Anda di halaman 1dari 65

GTE – 04 = PERENCANAAN PENYELIDIKAN GEOLOGI TEKNIK

DAN MEKANIKA TANAH UNTUK PERENCANAAN


TEKNIS KONSTRUKSI SDA

PELATIHAN
AHLI PELAKSANA GEOTEKNIK
KONSTRUKSI SUMBER DAYA AIR
(GEOTECHNICAL ENGINEER WRD)

DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM


BADAN PEMBINAAN KONSTRUKSI DAN SUMBER DAYA MANUSIA
PUSAT PEMBINAAN KOMPETENSI DAN PELATIHAN KONSTRUKSI
Perencanaan Penyelidkan Geologi Teknik dan Mekanika
Pelatihan Ahli Pelaksana Geoteknik Tanah untuk Perencanaan Teknis Konstruksi SDA

KATA PENGANTAR

Laporan UNDP tentang : Human Development Index (HDI) tertuang dalam Human
Development Report, 2004, mencantumkan Indeks Pengembangan SDM Indonesia pada
urutan 111, satu tingkat di atas Vietnam urutan 112 dan jauh di bawah dari Negara-
negara ASEAN terutama Malaysia urutan 59, Singapura urutan 25, dan Australia urutan
3, merupakan sebuah gambaran kondisi pengembangan SDM kita.

Bagi para pemerhati dan khususnya bagi yang terlibat langsung dalam pengembangan
Sumber Daya Manusia (SDM), kondisi tersebut merupakan tantangan sekaligus sebagai
modal untuk berpacu mengejar ketinggalan dan obsesi dalam meningkatkan kemampuan
SDM paling tidak setara dengan Negara tetangga ASEAN, terutama menghadapi era
globalisasi.

Untuk mengejar ketinggalan telah banyak daya upaya yang dilakukan termasuk perangkat
pengaturan melalui penetapan undang-undang antara lain :

 UU. No. 18 Tahun 1999, tentang : Jasa Konstruksi beserta peraturan


pelaksanaannya, mengamanatkan bahwa setiap tenaga : Perencana, Pelaksana, dan
Pengawas harus memiliki sertifikat, dengan pengertian sertifikat kompetensi keahlian
atau ketrampilan kerja. Untuk melaksanakan kegiatan sertifikasi berdasarkan
kompetensi diperlukan tersedianya “Bakuan Kompetensi” untuk semua tingkatan
kualifikasi dalam setiap klasifikasi di bidang Jasa Konstruksi.

 UU. No. 13 Tahun 2003, tentang : Ketenagakerjaan, mengamanatkan (Pasal 10 Ayat


(2)). Pelatihan kerja diselenggarakan berdasarkan program pelatihan yang mengacu
pada standard kompetensi kerja.

 UU. No. 20 Tahun 2003, tentang : Sistem Pendidikan Nasional, dan peraturan
pelaksanaannya, mengamanatkan Standar Nasional Pendidikan sebagai acuan
pengembangan KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi).

 UU. No. 7 Tahun 2004, tentang : Sumber Daya Air menetapkan pada Pasal 71 Ayat 1
dan 2 bahwa :

- (1) Menteri yang membidangi sumber daya air dan menteri yang terkait dengan
bidang sumber daya air menetapkan standar pendidikan khusus dalam bidang
sumber daya air

i
Perencanaan Penyelidkan Geologi Teknik dan Mekanika
Pelatihan Ahli Pelaksana Geoteknik Tanah untuk Perencanaan Teknis Konstruksi SDA

(2) Penyelenggaraan pendidikan bidang sumber daya air dapat dilaksanakan, baik
oleh Pemerintah, pemerintah daerah maupun swasta sesuai dengan standar
pendidikan khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (1).

Mengacu pada amanat undang-undang tersebut di atas, diimplementasikan kedalam


konsep Pengembangan Sistem Pelatihan Jasa Konstruksi, yang oleh PUSBIN KPK
(Pusat Pembinaan Kompetensi dan Pelatihan Konstruksi) pelaksanaan programnya
didahului dengan mengembangkan SKKNI (Standar Kompetensi Kerja Nasional
Indonesia), SLK (Standar Latih Kompetensi), dimana keduanya disusun melalui analisis
struktur kompetensi sektor/sub-sektor konstruksi sampai mendetail, kemudian dituangkan
dalam jabatan-jabatan kerja yang selanjutnya dimasukan ke dalam Katalog Jabatan
Kerja.

Modul Pelatihan adalah salah satu unsur paket pelatihan sangat penting karena
menyentuh langsung dan menentukan keberhasilan peningkatan kualitas SDM untuk
mencapai tingkat kompetensi yang ditetapkan, disusun dari hasil inventarisasi jabatan
kerja yang kemudian dikembangkan berdasarkan SKKNI (Standar Kompetensi Kerja
Nasional Indonesia) dan SLK (Standar Latih Kompetensi) yang sudah disepakati dalam
suatu Konvensi Nasional, dimana modul-modulnya maupun materi uji kompetensinya
disusun oleh Tim Penyusun/tenaga professional dalam bidangnya masing-masing,
merupakan suatu produk yang akan dipergunakan untuk melatih, dan meningkatkan
pengetahuan dan kecakapan agar dapat mencapai tingkat kompetensi yang
dipersyaratkan dalam SKKNI, sehingga dapat menyentuh langsung sasaran pembinaan
dan peningkatan kualitas tenaga kerja konstruksi agar menjadi kompeten dalam
melaksanakan tugas pada jabatan kerjanya.

Dengan penuh harapan modul pelatihan ini dapat dimanfaatkan dengan baik, sehingga
cita-cita peningkatan kualitas SDM khususnya di bidang jasa konstruksi dapat terwujud.

Jakarta, Nopember 2006

Kepala Pusat
Pembinaan Kompetensi dan Pelatihan Konstruksi

Ir. Djoko Subarkah, Dipl. HE.


NIP : 110016435

ii
Perencanaan Penyelidkan Geologi Teknik dan Mekanika
Pelatihan Ahli Pelaksana Geoteknik Tanah untuk Perencanaan Teknis Konstruksi SDA

PRAKATA

Jasa konstruksi merupakan salah satu bidang usaha yang telah berkembang pesat di
Indonesia, baik dalam bentuk usaha perorangan maupun sebagai badan usaha skala
kecil, menengah dan besar. Untuk itu perlu diimbangi dengan kualitas pelayanannya.
Pada kenyataannya saat ini mutu produk, ketepatan waktu penyelesaian, dan efisiensi
pemanfaatan sumber daya relatif masih jauh dari yang diharapkan. Hal ini disebabkan
oleh beberapa faktor antara lain adalah ketersediaan tenaga ahli / terampil dan
penguasaan manajemen yang efisien, kecukupan permodalan serta penguasaan
teknologi.

Masyarakat sebagai pemakai produk jasa konstruksi semakin sadar akan kebutuhan
terhadap produk dengan kualitas yang memenuhi standar mutu yang dipersyaratkan.
Untuk memenuhi kebutuhan terhadap produk sesuai kualitas standar tersebut, perlu
dilakukan berbagai upaya, mulai dari peningkatan kualitas SDM, standar mutu, metode
kerja dan lain-lain.

Salah satu upaya untuk memperoleh produk konstruksi dengan kualitas yang diinginkan
adalah dengan cara meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang menggeluti
standar baku mutu dibidang Ahli Pelaksana Geoteknik, pekerjaan sumber daya air.

Kegiatan inventarisasi dan analisa jabatan kerja dibidang sumber daya air, telah
menghasilkan sekitar 130 (seratus Tiga Puluh) Jabatan Kerja, dimana Jabatan Kerja Ahli
Pelaksana Geoteknik merupakan salah satu jabatan kerja yang diprioritaskan untuk
disusun materi pelatihannya mengingat kebutuhan yang sangat mendesak dalam
pembinaan tenaga kerja yang berkiprah dalam Ahli Pelaksana Geoteknik bidang sumber
daya air.

Materi pelatihan pada Jabatan Kerja Ahli Pelaksana Geoteknik ini terdiri dari 8 (delapan)
modul yang merupakan satu kesatuan yang utuh yang diperlukan dalam melatih tenaga
kerja menjadi Ahli Pelaksana Geoteknik.

Namun penulis menyadari bahwa materi pelatihan ini masih banyak kekurangan
khususnya untuk modul Perencanaan Penyelidikan Geologi Teknik dan Mekanika
Tanah untuk Perencanaan Teknis Konstruksi SDA pekerjaan konstruksi Sumber Daya
Air.

Untuk itu dengan segala kerendahan hati, kami mengharapkan kritik, saran dan
masukkan guna perbaikan dan penyempurnaan modul ini.

Jakarta, Nopember 2006

Tim Penyusun

iii
Perencanaan Penyelidkan Geologi Teknik dan Mekanika
Pelatihan Ahli Pelaksana Geoteknik Tanah untuk Perencanaan Teknis Konstruksi SDA

LEMBAR TUJUAN

JUDUL PELATIHAN : AHLI PELAKSANA GEOTEKNIK


JUDUL MODUL : Perencanaan Penyelidikan Geologi Teknik dan Mekanika
Tanah untuk Perencanaan Teknis Konstruksi SDA
Waktu : 4 X 45 MENIT ( 4 JPL)

TUJUAN PELATIHAN
A. Tujuan Umum Pelatihan
Mampu menyiapkan perencanaan dan penyelidikan Geoteknik sebelum pelaksanaan
pekerjaan konstruksi Sumber Daya Air.

B. Tujuan Khusus Pelatihan


Setelah mengikuti pelatihan, peserta mampu :
1. Melakukan pengumpulan data Geoteknik terdahulu
2. Mempelajari dan menguasai data terdahulu untuk daerah yang akan diselidiki
3. Membuat perencanaan penyelidikan geoteknik
4. Melakukan pengendalian pekerjaan penyelidikan geoteknik
5. Melakukan analisa hasil penyelidikan Geoteknik untuk pekerjaan SDA
6. Membuat laporan dan rekomendasi hasil penyelidikan Geoteknik

Seri Modul : GTE – 04 / Perencanaann Penyelidikan Geologi Teknik dan Mekanika


Tanah untuk Perencanaan Teknis Konstruksi Sumber Daya
Air (SDA)
TUJUAN PEMBELAJARAN UMUM (TPU)
Setelah modul ini dipelajari, peserta mampu :
Menjelaskan pedoman penyelidikan Geologi Teknik dan mekanika tanah untuk
perencanaan teknis bangunan Sumber Daya Air.

TUJUAN PEMBELAJARAN KHUSUS (TPK)


Setelah modul ini selesai dipelajari/ dilatihkan, peserta mampu :
1. Menentukan lokasi dan jenis penyelidikan geoteknik dengan benar
2. Menentukan kebutuhan peralatan dan personil yang diperlukan dengan teliti
3. Membuat jadwal pelaksanaan penyelidikan dengan cermat dan akurat
4. Menentukan program dan spesifikasi teknik penyelidikan geoteknik secara benar

iv
Perencanaan Penyelidkan Geologi Teknik dan Mekanika
Pelatihan Ahli Pelaksana Geoteknik Tanah untuk Perencanaan Teknis Konstruksi SDA

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ................................................................................................ i


PRAKATA ................................................................................................................. iii
LEMBAR TUJUAN ................................................................................................... iv
DAFTAR ISI ............................................................................................................ v
DAFTAR GAMBAR ................................................................................................... vii
DAFTAR TABEL ....................................................................................................... viii
DESKRIPSI SINGKAT PENGEMBANGAN MODUL
PELATIHAN AHLI PELAKSANA GEOTEKNIK ........................................................ ix
DAFTAR MODUL .................................................................................................... x
PANDUAN PEMBELAJARAN .................................................................................. xi
MATERI SERAHAN ................................................................................................. xv

BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Perlunya Suatu Penyelidikan .................................................................. 1-1
1.2 Penyelidikan Geologi Teknik .................................................................... 1-1
1.3 Penyelidikan Mekanika Tanah ............................................................... 1-1
1.4 Kriteria Penyelidikan ................................................................................ 1-1
1.5 Bagan Alir Perencanaan Penyelidikan ...................................................... 1-3
RANGKUMAN
LATIHAN

BAB 2 JANGKAUAN PENYELIDIKAN


2.1 Tujuan Penyelidikan ................................................................................ 2-1
2.2 Tahapan Penyelidikan ............................................................................. 2-1
RANGKUMAN
LATIHAN

BAB 3 METODE PEKERJAAN PENYELIDIKAN GEOLOGI TEKNIK DAN


MEKANIKA TANAH
3.1 Metode Penyelidikan Lapangan .............................................................. 3-1
3.2 Metode Penyelidikan Laboratorium ........................................................ 3-13
3.3 Daftar Standar Pelapukan, Kekerasan dan Simbol-simbol Geologi .......... 3-19
RANGKUMAN

v
Perencanaan Penyelidkan Geologi Teknik dan Mekanika
Pelatihan Ahli Pelaksana Geoteknik Tanah untuk Perencanaan Teknis Konstruksi SDA

LATIHAN
BAB 4 CONTOH EVALUASI DATA LABORATORIUM
4.1 Bearing Capacity ..................................................................................... 4-1
4.2 Settlement ............................................................................................... 4-2
4.3 Kemantapan Lereng (Slope Stability) ...................................................... 4-3
RANGKUMAN
LATIHAN

BAB 5 CONTOH CARA PEMBUATAN LAPORAN


5.1 Bentuk Laporan .......................................................................................... 5-1
5.2 Isi Laporan ................................................................................................. 5-1
5.3 Lampiran-lampiran ..................................................................................... 5-2
RANGKUMAN
LATIHAN

DAFTAR PUSTAKA

vi
Perencanaan Penyelidkan Geologi Teknik dan Mekanika
Pelatihan Ahli Pelaksana Geoteknik Tanah untuk Perencanaan Teknis Konstruksi SDA

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1.1 Bagan alir perencanaan penyelidikan ................................................. 1-3

vii
Perencanaan Penyelidkan Geologi Teknik dan Mekanika
Pelatihan Ahli Pelaksana Geoteknik Tanah untuk Perencanaan Teknis Konstruksi SDA

DAFTAR TABEL

Tabel 3.1 Derajat Pelapukan Batuan ....................................................................... 3-19


Tabel 3.2 Derajat Kekerasan ................................................................................... 3-20
Tabel 3.3 Klasifikasi Konsistensi ............................................................................. 3-27

viii
Perencanaan Penyelidkan Geologi Teknik dan Mekanika
Pelatihan Ahli Pelaksana Geoteknik Tanah untuk Perencanaan Teknis Konstruksi SDA

DESKRIPSI SINGKAT PENGEMBANGAN MODUL

PELATIHAN AHLI PELAKSANA GEOTEKNIK

1. Kompetensi kerja yang disyaratkan untuk jabatan kerja Ahli Pelaksana Geoteknik
dibakukan dalam Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) yang
didalamnya telah ditetapkan unit-unit kompetensi, elemen kompetensi, dan kriteria
unjuk kerja, sehingga dalam Pelatihan Ahli Pelaksana Geoteknik, unit-unit kompetensi
tersebut menjadi Tujuan Khusus Pelatihan.

2. Standar Latih Kompetensi (SLK) disusun berdasarkan analisis dari masing-masing


Unit Kompetensi, Elemen Kompetensi dan Kriteria Unjuk Kerja yang menghasilkan
kebutuhan pengetahuan, keterampilan dan sikap kerja melalui metoda pembelajaran
yang diberikan untuk mencapai indikasi keberhasilan dengan tingkat/ level dari setiap
elemen kompetensi yang dituangkan dalam bentuk suatu susunan kurikulum dan
silabus pelatihan yang diperlukan untuk memenuhi tuntutan kompetensi tersebut.
3. Untuk mendukung tercapainya tujuan khusus pelatihan tersebut, maka berdasarkan
Kurikulum dan Silabus yang ditetapkan dalam SLK, disusun seperangkat modul
pelatihan (seperti tercantum dalam Daftar Modul) yang harus menjadi bahan
pengajaran dalam pelatihan Ahli Pelaksana Geoteknik.

ix
Perencanaan Penyelidkan Geologi Teknik dan Mekanika
Pelatihan Ahli Pelaksana Geoteknik Tanah untuk Perencanaan Teknis Konstruksi SDA

DAFTAR MODUL

PELATIHAN : Ahli Pelaksana Geoteknik

NO. KODE JUDUL NO. REPRESENTASI UNIT


KOMPETENSI
Undang-Undang Jasa
Undang-Undang Jasa Konstruksi
Konstruksi (UUJK), Sistem
(UUJK), Sistem manajemen
1. GTE - 01 Manajemen Keselamatan
Keselamatan dan Kesehatan 1.
dan Kesehatan Kerja
Kerja (SMK3) dan Pengendalian
(SMK3) dan Pengendalian
Dampak Lingkungan
Dampak Lingkungan

2. GTE - 02 Melakukan Pengumpulan


Pengumpulan Data Geoteknik 2.
Data Geoteknik Terdahulu

Mempelajari dan Menguasai


3. GTE - 03 Kajian Data Geoteknik 3. Data Terdahulu untuk
Daerah yang akan Diselidiki

Perencanaan Penyelidikan
Geologi Teknik dan Mekanika
4. GTE - 04 Membuat Perencanaan
Tanah untuk Perencanaan 4.
Penyelidikan Geoteknik
Teknis Konstruksi Sumber Daya
Air (SDA)

Melakukan Pengendalian
5. GTE - 05 Pengendalian Pelaksanaan
5. Pekerjaan Penyelidikan
Penyelidikan Geoteknik
Geoteknik

Membuat Laporan dan


6. Laporan Hasil Penyelidikan
GTE-06 6. Rekomendasi Hasil
Geoteknik
Penyelidikan Geoteknik

Melakukan Analisa Hasil


Analisa Hasil Penyelidikan
7. GTE - 07 Penyelidikan Geoteknik
Geoteknik untuk Sumber Daya Air 7.
untuk Sumber Daya Air
(SDA)
(SDA)

Pedoman Praktek Sondir, Bor


8. GTE - 08 Pelatihan Penunjang Teori
Tangan, Sampling dan Densiti 8.
dan Praktek
Test (Sand Cone)

x
Perencanaan Penyelidkan Geologi Teknik dan Mekanika
Pelatihan Ahli Pelaksana Geoteknik Tanah untuk Perencanaan Teknis Konstruksi SDA

PANDUAN PEMBELAJARAN

xi
Perencanaan Penyelidkan Geologi Teknik dan Mekanika
Pelatihan Ahli Pelaksana Geoteknik Tanah untuk Perencanaan Teknis Konstruksi SDA

PERENCANAAN PENYELIDIKAN GEOLOGI


TEKNIK DAN MEKANIKA TANAH UNTUK
JUDUL : KETERANGAN
PERENCANAAN TEKNIS KONSTRUKSI
Sumber Daya Air (SDA)
KODE MODUL : GTE – 04

Deskripsi : Modul ini membahas perencanaan


penyelidikan Geologi Teknik dan mekanika
tanah untuk perencanaan teknis konstruksi
Sumber Daya Air yang mencakup pekerjaan
lapangan dan pekerjaan laboratorium. Hal ini
merupakan salah satu bagian dan jabatan kerja
Ahli Pelaksana Geoteknik

Tempat Kegiatan : Di dalam ruangan kelas lengkap dengan


fasilitasnya serta dilengkapi dengan media
pembelajaran

Waktu Kegiatan : 4 x 45 menit (4 JPL)

Bahan : Materi Serahan

xii
Perencanaan Penyelidkan Geologi Teknik dan Mekanika
Pelatihan Ahli Pelaksana Geoteknik Tanah untuk Perencanaan Teknis Konstruksi SDA

KEGIATAN INSTRUKTUR KEGIATAN PESERTA PENDUKUNG


1. Ceramah : Pembukaan

 Menjelaskan Tujuan Pembelajaran  Mengikuti penjelasan TPU OHT1,2,3,4,5


Umum dan Khusus (TPU & TPK) dan TPK dengan tekun
 Merangsang dan memotifasi dan aktif
peserta dengan pertanyaan atau  Mengajukan pertanyaan
pengalaman dalam melakukan yang belum jelas
kegiatan di perusahaannya/
instansi kerjanya

Waktu : 10 menit
Bahan : Materi Serahan, lembar
tujuan

2. Ceramah : Pendahuluan

Membahas masalah ringkasan


 Keperluan penyelidikan  Mengikuti penjelasan OHT6
 Penyelidikan Geologi Teknik ringkasan pendahuluan
 Penyelidikan Mekanika Tanah  Tanya jawab di kelas
 Kriteria penyelidikan

Waktu : 15 menit
Bahan : Materi Serahan (Bab 1)

3. Ceramah : Jangkauan Penyelidikan

Membahas masalah :
 Tujuan dilakukannya suatu  Mengikuti penjelasan OHT7,8
penyelidikan instruktur dengan tekun
 Tahapan yang harus dilakukan dan aktif
dalam penyelidikan  Mencatat hal-hal yang
belum jelas
Waktu : 30 menit  Tanya jawab/ diskusi
Bahan : Materi Serahan (Bab 2) kelas

xiii
Perencanaan Penyelidkan Geologi Teknik dan Mekanika
Pelatihan Ahli Pelaksana Geoteknik Tanah untuk Perencanaan Teknis Konstruksi SDA

KEGIATAN INSTRUKTUR KEGIATAN PESERTA PENDUKUNG


4. Ceramah : Metode Penyelidikan
Geologi Teknik dan
Mekanika Tanah

 Metode Penyelidikan Lapangan  Mengikuti penjelasan OHT9


 Metode Penyelidikan Laboratorium instruktur dengan tekun
 Daftar Standar Pelapukan dan dan aktif
Simbol-simbol Geologi  Mencatat hal-hal yang
belum jelas
Waktu : 55 menit  Tanya jawab / diskusi
Bahan : Materi Serahan (Bab 3) kelas

5. Ceramah : Contoh evaluasi data


Laboratorium.

Membahas masalah antara lain:  Mengikuti penjelasan OHT10


 Bearing capacity instruktur dengan tekun
 Sattlemant dan aktif
 Slope Stability  Mencatat hal-hal yang
belum jelas
Waktu : 30 menit  Tanya jawab / diskusi
Bahan : Materi Serahan (Bab 4) kelas

6. Ceramah : Contoh Cara Pembuatan


Laporan.

Membahas masalah :  Mengikuti penjelasan OHT11


 Bentuk Laporan instruktur dengan tekun
 Isi laporan dan aktif
 Lampiran-lampiran  Mencatat hal-hal yang
belum jelas
Waktu : 40 menit  Tanya jawab / diskusi
Bahan : Materi Serahan (Bab 5) kelas

xiv
Perencanaan Penyelidkan Geologi Teknik dan Mekanika
Pelatihan Ahli Pelaksana Geoteknik Tanah untuk Perencanaan Teknis Konstruksi SDA

MATERI SERAHAN

xv
Perencanaan Penyelidikan Geologi Teknik dan Mekanika
Pelatihan Ahli Pelaksana Geoteknik Tanah untuk Perencanaan Teknis Konstruksi SDA

BAB 1
PENDAHULUAN

Sebagai pedoman penyelidikan geologi teknik dan mekanika tanah untuk perencanaan
teknis bangunan SDA yang perlu diperhatikan dalam perencanaan penyelidikan adalah
sebagai berikut :

1.1 Perlunya Suatu Penyelidikan


Perencanaan teknis dan pelaksanaan suatu Proyek Irigasi akan berhasil dengan
baik seandainya ditunjang oleh data-data hasil penyelidikan geologi teknik dan
mekanika tanah yang memenuhi persyaratan-persyaratan penyelidikan.
Penyelidikan geologi teknik dan mekanika tanah atau yang sekarang mulai populer
dengan istilah GEOTEKNIK akan memberikan gambaran mengenai keadaan tanah
maupun batuan dari tempat bangunan irigasi yang direncanakan.

1.2 Penyelidikan Geologi Teknik


Yaitu penyelidikan yang dilakukan untuk mengetahui keadaan geologi antara lain
penyebaran tanah/ batuan, struktur geologi, proses alam yang terjadi, susunan
perlapisan batuan (stratigrafi) serta sifat-sifat fisik batuan untuk keperluan
perencanaan teknik sipil.

1.3 Penyelidikan Mekanika Tanah


Penyelidikan mekanika tanah ini merupakan kelanjutan dari penyelidikan geologi
teknik, dimana di dalam penyelidikan mekanika tanah ini akan menentukan sifat
physic dan sifat teknis dari suatu tanah dasar lokasi proyek. Dan hasil penyelidikan
ini akan memberikan data-data yang diperlukan oleh pihak perencana dalam
menganalisa kemantapan suatu bangunan.

1.4 Kriteria Penyelidikan


Tidak ada kriteria yang pasti untuk penyelidikan geologi teknik dan mekanika tanah
yang dapat dipakai sebagai standar dan berlaku secara menyeluruh untuk setiap
proyek-proyek irigasi. Suatu metode penyelidikan mungkin cocok untuk suatu
tempat tetapi ternyata tidak bisa diterapkan di tempat lainnya sehingga harus
menggunakan metode lainnya, bahkan sering kali harus menggunakan gabungan
dari beberapa metode.

1-1
Perencanaan Penyelidikan Geologi Teknik dan Mekanika
Pelatihan Ahli Pelaksana Geoteknik Tanah untuk Perencanaan Teknis Konstruksi SDA

Wilayah Indonesia yang cukup luas dan mempunyai keadaan geologi yang cukup
kompleks akan sangat sulit untuk menentukan standar penyelidikan, terutama untuk
penyelidikan lapangan. Untuk membuat suatu standar masih diperlukan suatu studi
yang mendetail untuk bisa menghasilkan apa yang dinamakan kriteria penyelidikan
yang sesuai dengan kondisi di Indonesia.
Metode penyelidikan yang dipergunakan di Indonesia masih bermacam-macam dan
diambil dari metode yang berlaku di negara lain, misalnya dari :
 Amerika Serikat :
ASTM (American Society Testing Materials)
AASHO (American Associates of State Highway Officials)
USBR (United states Berau of Reclamation)
 Inggris, BS (British Standard)
 Jepang, JIS (Japan Industrial Standard)
Kesulitan sering dialami pada saat bekerja sama dengan tenaga Konsultan dari luar
negeri terutama pada saat menentukan metode penyelidikan. Pada umumnya tiap
konsultan asing akan memperkenalkan dan mempersyaratkan metode maupun
peralatan-peralatan yang biasa dipakai di negaranya.
Dalam tulisan ini akan disajikan metoda penyelidikan geologi teknik dan mekanika
tanah secara garis besar sebagai pedoman yang dianggap cukup memadai untuk
Perencanaan Teknis Irigasi Direktorat Irigasi Direktorat Jenderal Pengairan–
Departemen Pekerjaan Umum.

1-2
Perencanaan Penyelidikan Geologi Teknik dan Mekanika
Pelatihan Ahli Pelaksana Geoteknik Tanah untuk Perencanaan Teknis Konstruksi SDA

1.5 Bagan Alir Perencanaan Penyelidikan

Gambar 1.1 Bagan Alir Perencanaan Penyelidikan

1-3
Perencanaan Penyelidikan Geologi Teknik dan Mekanika
Pelatihan Ahli Pelaksana Geoteknik Tanah untuk Perencanaan Teknis Konstruksi SDA

RANGKUMAN

Pendahuluan
 Menjelaskan mengenai perlunya suatu penyelidikan geologi teknik dan mekanika
tanah untuk melengkapi data perencanaan teknis dan pelaksanaan suatu proyek
Sumber Daya Air khususnya untuk proyek Irigasi.
 Penyelidikan geologi teknik untuk mengetahui keadaan geologi antara lain
penyebaran tanah/ batuan dan lain-lain.
 Penyelidikan mekanika tanah merupakan kelanjutan dari penyelidikan geologi teknik.
 Kriteria penyelidikan dapat dipakai sebagai standar dan berlaku secara menyeluruh.

1-4
Perencanaan Penyelidikan Geologi Teknik dan Mekanika
Pelatihan Ahli Pelaksana Geoteknik Tanah untuk Perencanaan Teknis Konstruksi SDA

LATIHAN

1. Sebutkan perlunya suatu penyelidikan geologi teknik dan suatu perecanaan teknis
bangunan SDA !
2. Sebutkan apa maksud dari penyelidikan teknik dalam suatu pekerjaan perencanaan
Teknik Sipil ?
3. Sebutkan apa yang dimaksud dengan sifat-sifat fisik dan sifat-sifat teknis pada
penyelidikan mekanika tanah ?
4. Sebutkan standar apa saja yang berlaku internasional dalam melakukan suatu metode
penelitian ?
5. Sebutkan suatu standar nasional yang ada dalam melakukan metode penelitian !

1-5
Perencanaan Penyelidikan Geologi Teknik dan Mekanika
Pelatihan Ahli Pelaksana Geoteknik Tanah untuk Perencanaan Teknis Konstruksi SDA

BAB 2
JANGKAUAN PENYELIDIKAN

Jangkauan atau skope penyelidikan geologi teknik dan mekanika tanah maupun metoda-
metodanya sangat tergantung kepada tujuan dan tahapan, untuk apakah penyelidikan
tersebut dilaksanakan.

2.1 Tujuan Penyelidikan

Tujuan penyelidikan sangat tergantung kepada macam dan tipe bangunan irigasi
yang akan dibangun.
Untuk perencanaan teknis di Direktorat Irigasi pada umumnya bangunan irigasi
terdiri dari :

2.1.1 Bangunan Utama


 Bendung (Weir)
 Tanggul penutup
 Bangunan pemasukan bebas (Free Intake)
 Stasion pompa
 Bendungan/ waduk

2.1.2 Bangunan Pembawa


 Saluran
 Syphon
 Talang
 Terowongan

2.1.3 Bangunan Pelengkap : misalnya jembatan

2.2 Tahapan Penyelidikan

Skope penyelidikan tergantung pula pada tahapan-tahapannya.

2.2.1 Tahapan Reconnaissance


Merupakan tahapan permulaan dari suatu kegiatan penyelidikan terdiri dari :
 Pengumpulan data-data
Mengumpulkan data-data yang telah ada dari Daerah Irigasi yang akan
direncanakan berupa peta topografi, foto udara, peta geologi, peta tanah,
laporan-laporan atau tulisan yang sudah dipublikasikan maupun yang tak
dipublikasikan.

2-1
Perencanaan Penyelidikan Geologi Teknik dan Mekanika
Pelatihan Ahli Pelaksana Geoteknik Tanah untuk Perencanaan Teknis Konstruksi SDA

 Peninjauan Lapangan
Mengadakan peninjauan ke lapangan bersama-sama designer untuk
memperoleh gambaran secara umum dari daerah rencana proyek
terutama di daerah rencana bangunan irigasi utama dan sekaligus
mengadakan pengecekan terhadap data-data yang sudah ada.
 Pekerjaan Penyelidikan
 Mengadakan pemetaan geologi permukaan secara sepintas dengan
memperhatikan penyebaran satuan batuan, keadaan tanah.
 Perkiraan ketebalan dari lapisan penutup (over burden), penyebaran,
bentuk dan jenis dari singkapan batuan.
 Mempelajari keadaan geomorfologi dari daerah rencana proyek yaitu
bentuk-bentuk morfologi, keadaan sungai, arus, erosi, gejala-gejala
longsoran.
 Pengambilan beberapa sample tanah untuk bahan pengujian di
laboratorium
 Evaluasi Data
Menentukan rencana penyelidikan selanjutnya, skope pekerjaan,
metode-metode dan memperkirakan besarnya biaya.

2.2.2 Tahapan Feasibility Study


Merupakan tahapan penyelidikan lanjutan dari reconnaissance study. Dalam
hal ini penyelidikan sudah bersifat lebih mendetail mengenai keadaan bawah
permukaan. Data-data yang akan diperoleh sudah bersifat kwalitatif terutama
mengenai fondasi dan bahan-bahan bangunan yang diperlukan untuk
pelaksanaan (construction materials). Hasil-hasil penyelidikan pada tahapan
ini telah dapat menunjang pada prelimineary design sehingga telah dapat
memberikan perkiraan untuk perhitungan benefit dari suatu proyek.

2.2.3 Tahapan Detail Design


Tahapan ini merupakan penyelidikan tambahan yang dilakukan pada
tahapan sebelumnya. Tahapan penyelidikan ini telah dipusatkan pada
rencana penggunaan yang sudah pasti ditetapkan dan penyelidikan betul-
betul dilaksanakan untuk menambah dan memperkuat perencanaan secara
terperinci. Keterangan-keterangan bawah permukaan dikumpulkan secara
mendetail, sehingga hasil penelitian merupakan dasar yang akan digunakan
oleh pihak perencana dalam manganalisa perhitungan konstruksi maupun
pondasi yang merupakan kemantapan berdirinya suatu bangunan. Dan hasil
detail design ini akan merupakan pedoman bagi para pelaksana pada saat
bangunan ini mulai berjalan.

2-2
Perencanaan Penyelidikan Geologi Teknik dan Mekanika
Pelatihan Ahli Pelaksana Geoteknik Tanah untuk Perencanaan Teknis Konstruksi SDA

RANGKUMAN

Jangkauan Penyelidikan
Menjelaskan mengenai tujuan penyelidikan dan tahapan penyelidikan khususnya untuk
bangunan Irigasi.

2-3
Perencanaan Penyelidikan Geologi Teknik dan Mekanika
Pelatihan Ahli Pelaksana Geoteknik Tanah untuk Perencanaan Teknis Konstruksi SDA

LATIHAN

1. Sebutkan tujuan diadakannya suatu penyelidikan !


2. Sebutkan tahapan-tahapan dalam suatu penyelidikan !
3. Sebutkan tujuan dari peninjauan lapangan dlam suatu penyelidikan geoteknik !
4. Sebutkan maksud daripada kegiatan evaluasi data !
5. Sebutkan yang dimaksud dengan tahapan feasibility study !

2-4
Perencanaan Penyelidikan Geologi Teknik dan Mekanika
Pelatihan Ahli Pelaksana Geoteknik Tanah untuk Perencanaan Teknis Konstruksi SDA

BAB 3
METODA PEKERJAAN PENYELIDIKAN
GEOLOGI TEKNIK DAN MEKANIKA TANAH

Pekerjaan penyelidikan geologi teknik dan mekanika tanah secara garis besar dapat
dibagi menjadi dua bagian.

3.1 Metode Penyelidikan Lapangan


Pekerjaan penyelidikan yang dilaksanakan di lapangan, di tempat lokasi proyek
berada. Pekerjaan tersebut terdiri dari persiapan di lapangan, pelaksanaan
pekerjaannya itu sendiri, pengambilan contoh, transportasi contoh-contoh ke
laboratorium. Untuk pekerjaan ini diperlukan suatu rencana pelaksanaan yang
terperinci, karena menyangkut pekerjaan-pekerjaan yang saling berhubungan satu
dengan lainnya dan mempergunakan peralatan yang khusus.
Koordinator pekerjaan lapangan disyaratkan yang mempunyai pendidikan khusus
dibidang tersebut, dan sudah mempunyai pengalaman yang memadai. Pekerjaan-
pekerjaan lapangan yang akan diuraikan disini merupakan pekerjaan yang biasa
dilaksanakan untuk penyelidikan detail dan tidak selalu berlaku untuk semua proyek
irigasi, terdiri dari :

3.1.1 Pemetaan Geologi

 Peta Geologi
Ialah peta yang memberikan gambaran mengenai keadaan geologi dari
suatu daerah. Peta ini memberikan gambaran mengenai penyebaran
litologi (batuan) serta gejala-gejala geologi lainnya misalnya lipatan, jurus
dan kemiringan lapisan-lapisan batuan, antiklin, siklin, kekar. Umumnya
memuat keterangan mengenai urutan-urutan lapisan batuan berdasarkan
umur kejadiannya dan dinyatakan dengan simbol-simbol dan/ atau
warna.
Peta geologi terdiri dari :
 Peta Geologi Permukaan
 Peta Surficial :
Peta ini sangat bermanfaat untuk keperluan teknik karena secara
langsung menunjukkan dengan jelas apa yang terdapat di
permukaan, singkapan batuan dan tanah serta penyebarannya.
Tanah dalam peta ini di identifikasikan berdasarkan pada

3-1
Perencanaan Penyelidikan Geologi Teknik dan Mekanika
Pelatihan Ahli Pelaksana Geoteknik Tanah untuk Perencanaan Teknis Konstruksi SDA

kejadiannya, memuat juga lokasi, misalnya tanah aluvial,


pelapukan, pasir, gravel dan lain sebagainya.
 Peta Areal :
Peta ini menunjukkan keadaan permukaan bumi, tetapi lapisan-
lapisan penutup tidak dicantumkan. Jadi lapisan overburden tidak
dipetakan, tanah pelapukan ditiadakan dalam peta ini seakan-
akan dikupas. Tetapi singkapan-singkapan batuan dan gejala
geologi lainnya dengan jelas digambarkan.
Contoh : peta-peta geologi regional.
 Peta Geologi Bawah Permukaan (Sub Surface Geologic Map)
Menggambarkan penampang keadaan geologi di bawah permukaan.
Merupakan gabungan dan korelasi dari seluruh hasil-hasil
penyelidikan : pemetaan geologi permukaan, pendugaan geo fisik,
pemboran, test pit, trench dan lain-lain. Cara membuat peta
penampang geologi haruslah diperhatikan perbandingan ukuran
antara skala vertikal dengan skala horisontal. Sebaiknya ukuran
vertikal jangan melebihi 2 kali skala horisontal menyebabkan
kesalahan penggambaran keadaan geologi bawah permukaan akan
tidak sesuai lagi dengan keadaan sesungguhnya di lapangan. Sudut-
sudut kemiringan dari lapisan-lapisan batuan, tebal maupun
bentuknya akan mengalami perubahan.
 Skala Peta Geologi
Skala peta geologi sangat tergantung kepada tujuan dan tahapan
penyelidikan. Ketepatan peta geologi sangat tergantung kepada ukuran
skala peta dasar yang dipergunakan. Makin besar skala peta dasar yang
dipergunakan makin detail tingkat pemetaan geologi.
Peta dasar yang dipergunakan dapat berupa :
 Peta Topografi
 Peta Foto Udara
 Peta Geologi Regional, skala 1 : 100.000 – 1 : 50.000
 Peta Geologi Semi Detail, skala 1 : 25.000 – 1 : 10.000
 Peta Geologi Detail, skala 1 : 5.000 – 1 : 500
Misal : Peta geologi reservior skala 1 : 5.000
Peta geologi perencanaan teknis bangunan-bangunan
irigasi :
 Denah skala 1 : 2.000 – 1 : 500

3-2
Perencanaan Penyelidikan Geologi Teknik dan Mekanika
Pelatihan Ahli Pelaksana Geoteknik Tanah untuk Perencanaan Teknis Konstruksi SDA

 Profil geologi : Horizontal 1 : 500


Tegak 1 : 200

 Metode Pemetaan Geologi


Metode pemetaan geologi di lapangan dengan cara traverse tertutup
dengan mempergunakan compass, clinometer dan plane table.

3.1.2 Metode Geofisika


Pendugaan keadaan bawah permukaan dengan metode geofisika pada
umumnya untuk mengetahui secara garis besar gambaran keadaan geologi
bawah permukaan yaitu : satuan-satuan batuan/ tanah, batas-batas satuan
batuan baik secara horisontal maupun arah vertikal, dan gejala-gejala
geologi lainnya : patahan, daerah rekahan-rekahan (fractured zone),
kandungan air tanah dan lain-lain.
Penggunaan penyelidikan dengan metode ini mengandung banyak
keuntungan-keuntungannya antara lain :
 Mendapatkan gambaran keadaan bawah permukaan di daerah yang luas
dalam tempo yang relatif pendek.
 Memudahkan membuat interpretasi penampang geologi.
 Memperkecil jumlah titik-titik pemboran, karena akan mempermudah
korelasi antara titik-titik pemboran.
 Membuat lebih effisien dan memperkecil biaya penyelidikan.
Prinsip : bahwa setiap batuan akan mempunyai sifat-sifat fisik yang
berlainan.
Metode yang biasa dipakai untuk Perencanaan Teknis Irigasi, yaitu :

 Metode Seismik
Metode ini berdasarkan cepat rambat gelombang getaran, bahwa setiap
batuan akan mempunyai kecepatan yang berlainan dalam meneruskan
gelombang. Cara pelaksanaan di lapangan dengan membuat ledakan
buatan dari bahan peledak (dinamit) kemudian getaran-getaran tersebut
(Vs) akan dicatat oleh geophone yang ditempatkan pada permukaan
tanah dengan jarak-jarak yang tertentu.
Metode Seismik terdiri dari dua yaitu :
 Metode referaksi (pembiasan)
 Metode refleksi (pemantulan)
Pemakaian :
Untuk tujuan penyelidikan geologi teknik yang biasa dipakai adalah
metode referaksi atau gempa bias dangkal.

3-3
Perencanaan Penyelidikan Geologi Teknik dan Mekanika
Pelatihan Ahli Pelaksana Geoteknik Tanah untuk Perencanaan Teknis Konstruksi SDA

Prosedur :
Cara penembakan dapat dipakai cara penampang (profile atau in-line
shooting) dan dilakukan dengan penembakan bolak-balik.
Penempatan Geophone :
Untuk lintasan gempa utama, jarak antara geophone dapat diatur
disesuaikan dengan keadaan medan.
Data-data yang diperoleh yaitu :
Cepat rambat gelombang datar pertama Vp, gelombang tegak Vs dan
rapat masa ρ1 dapat dihitung, juga harga young modulus.

 Metode Geolistrik
Metode Geolistrik yaitu berdasarkan prinsip bahwa batuan akan
mempunyai harga yang berbeda nilai tahanan jenis terhadap aliran listrik
yang mengalir dalam batuan. Pendugaan geolistrik dengan cara Vertical
Electrical Sounding (VES), dengan penyusunan elektrodanya mengikuti
aturan WENNER. Aturan Wenner ini paling sesuai untuk diterapkan pada
pendugaan yang dangkal.
 Jarak titik-titik duga
Jarak antara titik-titik duga di tiap tempat disesuaikan dengan
keadaan geologi dan keadaan topografinya, demikian juga dengan
arah bentangnya sehingga kesalahan dalam pengamatan akan
sedikit mungkin. Jarak dapat berkisar antara (25 – 50) meteran.
 Kedalaman pendugaan
Tergantung dari jenis alat yang dipergunakan dan disesuaikan
dengan tujuan penyelidikan. Untuk penyelidikan Site Weir :
kedalaman pendugaan cukup mencapai 30 meteran.
 Perhitungan
Nilai tahanan jenis dapat dihitung dengan rumus ”BARNES” yaitu :
2   a
L =
1 / RL
Dimana :
 L : nilai tahanan jenis untuk tiap ketebalan 1 meter
kedalaman
 a : peningkatan jarak kedalaman yaitu 1 meter
R L : tahanan batuan yang diamati oleh alat, pada tiap jarak
elektroda = a

3-4
Perencanaan Penyelidikan Geologi Teknik dan Mekanika
Pelatihan Ahli Pelaksana Geoteknik Tanah untuk Perencanaan Teknis Konstruksi SDA

 Cara penafsiran data


Dengan cara melakukan penafsiran terhadap bentuk dari pada
lengkung dega dengan jalan mempersamakannya dengan lengkung-
lengkung standar yang khusus dibuatkan untuk aturan WENNER.

3.1.3 Metode pemboran


Pemboran adalah salah satu cara di lapangan untuk mendapatkan data-data
yang paling baik dan meyakinkan mengenai keadaaan lapisan tanah
maupun batuan di bawah permukaan. Cara untuk mendapatkan data-data
tersebut dengan jalan membuat lubag dengan memasukkan pipa beserta
tabung-tabung contoh (cara Barrel).

 Beberapa cara pengeboran


 Pemboran dengan mesin (drilling machine)
Pemboran disini mempergunakan mesin sebagai tenaga penggerak
(tenaga diesel atau bensin). Pemboran mesin pada umumnya
dipergunakan untuk pengeboran formasi batuan yang keras dan
relatif untuk pengeboran dalam.
 Pemboran tumbuk (percussion drilling)
Pemboran ini dilakukan dengan cara penumbukan, mata bor
biasanya berbentuk runcing digerakkan naik turun. Umumya dipakai
untuk penembusan lapisan kerikil (gravel) atau pasir.
 Pemboran dengan air (wash boring)
Pemboran dengan cara mengalirkan air melalui pipa dan mata bor
dan air yang dialirkan ini akan mengangkut potongan dan hancuran
tanah ke atas, biasanya dilakukan pada bahan-bahan yang lunak dan
lepas.
 Pemboran tangan
Pemboran ini dengan cara diputar dan digerakan dengan tangan.
Dipergunakan hanya pada bahan-bahan yang lunak. Pada bahan
yang padat tidak bisa menembus.

 Cara pemboran yang disaratkan


Pemboran yang disaratkan untuk penyelidikan geologi teknik yaitu
dengan cara pemboran inti bermesin (Rotary core drilling). Pemboran ini
dilaksanakan dengan jalan memutar mesin stang bor beserta tabung
pengambilan contoh dengan mesin sebagai penggerak.

3-5
Perencanaan Penyelidikan Geologi Teknik dan Mekanika
Pelatihan Ahli Pelaksana Geoteknik Tanah untuk Perencanaan Teknis Konstruksi SDA

 Pengambilan contoh
Harus menerus (continue) sehingga didapatkan susunan lapisan tanah/
batuan, mulai dari saat pemboran sampai kedalaman yang dikehendaki.
 Diameter pemboran
Dipergunakan pemboran dengan ”NX” size berdasarkan DCDMA
(Diamond Core Drilling Manifactures Association) dengan :
Diameter core : 54, 7 mm
Diameter lubang : 75, 7 mm
 Penyimpanan contoh
Contoh-contoh hasil pemboran inti (core samples) harus dimasukkan
dalam peti kayu serta disusun sesuai dengan urutan kemajuan
pemboran. Untuk core samples yang tak terambil sama sekali, dalam peti
penyimpanannya dapat diganti dengan bambu atau kayu yang dicat
merah dan ditempatkan sesuai dengan kedalamnnya.
Besarnya ukuran peti contoh : Panjang : 1, 50 m
Lebar : 0, 50 m
 Core Barrel (Tabung Penginti)
Core Barrel disyaratkan menggunakan ”double tube core barrel” atau
untuk hal-hal yang khusus dapat dipergunakan ”Triple Tube Core Barrel”
 Core Recovery
Core Recovery adalah prosentage perbandingan antara panjangnya core
(inti) yang terambil dengan panjangnya kemajuan pemboran. Disyaratkan
untuk kedalaman keadaan yang normal : minimal 80%.
 Mata Bor
Mata bor yang dipakai tergantung keadaan batuannya. Umumnya mata
bor tungsten atau mata bor intan.
 Log Bor
Hasil diskripsi contoh-contoh batuan hasil pemboran harus dimasukkan
ke dalam suatu kolom yang tertentu dan memuat tanggal, elevasi,
diskripsi, satuan batuan, core recovery, RQD, koefisien permeabilitas,
SPT, air pembilas dan lain-lain. Diskripsi dilakukan oleh geologist dan
penamaan satuan batuan harus mengikuti standar/ klasifikasi yang sudah
ditentukan.
TANAH : UNIFIED SOIL CLASIFICATION
BATUAN : TEXTUR, KOMPOSISI MINERAL, NAMA BATUAN
PELAPUKAN : DERAJAT PELAPUKAN (BIENIAWSKI, 1973)
SKALA KEKERASAN BATUAN (NESPAK, 1975)

3-6
Perencanaan Penyelidikan Geologi Teknik dan Mekanika
Pelatihan Ahli Pelaksana Geoteknik Tanah untuk Perencanaan Teknis Konstruksi SDA

 Prosedur
Prosedur pemboran dapat mengikuti :
 ASTM D. 2113 – 70
 ASSHO T. 225 – 68
 BS 4019
 Kedalaman Pemboran
Tidak ada rumus yang pasti untuk menentukan kedalaman suatu
pemboran. Kedalaman pemboran merupakan ”judment” geologist setelah
mempelajari keadaan geologi di tempat rencana proyek dan tujuan dari
penyelidikan. Sebagai pegangan untuk bangunan air, misalnya,
bendungan dalamnya pemboran minimal sama dengan tinggi muka air
maksimum, untuk kondisi batuan (rock) dan 2 kalinya jika pada alluvium.
 Lokasi dan Jumlah Titik-titik Pemboran
 Lokasi
Lokasi-lokasi titik pemboran sebaiknya dikonsentrasikan pada tempat
rencana bangunan akan didirikan terutama pada bagian-bagian yang
paling penting dari bangunan tersebut yang akan sangat berpengaruh
pada stabilitas dari bangunan (misalnya bagian poros bendungan,
toe, spillway, dan lain-lain)
 Jumlah Titik Pemboran
Jumlah titik pemboran tergantung dari keadaan geologi setempat.
Jika keadaan batuannya homogen titik-titik pemboran umlahnya bisa
dikurangi, tetapi jika heterogen dan sangat kompleks bisa bertambah
jumlah titik-titik pemboran maupun kedalamannya dari rencana
semula.

3.1.4 S. P. T. (Standard Penetration Test)


 Penjelasan :
Percobaan penetrasi yang dilakukan pada lubang bor inti untuk
mengetahui kepadatan tanah pada kedalaman tertentu yang
dikehendaki. Test ini cocok pada kondisi tanah yang berbutir kasar
(pasir).

 Cara Pelaksanaan :
”Split spoon sampler” dengan ukuran :
Ø luar : 2”
3"
Ø dalam : 1
8

3-7
Perencanaan Penyelidikan Geologi Teknik dan Mekanika
Pelatihan Ahli Pelaksana Geoteknik Tanah untuk Perencanaan Teknis Konstruksi SDA

Diturunkan pada dasar lubang bor, dengan perantaraan stang bor.


Kemudian ditumbuk oleh palu seberat 140 lb = 63, 56 kg dengan
ketinggian jatuh 75 cm.
Dihitung banyaknya tumbukan yang diperlukan untuk memasukkan
bagian split spoon 30 cm yang terakhir.
Data yang diperoleh :
N = jumlah tumbukan
Cm = panjang split spoon yang masuk
Prosedur :
ASTM : D 1586 – 67
ASSHO: T 206 – 70
BS : 1377
JIS : A 1219 – 1968
 Jumlah Percobaan
Percobaan S. P. T. biasanya dilakukan pada interval kedalaman antara
(1 1/2 – 3) meteran.

3.1.5 Percobaan Permeabilitas (Permebility Test)


Percobaan permeabilitas di lapangan adalah salah satu cara yang paling
baik untuk mengetahui nilai koefisien permeabilitas (K) dari batuan, yang
lebih mencerminkan dengan kondisi aslinya di lapangan. Pada umumnya
percobaan ini dilakukan dalam lubang bor tangan, test pit, lubang bor inti.
Dari data-data yang diperoleh, kita bisa mendapatkan keterangan yag
berhubungan dengan jumlah rembesan ”Seepage” pada batuan dan juga
bisa diperkirakan jumlah grouting/ tekanan grouting yang diperlukan dalam
pelaksanaan untuk mengurangi rembesan.
Percobaan pengukuran permeabilitas di lapangan terdiri dari :

 Cara Pressure Test (Packer Test)


 Penjelasan :
Test Permeabilitas pada formasi batuan yang keras, kompak
umumnya dipakai metoda ”Packer Test”. Metoda ini dengan
mempergunakan alat yang disebut ”packer” yang fungsinya sebagai
penghalang supaya air yang dipompakan dengan tekanan, bisa
masuk ke dalam formasi batuan yang akan ditest, jadi merupakan
penyekat yang tidak tembus air (”seal”). Percobaan ini dilakukan
pada lubang bor dengan NX size.

3-8
Perencanaan Penyelidikan Geologi Teknik dan Mekanika
Pelatihan Ahli Pelaksana Geoteknik Tanah untuk Perencanaan Teknis Konstruksi SDA

Penempatan Packer :
 Single packer : di atas bagian yang ditest
 Double packer : di atas dan di bawah bagian yang ditest
 Prosedur :
Percobaan permeabilitas bertekanan (pressure test) dapat terdiri
beberapa tahapan percobaan, yang ditentukan oleh besarnya
tekanan yang diberikan. Tekanan air disesuaikan dengan kedalaman
batuan yang ditest.
Lihat (U. S. B. R., Geology Report No. G – 97).
 Rumus/ Perhitungan :
Untuk mencari harga K = koefisien permeabilitas dapat dipergunakan
rumus :
2, 3 Q L
K= log cm / det
2 LH R
Untuk L ≥ 10 R
Dimana :
K = koefisien permeabilitas
Q = dibit air
L = panjang bagian yang ditest
R = jari-jari lubang bor
H = perbedaan head dari air
= H (gravitasi) + H (tekanan)

 Cara ”Percolation Test”


 Penjelasan :
Cara ini dipakai apabila dinding lubang bor mudah runtuh, sehingga
tidak akan kuat untuk dilakukan percobaan bertekanan.
 Cara Pelaksanaan :
Turunkan casing pada lubang bor sampai batas bagian atas yang
akan ditest. Masukkan air pada casing dengan jalan dikocorkan,
usahakan muka air dalam casing selalu tetap.
Catat : banyaknya air yang akan dikocorkan dan waktu yang
diperlukan.
 Rumus yang Digunakan
2, 3 Q L
K= log cm / det
2 LH R

3-9
Perencanaan Penyelidikan Geologi Teknik dan Mekanika
Pelatihan Ahli Pelaksana Geoteknik Tanah untuk Perencanaan Teknis Konstruksi SDA

Dimana :
K = koefisien permeabilitas yang dicari
Q = debit air yang masuk dalam keadaan seimbang
L = panjang bagian yang ditest
H = perbedaan Head air = H (gravitasi)
R = jari-jari lubang bor
 Tempat-tempat Percobaan
 Tempat-tempat (bagian) yang ditest umumnya pada setiap
kedalaman antara (11/2 – 3) meteran.
 Pada setiap pergantian lapisan.

3.1.6 Paritan uji (Trench)


Yaitu galian yang dibuat dengan bentuk seperti parit dengan tujuan untuk
mengetahui lebih jelas gejala-gejala geologi di permukaan, misalnya batas
atau bidang kotak lapisan-lapisan batuan, rekahan-rekahan (fracture),
patahan, tingkat pelapukan dan tebalnya lapisan penutup (over burden).
Lokasi : umunya dibuat pada lereng, abutment (tumpuan) dapat
memotong garis tinggi atau sejajar garis tinggi.
Ukuran : panjang disesuaikan dengan keadaan lereng dan tujuan penyelidi-
kan dapat berkisar dari puluhan sampai ratusan meter.
Lebar : secukupnya supaya orang atau alat mudah bekerja minimal
(1, 50 – 2,00) meteran jika pekerjaan dilaksanakan oleh tenaga
manusia.
Tinggi : - jika lapukan/ tanah penutup tidak tebal sampai kelapisan keras.
- jika tebal : kedalaman sampai 3 meter.

3.1.7 Adit
Yaitu galian yang dibuat menembus bukit (terowongan) dengan tujuan untuk
mengetahui lebih jelas gejala-gejala geologi dan mengadakan pengamatan-
pengamatan mengenai sifat-sifat fisik batuan dalam keadaan aslinya di
lapangan.
Misalnya : shear strength, compressive strength dan lain-lain.
Dimensi : diusahakan seekonomis mungkin, tetapi pekerja maupun yang
akan melakukan pengamatan dan percobaan mudah untuk
bergerak.
Umumnya : Tinggi : (1,80 – 2,00) meter
Lebar : (1,50 – 2,00) meter
Panjang : berkisar antara (50 – 100) meter

3-10
Perencanaan Penyelidikan Geologi Teknik dan Mekanika
Pelatihan Ahli Pelaksana Geoteknik Tanah untuk Perencanaan Teknis Konstruksi SDA

3.1.8 Penyondiran (Dynamic Penetration Test)


Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui nilai perlawanan konus dari
perlapisan tanahnya dan variasi kedalaman dari pada lapisan yang cukup
keras.
 Alat sondir :
Yang bisa digunakan berkapasitas sedang dimana alat tersebut dapat
membaca nilai maksimum perlawanan konus hingga 200 kg/ cm2. Mata
sondir yang digunakan ialah Biconus, sehingga akan diperoleh nilai
perlawanan konus dan local friction-nya. Penyondiran ini mampu
mencapai kedalaman 20 m atau bila perlawanan konus telah mencapai
200 kg/ cm2.
 Dynamic Penetration Test
Pada lapisan tanah berbutir kasar, pendugaan jenis lapisan tanah dapat
digunakan engan alat D. C. P. T. Dimana mata konus 10 cm2, berat palu
10 kg dan tinggi jatuh 50 cm. Sehingga jenis serta gambaran kepadatan
lapisan tanah ini dapat diketahui dengan menghitung jumlah pukulan
pada batang penetrometer setiap penetrasi tersebut masuk 20 cm.
Hasil penelitian ini digambar dalam grafik :
 Hasil sondir didapat perlawanan konus dan nilai lekatannya.
 Hasil Dynamic Penetration Test didapat grafik yang menghubungkan
jumlah pukulan (N) terhadap kedalaman lapisannya.
 Disamping itu perlu dicantumkan juga evaluasi lokasi penyelidikan.

3.1.9 Pemboran Tangan


Pemboran tangan ini dapat dilakukan hingga mencapai keadalaman
maksimum 10 m dengan diameter lubang berkisar antara 12 – 15 cm.
Gunanya untuk mengetahui lebih jelas lapisan tanahnya, pada saat
pemboran tangan dilakukan, perlu dicatat elevasi muka tanah pada lokasi
tersebut, deskripsi dari masing-masing jenis perlapisannya dan muka air
tanahnya. Pemboran tangan ini dapat dihentikan bila usaha-usaha di bawah
ini telah dilakukan :
 Pada lapisan tanah liat yang lembek dan mudah longsor dimana dinding
lubang bor tersebut selalu runtuh diusahakan agar menggunakan casing
sehingga jenis tanah tersebut terambil.
 Pada lapisan keras yang susah ditembus alat bor misalnya menemui
boulder, usahakan mengadakan pemboran ulang pada jarak 1 – 3 m di
sisi lokasi pemboran pertama.

3-11
Perencanaan Penyelidikan Geologi Teknik dan Mekanika
Pelatihan Ahli Pelaksana Geoteknik Tanah untuk Perencanaan Teknis Konstruksi SDA

3.1.10 Sumuran Uji (Test Pit)


Pekerjaan sumuran uji atau test pit gunanya untuk mengetahui jenis dan
ketebalan lapisan di bawah top soil dengan lebih jelas, baik lokasi tersebut
untuk pondasi bangunan maupun untuk jenis bahan timbunan pada daerah
borrow area. Dengan demikian dapat lebih positip dalam menguraikan jenis
lapisannya dan ketebalannya, juga volume dapat dihitung. Pada saat
pelaksanaan berjalan perlu dicatat uraian-uraian jenis dan warna tanah
disertai photo-photonya. Ukuran sumuran uji tersebut 1 – 11/2 m2 dengan
maksimum kedalaman galian 5 meter atau disesuaikan dengan keadaan
lapisan tanahnya.
Pembuatan sumuran uji ini dihentikan bilamana :
 Telah dijumpai lapisan keras dan diperkirakan benar-benar keras pada
sekeliling lokasi tersebut.
 Bila dijumpai rembesan air tanah yang cukup besar sehingga sulit untuk
diatasi.
 Bila dinding galian mudah runtuh, sehingga pembuatan galian mengalami
kesulitan, usahakan terlebih dahulu dengan membuat papan-papan
penahan dinding galian sebelum penelitian ini dihentikan.

3.1.11 Pengambilan Contoh Tanah


Untuk mengadakan penelitian tanah di laboratorium, pengambilan contoh
tanah ini sangat penting, baik untuk mengetahui sifat dan jenis tanahnya juga
untuk perkiraan evaluasi hasil penelitian tanahnya.
 Pengambilan contoh tanah asli (undisturbed sample)
Agar data-data parameter dan sifat-sifat tanahnya masih dapat
digunakan, maka perlu sekali perhatian pada saat-saat pengambilan,
pengangkutan dan penyimpanan contoh-contoh tanah ini, agar :
 Struktur tanahnya tidak terlalu terganggu atau berubah, sehingga
mendekati keadaan yang sama dengan keadaan lapangan.
 Kadar air aslinya masih dapat dianggap sesuai dengan keadaan
lapangan.
 Penggunaan tube sample yang baik dengan mata tabung yang tajam
serta memenuhi persyaratan yang ada. Diameter tabung (ø) minimal
6,8 cm dan panjang 50 cm.
 Sebelum pengambilan contoh tanah dilakukan, dinding tabung
sebelah dalam diberi pelumas (olie) agar gangguan terhadap contoh

3-12
Perencanaan Penyelidikan Geologi Teknik dan Mekanika
Pelatihan Ahli Pelaksana Geoteknik Tanah untuk Perencanaan Teknis Konstruksi SDA

tanah dapat diperkecil, terutama pada waktu mengeluarkan contoh


tanah ini.
 Agar kadar air asli contoh tanah tidak banyak berubah, maka pada
kedua ujung tabung ini perlu ditutup dengan parafin yang cukup tebal
dan tabung tersebut diberi simbol lokasi dan kedalaman dari contoh
tanah tersebut.
 Pada saat pengambilan contoh tanah ini diusahakan dengan
memberikan tekanan centris sehingga struktur tanahnya sesuai
dengan di lapangan. Pengambilan contoh-contoh pada setiap lapisan
tanah yang berbeda, atau pada kedalaman-kedalaman tertentu.
 Pada waktu pengangkutan dan penyimpanan tabung sample supaya
dihindarkan dari getaran-getaran yang cukup keras dan hindarkan
penyimpanan pada suhu yang cukup panas.
 Pengambilan contoh tanah terganggu (disturbed sample)
Contoh tanah tidak asli dapat diperoleh dari pembuatan sumuran uji/ test
pit  30 kg.
Pengambilan contoh tanah ini diambil sebagai berikut :
 Bila lapisan-lapisan tanah masing-masing cukup tebal, maka harus
diambil dari masing-masing lapisan dengan pengambilan vertikal.
 Bila lapisan-lapisannya tipis < 0,5 meter, maka pengambilan contoh
tanah tersebut diambil secara keseluruhan dengan pengambilan
vertikal.
Contoh-contoh tanah ini akan dikenakan percobaan proctor di
laboratorium. Untuk penelitian kadar air aslinya, maka perlu diadakan
pengambilan contoh tanah asli dengan menggunakan PVC yang
selanjutnya ditutup dengan parafin.

3.2 Metode Penyelidikan Laboratorium


Penjelasan :
Merupakan kelanjutan dari pekerjaan lapangan. Pekerjaan laboratorium
mengadakan penelitian terhadap contoh batuan dan tanah yang telah diambil di
lapangan. Dalam uraian ini dibahas beberapa cara penelitian laboratorium untuk
tanah dan batuan untuk keperluan fondasi, bahan timbunan, quarry dan penelitian
aggregat.

3-13
Perencanaan Penyelidikan Geologi Teknik dan Mekanika
Pelatihan Ahli Pelaksana Geoteknik Tanah untuk Perencanaan Teknis Konstruksi SDA

3.2.1 Penelitian Petrografi


Contoh batuan disayat tipis sekali dan diletakkan dalam kepingan kaca
menyerupai preparat. Dengan alat miskropkop polarisator dapat ditentukan
komposisi mineral, texture, prosentage mineral dan lain-lain sehingga dapat
ditentukan dengan pasti jenis dan nama batuan tersebut.

3.2.2 Penelitian Mekanika Batuan


Penelitian ini dilakukan pada contoh batuan.
Untuk menentukan kepadatan, kekerasan, kekuatannya dengan cara :
 Supersonic waves
 Triaxial compressive strength (ASTM 19 D. 2664 – 67)
 Density, Poison’s ratio, Modulus of Elasticity (ASTM 19
D.2845 – 69)
 Unconfined compressive strength (Jaeger and Cook 1976, Rock
Mechanics)

3.2.3 Penelitian untuk Bahan Aggregat


Antara lain :
 Relative density dan water absorption (ASTM, C 128, AASHO T. 84, BS.
812)
 Petrograpic analysis BS 812 Part 1 : 1975
 Particle size distribution ASTM 14
 Sulphate Soundness ASTM C. 88
 Los Angeles Abrasion ASTM C. 535
 Bulk Spesific Gravity ASTM C. 97

3.2.4 Soil Properties


 Unit Weight (∂m)
Untuk memperoleh nilai berat isi tanah, maka tanah yang akan
dikenakan pengujian ini adalah tanah keadaan asli.
 Specific Gravity (Gs)
Nilai berat jenis suatu tanah dapat ditentukan dengan menggunakan
suatu botol picnometer dan perlengkapannya. Prosedur mengikuti cara
ASTM – D – 854 atau AASHO. T. 100
 Moisture Content (W)
Tanah yang dikenakan pengujian ini adalah tanah dalam keadaan asli.
Prosedur mengikuti cara ASTM – D. 2216

3-14
Perencanaan Penyelidikan Geologi Teknik dan Mekanika
Pelatihan Ahli Pelaksana Geoteknik Tanah untuk Perencanaan Teknis Konstruksi SDA

 Plastic Limit (Wp)


Batas plastis ini adalah nilai kadar air pada batas bawah daerah plastis.
Kadar air ini ditentukan dengan menggiling-giling tanah yang melewati
ayakan no. 4 (425 μ • m) pada alat kaca sehingga membentuk Ø 3,2 mm
dan memperlihatkan retak-retak. Prosedur dapat mengikuti ASTM. D.
424
 Index Plasticity (PI)
Index Plasticity adalah selisih nilai kadar air dari batas cair ke batas
plastis.
 Shrinkage limit
Shrinkage limit adalah nilai maksimum kadar air pada keadaan mana
volume dari tanah ini tidak berubah, prosedur dapat mengikuti ASTM. D.
427

3.2.5 Grain Size Distribution dan Hydrometer


Contoh tanah yang berbutir kasar hingga diameter butir 75 μ • m (tertahan
pada ayakan No. 200). Penentuan Ø butirnya dilakukan dengan sieves
analysis, sedangkan pada tanah berbutir halus (Ø < 75 μ • m) ditentukan
dengan Hydrometer analysis. Hasil dari pengujian ini digambar pada sumbu
mendatar merupakan skala logarithma dari Ø butir dalam m.m. dan sumbu
tegak adalah skala m.m. merupakan prosentase kehalusan butir. Pembagian
butir tanahnya digunakan U • SSS dengan prosedur mengikuti ASTM. D. 42.

3.2.6 Atterberg Limit


 Liquid limit (WL)
Batas cair/ liquid limit ini adalah kadar air yang dinyatakan dalam prosen
dari contoh tanah yang dikeringkan dalam oven pada batas antara
keadaan cair dan keadaan plastis. Nilai batas cair ini dapat ditentukan
dengan cara menentukan nilai kadar air pada contoh tanah yang
mempunyai jumlah ketukan sebanyak 25 kali dijatuhkan setinggi 1 cm.
Pada kecepatan ketukan 2 kali setiap detiknya, dan panjang lereng
saluran percobaan ini adalah 12,7 m.m.
Prosedur dapat mengikuti ASTM. D. 423.

3.2.7 Unconfined Compressive Test


Percobaan ini dimaksud untuk memperoleh nilai kekuatan geser dari jenis
lempung, baik dalam keadaan asli maupun keadaan terganggu (remolded
speciment). Kecepatan gerakan perubahan tinggi pada arah vertikal adalah

3-15
Perencanaan Penyelidikan Geologi Teknik dan Mekanika
Pelatihan Ahli Pelaksana Geoteknik Tanah untuk Perencanaan Teknis Konstruksi SDA

1% per menit. Hasilnya merupakan gambar yang memberikan hubungan


antara besar tegangan dengan perbandingan perubahan tinggi contoh tanah.
Prosedur mengikuti ASTM. D – 2166.

3.2.8 Consolidation Test


Percobaan ini dimaksudkan untuk mengetahui sifat-sifat tanah, sehubungan
dengan pembebanan yang telah dilakukan. Dengan demikian maka
perkiraan besar penurunan yang terjadi pada lapisan ini dapat diketahui.
Besarnya increment ratio adalah 1, dengan nilai pembebanan adalah :
1 1
, , 1, 2, 4, 8 dan 16 kg/ cm2 pada setiap 24 jam dan pengurangan
4 2
1
pembebanan 2, kg/ cm2 pada setiap 12 jam. Data-data parameter seperti
4
nilai compression index, Cc dan koefisien of consolidation Cv perlu diperoleh.
Prosedur percobaan mengikuti ASTM. D. 2435 : Engineering properties of
soil and Their Measurement by Bowles.

3.2.9 Triaxial Compression Test


Percobaan ini dimaksudkan untuk memperoleh nilai kekuatan geser serta
sifat-sifat tanah akibat pembebanan untuk mendapatkan hasil yang cukup
baik, pada setiap sample perlu disiapkan 3 contoh tanah dengan
pembebanan atau tekanan cell yang berlainan disesuaikan dengan rencana
bangunan yang ada. Kecepatan perubahan tinggi contoh tanah agar
disesuaikan dengan macam percobaan dan sifat dari pada jenis tanahnya.
Prosedur mengikuti literatur :
The Measurement of Soil properties in the Triaxial TEST by BISHOP &
HENKEL, USBR EARTH MANUAL dan Engineering properties of soil and
their Measurement by Blowes.

3.2.10 Permeability Test


Salah satu sifat-sifat tanah, selain konsolidasi dan Shear Strength yang
terakhir adalah permeability dimana sifat ini ialah sifat mengalirkan air. Sifat
ini dipunyai karena adanya hubungan antara butir dengan butir yang
mempunyai pori atau ruang yang saling berhubungan sehingga dapat
mengalirkan air. Untuk keluarnya air/ cairan diperlukan gaya yang dikenal
dengan nama Seepage Force dari dalam tanah.
Dengan penurunan-penurunan hukum Darcy maka didapat rumus :
V=k•i

3-16
Perencanaan Penyelidikan Geologi Teknik dan Mekanika
Pelatihan Ahli Pelaksana Geoteknik Tanah untuk Perencanaan Teknis Konstruksi SDA

Dimana :
V = kecepatan (cm/ det), untuk tanah sangat kecil hingga mencapai 10-4
k = koefisien permeability (cm/ det)
h
i = gradient ( )
L
Pengukuran k :
Dapat dilakukan di laboratorium, maupun di lapangan.
Pengukuran di laboratorium :
Pada garis besarnya pengukuran ini tergantung pada jenis tanahnya, apakah
sifatnya cepat atau lambat mengalirkan air.

 Untuk jenis tanah yang cepat mengalirkan air digunakan cara constant
head.
Dimana air dialirkan secara konstant. Kemudian setiap waktu tertentu
(misal tiap 10 menit atau 30 menit) air yang ke luar melalui tanah
percobaan dicatat debitnya, setelah ditampung pada gelas ukur.
Sehingga harga k nya dapat dihitung dengan rumus :
QL
K= (cm/ det)
hA
Dimana :
K = koefisien permeability
Q = banyaknya air yang tertampung pada satuan waktu tertentu
(volume/ waktu)
h = tinggi total muka air terhadap dasar tabung percobaan
L = tebal contoh tanah
A = luas permukaan contoh tanah

 Untuk jenis tanah yang lambat mengalirkan air


Maka digunakan alat FALLING HEAD Permeameter.
Pipa yang digunakan kecil, dengan maksud dalam waktu relatif pendek
penurunan air dapat dibaca.
Debit air tidak langsung ukur.
Rumus yang dipakai :
QL ho aL ho
K= ln atau K = 2,3 log
hA h1 At h1
(cm/ det)

3-17
Perencanaan Penyelidikan Geologi Teknik dan Mekanika
Pelatihan Ahli Pelaksana Geoteknik Tanah untuk Perencanaan Teknis Konstruksi SDA

Dimana :
K = koefisien permeability
a = diameter pipa
L = tebal contoh tanah
A = luas permukaan contoh tanah
t = waktu pembacaan penurunan m air dari t0 ke t1
h0= tinggi pembacaan m • a • semula
h1= tinggi pembacaan m • a • terakhir
Untuk tanah inpervious ini, lebih lama pembacaan penurunan airnya,
maka akan lebih baik, karena akan lebih teliti.

3.2.11 Compaction Test


Salah satu cara untuk memperoleh hasil pemadatan yang maksimal telah
banyak digunakan metoda Proctor (1933) di laboratorium. Dengan cara ini
maka pegangan sebagai dasar-dasar pemadatan di lapangan dapat
dilakukan seperti penentuan kadar air optimum (Wopt) perkiraan kepadatan
tanah dan penentuan peralatan pemadatan di lapangan. Jumlah tanah
bahan proctor berkisar 30 kg, tanah ini dikenakan percobaan standar/
Modified AASHO, sehingga nilai kadar air optimumnya dapat diketahui, juga
maksimum kepadatan kering dan basahnya. Sehubungan dengan kapasitas
peralatan pemadatan tanah yang ada di lapangan, maka perlu dikerjakan
system Modified AASHO sehingga akan diperoleh nilai maksimum
kepadatan lebih besar agar lengkung pemadatan cukup baik, maka minimal
5 titik hasil pemadatan perlu diperoleh dengan kadar air berkisar ± 3% pada
daerah optimum.
Prosedur dilakukan mengikuti AASHO T. 180; . 99 dan ASTM.

3.2.12 Direct Shear Test


Salah satu percobaan untuk menentukan nilai kekuatan geser tanah adalah
dengan melakukan percobaan geseran langsung. Dengan merubah-rubah
tegangan axial pada beberapa contoh tanah (minimal 4 macam besaran
pembebanan dengan setiap beban pada satu contoh tanah), maka akan
diperoleh tegangan gesernya.
Kecepatan perubahan gerakan contoh tanah pada arah horisontal
disesuaikan dengan keadaan jenis tanahnya. Kecepatan perubahan
pergerakan ini ditentukan dari waktu yang akan dicapai sehingga contoh
tanah akan longsor. Dengan diperolehnya garis yang memberikan hubungan

3-18
Perencanaan Penyelidikan Geologi Teknik dan Mekanika
Pelatihan Ahli Pelaksana Geoteknik Tanah untuk Perencanaan Teknis Konstruksi SDA

antara tegangan geser dan tegangan axial, maka nilai kohesi dan sudut
gesernya dapat diketahui.
Prosedur mengikuti ASTM. D. 3080.

3.3 Daftar Standar Pelapukan, Kekerasan dan Simbol-Simbol Geologi


Lampiran-lampiran dari hasil penyelidikan merupakan hal yang sangat penting dan
isi lampiran adalah sebagai berikut :
Tabel 3.1
Derajat Pelapukan Batuan

Tingkat Pelapukan Simbol Tanda – tanda


1. Unweathered/ Fresh UW/ F Tidak nampak tanda-tanda pelapukan.
Kristal mineral bersifat segar dan berwarna
terang. Beberapa diskontinuitas mungkin
menunjukkan sedikit noda oksidasi.

2. Slightly Weathered SW Pelapukan berkembang pada permukaan


diskontinuitas yang terbuka. Permukaan
diskontinuitas berubah warna dan
perubahan tersebut dapat berkembang
sampai sedalam 10 mm dari permukaan
diskontinuitas.

3. Moderately Weathered MW Sebagian besar dari batuan telah berubah


warna. Batuan belum bersifat rapuh (kecuali
pada batuan sedimen dengan sementasi
kurang baik). Diskontinuitas telah teroksidasi
atau terisi material ubahan.

4. Highly Weathered HW Pelapukan telah berkembang keseluruhan


masa batuan. Sebagian material batuan
bersifat rapuh. Batuan tidak mempunyai
kilap, seluruh material kecuali kwarsa telah
berubah warna. Batuan dapat digali dengan
palu geologi.

5. Completely Weathered CW Seluruh massa batuan telah berubah warna


dan komposisinya. Kenampakan dari luar
berupa tanah, tetapi gambaran tekstur dan
struktur batuan aslinya masih terlihat.

DARI BIENLAWSKI, 1973

3-19
Perencanaan Penyelidikan Geologi Teknik dan Mekanika
Pelatihan Ahli Pelaksana Geoteknik Tanah untuk Perencanaan Teknis Konstruksi SDA

Skala kekerasan batuan secara kwalitatif untuk kepentingan teknik sipil dengan
lambang OH (Overburden Hardness) untuk tanah kohesif dan RH (Rock Hardness),
KESPAK (1975).
Tabel 3.2
Derajat Kekerasan

Kekerasan Lambang Tanda – tanda


Sangat lunak OH – 0 Bersifat setengah cair, hanya dapat diambil dengan alat
penghisap atau alat semacam perangkap, misal : lanau
pantai.

Lunak OH – 1 Mudah diremas dengan jari tangan, misal lempung dan


lanau basah.

Lunak sedang OH – 2 Tidak mudah diremas dengan jari tangan tetapi bila
dipijit masih nampak bekas jari.

Keras sedang OH – 3 Bila dipijit tidak nampak bekas jari tetapi ujung pensil
dapat ditusukkan sampai kurang lebih 1,5 cm.

Keras OH – 4 Ujung pensil sukar ditusukkan dan pengambilan contoh


tanah dengan cara doronganpun sukar dilakukan.

Sangat keras OH – 5 Sudah mendekati kekerasan batu, umumnya batu


lapuk, lempung kering atau pasir kompak yang mulai
mengalami sementasi.

Sangat lunak RH – 0 Sama dengan OH – 4 dan OH – 5 dan hanya dapat


diambil dengan pemboran kering, misal beberapa jenis
tufa dan batu lempung.

Lunak RH – 1 Dapat digores dengan kuku dan diambil dengan palu


geologi serta cepat dibor dengan matabor widya, misal
beberapa jenis batu pasir, batu lanau dan serpih.

Lunak sedang RH – 2 Dapat digores dengan pisau dan cukup baik dibor
dengan matabor widya, misal batu pasir yang tersemen
baik dan batu gamping.

Keras sedang RH – 3 Sukar digores dengan pisau, sukar diambil dengan palu
geologi tetapi ujung contoh batu masih mudah
dipecahkan dengan palu. Masih dapat dibor dengan
widya tetapi kadang memerlukan matabor intan, misal
basalt.

Keras RH – 4 Ujung contoh batu sukar dipecah dengan palu, tak


dapat digores dengan pisau dan pemboran
memerlukan matabor intan misal sejenis kwarsit.

Sangat keras RH – 5 Kemajuan pemboran dengan matabor intan sangat


lambat, misal : rijang, batuan tersilisifikasi.

3-20
Perencanaan Penyelidikan Geologi Teknik dan Mekanika
Pelatihan Ahli Pelaksana Geoteknik Tanah untuk Perencanaan Teknis Konstruksi SDA

SIMBOL – SIMBOL UNTUK PETA GEOLOGI

3-21
Perencanaan Penyelidikan Geologi Teknik dan Mekanika
Pelatihan Ahli Pelaksana Geoteknik Tanah untuk Perencanaan Teknis Konstruksi SDA

SIMBOL – SIMBOL UNTUK PETA GEOLOGI

3-22
Perencanaan Penyelidikan Geologi Teknik dan Mekanika
Pelatihan Ahli Pelaksana Geoteknik Tanah untuk Perencanaan Teknis Konstruksi SDA

SIMBOL – SIMBOL PENYELIDIKAN


GEOLOGI TEKNIK DAN MEKANIKA TANAH

Deskripsi Rencana SelesaiDikerjakan

Drill Hole/ Bor Inti

Drill Hole/ Bor Inti


(Diameter Besar)

Drill Hole/ Bor Inti


(Pengeboran besar)

Auger Hole/ Bor Tangan

Auger Hole/ Bor Tangan


(diameter besar)

Test Pit/ Sumuran Uji

Test Shaft

Test Trench/ Paritan

Test Drift

Titik Duga Geolistrik

Titik Sondir

3-23
Perencanaan Penyelidikan Geologi Teknik dan Mekanika
Pelatihan Ahli Pelaksana Geoteknik Tanah untuk Perencanaan Teknis Konstruksi SDA

SIMBOL – SIMBOL GEOLOGI

Breksi Serpih gampingan

Konglomerat Batu gamping

Batu gamping berlapis


Batu pasir berbutir halus

Batu pasir berbutir kasar Dolomit

Lensa-lensa batu pasir pada serpih


Batu gamping pasiran

Batu pasir berlapis Batu gamping colit

Batu pasir berstruktur silang siur


Batu gamping berfosil

Batu pasir dengan sisipan serpih


Batu gamping chert

Lensa-lensa batu pasir pada


serpih Gipsum

Silt/ lanau Anhidrit

Lempung
Garam/ salt

Serpih Tufa dan breksi tufaat

3-24
Perencanaan Penyelidikan Geologi Teknik dan Mekanika
Pelatihan Ahli Pelaksana Geoteknik Tanah untuk Perencanaan Teknis Konstruksi SDA

SIMBOL – SIMBOL GEOLOGI

Lava basa
(struktur aliran) Slate (batu sabak)

Lava (struktur aliran) Breksi vulkanik dan tufa

Porpirit Breksi volkanik (aglomerat)

Granit
Aliran lava

Serpatin Debu volkanik (tufa)

Batuan beku Permukaan batuan

Sekis Permukaan tanah

Tanah penutup (aluvial)


Genes

Marmer Kerakal

Tanah lepas (loeses)


Kwarsit

Talus

Gambut

3-25
Perencanaan Penyelidikan Geologi Teknik dan Mekanika
Pelatihan Ahli Pelaksana Geoteknik Tanah untuk Perencanaan Teknis Konstruksi SDA

WARNA –WARNA YANG BIASA DIGUNAKAN PADA PETA GEOLOGI

BATUAN BEKU / BATUAN TEROBOSAN


(MERAH)

ENDAPAN GUNUNG API


(COKELAT)

BATU GAMPING
(BIRU TUA)

ENDAPAN SUNGAI / TERAS


(BIRU MUDA)

BATU PASIR / SEDIMEN


(KUNING)

LEMPUNG / SERPIH
(HIJAU)

3-26
Perencanaan Penyelidikan Geologi Teknik dan Mekanika
Pelatihan Ahli Pelaksana Geoteknik Tanah untuk Perencanaan Teknis Konstruksi SDA

TABEL 3.3
KLASIFIKASI KONSISTENSI

KELAS IDENTIFIKASI LAPANGAN JUMLAH TUMBUKAN ISTILAH


1 Keluar diantara jari bila ditekan Kurang dari 2 Sangat Lembek
2 Mudah dibentuk oleh tekanan jari 2–4 Lembek
3 Dapat dibentuk oleh tekanan kuat 4–8 Teguh
jari
4 Tidak dapat dibentuk oleh tekanan 8 – 15 Kaku
jari
5 Rapuh (getas) atau sangat liat 15 – 30 Sangat kaku
DARI CEGM ’79

3-27
Perencanaan Penyelidikan Geologi Teknik dan Mekanika
Pelatihan Ahli Pelaksana Geoteknik Tanah untuk Perencanaan Teknis Konstruksi SDA

RANGKUMAN

Metode Pekerjaan Penyelidikan Geologi Teknik dan Mekanika Tanah


Menjelaskan mengenai metode penyelidikan lapangan, metode penyelidikan laboratorium
serta daftar standar pelapukan, kekerasan dan simbol-simbol geologi.

3-28
Perencanaan Penyelidikan Geologi Teknik dan Mekanika
Pelatihan Ahli Pelaksana Geoteknik Tanah untuk Perencanaan Teknis Konstruksi SDA

LATIHAN

1. Sebutkan apa saja yang dilakukan pada metode penyelidikan lapangan /


2. Sebutkan masalah peta geologi permukaan dan peta geologi bawah permukaan !
3. Sebutkan peta dasar dan skalanya yang biasa dipergunakan dalam pembuatan peta
geologi !
4. Apakah kegunaan daripada metode penyelidikan geofisika ?
5. Sebutkan mengenai Standard Penetration Test (SPT) !

3-29
Perencanaan Penyelidikan Geologi Teknik dan Mekanika
Pelatihan Ahli Pelaksana Geoteknik Tanah untuk Perencanaan Teknis Konstruksi SDA

BAB 4
CONTOH EVALUASI DATA LABORATORIUM

Evaluasi penelitian memberikan gambaran data-data yang diperlukan oleh perencanaan


dimana di dalamnya meliputi :
 Bearing capacity
 Settlement
 Slope stability
Untuk penentuan perhitungan-perhitungan di atas dapat dipakai literatur dari :
 Foundation Analysis and Design
Joseph E. Bowles
 Foundation Design and Construction
M. J. Tom Linson
 Foundation Design
Wayne C. Teng
 The Ultimate Bearing Capacity of Foundation
Mayerhof G. G.
 Foundation of Structures
Hansen J. B.
 Methode of Estimating Settlement
 Soil Mechanic
Lambe
 Earth manual
U. S. Department of The Interior Bureau of Reclamation

4.1 Bearing Capacity

Semua formula untuk Bearing Capacity merupakan pengembangan dari formula


dasar Terzaghi dimana di dalamnya telah dimasukkan faktor bentuk, faktor
Inclination, faktor kedalaman dan faktor pengaruh air tanah. Salah satu contoh untuk
formula Bearing Capacity yang banyak dipakai adalah : HANSEN formula.
qnet = c . Nc . Sc . dc . ic + q . Nq . Sq . dq . iq + 1/2 ∂ . B . N∂ . S∂ . d∂ . i∂ . W’
Dimana :
c = kohesi tanah (t/ m2)
Nc, Nq, N∂ = faktor Bearing Capacity
Sc, Sq, S∂ = faktor bentuk pondasi

4-1
Perencanaan Penyelidikan Geologi Teknik dan Mekanika
Pelatihan Ahli Pelaksana Geoteknik Tanah untuk Perencanaan Teknis Konstruksi SDA

dc, dq, d∂ = faktor kedalaman pondasi


ic, iq, i∂ = inclinasi faktor pembebanan
q = pembebanan tanah di atas pondasi (t/ m2)
∂ = berat volume tanah dasar (t/ m3)
B = lebar pondasi (m)
W’ = faktor pengaruh air tanah
Parameter tanah yang dipakai untuk formula di atas didapat dari hasil :
 Index properties
 Triaxial Test

4.2 Settlement
Settlement ialah penurunan dari suatu bangunan yang disebabkan oleh besarnya
beban total bangunan yang dilimpahkan pada tanah dasar. Penurunan ini terjadi
dalam 2 periode. Dimana periode pertama terjadi pada saat pembangunan dimulai
hingga pembangunan selesai dan disebut penurunan segera. Penurunan tahap
kedua adalah penurunan KONSOLIDASI sehingga penurunan total adalah jumlah
penurunan segera dengan penurunan KONSOLIDASI. Untuk mengetahui
penurunan segera harus diketahui modulus elastisitas tanah yang bersangkutan
dengan mengkorelasi data-data tegangan pada triaxial test.
Salah satu rumus penurunan segera adalah :


2
(1  )
Si = q • B • • Iw
Es
Dimana :
Si = penurunan segera
q = intensitas tekanan sub structure
B = dimensi lebar
 = angka poison ratio
Iw = faktor pengaruh penurunan
Es = modulus elastisitas tanah
Dan penurunan KONSOLIDASI dihitung dengan formula dasar :
Cc  H Po  Δ P
∆H = log
1  eo Po
Dimana :
∆ H = penurunan konsolidasi
Cc = index pemampatan
H = tebal lapisan yang mengalami konsolidasi

4-2
Perencanaan Penyelidikan Geologi Teknik dan Mekanika
Pelatihan Ahli Pelaksana Geoteknik Tanah untuk Perencanaan Teknis Konstruksi SDA

eo = kadar pori awal


Po = tekanan tanah effektif pada level tinjauan
∆ P = pengaruh tekanan tanah akibat adanya tekanan sub structure
Data-data parameter yang digunakan di dalam perhitungan-perhitungan di atas
berdasarkan hasil-hasil laboratorium dan didapat dari percobaan-percobaan :
 Index properties
 Triaxial Test
 Consolidation Test
Dan juga berdasarkan dari hasil profil Bor inti atau hand auger yang dikorelasikan
dengan percobaan-percobaan lapangan lainnya.

4.3 Kemantapan Lereng (Slope Stability)


Kemantapan lereng sangat tergantung pada keadaan jenis tanahnya, dimana
masing-masing jenis tanah mempunyai sifat-sifat khusus. Perhitungan Slope
Stability ini tergantung pada head water level, tinggi galian atau timbunan, beban
yang bekerja di atas bangunan dimana keadaan tersebut dihubungkan dengan nilai
rembesan, kohesi tanah, sudut geser dalam, berat volume kering pada saat
keadaan air optimum. Data-data perhitungan didapat dari percobaan :
 Index properties
 Direct Shear
 Compaction
 Permeability
 Triaxial
Sehingga dapat ditentukan kemiringan lereng/ slope side dari suatu galian/ timbunan
tersebut. Di samping itu faktor kegempaan dan tanah pondasi juga memegang
peranan penting.
Data tanah pondasi didapat dari :
 Triaxial
 Index properties
 Permeability
 Consolidation
Dimana data-data ini menentukan kemantapan pondasi bangunannya. Untuk
menentukan kemantapan dari Slope Stability dapat digunakan bermacam-macam
formula.
Disini akan disinggung formula yang banyak digunakan :
 Untuk kemantapan galian saluran dapat digunakan Chart of Stability Methode
(Taylor 1937 and Terzaghi Peck 1967)

4-3
Perencanaan Penyelidikan Geologi Teknik dan Mekanika
Pelatihan Ahli Pelaksana Geoteknik Tanah untuk Perencanaan Teknis Konstruksi SDA

 Untuk tanggul penutup yang besar atau tanggul penahan banjir, Dam dan lain
sebagainya, dapat digunakan Methode Fellenius dengan rumus dasar :


 N tg  '  C  L
F=
T
Dimana :
F = faktor keamanan

N = tegangan efektif normal pada bidang gelincir dimana di dalamnya
termasuk :
Berat total, faktor correction air, Hydrostatistic uplift dan faktor gempa.
T = tangential driving force di dalamnya termasuk berat total dan gaya gempa
L = panjang bidang gelincir
Ф’ = sudut geser dalam effective
c = kohesi tanah
Dengan safety faktor yang digunakan adalah :
 END OF CONSTRUCTION
Without earth quake 1, 25
With minimum of 0,1 g earth quake 1, 05
 STEADY STATE SEEPAGE
Without earth quake 1, 50
With minimum of 0,1 g earth quake 1, 10
 RAPID DRAW DOWN
Without earth quake 1, 20
With minimum of 0,1 g earth quake 1, 05

4-4
Perencanaan Penyelidikan Geologi Teknik dan Mekanika
Pelatihan Ahli Pelaksana Geoteknik Tanah untuk Perencanaan Teknis Konstruksi SDA

RANGKUMAN

Contoh Evaluasi Data Laboratorium


 Bearing Capacity
 Settlemen
 Slope Stability

4-5
Perencanaan Penyelidikan Geologi Teknik dan Mekanika
Pelatihan Ahli Pelaksana Geoteknik Tanah untuk Perencanaan Teknis Konstruksi SDA

LATIHAN

1. Sebutkan gambaran yang diberikan dari hasil evaluasi penelitian yang diperlukan oleh
perencana dimana di dalamnya meliputi apa saja ?
2. Sebutkan mengenai semua formula untuk bearing capacity !
3. Sebutkan mengenai akibat terjadinya suatu satlement atau penurunan yang terjadi
pada suatu bangunan !
4. Sebutkan tentang kemantapan lereng (slope stability) data perhitungan yang diperoleh
dari percobaan stabilitas lereng meliputi apa saja ?
5. Sebutkan data pondasi didapat dari pengujian tanah meliputi apa saja ?

4-6
Perencanaan Penyelidikan Geologi Teknik dan Mekanika
Pelatihan Ahli Pelaksana Geoteknik Tanah untuk Perencanaan Teknis Konstruksi SDA

BAB 5
CONTOH CARA PEMBUATAN LAPORAN

Dalam membuat laporan geologi teknik dan mekanika tanah untuk perencanaan teknis
adalah sebagai berikut :

5.1 Bentuk Laporan


Buku laporan dicetak dengan ukuran A. 4

5.2 Isi Laporan


Isi laporan penyelidikan Geologi Teknik dan Mekanika Tanah merupakan seluruh
kegiatan penyelidikan meliputi pekerjaan lapangan, laboratorium dan analisa atau
evaluasi data.
Pembahasan ini terdiri dari :
 Maksud dan tujuan penyelidikan
 Lokasi dan kesampaian daerah (accessibility)
 Waktu pelaksanaan
 Tata cara kerja
 Pekerjaan lapangan
 Skope pekerjaan
 Peralatan yang digunakan
 Metoda yang dipakai
 Pekerjaan laboratorium
 Skope pekerjaan
 Peralatan yang digunakan
 Metoda yang dipakai
 Evaluasi penyelidikan
 Geologi teknik
 Geologi regional
 Geologi daerah penyelidikan
 Geologi Teknik dan Mekanika Tanah (Geoteknik)
 Evaluasi data penelitian pondasi
 Evaluasi data penelitian bahan bangunan
 Kesimpulan dan saran-saran

5-1
Perencanaan Penyelidikan Geologi Teknik dan Mekanika
Pelatihan Ahli Pelaksana Geoteknik Tanah untuk Perencanaan Teknis Konstruksi SDA

5.3 Lampiran-lampiran
 Peta lokasi daerah proyek dengan skala : 1 : 50.000 atau 1 : 25.000
 Peta geologi regional, skala : 1 : 100.000, jika tersedia dengan skala yang lebih
besar.
 Peta geologi lokal daerah proyek skala 1 : 2.000 atau 1 : 1.000 dan peta lokasi
titik-titik penyelidikan
 Gambar penampang geologi, dengan skala :
Vertikal : 1 : 200
Horizontal : 1 : 500
 Peta lokasi bahan timbunan
 Peta kegempaan
 Hasil lapangan
 Log Bor
 Geofisik (Seismic geolistrik)
 Perhitungan stabilitas
 Diagram sondir
 Test pit
 Trench/ Adit
 Permeabilitas
 Photo-photo
 Hasil laboratorium
 Hasil penelitian miskroskopis petrografi
 Mekanika batuan
 Soil properties test
 Triaxial test
 Direct Shear Test
 Unconfied compression test
 Grain size analysis dan Hydrometer
 Consolidation test
 Compaction test
 Atterberg test
 Summary (Ringkasan)

5-2
Perencanaan Penyelidikan Geologi Teknik dan Mekanika
Pelatihan Ahli Pelaksana Geoteknik Tanah untuk Perencanaan Teknis Konstruksi SDA

RANGKUMAN

Contoh Cara Pembuatan Laporan menjelaskan mengenai :


 Bentuk laporan
 Isi laporan
 Lampiran-lampiran dalam laporan

5-3
Perencanaan Penyelidikan Geologi Teknik dan Mekanika
Pelatihan Ahli Pelaksana Geoteknik Tanah untuk Perencanaan Teknis Konstruksi SDA

LATIHAN

1. Sebutkan cara membuat laporan geologi teknik dan mekanika tanah secara garis
besar meliputi apa saja ?
2. Sebutkan bagaimana bentuk laporan penyelidikan geoteknik ?
3. Sebutkan isi laporan penyelidikan geologi teknik !
4. Sebutkan lampiran apa saja yang disertakan dalam penyusunan laporan !

5-4
Perencanaan Penyelidikan Geologi Teknik dan Mekanika
Pelatihan Ahli Pelaksana Geoteknik Tanah untuk Perencanaan Teknis Konstruksi SDA

DAFTAR PUSTAKA

1. Bell F., Engineering Geology and Geotechnics, Newnes Butterworths, London-Boston,


1976.

2. Haryoko, Riwayat, Dasar Interpretasi Log (Suatu Pedoman Praktis) Log Analisis,
Production Geologist Pertamina, 1983.

3. Hunt, Roy E., Geotechnical Engineering Analysis and Evaluation, Mc. Growhill Book
Company, New York, 1986.

4. ITB Fisika, Kursus Pengukuran Dasar Geofisika untuk Eksplorasi dan Geoteknik (Diklat
Paraktikum), 1989.

5. Dr. Ir. Made Astawa Rai, Mekanika Batuan, Laboratorium Geoteknik Pusat antar
Universitas – Ilmu Rekayasa, ITB.

6. Keynine Dimitri P. and Judd William R., Principles of Engineering Geology and
Geotechnics, Mc Grawhill Book Company, New York, Toronto, London, 1957.

7. Panduan Perencanaan Bendungan, Volume I, Survai dan Investigation Irrigation


Engineering Service Center bersama Japan Internasional Cooperation Agency,
Direktorat Bina Teknik, Direktorat Jenderal Pengairan, Departemen Pekerjaan Umum,
1999.

8. Petunjuk Penyelidikan dan Penanggulangan Gerakan Tanah (longsoran), Badan


Penelitian dan Pengembangan Pengairan, Departemen Pekerjaan Umum, 1986.

9. Ir. Soeroto D., Petunjuk Pengujian Laboratorium Geologi Teknik dan Mekanika Batuan,
Pusat Penelitian dan Pengembangan Balitbang Pengairan, Departemen Pekerjaan
Umum, Republik Indonesia, 1984.

10. P. N. W. Verhoef, Geologi untuk Teknik Sipil, Erlangga, Jakarta, 1989.


11. Bell F. G., Fondation Engineering in Difficulty Ground, Newnes Butterworth, London,
Boston, 1978.

12. Hock E. and E. T. Brown, Under Ground Excavation Rock, Institute of Minery and
Metalogy, London, 1980.

13. Bell F. G., Engineering Properties of Soil and Rock, Newnes Butterworth, London,
Boston, 1981.