Anda di halaman 1dari 38

KEBAKARAN HUTAN & LAHAN SERTA IKLIM

Raffles B. Panjaitan
Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan,
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan
Seri Dialog UNORCID :
El Nino : Pembelajaran dari Pengalaman Masa Lalu untuk Memandu Perencanaan dan Tanggapan

Jakarta, 7 September 2015


PREDIKSI EL NINO DAN CURAH
HUJAN
ENSO (El Nino Southern Oscillation) pada kondisi El Nino Kuat. Kondisi ini
berpotensi mengakibatkan pengurangan pasokan uap air di bagian Indonesia timur
dan selatan ekuator.
Curah Hujan di wilayah Indonesia rendah-menengah (kurang dari 300 mm)
SITUASI DAN KONDISI HOTSPOT
S/D AGUSTUS 2015 DAN TARGET
PENURUNAN
TREN PENINGKATAN HOTSPOT DI INDONESIA
12,000

PERIODE PENINGKATAN HOTSPOT

10,000

8,000
Jumlah Hotspot

6,000

4,000

2,000

0
Jan Feb Mar Apr Mei Juni Juli Agust Sept Okt Nov Des
2010 ( 9.880 hotspot) 243 557 563 238 419 372 392 1,321 1,861 2,783 664 467
2011 ( 28.474 hotspot) 384 874 522 845 1,113 2,019 3,741 9,209 7,272 1,784 486 225
2012 ( 34.789 hotspot) 996 679 1,146 991 1,040 4,198 3,537 8,441 10,143 3,045 382 191
2013 ( 19.353 hotspot) 519 634 1,618 547 888 2,860 1,786 4,007 3,271 2,744 337 142
2014 ( 31.424 hotspot) 721 3,275 2,767 415 514 1,239 3,397 3,365 8,227 5,567 1,797 140
KONDISI HOTSPOT 5 PROV PRIORITAS
HEAD TO HEAD TAHUN 2014 Vs 2015

PROVINSI KONDISI HOTSPOT


1 Jan-23 Agust 1 Jan – 23 Agust % Penurunan Keterangan
2014 2015
Riau 4.120 1.346 67,0 Turun
Jambi 779 796 -2,0 Naik
Sumsel 657 738 -12,0 Naik
Kalbar 3.358 1.379 59,0 Turun
Kalteng 1.018 1.094 -7,0 Naik

Seluruh 14.436 7.943 44,0 Turun


Indonesia

Sumber : Satelit NOAA 18


www.sipongi.menlhk.go.id
Jumlah Hotspot Harian Bulan Agustus 2015
SCENARIO PENURUNAN HOTSPOT 3 PULAU TARGET

Skenario Pencapaian Tahun 2015-2019


Data
(Toleransi Maksimal Hotspot)
Hotspot Th
No Provinsi 2015 2016 2017 2018 2019
2012 (Base
Line) (Turun
(Turun 2%) (Turun 4%) (Turun 6%) (Turun 8%)
10%)
1 2 3 4 5 6 7 8
1 Aceh 610 598 586 573 561 549
2 Sumatera Utara 882 864 847 829 811 794
3 Sumatera Barat 689 675 661 648 634 620
4 Riau 4.686 4.592 4.499 4.405 4.311 4.217
5 Kepulauan Riau 71 70 68 67 65 64
6 Jambi 2.462 2.413 2.364 2.314 2.265 2.216
7 Sumatera Selatan 6.367 6.240 6.112 5.985 5.858 5.730
8 Bangka Belitung 741 726 711 697 682 667
9 Bengkulu 307 301 295 289 282 276
10 Lampung 900 882 864 846 828 810
11 Kalimantan Barat 6.550 6.419 6.288 6.157 6.026 5.895
12 Kalimantan Tengah 4.139 4.056 3.973 3.891 3.808 3.725
13 Kalimantan Selatan 1.016 996 975 955 935 914
Kalimantan Timur dan
1.851 1.813 1.776 1.738 1.700
14 Kalimantan Utara 1.889
Sulawesi Utara dan
63 61 60 59 58
15 Gorontalo 64
16 Sulawesi Tengah 218 214 209 205 201 196
Sulawesi Barat 56 55 54 52 51
17 57
18 Sulawesi Selatan 302 296 290 284 278 272
19 Sulawesi Tenggara 373 366 358 351 343 336
Total 32.323 31.677 31.030 30.384 29.737 29.091
SITUASI DAN KONDISI HOTSPOT
2005-2006 DAN TARGET
PENURUNAN
KONDISI KEBAKARAN LAHAN DAN HUTAN
TAHUN 2005-2006
Grafik Hotspot Tahun 2005-2006 Untuk Provinsi Yang Terdapat Manggala Agni

45000

+1.199,56%
40000
+ 56, 54%

35000

+864,43%
30000

25000
+1.738,75%

20000

15000

10000
+ 475,17%
+753,43%
- 6,50%
5000
+803,01%

0
Sumut Riau Jambi Sumsel Kalbar Kalteng Kalsel Sulsel
Th. 2005 3830 22630 1208 1182 3022 3147 758 133
Th. 2006 3581 35426 6948 21734 29266 40897 6469 1201
Target Penurunan Jumlah Titik Panas Pada Bulan Yang Bersangkutan
Sebagai Indikator Kinerja Tahun 2007

Propinsi Apr Mei * Juni Juli Agust Sept Okt


Targt Real Targt Real Targt Real Targt Real Targt Real Targt Real Targt Real
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15
Sumatera Utara 131 73 149 27 489 63 881 63 5
Riau 369 124 303 20 1,706 340 6,101 1,376 75
Jambi 12 11 34 7 94 74 172 97 9
Sumatera Selatan 3 5 22 7 41 55 296 126 49
Kalimantan Barat 6 54 13 13 29 70 1,359 254 19
Kalimantan
Tengah 3 7 16 19 37 125 250 866 270
Kalimantan Timur - 12 19 10 6 13 118 139 79
Kalimantan
Selatan 3 7 4 1 3 26 80 234 73
527 293 559 104 2,405 767 9,256 3,154 579
Keterangan :
- Sumber data hotspot : Satelit NOAA 12 dan 18
- Sumber peta : Peta TGHK Badan Planologi Kehutanan, 1999

- Angka yang tertera pada kolom 2, 4, 6, 8, 10, 12 dan 14 adalah 50% dari jumlah titik panas tahun 2005 pada bulan yang bersangkutan ,
sebagai target penurunan jumlah titik panas tahun 2007
- Kolom 3, 5, 7, 9, 11, 13 dan 15 diisi jumlah titik panas pada bulan yang bersangkutan, sebagai indikator kinerja tahun
2007

*) sampai tanggal 13 Mei 2007


SITUASI DAN KONDISI KARHUTLA
2011 - 2015
LUAS KEBAKARAN HUTAN DAN LAHAN DI 5 PROV PRIORITAS DAN
PERIODE 2011-2015 (Satuan Hektare)

PROVINSI 2011 2012 2013 2014 2015)*


Riau 74,50 834,00 1.077,50 6.301,10 2.140,90
Sumsel 84,50 - 484,15 8.504,86 124,07
Jambi 89,00 11,25 199,10 3.470,61 139,00
Kalbar - 565,70 22,70 3.556,10 366,66
Kalteng 22,00 55,15 3,10 4.022,85 76,20

Seluruh 2.612,09 8.268,65 4.768,55 44.546,84 3.025,79


Indonesia

* Periode 1 Januari- 16 Agustus 2015

Sumber : Laporan dari UPT dan Dinas


Kehutanan Provinsi-Posko PKHL 2015
KONDISI KEBAKARAN HUTAN
DI PULAU JAWA
PROVINSI JAWA BARAT
1. CA Gunung Guntur seluas 25 ha
2. SM Cikepuh 19 Ha
3. CA Bojong Larang 0,16 ha
4. CA Kawah Kamojang 31, 25 ha
5. CA Papandayan 2ha
6. TWA Gunung Pancar 15 ha
7. TWA Tangkuban Prahu 1 ha
8. Taman Nasional Gunung Ceremai seluas (pemadaman udara gagal karena ketinggian 2600-3000
mdpl dan kondisi angin yang kencang dan berubah-ubah arah)
9. Hutan Pendidikan Gunung Walat 10 ha

PROVINSI JAWA TENGAH


1. Taman Nasional Merapi seluas 8,38 ha (pemadaman darat)
2. Taman Nasional Merbabu seluas 90 ha (pemadaman darat)
3. Hutan Lindung Lawu Dsk seluas 106 ha
4. Gunung Sindoro 54,5 ha
5. Pegunungan Tlerep Api Temanggung 3,5 ha
6. Gunung Slamet 10 ha
7. Gunung Sumbing 15,35 ha
8. Hutan Lindung BKPH Temanggung 6 ha

JAWA TIMUR
1. TN Baluran seluas 7 ha
2. Gunung Kawi 30 ha
KEBAKARAN DI INDONESIA
PENYEBAB KEBAKARAN HUTAN:
• Di Indonesia, 99% kebakaran hutan dan KEBUTUHAN LAHAN
lahan disebabkan oleh manusia.
• Penyebab:
a. Kebiasaan dan Perilaku.
b. Kebutuhan akan lahan untuk PEMBUKAAN LAHAN DENGAN
MEMBAKAR (KEBIASAAN, FAKTOR
pemukiman dan pertanian/ perkebunan EKONOMI)
(hutan dibuka dengan membakar karena
lebih cepat, mudah dan murah).
c. Konflik Lahan.
d. Ketidaksengajaan/kegiatan lain yang

KONFLIK
menimbulkan api (pencarian kayu bakar,
rumput, rotan, madu, ikan, berkemah,
membakar sampah dll).

KEGIATAN LAIN YANG


MENIMBULKAN API
Provinsi Riau dan Sumsel

Kota Pekanbaru tertutup asap- Kota Palembang tertutup asap-


11 Oktober 2014-vivanews.com 4 November 2014-antara.com

Bandara Sultan Syarif Kasim II Bandara Sultan Mahmud


Pekanbaru sempat menunda Badaruddin II Palembang dikepung
penerbangan-11 Oktober 2014 - asap-antara.com
Tempo.co
TAHUN DAMPAK KERUGIAN
1982-1983 kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Timur yang menghancurkan 3,2
juta hektar dengan kerugian mencapai lebih dari 6 trilyun rupiah (FWI,
2001).
1997-1998 Degradasi hutan dan deforestasi serta menelan biaya ekonomi sekitar
USD 1.62 – 2.7 miliar. Biaya pencemaran asap menelan kerugian sekitar
USD 674 – 799 juta dan terkait dengan emisi karbon kerugian terhitung
sekitar USD 2.8 miliar dollar (Tacconi 2003).
2006-2007 Dua fase kebakaran di awal dan pertengahan tahun sempat
mempengaruhi hubungan diplomatik Indonesia dengan negara tetangga.

2013-2014 Presiden SBY meminta maaf kepada negara tetangga. Kebakaran hutan
dan lahan terjadi pada awal tahun di Provinsi Riau dan Kalimantan Barat.
Tercatat kerugian sebesar Rp. 481,23 Milyar pada periode kebakaran
Maret-April 2014 di Provinsi Riau (Syaufina, 2014) dengan total 39.239
orang terkena ISPA.
2015-Dst Directive Presiden Joko Widodo di Riau (Nov 2014); Kalbar (Januari
2015), arahan Menko Polhukam dan Menteri LHK pada Rakor dengan
Gubernur yang rawan Karhutla di Jakarta , bahwa tahun 2015 dan
seterusnya tidak boleh ada bencana asap lagi.
KEBIJAKAN KLHK DALAM PENGENDALIAN
KEBAKARAN HUTAN DAN LAHAN

UU No.41/1999 tentang KEHUTANAN


Pasal 50 ayat 3 (d), pasal 78 ayat 3 dan 4

UU NO. 32/2009 Tentang Perlindungan dan


Pengelolaan LH (Pasal 69 Ayat (1) huruf h, Pasal 108)

PP No.45/2004 Perlindungan Hutan


(Pasal 20 ayat 1 dan 2; Pasal 24 ayat 1)
UPAYA PENGENDALIAN
KEBAKARAN HUTAN DAN LAHAN
OPERASI PENGENDALIAN KEBAKARAN HUTAN DAN LAHAN

PEMBENTUKAN BRIGADE DUKUNGAN MANAJEMEN


PENGENDALIAN KEBAKARAN (SARANA PRASARANA,
HUTAN DAN PELATIHAN DASAR PERANGKAT LUNAK,
DALKARHUT ANGGARAN)

PENGENDALIAN
KEBAKARAN HUTAN DAN
LAHAN

PENCEGAHAN PEMADAMAN PENANGANAN PASKA


1. PENCEGAHAN

A. Koordinasi para pihak (masyarakat setempat,


pemerintah daerah, praktisi, pemegang ijin usaha, LSM
TNI/POLRI, akademisi).
1. Koordinasi program dan anggaran terkait
pengendalian kebakaran hutan dan lahan;
2. Mengembangkan jejaring kerja yang mendukung
pengendalian kebakaran hutan;
3. Sharing informasi dan teknologi pengendalian
kebakaran hutan dan lahan.
Lanjutan..
B. Penyadartahuan dan pendampingan masyarakat melalui penyuluhan,
kampanye, apel siaga, patroli bersama masyarakarat dan pelatihan pencegahan
kebakaran hutan di lingkungannya.
1. Menumbuhkan pengetahuan dan pemahaman
2. Perubahan sikap
3. Meningkatkan peran serta dan dukungan
4. Merangkul masyarakat dan pihak terkait sampai tingkat tapak melalui
patroli bersama masyarakat dan Tim Pendamping Desa (TPD)
5. Saat ini dilaksanakan Kuliah Kerja Nyata di Riau dengan melibatkan
mahasiswa dari beberapa Provinsi dan Negara Tetangga dengan thema
Pengendalian kebakaran Hutan dengan sasaran penguatan modal sosial
masyarakat Riau dan peningkatan kepedulian pengendalian kebakaran
hutan dan lahan
Lanjutan..
C. Deteksi dan peringatan dini (Early warning system dan
early detection)
1. Deteksi hotspot melalui satelit NOAA, MODIS (Terra-Aqua)
2. Sistem Peringatan Bahaya Kebakaran (SPBK) dari
automatic weather system (AWS) dan BMKG
3. Penyebarlusan informasi early warning system (melalui
deteksi hotspot, SPBK, tingkat kerawanan) melalui
website ; sipongi.menlhk.go.id dan yahoogroup millist
sipongi.
4. Pengembangan posko Pusdalkarhut Direktorat PKH
dengan sistem informasi dari
call centre Posko : 081 3100 35 000
sms centre : 081 2971 85 000
twitter : @HotspotSiPongi
Website : sipongi.menlhk.go.id
Lanjutan..
D. Pembuatan Hujan Buatan/TMC
1. Manfaatkan kondisi cuaca yang belum kering/awan masih potensial untuk
dipercepat menjadi hujan (penyemaian garam).
2. Pesawat Hercules dan Cassa 212 untuk TMC, saat ini masih terus dilakukan
di Riau dan Sumatera Selatan. TMC ini berhasil meningkatkan freuensi
hujan.
Lanjutan..

E. Melakukan Kelola Tata Air


1. Mengupayakan agar gambut tetap tergenang air
agar selalu basah sepanjang tahun sehingga
mengurangi resiko kebakaran
2. Sumber-sumber air untuk masyarakat dan untuk
operasi pemadaman
3. Melalui canal blocking , salah satu yang sudah
dilakukan di Sei Tohor, Kecamatan Tebing Tinggi
Timur, Kep. Meranti.
4. Bekerjasama dengan BNPB, UNDP melalui program
pembuatan sekat kanal di Provinsi Riau dan Jambi
CANAL BLOCKING SEI TOHOR-
KEPULAUAN MERANTI, RIAU
SEBAGAI PILOT PROJECT
PENGELOLAAN TATA AIR
2. PEMADAMAN

1. Pemadaman darat (oleh Manggala Agni bekerjasama


dengan BNPB, BPBD, TNI/POLRI, SATGAS Dalkar, RPK
Perusahaan Perkebunan/Kehutanan, MPA dan unsur
lainnya)
2. Pemadaman dari udara: water bombing dan modifikasi
cuaca (Riau, Sumsel) dengan dukungan dana dari BNPB

Pemadaman Darat Pemadaman Udara Tim Modifikasi Cuaca


Jenis Helicopter untuk Water Bombing dari BNPB

Pelaksanaan Water Bombing

Water bombing dari 22 Juli-16 Agustus 2015 sebagi berikut:


1. Di Riau: 9.563.800 liter (2.648 sorti).
2. Di Sumsel: 4.077.000 liter (1.073 sorti).
Kegiatan pengendalian kebakaran hutan dan lahan 5 Provinsi Rawan kebakaran
Hutan dan Lahan Periode (1 Januari – 23 Agustus 2015)
TEKNOLOGI MODIFIKASI PEMADAMAN UDARA/ WATER
PROVINSI PEMADAMAN DARAT KETERANGAN
CUACA (TMC) BOMBING

Riau a.TMC mulai 22-6- a.Dilaksanakan mulai 12 Juli a.Tim Satgas a.ISPU tertinggi di
SK Siaga Darurat : 2015. 2015 Pemadaman Darat Minas nilai 136
KPTS. 116/II/2015 b.Menggunakan b.Dilakukan swasta (PT. Sinar Korem 031/WB : Luas
(tidak sehat)
tanggal 19 februari pesawat CN 295 Mas dan PT. RAPP mulai 26 total karhutla 1957
2015. Periode : c.Total sorti 101,22 Juni 2015). Ha. b.Terpantau kabut
19 Februari – 31 Maret d.Total garam yang c.Menggunakan : b.Tim BBKSDA Riau: asap moderate
2015 disemai 101,22 - Helikopter MI-171 (UR-CMU) Luas total karhutla c.Tanggal 24 Agustus
SK Perpanjangan Siaga ton. - Helikopter Sikorsky (N5193Y) ; 1,904.4 Ha. 2015 pada
Darurat No. KPTS.242/ - Helikopter Bell BNPB Umumnya
/III/2015 tanggal 31 - Helikopter PK-KIA (Sinar Mas)
berpotensi “SANGAT
Maret 2015. Periode : 1 a.Total sorti 3.032.
April - 31 Agustus 2015 b.Total air dijatuhkan MUDAH TERBAKAR”
(153 hari) 11.026.600 liter.

Sumatera Selatan a.TMC mulai a.Dilaksanakan mulai 10 a.BKSDA Sumsel a.Tidak terpantau
SK Siaga Darurat tanggal 9 Juli Juli 2015 Luas total karhutla kabut asap.
No. 2015. b.Menggunakan : : 152,32 Ha (masih b.Potensi Kemudahan
215/KPTS/BPBD- b.Menggunakan - Helikopter MI-8 UR CMI dihitung) terjadi kebakaran
SS/2015 tanggal 26 pesawat CN - Helikopter MI-171 UR tanggal 24 Agustus
Februari 2015. 212. CMT 2015 pada
Periode : 1 Maret c.Total sorti 42. - Helikopter Bell 214b P2- umumnya “SANGAT
- 31 Oktber 2015 d.Total garam MBH MUDAH TERBAKAR”
yang disemai c.Total sorti = 1.946
41,7 ton. d.Total air dijatuhkan
6.757.000 liter.
N
TEKNOLOGI MODIFIKASI
o PROVINSI PEMADAMAN UDARA/ WATER BOMBING PEMADAMAN DARAT KETERANGAN
CUACA (TMC)
.

Kalimantan Barat a.TMC mulai 11 a.Water bombing fokus a.Luas total a.Terpantau kabut asap
SK Siaga Darurat Agustus 2015. pada area sekitar Bandara karhutla 2.650 moderate
No. 633/BPBD/2015 b.Menggunakan Soepadio Pontianak Ha b.tanggal 24 Agustus 2015
tanggal 8 Juli 2015. pesawat Cassa terkait kunjungan pada umumnya
Masa siaga Darurat A-2105 Presiden RI pada Festival berpotensi “SANGAT
8 Juli – 30 November c.Total sorti 19 Khatulistiwa pada tanggal MUDAH TERBAKAR”
2015 d.Total garam 22 Agustus 2015.
yang disemai : b.Total 166 sorti
34.720 kg.

Kalimantan Tengah a.Belum mulai a.Dukungan water bombing a.Luas total a. Terpantau adanya kabut
SK Siaga Darurat dilaksanakan b.Total 105 sorti karhutla 76,20 asap moderate.
No.188.44/307/201 Ha b. Tanggal 24 Agustus 2015
5 tanggal 26 Juni pada umumnya
2015. Masa siaga berpotensi “SANGAT
Darurat MUDAH TERBAKAR”
1 Juni – 31 Agustus
2015
Jambi a. Belum mulai a.Belum mulai dilaksanakan a.Luas total a. Terpantau kabut asap
Belum ada SK Siaga dilaksanakan karhutla moderate berpotensi
Darurat 82,50Ha. mengarah ke Malaysia
dan Singapura.
b. Potensi Kemudahan
terjadi kebakaran
tanggal 24 Agustus 2015
“SANGAT MUDAH
TERBAKAR”
3. PENANGANAN PASCA KEBAKARAN

 Identifikasi areal bekas terbakar 


penyebab kebakaran, luas kebakaran, tipe vegetasi yang
terbakar, pengaruh terhadap lingkungan dan ekosistem dan
informasi untuk mendukung proses penegakan hukum.
 Monitoring dan Pemeriksaan Lokasi Terbakar
 Penegakan hukum (Ditjen Gakkum KLHK, Polri dan Kejaksaan)
 Pelaporan
Bersama dengan Ditjen Gakkum
dan Kepolisian melakukan
penyegalan (police line dan papan
segel ) pada lokasi bekas
kebakaran dilanjutkan dengan
penyidikan oleh PPNS

Terobosan baru untuk efek jera


UPAYA PENEGAKAN HUKUM DI PROVINSI RIAU
Sampai dengan 6 Agustus 2015

24 TERSANGKA, 3 DITAHAN, P.21 1 KASUS


Hasil Sidang ke 17 TWG dan MSC AATHP di Jakarta 27-28 Juli 2015
sebagai Upaya Diplomasi Internasional

• Saling mengetahui kondisi kebakaran hutan dan analisis bersama 5


negara : Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, Singapura dan
Thailand.
• Mendukung kegiatan yang dilakukan Sektretariat ASEAN untuk
riset-riset berkaitan kebakaran hutan dan lahan (gambut).
• Menyetujui rencana proposal yang diajukan Indonesia untuk
menjadi Pusat Asean Coordinating Center for Transboundary Haze
Pollution (ACC THP) di Jakarta. Harus dibahas bersama pada
pertemuan ASEAN di Vietnam yang akan datang (September).
Sebelumnya Indonesia akan mengundang untuk workshops.
• Singapura mengusulkan sistem tukar menukar data base kebakaran
hutan dan lahan, hotspot, land use, dan data konsesi perusahaan.
(Indonesia dan Malayasia tidak setuju, sementara Brunei
mendukung Singapura dan Thailand abstain).

36
STRATEGI PENANGANAN YANG AKAN DILAKUKAN

• Antisipasi kekeringan  Memperkuat pola kerja di masyarakat, pembuatan


hujan buatan sedini mungkin.
• Penambahan armada water bombing (air tractor dr Australia)
• Penggunaan bahan kimia ramah lingkungan untuk pemadaman dan gel-pack
extinguisher (GPE).
• Pemasangan alat pemantau ISPU di setiap Kabupaten/Kota di Seluruh
Indonesia dengan prioritas daerah rawan kebakaran hutan dan lahan serta
pemantauan dan pelaporan secara rutin.
• Meningkatkan dana kesiapsiagaan pengendalian kebakaran hutan dan lahan
serta mensinergiskannya.
• Peningkatan Pencegahan  pembuatan sekat kanal dan embung; peyuluhan;
monitoring dan patroli; pelibatan masyarakat, dsb.
• Pemberian insentif kepada masyarakat  misal bantuan peralatan PLTB, alat
pemadam , membantu pemasaran produk hasil PLTB jangka panjang misal
keringanan pajak, beasisawa dll.
• Penyamaan persepsi dalam penegakan hukum kasus pembakaran hutan dan
lahan antara PPNS, Kepolisian, Kejaksaan, dan Lembaga Pengadilan
• Koordinasi Regional dan Internasional  17th Meeting TWG dan MSC sudah
dilaksakan, yang akan datang ASOF dan COP 37
TERIMA KASIH