Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


a. Gambaran Keadaan
Industri pertambangan dikenal luas sebagai yang memilki resiko
yang tinggi, padat modal dan teknologi, berjangka panjang karna lamban
dalam mencapai hasil kegiatan, terlebih-lebih dalam memberikan hasil
usaha. Sebagai usaha yang berkenaan dengan sumberdaya alam yang
tidak terbaharukan dan sebagai usaha yang keekonomiannya lebih banyak
ditentukan oleh pasar yang sifatmya sangat musiman. Oleh karena itu
pertambangan juga dikenal sebagai industry piomeer yang memungkinkan
akselerasi pembangunan daerah-daerah terpencil dan terbelakang serta
melahirkan efek ganda yang sangat berarti bagi perkembangan social dan
ekonomi masyarakat di daerah.
Haruslah diakui bahwa citra industry pertambangan di mata
masyarakat luas amatlah buruk. Yang dikenal masyarakat lebih banyak
sisi-sisi negatifnya saja, sedang betapa besar arti positifnya bagi
pembangunan social ekonomi, nasional maupun regional, banyak
dilupakan orang.
Untuk menuju kemajuan bisnis tentunya suatu organisasi atau
perusahaan memerlukan dukungan manajamen yang tepat, selanjutnya
untuk mengelola manajemen yang baik dan tepat diperlukan prosedur
yang baik dan tepat berguna untuk mencegah terjadinya hambatan
sehingga akan mengakibatkan informasi tersebut disampaikan tidak tepat
waktu. Inilah yang menjadi tendensi bisnis diabad ini.
Berdasarkan latar belakang diatas yang akan dibahas dalam
laporam kerja praktek ini maka penulis akan membahas bagaimana
“TINJAUAN ATAS SISTEM LOGISTIK BAHAN BAKAR PADA
PT. BUKIT ASAM (PERSERO) Tbk, UNIT DERMAGA
KERTAPATI.”

1.2 Rumusan Masalah


Agar penulis laporan kerja praktek ini menjadi lebih terarah dan tidak keluar
dari apa yang dimaksudkan oleh penulis, maka penulis hanya membatasi
ruang lingkup permasalahan yang akan dibahas “TINJAUAN ATAS SISTEM
LOGISTIK BAHAN BAKAR PADA PT. BUKIT ASAM (PERSERO) Tbk, UNIT
DERMAGA KERTAPATI.”

1
2

1.3 Tujuan Penulisan


Adapun tujuan dari penulisan laporan ini adalah sebagai berikut:
1. Memperluas pengetahuan dan Wawasan bagi penulis.
2. Untuk mengikuti system kerja dan aktivitas dan struktur organisasi suatu
perusahaan.
3. Untuk mengimplementasikan ilmu yang diperoleh di Fakultas DIII
AKUNTANSI POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA dengan kenyataan yang ada
dilapangan kerja.

1.4 Manfaat Penulisan


Adapun manfaat yang dapat diperoleh penulis dalam penyusunan laporan ini
adalah sebagai berikut:
1. Dengan diadakannya kegiatan PKL(Praktek Kerja Laoangan), mahasiswa
mendapat pengalaman kerja.
2. Untuk menambah wawasan bagi penulis serta menambah bahan bacaan
bagi mahasiswa yang mungkin bermanfaat untuk masa yang akan
datang.
3. Memupuk gambaran profesionalisme dan sikap pengabdian sebagai
calon tenaga kerja.
4. Terbinanya silahturami antara pegawai yang ada diperusahaan dengan
mahasiswa PKL.

1.5 Metologi Penulisan


Metode yang digunakan dalam penulisan laporan kerja praktek ini adalah
suatu metode untuk mengemukakan permasalahan dan mengumpulkan
data-data serta penyajian data yang bertujuan untuk menggambarkan
karakteristik suatu keadaan atau objek yang diteliti dan mengambil suatu
kesimpulan dari pembahasan yang telah dilakukan.

1.5.1 Lokasi
Dalam penulisan laporan kerja praktek ini, yang menjadi objek dari
penelitian adalah Pergudangan PT. BUKIT ASAM (Persero) Tbk, Unit Dermaga
Kertapati dengan alamat jalan stasiun kereta api No.1 Kertapati Palembang.
3

1.5.2 Teknik Pengumpulan Data


Adapun data-data yang penulis gunakan untuk membuat laporan kerja
praktik yaitu:
1.Data Primer
Data primer yang dikumpulkan secara langsung dari objek yang diteliti
pada Pergudangan PT.BUKIT ASAM (Persero) Tbk, Unit Dermaga
Kertapati Palembang, data ini dikumpulkan dengan cara sebagai berikut:
a. Observasi
Penulis melakukan pengamatan langsung yang meliputi kegiatan pada
Pergudangan PT. Tambang Batubara Bukit Asam (Persero) Tbk. Unit
Dermaga Kertapati Palembang yang berkaitan dengan permasalahan yang
diangkat oleh penulis.
b. Wawancara
Penulis mengajukan tanya jawab secara langsung dengan pihak-pihak
intern yang berwenang pada Pergudangan PT.BUKIT ASAMA
(PERSERO) Tbk. Unit Dermaga Kertapati Palembang secara langsung
untuk memperoleh informasi dan data yang dibutuhkan oleh penulis.

2. Data Sekunder
Data sekunder adalah sumber data yang tidak berhubungan langsung
dengan objek yang diteliti namun dapat memberikan dukungan dan
pedoman dalam penulisan laporan kerja praktek ini, data dikumpulkan
dengan cara sebagai berikut:
a. Dokumentasi
Data diperoleh dari arsip atau buku pedoman perusahaan yang ada
pada Pergudangan PT. BUKIT ASAM (PERSERO) Tbk, Unit
Dermaga Palembang.
b. Study Literature
Data diperoleh dari mempelajari buku-buku yang berkaitan dengan
penulisan laporan kerja praktek ini.
4

1.6 Sistematika Penulisan


Untuk memudahkan dalam pembahasan laporan kerja praktik ini, penulis
membaginya dalam beberapa bagian, yaitu sebagai berikut:

BAB I PENDAHULUAN
Bab ini membahas mengenai latar belakang penulisan laporan kerja
praktik ini, rumusan masalah, tujuan dan manfaat penulisan, ruang
lingkup pembahasan, teknik pengumpulan data dan sistematika
penulisan laporan kerja praktik.

BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN


Bab ini menguraikan secara singkat sejarah, visi, misi perusahaan,
struktur organisasi PT. BUKIT ASAM (PERSERO) Tbk, serta
pembagian tugas dan tanggung jawab.

BAB III ANALISA PRAKTEK KERJA


Pada bab ini penulis akan membahas masalah yang terdapat dalam
Bab 1 khususnya membahas tentang

BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN


Pada bab ini berisikan kesimpulan dan saran penulis yang telah
dilakukan dengan meninjau dan memahami masalah yang ada serta
menganalisanya berdasarkan ilmu dan teori yang diperoleh.
5

BAB II
GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

PROFIL PERUSAHAAN SEJARAH PERUSAHAAN

Sejarah pertambangan batubara di Tanjung Enim dimulai sejak zaman kolonial


Belanda tahun 1919 dengan menggunakan metode penambangan terbuka (open pit
mining) di wilayah operasi pertama, yaitu di Tambang Air Laya.

Selanjutnya mulai 1923 beroperasi dengan metode penambangan bawah tanah


(underground mining) hingga 1940, sedangkan produksi untuk kepentingan
komersial dimulai pada 1938.

Seiring dengan berakhirnya kekuasaan kolonial Belanda di tanah air, para


karyawan Indonesia kemudian berjuang menuntut perubahan status tambang
menjadi pertambangan nasional. Pada 1950, Pemerintah RI kemudian
mengesahkan pembentukan Perusahaan Negara Tambang Arang Bukit Asam (PN
TABA).

Pada 1981, PN TABA kemudian berubah status menjadi Perseroan Terbatas


dengan nama PT Tambang Batubara Bukit Asam (Persero) Tbk, yang selanjutnya
disebut Perseroan. Dalam rangka meningkatkan pengembangan industri batubara
di Indonesia, pada 1990 Pemerintah menetapkan penggabungan Perum Tambang
Batubara dengan Perseroan.

Sesuai dengan program pengembangan ketahanan energi nasional, pada 1993


Pemerintah menugaskan Perseroan untuk mengembangkan usaha briket batubara.

Pada 23 Desember 2002, Perseroan mencatatkan diri sebagai perusahaan publik di


Bursa Efek Indonesia dengan kode “PTBA”.

VISI

PERUSAHAAN ENERGI KELAS DUNIA YANG PEDULI LINGKUNGAN.

MISI

Mengelola sumber energi dengan mengembangkan kompetensi korporasi dan


keunggulan insani untuk memberikan nilai tambah maksimal bagi stakeholder dan
lingkungan.
6

NILAI

 Visioner
Mampu melihat jauh kedepan dan membuat proyeksi jangka panjang
dalam pengembangan bisnis.
 Integritas
Mengedepankan perilaku percaya, terbuka, positif, jujur, berkomitmen dan
bertanggung jawab.
 Inovatif
Selalu bekerja dengan kesungguhan untuk memperoleh terobosan baru
untuk menghasilkan produk dan layanan terbaik dari sebelumnya.
 Professional
Melaksanakan semua tugas sesuai dengan kompetensi, dengan kreativitas,
penuh keberanian, komitmen penuh, dalam kerjasama untuk keahlian yang
terus menerus meningkat.
 Sadar Biaya dan Lingkungan
Memiliki kesadaran tinggi dalam setiap pengelolaan aktivitas dengan
menjalankan usaha atau asas manfaat yang maksimal dan kepedulian
lingkungan.

MAKNA

Mempersembahkan Sumber Energi untuk Kehidupan Dunia dan Bumi yang lebih
baik.

KOMITMEN

Kami berkomitmen mewujudkan visi, misi dan nilai-nilai PTBA dan terbentuknya
budaya sebagai pondasi kesuksesan jangka panjang.

STRUKTUR ORGANISASI

Perseroan menerapkan struktur organisasi yang dinamis, efisien dan efektif sesuai
dengan perkembangan industri serta dalam rangka mencapai pertumbuhan kinerja
yang optimal.

Struktur organisasi yang mampu mengakomodir tuntutan pengembangan usaha


harus disertai kemampuan untuk mengarahkan semua sistem yang terlibat di
dalamnya agar bekerja lebih efisien, efektif dan produktif.

Struktur organisasi kami diformulasikan berdasarkan spesialisasi dan fungsi


masing-masing anggota di dalam unit kerja perusahaan. Struktur ini mampu
mengantisipasi kebutuhan organisasi yang lebih baik dan kinerja yang lebih
efisien dalam mencapai target dan tujuan perusahaan.
7

TATA KELOLA PERUSAHAAN

Perseroan senantiasa berusaha menerapkan prinsip-prinsip tata kelola yang baik,


mencakup azas transparency, accountability, responsibility, independency dan
fairness, secara seimbang dengan pembangunan nilai-nilai dan budaya perusahaan
yang tertuang dalam rumusan kode etik serta budaya perusahaan.

Tujuan Penerapan GCG di Perseroan adalah :

 Mengendalikan dan mengarahkan hubungan antara Pemegang Saham,


Dewan Komisaris, Direksi, karyawan, pelanggan, mitra kerja, serta
masyarakat dan lingkungan.
 Mendorong dan mendukung pengembangan Perseroan.
 Mengelola sumber daya secara lebih amanah.
 Mengelola risiko secara lebih baik.
 Meningkatkan pertanggungjawaban kepada stakeholders.
 Mencegah terjadinya penyimpangan dalam pengelolaan Perseroan.
 Memperbaiki budaya kerja Perseroan.
 Meningkatkan citra Perseroan (image) menjadi semakin baik.

Komitmen, konsistensi serta keberhasilan Perseroan dalam menerapkan tata kelola


yang baik telah membuahkan berbagai bentuk penghargaan dari lembaga
independen dari berbagai perspektif, mencakup :

 Predikat Terpercaya berdasarkan Corporate Governance Perception Index


yang diselenggarakan oleh IICG (Indonesian Institute of Corporate
Governance) bekerja sama dengan majalah SWA dalam Acara “IICG –
GCG Award” di Jakarta, nilai skor meningkat dari 82,27 menjadi 84,11 di
tahun 2010.
8

 The Best Role of Stakeholder dalam acara “IICD (Indonesian Institute of


Corporate Directorship) Corporate Governance Award” kerja sama IICD
dengan Majalah Investor.
 3rd Rank The Best Corporate GCG Implementation kerjasama IICD
dengan Business Review dalam acara “Business Review Award” di
Singapura

Perseroan melakukan assessment praktek GCG tahun 2008 dan hasilnya Perseroan
mendapatkan nilai total 89,75 dengan kesimpulan kualitas penerapan GCG baik.

Pada tahun 2010 Perseroan melaksanakan beberapa upaya perbaikan tata laksana
dan peningkatan kualitas penerapan GCG, diantaranya:

 Perusahaan dibantu konsultan telah mengembangkan soft structure GCG


yang baru, yaitu : Panduan Kerja Bagi Dewan Komisaris dan Direksi
(Board Manual), GCG Code, Code of Conduct
 Salah satu Soft Structure GCG adalah Code of Conduct yaitu Suatu
Pedoman Perilaku bagi seluruh Jajaran Perseroan. Code of Conduct ini
telah disosialisasikan kepada seluruh Jajaran Perusahaan yang menjelaskan
tentang:
 Kebijakan tentang Benturan Kepentingan
 Kebijakan tentang Larangan Pemberian dan Penerimaan Hadiah, Suap dan
sejenisnya.
 Kebijakan tentang Pengadaan Barang dan Jasa.
 Tata Laksana Sistem Pelaporan Pelanggaran.
 Pelaksanaan lembar kepatuhan terhadap Pedoman perilaku yang harus
ditandatangani oleh setiap pegawai.
9

Panduan Tata Kelola Perusahaan merupakan kristalisasi seluruh aturan yang


menjadi pedoman bagi tata kelola perusahaan, nilai-nilai budaya yang dianut, visi
dan misi serta praktek-praktek terbaik (best practices) GCG.

Organ Perusahaan

Organ Perusahaan terdiri atas Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), Dewan
Komisaris dan Direksi yang masing-masing mempunyai peran penting dalam
pelaksanaan GCG secara efektif. Organ Perseroan ini menjalankan fungsinya
berdasarkan prinsip bahwa masing-masing organ berdiri secara independen dan
menjalankan tugas, fungsi dan tanggung-jawabnya semata-mata untuk
kepentingan Perseroan.

Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) merupakan instansi tertinggi dalam


Perseroan, wadah para pemegang saham untuk bertindak secara setara dalam
mengambil keputusan penting yang berkaitan dengan modal yang ditanam
dalam Perseroan, namun tidak dapat mengintervensi keputusan operasional yang
menjadi wewenang Dewan Komisaris dan Direksi.

Dewan Komisaris adalah Organ Perseroan yang bertugas melakukan pengawasan


secara umum atau khusus, serta memberi nasihat kepada Direksi. Sedangkan
Direksi merupakan Organ Perseroan yang berwenang dan bertanggung-
jawab penuh atas kepengurusan Perseroan sehari-hari dan bertindak semata-mata
untuk kepentingan perusahaan sesuai dengan maksud dan tujuan Perseroan.

Komite Audit

Komite Audit dibentuk dalam rangka membantu tugas Dewan Komisaris untuk
mendorong diterapkannya tata kelola perusahaan yang baik, terbentuknya struktur
pengendalian internal yang memadai, meningkatkan kualitas keterbukaan dan
pelaporan keuangan, serta mengkaji ruang lingkup, ketepatan, kemandirian dan
obyektifitas akuntan publik.

Komite Good Corporate Governance

Biasa disebut Komite GCG bertugas membantu Dewan Komisaris dalam rangka
meningkatkan penerapan praktek GCG oleh Perseroan. Komite ini sebelumnya
digabung dengan Komite Nominasi dan Remunerasi sebagai Komite
Nominasi, Remunerasi dan GCG.

Komite Nominasi, Remunerasi dan Pengembangan Sumber Daya Manusia


(PSDM)

Biasa disebut Konarba dan PSDM, merupakan komite yang mengalami


perubahaan nama dan keanggotaanya di tahun 2010. Sebelumnya komite ini
bernama Komite Konarba dan GCG, bertugas membantu Komisaris dalam hal-hal
10

yang berkaitan dengan kebijakan penetapan remunerasi dan peningkatan


implementasi GCG.

Konarba dan PSDM bersifat mandiri baik dalam pelaksanaan tugas maupun dalam
pelaporan, yang dibentuk oleh, dan bekerja untuk, serta bertanggung jawab
kepada Dewan Komisaris.

Biasa disebut Komite Risiko Usaha bertugas dan bertanggung jawab untuk
memberikan pendapat profesional dan independen sesuai kewenangannya kepada
Dewan Komisaris terkait dengan pengelolaan perusahaan yang berkaitan dengan
risiko usaha yang berpotensi menimbulkan kerugian signifikan, termasuk
asuransi, pengelolaan lingkungan dan pasca tambang.

Komite KRU senantiasa mengingatkan dan merekomendasikan agar seluruh risiko


utama Perseroan yang masuk kategori high extreme risk di kenali dan dimitigasi.

Sekretaris Perusahaan menjamin ketersediaan informasi terkini, tepat waktu dan


akurat mengenai Perseroan kepada para pemegang saham, analis, media massa
dan masyarakat umum, yang juga meliputi penyediaan Laporan Triwulan
dan Laporan Tahunan

Sekretaris Perusahaan berperan besar dalam memperlancar hubungan antar Organ


Perseroan, hubungan antara Perseroan dengan stakeholders serta dipenuhinya
ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Fungsi utama Sekretaris Perseroan mencakup tiga bidang, yaitu sebagai liason
officer, compliance officer serta investor relations. Corporate Secretary has triple
main function, as liason officer, compliance officer and investor relations officer.

Sistem Pengendalian Internal

Manajemen mengembangkan sistem pengawasan dan pengendalian internal agar


dapat berfungsi secara efektif untuk mengamankan investasi dan aset Perseroan.

Auditor Internal bertindak sebagai Satuan Pengawasan Internal.

Auditor Eksternal yang memeriksa laporan keuangan Perseroan tahun buku 2010
ditetapkan melalui Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan berdasarkan
rekomendasi dari Komisaris dan Komite Audit. Untuk menjamin independensi
dan kualitas hasil pemeriksaan Auditor Eksternal yang ditunjuk tidak boleh
memiliki benturan kepentingan dengan setiap level pejabat Perseroan.

Dalam rangka memperkuat sistem pengawasan dan pengendalian internal di


Perseroan, Manajemen membentuk Satuan Kerja Sistem Manajemen Perusahaan
(SMP). Visi dari Satuan Kerja SMP adalah: Menjadi Satuan Kerja yang
terpercaya dalam mengelola proses bisinis Perusahaan dengan menerapkan
11

prinsip-prinsip GCG secara konsisten, sehingga dapat meningkatkan nilai


Perusahaan.

Pedoman Kode Etik merupakan salah satu tools Perseroan dalam meningkatkan
integritas insan perseroan di setiap level, agar penerapan best practices GCG
menjadi maksimal.

Pada dasarnya Pedoman Kode Etik Perseroan mengatur hal-hal yang menjadi
tanggung jawab Perseroan, individu jajaran Perseroan maupun pihak lain yang
melakukan bisnis dengan Perseroan, yang meliputi:

 Etika bisnis perseroan


 Etika perilaku individu
 Sosialisasi dan pelaporan atas pelanggaran
 Pernyataan kepatuhan code of conduct

Perseroan memiliki sistem nilai yang dianut dan dijalankan guna membangun
budaya perusahaan. Filosofi dasar dalam membangun sistem nilai tersebut adalah
sikap kerja “PTPRS,” yaitu Percaya, Terbuka, Positif, Rasional dan Sadar Biaya
& Lingkungan. Nilai-nilai tersebut dijabarkan dalam budaya kerja “SiPrima” –
Sinergi, Profesional, Beriman.

Sebagai pelengkap dan bagian atas Panduan GCG, Perseroan telah menyusun dan
menetapkan serangkaian aturan kebijakan pokok operasional, untuk menunjang
penerapan tata-kelola perusahaan yang baik, mencakup di antaranya:

 Aturan dan Tatalaksana Sistem Pelaporan Pelanggaran(Whistleblower


Policy)
 Pengelolaan Risiko
 Transaksi Benturan Kepentingan
 Transaksi Orang Dalam
 Manajemen Kinerja
 Manajemen Mutu
 Transaksi Afiliasi
 Pemberian dan Penerimaan Hadiah
 Pengadaan Barang/Jasa

Perseroan senantiasa berupaya menerapkan prinsip-prinsip dasar GCG secara


konsekuen dalam melaksanakan kegiatan

operasionalnya. Hal ini dapat dijelaskan pada uraian singkat mengenai penerapan
prinsip-prinsip dasar sebagai berikut.

 Penerapan asas Transparansi


 Penerapan asas Akuntabilitas
 Penerapan asas Responsibilitas
12

 Penerapan asas Independensi


 Penerapan asas Kewajaran / Fairness

UNIT BISNIS PENJUALAN


PTBA mempunyai 8 (delapan) merek batubara yang berbeda:

Semua merek batubara yang dipasok oleh PTBA merupakan batubara dengan
kandungan/kadar abu yang rendah, kadar sulfur rendah dan ramah lingkungan.

Dengan adanya tiga dermaga/pelabuhan yang telah terintegrasi, PTBA memiliki


lokasi yang sempurna untuk melayani pasar dunia dan memenuhi kebutuhan
spesifik pelanggan.

PTBA menjual batubara ke pasar domestik dan ekspor dengan harga bersaing.
Penjualan dapat dilakukan berdasarkan kontrak penjualan jangka panjang dan
melalui pasar spot, sedangkan harga jual selalu berdasarkan pada harga batubara
termal internasional.
&nbsp