Anda di halaman 1dari 22

BAB I

PENDAHULUAN

Visum et Repertum adalah keterangan tertulis yang dibuat dokter atas permintaan
tertulis (resmi) penyidik tentang pemeriksaan medis terhadap seseorang manusia baik
hidup maupun mati ataupun bagian dari tubuh manusia, berupa temuan dan
interpretasinya, di bawah sumpah dan untuk kepentingan peradilan. 1Rumusan yang jelas
tentang pengertian VeR telah dikemukakan pada seminar forensik di Medan pada
tahun1981 yaitu laporan tertulis untuk peradilan yang dibuat dokter berdasarkan sumpah
atau janji yang diucapkan pada waktu menerima jabatan dokter, yang memuat pemberitaan
tentang segala hal atau fakta yang dilihat dan ditemukan pada benda bukti berupa tubuh
manusia yang diperiksa dengan pengetahuan dan keterampilan yang sebaik-baiknya dan
pendapat mengenai apa yang ditemukan sepanjang pemeriksaan tersebut.2
Visum et Repertum (VeR) merupakan salah satu bantuan yang sering diminta oleh
pihak penyidik (polisi) kepada dokter sebagai alat bukti dalam proses peradilan yang tidak
hanya memenuhi standard penulisan rekam medis, tetapi juga harus memenuhi hal - hal
yang disyaratkan dalam system peradilan.3 Dalam praktik sehari-hari, seorang dokter tidak
hanya melakukan pemeriksaan medis untuk kepentingan diagnostik dan pengobatan
penyakit saja, tetapi juga untuk dibuatkan suatu surat keterangan medis. Demikian pula
halnya dengan seorang pasien yang dating ke instalasi gawat darurat, tujuan utama yang
bersangkutan umumnya adalah untuk mendapatkan pertolongan medis agar penyakitnya
sembuh. Namun dalam hal pasien tersebut mengalami cedera, pihak yang berwajib dapat
meminta surat keterangan medis atau VeR dari dokter yang memeriksa. Jadi pada satu saat
yang sama dokter dapat bertindak sebagai seorang klinisi yang bertugas mengobati
penyakit sekaligus sebagai seorang petugas forensik yang bertugas membuat VeR.
Sedangkan pasien bertindak sebagai seorang yang diobati sekaligus korban yang diperiksa
dan hasilnya dijadikan alat bukti.4
Visum et repertum adalah salah satu alat bukti yang sah sebagaimana tertulis dalam
pasal 184 KUHP. Visum et repertum turut berperan dalam proses pembuktian suatu
perkara pidana terhadap kesehatan dan jiwa manusia. VeR menguraikan segala sesuatu
tentang hasil pemeriksaan medic yang tertuang di dalam bagian pemberitaan, yang
karenanya dapat dianggap sebagai pengganti barang bukti. Visum et repertum juga memuat
keterangan atau pendapat dokter rmengenai hasil pemeriksaan medik tersebut yang
tertuang di dalam bagian kesimpulan. Dengan demikian visum et repertum secara utuh
telah menjembatani ilmu kedokteran dengan ilmu hokum sehingga dengan membaca visum
et repertum, dapat diketahui dengan jelas apa yang telah terjadi pada seseorang, dan para
praktisi hokum dapat menerapkan norma-norma hokum pada perkara pidana yang
menyangkut tubuh dan jiwa manusia.1,5
Apabila VeR belum dapat menjernihkan duduk persoalan di siding pengadilan,
maka hakim dapat meminta keterangan ahli atau diajukannya bahan baru, seperti yang
tercantum dalam KUHAP, yang memungkinkan dilakukannya pemeriksaan atau penelitian
ulang atas barang bukti, apabila timbul keberatan yang beralasan dari terdakwa atau
penasehat hukumnya terhadap suatu hasil pemeriksaan. Hal itu sesuai dengan pasal 180
KUHAP. Bagi penyidik (polisi/polisimiliter) VeR berguna untuk mengungkapkan perkara.
Bagi Penuntut Umum (Jaksa) keterangan itu berguna untuk menentukan pasal yang akan
didakwakan, sedangkan bagi hakim sebagai alat bukti formal untuk menjatuhkan pidana
atau membebaskan seseorang dari tuntutan hukum.1,5
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kedokteran Forensik


Dalam perkembangan istilah, forensik datangnya dari perkataan romawi
‘forum’yaitu tempat orang romawi mengadakan sidang peradilan.Terdapat
beberapa pengertianyang diberikan oleh ahli forensik tentang istilah
forensik.Menurut Sidney Smith, ilmu kedokteran forensik adalah kumpulan
ilmupengetahuan medis yang menunjang pelaksanaan penegakan hukum.1
Menurut Simpson K, ilmu Kedokteran Forensik ialah ilmu kedokteran
yangberhubungan dengan pengeluaran surat-surat keterangan untuk orang hidup
maupunmati demi kepentingan hukum, mempelajari kematian tiba-tiba, karena
kekerasan ataukematian mencurigakan sebabnya, penyidikan tindakan kriminal
secara ilmiah.Sedangkanmenurut Jaiing P. Modi, ilmu kedokteran forensik adalah
cabang ilmukedokteran yang menggunakan prinsip-prinsip dan pengetahuan
kedokteran untuk membantu proses hukum, baik sipil maupun kriminal.1
Hal demikian dapat dipahami, ilmu kedokteran forensik merupakan
jembatan antara pengetahuan kedokteran dan hukum dimana terdapat konsekuensi
kedua pihak harus dapat memahami seluruh materi ilmu kedokteran forensik,
sehingga apa yang ingin disampaikan oleh medis dapat dipahami oleh kalangan
hukum dan sebaliknya pihak medis dapat membantu atau melakukan pemeriksaan
yang diperlukan oleh pihak penegak hukum.1
Ilmu kedokteran Forensik merupakan salah satu disiplin ilmu yang
menerapkan ilmu kedokteran klinis sebagai upaya penengakan hukum dan
keadilan.1Seiring perkembangan waktu, telah terjadi banyak kemajuan dalam ilmu
kedokteran Forensik dan ilmu kedokteran Forensik berkembang menjadi ilmu yang
mencakup berbagai aspek ilmu pengetahuan dan dalam ilmu kedokteran Forensik
identifikasi merupakan hal yang penting.2
Identifikasi merupakan cara untuk mengenali seseorang melalui
karakteristik atau ciri–ciri khusus yang dimiliki orang tersebut, dengan cara
membandingkannya selama orang tersebut masih hidup dan setelah meninggal.2
2.2 Visum Et Repertum
2.2.1. Definisi
Visum et repertum adalah laporan tertulis untuk peradilan yang dibuat
dokter berdasarkan sumpah/janji yang diucapkan pada waktu menerima jabatan
dokter, memuat berita tentang segala hal yang dilihat dan ditemukan pada barang
bukti berupa tubuh manusia/benda yang berasal dari tubuh manusia yang
diperiksa sesuai pengetahuan dengan sebaik-baiknya atas permintaan penyidik
untuk kepentingan peradilan.2
Berdasarkan Pasal 10 Surat Keputusan MenteriKehakiman No.
M04.UM.01.06 tahun 1983 menyatakan, bahwa hasilpemeriksaan ilmu
kedokteran kehakiman disebut Visum et Repertum.Dengan demikian, menurut
KUHAP keterangan ahli yang diberikan olehahli kedokteran kehakiman atau
dokterdan atau ahli lainnya disebutVisum et Repertum.1
Visum et repertum merupakan pengganti barang bukti, oleh karena barang
bukti tersebut berhubungan dengan tubuh manusia (luka, mayat atau bagian
tubuh). KUHAP tidak mencantum kata visum et repertum. Namun visum et
repertum adalah alat bukti yang sah. Bantuan dokter pada penyidik : Pemeriksaan
Tempat Kejadian Perkara (TKP), pemeriksaan korban hidup, pemeriksaan korban
mati. Penggalian mayat, menentukan umur seorang korban / terdakwa,
pemeriksaan jiwa seorang terdakwa, pemeriksaan barang bukti lain (trace
evidence).3

2.2.2. Dasar Hukum


Visum et Repertum diatur oleh perundang-perundangan, antara lain sebagai berikut :1
1. LembarannegaraNo 350 tahun 1973
Visum et repertum adalah suatu keterangan tertulis yang dibuat oleh dokter atas sumpah
jabatan atau janji tentang apa yang dilihat pada benda yang diperiksanya yang mempunyai
daya bukti dalam perkara pidana.

2. KUHAP Pasal 133


1. Dalam hal penyidik untuk kepentingan peradilan menangani seorang
korban baik luka, keracunan ataupun mati yang diduga karena
peristiwa yang merupakan tindak pidana, ia berwenang mengajukan
permintaan keterangan ahli kepada ahli kedokteran kehakiman atau
dokter dan atau ahli lainnya.
2. Permintaan keterangan ahli sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)
dilakukan secara tertulis, yang dalam surat itu disebutkan dengan
tegas untuk pemeriksaan luka atau pemeriksaan mayat dan atau
pemeriksaan bedah mayat.
3. Mayat yang dikirim kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter pada rumah sakit
harus diperlakukan secara baik dengan penuh penghormatan terhadap mayat tersebut
dan diberi label yang memuat identitas mayat, dilak dengan diberi cap jabatan yang
diletakkan pada ibujari kaki atau bagian lain dari badan.

3. KUHAP pasal 179


1. Setiap orang yang diminta pendapatnya sebagai ahli kedokteran kehakiman atau
dokter atau ahli lainnya wajib memberikan keterangan ahli demi keadilan.

4. Kedudukan atau nilai VeR adalah satu alat bukti yang sah diatur dalam
KUHAP pasal 184, Alat bukti yang sah adalah:
a. Keterangan saksi
b. Keterangan ahli
c. Surat
d. Petunjuk
e. Keteragan terdakwa

5. KUHAP Pasal 186


Keterangan ahli ialah apa yang seorang ahli nyatakan disidang pengadilan.

6. KUHAP Pasal 187 (c)


Surat keterangan dari seorang ahli yang memuat pendapat berdasarkan
keahliannya mengenai sesuatu hal atau sesuatu keadaan yang diminta secara
resmi kepadanya.

2.2.3. Fungsi dan peran Visum et repertum


Visum et Repertum dapat berperan dalam proses pembuktian suatu perkara
pidana terhadap kesehatan dan jiwa manusia. Sebagaimana yang tertulis dalam
Pasal 184 KUHAP, Visum et Repertum merupakan alat bukti yang sah dalam
proses peradilan, yang berupa keterangan ahli, surat, dan petunjuk. Dalam
penjelasan Pasal 133 KUHAP, dikatakan bahwa keterangan ahli yang diberikan
oleh dokter spesialis forensik merupakan keterangan ahli, sedangkan yang dibuat
oleh dokter selain spesialis forensik disebut keterangan. Hal ini diperjelas pada
Pedoman Pelaksanaan KUHAP dalam Keputusan Menteri Kehakiman RI
No.M.01.PW.07.03 Tahun 1982 yang menjelaskan bahwa keterangan yang
dibuat oleh dokter bukan ahli merupakan alat bukti petunjuk. Dengan demikian,
semua hasil Visum et Repertumyang dikeluarkan oleh dokter spesialis forensik
maupun dokter bukan spesialis forensik merupakan alat bukti yang sah sesuai
dengan Pasal 184 KUHAP.
Di dalam Pasal 184 KUHAP, alat bukti yang sah tersebut berturut-turut
adalah keterangan saksi, keterangan ahli, surat, petunjuk, dan keterangan
terdakwa. Beban pembuktian dari masing-masing alat bukti tersebut
berbedansesuai dengan urutannya. Sebagai contoh, keterangan saksi harus lebih
dipercaya oleh hakim bila dibandingkan dengan keterangan terdakwa.
Demikian halnya dengan keterangan ahli yang diberikan oleh seorang
dokter spesialis forensik tentunya akan mempunyai beban pembuktian yang
lebih besar bila dibandingkan dengan keterangan yang diberikan oleh dokter
bukan spesialis forensik. Sehingga, kedudukan Visum et Repertum yang dibuat
oleh dokter spesialis forensik masih lebih tinggi dibandingkan dengan Visum et
Repertum yang dibuat oleh dokter bukan spesialis forensik.
Visum et Repertum juga dapat dianggap sebagai pengganti barang bukti
karena segala sesuatu tentang hasil pemeriksaan medis telah diuraikan di dalam
bagian Pemberitaan. Karena barang bukti yang diperiksa tentu saja akan
mengalami perubahan alamiah, seperti misalnya luka yang telah sembuh, jenazah
yang mengalami pembusukan atau jenazah yang telah dikuburkan yang
tidak mungkin dibawa ke persidangan, maka Visum et Repertummerupakan
pengganti barang bukti tersebut yang telah diperiksa secara ilmiah oleh dokter
ahli.
Apabila Visum et Repertum belum dapat menjernihkan suatu duduk
persoalan di sidang pengadilan, maka hakim dapat meminta keterangan ahli atau
diajukannya bahan baru. Sesuai dengan Pasal 180 KUHAP, hakim tersebut dapat
meminta kemungkinan untuk dilakukan pemeriksaan atau penelitian ulang atas
barang bukti jika memang timbul keberatan yang beralasan dari terdakwa atau
penasihat hukumnya terhadap suatu hasil pemeriksaan.

2.2.4. Prosedur Medikolegal


2.2.3.1 Pihak Berwenang Meminta
Yang berhak meminta visum et repertum adalah:
1. Penyidik
2. Hakim pidana
3. Hakim perdata
4. Hakim agama
Menurut KUHAP pasal 133 ayat (1) yang berwenang mengajukan
permintaan keterangan ahli adalah penyidik. Penyidik pembantu juga
mempunyai wewenang tersebut dengan pasal 11 KUHAP.2
Adapun yang termasuk dalam kategori penyidik menurut KUHAP pasal 6
ayat (1), PP No. 27 tahun 1983 pasal 2 ayat (1) adalah Pejabat Polisi Negara RI
yang diberi wewenang khusus oleh undang-undang dengan pangkat serendah-
rendahnya Pembantu Letnan Dua. Sedangkan penyidik pembantu berpangkat
serendah-rendahnya Sersan Dua.2
Dalam PP yang sama disebutkan bahwa bila penyidik tersebut adalah
pegawai negeri sipil, maka kepangkatannya adalah serendah-rendahnya golongan
II/b untuk penyidik dan golongan II/a untuk penyidik pembantu. Bila disuatu
kepolisian sektor tidak ada penjabat penyidik seperti di atas, maka kepala
kepolisian sektor yang berpangkat bintara di bawah Pembantu Letnan Dua
dikategorikan pula sebagai penyidik karena jabatannya (PP 27 tahun 1983 pasal
2 ayat (2)). 2

2.2.3.2 Pihak Berwenang Membuat


Menurut KUHAP pasal 133 ayat (1) yang berwenang melakukan
pemeriksaan forensik yang menyangkut tubuh manusia dan membuat keterangan
ahli adalah dokter ahli kedokteran kehakiman (forensik), dokter dan ahli lainnya.
Sedangkan dalam penjelasan KUHAP tentang pasal tersebut dikatakan bahwa
yang dibuat oleh dokter ahli kedokteran kehakiman disebut keterangan ahli,
sedangkan yang dibuat selain ahli kedokteran kehakiman disebut keterangan.2
Secara garis besar, semua dokter yang telah memiliki surat penugasan atau
surat izin dokter dapat membuat keterangan ahli. Namun untuk tertib
administrasi sebaiknya keterangan ahli hanya diajukan kepada dokter yang
bekerja disuatu instansi kesehatan seperti Puskesmas hingga Rumah Sakit atau
instansi khusus untuk itu terutama milik pemerintah.2

2.2.3.3 Prosedur Permintaan Ahli


Tata cara permintaan visum et repertum sesuai peraturan perundang
undang adalah diminta oleh penyidik, permintaan tertulis, dijelaskan
pemeriksaan untuk apa, diantar langsung oleh penyidik, mayat dibuat label,
tidak dibenarkan visum et repertum diminta tanggal yang lalu.3
Seperti yang telah di cantumkan dalam pasal 133 KUHP ayat 1 Dalam
hal penyidik untuk kepentingan peradilan menangani seorang korban baik
luka, keracunan ataupun mati yang diduga karena peristiwa yang merupakan
tindak pidana, ia berwenang mengajukan permintaan keterangan ahli
kedokteran kehakiman atau dokter dan atau ahli lainnya. Ayat 2 Permintaan
keterangan ahli sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan secara
tertulis, yang dalam surat itu disebutkan dengan tegas untuk pemeriksaan luka
atau pemeriksaan mayat dan atau pemeriksaan bedah mayat. Ayat 3 Mayat
yang dikirim kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter pada rumah sakit
harus diperlakukan secara baik dengan penuh penghormatan terhadap mayat
tersebut dan diberi label yang memuat identitas mayat, dilakukan dengan diberi
cap jabatan yang diletakkan pada ibu jari atau bagian lain badan mayat.3

2.2.5. Jenis-Jenis Visum


2.2.5.1 Orang Hidup
Jenis visum et repertum pada orang hidup terdiri dari:4
1. Visum seketika adalah visum yang dibuat seketika oleh karena korban tidak
memerlukan tindakan khusus atau perawatan dengan perkataan lain korban
mengalami luka - luka ringan.
2. Visum sementara adalah visum yang dibuat untuk sementara berhubung
korban memerlukan tindakan khusus atau perawatan. Dalam hal ini dokter
membuat visum tentang apa yang dijumpai pada waktu itu agar penyidik
dapat melakukan penyidikan walaupun visum akhir menyusul kemudian.
3. Visum lanjutan adalah visum yang dibuat setelah berakhir masa perawatan
dari korban oleh dokter yang merawatnya yang sebelumnya telah dibuat
visum sementara untuk awal penyidikan. Visum tersebut dapat lebih dari satu
visum tergantung dari dokter atau rumah sakit yang merawat korban.

Seperti yang telah kita ketahui permintaan visum et repertum orang hidup
lebih banyak dari pada permintaan pada mayat, karena mayat masih banyak
diperdebatkan oleh karena pihak keluarga yang tidak mengizinkan.2

A. Luka
Visum et repertum orang hidup dapat terdiri dari luka:5
1. Luka yang paling banyak terjadi adalah luka mekanis, biasanya luka ini
bisa Karena:
a. Luka benda tumpul
b. Luka benda tajam
c. Luka tembakan senjata api

2. Kemudian luka akibat kekerasan fisis diantaranya adalah:


a. Luka akibat suhu tinggi atau luka bakar
b. Luka akibat listrik

3. Luka akibat zat kimia terdiri dari:


a. Luka akibat asam kuat
b.Akibat basa kuat

Semua luka yang tertera diatas dapat diperiksa sesuai lokalisasi,


ukuran, jenis kekerasan yang menjadi penyebab luka. Sehingga dapat
digunakan untuk pembuktian pada suatu kasus.
Dokter perlu membuat catatan medik setiap pasien, dan mencatat
lengkap temuan pada korban tindak pidana sehingga dapat digunakan untuk
pembuatan visum et repertum. Visum et repertumdapat dibuat seketika
(untuk luka yang tidak perlu perawatan, tidak perlu visum), sementara
(untuk korban yang dirawat, tidak mencantum kesimpulan derajat luka),
maupun lanjutan (setelah korban selesai dirawat dan dapat ditentukan
derajat lukanya).
Pada visum et repertum tercantum derajat luka, yang diatur dalam
bahasa undang-undang sebagai berikut:
- Luka derajat 1 atau ringan. Penganiayaan ringan adalah
penganiayaan yang tidak menimbulkan penyakit atau halangan
untuk menjalankan jabatan atau pekerjaan (pasal 352 KUHP);
- Luka derajat 2 atau sedang. Mengakibatkan penyakit dan halangan
sementara dalam melakukan pekerjaan atau jabatan selama ... hari;
- Luka derajat 3 atau berat. Jatuh sakit atau mendapat luka yang tidak
memberi harapan akan sembuh sama sekali, atau yang menimbulkan
bahaya maut; yang menyebabkan seseorang terus menerus tidak
mampu untuk menjalankan tugas jabatan atau pekerjaan
pencaharian; yang menyebabkan kehilangan salah satu panca indera;
yang menimbulkan cacat berat; yang menyebabkan terjadinya
keadaan lumpuh; terganggunya daya pikir selama empat minggu
atau lebih serta terjadinya gugur atau matinya kandungan seseorang
perempuan.
Adapun yang dimaksud penganiayaan adalah dengan sengaja
menimbulkan sakit atau luka.6

B. Kejahatan Susila
Persetubuhan yang diancam pidana termasuk pemerkosaan,
persetubuhan pada perempuan yang tidak berdaya (dapat dipakai obat atau
zat), serta persetubuhan dengan perempuan belum cukup umur. Dalam
kasus peradilan kejahatan susila, dokter perlu membuktikan adanya
persetubuhan, kekerasan, usia korban, penyakit hubungan seksual,
kehamilan, dan kelainan kejiwaan akibat tindak pidana tersebut.
Pembuktian persetubuhan dilakukan dengan pemeriksaan fisis (deflorasi
himen, laserasi vulva/vagina), laboratorium (cairan mani, penyakit kelamin,
tes kehamilan, pemeriksaan toksikologi darah pada kecurigaan obat/zat),
serta mencocokkan antara waktu temuan persetubuhan pada tubuh dengan
waktu persetubuhan yang diperkarakan. Selain itu, perlu juga dicari adanya
jejak kekerasan di daerah seperti wajah, leher, payudara, perut, dan paha.
Usia korban ditentukan dari identitas, atau tanda medis seperti
menarcheatau tanda seks sekunder.
Pada kesimpulam visum et repertum ditulis perkiraan usia korban, ada
atau tidaknya tanda persetubuhan, perkiraan terjadinya persetubuhan, dan
atau ada tidaknya tanda kekerasan.6

C. Psikiatrik
Dasar pembuatan visum et repertum psikiatrik adalah pasal 44(1)
KUHP: “Barangsiapa melakukan perbuatan yang tidak
dipertanggungjawabkan padanya disebabkan karena jiwanya cacat dalam
tumbuhnya atau terganggu karena penyakit, tindak pidana”. Pemeriksaan
dilakukan terhadap tersangka atau terdakwa pelaku pidana sebaiknya oleh
dokter spesialis psikiatri. Terkadang hakim juga meminta evaluasi kejiwaan
saksi apabila kondisi kejiwaannya diragukan sementara kesaksiannya
sangat diperlukan.6

2.2.5.2 Jenazah
Visum et Repertum jenazah dibuat terhadap korban yang meninggal.
Tujuan pembuatan Visum et Repertumini adalah untuk menentukan sebab, cara,
dan mekanisme kematian. Jenazah yang akan dimintakan Visum et Repertum-
nya harus diberi label yang memuat identitas mayat, di-lak dengan diberi
cap jabatan, yang dikaitkan pada ibu jari kaki atau bagian tubuh lainnya. Pada
surat permintaan Visum et Repertum-nya harus jelas tertulis jenis
pemeriksaan yang diminta, apakah hanya pemeriksaan luar jenazah atau
pemeriksaan bedah jenazah (autopsi) (Pasal 133 KUHAP). 1,2
a. Visum et Repertum dengan pemeriksaan luar
Pemeriksaan luar jenazah adalah pemeriksaan berupa tindakan
tanpa merusak keutuhan jaringan jenazah. Pemeriksaan ini
dilakukan dengan teliti dan sistematik, serta kemudian dicatat secara
rinci, mulai dari bungkus atau tutup jenazah, pakaian, benda-benda di
sekitar jenazah, perhiasan, ciri-ciri umum identitas, tanda-tanda
tanatologi, gigi geligi, dan luka atau cedera atau kelainan yang
ditemukan di seluruh bagian luar.
Apabila penyidik hanya meminta pemeriksaan luar saja, maka
kesimpulan Visum et Repertum menyebutkan jenis luka atau kelainan
yang ditemukan dan jenis kekerasan penyebabnya, sedangkan sebab
matinya tidak dapat ditentukan karena tidak dilakukan pemeriksaan
bedah jenazah. Bila dapat diperkirakan, lama mati sebelum pemeriksaan
(perkiraan waktu kematian) dapat dicantumkan dalam bagian
kesimpulan.
b. Visum et Repertum dengan pemeriksaan luar dan dalam
Bila juga disertakan pemeriksaan autopsi, maka penyidik wajib
memberi tahu kepada keluarga korban dan menerangkan maksud dan
tujuan pemeriksaan. Autopsi dilakukan jika keluarga korban tidak
keberatan, atau bila dalam dua hari tidak ada tanggapan apapun dari
keluarga korban (Pasal 134 KUHAP). Jenazah yang diperiksa dapat
juga berupa jenazah yang didapat dari penggalian kuburan (Pasal
135 KUHAP).3
Pemeriksaan autopsi dilakukan menyeluruh dengan membuka
rongga tengkorak, leher, dada, perut, dan panggul. Selain itu juga
dilakukan pemeriksaan penunjang yang diperlukan seperti pemeriksaan
histopatologi, toksikologi, serologi, dan lain sebagainya. Dari
pemeriksaan dapat disimpulkan sebab kematian korban, jenis luka atau
kelainan, jenis kekerasan penyebabnya, dan perkiraan waktu kematian.3
Gambar 1 & 2. Contoh Visum et Repertum pada jenazah
Gambar 3 & 4. Contoh lanjutanVisum et Repertum pada jenazah

Gambar 5. Contoh lanjutanVisum et Repertum pada jenazah


2.2.6. Bentuk dan IsiVisum Et Repertum
Bentuk dan isi visum et repertum:3
1. Pro justisia, pada bagian atas, untuk memenuhi persyaratan yuridis, pengganti
materai.
2. Visum et repertum, menyatakan jenis dari barang bukti atau pengganti barang
bukti.
3. Pendahuluan, memuat identitas dokter pemeriksa pembuat visum et repertum,
identitas peminta visum et repertum, saat dan tempat dilakukanya pemeriksaan
dan identitas barang bukti (manusia), sesuai dengan identitas yang tertera di
dalam surat permintaan visum et repertum dari pihak penyidik dan lebel atau
segel.
4. Pemberitaan atau hasil pemeriksaan, memuat segala sesuatu yang di lihat dan
ditemukan pada barang bukti yang di periksa oleh dokter, dengan atau tanpa
pemeriksaan lanjutan (pemeriksaan laboratorium), yakni bila dianggap perlu,
sesuai dengan kasus dan ada tidaknya indikasi untuk itu.
5. Kesimpulan, memuat inti sari dari bagian pemberitaan atau hasil pemeriksaan,
yang disertai dengan pendapat dokter yang bersangkutan sesuai dengan
pengetahuan dan pengalaman yang dimilikinya.
6. Penutup, yang memuat pernyataan bahwasanya visum et repertum tersebut
dibuat atas sumpah dokter dan menurut pengetahuan yang sebaik-baiknya dan
sebenar-benarnya.
2.2.7. Tata Cara Permohonan dan Pencabutan Visum et Repertum
Ada beberapa syarat yang harus diperhatikan saat pihak berwenang
meminta dokter untuk membuat Visum et Repertum. Syarat Visum et
Repertumkorban hidup yaitu:
1. Harus tertulis, tidak boleh secara lisan
2. Surat permohonan visum harus diserahkan langsung kepada dokter dari
penyidik, tidak boleh dititip melalui korban atau keluarga korban. Juga
tidak diperbolehkan melalui jasa pos.
3. Bukan kejadian yang sudah lewat
4. Ada alasan mengapa korban dibawa kedokter
5. Ada identitas korban
6. Ada identitas peminta
7. Mencantumkan tanggal permintaannya
8. Korban diantar oleh polisi atau jaksa
Jika korban sudah meninggal dunia, sesuai dengan KUHP pasal 133 maka
permintaan dilakukan secara tertulis dan disebutkan secara jelas apakah untuk
pemeriksaan mayat dan atau pemeriksaan bedah mayat, serta pada saat mayat
dikirim kerumah sakit harus diberi label mayat yang memuat identitas mayat, dilak
dengan diberi cap jabatan yang diletakkan pada ibu jari atau bagian lain badan
mayat.
Pada kenyataanya dilapangan sering terjadi ketidakpahaman dari pihak
penegak hukum tentang tata cara permohonan visum kepada dokter, sehingga dapat
menyebabkan kerugian pada pihak korban. Maka dari itu diterbitkan instruksi
polisi No.Pol.INS/E/20/IX/75 tentang tata cara permohonan/pencabutan Visum et
Repertum.Menurut Instruksi Kepala Polisi Republik Indonesia No. Pol. :
INS/E/20/IX/75 tentang Tata Cara Permohonan/Pencabutan Visum et Repertum,
adalah :
1. Permintaan Visum et Repertum haruslah secara tertulis(sesuaidengan Pasal
133 ayat (2) KUHAP)
2. emeriksaan atas mayat dilakukan dengan cara dibedah, jika ada keberatan
dari pihak keluarga korban, maka pihak polisi atau pemeriksa memberikan
penjelasan tentang pentingnya dilakukan bedah mayat
3. Permintaan Visum et Repertum hanya dilakukan terhadap peristiwaPidana
yang baru terjadi, tidak dibenarkan permintaan atas peristiwa yang telah
lampau;
4. Polisi wajib menyaksikan dan mengikuti jalannya bedah mayat;
5. Untuk mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan, maka polisi perlu
melakukan pengamanan tempat dilakukannya bedah mayat
Syarat materiil dalam pembuatan Visum et Repertum adalahberkaitan dengan
isi, yaitu sesuai dengan kenyataan yang ada pada tubuh korban yang diperiksa,
pada saat diterimanya Surat Permintaan Visum et Repertum dari Penyidik.
Pada dasarnya penarikan/pencabutan Visum et Repertum tidak dapat
dibenarkan. Bila terpaksa Visum et Repertum yang sudah diminta harus diadakan
pencabutan/penarikan kembali, maka hal tersebut hanya diberikan oleh komandan
kesatuan paling rendah tingkat Komres dan untuk kota hanya oleh DANTES.

2.2.8. Kendala dalam Pembuatan Visum Et Repertum


a. Kendala internal dalam pembuatan VeR
Kendala internal merupakan faktor atau keadaan dari dalam yang
membatasi, menghalangi pencapaian sasaran. Dalam hal ini sasaran yang ingin
dicapai adalah pembuatan Visum Et Repertum atas korban Tindak Pidana
Pembunuhan. Adapun dalam pembuatan Visum Et Repertum terkadang
menemui beberapa kendala yang menyebabkan terhambatnyadibuat Visum Et
Repertum, meliputi :
1. Keterlambatan Permintaan Visum oleh Pihak Penyidik
Hal ini bisa terjadi karena begitu mendapatkan laporan atau pengaduan,
Penyidik lebih fokus untuk mengumpulkan bukti-bukti berupa benda
sehingga terkadang terlambat untuk membuat surat pengantar kepada
Dokter ahli untuk membuat Hasil pemeriksaan atas korban tindak pidana,
yang dituangkan dalam surat keterangan atas hasil pemeriksaan atau
biasadisebut Visum Et Repertum. Apabila tidak ada permintaan secara
tertulis oleh pihak penyidik maka Dokter Ahli forensik atau Dokter ahli
lain tidak akan melakukan pemeriksaan atas jenazah korban tindak pidana
pembunuhan, penganiayaan ataupun perkosaan. Hal ini sesuai
denganketentuan yang diatur dalam pasal 133 KUHAP yang menyebutkan
bahwa permintaan atas Visum Et Repertum harus dibuat secara tertulis.
2. Keadaan mayat sudah membusuk
Keadaan seperti ini dapat mempengaruhi hasil Visum Et Repertum.
Biasanya hasil organ tubuh yang memberikan hasil positif pada
pemeriksaan toksiologi sudah mengalami pembusukan maka dapat
mengakibatkan hasil menjadi negatif. Sehingga mempengaruhi pembuatan
Visum Et Repertum menjadi tidak lengkap, dikarenakan Visum Et
Repertum tidak dilakukan sesegera mungkin dan mayat menjadi busuk.
3. Kurangnya koordinasi antara Pihak Penyidik dengan Dokter, yang
mengakibatkan prosedur permintaan Visum Et Repertum menjadi lebih
lama. Hal ini berkaitan dengan kendala internal nomor 1.
b. Kendala ekternal dalam pembuatan VeR
Kendala Eksternal adalah faktor atau keadaan dari luar yang menghalangi
pembuatan Visum Et Repertum. Kendala Eksternal dalam pembuatan Visum Et
Repertum meliputi :
1. Lokasi Rumah Sakit Umum Daerah yang sangat jauh, bisa jauh dari
tempat kejadian, ataupun dari kantor polisi tempat pengusutan perkara.
Sehingga memakan waktu lama dalam proses pembuatan Visum Et
Repertum.
2. Kurangnya tenaga Dokter Kehakiman atau Dokter ahli Forensik, ataupun
Dokter ahli lainnya. Sehingga dalam hal ini mengakibatkan efisiensi
waktu pembuatan Visum Et Repertum menjadi lama. Dan juga terkadang
Dokter membutuhkan tempat untuk mengadakan pemeriksaan lanjutan.
Dimana jika menempati Rumah Sakit Umum Daerah maka sulit untuk
meminta tempat khusus dalam melakukan pemeriksaan outopsi (bedah
mayat), karena kondisi Rumah Sakit yang padat akan pasien perawatan
ataupun pasien yang meninggal dunia.
3. Dari pihak keluarga yang tidak mengijinkan untuk melakukan autopsy
(bedah mayat). Dimana pada kondisi umumnya keluarga korban merasa
tidak tega jika salah satu anggota keluarganya yang menjadi korban tindak
pidana khususnya tindak pidana pembunuhan, tubuhnya di periksa secara
mendalam. Apabila hal ini terjadi seorang Penyidik yang mempunyai
kewenangan untuk memaksa pihak keluarga korban harus menyerahkan
jenazah korban untuk di autopsi (bedah mayat) sebagai pemenuhan
pemeriksaan penyidikan yang nantinya akan tertuang dalam BAP
kepolisian. Hal ini sesuai dengan ketentuan Pasal 134 ayat (3) KUHAP
“Apabila dalam waktu dua hari tidak ada tanggapan dari pihak keluarga
yang telah diberitahu oleh penyidik, maka penyidik segera melaksanakan
ketentuan sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 133 ayat (3) KUHAP.

2.2.9. Peran Dokter Umum dalam Aspek Medikolegal


Sebagai seorang dokter yang akan berkerja dalam masyarakat akan
mendapat pasiendengan berbagai masalah. Termasuk juga dokter akan
berhadapan dengan kasus-kasusyang berhubungan dengan tindakan pidana seperti
kasus kecelakaan lalu lintas, kasus pembunuhan, kasus tenggelam dan lain
sebagainya. Maka peranan dokter umum untuk membantu penyidik sangat
diperlukan.
Sebagai dokter sudah kewajiban kita untuk memberi bantuan kepada
penyidik seperti yang tertulis dalam KUHAP pasal 133 ayat 1 yang berbunyi
“Dalam hal penyidik untuk kepentingan peradilan menangani seorang korban baik
luka, keracunanataupun mati yang diduga karena peristiwa yang merupakan
tindak pidana, ia berwenang mengajukan permintaan keterangan ahli pada ahli
kedokteran kehakiman atau dokter dan atas ahli lainnya.” Oleh karena itu dokter
harus membantuk penyelidikan mengenaitindakan yang dianggap tindak pidana.
Seorang dokter umum tugas yang diemban untuk membantu penyidik
adalahmembuat visum et repertum atas mayat ataupun atas orang hidup yang
mengalamitindakan pidana. Visum et Repertum (VER) ini sangat penting untuk
mambantumenemukan fakta-fakta dibalik kasus-kasus pidana. VER juga diakui
secara hukumsebagai alat bukti yang sah dalam peradilan. Oleh sebab itu sudah
seharusnya seorangdokter umum mengetahui pembuatan VER ini.
Dokter umum juga berkewajiban menjadi saksi ahli dalam peradilan.
Sebagai saksi ahli seorang dokter harus bisa secara objektif mengungkapkan
fakta-fakta yang ditemukan dan menggunakan keahliannya untuk memeriksa
korban. Saksi ahli jugamerupakan bukti yang sah dalam peradilan sehingga sangat
perlu dihadirkan dalam peradilan.
Perlu dijelaskan kompetensi dalam pelayanan Kedokteran Forensik. Ini
berkaitan dengan kebijakan di Indonesia bahwa setiap dokter harus dapat
memberikan pelayanan Kedokteran Forensik dimanapun bertugas, artinya
darirumah sakit sampai ke puskesmas hanya untuk pelayanan autopsi dan
pemeriksaan korban perkosaan terdapat kendala. Autopsi hanya dilakukan
dirumah sakit yang dipergunakan untuk pendidikan Kedokteran forensik dan di
beberapa rumah sakit pemerintah lainnya. Untuk korban perkosaan dilakukanoleh
spesialis kebidanan dan penyakit kandungan, tetapi bila diperlukan, makasetiap
dokter harus siap untuk melakukan pemeriksaan karena telah dibekali
pengetahuan dan ketrampilan dalam pendidikan. Dalam ketentuan hukumKUHAP
dijelaskan bahwa pemeriksaan Kedoketran Forensik dilakukan olehspesialis
forensik atau oleh “dokter”(umum atau spesialis lainnya).
Untuk dokter spesialis forensik, maka kompetensi ini melibatkanseluruh
pemeriksaan yang berkaitan dengan medikolegal, pemeriksaan tempatkejadian
perkara (TKP), autopsi, identifikasi, pemeriksaan jenazah dari penggalian kubur,
pengawetan jenazah, pemeriksaan laboratorium forensik rutin, histopatologi
forensik, serologi forensik, trace evidences, pemeriksaankorban hidup karena
kekerasan fisik dan kejahatan seksual serta pemeriksaantersangka pelaku
kejahatan pada manusia.
Untuk dokter umum, kompetensi ini terbatas pada atau diputuskan bersama
dengan penyidik kepolisian. Artinya bila diperlukan dan tidak adadokter spesialis
forensik, maka pengetahuan dan ketrampilan yang didapatselama pendidikan
harus dipergunakan. Ini yang harus dipahami juga oleh penyidik, apakah dengan
sarana, fasilitas dan keterbatasan alat sertakemampuan dokter pemeriksaan dapat
dilaksanakan. Dalam hal ini diperlukankeberanian, ketelitian dan kesungguhan
dokter melakukan pemeriksaan danmemberikan laporan dalam bentuk visum et
repertum, sehingga bantuan pemeriksaan tersebut dapat dipakai sebagai pedoman
atau alat bukti bagi penyidikan, penuntunan dan pemutusan perkara. Hasil
pemeriksaan danlaporan tertulis akan digunakan sebagai petunjuk atau pedoman
dan alat buktidalam menyidik, menuntut dan mengadili perkara pidana maupun
perdata. Padatahap penyidikan dipergunakan sebagai alat bukti dan petunjuk oleh
para penyidik dan di sidang pengadilan dipergunakan oleh jaksa, hakim dan
pembela sebagai alat bukti yang sah.
Dalam hal demikian tampak bahwa laporan pemeriksaan dan
kesaksiandokter di sidang pengadilan turut berperan dalam proses penegakan
hukum.Oleh karena itu dokter sebagai pemberi jasa di bidang Kedokteran
Forensik,dari semula harus menyadari bahwa laporan hasil pemeriksaan dan
kesimpulanserta keterangan di sidang pengadilan yang baik dan terarah akan
membantu proses penyidikan, penyidangan serta pemutusan perkara.
Setiap dokter harus mengetahui kasus mana yang termasuk kasusmediko-
legal. Setiap kasus yang berkaitan dengan hukum harus diketahui penyebab
cedera atau penyakit yang dialami pasien dan dinyatakan sebagaikasus mediko-
legal.
Jika menghadapi kasus dibawah ini sebaiknya menghubungi polisi
dankemudian kasus tersebut diserahkan kepada polisi.Kasus mediko-legal
biasanya mencakup :
-Cedera
-Keracunan
-Luka bakar
-Pelanggaran yang bersifat tidak wajar
-Abortus kriminalis
-Kehamilan yang bermasalah
-Setiap pasien yang telah meninggal pada saat pemeriksaan
- Pasien gangguan jiwa
BAB III
KESIMPULAN
Visum et repertum adalah laporan tertulis untuk peradilan yang dibuat dokter
berdasarkan sumpah/janji yang diucapkan pada waktu menerima jabatan dokter, memuat
berita tentang segala hal yang dilihat dan ditemukan pada barang bukti berupa tubuh
manusia/benda yang berasal dari tubuh manusia yang diperiksa sesuai pengetahuan dengan
sebaik-baiknya atas permintaan penyidik untuk kepentingan peradilan. Visum et repertum
diatur dalam perundang-undangan anatara lain yaitu, lembaran negara No. 350 tahun 1973,
pasal 133 KUHP, KUHAP pasal 179, KUHAP pasal 184, 186 dan 187 (c).
Aspek medikolegal pada Visum et repertum antara lain adanya pihak yang
berwenang meminta visum yaitu penyidik, penyidik pembantu; pihak yang berwenang
membuat keterangan ahli yaitu dokter ahli kedokteran kehakiman (forensik), dokter dan
ahli lainnya.
Terdapat dua jenis visum et repertum yaitu visum orang hidup dan visum jemazah.
Visum orang hidup dibagi lagi menjadi visum seketika, visum sementara dan visum
lanjutan serta visum et repertum psikis, visum et repertum korban asusila, visum et
repertum perlukaan. Sedangkan visum et repertum jenazah dapat berupa pemeriksaan luar
dan pemeriksaan dalam.