Anda di halaman 1dari 91

1

KARYA TULIS ILMIAH

HERNIA INGUINALIS
2

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang

Kesehatan adalah modal utama bagi manusia, kesehatan merupakan bagian

yang terpenting dalam menjaga kelangsungan hidup seseorang. Jika seseorang

sedang tidak dalam kondisi prima, maka segala aktivitasnya terganggu seperti

makan, minum, aktivitas yang biasa dilakukan sendiri tetapi saat sakit semua

menjadi tidak dapat dilakukan sendiri.

Kesehatan merupakan masalah berharga dan sangat penting dalam

berbagai tatanan kehidupan manusia. Perhatian masyarakat terhadap kesehatan

saat ini semakin besar, sehingga meningkatkan tuntutan masyarakat terhadap

perawatan yang berkualitas. Maka sebagai perawat dituntut memiliki pengetahuan

dan keterampilan yang memadai agar dapat memberikan pelayanan dengan baik.

Perkembangan ilmu pengetahuan tentang ilmu bedah saat ini sangat pesat.

Hal ini juga harus didukung dengan peningkatan pemberian perawatan pada klien

penderita penyakit bedah. Hernia merupakan salah satu penyakit yang seringkali

ditemui pada penderita penyakit bedah, dimana hernia sendiri bermacam-macam

jenisnya disesuaikan menurut letaknya seperti; hernia inguinalis, hernia scrotalis,

hernia umbilikalis, hernia epigastrika, hernia lumbalis, hernia femoralis dan lain-

lain.
3

Insiden hernia inguinalis pada bayi dan anak-anak antara 1 dan 2%.

Kemungkinan terjadi hernia pada sisi kanan 60%, sisi kiri 20-25% dan bilateral

15%. Kejadian hernia bilateral pada anak perempuan dibandingkan laki-laki kira-

kira sama (10%) walaupun frekuensi prossessus vaginalis yang tetap terbuka lebih

tinggi pada perempuan. Anak yang pernah menjalani operasi pada waktu bayi

mempunyai kemungkinan 16% mendapat hernia kontralateral pada usia dewasa.

Insidens hernia inguinalis pada orang dewasa kira-kira 2%. Kemungkinan

kejadian hernia bilateral dari insidens tersebut mendekati 10%.

Berdasarkan data yang diperoleh dari bagian rekam medik Rumah Sakit

Umum Daerah Kota Bandung, jumlah penderita yang mengalami hernia inguinalis

lateralis yang telah dilakukan tindakan operasi di ruang perawatan bedah pada

tahun 2011 berdasarkan pengelompokan 10 (sepuluh) besar penyakit adalah

sebagai berikut :

Tabel 1.1
Distribusi Frequensi 10 Besar Penyakit di Ruang Bedah RSUD Kota
Bandung Periode Januari 2011 – Desember 2011

NO DIAGNOSA JUMLAH JUMLAH


1 HIL 75 27,37%
2 FAM 34 12,4%
3 LIPOMA 30 10,94%
4 GANGLION 29 10,58%
5 KISTA ATHEROMA 29 10,58%
6 TONSILITIS KRONIS 23 8,39%
7 APP CHRONIC 19 6,93%
8 HAEMORHOID INTERNAL 14 5,10%
9 BPH 13 4,74%
10 ULCUS DM 8 2,91%
JUMLAH 274
4

Sumber : Bagian Rekam Madik RSUD Kota Bandung, Juni 2012


Dari tabel diatas maka kasus tindakan Hernioraphy ataupun herniotamy adalah

solusi tepat untuk mengatasi komplikasi dari hernia inguinalis lateralis (HIL) Hal

ini terlihat pada tabel Distribusi Frequensi 10 Besar Penyakit di Ruang Bedah

RSUD Kota Bandung Periode Januari 2011 – Desember 2011. Yang mana

penyakit hernia ingunalis lateralis yang telah dilakukan tindakan operasi baik

hernioraphy maupun herniotamy adalah sebanyak 75 orang (27,37%)

Menghindari terjadinya komplikasi yang tidak diharapkan setelah tindakan

operasi hernioraphy ataupun herniotomy seperti: hematom dan infeksi luka adalah

masalah yang paling sering terjadi. Komplikasi yang lebih serius seperti

perdarahan, osteitis atau atropy testis terjadi kurang dari 1 % pada pasien yang

menjalani hernioraphy. Klien pasca hernioraphy memerlukan parawatan dan

perhatian khusus untuk segera mamulihkan kondisi tubuhnya, dan mampu

memenuhi kebutuhan sehari-harinya sehingga tidak terus menerus tergantung

pada bantuan orang lain dan dampak pasca operasi hernia terhadap kebutuhan

dasar manusia dapat terpenuhi. Adapun dampak pasca operasi hernia terhadap

kebutuhan dasar manusia adalah sebagai berikut


5

Dampak Pasca Operasi Hernia Terhadap Kebutuhan Dasar


Manusia:

Hernia

↓ Post operasi ↓

Luka terbuka ↓ Perubahan


status
↓ Terputusnya kontuinitas jaringan
kesehatan
Port D’ Entry ↓

↓ Mengeluarkan zat-zat proteolitik
Stressor pada
(Bradakinin, histamine dan prostaglandin) klien
Resiko infeksi
↓ ↓

merangsang ujung-ujung syaraf tepi Koping tak


efektif


dihantarkan oleh afferent 1-2 segmen di dorsal
Kecemasan
rool menuju hipotalamus

Dikembalikan oleh syaraf efferent
Perawatan di rumah

Kerusakan Jaringan
Persepsi nyeri
Kurangnya informasi

Resiko tinggi terhadap
aktivitas dibatasi komplikasi
Kurang pengetahuan

gerakan terbatas
Penatalaksanaan di
rumah ↓

Kurang Perawatan Diri


6

Berdasarkan hal tersebut diatas maka penulis tertarik untuk membuat Karya

Tulis Ilmiah (KTI) dengan mengangkat judul “Asuhan Keperawatan Pada Anak.

D Dengan Gangguan Sistem Pencernaan : Post Op Hernioraphy POD Ke 4 atas

indikasi Hernia Inguinalis Lateral Sinistra Reponibel di ruang Perawatan Bedah

Rumah Sakit Umum Daerah Kota Bandung”, dengan rumusan masalah

bagaimana keperawatan terhadap An. D dengan post op hernioraphy POD ke 4

atas indikasi hernia inguinalis lateral sinistra reponibel di Rumah Sakit Umum

Daerah Kota Bandung

B. Tujuan Penulisan

1. Tujuan umum

Mendapatkan pengalaman nyata tentang Asuhan Keperawatan

pada An. D dengan Post Op Hernioraphy POD ke 4 Atas Indikasi

Hernia Inguinalis Lateral Sinistra reponibel di Rumah Sakit Umum

Daerah Kota Bandung khususnya di Ruang Perawatan Bedah.

2. Tujuan khusus

Memperoleh pengalaman nyata tentang tahap proses perawatan An. D

dengan Post Op Hernioraphy POD ke 4 Atas Indikasi Hernia

Inguinalis Laterais Sinistra Reponibel di Ruang Perawatan Bedah

Rumah Sakit Umum Daerah Kota Bandung, yang meliputi:

a. Pengkajian keperawatan pada klien dengan hernia inguinalis.

b. Penentuan diagnosa keperawatan

c. Membuat perencanaan yang disesuaikan dengan diagnosa


7

keperawatan

d. Melaksanakan tindakan yang sudah direncanakan

e. Mengevaluasi hasil dari tindakan yang telah dilaksanakan

f. Mendokumentasikan Asuhan keperawatan

C. Metode Penulisan

Penyusunan karya tulis ilmiah ini penulis menggunakan metode

deskriptif dengan pendekatan studi kasus yaitu metode ilmiah yang bersifat

mengumpulkan data, menganalisis data dan menarik kesimpulan data.

Penulisan karya tulis ilmiah ini sumber data didapat dengan cara:

1. Wawancara yaitu dengan mengajukan pertanyaan langsung pada klien

dan keluarga untuk menggali permasalahan klien.

2. Observasi dengan cara pengumpulan data melalui hasil pengamatan.

3. Pemeriksaan fisik yaitu cara pengumpulan data melalui inspeksi, palpasi,

perkusi, auskultasi, dan pemeriksaan fisik lainnya seperti pemeriksaan ke

12 saraf kranial.

4. Studi dokumentasi keperawatan dengan mempelajari dokumentasi klien

yang terdapat dalam status yang berisikan catatan keperawatan klien.

5. Studi kepustakaan yaitu mempelajari literatur-literatur yag berkaitan atau

relevan dengan isi karya tulis.

D. Sistematika Penulisan
8

Penulisan karya tulis ini disusun secara singkat dan sistematis, dimana

penyusunannya dibagi dalam Empat bab.

Bab pertama : Pendahuluan yang berisi latar belakang masalah,

tujuan penulisan, metode penulisan dan sistimatika

penulisan.

Bab kedua : Tentang landasan teori yang berisi konsep dasar dan

asuhan keperawatan yang meliputi dua bagian, yaitu

yang pertama konsep dasar penyakit yang terdiri dari

pengertian, anatomi fisiologi region inguinalis,

etiologi, patofisiologi, tanda dan gejala,

penatalaksanaan dan komplikasi. Sedangkan

dibagian kedua adalah asuhan keperawatan yang

terdiri dari pengkajian, diagnosa keperawatan,

perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi, dimana

semua berdasarkan teori.

Bab ketiga : Tinjauan kasus dan pembahasan yang menerangkan

tentang kasus yang terjadi dan pelaksanaan asuhan

keperawatan An.D dengan hernia diruang perawatan

bedah Rumah Sakit Umum Daerah Kota Bandung

yang terdiri dari dua bagian. yang pertama tinjauan

kasus berisi : pengkajian, analisa data, diagnosa

keperawatan, perencanaan, implementasi, evaluasi

dan catatan perkembangan. Yang kedua pembahasan


9

berisi : pengkajian, perencanaan, pelaksanaan,

evaluasi.

Bab keempat : Kesimpulan dan rekomendasi yang berisi

kesimpulan dan rekomendasi


10

BAB II

TINJAUAN TEORITIS

A. KONSEP MEDIK

1. Definisi

a. Hernia adalah menonjolnya suatu organ atau struktur organ dari

tempatnya yang normal melalui sebuah defek congenital atau

yang didapat (Long, Barbara. C, 1996)

b. Hernia adalah suatu keadaan menonjolnya isi usus suatu rongga

melalui lubang (Oswari, E, 2000)

c. Hernia adalah penonjolan isi perut dari normal melalui lubang

kongenital atau didapat (Juraidi, Purnawan, 2000)

d. Hernia adalah penonjolan sebuah organ, jaringan atau struktur

melewati dinding rongga yang secara normal memang berisi

bagian-bagian tersebut (Nettina, 2001)

e. Hernia adalah Protrusi atau penonjolan isi suatu rongga melalui

defek atau bagian lemah dari dinding rongga bersangkutan

(Sjamsuhidayat, R dan Jong, Wim de, 2004)

dari beberapa pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa hernia

merupakan penonjolan sebuah organ, jaringan, atau struktur melalui

defek kongenital atau didapat


11

2. Anatomi Fisiologi Region Inguinali

Kanalis inguinalis dibatasi dikraniolateral oleh anulus

inguinalis internus yang merupakan bagian terbuka dari fasia

transpersalis dan aponeurosis M.oblikus eksternus.Atapnya adalah

aponeurosis M. Oblikus eksternus, dan didasarnya terdapat

ligamentum inguinale. kanal berisi tali sperma pada lelaki, dan

ligamentum rotundum pada perempuan.

Hernia inguinalis indirek, disebut juga hernia inguinalis

lateralis, karena keluar dari peritonium melalui angulus inguinalis

internus yang terletak lateral dari pembuluh epigastrika inferior,

kemudian hernia masuk kedalam kanalis inguinalis dan jika cukup

panjang, menonjol keluar dari anulus inguinalis eksternus. apabila

hernia ini berlanjut, tonjolan akan sampai ke scrotum, ini disebut

hernia scrotalis.
12

Gambar 2.1
Anatomi Region Inguinali

Sumber : www.wikipedia.com

Kanalis inguinalis adalah kanal yang normal pada fetus. Pada bulan

ke-8 kehamilan terjadi desensus testis melalui kanal tersebut.

Penurunan testis tersebut akan menarik peritoneum ke daerah scrotum

sehingga terjadi penonjolan scrotum yang disebut dengan prosesus

vaginalis peritonei. pada bayi yang sudah lahir, umumnya prosesus ini

telah mengalami obliterasi sehingga isi rongga perut tidak dapat

melalui kanalis tersebut. Namun dalam beberapa hal, seringkali


13

kanalis ini tidak menutup. karena testis kiri turun terlebih dahulu,

maka kanalis inguinalis kanan lebih sering terbuka. Bila kanalis kiri

terbuka maka biasanya yang kanan juga terbuka. Dalam keadaan

normal, kanalis yang terbuka ini akan menutup pada usia 2 bulan

(Mansjoer dkk, 2002 : 314)

3. Etiologi

a. Anomali congenital

b. Melemahnya otot – otot abdomen

c. Tekanan intra abdomen seperti :

1) Mengejan saat defekasi dan miksi.

2) Batuk menahun.

d. Penyebab lain yang memungkinkan terjadinya hernia adalah :

1) Hernia inguinalis indirect, terjadi pada suatu kantong

kongenital sisa dan prosesus vaginalis.

2) Kerja otot yang terlalu kuat.

3) Mengangkat beban yang berat

4) Batuk kronik

5) Mengejan sewaktu miksi dan defekasi Peregangan otot

abdomen karena meningkatnya tekanan intra abdomen

seperti obesitas dan kehamilan.


14

e. Penyebab lain yang memungkinkan terjadinya hernia adalah

lemahnya dinding rongga perut. Dapat ada sejak lahir

atau didapat kemudian dalam hidup karena :

1) Akibat dari pembedahan sebelumnya.

2) Kongenital.

3) Hernia kongenital sempurna.

Bayi sudah menderita hernia karena adanya defek pada

tempat-tempat tertentu.

4) Hernia kongenital tidak sempurna Bayi dilahirkan normal

(kelainan belum tampak) tapi dia mempunyai defek pada

tempat-tempat tertentu (predisposisi) dan beberapa bulan

(0 – 1 tahun) setelah lahir akan terjadi hernia melalui

defek tersebut karena dipengaruhi oleh kenaikan tekanan

intraabdominal (mengejan, batuk, menangis).

5) Aquisal adalah hernia yang bukan disebabkan karena

adanya adanya defek bawaan tetapi disebabkan oleh faktor

lain yang dialami manusia selama hidupnya, antara lain :

a) Tekanan intraabdominal yang tinggi.

Banyak yang dialami oleh pasien yang

sering mengejan baik saat BAB maupun BAK.

b) Konstitusi tubuh

Orang kurus cenderung terkena hernia karena

jaringan ikatnya yang sedikit. Sedangkan pada orang


15

gemuk juga dapat terjadi hernia karena banyaknya

jaringan lemak pada tubuhnya yang menambah

beban kerja jaringan ikat penyokong pada Locus

minoris resistance (LMR).

c) Banyaknya preperitoneal fat banyak terjadi pada

orang gemuk.

d) Distensi dinding abdomen karena peningkatan

tekanan inrta abdomen

e) Sikatrik

f) Penyakit yang melemahkan dinding perut.

4. Bagian dan klasifikasi hernia

a. Bagian-Bagian Hernia

1) Kantong hernia

Pada hernia abdominalis berupa peritoneum parietalis.

Tidak semua hernia memiliki kantong, misalnya hernia

insisional, hernia adipose, hernia intertitialis.

2) Isi hernia

Berupa organ atau jaringan yang keluar melalui kantong

hernia, misalnya usus, ovarium dan jaringan penyangga

usus (omentum).

3) Pintu hernia
16

Merupakan bagian locus minoris resistance yang dilalui

kantong hernia

4) Leher hernia

Bagian tersempit kantong hernia yang sesuai dengan

kantong hernia.

5) Locus minoris resistance (LMR).

b. Klasifikasi Hernia

1) Menurut lokasinya

a) Hernia inguinalis

Hernia yang terjadi dilipatan paha, jenis

ini merupakan yang tersering dan dikenal dengan

istilah turun berok atau buntu.

b) Hernia umbilikus adalah di pusat

c) Hernia femoralis adalah di paha

2) Menurut isinya

a) Hernia usus halus

b) Hernia omentum

3) Menurut penyebabnya

a) Hernia kongenital

b) Hernia traumatika

c) Hernia insisional akibat pembedahan sebelumnya

4) Menurut terlihat dan tidaknya


17

a) Hernia externs

Misalnya: Hernia inguinalis, scrotalis dan

sebagainya.

b) Hernia interns

Misalnya: Hernia diafragmatika, hernia foramen

winslowi, hernia doturaforia

5) Menurut keadaannya

a) Hernia incarserata

Bila isi kantong terperangkap, tidak dapat kembali

ke dalam rongga perut disertai akibat yang berupa

gangguan pasase atau gangguan vaskularisasi.

b) Hernia strangulata

Jika bagian usus yang mengalami hernia terpuntir

atau membengkak dapat mengganggu aliran darah

normal dan pergerakan otot serta dapat

menimbulkan penyumbatan usus dan kerusakan

jaringan.

6) Menurut Nama Penemunya

a) Hernia Petit

Yaitu hernia di daerah hernia lumbosakral.

b) Hernia Spigelli
18

Yaitu hernia yang pada linea sirkulasi di atas

penyilangan vas epigastrika inferior pada muskulus

rektus abdominalis.

c) Hernia Richter

Yaitu hernia dimana sebagian dinding usus yang

terjepit

7) Menurut Sifatnya

a) Hernia Reponibel

Adalah bila isis hernia dapat keluar masuk, isi

hernia keluar bila berdiri atau mengedan dan

masuk lagi jika berbaring atau didorong

masuk., tidak ada keluhan nyeri atau gejala

obstruksi usus.

b) Hernia Irreponibel

Adalah bila isis kantong hernia tidak dapat

dikembalikan kedalam rongga.

8) Jenis Hernia Lainnya

a) Hernia pantolan adalah hernia inguinalis dan hernia

femoralis yang terjadi pada paha satu sisi dan

dibatasi oleh fasa epigastrika inferior.


19

b) Hernia scrotalis adalah hernia inguinalis yang isinya

masuk ke skrotum secara lengkap.

c) Hernia litter adalah hernia yang isinya adalah

divertikulum meckeli

5. Patofisiologi

Hernia adalah potrusi atau penonjolan isi suatu rongga melalui

defek atau bagian lemah dari dinding rongga bersangkutan (R.

Sjamsuhidjat, 1997). Hernia inguinalis dapat terjadi karena anomali

kongenital atau karena yang didapat (mengangkat beban berat,

ngedan), hernia dapat terjadi pada semua umur, lebih banyak pada

pria dibandingkan pada wanita. Faktor yang dipandang berperan

kausal adalah adanya prosesus vaginalis yang terbuka, dan

kelemahan otot dinding perut karena usia.

Proses turunnya testis mengikuti prosesus vaginalis. Pada

neonatus kurang lebih 90% prosesus vaginalis tetap terbuka

sedangkan pada bayi umur satu tahun sekiar 30% prosesus vaginalis

belum tertutup. Tetapi kejadian hernia pada umur ini hanya

beberapa persen. Tidak sampai 10% anak dengan prosesus vaginalis

paten menderita hernia. Pada anak dengan hernia unilateral dapat

dijumpai prosesus vaginalis paten kontralateral lebih dari separo,

sedangkan insidens hernia tidak melebihi 20%. Umumnya

disimpulkan bahwa adanya prosesus vaginalis yang paten bukan

merupakan penyebab tunggal terjadinya hernia tetapi diperlukan


20

faktor lain seperti anulus ingunalis yang cukup besar. Tekanan

intraabdomen yang meninggi secara kronik seperti batuk kronik,

hipertrofi prostat, konstipasi, dan asites sering disertai hernia

ingunalis.

Insidens hernia meningkat dengan bertambahnya umur mungkin

karena meningkatnya penyakit yang meninggikan tekanan

intraabdomen dan jaringan penunjang berkurang kekuatannya. Dalam

keadaan relaksasi otot dinding perut, bagian yang membatasi anulus

internus turut kendur. Pada keadaan itu tekanan intraabdomen tidak

tunggi dan kanalis inguinalis berjalan lebih vertikal. Sebaliknya bila

otot dinding perut berkontraksi, kanalis inguinalis berjalan lebih

transversal dan anulus inguinalis tertutup sehingga dapat mencegah

masuknya usus kedalam kanalis inguinalis. Kelemahan otot dinding

perut antara lain terjadi akibat kerusakan N.ilioinguinalis dan

N.iliofemoralis setelah apendektomy. Jika kantong hernia inguinalis

lateralis mencapai skrotum disebut hernia skrotalis. Hernia ini disebut

lateralis karena menonjol dari perut lateral pembuluh epigastrika

inferior. Disebut indirek karena keluar melalui dua pintu dan saluran

yaitu anulus dan kanalis inguinalis; berbeda dengan hernia medialis

yang langsung menonjol melalui segitiga Hesselbach dan disebut

sebagai hernia direk. Pada pemeriksaan hernia lateralis, akan tampak

tonjolan berbentuk lonjong sedangkan hernia medial berbentuk

tonjolan bulat.
21

Pada bayi dan anak, hernia lateralis disebabkan oleh kelainan

bawaan berupa tidak menutupnya prosesus vaginalis peritonium

sebagai akibat proses penurunan testis ke skrotum. Hernia geser dapat

terjadi disebelah kanan atau kiri. Sebelah kanan isi hernia biasanya

terdiri dari sekum dan sebagian kolon asendens, sedangkan sebelah

kirinya terdiri dari sebagian kolon desendens.

Pada umumnya keluhan pada orang dewasa berupa benjolan di

lipat paha yang timbul pada waktu mengedan, batuk, atau mengangkat

beban berat, dan menghilang waktu istirahat baring. Pada bayi dan

anak-anak adanya benjolan yang hilang timbul di lipat paha biasanya

diketahui oleh orang tua. Jika hernia mengganggu dan anak atau bayi

sering gelisah, banyak mengis, dan kadang-kadang perut kembung,

harus dipikirkan kemungkinan hernia strangulata. (R. Sjamsuhidayat,

1997).
22

Pathways
23

Sumber:
1. Sjamsuhidayat, 1997
2. Ester, 2002
24

6. Tanda Dan Gejala

Hernia inguinalis lateralis biasanya terlihat sebagai benjolan

pada daerah inguinal dan meluas ke depan atau ke dalam skrotum.

Kadang-kadang, anak akan datang dengan bengkak skrotum tanpa

benjolan sebelumnya pada daerah inguinal. Orang tuanya biasanya

sebagai orang pertama yang melihat benjolan ini, yang mungkin

muncul hanya saat menangis atau mengejan. Selama tidur atau apabila

pada keadaan istirahat atau santai, hernia menghilang spontan tanpa

adanya benjolan atau pembesaran skrotum. Riwayat bengkak pada

pangkal paha, labia, atau skrotum berulang-ulang yang hilang secara

spontan adalah tanda klasik untuk hernia inguinalis lateralis (shochat,

2000)

Pemeriksaan fisik akan menunjukkan benjolan inguinal pada

setinggi cincin interna atau eksterna atau pembengkakan skrotum yang

ukurannya dapat berkurang atau berfluktuasi. Cara klasik memeriksa

hernia inguinalis orang dewasa dengan menempatkan jari telunjuk

pada kanalis inguinalis, yang sebenarnya pada bayi tidak perlu

dilakukan, dan ternyata bisa menyebabkan perasaan tidak enak. Hal

ini karena cincin interna dan eksterna pada dan anak paralel. Hernia

inguinalis lateralis dapat diketahui dengan meletakkan bayi tidur

terlentang dengan kaki lurus dan tangan diatas kepala. Posisi. Posisi

ini dapat menyebabkan bayi menangis menangis, dan dapat

meningkatkan tekanan intra abdomen dan akan memperlihatkan


25

benjolan di tuberkulum pubis (cincin eksterna) atau pembengkakan di

dalam skrotum. Anak yang lebih tua dapat diperiksa dengan berdiri,

yang juga akan meningkatkan tekanan intra abdomen dan

memperlihatkan hernia tersebut. Testis yang retraksi sering terjadi

pada bayi dan anak-anak dan bisa menyerupai hernia inguinalis

dengan benjolan di atas cincin eksterna. Karena itu sangat penting

meraba testis sebelum meraba benjolan inguinal. Hal ini akan

memungkinkan diferensiasi antara keduanya dan menghindari

tindakan bedah yang tidak perlu (shochat, 2000).

Pada diagnosa yang sulit, pemeriksaan rektum bisa membantu

membedakan kelainan pangkal paha akut, pemeriksa awalnya

memeriksa cincin interna pada sisi yang tidak terlihat dan kemudian

dapat mengusapkan jari telunjuk atau jari kelima ke cincin interna

pada daerah yang terlibat. Pada kasus dengan hernia inguinalis

lateralis organ dalam abdomen bisa di palpasi secara menyeluruh

melalui cincin interna. Cara ini sangat mebantu dalam membedakan

hernia inkarserasi dengan hidrokel tali akut atau kelainan inguinal lain

seperti adenitis inguinalis (shochat, 2000). Kadang sulit membedakan

hernia inguinalis total dengan hidrokel murni. Dua keadaan ini

biasanya dapat di bedakan dengan anamnesis yang cermat. Pada bayi

dengan hernia inguinalis total pembengkakan skrotum bervariasi

selama satu hari, biasanya cukup besar apabila bayi menangis atau

mengejan, dan menghilang atau kembali menjadi kecil selama


26

relaksasi. Hidrokel murni tidak berubah besarnya selama sehari tetapi

bisa secara bertahap menghilang selama usia tahun pertama. Hidrokel

dan hernia inguinalis total ini keduanya tembus pandang dan mungkin

sulit dibedakan satu sama lain karena kadang-kadang hernia inguinalis

total tidak dapat berkurang secara manual karena penyempitan di

dalam kanalis inguinalis kecil. Pada keadaan ini, anamnesis sangat di

perlukan untuk melakukan operasi. Pada beberapa keadaan anak

dengan hernia inguinalis, benjolan inguinal atau pembengkakan

skrotum mungkin tidak ada pada saat pemeriksaan fisik, dan satu-

satunya temuan mungkin penebalan funikulus spermatikus dengan

disertai tanda ”sutra”. Tanda sutra ini di dapat dengan meraba

funikulus spermatikus di atas tuberkulum pubis. Dua lapisan

peritoneum yang melekat satu sama lain akan terasa seperti sutra.

Tanda sutra yang di temukan, serta anamnesis yang baik dapat

membantu mendiagnosis hernia ingunalis. Kadang-kadang, kandung

kemih yang penuh akan mengoklusi cincin inguinal eksterna sehingga

henia tidak dapat ditunjukkan. Pengosongan kandung kencing

mungkin membantu pada keadaan ini (shochat, 2000).

Sejumlah keadaan disertai dengan kenaikan risiko terjadinya

hernia inguinalis lateralis. Meningkatnya insiden hernia inguinalis

lateralis terlihat pada keluarga dengan riwayat keluarga positif hernia

inguinalis lateralis, kistik fibrosis, dislokasi pinggul kongenital, testis

tidak turun, kelamin tidak jelas (shochat, 2000).


27

Bayi wanita dengan hernia inguinalis lateralis seharusnya

dicurigai menderita feminisasi testikuler, karena lebih dari 50%

penderita dengan feminisasi testikuler akan menderita hernia

inguinalis. Sebaliknya, insiden feminisasi testikuler pada wanita sulit

ditentukan tetapi ada sekitar 1%. Diagnosis feminisasi testikuler dapat

di buat pada saat operasi dengan mengenali kelainan gonad dalam

kantung hernia atau dengan melakukan pemeriksaan rektum, dengan

meraba uterus. Pada bayi wanita normal, uterus dengan mudah diraba

sebagai struktur linea mediana yang terpisah di bawa simfisis pubis

pada pemeriksaan rektum (shochat, 2000)

7. Komplikasi

Komplikasi hernia inguinalis lateralis bergantung pada keadaan

yang dialami oleh isi hernia. Isi hernia dapat tertahan dalam kantong

hernia inguinalis lateralis, pada hernia ireponibel: ini dapat terjadi

kalau isi hernia terlalu besar, misalnya terdiri atas omentum, organ

ekstraperitoneal atau merupakan hernia akreta. Di sini tidak timbul

gejala klinis kecuali benjolan. Dapat pula terjadi isi hernia tercekik

oleh cincin hernia sehingga terjadi hernia strangulata/ inkarserasi yang

menimbulkan gejala obstruksi usus yang sederhana. Bila cincin hernia

sempit, kurang elastis, atau lebih kaku seperti pada hernia hernia

femoralis dan hernia obturatoria, lebih sering terjadi jepitan parsial.

(Jong, 2004 ; Girl dan Mantu, 1992).


28

Jepitan cincin hernia inguinalis lateralis akan menyebabkan

gangguan perfusi jaringan isi hernia. Pada permulaan terjadi

bendungan vena sehingga terjadi udem organ atau struktur di dalam

hernia dan transudasi ke dalam kantong hernia. Timbulnya udem

menyebabkan jepitan pada cincin hernia makin bertambah sehingga

akhirnya peredaran darah jaringan terganggu. Isi hernia menjadi

nekrosis dan kantong hernia akan berisi transudant berupa cairan

serosanguinus. Kalau isi hernia terdiri usus, dapats terjadi perforasi

yang akhirnya dapat menimbulkan abses lokal, fistel, atau peritonitis

jika terjadi hubungan dengan rongga perut. Akibat penyumbatan usus

terjadi aliran balik berupa muntah-muntah sampai dehidrasi dan shock

dengan berbagai macam akibat lain. (Wim de Jong, 2004).

Hernia inkarserata ini dapat terjadi apabila isi kantong hernia

tidak dapat kembali lagi ke rongga abdomen. Organ yang

terinkarserasi biasanya usus, yang ditandai dengan gejala obstruksi

usus, yang disertai muntah, perut kembung, konstipasi, dan terlihat

adanya batas udara-air pada saat foto polos abdomen. Setiap anak

dengan gejala obstruksi usus yang tidak jelas sebabnya harus dicurigai

hernia inkarseta. Pada anak wanita organ yang sering terinkarserasi

adalah ovarium. Apabila aliran darah ke dalam organ berkurang,

terjadilah hernia strangulasi, yang menjadi indikasi pasti untuk operasi

(shochat, 2000)
29

8. Penatalaksanaan

Penanganan biasa dengan pengobatan konservatif, maupun

tindakan definitive berupa operasi. Tindakan konrsevatif antara lain:

a. Tindakan konsetvatif terbatas pada tindakan melalui reposisi dan

pemakaian penyangga atau penunjang untuk mempertahankan

isi hernia yang telah di reposisi, jika reposisi tidak berhasildalam

waktu 6 jam harus dilakukan operasi segera.

b. Pada anak-anak dengan hernia indirect irreponibel diberi terapi

konservatif dengan :

1) Obat penenang

2) Posisi trendelemburg

3) Kompres es

4) Tindakan operatif:

Pinsip dasar operasi hernia terdiri dari herniotomi, hernioplasti dan

herniografi :

a) Herniotomi: Pembebasan kantong hernia sampai pada

lehernya, kantong dibuka dan isi hernia

dibebaskan.

b) Hernioplasti: Memperkecil anulus inguinalis internus dan

memperkuat dinding kanal inguinalis

c) Herniografi: Membuat plasty di abdomen sehingga LMR

( locus minorus resistem ).


30

5) Penanganan pasca operasi

a) Pasca operasi perlu dilakukan drainase untuk

mencengah terjadinya hematoma.

b) Pasien dibaringkan dengan posisi semi fowler

agar dinding abdmen tidak tegang.

c) Diusahakan agar penderita tidak menangis

serta mengejan.

d) Dalam waktu satu bulan jangan mengangkat benda

yang berat.

e) Selama waktu tiga bulan tidak boleh melakukan

kegiatan yang dapat menaikan tekanan intra

abdomen

B. KONSEP DASAR KEPERAWATAN

1. Pengkajian

Pengkajian adalah langkah awal dari tahapan proses

keperawatan. Pengkajian harus memperhatikan data dasar pasien.

Informasi yang didapat dari klien adalah data primer, dan data yang

didapat dari orang lain adalah data skunder, catatan kesehatan klien,

informasi atau laporan laboratorium, tes diagnostik, keluarga dan

orang yang terdekat atau anggota tim kesehatan merupakan

pengkajian data dasar. Pengkajian data dasar post operasi pada hernia

inguinalis (Doenges,1999)
31

a. Aktifitas/istirahat

Gejala: Riwayat pekerjaan yang perlu mengangkat benda

berat, duduk mengemudi dalam waktu yang lama.

Membutuhkan papan matras saat tidur. penurunan

rentang gerak dari ekstremitas pada salah satu

bagian tubuh. Tidak mampu melakukan aktivitas

yang biasa dilakukan.

Tanda: Atrofi otot pada bagain tubuh yang terkena.

Gangguan dalam berjalan.

b. Eliminasi

Gejala: konstipasi, mengalami kesulitan dalam defekasi,

adanya inkontinensia / retensi urin.

c. Integrtas ego

Gejala: Ketakutan akan timbul paralisis, ansietas masalah

pekerjaan, finansial keluarga.

Tanda : Tampak cemas, depresi menghindar dari keluarga /

orang terdekat

d. Neurosensori

Gejala: Kesemutan, kekakuan kelemahan dari tangan/kaki

Tanda: Penurunan reflex tendon dalam, kelemahan otot

hipotonia. Nyeri tekan/spasme otot paraver tebralis,

penurunan persepsi nyeri (sensori)


32

e. Nyeri/Kenyamanan

Gejala: Nyeri seperti tertusuk pisau, yang akan akan

semakin memburuk dengan adanya batuk, bersin

membengkokan badan, mengangkat, defekasi,

mengangkat kaki atau fleksi pada leher, nyeri tidak

hentinya atau apisode nyeri yang lebih berat secara

intermiten, nyeri yang menjalar kaki, bokong atau

bahu / lengan: kaku pada leher. Terdengar adanya

suara “krek” saat nyeri baru timbul / saat trauma

atau merasa “punggung patah” keterbatasan untuk

mobilisasi / membungkuk kedepan.

Tanda: Sikap. dengan cara bersandar dari bagian tubuh yang

terkena, perubahan cara berjalan, berjalan terpicang-

pincang, pinggang terangkat pada bagian tubuh yang

terkena, nyeri pada palpasi.

f. Keamanan

Gejala: Adanya riwayat masalah punggung yang baru saja

terjadi.

g. Penyuluhan/pembalajaran

Gejala: Gaya hidup monoton atau hiperaktif.


33

2. Diagnosa keperawatan

Diagnosa keperawatan adalah keputusan klinis mengenai

seseorang, keluarga, atau masyarakat sebagai akibat dari masalah

kesehatan atau proses kehidupan yang aktual atau potensial

(Hidayat,2001)

Diagnosa keperawatan post oprasi yang muncul pada kasus

hernia inguinalis menurut (Doenges, 1999) adalah:

a. Gangguan rasa nyaman (nyeri) berhubungan dengan

diskontuinitas jaringan akibat tindakan operasi

b. Resiko terjadinya infeksi berhubungan dengan luka insisi

bedah/operasi.

c. Gangguan pola tidur berhubungan dengan nyeri post operasi.

d. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan umum

e. Gangguan rasa aman cemas sehubungan dengan ketidak tahuan

klien terhadap keadaan lukanya

3. Perencanaan

Perencanaan adalah bagian dari fase pengorganisasian dalam

proses keperawatan yang meliputi tujuan perawatan, menetapkan

pemecahan masalah dan menentukan tujuan perencanaan untuk

mengatasi masalah pasien. ( Hidayat, 2001 )


34

a. Rencana Keperawatan Diagnosa Post Operasi

1. Gangguan rasa nyaman ( nyeri ) berhubungan dengan

diskontuinitas jaringan akibat tindakan operasi

Tujuan: Nyeri hilang atau berkurang

Kriteria hasil :

- Klien mengungkapkan rasa nyeri berkurang

- Tanda-tanda vital normal

- pasien tampak tenang dan rileks

Intervensi

a. Pantau tanda-tanda vital, intensitas/skala nyeri

Rasional:

Mengenal dan memudahkan dalam melakukan tindakan

keperawatan

b. Anjurkan klien istirahat di tempat tidur

Rasional: Istirahat untuk mengurangi intensitas nyeri

c. Atur posisi pasien senyaman mungkin

Rasional:

Posisi yang tepat mengurangi penekanan dan mencegah

ketegangan otot serta mengurangi nyeri

d. Ajarkan tehnik relaksasi nafas dalam

Rasional:

Relaksasi mengurangi ketegangan dan membuat perasaan

lebih nyaman
35

e. kolaborasi untuk pemberian analgetik

Rasional:

Analgetik berguna untuk mengurangi nyeri sehingga

pasien menjadi lebih nyaman

2. Resiko terjadinya infeksi berhubungan dengan luka insisi

bedah/operasi.

Tujuan: Tidak ada infeksi

Kriteria hasil :

- Tidak ada tanda-tanda infeksi seperti pus.

- Luka bersih tidak lembab dan kotor

- tanda-tanda vital normal

Intervensi

a. Pantau tanda-tanda vital

Rasional:

Jika ada peningkatan tanda-tanda vital,besar kemungkinan

adanya gejala infeksi karena tubuh berusaha untuk

melawan microorganisme asing yang masuk maka terjadi

peningkatan tanda vital.

b. Lakukan perawatan luka dengan tehnik aseptik

Rasional:

Perawartan luka dengan tehnik aseptik mencegah

resiko infeksi.
36

c. Lakukan perawatan terhadap prosedur inpasif seperti

infus.

Rasional: untuk mengurangi resiko infeksi nosokomial

d. Jika ditemukan tanda infeksi kolaborasi kolaborasi untuk

pemeriksaan darah, seperti Hb dan Leukosit.

Rasional:

Penurunan Hb dan peningkatan jumlah leukosit dari

normal membuktikan adanya tanda-tanda infeksi.

e. Kolaborasi untuk pemberian antibiotik

Rasional:

Antibiotok mencegah perkembangan microorganisme

patogen

3. Gangguan pola tidur berhubungan dengan nyeri post

operasi.

Tujuan: Klien dapat tidur dengan nyaman

Kriteria hasil:

- Klien mengungkapkan kemampuanya untuk

tidur

- Pasien tidak merasa lelah ketika bangun tidur

- kwalitas dan kwantitas tidur normal


37

Intervensi

a. Mandiri

1. Berikan kesempatan untuk beristirahat/tidur sejenak,

anjurkan latihan pada siang hari, turunkan aktivitas

fisik pada sore hari

Rasional:

Karena aktivitas yang lama dapat mengakibatkan

kelelahan, aktifitas yang terprogram tanpa stimulasi

yang berlebihan meningkatkan waktu tidur

2. Hindari penggunaan “Pengikatan” secara terus

menerus

Rasional:

Resiko gangguan sensori, meningkatkan agitasi dan

menghambat waktu istirahat.

3. Evaluasi tingkat strees / orientasi sesuai

perkembangan dari hari demi hari

Rasional:

Peningkatan kebingungan, disorientasi dan tingkah

laku yang tidak kooperatif dapat melanggar pola

tidur yang mencapai tidur pulas.

4. Berikan makanan kecil sore hari, susu hangat,

mandi dan masase punggung


38

Rasional:

Meningkatkan relaksasi dengan perasaan mengantuk

5. Turunkan jumlah minum pada sore hari. Lakukan

berkemih sebelum tidur

Rasional:

Menurunkan kebutuhan akan bangun untuk pergi

kekamar mandi/berkemih selama malam hari

6. Putarkan musik yang lembut atau “suara” yang

jernih

Rasional:

Menurunkan stimulasi sensori dengan menghambat

stimulasi sensori dengan menghambat suara-suara

lain dari lingkungan sekitar yang akan menghambat

tidur nyenyak

b. Kolaborasi

1. Berikan obat sesuai indikasi : Antidepresi, seperti

Amitriptilin (Elavil); deksepin (Senequan) dan

trasolon (Desirel).

Rasional:

Mungkin efektif dalam menangani pseudodimensia

atau depresi, meningkatkan kemampuan untuk tidur,

tetapi anti kolinergik dapat mencetuskan dan


39

memperburuk kognitif dalam efek samping tertentu

(seperti hipotensi orhostatik) yang membatasi

manfaat yang maksimal.

2. Koral hidrat; oksazepam (serax); triazolam (Holcin).

Rasional:

hipnotik dosis rendah mungkin efektif dalam

mengatasi insomnia atau sindroma sundowner.

3. Hindari penggunaan difenhidramin (Benadril)

Rasional:

Bila digunakan untuk tidur, obat ini sekarang

dikontraindikasikan, karena obat ini mempengaruhi

produksi asetilkolin.

4. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan

umum

Tujuan: Klien dapat melakukan aktivitas normal

atau total.

Kriteria hasil:

- Perilaku menampakan kelakuan untuk

memenuhi kemampuan diri

- Pasien mengungkapkan mampu untuk

melakukan beberapa aktivitas tanpa dibantu.

- Koordinasi otot, tulang dan anggota gerak lainya


40

Intervensi

a. Rencanakan periode istirahat yang cukup.

Rasional:

mengurangi aktivitas yang tidak diperlukan dan

energi terkumpul dapat digunakan untuk aktifitas

seperlunya secara optimal

b. Berikan latihan aktivitas secara bertahap.

Rasional:

Tahapan-tahapan yang diberikan membantu proses

aktivitas secara perlahan dengan menghemat tenaga

namun tujuan yang tepat, mobilisasi dini.

c. Bantu pasien dalam memenuhi kebutuhan sesuai

kebutuhan.

Rasional:

Mengurangi pemakaian energi samapai kekuatan

pasien pulih kembali

d. Setelah latihan dan aktivitas kaji respon pasien

Rasional:

Menjaga kemungkinan adanya respon abnormal dari

tubuh sebagai akibat latihan


41

5. Gangguan Rasa Aman Cemas

Tujuan: Rasa Aman Klien Terpenuhi

Kriteria hasil: Klien mengerti tentang keadaan lukanya.

Intervensi

a. Jelaskan kepada klien dan keluarga tentang keadaan

lukanya

Rasional:

Dengan memberikan penjelasan kepada klien dan

keluarga tentang keadaan lukanya, akan mengurangi

atau menghilangkan keraguan, kecemasan klien,

juga menghilangkan pemikiran yang salah

b. Motivasi dan dorong klien bahwa lukanya akan

sembuh

Rasional:

Dengan motivasi klien, Klien dapat termotivasi dan

mengerti bahwa lukanya akan segera sembuh.

Sehingga rasa cemas akan berkurang

4. Pelaksanaan

Merupakan pelaksanaan rencana tindakan keperawatan yang

telah ditentukan agar kebutuhan klien terpenuhi secara optimal.

Pelaksanaan tindakan keperawatan dapat dilaksanakan sebagian oleh

klien, perawat secara mandiri, atau bekerjasama dengan tim kesehatan


42

lain. Perawat adalah sebagai pelaksana asuhan keperawatan yaitu

memberikan pelayanan perawatan dengan menggunakan proses

keperawatan.

Tahap pelaksanaan merupakan tindakan yang akan dilakukan

sesuai dengan rencana dalam rangka mengatasi masalah keperawatan

yang ada seperti, Pemeriksaan Laboratorium (Lekositosis), Periksa

tanda vital, tanda-tanda & gejala-gejala infeksi dan peradangan,

Informasikan ke dokter bila terjadi perubahan kondisi pasien (suhu,

nadi, pernafasan) dan obat-obatan seperti antibiotik dan analgetik

(Nada, 2007)

5. Evaluasi

Tahap evaluasi dalam proses keperawatan menyangkut

pengumpulan data subyektif dan obyektif yang menunjukkan

mengenai tujuan asuhan keperawatan sudah dapat dicapai atau belum,

masalah apa yang sudah dipecahkan dan apa yang perlu dikaji lagi,

direncanakan, dilaksanakan.

Menurut Ilham (2008) evaluasi merupakan tahap akhir proses

keperawatan yang merupakan aktifitas berkesinambungan dari tahap

awal (pengkajian) sampai tahap akhir (evaluasi) dan melibatkan

klien/keluarga. Dimana hasil yang ditemukan pada masa Post Operasi

yaitu, Rasa nyeri dapat teratasi, Integritas kulit baik, Infeksi tidak
43

terjadi, Penatalaksanaan perawatan dirumah dapat dilaksanakan

dengan tepat.
44

BAB III

TINJAUAN KASUS DAN PEMBAHASAN

A. Tinjauan kasus

1. Pengkajian

a. Identitas klien

Nama : An. D

Umur : 15 Tahun

No.rm : 091563

Jenis kelamin : Laki-laki

Agama : Islam

Pendidikan : SD

Alamat : Jati handap RT 06 RW XV

kelurahan Jati Handap

Kecamatan Mandala Jati

Suku bangsa : Sunda/Indonesia

Pekerjaan : Pelajar

Diagnosa : Post Op Hernioraphy POD


Ke 4 Atas Indikasi Hernia
Inguinalis Lateralis Sinistra
reponibel
Tanggal masuk : 28 Mei 2012

Tanggal operasi : 31 Mei 2012

Tanggal pengkajian : 4 Juni 2012


45

b. Identitas orang tua


1. Ayah

Nama : Tn. A

Umur : 56 Tahun

Pendidikan : Sekolah Dasar

Pekerjaan : Buruh bangunan

Agama : Islam
Hubungan dengan klien : Ayah Kandung
2. Ibu
Nama : Ny. W
Usia : 50 Tahun
Pendidikan : Sekolah Dasar
Pekerjaan : Ibu rumah tangga
Agama : Islam
Hubungan dengan klien : Ibu kandung

c. Identitas saudara kandung

No NAMA USIA HUBUNGAN

1 Ny. N 25 tahun Kakak kandung

2 Tn. R 23 tahun Kakak kandung


46

d. Riawayat Kesehatan

1). Riwayat Kesehatan Sekarang

a). ` Kaluhan Utama Saat Masuk Rumah Sakit :

Kurang lebih sejak usia klien 4 bulan orang tua

klien mengatakan muncul benjolan di perut kiri

bawah hingga ke skrotum, Benjolan muncul ketika

pasien Batuk, menangis dan saat bermain, benjolan

tersebut hilang sendiri saat klien istirahat. Klien

tidak merasakan nyeri, bila timbul benjolan orang

tua klien menyuruh klien untuk berbaring dan orang

tua klien memijat pada scrotum. Sejak sebulan yang

lalu klien berobat ke puskesmas dengan alasan

adanya benjolan pada scrotum yang lebih besar dari

biasanya, kemudian puskesmas menyarankan agar

klien berobat ke rumah sakit. Pada tanggal 28 mei

2012 pasien di antar oleh orang tuanya ke RSUD

Kota Bandung untuk memeriksakan keadaan yang

sedang dialaminya. Kemudian pasien harus

menjalani rawat inap.

b). Keluhan Utama Saat Dikaji :

Pada tanggal 4 juni 2012 dilakukan

pengkajian: Klien mengatakan nyeri pada daerah


47

luka post operasi saat klien melakukan aktivitas

berjalan, dan saat luka ditekan pada perut kiri

bawah. Nyeri akan bertambah bila klien bergerak

atau batuk, nyeri berkurang bila klien tidak banyak

bergerak atau istirahat dan setelah diberi obat. Klien

merasakan nyeri seperti di tusuk pada daerah luka

post operasi, namun tidak separah dari sebelumnya,

klien mengatakan hanya merasakan nyeri pada

daerah luka post operasi dan tidak merambat ke

bagian yang lain. Saat ditanyakan kepada klien

seberapa sakitnya nyeri yang dirasakan ketika

beraktivitas dan diberi rentang 0-10 dengan kriteria :

0 = tidak nyeri, 1-3 = ringan, 4-6 = sedang, 7-9 =

berat, 10 = sangat nyeri, klien mengatakan nyeri

yang dirasakan berada pada skala 1-3 dan lamanya

nyeri yang dirasakan < 1 menit, dan hanya muncul

ketika melakukan aktivitas.

2). Riwayat Kesehatan Dahulu :

a. Prenatal care

1. Pemeriksaan kehamilan 4 kali

2. Keluhan selama hamil tidak ada

3. Imunisasi TT 2 kali
48

b. Natal

1. Tempat melahirkan di PUSKESMAS

2. Jenis persalinan Spontan

3. Penolong persalinan Bidan

4. Cara untuk memudahkan persalinan

menggunakan obat perangsang

5. Komplikasi waktu lahir tidak ada

c. Post natal

1. Kondisi bayi BB lahir 2.900 gr, PB 49 cm

tidak mengalami penyakit kuning dan kebiruan

Ibu klien mengatakan klien tidak pernah menderita sakit

berat (kejang) keadaan sakit yang pernah di alami klien

biasanya batuk pilek ringan, klien tidak pernak mengalami

kecalakaan seperti jatuh, tenggelam dan keracunan, usaha

yang dilakukan keluarga bila klien sakit adalah membawa

berobat ke puskesms terdekat dan klien sembuh, sejak

klien usia 4 bulan timbul benjolan di lipat paha dan

biasanya sampai ke skrotum.

3). Riwayat kesehatan keluarga :

Menurut orang tua klien tidak ada keluarganya yang

menderita penyakit seperti asma, TBC, Hipertensi,


49

penyakit jantung ataupun yang seperti klien alami

walaupun pekerjaan ayah dan saudara klien adalah sebagai

buruh bangunan, namun tidak pernah menderita penyakit

keturunan dan penyakit menular lainya.

4. Riwayat imunisasi

Ibu klien mengatakan bahwa klien mendapatkan imunisasi

lengkap

5. Riwayat tumbuh kembang

a. Pertumbuhan fisik

1) Berat badan 50 kg

2) tinggi badan 160 cm

3) Waktu tumbuh gigi saat klien berusia 7 bulan

b. Perkembangan tiap tahap :

a. Tersenyum 1 bulan

b. Menggerakan kepala 1 bulan

c. Mengangkat kepala 450 2 bulan

d. Mengangkat kepala 900 3 bulan

e. telungkup 2 bulan

f. Mengambil mainan usia 5 bulan

g. Duduk dengan bantuan tangan 6 bulan

h. Berdiri 10 bulan
50

i. Berjalan 2 tahun

j. Umur 7 bulan baru bisa mengucapkan kata mama

dan papa

6. Riwayat nutrisi

a. Pemberian ASI

1. Pertama kali disusui sesaat setelah lahir

2. Cara pemberian setiap 2 jam

3. Lama pemberian hingga anak kenyang

b. Pemberian susu formula

1. Alasan pemberian untuk memenuhi kebutuhan

anak karena sejak anak usia 7 bulan produksi

ASI ibu mulai berkurang

2. Cara pemberian dengan menggunakan Dot

c. Pola perubahan nutrisi tiap tahap usia sampai saat ini

Usia Jenis Nutrisi

0-6 bulan ASI

6-12 bulan ASI + Susu formula+ Bubur saring

1-2 tahun Susu formula + Nasi, sayur,lau

2th-saat ini seperti menu orang dewasa


51

7. Riwayat psikososial

Anak tinggal di rumah bersama kedua orang tuannya,

punya kamar sendiri, rumah berada di lingkungan kota,

dan berada dekat sekolah, hubungan dengan anggota

keluarga harmonis, anak di asuh oleh kedua orang

tuannya.

8. Riwayat spiritual

Keluarga selalu memberi suport kepada klien agar selalu

mentaati perintah agama dan rajin sembahyang.

d. Reaksi Hospitalisasi

1. Pengalaman keluarga tentang sakit dan rawat inap

Keluarga klien mengatakan membawa anaknya ke rumah

sakit dengan alasan ingin mengobati penyakit yang di

derita klien agar klien dapat normal lagi, dan dokter telah

menceritakan keadaan penyakit yang di derita klien,

keluarga klien merasa cemas dengan keadaan klien yang

harus menjalani operasi, keluarga klien secara bergantian

akan menjaga klien selama dirawat.

2. Pemahaman klien tentang sakit dan rawat inap

Klien mengatakan keluarga mengantar klien ke rumah

sakit karena ingin mengobati sakit yang dialami klien,

klien tidak mengetahui tentang penyebab yang


52

mengakibatkan klien sakit, klien mendapat penjelasan

tentang keadaan sakitnya dari orang tua, dan klien merasa

senang karena klien akan segera mendapatkan pengobatan,

setelah beberapa hari menjalani rawat inap klien merasa

bosan berada di rumah sakit dalam waktu yang lama dan

ingin segera kembali ke rumah.

7. Pola-Pola Kesehatan

a. Pola Manajemen Kesehatan

Anak biasanya dibawa ke puskesmas bila mengalami sakit

batuk pilek, namun ketika usia 4 bulan muncul benjolan

dilipat paha, ibu klien membawa ke puskesmas, ibu klien

disarankan agar membawa anaknya ke Rumah Sakit untuk

tindakan lebih lanjut, karena benjolan dapat hilang

kembali bila anak di tidurkan dan di urut pada skrotum.

Maka anak tidak di bawa ke Rumah Sakit

b. Pola Kebutuhan Nutrisi

Anak mendapat minuman ASI mulai umur 0 bulan hingga

umur satu tahun. Anak mendapatkan makanan selain ASI

mulai umur 3 bulan (diberi pisang dan bubur). umur 15

bulan baru mendapatkan nasi biasa. Ibu memberikan

makanan nasi biasa tiga kali sehari dengan lauk sama

dengan keluarga. Lauk tersering adalah tempe, tahu dan

kerupuk.
53

c. Pola Eliminasi

Saat masa bayi bila pasien BAB atau BAK sejak usia >

dari 4 bulan sering menagis kencang seperti kesakitan.

Saat ini Klien BAB kurang lebih 1-2x/hari, konsistensi

lembek, BAK kurang lebih 4-6x/hari.

d. Pola Aktivitas Latihan

saat anak-anak biasanya diajak ibunya untuk berjalan

disekitar rumah dengan digendong, sejak usia 7 bulan

ibunya melatih untuk berjalan namun benjolah dilipat paha

sering kambuh, klien sering menangis bila terlalu lama.

e. Pola Istirahat Dan Tidur

Saat masih masa anak-anak klien biasanya tidur siang dari

pukul 11.00 WIB – 15.00 dan malam hari dari pukul

19.00-06.00. Klien tidak sering terbangun saat tidur


54

d. Pola Aktifitas Sehari-Hari

No Pola kebiasaan Di rumah/24 jam Di RS / 24 jam


1. Nutrisi
a. Makanan
Jenis Mie instan, nasi, Diet tinggi kalori tinggi
tahu,tempe, ikan. protein (N. TKTP)
frekuensi 3-4 kali/hari 3 kali/hari
Pantangan Tidak ada Tidak ada
Masalah Klien lebih suka makan mie Porsi makan yang
instant, dibandingkan diberikan dari rumah sakit
makan nasi,sayur dan lauk, jarang dihabiskan karena
dalam sehari pasien bisa tidak sesuai dengan selera
makan mie instan hingga 4 makan klien, dan biasanya
kali/hari namun bila makan klien hanya makan 1/3
nasi 1 kali/hari, kadang- porsi dari porsi yg
kadang dalam sehari hanya diberikan di RS
mie instan saja

b. Minuman
Jenis Air putih Air putih
Jumlah 8 gelas/hari 2000 cc 6 gelas/hari 1500cc
55

2. Eliminasi
a. Bab
Konsistensi Lembek Lembek
Frekuensi 1-2kali/hari 1 kali/hari
Warna Kuning Kuning
b. Bak
Frekuensi 2-3 kali/hari 2-3 kali/menit
Warna Kuning jernih Kuning jernih

3. Istirahat
a. Tidur siang 2-3 jam/hari 2-3 jam /hari
b. Tidur 6-8 jam 6-7 jam/hari
malam
Keluhan tidak ada Tidak ada

4. Personal
hygiene
a. Mandi 2x/hari Belum pernah
b. Gosok gigi 2x/hari 1x/hari
c. Keramas 1x/minggu tidak pernah
d. Gunting 2x/minggu tidak pernah
kuku
e. Masalah tidak ada klien selama periode post
op belum pernah mandi
karena adanya nyeri

5. Aktivitas Klien dapat melaksanakan Aktivitas dapat dilakukan


aktivitas seperti sekolah sendiri (pergi ke toilet,
bermain bola kaki berjalan dari kamar ke
teras ruang perawatan)
56

e. Pemeriksaan Fisik

1). Sistem Penafasan

Bentuk hidung simetris, septum berada di tengah,

tidak terdapat secret, tidak teraba nyeri tekan dan tidak

teraba nodul. Bentuk dada simetris, tidak ada retraksi

dinding dada, pengembangan dada simetris, bunyi nafas

vesikuler, irama nafas reguler, tidakada pernafasan cuping

hidung, respirasi 16x/menit. (Normal 14-18 Tahun 16-18

x/menit)

2). Sistem Kardiovaskular

Conjungtiva berwarna merah muda, jvp 7 cm , tidak

terlihat denyutan apeks ICS 5, ictus kordis teraba pada ICS

5 midclavikula kiri, bunyi jantung murni reguler s1 dan s2,

tidak terdengar bunyi tambahan, CRT kembali kurang dari

2 detik, akral klien teraba hangat dan tidak ada clubbing

finger, tekanan darah 100/80 mmhg, nadi 72x/menit. pada

pemeriksaan perkusi terdengar bunyi redup.

3). Sistem Pencernaan

Bentuk bibir simetris, mukosa lembab, gigi lengkap

terdapat caries pada geraham, lidah agak kotor, tidak

terdapat lesi, gusi berwarna merah muda, tidak terdapat


57

stomatitis, umbilical tidak menonjol, bising usus 8x/menit,

bentuk abdomen datar dan simetris, ada luka post operasi

di perut kiri bawah, pada perkusi terdengar tympani pada

semua kuadran, palpasi hepar tidak teraba, limpa tidak

teraba, terdapat nyeri tekan pada perut kiri bagian bawah.

4). Sistem Persyarafan

Kesadaran: compos mentis 15 ; gcs: (e= 4 , m= 6

, v= 5), orientasi klien terhadap waktu, tempat dan orang

cukup baik, terbukti klien dapat menyebutkan

keluarganya, tempat dimana di rawat dan mengingat

kejadian yang lampau dan baru di alami. Tes nervus

kranial

a. Nervus Olfaktorius (N I)

Klien mampu membedakan bau minyak kayu putih

dan bau kopi

b. Nervus Optikus (N II)

Klien dapat membaca papan nama dengan jelas pada

jarak 30 cm, lapang pandang 150.

c. Nervus Okulomotorius, Troklearis, Abdusken (N.III,

IV, VI)
58

Klien dapat menggerakan bola mata ke arah atas,

bawah kiri dan kanan, refleks cahaya positif dapat

berkedip dengan spontan.

d. Nervus Trigeminus (N.V)

Klien dapat menggerakan rahangnya tanpa rasa

nyeri, klien dapat merasakan sentuhan kapas pada

wajah.

e. Nervus Fasialis (N VII)

Klien dapat membedakan rasa asin dan manis pada

lidahnya, klien mampu mengerutkan dahi dan

tersenyum secara simetris.

f. Nervus Audiotorius (N.VIII)

Klien mampu mendengar bisikan dan merespon

pertanyaan

g. Nervus Glossofaringeus (N.IX)

Klien dapat merasakan rasa pahit, refleks menelan

positif

h. Nervus Nagus (N.X)

Klien dapat menelan, uvula terdapat di tengah dan

bergetar saat mengucapkan kata “ ah “

i. Nervus Asesorius (N.XI)

Klien dapat mengangkat bahu kanan dan kiri, klien

dapat menggerakan leher


59

j. Nervus Hipoglosus (N.XII)

Klien dapat menggerakan lidahnya ke segala arah

5). Sistem Endokrin

Tidak terdapat pembesaran kelenjar tyroid dan kelenjar

getah bening.

6). Sistem Urinaria

Tidak terdapat edema periorbital, tidak tampak

distensi kandung kemih, ginjal tidak teraba, blas kosong,

keadaan genital bersih (tidak ada gatal-gatal), terdapat

luka post circumcici, keadaan luka kering, tidak terdapat

tanda infeksi ( rubor,color, dolor, oedema, fungsiolesa ),

Produksi urine tiap jam ± 20-50cc, perkusi pada kandung

kemih terdengar bunyi tymphany, sedangkan pada ginjal

terdengar bunyi pekak dan klien tidak merasakan nyeri.

7). Sistem Muskuloskeletal

a. Ektremitas Atas

bentuk simetris, rom kiri dan kanan mampu bergerak

ke segala arah. Tidak terdapat nyeri pada daerah

persendian dan tulang, tidak tampak adanya

deformitas tulang atau kontraktur sendi, kekuatan


60

otot 5 5, klien mampu menahan tekanan penuh dari

perawat, refleks biseps ++/++, refleks triceps ++/++,

tangan kanan terpasang infus 15 tetes/menit dengan

cairan ringer laktat (RL)

b. Ekstremitas Bawah

bentuk simetris, rom kiri dan kanan bebas bergerak

ke segala arah, tidak terdapat nyeri, tidak ada

kontraktur dan deformitas, kekuatan otot 5 5, refleks

patela ++/++, refleks archiles ++/++.

8). Sitem Integumen

Kulit kepala dan rambut agak kotor, warna rambut

hitam, distribusi merata, kulit tubuh lembab, turgor kulit

baik, kuku pendek, terdapat luka pada perut kiri bagian

bawah tertutup balutan kassa, tampak kering.

9). Sistem Penginderaan

a). Sistem Pendengaran

Bentuk telinga simetris, tampak ada kotoran, klien

dapat menjawab pertanyaan dengan benar ketika

ditanya (nama, alamat, hobi), mampu mendengar


61

dengan baik (dapat mengulang dengan benar kalimat

yg diucapkan oleh petugas).

b). Sistem Penglihatan

Bentuk mata simetris, conjungtiva berwarna merah

muda, sklera berwarna putih bersih, refleks kedua

pupil terhadap cahaya positif, terjadi vasokonstriksi,

ukuran pupil 2mm.

f. Data Psikologis

1). Status Emosi

Emosi klien stabil, klien tampak tenang.

2). Pola Koping

Keluarga sering bertanya tentang penyakit yang sedang

dialami klien, keluarga mengatakan tidak memahami

tentang penyakitnya.

3). Gaya Komunikasi

Klien kooperatif dan dapat bekerja sama dengan baik

dengan perawawat

4). Konsep Diri

a) Gambaran Diri

Klien mengatakan senang setelah di operasi dan

berharap untuk cepat sembuh dan tidak kambuh lagi

sehingga dapat kembali beraktivitas.


62

b) Harga Diri

Klien mengatakan sering merasa minder dengan

teman-temanya karena penyakit yang dialami,

namun setelah di operasi klien mengatakan bahwa

klien merasa nyaman mendapat perawatan yang baik

di RSUD Kota Bandung dan berharap ingin cepat

sembuh sehingga dapat kembali ke rumah untuk

melaksanakan aktivitas.

c) Peran

Klien mengatakan saat ini dirinya tidak dapat

berperan sebagai pelajar karena sakit.

d) Identitas Diri

Klien mengatakan dirinya adalah seorang pelajar

dan anak ke dua dari kedua orang tuanya.

e) Ideal Diri

Klien berharap segera sembuh dan dapat beraktifitas

lagi seperti sebelumnya.

g. Data Sosial

Keluarga klien mengatakan hubungan klien dengan

ke dua oarang tua serta saudara baik, serta keluarga

mengatakan interaksi klien dengan teman-temannya baik


63

yang mana klien senag bermain bola kaki bersama teman-

temannya.

h. Data Spiritual

Keluarga klien mengatakan segalanya di serahkan kepada

tuhan dan berdoa semoga klien cepat di beri kesembuhan.

i. Data Penunjang

Tidak terdapat data penunjang

j. Therapy
Cefotaxime inj 3 x 1 Gram
Ketorolac inj 3 x 30 mg
64

2. Analisa Data

Setelah dilakukan validasi dan pengelompokan data kemudian


dilakukan analisa data untuk menentukan masalah keperawatan yang
mungkin muncul serta mencari penyebabnya.

No Data Interpretasi Masalah


1 Ds= Luka operasi Gangguan rasa
- Klien mengatakan ada ↓ nyaman nyeri
luka operasi pada perut merangsang ujung saraf
sebelah kiri bawah bebas
- klien mengeluh nyeri ↓
pada daerah luka operasi merangsang enzim
- klien mengatakan nyeri bradikinin, serotonin,
datang pada saat histanin
mengubah posisi dari ↓
berbaring ke duduk dan merangsang SSP pada
pada saat berjalan thalamus
- Klien mengatakan nyeri ↓
seperti ditusuk corteks cerebri interpretasi
- Skala nyeri 2 nyeri
Do= ↓
- terdapat luka post nyeri
operasi pada daerah
perut sebelah kiri bawah
- wajah klien tampak
tenang dan tangan
memegang daerah perut
saat merubah posisi
- Tampak terpasang infus
pada ekstremitas atas kiri
- TTV :
TD : 100/80mmHg
N : 72x/mt
R : 16x/mt
SB : 360 C
- Tampak adanya luka
yang masih tertutup
verban
65

No Data Interpretasi Masalah


2 DS= perubahan menu makanan Gangguan
Klien mengatakan kurang ↓ pemenuhan
suka dengan menu Penurunan nafsu makan kebutuhan
makanan RS dan ingin ↓ nutrisi:
makan mie instan intake kurang intake kurang
↓ dari
DO= gangguan pemenuhan kebutuhan
- Tampak sisa Makanan nutrisi
pada tempat makan dari
RS.
- Tampak klien minta
dibawakan makanan dari
rumah

3 DS = Luka operasi Gangguan


Klien mengatakan belum ↓ Personal
mandi sejak dilakukan Nyeri higiene
tindakan operasi ↓
Hernioraphy pada tanggal Gangguan pola aktivitas
31 Mei 2012 ↓
gangguan personal
DO= higiene
- Kulit tampak kotor
- rambut lengket dan
kotor
66

4 DS= Kurangnya informasi Gangguan


Keluarga klien ↓ rasa aman
mengatakan tidak kurang pengetahuan cemas
mengetahui tentang ↓
penyakit dan cara cemas
perawatan luka di rumah

DO=
- Keluarga menanyakan
tentang penyakit yg
sedang dialami klien
- klien tidak mendapatkan
informasi tentang
penyakitnya, ditandai
ketika ditanya tentang
hernia klien tidak dapat
menerangkan.
- keluarga klien dan klien
tampak cemas, ditandai
dengan pernyataan
keluarga klien bahwa
setelah pulang apa yg
harus dilakukan.
67

No Data Interpretasi Masalah


5 DS= Luka operasi Potensial
DO= ↓ terjadinya
- Tampak adanya luka resiko kuman berkembang infeksi
operasi pada perut kiri biak
bawah ↓
- panjang luka ± 10 cm infeksi
dan tertutup verban
- Terdapat luka post
sirkumsisi dengan
keadaan kering dan
bersih
Tampak terpasang infus
pada ekstremitas atas
68

3. Diagnosa Keperawatan

No Diagnosa keperawatan Tanggal Nama perawat Tanda


ditemukan tangan

1 Gangguan rasa nyaman nyeri 04-06-2012 Beny n k


sehubungan dengan
terputusnya kontuinitas
jaringan oleh karena insisi
pembedahan

2 Gangguan pemenuhan 04-06-2012 Beny n k


kebutuhan nutrisi sehubungan
dengan intake nutrisi tidak
adekuat

3 Gangguan personal higiene 04-06-2012 Beny n k


sehubungan dengan
keterbatasan aktifitas oleh
karena nyeri

4 Gangguan rasa aman cemas 04-06-2012 Beny n k


sehubungan dengan
kurangnya informasi tentang
penyakit dan perawatan luka

5 Potensial terjadinya infeksi 04-06-2012 Beny n k


sehubungan dengan luka
operasi
69

4. Perencanaan

Diagnose Perencanaan
No
Keperawatan Tujuan Intervensi Rasional
1 Gangguan rasa Tupan= - Observasi - Mengenal dan
nyaman nyeri, Nyeri hilang atau TTV, memudahkan
sehubungan berkurang intensitas/ska dalam
dengan Tupen= la nyeri melakukan
terputusnya Setelah tindakan
kontuinitas dilakukan keperawatan
jaringan oleh tindakan
karena insisi keperawatan - Anjurkan - Istirahat untuk
pembedahan selama 3x24 jam, pasien untuk mengurangi
Ds= diharapkan nyeri istirahat intensitas
- Klien hilang atau ditempat nyeri
mengatakan ada berkurang tidur
luka operasi Kriteria hasil
pada perut - nyeri berkurang - Atur posisi - Posisi yang
sebelah kiri atau hilang pasien tepat
bawah - TTV dalam senyaman mengurangi
- klien mengeluh batas normal mungkin penekanan dan
nyeri pada TD (terlentang, mencegah
daerah luka 120/80mmHg lateral) ketegangan
operasi N 60-80x/menit otot serta
- klien R 12-20 mengurangi
mengatakan x/menit nyeri
nyeri datang Sb 36-370 c
pada saat - Skala nyeri 0
mengubah posisi - Klien tampak
dari berbaring ke tenang dan
duduk dan pada rileks
70

saat berjalan - Ajarkan -Relaksasi


- Klien tehnik mengurangi
mengatakan relaksasi ketegangan
nyeri seperti nafas dalam dan membuat
ditusuk perasaan lebih
- Skala nyeri 2 nyaman
Do=
- terdapat luka - Kolaborasi - Analgetik
post operasi untuk berguna untuk
pada daerah pemberian mengurangi
perut sebelah analgetik nyeri sehingga
kiri bawah klien menjadi
- wajah klien lebih nyaman
tampak tenang
dan tangan
memegang
daerah perut saat
merubah posisi
- TTV :
TD
100/80mmHg
N : 72x/mt
R : 16x/mt
SB: 360 C
- Tampak
terpasang infus
pada ekstremitas
atas
- Tampak adanya
luka yang masih
tertutup verban
71

Diagnosa Perencanaan
NO
Keperawatan Tujuan Intervensi Rasional
2 Gangguan Tupan= - Beri - Pemahaman
pemenuhan Kebutuhan nutrisi penjelasan keluarga dan
kebutuhan nutrisi terpenuhi kepada klien tentang
sehubungan Tupen= keluarga pentingnnya
dengan intake Setelah dilakukan dan klien asupan nutrisi
nutrisi tidak Tindakan tentang dapat
adekuat keperawatan 3x24 pentingnya merangsang
DS= jam klien mau asupan untuk usaha
- Klien merubah pola nutrisi merubah
mengatakan makan melalui kebiasaan yang
kurang suka Dengan kriteria asupan lama
dengan menu - klien mengerti makanan
makanan RS tentang
- klien ingin pentingnya - Beri - Menumbuhkan
makan mie nutrisi melalui motivasi semangat /
instan asupan kepada keinginan
makanan keluarga klien untuk
DO= terhadap proses dan klien merubah pola
- Tampak sisa penyembuhan agar mau makan
Makanan pada luka merubah
tempat makan - klien mau pola makan
dari RS. merubah pola klien
- Tampak klien makan
minta
dibawakan
makanan dari
rumah
72

Diagnose Perencanaan
No
Keperawatan Tujuan Intervensi Rasional
3 Gangguan Tupan= - jelaskan - Agar klien dan
personal higiene Kebutuhan kepada klien keluarga dapat
sehubungan personal higiene dan keluarga termotifasi
dengan terpenuhi bahwa untuk menjaga
keterbatasan kebutuhan personal
aktifitas Tupen = personal higiene
Setelah higiene
DS = dilakukan (mandi,sikat
- Klien tindakan gigi, keranas)
mengatakan keperawatan harus tetap
belum mandi 1x24 jam dilaksanakan
sejak keluarga mampu walaupun
dilakukan membantu klien dalam keadaan
tindakan dalam sakit
operasi pemenuhan
Hernioraphy kebutuhan - ajarkan - Dengan
pada tanggal personal higiene keluarga klien pemahaman
31 Mei 2012 Kriteria : tentang tantang cara
- Keluarga tindakan melaksanakan
DO= klien dan personal tindakan maka
- Kulit tampak klien dapat higiene di keluarga dapat
kotor memahami tempat termotivasi
- Rambut pentingnya tidur(memandi untuk
lengket dan personal kan/ melaksanakan
kotor higiene seka,mencuci
- Tampak rambut, sikat
aktivitas gigi)
klien dibantu
73

- keluarga - Bimbing - kemampuan


dapat keluarga klien keluarga dapat
membantu untuk melaksanakan
klien dalam mendemokan tindakan
melaksanakan tindakan personal
personal personal higiene secara
higiene. higiene mandiri maka
kebutuhan
personal
higiene klien
dapat terpenuhi

- Berikan pujian - Menumbuhka


kepada klien n rasa percaya
tantang diri klien agar
kebersihannya klien lebih
kooperatif
dalam
memenuhi
kebutuhan
personal
higiene
74

Diagnose Perencanaan
No
Keperawatan Tujuan Intervensi Rasional
4 Gangguan rasa Tupan= - Kaji - Mengetahui
aman cemas Klien dan penyebab penyebab
sehubungan keluarga tidak cemas cemas
dengan lagi cemas
kurangnya
informasi tentang Tupen = - Beri - Dengan
penyakit dan Setelah dilakukan penjelasan pemahaman
perawatan luka tindakan kepada yang baik
DS= keperawatan, keluarga dan tentang
- Keluarga klien keluarga klien klien tentang pentingnya
mengatakan dan klien dapat pentingnya perawatan
tidak memahami perawatan luka maka
mengetahui tentang sakit luka klien dan
tentang penyakit yang sedang keluarga akan
dan cara dialami klien, lebih
perawatan luka klien tidak terus termotivasi
di rumah bertanya tentang dan kooperatif
DO= penyakitnya. dalam
- Keluarga klien perawatan
bertanya tentang luka
penyakit yang Kriteria
sedang dialami - klien dan - Ajarkan - Meningkatkan
- keluarga klien keluarga kepada kemampuan
bertanya tentang mengerti keluarga keluarga
cara perawatan tentang tentang cara tentang cara
luka di rumah keadaan sakit perawatan melaksanakan
- wajah tampak yang sedang luka perawatan
murung dialaminya luka
75

- klien dan - Bimbing - Keluarga


keluarga keluarga mampu
dapat untuk melaksanakan
melaksanakan mendemokan tindakan
perawatan cara perawatan
luka post melaksanaka luka secara
operasi secara n perawatan mandiri
mandiri luka secara
- Klien dapat mandiri
mengekspresi
kan
kecemasan
secara
konstruktif,
klien dapat
tidur dengan
tenang dan
berkomunikas
i dengan
keluarga
76

Diagnose Perencanaan
No
Keperawatan Tujuan Intervensi Rasional
5 Potensial Tupan = - Observasi TTV - Untuk
terjadinya Tidak terjadi mengidentifika
infeksi infeksi si kemajuan
sehubungan Tupen = atau
dengan luka Setelah penyimpangan
operasi dilakukan dari hasil yang
intervensi diharapkan
DS= - keperawatan
tidak terdapat - Identifikasi - Untuk
DO= tanda-tanda tanda-tanda mengenal
Tampak adanya infeksi. infeksi, seperti secara dini
luka operasi Kriteria perubahan terjadinya
pada perut kiri - Luka kering warna, infeksi
bawah dengan - Tidak ada suhu,adanya
panjang ± 10 Pus cairan yang
cm, tertutup - Pertumbuhan keluar atau
Verban dan jaringan (+) bengkak
terdapat pula - TTV dalam
luka post batas normal - Lakukan - Agar luka
sirkumsisi TD perawatan luka insisi tetap
120/80mmHg dengan tehnik dalam keadaan
N 60- aseptik steril
80x/menit
R 12-20 - Tindakan
- Anjurkan klien
x/menit perlindungan
untuk menjaga
Sb 36-370 c khusus
luka agar tetap
membantu
bersih dan
mengurangi
kering dengan
77

cara mencuci resiko infeksi.


tangan yang tindakan
baik bila pencegahan
menyentuh tersebut
darah atau melindungi
cairan tubuh klien dan
ketika merawat perawat
klien

- Lakukan - Mendapatkan
kontarak waktu persetujuan
dengan klien klien dan
dan keluarga keluarga untuk
tentang pelaksanaan
pelaksanaan kegiatan
PENKES PENKES

- Berikan - untuk
pendidikan mencegah
kesehatan kekambuhan
persiapan
pulang
- Berikan
pengetahuan
tentang tanda-
tanda infeksi
- Pemeriksaan
ulang(kontol)
3 hari setelah
keluar dari
rumah sakit
78

5,6. Implementasi Dan Evaluasi

Tgl / jam Implementasi dan evaluasi Dp Paraf


4-06-2012

09.00 WIB - Mengkaji tingkatan nyeri 1

Hasil
Klien terasa nyeri bila berjalan dan di
tekan pada daerah luka
Skala nyeri 1-3 wajah tenang menahan
sakit

09.15 WIB - Mengobservasi tanda-tanda vital 1

Hasil
Td 100/80 mmhg
N 72x/menit
R 16x/menit
Sb 360c

09.30 WIB - Menganjurkan klien istirahat di tempat 1


tidur

Hasil
Klien tatap berada di tempat tidur

09.40 WIB - Mengatur posisi klien senyaman 1


mungkin

Hasil
Klien mengatatan nyaman dengan
posisi supine dan lateral kanan

10.00 WIB - Mengajarkan tehnik relaksasi dan 1


nafas dalam

Hasil
Klien mengikuti ajaran perawat dalam
tehnik relaksasi nafas dalam
79

- Membersihkan luka dengan tehnik 5


10.15 WIB aseptik dan antisepsik
- Mengganti balutan 5

Hasil
Luka bersih
Tidak berbau

- Menganjurkan keluarga klien dan 5


10.25 WIB klien untuk menjaga luka agar tetap
bersih dan kering dengan cara
mencuci tangan

Hasil
Keluarga klien mengikuti anjuran
perawat

10.30 WIB - Memberikan penjelasan kepada klien 2


dan keluarga tentang pentingnya
asupan gizi melalui menu makanan

Hasil
Klien dan keluarga mengatakan
10.45 WIB mengerti

- MemBerikan motivasi kepada klien 2


dan keluarga agar mau merubah pola
makan klien.

Hasil
10.40 WIB
Keluarga dan klien mengatakan akan
mengusahakan pola makan klien

- Menjelaskan kepada klien dan 3


keluarga bahwa kebutuhan personal
higiene (mandi,sikat gigi, keramas)
11.00WIB harus tetap dilaksanakan walaupun
dalam keadaan sakit
80

Hasil

Klien dan keluarga mengatakan


mengerti

11.15 WIB - mengkaji penyebab cemas 4

Hasil
Keluarga mengatakan cemas karena
tidak mengetahui cara merawat luka di
rumah

11.30 WIB - melakukan kontrak dengan klien dan 5


keluarga untuk penyuluhan

hasil
klien dan keluarga menyetujui di
adakan penyuluhan

12.00 WIB - Memberikan penkes kepada klien dan 5


keluarga tentang hernia, luka operasi
dan cara perawatanya

Hasil
Keluarga mampu menyebutkan
pengertian hernia tanda dan
gejala,penyebab serta pencegahannya

12.30 WIB - melepas infus yang terpasang di 5


tangan kanan klien

hasil
klien sudah tidak terpasang infus
81

B. PEMBAHASAN

Setelah penulis melakukan asuhan keperawatan pada klien An. D di

ruang perawatan bedah RSUD Kota Bandung yang dilaksanakan pada

tanggal 4 Juni 2012, penulis menemukan kesenjangan antara konsep teori

dengan praktek yang ditemukan dilapangan, serta hal-hal yang mendukung

dan menghambat dalam pemberian asuhan keperawatan pada klien dengan

post op Hernioraphy. Adapun kesenjangan yang muncul sebagai berikut:

1. Pengkajian

Tahap pengkajian adalah tahap awal proses asuhan keperawatan,

pengkajian dilakukan melalui pendekatan sistematis yang meliputi

kegiatan pengumpulan data atau informasi tentang masalah kesehatan

dan perawyan klien.

Dalam melakukan pengkajian penulis tidak mengalami

hambatan yang berarti. Hal ini dikarenakan adanya bantuan dan

bimbingan dari perawat ruangan, pembimbing dari akademik, dan

partisipasi aktif klien dan keluarganya yang memberikan kepercayaan

kepada penulis dalam setiap tindakan yang dilakukan. Adapun

kesenjangan yang ditemukan oleh penulis, dalam tinjauan teoritis

disebutkan bahwa masalah atau diagnosa yang mungkin muncul pada

kasus klien Post op Hernioraphy adalah :

a. Gangguan rasa nyaman nyeri

b. Resiko terjadinya infeksi


82

c. Gangguan pola tidur

d. Intoleransi aktivitas

e. Gangguan rasa aman cemas

Sedangkan pada kasus yang penulis temukan dilapangan diagnosa

keperawatan yang muncul adalah:

a. Gangguan rasa nyaman nyeri

b. Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi

c. Gangguan personal higiene

d. Gangguan rasa aman cemas

e. Potensial terjadinya infeksi

Diagnosa keperawatan yang sesuai teori tetapi tidak muncul

dilapangan diantaranya :

a. Gangguan Pola Tidur

Hal ini tidak terjadi dikarenakan pada Post op Hernioraphy

POD ke 4 keadaan umum pasien sudah membaik dibuktikan

dengan skala nyeri 2, konjungtiva berwarna merah muda, dan

tidak ada keluhan susah tidur

b. Resiko Terjadinya Infeksi

Tidak terjadi karena luka operasi selalu dirawat dan

dibersihkan serta selalu tertutup dengan kasa. Tidak terdapat

tanda-tanda infeksi. Namun penulis berpendapat bahwa:

walaupun luka selalu dibersihkan dan tidak ada tanda-tanda

infeksi namun potensial terjadinya infeksi masih tetap dapat


83

terjadi yang mana sesuai hasil pemeriksaan di temukan adanya

luka post operasi, tidakan inpasif, dan luka post sirkumsisi.

c. Intoleransi Aktifitas

Tidak terjadi karena pada post operasi hernioraphy POD ke

4 ditemukan klien sudah dapat melakukan aktivitas sendiri,

dibuktikan dengan kemampuan pergi ke toilet sendiri, berjalan

dari tempat tidur ke teras ruang perawatan.

2. Perencanaan

Dalam penyusunan perencanaan, asuhan keperawatan disusun

sesuai dengan permasalahan yang muncul dengan mengacu pada

perencanaan yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi klien dan

keadaan dilapangan. Disini penulis menemukan lima diagnosa yaitu :

ganguan rasa aman nyeri sehubungan dengan terputusnya kontuinitas

jaringan oleh karena insisi pembedahan, gangguan pemenuhan

kebutuhan nutrisi sehubungan dengan intake nutrisi tidak adekuat,

gangguan personal higiene sehubungan dengan keterbatasan aktifitas

karena nyeri, gangguan rasa aman cemas sehubungan dengan

kurangnya informasi tentang penyakit dan perawatan luka, potensial

terjadinya infeksi sehubungan dengan luka operasi, Intervensi yang

dilakukan mengkaji tingkatan nyeri, mengobservasi tanda-tanda vital,

menganjurkan klien istirahat di tempat tidur, mengatur posisi klien

senyaman mungkin, mengajarkan tehnik relaksasi nafas dalam,


84

membersihkan luka dengan tehnik aseptik, mengganti balutan,

memberi penjelasan tentang merawat luka, pentingnya asupan gizi,

dan kebutuhan personal higiene, mengkaji penyebab cemas serta

memberikan motivasi kepada klien tentang pola makan.

Dalam penyusunan perencanaan ini penulis tidak terlalu banyak

menemukan hambatan dan kendala yang berarti, hal ini disebabkan

adanya faktor pendukung antara lain

a. Klien dan keluarganya dapat bekerja sama dalam pelaksanaan

asuhan keperawatan

b. pembimbing dari akademik maupun dari ruangan yang

senantiasa memberikan arahan dan bimbingan kepada penulis

c. Tersedianya literatur yang cukup mendukung baik sebagai

panduan dari penulis dalam perencanaan asuhan keperawatan,

tindakan, evaluasi bahkan sampai penulisan karya tulis ini

3. Tahap Pelaksanaan

Dalam melaksanakan tindakan keperawatan tetap memegang

konsep dan teori. Adapun diangnosa keperawatan yang muncul saat

pelaksanaan dilapangan ada yang berbeda dengan teori yaitu

gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi sehubungan dengan intake

nutrisi yang tidak adekuat adalah berhubungan dengan kebiasaan pola

makan pasien yang lebih menyukai mie instan dari pada makanan
85

yang disediakan dari rumah sakit sehingga dalam intervensi

keparawatan hanya dilakukan penyuluhan dan pemberian motivasi.

Pada tahap ini penulis melaksanakan asuhan keperawatan sesuai

dengan perencanaan yang telah ditetapkan, sesuai dengan kebutuhan

yang dirasakan klien. Selama melaksanakan asuhan keperawatan pada

An, D terjalin kerja sama yang baik dengan penulis, perawat ruangan

dan keluarga. Namun penulis mendapat kesulitan dalam mengikuti

perkembangan terutama setelah pasien pulang, karena penulis tidak

dapat melaksanakan asuhan keperawatan setelah pasien pulang. akan

tetapi penulis menggunakan alternati pemecahan masalah yakni

dengan melakukan kunjungan ke rumah pasien guna melanjutkan

intervensi keperawatan yang sudah direncanakan dan memantau

perkembangan kesehatan pasien yang dilaksanakan selama 2 hari,

Sehingga semua intervensi keperawatan yang dibuat dapat

dilaksanakan semua.

4. Tahap Evaluasi

Tahap ini merupakan tahap terahir dari proses keperawatan yang

bertujuan menilai kemajuan klien setelah mendapat asuhan

keperawatan. Secara umum hasil pelaksanaan penulis tidak

mengalami hambatan yang berarti karena semua tindakan dapat

dievaluasi secara langsung sesuai dengan kriteria yang telah

ditetapkan. Setelah melakukan asuhan keparawatan pada tanggal 4


86

Juni 2012 dan foloow up pada tanggal 5-6 Juni 2012, kondisi secara

umum mengalami kemajuan kearah penyembuhan. Pada dasarnya

semua masalah yang didapat pada klien telah teratasi seluruhnya,

namun pada proses perawatan luka masih membutuhkan tidakan

selanjutnya mengganti verban dan kontrol, berhubung dengan

keterbatasan waktu dan tenaga yang penulis miliki penulis

menganjurkan dan menyarankan kepada klien dan keluarga agar tetap

merawat luka sesuai dengan apa yg telah diajarkan dan untuk kontrol

pada hari yang telah ditetapkan.


87

BAB IV

KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

A. Kesimpulan

Setelah memberikan asuhan keperawatan pada klien dengan gangguan pada

sistem pencernaan ; Post Op Hernioraphy POD ke 4 di Ruang perawatan Bedah

RSUD Kota Bandung dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :

1. Pengkajian

Dalam tahap pengkajian penulis mampu melaksanakan anamnesa baik

kepada klien maupun keluarga, baik secara langsung melalui wawancara

ataupun melalui pemeriksaan fisik yang meliputi inspeksi, perkusi, palpasi,

dan auskultasi yang dilakukan secara persistem. Didapatkan data sebagai

berikut : Nyeri pada daerah luka operasi saat melakukan aktivitas. Tekanan

darah 100/80 mmHg, Nadi 72 x/menit, Respirasi 16 X/ Menit, Suhu 360C.

Tampak adanya luka post op hernioraphy pada perut kiri bawah, porsi

makan 1/3 dari porsi yang disediakan, kulit tampak kotor, rambut lengket,

klien tampak bingung dengan keadaan sakitnya.

2. Tahap Perumusan Diagnosa Keperawatan

Setelah pengelompokan data dan analisa data didapatkan masalah

keperawatan yang tibul. Diagnosa keperawatan yang muncul pada klien

gangguan sistem pencernaan ; post op hernioraphy adalah : ganguan rasa

aman nyeri sehubungan dengan terputusnya kontuinitas jaringan oleh karena


88

insisi pembedahan, gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi sehubungan

dengan intake nutrisi tidak adekuat, gangguan personal higiene sehubungan

dengan keterbatasan aktifitas karena nyeri, gangguan rasa aman cemas

sehubungan dengan kurangnya informasi tentang penyakit dan perawatan

luka, potensial terjadinya infeksi sehubungan dengan luka operasi.

3. Tahap Perencanaan

Dalam tahap perencanaan perlu dilakukan kerjasama yang baik antara

perawat dan tim kesehatan yang lain guna mengatasi permasalahan yang

dihadapi oleh klien sehingga tujuan yang diharapkan tercapai. Dalam

perencanaan tindakan keperawatan harus disesuaikan dengan sarana dan

prasarana yang ada agar rencana keperawatan dapat dilaksanakan dengan

baik dan lancar. Perencanaan keperawatan pada klien gangguan sistem

pencernaan ; Post Op Hernioraphy antara lain Observasi TTV, kaji tingkat

nyeri, ajarkan klien tehnik relaksasi dengan nafas dalam, anjurkan klien

istirahat di tempat tidur, atur posisi klien senyaman mungkin, lakukan

perawatan luka dengan tehnik aseptik, Ganti balutan, berikan motivasi dan

PENKES.

4. Tahap Pelaksanaan

Pelaksanaan asuhan keperawatan terhadap klien Post Op Hernioraphy

disesuaikan dengan perencanaan yang telah ditetapkan, disamping itu harus

disesuaikan pula dengan situasi, kondisi dan kemampuan yang ada, serta
89

respon klien terhadap Pelaksanaan asuhan keperawatan yang dilakukan.

Asuhan keperawatan yang dilakukan penulis terhadap klien tidak terlepas

dari adanya kerjasama yang baik dari klien, keluarga dan perawat

ruangan lainnya.

5. Tahap Evaluasi

` Evaluasi yang dibuat untuk menilai tentang perkembangan keadaan

klien disesuaikan dengan tujuan yang diharapkan serta sesuai dengan acuan

yang telah ditetapkan dengan melibatkan peran serta klien dan keluarga

baik secara langsung ataupun tidak langsung. Evaluasi hasil dari

pelaksanaan asuhan keperawatan dilakukan dengan kriteria evaluasi untuk

melihat sejauh mana respon klien terhadap tindakan keperawatan yang telah

diberikan. Berdasarkan evaluasi selama dilakukan proses asuhan

keperawatan pada tanggal 4 Juni 2012 dan follow up tanggal 5-6 Juni

2012, semua masalah keperawatan yang muncul diantaranya : ganguan rasa

aman nyeri sehubungan dengan terputusnya kontuinitas jaringan oleh karena

insisi pembedahan, gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi sehubungan

dengan intake nutrisi tidak adekuat, gangguan personal higiene sehubungan

dengan keterbatasan aktivitas oeleh karena nyeri, gangguan rasa aman

cemas sehubungan dengan kurangnya informasi tentang penyakit dan

perawatan luka, potensial terjadinya infeksi sehubungan dengan luka

operasi, dapat teratasi.


90

B. REKOMENDASI

Setelah penulis memberikan asuhan keperawatan pada klien An. D dengan

gangguan sistem pencernaan : Post Op Hernioraphy POD ke 4 secara sistematis

dan berkelanjutan, penulis akan memberikan beberapa rekomendasi yang sifatnya

membangun diantaranya kepada :

1. Klien dan Keluarga

Agar tetap ikut serta dalam pelaksanaan tindakan keperawatan

ataupun tindakan medik lainnya guna mempercepat proses

penyembuhan klien. Disamping itu diharapkan klien dan keluarganya

mau mengikuti semua anjuran baik dari perawat maupun dari dokter

agar mau menghindari semua faktor-faktor yang dapat memperburuk

kondisi kesehatan klien

2. Perawat Ruangan

Agar dapat memberikan asuhan keperawatan dengan lebih baik.

Untuk mencapai hasil yang lebih optimal, diharapkan lebih

melengkapi sarana yang ada khususnya yang berkaitan dengan

perawatan pada klien dengan gangguan sistem pencernaan : Post Op

Hernioraphy, dan meningkatkan kerja sama antara perawat dengan tim

kesehatan lain untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Dan juga

penulis berharap kepada para perawat dengan tim kesehatan lain untuk

mencapai tujuan yang diharapkan. Dan juga penulis berharap kepada

para perawat ruangan agar senantiasa tidak melupakan prinsip tehnik


91

septik aseptik dalam setiap tindakan untuk mencegah kondisi yang

tidak diharapkan sebagai side efek dari tindakan yang tidak

profesional

3. Pendidikan

Diharapkan dapat meningkatkan kemampuan mahasiswa tentang cara

penyusunan asuhan keperawatan khususnya asuhan keperawatan

medikal bedah sehingga mahasiswa tersebut menjadi profesional di

bidang keperawatan medikal bedah dan ditingkatkan lagi dalam

memberikan kualitas maupun kuantitas bimbingan pada saat sebelum

ujian ahir program maupun pada saat perkuliahan untuk lebih

meningkatkan profesional mahasiswa pada saat bermasyarakat

langsung dilapangan

4. Mahasiswa

Mahasiswa lebih memahami karakteristik dari klien dan keluarga

dalam pemberian asuhan keperawatan medikal bedah, yaitu dengan

cara harus lebih sering membaca dan memahami buku-buku yang

berhubungan dengan asuhan keperawatan medikal bedah dengan

memanfaatkan fasilitas perpustakaan yang sudah disediakan, selain itu

juga mahasiswa dapat mengaplikasikan antara teori dan praktek dalam

hal asuhan keperawatan medikal bedah secara komprehensif.