Anda di halaman 1dari 30

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Cedera kepala adalah suatu gangguan traumatik dari fungsi otak yang
disertai atau tanpa disertai perdarahan interstitial dalam substansi otak tanpa
diikuti terputusnya kontinuitas otak. (Muttaqin, 2008), cedera kepala biasanya
diakibatkan salah satunya benturan atau kecelakaan. Sedangkan akibat dari
terjadinya cedera kepala yang paling fatal adalah kematian.
Akibat trauma kepala pasien dan keluarga mengalami perubahan fisik
maupun psikologis, asuhan keperawatan pada penderita cedera kepala
memegang peranan penting terutama dalam pencegahan komplikasi.
Komplikasi dari cedera kepala adalah infeksi, perdarahan. Cedera kepala
berperan pada hampir separuh dari seluruh kematian akibat trauma-trauma.
Cedera kepala merupakan keadaan yang serius. Oleh karena itu, diharapkan
dengan penanganan yang cepat dan akurat dapat menekan morbiditas dan
mortilitas penanganan yang tidak optimal dan terlambatnya rujukan dapat
menyebabkan keadaan penderita semakin memburuk dan berkurangnya
pemilihan fungsi (Tarwoto, 2007).
Sedangkan berdasarkan Mansjoer (2002), kualifikasi cedera kepala
berdasarkan berat ringannya, dibagi menjadi 3 yakni cedera kepala ringan,
cedera kepala sedang dan cedera kepala berat. Adapun penilaian klinis untuk
menentukkan klasifikasi klinis dan tingkat kesadaran pada pasien cedera kepala
menggunakan metode skala koma Glasgow (Glasgow Coma Scale)
(Wahjoepramono, 2005).
Cedera kepala akibat trauma sering kita jumpai di lapangan. Di dunia
kejadian cedera kepala setiap tahunnya diperkirakan mencapai 500.000 kasus
dari jumlah di atas 10% penderita meninggal sebelum tiba di rumah sakit dan
lebih dari 100.000 penderita menderita berbagai tingkat kecacatan akibat cedera
kepala tersebut (Depkes, 2012).

1
Diperkirakan 100.000 orang meninggal setiap tahunnya akibat cedera
kepala, dan lebih dari 700.000 mengalami cedera cukup berat yang memerlukan
perawatan di rumah sakit. Dua per tiga dari kasus ini berusia di bawah 30 tahun
dengan jumlah laki-laki lebih banyak dari wanita. Lebih dari setengah dari
semua pasien cedera kepala berat mempunyai signifikasi terhadap cedera
bagian tubuh lainnya
B. Rumusan Masalah
1. Apa definisi dari cedera otak?
2. Apa saja klasifikasi dari cedera otak?
3. Apa saja penyebab dari cedera otak?
4. Apa saja tanda dan gejala dari cedera otak?
5. Bagaimana perjalanan penyakit dari cedera otak?
6. Bagaimana pemeriksaan diagnostik dari cedera otak?
7. Apa saja pentalaksanaan dari cedera otak?
8. Apa saja komplikasi dari cedera otak?
9. Bagaimana asuhan keperawatan untuk pasien dengan cedera otak?
C. Tujuan
Agar mahasiswa dapat mengetahui :
1. Definisi dari cedera otak.
2. Klasifikasi dari cedera otak.
3. Penyebab dari cedera otak.
4. Tanda dan gejala dari cedera otak.
5. Perjalanan penyakit dari cedera otak.
6. Pemeriksaan diagnostik dari cedera otak.
7. Pentalaksanaan dari cedera otak.
8. Komplikasi dari cedera otak.
9. Asuhan keperawatan untuk pasien dengan cedera otak.

2
BAB II

PEMBAHASAN

A. Definisi
Cidera kepala yaitu adanya deformasi berupa penyimpangan bentuk atau
penyimpangan garis pada tulang tengkorak, percepatan (accelerasi) dan
perlambatan (decelerasi) yang merupakan perubahan bentuk dipengaruhi oleh
perubahan peningkatan pada percepatan faktor dan penurunan kecepatan, serta
rotasi yaitu pergerakan pada kepala dirasakan juga oleh otak sebagai akibat
perputaran pada tindakan pencegahan (Doenges, 1989). Kasan (2000)
mengatakan cidera kepala adalah suatu gangguan traumatik dari fungsi otak
yang disertai atau tanpa disertai perdarahan interstiil dalam substansi otak tanpa
diikuti terputusnya kontinuitas otak.
Cedera kepala menurut Suriadi & Rita (2001) adalah suatu trauma yang
mengenai daerah kulit kepala, tulang tengkorak atau otak yang terjadi akibat
injury baik secara langsung maupun tidak langsung pada kepala. Sedangkan
menurut Satya (1998), cedera kepala adalah keadaan dimana struktur lapisan
otak dari lapisan kulit kepala tulang tengkorak, durameter, pembuluh darah serta
otaknya mengalami cidera baik yang trauma tumpul maupun trauma tembus.
B. Klasifikasi
Cedera kepala dapat dilasifikasikan sebagai berikut :
1. Berdasarkan Mekanisme
a. Trauma Tumpul
Trauma tumpul adalah trauma yang terjadi akibat kecelakaan
kendaraan bermotor, kecelakaan saat olahraga, kecelakaan saat
bekerja, jatuh, maupun cedera akibat kekerasaan (pukulan).
b. Trauma Tembus
Trauma yang terjadi karena tembakan maupun tusukan benda-benda
tajam/runcing.

3
2. Berdasarkan Beratnya Cidera
Cedera kepala berdasarkan beratnya cedera didasarkan pada penilaian
Glasgow Scala Coma (GCS) dibagi menjadi 3, yaitu :
a. Cedera kepala ringan
1) GCS 13 – 15
2) Dapat terjadi kehilangan kesadaran atau amnesia tetapi kurang
dari 30 menit.
3) Tidak ada fraktur tengkorak, kontusio serebral dan hematoma
b. Cedera kepala sedang
1) GCS 9 – 12
2) Saturasi oksigen > 90 %
3) Tekanan darah systole > 100 mmHg
4) Lama kejadian < 8 jam
5) Kehilangan kesedaran dan atau amnesia > 30 menit tetapi < 24
jam
6) Dapat mengalami fraktur tengkorak
c. Cedera kepala berat
1) GCS 3 – 8
2) Kehilangan kesadaran dan atau amnesia >24 jam
3) Meliputi hematoma serebral, kontusio serebral
Pada penderita yang tidak dapat dilakukan pemeriksaan misal oleh karena
aphasia, maka reaksi verbal diberi tanda “X”, atau oleh karena kedua mata
edema berat sehingga tidak dapat di nilai reaksi membuka matanya maka
reaksi membuka mata diberi nilai “X”, sedangkan jika penderita dilakukan
traheostomy ataupun dilakukan intubasi maka reaksi verbal diberi nilai
“T”.
3. Berdasarkan Morfologi
a. Cedera kulit kepala
Cedera yang hanya mengenai kulit kepala. Cedera kulit kepala dapat
menjadi pintu masuk infeksi intrakranial.

4
b. Fraktur Tengkorak
Fraktur yang terjadi pada tulang tengkorak. Fraktur basis cranii
secara anatomis ada perbedaan struktur didaerah basis cranii dan
kalvaria yang meliputi pada basis caranii tulangnya lebih tipis
dibandingkan daerah kalvaria, durameter daerah basis lebih tipis
dibandingkan daerah kalvaria, durameter daerah basis lebih melekat
erat pada tulang dibandingkan daerah kalvaria. Sehingga bila terjadi
fraktur daerah basis mengakibatkan robekan durameter klinis ditandai
dengan bloody otorrhea, bloody rhinorrhea, liquorrhea, brill
hematom, batle’s sign, lesi nervus cranialis yang paling sering n i, nvii
dan nviii (Kasan, 2000).
Sedangkan penanganan dari fraktur basis cranii meliputi :
1) Cegah peningkatan tekanan intrakranial yang mendadak, misal
cegah batuk, mengejan, makanan yang tidak menyebabkan
sembelit.
2) Jaga kebersihan sekitar lubang hidung dan lubang telinga, jika
perlu dilakukan tampon steril (consul ahli tht) pada bloody
otorrhea/otoliquorrhea.
3) Pada penderita dengan tanda-tanda bloody otorrhea/otoliquorrhea
penderita tidur dengan posisi terlentang dan kepala miring
keposisi yang sehat (Kasan : 2000).
c. Cedera Otak
1) Commotio Cerebri (Gegar Otak)
Commotio Cerebri (Gegar Otak) adalah cidera otak ringan
karena terkenanya benda tumpul berat ke kepala dimana terjadi
pingsan < 10 menit. Dapat terjadi gangguan yang timbul dengan
tiba-tiba dan cepat berupa sakit kepala, mual, muntah, dan pusing.
Pada waktu sadar kembali, pada umumnya kejadian cidera tidak
diingat (amnezia antegrad), tetapi biasanya korban/pasien tidak
diingatnya pula sebelum dan sesudah cidera (amnezia retrograd
dan antegrad).

5
Menurut dokter ahli spesialis penyakit syaraf dan dokter ahli
bedah syaraf, gegar otak terjadi jika coma berlangsung tidak lebih
dari 1 jam. Kalau lebih dari 1 jam, dapat diperkirakan lebih berat
dan mungkin terjadi komplikasi kerusakan jaringan otak yang
berkepanjangan.
2) Contusio Cerebri (Memar Otak)
Merupakan perdarahan kecil jaringan akibat pecahnya
pembuluh darah kapiler. Hal ini terjadi bersama-sama dengan
rusaknya jaringan saraf/otak di daerah sekitarnya. Di antara yang
paling sering terjadi adalah kelumpuhan N. Facialis atau N.
Hypoglossus, gangguan bicara, yang tergantung pada lokalisasi
kejadian cidera kepala.
Contusio pada kepala adalah bentuk paling berat, disertai
dengan gegar otak encephalon dengan timbulnya tanda-tanda
koma, sindrom gegar otak pusat encephalon dengan tanda-tanda
gangguan pernapasan, gangguan sirkulasi paru - jantung yang
mulai dengan bradikardia, kemudian takikardia, meningginya
suhu badan, muka merah, keringat profus, serta kekejangan
tengkuk yang tidak dapat dikendalikan (decebracio rigiditas).
3) Perdarahan Intrakranial
a) Epiduralis haematoma
Adalah terjadinya perdarahan antara tengkorak dan
durameter akibat robeknya arteri meningen media atau
cabang-cabangnya. Epiduralis haematoma dapat juga terjadi
di tempat lain, seperti pada frontal, parietal, occipital dan
fossa posterior.
b) Subduralis haematoma
Subduralis haematoma adalah kejadian haematoma di antara
durameter dan corteks, dimana pembuluh darah kecil vena
pecah atau terjadi perdarahan. Kejadiannya keras dan cepat,
karena tekanan jaringan otak ke arteri meninggia sehingga

6
darah cepat tertuangkan dan memenuhi rongga antara
durameter dan corteks. Kejadian dengan cepat memberi
tanda-tanda meningginya tekanan dalam jaringan otak (TIK
= Tekanan Intra Kranial).
c) Subrachnoidalis Haematoma
Kejadiannya karena perdarahan pada pembuluh darah otak,
yaitu perdarahan pada permukaan dalam duramater. Bentuk
paling sering dan berarti pada praktik sehari-hari adalah
perdarahan pada permukaan dasar jaringan otak, karena
bawaan lahir aneurysna (pelebaran pembuluh darah). Ini
sering menyebabkan pecahnya pembuluh darah otak.
d) Intracerebralis Haematoma
Terjadi karena pukulan benda tumpul di daerah korteks dan
subkorteks yang mengakibatkan pecahnya vena yang besar
atau arteri pada jaringan otak. Paling sering terjadi dalam
subkorteks. Selaput otak menjadi pecah juga karena tekanan
pada durameter bagian bawah melebar sehingga terjadilah
subduralis haematoma.
4. Berdasarkan Patofisiologi
a. Cedera kepala primer
Akibat langsung pada mekanisme dinamik (acelerasi-decelerasi
rotasi) yang menyebabkan gangguan pada jaringan. Pada cedera
primer dapat terjadi gegar kepala ringan, memar otak dan laserasi.
b. Cedera kepala sekunder
Pada cedera kepala sekunder akan timbul gejala, seperti hipotensi
sistemik, hipoksia, hiperkapnea, edema otak, komplikasi pernapasan,
dan infeksi / komplikasi pada organ tubuh yang lain

7
C. Etiologi
1. Menurut Hudak dan Gallo (1996 : 108) mendiskripsikan bahwa penyebab
cedera kepala adalah karena adanya trauma yang dibedakan menjadi 2
faktor yaitu :
a. Trauma Primer
Terjadi karena benturan langsung atau tidak langsung (akselerasi dan
deselerasi)
b. Trauma Sekunder
Terjadi akibat dari trauma saraf (melalui akson) yang meluas,
hipertensi intrakranial, hipoksia, hiperkapnea, atau hipotensi sistemik.
2. Trauma akibat persalinan
3. Kecelakaan, kendaraan bermotor atau sepeda, dan mobil, kecelakaan pada
saat olahraga.
4. Jatuh
5. Cedera akibat kekerasan
D. Manifestasi Klinis
1. Peningkatan TIK, dengan manifestasi sebagai berikut :
a Trias TIK : penurunan tingkat kesadaran, gelisah/irritable, papil edema,
muntah proyektil.
b Penurunan fungsi neurologis, seperti : perubahan bicara, perubahan
reaksi pupil, sensori motorik berubah.
c Sakit kepala, mual, pandangan kabur (diplopia).
2. Fraktur tengkorak, dengan manifestasi sebagai berikut :
a CSF atau darah mengalir dari telinga dan hidung.
b Perdarahan dibelakang membrane timpani.
c Periorbital ekhimosis.
d Battle’s sign (memar di daerah mastoid).
3. Kerusakan saraf cranial dan telinga tengah dapat terjadi saat kecelakaan
terjadi atau kemudia dengan manifestasi sebagai berikut :
a Perubahan penglihatan akibat kerusakan nervus optikus.
b Pendengaran berkurang akibat kerusakan nervus auditory.

8
c Hilangnya daya penciuman akibat kerusakan nervus olfaktoriuos.
d Pupil dilatasi, ketidakmampuan mata bergerak akibat kerusakan nervus
okulomotor.
e Vertigo akibat kerusakan otolith di telinga tengah.
f Nistagmus karena kerusakan system vestibular.
4. Komosio serebri, dengan manifestasi sebagai berikut :
a Sakit kepala-pusing.
b Retrograde amnesia.
c Tidak sadar lebih dari atau sama dengan 5 menit.
5. Kontusio serebri, dengan manifestasi sebagai berikut : terjadi pada injuri
berat, termasuk fraktur servikalis :
a Peningkatan TIK
b Tanda dan gejala herniasi otak.
1) Kontusio serebri
Manifestasi tergantung area hemisfer otak yang kena. Kontusio
pada lobus temporal : agitasi, confuse, kontusio frontal :
hemiparese, klien sadar; kontusio frontotemporal : aphasia.
Tanda dan gejala tersebut reversible.
2) Kontusio Batang otak
- Respon segera menghilang dan pasien koma.
- Penurunan kesadaran terjadi berhari-hari, bila kerusakan berat.
- Pada system reticular terjadi comatose permanen.
- Pada perubahan tingkat kesadaran :
a) Respirasi : dapat normal/periodic/cepat.
b) Pupil : simentris konstriksi dan reaktif.
c) Kerusakan pada batang otak bagian atas pupis abnormal.
d) Gerakan bola mata : tidak ada.
E. Patofisiologi
Otak dapat berfungsi dengan baik bila kebutuhan oksigen dan glukosa dapat
terpenuhi. Energi yang dihasilkan di dalam sel-sel saraf hampir seluruhnya
melalui proses oksidasi. Otak tidak mempunyai cadangan oksigen, jadi

9
kekurangan aliran darah ke otak walaupun sebentar akan menyebabkan
gangguan fungsi. Demikian pula dengan kebutuhan oksigen sebagai bahan bakar
metabolisme otak tidak boleh kurang dari 20 mg %, karena akan menimbulkan
koma. Kebutuhan glukosa sebanyak 25 % dari seluruh kebutuhan glukosa tubuh,
sehingga bila kadar glukosa plasma turun sampai 70 % akan terjadi gejala-gejala
permulaan disfungsi cerebral.
Pada saat otak mengalami hipoksia, tubuh berusaha memenuhi kebutuhan
oksigen melalui proses metabolik anaerob yang dapat menyebabkan dilatasi
pembuluh darah. Pada kontusio berat, hipoksia atau kerusakan otak akan terjadi
penimbunan asam laktat akibat metabolisme anaerob. Hal ini akan menyebabkan
asidosis metabolik. Dalam keadaan normal cerebral blood flow (CBF) adalah 50
- 60 ml/menit/100 gr. jaringan otak, yang merupakan 15 % dari cardiac output
dan akibat adanya perdarahan otak akan mempengaruhi tekanan vaskuler,
dimana penurunan tekanan vaskuler menyebabkan pembuluh darah arteriol akan
berkontraksi
Menurut Long (1996) trauma kepala terjadi karena cidera kepala, kulit
kepala, tulang kepala, jaringan otak. Trauma langsung bila kepala langsung
terluka. Semua itu berakibat terjadinya akselerasi, deselerasi dan pembentukan
rongga. Trauma langsung juga menyebabkan rotasi tengkorak dan isinya,
kekuatan itu bisa seketika/menyusul rusaknya otak dan kompresi,
goresan/tekanan. Cidera akselerasi terjadi bila kepala kena benturan dari obyek
yang bergerak dan menimbulkan gerakan. Akibat dari akselerasi,
kikisan/konstusio pada lobus oksipital dan frontal batang otak dan cerebellum
dapat terjadi. Sedangkan cidera deselerasi terjadi bila kepala membentur bahan
padat yang tidak bergerak dengan deselerasi yang cepat dari tulang tengkorak.
Pengaruh umum cidera kepala dari tengkorak ringan sampai tingkat berat
ialah edema otak, deficit sensorik dan motorik. Peningkatan TIK terjadi dalam
rongga tengkorak (TIK normal 4-15 mmHg). Kerusakan selanjutnya timbul
masa lesi, pergeseran otot.
Cedera primer, yang terjadi pada waktu benturan, mungkin karena memar
pada permukaan otak, laserasi substansi alba, cedera robekan atau hemoragi.

10
Sebagai akibat, cedera sekunder dapat terjadi sebagai kemampuan autoregulasi
serebral dikurangi atau tak ada pada area cedera. Konsekuensinya meliputi
hiperemi (peningkatan volume darah) pada area peningkatan permeabilitas
kapiler, serta vasodilatasi arterial, semua menimbulkan peningkatan isi
intrakranial, dan akhirnya peningkatan tekanan intrakranial (TIK). Beberapa
kondisi yang dapat menyebabkan cedera otak sekunder meliputi hipoksia,
hiperkarbia, dan hipotensi.
Genneralli dan kawan-kawan memperkenalkan cedera kepala “fokal” dan
“menyebar” sebagai kategori cedera kepala berat pada upaya untuk
menggambarkan hasil yang lebih khusus. Cedera fokal diakibatkan dari
kerusakan fokal yang meliputi kontusio serebral dan hematom intraserebral,
serta kerusakan otak sekunder yang disebabkan oleh perluasan massa lesi,
pergeseran otak atau hernia. Cedera otak menyebar dikaitkan dengan kerusakan
yang menyebar secara luas dan terjadi dalam empat bentuk yaitu: cedera akson
menyebar, kerusakan otak hipoksia, pembengkakan otak menyebar, hemoragi
kecil multipel pada seluruh otak. Jenis cedera ini menyebabkan koma bukan
karena kompresi pada batang otak tetapi karena cedera menyebar pada hemisfer
serebral, batang otak, atau dua-duanya.
Sedangkan patofisiologi menurut Markum (1999). trauma pada kepala
menyebabkan tengkorak beserta isinya bergetar, kerusakan yang terjadi
tergantung pada besarnya getaran makin besar getaran makin besar kerusakan
yang timbul, getaran dari benturan akan diteruskan menuju Galia aponeurotika
sehingga banyak energi yang diserap oleh perlindungan otak, hal itu
menyebabkan pembuluh darah robek sehingga akan menyebabkan haematoma
epidural, subdural, maupun intracranial, perdarahan tersebut juga akan
mempengaruhi pada sirkulasi darah ke otak menurun sehingga suplay oksigen
berkurang dan terjadi hipoksia jaringan akan menyebabkan odema cerebral.

11
Trauma Primer Trauma Sekunder

CEDERA KEPALA /
CEDERA OTAK

Metabolisme
otak meningkat

Kebutuhan Oksigen
(O2) meningkat

Hipoksia Ketidakefektifan Aliran darah ke


Pola Nafas otak terganggu

Metabolisme
anaerob Tidak
Peningkatan TIK
terkompensasi

Dilatasi
Gangguan fungsi
pembuluh darah Nyeri kepala
otak

Penimbunan Nyeri Akut


asam laktat Disfungsi
serebral

Ketidakefektifan
Asidosis
Perfusi Jaringan Penurunan
metabolk
Serebral kesadaran

Gangguan
metabolisme Penumpukan Masuk ke saluran Penumpukan
tubuh cairan di bronkus hidung dan jalan CSF
karena tidak ada nafas
refleks batuk

Terakumulasi Penumpukan Ketidakefektifan


menjadi sekret sekret di jalan Bersihan Jalan
nafas Nafas

12
F. Pemeriksaan Diagnostik
1. CT-Scan (dengan atau tanpa kontras)
Mengidentifikasi luasnya lesi, perdarahan, determinan ventrikuler, dan
perubahan jaringan otak. Catatan : Untuk mengetahui adanya infark/iskemia
jangan dilekukan pada 24 - 72 jam setelah injuri.
2. MRI
Digunakan sama seperti CT-Scan dengan atau tanpa kontras radioaktif.
3. Cerebral Angiography
Menunjukan anomali sirkulasi cerebral, seperti : perubahan jaringan otak
sekunder menjadi edema, perdarahan dan trauma.
4. EEG (Elektroencepalograf)
Dapat melihat perkembangan gelombang yang patologis
5. X-Ray
Mendeteksi perubahan struktur tulang (fraktur), perubahan struktur
garis(perdarahan/edema), fragmen tulang.
6. BAER
Mengoreksi batas fungsi corteks dan otak kecil
7. PET
Mendeteksi perubahan aktivitas metabolisme otak
8. CSF, Lumbal Pungsi
Dapat dilakukan jika diduga terjadi perdarahan subarachnoid dan untuk
mengevaluasi/mencatat peningkatan tekanan cairan serebrospinal.
9. ABGs
Mendeteksi keberadaan ventilasi atau masalah pernapasan (oksigenisasi)
jika terjadi peningkatan tekanan intrakranial
10. Kadar Elektrolit
Untuk mengkoreksi keseimbangan elektrolit sebagai akibat peningkatan
tekanan intrkranial
11. Screen Toxicologi
Untuk mendeteksi pengaruh obat sehingga menyebabkan penurunan
kesadaran.

13
G. Penatalaksanaan
1. Pre dan Intra hospital
Menurut Arifin (2012) tidak ada tindakan khusus yang dapat anda lakukan
terhadap penderit cedera kepala di tempat kejadian. Penting sekali
melakukan pemeriksaan cepat dan mengirim penderita ke pusat yang
memiliki fasilitas yang mampu menangani penderita cedera kepala sebelum
sampai di rumah sakit antar lain:
a. Bebaskan jalan nafas dan berikan oksigenasi yang baik. Otak tidak
mampu mentoleransi hipoksia, sehinggga kebutuhan oksigenasi adalah
mutlak. Jika penderita koma, harus dilakukan pemasangan intubasi
endotrakheal. Hal ini mencegah aspirasi dan memungkinkan oksigenasi
serta ventilasi yang lebih baik karena penderit cedera kepala cenderung
mengalami muntah, persiapan untuk immobilisasi ‘log-roll’ terhadap
penderita dan lakuakn suction pada oropharynx, terutama jika tidak
dipasang endotracheal tube.
b. Stabilisasi penderita dengan papan spine. Leher harus diimmobilisasi
dengan kollar kaku dan peralatan immobilisasi yang menjadi tumpuan
kepala
c. Lakukan pencatatan hasil pengamatan awal. Catat tekanan darah,
respirasi (frekuensi dan pola), pupil (ukuran dan reaksi terhadap
cahaya), sensasi dan aktifitas motorik spontan, juga catat nilai GCS.
Jika penderita mengalami hipotensi, curigai adanya perdarahan atau
cedera spinal
d. Sering lakukan pengamatan ulang dan catat secara berurutan
e. Pasang dua infuse dengan iv catheter yang berukuran besar. Dahulu ada
pemikiran untuk membatasi cairan pada penderit cedera kepala. Sudah
dibuktikan bahwa bahaya terjadinya bengkak otak lebih sering
disebabkan oleh hipotensi dibandingkan pemberian cairan
Secara umum penatalaksanaan therapeutic pasien dengan trauma
kepala adalah sebagai berikut :

14
a. Observasi 24 jam
b. Jika pasien masih muntah sementara dipuasakan terlebih dahulu.
c. Berikan terapi intravena bila ada indikasi.
d. Pasien diistirahatkan atau tirah baring.
e. Profilaksis diberikan bila ada indikasi.
f. Pemberian obat-obat untuk vaskulasisasi.
g. Pemberian obat-obat analgetik.
h. Pembedahan bila ada indikasi.
Rencana Pemulangan :
a Jelaskan tentang kondisi pasien yang memerlukan perawatan dan
pengobatan.
b Ajarkan orang tua untuk mengenal komplikasi, termasuk menurunnya
kesadaran, perubahan gaya berjalan, demam, kejang, sering muntah,
dan perubahan bicara.
c Jelaskan tentang maksud dan tujuan pengobatan, efek samping, dan
reaksi dari pemberian obat.
d Ajarkan orang tua untuk menghindari injuri bila kejang: penggunaan
sudip lidah, mempertahankan jalan nafas selama kejang.
e Jelaskan dan ajarkan bagaimana memberikan stimulasi untuk aktivitas
sehari-hari di rumah, kebutuhan kebersihan personal, makan-minum.
Aktivitas bermain, dan latihan ROM bila pasien mengalami gangguan
mobilitas fisik.
f Ajarkan bagaimana untuk mencegah injuri, seperti gangguan alat
pengaman.
g Tekankan pentingnya kontrol ulang sesuai dengan jadual.
h Ajarkan pada orang tua bagaimana mengurangi peningkatan tekanan
intrakranial.
2. Farmokologi
a Pemberian antibiotika bila ada luka,
b Pemberian analgetik NSAID,

15
c Pemberian sedatif/transquilizer bila diperlukan untuk memperbaiki
kenaikan TIK dan penenang.
d Pemberian manitol untuk menurunkan TIK secara bolus 0,25-1
gram/kgBB, erum osmolaritas harus diperiksa bawah 320 mmol/l untuk
mencegah gagal ginjal.
e Pemberian nutrisi dini secara bertahap yang harus tercapai untuk
kebutuhan total dalam waktu 7 hari setelah trauma, adalah 140% dari
kebutuhan basal pada pasien yang tidak dilumpuhkan dan yang
diberikan secara parenteral dan enteral, sedikitnya 15% dari asupan
energi harus mengandung protein.
f Pemberian Gastric Mucosal Protector dan Acid Supressor Agent
dengan H2 Blocker dan pemberian PPI (proton Pump Inhibitrt) yang
dapat menurunkan insiden perdarahan gastrointestinal dan stress related
mucosal damage (SRMD)
H. Komplikasi
1. Koma
Penderita tidak sadar dan tidak memberikan respon disebut koma. Pada
situasi ini secara khas berlangsung hanya beberapa hari atau minggu, setelah
masa ini penderita akan terbangun, sedangkan beberapa kasus lainnya
memasuki vegetatife state.
Walaupun demikian penderita masih tidak sadar dan tidak menyadari
lingkungan sekitarnya. Penderita pada vegetatife state lebih dari satu tahun
jarang sembuh.
2. Kejang/Seizure
Penderita yang mengalami cedera kepala akan mengalami sekurang-
kurangnya sekali kejang pada masa minggu pertama setelah cedera.
Meskipun demikian, keadaan ini berkembang menjadi epilepsy
3. Infeksi
Fraktur tulang tengkorak atau luka terbuka dapat merobekkan membran
(meningen) sehingga kuman dapat masuk infeksi meningen ini biasanya

16
berbahaya karena keadaan ini memiliki potensial untuk menyebar ke system
saraf yang lain.
4. Hilangnya kemampuan kognitif.
Berfikir, akal sehat, penyelesaian masalah, proses informasi dan memori
merupakan kemampuan kognitif. Banyak penderita dengan cedera kepala
mengalami masalah kesadaran.
5. Penyakit Alzheimer dan Parkinson.
Pada khasus cedera kepala resiko perkembangan terjadinya penyakit.
Alzheimer tinggi dan sedikit terjadi Parkinson. Resiko akan semakin tinggi
tergantung frekuensi dan keparahan cedera

17
ASUHAN KEPERAWATAN
A. Pengkajian
1. Identitas klien
Nama, umur, jenis kelamin, tempat tanggal lahir, golongan darah,
pendidikan terakhir, agama, suku, status perkawinan, pekerjaan, TB/BB,
alamat
2. Identitas Penanggung jawab
Nama, umur, jenis kelamin, agama, suku, hubungan dengan klien,
pendidikan terakhir, pekerjaan, alamat.
3. Riwayat kesehatan :
Tingkat kesadaran/GCS (< 15), konvulsi, muntah, dispnea / takipnea,
sakit kepala, wajah simetris / tidak, lemah, luka di kepala, paralise,
akumulasi sekret pada saluran napas, adanya liquor dari hidung dan telinga
dan kejang
Riwayat penyakit dahulu haruslah diketahui baik yang berhubungan
dengan sistem persarafan maupun penyakit sistem sistemik lainnya.
demikian pula riwayat penyakit keluarga terutama yang mempunyai
penyakit menular.
Riwayat kesehatan tersebut dapat dikaji dari klien atau keluarga sebagai
data subyektif. Data-data ini sangat berarti karena dapat mempengaruhi
prognosa klien
4. Pengkajian persistem
a. Keadaan umum
1) Tingkat kesedaran : composmetis, apatis, somnolen, sopor, koma
2) TTV
3) Sistem Pernapasan
Perubahan pola napas, baik irama, kedalaman maupun frekuensi,
nafas bunyi ronchi.
4) Sistem Kardiovaskuler
Apabila terjadi peningkatan TIK, tekanan darah meningkat, denyut
nadi bradikardi kemudian takikardi.

18
5) Sistem Perkemihan
Inkotenensia, distensi kandung kemih
6) Sistem Gastrointestinal
Usus mengalami gangguan fungsi, mual/muntah dan mengalami
perubahan selera
7) SistemMuskuloskeletal
Kelemahan otot, deformasi
8) Sistem Persarafan
Gejala : kehilangan kesadaran, amnesia, vertigo, syncope, tinitus,
kehilangan pendengaran, perubahan penglihatan, gangguan
pengecapan .
Tanda : perubahan kesadaran sampai koma, perubahan status
mental, perubahan pupil, kehilangan pengindraan, kejang,
kehilangan sensasi sebagian tubuh.
a) Nervus cranial
N.I : penurunan daya penciuman
N.II : pada trauma frontalis terjadi penurunan penglihatan
N.III, N.IV, N.VI : penurunan lapang pandang, refleks cahaya
menurun, perubahan ukuran pupil, bola mta tidak dapat
mengikuti perintah, anisokor.
N.V : gangguan mengunyah
N.VII, N.XII : lemahnya penutupan kelopak mata, hilangnya
rasa pada 2/3 anterior lidah
N.VIII : penurunan pendengaran dan keseimbangan tubuh
N.IX , N.X , N.XI jarang ditemukan

19
b) Skala Koma Glasgow (GCS)
NO KOMPONEN NILAI HASIL
1 Tidak berespon
2 Suara tidak dapat dimengerti, rintihan
1 VERBAL Bicara kacau/kata-kata tidak tepat/tidak
3
nyambung dengan pertanyaan
4 Bicara membingungkan, jawaban tidak tepat
5 Orientasi baik
1 Tidak berespon
2 Ekstensi abnormal
3 Fleksi abnormal
2 MOTORIK
4 Menarik area nyeri
5 Melokalisasi nyeri
6 Dengan perintah
1 Tidak berespon
3 Reaksi membuka 2 Rangsang nyeri
mata (EYE) 3 Dengan perintah (rangsang suara/sentuh)
4 Spontan

c) Fungsi motorik
Setiap ekstremitas diperiksa dan dinilai dengan skala berikut
yang digunakan secara internasional :
RESPON SKALA
Kekuatan normal 5
Kelemahan sedang 4
Kelemahan berat (antigravity) 3
Kelemahan berat (not antigravity) 2
Gerakan trace 1
Tak ada gerakan 0

20
B. Diagnosa Keperawatan
1. Nyeri Akut (00132) Domain 11 Kenyamanan, Kelas 1 Kenyamanan Fisik
2. Ketidakefektifan Bersihan Jalan Napas (00031) (Domain 11 :
Keamanan/Perlindungan Kelas 2: Cedera Fisik)
3. Ketidakefektifan Perfusi Jaringan Serebral (000201) (Domain 4 Aktivitas
Istirahat Kelas 4 Respon Kardiovaskular/Pulmonal)
4. Ketidakefektifan Pola Napas (00032) (Domain 4 Aktivitas/Istirahat Kelas
4 Respons Kardiovaskular/Pulmonal)

21
C. Rencana Keperawatan

No DIAGNOSA NCC Intervensi Rasional


1 Nyeri Akut (00132) NOC NIC Observasi
(Domain 12 Kenyamanan 1. Pain control 1. Pain management 1. Untuk meningkatkan
Kelas 4 Kenyamanan Fisik) 2. Comfort level 2. Analgesic administration kenyamanan pada
pasien
Definisi : Tujuan : Observasi : 2. Agar mengetahui lokasi
Pengalaman emosional dan sensori yang
Setelah dilakukan tindakan 1. Observasi reaksi tempat terjadinya nyeri
tidak akibat adanya kerusakan jaringan
keperawatan diharapkan terjadi nonverbal dari 3. Mengetahui tipe nyeri
yang aktual dan potensial atau penurunan tingkatan nyeri. ketidaknyamanan dan sumbernya untuk
digambarkan dengan istilah seperti 2. Lakukan pengkajian melakukan pengkajian
(international assosiation for the study of
Kriteria Hasil : nyeri secara selanjutnya
pain) awitan yang tiba-tiba atau perlahan
1. Klien mampu mengontrol komprehensif termasuk
dengan intesitas ringan sampai berat nyeri(tahu penyebab nyeri, lokasi, karakteristik, Mandiri
dengan akhir yang dapat di antisipasi atau
mampu menggunakan tehnik durasi, frekuensi, kualitas 4. Agar nyeri yang terjadi
dapat diramalkan dan durasinya kurang non farmakologi untuk dan faktor presipitasi. pada pasien dapat
dari enam bulan. mengurangi nyeri,mencari 3. Kaji tipe dan sumber teratasi
bantuan) nyeri untuk menentukan 5. Untuk meminimalisir
Batasan karakteristik : 2. Klien dapat melaporkan intervensi kesalahan pemberian
1. Nyeri yang dirasakan pasien saat bahwa nyeri berkurang obat
terjadi cedera otak dengan menggunakan Mandiri : 6. Agar pasien merasa
manajemen nyeri 1. Pilih dan lakukan nyaman dan
3. Klien menunjukkan tanda penanganan nyeri mengurangi rasa nyeri
vital dalam rentang normal 2. Tentukan karakteristik,
lokasi,kualitas dan

22
derajat nyeri sebelum Health Education
pemberian obat 7. Untuk memberikan
3. Berikan posisi yang teknik alternatif dalam
nyaman sesuai keinginan penanganan nyeri
pasien 8. Agar pasien bisa
melakukan penanganan
Healt Education : nyeri tanpa bantuan
1. Ajarkan tentang tehnik perawat
non farmakologi
2. Ajarkan tehnik relaksasi Kolaborasi
setiap kali timbul nyeri 9. Untuk mengurangi
nyeri yang dialami
pasien terutama nyeri
Kolaborasi : hebat
1. Berikan analgesik tepat 10. Agar tidak memberikan
waktu terutama saat nyeri nyeri tambahan pada
hebat pasien
2. Kolaborasi dengan
dokter jika ada keluhan
dan tindakan nyeri tidak
berhasil

Ketidakefektifan Bersihan Jalan Napas NOC : NIC Observasi


(00031) (Domain 11 : 1. Respiratoty status : Observasi 1. Karakterikstik sputum
Keamanan/Perlindungan Kelas 2: Cedera Ventilation 1. Kaji warna, kekentalan, dapat menunjukkan
Fisik) 2. Respiratory status : Airway dan jumlah sputum berat ringannya
Definisi : Ketidakmampuan untuk patency 2. Monitor respirasi dan obstruksi
membersihkan sekresi atau obstruksi dari status O2

23
saluran napas untuk mempertahankan Tujuan : Dalam waktu ...x24 Mandiri 2. Untuk mengetahui
bersihan jalan napas. jam setelah diberikan tindakan 3. Atur posisi semifowler status respirasi atau
bersihan jalan napas kembali 4. Bantu klien latihan nafas pernafasan pada klien
Batasan Karakteristik : efektif dalam
- Terdapat penumpukan cairan di 5. Pertahankan intake Mandiri
saluran nafas pasien karena ada Kriteria Hasil : cairan sedikitnya 2500 3. Meningkatkan ekspansi
akumulasi CSF dari otak yang masuk 1. Penumpukan cairan pada ml/hari kecuali tidak dada
ke dalam saluran nafas saluran nafas klien dapat diindikasikan 4. Batuk yang terkontrol
teratasi 6. Lakukan fisioterapi dan efektif dapat
2. Saturasi O2 dalam batas dada dengan teknik memudahkan
normal postural drainase, pengeluaran sekret ke
3. Foto thorak dalam batas perkusi, dan fibrasi dada dalam jalan nafas besar
normal untuk dikeluarkan
Health Education 5. Hidrasi yang adekuat
7. Jelaskan pada pasien membantu
dan keluarga tentang mengencerkan sekret ke
penggunaan peralatan : dalam jalan napas besar
O2, Suction, Inhalasi. untuk dikeluarkan
6. Fisioterapi dada
Kolaborasi merupakan strategi
8. Kolaborasi dengan untuk mengeluarkan
tenaga medis atau dokter sekret
tentang pemasangan
suction dan inhalasi Health Education
7. Agar keluarga klien
dapat menggunakan
peralatan medis tersebut

24
Kolaborasi
8. Untuk mengeluarkan
cairan yang tertumpuk
di dalam saluran nafas
pasien

Ketidakefektifan Perfusi Jaringan NOC : NIC : Observasi


Serebral (000201) Circulation status Observasi 1. Untuk mengetahui
Domain 4 : Aktivitas/istirahat Tissue Prefusion : 1. Pantau tingkat kesadaran tingkat kesadaran pasien
Kelas 4 : Respon cerebral dengan GCS 2. Agar perawat dapat
kardiovaskular/pulmonal 2. Monitor tekanan memberikan tindakan
Kriteria Hasil : intrakranial pasien dan yang berhubungan
Defenisi : Suatu keadaaan dimana 1. Mendemonstrasikan status respon neurology dengan peningkatan TIK
seseorang individu mengalami penurunan sirkulasi yang ditandai terhadap aktivitas 3. Untuk mengetahui
suplai nutrisi dan oksigen pada tingkat dengan: 3. Catat respon pasien perkembangan pasien
seluler oleh karena penurunan suplai darah o Tidak ada tanda tanda terhadap stimuli
arteri peningkatan tekanan
intrakranial (tidak lebih
Batasan Karakteristik: dari 15 mmHg)
 Penurunan tingkat kesadaran 2. Mendemonstrasikan Mandiri Mandiri
kemampuan kognitif yang 4. Posisikan pasien pada 4. Untuk memaksimalkan
ditandai dengan: posisi semifowler suplai oksigen untuk
o Berkomunikasi dengan 5. Minimalkan stimuli dari pasien
jelas dan sesuai dengan lingkungan 5. Untuk mencegah
kemampuan 6. Batasi gerakan pada stimulus yang berlebihan
o Menunjukkan perhatian, kepala, leher dan dari luar
konsentrasi dan orientasi punggung
o Memproses informasi

25
o Membuat keputusan HE 6. Untuk mencegah cedera
dengan benar 7. Berikan informasi yang akan berlanjut pada
o Menunjukkan fungsi kepada keluarga, kepala pasien
sensori motori cranial meliputi defenisi
yang utuh : tingkat penyakit yg diderita, Health Education
kesadaran mambaik, tidak penyebab, manifestasi 7. Agar keluarga pasien
ada gerakan gerakan klinis, dan dapat dengan sendirinya
involunter penatalksanaannya. melakukan tindakan
mandiri pada pasien dan
Kolaborasi agar keluarga pasien juga
8. Kolaborasi pemberian dapat mencegah hal yang
anti-analgetik dapat membuat kondisi
pasien menjadi buruk

Kolaborasi
8. Untuk mencegah nyeri
yang terjadi pada pasien

NOC : NIC : Observasi


Ketidakefektifan Pola Napas (00032) 1. Respiratory status : Observasi 1. Melihat apabila terjadi
(Domain 4 Aktivitas/Istirahat Kelas 4 Ventilation 1. Pantau adanya pucat dan sianosis
Respons Kardiovaskular/Pulmonal) 2. Respiratory status : sianosis 2. Melihat apibila obat
Definisi : inspirasi dan atau ekspirasi yang Airway patency 2. Pantau efek obat pada mempengaruhi status
tidak memberi ventilasi adekuat
3. Vital sign status status pernapasan pernapasan
3. Pantau pernapasan 3. Mengetahui status
Tujuan : Setelah dilakukan pernapasan
Batasan Karakteristik : tindakan keperawatan Mandiri
- Tidak ada batuk pada pasien

26
diharapkan pola nafas pada 4. Tenangkan pasien Mandiri
pasien dapat efektif selama periode gawat 4. Agar klien dapat
napas mengatur nafasnya
Kriteria Hasil : 5. Anjurkan napas dalam dengan baik
1. Mendemonstrasikan batuk melalui abdomen selama 5. Untuk memenhi
efektif dan suara nafas yang periode gawat napas kebutuhan oksigen
bersih, tidak ada sianosis dan 6. Atur posisi pasien untuk pasien
dispnea (mampu mengoptimalkan 6. Untuk memaksimalkan
mengeluarkan sputum, pernapasan masukan oksigen
mampu bernafas dengan
mudah, tidak ada pursed lips)
2. Menunjukkan jalan nafas HE Health Education
yang paten (klien tidak 7. Informasikan pada pasien 7. Agar keluarga dan
merasa tercekik, irama nafas, dan keluarga tentang pasien bisa
frekuensi pernafas dalam teknik relaksasi untuk menggunakan teknik
rentang normal, tidak suara memperbaiki pola relaksasi pernapasan
nafas abnormal) pernapasan mandiri
3. Mampu mengidentifikasi dan 8. Ajarkan teknik batuk 8. Agar pasien dapat
mencegah faktor yang dapat efektif mengeluarkan sekret
menghambat jalan nafas. 9. Informasikan kepada secara mandiri
pasien dan keluarga 9. Untuk tidak
bahwa tidak boleh memperburuk
merokok didalam pernapasan pasien
ruangan 10. Agar penanganan cepat
10. Instruksikan kepada dilakukan
pasien dan keluarga
pasien bahwa harus Kolaborasi
memberitahu perawat

27
pada saat terjadi 11. Untuk memastikan
ketidakefektifan pola adekuatnya ventilator
pernapasan 12. Untuk mengoptimalkan
pola pernapasan
Kolaborasi
11. Konsultasi dengan ahli
terapi pernapasan untuk
memastikan adekuat
fungsi ventilator mekanis
12. Berikan obat nyeri untuk
mengoptimalkan pola
pernapasan

28
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Cidera kepala yaitu adanya deformasi berupa penyimpangan bentuk atau
penyimpangan garis pada tulang tengkorak, percepatan (accelerasi) dan
perlambatan (decelerasi) yang merupakan perubahan bentuk dipengaruhi oleh
perubahan peningkatan pada percepatan faktor dan penurunan kecepatan, serta
rotasi yaitu pergerakan pada kepala dirasakan juga oleh otak sebagai akibat
perputaran pada tindakan pencegahan (Doenges, 1989). Kasan (2000)
mengatakan cidera kepala adalah suatu gangguan traumatik dari fungsi otak
yang disertai atau tanpa disertai perdarahan interstiil dalam substansi otak tanpa
diikuti terputusnya kontinuitas otak.
Cedera kepala menurut Suriadi & Rita (2001) adalah suatu trauma yang
mengenai daerah kulit kepala, tulang tengkorak atau otak yang terjadi akibat
injury baik secara langsung maupun tidak langsung pada kepala. Sedangkan
menurut Satya (1998), cedera kepala adalah keadaan dimana struktur lapisan
otak dari lapisan kulit kepala tulang tengkorak, durameter, pembuluh darah serta
otaknya mengalami cidera baik yang trauma tumpul maupun trauma tembus.
B. Saran
Sebagai seorang calon perawat kita seharusnya dapat mengapikasikan teori
keperawatan yang telah dipelajari ke dalam lingkungan sehari0hari khususnya
di rumah sakit. Seperti pada pemberian asuhan keperawatan pada pasien dengan
cedera otak ini, kita harus melakukan setiap tahap-tahap proses keperawatan
sesuai dengan yang telah di dokumentasikan.

29
DAFTAR PUSTAKA

J.Corwin, Elizabet. 2009. Buku Saku Patofisiologi Edisi 3. Jakarta : EGC


Arif, Mansjoer, et al. 2000. Kapita Selekta Kedokteran Edisi 3 Jilid 1. Jakarta :
Media Aesculapius
Krisanty, Paula dkk, (2011). Asuhan Keperawatan Gawat Darurat. Jakarta. Trans
Info Media
Mansjoer Arif,dkk. 2001. Kapita Selekta Kedokteran Jilid I. Jakarta : Media
Aesculapius
Santosa, Budi. 2005-2006. Diagnosa Keperawatan NANDA. Jakarta : Prima
Medikal.
Carpenito, Linda Juall. 2001. Diagnosa Keperawatan. Jakarta : EGC.
Doenges, E. M, Mary F.M, Alice C.G. 2002. Rencana Asuhan Keperawatan.
Jakarta : EGC.
Herdman, T.Heather. 2012. Diagnosa Keperawatan. Jakarta : EGC.
Wilkinson, Judith & Ahern, Nancy. 2011. Diagnosa Keperawatan. Jakarta : EGC

30