Anda di halaman 1dari 108

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM PRODUKTIVITAS PERAIRAN

(Pendugaan Produktivitas Primer Dengan Analisis Enumerasi, Klorofil-A,


Biomassa Dan Makrozoobenthos)

Disusun oleh :

Kelompok 2 / Perikanan B
Melinda Ika Saputri 230110130117
M. Fadhil. S. A 230110130120
M. Zais. Syahri 230110130138
Yuliana Rafika 230110130153

PROGRAM STUDI PERIKANAN


FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS PADJADJARAN
JATINANGOR

2015
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada Allah SWT, karena atas berkat serta
rahmat-Nya lah kami dapat menyelesaikan ”Laporan Pendugaan Produktivitas
Primer dengan Analisis Klorofil-a, Enumerasi, Biomassa dan
Makrozoobenthos ” ini. Tidak lupa kami sampaikan terima kasih kepada semua
rekan-rekan mahasiswa yang telah membantu kami mengerjakan laporan
praktikum ini, juga kepada dosen kami yang telah memberikan bimbingan serta
pengarahan kepada kami, yang sangat berguna bagi pembuatan laporan praktikum
ini.
Laporan praktikum ini disusun dalam rangka memenuhi tugas kami
sebagai mahasiswa Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan UNPAD dalam mata
kuliah Produktivitas Perairan, kami harap laporan praktikum ini dapat bermanfaat
bagi kami sendiri pada khususnya, dan bagi semua yang membaca pada
umumnya.

Sekian dari kami, kami sadari laporan praktikum ini masih banyak
kekurangan, oleh karena itu kritik dan saran dari kawan-kawan mahasiswa
sekalian ataupun dosen kami sangat kami terima sebagai sarana untuk
membangun kami kearah yang lebih baik.

Jatinangor, 10 Desember 2015

Penyusun

i
PENDUGAAN PRODUKTIVITAS PRIMER DAN SEKUDER MELALUI
ENUMERASI FITOPLANKTON DAN ZOOPLANKTON

BAB
I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang........................................................................ 1

1.2
1.3 Tujuan
ManfaatPraktikum...................................................................
Praktikum................................................................. 2
2

II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi Enumerasi................................................................. 3
2.2 Definisi Fitoplankton.............................................................. 3
2.3 Definisi Zooplankton.............................................................. 5

III METODE PRAKTIKUM


3.1 Tempat dan Waktu Pelaksanaan Praktikum........................... 8
3.2 Alat dan Bahan....................................................................... 8
3.2.1 Alat yang Digunakan........................................................... 8
3.2.2 Bahan yang Digunakan........................................................ 8
3.3 Prosedur Kerja........................................................................ 8
3.4 Analisis data........................................................................... 9
3.4.1 Perhitungan Enumerasi Fitoplankton.................................. 9
3.4.2 Perhitungan Enumerasi Zooplankton.................................. 9

IV HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1 Hasil........................................................................................ 10
4.1.1 Hasil Data Enumerasi Fitoplankton dan Zooplankton........ 10
4.2 Pembahasan............................................................................ 18
4.2.1 Kelimpahan Fitoplankton dan Zooplankton........................ 18
4.2.2 Indeks Diversitas Shannon-Wiener Fitoplankton dan 19
Zooplankton..................................................................................
4.2.3 Indeks Diversitas Simpson Fitoplankton dan Zooplankton 20

V Kesimpulan dan Saran


5.1 Kesimpulan............................................................................. 22
5.2 Saran....................................................................................... 22

DAFTAR PUSTAKA................................................................. 23
LAMPIRAN

ii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Produktivitas merupakan hal penting di wilayah perairan khususnya dalam
bidang perikanan. Odum (1971) mendefinisikan produktivitas primer sebagai
derajat penyimpanan energi matahari dalam bentuk bahan organik, sebagai hasil
fotosintesis dan kemosintesis dari produsen primer. Produktivitas primer
diistilahkan sebaga laju fiksasi karbon (sintesis organik) di dalam perairan dan
biasanya diekspresikan sebagai gram karbon yang diproduksi per satuan waktu.
Produktivitas primer merupakan sumber utama energi bagi proses matabolit yang
terjadi dalam perairan. Pada ekosistem perairan sebagian besar produktivitas
primer dihasilkan oleh fitoplakton (Kennish 1990; Barnabe dan Narnabe 2000).
Fitoplankton, zooplankton, dan benthos dapat menjadi indikator tingkat
produktivitas di suatu perairan. Organisme tersebut merupakan produsen primer

dan sekunder di dalam perairan.


Dalam bidang perikanan, pengetahuan mengenai produktivitas perairan
merupakan hal penting untuk dapat memahami kelayakan suatu perairan sebagai
suatu wilayah perikanan. Untuk meningkatkan kemampuan dan pemahaman
mengenai produktivitas perairan primer maupun sekunder sebagai tambahan teori,
maka perlu dilakukan pelaksanaan kegiatan pengukuran/pendugaan produktivitas
perairan. Kegiatan tersebut meliputi kegiatan penentuan stasiun sampel,
pengambilan sampel, analisis di laboratorium, analisis data, serta
menghitung/menduga produktivitas perairan suatu badan air. Praktikum yang
dilakukan kali ini yaitu tentang pendugaan produktivitas primer dan sekunder
dengan enumerasi fitoplankton dan zooplankton.

1.2 Tujuan
Tujuan dari dilaksanakannya praktikum enumerasi sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui jumlah dan jenis fitoplakton dan zooplankton.

1
2

2. Untuk mengetahui indeks diversitas fitoplankton dan zooplankton sebagai


penduga produktivitas perairan .
3. Untuk mengetahui bagaimana cara melakukan pendugaan produktivitas
perairan.

1.3 Manfaat
Manfaat dari dilaksanakannya praktikum enumerasi agar mahasiswa/i
mampu mengetahui jumlah dan jenis serta indeks diversitas fitoplankton dan
zooplankton sebagai salah satu penduga produktivitas primer dan produktivitas
sekunder di perairan.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Enumerasi


Enumerasi adalah menghitung jumlah dan jenis. Enumerasi fitoplankton dan
zooplankton yang terdapat di suatu badan air merupakan cara yang paling
sederhana dan mudah untuk dilakukan, walaupun memiliki beberapa kelemahan.
Hasil enumerasi biasanya dinyatakan dalam kelimpahan jumlah organisame per
satuan volume tertentu yang paling umum adalah individu atau sel per liter.
Sedikitnya dikenal dua metode enumerasi, yaitu:
 Sedgwick – Rafter Method (S R). Dinamai demikian sesuai dengan
penemu metode ini, yaitu Sedgwick dan Rafter.
 Palmer – Maloney (P M). Sama halnya dengan metode pertama metode
inipun dinamai demikian sesuai dengan penemunya, yaitu Palmer dan
Maloney.

Enumerasi memiliki kelebihan mudah dan murah dalam proses


pendugaannya, namun metode enumerasi ini memiliki kekurangan bias yang
cukup besar akibat dari perbedaan ukuran dari fitoplankton dan zooplankton yang
mengakibatkan pendugaan kurang akurat.

2.2 Definisi Fitoplankton


Brahmana (2007) mengemukakan bahwa fitoplankton didefinisikan sebagai
plankton tumbuhan atau plankton yang dapat melakukan fotosintesis dari material
air, karbondioksida, dan cahaya sebagai sumber energi untuk menghasilkan materi
organik. Fitoplankton adalah sumber materi organik di lingkungan pelagik, yang
terdiri atas alga mikroskopis, bersel tunggal, atau sel-sel terangkai dalam bentuk
rantai. Ukuran fitoplankton berkisar dari beberapa mikrometer (µm) sampai
beberapa ratus mikrometer. Pada fitoplankton bersel tunggal, perbandingan luas
permukaan dengan isi sel lebih tinggi dibanding sel-sel terangkai dalam rantai.
Perbandingan luas permukaan dengan isi sel ini berhubungan dengan kemampuan

3
4

tetap mengapung dalam kolom air, tetapi juga berguna untuk menyerap unsur hara
yang diperlukan dalam fotosintesis.
Perbedaan di antara keduanya terletak pada kemampuan fitoplankton dalam
melakukan proses fotosintesis dengan tersedianya klorofil dalam sel-sel
organisme tersebut. Dalam rantai makanan di suatu ekosistem air, fitoplankton
termasuk ke dalam kelompok produsen karena kemampuannya melakukan
fotosintesis tersebut. Oleh karena itü keberadaan fitoplankton di suatu ekosistem
air menjadi sangat penting terutama dalam mendukung kelangsungan hidup
organisme air lainnya, seperti zooplankton, benthos ikan, dan lain-lain (Barus,
2004). Berikut ini contoh-contoh dari zooplankton, antara lain:
1. Raphidium polymorphum
Klasifikasi Raphidium polymorphum menurut Lemmermann 1908:
Kingdom :Plantae
Subkingdom :Viridaeplantae
Phylum :Chlorophycophyta
Class :Chlorophyceae
Order :Sphaeropleales
Family :Ankistrodesmaceae
Genus : Ankistrodesmus

Gambar 1. Raphidium polymorphum


(Sumber: www.google.com)

2. Cyclotella operculata
Klasifikasi Cyclotella operculata menurut Brebisson:

Kingdom :Chromista
Phylum :Bacillariophyta
Class :Mediophyceae
Order :Thalassiosirales
Family :Stephanodiscaceae
Genus :Cyclotella
5

Gambar 10. Cyclotella operculata


(Sumber : www.google.com)

2.3 Definisi Zooplankton


Zooplankton terdiri dari keseluruhan organisme planktonik heterotrofik
dengan nutrisi seperti hewan. Karena zooplankton tidak dapat mensintesis
kebutuhan organiknya maka zooplankton harus memperoleh organik dari air
sekitarnya dan menelan material hidup atau disebut fagotrof.
Menurut Sachlan (1981), zooplankton sangat kaya akan jenis. Ada hewan
yang seluruh daur hidupnya tetap sebagai plankton, disebut holoplankton. Ada
pula yang hanya sebagian dari daur hidupnya sebagai plankton. Kehidupan

sebagai plankton dijalaninya hanya pada tahap awal, sebagai telur atau larva
sedangkan bila telah dewasa hidup sebagai nekton atau benthos. Plankton yang
bersifat sementara ini disebut meroplankton. Sering kali, bentuk larva sebagai
plankton sangat jauh bedanya dengan bentuk dewasanya. Larva kepiting misalnya
sama sekali tidak menunjukkan persamaan bentuk dengan kepiting dewasa.
Banyak golongan vertebrata yang berbentuk besar, seperti coelenterata,
vermes, echinodermata, arthropoda dan moluska hidup di laut dan dapat
merupakan meroplankton waktu masih dalam larva, akan tetapi mati pula sebagai
besar sebagai meroplankton, karena kekurangan makanan atau dimakan oleh
konsumen yang lebih besar (Sachlan, 1981). Berikut ini contoh-contoh dari
zooplankton, antara lain:
1. Cyclopoida
Cyclopoida adalah urutan kecil krustasea dari subclass Copepoda . Seperti
copepoda lainnya, anggota Cyclopoida kecil, plankton hewan yang hidup baik di
laut dan di air tawar habitat. Mereka mampu bergerak cepat. Mereka
perkembangan larva adalah metamorfik, dan embrio dicatat di kantung atau
6

tunggal dipasangkan melekat pada perut pertama somite. Cyclopoida dibedakan


dari copepoda lain dengan memiliki antena pertama lebih pendek daripada
panjang kepala dan dada, dan antena kedua uniramous. Utama bersama terletak di
antara keempat dan kelima segmen tubuh.
Berikut ini klasifikasi Cyclopoida menurut Burmeister 1834:
Kerajaan : Animalia
Phylum : Arthropoda
Subphylum : Crustacea
Class : Maxillopoda
Subclass : Copepoda
Order : Cyclopoida
Genus : Cyclops

Gambar 4. Cyclops sp
( Sumber: http://en.wikipedia.org/wiki/Cyclopoida)

2. Brachionus calcyflorus
Anatomi Brachionus calcyflorus memiliki duri Anteromedian memiliki dasar
yang luas, duri posterior yang sering hadir. Lorica halus dan transparan; muncul
sebagai satu bagian. Panjang tubuhnya adalah 180-570 pM, lebar badan 124-300
pM, posterolateral duri 0-115 pM, anterolateral,duri punggung 15-95 m, duri
punggung anteromedian 25-200 m. KlasifikasiBrachionus calcyflorus:
Divisi : Rotifera
Class : Monogononta
Order : Ploima
Family : Brachionidae
Genus : Brachionus
7

Gambar 5. Brachionus calcyflorus


(Sumber :www.google.com)

3. Euchlanis dilata
Memiliki ciri-ciri Anterodorsal marjin dengan lekukan berbentuk setengah
lingkaran, Panjang plat punggung 200-270 pM, lempeng ventral 170-250 pM, jari
kaki 50-75 pM, Lebar plat punggung 90-189 pM, lempeng ventral 80-105 pM,
Terjadi paling sering pada lingkungan subur, Telah diamati melekat pada koloni
dan Chlamydomonas reinhardti Chlorella, Bakteri, ganggang hijau, dan diatom
merupakan bagian dari diet.

Klasifikasi Euchlanis dilata


Divisi :Rotifera
Class :Monogononta
Order :Ploima
Family :Brachionidae
Genus : Euchlanis

Gambar 6. Euchlanis dilata


(Sumber: www.google.com)
BAB III
METODELOGI PRAKTIKUM

3.1 Tempat dan Waktu Pelaksanaan Praktikum


Praktikum Pendugaan Produktivitas Primer dan Sekunder dengan
Enumerasi Fitoplankton dan Zooplankton dilaksanakan pada hari Kamis tanggal
29 Oktober 2015 pukul 12.30 WIB bertempat di Laboratorium Fisiologi Hewan
Air, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Padjadjaran Bandung.

3.2 Alat dan Bahan


3.2.1 Alat yang Digunakan
a. Plankton Net, untuk menyaring sampel plankton
b. Gayung, untuk mengambil sampel air berisi plankton dari badan air
c. Pipet, untuk mengambil sampel plankton dari botol sampel dan
memindahkannya ke counting chamber

d. Counting chamber, untuk menempatkan sampel plankton yang akan


diidentifikasi dan dihitung
e. Cover glass, untuk menutup counting chamber
f. Botol sampel, untuk menyimpan sampel plankton
g. Mikroskop, untuk membantu mengidentifikasi plankton yang diamati

3.2.2 Bahan yang Digunakan


a. Sampel plankton
b. Pengawet sampel (larutan lugol 0,5% atau formalin 4%)

3.3 Prosedur Kerja


1. Ambil sampel plankton dari badan air kemudian disaring dengan planton net
dan dimasukkan ke dalam botol sampel lalu diberi larutan pengawet.
Kemudian dibawa ke Laboratorium.
2. Plankton diperiksa di dalam Laboratorium.

8
9

3. Masukkan sampel air yang berisi plankton ke dalam counting chamber


dengan menggunakan pipet hingga penuh 1 ml lalu tutup dengan cover glass.
4. Amati dibawah mikroskop lalu catat jenis dan hitung jumlahnya.
5. Hitung kelimpahan dan indeks Diversitasnya dengan indeks Shannon-Wiener
dan Indeks Diversitas Simpson.

3.4 Analisis Data


3.4.1 Perhitungan Enumerasi Fitoplankton dan Zooplankton
Hasil enumerasi biasanya dinyatakan dalam kelimpahan atau jumlah
organisme per satuan volume tertentu yang paling umum adalah individu atau sel
per m3. Untuk itu maka rumus menghitung kelimpahan digunakan persamaan
sebagai berikut:
Kelimpahan = Jumlah seluruh individu yang terindentifikasi x faktor pengali
Faktor pengali = Volume terkonsentrasi x 1 Liter
Volume yang dihitung volume yang disaring

Diversitas atau keragaman adalah ekspresi yang menunjukkan jumlah


spesies berbeda yang menghuni suatu ekosistem dibandingkan dengan jumlah
total dari seluruh spesies,umumnya dinyatakan dalam indeks diversitas. Ada
banyak indeks diversitas yang tersedia yang paling banyak digunakan adalah
indeks Diversitas Shannon-Wiener dan Indeks Diversitas Simpson (Krebs,1972).
Persamaan dari kedua indeks tersebut adalah
Indeks Diversitas Shannon-Wienner
H=
-

Indeks Diversitas Simpson


D=

Keterangan:
Pi= Proposi jumlah individu dalam satu spesies dibagi jumlah total individu
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
4.1.1 Hasil Perhitungan Kelimpahan Fitoplankton dan Zooplankton
Kelompok
Tabel 1. Data Fitoplankton
No Nama Spesies Jumlah Pi Ln Pi Pi x Ln Pi
1. Euglena sp. 14 0,14 - 1,96 - 0,274
2. Chlorella sp. 82 0,82 - 1,98 - 1,623
3. Anabaena sp. 1 0,01 - 4,60 - 0,046
4. Melosira sp. 1 0,01 - 4,60 - 0,046
5. Rhizochrysis sp. 2 0,02 - 3,91 - 0,078
jumlah 100 1 - 17,05 - 2,068

Menghitung Kelimpahan Fitoplankton


Faktor pengali = Volume Konsentrasi x 1 Liter
Volume yang dihitung Volume yang disaring
= 50 ml x 1 liter
3 ml 12 liter
= 1,33
Kelimpahan Euglena sp = Jmlh seluruh ind yang teridentifikasi x faktor pengali
= 14 x 1,33
= 19 ind/liter
Kelimpahan Chlorella sp = Jmlh seluruh ind yang teridentifikasi x faktor pengali

= 82 x 1,33
= 109 ind/liter
Kelimpahan Anabaena sp = Jml seluruh ind yang teridentifikasi x faktor pengali
= 1 x 1,33
= 1 ind/liter

10
11

Kelimpahan Melosira sp. = Jml seluruh ind yang teridentifikasi x faktor pengali
= 1 x 1,33
= ind/liter
Kelimpahan Rhizochrysis sp. = Jml seluruh ind yang teridentifikasi x faktor
pengali
= 2 x 1,33
= 3 ind/liter
Tabel 2. Data Zooplankton
No Nama Spesies Jumlah Pi Ln Pi Pi x Ln Pi
1. Monostyla
sp. 2 1 0 0
Jumlah 2

Menghitung Kelimpahan Zooplankton


Faktor pengali = Volume Konsentrasi x 1 Liter
Volume yang dihitung Volume yang disaring

= 50 ml x 1 liter
3 ml 12 liter
= 1,33
Kelimpahan Monostyla sp. = Jmlh seluruh ind yang teridentifikasi x faktor pengali
= 2 x 1,33
= 3 ind/liter

4.1.2 Hasil Indeks Diversitas Shannon- Wiener dan Shimpson Fitoplankton


dan Zooplankton Kelompok
4.1.2.1 Indeks Diversitas Shannon- Wiener dan Shimpson Fitoplankton
Menghitung Indeks Diversitas Shannon- Wiener
H = - ∑(Pi x Ln Pi)
H = - (- 2,068)
= 2,068
Menghitung Indeks Diversitas Shimpson
D = 1 - ∑(Pi)2
12

D = 1 - 0,6926
D = 0,3074
4.1.2.2 Indeks Diversitas Shannon- Wiener dan Shimpson Zooplankton
Menghitung Indeks Diversitas Shannon- Wiener
H = - ∑ pi x ln pi
H= -0
H=0
Menghitung Indeks Diversitas Shimpson
D = 1 - ∑(Pi)2
D=1–1
D=0

4.1.3 Hasil Data Enumerasi Fitoplankton dan Zooplankton Kelas


Hasil data enumerasi dan perhitungan Indeks Diversitas Shannon - Wiener
dan Shimpson Fitoplankton dan Zooplankton dapat dilihat pada tabel 3 dan tabel

4.
Tabel 3. Data Kelas Hasil Enumerasi Fitopankton dan Zooplankton
FITOPLANKTON ZOOPLANKTON
KELOMPOK
JENIS JUMLAH JENIS JUMLAH
1 Anabaena sp 6 Monostyla sp 1
Botrydiopsis sp 7
Chlorella sp 43
Euglena sp 9
Scenedesmus sp 3
Spirulina sp 7
2 Euglena Sp. 14 Monostyla lunaris 2
Chlorella Sp. 82
Anabaena Sp. 1
Melosira Sp. 1
Rhizochrysis Sp. 2
3 Cocconeis placentula 2 Euphasia brevis 1
Stephanodiscus niagarae 6
Eucocconeis flexela 8
Cyclotella operculata 1
Anabaena circularis 1
Euglena acus 1
13

FITOPLANKTON ZOOPLANKTON
KELOMPOK
JENIS JUMLAH JENIS JUMLAH
Achnanthes brevipes 1
Euglena naemodes 1
Chlorella sp 96
4 Characium longipes 2 Arcella Sp. 28
Raphidium polymorphium 1
Volvox Sp. 1
Phacus anemale 12
Euglena Sp. 18
Navicula Sp. 2
Spirotoemia condenrata 1
5 Euglena sp 19 Branchionus sp. 1
batridiopsis sp. 4
Chlorella sp 45
Anabaena sp. 5
6 Euglena sp 13 Daphnia sp 3
Nitschia sp 11 Rotifer sp 2
Chlorella sp 4
Pediastrum 1
Scenedesmus 2
7 Chlorella sp 11 Euglena 52
Scenedesmus 1 Cyclops 7
Microcystis 90 rotifera 9
Pediastrum 2
8 Euglena sp 111 Daphnia sp 1
Nitzschia sp 5
Chlorella sp 2
Microcystis sp 1105
Pediastrum sp 5
Scenedesmus sp 50
9 Microcystist 519 Rotifera 9
Spirulina 1

Euglena 45
10 Nitzschia sp 3 Daphnia sp 1
microcystis sp 1232
Chlorella sp 2
Scenedesmus sp 50
Euglena sp 108
Pediastrum sp 7
14

FITOPLANKTON ZOOPLANKTON
KELOMPOK
JENIS JUMLAH JENIS JUMLAH
11
12 Scenedesmus sp. 90 Moina sp. 18
Pediastrum sp. 20
13 Scenedesmus sp 19 Rotatoria 2
Oscilatoria sp 3 Clastenium 1
Chlorella sp 107
Anabaena sp 14
Euglena sp 3
14 Chlorella sp 38 Brachionus 1
Scenedesmus sp 15
Euglena sp 16
Pediastrum sp 8
15 Scenedesmus sp 126 Branchianus sp 1
Pediastrum sp 3 keratela sp 14
Mikrocystis sp 95
16 Chlorella sp 389 Daphnia sp 10
Scenedesmus sp 8 Cyclops 1
Lyngbya spirulinoides 3
Pediastrum duplex 4
17 Anguillyspora longissima 57 Hemisinella parva 1
Scenedesmus 60 Arcella discoides 2
Chlorella 470 Euglypha 1
Spyrogyra 3
18
19 Dactyloteche 144 Rotaria sp 4
Euglena sp 1
Chlorella sp 453
Scenedesmus sp. 67
Pediastrum 13
20 Microcystis Sp. 218 Daphnia 1
Chlorella Sp. 31
Scenedesmus Sp. 5
15

Tabel 4. Analisis Kelimpahan Fitoplankton dan Zooplankton


Fitoplankton Zooplankton
Faktor
Kel Kelimpa Kelimpa
pengali Jenis H D Jenis H D
han han
1 1.667 Anabaena sp 125.025 1.346878 0.6314667 Monostyla sp 1.667 0 0
Botrydiopsis
1.667
sp
1.667 Chlorella sp
1.667 Euglena sp
Scenedesmus
1.667
sp
1.667 Spirulina sp
Euglena Sp. Monostyla
2 1.667 166.7 0.6083294 0.3074 3.334 0 0
lunaris
1.667 Chlorella Sp.
1.667 Anabaena Sp.
1.667 Melosira Sp.
Rhizochrysis
1.667
Sp.
Cocconeis Euphasia
3 1.667 195.039 0.7711499 0.3187961 1.667 0 0
placentula brevis
Stephanodiscu
1.667
sEucocconeis
niagarae
1.667
flexela
Cyclotella
1.667
operculata
Anabaena
1.667
circularis
1.667 Euglena acus
Achnanthes
1.667
brevipes
Euglena
1.667
naemodes
1.667 Chlorella sp
Characium
4 1.667 61.679 0.6501096 Arcella Sp. 46.676 0 0
longipes 1.381193
Raphidium
1.667
polymorphium
1.667 Volvox Sp.
Phacus
1.667
anemale
1.667 Euglena Sp.
1.667 Navicula Sp.
Spirotoemia
1.667
condenrata
5 1.667 Euglena sp 121.691 0.991329 0.5445675 Branchionus 1.667 0 0
16

Fitoplankton Zooplankton
Faktor
Kel Kelimpa Kelimpa
pengali Jenis H D Jenis H D
han han
sp.
batridiopsis
1.667
sp.
1.667 Chlorella sp
1.667 Anabaena sp.
Euglena sp 0.6730 0.4
1.667 0.6763788 Daphnia sp
6 51.677 1.283901 8.335 117 8
1.667 Nitschia sp Rotifer sp
1.667 Chlorella sp
1.667 Pediastrum
1.667 Scenedesmus
Chlorella sp 0.3
0.7068
1.667 0.2394601 871
45
7 173.368 0.483372 Euglena 113.356 107
1.667 Scenedesmus Cyclops
1.667 Microcystis rotifera
1.667 Pediastrum
8 1.667 Euglena sp 2130.426 0.51828 0.2433037 Daphnia sp 1.667 0 0
Nitzschia sp
1.667 Chlorella sp
1.667
1.667 Microcystis sp
1.667 Pediastrum sp
Scenedesmus
1.667
sp
9 1.667 Microcystist 941.855 0.290741 0.1498567 Rotifera 15.003 0 0
1.667 Spirulina
1.667 Euglena
10 1.667 Nitzschia sp 2337.134 0.478913 0.2205704 Daphnia sp 1.667 0 0
1.667 microcystis sp
1.667 Chlorella sp
Scenedesmus
1.667
sp
1.667 Euglena sp
11
Scenedesmus
1.667 0.2975207 Moina sp. 0 0
12 sp. 183.37 0.474139 30.006
1.667 Pediastrum sp.
Scenedesmus 0.5
1.667 Rotatoria 0.273
13 sp. 248.83 0.904 0.455 5.01 65
1.667 Oscilatoria sp Clastenium
17

Fitoplankton Zooplankton
Faktor
Kel Kelimpa Kelimpa
pengali Jenis H D Jenis H D
han han
1.667 Chlorella sp
1.667 Anabaena sp
1.667 Euglena sp
Chlorella sp Brachionus
14 1.667 128.359 1.228923 0.6645303 sp 1.667 0 0
Scenedesmus
1.667
sp
1.667 Euglena sp
Pediastrum
1.667
sp
Scenedesmus Branchionus 0.24 0.124
1.667 0.5035475
15 sp 373.408 0.745192 sp 25.005 493 4444
Pediastrum
1.667
sp Karatela sp
Mikrocystis
1.667
sp
16 1.667 Chlorella sp 673.468 0.196195 0.0723336 Daphnias sp
Scenedesmus 0.30
0.165
1.667 sp 463
2893
18.337 61
1.667 Lyngbya
spirulinoides
Pediastrum
1.667
duplex
Anguillyspor Hemisinella
1.667 0.345711
17 a longissima 983.53 0.745192 parva
Scenedesmus 1.03
1.667 Arcella 972 0.625
discoides 6.668 08
1.667 Chlorella Euglypha
1.667 Spyrogyra
18
19 1.667 Dactyloteche 1190.238 1.126924 0.546654 Rotaria
sp 6.668 0 0
1.667 Euglena sp
1.667 Chlorella sp

1.667 Scenedesmus
sp.
1.667 Pediastrum
1.667 Staurasirum
Clostencopsi
1.667
s longissima
1.667 Nycrocysis
1.667 Rapidiopsis
18

Fitoplankton Zooplankton
Faktor
Kel Kelimpa Kelimpa
pengali Jenis H D Jenis H D
han han
1.667 Coccochloris
Microcystis
1.667 0.2480935 0
20 Sp. 183.37 0.465205 Daphnia sp 1.667 0
1.667 Chlorella Sp.

1.667 Scenedesmus
Sp.

4.2 Pembahasan
4.2.1 Kelimpahan Fitoplankton dan Zooplankton
Fitoplankton yang teridentifikasi oleh kelompok 2 pada sampel yang berasal
dari Ciparanje antara lain Euglena sp., Chlorella sp., Anabaena sp., Melosira sp.,
dan Rhizochrysis sp. Diantara kelima spesies yang teridentifikasi yang memiliki
kelimpahan paling tinggi adalah spesies Chlorella sp. yaitu sebanyak 109
individu/liter, diikuti oleh Euglena sp. yaitu sebanyak 19 indvidu/liter,
Rhizochrysis sp. yaitu sebanyak 3 individu/liter dan Anabaena sp. serta Melosira

sp. masing-masing sebanyak 1 individu/liter. Hal ini dikarena Chlorella sp.


memiliki dinding sel yang kuat yang terbentuk dari selulosa sehingga mampu
menyesuaikan diri dengan baik terhadap lingkungan sekitar dibandingkan dengan
spesies lain. Namun, zooplankton yang teridentifikasi oleh kelompok 2 hanya satu
spesies yaitu Monostyla sp. yang hidup di perairan tawar dengan kelimpahan
sebanyak 3 individu/liter.
Berdasarkan data kelas, fitoplankton yang teridentifikasi dari perairan
Ciparanje sebanyak 36 spesies. Kelimpahan tertinggi fitoplankton pada perairan
Ciparanje ditemukan oleh kelompok 10, dengan kelimpahan sebanyak 2337
individu/liter, sedangkan kelompok yang memiliki kelimpahan terendah yaitu
kelompok 5 dengan kelimpahan sebanyak 52 individu/liter. Pada praktikum
pendugaan produktivitas perairan dengan enumerasi ini, jenis fitoplankton yang
paling banyak ditemukan adalah spesies Mycrocystis sp. dan Chlorella sp. Hal ini
dikarenakan Mycrocystis sp. memiliki kemampuan bertahan hidup yang baik dan
hidup secara berkoloni, sehingga mudah untuk ditemukan. Begitupun dengan
19

reproduksinya yang terdiri dari pembelahan sel dan fragmentasi sehingga dapat
mempercepat perkebangbiakan Microcystis sp.
Rimper (2002) mengelompokkan bahwa kelimpahan fitoplankton terbagi
atas 3 kelompok yaitu, rendah, sedang dan tinggi. Kelimpahan fitopalnkton
rendah yaitu kurang dari 12.000 sel/l. Kelimpahan sedang yaitu 12.500 sel/l.
Kelimpahan fitoplankton tinggi yaitu lebih dari 17.000 sel/l. Perairan Ciparanje
memiliki nilai kelimpahan sebanyak 2337 invidu/liter, sehingga tergolong
kedalam kelompok fitoplankton dengan kelimpahan tinggi. Hal ini disebabkan
oleh beberapa faktor lingkungan perairan baik secara fisika, kimia, dan biologi.
Zooplankton yang teridentifikasi pada perairan Ciparanje yaitu 16 spesies,
dengan kelimpahan tertinggi pada spesies Keratella sp. yaitu sebanyak 14
individu/liter. Kelimpahan zooplankton tertinggi ini ditemukan oleh kelompok 6
dengan kelimpahan sebanyak 133 individu/liter, sedangkan kelimpahan
zooplankton terendah terdapat pada beberapa kelompok lainnya yaitu sebanyak 2
individu/liter. Zooplankton yang ditemukan pada perairan Ciparanje lebih sedikit

jika dibandingkan dengan fitoplankton. Hal ini dikarenakan zooplankton kurang


dapat hidup dengan baik dan perkembangbiakannya yang tidak secepat
fitoplankton. Dengan kata lain perubahan kelimpahan zooplankton mengikuti
perubahan konsentrasi fitoplankton, yang menunjukkan ketergantungan
zooplankton terhadap fitoplankton sebagai makanannya. Zooplankton dan juga
fitoplankton dapat dimakan oleh ikan-ikan pelagis kecil, Oleh karena ukuran
zooplankton lebih besar, relatif bergerak dan merupakan hewan menyebabkan
lebih banyak tertangkap dan termakan oleh predator dari fitoplankton.

4.2.2 Indeks Diversitas Shannon- Wiener Fitoplankton dan Zooplankton


Berdasarkan indeks keanekaragaman dengan menggunakan rumus
Shannon-Wiener, fitoplankton yang teridentifikasi oleh kelompok 2 menunjukan
nilai keanekaragaman sebesar 2,068. Berdasarkan indeks keanekaragaman dengan
menggunakan rumus Shannon-Wiener untuk data kelompok zooplankton
menunjukkan nilai keanekaragaman sebesar 0 atau dapat dikatakan tidak memiliki
indeks keanekaragaman.
20

Berdasarkan data kelas, kelompok 1 memiliki keanekaragaman sebesar


1,3, hal ini menunjukkan nilai indeks keanekaragaman fitoplankton yang paling
tinggi terdapat di kelompok 1, sedangkan kelompok yang memiliki
keanekaragaman terendah yaitu kelompok 16 dengan nilai 0,19. Nilai
keanekaragaam fitoplankton tertinggi terjadi karena tidak ada spesies yang
mendominasi secara ekstrim atau hanya mendominasi sedikit dibandingkan
dengan spesies lain. Jika dilihat dari nilai keanekaragaam yang diperoleh
menunjukkan hasil yang cukup kecil karena berkisar dari 0 – 1. Perairan
Ciparanje ini dapat dikategorikan ke dalam perairan yang kurang baik dengan
nilai keanekaragaman yang kecil. Kisaran nilai indeks keanekaragaman dapat
diklasifikasikan (Legendre dan Legendre 1998): H’ < 2,3 = keanekaragaman kecil
dan kestabilan komunitas rendah; 2,3 < H’ < 6,9 = keanekaragaman sedang dan
kestabilan komunitas sedang; dan H’ > 6,9 = keanekaragaman besar dan
kestabilan komunitas tinggi. Hal ini menunjukan indeks keanekaragaman
fitoplankton tergolong rendah.

Nilai keanekaragaman zooplankton tertinggi terdapat pada kelompok 17


yaitu sebesar 1,03, hal ini berarti tidak terdapat spesies yang mendominasi jauh
atau ekstrim dibandingkan dengan spesies lainnya. Nilai keanekaragaman
zooplankton terendah terdapat hampir diseluruh kelompok yaitu sebesar 0 yang
artinya tidak terdapat keseragaman atau terdapat spesies yang sangat mendominasi
dibandingkan spesies lainnya.

4.2.3 Indeks Diversitas Shimpson Fitoplankton dan Zooplankton


Berdasarkan hasil pengamatan dan pengolahan data praktikum kelompok 2
diperoleh indeks diversitas Shimpson fitoplankton dan zooplankton masing-
masing sebagai berikut sebesar 0,3074 dan 1, yang berarti hanya ada sedikit
spesies fitoplankton yang mendominasi di perairan Ciparanje dan tidak ada
spesies zooplankton yang mendominasi di perairan ciparanje atau tidak ada indeks
dominasi untuk zooplankton.
Berdasarkan data kelas menunjukkan nilai indeks dominasi fitoplankton
tertinggi yang di dapat oleh kelompok 6 yaitu sebesar 6,7 dan nilai indeks
21

dominasi fitoplankton terendah di dapat oleh kelompok 16 yaitu sebesar 0,07.


Nilai indeks dominasi fitoplankton yang didapat juga dapat dikategorikan kecil,
sehingga tidak ada spesies yang mendominasi di perairan ciparanje. Sedangkan
nilai indeks dominasi zooplakton yang ditemukan berkisar antara 0 – 0,56 dengan
nilai tertinggi 0,56 yang terdapat pada kelompok 17. Hal ini dikarenakan pada
kelompok 17 terdapat 3 jenis spesies yang teridentifikasi yaitu Arcella discoides,
Hemisinella parva dan Euglypha, yang dimana salah satu spesiesnya
mendominasi spesies lain. Hampir di seluruh kelompok nilai indeks dominasinya
0 yang artinya tidak ada indeks dominasi. Berdasarkan perhitungan didapatkan
rata-rata indeks keanekaragaman fitoplankton berada pada kisaran tinggi untuk
perairan asal sampel tersebut hal ini mengindikasikan bahwa indeks
keanekaragaman yang tinggi menandakan ekosistem fitoplankton yang di perairan
berada pada kondisi yang stabil dan tidak tercemar, sedangkan nilai indeks
keaneragaman zooplankton pada kondisi yang tidak stabil (Magguran, 1991).
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
Adapun kesimpulan dari praktikum pendugaan produktivitas primer dan
sekuder melalui enumerasi fitoplankton dan zooplankton, sebagai berikut:
1. Perairan Ciparanje memiliki nilai kelimpahan sebanyak 2337 invidu/liter,
sehingga tergolong kedalam kelompok fitoplankton dengan kelimpahan
tinggi.
2. Zooplankton yang ditemukan pada perairan Ciparanje lebih sedikit jika
dibandingkan dengan fitoplankton.
3. Berdasarkan indeks diversitas Shannon- Wiener perairan Ciparanje ini dapat
dikategorikan ke dalam perairan yang kurang baik dengan nilai
keanekaragaman yang kecil, yakni berkisar antara 0 – 1.
4. Berdasarkan indeks diversitas Shimpson perairan Ciparanje mengindikasikan

bahwa indeks keanekaragaman yang tinggi menandakan ekosistem


fitoplankton yang di perairan berada pada kondisi yang stabil dan tidak
tercemar, sedangkan nilai indeks keaneragaman zooplankton pada kondisi
yang tidak stabil

5.2 Saran
Setelah mengikuti pelaksanaan praktikum, kami menyarankan agar dalam
pelaksanaan praktikum, praktikan lebih teliti dalam pengamatan agar data yang
dihasilkan lebih akurat.

22
DAFTAR PUSTAKA

Barus, T.A. 2004. Pengantar Limnologi, Studi Tentang Ekosistem Air Daratan.
Medan: Penerbit USU Press.

Kennish, M.J. 1990. Ecology of Estuary, Biological Aspects. Vol : 2. CRC Press,
Boston.

Krebs, C.J. 1978. Ecology. The Experimental Analysis of Distribution


Abundance. Harper and Row Publisher. New York.

Magurran, A.E. (1991). Ecological diversity and its measurement. Chapman &
Hall, London, England.

Sachlan. 1982. Planktonologi. Direktorat Jenderal Perikanan, Jakarta

Odum, E. P. 1971. Fundamental of Ecology. W. B. Sounders Company,


Phiadelphia.

Zahidah. 2013. Modul Praktikum Produktivitas Perairan. Fakultas Perikanan dan


Ilmu Kelautan UNPAD.

23
LAMPIRAN
24

Lampiran 1. Dokumentasi Praktikum

Chlorella sp. Euglena sp.


25

Lampiran 2. Data Praktikum Kelas

Tabel. Data Kelas Hasil Enumerasi Fitopankton dan Zooplankton


FITOPLANKTON ZOOPLANKTON
KELOMPOK
JENIS JUMLAH JENIS JUMLAH
1 Anabaena sp 6 Monostyla sp 1
Botrydiopsis sp 7
Chlorella sp 43
Euglena sp 9
Scenedesmus sp 3
Spirulina sp 7
2 Euglena Sp. 14 Monostyla lunaris 2
Chlorella Sp. 82
Anabaena Sp. 1
Melosira Sp. 1
Rhizochrysis Sp. 2
3 Cocconeis placentula 2 Euphasia brevis 1
Stephanodiscus niagarae 6
Eucocconeis flexela 8

Cyclotella operculata
Anabaena circularis 1
1
Euglena acus 1
Achnanthes brevipes 1
Euglena naemodes 1
Chlorella sp 96
4 Characium longipes 2 Arcella Sp. 28
Raphidium polymorphium 1
Volvox Sp. 1
Phacus anemale 12
Euglena Sp. 18
Navicula Sp. 2
Spirotoemia condenrata 1
5 Euglena sp 19 Branchionus sp. 1
batridiopsis sp. 4
Chlorella sp 45
Anabaena sp. 5
6 Euglena sp 13 Daphnia sp 3
Nitschia sp 11 Rotifer sp 2
Chlorella sp 4
Pediastrum 1
26

FITOPLANKTON ZOOPLANKTON
KELOMPOK
JENIS JUMLAH JENIS JUMLAH
Scenedesmus 2
7 Chlorella sp 11 Euglena 52
Scenedesmus 1 Cyclops 7
Microcystis 90 rotifera 9
Pediastrum 2
8 Euglena sp 111 Daphnia sp 1
Nitzschia sp 5
Chlorella sp 2
Microcystis sp 1105
Pediastrum sp 5
Scenedesmus sp 50
9 Microcystist 519 Rotifera 9
Spirulina 1
Euglena 45
10 Nitzschia sp 3 Daphnia sp 1
microcystis sp 1232
Chlorella sp 2
Scenedesmus sp 50
Euglena sp 108
Pediastrum sp 7
11
12 Scenedesmus sp. 90 Moina sp. 18
Pediastrum sp. 20
13 Scenedesmus sp 19 Rotatoria 2
Oscilatoria sp 3 Clastenium 1
Chlorella sp 107
Anabaena sp 14
Euglena sp 3
14 Chlorella sp 38 Brachionus 1
Scenedesmus sp 15
Euglena sp 16

Pediastrum sp 8
15 Scenedesmus sp 126 Branchianus sp 1
Pediastrum sp 3 keratela sp 14
Mikrocystis sp 95
16 Chlorella sp 389 Daphnia sp 10
Scenedesmus sp 8 Cyclops 1
Lyngbya spirulinoides 3
27

FITOPLANKTON ZOOPLANKTON
KELOMPOK
JENIS JUMLAH JENIS JUMLAH
Pediastrum duplex 4
17 Anguillyspora longissima 57 Hemisinella parva 1
Scenedesmus 60 Arcella discoides 2
Chlorella 470 Euglypha 1
Spyrogyra 3
18
19 Dactyloteche 144 Rotaria sp 4
Euglena sp 1
Chlorella sp 453
Scenedesmus sp. 67
Pediastrum 13
20 Microcystis Sp. 218 Daphnia 1
Chlorella Sp. 31
Scenedesmus Sp. 5
PRAKTIKUM PENDUGAAN PRODUKTIVITAS PRIMER DENGAN
ANALISIS KLOROFIL-A

BAB
I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang .............................................................................. 1
1.2 Tujuan Praktikum .......................................................................... 2
1.3 Manfaat Praktikum ........................................................................ 2

II. TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Definisi Klorofil ............................................................................ 3
2.2 Biomassa Klorofil - a .................................................................... 3
2.3 Fungsi dan Kegunaan Klorofil – a ................................................ 5
2.4 Persebaran Klorofil – a ........................................................................ 6

III. METODELOGI PRAKTIKUM


3.1 Tempat dan Waktu Pelaksanaan Praktikum .................................. 7
3.2 Alat dan Bahan .............................................................................. 7
3.2.1 Alat yang Digunakan .................................................................. 7

3.2.2 Bahan yang Digunakan .............................................................. 7


3.3 Prosedur Kerja ............................................................................... 8
3.4 Analisis Data ................................................................................. 9
3.4.1 Perhitungan Klorofil - a ............................................................. 9

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1 Hasil ............................................................................................... 10
4.1.1 Data Hasil Spektofotometer ........................................................ 10
4.2 Pembahasan ....................................................................................13
4.2.1 Hasil Spektofotometer.................................................................. 13

V. SIMPULAN DAN SARAN


5.1 Simpulan ....................................................................................... 16
5.2 Saran ............................................................................................. 16

DAFTAR PUSTAKA ........................................................................ 17


LAMPIRAN

i
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Produktivitas primer merupakan laju penyimpanan energi radiasi matahari
oleh organisme produsen dalam bentuk bahan organik melalui proses fotosintesis
oleh fitoplankton. Dalam tropik level suatu perairan fitoplankton merupakan
produsen utama perairan (Odum, 1996). Produktivitas primer sering diasumsikan
sebagai jumlah karbon yang terdapat dalam material hidup. Tinggi rendahnya
produktivitas primer dapat diketahui dengan melakukan pengukuran biomassa
plankton (fitoplankton) dan klorofil-a (Baksir,1999).
Klorofil dapat diukur dengan memanfaatkan sifatnya yang dapat berpijar
bila dirangsang dengan panjang gelombang cahaya tertentu atau mengekstraksi
klorofil dari fitoplankton dengan aceton dan kemudian mengukur jumlah ekstrak
warna yang dihasilkan secara kolorimetrik, tetapi banyak masalah yang dihadapi

dalam metode ini. Misalnya, pada metode ini diasumsikan bahwa kandungan
klorofil konstan, walaupun sesungguhnya ada banyak faktor yang berpengaruh
terhadap konsentrasi klorofil dalam fitoplankton. Pengukuran klorofil adalah salah
satu pengukuran yang dapat digunakan untuk menduga produktivitas primer
fitoplankton dari suatu badan air.
1.2 Tujuan Praktikum
Tujuan dilaksanakannya praktikum ini adalah untuk menghitung
konsentrasi klorofil-a dari sampel fitoplankton yang diambil dari suatu perairan.
1.3 Manfaat Praktikum
Manfaat dari dilakukannya praktikum ini adalah diharapkan agar
mahasiswa mampu memehami cara menghitung konsetrasi klorofil-a serta mampu
menganalisa kaitannya dengan produktivitas perairan.

1
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Klorofil


Klorofil merupakan pigmen utama pada tanaman. Istilah klorofil berasal
dari Bahasa Yunani yaitu chloros artinya hijau dan phyllos artinya daun. Istilah ini
diperkenalkan pada tahun 1818, dan pigmen tersebut diekstrak dari tanaman
dengan menggunakan pelarut organik. Klorofil adalah pigmen pemberi warna
hijau pada tumbuhan, alga dan bakteri fotosintetik. Pigmen ini berperan dalam
proses fotosintesis tumbuhan dengan menyerap dan mengubah energi cahaya
menjadi energi kimia.Klorofil mempunyai rantai fitil (C 20H39OH) yang akan
berubah menjadi fitol (C 20H39OH)jika terkena air dengan katalisator klorofilase.
Fitol adalah alkohol primer jenuh yang mempunyai daya afinitas yang kuat
terhadap O2 dalam proses reduksi klorofil (Muthalib, 2009).
Klorofil merupakan faktor utama yang mempengaruhi fotosintesis.

Fotosintesis merupakan proses perubahan senyawa anorganik (CO 2 dan H2O)


menjadi senyawa organik (karbohidrat) dan O 2 dengan bantuan cahaya matahari.
Klorofil merupakan pigmen utama yang terdapat dalam kloroplas. Kloroplas
adalah organel sel tanaman yang mempunyai membran luar, membran dalam,
ruang antar membran dan stroma. Permukaan membran internal yang disebut
tilakoid akan membentuk kantong pipih dan pada posisi tertentu akan
bertumpukan dengan rapi membentuk struktur yang disebut granum. Seluruh
granum yang terdapat pada kloroplas disebut grana. Tilakoid yang memanjang
dan menghubungkan granum satu dengan yang lain di dalam stroma disebut
lamela. Stroma merupakan rongga atau ruang dalam kloroplas dan berisi air
beserta garam-garam yang terlarut dalam air. Klorofil terdapat di dalam ruang
tilakoid (Thorpe,1984;Campbell et al., 2003).
Tiga fungsi utama klorofil dalam proses fotosintesis adalah memanfaatkan
energi matahari, memicu fiksasi CO2 untuk menghasilkan karbohidrat dan
menyediakan energi bagi ekosistem secara keseluruhan. Karbohidrat yang
dihasilkan dalam fotosintesis diubah menjadi protein, lemak, asam nukleat dan

2
3

molekul organik lainnya. Klorofil menyerap cahaya yang berupa radiasi


elektromagnetik pada spektrum kasat mata ( visible). Cahaya matahari
mengandung semua warna spektrum kasat mata dari merah sampai violet, tetapi
tidak semua panjang gelombang diserap dengan baik oleh klorofil. Klorofil dapat
menampung cahaya yang diserap oleh pigmen lainnya melalui fotosintesis,
sehingga klorofil disebut sebagai pigmen pusat reaksi fotosintesis (Bahri, 2010).

Gambar 1. Struktur kloroplas

2.2 Definisi Klorofil-a


Klorofil-a merupakan salah satu parameter yang sangat menentukan
produktivitas primer di laut.Sebaran dan tinggi rendahnya konsentrasi klorofil-a .
Konsentrasi klorofil-a pada suatu perairan sangat tergantung pada ketersediaan
nutrien dan intensitas cahaya matahari. Menurut Tubalawony (2007), apabila
nutrien dan intensitas cahaya matahari cukup tersedia, maka konsentrasi klorofil-
a akan tinggi dan sebaliknya. Tingginya kandungan klorofil-a fitoplankton di

suatu perairan tidak selalu menggambarkan kondisi yang baik bagi perairan
tersebut. Kandungan klorofil-a yang tinggi di suatu perairan mengindikasikan
terjadinya eutrofikasi. Pengaruh kelimpahan kandungan nutrien yang tidak
terkendali di perairan muara dan laut akan dapat mengganggu ekosistem yang ada
di perairan tersebut. Beberapa parameter fisik kimia yang mengontrol dan
mempengaruhi sebaran klorofil-a, adalah intensitas cahaya, nutrien (terutama
4

nitrat, fosfat dan silikat). Pengukuran kandungan klorofil-a merupakan salah satu
alat pengukuran kesuburan suatu perairan yang dinyatakan dalam bentuk
produktivitas primer. Klorofil-a fitoplankton adalah suatu pigmen aktif dalam sel
tumbuhan yang mempunyai peranan penting di dalam proses berlansungnya
fotointesis perairan (Parzelin 1981 dalam Tubalawony 2001).
Menurut Hatta (2002) dalam Muthalib (2009) nilai klorofil di permukaan
dikelompokkan rendah, sedang, dan tinggi dengan kandungan klorofil-a secara
berturut-turut rendah (<0.07 mg/m 3), sedang (0.07 mg/m3–0.14 mg/m3), dan
tinggi (> 0.14 mg/m3). Kaitannya dengan status trofik di perairan air tawar,
menurut Adi dan Ryding (1980) dalam Hillsborough county (2010) membagi
status trofik menjadi empat yaitu oligotrofik dengan kandungan klorofil kurang
dari 3 g/L, mesotrofik dengna kandungan klorofil 3 –7μg/L, eutrofik 7–40 μg/L,
dan hyper eutrofik dengan kandungan klorofil di atas 40 g/L.
Tabel 1. Perbandingan pigmen klorofil-a dan klorofil b
Aspek Klorofil a Klorofil b

Rumus kimia C55H72O5N4Mg C55H70O6N4Mg

Gugus pengikat CH3 CH

Cahaya yang diserap Cahaya biru-violet Cahaya biru dan oranye


dan merah

Absorbsi maksimum Pada 673 nm Pada 455-640 nm


5

Gambar 2. Struktur kimia klorofil a dan klorofil b

2.3 Fungsi dan Kegunaan Klorofil-a


Klorofil-a merupakan komponen penting yang didukung fitoplankton dan
tumbuhan air yang mana keduanya merupakan sumber makanan alami bagi ikan.
Klorofil-a adalah suatu pigmen aktif dalam sel tumbuhan yang mempunyai peran
penting terhadap berlangsungnya proses fotosintesis (Prezelin, 1981 dalam
Krismono, 2010).
Klorofil-a didapatkan dalam fitoplankton, dan mempunyai fungsi sebagai
mediator dalam proses fotosintesis. Kadar klorofil-a juga dapat digunakan sebagai
biomonitoring kualitas dan kesuburan perairan (produktivitas perairan).
menyatakan, semua fitoplankton memiliki klorofil terutama sekali klorofil-a.
Klorofil berfungsi sebagai katalisator dan penyerap energi cahaya matahari
Strickland, 1960 cit. Dengan demikian proses produksi zat organik dari zat
anorganik dalam fotosintesis tidak akan terjadi apabila tidak ada klorofil. Semakin

tinggi kadar klorofil menandakan tingginya kelimpahan fitoplankton di perairan.


Kelimpahan fitoplankton yang tinggi mengindikasikan tingginya produktivitas
primer di suatu perairan. Menurut, kandungan klorofil fitoplankton dipengaruhi
oleh spesies, kondisi tiap individu, waktu, dan intensitas cahaya matahari. Selain
itu juga dipengaruhi kadar nitrat, fosfat, pengadukan air, suhu, dan kualitas air.
6

Klorofil-a di suatu perairan dapat digunakan sebagai ukuran produktivitas primer


fitoplankton, karena pada umunya dapat dijumpai pada semua jenis fitoplankton.
Selain itu klorofil-a dapat diukur dengan memanfaatkan sifat-sifatnya yang
memijar jika dirangsang oleh cahaya pada gelombang tertentu, hal inilah yang
dimanfaatkan dalam dunia penginderaan jauh untuk mengestimasi kandungan
klorofil-a suatu perairan.

2.4 Persebaran Klorofil-a


Konsentrasi klorofil-a suatu perairan sangat ditentukan oleh intensitas
cahaya dan keberadaan nutrien. Perairan laut tropis pada umumnya memiliki
kandungan klorofil-a rendah karena keterbatasan nutrien dan kuatnya stratifikasi
kolom air. Tubawaloni (2007) menyatakan bahwa stratifikasi kolom air
disebabkan oleh pemanasan permukaan perairan yang hampir sepanjang tahun.
Selanjutnya bahwa berdasarkan pola persebaran klorofil-a secara musiman
maupun spasial, dibeberapa bagian perairan dijumpai kosentrasinya yang cukup

tinggi. Hal ini disebabkan karena terjadinya pengkayaan nutrien pada lapisan
permukaan perairan melalui berbagai proses dinamika massa air, diantaranya
upwelling, percampuran vertikal massa air serta pola pergerakkan massa air, yang
membawa massa air kaya nutrien dari perairan sekitarnya.
Klorofil-a dipermukaan perairan dikelompokkan ke dalam tiga kategori
yaitu rendah, sedang dan tinggi dengan kandungan klorofil-a secara berturut-turut
<0,07; 0,07-0,14 dan >0,14 mg/m 3 (Hatta, 2002). Ditambahkan Legender (1983)
bahwa kandungan klorofil dengan kisaran 0,07 mg/m3 termasuk rendah, dimana
klorofil tersebut sangat dipengaruhi oleh cahaya, oksigen dan karbohidrat.
Menurut Adi dan Ryding (1980) dalam Hillsborough county (2010) membagi
status trofik menjadi empat yaitu oligotrofik dengan kandungan klorofil kurang
dari 3 g/L, mesotrofik dengna kandungan klorofil 3 –7μg/L, eutrofik 7–40 μg/L,
dan hyper eutrofik dengan kandungan klorofil di atas 40 g/L.
BAB III
METODOLOGI PRAKTIKUM

3.1 Tempat dan Waktu Pelaksanaan


Praktikum dilaksanakan pada 5 November 2015 yang bertempat di
Laboratorium Manajemen Sumberdaya Perairan Gedung Dekanat Fakultas
Perikanan dan Ilmu Kelautan Unviversitas Padjadjaran.

3.2 Alat dan Bahan


3.2.1 Alat yang Digunakan
Alat yang digunakan di dalam melaksanakan praktikum ini adalah sebagai
berikut :
1. Spektrofotometer.
2. Kertas saring dan Corong.
3. Mortir dan Cawan.

4. Sendok spatula.
5. Cuvet.
6. Gelas ukur 100 ml, 10 ml
7. Tabung Reaksi.
8. Pipet.
9. Centrifuge.

3.2.2 Bahan yang Digunakan


Bahan yang digunakan di dalam melaksanakan praktikum ini adalah
sebagai berikut :
1. Sampel Air.
2. Aceton 90 %.

7
8

3.3 Prosedur Kerja

Pembuatan Sampel :
9

3.4 Analisis Data


3.4.1 Perhitungan Klorofil-a
Dari data yang diperoleh nilai konsentrasi klorofil-a berdasarkan rumus di
buku Vollenweider (1974) :

Klorofil-a = Ca. (v/V.L)

Ca diperoleh dari persamaan :

11,6 D665 – 1,31 D645 – 0,14 D630

Dimana :
v = Volume aseton yang digunakan (mL)
V = volume air yang tersaring untuk diekstraksi (L)
L = panjang cuvet (cm)

D665 = optikal density pada panjang gelombang 665 nm.


D645 = optikal density pada panjang gelombang 645 nm.
D630 = optikal density pada panjang gelombang 630 nm.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
4.1.1 Data Hasil Spektrofotometer
Tabel 2. Data Hasil Spektrofotometer Kelompok
Kelompok Λ Nilai Absorbance Nilai Klorofil-a
(A) (mg/m)3
665 nm 0.960
2 645 nm 0.275 0.04
630 nm 0.249

Grafik 1. Data Hasil Spektrofotometer Kelompok

Tabel 3. Data Hasil Spektrofotometer Kelas


Absorbance
Kelompok Λ Nilai Nilai Klorofil-a
(nm) (A) (mg/m)3

1 665 1.522 0.07


645 0.438

10
11

630 0.395

2 665 0.96 0.04


645 0.275
630 0.249
3 665 0.674 0.031
645 0.209
630 0.13125
4 665 1.262 0.06
645 0.367
630 0.328
5 665 0.701 0.031
645 0.221
630 0.201

6 665 0.468 0.022


645 0.139
630 0.099
7 665 0.777 0.359
645 0.264
630 0.211
8 665
645
630
9 665 0.792 1.6375

645 0.206
630 0.193
10 665 0.151 0.0703
645 0.046
630 0.031
12

11 665
645
630
12 665 0.177 0.00212
645 0.062
630 0.047
13 665 0.245 0.024
645 0.124
630 0.106
14 665 0.245 0.3451
645 0.117
630 0.09
15 665 0.158 0.0146
645 0.047
630 0.032

16 665 0.588 0.026


645 0.24
630 0.236
17 665 0.1007 0.04
645 0.288
630 0.258
18 665
645
630
19 665 0.792 1.6375

645 0.206
630 0.193
20 665 0.55 0.025
645 0.165
630 0.164
13

4.2 Pembahasan
4.2.1 Hasil Spektrofotometer
Pendugaan produktivitas primer dengan dugaan analisis klorofil-a dimana
sampel di yang digunakan merupakan sampel air yang berasal dari perairan tawar
kolam budidaya ikan Ciparanje, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
Universitas Padjadjaran. Sebanyak 600 ml sampel air digunakan untuk
mengetahui konsentrasi klorofil-a dari sampel fitoplankton di perairan kolam
budidaya ikan, Ciparanje. klorofil-a merupakan pigmen yang paling umum
terdapat pada fitoplankton sehingga kelimpahan fitoplankton dapat dilakukan
melalui pengukuran konsentrasi klorofil-a di perairan. Pengamatan dilakukan
pada skala laboratorium, pengukuran kandungan klorofil-a fitoplankton dengan
menggunakan metode Boy (1979) dalam Hariyadi, 1992). Membaran filtrasi
digerus menggunakan aseton sebanyak 10 ml dengan mortar sampai hancur
merata. Hasil pengerusan disentrifuse pada 3000rpm. Setelah didapatkan bagian
cairan bening (supernatant) di pindahkan ke dalam kuvet. Absorban cairan bening

kemudian diukur dengan spektrofotometer pada panjang gelombang 665 nm,


645nm, dan 630nm.
Data yang didapatkan dengan melakukan pengukuran konsentrasi klorofil-a
dengan menggunakan Spektrofotometer dengan kecepatan putar sentrifugasi
3000ppm pada panjang gelombang D 665 di dapatkan nilai absorbansinya yaitu
0.960, pada D 645 A nilai absorbansinya 0.275 A dan pada panjag gelombang D
630 nilai absorbansi yang didapatkan yaitu sebesar 0.249 A lebih kecil
dibandingkan dengan nilai absorbansi pada panjang gelombang D 645 dan D 665.
Sebelumnya saat akan melakukan pengukuran konsentrasi atau mendapatkan nilai
absorbansi dengan spektrofotometer terdapat beberapa proses seperti yang telah di
jabarkan di atas diataranya sampel air di saring. Klorofil yang tertinggal di kertas
saring dilarutkan dengan aseton kemudian dihaluskan dengan mortar.. Hasil
larutan dan kertas saring disentrifuge selama 30 menit, kemudian larutan yang
jernih dimasukan ke dalam kuvet dengan panjang 4cm. Selanjutnya melakukan
pengukuran dengan spektrofotometer dengan panjang gelombang 664, 647 dan
630 nm. Setelah di sentrifugasi kemudian barulah nilai absorbansi akan di
14

dapatkan. Sifat kimia klorofil-a adalah tidak dapat larut dalam air, melainkan larut
dalam aseton, alkohol dan benzena sehingga dalam praktikum ini untuk
melakukan pengukuran klorofil-a aseton dipilih untuk melarutkan klorofil-a.
Nilai absorbansi terbesar di dapatkan pada panjang gelombang D 665 yaitu
sebesar 0.960 A dan nilai absorbansi terendah sebesar 0.249 A di dapatkan pada
panjang gelombang D 0.249. Setelah di dapatkan nilai absorbansi kemudian
mencari nilai Ca sebagai berikut :

Sehingga nilai klorofil-a yaitu :

Nilai klorofil-a pada praktikum yang di lakukan kelompok 2 di dapatkan


nilai klorofil-a sebesar 0,04 mg/L sehingga dapat di simpulkan bahwa perairan

ciparanje tergolong memiliki produktivitas yang rendah atau perairan di ciparanje


termasuk perairan yang kurang subur. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Hatta
(2002) dalam Muthalib (2009) nilai klorofil di permukaan dikelompokkan
rendah, sedang, dan tinggi dengan kandungan klorofil-a secara berturut-turut
rendah (<0.07 mg/m 3), sedang (0.07 mg/m3–0.14 mg/m3), dan tinggi (> 0.14
mg/m3). Sedangkan status trofik perairan tawar ciparanje tergolong oligotrofik
15

hal ini sesuai dengan pendapat Adi dan Ryding (1980) dalam Hillsborough county
(2010) membagi status trofik menjadi empat yaitu oligotrofik dengan kandungan
klorofil kurang dari 3 g/L, mesotrofik dengan kandungan klorofil 3 –7μg/L,
eutrofik 7–40 μg/L, dan hyper eutrofik dengan kandungan klorofil di atas 40 μg/L.
Kelompok yang mendapatkan nilai klorofil-a dengan konsentrasi di bawah < 0.07
mg/m3 selain kelompok 2 didapatkan juga oleh kelompok 3,6,5,7,12,13,15,16,17
dan kelompok 20 dimana dengan konsentrasi yang di dapatkan pada nilai klorofil-
a tergolong memiliki produktivitas yang rendah. Sedangkan kelompok yang
mendapatkan nilai klorofil-a pada kisaran 0.07-0.14 mg/m3 dengan kategori
perairan yang tergolong memiliki produktivitas fitoplankton sedang didapatkan
oleh kelompok 11 dan kelompok 10 dan pada produktivitas yang tinggi dengan
nilai klorofil-a > 0.14 di dapatkan oleh kelompok 9,14 dan kelompok 19.
Tinggi rendahnya kandungan klorofil yang terdapat di ciparanje
menandakan kelimpahan yang terdapat di perairan tersebut. Semakin tinggi kadar
klorofil menandakan tingginya kelimpahan fitoplankton di perairan. Kelimpahan

fitoplankton yang tinggi mengindikasikan tingginya produktivitas primer di suatu


perairan. Berubahnya konsentrasi klorofil fitoplankton dipengaruhi oleh spesies,
kondisi tiap individu, waktu, dan intensitas cahaya matahari. Selain itu juga
dipengaruhi kadar nitrat, fosfat, pengadukan air, suhu, dan kualitas air. Sehingga
beberapa kelompok mendapatkan nilai konsentrasi klorofil yang berbeda-beda.
Kelompok yang mendapatkan nilai klorofil (> 0.14 mg/m 3) dapat dikatakan
bahwa perairannya memiliki kandungan klorofil yang tinggi sehingga
produktivitas fitoplankton yang hidup di perairan tersebut sangat banyak atau
sampel air yang digunakan meskipun didapatkan dari perairan yang sama namun
pengadukan air yang membuat klorofil antara botol satu dengan yang lainnya
yang digunakan untuk sampel memiliki jumlah kandungan fitopalankton yang
berbeda. Sehingga membuat fitoplankton yang tersaring jumlahnya berbeda
dengan yang lainnya.
BAB V
SIMPULAN DAN SARAN

5.1 Simpulan
Nilai klorofil-a pada praktikum yang di lakukan kelompok 2 di dapatkan
nilai klorofil-a sebesar 0,04 mg/L sehingga dapat di simpulkan bahwa perairan
ciparanje tergolong memiliki produktivitas yang rendah atau perairan di ciparanje
termasuk perairan yang kurang subur. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Hatta
(2002) dalam Muthalib (2009) nilai klorofil di permukaan dikelompokkan
rendah, sedang, dan tinggi dengan kandungan klorofil-a secara berturut-turut
rendah (<0.07 mg/m 3), sedang (0.07 mg/m3–0.14 mg/m3), dan tinggi (> 0.14
mg/m3). Namun pada beberapa kelompok nilai konsentrasi klorofil-a ada yang
tergolong tinggi dimana nilai klorofil-a berkisar >0.14 mg/m3.
Berubahnya konsentrasi klorofil fitoplankton dipengaruhi oleh spesies,
kondisi tiap individu, waktu, dan intensitas cahaya matahari. Selain itu juga

dipengaruhi kadar nitrat, fosfat, pengadukan air, suhu, dan kualitas air.

5.2 Saran
Sebaiknya kondisi perairan sebagai objek pada praktikum ini
diberitahukan dengan cara dideskripsikan, agar mahasiswa dapat mengetahui sifat
– sifat perairan seperti jumlah DO, suhu, kecerahan dan pH dari perairan yang di
gunakan sebagai sampel sebelum praktikum.

16
17

DAFTAR PUSTAKA

Bahri, S. 2010. Klorofil. Diktat Kuliah Kapita Selekta Kimia Organik. Universitas
Lampung.

Campbell, N.A, J.B. Reece, L.G. Mitchell. 2003. Biologi Jilid 1 (Terjemahan)
Erlangga. Jakarta.

Muthalib, A. 2009. Klorofil dan Penyebaran di Perairan.


http://wwwabdulmuthalib.co.cc/2009/06/. Diakses pada tanggal 07
Desember 2015.

Krismono. 2010. Hubungan Antara Kualitas Air Dengan Klorofil-a Dan


Pengaruhnya Terhadap Populasi Ikan Di Perairan Danau Limboto . Jurnal
Limnotek 17 (2) .

Hillsborough County. 2010. TSI (Trophic State Index).


www.hillsborough.wateratlas.usf.edu/shared/learmore.asp?toolsection=lm_tsi . 5
Desember 2015 [terhubung berkala].

Hatta, M. 2002. Hubungan Antara Klorofil-a dan Ikan Pelagis. IPB, Bogor.

Legender, L. 1983. Numerical Ecology. Elveries Scientifik Publishing Camphony.

Muththalib, A. 2004. Laporan Produktivitas dan Kesuburan Perairan Tambak


Tradisional. FIKP-UNHAS. Makassar.

Tubawalony, S. 2007. Produktivitas Primer Perairan. IPB, Bogor.

Tubalawony, S, 2001. Pengaruh Faktor–Faktor Oseanografi Terhadap


Produktivitas Primer Perairan Indonesia.

Fitra, Faurizki, dkk. 2013. Produktivitas Primer Fitoplankton di Teluk bungus.


Jurnal Prosiding Semirata FMIPA Universitas Lampung.

Sihombing et al., 2013. Kandungan Klorofil-a Fitoplankton di Sekitar Perairan


Desa Susangsang kabupaten Banyuasin Provinsi Sumatera Selatan.
Maspari Jurnal, 2013, 5(1), 34-39. PS Ilmu Kelautan FMIPA UNSRI,
ISSN : 2087-0558.

Nio Song dan Banyo. 2011. Konsentrasi Klorofil Daun Sebagai Indikator
Kekurangan Air Pada Tanaman. Jurnal Ilmiah Sains Vol. 11 No. 2
18

Bakhtiar dan Zamdial. 2013. Kelimpahan dan Kandungan Klorofil-A Fitoplankton


di Perairan Pulau Enggano . Jurnal Mitra Bahari Vol 7 No.1, ISSN.
0216-4841.

Odum, E.P. 1996. Dasar-dasar Ekologi Edisi Ketiga. Gadjah Mada University.
Yogyakarta.
LAMPIRAN
19

Lampiran 1. Dokumentasi Praktikum

Penyaringan Klorofil Klorofil dihaluskan

spektofotometer setrifugasi
20

Lampiran 2. Data Kelas

Tabel Data Hasil Spektrofotometer Kelas


Kelompok Λ Nilai Absorbance Nilai Klorofil-a
(nm) (A) (mg/m)3

1 665 1.522 0.07


645 0.438
630 0.395

2 665 0.96 0.04


645 0.275
630 0.249
3 665 0.674 0.031
645 0.209
630 0.13125
4 665 1.262 0.06
645 0.367
630 0.328
5 665 0.701 0.031
645 0.221
630 0.201
6 665 0.468 0.022
645 0.139
630 0.099

7 665 0.777 0.359


645 0.264
630 0.211
8 665
645
21

630
9 665 0.792 1.6375
645 0.206
630 0.193
10 665 0.151 0.0703
645 0.046
630 0.031
11 665
645
630
12 665 0.177 0.00212
645 0.062
630 0.047
13 665 0.245 0.024
645 0.124

630 0.106
14 665 0.245 0.3451
645 0.117
630 0.09
15 665 0.158 0.0146
645 0.047
630 0.032
16 665 0.588 0.026
645 0.24
630 0.236

17 665 0.1007 0.04


645 0.288
630 0.258
18 665
22

645
630
19 665 0.792 1.6375
645 0.206
630 0.193
20 665 0.55 0.025
645 0.165
630 0.164
23
PRAKTIKUM PENDUGAAN PRODUKTIVITAS PRIMER DAN
SEKUNDER DENGAN MENGHITUNG BIOMASSA FITOPLANKTON
DAN ZOOPLANKTON

BAB
I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang .............................................................................. 1
1.2 Tujuan Praktikum .......................................................................... 2
1.3 Manfaat Praktikum ........................................................................ 2

II. TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Definisi Biomassa ......................................................................... 3
2.2 Biomassa Fitoplankton .................................................................. 3
2.3 Biomassa Zooplankton .................................................................. 4

III. METODELOGI PRAKTIKUM


3.1 Tempat dan Waktu Pelaksanaan Praktikum .................................. 6
3.2 Alat dan Bahan .............................................................................. 6
3.2.1 Alat yang Digunakan .................................................................. 6
3.2.2 Bahan yang Digunakan .............................................................. 6
3.3 Prosedur Kerja ............................................................................... 7
3.4 Analisis Data ................................................................................. 7
3.4.1 Perhitungan Biomassa Fitoplankton .......................................... 7
3.4.2 Perhitungan Biomassa Zoonplankton ........................................ 7

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1 Hasil ............................................................................................... 9
4.1.1 Data Hasil Perhitungan Biomassa Fitoplankton .......................... 9
4.1.2 Data Hasil Perhitungan Biomassa Zooplankton .......................... 9
4.2 Pembahasan ....................................................................................9
4.2.1 Hasil Biomassa Fitoplankton ...................................................... 9
4.2.2 Hasil Biomassa Zooplankton ....................................................... 11

V. SIMPULAN DAN SARAN


5.3 Simpulan ....................................................................................... 14
5.4 Saran ............................................................................................. 14

DAFTAR PUSTAKA ........................................................................ 15


LAMPIRAN

i
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Produktivitas merupakan hal penting di wilayah perairan khususnya dalam

bidang perikanan. Odum (1971) mendefinisikan produktivitas primer sebagai


derajat penyimpanan energy matahari dalam bentuk bahan organic, sebagai hasil
fotosintesis dan kemosintesis dari produsen primer. Produktivitas primer
diistilahkan sebaga laju fiksasi karbon (sintesis organik) di dalam perairan dan
biasanya diekspresikan sebagai gram karbon yang diproduksi per satuan waktu.
Produktivitas primer merupakan sumber utama energi bagi proses matabolit yang
terjadi dalam perairan. Pada ekosistem perairan sebagian besar produktivitas
primer dihasilkan oleh fitoplakton (Kennish 1990; Barnabe dan Narnabe 2000).
Fitoplankton, zooplankton, dan benthos dapat menjadi indikator tingkat
produktivitas di suatu perairan. Organisme tersebut merupakan produsen primer
dan sekunder di dalam perairan.
Sumber energy primer bagi ekosistem adalah cahaya matahari. Energi
cahaya matahari hanya dapat diserap oleh organisme tumbuhan hijau dan
organisme fotosintetik. Energi cahaya digunakan untuk mensintesis molekul
anorganik menjadi molekul organik yang kaya energy. Molekul tersebut
selanjutnya disimpan dalam bentuk makanan dalam tubuhnya dan menjadi sumber
bahan organic bagi organisme lain yang heterotrof. Organisme yang memiliki
kemampuan untuk mengikat energy dari lingkungan disebut produsen.
Dalam pendugaan suatu produktivitas primer dan sekunder fitoplankton dan
juga zooplankton diperlukan suatu perhitungan yaitu metode perhitungan
biomassa. Metode biomassa zooplankton dan fitoplankton dilakukan dengan

mengukur volume dari masing-masing organisme sehingga pendugaan


produktivitas lebih akurat. Metode ini lebih baik dibandingkan enumerasi yang
mana memiliki kekurangan diantaranya tidak mengakomodasi perbedaan ukuran
fitoplankton maupun zooplankton yang sangat bervariasi, sehingga bias yang
ditimbulkan menjadi besar dan pendugaan kurang akurat. dikarenakan pada

1
2

metode enumerasi jika ada individu yang berukuran 10 disamakan seperti


100 sel berukuran 100 mikrometer.
Untuk menghitung volume dari fitoplankton dan zooplankton yang memiliki
beberapa bentuk maka terdapat banyak formula yang dipakai. Masing-masing
individual fitoplankton diukur volumenya dengan menggunakan formula-formula
yang dapat digunakan untuk menghitung volume fitoplankton.
Volume/ukuran atau dikenal juga sebagai Biovolume. Metode ini
memberikan info lebih banyak, dan untuk melengkapi informasi metode
enumerasi (ukuran sel fitoplankton bervariasi) berdasarkan dimensi dari masing-
masing jenis dan jumlah individu dari masing-masing spesies atau genus dikali
biovolume sel rata-rata sama dengan biomassa aktual dari jenis (spesies atau
genus) yang bersangkutan. Volume atau ukuran fitoplankton berbeda-beda untuk
memberikan informasi lebih dari sekadar jumlah tidak menunjukan biomassa
sebenarnya.
1.2 Tujuan Praktikum

Tujuan dari praktikum ini adalah untuk memehami serta melukakan


perhitungan pada produktivitas primer dan sekunder dengan menggunakan
perhitungan biomassa fitoplankton dan zooplankton.
1.3 Manfaat Praktikum
Mahasiswa dapat memahami serta dapat mengukur volume dari masing-
masing organisme sehingga perhitungan produktivitas lebih akurat dari perbedaan
ukuran fitoplankton maupun zooplankton yang sangat bervariasi.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Biomassa


Biomassa adalah berat dari semua material yang hidup pada suatu satuan
luas tertentu. Dalam Artian lain biomassa adalah berat kering atau organik
vegetasi yang ditambahkan ke ekosistem persatuan luasan per satuan waktu
(g/m2/tahun). Biomassa atau Standing Stok : Jumlah total bahan organisme hidup
yang ada pada saat itu.
Berbeda dengan “standing crop”, biomassa termasuk semua tanaman
dengan bagian akarnya. Biomassa yaitu berat semua material hidup pada waktu
t3, pada areal t3. Untuk plankton standing crop = biomassa. Nilai biomassa ini
dapat diukur sebagai dengan menggunakan metode, masing – masing metode
memiliki kelemahan dan kelebihan, dan tidak semua metode dapat digunakan
untuk mengukur semua tipe produsen.
2.2 Biomassa Fitoplankton
Sebagai sumber energi, biomassa adalah semua bahan yang dihasilkan
melalui fotosintesis, dengan kata lain tanaman atau komponen-komponen
utamanya (selulosa, amilum dan gula). Fitoplankton merupakan organisme
autotrof utama yang menentukan tingkat produktivitas primer suatu perairan.
Produktivitas primer fitoplankton merupakan suatu kondisi perairan di mana
kandungan senyawa-senyawa organik yang dapat dihasilkan oleh fitoplankton dari
senyawa-senyawa anorganik melalui proses fotosintesis (Parsons et al.,1984;
Nybakken, 1992).
Biomassa fitoplankton diartikan sebagai jumlah total suatu organisme di
perairan yaitu fitoplankton dalam periode waktu dan luas tertentu biasanya satuan

biomasa adalah (g/m2/tahun). Biomassa dari organisme memiliki hubungan


dengan produktivitas di suatu perairan. Terdapat hubungan atau korelasi yang
nyata antara biomassa dan produktivitas. Produktivitas seimbang dengan
biomassa , bilamana terjadi effisiensi pertumbuhan dari suatu populasi secara
cepat. Biasanya biomassa yang sangat kecil produktivitasnya sangat besar (Welch

3
4

dan Lindeel, 1980). Contoh Fitoplankton ; Umur pendek, Pertumbuhan cepat,


Ukuran kecil, Biomassa kecil, Pertambahan berat/produksinya besar. Metode
biomassa fitoplankton dilakukan dengan mengukur volume dari masing- masing
organism sehingga pendugaan produktivitas lebih akurat.
Untuk menghitung volume dari fitoplankton yang memiliki beberapa
bentuk maka terdapat banyak formula yang dipakai. Masing-masing individual
fitoplankton diukur volumenya dengan menggunakan formula-formula yang dapat
digunakan untuk menghitung volume fitoplankton. Berdasarkan dimensi dari
masing-masing jenis dan jumlah individu dari masing-masing spesies/genus dikali
biovolume sel rata-rata = biomassa aktual dari jenis (spesies/genus) yang
bersangkutan. Volume/ukuran atau dikenal juga sebagai Biovolume.
2.3 Biomassa Zooplankton
Metode biomassa zooplankton dilakukan dengan mengukur volume dari
masing- masing organisme sehingga pendugaan produktivitas lebih akurat.
Metode ini lebih baik dibandingkan enumerasi yang mana memiliki kekurangan

diantaranya tidak mengakomodasi perbedaan ukuran zooplankton yang sangat


bervariasi, sehingga bias yang ditimbulkan menjadi besar dan pendugaan kuranga
akurat. dikarenakan pada metode enumerasi jika ada individu yang berukuran10
disamakan seperti 100 sel berukuran 100 mikrometer.
Untuk menghitung volume dari zooplankton dengan menggunakan
formula yang sesuai dengan bentuk zooplankton bersangkutan, walaupun variasi
bentuk zooplankton tidak sebesar fitoplankton. Nilai volume yang diperoleh
dikalikan dengan massa jenis zooplankton, dalam hal massa jenis zooplankton
dianggap sama dengan massa jenis air yaitu sama dengan satu.
Kelimpahan pada zooplankton di suatu perairan dengan suatu strategi yang
dimakan K strategi dan R strategi. Produktivitas (P) dan Biomassa (B) sering
dihubungkan dalam bentuk P B ratio (Odum, 1971 dan Wetzel, 1983). Dalam K
stategi, suatu organisme tidak memperbanyak diri akan tetapi memperbesar
volume dimensi dari organism tersebut. Ciri-ciri dari organism yang memiliki K
stategi untuk suatu kelimpahan di perairan antara lain ; organisme besar, harus ada
makanan yang cukup, ekosistemnya harus stabil / baik, daya dukung
5

(Carryingcapacity) yang diperlukan hewan harus baik. Sedangkan R strategi


diperlukan oleh suatu organisme zooplankton yang tidak memperbesar dimensi
volume organisme tersebut tetapi dengan memperbanyak diri di suatu perairan.
Ciri-ciri dari organisme yang memiliki R stategi untuk suatu kelimpahan di
perairan antara lain seperti organisme kecil ,tidak harus ada makanan yang cukup,
ekosistem berubah-ubah, oganisme kecil mengandalkan kemampuan reproduksi.
BAB III
METODELOGI PRAKTIKUM

3.1 Tempat dan Waktu Pelaksanaan Praktikum


Pelaksanaan kegiatan praktikum keempat produktivitas perairan mengenai

biomassa dilakukan pada :


Waktu : Kamis, 19 November 2015
Tempat : Laboratorium Fisiologi Hewan Air Fakultas Perikanan dan Ilmu
Kelautan Universitas Padjadjaran Jatinangor.
3.2 Alat dan Bahan
Pelaksanaan praktikum biomassa ini digunakan alat-alat dan bahan sebagai
berikut :
3.2.1 Alat yang Digunakan
Alat-alat yang digunakan dalam praktikum biomassa antara lain :
1. Plankton net untuk menyaring sampel plankton.
2. Gayung untuk mengambil sampel air berisi plankton dari badan air.
3. Mikroskop untuk membantu mengidentifikasi fitoplankton dan
zooplankton yang diamati.
4. Pipet untuk mengambil sampel fitoplankton dan zooplankton dari botol
sampel dan memindahkannya ke counting chamber (ruang hitung).
5. Counting chamber (ruang hitung) untuk menempatkan sampel fitoplankton
dan zooplankton yang akan diidentifikasi dan dihitung.
6. Cover glass untuk menutup ruang hitung dan berfungsi untuk mengurangi
penguapan sampel fitoplankton dan zooplankton dari ruang hitung.
7. Botol sampel untuk menyimpan sampel plankton.
8. Mikrometer okuler Whipple untuk mengukur volume fitoplankton dan

volume zooplankton.
3.2.2 Bahan yang Digunakan
Bahan yang digunakan dalam praktikum biomassa antara lain :
1. Sampel plankton.
2. Pengawet sampel (larutan lugol 0,5% atau formalin 4%).

6
7

3.3 Prosedur Kerja


1. Sampel plankton diambil dari badan air dengan gayung selanjutnya
disaring dengan plankton net dan dimasukkan kedalam botol sampel dan
diberi larutan pengawet untuk dibawa ke laboratorium.
2. Sampel plankton yang dibawa dari lapangan diperiksa di laboratorium.
3. Sampel air dimasukkan kedalam counting chamber dengan pipet hingga
penuh (1 ml) lalu ditutup dengan cover glass.
4. Diamati dibawah mikroskop yang telah dilengkapi mikrometer okuler,
masing-masing jenis yang ditemukan diukur volumenya dengan formula
yang paling sesuai dengan masing-masing plankton.
5. Dihitung biomassa fitoplankton dan zooplankton dengan cara dijumlahkan
biomassa dari masing-masing jenis fitoplankton dan zooplankton yang
diperoleh.

3.4 Analisis Data


Tabel 1. bentuk-bentuk geometri umum plankton.
Bentuk Diagram Formula Contoh
Speris A
3
Sphaerocystis
6

Elipsoid AB
2
Scenedesmus
6 Euglena
A

B
Rod AB
2
Melosira
4
Cyclotella
A

B
8

Bentuk Diagram Formula Contoh


Two AB
2
Ankistrodemus
Con 12
es A

B
One AB
2
Synura
Con A 12
e
B
Ireguler Ceratium

AB 2
 C 2  2 ED 2  FG 2 
A 12

C
D

   Achnanthes
BC  A  B  B
 4 

B C

A
3
Crucigenia
4

AB
2
Peridinium
9

B
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
4.1.1 Data Hasil Perhitungan Biomassa Fitoplankton

Tabel 2. Data Perhitungan Biomassa Fitoplankton Kelompok 2


No Jenis Plankton Ukuran Bentuk Formula Perhitungan (µm)
1. Euglenasp. A:5 Elipsoid
23,55
B:3
2. Scenedesmussp. A:5 elipsoid
23,55
B:3
3. Chlorella sp. A:4 Speris 33,49

4.1.2 Data Hasil Perhitungan Biomassa Zooplankton


Tabel 2. Data Perhitungan Biomassa Zooplankton Kelompok 2
No Jenis Plankton Ukuran Bentuk Formula Perhitungan (µm)
1. Branchionus sp. A : 40 Elipsoid
13.083,3
B : 25
2. Cyclops sp. A : 47 Elipsoid
1.992,33
B:9
3. Euchlanis sp. A : 62 Elipsoid
121,675
B : 50

4.2 Pembahasan
4.2.1 Hasil Biomassa Fitoplankton Kelompok dan Kelas
Setelah dilakukannya praktikum biomassa didapatkan hasil data seperti
tabel di atas. Berdasarkan data yang diperoleh dari hasil pengamatan dan
perhitungan pendugaan produktivitas primer dengan menghitung biomassa
fitoplankton pada kelompok 2, didapatkan bahwa setiap spesies plankton memiliki
perbedaan pada ukuran maupun bentuknya. Dari hasil pengamatan, terdapat tiga

spesies fitoplankton pada kelompok kami yaitu Euglena sp., Scenedesmus sp., dan
Chlorella sp. Ketiga spesies tersebut memilik bentuk dan ukuran yang berbeda-
beda, oleh sebab itu dalam perhitungannya menggunakan rumus yang berbeda
pula.
Pada Euglena sp. memiliki bentuk elipsoid dengan nilai biomassa sebesar
23,55 µm. Pada Scenedesmus sp. memiliki bentuk yang elipsoid dengan nilai
9
10

biomassa sebesar 23,55 µm. Sedangkan pada Chlorella sp. memiliki bentuk speris
dengan nilai biomassa sebesar 33,49 µm.
Pada setiap kelompok paling banyak ditemukan fitoplankton dari spesies
Euglena sp., hal ini dapat dikarenakan spesies ini biasa hidup di air tawar,
misalnya, air kolam, sawah, sungai, atau parit. Makhluk hidup ini berwarna hijau,
berklorofil, dan berfotosintesis sehingga dimasukkan ke dalam dalam kelompok
makhluk hidup yang menyerupai tumbuhan. Euglena sp. juga mempunyai ciri-ciri
yang menyerupai hewan karena dapat bergerak aktif, cara memasukkan makanan
melalui mulut sel, tidak berdinding sel, dan mempunyai bintik mata sehingga
Euglena ini merupakan makhluk hidup yang menyerupai hewan dan sekaligus
juga merupakan makhluk hidup yang menyerupai tumbuhan. Biomassa
fitoplankton itu sendiri dapat dijadikan indikator tinggi rendahnya produktivitas
suatu perairan (Alkatiri dan Sardjana, 1998 in Roshisati 2002). Semakin besar
kepadatan fitoplankton semakin tinggi pula biomassanya, dan dapat menjadi
indikasi perairan yang bersangkutan masih bagus kualitasnya.

Menurut Arinardi (1996), tinggi rendahnya nilai biomassa fitoplankton


dapat digunakan sebagai petunjuk kelimpahan fitoplankton dan juga potensi
organik di suatu perairan. Kelimpahan fitoplankton digunakan sebagai indikator
dalam suatu perairan serta kelimpahan fitoplankton berhubungan dengan siklus
alami dari ketersediaan nutrien dan dengan input nitrat dan fosfat
(omp.gso.uri.edu, 2002). Ukuran biomassa fitoplankton dapat dijadikan petunjuk
dalam melihat kesuburan perairan. Kualitas perairan yang baik merupakan tempat
hidup dan berkembang yang baik bagi fitoplankton, karena biomassa fitoplankton
itu sendiri dapat dijadikan indikator tinggi rendahnya produktivitas suatu perairan
(Ardiwijaya, 2002).
Banyak faktor yang mempengaruhi biomassa fitoplankton pada suatu
perairan. Hal ini dikarenakan suatu ekosistem terdiri dari komponen biotik dan
abiotik yang saling berinteraksi. Faktor abiotik mencakup parameter fisika dan
kimia perairan yang akan menentukan kelimpahan fitoplankton sebagai komponen
biotik di suatu perairan. Variasi lokal dari fitoplankton pada suatu perairan dapat
disebabkan oleh beberapa faktor lingkungan yaitu angin, arus, aktivitas
11

pemangsaan, dan ketersediaan makanan. Stirling (1985) in Racmawati (1999)


menyatakan bahwa kelimpahan biomassa fitoplankton mempunyai korelasi yang
erat dengan fosfor, suhu, nitrogen, dan nilai kecerahan dengan menggunakan
secchi disc. Banyaknya beban masukan khususnya bahan organik ke perairan (sisa
makanan), buangan limbah domestik, limbah pertanian, limbah pertambakan, dan
limbah industri akan mengakibatkan penumpukkan bahan orgnik di perairan.
Bahan organik tersebut selanjutnya akan terdegradasi menjadi unsur hara yang
dimanfaatkan lebih lanjut oleh fitoplankton dalam proses pertumbuhan
populasinya.
Pendugaan produktivitas primer dalam perairan dengan metode
pengukuran biomassa sesuai menurut Reynolds (1990), komposisi dan kelimpahn
fitoplankton terus menerus berubah pada berbagai tingkatan sebagai respon
terhadap perubahan kondisi lingkungan baik secara fisik, kimia maupun biologi.
Ourlake.Org (2001) menyebutkan bahwa distribusi dan konsentrasi dari
fitoplankton merupakan hal yang sangat penting dalam ilmu ekologi dan kualitas

air, terutama terhadap blooming fitoplankton serta hubungannya dengan gangguan


pada kondisi di permukaan perairan yang terjadi sebagai respon dari adanya input
antropogenik dalam hal nutrien penting bagi tanaman (terutama fosfor).
Konsentrasi fitoplankton umumnya digunakan sebagai indikator dari produksi
tanaman mikroskopis ini (seperti produksi primer atau tingkat tropik).

4.2.2 Hasil Biomassa Zooplankton Kelompok dan Kelas


Berdasarkan data yang diperoleh dari hasil pengamatan dan perhitungan
pendugaan produktivitas primer dengan menghitung biomassa zooplankton pada
kelompok 2, didapatkan bahwa setiap spesies zooplankton memiliki perbedaan
pada ukuran maupun bentuknya. Dari hasil pengamatan, terdapat tiga spesies

zooplankton pada kelompok kami yaitu Branchionus sp., Cyclops sp., dan
Euchlanis sp. Ketiga spesies tersebut memilik bentuk dan ukuran yang berbeda-
beda, oleh sebab itu dalam perhitungannya menggunakan rumus yang berbeda
pula.
12

Kelimpahan zooplankton pada suatu perairan dipengaruhi oleh faktor-


faktor abiotik yaitu suhu, kecerahan, kecepatan arus, salinitas, pH, dan DO
(Kennish, 1990; Sumich, 1992; Romimohtarto dan Juwana, 1999). Sedangkan
faktor biotik yang dapat mempengaruhi distribusi zooplankton adalah bahan
nutrien dan ketersedian makanan (Kennish, 1990; Sumich, 1992). Zooplankton
memperoleh nitrogen organik dan anorganik dari fitoplankton dan
mikroorganisme, kemudian mengekresikan nitrogen organik dalam feses yang
akan mengendap atau menjadi terlarut. Aktivitas mikroorganisme bentik dapat
merubah nitrogen organik menjadi anorganik di dalam sedimen. Bakteri juga
berperan dalam siklus nitrogen yaitu merubah nitrogen organik terlarut menjadi
anorganik. (Tait, 1981; Meadows dan Campbell, 1993). Nutien tidak secara
langsung dibutuhkan zooplankton. Fitoplankton menggunakan nitrat untuk
perkembangannya. Perkembangan fitoplankton akan mempengaruhi pula
perkembangan zooplankton, hal ini dikarenakan fitoplankton adalah makanan
utama bagi zooplankton (Wickstead, 1965).

Biomassa zooplankton dapat terjadi peningkatan maupun penurunan.


Peningkatan biomassa ini dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti
ketersediaan sumber daya makanan dan kondisi lingkungan yang mendukung
untuk pertumbuhan zooplankton.
Biomassa zooplankton yang diperoleh dari hasil pengamatan kelompok
maupun kelas yaitu sangat bervariasi antar spesies ditandai dengan nilai maupun
bentuk serta ukuran spesies yang diamati. Variasi yang terjadi pada nilai biomassa
dipengaruhi oleh dua faktor utama, yaitu besarnya nilai produksi dan mortalitas.
Produksi zooplankton ditentukan oleh nilai laju pertumbuhan yang mendapat
pengaruh dari faktor lingkungan perairan seperti suhu, salinitas dan ketersediaan
sumber daya makanan yaitu fitoplankton. Mortalitas zooplankton salah satunya
ditentukan oleh besarnya pemangsaan zooplankton oleh organisme lain seperti
larva ikan. Kenaikan biomassa zooplankton pada perairan dapat menjadi indikasi
ketersediaan makanan alami yang melimpah bagi larva ikan yang memanfaatkan
zooplankton sebagai makanan alaminya. Kondisi ini dapat mendukung
kelangsungan hidup larva ikan yang ada dalam perairan tersebut.
13

Secara teori suhu memberikan pengaruh terhadap proses fi siologi dan


produktivitas primer di perairan yang berdampak terhadap laju pemangsaan
zooplankton. Peningkatan suhu sampai batas tertentu dapat meningkatkan laju
metabolisme zooplankton, yang pada akhirnya akan meningkatkan laju
pertumbuhan zooplankton. Suhu juga memengaruhi komposisi struktur dari
populasi zooplankton di perairan. Menurut hasil penelitian Coyle (2002) pada
kondisi suhu yang lebih hangat komposisi struktur zooplankton di Laut Bearing
berubah dari zooplankton berukuran besar menjadi zooplankton berukuran kecil.
Rendahnya nilai pH perairan terkait dengan tingginya curah hujan pada
saat pengamatan yang meningkatkan masukan air tawar dan sampah organik dari
daratan. Dekomposisi sampah organik memberikan kontribusi terhadap pH
perairan dan meningkatkan konsentrasi nutrien. Konsentrasi nutrien perairan tidak
memberikan pengaruh secara langsung terhadap nilai biomassa zooplankton.
Keterkaitan antara konsentrasi nutrien dengan biomassa zooplankton terjadi
secara tidak langsung melalui fitoplankton yang memanfaatkan nutrien di

perairan. Fitoplankton merupakan makanan bagi zooplankton.


BAB V
SIMPULAN DAN SARAN

5.1 Simpulan
Berdasarkan data hasil praktikum pendugaan produktivitas primer dan

produktivitas sekunder dengan menghitung biomassa fitoplankton dan biomassa


zooplankton yang telah dilakukan diperoleh kesimpulan yaitu dapat menghitung
biomassa fitoplankton dan zooplankton dapat dilakukan dengan mengukur
volumenya. Spesies fitoplankton yang didapatkan oleh kelompok 2 yaitu Euglena
sp., Chlorella sp., dan Scenedesmus sp. Spesies zooplankton yang didapatkan oleh
kelompok 3 yaitu Branchionus sp., Cyclops sp., dan Euchlanis sp. Berdasarkan
hasil pengamtan dan perhitungan, didapati bahwa jumlah zooplankton cenderung
lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah fitoplankton berdasarkan data kelas.

1.2 Saran
Dalam praktikum, seharusnya fakultas lebih mementingkan kuantitas alat
pendukung praktikum, agar kualitas dapat terpacu, dan mahasiswa dapat
memahami dari mulai prosedur sampai ke hasil.

14
DAFTAR PUSTAKA

Arinardi, O.H., dkk. 1997. Kisaran Kelimpahan dan Komposisi Plankton


Predominan di Perairan Kawasan Timur Indonesia. P3O-LIPI. Jakarta.

Djumanto, dkk. 2009. Pola Sebaran Horizontal Dan Kerapatan Plankton Di


Perairan Bawean. LON-LIPI. Jakarta.

Folkowski, P.G. dan A. J. Raven. 1997. Aquatic Photosynthesis. Blacwell


Science-USA. New York.

Kaswadji, R. 2001. Keterkaitan Ekosistem di Dalam Wilayah Pesisir . Institut


Pertanian Bogor. Bogor.

Krismono, A.S.N. dan Kartamihardja, S. 1995. Status Trofik Perairan Waduk


Kedungombo, Jawa Tengah, Sebagai Dasar Pengelolaan Perikanannya.
Jurnal Perikanan Indonesia 1 (3): 26 – 35.

Nontji, A. 2008. Plankton laut. LIPI Press. Jakarta. 331 hal.

Nybakken, J. W., Bertness, M. D. 2005. Marine Biology, An Ecology Approach.


Benjamin Cummings. USA. 579 p.

Parsons, T.R., dkk. 1984. Biological Oceanographic Processes. Third edition.


Pergamon Press. Oxford.

Susanto, P. 2000. Pengantar Ekologi Hewan. Departemen Pendidikan Nasional.


Jakarta.

Valiela, I. 1984. Marine Ecologycal Processes. Springer-Verlag. New York.

Wetzel, R.G. 1983. Limnology. Sounders Company. Phyladelphia. 743 p.

15
LAMPIRAN
16

Lampiran 1. Dokumentasi Praktikum

Euglena sp. Chlorella sp

Scenedesmus sp. Branchionus sp.

Cyclops sp.
17

Lampiran 2. Data Praktikum Kelas


Kel Jenis Plankton Ukuran (µm) Bentuk Formula Perhitungan (µm)

1. Chlorella sp. A=3 speris

Pediastrum duplex A=14 speris

Scenedesmus quadncauda A=4 B=2 elipsoid

Branchionus falcatis A=35 B=20 elipsoid

Euchlanis dilatata A=67 B=32 elipsoid

Cyclops
sp. A=40 B =15 elipsoid

2. Branchionus
sp. A = 40 B =25 elipsoid

Cyclops
sp. A = 47 B = 9 elipsoid

Euchlonis
sp. A=62 B=50 rod

Chlorella
sp. A=4 speris

Scenedesmus
sp A=5B=3 elipsoid

Euglena
sp. A=5B=3 elipsoid

3. Euglena sp. A = 10 B = 5 elipsoid

Coelasreum sp. A = 20 speris

Pediastrum sp. A=5 speris

Branchionus
sp. A = 15 B =25 elipsoid

Dinocharis intermedia A=3B=1 elipsoid

4. Euglena sp. A=12 B=2 elipsoid 25,12


Spirulina sp. A=12 B=1 elipsoid 6,28
Chlorella sp. A=2 speris 4,19
Euchlanis dilatata A=60 B=13 elipsoid 5306,6
Epistylis sp. A=9 B=2 elipsoid 18,84
18

Kel Jenis Plankton Ukuran (µm) Bentuk Formula Perhitungan (µm)

Cyclops sp. A=55 B=10 elipsoid 2878,3


5. Pediastrum ukuran A=5 speris 65,41
Euglena A=10 B=5 elipsoid 130,83
Pinularia legumen A = 22 B = 5 287,83
Branchionus ; A = 15 B =25 122656,25
Dinocharis inyernedia; A=2B=1 1,57

6. Chlorella
sp. A=2 speris

Scenedesmus
sp. A=5 B= 4 elipsoid

Mycrocystis
sp. A=1 speris

Brachionus
sp. A=10 B= 5 one cone

Euglena
sp. A=3 B=2 elipsoid

7. Chlorella
sp. A=2 speris

Scenedesmus
sp. A=4 B=5 elipsoid

Mycrocystis
sp. A=1 speris

Euglena
sp. A=3 B=2 elipsoid

Rotifera
sp. A=6 B=4 one cone

Brachionus
sp. A=5 B=4 one cone

8.
9. microsystic speris 0,52
sp. chorella speris 4,18
scenedesmus
sp. elipsoid 41,8
rotifera one cone 65,41

10. Rotifera
sp. A = 10 B = 5 elipsoid

Euglena
sp. A=7B=4 elipsoid

Brachionus
sp. A=6B=5 one cone

Chlorella
sp. A = 1,5 speris
19

Kel Jenis Plankton Ukuran (µm) Bentuk Formula Perhitungan (µm)

Scenedesmus
sp. A=5B=3 elipsoid

Nitzschia
sp. A = 20 B = 1 one cone

11.

12. Pediastrum duplex A=10 speris

A=20 speris

Scenedesmus sp. A=3 b=20 elipsoid

Microcystis sp. A=25 speris

Peridinium sp. A=16 b=2 iregular

A=70 B=45
13. Pediastrum
c=50

Euglena a=42 b=8

Chlorella a=55

Streptococcus a=7 b=7

Peridinium a=90 b=50

mycrocystis a=20

mycrocystis 1766,25

scenedesmus 3,14 x 34 x 50 =44483,33

Nauplius A=20 b=7

Moina a=16 b=10

14. a=2 speris


Chlorella sp.
3,14 x (3)3 = 14,13

Scenedesmus
sp. a=4 b=3 elipsoid
20

Kel Jenis Plankton Ukuran (µm) Bentuk Formula Perhitungan (µm)

Pediastrum A rod

Mycrocystis a=2 speris

15. A=8 267,95


Pediastrum A=6 B=6 113,04
A=10 65,41
Scenedesmus A=1 B=0,5 0,13
sp.
16. Euglena elipsoid 1562,67
sp. Chlorella speris 33,7
Skeletonema 36,63
Didinium sp. 2119,5
17. Euglena sp. elipsoid 3,14
A=6B=1
Volvulina pringsheimani
speris 4,19
stars A=2
sp. Navicula elipsoid 13,08
18.
19. Aphanoteche nagelii
Euglena sp.
Scenedesmus sp.
20. Chlorella A=5 Speris 65,41

Euglena A=6B=2 Elipsoid 6,28

Euglena A = 5 B=2 Elipsoid 5,23

Oocytus naegelii A=6 B=6 Elipsoid 18,84


PRAKTIKUM PENDUGAAN PRODUKTIVITAS SEKUNDER DENGAN
MENGHITUNG ENUMERASI DAN BIOMASSA BENTHOS

BAB
I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ............................................................................... 1
1.2 Tujuan Praktikum .......................................................................... 2
1.3 Manfaat Praktikum ........................................................................ 2

II. TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Definisi Benthos ............................................................................ 3
2.2 Jenis Benthos ................................................................................. 4
2.3 Benthos Sebagai bioindikator ........................................................ 7
2.4 Parameter- Parameter yang Mempengaruhi Keberadaan Benthos 8
2.4.1 Parameter Fisika ......................................................................... 9
2.4.2 Parameter Kimia ........................................................................ 11
2.5 Alat untuk Mengambil Benthos ................................................... 13

III. METODE PRAKTIKUM


3.1 Tempat dan Waktu Pelaksanaan Praktikum ................................ 15
3.2 Alat dan Bahan ............................................................................. 15
3.2.1 Alat yang Digunakan ................................................................. 15
3.2.2 Bahan yang Digunakan .............................................................. 15
3.3 Prosedur Kerja .............................................................................. 16
3.4 Analisis Data ................................................................................. 16
3.4.1 Perhitungan Enumerasi Benthos ................................................ 16
3.4.2 Perhitungan Biomassa Benthos ................................................. 16

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1 Hasil.................................................................... .......................... 17
4.1.1 Data Hasil Enumerasi Benthos .................................................. 17
4.1.2 Data Hasil Biomassa Benthos .................................................... 18
4.2 Pembahasan .................................................................................. 19
4.2.1 Hasil Enumerasi Benthos........................................................... 19
4.2.2 Hasil Biomassa Benthos ............................................................ 20

V. SIMPULAN DAN SARAN


5.1 Simpulan ....................................................................................... 22
5.2 Saran ............................................................................................. 22

DAFTAR PUSTAKA ....................................................................... 23


LAMPIRAN

i
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Benthos adalah organisme yang mendiami dasar perairan, baik kolam,
danau, maupun perairan mengalir (Lind, 1979). Secara umum organisme ini
dibedakan menjadi dua kelompok besar, yaitu makrobenthos dan mikrobenthos.
Dalam komunitas perairan, benthos memegang beberapa peranan penting seperti
dalam proses mineralisasi dan pendaurulang bahan organik, serta menduduki
beberapa posisi dalam rantai makanan.
Dalam rantai makanan di perairan hewan benthic menempati tingkat kedua
dan ketiga (Lind, 1979). Sebagai konsumer tingkat pertama, hewan benthic ini
terdiri dari pemakan tumbuhan air tingkat tinggi (Gupta, 1976), pemakan
tumbuhan mikroskopik dan pemakan detritus. Sebagai konsumer tingkat kedua,
hewan benthic ini biasa memangsa zooplankton atau bahkan memangsa sesama

hewan benthic lainnya (Smyly, 1979), atau bahkan memangsa sesama hewan
benthic lainnya (Niel, 1956).
Salah satu organisme yang berada dalam ekosistem tergenang yaitu benthos.
Bentos merupakan organisme perairan yang keberadaannya dapat dijadikan
indikator perubahan kualitas biologi perairan sungai (Canter dan Hills, 1979). Hal
ini disebabkan adanya respon yang berbeda terhadap suatu bahan pencemar yang
masuk dalam perairan sungai dan bersifat immobile (Hynes, 1974; Hilsenshoff,
1977). Benthos juga merupakan salah satu indicator perairan untuk menghitung
produktivitas primer guna mengetahui kondisi suatu badan air baik mengalir
maupun tergenang. Makrozoobenthos merupakan organisme akuatik yang hidup
di dasar perairan dengan pergerakan relatif lambat dan menetap serta daur
hidupnya relatif lama sehingga hewan tersebut mempunyai kemampuan merespon
kondisi kualitas air secara terus menerus (Mason 1993).

1
2

1.2. Tujuan Praktikum


Tujuan dari praktikum ini adalah Untuk mengetahui jenis dari organisme
benthos serta produktivitas dari suatu daerah perairan.

1.3. Manfaat Praktikum


Manfaat dari praktikum ini adalah dapat mengetahui jenis dari organisme
benthos serta produktivitas dari suatu daerah perairan. Dapat menghitung dan
mengidentifikasi jenis benthos. Dapat mempelajari kelimpahan dan indeks
keanekaragaman (diversitas) bentos
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Definisi Benthos


Benthos merupakan organisme yang melekat atau beristirahat pada dasar
perairan atau hidup di dasar endapan (substrat) perairan (Odum 1993). Bentos
merupakan kelompok organisme yang hidup di dalam atau di permukaan sedimen
dasar perairan. Bentos memiliki sifat kepekaan terhadap beberapa bahan
pencemar, mobilitas yang rendah, mudah ditangkap dan memiliki kelangsungan
hidup yang panjang. Oleh karena itu peran bentos dalam keseimbangan suatu
ekosistem perairan dapat menjadi indikator kondisi ekologi terkini pada kawasan
tertentu (Petrus dan Andi 2006).
Keberadaan hewan bentos pada suatu perairan, sangat dipengaruhi oleh
berbagai faktor lingkungan, baik biotik maupun abiotik. Faktor biotik yang
berpengaruh diantaranya adalah produsen, yang merupakan salah satu sumber

makanan bagi hewan bentos. Sedangkan faktor abiotik yaitu kondisi fisika seperti
substrat, kekeruhan, arus, kedalaman, dan suhu, disamping juga dipengaruhi oleh
faktor kimia seperti pH, O2, dan bahan-bahan toksik dan factor biologi seperti
predator dan kompetitor. Peranan hewan benthos di perairan yaitu: Mampu
mendaur ulang bahan organik; membantu proses mineralisasi ; Menduduki posisi
penting dalam rantai makanan; Indikator pencemaran, karena siklus hidupnya
yang penjang dan sifat pergerakannya yang terbatas.
Zoobentos merupakan hewan yang sebagian atau seluruh siklus hidupnya
berada di dasar perairan, baik yang sesil, merayap maupun menggali lubang
(Odum 1993). Hewan ini memegang beberapa peran penting dalam perairan
seperti dalam proses dekomposisi dan mineralisasi material organik yang
memasuki perairan, serta menduduki beberapa tingkatan trofik dalam rantai
makanan (Odum, 1993). Benthos memegang beberapa peran penting dalam
perairan seperti dalam proses dekomposisi dan mineralisasi material organik yang
memasuki perairan serta menduduki beberapa tingkatan trofik dalam rantai
makanan.

3
4

Beberapa organisme makrozoobentos sering dipakai sebagai spesies


indikator kandungan bahan organik, dan dapat memberikan gambaran yang lebih
tepat dibandingkan pengujian secara fisika-kimia (Hynes, 1978). Kelebihan
penggunaan makrozoobentos sebagai indikator pencemaran organik adalah karena
jumlahnya relatif banyak, mudah ditemukan, mudah dikoleksi dan
diidentifikasikan, bersifat immobile, dan memberikan tanggapan yang berbeda
terhadap kandungan bahan organik (Abel, 1989; Hellawel, 1986 dalam Rosenberg
dan Resh,1993). Kelemahannya adalah karena sebarannya mengelompok dan
dipengaruhi oleh faktor hidrologi seperti arus, dan kondisi substrat dasar (Hawkes,
1978).
Gaufin dalam Wilhm (1975) mengelompokkan spesies makrozobentos
berdasarkan kepekaannya terhadap pencemaran karena bahan organik ke dalam
kelompok :
a. Intoleran, yaitu organisme yang dapat tumbuh dan berkembang dalam kisaran
kondisi lingkungan yang sempit dan jarang dijumpai di perairan yang kaya

organik. Organisme ini tidak dapat beradaptasi bila kondisi perairan mengalami
penurunan kualitas.
b. Fakultatif, yaitu organisme yang dapat bertahan hidup pada kisaran kondisi
lingkungan yang lebih besar bila dibandingkan dengan organisme intoleran.
Walaupun organisme ini dapat bertahan hidup diperairan yang banyak bahan
organik namun tidak dapat mentolerir tekanan lingkungan.
c. Toleran, yaitu organisme yang dapat tumbuh dan berkembang dalam kisaran
kondisi lingkungan yang luas, yaitu organisme yang sering dijumpai diperairan
yang berkualitas jelek. Pada umumnya organisme tersebut tidak peka terhadap
berbagai tekanan lingkungan dan kelimpahannya dapat bertambah diperairan
yang tercemar oleh bahan organik.

2.2. Jenis Benthos


Klasifikasi Bentos Menurut Ukurannya:
a. Microfauna, Microfauna hewan yang memiliki ukuran lebih kecil dari 0,1 mm.
Contohnya bacteri, diatom, ciliata, amoeba, dan flagellata.
5

b. Meiofauna, Meiofauna Merupakan benthos yang mempunyai ukuran antara 0,1


mm sampai 1,0 mm. Contohnya nematoda, cepepoda, dan foraminifera.
c. Makrofauna, Makrofauna merupakan benthos yang memiliki ukuran lebih dari
1 mm(0.04 inch). Contohnya cacing, annelida, molusca, sponge, dan crustacea.
Berdasarkan Tempat Hidupnya Bentos Diklasifikasikana. Kelompok
organisme dominan yang menyusun makrofauna di dasar lunak sublitorial
terbagi dalam 3 kelompok taksonomi : Kelas Polychaeta, Kelas Crustacea,
Filum Echinodermata, dan filum Mollusca.
d. Epifauna, Epifauna adalah hewan yang hidupnya diatas permukaan dasar
lautan. Contohnya, kepiting, siput laut, dan bintang laut.
e. Infauna, Infauna adalah hewan yang hidupnya dengan cara menggali lubang
pada dasar lautan. Contohnya cacing, tiram, macoma, dan remis.

Zoobenthos dapat dibagi berdasarkan cara makanannya, yaitu Filter feeder


(penyaring) contohnya Crustacea dan Deposit feeder (pemakan deposit)
contohnya siput.
Makanan benthos mengandalkan dari hujan bahan organik yang dipengaruhi
oleh daerah atas (fotik). Berdasarkan ukuran tubuhnya ada 3 klasifikasi pada
benthos yaitu mikrobenthos (< 0,1 mm), meiobenthos (0,1 – 1 mm) dan
makrobenthos (> 1 mm). Cara menentukan kualitas perairan berdasarkan Benthos
yang ada di perairan tersebut salah satunya yaitu dengan pendekatan kualitatif
dimana kita melihat jenis-jenis daripada Benthos yang hidup diperairan itu
sendiri. jenis-jenis bentos berdasarkan tingkat kerusakan perairan dikemukakan
oleh Mulyanto (1995) sebagai berikut :
a. Perairan bersih adalah Planaria, Perla, Isoperia, Leuctra, Nemoura, Eodyonurus
dan Ephemera.

b. Perairan tercemar organik ringan adalah Caenis, Ephemerella, Baetis,


Limnophillus dan Hydropsyche.
c. Perairan tercemar organik sedang adalah Simulium, Lymnaea dan Physa.
d. Perairan tercemar organik berat adalah Chironomous dan Tubifex.
6

Berdasarkan jenis dibedakan menjadi 2 yaitu :


1. Zoobentos, Zoobentos merupakan hewan yang sebagian atau seluruh siklus
hidupnya berada di dasar perairan, baik yang sesil, merayap maupun menggali
lubang (Odum, 1993). Hewan ini memegang beberapa peran penting dalam
perairan seperti dalam proses dekomposisi dan mineralisasi material organik
yang memasuki perairan (Lind disitasi Ardi, 2002), serta menduduki beberapa
tingkatan trofik dalam rantai makanan (Odum, 1993). Zoobentos membantu
mempercepat proses dekomposisi materi organik. Hewan bentos, terutama
yang bersifat herbivor dan detritivor, dapat menghancurkan makrofit akuatik
yang hidup maupun yang mati dan serasah yang masuk ke dalam perairan
menjadi potongan-potongan yang lebih kecil, sehingga mempermudah mikroba
untuk menguraikannya menjadi nutrien bagi produsen perairan. Berbagai
jenis zoobentos ada yang berperan sebagai konsumen primer dan ada pula yang
berperan sebagai konsumen sekunder atau konsumen yang menempati tempat
yang lebih tinggi. Pada umumnya, zoobentos merupakan makanan alami bagi

ikan-ikan pemakan di dasar ("bottom feeder") (Pennak, 1978). Romimohtarto


dan Sri (2001) mengatakan bahwa fauna bentik terdiri dari lima kelompok,
yaitu Mollusca, Polychaeta, Crustacea, Echinodermata dan kelompok lain yang
terdiri dari beberapa takson kecil seperti Sipunculidae (owak-owak),
Pogonophora dan lan-lain. Pada umumnya, zoobentos merupakan makanan
alami bagi ikan-ikan pemakan di dasar ("bottom feeder") Perubahan salinitas
dan DO mempengaruhi kehidupan biota perairan, termasuk komunitas
makroinvertebrata bentos (biota perairan yang tidak bertulang belakang yang
hidup di dasar sungai, berukuran > 1 mm). Oksigen terlarut sangat penting bagi
pernafasan zoobentos dan organisme-organisme akuatik lainnya. Kelarutan
oksigen dipengaruhi oleh faktor suhu, pada suhu tinggi kelarutan oksigen
rendah dan pada suhu rendah kelarutan oksigen tinggi. Tiap-tiap spesies biota
akuatik mempunyai kisaran toleransi yang buerbeda-beda terhadap konsentrasi
oksigen terlarut di suatu perairan. Zoobentos membantu mempercepat proses
dekomposisi materi organik. Hewan bentos, terutama yang bersifat herbivor
dan detritivor, dapat menghancurkan makrofit akuatik yang hidup maupun
7

yang mati dan serasah yang masuk ke dalam perairan menjadi potongan-
potongan yang lebih kecil, sehingga mempermudah mikroba untuk
menguraikannya menjadi nutrien bagi produsen perairan.
2. Phytobentos, Phytobentos merupakan tanaman milik bentos tersebut.

2.3. Benthos Sebagai bioindikator


Bioindikator adalah kelompok atau komunitas organisme yang
keberadaannya dan perilakunya di alam berhubungan dengan kondisi lingkungan,
apabila terjadi perubahan kualitas air maka akan berpengaruh terhadap keberadaan
dan perilaku organisme tersebut, sehingga dapat digunakan sebagai penunjuk
kualitas lingkungan (Triadmodjo 2008).
Peranan hewan makrobenthos di perairan sangat penting dalam rantai
makanan ( food chain), karena merupakan sumber makanan bagi beberapa ikan
dan sebagai salah satu pengurai bahan organik (Odum, 1971). Makrozoobenthos
memanfaatkan sumber makanan primer yang terdiri dari makanan yang bersifat

pelagik sebagai makanan tersuspensi dan makan yang bersifat bentik sebagai
makanan terdeposit. Bentuk lain dari deposit yang berbeda dengan makan deposit
diatas adalah mikroalga bentik yang ada di sedimen, akan tetapi sumber makanan
benthos yang sebenarnya diperoleh melalui sedimentasi pada kolom air, termasuk
mineral makanan potensial yang tidak tertangkap oleh organisme pelagik. Oleh
karena itu dapat dikatakan bahwa input makanan dapat dibagi menjadi dua bagian
yaitu mikroalga bentik dan guguran dasar atau detritus yang suatu saat juga
tersuspensi oleh adanya pergerakan air (Barnes, 1978).
Bentos sebenarnya memiliki peranan yang penting dalam suatu ekosistem.
Berikut ini akan diuraikan pentingnya keberadaan bentos dalam suatu ekosistem.
1. Bentos berfungsi dalam proses rantai makananBentos merupakan bagian
penting dari rantai makanan, terutama untuk ikan. Banyak invertebrata
memakan alga dan bakteri, yang berada di ujung bawah rantai makanan.
Beberapa rusak dan makan daun dan bahan organik lainnya yang masuk air.
Karena kelimpahan mereka dan posisi sebagai "perantara" dalam rantai
makanan air, bentos memainkan peran penting dalam aliran alami energi dan
8

nutrisi. Invertebrata bentos yang sudah mati akan membusuk dan kemudian
meninggalkan nutrisi yang digunakan kembali oleh tanaman air dan hewan
lainnya dalam rantai makanan.
2. Bentos dapat digunakan untuk melihat kualitas air pada suatu perairan Tidak
seperti ikan, bentos tidak bisa bergerak banyak sehingga mereka kurang
mampu menghindar dari efek sedimen dan polutan lain yang mengurangi
kualitas air. Oleh karena itu, bentos dapat memberikan informasi mengenai
kualitas air sungai dan kualitas air danau. siklus hidup lama mereka
memungkinkan penelitian yang dilakukan oleh ahli ekologi akuatik untuk
menentukan setiap penurunan kualitas lingkungan. Bentos merupakan grup
yang sangat beragam hewan air, dan sejumlah besar spesies memiliki berbagai
tanggapan terhadap stres seperti polutan organik, sedimen, dan toxicants.
bentik makroinvertebrata Banyak berumur panjang, yang memungkinkan
deteksi peristiwa masa lalu seperti pencemaran tumpahan pestisida dan ilegal
dumping.

Mahmudi, dkk, (1999), juga mempertegas bahwa makrozoobentos


mempunyai peranan penting di ekosistem sungai, yaitu :
1. Dapat memberikan informasi mengenai pemindahan dan penggunaan energi
dalam ekosistem sungai
2. Mempunayi peranan dalam proses self purification sungai, dan
3. Dapat digunakan untuk kepentingan restorasi perairan sungai dengan cara
mencipatakan habiatat yang mendorong kolonisasi makrozoobentos.
Komunitas makrozoobentos bahkan menjadi sumber energi untuk perikanan di
ekosistem sungai.

2.4. Parameter yang mempengaruhi keberadaan bentos


Keberadaan hewan bentos pada suatu perairan, sangat dipengaruhi oleh
berbagai faktor lingkungan, baik biotik maupun abiotik. Faktor biotik yang
berpengaruh diantaranya adalah produsen, yang merupakan salah satu sumber
makanan bagi hewan bentos. Sedangkan faktor abiotik yaitu kondisi fisika seperti
substrat, kekeruhan, arus, kedalaman, dan suhu, disamping juga dipengaruhi oleh
9

faktor kimia seperti pH, O2, dan bahan-bahan toksik dan factor biologi seperti
predator dan kompetitor.

2.4.1. Faktor Fisika


a. Kecepatan arus
Arus merupakan gerakan mengalir suatu massa air yang dapat disebabkan
oleh tiupan angin, karena perbedaan dalam densitas air laut atau disebabkan oleh
gerakan gelombang (Nontji, 2002). Selanjutnya dikatakan bahwa pada dasar
perairan dangkal, dimana terdapat arus yang tinggi, hewan yang mampu hidup
adalah organisme periphitik atau benthos.
Pergerakan air yang ditimbulkan oleh gelombang dan arus juga memiliki
pengaruh yang penting terhadap benthos; mempengaruhi lingkungan sekitar
seperti ukuran sedimen, kekeruhan dan banyaknya fraksi debu juga stress fisik
yang dialami organisme-organisme dasar. Pada daerah sangat tertutup dimana
kecepatan arusnya sangat lemah, yaitu kurang dari 10 cm/dtk, organisme benthos

dapat menetap, tumbuh dan bergerak bebas tanpa terganggu sedangkan pada
perairan terbuka dengan kecepatan arus sedang yaitu 10-100 cm/dtk
menguntungkan bagi organisme dasar; terjadi pembaruan antara bahan organik
dan anorganik dan tidak terjadi akumulasi (Wood, 1987).

b. Suhu
Suhu perairan merupakan parameter fisika yang sangat mempengruhi
polakehidupan biota akuatik seperti penyebaran, kelimpahan dan mortalitas
(Brower et.al, 1990). Menurut Sukarno (1981) bahwa suhu dapat membatasi
sebaran 15 hewan makrobenthos secara geografik dan suhu yang baik untuk
pertumbuhan hewan makrobenthos berkisar antara 25 - 31 °C. Suhu
optimal beberapa jenis Mollusca adalah 20 °C dan apabila melampaui batas
tersebut akan mengakibatkan berkurangnya aktivitas kehidupannya (Clark, 1986).
Salah satu adaptasi tingkah laku pada kelas Polychaeta akan berlangsung
apabila terjadi kenaikan suhu dan salinitas. Adaptasi tersebut dapat berupa
aktivitas membuat lubang dalam lumpur dan membenamkan diri di bawah
10

permukaan substrat. Beberapa Polychaeta dapat bertahan dalam kondisi suhu


ekstrim, diantaranya Capitella capitata ditemukan dengan kelimpahan 905 ind./m²
pada suhu 34 ºC (Alcantara dan Weiss, 1991).

c. Substrat Dasar
Ukuran partikel substrat merupakan salah satu faktor ekologis utama dalam
mempengaruhi struktur komunitas makrobentik seperti kandungan bahan organik
substrat. Penyebaran makrobenthos dapat dengan jelas berkorelasi dengan
tipesubstrat. Makrobenthos yang mempunyai sifat penggali pemakan
deposit cenderung melimpah pada sedimen lumpur dan sedimen lunak yang
merupakan daerah yang mengandung bahan organik yang tinggi (Nybakken,
1988). Welch (1952) menjelaskan bahwa substrat di dasar perairan akan
menentukan kelimpahan dan komposisi jenis dari hewan benthos. Selanjutnya
Odum (1971) menambahkan bahwa jenis substrat dasar merupakan komponen
yang sangat penting bagi kehidupan organisme benthos.

d. Kecepatan arus
Kecepatan arus dipengaruhi oleh perbedaan ketinggian antara bagian hilir
dan hulu (topografi) badan air, dimana semakin tinggi perbedaan ketinggian
(elevasi) tersebut maka arus semakin kuat. Kecepatan arus akan mempengaruhi
komposisi substrat dasar (sedimen) dan juga akan mempengaruhi aktifitas
makrozoobentos yang ada.
Kecepatan arus merupakan salah satu faktor penentu kemelimpahan dan
keanekaragaman makrozoobentos. Pada perairan yang relatif tenang dan banyak
ditumbuhi tumbuhan air biasanya banyak ditemukan kelompok Molusca
sedangkan perairan dengan arus kuat atau jeram banyak ditemukan
makrozoobentos dari kelompok Insekta dan Hirudinae (Koesbiono 1979).

e. Intensitas Cahaya
Bagi organisme air, intensitas cahaya berfungsi sebagai alat orientasi yang
akan mendukung kehidupan organisme tersebut dalam habitatnya. Larva dari
11

Baetis rhodani akan bereaksi terhadap perubahan intensitas cahaya, dimana jika
intensitas cahaya matahari berkurang, hewan ini akan ke luar dari tempat
perlindungannya yang terdapat pada bagian bawah dari bebatuan didasar perairan,
bergerak menuju ke bagian atas bebatuan untuk mencari makanan (Barus 2004).

2.4.2. Parameter Kimia


a. Salinitas
Salinitas merupakan ciri khas perairan pantai atau laut yang
membedakannyadengan air tawar. Berdasarkan perbedaan salinitas, dikenal biota
yang bersifat stenohaline dan euryhaline. Biota yang mampu hidup pada kisaran
yang sempit disebut sebagai biota bersifat stenohaline dan sebaliknya biota yang
mampu hidup pada kisaran luas disebut sebagai biota euryhaline (Supriharyono,
2000). Keadaan salinitas akan mempengaruhi penyebaran organisme, baik secara
vertikal maupun horizontal. Menurut Barnes (1980) pengaruh salinitas secara
tidak langsung mengakibatkan adanya perubahan komposisi dalam suatu

ekosistem. Menurut Gross (1972) menyatakan bahwa hewan benthos umumnya


dapat mentoleransi salinitas berkisar antara 25 – 40 ‰.
Menurut Budiman dan Dwiono (1986) bahwa gastropoda yang bersifat
mobile mempunyai kemampuan untuk bergerak guna menghindari salinitas yang
terlalurendah, namun bivalvia yang bersifat sessile akan mengalami kematian jika
pengaruhair tawar berlangsung lama. Selain itu reproduksi dari jenis-jenis
gastropoda seperti Littorina scabra sangat dipengaruhi oleh salinitas.

b. pH
Nilai pH menunjukkan derajad keasaman atau kebasaan suatu perairan yang
dapat mempengaruhi kehidupan tumbuhan dan hewan air. pH tanah atau substrat
akan mempengaruhi perkembangan dan aktivitas organisme lain. Bagi hewan
bentos pH berpengaruh terhadap menurunnya daya stress.
12

c. Oksigen Terlarut
Oksigen terlarut merupakan variabel kimia yang mempunyai peranan
yangsangat penting bagi kehidupan biota air sekaligus menjadi faktor pembatas
bagikehidupan biota. Daya larut oksigen dapat berkurang disebabkan naiknya
suhu airdan meningkatnya salinitas. Konsentrasi oksigen terlarut dipengaruhi oleh
prosesrespirasi biota air dan proses dekomposisi bahan organik oleh mikroba.
Pengaruh ekologi lain yang menyebabkan konsentrasi oksigen terlarut menurun
adalah penambahan zat organik (buangan organik) (Connel dan Miller, 1995).
Pada tingkatan species, masing-masing biota mempunyai respon yang berbeda
terhadap penurunan oksigen terlarut dan perbedaan kerentanan biota terhadap
tingkatoksigen terlarut yang rendah, misalnya Capitella sp. pada kelas
Polychaeta. Dapat hidup dan mengalami peningkatan biomassa walaupun nilai
konsentrasi oksigen terlarut nol (Connel dan Miller, 1995).

d. Nitrogen dan Fosfor

Nitrogen terdapat di lingkungan perairan dalam bermacam bentuk dangabun


gan unsur kimia yang luas. Nitrogen anorganik seperti amonia, nitrit, nitrat dangas
nitrogen biasanya larut dalam air (Connel dan Miller, 1995). Law et.al (1991)
dalam Junardi (2001) mengukur kandungan nitrat, nitrit danamonia di perairan
payau. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelimpahan N. Diversicolor pada
kelas Polychaeta berkorelasi positif dengan kandungan nitrat tertinggi 37,2 ppm,
nitrit 0,2 ppm dan amonia 0,119 ppm dalam substrat. Fosfor terdapat dalam
bentuk oksida tunggal sebagai fosfor anorganik dan fosfor organik. Bentuk
anorganik fosfor terutama adalah ortofosfat (HPO 42-) dan polifoafat.
Kelimpahan N. Diversicolor juga berkorelasi positif dengan tingginya kandungan
ortofosfat dalam substrat. Pada kandungan ortofosfat 49,64 ppm ditemukan
kelimpahan N. Diversicolor sebesar 900 ind./m2. Sebaliknya saat kandungan
ortofosfat turun menjadi 2,64 ppm , kelimpahan N. diversicolor juga turun
menjadi 340 ind./m2 (Clavero et.al, 1991 dalam Junardi, 2001).
13

2.5. Alat pengambilan Benthos


2.5.1. Jala Surber
Pengambilan sampel bentos dengan menggunakan Jala Surber dilakukan
dengan meletakkan Jala Surber di dasar perairan dan jala terbuka melawan arus
sungai. Batuan yang ada dalam cakupan Jala Surber (40 x 25 cm) diambil dan
diletakkan di baki yang telah berisi air. Selain batuan yang diambil, substrat dalam
cakupan Jala Surber disikat supaya masuk ke dalam jala sesuai arah aliran air.
Substrat itu juga dimasukakan ke dalam baki. Batu-batu yang terambil disikat
pelan menggunakan sikat gigi supaya semua hewan yang mungkin menempel di
batubatu itu terlepas dan masuk ke baki. Setelah tidak ada lagi batu-batu, semua
substrat dan sedimen yang terambil di dalam baki, disaring dengan saringan
MESH 35 dengan diameter pori ± 0,5 mm sampai airnya jernih dan tidak ada
lumpur. Substrat yang tersisa dimasukkan ke dalam plastik dengan sedikit air dan
ditambahkan formalin 4% sebanyak sepersepuluh dari air yang ada.

Gambar 1. Jala surber


(Sumber: www.google.com)

2.5.2. Eckman grab


Alat ini dibuat dari baja yang beratnya kurang lenih 3,2 kg dan mempunyai
3 macam ukuran yaitu : 15 cm x 15 cm, 23cm x 23 cm, dan 30 cm x 30 cm.

Eckman Grab berfungsi untuk mengambil sedimen permukaan yang ketebalannya


tergantung dari tinggi dan dalamnya grab masuk kedalam lapisan sedimen. Alat
ini biasa digunakan untuk mengambil sampel sedimen pada perairan dangkal.
Berdasarkan ukuran dan cara operasional, ada dua jenis grab sampler yaitu grab
sampler berukuran kecil dan besar. Alat ini dipergunakan untuk pengambilan
contoh perairan yang mempunyai dasar yang terdiri dari lumpur, pasir dan sungai
14

yang arusnya kecil. Eckman Grab adalah dengan membuka alat untuk dapat
mengeruk sedimen. Bila sudah terbuka, tali dan pemberat dipegang ketika
Eckman Grab dijatuhkan ke dasar perairan. Saat penggeruk sudah mencapai dasar
dan dapat mengambil sedimen, pemberat dijatuhkan agar pengeruk tertutup.
Sedimen yang terambil dalam Eckman Grab dimasukkan ke baki.

Gambar 2. Eckman Grab


(Sumber: www.google.com)

2.5.3. Petersen Grab

Alat ini dibuat dari baja dan biasanya dipergunakan pada perairan yang
mempunyai dasar yang keras, misalnya jika dasar perairan terdiri dari lempung,
batu dan pasir (laut). Luas alat ini 0,06 x 0,009 m 2 dengan berat yang bervariasi
antara 13,7 s.d 31,8 kg.
BAB III
METODE PRAKTIKUM

3.1. Tempat dan Waktu Pelaksanaan Praktikum


Praktikum mengenai Pendugaan Produktivitas Sekunder dengan
Menghitung Enumerasi dan Biomassa Benthos dilaksanakan pada hari kamis, 5
November 2015 mulai pukul 12.30-14.30. Bertempat di Laboratorium Akuakultur
Fakultas Perikanan Dan Ilmu Kelautan Universitas Padjajaran.

3.2. Alat dan Bahan


3.2.1. Alat yang digunakan
No Nama Alat Fungsi
1 Eckman Grab Untuk mengambil sedimen
2 Pinset Untuk mengambil bentos yang berukuran kecil
3 Wadah Untuk meletakkan bentos yang bersih

4 Saringan Untuk membersihkan bentos dari lumpur


5 Timbangan Untuk menimbang bentos

3.2.2. Bahan yang Digunakan


Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah lumpur hasil sampling.

15
16

3.3. Prosedur Kerja

3.4. Analisis Data


3.4.1. Perhitungan Enumerasi Benthos
Analisis perhitungan enumerasi benthos dilakukan dengan cara:
1. Menghitung jumlah dalam 1 spesies
2. Menghitung indeks diversitas dengan menggunakan rumus:

H’ = -∑Pi x Ln Pi

3.4.2. Perhitungan Biomassa Benthos


Analisis perhitungan biomassa benthos dengan cara menghitung berat dari
masing-masing spesies. Jadi jumlah dalam 1 spesies dihitung biomassa
seluruhnya.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil
Tabel 1. Hasil Identifikasi Bentos yang Ditemukan Data Hasil
Enumerasi Benthos
No Spesies Jumlah Rataan Total Pi Ln pi
biomass biomass
1 Mytilus Sp 2 28,77 57,54 0,143 -1,946
2 Pomatiopsis 3 2,52 7,56 0,214 -1,540
lapidaria
3 Pleurocera 3 1,74 5,22 0,214 -1,540
acuta
4 Amnicola 2 0,48 0,96 0,143 -1,946
limosa
5 Viviparus 1 0,07 0,07 0,071 -2,639
subpurpureus
6 Lioplax 1 0,07 0,07 0,071 -2,639
subcarinata
7 Goniobasis 1 0,26 0,26 0,071 -2,639

8 Sp.
Hydrobia 1 0,03 0,03 0,071 -2,639
nickliniana

Perhitungan Indeks Diversitas Shannon – Wiener


H’= -∑ Pi Ln Pi
Mytilus Sp = - 1 x -0,143 = 0,143
Pomatiopsis lapidaria = -1 x -0,214 = 0,214
Pleurocera acuta = -1 x -0,214 = 0,214
Amnicola limosa = -1 x -0,143 = 0,143
Viviparus subpurpureus = -1 x -0,071 = 0,071
Lioplax subcarinata = -1 x -0,071 = 0,071
Goniobasis Sp. = -1 x -0,071 = 0,071
Hydrobia nickliniana = -1 x -0,071 = 0,071

17
18

Kelimpahan

K = 14 / 0.04
K = 350 individu/ m 2
Perhitungan Indeks Dominasi Simpson
D = 1- ∑(Pi)2
= 1- (2/14)2 + (3/14)2 + (3/14)2 + (2/14)2 + (1/14)2 +(1/14)2 +
(1+14) 2 + (1/14)2
= 1- (0.15306122)
= 0,84693878

4.1.1. Data Hasil Biomassa Benthos


Biomassa total = berat ( Lymnaea megasoma+ Viviparus subpurpureus+
Pleurocera sp+ Goniobasis livescense+ Mytilus sp+ Amnicola limosa)

= 57,54 + 7,56 + 5,22 + 0,96 + 0,07 + 0,07 + 0,26 +0,03


= 71,71 gr
Tabel 2. Data Kelimpahan benthos kelas B
Kelompok total kelimpahan total biomassa
1 275 48,28
2 350 71,71
3 575 110,72
4 225 18,86
5 175 52,43
6 100 71,37
7 125 50,36
9 150 15,63
10 100 85,81
12 75 15,96
14 175 23,48
16 150 12,66
19

17 125 18,89
19 200 13,72
20 125 8,78

4.2. Pembahasan
4.2.1. Hasil Enumerasi Benthos
Berdasarkan pengamatan mengenai makrozoobentos yang dilakukan
kelompok 2 mendapatkan 8 spesies tergolong dalam phylum mollusca dan
tergolong kedalam 2 kelas yaitu gastropoda dan bivalvia. 8 spesies tersebut antara
lain Mytilus Sp, Pomatiopsis lapidaria, Pleurocera acuta , Amnicola limosa,
Viviparus subpurpureus, Lioplax subcarinata, Goniobasis Sp. , Hydrobia
nickliniana. Darmono (2001) menyatakan bahwa Dari semua hewan makrozoo-
bentos, maka bivalvia dan gastropoda baik yang hidup di air tawar maupun di air
laut yang paling banyak digunakan sebagai indikator pencemaran logam, karena
habitat hidupnya yang menetap.

Perhitungan Indeks Diversitas Shannon – Wiener kelompok 2 yaitu Mytilus


Sp 0,143, Pomatiopsis lapidaria 0,214, Pleurocera acuta 0,214 , Amnicola limosa
0,143, Viviparus subpurpureus 0,071, Lioplax subcarinata 0,071, Goniobasis Sp.
0,071, Hydrobia nickliniana 0,071. Menurut Sastrawijaya (2000) dalam Sinaga
(2009) klasifikasi derajat pencemaran berdasarkan Indeks Diversitas Shanon-
Wiener (H`), yaitu: jika H` > 2,0 (tidak tercemar), 1,0 ≤ H` ≤ 1,6 (tercemar
sedang) dan H` < 1,0 (tercemar berat). Dari data diatas mendapatkan hasil bahwa
perairan yang diambil sampelnya pada praktikum ini belum tercemar oleh bahan
pestisida berbahaya. Apabila nilai H < 1 itu artinya kenanekaragamannya rendah,
namun apabila H < 3 maka artinya keanekaragamannya sedang dan apbila H > 3
maka artinya menunjukkan keanekaragam di suatu perairan tersebut tinggi.
Berdasarkan hasil pengamatan yang kelompok 1 lakukan tidak terdapat jenis
spesies yang keanekaragamannya tinggi tetapi semua spesies menunjukkan bahwa
keanekaragamannya sedang. Hal tersebut dapat disebabkan faktor-faktor seperti
parameter fisik (suhu) dapat menjadi faktor penentu atau pengendali kehidupan
flora dan fauna akuatik. Pengukuran DO menurut Odum (1993) dipengaruhi oleh
20

faktor fisika, kimia, dan biologi, besarnya oksigen terlarut dalam air umumnya
tidak melebihi dari 10 ppm. Menurut Ferianita et al (2005) indeks keseragaman
rendah yang mendekati (nol) berarti keseragaman antar spesies rendah dan
kekayaan individu yang dimiliki masing-masing spesies sangat jauh berbeda. Pada
kelompok kami, total kelimpahan bentos yaitu 275 dengan total biomassa 48,28.
Nybakken (1992) menyatakan bahwa faktor pembatas yang
mempengaruhi kelimpahan benthos ialah arus, pH, oksigen terlarut, suhu dan
salinitas. Tingginya kelimpahan makrozoobenthos juga diakibatkan oleh tingginya
bahan organik yang dapat mempengaruhi organisme dasar. Menurut Wood (1987)
menyatakan bahwa bahan organik yang mengendap di dasar perairan merupakan
sumber makanan bagi organisme bentik, sehingga jumlah dan laju
pertambahannya dalam sedimen mempunyai pengaruh yang besar terhadap
populasi organisme dasar. Allard dan Moreau dalam APHA (1992) menyatakan
bahwa kelimpahan hewan benthos pada suatu perairan sangat dipengaruhi oleh
berbagai faktor lingkungan baik biotik maupun abiotik

Jika dilihat dari data kelas B total kelimpahan bentos tertinggi itu terdapat
pada kelompok 3 yaitu dengan kelimpahan sebesar 575 dengan total biomassa
110,72. Sedangkan kelimpahan terendah yaitu terdapat pada kelompok 12 yaitu
75 dengan total biomassa sebesar 15,96. Banyak faktor mengapa setiap kelompok
berbeda jumlahnya. Faktor dari pada saat praktikum mungkin kelompok yang
mendapatkan kelimpahan bentos terendah kurang bersih dalam membersihkan
lumpur dan menemukan bentos dengan jumlah yang sedikit dan juga sampel
setiap kelompok tidak berada dalam 1 titik atau berbeda titik tetapi tetap dalam 1
area.

4.2.2. Hasil Biomassa Benthos


Biomassa dari 8 spesies yang ditemukan berbeda beda, biomassa terbesar
terdapat pada spesis Mytilus sp dengan berat 57,54 gr dan yang terkecil yaitu
Hydrobia nickliniana dengan berat 0,03 gr. Menurut Nina (2012) biomassa
makrozoobenthos yang terdapat dalam lingkungan perairan dapat mencerminkan
struktur komunitas lingkungan perairan tersebut. Perbedaan biomassa
21

makrozoobenthos ini dipengaruhi oleh ukuran dari organisme tertentu, kepadatan


dan beragam jenis makrozoobenthos yang ditemukan. Jika dilihat dari data kelas
biomassa rata-rata terbesar terdapat pada kelompok 3 yaitu sebesar 110,72
sedangkan yang terkecil terdapat pada kelompok 20 yaitu sebesar 8,78.
Peningkatan produksi suatu lingkungan umumnya akan meningkatkan
ketersediaan makanan. Hal ini akan berdampak pada biomassa yang juga akan
semakin meningkat. Pengukuran biomassa benthos merupakan salah satu cara
untuk menduga besaran produktivitas sekunder perairan oleh benthos tersebut.
BAB V
SIMPULAN DAN SARAN

5.1. Simpulan
Dari hasil identifikasi, terdapat 8 spesies dengan 1 phylum Mollusca dan 2
kelas yaitu Gastropodan dan Bivalvia. Adapun nama spesies yang ditemukan
yaitu Mytilus Sp, Pomatiopsis lapidaria, Pleurocera acuta , Amnicola limosa,
Viviparus subpurpureus, Lioplax subcarinata, Goniobasis Sp. , Hydrobia
nickliniana. Hasil pengamatan yang kelompok 2 lakukan tidak terdapat jenis
spesies yang keanekaragamannya tinggi tetapi semua spesies menunjukkan bahwa
keanekaragamannya sedang. Dari hasil perhitungan total kelimpahan bentos yaitu
350 dengan total biomassa 71,71. Biomassa terbesar yaitu Mytilus sp sebesar
57,54 gr. Indeks Dominasi Simpson sebesar 0,7975 menunjukkan adanya
dominasi dari jenis spesies yang ditemukan.

5.2. Saran
Keseriusan dan ketelitian pada saat praktikum sangat penting karena itu
faktor agar dalam praktikum mendapatkan hasil yang maksimal. Selain keseriusan
dan ketelitian dibutuhkan juga Dalam pemahaman yang benar agar dalam
pelaksanaannya bisa berjalan dengan baik.

22
DAFTAR PUSTAKA

Andriana W. 2008. Keterkaitan Struktur Komunitas Makrozoobenthos Sebagai


Indikator Keberadaan Bahan Organik Di Perairan Hulu Sungai
Cisadane Bogor, Jawa Barat. Skripsi. Departemen Manajemen
Sumberdaya Perairan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Institut
Pertanian Bogor. Bogor. Diakses pada tanggal 18 Desember 2015,
pukul 09.00 WIB.

APHA. 1992. Standart Methods for the Examination of Water and Waste Water.
18th edition. Washington.

Barus, T. A. 2004. Pengantar Limnologi Studi Tentang Ekosistem Air


Daratan.USU Press. Medan. Diakses pada tanggal 18 Desember 2015,
pukul 10.00 WIB.

Boyd, C.E. 1988. Water quality in warmwater fish ponds. Fourth Printing .
Auburn University Agricultural Experiment Station, Albama, USA. 359
p.

Darmono, 2001. Logam Dalam Sistem Biologi Makhluk Hidup. Jakarta: UI Press.

Cummins,Ecology.
K.W. 1975. Macroinvertebrates
Blackwell In Whitton, B.A (Ed). River
. Hal. 170.Oxford.
Scientific Publication.

Eaton, A. D., L. S. Clesceri, and A. E. Greenberg. 1976. Standard Methods for


The Examination of Water and Wastewater. 4th edition.Washington
DC. USA: APHA, AWWA, dan WET

Wilhm, J. L. 1975. Biological indicator of pullution. Hal. 374-402. In Whitton, B.


A (Ed). River Ecology. Blackwell Scientific Publication. Oxford

Zahidah. 2013. Petunjuk Praktikum Produktivitas Perairan. Universitas


Padjadjaran.

23
LAMPIRAN
24

Lampiran 1. Dokumentasi Praktikum

Pleurocera aculta Gonlobasis sp.

Amnicola limosa Viviparus subpurpureus

Mytilus sp.
25

Lampiran 2. Data Kelas

kelompok genus / spesies jumlah rataan biomass total biomass pi ln pi H D


1 Lymnaea megasoma 3 0,69 2,07 0,273 -1,299 1,299
Viviparus subpurpureus 1 5,25 5,25 0,091 -2,398 2,398

Pleurocera sp. 3 0,54 1,62 0,273 -1,299 1,299 0,793


Goniobasis livescence 2 0,22 0,44 0,182 -1,705 1,705
Mytilus sp. 1 38,82 38,82 0,091 -2,398 2,398
Amnicola limosa 1 0,08 0,08 0,091 -2,398 2,398
∑ 11 45,6 48,28 1 -11,497
2 Mytilus Sp 2 28,77 57,54 0,143 -1,946 1,946
Pomatiopsis lapidaria 3 2,52 7,56 0,214 -1,540 1,540
Pleurocera acuta 3 1,74 5,22 0,214 -1,540 1,540
Amnicola limosa 2 0,48 0,96 0,143 -1,946 1,946
0,847
Viviparus subpurpureus 1 0,07 0,07 0,071 -2,639 2,639
Lioplax subcarinata 1 0,07 0,07 0,071 -2,639 2,639
Goniobasis Sp. 1 0,26 0,26 0,071 -2,639 2,639
Hydrobia nickliniana 1 0,03 0,03 0,071 -2,639 2,639
∑ 14 33,94 71,71 1 -17,5289
3 Mytilus sp. 2 23,42 46,84 0,087 -2,442 2,442
Goniobasis sp. 5 1,77 8,85 0,217 -1,526 1,526
Pleurocera sp. 12 4,02 48,24 0,522 -0,651 0,651 0,654
Bithynia sp. 1 4,09 4,09 0,043 -3,135 3,135
Pyrgulopsis letsoni 3 0,9 2,7 0,130 -2,037 2,037
∑ 23 34,2 110,72 1 -9,79137
4 Mytilus Sp 1 10,08 10,08 0,111 -2,197 2,197
Gonobasis Inescens 4 1,01 4,02 0,444 -0,811 0,811
0,667
Viviporus Subpurpurreus 1 3,21 3,21 0,111 -2,197 2,197
Lymnaeidae buliminae 3 0,52 1,55 0,333 -1,099 1,099
∑ 9 14,812 18,86 1 -6,30399
5 Mythilus 2 25,1 50,2 0,286 -1,253 1,253
Pleurocera acuta 1 0,41 0,41 0,143 -1,946 1,946
Pleurocera 1 0,39 0,39 0,143 -1,946 1,946 0,776
Gillia altilis 1 0,27 0,27 0,143 -1,946 1,946
Turris 2 0,58 1,16 0,286 -1,253 1,253
∑ 7 26,75 52,43 1 -8,34326
6 Eliptio sp 1 11,4 11,4 0,250 -1,386 1,386
0,375
Lyogyrus browni 3 19,99 59,97 0,750 -0,288 0,288
∑ 4 31,39 71,37 1 -1,67398
7 Viviparus sp. 4 3,14 12,56 0,800 -0,223 0,223
0,320
Margaritifera sp. 1 37,8 37,8 0,200 -1,609 1,609
26

∑ 5 40,94 50,36 1 -1,83258


9 filopaludina Javanica 3 2,23 6,69 0,500 -0,693 0,693
Elliptio 1 7,99 7,99 0,167 -1,792 1,792
0,667
Pleurocera 1 0,84 0,84 0,167 -1,792 1,792
Goniobacis 1 0,11 0,11 0,167 -1,792 1,792
∑ 6 11,17 15,63 1 -6,06843

10 Pilsbryoconcha Exilis 1 47,92 47,92 0,250 -1,386 1,386 0,375


Bellamiya javanica 3 12,63 37,89 0,750 -0,288 0,288
∑ 4 60,55 85,81 1 -1,67398
12 Mytilus Sp 1 12,08 12,08 0,333 -1,099 1,099
0,444
Pila ampullacea 2 1,94 3,88 0,667 -0,405 0,405
∑ 3 14,02 15,96 1 -1,50408
14 mytirus sp 2 7,705 15,41 0,286 -1,253 1,253
bellamiya javanica 3 2,31 6,93 0,429 -0,847 0,847 0,653
pleurocera sp 2 0,57 1,14 0,286 -1,253 1,253
∑ 7 10,585 23,48 1 -3,35282
16 Mytilus sp 1 10,65 10,65 0,167 -1,792 1,792
Tryona clathrata 2 0,76 1,52 0,333 -1,099 1,099
0,722
Tubifex sp 1 0,01 0,01 0,167 -1,792 1,792
Pleucocera sp 2 0,24 0,48 0,333 -1,099 1,099

∑ 6 11,66 12,66 1 -5,78074


Anodontiodes
17 ferussacianus 1 13,28 13,28 0,200 -1,609 1,609
0,560
Tryoma clathrata 3 1,7 5,1 0,600 -0,511 0,511
Pomatiopsis lapielana 1 0,51 0,51 0,200 -1,609 1,609
∑ 5 15,49 18,89 1 -3,7297
19 Mytilus sp 1 11,89 11,89 0,125 -2,079 2,079
Goniobasis 2 0,435 0,87 0,250 -1,386 1,386
0,656
Lioplax 1 0,52 0,52 0,125 -2,079 2,079
Pleucocera sp 4 0,11 0,44 0,500 -0,693 0,693
∑ 8 12,955 13,72 1 -6,23832
20 Mytilus sp 1 7,61 7,61 0,200 -1,609 1,609
Triyonia sp 1 0,61 0,61 0,200 -1,609 1,609
Hydrobia nickliniana 1 0,25 0,25 0,200 -1,609 1,609 0,800
Pleurocera sp 1 0,19 0,19 0,200 -1,609 1,609
Pleurocera acuta 1 0,12 0,12 0,200 -1,609 1,609
∑ 5 8,78 8,78 1 -8,04719