada Tc atau tc (bergantung dengan fluida yang melewati inner pipe),

μ = lb/(ft)(hr) = centipoise x 2.42

13. Menghitung nilai Reynold,

Rea= DeGa/μ

14. Mencari nilai Heat Transfer Factor (jH)

Dengan menggunakan nilai Re dan L/D pipa, dapat dicari nilai jH pada gambar
24 kern

15. Mencari nilai ho


nonviscous fluid, ɸ =1

16. Menghitung Clean Coefficient of heat transfer

17. Menghitung Design Coefficient of heat transfer

18. Menghitung Required Surface

19. Evaluasi Pressure Drop


 Inner Pipe :

*Menghitung Fouling Factor

* Menghitung Pressure Drop, ft

* Menghitung Pressure Drop, psi

 Annulus

* Menghitung Diameter, Re
* Menghitung Fouling Factor

* Menhgitung Pressure Drop

Contoh Double Pipe Heat Exchanger

Double Pipe Benzena-Toluena Exchanger (Kern, Process Heat Transfer,


1965)
Sebuah penukar panas pipa ganda counter flow dirancang untuk memanaskan
benzena dari temperatur 80 hingga 120 F menggunakan toluena panas sehingga
menjadi dingin yaitu 160 hingga 100 F. Spesifik Gravity pada 68 F masing-
masing adalah 0.88 dan 0.87. Properti fluida lainnya daoat ditemukan pada
lampiran. Fouling factor untuk sistem tersebut adalah 0.001 untuk masing-masing
aliran dan batas maksimal pressure drop yang diizinkan adalah 10 psi. Tentukan
jumlah hairpins yang dibutuhkan untuk untuk sistem tersebut (panjang setiap pipa
adalah 20 ft dengan diamater 1 ¼-in IPS) .

Jawab :
Langkah yang digunakan untuk menghitung jumlah hairpin yang dibutuhkan
adalah:
1. Menghitung T rata-rata fluida panas dan fluida dingin.
Untuk Fluida dingin

Untuk Fluida panas

2. Menghitung tinjau heat balance nya.

c untuk benzena: 0.425 btu/lb.F


c untuk toluena : 0.44 btu/lb.F  dari lampiran

Heat balance untuk fluida dingin:

Heat balance untuk fluida panas:


Sehingga laju toluena yang dibutuhkan adalah 6330 lb/hr

3. Menghitung LMTD

Sehingga:

4. Menghitung flow area dari HE


Untuk pipa Luar (anulus)

Untuk Pipa Dalam

Oleh karena flow area anulus lebih kecil maka fluida yang lajunya lebih
kecil yaitu toluena diposisikan di anulus dan benzena di pipa dalam.

5. Menghitung nilai koefisien perpindahan panas konveksi (h)


Nilai h dapat ditentukan dengan menggunakan persamaan empiris sieder
and tate, sebagai berikut:
Keterangan:
C: Kapasitas panas (lampiran gambar 2, buku kern)
ɥ : Viskositas fluida (lampiran gambar 14, buku kern)
k: koefisien perpindahan panas konduksi ( tabel 4, buku kern)
Jh: koefisien yang didapat dengan mengkorelasikan nilai Re (lampiran
gambar 24, buku kern)

 Menghitung nilai jh
6. Menghitung panjang pipa yang dibutuhkan
Sehingga oleh karena panjang pipa yang dibutuhkan adalah 116 ft, maka
dibutuhkan 6 buah pipa (6 x 20 ft = 120 ft), maka dibutuhkan 3 hairpins
(masing-masing hairpin menyambung 2 pipa)
7. Menghitung pressure drop yang dihasilkan

Aplikasi Double Pipe Heat Exchanger


Penukar Panas, merupakan peralatan yang banyak dipergunakan di berbagai
bidang industri, seperti perminyakan, petrokimia, energi dan lain sebagainya. Fungsi
alat penukar panas, sebagaimana namanya, adalah untuk memindahkan panas dari satu
fluida ke fluida yang lainnya dengan tujuan untuk merubah temperatur baik itu
menurunkan suhu ataupun menaikan suhu.
Salah satu tolak ukur yang menentukan pemilihan suatu jenis penukar panas
adalah kemampuannya untuk memindahkan panasyang bai, yang pada umumnya
disebut efektivitas dan efisiensi energi supaya tidak banyak membuang dan
menghamburkan waktu. Untuk satu ukuran penukar panas yang digunakan, maka
efektivitas dan efisiensi energi yang tinggi akan menunjukkan semakin banyaknya
fluks panas dan waktu yang digunakan akan lebih efisiens dan panas yang dapat
dipindahkan per satuan massa fluida akan bagus. Sehingga upaya untuk
mengembangkan suatu rancangan penukar panas yang memberikan efektivitas
perpindahan panas tinggi senantiasa menjadi lebih baik dan menjadi sebuah topik
litbang di berbagai lembaga riset, universitas ataupun industri di dunia.
Biasa digunakan pada dunia industri :
1. Pemanas ruangan
2. Mesin pendingin
3. Pembangkit tenaga listrik
4. Pabrik kimia
5. Pabrik petrokimia
6. Kilang minyak bumi
7. Pengolahan limbah

Contohnya :
1. Telah dilakukan desain sebuah penukar kalor jenis pipa ganda (double pipe heat
exchanger) untuk memanaskan air. Alat ini didesain untuk dipergunakan sebagai
alat uji laboratorium fenomena dasar mesin.
2. Mesin internal dimana air sebagai pendingin yang mengalir dalam sebuah pipa,
sehingga air mendinginkan mesin , dan memanaskan udara yang masuk.
BAB 3

KESIMPULAN

Alat penukar panas atau Heat Exchanger (HE) adalah alat yang digunakan untuk
memindahkan panas antara dua fluida yang berbeda suhu melalui sebuah penghantar
media panas dengan mengkondisikan alatnya sebaik mungkin, agar tidak mengalami
kesalahan dalam proses pemindahan suhu, karena jika terjadi kesalahan dalam
pemindahan akan berakibat pada hasil akhir pemanasan.

Perpindahan panas akan terjadi apabila ada perbedaan temperatur antara 2


bagian benda. Panas dapat berpindah dengan 3 cara, yaitu konduksi, konveksi, dan
radiasi. Perhitungan perpindahan klalor didasarkan atas luas penukaran pemanasan
yang dinyatakan dalam laju panas per luas permukaan atas dasar luas bidang tempat
berlangsungnya aliran panas.

Karakteristik alat perpindahan panas ditentukan oleh beberapa faktor, antara lain:

 Jenis fluida yang akan dipertukarkan panasnya


 Laju alir fluida
 Tipe aliran yang dipakai (co-current atau counter-current)
 Letak fluida panas dan dingin, di dalam atau di luar alat penukar panas

tersebut.

Double pipe exchanger sangat berguna karena dapat dipasang dengan berbagai
fitting piapa dari bagian standard dan menyediakan dalam permukaan transfer panas
yang mahal. Prinsip kerja dari alat ini adalah memindahkan panas dari cairan dengan
temperature yang lebih tinggi ke cairan yang memiliki temperatur lebih rendah.
DAFTAR PUSTAKA

 http://djanksoleh.blogspot.com/2013/02/double-pipe-heat-exchanger.html
 http://elsantamonaliza.blogspot.com/2012/06/double-pipe-heat-exchanger.html
 Kern. 1991. Heat Transfer Process.
 http://jepjourney.blogspot.com/2013/06/heat-exchanger.html